Friday, 7 August 2020

Inti Masalah Ekonomi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Inti dari masalah ekonomi adalah kelangkaan. Hal itu disebabkan kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan hal-hal yang dibutuhkannya terbatas. Terjadilah kelangkaan. Kelangkaan tersebut membuat manusia berupaya untuk memenuhi hal-hal yang dibutuhkannya. Upayanya itu bertujuan agar hal yang dibutuhkannya itu dapat dimiliki meskipun langka. Hal-hal ini yang membuat manusia menggerakkan roda perekonomian.

             Tidak ada suatu negara pun yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh sebab itu, setiap negara bekerja sama atau berdagang agar kebutuhannya yang langka itu dapat terpenuhi. Misalnya, semua negara membutuhkan minyak bumi, tetapi tidak semua negara memiliki sumber daya minyak bumi. Di negara yang tidak memiliki sumbernya, minyak bumi merupakan barang yang langka. Oleh sebab, negara tersebut membeli dan bekerja sama dengan negara lain untuk mendapatkan minyak bumi tersebut.

            Penyebab kelangkaan, antara lain:

            Pertama, keterbatasan benda pemenuhan kebutuhan di alam. Tidak semua hal yang diinginkan manusia dapat diperbarui, ada yang habis dan tidak akan ada lagi. Misalnya, minyak bumi yang terus berkurang digunakan, sementara manusia tidak dapat lagi membuat minyak bumi.

            Kedua, kerusakan sumber daya alam akibat ulah manusia. Manusia kerap melakukan kerusakan terhadap alam karena kerakusannya tanpa melakukan upaya perbaikan. Contohnya, penggundulan hutan yang mengakibatkan habisnya pohon yang langka, penangkapan ikan secara liar, pembunuhan gajah untuk diambil gadingnya.

            Ketiga, keterbatasan manusia mengolah sumber daya ekonomi. Keterbatasan ini diakibatkan lemahnya penguasaan teknologi sehingga penggunaan sumber daya alam menjadi boros dan tidak efektif. Misalnya, membuka ladang perkebunan dengan cara membakar hutan atau membuka peternakan dengan membunuhi satwa-satwa lainnya.

            Keempat, peningkatan jumlah kebutuhan yang lebih cepat dibandingkan penyediaan sarana kebutuhan. Jumlah manusia tumbuh lebih cepat dibandingkan sarana penyedia kebutuhan. Oleh sebab itu, terjadi kelangkaan. Contohnya, jumlah manusia yang membutuhkan beras semakin banyak, akibatnya pada wilayah-wilayah tertentu terjadi kelangkaan beras sehingga mengganti kebutuhan terhadap beras tersebut dengan jagung atau gandum.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

 

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Penyebab Perubahan Sosial

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perubahan yang terjadi pada masyarakat disebabkan banyak hal, baik yang bersifat lahir maupun batin. Hal-hal yang bersifat lahir biasanya berbentuk materi semisal alat komunikasi dan kendaraan. Hal-hal yang berbentuk batin semisal tumbuhnya kesadaran dan pemikiran baru.

            Berikut alasan-alasan terjadinya perubahan.

            Pertama, masyarakat menghadapi masalah-masalah baru. Masyarakat selau menghadapi masalah-masalah baru sesuai dengan tuntutan zamannya yang membutuhkan pemikiran dan alat baru untuk memecahkannya. Misalnya, ketika kendaraan motor semakin banyak, terjadi masalah kemacetan; ketika terjadi pandemi Covid-19, terjadi kematian, kesakitan, dan penularan. Hal-hal seperti itu mendorong masyarakat untuk berubah dengan menggunakan segala kemampuannya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

            Kedua, tingkat ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan. Banyak tradisi dan agama yang mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka. Akan tetapi, kebiasaan-kebiasaan itu kerap berbenturan dengan kondisi zamannya. Oleh sebab itu, di antara warga selalu ada pihak-pihak atau kekuatan yang memiliki pemikiran baru untuk melakukan perubahan.

