Showing posts with label Aksi 1998. Show all posts
Showing posts with label Aksi 1998. Show all posts

Wednesday, 27 May 2026

Soal Dollar? Markisu: Mari Kita Minum Susu

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, saya malas ikut-ikutan ngomentarin dollar. Soalnya, lucu.

Orang-orang ini lagi ngeributin apa sih?

Memangnya kenapa?

Saya jadi ikut-ikutan menulis soal ini karena ada banyak permintaan, baik dari murid-murid saya, maupun dari teman-teman saya sendiri. Mereka ingin pendapat saya soal dollar yang lagi diributkan orang itu dari sudut pandang saya.

Memangnya penting pendapat saya?

Nanti banyak orang tersinggung. Makanya, saya kasih tahu dari sekarang. Kalau mudah tersinggung, jangan baca tulisan saya ini. Skip saja. Tetap saja kukuh pada pendapat kalian masing-masing. Jangan baca tulisan saya ini, lewati saja, segera pindah ke tulisan atau video lain.

            Jangan salahkan saya jika kalian tersinggung, saya sudah kasih tahu untuk tidak baca tulisan ini. Kalian masih membaca terus. Jadi, jangan tersinggung, kalian yang salah karena membaca tulisan ini. Sudah dikasih tahu, masih terus juga membaca, bandel.

            Karena kalian bandel, okelah saya kasih tahu pendapat saya tentang dollar yang diheboh-hebohkan orang itu. Saya tidak menggunakan angka-angka pasti ekonomi karena sudah saya bilang, lagi malas. Cari saja sendiri angka ekonomi pastinya, banyak kok. Saya hanya ingin menjelaskan dari sisi politiknya menurut keyakinan saya.

            Isu ini berasal dari orang-orang yang kalah secara politik, kalah secara ekonomi, dan kalah secara sosial. Sejak Jokowi menjabat Presiden RI periode pertama, sudah banyak isu yang digunakan menyerang pemerintah. Mulai isu Jokowi PKI, bodoh, planga-plongo, klemar-klemer, banyak bohong, pendusta, ingkar janji, dan lain sebagainya.  Mereka selalu mengancam dengan akan adanya penggulingan pemerintah seperti pada aksi 1998. Akan tetapi, buktinya Jokowi tetap kuat dan terpilih untuk periode kedua. Artinya, orang-orang itu kalah. Jokowi selaku pemerintah menang. Itu fakta.

            Sudah mulai tersinggung membaca tulisan ini?

            Kan udah dibilangin untuk berhenti membaca. Kalian membaca terus sih.

            Pemerintahan Jokowi tidak pernah sepi dari isu penggulingan dan keinginan untuk menciptakan kondisi yang mendorong aksi 1998. Pada periode kedua dia berkuasa pun ada banyak serangan, seperti, mobil Esemka, ekonomi memburuk karena Covid 19, soal infrastruktur, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintahan gagal, omnibus law, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Jokowi tetap kuat dan mendorong pasangan Prabowo-Gibran untuk memimpin Indonesia. Artinya, banyak orang yang dikalahkan. Jokowi tetap menang. Sementara itu, aksi mirip 1998, tidak pernah terjadi. Itu kenyataan.

            Ketika Prabowo Subianto menjadi presiden didampingi Gibran Rakabuming Raka yang anaknya Jokowi itu, gencar diisukan bahwa Prabowo adalah boneka Jokowi. Prabowo dikendalikan oleh Jokowi. Akan tetapi, Prabowo tidak merasa dikendalikan dan tetap menghormati Jokowi. Hubungan mereka tetap baik. Kemudian, diisukan pula bahwa Gibran adalah Fufufafa yang menghina dan merendahkan Prabowo sekeluarga. Maksudnya, supaya Prabowo marah dan membenci Gibran. Akan tetapi, isu itu gagal. Para pembenci dan penyinyir tetap dalam posisi kalah. Pemerintah tetap tegak dan kuat.

            Orang-orang yang dikalahkan pemerintah tetap menunggu dan menciptakan kondisi agar terjadi kekalutan untuk bisa menjatuhkan pemerintah melalui gerakan yang inkonstitusional karena jika melakukan gerakan yang sesuai dengan konstitusi, sudah pasti kalah, yaitu melalui Pemilu dan pemecatan. Mereka memilih untuk melakukan gerakan di luar konstitusi, yaitu huru-hara seperti aksi 1998 dalam pikiran mereka.

