oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Beberapa waktu lalu, salah seorang
kepala SMA di Kabupaten Bandung menelepon saya. Dia berharap saya hadir ke
sekolahnya setelah shalat jumat untuk menjelaskan berbagai hal yang diperlukan
agar para siswa kelas 12 periode lulusan 2026 paham langkah-langkah untuk
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sebagaimana yang dia minta, saya datang ke sekolah itu,
lalu menjelaskan berbagai hal yang harus dilakukan. Penjelasan itu termasuk
dunia pergaulan di perguruan tinggi yang pernah saya lihat.
Ketika sesi diskusi atau tanya jawab, salah seorang siswa
mengajukan pertanyaan yang cukup mengagetkan, “Pak, kalau kuliah, ada MBG
tidak?”
Cukup kaget juga dengan pertanyaan itu. Hal itu
menunjukkan bahwa para siswa ternyata sangat membutuhkan makan bergizi gratis (MBG).
Mereka sudah mulai terikat pada MBG.
Karena belum ada program MBG untuk mahasiswa, saya jawab,
“Di perguruan tinggi tidak ada MBG.”
“Wah, Pak, saya kecewa kalau tidak ada MBG.”
“Kamu kenapa selalu ingin diberi MBG?
Kalau
sudah lulus SMA, sudah harus mulai terbiasa untuk tidak ingin diberi. Mahasiswa
harus mulai berpikir untuk memberi orang lain, bukan terbiasa untuk diberi oleh
orang lain.”
Siswa yang lain menimpali, “Iya ya Pak. Tangan di atas
lebih baik dibandingkan dengan tangan di bawah.”
“Kamu pintar!”
Seperti itulah sepenggal kisah yang terjadi dari
pertemuan itu. Ternyata, MBG dibutuhkan oleh siswa dan memang seharusnya diteruskan
mengingat kecerdasan IQ orang Indonesia masih tergolong rendah. IQ rendah itu salah
satunya karena kurang gizi. Sudahlah, tak perlu berbohong bahwa di tengah
masyarakat kita masih banyak yang stunting. MBG adalah salah satu jawabannya
untuk mengurangi jumlah orang yang kurang gizi karena meningkatkan IQ.
Kalaupun program MBG tidak menyentuh seluruh lapisan
masyarakat, biasakan menyisihkan uang untuk membeli makanan bergizi, minimal
susu. Satu gelas sehari sudah bagus. Saya juga berupaya seperti itu kok.
Seminggu sekali saya lewat Pangalengan menuju Cibeureum, Kertasari, Kabupaten
Bandung mengantar anak menemui terapisnya. Pangalengan itu pabrik susu. Beli susu
di sana dengan rupa-rupa harga dan rupa-rupa rasa. Ada yang murni dan ada yang sudah
diolah menjadi yoghurt atau bolu. Tinggal pilih saja. Kurangi makanan atau
minuman yang kurang bergizi. Kurangi atau hentikan alkohol. Kurangi kopi dan
rokok. Alihkan uangnya untuk makanan bergizi, terutama susu.
Kita, rakyat, minimal menjaga diri untuk lebih sehat
dengan rajin minum susu, minimal segelas sehari. Kalau merasa tidak punya uang
untuk membelinya, insyaallah ada rezekinya karena ingin minum susu adalah
kebaikan. Segala yang mengarah pada kebaikan menimbulkan pahala. Minum susu
adalah menyehatkan, menyenangkan, dan berpahala.
Sampurasun.
No comments:
Post a Comment