            Ketiga, perubahan lingkungan. Lingkungan sangat mendorong perubahan masyarakat. Misalnya, munculnya  kota-kota kecil yang berada di wilayah yang dulunya pedesaan membuat masyarakat berubah banyak. Lingkungan yang kemudian banyak diisi oleh orang-orang berpendidikan akan meningkatkan perilaku dan pola pikir masyarakat.

            Secara umum faktor-faktor yang mendorong masyarakat untuk berubah adalah:

            Pertama, rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada. Ketidakpuasan atas situasi yang sedang berjalan mendorong masyarakat untuk berubah. Misalnya, masyarakat yang terkekang dengan tradisi melakukan perlawanan untuk hidup lebih bebas.

            Kedua, timbulnya keinginan untuk mengadakan perbaikan. Situasi yang buruk dan lemah mendorong masyarakat untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, kemiskinan mendorong masyarakat untuk lebih berpendidikan dan meningkatkan keterampilan dirinya.

            Ketiga, kesadaran adanya kekurangan dalam budaya sendiri sehingga berusaha mengadakan perbaikan. Contohnya, masyarakat Indonesia yang dimanjakan alam yang tropis membuat diri malas dan banyak istirahat. Kemalasan itu menyebabkan kelemahan berpikir dan kurangnya daya saing ekonomi. Hal itu mendorong perubahan untuk lebih tinggi tingkat pendidikan dan lebih bekerja keras jika ingin cerdas dan mendapatkan kekayaan yang banyak.

            Keempat, adanya usaha untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contohnya, adanya wabah penyakit Covid-19 mendorong masyarakat untuk menjaga kesehatan, menggunakan masker, banyak di rumah, dan bekerja ke luar rumah jika sangat penting.

            Kelima, banyaknya kesulitan yang dihadapi yang memungkinkan manusia untuk dapat mengatasinya. Berbagai kesulitan hidup membuat manusia berubah agar dapat mengatasinya dengan baik. Misalnya, kesulitan ekonomi membuat manusia berpikir melakukan beragam cara untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

            Keenam, sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal baru, baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Keterbukaan masyarakat terhadap gagasan baru yang tumbuh dalam lingkungannya akan membuat perubahan bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya, adanya gagasan untuk bekerja bakti secara rutin akan membuat lingkungan yang kumuh berubah menjadi bersih dan sehat. Keterbukaan terhadap pengaruh dari luar dirinya pun akan membuat masyarakat berubah. Misalnya, kehadiran para dokter dengan ilmu medis modern membuat masyarakat perlahan-lahan meninggalkan praktik-praktik perdukunan.

            Ketujuh, tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup. Kebutuhan masyarakat yang semakin banyak mendorong untuk bekerja lebih keras lagi. Misalnya, sekarang dengan adanya smartphone, kendaraan baru, dan laptop membuat masyarakat bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang agar dapat membeli barang-barang tersebut.

            Kedelapan, sistem pendidikan yang memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan berkembangnya sistem pendidikan, manusia mendapatkan pengetahuan dan pengakuan baru melebihi kondisi rata-rata masyarakat yang tidak berpendidikan. Hal itu membuat masa depan dan kehidupan orang-orang yang berpendidikan lebih baik.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Thursday, 6 August 2020

Syarat dan Ciri Kelompok Sosial

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam pandangan Robert K. Merton, terdapat kriteria suatu kelompok, yaitu:

            Pertama, memiliki pola interaksi. Orang-orang yang berada dalam sebuah kelompok tertentu memiliki pola interaksi tertentu. Mereka berhubungan di antara anggotanya dengan cara-cara dan kebiasaan tertentu. Cara berkomunikasi dan berperilaku kelompok keagamaan akan berbeda dengan kelompok pencinta alam atau gank motor.

            Kedua, pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok. Setiap anggota kelompok menyatakan bahwa dirinya adalah kelompok itu. Orang-orang yang berada di luar kelompoknya dianggap berbeda dengan dirinya. Contohnya, penggemar Rhoma Irama mengakui dirinya sebagai Forsa dan yang diluar Forsa berbeda dengan dirinya. Contoh lain, para pemuda Masjid Al Hidayah menyatakan bahwa dirinya adalah pemuda Masjid Al Hidayah, orang-orang di luar dirinya dianggap berbeda dengan dirinya.

