Showing posts with label Gus Yaqut. Show all posts
Showing posts with label Gus Yaqut. Show all posts

Wednesday, 13 April 2022

Setelah Ancam Gus Yaqut, Denny Siregar, & Abu Janda, Novel Ditantang di Ring

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Bandung

Makin seru nih! Makin pengen ketawa.

            Setelah peristiwa penganiayaan Ade Armando yang dikeroyok tidak sportif dan malu-maluin itu,  Novel Bamukmin mengancam Gus Yaqut, Denny Siregar, dan Abu Janda. Menurutnya, Yaqut, Denny, dan Abu Janda nasibnya bisa seperti Ade Armando, dikeroyok dan dipukuli.

            Tahu kan Novel Bamukmin yang giginya ompong itu?


Novel Bamukmin (Sumber Foto: Seword)


            Kabarnya sih, dia Wakil Sekretaris 212. Saya enggak begitu memperhatikan dia, soalnya kalau dengerin dia, mirip preman yang lagi ribut, nggak ada isinya.

            Coba bagaimana enggak pengen ketawa, dia mengancam Gus Yaqut yang menteri itu dan punya pasukan Ansor beserta Banser sekitar 7 juta orang. Dia sendiri pengikutnya enggak jelas, FPI bubar, sebagian ditangkapin polisi.

            Hal yang bikin lebih lucu adalah kelakuan Denny Siregar, youtuber pendukung Jokowi itu. Dia itu sebenarnya kalau bikin konten di youtube, saya yakin menghabiskan waktu minimal empat atau lima jam untuk melakukan riset dan menganalisa situasi sebelum akhirnya diupload di youtube. Artinya, dia lebih senang bertarung lewat narasi. Akan tetapi, sepertinya hasil riset dan analisanya tidak bisa membuat orang-orang semacam Si Novel ini paham. Akibatnya, setelah seolah-olah diancam, Denny Siregar menantang Novel Bamukmin untuk bertarung di atas ring, adu jotos. Bahkan, Denny yang akan membiayai seluruh event itu.


Denny Siregar (Sumber Foto: Pos Kota)


            Saya ketawa saja memperhatikannya. Akan tetapi, ada bagusnya juga sih. Denny menantang bertarung di ring secara jantan dan menyewa wasit yang profesional. Ini jauh lebih baik dibandingkan para bajingan pengecut yang mengeroyok Ade Armando yang sudah berusia 61 tahun itu. Udah mah keroyokan, mengeroyok orang tua, memukulnya dari belakang lagi. Kalau di ring kan satu lawan satu, saling berhadapan. Ini namanya sportif.  Sok lah berjihad di ring tinju. Seru.

            Denny Siregar kayaknya mendapatkan inspirasi dari pertarungan antara Vicky Prasetio yang sudah menjadi suami jandanya Deddy Corbuzier melawan Azka, puteranya Deddy Corbuzier di atas ring. Yang menang tentu saja Azka yang masih berusia 15 tahun, sedangkan Vicky kan sudah 40 lebih.

            Baguslah. Seru. Malahan Denny Siregar kalau perlu, jual tiket pertarungannya. Siapa tahu saya beli tiket dan ikut nonton, entah di Bandung atau di Jakarta untuk sekedar hiburan saja. Lumayan ketawa-ketawa di Bulan Ramadhan.

            Saya cuma khawatir saja sama Novel Bamukmin kalau berani duel sama Denny Siregar. Saya takut giginya makin habis, makin ompong, ditonjokkin. Soalnya, dia kan pengen nyalon jadi Cawapres RI mendampingi Anies Baswedan pada Pilpres 2024 nanti. Kalau benar terpilih jadi Wapres, terus difoto pakai kopiah dan jas kenegaraan sambil tersenyum lebar, geli melihatnya. Sekarang saja sudah geli, apalagi kalau sudah habis ditonjokkin, giginya habis, makin geli.

            Sampurasun.

