Showing posts with label Politisi. Show all posts
Showing posts with label Politisi. Show all posts

Thursday, 26 January 2017

Aksi Bela Udin

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sering sekali tindak-tanduk para politisi tanggung yang sangat kebelet ingin menjadi penguasa memunculkan perilaku-perilaku aneh dan lucu. Bahkan, bukan hanya mereka yang bersikap lucu, para pendukungnya pun ikut-ikutan bersikap tidak tahu malu seperti pelawak.

            Adalah sebuah kisah di suatu desa yang sedang berada dalam situasi dan kondisi pemilihan kepala desa. Desa itu cukup makmur dan memiliki potensi yang bagus sehingga banyak orang yang sangat ingin menjadi kepala desa.

            Ada dua calon kepala desa yang sangat kuat di desa itu. Calon No. 1 namanya Udin Sapdi. Calon No. 2 namanya Jaya Hari. Mereka orang terkenal di desa itu dan memiliki pendukung yang sangat militan dan fanatik.

            Mereka selalu bersaing dalam segala hal. Jaya Hari memiliki kecerdasan luar biasa dan memiliki daya inisiatif tinggi. Adapun Udin Sapdi memiliki uang yang sangat banyak dan relasi yang sangat kuat. Oleh sebab itu, dalam hal mendekati rakyat dan kampanye, Jaya Hari selalu berada di depan. Ia selalu memiliki langkah-langkah cerdas dan jitu dalam kampanye. Ide-idenya selalu mendahului ide Udin Sapdi. Oleh karena itu, Udin Sapdi selalu meniru kegiatan Jaya Hari, tetapi dilakukan dengan lebih hebat, lebih gebyar, dan lebih spektakuler. Misalnya, apabila Jaya Hari mengadakan panggung musik dengan organ tunggal dan artis lokal, Udin Sapdi pun segera menyelenggarakan acara yang sama dengan panggung yang lebih besar, grup musik yang lebih hebat, serta artis yang lebih terkenal dan lebih cantik. Jika Jaya Hari mengundang ustadz tingkat kecamatan untuk mengadakan pengajian, Udin Sapdi pun mengadakan pengajian di rumahnya, tetapi dengan ustadz tingkat kabupaten atau tingkat kota. Jika Jaya Hari mengadakan konvoi motor, Udin Sapdi tak mau kalah, segera mengadakan konvoi mobil. Jika Jaya Hari mentraktir pendukungnya beli mie rebus, Udin Sapdi mentraktir pengikutnya di rumah makan. Kalau Jaya Hari datang ke rumah orangtuanya, sungkem, Udin Sapdi lebih heboh lagi dengan cara mengundang grup sisingaan, lalu menyuruh kedua orangtuanya naik sisingaan yang dipanggul oleh empat orang.

            Begitulah mereka selalu bersaing dan Udin Sapdi selalu tidak mau kalah. Lucu memang.

            Ketika hari-hari menjelang H pemilihan kepala desa segera dilangsungkan, Jaya Hari membuat kaos untuk para pendukung setianya agar dipakai di mana saja. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat di desa itu selalu mengingat nama Jaya Hari. Pada bagian belakang kaos itu disablon dengan tulisan JAYA DESAKU, HARI-HARI KITA AKAN LEBIH BAIK.

            Ketika hampir di seluruh pelosok desa bertebaran orang-orang yang menggunakan kaos Jaya Hari, Udin Sapdi benar-benar marah dan kesal. Dia merasa harus membuat kaos yang lebih baik, lebih kreatif, lebih banyak, lebih spektakuler, dan lebih mahal. Ia pun segera memesan kaos, lalu menyablonnya dengan teknik embos sehingga tulisannya yang berwarna kuning emas itu menonjol, timbul dengan indah.

            Beberapa hari kemudian, setelah kaos itu jadi dan terkumpul, Udin Sapdi segera mengumpulkan para pengikutnya.

            Ia pun berpidato, “Saudara-saudara, ingat hari pemilihan tinggal satu minggu lagi. Kita harus memenangkan pertempuran. Rakyat harus memilih kita. Si Jaya Hari terus-terusan memprovokasi kita. Apalagi dia akan melaporkanku pada polisi tentang sengketa tanah di pinggir selokan itu. Itu adalah provokasi! Curang!

            Kita tidak boleh kalah! Seperti biasa, kita harus selalu lebih hebat dibandingkan mereka.

