Showing posts with label NII. Show all posts
Showing posts with label NII. Show all posts

Friday, 4 February 2022

Tiga Jenderal Bodor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Rasanya banyak pelawak yang tidak sadar bahwa dirinya sedang melawak. Mereka anggap dirinya serius, tetapi jika dilihat, bikin pengen ketawa. Ada tiga orang yang mengaku Jenderal Negara Islam Indonesia (NII) di Pasirwangi, Garut yang menyerukan pada seluruh rakyat Indonesia dan seluruh dunia tentang keberadaan mereka, keyakinan mereka, dan rencana mereka. Ketiga jenderal itu bernama Sodikin, Jajang, dan Ujer.


Tiga Jenderal NII (Foto: Editor.Id)


            Saya tidak ingin mengomentari isi seruannya itu. Hal yang bikin saya tidak habis mengerti adalah mereka telah memviralkan sendiri video mereka di media sosial Youtube. Ini yang bikin saya ketawa. Kan sudah jelas NII itu dilarang dan kalau bergerak, termasuk dalam gerakan makar. Dengan percaya dirinya mereka akting di depan kamera bikin video dengan cara bicara yang juga lucu dan wajah tanpa dosa mengajak orang sedunia untuk menegakkan NII.

            Seharusnya, jangan memperlihatkan diri seperti itu supaya tidak mudah ditangkap. Kan kalau diviralkan di Youtube, semua aparat penegak hukum mudah sekali melihatnya dan menangkapnya. Memang akhirnya polisi mudah sekali menangkapnya, kemudian polisi bikin lagi video yang isinya para jenderal bodor itu meminta maaf kepada rakyat Indonesia.


Tiga Jederal Ditangkap (Foto: Okezone News)


            Balik lagi, saya tidak tahu apakah mereka ada yang menyuruh sehingga mempermalukan dirinya sendiri atau memang mereka mengambil inisiatif sendiri bikin video dan mengaku sebagai jenderal NII.

            Kelihatan mereka itu tidak berpikir panjang sebelum melakukan itu. Tidak dipikir apa akibatnya terhadap diri mereka sendiri.

            Sudahlah, saya hanya ingin berkata kepada mereka, “Berpikir itu berat Jenderal, biar aku saja.”

            Sampurasun.

Wednesday, 27 January 2016

Eks Ketua Umum Gafatar Lucu

oleh Tom Finaldin   

Bandung, Putera Sang Surya

Yang saya maksud eks Ketua Umum Gafatar lucu itu adalah pernyataannya, bukan fisiknya. Pada news sticker dalam salah satu stasiun televisi swasta  iNews dimuat dua pernyataan eks Ketua Umum Gafatar yang menurut saya sangat lucu. Untung saya tidak tertawa terpingkal-pingkal, tetapi yang jelas tertawa sendirian.

Kata orang kalau tertawa sendirian, bisa disebut gila. Biarin aja lah.

Kalau pengen ketawa, gimana?

Pernyataan yang lucu itu adalah pertama, ia mengatakan, “Kami bukan koruptor dan teroris.”

Pernyataan kedua yang lucu juga adalah ia menegaskan, “Kami sudah keluar dari pemahaman Islam mainstream.”

Pernyataan pertama yang mengatakan bahwa mereka bukanlah koruptor dan teroris adalah lucu karena untuk apa pernyataan itu dikeluarkan?

Memangnya siapa yang menuduh Gafatar koruptor?

Memangnya siapa yang memfitnah Gafatar sebagai organisasi teroris?

Ada gitu yang mengatakan seperti itu?

Ada-ada saja.

Masa “penerima wahyu gaib” ngomongnya kayak gitu. Malu-maluin.

            Tidak korup dan bukan teroris tidak berarti Gafatar bisa dibenarkan. Mereka tetap saja mengajarkan hal-hal yang sesat. Masyarakat resah karena ajaran mereka yang menyimpang dari Al Quran dan Hadits, kemudian membuat keluarga menjadi terpisah dan tercerai-berai.

            Menurut saya sih lucu. Nggak ada yang nuduh, nggak ada yang nyalahin, nggak ada angin, nggak ada hujan, mereka bilang dirinya bukan koruptor dan teroris. Nggak nyambung banget.

            Pernyataan yang kedua juga lucu sekali. Dia menyatakan bahwa mereka sudah keluar dari pemahaman Islam mainstream.

            Jadi, pemahaman siapa yang mereka ikuti?

            Pemahaman pribadi?

            Apa yang mereka pahami?

            Lagian, nggak ada itu pemahaman Islam mainstream. Pemahaman Islam yang benar adalah ya yang diajarkan Muhammad Rasulullah saw. Beliau saw meninggalkan dua hal untuk seluruh kaum muslimin agar tidak hidup tersesat, yaitu Al Quran dan Al Hadits. Itu saja. Kalaupun ada pendapat, penafsiran, dan pemahaman baru, tetap harus disesuaikan dengan Al Quran dan Hadits. Begitu patokannya. Tidak ngarang sendiri atau ngorong sendirian.

     Akan tetapi, saya mencoba mengerti apa yang mereka maksudkan keluar dari pemahaman Islam mainstream itu. Maksud mereka adalah keluar dari kebiasaan orang-orang Islam pada umumnya yang suka shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Mereka tidak melakukan itu karena bagi mereka belum saatnya dilaksanakan. Mereka memang banyak ngarang.

       Paling tidak, beberapa stasiun televisi sudah menayangkan pengakuan orang-orang yang pernah berdialog dengan penganut Gafatar. Demikian pula ada pengakuan dari seseorang yang pernah dilantik menjadi Ketua Gafatar untuk wilayah Sumedang, Jawa Barat. Namun, dia cepat sadar dan keluar dari Gafatar karena tidak sesuai dengan pemahaman Islam yang dimilikinya. Menurutnya, memang Gafatar tidak mewajibkan shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Bahkan, ketika pada bulan Ramadhan, dia berpuasa dan mengobrol dengan orang Gafatar. Orang Gafatar itu ngobrolnya sambil makan mie rebus saat bulan Ramadhan.

            Menurut banyak pihak yang berwenang di Indonesia, Gafatar itu metamorfosa dari pemahaman-pemahaman dan organisasi-organisasi lama yang berakar pada Negara Islam Indonesia (NII). Kalau begitu ceriteranya, saya sangat paham karena soal tidak wajib shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya itu sangat sering saya dengar dan saya berupaya memahaminya. Sayangnya, saya bukannya paham, malah ketawa-ketawa. Lucu soalnya.

