Showing posts with label Anti-Pancasila. Show all posts
Showing posts with label Anti-Pancasila. Show all posts

Thursday, 14 November 2019

Jangan Berlebihan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sudah manusiawi jika kita membenci perilaku-perilaku jahat semacam korupsi, penipuan, pemerkosaan, perzinahan, fitnah, kecurangan, dan kedustaan. Akan tetapi, tidak boleh pula membenci berlebihan hingga tidak masuk akal. Misalnya, kita mengatakan bahwa koruptor adalah anti-Pancasila, penipu penerimaan pegawai negeri adalah anti-NKRI, atau pelaku pemerasan pada instansi adalah anti-pemerintah.

            Kebencian seperti itu adalah berlebihan. Rasa tidak suka hendaknya ditampakkan secara proporsional, seimbang terhadap perilakunya. Jika kita memvonis orang sebagai anti-Pancasila, anti-NKRI, atau anti-pemerintah, haruslah ada bukti nyata, baik tertulis ataupun lisan yang menyatakan dengan tegas bahwa orang itu anti terhadap pilar-pilar bangsa. Kalau tidak ada, mereka, para pelaku kejahatan itu sesungguhnya pendukung pilar-pilar bangsa, tetapi sedang bermasalah dengan hukum. Hal itu memang harus dijatuhi hukuman sesuai dengan jenis kesalahannya dan sesuai dengan hukum yang telah diberlakukan.

            Hal yang sama juga kita tidak bisa mengatakan bahwa seorang ustadz telah murtad karena melakukan pelecehan seksual terhadap santriwatinya. Tak bisa kita mengatakan murtad terhadap seorang muslim yang berzinah, mabuk-mabukan, mengonsumsi Narkoba, atau bahkan mengorupsi uang zakat, sedekah, maupun infak. Mereka tetap muslim, tetapi sedang melakukan pelanggaran terhadap ajaran Islam. Mereka adalah muslim yang khilaf sehingga melakukan penyimpangan. Perilaku mereka harus dikenai sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku, kemudian disadarkan kembali pada jalan yang seharusnya.

            Jangan berlebihan dalam membenci kejahatan. Berperilakulah adil dan seimbang. Sungguh, melatih diri untuk berperilaku adil dan seimbang tanpa sikap berlebihan akan melembutkan hati kita sehingga pikiran, perasaan, dan tindakan kita akan terasa lebih terang dan tampak jauh lebih jernih dibandingkan mereka yang selalu memelihara sikap berlebihan yang cenderung kasar.

            Sampurasun.

Thursday, 15 August 2019

Jangan Salah Mikir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini banyak sindiran sangat keras bagi mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum, terutama mereka yang getol sekali berupaya menyuarakan dirinya sebagai pembela Pancasila dan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Dalam kenyataannya, mereka tersandung kasus-kasus hukum seperti korupsi. Akibatnya, mereka dituding dan disindir keras sebagai kaum “pengkhianat dan anti-Pancasila”.

            Sebetulnya, sindiran-sindiran itu bagus untuk mengingatkan mereka agar paham bahwa  perilaku itu salah dan mencederai orang-orang baik pecinta Pancasila yang selalu dalam keadaan tetap baik dan tidak melakukan pelanggaran hukum. Hal lebih jauhnya lagi adalah orang-orang yang menyindir perilaku mereka ini ada yang mencoba menafsirkan lebih bahaya, yaitu bahwa Pancasila sangat tidak mampu menjadikan situasi lebih baik yang ditandai banyaknya perilaku korup dari orang-orang yang selama ini berteriak-teriak untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

            Hal ini harus menjadi perhatian bersama. Sesungguhnya, sindiran-sindiran itu bagus, tetapi akan menjadi lebih berbahaya jika membuat frame berpikir manusia menjadi salah. Artinya, mereka yang tersangkut hukum dianggap sebagai anti-Pancasila dan pengkhianat Pancasila. Sebenarnya, mereka tetap mencintai Pancasila, tetapi sedang melanggar berbagai peraturan yang dikehendaki oleh Pancasila itu sendiri. Pendek kata, mereka bukan anti-Pancasila, melainkan sedang melakukan pelanggaran hukum.

            Hal  ini sama dengan seorang muslim atau muslimat yang melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai Islam, misalnya, perzinahan, melakukan fitnah, menyakiti orang lain, shalatnya bolong-bolong, tidak membayar zakat, tidak puasa Ramadhan, mencuri, serta menyebarkan dusta dan kebencian. Mereka tidak bisa disebut anti-Islam atau pengkhianat Islam, bahkan sangat tidak bisa disebut murtad. Mereka tetap muslim dan mencintai Islam, tetapi mereka sedang melakukan pelanggaran.

            Seseorang yang melakukan pelanggaran hukum tidak bisa disebut anti-Pancasila atau pengkhianat Pancasila. Demikian pula seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai Islam tidak bisa divonis anti-Islam, pengkhianat Islam, bahkan murtad.

            Hati-hati berpikir, hati-hati berbicara.

            Jangan salah mikir atau kebawa-bawa orang yang selalu salah mikir.

            Sampurasun.