Tuesday, 8 March 2022

Sehina Itukah Anjing?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, dunia sedang membutuhkan Jokowi sebagai pemimpin presidensi G 20, membutuhkan pemerintah Indonesia, kaum agamawan Indonesia, akademisi Indonesia, dan rakyat Indonesia untuk memberikan masukan dan aksi dalam konflik berdarah antara Rusia dan Ukraina. Bangsa Indonesia dibutuhkan pikiran, saran, dan gerakannya untuk membuat suasana dunia lebih baik lagi dan berhenti dari perang. Akan tetapi, sayangnya, bangsa Indonesia yang sedang sangat dibutuhkan itu malah memikirkan hal yang ecek-ecek dan tidak berguna, yaitu soal gonggongan anjing. Bangsa Indonesia yang sangat dibutuhkan dunia itu malah asyik dengan kebodohannya, ribut soal suara anjing dengan fitnah disamakan dengan adzan.

Karena keseringan meributkan hal-hal yang tidak penting, sudah dipastikan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan solusi bagi dunia. Katanya, “rahmatan lil alamin”, rahmat bagi semesta alam, tetapi yang diomongin cuma anjing.

Bagaimana mau menjadi umat yang mulia dan menjadi rahmat bagi dunia kalau selalu gemar meributkan hal-hal yang remeh temeh?

Mikir!

Sebetulnya, saya itu sedang asyik menyimak berbagai silang pendapat dan masukan para ahli hubungan internasional asal Indonesia dalam berperan serta mengatasi kemelut antara Rusia-Ukraina-Nato ini, seperti, dari Connie Rahakundini Bakrie, Hikmahanto Juwana, Dina Sulaeman, dan tentu saja Retno Marsudi. Menyenangkan rasanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan menyaksikan orang-orang pintar dengan dasar keilmuan yang jelas berdebat dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan saran pemikiran dan aksi-aksi untuk mendamaikan situasi serta menjaga Negara Indonesia dari berbagai konflik dunia. Sayangnya, orang-orang yang ngomongin dan meributkan anjing berisik banget, mengganggu, dan bikin bodoh orang banyak.

Sudah mah berisik nggak ada gunanya, pamer cara wudlu yang salah, shalatnya salah, tempatnya juga salah lagi. Padahal, air banyak dan masjid dekat, ini malah wudlu pakai air dari botol mineral, shalat di jalanan dan di atas mobil komando demo yang mirip mobil tukang “Tahu Bulat Digoreng Dadakan Lima Ratusan, Kadarieu Kadarieu Kadarieu”.

Hal yang paling aneh adalah hujatan mereka yang mengatakan Gus Yaqut telah menistakan agama karena telah menyamakan adzan dengan gonggongan anjing yang menurut mereka adalah “binatang paling najis bagi umat Islam”. Kasar banget mereka terhadap anjing disebut binatang paling najis.

Dari mana pikiran dan pendapat seperti itu berasal?

Ada dalilnya? Ada ayatnya? Ada dasarnya, baik naqli maupun aqli?

Sehina itukah anjing?

Sebenci itukah terhadap anjing?

Mereka berpendapat jika Gus Yaqut mengatakan suara berisik ayam, kucing, bebek, kambing, atau binatang lainnya, tidak masalah. Akan tetapi, karena mengatakan gonggongan anjing, itu menjadi masalah.

Aneh bagi saya.

Apa bedanya anjing dengan binatang-binatang lain itu?

Mereka semua ciptaan Allah swt dan ada gunanya. Tidak ada satu pun ciptaan Allah swt yang sia-sia. Para ulama yang benar-benar ulama dan bukan kriminal yang dianggap ulama sangat dipuji Allah swt karena paham bahwa tidak ada satu ciptaan Allah swt pun yang sia-sia dan perlu dihina atau dibenci.

Perhatikan firman Allah swt dalam QS Ali Imran, 3 : 191.

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi (seraya berkata), ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungi kami dari azab neraka’.”

Tuh, para ulama yang bukan kriminal sangat paham dan dipuji Allah swt karena mengerti bahwa ciptaan Allah swt tidak ada yang sia-sia. Anjing adalah salah satu ciptaan Allah swt yang jelas juga tidak sia-sia. Anjing bisa menjadi penjaga yang baik, penggembala yang mahir, teman yang setia, pembongkar kejahatan Narkoba, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Lalu, kenapa kalian mengatakan anjing adalah binatang paling najis atau kotor bagi umat Islam sehingga menghinanya dan membencinya?

