Showing posts with label Lebak Cawene. Show all posts
Showing posts with label Lebak Cawene. Show all posts

Friday, 19 August 2011

Sunda dan Jawa Barat Harus Jual Mahal

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dari dulu sampai sekarang Provinsi Jawa Barat merupakan “penentu” kemenangan politik partai-partai. Hal ini disebabkan provinsi ini merupakan lumbung suara yang sangat penting karena jumlahnya sangat banyak, bahkan terbanyak. Sebagian politisi kawakan mengatakan bahwa jika telah menang di Jawa Barat, dipastikan menang mudah di tingkat nasional.

Dalam perebutan kekuasaan mendatang pun, provinsi ini tetap menjadi lahan basah para politikus untuk diperas agar dapat memberikan kontribusi bagi kepentingannya. Kita bisa melihat bahwa akhir-akhir ini partai-partai menggunakan wilayah Bandung sebagai pilihan utama untuk mengadakan berbagai perhelatan besar berskala nasional, entah itu deklarasi, rapat kerja, musyawarah, kongres, temu kader, dan lain sebagainya. Golkar, PPP, dan Demokrat sudah menunjukkan aktivitas itu. Ke depan partai-partai lain pun tampaknya menyusul pula.

Ada hal yang menggelitik soal Bandung, Sunda, dan Jawa Barat dalam hal politik ini. Jika dilihat dari statistik, sudah tak bisa dibantah lagi memang provinsi ini sangat seksi dijadikan rebutan agar penduduknya terbujuk rayu para politisi untuk memenangkan partai dan kelompoknya. Akan tetapi, ada hal lain di luar itu yang bisa kita cermati bersama, yaitu dalam pandangan spiritual. Ada kemungkinan bahwa para politisi menjadikan daerah Bandung sebagai tempat untuk mengadakan berbagai perhelatan besar disebabkan pula pandangan secara spiritual.

Dalam penglihatan berbagai ahli spiritual, baik zaman dulu maupun zaman sekarang, Bandung memiliki arti yang sangat strategis, bahkan menentukan kepemimpinan nasional pada masa mendatang. Lebih tepatnya lagi menjadi tempat kemunculannya Sang Pemimpin Agung yang benar-benar adil, Ratu Adil.

Dalam pandangan spiritual zaman dulu, Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Sunda Pajajaran, mengatakan bahwa Budak Angon, ‘Anak Gembala’, yang kemudian menjadi Ratu Adil akan ngababakan, ‘membuka lembaran baru’, di Lebak Cawene. Lebak artinya lembah. Cawene artinya perempuan, bisa pula cawan atau mangkuk. Cawan atau mangkuk ini tetap saja mengacu pada perempuan, tepatnya alat kelamin perempuan yang mirip cawan. Dari segi geografis, lembah yang bentuknya mirip mangkuk perempuan adalah Cekungan Bandung. Cekungan Bandung dulunya memang sebuah danau besar yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Coba saja cek kepada para ahli, lihat pula peta, buku-buku geografi dan geologi, atau cek sendiri juga bisa, caranya naik ke atas genteng rumah di Kota Bandung, lalu lihat sekeliling 360 derajat, Anda akan menemukan bahwa Anda sedang berada di sebuah cekungan atau lembah yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Artinya, Anda sedang berada di dasar danau besar.

Jayabaya pun mengisyaratkan hal yang sama, yaitu Ratu Adil itu tempatnya dekat Gunung Perahu sebelah barat Tempuran. Kemudian, ia pun lebih menjelaskan bahwa di tempat itu ada tiga pohon beringin, Ringin Telu.

Gunung Perahu tampak jelas menunjuk pada Gunung Tangkuban Parahu dan itu di Bandung. Adapun Tempuran adalah tempat terjadinya banyak pertempuran. Ringin Telu dalam bahasa Sunda adalah Caringin Tilu, ‘Beringin Tiga’. Ketiga pohon itu terletak di salah satu gunung yang mengitari Bandung. Kalau saya membuka pintu depan rumah orangtua saya di sekitar Soekarno-Hatta, Bandung, langsung terlihat pohon beringin yang paling tinggi dari ketiganya. Jika ada penggaris yang panjangnya sekitar 25 km, lalu dibentangkan, akan tepat sekali sangat lurus dari pintu rumah orangtua saya sampai ke Gunung Caringin Tilu. Memang tempat itu dari zaman dulu disebut Caringin Tilu. Ketika saya masih SD sampai SMP, berkali-kali datang ke tempat itu bersama-sama teman-teman karena menyenangkan untuk hikking. Di atas puncaknya, di tempat pohon beringin tiga itu tumbuh berkumpul, bertemu dengan rombongan lain dari berbagai tempat yang mencari udara segar di sana, sebagian malah ada yang membawa gitar dan radio dengan pakaian yang warnanya mencolok, kadang-kadang tampak lucu cari-cari perhatian. Tempat itu dulu memang menyenangkan dan menjadi ajang bertemunya anak-anak muda yang gemar berolah raga, jalan-jalan, rekreasi, sekaligus saling berkenalan berharap bisa jadi pasangan cinta.

