Friday, 7 September 2012

Tak Adil


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Terlalu sering kita berbuat tidak adil. Jangankan bertindak, berpikir saja sudah sering sangat tidak adil. Karena sering berpikir dan berpendapat tidak adil, kita sering pula kehilangan banyak keuntungan atau manfaat dari sesuatu yang menjadi perhatian kita.
Supaya tidak pusing, saya berikan contoh bagaimana seringnya kita berpikir tidak adil. Begini Saudara sekalian, ada banyak penceramah, ustadz, ahli bimbingan konseling yang memiliki ilmu bermanfaat bagi banyak orang menjadi tidak bermanfaat. Hal itu disebabkan kita menginginkan orang-orang yang kita perhatikan itu merupakan sosok yang sangat sempurna. Dalam arti sangat sempurna menurut ukuran kita, bukan menurut ukuran Allah swt. Banyak sekali cibiran kepada para penyampai kebenaran, baik itu ahli agama, ahli ilmu jiwa, atau ahli kemasyarakatan. Kita tidak bisa menerima ilmu pengetahuan atau nasihat dengan baik jika ada ustadz, kiyai, atau konselor yang memiliki keluarga tidak beres, tidak berperilaku sesuai dengan nasihat-nasihatnya sendiri. Misalnya, saya merasa prihatin atas cibiran masyarakat kepada seorang penceramah agama Islam hanya karena memiliki anak perempuan perawan yang gemar menggunakan celana pendek, seksi. Saya pun amat menyayangkan ketidakpercayaan masyarakat kepada seorang ahli konseling hanya karena istrinya sering menyakiti hati orang lain. Padahal, antara dia dengan keluarganya adalah merupakan sosok berbeda yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing di hadapan Allah swt. Memang di antara mereka memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan, tetapi mereka adalah individu yang berbeda. Akibat dari cibiran dan ketidakpercayaan kita, kita tidak dapat mengambil manfaat dari para ahli itu.
Kita tidak bisa menimpakan kesalahan keluarga atau orang terdekat Sang Ahli kepada Sang Ahli tersebut karena mereka memiliki jalan hidup masing-masing. Allah swt saja dalam dalam Al Quran teramat sering mengisahkan para anggota keluarga nabi dan rasul yang mendapatkan hukuman karena tidak sejalan dengan perilaku suaminya. Bahkan, ada yang mendapatkan tindakan keras dari Allah swt secara langsung. Hal itu menunjukkan bahwa banyak anggota keluarga para nabi yang tidak sesuai dengan ajaran Sang Nabi tersebut. Artinya, kita tidak bisa mencibir atau tidak meyakini ajaran para nabi tersebut hanya karena memiliki anggota keluarga yang menyimpang dari ajaran Sang Nabi. Misalnya, kita tidak bisa mendustakan kenabian Luth as hanya karena memiliki istri yang tidak patuh kepadanya dengan alasan “bisa aja menasihati orang lain, mengurus rumah tangga sendiri saja tidak bisa”. Kita tahu bahwa istri Nabi Luth as dihukum Allah swt secara langsung di dunia ini menjadi batu dan batu itu bisa dilihat siapa saja sampai sekarang.
Dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara pun, kita sangat sering tidak adil. Celakanya, perilaku berpikir dan bertindak tidak adil ini bukan saja dilakukan oleh kalangan rakyat yang memiliki informasi dan kewenangan pas-pasan, melainkan pula dilakukan oleh mereka yang menduduki jabatan-jabatan tinggi dalam pemerintahan. Misalnya, ini benar-benar terjadi yang membuat saya merasa aneh sekaligus ingin tertawa terbahak-bahak. Bupati Bandung Dadang Naser pernah mengeluh karena orang-orang pemerintah pusat mendatangkan pejabat tinggi dari sebuah kabupaten di Sulawesi ke Kabupaten Bandung. Orang-orang pusat itu meminta Kabupaten Bandung belajar dari keberhasilan sebuah kabupaten di Sulawesi tersebut soal e-KTP.  Wilayah itu sudah secara sempurna berhasil 100% melaksanakan e-KTP. Awalnya sih, Bupati Bandung gembira karena bisa belajar dari keberhasilan kabupaten lain. Akan tetapi, ia merasa kecewa karena ternyata keberhasilan kabupaten lain itu sangat tidak berimbang dengan kondisi Kabupaten Bandung. Wajar saja kabupaten di Sulawesi itu berhasil karena ternyata hanya memiliki penduduk sejumlah 67 ribu jiwa, sedangkan Kabupaten Bandung memiliki rakyat 3,2 juta jiwa. Jelas hal itu menunjukkan ketidakadilan berpikir orang-orang pusat.
Bagaimana bisa mereka mengatakan bahwa kabupaten yang hanya berpenduduk puluhan ribu lebih berhasil dibandingkan kabupaten yang berpenduduk jutaan jiwa?
Kalau diukur dari jumlah penduduk, Kabupaten Bandung lebih berhasil karena telah menyelesaikan ratusan ribu e-KTP. Nggak perlu belajar dari yang penduduknya di bawah seratus ribu. Kalau mau belajar, ya   harus dari wilayah-wilayah yang berjumlah penduduk setara dengan Kabupaten Bandung.