            Ketiga, pihak-pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok. Artinya, setiap anggota kelompok mengakui bahwa siapa  pun yang bergabung dengan kelompoknya adalah sesama anggota kelompok tersebut. Demikian pula orang lain yang berada di luar kelompok tersebut menyatakan bahwa anggota kelompok yang berinteraksi atau berhubungan dengan cara tertentu adalah benar-benar anggota dari kelompoknya. Misalnya, setiap anggota kesebelasan sepak bola Persib Bandung mengakui bahwa setiap anggota Persib Bandung adalah benar-benar anggotanya. Demikian pula, orang di luar Persib Bandung mengakui bahwa para pemain Persib Bandung adalah benar-benar anggota dari Persib Bandung.

            Menurut Soerjono Soekanto syarat-syarat kelompok sosial adalah:

            Pertama, adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan. Artinya setiap anggota kelompok secara sadar paham bahwa dirinya adalah anggota dari kelompoknya.

            Kedua, ada timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya dalam kelompok tersebut. Maksudnya, setiap anggota kelompok saling berhubungan, berkomunikasi, dan berinteraksi di antara kelompok tersebut.

            Ketiga, ada faktor yang mengikat di antara anggota yang membuat hubungan di antara mereka semakin kuat dan erat. Faktor penguat tersebut dapat berupa kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, suku bangsa yang sama, agama yang sama, kegemaran yang sama, dan lain sebagainya. Misalnya, Pemuda Indonesia diikat kuat oleh perasaan yang sama tentang cintanya kepada Indonesia. Contoh lain, Pemuda Sunda diikat dengan kuat oleh rasa kesukuan yang sama sebagai sesama keturunan Sunda.

                        Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas X Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

 

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Monday, 3 August 2020

Sosiologi sebagai Ilmu Murni dan Ilmu Terapan

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Ilmu murni” (pure science) adalah pencarian pengetahuan tanpa memperhatikan penggunaannya untuk kehidupan. Adapun “ilmu terapan” (applied science) adalah ilmu untuk menerapkan ilmu murni dalam kehidupan sehari-hari guna memecahkan masalah.

            Berikut contoh dari kedua ilmu tersebut. Dalam ilmu murni diketahui bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok-kelompok berdasarkan usia, jenjang sekolah, jenis kelamin, tingkat ekonomi, agama, atau suku bangsa. Ketika kelompok-kelompok tersebut bertikai, bertengkar, atau berselisih, dicarilah cara untuk menyelesaikannya. Ilmu untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah “ilmu terapan” berdasarkan pengetahuan yang ada dalam “ilmu murni”.

            Sosiologi adalah ilmu murni juga ilmu terapan. Sosiologi disebut ilmu murni karena memiliki pengetahuan (knowledge), sistematis, dan objektif. Sosiologi disebut pula ilmu terapan karena menggunakan ilmu murni untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ahli sosiologi (sosiolog) yang bekerja pada berbagai instansi, baik pemerintah maupun negeri untuk menjadi konsultan dalam pembangunan.

            Untuk pembangunan, sosiologi berfungsi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hal-hal itu selalu berkaitan dengan masyarakat. Misalnya, penerimaan atau penolakan masyarakat terhadap pembangunan, pelibatan masyarakat dalam pembangunan, serta dampak dari pembangunan tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Para sosiolog harus memberikan hasil penelitiannya agar pembangunan itu selaras dengan kebutuhan dan kehidupan masyarakat.