Beberapa bagian tubuh anjing memang najis, tetapi kan bisa dicuci. Selesai.

Tak perlu menghina dan membenci. Menghina dan membenci ciptaan Allah swt sama saja dengan menistakan Allah swt. Dosa besar itu. Kalau tidak bisa akrab dengan anjing, tidak apa-apa, tetapi tidak perlu menajiskannya secara keterlaluan.

Sepanjang yang saya tahu, baik Allah swt maupun Nabi Muhammad saw, tidak pernah memberikan keterangan tentang urutan kemuliaan binatang. Misalnya, unta lebih mulia dibandingkan kuda, kuda lebih mulia dibandingkan keledai, keledai lebih mulia dibandingkan gorila, gorila lebih mulia dibandingkan orangutan, orangutan lebih mulia dibandingkan owa, owa lebih mulia dibandingkan elang, elang lebih mulia dibandingkan merpati, merpati lebih mulia dibandingkan piit.

Tidak pernah ada kan keterangan seperti itu?

Kalau ada, kasih tahu saya. Saya berterima kasih untuk itu.

Sekarang, kalau dibandingkan, mulia mana antara kucing dengan unta?

Mulia mana antara katak dengan kadal yang ada di gurun itu?

Ada jawabannya?

Jangan ngarang, pakai dalil.

Pusing kan?

Itu memang tidak ada standar kemuliaan dalam dunia binatang itu. Yang saya tahu adalah seluruh binatang itu diciptakan dengan keunikan dan kekhususannya masing-masing. Kita, manusia, memiliki akal untuk memperlakukan binatang itu sesuai dengan kekhususannya dan tidak boleh memperlakukannya dengan penuh kehinaan dan kebencian.

Dalam berbagai kisah, anjing malah masuk surga. Anjing yang setia kepada para pemuda Ashabul Kahfi itu dikisahkan masuk surga. Kalian malah yang suka menghina anjing, belum tentu masuk surga. Anjing yang kehausan dikisahkan menyebabkan seorang pelacur masuk surga. Saya tidak pernah dengar ada kisah anjing masuk neraka. Kalau manusia, sudah pasti ada yang masuk neraka.

Bagi saya, kalian yang memfitnah Menag RI Gus Yaqut berarti sekaligus juga sedang menghina dan menistakan anjing. Artinya, kalian juga menghina Allah swt sebagai penciptanya.

Saya jadi semakin ragu tentang pengetahuan keagamaan mereka. Mereka menghina ciptaan Allah swt, wudlu salah, shalat salah, dan tempatnya juga salah. Teriakannya sih bela Islam, tetapi pikiran, perkataan, dan perilakunya banyak salah.

Dari mana mereka mendapatkan pengetahuan acak-acakan seperti itu?

Jangan lagi meributkan hal-hal sepele, kampungan, dan tidak berguna. Kalau yakin Islam adalah rahmatan lil alamin, berpikir dan bertindaklan untuk menyelamatkan manusia dan alam semesta di dunia ini. Kalau tidak mampu berpikir tentang hal yang global, berpikirlah untuk hal-hal yang dekat dengan lingkungan kita secara positif, dan tidak menjadi pengacau dalam kehidupan umat manusia di muka Bumi ini.

Sampurasun.

Wednesday, 2 March 2022

Toa Haram Yang Kini Dipuja

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kenapa?

Kaget kalau saya bilang Toa haram?

Marah dan mau bilang saya sebagai penista agama?

Silakan laporkan saya ke polisi sebagai seorang penista agama. Saya hanya akan tertawa keras dan enak sekali menggunakan Toa untuk menertawakan kebegoan kalian.

Memangnya Toa ajaran Islam?

Toa itu adalah merk dagang sebuah alat elektronik dari perusahaan Jepang. Nabi Muhammad saw tidak pernah menggunakan itu dan tidak pernah membicarakan Toa.

Salah satu arti kata “haram” adalah “terlarang”. Tidak perlu susah untuk tahu arti kata itu, tinggal buka saja kamus, ada sederet arti, selesai.

