Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Sunday, 10 April 2022

Teknik Menangkal Hoaks

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali berita atau informasi yang beredar dan dianggap sebagai kebenaran, tetapi ternyata hoaks, bohong, palsu, dan menyesatkan. Sementara itu, masyarakat umumnya tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar atau mana yang palsu. Bagi para akademisi yang sudah terbiasa menulis berdasarkan data dan fakta atau bagi para ulama yang sangat berhati-hati tentang riwayat kerisalahan Islam, tidak terlalu sulit untuk membedakan mana yang benar dan salah. Akan tetapi, bagi orang kebanyakan, masih sulit.

            Sebetulnya, Allah swt sudah mengajarkan di dalam Al Quran cara untuk menangkal hoaks. Indonesia mayoritas muslim, tetapi masih sering menipu atau tertipu dengan hoaks. Itu adalah hal yang aneh. Allah swt mengajarkan agar kita mendapatkan informasi yang benar agar bertindak benar dengan menurunkan ayat-ayat tentang “tabayyun”.  Tabayun sendiri memiliki arti “upaya pencarian kejelasan dan penelitian kebenaran”.

            Persoalannya, bagaimana cara tabayun itu?

            Kalau pada masa Nabi Muhammad saw, caranya sederhana, yaitu observasi dan sedikit wawancara dengan pihak-pihak terkait. Dengan cara seperti itu, isu yang masih samar, bisa segera tampak lebih jelas benarnya atau lebih jelas salahnya. Hal itu lebih mudah terjadi karena penduduknya sedikit dan teknologinya tidak serumit kita saat ini.

            Sekarang ini memang lebih sulit karena bisa jadi orang yang bikin hoaks lewat grup WA adalah seorang perempuan pembantu rumah tangga lulusan SD di Sulawesi, tetapi yang tertipu adalah ustadz bergelar professor yang tinggal di Jakarta. Ini beneran pernah terjadi lho. Kan malu-maluin. Hal ini terjadi karena memang ada kesulitan untuk melakukan tabayun sebagaimana yang dilakukan pada masa Nabi Muhammad saw dulu. Sekarang ini jaraknya sangat jauh, penduduknya ratusan juta, teknologinya makin canggih.




            Meskipun demikian, segala sesuatunya berkembang, kejahatan hoaks berkembang, pengetahuan untuk menangkalnya pun berkembang. Banyak organisasi atau LSM antihoaks memiliki teknik masing-masing, bisa dipelajari kok kalau mau mah.

            Teknik yang ingin saya sampaikan adalah teknik yang berasal dari dunia jurnalistik. Saya pernah lama menjadi wartawan dan menggunakan teknik ini ketika membuat tulisan. Teknik ini pernah saya sampaikan ketika saya diminta menjadi pemateri pada acara “Pelastik 5 (Pelatihan Jurnalistik ke-5), ‘Bersinergi Membangun Jurnalis Muda’”, 19 Maret 2022, di Hotel Lengkong 2, Bandung yang diselenggarakan oleh Persmediafar, Universitas Al Ghifari.




            Sebetulnya, orang tidak menggunakannya sebagai teknik menangkal hoaks, tetapi saya menggunakannya untuk itu, melainkan syarat-syarat menulis berita yang benar. Penulisan berita yang benar dan baik itu  harus memenuhi unsur 5W + 1H, yaitu: “What, When, Where, Who, Why, and How”.

            “What”, adalah tentang apa yang sedang diinformasikan atau apa yang sedang terjadi dan ditulis dalam berita.

            “When”, adalah tentang kapan atau waktu kejadian yang diberitakan terjadi.

            “Where”, adalah tentang di mana kejadian itu tepatnya terjadi.

            “Who”, adalah tentang siapa saja yang ada atau terlibat dalam kejadian yang menjadi pusat berita tersebut.

            “Why”, adalah tentang mengapa atau alasan terjadinya kejadian yang sedang diinformasikan.