            Untuk penelitian, sosiologi berfungsi untuk mempelajari masyarakat agar diketahui keadaan masyarakat yang sebenarnya. Dari hasil penelitian tersebut, baik pemerintah maupun swasta dapat mempertimbangkan untuk mengambil keputusan sebelum melakukan berbagai perubahan atau pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

            Dengan demikian, sosiologi adalah ilmu murni sekaligus ilmu terapan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah sosial.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Irawan, Hanif; Rahmawati, Farida; Febriyanto, Alfian; Muhammad Kusumantoro, Sri, Sosiologi: Untuk SMA/MA Kelas X Semester 1

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial; untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Saturday, 1 August 2020

Pengertian Pendapatan Nasional

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sering mendengar istilah “pendapatan nasional”. Berikut beberapa pengertian tentang pendapatan nasional yang selama ini dipahami banyak orang.

            Pertama, pendapatan nasional adalah nilai total barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam periode tertentu yang dihitung berdasarkan nilai pasar. Dalam pengertian ini pendapatan nasional suatu negara dihitung dari nilai keseluruhan barang dan jasa yang telah diproduksi negara dalam waktu tertentu, biasanya satu tahun. Besar kecilnya pendapatan suatu negara dihitung berdasarkan nilai pasar.

            Kedua, pendapatan nasional dipahami juga sebagai jumlah barang dan jasa yang diproduksi sebuah negara dalam setahun yang diukur dengan satuan uang. Artinya, seluruh barang dan  jasa yang dihasilkan suatu negara dijumlahkan, kemudian dihitung dengan uang yang berupa harga dari barang dan jasa yang telah dihasilkan tersebut.

            Ketiga, pendapatan nasional merupakan pula jumlah total antara upah, sewa, bunga, dan keuntungan yang diterima per tahun oleh warga negara. Maksudnya, pendapatan nasional dihitung dari seluruh penerimaan upah, sewa, bunga, dan keuntungan seluruh warga negara dalam waktu satu tahun.

            Keempat, pendapatan nasional adalah juga hasil dari empat faktor produksi, yaitu: tanah, tenaga kerja, modal, dan perusahaan dalam tempo satu tahun atas usaha memproduksi barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam suatu negara. Artinya, tanah, tenaga kerja, modal, dan perusahaan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa dalam satu tahun. Hasil dari produksi tersebut dihitung seluruhnya.

            Kelima, pendapatan nasional adalah aliran pendapatan sejauh berasal dari faktor-faktor produksi yang ditanamkan pada kekayaan nasional (aset) yang berupa sumber daya alam dan fisik, hasil bumi, serta peralatan dan teknologi. Kekayaan nasional adalah dana pada suatu masa yang sudah ditentukan, bisa satu tahun atau suatu periode lain yang ditentukan, misalnya, dua tahun atau lima tahun. Artinya, pendapatan nasional adalah pendapatan yang berasal faktor-faktor produksi yang ditanamkan pada aset nasional dan bukan yang ditanamkan pada aset asing atau luar negeri.

            Keenam, pendapatan nasional dapat disebut pula deviden nasional karena merupakan pendapatan-pendapatan yang berasal dari empat faktor produksi, yaitu: tanah yang disewa, upah tenaga kerja, bunga atas modal, dan keuntungan.

            Demikian penjelasan sementara dari pengertian pendapatan nasional.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Pengertian Ilmu Ekonomi

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sering mendengar istilah ekonomi, tetapi tahukah arti sebenarnya ekonomi itu?

            Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomia. Kata itu berasal dari kata oikos yang berarti peraturan dan nomos yang berarti rumah tangga. Dengan demikian, oikonomia adalah peraturan rumah tangga. Artinya, ekonomi adalah peraturan yang menetapkan rumah tangga yang baik.

            Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi diteliti oleh beberapa ahli, di antaranya:

            Adam Smith yang mengatakan bahwa ekonomi adalah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan negara (Jain dan Khanna, 2006). Adam Smith banyak meneliti mengenai kekayaan negara, kemajuan ekonomi suatu negara, serta kemunduran negara.

            J.B. Say menjelaskan bahwa ekonomi sebagai suatu kajian tentang peraturan yang bisa menentukan kekayaan negara (Jain dan Khanna, 2006). Dia menyatakan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari negara mendapatkan kekayaannya.