Hal yang sama pula terjadi dengan pembangunan pasar. Bupati Bandung Dadang Naser ingin belajar bagaimana caranya Jokowi mampu membangun pasar di Solo dengan biaya teramat murah, yaitu 10 miliar. Dadang Naser pun melakukan studi banding ke wilayah yang dipimpin Jokowi. Akan tetapi, Dadang Naser lumayan kecewa karena pasar yang dibangun Jokowi kecil-kecil, jadi bisa sangat murah. Hal seperti itu tidak bisa dilakukan di Kabupaten Bandung yang memiliki wilayah teramat luas dan penduduk sangat banyak, jutaan. Biaya yang diperlukan Kabupaten Bandung untuk membangun sebuah pasar mencapai 120 miliar. Artinya, Kabupaten Bandung tidak bisa belajar dari Jokowi karena kondisinya berbeda. Cara Jokowi di Solo tidak bisa digunakan untuk di Kabupaten Bandung.
Hal itu menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki masalah dan karakteristik berbeda. Demikian pula dengan sebuah kepemimpinan. Pemimpin yang berhasil di suatu daerah tidak bisa dikatakan mampu bisa berhasil memimpin daerah lain. Belum tentu, coy.
Saya sama sekali tidak mengecilkan Jokowi dan Ahok untuk memimpin Jakarta atau mengarahkan para pembaca untuk mendukung Fauzi Bowo dan Nara. Saya tidak ada urusan dengan itu. Yang saya harapkan dengan tulisan ini, kita, rakyat, mampu berpikir adil. Sama sekali tidak ada keuntungan bagi saya dengan dukung-mendukung salah satu pasangan calon. Toh, Fauzi Bowo jumlah suaranya jauh lebih jeblok dibandingkan Jokowi pada putaran pertama. Artinya, kepemimpinannya kemarin-kemarin menggusarkan banyak orang.
Saya tidak mendukung siapa pun karena pertama, saya bukan penduduk Jakarta, jadi tidak akan memilih mereka; kedua, kalaupun saya penduduk Jakarta, saya tidak akan memilih karena saya pembenci demokrasi; ketiga, saya sama sekali tidak yakin, baik Foke maupun Jokowi akan membuat perubahan yang berarti bagi Jakarta karena cara-cara yang dilakukan mereka adalah demokrasi, sedangkan sistem demokrasi itu adalah sistem korup yang memiliki banyak kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sekali lagi, kita harus berpikir adil untuk segala sesuatu. Dengan berpikir adil, kita dapat bertindak dan berperilaku adil pula.
Tidak salah jika kita belajar dari pertandingan tinju dunia. Pertandingan ini lebih adil dibandingkan dengan sepak bola. Dalam tinju, ada pembagian kelas. Ada kelas bulu, kelas terbang, kelas ringan, sampai dengan kelas berat. Kita, Indonesia, punya juara dunia Daud Jordan dan Chris John. Mereka adalah juara. Akan tetapi, juara di kelasnya. Mereka tidak akan dapat berbuat banyak jika dipertandingkan di kelas berat. Hal itu disebabkan berbeda kelasnya. Adalah tidak adil jika juara kelas bulu dihadapkan dengan juara kelas berat. Chris John tak akan sebanding dengan Tyson. Demikian pula Daud Jordan tak sepadan dengan Evander Holyfield.
Mengenai kepemimpinan, adalah lebih baik kita belajar dari Orde Baru. Orde ini memang sangat memuakkan. Saya membencinya dan sangat tidak menyukainya. Akan tetapi, sekali lagi, kita harus adil. Meskipun Orde Baru memiliki banyak kekejian, sesungguhnya ada pula hal baik yang bisa kita kembangkan. Adalah tidak adil jika menganggap Orde Baru seluruhnya buruk. Memang buruk sih, tetapi kan tidak semuanya buruk. Misalnya, Soeharto jika akan mengangkat menteri dalam negeri, biasanya selalu menguji calonnya untuk menjadi gubernur di provinsi yang memiliki permasalahan hampir mirip dengan permasalahan nasional. Jika calonnya itu berhasil, Soeharto benar-benar akan menjadikannya menteri. Jika tidak, ya tidak jadi. Memang itu tidak ada dalam aturan tertulis, artinya tidak dipersyaratkan bahwa untuk menjadi menteri dalam negeri harus berhasil menjadi gubernur di provinsi yang memiliki permasalahan dan penduduk yang teramat kompleks. Hal itu hanya merupakan kebiasaan yang menjadi rahasia umum. Sayangnya, pada masa Soeharto amat kental dengan korupsi, kolusi, nepotisme, pembungkaman aspirasi, dan penghilangan aktivis.
Adalah hal teramat baik jika calon gubernur di provinsi mana pun merupakan kepala daerah yang sudah memiliki pengalaman dan keberhasilan yang baik di kota atau kabupaten yang memiliki permasalahan yang mirip dengan provinsi yang akan dipimpinnya. Jangan menggunakan demokrasi karena yang terjadi adalah maraknya politics bargaining dan money bargaining. Soal adu visi, itu mah soal kabaret atau sandiwara satu babak karena visi misi itu adanya di atas kertas, di dalam kepala, dan di mulut yang berbusa saat kampanye penuh dusta. Semua visi pasti isinya baik,  segala program pasti isinya indah, sebagaimana isi platform setiap partai yang penuh dengan keagungan. Akan tetapi, dalam menjalankan pemerintahan nyata, yang terlaksana adalah penyanderaan oleh berbagai kepentingan yang sama sekali membuat kepemimpinan untuk kemuliaan masyarakat menjadi sangat merosot dan rendah. Begitulah demokrasi yang dikeramatkan orang itu. Ngaco.
Kembali pada maksud tulisan ini. Kita hendaknya adil berpikir, adil berbicara sehingga mampu adil dalam membuat kebijakan dan bertindak, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun orang banyak.

