Showing posts with label Bahasa Sunda. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Sunda. Show all posts

Monday, 1 June 2026

Serunya Ngajarin “Paguneman” ke Mahasiswa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Paguneman adalah bahasa Sunda yang artinya dialog. Saya mencoba mengajarkan bahasa Sunda kepada mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari dengan materi paguneman atau dialog, bisa antarsesama, atasan-bawahan, guru-murid, atau yang lainnya. Untuk lebih memahami paguneman, mahasiswa saya wajibkan untuk melakukan praktik. Tentunya, sebisa mereka karena bukan mahasiswa Sastra Sunda. Mereka adalah mahasiswa HI. Target saya adalah mahasiswa yang berasal dari Sunda tidak melupakan, bahkan bangga bisa berbahasa Sunda. Adapun mahasiswa yang bukan Sunda, misalnya, dari Jawa atau NTT dapat mengenal bahasa Sunda dan mampu lebih baik lagi berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Sunda.

                   Ketika melakukan praktik paguneman, banyak kelucuan yang dilakukan mahasiswa karena saya bebaskan mereka untuk membuat tema sendiri, menjadi sutradara sendiri, dan memperbaikinya sendiri. Praktik tersebut berlangsung dengan suasana hangat dan banyak lucunya karena kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Akan tetapi, tujuan saya tetap tercapai, yaitu lebih memperkenalkan bahasa Sunda.

                   Keseruan itu direkam oleh mahasiswa sendiri, lalu dikirimkan kepada saya. Saya tayangkan di youtube supaya ada kenangan dan setiap saat bisa melakukan perbaikan agar praktik paguneman bisa lebih baik lagi.

                   https://www.youtube.com/watch?v=8CqJNqSa1Og




            Sampurasun.

Wednesday, 19 January 2022

Soal Bahasa Sunda, Arteria Tidak Jelas

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini anggota DPR RI dari PDIP Arteria Dahlan meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mencopot atau memecat salah seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang menggunakan bahasa Sunda dalam rapat kerja. Permintaannya itu membingungkan, tidak lengkap, dan tidak jelas.

            Kajati mana yang dia maksud? Siapa?

            Soalnya, ada empat orang Sunda yang menjadi Kajati di Indonesia ini. Kalau disebut Kajati Jawa Barat Asep Nana Mulyana, masih sulit juga. Hal itu disebabkan Asep tidak merasa bahwa dirinya yang jadi target Arteria Dahlan. Bahkan, Arteria memuji-muji Asep sebagai pengacara negara yang telah menuntut Si Ustadz Cabul Herry Wirawan yang memperkosa banyak santriwatinya dengan hukuman mati. Belum jelas Kajati mana yang dimaksud Arteria Dahlan.

            Di mana Kajati berbahasa Sunda itu melakukan rapat kerja? Di Bandung? Garut? Jakarta? Medan? Makasar?

            Rapat kerja apa yang dia maksud?

            Kapan kejadiannya?

            Sepanjang apa bahasa Sunda yang digunakan Kajati tersebut?

            Dari awal sampai akhir rapat? Hanya setengah rapat? Satu atau dua kalimat saja? Bentuknya hanya peribahasa atau narasi panjang?

            Sepanjang yang saya tahu, selama bekerja di Gedung Kura-Kura Senayan itu selama empat tahun, tidak pernah ada yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sepanjang rapat. Paling juga satu atau dua kalimat, sebuah peribahasa, atau memang harus menggunakan bahasa Sunda karena belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bahkan, beberapa kata atau peribahasa Sunda sering digunakan oleh anggota DPR RI dari suku mana pun. Misalnya, kata “tembang, anyar, baheula, miris,” atau “ngabuburit”. Peribahasa Sunda pun sering dipakai seperti “laukna beunang caina herang”, ‘ikannya dapat, airnya tidak keruh’, maksudnya masalah terselesaikan tanpa harus menimbulkan kekisruhan.




            Kalau para anggota DPR RI yang bukan Sunda ingin menggunakan bahasa atau peribahasa Sunda, suka bertanya dulu kepada orang Sunda.

            “Dek, apa itu artinya ‘fardhu kasunat’?”

            Dia memanggil saya adik maksudnya. Otak saya meloading dulu sebentar karena kalimat itu tidak pernah ada.

            “Mungkin maksudnya ‘fardhu kasambut, sunat kalampah’, begitu, Pak?”

            “Iya, iya itu.”

            “Itu seperti peribahasa Indonesia, ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Sekali bekerja dalam waktu yang sama beberapa pekerjaan terselesaikan.”

            Dia manggut-manggut.

            “Lebih tepatnya begini, pekerjaan yang wajib atau yang pokok terselesaikan, bersamaan dengan itu pekerjaan tambahan pun terselesaikan.”

            “Oh, begitu ya?”

            Kembali ke soal Arteria Dahlan. Karena tidak jelas, orang pun bereaksi dengan rupa-rupa tanggapan dan tidak jelas juga. Hal itu disebabkan Arteria sendiri yang salah, tidak lengkap penjelasannya. Kalau tidak paham beberapa kalimat dalam bahasa Sunda, ya tanya saja  sama orang Sunda. Gitu aja kok repot. Saya juga begitu kok kalau ada di tempat lain atau lingkungan berbeda, ya wajar saja kalau bertanya tentang beberapa kata dalam bahasa setempat.

            Apapun alasannya, Arteria Dahlan berlebihan jika harus meminta Jaksa Agung untuk mencopot Kajati yang menggunakan bahasa Sunda. Dia harus ingat dan paham bahwa bahasa Indonesia itu sampai sekarang terus diperkaya, dipermewah oleh bahasa daerah di seluruh Indonesia dan oleh bahasa asing yang memang sudah akrab di telinga orang Indonesia atau memang belum ada kata padanannya dalam bahasa Indonesia.

Harus disadari bahwa bahasa Indonesia itu masih miskin dan memerlukan tambahan dari bahasa daerah dan bahasa asing untuk melengkapinya sehingga semakin kaya untuk digunakan berkomunikasi. Bahasa asing yang sering masuk menjadi bahasa Indonesia adalah bahasa Arab, Inggris, dan Belanda.

            Arteria Dahlan atau siapa pun jangan berlebihan, hanya karena tidak paham, minta orang dipecat. Kalau enggak ngerti, nanya, bukan marah.

            Sampurasun.

            Arteria Dahlan pasti ngerti sampurasun. Kalau enggak ngerti, terlalu.

            Sampurasun.

Sunday, 29 March 2020

Pait Daging Pahang Tulang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
“Pait daging pahang tulang”, ‘pahit daging pengar tulang’. Itu doa yang sering diucapkan nenek saya buat saya ketika masih kecil. Maksudnya, dia berharap saya sehat selalu, dilindungi Allah swt dengan daging saya yang pahit dan tulang saya yang pahang/pengar sehingga tidak disukai kuman-kuman, virus-virus penyakit. Kalau daging saya pahit, darah pun pahit. Demikian pula tulang jika pahang, tidak disukai penyakit. Artinya, saya jauh dari penyakit, sehat selalu.

            Oh ya, “pahang” itu bahasa Sunda dan saya belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Pahang itu adalah sebuah rasa di lidah yang tidak enak dan berbau mirip-mirip tengik di hidung. Pokoknya begitulah.

            Kalau daging saya manis, darah saya juga legit, tulang saya gurih, penyakit akan menyukainya. Tubuh kita jadi sarang penyakit. Kalimatnya jadi “manis daging gurih tulang”, artinya disukai dan digemari kuman dan virus penyakit.

            Salah satu cara supaya daging kita pahit dan tulang kita pahang adalah rajin memakan yang pahit-pahit. Di tengah wabah virus corona ini saya jadi ingat bagaimana saya diajari Nenek makan makanan yang pahit-pahit, misalnya, paria, daun singkong, dan daun pepaya. Saya pun mencari-cari di kebun samping dan belakang rumah. Alhamdullillah, ada. Sayuran pahit itu tentu saja harus dicuci hingga bersih dan dimakan mentah-mentah. Supaya tidak terlalu pahit, pakai sambal ditambah sedikit ikan asin, tempe, sayur kacang merah, lalu nasinya baru matang, ngebul. Kalau pake kerupuk, tambah nikmat.


Daun Singkong Muda dan Jambu Biji Mempunyai Khasiat untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

            Ketika saya memetik daun muda pepaya, tetangga saya bertanya sambil menjemur bayinya telanjang bulat, “Mau direbus dulu ya, Pak?”

            Eh, yang telanjang itu bukan tetangga saya, tetapi bayinya yang berusia tiga bulan.

            “Nggak, Bu. Mau dimakan mentah-mentah. Saya diajarin nenek saya begitu.”

            “Wah, Pak Tom kuat makan yang pahit?”

            “Insyaallah, Bu.”

            Saya sebenarnya tidak tahu, apakah aman direbus dulu atau dimakan mentah-mentah. Akan tetapi, saya khawatir jika direbus dulu, zat-zat positif di sayuran itu mati. Entahlah, para ahli yang lebih tahu soal ini. Saya cuma ngikutin cara nenek saya saja.

Daun Singkong Muda, Paria, Daun Pepaya Muda, Paria, dan Sintrong yang Bermanfaat
            Saya sudah ikuti anjuran Habib Luthfi makan tiga siung bawang merah (saya mengunyahnya dua hari sekali), sekarang makan sayuran pahit yang diajarin nenek saya. Intinya, itu adalah upaya atau ikhtiar untuk tetap sehat di tengah perang dengan wabah Covid-19. Memang urusan mati itu urusan Allah swt, tetapi kita memiliki kewajiban untuk menjaga kesehatan dan tubuh yang diberikan Allah swt kepada kita.   

            Pemerintah sudah berusaha mendatangkan obat, melengkapi fasilitas kesehatan, program “physical distancing”, ‘menjauhkan jarak tubuh dengan orang lain’, dan sebagainya. Kita pun bisa berusaha sendiri dengan cara mengikuti anjuran pemerintah dan memperkuat daya tahan tubuh terhadap penyakit, salah satunya dengan memakan konsumsi yang pahit-pahit, tetapi menyehatkan.

            Ibu saya pernah melihat nyamuk mendekati tangan adiknya, paman saya, tetapi ketika makin dekat, nyamuk itu pergi lagi dengan gerakan kaget, takut, lalu menjauhi paman saya. Salah satu penjelasannya adalah paman saya sering mengonsumsi yang pahit-pahit.

            “Sing pait daging pahang tulang”. Jangan sampai “manis daging gurih tulang”.

            Jangan terlalu sering makan yang enak-enak, yang manis-manis, apalagi kalau harganya mahal-mahal. Enak makannya, nggak enak bayarnya. Daging dan tulang kita bisa manis dan gurih buat kuman atau virus.

            Buatlah tubuh kita tidak disukai penyakit, bukan digemari penyakit untuk dijadikan sarang bagi kuman dan virus.

            Jagalah tubuh mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai saat ini juga.

            Sampurasun.