            Kalau soal NII Kartosoewiryo, saya sangat menghormatinya karena mereka berawal dari ketidaksetujuannya terhadap Perjanjian Renville yang hanya membuat wilayah Republik Indonesia menjadi sangat sempit, yaitu hanya Yogyakarta dan beberapa keresidenan di sekitarnya. Di luar itu adalah wilayah milik Belanda. Akan tetapi, Perjanjian Renville itu batal disebabkan adanya Agresi Militer Belanda 2 yang menyerang wilayah Republik Indonesia yang sudah sangat sempit itu. Belanda tidak menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri. Hal itu menyebabkan pihak RI pun menganggap bahwa wilayah RI kembali pada semula, yaitu dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya Yogyakarta lagi. Hal itu pun mengakibatkan wilayah yang dikuasai oleh pasukan Kartosoewiryo harus kembali pada RI. Dari sanalah segala konflik RI vs NII bermula.

            Jadi, sebenarnya konflik RI vs NII adalah persoalan politik, bukan soal agama. Entah kapan dimulainya menjadi persoalan agama yang kemudian melahirkan pemahaman takfiriyah, ‘kafir-mengkafirkan’ sesama muslim. NII Kartosoewiryo sendiri masih sangat dihormati sampai saat ini karena memang merupakan bagian dari sejarah dan Kartosoewiryo sendiri adalah seorang tokoh pejuang Indonesia. Bahkan, di dalam kamus hukum, yang namanya NII atau DI/TII diuraikan secara positif, tidak negatif. Kenegatifan NII atau DI/TII justru disebabkan oleh gerombolan-gerombolan pengacau dan penjahat yang entah dari mana datangnya melakukan banyak kejahatan dengan mengaku-aku sebagai NII atau DI/TII.

            Entah bagaimana ceriteranya selepas Kartosoewiryo meninggal, banyak orang yang mengaku NII dengan pemahaman takfiriyah. Setiap orang yang tidak berbaiat kepada NII disebut kafir. Padahal, ajaran Kartosoewiryo sendiri sangat hebat yang disusun dalam Pedoman Darma Bakti NII.  Dia menjelaskan mengenai Jihad Kecil sebagai perang yang menimbulkan banyak kerusakan, kematian, dan hal-hal negatif, sedangkan Jihad Besar menimbulkan pengaruh yang sangat positif, yaitu membangun bangsa yang berdaulat dan penuh dengan kemakmuran.

            Dari orang-orang yang mengaku NII saat inilah saya mendapatkan pemahaman-pemahaman aneh yang tidak mewajibkan shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Menurut mereka, umat Islam tidak wajib melaksanakan hal-hal tersebut karena  saat ini dianggap sebagai periode Mekah. Artinya, negara berada dalam kekuasaan kafir dan tidak menggunakan hukum Allah swt. Nanti kalau sudah sampai periode Madinah, baru bisa dilaksanakan dan mendapatkan pahala.

            Hukum Allah swt itu apa sih?

            Yang saya dengar cuma potong leher-potong tangan-rajam. Itu dan itu saja diulang-ulang, padahal mengatur negara itu bukan cuma melakukan hal itu. Ada soal keuangan, pendidikan, kesehatan, budaya, seni, pariwisata, ekonomi, sumber daya alam, dan lain sebagainya sampai pada hal-hal bersifat teknis. Mereka nggak pernah membahas hal-hal itu, kecuali ya itu tadi potong leher-potong tangan-rajam.

            Kalaulah NII Kartosoewiryo yang menjadi awal segalanya dalam arti hukum Allah swt yang murni dan ingin diterapkan, coba lihat undang-undangnya yang pernah disusun dan dilaksanakan NII sejak 1949 s.d. 1962. Undang-Undang Dasar NII itu disebut Qanun Azasy. Isinya nggak beda-beda amat dengan UUD RI 1945 sebelum diamandemen. Hal yang paling mencolok perbedaannya adalah Qanun Azasy sangat banyak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa arab, sedangkan UUD 1945 menggunakan bahasa Indonesia. Itu saja.

            Itukah yang disebut hukum Allah swt?

            Yang membuat saya merasa lucu adalah adanya pemahaman periode Mekah. Kalau disebut periode Mekah, artinya pemerintahan Indonesia adalah kafir. Akan tetapi, anehnya, pemerintah Indonesia tidak melarang umat Islam untuk shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Malahan, elit-elit muslim Indonesia yang eling selalu mendorong rakyat untuk beribadat dengan baik. Berbeda dengan kafir Quraisy dulu yang menghalangi umat Islam untuk beribadat, malahan sampai menganiaya dan memburu umat Islam bagai binatang. Beda amat antara pemerintah Indonesia dengan kafir Quraisy.

            Di mana periode Mekah-nya?

            Kalau saat dulu Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin tidak melakukan banyak ritual, itu disebabkan memang belum ada perintah untuk melakukannya dari Allah swt. Kalau sudah ada, ya pasti dilaksanakan. Perintah-perintah tentang ibadat ritual itu memang kebanyakan turun ketika Nabi Muhammad saw berada di Madinah.

            Ketika Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin diganggu terus oleh orang-orang kafir, Rasulullah saw memilih hijrah ke wilayah yang tidak dikuasai kaum kafir Quraisy, yaitu Madinah. Beda sekali dengan Gafatar yang pindah karena kemauan sendiri tanpa ada yang menganiaya, mengusir, dan memburu. Lagian hijrahnya ke Kalimantan.

Kan Kalimantan itu masih wilayah yang dikuasai pemerintah kafir Indonesia?

Lihat Nabi Muhammad saw yang hijrah ke wilayah yang tidak dikuasai pemerintah kafir Quraisy serta orang-orang Madinah menyambutnya dengan sukacita dan lagu-lagu pujian.

Lihat Gafatar, hijrah ke Kalimantan yang masih milik pemerintah kafir Indonesia, terus boro-boro disambut masyarakat, malahan diusir dan dibakar.

Di mana periode Madinah-nya?

Kalau mau hijrah, harus ke wilayah yang tidak dikuasai pemerintah kafir RI dan penduduk di wilayah yang baru sangat mencintai Gafatar sehingga mampu melindungi Gafatar dari berbagai kesulitan seperti penduduk Madinah yang disebut “kaum penolong” bagi kaum muhajirin, ‘pendatang’ yang bersama Rasulullah saw. Setelah itu, baru berperang dengan pemerintah kafir RI untuk merebut Kabah yang ada di Jakarta. Makin ngaco deh.

Begitukah?

Di mana samanya antara Rasulullah saw dengan Gafatar?

Lagian, wilayah mana yang akan menjadi “kaum anshor” bagi Gafatar?

Jadi, kapan akan sampai ke periode Madinah?

Makanya, jangan kebanyakan ngorong sambil ngarang.

Akan tetapi, seperti yang kata bekas ketuanya bilang bahwa Gafatar memang sudah keluar dari pemahaman Islam mainstream. Artinya, mereka memahami Islam sesuai dengan kehendaknya sendiri. Arti lebih jauh lagi, mereka memiliki wahyu atau ilham atau pengalaman spiritual yang mereka duga berasal dari Allah swt. Itulah yang disebut sesat.