Sunday, 12 August 2012

Angkat Dua Jempol untuk Jakarta tanpa Demokrasi


oleh Tom Finaldin


Demokrasi sudah menjadi penyakit akut yang diderita banyak manusia. Orang-orang begitu tersihir hingga tertipu untuk mengikuti sistem politik demokrasi yang bejat dan memalukan kesadaran kemanusiaan itu. Meskipun sudah tampak nyata kerusakan pada berbagai bidang yang diakibatkan penggunaan sistem politik demokrasi, orang-orang masih percaya juga terhadap demokrasi. Sungguh mengherankan.
            Jakarta, Ibukota Negara Indonesia, yang kita cintai pun percaya bahwa demokrasi bisa menyelamatkan dan membangun dirinya ke arah yang lebih baik. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Sejak diberlakukannya demokrasi, Jakarta tidak menjadi lebih baik. Bahkan, para koruptor kelas atas berkeliaran di kota besar itu.
            Untuk mendapatkan pemimpinnya, Jakarta kembali melakukan proses demokrasi. Padahal, dulu sudah melaksanakan demokrasi, kemudian punya pemimpin. Akan tetapi, dalam pemilihan gubernur berikutnya, pemimpin yang telah dipilihnya dulu kalah suara secara telak pada putaran pertama. Hal itu menunjukkan bahwa pemimpin yang telah dipilih dulu tidak mendapat tempat di banyak hati rakyat Jakarta. Artinya, dianggap tidak berhasil.
Kalau dianggap berhasil, mengapa jumlah pemilihnya kalah jauh dibandingkan dengan pasangan baru?
Kemudian, rakyat coba-coba pilih pemimpin baru yang berasal dari tempat jauh dari Jakarta dan menjadi pemimpin daerah yang memiliki permasalahan berbeda dengan Jakarta. Harapan rakyat tentunya akan terjadi perbaikan. Namun, besar kemungkinan harapan tinggal harapan. Kenyataan akan menunjukkan hal yang berbeda daripada harapan. Hal itu disebabkan sistem politik demokrasi memiliki tabiat merusakkan tatanan kehidupan manusia dan penuh dengan kebohongan.
            Pemimpin atau gubernur Jakarta yang terbaik justru lahir tidak melalui proses demokrasi. Adalah hal yang tak terbantahkan bahwa Gubernur Jakarta yang terhebat adalah Bang Ali Sadikin, putera Sumedang.
            Ali Sadikin mampu membangun Jakarta karena tidak mengeluarkan uang banyak-banyak, tak ada tim sukses, tak ada hutang politik, tak ada hutang budi apa pun kepada siapa pun, dan tak ada black or white campaigne. Bang Ali menjadi gubernur atas dasar perintah dari Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno. Pada awalnya ia mendapat tentangan dari beberapa pihak karena sifatnya yang kopig (kophh), ‘keras kepala’. Akan tetapi, justru kekeraskepalaannya itu yang disukai oleh Soekarno.
            Bang Ali hadir menjadi gubernur karena diinginkan oleh Pemimpin Besar Revolusi yang sudah pasti mencintai negerinya. Ia bersedia bekerja menjadi gubernur karena ia prajurit tangguh yang siap ditempatkan di mana saja.
            Bang Ali tak gentar dimaki dan dikata-katai.
Dengan keras kepalanya ia mengatakan, “Saya akan masuk neraka!”
Kata-kata kerasnya itu ditujukan bagi  pihak-pihak yang  mengkritiknya karena menggunakan uang hasil perjudian untuk membangun Jakarta. Ia sesungguhnya mengerti judi itu haram, tetapi pada saat tertentu ketika keadaan mendesak, uang hasil perjudian itu diperlukan untuk pembangunan. Jika saja saat itu anggaran pembangunan yang bersumber bukan dari perjudian sudah mencukupi, niscaya Bang Ali tidak akan menggunakan uang dari hasil perjudian.
Ia mengatakan, “Tuhan pasti mengerti.”
Hasilnya, ia dapat membangun sarana kesehatan, pendidikan, dan kegiatan pembangunan lainnya yang bisa dinikmati rakyat Jakarta.        
Adalah hal yang tak terbantahkan pula bahwa Bang Ali adalah satu-satunya gubernur yang mendapatkan penghargaan dari mahasiswa. Padahal, gubernur lain sering sekali mendapatkan protes dari mahasiswa.
Tulisan ini mengingatkan kita bahwa gubernur terbaik Jakarta adalah tidak lahir dari demokrasi. Ia lahir dari keinginan dan pertimbangan matang seorang presiden yang mencintai rakyatnya. Ia mampu bekerja secara bersih karena dirinya merupakan prajurit tangguh yang juga mencintai negerinya. Adalah sungguh pantas jika kita mengangkat dua jempol untuk Jakarta pada masa Ali Sadikin yang tidak lahir dari demokrasi itu.
Demokrasi hanya menghasilkan pemimpin yang terlalu banyak berhitung ini tidak bisa dan itu tidak bisa karena tersandera banyak kepentingan. Akibatnya, rakyat-rakyat juga yang merasakan penderitaan dan kebingungan berkepanjangan.
Ada satu lagi contoh hebat kepemimpinan yang tidak lahir dari demokrasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu mengubah kondisi yang dipenuhi ketimpangan ekonomi menjadi kemakmuran berlimpah hanya dalam waktu 29 bulan. Saking makmurnya, orang yang disebut miskin dalam masa pemerintahannya adalah orang yang sudah memiliki rumah, kendaraan, dan pembantu, tetapi punya hutang. Orang dengan keadaan ekonomi seperti itu diklasifikasikan sebagai mustahik, ‘orang yang berhak menerima zakat’.
Berbeda jauh kan dengan klasifikasi orang miskin di Indonesia?
Orang yang miskin di Indonesia adalah orang yang benar-benar melarat, tidak punya ini-itu. Padahal, katanya sudah menjadi negara modern karena menggunakan demokrasi.
Cape deh ….
Jadi, ngapain masih memelihara demokrasi kutu kupret itu?
Nggak bisa ya bikin sistem politik dari pengalaman dan nilai-nilai luhur budaya bangsa sendiri?
Kalau nggak bisa, percuma juga di negeri ini banyak profesor botak, setengah botak, belum botak, dan tidak akan botak. Mikir dong, mikiiir …!
Sebentar saja berpikir untuk itu akan mendapat banyak pahala dari Allah swt.
Bukankah orang yang berpikir sebentar untuk kemaslahatan bangsa dan negara itu lebih banyak pahalanya dibandingkan orang yang melakukan shalat puluhan tahun?