Toa memang pernah diharamkan, tetapi itu dulu, bukan sekarang. Toa sempat diharamkan karena memang kebiasaan kita kalau ada sesuatu yang baru itu, sangat reaktif menyikapinya serta sangat sedikit orang yang bisa berpikir tenang dan memahami dengan lebih luas dan dalam.

Sedikit sejarah Toa ini saya dapatkan dari penuturan Habib Ben Shohib (HBS). Indonesia, khususnya Jakarta mulai mengenal Toa pada 1930-an. Sebetulnya, bukan Toa juga sih, melainkan pengeras suara. Bahasa yang lebih singkat dan tepat seharusnya “pelantang” yang berarti alat untuk melantangkan suara, membuat suara lebih lantang, keras, dan nyaring. Merknya bisa rupa-rupa, bukan hanya Toa.

Pada tahun 1930-an itu terjadi pro kontra di antara umat Islam terkait penggunaan pelantang di masjid. Sangat banyak yang mengharamkannya.

Tiga puluh tahun kemudian atau tepatnya sekitar 1960-an, mulai masuk pelantang dengan merk dagang Toa dari Jepang. Sejak saat itu mulai banyak masjid yang menggunakan Toa meskipun banyak juga yang masih mengharamkannya dan menolak untuk menggunakannya.

Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, yang selesai dibangun pada 1958 pun tidak pernah menggunakan Toa. Baru sepuluh tahun lebih kemudian, sekitar 1970, mulai menggunakan Toa.

Sejak saat itu penggunaan Toa mulai meluas dan seolah-olah menjadi bagian peribadatan di masjid dan mushala. Entah bagaimana ceriteranya situasi menjadi semakin aneh karena memang aneh jika ada masjid atau mushala tidak menggunakan Toa dalam aktivitasnya. Bahkan, satu masjid bukan hanya menggunakan satu Toa, melainkan ada yang sampai dua belas toa di menara-menaranya mengarah ke seluruh penjuru mata angin.

Hal tersebut tentu saja membuat gembira perusahaan Toa di Jepang. Indonesia yang memiliki jumlah masjid terbanyak di dunia adalah pasar raksasa bagi perusahaan Toa Jepang. Mereka untung banyak dari umat Islam Indonesia.

Saat ini malah semakin aneh dengan adanya aturan dari Menag RI Gus Yaqut tentang pengaturan volume suara di masjid dan mushala, Toa semakin terkenal. Toa yang dulu diharamkan kini dipuja-puja, dibela habis-habisan. Ada sekelompok orang yang protes atas kebijakan Gus Yaqut dengan mengadakan gerakan “Hari Toa” dengan cara membuat kebisingan dengan suara sepeda motor dan membawa-bawa Toa supaya lebih keras lagi suaranya. Tentu saja hal ini akan membuat pabrik Toa berjoget ria karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk promosi, tetapi mendapatkan keuntungan sangat besar dari orang-orang yang protes itu. Orang-orang pembuat Toa mungkin sekarang sedang dangdutan atau menyewa penyanyi kelas dunia untuk merayakan kemenangan pemasaran Toa di Indonesia.

Sedihnya, umat Islam yang membela habis Toa itu tidak dapat serupiah pun dari Toa.

Dapet uang berapa sih dari Toa?

Saya yakin tidak ada serupiah pun. Malah mungkin mereka mengeluarkan uang sendiri untuk gerakan-gerakan aneh itu. Kalau saya mau mengadakan Hari Toa, pasti akan bikin proposal yang bagus ke perusahaan Toa agar pabrik itu mengeluarkan uangnya buat biaya promosi yang akan saya gelar sehingga saya punya untung banyak dan berbagi rezeki dengan anggota gerakan Hari Toa.

Hal yang lebih lucu adalah ada orang yang mengeluarkan samurai seolah-olah mengancam menebas Gus Yaqut yang mengatur volume Toa. Dia bilang darahnya mendidih karena adzan diusik-usik dan merugikan umat Islam. Sesungguhnya, yang dia bela itu bukan Islam, bukan ajaran Islam, dan bukan adzan, melainkan membela Toa tanpa dirinya menyadarinya. Lucu banget dia. Mungkin dia sekarang sedang diuber Banser.