            J.S. Mill mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu praktis tentang produksi dan distribusi kekayaan (Jain dan Khanna, 2006). Menurutnya, ekonomi adalah ilmu yang berupa tatacara tentang menghasilkan barang dan menyalurkan atau mengedarkan barang-barang yang telah diproduksi tersebut.

            Alfred Marshal mengatakan bahwa ekonomi adalah studi tentang umat manusia dalam usaha mengkaji bagian dari tindakan individu dan sosial yang paling dekat dengan pencapaian dan penggunaan kesejahteraan material (Alfred Marshal, 2012). Maksudnya, ekonomi adalah imu yang mempelajari usaha seseorang, sekelompok orang, atau masyakarat untuk mendapatkan keuntungan dan kenikmatan dari barang-barang material, misalnya, rumah, makanan, kendaraan, pakaian, perabot rumah tangga, alat elektronik, dan tanah.

            Penson mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu kesejahteraan material (Jain dan Ohri, 2010). Artinya, ekonomi adalah ilmu yang selalu berbicara tentang kenikmatan hal-hal yang bersifat materialistis.

            Lionel Robins menjelaskan bahwa ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai kaitan antara tujuan (end) dan sarana yang langka (scarce means) yang mempunyai banyak alternatif kegunaan (Robbins, 2007). Hal ini berarti ekonomi mempelajari keinginan dan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, tetapi barang-barang atau hal-hal yang diinginkan manusia itu terbatas. Bisa juga keinginan yang tidak terbatas itu berbenturan dengan kemampuan manusia untuk mendapatkan keinginannya itu. Misalnya, manusia menginginkan kendaraan yang sangat mewah, tetapi keuangannya sangat terbatas, tidak dapat membeli kendaraan mewah tersebut. Contoh lain, di Eropa sangat sulit mendapatkan beras, tetapi orang-orang Eropa ingin makan beras. Oleh sebab itu, mereka berupaya untuk mengatur dirinya tentang keinginan untuk makan nasi.

            Richard G. Lipsey menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas (Lipsey, Ragan, dan Storer, 2007).  Maksudnya, manusia itu selalu menginginkan segalanya, tetapi sumber daya untuk mendapatkan keinginan itu terbatas, baik barangnya ataupun kemampuan dirinya untuk mendapatkan keinginannya itu. Pada saat itulah ilmu ekonomi mengkaji dan meneliti perilaku manusia dalam menghadapi masalahnya tersebut.

            N. Gregory Mankiw menjelaskan bahwa ilmu ekonomi adalah studi tentang cara masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang langka (Mankiw, 2011). Sebagaimana tadi telah disebutkan bahwa manusia selalu menginginkan segalanya, tetapi sumber-sumber daya yang ada terbatas. Di situlah ekonomi mempelajari upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengelola sumber daya-sumber daya yang terbatas itu.

            Robert B. Ekelund Jr. dan Robert D. Tollison mengungkapkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari cara individu dan masyarakat yang mempunyai keinginan yang tidak terbatas memililh untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memuaskan keinginan mereka (Ekelund, Ressler, dan Tollison, 2006). Misalnya, manusia ingin berlibur atau tamasya ke Bali, tetapi uangnya terbatas, bahkan sangat sedikit. Untuk memuaskan keinginan dirinya berlibur ke luar rumah, tetapi tidak punya uang untuk ke Bali, manusia memilih untuk berlibur ke tempat yang lebih murah dan dekat, misalnya, Ancol, Situ Patengang, Taman Love, atau malah bermain di alun-alun kotanya.

            Paul A. Samuelson mengungkapkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu tentang cara orang-orang dan masyarakat membuat pilihan dengan atau tanpa menggunakan uang dalam menggunakan sumber daya produksi yang terbatas, tetapi dapat dipergunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis komoditas dari waktu ke waktu dan mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi saat ini atau pada masa mendatang kepada berbagai orang atau kelompok dalam masyarakat (Samuelson dan Nordhaus, 2009). Hal itu berarti ilmu ekonomi mempelajari usaha masyarakat untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan orang lain dan dapat dinikmati saat ini atau pada masa depan. Misalnya, manusia berusaha memproduksi makanan yang dapat dikonsumsi saat ini dan dapat pula memproduksi pesawat terbang canggih untuk dapat digunakan pada masa depan ketika pesawat itu sudah selesai dan diuji coba.