            Mereka rajin bikin narasi-narasi negatif tentang pemerintah. Meskipun salah dan kalah, mereka tetap konsisten mengarang berbagai isu yang akhirnya dilupakan orang juga. Ketika terjadi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berlarut-larut, kondisi ekonomi dunia berguncang, beberapa negara kelimpungan. Indonesia pun ikut terpengaruh dengan harga BBM yang meningkat dan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS.

            Orang-orang kalah yang dirugikan pemerintah membuat banyak asumsi yang menggambarkan Indonesia akan rusak dan berantakan, terutama karena nilai tukar dollar yang semakin tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat aksi 1998. Mereka memprovokasi akan terjadinya negara kolaps karena ekonomi lemah akibat rupiah yang lemah terhadap dollar. Sebagaimana biasa, mereka mengancam akan terjadinya aksi 1998 karena kondisinya lebih parah dibandingkan 1998 dalam pikiran mereka.

            Ketika rajin-rajinnya mereka membuat banyak narasi kerusakan ekonomi akibat dollar AS yang meningkat, Presiden Indonesia Prabowo Subianto malah bercanda, terkesan melecehkan berbagai isu, narasi, framing, dan pikiran berbagai pihak yang menakut-nakuti masyarakat soal keruntuhan ekonomi yang akan menimbulkan kejatuhan pemerintah.

            Prabowo seolah-olah meledek bahwa yang pusing karena dollar adalah mereka yang suka bepergian ke luar negeri, sementara rakyat di desa-desa tenang-tenang saja karena tidak bertransaksi menggunakan dollar AS. Inilah yang membuat banyak orang marah karena merasa dilecehkan Presiden. Mereka lalu membuat lebih banyak narasi dan menyebarluaskannya lebih masif hingga ke orang-orang kecil yang tidak tahu juga soal transaksi menggunakan dollar. Mereka melebih-lebihkan situasi dengan mengungkapkan bahwa rakyat di desa banyak yang menjerit, berteriak, menderita karena harga melangit akibat rupiah lemah terhadap dollar.

            Pertanyaannya adalah rakyat mana yang menjerit?

            Di desa mana yang sangat terpengaruh oleh dollar sehingga rakyat menderita?

            Paling juga rakyat Medsos di Desa Medsos yang kalang kabut. Di dalam kehidupan nyata, biasa-biasa saja.

            Saya ini orang kampung lho, Kampung Sodong, Desa Nagrak, di sekitar perbukitan. Setiap pagi selepas shalat Shubuh sering berolahraga pagi mengitari dua atau tiga blok di komplek, lalu menemui teman saya pedagang bubur ayam untuk jajan dan ngobrol di sana dengan Ketua RW, RT, dan DKM. Harga bubur ayam tidak berubah dari bulan lalu, masih sama. Orang-orang tidak membicarakan dollar, paling mengobrol tentang lingkungan dan kerja bakti. Bubur ayam itu terdiri atas beras, seledri, kacang, kecap, kerupuk, dll. Harganya tidak berubah karena komponen-komponennya tidak mengalami kenaikan harga.

            Saya ini pengunyah bawang dan daun sirih. Jadi, suka ke warung sayuran untuk membelinya sekalian  membeli sayuran pesanan istri. Harganya masih sama kayak dua minggu kemarin, tidak berubah. Harga yang sering berubah naik turun itu harga telur dan minyak goreng. Dari dulu juga kedua barang itu sering naik-turun, tidak ada hubungannya dengan perang AS-Israel Vs Iran.

            Saya ini pemelihara bebek dan ikan. Harga pakan sekarung dedak dan pelet tidak berubah. Biasa saja. Itu saya sertakan video anak saya yang kedua sedang memberikan makan ikan di kolam dan bebek.




            Lalu, siapa yang menjerit karena dollar? Di kampung mana? Di desa mana?