            Kalian sudah lihat bukan itu banyak kaos yang bertuliskan JAYA DESAKU, HARI-HARI KITA AKAN LEBIH BAIK?”

            “Sudaaah Juragaaan …!” sahut para pendukungnya.

            “Itu kaos musuh kita! Saya sudah bikin kaos yang lebih bagus untuk dipakai kalian. Besok adalah hari Jumat, besok kalian harus memakainya untuk shalat Jumat. Kita datang bersama-sama ke masjid dengan start dari rumah saya. Setuju?”

            “Setujuuu …!”

            Seorang pengikutnya berkata, “Saya sangat setuju. Saya usul gerakan kita besok kita namakan ‘Aksi Bela Udin’.”

            “Ya, itu ide yang sangat bagus. Kita laksanakan,” sahut Udin Sapdi.

            Benar saja besoknya sejak pagi para pengikut Udin Sapdi sudah bergerombol dengan memakai kaos yang sama, seragam. Sementara itu, istri Udin Sapdi membagi-bagikan makanan kepada para penggemar suaminya itu.

            Menjelang pukul 11.00, mereka mulai bergerak dengan langkah perlahan menuju masjid. Di antara mereka ada yang membuat poster dengan tulisan macam-macam, seperti, Mulialah Udin Sapdi, Hormati Udin, Sehelai Rambut Udin Adalah Nyawaku, Jangan Kriminalisasi Udin, Udin Tidak Pernah Berdosa, dan rupa-rupa tulisan lainnya.

            Ketika mendekati masjid, poster-poster itu diturunkan. Mereka pun masuk masjid untuk shalat Jumat dengan bangga karena menggunakan kaos kebanggaan sebagai pertanda perlawanan kepada kaos milik Jaya Hari dan para pendukungnya. Udin Sapdi mencari-cari musuhnya, Jaya Hari. Ia ingin tahu di mana Jaya Hari duduk bersila. Ternyata, Jaya Hari duduk pada barisan kedua di depan mimbar. Kebetulan sekali pada barisan depan tepat depan Jaya Hari masih kosong, belum ada yang duduk bersila. Udin Sapdi menemukan kesempatan emas.


            Segera ia duduk pada barisan depan itu pas membelakangi Jaya Hari dengan maksud agar Jaya Hari membaca tulisan pada bagian belakang kaosnya. Dengan berwibawa, Udin Sapdi duduk bersila membelakangi Jaya Hari. Sementara itu, Jaya Hari dengan sangat jelas membaca tulisan di bagian belakang kaos Udin Sapdi. Pada kaos itu tertulis UDIN DESAKU, SAPDI-SAPDI KITA AKAN LEBIH BAIK.

Tuesday, 24 January 2017

Politisi Harus Belajar Dangdut

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Karena kita, Indonesia, masih suka dengan sistem politik demokrasi dan “takut” untuk meninggalkan demokrasi, risiko huru hara, hoax, serta kemunafikan adalah kenyataan yang harus diterima dan dihadapi. Kita tidak bisa menghindar dari itu semua karena merupakan suatu keniscayaan dari sistem politik demokrasi yang memiliki tabiat buruk. Saya sudah lama menuliskan hal ini dengan judul Demokrasi Membludakkan Orang Munafik. Orang-orang munafik jumlahnya meningkat sangat cepat dalam sistem politik demokrasi. Menjamurnya hoax merupakan bukti orang-orang munafik merajalela di Indonesia yang mayoritas muslim ini, aneh.

            Karena masih enggan meninggalkan sistem politik demokrasi, kita harus menyaksikan banyak persaingan dan kompetisi yang sangat tidak sehat. Saya tidak pernah percaya bahwa “bersaing sehat” itu ada. Persaingan itu selalu tidak pernah sehat. Persaingan apa pun. Satu-satunya bersaing sehat yang nyata terjadi adalah fastabiqul khoirot, ‘bersaing dalam kebaikan’. Persaingan ini pasti sehat karena jika tidak sehat, bukanlah “bersaing dalam kebaikan”.