            Terakhir, “How”, adalah tentang bagaimana kejadian itu bisa terjadi dari awal sampai dengan akhir sehingga jelas kronologisnya.




            Begitulah, berita yang baik dan benar ditulis. Artinya, jika ada informasi atau berita yang tidak memenuhi unsur 5W + 1H itu, pastikan adalah hoaks. Berita itu cenderung palsu dan menyesatkan. Berita itu akan menjadi mulai shahih jika keenam unsur itu terpenuhi. Keenam unsur itu baru teknik dasar, belum tentu shahih juga berita itu jika unsurnya terpenuhi karena harus dilihat dulu dari mana sumber berita itu berasal.

            Apakah dari sumber primer atau sumber sekunder?

            Akan lebih jelas jika digunakan juga teknik “cover both side” atau bahkan “cover all side”.

            Supaya tidak pusing, mari kita sama-sama mulai saja dengan menggunakan teknik dasar tadi untuk menilai hoaks-tidaknya suatu berita. Teliti bahwa berita itu dapat menjawab: Apa? Kapan? Di Mana? Siapa? Mengapa? Bagaimana?.

            Kalau tidak, pastikan berita yang beredar terutama di grup-grup WA itu adalah dusta dan menyesatkan.




            Kalau sudah mulai mahir, kita bisa tingkatkan kemampuan kita untuk menilai sumber berita primer dan sekunder. Bahkan, kita bisa masuk ke dalam teknik yang dilakukan Imam Bukhari ketika menentukan suatu kisah tentang Nabi Muhammad saw itu shahih atau palsu.

            Ingat, belajar menganalisa suatu informasi dengan 5W + 1H supaya kita tidak mudah tertipu, tidak mudah dibohongi, dan belajar untuk tidak menjadi penipu, pembohong yang jelas munafik.

            Jelas ya?

            Ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu: pembohong, pengkhianat, dan pengingkar janji.




            Sampurasun.

Monday, 14 October 2019

Soal Penusukan Wiranto


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebetulnya, malas menulis hal ini karena semuanya sudah jelas. Media “mainstream” sudah jelas memberitakan, para ahli bedah sudah menerangkan, para tokoh sudah menjenguk, rumah sakit sudah menangani, penusuknya sudah ditangkap, saya sendiri sudah menulis berulang-ulang bagaimana caranya membedakan berita hoaks atau berita yang sahih.

            Mau apa lagi?

            Kalau soal banyak yang menganggap hal itu berita “setingan” atau tidak benar, tinggal baca saja tulisan saya yang lalu-lalu berisi cara menentukan berita yang benar atau hoaks. Gunakan saja cara itu. Kalau  masih tidak bisa, berarti memang belum bisa menggunakan cara itu atau memang tidak mau menerima “kebenaran”.

            Saya menulis ini karena banyak sekali yang bertanya. Setiap hari sejak penusukan itu, orang-orang selalu bertanya.

            “Kang, bagaimana Wiranto?”

            “Pak, Wiranto kenapa?”

            “Gimana Wiranto, benar itu teh kejadian?”

            Banyak sekali jenis pertanyaan seperti itu.

            Kadang saya bertanya dalam hati, mengapa harus bertanya sama saya?

            Akan tetapi, saya jawab juga sih dengan malas-malas dikit.

            Sekarang, saya coba mix antara ilmu pengetahuan modern dengan teknik Imam Bukhari. Sebetulnya, keduanya sama saja tujuannya, yaitu mendapatkan kebenaran yang sahih. Untuk menentukan berita suatu peristiwa adalah benar atau tidak atau diragukan, harus diperiksa “sumber primer” atau sumber utama dari berita tersebut. Sumber primer dalam suatu hadits adalah “orang-orang yang melihat, mendengar, bersentuhan, atau terlibat langsung dengan Nabi Muhammad saw”. Merekalah yang jelas benar berada di tempat kejadian tersebut. Merekalah yang layak dipercaya untuk mengabarkan suatu berita tentang Nabi Muhammad saw kepada generasi selanjutnya hingga sampai kepada kita.