            Demikian penjelasan singkat mengenai pengertian ilmu ekonomi.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta


Thursday, 30 July 2020

Hakikat Perubahan Sosial


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Pada dasarnya manusia selalu berubah. Ia selalu ingin mengetahui dan menikmati hal yang baru. Manusia selalu tidak puas dan menginginkan hal yang baru dan lebih baik. Manusia adalah makhluk yang selalu ingin berubah, aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang, dan responsif terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.

            Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat meliputi perubahan norma sosial, pola sosial, interaksi sosial, pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan masyarakat, serta susunan kekuasaan dan wewenang.

            Berikut pandangan beberapa tokoh mengenai perubahan sosial.

            Selo Soemardjan menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku di antara kelompok masyarakat. Contohnya, dengan keterbukaan informasi dan meningkatnya pendidikan, cara-cara hidup dan kepercayaan tradisional bergeser lebih terbuka dan dapat dipahami dengan akal. Dulu orang sangat percaya bahwa Tuhan mereka adalah pohon besar dan pohon kuno. Mereka menghormatinya, merawatnya, bahkan menyembah dan memberikan sesajen pada pohon itu. Sekarang perilaku itu sudah disingkirkan karena terjadi banyak perubahan keyakinan pada masyarakat.

            Kingsley Davis mengungkapkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Contohnya pada zaman dulu yang namanya organisasi kemasyarakatan, perusahaan, pertanian, dan pengelolaan negara diserahkan dan dikuasakan pada keluarga tertentu yang dipandang lebih hebat dibandingkan masyarakat lainnya. Pada masa ini kekuasaan dan kewenangan mengatur masyarakat atau bisnis diserahkan dan dikelola oleh orang-orang yang berpendidikan dan berpengalaman di bidangnya masing-masing.

            George Ritzer mengatakan bahwa perubahan sosial mengacu pada variasi-variasi hubungan antarindividu, kelompok, organisasi, kultur, dan masyarakat pada waktu tertentu. Hal ini bisa dilihat ketika Indonesia masih dijajah Belanda, rakyat percaya bahwa dirinya bodoh, lemah, rapuh, dan selalu harus ikut pada kemauan penjajah. Akan tetapi, ketika timbul kelompok perlawanan, gerakan perjuangan, dan mendapatkan kemerdekaan, terjadi perubahan keyakinan dan sikap dari rakyat Indonesia. Rakyat menjadi merasa bahwa dirinya berhak sama derajat dengan bangsa-bangsa penjajah. Mereka tidak mau lagi hidup dalam tekananan penjajah asing.

            John Lewis Gillin dan  John Philip Gillin  berpendapat bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena difusi atau penemuan-penemuan baru. Hal ini bisa dilihat bahwa jika seseorang atau sekelompok orang berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain, terdapat kecenderungan untuk mengikuti cara-cara hidup di wilayah yang ditempatinya.

             Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi ini bisa terjadi karena faktor intern maupun ekstern. Maksudnya perubahan itu bisa terjadi karena keinginan masyarakatnya sendiri, bisa pula karena ada dorongan kuat dari luar masyarakatnya. Misalnya, masyarakat ingin hidupnya lebih baik, lalu meningkatkan pendidikannya melalui jalur sekolah. Contoh lain, masyarakat dipaksa oleh pihak luar untuk menggunakan pengobatan modern jika sakit dan meninggalkan kepercayaan pada praktik perdukunan.

            Robert Maciver menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial (social relationship) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. Maksudnya, hubungan sosial yang sudah terjadi sebagaimana biasanya secara mapan mengalami proses perubahan sehingga berbagai hubungan tersebut berubah. Bisa menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk.