Mereka harus tahu bagaimana caranya membedakan mana wahyu dari Allah swt dan mana wahyu dari Iblis. Memang Allah swt selalu memberikan pengalaman-pengalaman spiritual sampai hari ini kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, Iblis pun punya cara yang hampir sama dengan Allah swt dalam memberikan pengalaman spiritual. Iblis mencontek bagaimana Allah swt dalam memberikan pengalaman spiritual. Akibatnya, orang-orang sulit membedakan mana petunjuk gaib dari Allah swt dan mana petunjuk gaib dari Iblis laknatullah.

Coba baca artikel saya masih di dalam blog ini yang berjudul Wahyu Sang Iblis pada http://tom-finaldin8.blogspot.co.id/2011/05/wahyu-sang-iblis.html. Insyaallah, Saudara-saudara sekalian dapat membedakan dengan baik mana petunjuk gaib dari Allah swt dan mana yang berasal dari Iblis.

Gafatar dapat wahyu dari Allah swt atau dari Iblis?


Baca artikel saya yang berjudul Wahyu Sang Iblis, lalu nilai sendiri dari siapa mesias Gafatar mendapatkan petunjuk.

Thursday, 4 October 2012

Teroris Harus Banyak Berlatih



oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Urusan teroris sudah sejak lama memuakkan, memusingkan, dan yang jelas membuat rasa aman masyarakat  meluntur. Sudah sejak lama pula aparat penegak hukum “mengurusi” terorisme ini. Kalau dulu, tentara paling sibuk menanganinya, sekarang dipindahtangankan pada pihak kepolisian. Akan tetapi, ternyata menurut sumber resmi, jumlah teroris sekarang bertambah banyak dengan para warrior yang masih berusia teramat muda.

Lantas, penanggulangan yang dilakukan pemerintah dari zaman ke zaman di negeri ini apa hasilnya?

Saya bisa mengatakan bahwa upaya yang dilakukan selama ini menemui kegagalan yang luar biasa. Memang banyak teroris yang ditangkap dan mati, tetapi kalau jumlahnya ternyata bertambah banyak, percuma juga. Artinya, terjadi kesalahan dalam penanganannya. Kalau penanganannya benar, mestinya berkurang, bahkan hilang sama sekali. Upaya yang bisa dikatakan berhasil adalah penyelesaian separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Sampai sekarang, gerakan itu tak ada lagi. Para penduduk Aceh tetap berada dalam NKRI dan dari hari ke hari bersama-sama berjuang membangun diri dan negerinya.

Gerakan yang dikatakan teroris baru-baru ini menimbulkan praduga yang sama sekali “tidak bersahabat” dalam arti didalangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik politis maupun ekonomi. Banyak analisis dari banyak pihak yang menunjukkan ke arah itu yang rata-rata masuk akal.

Saya sendiri merasa aneh. Katanya mereka itu orang-orang terlatih, terdidik, dan terbina untuk melakukan serangkaian aksi teror. Akan tetapi, kok seperti itu gerakannya, sama sekali tidak menunjukkan sebagaimana orang-orang yang terlatih. Malahan, tampil buruk.

Pada waktu yang lalu alasan yang mengemuka adalah mereka ingin mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), menjatuhkan pemerintah yang sah. Alasan itu malah menjadikan orang-orang mempelajari NII dan hasilnya ternyata orang mulai tahu kebenaran perjuangan SM Kartosoewiryo dalam mempertahankan wilayah yang telah direbut dari Belanda serta melindungi rakyat ketika TNI berhijrah ke Yogyakarta. Sejarah NII asli dan perilaku teror yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan perbedaan yang nyata, ada keterputusan sejarah dan tidak nyambung. Artinya, kelakuan para teroris itu tidak sebagaimana perjuangan NII asli yang sudah tutup buku dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Aksi teror yang baru-baru ini menimbulkan korban dari pihak kepolisian dikabarkan tidak lagi “menjual” niat untuk mendirikan NII, melainkan dendam pada pihak kepolisian yang telah melakukan kekejaman pada “ikhwan-ikhwannya”. Kalau aksi itu memang benar berasal dari dendam, bukan digerakkan kepentingan tertentu, gerakannya mungkin tidak sesembrono itu. Seandainya saya jadi teroris yang dendam pada polisi, pasti akan mengatur siasat jitu yang tepat sasaran dan meminimalisasi risiko yang terjadi. Artinya, polisi berhasil dibunuh atau dilukai, tetapi saya tetap selamat, jangankan mati, terluka pun tidak. Orang berani tak harus mati.

Begini Saudara, saya kok merasa aneh. Saya saja yang tidak terlatih, pasti bikin strategi yang rapi, apalagi mereka yang terlatih, mestinya lebih rapi dan cantik. Kalau saya dendam sama polisi, pasti dipikirin kapan polisi itu dalam keadaan lemah, tidak konsentrasi, lengah, tidak bersenjata, tidak sedang bertugas, dalam situasi yang terpojok, dicokok satu-satu, sendirian, dan saya bersama banyak teman dengan jumlah yang lebih banyak daripada polisi dan senjata yang lebih sempurna. Misalnya, saya pasti melakukan aksi ketika polisi itu sedang di warung beli rokok malam-malam dalam keadaan sendirian, sedang tidur, jalan-jalan dengan pacarnya, atau kondisi yang paling lemah adalah polisi itu sedang beol, apalagi diare, mencret di WC umum, serta tidak sedang berseragam lengkap. Saat kondisi polisi lemah itu saya pasti melakukan pembunuhan dan tidak perlu dengan ledakan atau bunyi-bunyian yang menarik perhatian orang-orang. Hajar aja pake benda tumpul, pasti mati kok. Jadi, dendam itu terbalaskan dan tujuannya tercapai. Kemudian, cari lagi polisi lain yang sedang lengah dan lemah, bunuh lagi. Begitu seterusnya, culik satu-satu, lalu tuntaskan sampai rasa dendam terbalaskan secara sempurna.

Aksi yang terjadi kemarin-kemarin itu aneh luar biasa. Kok menyerang polisi yang berseragam lengkap, sedang bertugas, bersenjata lengkap, dan kondisi terorisnya itu lebih lemah daripada polisi.

Ah, masa sih orang-orang terlatih seceroboh itu?

Padahal, kabarnya mereka dilatih di luar negeri.

Mereka kurang terlatih ternyata.  

Anehnya lagi, judulnya “dendam pada polisi”, tetapi berniat mengebom Senayan. Kan di Senayan itu bukan markas polisi.

Dengan demikian, aneh sekali gerakannya, semrawut.