            Meskipun persaingan itu tidak pernah sehat, paling tidak ada “persaingan yang baik dan beradab”. Persaingan yang baik dan beradab itu ada di Dangdut Academy. Para peserta dangdut itu bersaing mulai di setiap kota, provinsi, lalu bersaing di tingkat nasional. Bahkan, bersaing di tingkat Asia yang dikenal dengan Dangdut Academy Asia. Mereka memang bersaing, tetapi tidak saling menjatuhkan. Mereka saling menghormati dan saling menyayangi. Jika di antara mereka ada yang tersenggol sehingga kalah dan harus meninggalkan panggung, saingannya pun ikut sedih, menangis karena kehilangan teman. Para peserta itu tidak pernah pelit berbagi ilmu terhadap saingannya. Mereka saling berbagi dan saling belajar. Dalam panggung mereka memang bersaing, tetapi performa mereka merupakan hasil saling belajar dengan saingannya. Tak pernah mereka melakukan black campaign dan menjatuhkan nama baik lawannya, padahal setiap dari mereka sedang berkompetisi. Mereka tidak mengenal perbedaan Sara. Mereka saling terancam jatuh, tetapi tidak saling menjatuhkan. Mereka bersaing dengan cara mempersembahkan kemampuan mereka yang terbaik hingga ke tingkat paling maksimal tanpa menghancurkan nama baik musuhnya.

            Setelah mereka menjadi artis pun tidak ada keinginan untuk melakukan kudeta makar kepada Raja Dangdut Bang Haji Rhoma Irama. Kalaupun ada yang berkeinginan untuk menjadi Raja Dangdut, satu-satunya cara yang ditempuh adalah harus mampu melahirkan karya yang melebihi karya Bang Haji. Demikian pula, tidak ada yang berkeinginan untuk menggeser posisi Ratu Dangdut Elvi Sukaesih. Kalau ada yang ingin jadi Ratu Dangdut, mereka harus mampu tampil lebih maksimal dibandingkan Elvi Sukaesih.

            Mereka tidak pernah menginginkan posisi Raja dan Ratu dengan menggunakan huru hara dan hoax karena itu tidak mungkin dan hanya akan mempermalukan diri sendiri. Mereka pun tidak pernah merasa terpaksa untuk berada pada posisinya masing-masing. Kalaupun memiliki kelebihan, posisi mereka tetap berada di bawah Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih. Misalnya, Pangeran Dangdut, Ratu Pantura, Ratu Ngebor, Ratu Ngecor, atau apalah.

            Semestinya, para politisi malu kepada para penyanyi dangdut yang mampu bersaing tanpa melakukan kebohongan dan black campaign. Mereka memang ingin tampil lebih baik dibandingkan orang lain, tetapi tidak melakukan kecurangan. Mereka memang ingin mengalahkan orang lain, tetapi dengan cara menampilkan karya-karya terbaik mereka. Jika ada yang kalah, mereka sendiri tampak sedih, padahal yang menang itu sudah jelas menjatuhkan yang kalah. Politisi harus meniru mereka. Politisi harus berguru kepada para penyanyi dangdut tentang bagaimana caranya bersaing tanpa harus menghancurkan nama baik dan karya orang lain.

            Cobalah bikin pembekalan terhadap para politisi dengan instruktur seperti Lesti, Danang, Irsya, Soimah, Iis Dahlia, Rita Sugiarto, Inul Daratista, dan lain sebagainya. Mereka bersaing mencari rezeki dengan merebut hati rakyat, tetapi berupaya keras pula memberikan ilmu pengetahuan kepada sesama artis dangdut tanpa takut merasa tersaingi.

            Cobalah merasa malu kepada artis dangdut. Belajarlah dangdut agar hati kalian menjadi lembut dan ceria.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 April 2012

Rakyat Tidak Perlu Marah Jika Tanahnya Diambil

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Kenapa mesti marah dan sedih jika tanah rakyat diambil paksa tanpa hak oleh mereka yang berkuasa dan banyak uang?

            Tidak seharusnya marah atau kecewa atas penggusuran dan pengambilalihan tanah rakyat, baik legal maupun tidak. Toh, kita, penduduk negeri ini, sudah sepakat menggunakan sistem politik yang korup, hina, rendahan, dan kacau ini? Bukankah kita senang menggunakan sistem politik demokrasi?

            Kalau senang dengan demokrasi, ya jangan marah kayak kebakaran semua bulu jika tanah rakyat diambil paksa. Wajar saja ada penggusuran dan perampokan hak atas tanah karena kita sudah teken kontrak untuk dipermainkan dalam sistem politik demokrasi.