Kualitas Artis


oleh Tom Finaldin


Saya merasa perlu menulis mengenai kualitas artis untuk lebih memahamkan pembaca sekalian tentang maksud saya dalam tulisan yang lalu. Saya sungguh prihatin dengan perilaku media yang mencari pendapat imbangan untuk mengimbangi pendapat orang-orang yang tidak setuju terhadap kehadiran Lady Gaga. Beberapa media mencari pendapat dari artis-artis yang berkualitas rendah. Hasilnya, tentu saja bertentangan dengan orang-orang yang tidak setuju terhadap kehadiran Lady Gaga. Para artis berkualitas rendah itu sudah sangat pasti mendukung kehadiran Lady Gaga karena kurang rasa dan kurang paham terhadap nilai-nilai budaya bangsa.
            Saya secara pribadi membedakan kualitas artis itu dari penampilan dan hasil karyanya. Jika penampilan dan hasil karyanya hanya bertahan dalam hitungan hari, atau beberapa bulan, paling lama dalam hitungan tahun yang singkat untuk kemudian dilupakan, artis itu berkualitas rendah. Jika penampilan dan hasil karyanya bertahan sangat lama, bahkan bernilai abadi, artis itu berkualitas tinggi. Karena kualitasnya yang tinggi, penampilan dan karyanya bisa memberikan dorongan positif bagi penggemarnya.
            Tinggi-rendahnya kualitas artis lebih banyak dipengaruhi oleh niat mereka untuk tampil dan berkarya. Seluruhnya terkait erat dengan uang.  Jika penampilan dan karyanya hanya untuk mencari uang, artis itu pasti berkualitas rendah. Pendek kata, dia menjadi artis rendahan. Tinggi-rendahnya kualitas artis berbanding lurus dengan niatnya. Kalau niatnya untuk mencurahkan perasaan dan memberikan pengaruh positif bagi penggemarnya dengan menomorsekiankan uang, dia pasti berkualitas tinggi, apalagi sama sekali bukan uang yang menjadi niatnya.
            Hal tersebut sebagaimana yang dikemukakan pencipta lagu AT Mahmud (alm.) bahwa artis-artis sekarang menciptakan lagu dan membawakan lagu hanya untuk dijual dalam kata lain untuk mencari uang. Berbeda dengan dirinya bersama pencipta lagu seangkatannya yang menciptakan lagu bukan untuk uang, melainkan karena dorongan cinta terhadap anak-anak. Oleh sebab itu, karya-karya AT Mahmud bernilai abadi hingga kini, selalu dinyanyikan banyak anak. Demikian pula karya-karya pencinta anak lainnya yang berkualitas tinggi, seperti, Ibu Sud, Ibu Kasur, dan Ibu Fat. 
              Orang tak bisa membantah bahwa karya-karya berkualitas tinggi berasal dari orang-orang ini: Ebiet G. Ade, Bimbo, Slamet Rahardjo, Iwan Fals, Doel Soembang, Vina Pandu Winata, Rafika Duri, Koes Plus, Rhoma Irama, Ibing Kusumayatna, Taufiq Ismail, Broery Marantika, Chrisye, dan masih banyak lagi. Penampilan dan karyanya tetap bertahan hingga hari ini. Tak mudah dilupakan. Orang masih ingat bagaimana mereka beraksi di panggung dengan karyanya. Bahkan, ada karya seni atau lagu yang sama sekali tidak berurusan dengan uang, tetapi berupaya membuat orang-orang ingat terhadap kebenaran sejati, misalnya, Sunan Ampel dengan syair Lir Ilir yang tak pernah mati, bahkan tak akan mati sampai ribuan tahun mendatang.
            Seharusnya, mereka itulah yang dimintai pendapat atau komentar jika terjadi suatu goncangan terkait dengan seni dan seniman di negeri ini, baik dalam maupun luar negeri. Tentunya, mereka yang masih hidup. Kalau yang sudah meninggal, kita bisa mengira-ngira pendapatnya dari perjalanan karir dan isi karya-karyanya. Pendapat mereka adalah lebih layak didengar dan dipertimbangkan dibandingkan dengan artis-artis yang cepat dilupakan orang itu.
           