            Oleh sebab itu, soal kenaikan dollar, Markisu saja, mari minum kita susu. Saya ini dua kali minum susu dalam sehari. Pagi-pagi minum susu kambing, siang atau sore minum susu sapi. Tidak perlu heboh jika tidak terjadi apa-apa, tenang saja. Minum susu saja. Kalau ada, tambah dengan susu kuda, mau kuda liar atau kuda lieur juga nggak apa-apa. Kalau masih punya uang, bisa juga beli susu unta. Hidup susu!

            Mengapa tidak terjadi tanda-tanda aksi huru-hara seperti 1998 padahal harga dollar lebih tinggi saat ini?

            Mari belajar bareng sambil minum susu.

            Pada masa di seputar aksi 1998 itu harga dollar AS meningkat sangat tinggi dalam waktu yang sangat cepat. Dari Rp2.500,- menjadi Rp15.000,-, kemudian naik lagi menjadi Rp16.800,-. Kenaikannya sangat tinggi, Rp14.300,- dalam waktu yang sangat cepat. Itulah yang membuat masyarakat panik, barang-barang mahal, perusahaan banyak yang bangkrut, PHK terjadi di mana-mana, pengangguran semakin meledak mendadak. Orang-orang kesulitan uang, dapur-dapur rumah tangga tidak lagi ngebul, sampai pedagang di emperan pun tak menghasilkan uang yang cukup untuk dibawa pulang. Itulah yang menggerakkan mahasiswa bersama rakyat melakukan aksi 1998. Ujungnya adalah pemerintahan Presiden Soeharto jatuh. Itu fakta, kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Berbeda jauh dengan situasi saat ini, 2026, rupiah melemah hanya sedikit, yaitu dari enam belas ribuan rupiah menjadi tujuh belasan ribu rupiah, hanya sekitar seribu rupiah kenaikannya. Jauh lebih sedikit dibandingkan 1998. Di samping itu, saat ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Ekspor Indonesia lebih besar dibandingkan impor. Artinya, Indonesia mendapatkan banyak untung, menghasilkan banyak uang dari perdagangan dengan pihak asing. Dengan keuntungan itu dan usaha-usaha negara lainnya, Indonesia masih bisa menstabilkan keadaan ekonomi sehingga rakyat tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan harga dollar AS. Dengan demikian, aksi mirip 1998, tidak juga terjadi. Pemerintahan Prabowo-Gibran tetap berdiri tegak.

            Sampai sini paham kan mengapa di tengah masyarakat tidak terjadi guncangan berarti?

            Kalau belum paham, sebaiknya minum susu.

            Saat ini situasi masih tenang-tenang saja. Orang-orang masih merayakan Idul Adha dengan baik tanpa memusingkan dollar. Saya dan tetangga masih bisa beli makanan buat Nobar Persib, tuh videonya ada. Bapa Aing Dedi Mulyadi masih ceria konvoy bareng ribuan fans Persib. Mendingan minum susu dibandingkan mikirin dollar mah.




            Kita masih punya Menteri Keuangan yang bekerja bersama kementerian lainnya untuk mempertahankan, bahkan membuat Indonesia maju.

Kata Prabowo, “ Selama Purbaya masih tersenyum, berarti keuangan kita baik-baik saja.”

Tentunya, keadaan akan menjadi tidak baik-baik saja jika pemerintah dan rakyat tidak bersatu untuk meningkatkan ekspor, menggantungkan diri pada impor dari negara lain, tidak menindak keras para koruptor, serta membiarkan kejahatan ekonomi dan kejahatan politik mengacaukan negara.

Mudah-mudahan kita semua paham dan tenang-tenang saja hingga dollar bisa dikembalikan ke Rp15.000,-. Kalau situasi masih tenang, tidak perlu bikin ricuh, Markisu mari kita minum susu.


Sampurasun.

Sunday, 12 April 2026

Syarat Kembalinya Aksi 1998

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa tahun belakangan ada beberapa kelompok masyarakat yang menginginkan kembalinya aksi mahasiswa 1998 yang dianggap berhasil meruntuhkan pemerintahan yang sah dan menjalankan reformasi sehingga proses kehidupan berbangsa dan bernegara ditata ulang. Kalau saya lihat, mereka ini berasal dari kelompok-kelompok yang selalu kalah dalam persaingan politik dan ekonomi. Beberapa dari mereka tampak kebingungan dan ada juga yang mengajak saya berdiskusi.