            Saudara-saudara sekalian, melaksanakan sistem demokrasi yang penuh penipuan ini sangat mahal, perlu biaya banyak, boros, serta membutuhkan para investor untuk dijadikan partner dalam menguasai negara. Oleh sebab itulah, terjadi perkawinan haram antara pengusaha dan politisi dan itu wajar dalam demokrasi. Para pengusaha, baik asing maupun dalam negeri akan jor-joran dan habis-habisan membela dan mendukung jagonya untuk berada dalam penyelenggaraan negara, baik itu di eksekutif maupun di legislatif, bahkan di yudikatif. Di mana-mana juga begitu kok. Di seluruh dunia terjadi seperti itu jika menggunakan demokrasi. Bahkan, bukan hanya dengan penguasa para politisi melakukan perzinahan, melainkan pula dengan para penjahat dan preman kudisan.

            Para pengusaha kapitalis yang telah membantu menyukseskan jagonya untuk menang dalam Pemilu, baik Pileg, Pilpret, maupun Pemilihan Kadal, jelas meminta balas jasa kepada para penguasa yang sudah manggung. Wajar toh terjadi seperti itu? Ya wajar atuh. Seseorang yang telah banyak membantu, kemudian meminta upah atas bantuannya itu adalah normal sekali.

            Nah, kaitannya dengan penggusuran tanah sudah mulai jelas terlihat. Para pengusaha yang menguasai tanah sengketa dan berbagai sumber daya alam Indonesia secara berlebihan itu mungkin adalah mereka yang telah melakukan pelacuran dengan para politisi. Bisa jadi tanah-tanah sengketa yang mereka kuasai itu merupakan semacam balas jasa dari penguasa yang sedang manggung karena dulu telah dibantu dalam proses kampanye serta pemilihan. Kelambanan aparat dalam membela rakyat yang sesungguhnya pemilik sah negeri ini pun patut diduga karena besar sekali bantuan yang diberikan para pengusaha pada masa-masa para penguasa sebelum berkuasa. Demikian pula terjadinya kesan aparat lebih membela kepentingan pengusaha dibandingkan rakyat adalah besar kemungkinan karena itu, balas budi atau pembayaran atas pelacuran yang dulu dilakukan mereka. 

     Para politisi dalam dunia demokrasi memerlukan banyak bantuan keuangan untuk berbagai kepentingannya, termasuk untuk money politics yang ditebarkan kepada rakyat-rakyat juga. Mereka jelas akan merayu-rayu atau dirayu-rayu para pengusaha untuk berzinah. Karena memiliki kesamaan kepentingan, yaitu berkuasa dan kaya raya, mereka pun esek-esek di tempat-tempat gelap, bahkan ada yang terang-terangan.

            Kita semua telah sangat setuju dengan sistem politik yang melahirkan perzinahan tersebut. Jadi, tidak perlu marah, sedih, kecewa, ataupun dendam dengan penggusuran atau perampokan tanah sengketa. Tenang-tenang saja. Bahkan, bergembira rialah karena telah berhasil menjadi negara demokratis. Normal saja toh, para politisi ingin menang dibantu oleh pengusaha, lalu para pengusaha itu meminta bagian atas jasanya untuk menguasai tanah dan sektor-sektor ekonomi lainnya di negeri ini. Soal rakyat itu kan hanya soal angka statistik yang hanya digunakan untuk perhitungan suara dan kalkulasi politik. Rakyat itu nggak masuk hitungan dalam kue pembagian kekuasaan. Bahkan, dalam masa berkuasa rakyat hanyalah manusia-manusia kelas rendah yang menyusahkan.

            Kalau mau pembagian tanah dan kepemilikan tanah yang lebih tertib dan memakmurkan rakyat secara keseluruhan, ya harus ada kebijakan untuk mengembalikan seluruh tanah ini kepada rakyat. Kemudian, segala potensi negeri ini bergerak bersama mengelola sumber daya alam untuk kepentingan bersama. Akan tetapi, kebijakan itu tidak akan pernah lahir dari sistem politik demokrasi. Mustahil sistem politik demokrasi melahirkan keadilan dan kemakmuran. Bukti nyata yang terjadi di seluruh muka Bumi ini adalah demokrasi telah melahirkan kekalutan dan kekacauan luar biasa yang menjerumuskan manusia ke lembah berbagai penderitaan.