Apa sih gol yang diinginkan teroris itu?

Polisi pada mati?

Tidak mungkin.

Pemerintahan jatuh?

Tidak mungkin. Pemerintah tidak akan jatuh oleh aksi-aksi aneh itu. Bisa saja jatuh, tetapi bukan oleh aksi teror, melainkan oleh perilaku para penyelenggara negara sendiri yang tidak amanah, banyak bohong, dan tidak berkompeten mengurus negara.

Kegiatan anak-anak muda teroris yang mestinya menjadi penerus bangsa itu hanya menimbulkan huru-hara, kekacauan, beralihnya perhatian masyarakat, ketakutan, dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Dari keanehan-keanehan itu, saya meyakini bahwa mereka itu digerakkan oleh orang-orang brengsek yang memiliki kepentingan ekonomi atau politik, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Pihak kepolisian seharusnya matanya tertuju untuk membasmi orang-orang brengsek yang menggerakkan para pemuda kita untuk melakukan aksi teror, bukan terlalu ngurusin para pionnya. Para teroris muda dan polisi muda itu sama-sama aset bangsa yang berguna untuk masa depan negeri. Mereka itu manusia yang ingin hidupnya penuh manfaat dan berkualitas, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Jangan jadikan mereka korban keserakahan orang-orang brengsek. Bedebah dan jahat bukan main itu orang-orang brengsek yang mengadu domba para pemuda kita hanya untuk kepentingan rendahnya. Polisi atau aparat jangan lagi banyak mengomentari soal pesantren, apalagi pake ada sertifikasi ulama. Bisa-bisa tambah ngaco.

Sertifikasi itu apa?

Penyetaraan wawasan keilmuan?

Penambahan kompetensi?

Sampai sekarang, orang berpikir dan menduga-duga sendiri tentang sertifikasi. Kalau sertifikasi itu berupa “izin mengajar”, wah tambah kalang kabut dan lucu pastinya.

Jangan juga ngotot-ngototan memasukkan materi pelajaran Antiteroris ke dalam kurikulum sekolah. Kan semua orang sudah pada tahu bahwa kurikulum di Indonesia ini terlalu memberatkan siswa, akan menjadi lebih berat jika ditambah dengan pelajaran baru yang tidak perlu itu. Paling-paling, pemahaman antiteror itu diintegrasikan dalam mata pelajaran yang sudah ada dan materinya jangan memojokkan ustadz atau pesantren tertentu.

Polisi dan seluruh elemen bangsa harus bahu-membahu menghanguskan orang-orang brengsek yang pasti orang-orang kuat itu. Merekalah yang seharusnya dijadikan abu. Jangan takut, selama berpegang pada Pancasila, pasti Allah swt memberikan jalan dan petunjuk. Yang teramat penting adalah jangan jadikan informasi yang berasal dari luar negeri kapitalis sebagai sandaran utama. Apalagi bermesraan dengan mereka. Mereka dan kita memiliki kepentingan yang berbeda dan tujuan hidup yang berbeda pula. Biasakan untuk tidak menerima bantuan apa pun dari mereka karena hal itu memalukan dan mendorong kita untuk bermental jongos yang gemar membikin proposal untuk mendapatkan uang.

Pemimpin Besar Revolusi Republik Indonesia Ir. Soekarno tidak mengajarkan kita untuk menjadi jongos atau kuli orang lain. Ia mendorong sepenuh tenaganya agar bangsa Indonesia dari zaman ke zaman harus Berdikari, ‘Berdiri di Atas Kaki Sendiri’!

Paham?

Kalau nggak paham, pergi ke masjid, belajar huruf hijaiyah dari awal!

Sunday, 22 May 2011

SBY Itu Hanya Koin Rp25

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat pecahan koin Rp25? Bagi yang masih punya, coba ambil, lalu letakkan di meja makan. Kemudian, pandangi. Koin Rp25 itu adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sedangkan meja makan itu adalah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Demikianlah saya membandingkan antara SBY dan NKRI. Tidak lebih dan tidak kurang. Bagi mereka yang bukan presiden, apalagi saya saat ini untuk sementara ini, pasti jauh lebih kecil daripada koin Rp25 itu. Entah kalau pada masa depan saya jadi apa, terserah skenario Allah swt. Setiap orang memiliki peran dan fungsi masing-masing selama hidupnya di dunia ini dan akan wafat jika tugasnya selesai sempurna.

Saya membandingkan-bandingkan antara koin dengan meja makan disebabkan rasa heran pada kabar yang tersiar bahwa aktivitas teroris yang tampak meningkat akhir-akhir ini merupakan perwujudan dari kelompok NII (Negara Islam Indonesia) yang ingin menjatuhkan SBY. Pengikut NII telah membuat pos-pos jihad di seluruh wilayah di Indonesia untuk menggulingkan SBY.

NII ingin menjatuhkan SBY? Rancu sekali rasanya. Kok bisa ya? Masa ada kelompok yang ingin mendirikan negara harus bertujuan menjatuhkan presiden? Yang paling masuk akal adalah NII bertujuan mengubah susunan tatanan pergaulan berbangsa dan bernegara sesuai dengan yang dikehendaki NII. Soal presiden, itu soal kecil jika dilihat dari cita-cita lazimnya pendirian sebuah negara.

Kalau kelompok politik tertentu yang merupakan saingan dalam perebutan kekuasaan kursi kepresidenan ingin menjatuhkan SBY, itu bisa sangat mudah dipahami. Memang banyak toh yang menginginkan kursi kepresidenan itu. Akan tetapi, aneh sekali jika NII bertujuan menjatuhkan SBY. Kayaknya maksa deh. Buat apa sih mati-matian bikin rencana dan gerakan kalau cuma ingin SBY jatuh? SBY itu cuma koin kecil di atas meja makan yang luas dan besar. Harusnya kan NII bukan ingin menjatuhkan SBY, melainkan ingin menjatuhkan NKRI. SBY itu bukan NKRI, melainkan sebuah bagian dari keseluruhan NKRI. SBY hanyalah bagian kecil dari seluruh kebesaran NKRI.

Mari kita berandai-andai lagi setelah dalam tulisan-tulisan yang lalu saya mengajak pembaca untuk berandai-andai, taroh kata NII berhasil membunuh SBY, seluruh kabinetnya hancur, kemudian tempat-tempat yang dianggap kafir musnah luluh lantak, lalu ... setelah itu apa ... so what ... akankah Indonesia menjadi NII? Tidak mungkin karena SBY itu cuma koin, sedangkan NKRI itu seluas meja makan. Artinya, perlawanan besar akan didapat dari seluruh kekuatan NKRI dan NII pasti kalah. Kalau toh SBY jatuh, pasti diganti oleh yang lain, tetapi bukan dari NII, melainkan masih dari pihak NKRI karena bentuk negara tetap NKRI, bukan NII. Lantas, apa yang didapat NII? Kekuasaan? Tidak mungkin karena rakyat Indonesia yang sangat banyak itu saat ini memandang bahwa NII adalah sekelompok kecil manusia yang mencatut nama Islam yang dalam kenyataannya telah merugikan kehidupan masyarakat secara umum, termasuk kaum muslimin.