            Demikian pula dengan yang terjadi terhadap Menkopolhukam Wiranto. Orang-orang yang layak dipercaya tentang berita penusukan Wiranto adalah mereka yang berada di tempat kejadian perkara karena mereka mendengar, melihat, bersentuhan, atau terlibat langsung dengan Wiranto. Dari merekalah berita yang lebih benar tentang Wiranto, baik di tempat penusukan, di Puskesmas, maupun di rumah sakit.

            Ketika ada yang menyebarkan bahwa berita itu adalah “setingan”, mereka para pembuat berita nyinyir itu ada di mana? Ada di tempat kejadian? Atau hanya lihat televisi, lalu memutarbalikkan fakta? Bagaimana mungkin kita percaya berita yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak jelas?

            Sampai di sini paham, kan? Bisa, kan?

            Cukupkah jika ada di tempat kejadian, bisa dipercaya?

            Kalau tentang hadits, tidak cukup. Mereka yang mengabarkan berita tentang Nabi Muhammad saw harus orang yang cerdas, jujur, dikenal sebagai orang baik, bukan pelupa, memahami agama dengan baik, tidak gemar berbohong. Bahkan, kabarnya, Imam Bukhari meragukan berita suatu hadits jika melihat penyampai berita itu berbohong kepada hewan sekalipun. Misalnya, membohongi ayam dengan cara pura-pura akan memberinya makan, tetapi setelah ayam itu ditangkap, bukannya diberi makan, melainkan disembelih. Hadits yang disampaikan oleh orang tersebut ditinggalkan oleh Imam Bukhari. Oleh sebab itu, Bukhari berkeliling kesana-kemari, ke Irak, Yaman, Medinah, Mekah, dan negeri-negeri lain untuk mendapatkan “sumber primer” yang bisa dia percaya. Tak heran jika Imam Bukhari menjadi sumber penting umat Islam tentang hadits-hadits.

            Begitu juga berita tentang penusukan Wiranto, harus dicek orang yang menyampaikan beritanya. Siapa dia? Apa pekerjaannya? Bagaimana perilakunya? Berita-berita yang disampaikan sebelumnya bagaimana?

            Kalau tidak jelas, bahkan gemar berdusta, buat apa dipercaya?

            Di samping itu, pelajari secara utuh berita yang ada, jangan hanya dibaca judulnya. Judul itu sengaja memang dibuat provokatif oleh para wartawan agar tulisannya dibaca orang. Saya juga begitu kok kalau lagi bikin tulisan, judulnya diusahakan provokatif agar orang mau baca. Banyak orang yang memposting tentang Wiranto dari Liputan6, CNNINDONESIA, atau link lainnya yang menulis judul bahwa Wiranto sadar dan tidak mengalami pendarahan. Akan tetapi, ketika berita itu dibaca utuh, ternyata Wiranto memang ditusuk dengan luka tusukan cukup dalam. Soal pendarahan ekstrim atau tidak, itu kan bergantung dari kondisi kesehatan orang itu, adanya lapisan-lapisan tertentu di dalam tubuh. Ahli bedah yang pantas menerangkan hal ini. Bukan saya dan bukan orang-orang yang sok tahu tentang kesehatan. Kita juga suka begitu kok, kalau terluka, suka berhenti sendiri darahnya. Cepat atau lambatnya darah berhenti bergantung pada zat pembeku darah yang ada dalam tubuh kita dan kemampuan tubuh kita dalam memperbaiki sel-sel tubuh (nyanyahoanan saeutik).

            Begitu ya, sedikit aja dulu. Bisi pusing, lieur. Masih panjang ilmu tentang langkah-langkah mendapatkan data dan fakta untuk ditarik menjadi sebuah simpulan.

            Kalau lieur, ngobrol aja. Santai saja ngobrolnya, nggak perlu tegang.

            Sampurasun