            Jangan marah dong kalau tanahnya diambil, wajar saja, kan demokrasi. Kalau mau makmur bersama, hancurkan dulu demokrasi. Kemudian, mulai menata sistem politik sesuai dengan jiwa bangsa sendiri. Malu dong sama orangtua kita dulu sebelum masa kolonial yang mampu makmur, kuat, dan sejahtera dalam masa kejayaan dan keemasan Indonesia. Hanya orang-orang bego dan tolol yang menganggap orangtua kita itu kuno dan tidak beradab. Orang-orang yang berpendapat seperti itu adalah orang sombong yang pikirannya telah digelapkan karena cinta pada perilaku dan pikiran orang-orang barat kapitalis yang jauh sekali watak dan kulturnya dengan Indonesia.

            Mau semua orang punya tanah? Ingin semua punya rumah? Ingin semua punya pekerjaan? Mau semuanya layak?

            Bunuh dulu demokrasi, lalu kuburkan ke dalam septictank tempat tinja perpolitikan. Kemudian, bergerak dan bekerja bersama dalam suasana gotong royong. Niscaya kita akan menjadi barometer dan mercusuar dunia. Insyaallah.

Thursday, 9 September 2010

Demokrasi Hadirkan Legislasi Pesanan Asing

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Salah satu kesulitan yang diderita bangsa ini untuk berkembang, maju, memiliki harga diri adalah disebabkan banyaknya legislasi yang kemudian diterapkan di negeri ini merupakan pesanan-pesanan asing. Pihak-pihak asing yang kemungkinan besar hampir bisa dipastikan berasal dari kaum kapitalis itu memiliki banyak kepentingan di negeri ini.

Negeri ini begitu kaya dengan sumber daya alam sekaligus merupakan pasar yang potensial untuk jualan barang apa pun. Pihak-pihak asing melihatnya sebagai santapan lezat untuk kepentingan bisnis dan kemungkinan untuk politik mereka. Salah satu cara yang sangat efektif untuk menguasai berbagai potensi di negeri ini adalah dengan menggunakan jasa para anggota legislatif untuk membuat atau mengesahkan berbagai aturan yang melindungi dan memperlancar kepentingan asing itu.

Hal itulah yang sempat diutarakan dan disesalkan oleh politisi terkemuka Permadi beberapa waktu lalu. Menurutnya, banyaknya legislasi pesanan asing itu disebabkan pula oleh para anggota legislatif kita yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai legislasi itu sendiri.

Sungguh hal itu merupakan keprihatinan kita bersama. Kapan negeri ini akan menikmati lebih utuh kekayaannya sendiri jika banyak aturan yang dikeluarkan ternyata tidak pro terhadap rakyat kecil, tetapi berupaya melanggengkan kepentingan yang sama sekali bukan untuk rakyat negeri ini?

Kenyataan ini menunjukkan bahwa negeri ini hanya menjadi alat pemuas kepentingan asing. Kita hanya menjadi alat permainan. Wakil-wakil rakyat yang diharapkan menjadi penolong rakyat malah asyik dengan para pengusaha luar itu.

Hal ini pun menguatkan dugaan bahwa sistem politik demokrasi telah memaksa para politisi kita yang rakus dan kurang pengetahuan untuk bermesra-mesra dengan pihak-pihak luar yang memiliki dana banyak. Dalam demokrasi, untuk mendapatkan jabatan di lingkungan penyelenggaraan negara, harus memiliki banyak dana. Para politisi mau tak mau harus punya uang banyak agar mendapatkan kedudukan yang mereka inginkan. Mereka tak akan merasa cukup jika hanya mengandalkan gaji yang sebetulnya sangat besar dibandingkan pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam masa-masa kampanye atau persiapan untuk itu, para politisi harus memelihara konstituen, tim sukses, dan menciptakan alat-alat propaganda untuk bisa menang dalam pemilihan berikutnya. Di samping itu, mereka pun harus mempersiapkan diri untuk segera menggunakan kesempatan jika pintu money politics terbuka dan itu kesempatan yang efektif untuk mengikat pihak-pihak yang akan patuh kepadanya.