Ada nasihat yang sangat bagus dari pejuang komunis Kuba, Che Guevara yang gambar wajahnya dinyatakan sebagai gambar wajah paling terkenal sedunia. Ia memberikan nasihat bahwa revolusi tidak akan berhasil menang tanpa dukungan rakyat. Ia dan Fidel Castro bisa menang di Kuba karena mendapatkan dukungan rakyat, tetapi meraih kecelakaan kegagalan bahkan kematian di Bolivia karena tidak mendapatkan dukungan rakyat.

Dari pengalaman Che va itu, kelompok NII mestinya sadar bahwa upayanya tidak akan pernah berhasil karena tidak mendapatkan dukungan rakyat, bahkan akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Itu pun kalau memang benar NII asli kelanjutan dari pengikut SM Kartosoewiryo yang ingin menjatuhkan SBY, bukan NII jadi-jadian. Kalau NII jadi-jadian, berarti semua ini cuma permainan politik rendahan, sinetron kampungan, kabaret acak adut, kutu kupret borok.

Lihat juga Muhammad Rasulullah saw. Beliau tidak melakukan tindakan kekerasan jika tidak diserang. Beliau pun mengambil alih kekuasaan Mekah tanpa pertumpahan darah setetes pun dalam peristiwa Futuh Makkah, ‘kemerdekaan Mekah’. Seluruh musuhnya tunduk takluk tanpa terluka satu goresan pun di tubuh mereka. Apa sebab Rasulullah bisa menang seperti itu? Sebabnya adalah adanya dukungan rakyat. Jika rakyat Mekah dan Madinah tidak mendukungnya, pasti tidak akan menang. Tanpa dukungan rakyat, pasti Muhammad Rasulullah saw akan selalu terusir.

Periksa juga sejarah NII asli. Ketika TNI harus hijrah ke Yogyakarta, SM Kartosoewiryo tidak setuju. Kisah ini saya dapatkan dari Prof. Dr. Hj. Nina Lubis, perempuan pertama Indonesia ahli sejarah yang mendapatkan gelar profesor, ketika berkenan menolong saya menjadi pembicara dalam peluncuran buku yang saya susun dengan judul Mengenal Gubernur Jawa Barat dari Masa ke Masa di Hotel Horison, Bandung. Menurutnya, SM Kartosoewiryo menolak untuk hijrah ke Yogyakarta.

Kata Kartosoewiryo, “Kalau tentara semua pergi ke Jogja, siapa yang akan melindungi rakyat?”

Menurut sumber lain, Jenderal Sudirman pun memiliki pandangan yang sama dengan SM Kartosoewiryo, yaitu sangat tidak setuju jika TNI seluruhnya harus ke Yogyakarta. Harus ada yang tetap tinggal di luar Yogyakarta untuk melanjutkan perjuangan secara fisik.

Dari sejarah Rasulullah saw, Che va, dan SM Kartosoewiryo, ada hal yang sama, yaitu perhatian kepada rakyat. Sekarang, NII, baik asli, gadungan, pesanan, atau imitasi telah memberikan apa kepada rakyat? Pencerahan apa yang sangat bermanfaat bagi rakyat? Harapan apa yang diberikan kepada rakyat? Kalau belum bisa dekat dengan rakyat, berarti tidak akan mendapatkan dukungan rakyat. Itu artinya, gerakan apa pun akan selalu gagal, kecuali menimbulkan kerusuhan yang mengakibatkan kerusakan nama baik pelaku teror sendiri.

Kalaulah NII asli yang berniat menjatuhkan SBY, berarti mereka itu bodoh menuju idiot karena tidak akan mendapatkan apa-apa selain kerugian kepada masyarakat dan kepada dirinya sendiri. Memang bukan sesuatu yang mustahil NII bisa menjatuhkan serta menghancurkan SBY dan pemerintahannya, tetapi tidak akan mungkin menjadikan Indonesia menjadi NII. Aksi-aksi teror yang dilakukannya kalau berhasil hanyalah akan memindahkan kekuasaan kepada orang yang berbeda, tetapi bentuk negara tetap NKRI, bukan NII. Hal itu disebabkan NII tidak mendapatkan dukungan rakyat, bahkan akan dimusuhi rakyat. Kalaulah ingin menjadikan Indonesia NII, seharusnya melakukan perencanaan matang terprogram untuk meraih simpati masyarakat Indonesia yang seluas meja makan itu sambil berkelit meliuk-liuk agar tidak berbenturan dengan hukum positif. Hal itu harus dilakukan tanpa letih dalam waktu teramat panjang dengan jalan memberikan pencerahan disertai perilaku yang penuh teladan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw sehingga masyarakat mengerti dan berpihak pada NII. Rasulullah saw di samping berdakwah menyampaikan materi keislaman, juga memberikan contoh perilaku yang baik sesuai dengan materi dakwahnya. Rasulullah itu Al Quran berjalan. Jika kita ingin melaksanakan Al Quran, contoh saja perilaku Rasulullah saw. Akan tetapi, jika upaya menjatuhkan SBY itu dilakukan oleh NII pesanan, NII request, atau NII teater, ya... sudah, semuanya cuma akan menghasilkan keributan, golnya hanya huru-hara untuk kepentingan politik dan ekonomi tertentu, tidak ada urusan dengan kepentingan rakyat, kemuliaan Islam, atau pengabdian kepada Allah swt. Bagi mereka, tidak penting Indonesia jadi NII atau tidak, pokoknya Indonesia rusuh sesuai pesanan. Itu saja.