            “Kang, kenapa ya calon yang saya dukung selalu kalah?” tanyanya.

            “Calon apa?

            “Calon Kades kalah, calon walikota kalah, calon gubernur kalah, calon presiden juga kalah. Kenapa ya?”

            Saya jawab saja, “Kamu kurang minum susu.”

            Para pemenang dan pendukungnya tidak pernah menginginkan kembalinya aksi 1998. Mereka ingin melanjutkan pembangunan hasil aksi reformasi 1998 itu dengan mengoreksi berbagai kesalahan untuk kemudian terus maju.

            Saat tulisan ini disusun semakin banyak yang kebelet ingin ada aksi lagi menjatuhkan pemerintah yang sah dengan mengambil semangat aksi 1998. Mereka melakukan banyak provokasi untuk menggerakan masyarakat agar bergerak dengan berbagai narasi negatif terhadap pemerintah.

            Kalau ingin aksi 1998 kembali, keadaan yang mendahuluinya harus pula seperti 1998. Hal itu disebabkan itulah yang menjadi syarat terjadinya aksi 1998. Saya kasih jalan agar aksi itu kembali. Saya kasih tahu syarat-syarat agar aksi 1998 yang diidam-idamkan itu terjadi.  

            Pertama, adanya kesusahan ekonomi dan politik yang dirasakan masyarakat dalam waktu panjang. Kepemimpinan Presiden Soeharto dipandang sangat bagus adalah sampai 1981. Dia menstabilkan politik dan melakukan banyak pembangunan. Akan tetapi, setelah tahun itu, banyak sekali kerusakan terjadi. Para aktivis menyebutnya dengan menjamurnya perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Para penguasa dan orang-orang yang dekat kekuasaan berpesta pora, sedangkan rakyat dalam penderitaan luar biasa. Rakyat sangat banyak yang makan nasi aking, pera, atau bulgur yang jauh dari rasa enak, apalagi bergizi. Bahkan, untuk makan pun susah. Kesusahan dan kemiskinan ini masif terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.

            Dalam kehidupan politik, rakyat dibungkam, mahasiswa tidak boleh bersuara, akademisi dilarang mengkritik. Jika berbeda pendapat dengan pemerintah, hidupnya akan dipersulit, karirnya dihambat, disingkirkan, dihukum, dianiaya, bahkan hingga dihilangkan.

            Hal-hal itu terjadi dalam waktu yang panjang. Oleh sebab itu, rakyat marah dan puncaknya terjadi pada Mei 1998 ketika krisis moneter yang berubah menjadi krisis multidimensi. Orang kaya mendadak menjadi miskin. Para pengusaha mendadak bangkrut. Orang miskin semakin menjadi merana.

            Kedua, adanya kekuatan kelompok yang mau bergerak hingga berani mati. Kelompok-kelompok ini mayoritas mahasiswa dan aktivis. Mereka bergerak karena didorong oleh kesulitan ekonomi yang berasal dari kesusahan dari dapur-dapur orangtuanya sendiri yang tidak ada makanan dan kesulitan membeli makanan. Jangankan untuk biaya kuliah, bertahan hidup saja sudah sangat sulit. Mereka berani mempertaruhkan nyawanya karena hidup sengsara pasti mati kelaparan, berjuang bergerak mati juga karena perlawanan. Daripada mati kelaparan, mendingan mati karena berjuang, syahid. Tentu saja, mereka pun mendapatkan bantuan dari pengusaha-pengusaha yang peduli pada perbaikan negara.

            Ketiga, adanya elit dan menteri-menteri yang menentang presiden. Ini justru faktor yang paling utama. Orang menyangka bahwa keberhasilan aksi 1998 adalah karena gerakan mahasiswa, sebetulnya bukan itu yang utama. Pembangkangan para menterilah yang sangat melemahkan Presiden Soeharto. Ini dinyatakan sendiri oleh Soeharto dalam pidato pengunduran dirinya. Sesungguhnya, Soeharto mendengarkan aspirasi rakyat dan mahasiswa dengan membentuk komite reformasi. Akan tetapi, komite ini tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari para elit. Di jajaran para menteri yang disebutnya Kabinet Pembangunan 7 terjadi pembangkangan yang dalam berbagai media massa disebut dipelopori oleh Ginandjar Kartasasmita. Inilah yang membuat Soeharto merasa tidak punya lagi tim yang dapat diandalkan untuk melanjutkan keinginannya memimpin negara.