            William F. Ogburn menyatakan bahwa perubahan sosial menekankan pada kondisi teknologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial, seperti, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat. Kita bisa melihat bahwa dengan adanya pesawat terbang, orang bisa ke mana-mana ke seluruh dunia dan lebih jelas mengamati perbedaan kehidupan manusia pada wilayah yang berbeda. Hal itu membuat masyarakat lebih banyak mendapatkan pengetahuan baru, sikap baru, pengalaman baru sehingga tidak mudah ditipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang kehidupan orang di lain tempat. Di samping itu, dengan perkembangan teknologi, kehidupan bisnis berkembang lebih cepat sehingga orang-orang bisa hidup lebih baik dan lebih kaya.

            Demikian penjelasan tentang hakikat kehidupan sosial secara singkat.

            Sampurasun


Sumber Pustaka
Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Tuesday, 28 July 2020

Pengertian Kelompok Sosial

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sejak lahir, manusia sudah memiliki dua hasrat yang pokok dalam hidupnya, yaitu:

1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya.
2. Keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alamnya.

            Hasrat itu sudah ada sejak lahir. Di Eropa pernah dilakukan penelitian terhadap empat puluh bayi. Dua puluh bayi hanya boleh disusui dan diberi makan, tetapi tidak boleh diajak bicara dan diajak main keluar. Dua puluh bayi lagi diperbolehkan disusui, diberi makan, diajak bicara, dan bermain keluar sebagaimana bayi-bayi yang sering kita lihat bersama keluarganya. Hasilnya, dua puluh bayi yang tidak diajak bicara dan tidak diajak main keluar, mati. Adapun yang dua puluh lagi, hidup secara sehat. Dari penelitian itu, kita mendapatkan kesimpulan bahwa manusia itu selalu berhasrat untuk bersati denga manusia lainnya dan bersatu dengan lingkungan alam sekitarnya.

            Dorongan untuk bersatu dengan manusia lainnya membuat manusia membentuk kelompok sosial atau social group. Berikut ini pendapat para ahli tentang kelompok sosial.

            Paul B. Horton mengatakan bahwa kelompok sosial adalah sekumpulan manusia secara fisik. Contohnya, sekumpulan orang yang sedang menunggu bus kota, menonton sepak bola, melihat kebakaran, dan olahraga pagi.

            Roland L. Waren berpendapat bahwa kelompok sosial adalah sejumlah manusia yang berinteraksi dengan pola interaksi yang saling berhubungan secara keseluruhan. Misalnya, kelompok penggemar Rhoma Irama yang berhubungan di antara sesamanya dengan cara yang sama. Akan tetapi, caranya berbeda dengan sekelompok orang para pemain sepak bola. Penggemar dangdut akan banyak bicara dangdut dan bepergian menonton dangdut. Adapun para pemain sepak bola akan banyak bicara soal pertandingan dan mungkin pelatihan.

            Mayor Polak berpendapat bahwa kelompok sosial adalah sekumpulan orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur. Orang-orang ini berkumpul dan bersatu dengan memiliki ketua, bendahara, sekretaris, dan para anggotanya. Mereka diikat dalam sebuah organisasi dengan tujuan yang nyata, misalnya, Pemuda Pancasila, GP Ansor, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, dan Putera Sunda.

            Wila Huky berpendapat bahwa kelompok sosial adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang saling berhubungan dan berkomunikasi. Artinya, satu orang itu bukan kelompok. Kelompok harus terdiri atas dua orang atau lebih. Selain itu, mereka pun harus berhubungan atau berkomunikasi. Jika tidak, mereka tidaklah termasuk kelompok sosial. Misalnya, di jalan raya banyak orang, tetapi tidak berhubungan dan tidak berkomunikasi, maka mereka bukanlah kelompok sosial.

            Robert K. Merton mengungkapkan bahwa kelompok sosial adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dengan pola yang mapan. Artinya, mereka berhubungan dengan cara yang sama untuk tujuan yang sama. Misalnya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bergerak dan saling berhubungan dengan cara yang sama dan teratur untuk meraih tujuan yang sama, yaitu melindungi kedaulatan Republik Indonesia.