Saya jadi teringat ceritera Si Pitung yang jawara itu. Ia berjuang untuk rakyat. Ketika kepentingan kolonial Belanda terusik, Si Pitung jadi buronan. Lalu, beberapa petinggi pribumi penjilat Belanda semakin memburuk-burukkan nama Si Pitung. Bukan hanya itu, para penjahat, perampok, pembunuh, dan pemerkosa pun mengaku-aku dirinya bernama Si Pitung setelah melakukan aksinya-aksinya. Akibatnya, Si Pitung menjadi benar-benar buronan kelas kakap yang dianggap meresahkan dan mengganggu ketertiban masyarakat. Seluruh gangguan keamanan dialamatkan kepada Si Pitung. Nah, NII pesanan atau gadungan itu mirip dengan kombinasi antara penjilat dan para penjahat yang mengaku-aku NII asli. Padahal, NII yang benar-benar asli tulen yang didirikan SM Kartosoewiryo sendiri telah lama usai, tutup buku, habis kisah, selesai sudah. Adapun para petualang itu hanya berupaya menggunakan nama NII dengan harapan seluruh keburukan ditimpakan pada NII Kartosoewiryo dan mereka mendapatkan keuntungan dari kecurangan yang dilakukannya. Memang sangat mungkin para pemuda yang menjadi pion sebagai martir menyangka dirinya telah melakukan jihad, tetapi sebenarnya mereka telah tertipu di dunia ini. Soal urusan akhirat, tentang mereka akan masuk surga atau neraka, itu adalah urusan Allah swt. Kita tidak bisa tahu. Oleh sebab itu, mudah-mudahan Allah swt memberikan pemahaman agar mereka kembali pada jalan yang benar, lepas dari ketertipuannya, lalu melanjutkan perjuangan memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan cara lain yang lebih baik dan terhormat. Amin.

Halo Para Nasionalis

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Urusan NKRI adalah urusan bersama seluruh elemen bangsa. Ketika terjadi ancaman terhadap keutuhan NKRI, sudah selayaknya setiap pribadi, setiap keluarga, dan setiap kelompok ikut menjaganya. Berkali-kali keutuhan NKRI mendapatkan cobaan yang berat, tetapi selama itu pula tetap berhasil utuh, tidak terkalahkan. Kalaupun Timor Timur lepas, itu lain soal. Daerah itu memiliki sejarah yang berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia ini.

Memang pihak aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh atas penyelesaian kasus NII yang menghebohkan akhir-akhir ini. Akan tetapi, polisi saja tidak cukup. Diperlukan kepedulian seluruh elemen bangsa untuk berperan serta menuntaskan kasus ini, tentunya dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum, dengan kata lain memberikan bantuan dan dorongan kepada pihak kepolisian dan aparat berwenang lainnya.

Dari berbagai pemberitaan, memang sudah sangat banyak yang melakukan berbagai upaya menanggulangi NII ini, terutama oleh para keluarga yang merasa ada anggota keluarganya hilang atau bersikap aneh-aneh. Di samping itu, para aktivis Islam, baik secara individu maupun kelompok sudah menyatakan sikap permusuhan terhadap gerakan NII yang merugikan masyarakat tersebut. Apalagi para mubaligh, ustadz, dan para ulama, berupaya benar-benar menjaga umatnya agar tidak tergelincir ke jalan yang salah sekaligus memberikan “pengobatan” kepada mereka yang sudah terlanjur berada dalam NII palsu, tetapi ingin kembali pada jalan yang benar.

Dari berbagai elemen bangsa yang sudah tampak berperan serta menanggulangi kasus ini, ada kelompok yang masih belum kelihatan peranannya, yaitu kelompok-kelompok yang menggunakan simbol-simbol kebangsaan atau nasionalisme. Mungkin saudara-saudara kita ini sudah melakukan berbagai hal, tetapi gaungnya masih kurang atau bahkan belum terdengar. Saya bahkan melihat bahwa akhir-akhir ini urusan NKRI seolah-olah merupakan urusan aktivis Islam. Coba lihat saja ketika Ambon, Poso, bergolak dan Republik Maluku Selatan (RMS) membuat kisruh, yang bergerak dan berangkat ke sana adalah Laskar Jihad, bukan aktivis nasionalis, padahal di sana jelas dipertaruhkan martabat NKRI. Demikian pula saat Timor Timur hendak lepas, para pemuda dari Nahdatul Ulama (NU) yang menyatakan bersiap diri untuk menjadi martir demi menjaga Timor Timur tetap di pangkuan RI. Hal yang sama terjadi juga pada masalah NII. Urusan NII ini seolah-olah pula merupakan urusannya para aktivis Islam, padahal merupakan urusan bersama. Namun, kelompok-kelompok nasionalis seolah-olah kurang terdengar pernyataan dan sikapnya. Halo para nasionalis, where are you?

Adalah sangat baik bila kelompok-kelompok Islam dan nasionalis bergabung bersatu padu bergandeng tangan berjabat erat untuk mengatasi permasalahan bersama. Yang saya maksud kelompok Islam dan kelompok nasionalis adalah yang berupa LSM, bukan yang merapat pada kekuasaan semisal partai. Negeri ini lahir karena perjuangan kelompok-kelompok muda Islam dan nasionalis plus komunis. Akan tetapi, komunis kan sudah diharamkan, jadi jangan dipikirkan lagi.

Kita membutuhkan kebersamaan bukan pertentangan. Masalahnya, masih ada pihak-pihak yang berupaya mempertentangkannya dalam arti mempertentangkan kelompok Islam dan nasionalis. Contohnya, saya pernah diundang ke salah satu pertemuan tim sukses pasangan calon kepala daerah dan wakilnya.

Sang Calon Wakil mengatakan dengan tegas, “Kita harus berjuang keras karena kita benar-benar berhadapan dengan kelompok yang berbeda dengan kita!”

Perlu diketahui, pasangan tersebut berasal dari partai nasionalis, sedangkan lawan beratnya berasal dari partai berbasis massa Islam.

Banyak sebenarnya kalimat-kalimat yang berupaya mempertentangkan Islam dan nasionalis. Saat itu saya hanya bisa berkata sedih dalam hati, Ya Allah Ya Robbi benar sekali yang namanya demokrasi itu merusakkan hubungan antarmanusia. Demi meraih kemenangan, mereka mempengaruhi orang-orang agar bermusuhan dengan orang lainnya. Benar-benar ajaran sesat itu demokrasi.

Melalui tulisan ini, saya berharap agar adanya kesepahaman dan persatuan yang lebih erat di antara kelompok-kelompok Islam dan nasionalis, tidak seperti sekarang yang masih tampak sibuk masing-masing. Urusan NII adalah tantangan bersama, masalah bersama, selayaknya dihadapi bersama. Setiap yang berkaitan dengan keutuhan bangsa, seyogyanya ditanggulangi bersama.

Meskipun demikian, kelompok-kelompok Islam pun harus mengakui bahwa kelompok nasionalis telah lebih dahulu bergerak dan bersikap keras ketika menghadapi persoalan perbatasan dan keutuhan wilayah, sebagaimana pernah terjadi pada kasus sengketa dengan Malaysia dan soal Manohara. Kelompok-kelompok Islam malah tampak agak ragu bersikap mengecam Malaysia karena merasa satu rumpun dan satu agama. Padahal, meskipun beragama sama, jika melakukan penistaan terhadap NKRI, sudah seharusnya diperangi.