Ginandjar Kartasasmita (Foto: RMOL)


            Sebetulnya, ada banyak syarat agar terjadi aksi yang dapat menggulingkan pemerintahan berdasarkan pengalaman 1998. Akan tetapi, tiga penyebab itu cukup kuat menggoncangkan pemerintahan.          Jika ketiga penyebab itu ada, aksi yang diinginkan itu bisa terjadi dan berhasil.

            Kalau disimpulkan, aksi bisa berhasil jika rakyat sangat menderita secara ekonomi dan politik dalam waktu panjang dan sangat masif; adanya kelompok aksi yang berani mati karena didorong oleh kesulitan hidup dan pembungkaman; terdapatnya elit kunci dan para menteri yang berani membangkang presiden. Jika rakyat masih cukup makan, bisa bersaing mengembangkan dirinya; para intelektual bebas mengemukakan pendapat dan kritiknya; tidak ada elit di pemerintahan dan kelompok menteri yang berani membangkang presiden serta berani untuk digantikan posisinya oleh orang lain, aksi tidak akan pernah berhasil.  

            Pertimbangkan dan pikirkan syarat itu matang-matang sambil minum susu agar sehat dan menonton komedi Charlie Chaplin. Kalau nggak punya uang beli susu, minta MBG agar mendapatkan gizi yang baik.


Charlie Chaplin (Foto: Hollywood Fringe Festival)


            Kalau syaratnya tidak terpenuhi, aksi memang bisa terjadi, tetapi bentuknya hanya huru-hara dan kekacauan. Akibatnya, hanya akan menambah jumlah orang yang terkena kekerasan fisik, masuk penjara, bahkan mati konyol secara memalukan, bukan syahid. Aksi itu gagal total.

            Foto Ginanjar Kartasasmita saya dapatkan dari RMOL dan Charlie Chaplin dari Hollywood Fringe Festival.

            Sampurasun.

Thursday, 26 September 2019

Beda Aksi Mahasiswa 1998 dengan 2019


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang darahnya mendidih, mengalami eforia melihat gerakan mahasiswa pada 24 September 2019. Banyak yang berharap bahwa gerakan mahasiswa kali ini akan mengulangi kesuksesan 1998 dengan jatuhnya “Rezim Soeharto”. Mereka pun sangat berharap dan menyangka keras bahwa gerakan itu dapat menjadi jalan tumbangnya pemerintahan Jokowi. Hal itu bisa dilihat dari berbagai tulisan mereka di Medsos, berita, dan blog-blog pribadi.

            Sayangnya, peristiwa jatuhnya Jokowi itu tidak akan terjadi. Dalam perhitungan saya, sebagai manusia. Gerakan itu tidak akan menjatuhkan Jokowi.

            Mengapa?

            Pertama, para mahasiswa bergerak tidak untuk menjatuhkan Jokowi. Para ketua Bem yang sempat diwawancarai di TVone dan Metro Tv menyatakan bahwa mereka tidak peduli dengan politik. Mereka hanya berkonsentrasi pada penolakan terhadap UU KPK dan RKUHP. Niat mereka jelas bukan untuk menjatuhkan pemerintahan. Jadi, kalau ada yang teriak-teriak di dunia maya maupun dunia nyata untuk menjatuhkan Jokowi, mereka hanyalah “penunggang gelap”, “penyusup busuk”, yang memanfaatkan gerakan moral mahasiswa untuk menyuarakan keinginan konyol mereka karena belum bisa move on akibat kekalahan Pilpres 2019.