Bukankah adzan tidak berubah?

Pelafalan adzan tetap, waktunya tetap, pakai Toa boleh. Hal yang diatur itu adalah volumenya.

Fahimtum?

Sebagaimana yang saya bilang, kita itu punya kebiasaan reaktif terhadap hal baru. Dulu reaktif sehingga mengharamkan pelantang. Sekarang reaktif lagi ketika pelantang yang dulu diharamkan itu diatur volume suaranya.

Sebetulnya, reaktif itu tidak apa-apa jika sebatas perbedaan pendapat, tetapi jadi bahaya, memalukan, bahkan lucu jika berlebihan.

Sampurasun.

Saturday, 26 February 2022

Bukan Hanya Gonggongan Anjing Yang Dikatakan Menag Gus Yaqut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seru ya soal pernyataan Menteri Agama RI Gus Yaqut. Banyak orang marah-marah dan tersinggung, tidak suka dengan pernyataan Gus Yaqut, terutama soal gonggongan anjing. Saya sebetulnya merasa biasa saja dengan pernyataan Menag itu. Nggak ada apa-apa kok. Akan tetapi, tiba-tiba banyak yang marah, nyinyir, bahkan hingga berlebihan membahayakan.

            Saya jadi herman ... eh … heran. Saya lihat lagi berulang-ulang jawaban Gus Yaqut ketika diwawancarai wartawan di Pekan Baru, Riau itu. Tetap saja biasa-biasa.

            Lantas, apa sih yang bikin heboh?

            Ternyata, yang menghebohkan pertama kali itu adalah beberapa media online yang menulis judul bahwa Gus Yaqut membandingkan adzan dengan gonggongan anjing. Hal itu terus ditangkap oleh mereka yang gemar bikin keributan, benci pemerintah, benci NU, dan benci Gus Yaqut untuk kemudian diperbesar dan dilebih-lebihkan. Akibatnya, banyak masyarakat yang juga terpengaruh.

            Kalau saya lihat videonya yang utuh, bukan hanya bisingnya gonggongan anjing yang dikatakan Gus Yaqut, melainkan pula suara bising dari tempat ibadat agama lain dan suara truk yang bising berbunyi berbarengan. Dia mencontohkan dirinya sebagai muslim jika hidup di mayoritas agama nonmuslim, lalu mendengar suara bising dari tempat ibadat agama lain selama lima kali dalam sehari, akan merasa terganggu. Hal ini memang terjadi di Belanda, misalnya, meskipun masyarakatnya mayoritas Kristen, mereka tetap terganggu dan protes keras karena terlalu bisingnya bunyi lonceng gereja. Demikian juga jika di kiri, kanan, depan, belakang ada bunyi truk yang keras berbarengan, dia akan terganggu.

            Intinya, Gus Yaqut sedang membicarakan suara bising yang mengganggu sehingga suara-suara itu harus diatur agar tidak mengganggu. Gus Yaqut tidak sedang membandingkan antara gonggongan anjing dengan adzan karena tidak bisa dibandingkan.

            Kalau kita sedang membahas adzan, hal yang dibicarakan pastinya adalah arti adzan, sejarah adzan, pelafalan adzan, cara menjawab adzan, syarat muadzin, dan syarat mengumandangkan adzan. Tidak ada hubungannya dengan pengeras suara. Tidak ada pula hubungannya dengan gonggongan anjing. Hal yang dibicarakan Gus Yaqut itu adalah suara bising yang keluar dari pengeras suara.  Oleh sebab itu, diatur hanya cukup 100 desibel (dbl) supaya hanya terdengar oleh lingkungan sekitarnya, tidak terlalu keras, nyaman, dan tidak berbenturan dengan suara dari masjid lain yang berdekatan. Sekarang ini kan sering berbenturan, masjid yang satu sudah hampir habis adzan, masjid yang satu lagi baru mulai hingga bersahut-sahutan. Suaranya keras lagi seperti sedang lomba siapa yang paling keras.