Salah satu sumber dana yang digunakan untuk kepentingan politiknya itu, tentu saja merupakan hasil berkolusi dengan pihak-pihak asing itu. Pihak luar memiliki keleluasaan dalam menggali potensi di negeri ini karena dinyamankan oleh aturan-aturan yang dikeluarkan para politisi “peliharaannya” dan para politisi dalam negeri yang tak tak tahu malu itu memiliki banyak uang sebagai hasil dari menyamankan kepentingan-kepentingan asing. Dengan demikian, sudah sempurnalah “perampokan” terhadap potensi-potensi negeri yang kita cintai ini.

Oleh karena itu, jangan terlalu banyak berharap bahwa negeri ini akan keluar dari kemelut yang menyengsarakan ini. Itulah buah dari demokrasi. Selama kita mengagungkan dan memuja demokrasi, kita akan selalu didera penderitaan karena berbagai perilaku kotor itu. Kekotoran itu memang sesuatu yang pasti terjadi karena demokrasi memaksanya untuk terjadi.

Jika kita berani, secepatnya tinggalkan demokrasi yang menyesatkan itu, tinggalkan secepatnya. Mulailah dari diri sendiri dan cobalah untuk menyadarkan lingkungan sekitar kita. Semoga Allah swt memberikan jalan keluar dari penderitaan ini. Amin.

Wednesday, 7 July 2010

Jangan Malu Berhenti Berdemokrasi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kita merdeka bukan hanya menginginkan lepas dari kekuasaan bangsa asing saja kan? Juga bukan hanya ingin agar bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat. Kita merdeka menginginkan juga adanya peningkatan hidup. Kita ingin cukup makan, bisa sekolah, jalan-jalan dengan aman, punya penghasilan, beribadat dengan tenang, rekreasi, punya tempat tinggal yang nyaman, dapat mengekspresikan diri, bergembira, bersatu hati dengan sesama, berkeluarga dengan baik, pendeknya terpenuhi kebutuhan lahir dan batin.

Untuk mencapai hal-hal itu, tentunya dibutuhkan sistem pergaulan berbangsa dan bernegara yang mendukung. Tak perlu kita menyakralkan suatu sistem tertentu. Yang harus dilakukan adalah mencari cara, mencari sistem yang tepat untuk kehidupan bangsa ini. Bangsa ini sejak awal kemerdekaan telah melakukannya, mencoba berpikir, dan merenung untuk kemudian diterapkan dengan harapan bisa berhasil. Akan tetapi, sampai saat ini harapan itu tak kunjung datang. Penyebab utamanya adalah tidak adanya kepercayaan kepada diri sendiri dan menganggap orang-orang luar lebih hebat segala-galanya, baik itu teknologi, kebiasaan hidup, cita-cita, maupun cara-cara bernegaranya. Oleh sebab itu, kita sangat mempercayai bahwa bangsa ini adalah bangsa terbelakang dan harus selalu meniru orang lain.

Pada tulisan-tulisan yang lalu sudah disebutkan bahwa kita telah melaksanakan demokrasi berkali-kali sesuai dengan cirinya masing-masing, tetapi negeri ini yang kata Gus Dur adalah terkaya di dunia masih juga tetap miskin, menderita, dan jadi bulan-bulanan pihak asing. Kesulitan itu pasti ada penyebabnya, yaitu kalau bukan orangnya, pasti sistemnya yang salah. Namun, bisa pula dua-duanya, baik orangnya maupun sistemnya yang salah. Soal pihak asing, Dajjal, dan Iblis sebenarnya bagaimana kitanya. Mereka pasti akan tunduk kepada kita selaku tuan rumah jika kita punya harga diri dan kemampuan untuk menunjukkan jati diri.

Ada seorang politisi di dalam sebuah stasiun televisi yang mengatakan bahwa kita bisa memilih antara hidup seperti Cina atau India. Cina yang komunis otoriter atau India yang demokratis. Dalam kenyataan, Cina lebih maju dalam ekonomi dan lebih tegas dalam penanganan korupsi, sedangkan India maju perlahan dan diperkirakan akan maju setelah beberapa puluh tahun kemudian.

Si Politisi itu mengatakan dengan tegas, “Saya lebih suka memilih hidup seperti India.”

Saya berpendapat bahwa dia itu goblok, bego, dan tolol. Rakyat yang sudah megap-megap ini disuruh bersabar sampai puluhan tahun. Mau tunggu kematian massal karena kelaparan? Mau bersabar sambil nonton kriminalitas yang semakin merajalela? Mau tenang tunggu waktu sambil menyaksikan perilaku korupsi tak berhenti? Begitu?