            Mac Iver mengatakan bahwa kelompok sosial merupakan himpunan manusia atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Mereka berhubungan dan saling berkomunikasi dengan kesadaran bersama untuk saling menolong. Dengan demikian, setiap anggota kelompok sosial memiliki kesadaran yang sama untuk saling membantu di antara mereka agar tujuan kelompok itu dapat tercapai dan semakin kuat.

            Sampurasun.
           

Sumber Pustaka:
Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas X Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial
Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum        
        2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Ciri-Ciri Sosiologi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebelum berbicara tentang ciri-ciri sosiologi, ada baiknya mengetahui dulu apa itu sosiologi. Kata sosiologi berasal dari bahasa Latin dan Yunani, yaitu socius (Latin) yang berarti kawan atau masyarakat dan logos (Yunani) yang berarti ilmu. Jadi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sosiologi adalah ilmu yang berbicara tentang segala macam hal yang terjadi di dalam masyarakat.

           Ciri-ciri sosiologi ada empat, yaitu:

1. Sosiologi Bersifat Empiris
Empiris adalah suatu keadaan yang berdasarkan pada kejadian nyata yang pernah dialami yang didapat melalui penelitian, observasi, maupun eksperimen. Dengan demikian, sosiologi adalah ilmu yang sifatnya bisa dipelajari sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, bukan bersifat khayalan atau lamunan. Misalnya, sosiologi tidak mempelajari manusia berubah menjadi burung, perahu menjadi gunung, atau bidadari yang turun ke Bumi melalui pelangi. Hal-hal seperti itu hanyalah berupa dongeng dan tidak dialami kehidupan manusia atau masyarakat secara nyata. Sosiologi hanya mempelajari keadaan masyarakat yang terjadi secara nyata, misalnya, persaudaraan, ikatan dalam  kelompok, konflik, pertengkaran, atau penyatuan kembali setelah pertengkaran.


2. Sosiologi Bersifat Teoritis
Teoritis adalah berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret sesuai fakta di lapangan. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori. Misalnya, banyaknya demonstrasi di Indonesia disebabkan perasaan kurang adilnya pemerataan pembangunan yang dapat dilihat dari semakin lebarnya kesenjangan antara Si Kaya dan Si Miskin.


3. Sosiologi Bersifat Kumulatif
Kumulatif berarti teori-teori disusun berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau memperbaiki, memperluas, serta memperkuat teori-teori yang sudah lama. Penelitian tentang masyarakat terus berkembang sehingga ditemukan fakta atau kenyataan baru. Selain itu, masyarakat senantiasa berkembang sehingga persoalan-persoalan yang ada dalam masyarakat pun berkembang pula. Misalnya, setelah kita mengetahui bahwa ada perasaan tidak adil dalam pembagian pemerataan pembangunan antara Si Kaya dan Si Miskin, dipelajari mengapa ada kelompok masyarakat yang kaya dan kelompok masyarakat yang miskin. Setelah diteliti, ternyata orang-orang bisa kaya karena mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik dibandingkan orang-orang yang lebih miskin.


4. Sosiologi Bersifat Nonetis
Nonetis berarti terlepas dari penilaian baik dan buruk. Sosiologi tidak menghakimi baik dan buruk sikap seseorang atau masyarakat. Sosiologi hanyalah menerangkan keadaaan masyarakat secara nyata. Penilaian baik dan buruk bukanlah tugas sosiologi, melainkan tugas ilmu lain, misalnya, ilmu agama, budi pekerti, atau Pancasila. Misalnya, ada dua daerah yang berbeda sering terlibat tawuran. Sosiologi tidak akan menyalahkan atau membenarkan perilaku tersebut. Sosiologi hanya menjelaskan adanya tawuran dan mempelajari penyebab serta akibatnya.

            Demikian, penjelasan secara singkat mengenai ciri-ciri sosiologi.

            Sampurasun.

Sumber Pustaka:
Irawan, Hanif; Rahmawati, Farida; Febriyanto, Alfian; Muhammad Kusumantoro, Sri, Sosiologi: Untuk SMA/MA Kelas X Semester 1
Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial; untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta