Showing posts with label Minyak Goreng. Show all posts
Showing posts with label Minyak Goreng. Show all posts

Wednesday, 15 June 2022

Ganti Menteri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mengikuti tulisan-tulisan saya yang lalu, ada tiga tulisan tentang masalah minyak goreng, yaitu harga yang terlalu tinggi dan kelangkaannya. Penyebab kedua masalah itu tidak akan saya tulis lagi, sudah basi, sudah seharusnya orang paham. Salah satu solusi untuk menyelesaikannya, saya mengkritik pemerintah agar ada pergantian menteri, yaitu menteri perdagangan yang dijabat Muhammad Lutfi. Ternyata, benar saja sekarang jabatan menteri perdagangan diganti dan diserahkan kepada Zulkifli Hasan yang Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) itu. Presiden Jokowi mendengar kok kritikan rakyat asal benar saja kritikannya, bukan berdasarkan hoaks dan kebencian.

            Menteri Lutfi jelas orang cerdas, punya pengaruh, siap bekerja, dan memang bekerja keras. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada masalah minyak goreng, dia seperti kebingungan dan kehilangan cara. Meskipun dibantu Listyo Sigit dengan Polri-nya memberangus penimbunan dan pengoplosan minyak goreng, masalah belum juga kelar. Bahkan, Presiden Jokowi pun sempat mengambil tindakan ekstrim dan cukup mengerikan, yaitu menghentikan ekspor CPO dan minyak goreng ke luar negeri yang merugikan banyak pihak. Tujuannya agar rakyat terpenuhi kebutuhan minyak gorengnya dengan harga yang terjangkau. Beberapa negara, seperti, India, Korea Selatan, termasuk Cina kelabakan akibat kebijakan Jokowi karena kekurangan minyak goreng dari Indonesia. Bahkan, ada perdana menteri yang langsung mengemis minyak goreng dengan menelepon Presiden RI Jokowi. Di dalam negeri sendiri pun kebijakan Jokowi membuat harga kelapa sawit anjlok drastis dan merugikan petani sawit karena barangnya tidak terserap oleh produsen. Bagi rakyat mayoritas, keuntungannya tampak jelas, yaitu minyak goreng yang sempat sangat langka dan tidak bisa ditemukan di berbagai tempat penjualan jadi melimpah dan mendadak memenuhi rak-rak penjualan di berbagai tempat penjualan. Jokowi turun langsung membuat minyak goreng kembali melimpah, tetapi harganya tetap mahal, penurunan harganya sangat lambat. Harganya masih di atas Rp27.000 per liter, baik kemasan maupun curah. Memang menurun seribu atau dua ribu rupiah, tetapi harganya masih dianggap mahal bagi rakyat.  Jokowi pun memang mengatakannya mahal. Dia ingin harganya seperti dulu, yaitu Rp14.000,- per liter atau paling tidak mendekati harga yang dulu itu.

            Meskipun Jokowi berhasil membuat kembali minyak beredar melimpah, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tidak mampu meneruskan kebijakan Jokowi agar harga minyak goreng menjadi murah. Apalagi tersiar kabar bahwa Lutfi merasakan keletihan luar biasa dalam melawan para mafia minyak goreng.

            Kalau menteri merasa letih melawan mafia, kepada siapa lagi rakyat berharap?

            Masa harus selalu oleh Presiden?

            Melihat kenyataan itu, sudah tepatlah Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi diganti oleh orang yang mungkin lebih baik dan lebih tegas dalam hal itu. Pilihan Jokowi jatuh kepada Zulkifli Hasan untuk memegang jabatan Menteri Perdagangan RI yang baru. Semoga Bang Zul bisa bekerja lebih baik sesuai harapan Presiden dan rakyat Indonesia.

            Buat Muhammad Lutfi, semoga kecerdasan dan kesiapan bekerja kerasnya tidak luntur dan mampu berperan aktif dalam bidang lain yang benar-benar dia kuasai untuk tetap bersama-sama membangun bangsa dan mengukuhkan NKRI sebagai negara yang terus melangkah maju menghadapi masa depan yang sedang mengalami perubahan ini.

            Sampurasun.

Wednesday, 23 February 2022

Minyak Goreng Langka, Rakyat Panic Buying

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya heran kenapa ada yang menyalahkan rakyat karena “panic buying” gara-gara minyak goreng langka?

            Panic buying itu semacam pembelian besar-besaran oleh rakyat untuk keperluannya sendiri karena terjadi kelangkaan suatu barang. Minyak goreng langka dan itu bukan bohong. Rakyat panik. Hal ini diawali oleh harga minyak goreng yang naik tinggi yang kemudian terjadi kelangkaan di pasar.

            Saya menulis ini sudah tiga kali sampai dengan tulisan ini. Persoalan minyak goreng ini sudah hampir dua atau tiga bulan terjadi dan rakyat belum melihat ada perbaikan. Rakyat sudah paham bahwa hal ini diakibatkan kerakusan para pengusaha yang terlalu banyak menjual minyak ke luar negeri dan ada penimbunan yang menyebabkan distribusi macet. Padahal, Indonesia adalah penghasil minyak terbesar di dunia.

Rakyat tak perlu lagi penjelasan yang rumit karena sudah jelas masalahnya. Rakyat hanya perlu melihat minyak goreng tersedia di pasar dengan harga terjangkau. Itu saja.

Pemerintah memang sudah melakukan hal baik dengan cara memberikan subsidi untuk menekan harga minyak goreng agar terjangkau rakyat. Saya dengar ada 7,9 triliun yang dikucurkan pemerintah. Akan tetapi, minyak tetap langka dan kalaupun ada, harga melambung sangat tinggi. Ini jelas ada kesalahan.

Saat ini banyak yang menyalahkan rakyat karena melakukan panic buying. Rakyat terlalu banyak membeli minyak goreng sehingga membuat minyak goreng langka untuk masyarakat yang lainnya. Hal ini  memang terjadi, tetapi jangan salahkan rakyat karena rakyat tidak memiliki keyakinan bahwa minyak goreng bisa tetap tersedia seperti sediakala.

Rakyat itu sederhana berpikirnya.

Jika tidak membeli banyak, bagaimana nanti jika diperlukan, tidak ada?

Ketika ada minyak goreng, apalagi dengan harga murah, rakyat otomatis akan membeli banyak. Ini soal keyakinan. Rakyat perlu diyakinkan oleh pemerintah bahwa, misalnya, dalam satu atau dua bulan ke depan persediaan dan harga minyak tersedia dan terjangkau. Pemerintah harus mampu mencapai target itu. Jika ada perbaikan situasi, panic buying pun berhenti.

Soal harga, ketersediaan, hukuman bagi para pengusaha dan penimbun rakus adalah bukan tanggung jawab rakyat untuk menanggulanginya. Itu adalah kewajiban dan tanggung jawab pemerintah karena rakyat tidak memiliki kemampuan untuk itu. Semuanya sudah diserahkan kepada pemerintah.

            Jika kondisi tidak juga membaik, pemerintah harus introspeksi, bahkan mungkin Presiden Jokowi harus mengganti Menteri Perdagangan dengan orang lain yang lebih baik lagi bekerja dan memiliki kemampuan untuk mengatasi hal ini. Jangan membiarkan hal ini berlarut-larut.

            Pemerintah sudah melakukan banyak hal positif dan rakyat mayoritas sangat puas. Dalam catatan, 82% pemilih Jokowi-Maruf Amin puas terhadap kinerja pemerintah. Menurut Kompas, 73,9% rakyat puas terhadap Jokowi. Bahkan, bukan pemilih Jokowi pun 57% merasa puas terhadap Jokowi. Bayangkan, mereka yang saat Pilpres tidak memilih Jokowi pun puas terhadap Jokowi. Artinya, banyak kebijakan dan hasil kerja Jokowi yang dinikmati rakyat keseluruhan. Sampai hari ini pun rakyat tetap puas. Akan tetapi, prestasi yang banyak itu bisa gugur atau terlupakan gara-gara tidak mampu mengatasi permasalahan harga dan kelangkaan minyak goreng di dalam negeri. Jokowi harus hati-hati dan kalau diperlukan, segera turun tangan langsung. Sayang jika kepuasan rakyat luntur karena hanya satu hal yang tak bisa tertanggulangi dengan baik.

            Jangan salahkan rakyat jika panic buying dan turun kepercayaan kepada pemerintah. Rakyat hanya cukup terpuaskan jika minyak goreng tersedia dengan harga terjangkau, insyaallah, panic buying pun berhenti.

            Jika masih juga kesulitan, ganti Menteri Perdagangan. Jangan kelamaan, rakyat membutuhkan kejelasan dan ketersediaan.

            Sampurasun.

Sunday, 6 February 2022

Protes Harga Minyak Goreng Dong!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemana nih para anti-Jokowi?

Kok enggak protes soal harga minyak tinggi?

Padahal, rakyat, khususnya emak-emak sedang kesusahan beli minyak goreng karena mahal harganya. Katanya pembela rakyat. Akan tetapi, mereka malah sibuk protes soal Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang sudah jelas mau dibangun itu, soal khayalan Gibran-Kaesang korupsi, soal Jenderal Dudung, soal wajah Kaesang ada di bungkus biskuit, dan hal-hal lain yang tidak bermutu serta tidak ada gunanya.

            Jangan-jangan, mereka kebagian untung dari mahalnya harga minyak goreng yang harus dibeli rakyat. Mereka terdiam semua. Mungkin juga enggak dapat untung, tetapi otaknya nggak sampai untuk menganalisis mahalnya minyak goreng. Kalau ngomong kasar dan caci maki, kofar-kafir sama orang, mereka paling jago. Bikin solusi buat rakyat mah pada enggak bisa.

            Orang-orang yang protes keras soal harga minyak goreng ini justru adalah para pendukung Jokowi. Meskipun sering membela pemerintah, ketika rakyat susah, mereka marah membela rakyat.

            Masalah minyak goreng ini tetap seperti yang sudah saya tulis waktu itu. Karena Covid-19, produksi minyak goreng dunia turun. Sementara itu, produksi Indonesia melimpah. Karena dunia kekurangan minyak goreng, pengusaha Indonesia menjual minyaknya ke luar negeri sehingga pasokan untuk dalam negeri menjadi berkurang. Karena berkurang, minyak di dalam negeri menjadi langka. Kelangkaan itu menimbulkan kenaikan harga. Orang yang belajar ekonomi di SMA pasti tahu teori ini. Kalau penawaran berkurang, permintaan naik, harga menjadi mahal.

            Mahalnya harga minyak goreng ini penyebab utamanya adalah pengusaha minyak Indonesia yang rakus karena ingin untung besar dengan menjual ke luar negeri yang jelas lebih mahal harganya. Akan tetapi, rakyat Indonesia sendiri menjadi kekurangan sehingga harganya menjadi mahal merangkak naik mirip dengan harga di luar negeri. Itu menyulitkan.

            Seharusnya, penuhi dulu untuk rakyat sendiri dengan harga terjangkau, setelah itu baru untuk luar negeri. Para pengusaha itu harus diingatkan bahwa kelapa sawit yang mereka tanam itu di tanah Indonesia, tanah bangsa Indonesia, izin usahanya pun dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Jahat sekali jika menggunakan fasilitas di Indonesia, tetapi hasilnya untuk memenuhi kebutuhan luar negeri, sedangkan rakyat sendiri kesulitan. Di samping itu, disinyalir pula ada pengusaha-pengusaha yang menimbun minyak sehingga kurang ada di pasaran. Mereka akan mengeluarkannya ketika harganya mahal. Itu juga jahat sekali.

            Kuncinya ada di pemerintah Indonesia. Pemerintah harus mampu mengendalikan para pengusaha itu agar tidak liar dalam mencari keuntungan ke luar negeri, sementara rakyat Indonesia sendiri harus antri sekeluarga untuk mendapatkan minyak goreng satu liter atau dua liter per orang. Suami, istri, ayah, ibu, nenek, kakek, anak, cucu ikut-ikutan mengantri untuk mendapatkan minyak goreng murah. Padahal, produksi minyak goreng kita melimpah dan sangat cukup untuk rakyat.

            Memang sekarang, dengar-dengar pemerintah mewajibkan pengusaha minyak menyisihkan 20% dari hasil produksinya untuk kebutuhan rakyat di dalam negeri. Dengan demikian, harganya bisa turun karena pasokan minyak goreng bertambah lagi. Para pengusaha sudah dilarang menjual 100% hasil produksinya ke luar negeri, rakyat dulu yang utama. Kebijakan pemerintah ini wajib dan bagus untuk dilaksanakan, tetapi rakyat ingin cepat segera merasakan pengaruh positifnya dalam rangka menghemat pengeluaran dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemerintah harus lebih mengawasi dan menggenjot para pengusaha untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia terlebih dahulu dibandingkan kebutuhan luar negeri dan segera memberi tindakan pada para pengusaha curang.

            Sampurasun.

Tuesday, 30 November 2021

Mahalnya Minyak Goreng


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Istri saya sempat kesal dan mengeluh karena harga minyak goreng naik cukup tinggi dan itu membuatnya harus lebih hemat menggunakan uang. Dia ngomel-ngomel terus, saya diam saja sampai akhirnya seperti biasa, menerima keadaan, berharap ada uang untuk membelinya, pasrah kepada Allah swt Sang Pemberi Rezeki.

            Berbeda dengan saya. Meskipun saya diam ketika istri ngomel-ngomel, saya cari tahu penyebab mahalnya minyak goreng yang bukan cuma membuat istri saya kesal, melainkan pula emak-emak lain di seluruh Indonesia ini.

            Saya bukan mereka yang hanya mengandalkan kebohongan atau kebencian untuk memahami sesuatu sehingga kesimpulan mereka pastinya adalah “pemerintah zalim, pemerintah proasing aseng, pemerintah nggak prorakyat” dan lain sebagainya yang semuanya menyesatkan dan membodohi rakyat. Mereka senang rakyat bodoh karena dirinya sendiri bodoh sehingga rakyat yang bodoh dapat mudah dipengaruhi dan dikendalikan apalagi jika membungkusnya dengan simbol-simbol agama. Saya berusaha mencari pemahaman yang masuk akal agar dapat mengerti segala situasi.

            Dari sumber informasi yang saya perhatikan, ternyata mudah saja memahaminya. Seharusnya, mereka yang pernah belajar ekonomi di SMA/SMK/MA dapat memahami teori sederhana dalam ekonomi, yaitu “jika permintaan naik, tetapi penawaran rendah, harga akan naik”. Kalau masih pusing dengan kalimat itu, pemahaman sederhananya adalah ketika banyak orang membutuhkan suatu barang, tetapi barang itu langka, harganya akan naik. Sebaliknya, jika barang banyak, tetapi orang yang membutuhkannya sedikit, harganya akan turun. Begitu hukum alam dalam berbisnis.

            Hal ini terjadi pada barang yang namanya minyak goreng. Akibat pandemi Covid-19, produksi minyak goreng di seluruh dunia turun drastis. Hal ini membuat harganya naik. Kenaikan harga di dunia ini sangat menggiurkan para pengusaha minyak goreng di Indonesia. Sebetulnya, persediaan minyak goreng di Indonesia itu sangat cukup untuk rakyat Indonesia dan tidak perlu harganya menjadi naik. Akan tetapi, karena harga di luar negeri sangat tinggi, para pengusaha Indonesia tertarik untuk menjualnya di luar negeri. Itu wajar, normal, yang namanya pengusaha atau pedagang itu kan sangat bahagia jika barangnya dibeli dengan harga yang mahal karena keuntungan menjadi berlipat ganda. Karena para pengusaha minyak goreng Indonesia menjualnya ke luar negeri, persediaan minyak goreng di Indonesia menjadi berkurang. Akibatnya, di Indonesia pun terjadi kekurangan minyak yang menyebabkan harganya menjadi naik. Itu seperti hukum ekonomi tadi, barangnya sedikit, tetapi yang membutuhkan banyak, maka harganya menjadi naik.

            Berkurangnya persediaan minyak goreng di Indonesia pun ternyata bukan hanya disebabkan oleh penjualan ke luar negeri, melainkan pula oleh aksi-aksi penimbunan yang dilakukan secara curang oleh oknum-oknum pengusaha yang menahan peredaran minyak agar dapat dijual ketika harganya sedang tinggi. Itulah yang menyebabkan harga minyak goreng di Indonesia menjadi meningkat cukup tinggi.

            Dari sisi kapitalisme, itu bisa dikatakan benar karena memang pengusaha itu selalu berharap untung besar untuk perusahaannya. Kalaupun rakyat tidak bisa membeli, itu salah rakyat sendiri yang tidak sekolah dengan baik, kuliah tidak serius, bekerja tidak disiplin sehingga hidup dalam keadaan kurang uang atau bahkan miskin.

            Dari sisi Pancasilaisme, itu adalah salah karena tidak sesuai dengan sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.  Meskipun pengusaha harus mendapatkan untung besar, keadilan untuk rakyat pun harus sangat diperhatikan. Bahkan, keadilan untuk rakyat inilah yang harus diprioritaskan. Rakyat itu bukan cuma orang biasa, melainkan pula pengusaha, para karyawannya, dan keluarganya.

            Kuncinya sekarang ada di pemerintah. Pemerintah harus mampu membuat harga minyak goreng dapat terjangkau oleh rakyat, bahkan kalau bisa lebih murah lagi, tetapi dalam waktu yang sama dapat memberikan kesempatan yang besar bagi para pengusaha untuk mendapatkan keuntungan berlipat ganda dalam menjalankan bisnisnya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

            Memang bukan rakyat biasa yang dapat mengatasi hal ini, apalagi orang-orang yang suka bergerombol dan teriak-teriak di jalanan. Hal itu harus dan wajib diatasi pemerintah karena pemerintah memiliki kewenangan, alat-alat yang memadai, dan kewajiban untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya.

            Sampurasun.