Itu berdasarkan pandangan spiritual zaman dulu, yaitu dari Prabu Siliwangi dan Jayabaya. Ada pandangan spiritual zaman ini yang justru sangat mencengangkan. Bagi saya sih, sangat mengagetkan. Beberapa waktu lalu, masih dalam tahun ini juga, 2011, para ahli spiritual dari berbagai belahan Bumi, secara internasional, melakukan pertemuan di Gunung Tangkuban Parahu, Bandung, kemudian dari pandangan batin multinasional itu didapat gambaran yang sama tentang dunia ini, termasuk Indonesia. Gambaran ini ditulis dalam judul yang lain, supaya lebih jelas. Saya juga baru tahu ketika diminta menjadi pembicara dalam diskusi panel yang diselenggarakan keluarga istana kerajaan-kerajaan Sunda yang tergabung dalam Yayasan Pamanah Rasa. Ada lima pembicara, saya salah satunya, dan ada seorang pembicara ahli spiritual yang menjadi peserta pertemuan internasional spiritual di Gunung Tangkuban Parahu.

Mengingat dua hal penting di atas, yaitu pandangan politis berdasarkan statistik yang menggiurkan serta pandangan spiritual zaman dulu dan zaman sekarang, orang Sunda dan Jawa Barat harus ekstra jual mahal. Kita sudah membuktikan kesetiaan kita kepada negeri ini dan mengikuti berbagai proses politik dengan teramat baik. Akan tetapi, ternyata teramat banyak elit dan penyelenggara negara telah menunjukkan tabiat serendah-rendahnya dan sehina-hinanya dengan melakukan berbagai penyimpangan kekuasaan yang akibatnya teramat buruk terhadap kita dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu artinya mereka telah mempermainkan dan mengkhianati kebaikan yang telah kita tunjukkan. Sekarang adalah saatnya kita yang menentukan sendiri bagaimana seharusnya negeri ini dijalankan agar tercipta kemakmuran dan kejayaan sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Orang Sunda dan penduduk Jawa Barat sudah memiliki modal yang sangat besar, yaitu jumlah pemilih yang besar dan posisi strategis yang “mengepung” Ibukota Jakarta. Di samping itu, tentunya dalam pandangan spiritual, memiliki sejumlah modal besar yang sangat menentukan (ditulis dalam judul lain). Kita jangan mau lagi ditipu janji-janji kosong yang tampak manis, tetapi memuakkan.

Kita harus hanya bersedia dipimpin oleh orang yang idealnya sih mirip Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, jika Rasulullah saw dianggap terlalu ideal dalam arti terlalu sempurna sehingga sangat sulit untuk dicontoh seluruh perilakunya, kita bisa melihat contoh kepemimpinan ideal lainnya, yaitu Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Sunda Pajajaran yang tak punya cela.

Jangan mau kita hanya diberi janji manis dan selembar uang limapuluh atau seratus ribuan, kemudian nantinya kita sengsara berkepanjangan karena dipimpin oleh para petualang politik busuk. Kita harus jual mahal agar benar-benar memiliki pemimpin yang adil sehingga dapat membawa NKRI benar-benar sesuai yang diharapkan Preambul UUD 1945. Jika kita menemukan pribadi-pribadi yang mengemis suara karena ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak mirip atau tidak mengarah pada kepribadian Prabu Siliwangi, sebaiknya kita jangan ikut pemilihan. Itulah satu-satunya kesempatan dan kekuasaan yang kita miliki untuk menunjukkan harga diri kita dalam sistem demokrasi hina ini. Kita harus jual mahal karena kita ini bukan orang-orang murahan. Kita ini orang-orang yang punya harga diri tinggi.

Standar kita adalah kepemimpinan Rasulullah saw. Kalaupun tidak bisa karena terlalu tinggi, minimal mendekati pribadi Prabu Siliwangi. Pada tulisan lain akan diuraikan hal-hal positif dari Prabu Siliwangi yang dapat dijadikan standar bagi kita.

Sekedar catatan, saya yakin para politisi yang menawarkan diri dan mengemis dukungan untuk menjadi pemimpin kita sama sekali tidak akan pernah mampu untuk menjadi pemimpin seperti Prabu Siliwangi. Hal itu disebabkan sistem politik demokrasi menjauhkan manusia dari keteladanan pemimpin unggulan seperti Prabu Siliwangi, apalagi seperti Nabi Muhammad saw. Mau jadi pemimpin unggulan bagaimana, caranya saja sudah sangat salah, kampanye penuh dusta, menebar uang recehan¸ menipu, tidak ikhlas, dan lain sebagainya. Demokrasi itu memang brengsek.

Tenang saja sambil berdoa, nanti juga ada kok, tetapi bukan melalui sistem demokrasi. Insyaallah.