            Kedua, para mahasiswa bergerak sendiri tanpa dipandu oleh orang-orang kuat yang tampil “pasang badan” bersama mahasiswa. Jumlah mahasiswa memang luar biasa. Mereka bergerak bebarengan. Akan tetapi, sayangnya, untuk melakukan perubahan, tidak cukup dengan jumlah massa yang banyak. Berapa pun jumlah massa yang bergerak, tidak akan membuat pemerintahan jatuh jika tuntutan tidak disampaikan dengan jelas dan bernilai akademis. Berbeda dengan aksi 1998 yang didampingi orang-orang kuat. Di jalanan para mahasiswa dipandu “Lokomotif Reformasi” Amien Rais, Sultan Hamengkubuwono X, Gus Dur (Abdurahman Wahid), dan Megawati Soekarnoputeri. Mereka merumuskan “Deklarasi Ciganjur” yang sangat menekan pemerintah dan DPR/MPR. Di dalam pemerintahan, gerakan reformasi diperkuat oleh Ginanjar Kartasasmita. Ketika Soeharto membentuk Kabinet Reformasi untuk menyerap aspirasi rakyat, Ginanjar “mengorganisasikan para menteri” untuk tidak ikut dalam pemerintahan Soeharto. Hal itulah yang menyebabkan Soeharto hilang kekuatannya sebagaimana kata dia sendiri bahwa dia merasa kesulitan karena Kabinet Reformasi tidak mendapat tanggapan yang cukup. Jatuhlah Soeharto.

            Sekarang?

            Tak seorang pun begawan berada di jalanan bersama mahasiswa. Demikian pula, di dalam pemerintahan Jokowi, tak seorang pun tokoh yang menyatakan tidak setuju pada rencana dan gagasan dalam kepemimpinan Jokowi.
            Jokowi tidak akan jatuh. Dia tetap kuat. Itu dalam perhitungan saya, sebagai manusia. Saya tidak tahu rencana Allah swt. Bisa jadi Allah swt menjatuhkan Jokowi, tetapi bisa pula malah meneguhkannya, menguatkannya, memperkokoh posisinya dalam memimpin Indonesia. Allah swt bertindak secara misterius, manusia sulit mencerna tindakan-Nya jika tidak Dia sendiri yang memberitahukannya kepada manusia.

            Ketiga, … sudah dulu lah. Nanti disambung lagi. Soalnya banyak hal yang membuat Jokowi tidak akan jatuh karena gerakan mahasiswa itu. Kalau ditulis sekarang, bisa bosan dan kesal membacanya.

            Jokowi sampai saat ini masih sangat kuat dan kokoh. Saya tidak melihat celah yang membuatnya jatuh.

            Sampurasun.

Tuesday, 4 April 2017

Keberhasilan Aksi 1998 Tidak Akan Pernah Terulang Lagi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Aksi 1998 adalah aksi tuntutan reformasi yang disuarakan mahasiswa, aktivis, dan rakyat Indonesia untuk menjatuhkan Presiden ke-2 RI Soeharto dan menata ulang Indonesia. Aksi ini memang berhasil membuat Soeharto lengser dalam bahasa Jawa dan lungsur dalam bahasa Sunda. Soeharto jatuh pada seperempat jalan kekuasaannya.

            Orang banyak menduga bahwa keberhasilan aksi ini merupakan aktivitas dan pengorbanan dari para mahasiswa, aktivis, dan rakyat. Jumlah mereka yang melakukan aksi, baik di jalan maupun di media massa sesungguhnya hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia. Akan tetapi, suara mereka ini mewakili suara diam dari sebagian masyarakat Indonesia dan berhasil membungkam sebagian rakyat lainnya dengan fakta-fakta dan kemampuan berpikir yang lebih tinggi dibandingkan rakyat lainnya. Aksi sejumlah kecil elemen bangsa inilah yang terus-terusan dikenang sebagai keberhasilan dengan segala tindakannya.

            Tindakan peserta aksi yang dipandang monumental adalah mampu mendesakkan keinginannya pada anggota DPR/MPR RI untuk menghentikan Soeharto sebagai presiden. Rakyat dan mahasiswa mengeroyok para legislator, bahkan menduduki Gedung DPR/MPR RI di Senayan, Jakarta. Ketika para legislator terdesak dan gedungnya diduduki, Soeharto pun mengundurkan diri. Berhasillah aksi 1998 itu.

PENDUDUKAN GEDUNG DPR/MPR RI. Sumber Foto: ic-mes.org
 
            Tak heran jika aksi itulah yang dipandang sebagai cara yang hebat dalam menjatuhkan Soeharto. Padahal, hal yang sesungguhnya terjadi tidaklah sesederhana itu.