Mari Kita Budayakan Kekerasan


oleh Tom Finaldin


Kekerasan?
Why not?
Kekerasan adalah jalan terakhir untuk menyadarkan sekaligus mengalahkan orang-orang bodoh yang sok tahu dan sok pintar. Kita membutuhkan kekerasan untuk menggetarkan hati dan pikiran orang-orang yang sudah kelewat batas.
Kita mungkin masih ingat kontroversi konser Lady Gaga yang gagal itu. Sungguh untuk masalah seperti itu diperlukan kekerasan yang nyata agar tak terjadi lagi hal-hal serupa itu.
Adalah suatu keanehan yang amat sangat orang-orang sibuk berdebat mengenai kehadiran Lady Gaga di Indonesia. Malahan, anehnya, banyak orang yang berpendapat Lady Gaga diperbolehkan saja datang untuk mengadakan aksi panggungnya di Indonesia. Mereka ini berpendapat pula bahwa orang-orang yang tidak setuju terhadap kehadiran Lady Gaga adalah orang-orang yang memaksakan kehendak golongan dan agamanya kepada orang lain serta tidak sesuai dengan Pancasila. Karena kebetulan yang paling keras menolak adalah golongan yang beragama Islam, dengan bodohnya mereka mempertentangkan Islam dengan Pancasila. Seolah-olah yang tidak setuju Lady Gaga itu bertentangan dengan Pancasila. Keliru berat mereka itu.
Sudahlah tak perlu mempertentangkan lagi antara Islam dengan Pancasila. Pancasila itu hanya seberkas cahaya yang ditampakkan Allah swt dari ajaran Islam untuk menyelamatkan negeri ini dari berbagai kesesatan. Tak ada pertentangan di antara keduanya.
Kesetujuan terhadap kehadiran Lady Gaga merupakan tanda yang jelas bahwa negeri ini masih harus ditatar mengenai Pancasila. Sila pertama dalam Pancasila jelas sekali adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua wajib berketuhanan. Siapa pun serta apa pun yang bisa mempengaruhi warga bangsa untuk tidak bertuhan, tidak menjalankan perintah Tuhan, dan mencederai ajaran Tuhan adalah harus disingkirkan dan dicegah sebisa mungkin. Jika perlu, dengan menggunakan kekerasan. Itu adalah kewajiban setiap warga Negara Indonesia yang ber-Pancasila.
Ada beberapa dari kalangan media yang sama bodohnya dengan orang-orang yang tidak mengerti Pancasila. Mereka mencari pendapat imbangan dari para artis yang rendah kualitasnya. Hasilnya, jelas sekali para artis itu membela kehadiran Lady Gaga karena tidak mengerti Pancasila dan jauh dari pemahaman terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Mestinya, media mewawancarai para artis yang berkualitas tinggi.
Membedakan kualitas artis itu tidak terlalu sulit. Lihat saja penampilan dan karyanya. Kalau penampilan dan karyanya bertahan sangat lama, bahkan bernilai abadi, itu artinya berkualitas tinggi. Kalau penampilan dan karyanya bertahan hanya dalam hitungan hari atau bulan, itu artinya berkualitas rendah.
Jika saja media mau mewawancarai para artis yang berkualitas tinggi, pasti akan mendapatkan pendapat penolakan terhadap Lady Gaga karena bertentangan dengan nurani mereka yang juga bernilai tinggi.
Kita memang perlu membudayakan kekerasan untuk membela Pancasila, nilai-nilai luhur bangsa, dan hukum-hukum yang menjadi rambu-rambu dalam berbangsa dan bernegara. Jika hukum positif kurang lengkap dan atau beradu dengan budaya bangsa serta bertentangan dengan Pancasila, hukum-hukum itu mesti dikoreksi karena aturannya adalah hukum di Indonesia itu tidak boleh bertentangan dengan Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Kita perlu orang-orang yang gemar memaksakan kehendak agar orang-orang di negeri ini sadar terhadap dirinya sendiri. Kita harus memaksakan kehendak agar negeri ini kembali pada jalurnya, sebagaimana yang diinginkan para pejuang dan pendiri bangsa.
Di samping itu, penduduk Jakarta, baik asli maupun pendatang, harus ingat di luar kepala bahwa mereka itu hidup di kota yang dimenangkan oleh Fatahilah. Fatahilah menamakan kota itu Jayakarta yang kini bernama Jakarta yang artinya adalah Kota Kemenangan.
Kemenangan dari apa?
Pelajari itu sejarah Jakarta dan sejarah Fatahilah sendiri.
Kehidupan yang bagaimana yang Fatahilah inginkan dari wilayah yang disebutnya Kota Kemenangan itu?
Berterimakasihlah kepada Fatahilah yang telah berdarah-darah dan membuat pengikutnya bertaruh nyawa untuk kemenangan kota itu. Cara berterimakasihnya adalah dengan berperilaku dan bertindak yang benar sesuai dengan cita-cita Fatahilah. Siapa pun yang mengadakan kegiatan atau aktivitas yang bertentangan dengan keinginan Fatahilah, mereka itu adalah pengkhianat Jakarta dan manusia-manusia tolol yang tidak tahu terima kasih.


Manuk Dadali


oleh Tom Finaldin  

Bandung, Putera Sang Surya
Burung garuda adalah lambang Negara Indonesia. Ia menjadi lambang karena memiliki kegagahan yang luar biasa di antara para burung, bahkan di antara para binatang. Sikap, sifat, dan tingkahnya melambangkan keperkasaan, baik di angkasa, di darat, maupun di air. Burung garuda menjadi inspirasi dan motivasi para pejuang bangsa untuk memerdekakan Negara Indonesia dari penjajahan sekaligus pertahanan jiwa para penerusnya untuk tetap berada pada koridor yang benar dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.

            Karena keperkasaan dan kegagahannya, penyair Sambas Mangundikarta menggubah lagu yang terinspirasi dari burung garuda untuk memberikan semangat berjuang setiap anak bangsa Indonesia. Lagu yang dibuatnya menggunakan bahasa Sunda dengan judul Manuk Dadali.

            Berikut syair Manuk Dadali dalam bahasa Sunda.


Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang
Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang
Kukuna ranggoas reujeung pamatukna ngeluk
Ngapak mega bari hiberna tarik nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna?
Tandang jeung pertentang taya bandingannana
Dipikagimir dipikaserab ku sasama
Taya karempan kasieun leber wawanenna

Refrain:
Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia Jaya
Manuk dadali pangkakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahiri-hiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali ngandung siloka sinatria
Keur sakumna bangsa di Nagara Indonesia  



Dalam bahasa Indonesia.


Terbang melesat tinggi, jauh di angkasa
Merentangkan sayapnya, tegak tanpa ragu
Kukunya panjang tajam dan paruhnya melengkung
Menyongsong langit dengan cergas terbangnya

Siapa yang bisa menyaingi keberaniannya?
Gagah perkasa tanpa tandingan
Dihormati dan disegani oleh sesama
Tanpa ragu tanpa takut, besar nyalinya

Refrain :
Burung garuda, burung paling gagah
Lambang sakti Indonesia jaya
Burung garuda yang paling tersohor
Senang bersatu, rukun semuanya

Hidup berhimpun tanpa saling iri
Saling menyayangi, tak sungkan membela
Burung garuda adalah lambang kesatriaan
Untuk seluruh bangsa di Negara Indonesia

GAGAH PERKASA. Sumber Foto: www.rpp-silabus.com

Di dalam syair tersebut terasa sekali kegagahan dan wibawa burung garuda yang kemudian menjadi nafas dan gerak bangsa Indonesia untuk selalu bersama-sama membangun negeri dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, itu dulu, burung garuda yang dulu, manuk dadali tempo dulu. Sekarang burung garuda itu sudah sangat lelah, manuk dadali kini sangat letih karena ditinggalkan bangsanya. Bisa jadi benar kata orang-orang Malaysia bahwa burung garuda telah “patah sayap”.  Orang-orang Indonesia telah lupa dirinya sendiri, melupakan teman seperjuangannya, meninggalkan sejarahnya, memutuskan hubungan dengan para pendahulunya, serta serakah dan gemar mencuri dari sesama saudaranya sendiri. Memang suatu kondisi yang sangat memprihatinkan, menyedihkan, dan memalukan.

Beberapa waktu lalu saya menemukan syair yang sangat menyakitkan tentang burung garuda kita. Syair itu berbentuk lagu yang berjudul Dadali Manting ti Peuting, ‘Garuda Melayang di Tengah Malam’. Lagu ini diciptakan Uko H. pada 2007 yang kemudian dipopulerkan penyanyi Sunda legendaris Darso (alm.).