Pendek kata, sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk mempertontonkan diri di hadapan khayalak ramai dan dunia bahwa Indonesia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan bangsa. Persoalan NII jadi-jadian ini dapat menjadi triger bersatu hatinya kelompok Islam dan nasionalis. Dengan demikian, setiap pihak, baik dari dalam maupun luar negeri yang mencoba memecah-mecah elemen bangsa untuk kepentingan sangat sempitnya akan malu sendiri dan mendapatkan kegagalan luar biasa. Insyaallah.

Hidup NII! Merdeka NII!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

TUJUH AGUSTUS
SATU SEMBILAN EMPAT SEMBILAN
ITULAH HARI DIPROKLAMIRKANNYA
NEGARA ISLAM INDONESIA

TEGUH BERDASAR
RAYUAN WAHYU ILLAHI
LAKSANAKANLAH SUATU NEGARA
KURNIA ALLAH YANG ESA

TEMPAT PERSATUAN UMAT
KEBESARAN DAN KEJAYAAN
KEADILAN YANG MERATA
DI SELURUH NUSANTARA


Ada yang tahu syair apa itu?

Itu adalah syair dari lagu wajib Negara Islam Indonesia (NII). Beberapa waktu lalu, saya diberi teks syair itu oleh seseorang yang mengaku anggota NII. Dia tampaknya dalam keadaan bingung. Ia masih sangat terikat NII karena istrinya bekerja di sebuah lembaga pendidikan yang dibentuk NII. Jelas, persoalan yang dimilikinya adalah persoalan ekonomi, bukan politik.

Sayang sekali, saya lupa menanyakan judul lagu tersebut. Entah lagu itu merupakan lagu paling wajib sebagaimana Indonesia Raya ataukah hanya sebuah lagu dari sekian banyak lagu yang dimiliki oleh NII. Dari nadanya, lebih mendekati sebuah hymne, bukan mars. Dua kali ia melantunkan lagu tersebut di depan saya. Saya pun langsung hapal. Pintar benar mereka. Nada lagunya memiliki pesona luar biasa. Penuh khidmat, memiliki semangat, membangkitkan emosi, serta menanamkan harapan. Apalagi jika menggunakan alat musik, seperti, gitar atau keyboard, semakin menusuk perasaan.

Saya juga tidak tahu apakah lagu itu sudah ada sejak zaman SM Kartosoewiryo atau diciptakan setelahnya. Pun saya tidak memiliki informasi apakah lagu ini digunakan atau dimiliki oleh seluruh kelompok NII atau hanya kelompok tertentu karena NII sendiri terdiri atas banyak kelompok yang berbeda dan tak jarang hubungan di antara mereka tidak harmonis. Yang jelas, menurutnya, lagu ini setiap tahun dikumandangkan. Memang tidak semua anggota NII mengetahui lagu ini, hanya orang-orang tertentu, pada level tertentu. Setiap tahun mereka menyanyikannya untuk memperingati hari proklamasi NII, 7 Agustus 1949.

Lagu ini dinyanyikan di berbagai tempat yang dianggap aman, misalnya, di tempat kontrakan, gedung-gedung tertutup, tempat-tempat terbuka yang mereka kuasai, atau hutan-hutan. Beberapa hari atau beberapa minggu sebelum menyanyikan lagu itu, mereka melakukan berbagai kegiatan seperti aktivitas masyarakat Indonesia pada umumnya menjelang peringatan HUT Proklamasi RI, misalnya, pertandingan bola voli, catur, lomba memancing, marathon, bulu tangkis, baca puisi, lomba menyanyi, khitanan massal, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini sering tidak tertutup, bahkan terbuka. Mereka merasa aman karena tak pernah dicurigai masyarakat. Toh, memang masa-masa itu merupakan waktunya banyak diselenggarakan kegiatan sejenis. Mereka hampir bebarengan melakukan kegiatan itu dengan masyarakat Indonesia lainnya karena sama-sama memperingati hari keramat dalam bulan yang sama, Agustus. Perbedaannya, kita memperingati 17 Agustus 1945, sedangkan mereka memperingati 7 Agustus 1949.

Pada hari H mereka bukan saja menyanyikan lagu wajib di atas, melainkan meneriakkan pula yel-yel lainnya, seperti, Hidup NII! Merdeka NII! Menurut perkiraan saya, mereka meneriakkan itu penuh semangat, lebih bersemangat dibandingkan kita jika meneriakkan Hidup Indonesia! Merdeka Indonesia! Itu cuma perkiraan, bayangan, tetapi sangat mungkin terjadi karena mereka memiliki keinginan yang pasti dan pemimpin yang juga pasti, sedangkan kita mengalami krisis kepemimpinan dan banyak masalah yang melilit tak kunjung selesai, wajar jika agak hambar meneriakkannya.

Akan tetapi, berbeda jika Timnas sepakbola kita berlaga, teriakan kita bisa sangat nyaring memecahkan langit. Itu bagus, lumayan, daripada tidak sama sekali. Soalnya, anehnya, teriakan Hidup Indonesia! sangat membahana saat pertandingan sepakbola, tetapi begitu kikuk ketika berhadapan dengan masalah ekonomi, ideologi, Hankam, dan politik. Banyak orang yang tenang-tenang saja ketika negeri ini kekayaan alamnya dikuras oleh orang-orang rakus dan perusahaan asing. Malahan, mereka selalu memuja-muja bangsa asing yang perilakunya sudah tampak lebih bajingan daripada bajingan, lebih premanisme dibandingkan para preman. Sangat sering kita melihat mobil atau motor yang ditempeli stiker bendera bangsa asing. Bukan di sana saja mereka mengibarkan bendera orang lain, melainkan pula di kamar tidur, di seprai, di celana, baju, topi, tas, dan lain sebagainya. Aneh memang, entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Demikian pula saat Pemilu, banyak yang memilih orang-orang yang sudah jelas memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan bangsa hanya karena diberi selembar uang lima puluh ribuan atau janji-janji yang jelas pasti palsu. Dengan tulusnya mereka pergi ke tempat-tempat pemilihan, padahal mereka sendiri kebingungan mau memilih siapa karena sudah berkali-kali memilih, tetapi kehidupan mereka tak kunjung berubah lebih baik, bahkan ada yang terus meluncur ke arah kemiskinan. Yang berubah lebih baik secara ekonomi ya hanya mereka-mereka itu yang telah dipilih menjadi pejabat. Kalau menurut saya sih, jangan paksakan diri pergi ke tempat pemilihan kalau tak ada yang bisa dipercaya. Duduk saja yang manis di rumah atau pergi bekerja. Itu lebih baik karena tidak akan menanggung beban di akhirat nanti. Soalnya, semua orang di akhirat nanti akan ditanyai tentang segala yang dilakukannya di dunia ini, termasuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban tentang pilihan kita saat memilih dalam Pemilu. Itu pasti terjadi.