            Tak heran pula keberhasilan aksi 1998 itu sepertinya ingin dicontoh oleh pelaku-pelaku dugaan tindakan makar pada era kepemimpinan Presiden Jokowi. Setidak-tidaknya, itulah yang saya dengar dari kepolisian RI bahwa mereka yang diduga akan melakukan makar itu, baik waktunya yang berdekatan dengan aksi 212 atau dengan aksi 313, akan melakukan pengepungan terhadap Gedung DPR/MPR RI dan memaksa anggota DPR/MPR RI untuk menjatuhkan pemerintahan Jokowi-JK. Hal itu mirip dengan aksi 1998 ketika menjatuhkan Soeharto.

SOEHARTO MUNDUR. Sumber Foto: www.babatpost.com


            Dikiranya bakal berhasil kayak dulu, nyatanya tidak, bukan?

            Bahkan, mereka ditangkapin polisi.

            Mengapa mereka gagal dan ditangkap polisi?

            Mereka sepertinya hanya mengandalkan dugaan. Dugaan itu diyakini mereka sebagai kebenaran. Dugaan yang diklaim sebagai kebenaran sesungguhnya adalah hoax. Jadi, mereka bergerak karena hoax.

            Ya pasti gagal atuh mengandalkan hoax mah!

            Kacow.

            Kan sudah saya bilang berulang-ulang bahwa dugaan yang diklaim sebagai kebenaran itu adalah hoax. Untuk memastikan apakah dugaan itu benar atau salah, harus melakukan penelitian. Gunakan metode kuantitaif, kualitatif, atau campuran. Lalu, analisis secara mendalam. Dengan demikian, akan didapat kesimpulan yang lebih pasti.

            Dibilangin juga jangan percaya hoax, masih percaya juga. Jadinya kan tersesat, salah jalan, salah cara, akhirnya rugi sendiri.

            Apanya yang hoax sesungguhnya?

            Hoax itu adalah Soeharto jatuh karena rakyat dan mahasiswa mendesak DPR/MPR RI serta menduduki Gedung DPR/MPR RI!

            Sudah saya bilang tadi, hal yang sesungguhnya terjadi adalah tidak sesederhana itu. Memang perlu penelitian lebih mendalam tentang kejatuhan Soeharto itu. Para mahasiswa Fisip bisa menelitinya. Taruna kepolisian dan ketentaraan juga bisa melakukan penelitian itu. Hal yang saya tulis ini bisa dijadikan penelitian pendahuluan bagi para peneliti.

            Memang benar bahwa aksi mahasiswa dan rakyat mengepung, mendesak, dan menduduki Gedung DPR/MPRI RI itu mendorong Soeharto jatuh. Akan tetapi, hal itu bukanlah satu-satunya penyebab Soeharto jatuh. Masyarakat melupakan peranan pers yang juga mendukung penuh aksi itu. Di samping itu, orang meminggirkan kiprah orang-orang di dalam pemerintahan Soeharto sendiri yang memang juga sama-sama menginginkan reformasi.

            Soal aksi mahasiswa dan rakyat, sudah pasti terjadi dan itu kebenaran yang nyata. Di luar pemerintahan ada aktivitas yang sangat tinggi di bawah pengaruh Amien Rais yang disebut sebagai Lokomotif Reformasi. Amien Rais adalah simbol ilmuwan kelas wahid dan pemimpin Ormas besar Muhammadiyah yang juga memiliki pengaruh sangat besar di Indonesia. Di samping itu, pers juga memberikan dukungan penuh yang selalu mem-blow up berita sekecil apa pun yang terkait dengan gerakan reformasi. Pers dengan senang hati mendukungnya karena mereka pun bosan dikungkung dan dipenjara oleh ketidakbebasan pers.