            Dilihat dari videonya, tidak ada satu kata pun Gus Yaqut mengatakan kata “adzan”. Memang bukan sedang membicarakan adzan, tetapi suara bising dari pengeras suara.

            Tidak setuju sama Gus Yaqut, boleh. Tidak suka, boleh. Beda pendapat, boleh. Minta Gus Yaqut turun, boleh. Minta diganti, boleh. Ini negara demokrasi. Akan tetapi, tidak boleh berlebihan sehingga menimbulkan fitnah, kebohongan, penghinaan, dan huru-hara. Kalau berlebihan, akibatnya masuk ke ranah hukum dan ini sudah terjadi. Roy Suryo yang mantan Menpora itu melaporkan Gus Yaqut ke polisi karena menganggap Gus Yaqut telah menghina agama. Ini berlebihan yang berakibat pada ditolaknya laporan Roy Suryo karena perbedaan locus serta dilaporkan balik oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor bersama Banser yang jumlahnya mencapai tujuh juta orang itu.

            Bagi saya, mereka yang justru mengatakan tentang adzan dengan gonggongan anjing itu adalah media-media online, Roy Suryo, Sugik Nur, dan orang-orang yang juga membuat berbagai postingan perbandingan itu. Gus Yaqut tidak membandingkan itu, tak ada kata adzan dari mulutnya saat itu. Kini semua harus lebih hati-hati karena GP Ansor sudah mengatakan bahwa akan melawan balik Roy Suryo dan pihak-pihak yang mengganggu Gus Yaqut. Siapa pun bisa mereka perkarakan. Bahkan, jika GP Ansor memerintahkan anak buahnya hingga ke tingkat kecamatan untuk memperkarakan orang-orang di tingkat kecamatan secara hukum ke aparat hukum, situasi akan terbalik, banyak orang yang bisa terjerat hukum. Roy Suryo sudah dilaporkan balik ke polisi. Kini mungkin pihak-pihak lain dalam catatan GP Ansor yang akan diperkarakan.

            Hati-hati semua bisa berbalik situasinya. Seperti kasus Jenderal Dudung yang dinyatakan tidak melanggar hukum setelah mengatakan “Tuhan kita bukan orang Arab”. Puspomad telah meminta pendapat para ahli tentang kata-kata Jenderal Dudung yang terdiri atas satu orang ahli hukum pidana dari Unair, seorang ahli IT dari Kominfo, dan dua ahli bahasa dari UI. Mereka tidak menemukan kesalahan Jenderal Dudung. Kalau Dudung mau, para pelapor itu bisa dilaporkan balik sebagai pencemaran nama baik untuk dimasukkan dalam penjara.

            Meskipun aturan tentang pengeras suara ini sudah diberlakukan, saya tidak yakin bahwa aturan ini akan berjalan dengan baik. Buktinya, aturan ini sebetulnya sudah ada sejak zaman Soeharto, tetapi tidak dilaksanakan. Penyebabnya, aturan ini hanya macan kertas, cuma ada di kertas, dan tanpa ada sanksi. Oleh sebab itu, Habib Kribo Zen Assegaf menyarankan dengan gaya slebornya agar jika ada masjid yang tidak mengikuti aturan, segera ditutup saja.

            Hal yang lebih lucu adalah peraturan soal pengeras suara ini sebetulnya yang terkena dampaknya adalah mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) yang biasanya menggunakan pengeras suara dengan keras jika adzan, takbiran, tadarusan, khataman, maulidan, tahlilan, dsb., tetapi warga NU mencoba beradaptasi, menyesuaikan diri dengan peraturan Menag dan mencoba memahami manfaatnya untuk kehidupan yang lebih harmonis dan menenangkan. Justru yang banyak protes adalah mereka yang sering membidahkan orang yang tahlilan, takbiran, maulidan, dsb., bahkan sering protes jika dilakukan dengan suara keras dengan menggunakan pengeras suara. Aneh memang. Ini adalah tanda bahwa mereka pengen ribut saja.

Seperti saya bilang, boleh tidak suka, boleh tidak setuju, tetapi jangan berlebihan sehingga melanggar hukum. Orang Sunda bilang, bisa malik piloko. Hati-hati.

            Sampurasun.