Saya lebih suka kita hidup dengan cara sendiri sebagaimana orang Indonesia yang punya masa keemasan dan kejayaan dengan kegagahan kerajaan-kerajaannnya dan kemakmuran hidupnya. Saya lebih menginginkan Indonesia memiliki sistem politik yang berasal dari jiwa, nilai, norma yang telah ada sejak kita dilahirkan, bahkan telah ada sejak zaman dulu kala karena di sanalah sebenarnya letak kekuatan kita.

Sistem politik yang sekarang dianut bangsa ini terlalu banyak mengadopsi pemikiran orang lain yang memiliki sejarah dan kebiasaan hidup berbeda dengan kita.

Tak perlu malu untuk berubah. Tak perlu merasa ditelanjangi kalau kita memang harus berhenti melaksanakan demokrasi.

Mungkinkah kita masih bertahan dengan pendapat bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang terbaik di dunia? Dengan sejarah yang sudah dipaparkan pada tulisan-tulisan yang lalu, masih juga tidak mengerti? Baik, kalau begitu, memang harus diperjelas.

Berikut ini ada beberapa poin mengenai keburukan demokrasi yang nanti akan lebih dibahas satu per satu. Poin-poin itu adalah demokrasi itu melepaskan rakyat ke pangkuan Dajjal dan Iblis, menyuburkan pertengkaran, melambankan pengambilan keputusan, membludakkan orang-orang munafik, memboroskan dana, mengukuhkan korupsi, tidak konsisten, menggadaikan bangsa, menghapus pahala, menciptakan oligarki, kedaulatan rakyat semu, menumbuhkan sikap ambisius, dan pendeknya masa pemerintahan.

Seperti yang tadi disebutkan poin-poin itu akan dibahas lebih lanjut dalam setiap tulisan.

Thursday, 27 May 2010

Simposium Kebangsaan, Kasian Deh Lu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Beberapa waktu lalu, sejumlah politisi dan banyak rektor di Indonesia berkumpul, berembuk, dan berdiskusi dengan maksud menyusun sebuah panduan bagi politisi Indonesia agar dapat bekerja lebih baik dan sesuai dengan jiwa bangsa. Begitulah kira-kira yang saya pahami dari berita tentang simposium kebangsaan yang diberitakan media massa.

Saya yakin bahwa simposium itu terjadi karena keprihatinan atas perilaku politisi yang sudah terlihat jauh dari jati diri bangsa dan juga atas dorongan ingin menciptakan kehidupan Indonesia dengan lebih baik lagi.

Saya pun yakin hasil dari simposium itu akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang hebat dan mulia. Maksudnya juga kan untuk memandu para politisi. Akan tetapi, saya sama sekali tidak yakin bahwa panduan itu akan digunakan sebagaimana yang diharapkan. Persoalannya adalah sekuat apa hasil simposium itu mengikat diri pribadi politisi. Dalam praktiknya, mereka itu lebih terikat pada partai, kepentingan politik, para sponsornya, tim suksesnya, serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pemenangan dirinya menjadi penguasa. Dengan kata lain, panduan yang dihasilkan simposium itu hanya sekedar tulisan bermakna yang tak punya arti karena tidak akan terlaksana dengan baik.

Hasil dari simposium itu akan bisa terlaksana dengan baik secara utuh jika kita meninggalkan sistem demokrasi yang rapuh dan menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan ini. Kita akan hidup lebih baik, lebih makmur, dan lebih punya harga diri jika menggunakan sistem hidup, sistem politik yang berasal dari nilai dan norma-norma diri sendiri, bukan mencontoh hidup orang lain yang nggak karu-karuan itu.

Demokrasi itu mendorong orang untuk curang, jahat, ingkar, dan menipu. Sepertinya itu indah demokrasi, tetapi sesungguhnya menjauhkan diri kita dari kemuliaan diri yang telah dianugerahkan Allah swt kepada kita.

Selama kita berdemokrasi, selama itu pula kita akan tersesat dan bingung. Selama itu pula kita akan kehilangan diri sendiri. Hasil dari simposium itu tak akan mampu mengembalikan kekuatan bangsa jika masih terus menggunakan sistem politik demokrasi.

Jadi, hasil dari simposium kebangsaan itu, …. kasian deh lu.