Batas Waktu

Urusan NII palsu ini sudah sangat memuakkan, mengesalkan, dan membosankan, tetapi tidak pernah selesai secara tuntas. Sementara itu, dari hari ke hari korbannya semakin banyak, baik korban ketertipuan maupun korban kekerasan. Sudah sangat wajar jika seluruh bangsa Indonesia berharap aparat penegak hukum dapat menuntaskan kasus NII paling lambat 6 Agustus 2011, tepat satu hari sebelum mereka merayakan lagi hari kemerdekaannya pada 7 Agustus 2011. Setelah tanggal itu, sudah tak boleh lagi ada lagu kebangsaan yang dikumandangkan yang bukan lagu kebangsaan Indonesia di negeri ini, kecuali yang disahkan oleh aturan, seperti, dalam pertandingan olah raga antarnegara atau menyambut petinggi pemimpin negara asing yang bertamu ke RI.

Mengapa saya mengusulkan batas waktu maksimal itu? Persoalan NII ini sudah terjadi sejak lama, sejak zaman tai kotok dilebuan, ‘tahi ayam ditaburi abu gosok’. Try Sutrisno saat menjadi Pangab sudah mengumumkan bahwa di negeri ini telah berkembang kelompok-kelompok misterius yang disebutnya sendiri OTB (Organisasi Tanpa Bentuk).

Soeharto saat menjadi presiden pun mengatakan hal yang mirip, “Mereka yang anti terhadap Pancasila adalah sesungguhnya belum mendalemi Pancasila.”

Ketika mengatakan mendalemi, dialeknya khas jawa medok. Mendalemi Pancasila atau dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah mendalami Pancasila yang dimaksud Soeharto adalah Pancasila menurut versi dan keinginannya sendiri, bukan keinginan dari Pancasila itu sendiri. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, pernyataan Try Sutrisno dan Soeharto jelas sekali menunjuk pada kelompok yang sama, yaitu NII. Itu artinya, masalah NII sudah terjadi sejak sangat lama, tetapi tak kunjung selesai. NII palsu itu seolah-olah dimusuhi, disalahkan, tetapi tetap dibiarkan hidup.


Benteng Kokoh

Kalaulah permasalahan NII gadungan itu masih belum selesai sampai 6 Agustus 2011, berarti NII memang memiliki benteng yang sangat kokoh dan kuat. Benteng itu lebih kokoh dibandingkan Tembok Cina. Tembok Cina betapapun kuatnya bisa roboh hanya dipukuli oleh palu secara terus-menerus. Akan tetapi, benteng NII tak bisa hancur oleh senjata apa pun. Nuklir pun tak akan mampu menghancurkannya. Hal itu disebabkan benteng itu telah dibangun dengan baik dan rapi oleh kelambatan aparat penegak hukum, pembiaran yang dilakukan pemerintah, perlindungan para politisi yang memanfaatkannya, sifat lupa dari masyarakat Indonesia sendiri, serta kegemaran mengheboh-hebohkan kasus yang baru.

Kalau ada yang membantah aparat lambat dan pemerintah membiarkan, kenapa kasus ini terjadi terus-menerus selama puluhan tahun? Sementara itu, sudah sangat banyak keluarga yang menangis sedih karena ada anggota keluarganya terjerat NII imitasi ini. Di samping itu, sudah sangat banyak laporan yang diadukan oleh berbagai lapisan masyarakat mengenai hal ini, tetapi tetap tak ada kejelasan.

Dalam tulisan yang lalu, sempat saya beberkan sedikit pengakuan-pengakuan korban NII. Pada tulisan ini saya tambahi lagi sedikit. Ibu saya sendiri sangat sering berceritera kepada saya mengenai teman-teman pengajiannya yang menangis sedih dan mengeluh karena anak-anaknya menjadi pengikut NII. Di antara mereka ada yang sudah kehilangan anak selama empat sampai lima tahun lebih. Ketika suatu saat anaknya datang kembali ke rumah, para orangtua itu gembira bukan main. Mereka pun menyambut anaknya dengan penuh kasih sayang, memberikannya kenyamanan, perlindungan, dan pelayanan penuh haru cinta. Akan tetapi, besok paginya anaknya sudah tidak ada lagi entah ke mana. Bahkan, bukan hanya anak yang hilang, melainkan pula perabot rumah tangga, alat-alat dapur, perhiasan, taplak meja, perkakas pertukangan, kain korden, seprai, selimut, sepatu orangtua, pakaian saudara-saudaranya, serta banyak lagi yang ikut raib. Akankah kondisi itu terus dibiarkan terjadi? Tampaknya memang situasi ini akan berlangsung sangat lama karena kita membuatkan benteng yang teramat canggih bagi NII.


Relakan Mereka Bergembira

Kalau sampai 6 Agustus 2011 NII tak bisa juga diatasi dengan tuntas, biarkanlah pengikut NII bergembira merayakan kemenangannya. Relakanlah mereka menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh kesenangan dan semangat. Mereka menang dan bergembira karena berada dalam perlindungan benteng kokoh yang kita buat sendiri. Tahanlah kesesakan nafas di dada kita ketika mereka tersenyum riang ceria gembira di atas tangisan keluarga-keluarga yang kehilangan anggotanya. Tundukkanlah kepala kita dengan tenang dan takzim karena percuma juga kesal dan bersedih hati, ternyata negeri ini tak mampu mempertahankan kewibawaannya dirongrong oleh mereka yang menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi dengan mencatut nama Islam dan atas nama NII asli. Berupayalah berdamai dengan teriakan Hidup NII! Merdeka NII! Memang kita mungkin tak akan mendengarnya langsung, tetapi yel-yel itu jelas berkumandang entah di mana, di sebuah tempat di tanah air Indonesia.

Beginilah kisah kita saat ini yang akan menjadi bahan tertawaan anak cucu kita kelak. Ketika anak cucu kita mempelajari sejarahnya, mereka akan menyalahkan dan mengutuk sikap-sikap kita pada hari ini yang membiarkan kekalutan demi kekalutan terjadi. Mereka akan menuding kita sebagai generasi bego bin bloon, bukan generasi pejuang, bukan penerus bangsa, atau bukan penyelamat NKRI. Bukankah kejadian masa lalu menentukan kejadian hari ini dan kejadian hari ini menentukan pula kejadian pada masa depan?

Sekarang kita berada di penghujung Mei, sebentar lagi Juni, lalu Juli, kemudian Agustus. Orang-orang NII akan lebih dahulu memperingati HUT NII karena jatuh pada 7 Agustus 2011, sedangkan HUT RI pada 17 Agustus 2011. Mereka telah mendapatkan kehormatan merayakan lebih dahulu, sedangkan kita belakangan. Ceuk basa Sunda mah ‘wayahna bongan sorangan’, ‘dalam bahasa Sunda, ‘rasain deh lu, salah sendiri.’’