AMIEN RAIS. Sumber Foto: www.merdeka.com

            Selain itu, ada hal yang sangat dilupakan orang, bahkan mungkin ingin dilupakan orang sampai mungkin ingin dihilangkan peranannya dalam proses reformasi. Hal itu adalah peranan Ginanjar Kartasasmita yang saat itu adalah menteri dalam kabinet yang dibentuk Soeharto. Saat aksi marak apalagi ada bumbu huru hara rasis dalam medio Mei 1998, Soeharto sebenarnya sudah memberikan jawaban bagi tuntutan mahasiswa dan rakyat dengan membentuk Kabinet Reformasi. Ia menginginkan reformasi berjalan gradual, padahal reformasi sendiri sudah merupakan perubahan yang gradual. Perubahan yang tidak gradual itu bukan reformasi, melainkan revolusi. Akan tetapi, kenyataannya Kabinet Reformasi yang dibentuk Soeharto tidaklah berjalan efektif, bahkan melakukan pembangkangan terhadap Soeharto sendiri. Ginanjar Kartasasmita menjadi hulu atau pemimpin dari para menteri yang juga sama-sama menginginkan reformasi dalam arti Soeharto berhenti menjadi presiden.

GINANJAR KARTASASMITA. Sumber Foto: www.pikiranmerdeka.co

            Hal itu ada dalam pidato pengunduran Soeharto sendiri. Ia mengatakan bahwa Kabinet Reformasi tidak mendapatkan tanggapan sebagaimana yang diharapkannya. Oleh sebab itu, Soeharto memilih untuk mengundurkan diri dari kursi kepresidenan. Seandainya Kabinet Reformasi berjalan dengan baik di samping ABRI (kini TNI) dan kepolisian masih setia kepada Soeharto, pemerintahan pasti masih berjalan. Soal aksi-aksi di jalan, masih bisa diatasi dengan kebiasaan represif seperti yang sudah-sudah. Paling-paling, jadi insiden berdarah seperti di Tiananmen.

            Jadi, keberhasilan aksi 1998 itu bukan hanya oleh desakan mahasiswa dan rakyat pada anggota legislatif dan pendudukan gedung wakil rakyat, melainkan pula ada dukungan kuat dari pers yang bulat, kaum intelektual yang berwibawa, Ormas besar yang terpercaya, dan hal yang sangat penting adalah ada orang berpengaruh di dalam tubuh pemerintahan yang menghalangi program kerja Soeharto, yaitu Ginanjar Kartasasmita.

            Sebaiknya, bukan hanya Amien Rais yang memiliki gelar Lokomotif Reformasi, Ginanjar Kartasasmita pun berhak mendapatkan gelar serupa atau gelar lain sebagai pendorong reformasi. Dia berperan sangat besar dalam reformasi, tetapi karena dirinya masih berada dalam pemerintahan, orang menganggapnya masih orangnya Soeharto. Padahal,  Ginanjar Kartasasmita memiliki andil cukup kuat dalam gerakan reformasi. Kita tidak boleh melupakan jasa orang, tidak baik bagi kesehatan. Ginanjar Kartasasmita punya jasa besar.

            Jadi, jangan bermimpi untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Jokowi hanya dengan cara menggunakan massa, mengepung dan menduduki Gedung DPR/MPR RI, lalu mendesak anggota DPR/MPR RI untuk memecat Jokowi. Itu tidak cukup dan tidak akan pernah berhasil. Kalaupun seluruh anggota legislatif terdesak dan terpaksa untuk menyetujui penggulingan pemerintahan Jokowi, tetapi kabinet beserta TNI dan Polri masih berjalan baik dan setia, kejadiannya bisa seperti di Chile dulu. Gedung parlemen Chile dibombardir tank-tank baja pasukan pemerintah. Penggulingan kekuasaan di Chile itu hanya menjadi kisah kudeta yang gagal.

            Makanya, kalau punya dugaan, jangan lantas diyakini sebagai kebenaran karena bisa jadi hoax. Teliti dulu benar-tidaknya. Analisis dengan baik. Setelah itu, baru bersikap. Hati-hati. Mau beli barang saja harus hati-hati, teliti sebelum membeli, apalagi mau mengganti pemerintahan, harus ekstra hati-hati karena bisa malik piloko, senjata makan tuan, golok di tangan menebas leher sendiri.

            Dibilangin jangan suka hoax, masih gemar juga, kan sesat jadinya, salah jalan, salah cara, rugi lagi.

            Hayu ah.


            Sampurasun.