Berikut syair yang mengiris hati itu.



Dadali manting ti peuting
Ngoleang kakalayangan
Neangan nu lawas ilang
Baturna duka ka mana

Dadali manting ti peuting
Ngalayang ka pilemburan
Hate bingung kapigandrung
Nu ilang kawas nu pundung

Memang bonganna manehna
Kacida rasa mokaha
Kaduhung sagede gunung
Kumaha nya pilampaheun?

Refrain:
Dadali kabawa angin
Teu wasa nandangan lara
Tos teu kadenge deui sorana
Boa … boa ….
Boa … boa ….
Tapi palias teuing


Dalam bahasa Indonesia.


Garuda melayang di tengah malam
Melayang tak tentu arah
Mencari yang telah lama hilang
Para sahabatnya dulu yang kini hilang entah ke mana

Garuda melayang di tengah malam
Melayang ke kampung-kampung
Hatinya bingung penuh rasa rindu dendam
Sahabat-sahabatnya yang hilang sepertinya tak ingin kembali

Memang salah dia sendiri
Terlalu merasa perkasa, sombong, dan angkuh
Kini tinggal rasa penyesalan sebesar gunung
Bagaimana sekarang harus melangkah?

Garuda melayang terbawa angin
Tak kuasa lagi menanggung rasa sesal dan sedih di hati
Kini suaranya sudah tak terdengar lagi, sayapnya pun tak terdengar mengepak lagi
Jangan-jangan ... jangan-jangan ….
Jangan-jangan … jangan-jangan ….
Akan tetapi, mudah-mudahan jangan  terjadi



Lagu yang menyedihkan itu menggambarkan burung garuda yang sudah kehilangan semangat, sedih, dan menderita. Hal itu disebabkan rakyat dan para pejuang yang dulu bersama-sama bersatu berkarya untuk kejayaan Indonesia kini tak ada lagi. Tak tampak lagi pejuang bangsa, tak terlihat lagi rakyat yang penuh heroisme. Kini warga bangsa sudah sangat tersihir dengan kegandrungan terhadap kekayaan, kekuasaan, dan gemar sekali bertengkar. Celakanya, banyak warga bangsa yang berteman mesra dengan musuh-musuh garuda.

Kekacauan dan kesemrawutan hidup perjalanan bangsa membuat bangsa ini kehilangan arah, kehilangan dirinya, kehilangan semangat garuda yang teramat perkasa itu. Hampir seluruhnya telah tertipu. Tertipu karena cinta pada pemikiran dan kebiasaan hidup bangsa lain yang sama sekali tidak mendidik dan penuh kebohongan. Tertipu karena merasa bangsa Indonesia adalah bangsa yang selalu harus mengikuti hidup orang lain yang sama sekali berbeda jauh watak dan kulturnya dengan kita.

Sang Garuda kini letih dan sedih karena kebodohan yang diakibatkan kesombongan anak-anak negeri ini. Hampir seluruhnya tertipu dalam berbangsa dan bernegara. Semuanya hampir tertarik untuk berperilaku dan berpikir sebagaimana perilaku dan cara berpikir musuh-musuh garuda. Beginilah kita saat ini, telah meninggalkan garuda, manuk dadali, teman setia kita. Berjalan tak tentu arah yang sekali-kali ditarik hidungnya oleh orang-orang yang sama sekali tidak menginginkan Indonesia menjadi besar dan kuat.

MUDAH-MUDAHAN TIDAK JATUH MATI DAN DIMAKAN AYAM. Sumber Foto: ukisaja.blogspot.co.id
Sungguh, kerusakan negeri ini akan semakin parah jika tidak bersama-sama lagi Sang Garuda. Negeri ini akan runtuh bebarengan dengan matinya Sang Garuda yang suara dan kepakan sayapnya tak terdengar lagi, melayang di angkasa terbawa angin untuk kemudian terhempas remuk di kerasnya tanah yang penuh batu keras dan menyakitkan.

         Tapi, palias teuing, ‘janganlah hal itu sampai terjadi’.

Saturday, 19 May 2012

Macet



oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jadi lucu dan menggelikan. Dulu ketika saya masih SD atau SMP, bahkan SMA, Bandung-Jakarta itu harus ditempuh sampai enam jam perjalanan, bahkan bisa delapan jam perjalanan karena jalan yang memutar dan kualitas kendaraan yang tidak sehebat sekarang. Untuk lebih mempercepat perjalanan, dibangunlah jalan tol. Dengan keberadaan jalan tol dan kualitas kendaraan yang jauh lebih baik, mestinya perjalanan bertambah cepat dan nyaman. Akan tetapi, ternyata sekarang ini tidak beda-beda amat dengan zaman dulu. Memang iya sih Bandung-Jakarta sekarang hanya bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan, tetapi itu kan cuma dari pintu tol Bandung sampai pintu tol Jakarta. Di luar itu, waktu tempuhnya tidak bisa diprediksikan. Sebelum masuk tol di Bandung, kita sudah mengalami kemacetan yang sama sekali tidak membuat nyaman. Setelah keluar tol di Jakarta apalagi, berdesak-desakan dengan hutan rimba mobil dan sepeda motor yang bisa-bisa membuat stress. Akibatnya, waktu tempuh dari Bandung sampai dengan tujuan di Jakarta bisa sangat lama. Waktunya bisa mencapai enam jam, bahkan lebih. Jadi, sebetulnya hampir tak ada perubahan berarti dari masa lalu. Dulu enam jam, sekarang juga enam jam, malahan bisa lebih kalau lagi ada demonstrasi. Meskipun sekarang harga kendaraan bisa mencapai ratusan juta rupiah dengan kondisi teramat baik, tetap saja tidak lebih cepat dengan harga mobil yang sepuluh jutaan karena sama-sama terjebak dalam macet. Malahan, zaman dulu ada situasi yang lebih menyenangkan. Meskipun waktu tempuh lama, jalanan tidak macet dan kita bisa menikmati kondisi alam di berbagai daerah yang dilewati sambil beristirahat dengan kesahajaan masa lalu. Sekarang ini pengalaman seperti itu tidak bisa lagi dinikmati. Kalau menggunakan jalan lama lagi, bisa lebih buruk karena di jalan lama juga saat ini sudah macet. Bisa tambah ngaco.
            Kemacetan itu diakibatkan oleh berbagai masalah, di antaranya, tatakota, fasilitas jalan, perdagangan kendaraan, baik roda empat, tiga, atau dua, serta masalah pendapatan daerah. Tatakota seperti sekarang ini sangat menyulitkan karena membutuhkan biaya teramat mahal dan akibat sosial yang tak bisa dihindari. Soal fasilitas jalan juga jelas masalah. Jalan yang ada tidak bertambah, kalaupun bertambah hanya sedikit, seadanya, sedangkan penjualan kendaraan tambah semarak. Kalau jual-beli kendaraan ditahan atau dikurangi, bisa berakibat pada pendapatan daerah karena dari setiap penjualan, daerah mendapatkan keuntungan ekonomi dan selanjutnya dari pajak kendaraan.
            Kalau ingin tidak macet, harus ada kebijakan pemerintah pusat untuk menyebarkan penduduk ke wilayah-wilayah lain, jangan terus menumpuk di dalam kota. Kemudian, di wilayah-wilayah baru itu digairahkan pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi sehingga masyarakat lebih tersebar secara lebih merata. Kemacetan pun bisa mulai teratasi. Kata Muhaimin Iskandar yang Menteri Transmigrasi itu, memindahkan penduduk ke wilayah lain itu mahal biayanya. Ya mahal atuh kalau memindahkan orang Solo ke Sulawesi atau ke Kalimantan.  Jangan jauh-jauh atuh, di Pulau Jawa juga masih banyak yang kosong tidak termanfaatkan. Salah satu syaratnya adalah tanah harus dibagikan gratis. Tanah atau bangunan yang tidak dimanfaatkan selama tiga tahun atau lebih harus diambil alih oleh pemerintah untuk kemudian dimanfaatkan dengan baik. Tanah-tanah kosong harus dikelola dengan baik agar lebih subur. Hutan-hutan dan rawa-rawa harus dibuka kembali dengan catatan dipertimbangkan keseimbangan alamnya, jangan merusak. Dengan demikian, penduduk tersebar lebih merata, kendaraan pun tidak menumpuk di kota-kota besar. Malahan, orang-orang di kota besar akan pindah ke wilayah lain yang lebih luas dengan kesempatan berhasil yang menjanjikan dalam hal ekonomi.
            Akan tetapi, pemerataan penduduk, pembagian dan pengolahan tanah, serta pembangunan ekonomi yang prorakyat seperti itu teramat sulit dalam sistem politik demokrasi sekarang ini karena teramat banyak elit yang punya banyak hutang janji sama pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam penguasaan ekonomi serta sumber daya alam. Mereka nggak akan ada pikiran untuk membagikan tanah secara gratis agar kemacetan berkurang. Malahan mungkin merasa rugi melakukan hal itu karena tanah harus tetap diperjualbelikan sehingga menguntungkan mereka untuk bayar hutang janji sama konco-konconya. Di samping itu, penjualan kendaraan terus digenjot agar mendapatkan uang juga, peduli amat dengan kemacetan. Mereka lebih memilih membangun jalan atau sarana transportasi lain di wilayah yang sudah sesak dan sempit. Dari pembangunan itu pun mereka punya keuntungan bisnis lainnya lagi. Jadi, semuanya sudah sangat kusut dan membingungkan.
            Jika semuanya diarahkan pada kekuasaan untuk kepentingan kekuasaan, rusaklah negara dan masyarakat. Mestinya, kekuasaan itu diarahkan pada kesejahteraan dan kemakmuran bersama dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.
            Politik demokrasi itu ngaco, sumpah ngaco! Banyak sekali kepala daerah yang terpilih merasa dendam kepada kelompok-kelompok yang dulu menjadi saingannya. Akibatnya, dia berusaha menahan hak-hak kelompok-kelompok saingannya itu, tetapi mempermudah urusan kroni-kroninya. Mau memeratakan kemakmuran bagaimana kalau sudah begitu.
            Sudahi saja demokrasi, nggak bakalan masuk neraka kok, malahan bisa masuk sorga. Ratakan pembangunan, sebarkan penduduk, kemacetan pun teratasi, dan kemakmuran pun akan dinikmati bersama. Insyaallah.

Penganggur Mestinya Dihukum Berat


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak habis mengerti mengapa di Indonesia yang begitu besar dan kaya raya ini masih banyak orang miskin gara-gara tidak punya pekerjaan alias menganggur. Negeri ini punya tanah yang teramat luas dari Sabang sampai Merauke, lautnya juga sangat luas di antara ribuan pulau, langitnya pun sangat luas luar biasa. Tanahnya bukan hanya bisa ditanami, melainkan pula bisa digali potensi mineralnya yang sangat banyak.
            Okelah ada beberapa orang atau pakar yang mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara kaya karena ternyata cadangan minyaknya hanya tinggal beberapa belas tahun lagi untuk kemudian habis jika tidak ditemukan sumber minyak terbukti lainnya. Akan tetapi, itu kan cuma minyak, sedangkan kekayaan alam itu bukan hanya minyak, masih banyak yang lainnya. Saya sangat senang dengan pernyataan almarhum Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo bahwa Indonesia itu bukan kaya sumber mineral yang berasal dari fosil (minyak), melainkan kaya dengan sumber daya mineral lainnya. Di samping itu, Indonesia pun kaya dengan sumber daya energi. Contohnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber panas bumi (geothermal) No. 1 terbesar dan terbanyak di dunia dan itu merupakan kekayaan yang luar biasa.
            Kekayaan alam di dalam perut Bumi Indonesia itu bisa membuka lapangan kerja yang luar biasa bagi rakyat Indonesia jika dikelola dengan benar, baik, dan jujur. Kalau tidak dimenej dengan lurus, ya hasilnya hanya memberikan kekayaan pada perusahaan asing dan segelintir orang-orang licik Indonesia, bukan menciptakan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
            Jangankan kekayaan yang berada di dalam perut Bumi, kekayaan yang tampak jelas terlihat di permukaan bumi saja sudah bisa memakmurkan negara. Tanah di Indonesia itu luas luar biasa dan masih banyak yang kosong serta tidak termanfaatkan. Kalau kita tinggal di kota, memang sangat sulit untuk melihat banyaknya tanah kosong karena sudah sangat sempit, rumit, dan sibuk. Akan tetapi, jika tinggal di luar kota, kita akan melihat bahwa masih sangat banyak tanah yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Saya tinggal di dekat kaki bukit, sering sekali melihat tanah-tanah kosong yang sebetulnya bisa berguna bagi kehidupan orang banyak, terutama untuk pertanian, perladangan, peternakan, perkebunan, dan lain sebagainya.
            Sesungguhnya, jika tanah dari Sabang sampai Merauke ini bisa dibagikan secara gratis kepada rakyat—karena dulunya juga kan tanah ini gratis dari Sang Pencipta--, persoalan pengangguran bisa teratasi karena semua orang punya lahan untuk dikelola. Belum lagi kita memiliki wilayah laut yang sangat luas, potensinya bisa menghapus pengangguran.
            Tanah yang luas dan potensi laut yang juga melimpah akan sangat menolong rakyat yang tidak memiliki keahlian di bidang jasa dan teknologi. Bagi mereka yang punya keahlian di bidang jasa dan teknologi, tidak memerlukan tanah atau laut yang luas  untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf hidupnya. Mereka memiliki modal lain untuk dijual. Bagi yang tidak memiliki keahlian seperti itu kan bisa dididik, dilatih, dan dibina untuk bisa mengelola tanah dan laut. Kemudian, pemerintah menggairahkan bisnis yang berkaitan dengan hasil bumi dan hasil laut. Kan bisa seperti itu dengan catatan tanpa korupsi.
            Saya yakin jika tanah dan laut bisa digratiskan kepada rakyat, ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) akan pulang ke Indonesia untuk membangun diri dan negerinya. Indonesia pun akan terbebas dari cap sebagai negara kuli.
            Persoalannya sekarang adalah sistem politik kita tidak membuat banyak petinggi negeri berpikir ke arah sana. Teramat banyak elit yang hanya memikirkan soal kekuasaan dan suksesi-suksesi pada setiap periode plus mencari dana tambahan untuk melanggengkan kekuasaannya, entah halal entah haram. Jangan harap tanah di seluruh nusantara ini bisa dibagikan secara gratis oleh mereka yang berkuasa dari hasil politik demokrasi.
            Kalau ingin tanah dibagikan gratis dan kekayaan alam Indonesia bisa dinikmati oleh seluruh bangsa, ya harus mengenyahkan demokrasi. Demokrasi itu merusakkan hidup manusia dan membuat bangsa ini miskin serta menderita.
            Begini Saudara sebangsa setanah air. Jangan dikira tanah-tanah yang tersebar di Indonesia ini tidak ada pemiliknya. Ada banyak yang menguasainya Saudara. Mereka adalah orang-orang kuat yang dekat dengan kekuatan-kekuatan politik di negeri ini. Sayangnya, tanah yang mereka kuasai itu tidak digunakan dengan baik untuk kepentingan bersama, melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya, bahkan tidak untuk kepentingan siapa-siapa alias dibiarkan kosong tidak bermanfaat.
            Saya sempat dibuat bingung oleh bupati yang ketakutan dan tidak bisa membuat jembatan untuk menghubungkan dua desa karena tanah itu dimiliki oleh “orang tertentu”.  Masa ada tanah yang dimiliki secara pribadi sampai di bibir sungai? Bahkan, anehnya, ada tanah yang dikuasai pihak tertentu sampai tepi laut. Pusing saya.
            Orang-orang yang menguasai tanah itu dekat dengan banyak penguasa politik. Dengan demikian, tidak akan mungkin penguasa politik itu bisa membuat tanah-tanah itu untuk kepentingan rakyat. Mereka terpenjara hubungan yang telah terjalin sejak lama, sejak masa kampanye, dan sebelum-sebelumnya.
            Seandainya kita bisa mengenyahkan demokrasi, lalu menjadikan tanah-tanah yang luas yang tidak termanfaatkan itu untuk kepentingan rakyat, kita bisa membuat undang-undang atau hukum untuk menghukum para penganggur. Hal itu disebabkan sudah tidak ada alasan lagi untuk menganggur karena di negeri ini akan sangat banyak pekerjaan, bahkan mungkin memerlukan tenaga kerja kasar dari luar negeri untuk mengelola kekayaan alam Indonesia.
            Sekarang ini kita tidak bisa membuat aturan untuk menghukum penganggur karena tidak memiliki hal untuk dikerjakan. Orang-orang Indonesia ini bukan pemalas. Siapa bilang orang Indonesia itu pemalas? Kita semua ingin bekerja kok, ingin punya penghasilan, ingin hidup layak. Masalahnya, Indonesia belum memiliki lapangan kerja yang cukup untuk rakyatnya. Padahal, sumber daya alam yang begitu besar ini dianugerahkan Allah swt untuk rakyat Indonesia agar dapat bermanfaat bagi seluruh manusia.
            Maukah kita kembali pada jalan yang mulia?
            Singkirkan demokrasi sehingga kita memiliki pemimpin yang tidak punya banyak hutang politik, hutang ekonomi, hutang bisnis, hutang budi, dan rupa-rupa hutang lainnya. Pemimpin yang tidak punya banyak hutang seperti itu tidak akan terjerat dan tidak akan tersandera kepentingan-kepentingan tertentu sehingga mampu membuat sumber daya alam Indonesia bermanfaat bagi sumber daya manusia Indonesia.
            Sumpah demi Allah swt,  Sang Maha Pencipta tanah memberikan tanah ini untuk kita. Hanya kebodohan dan kerakusan manusialah yang membuat tanah-tanah yang seharusnya gratis ini diperjualbelikan, bahkan dikuasai secara tidak sah oleh orang-orang busuk.