Monday, 6 April 2026

MBG Kuliah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu, salah seorang kepala SMA di Kabupaten Bandung menelepon saya. Dia berharap saya hadir ke sekolahnya setelah shalat jumat untuk menjelaskan berbagai hal yang diperlukan agar para siswa kelas 12 periode lulusan 2026 paham langkah-langkah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

            Sebagaimana yang dia minta, saya datang ke sekolah itu, lalu menjelaskan berbagai hal yang harus dilakukan. Penjelasan itu termasuk dunia pergaulan di perguruan tinggi yang pernah saya lihat.

            Ketika sesi diskusi atau tanya jawab, salah seorang siswa mengajukan pertanyaan yang cukup mengagetkan, “Pak, kalau kuliah, ada MBG tidak?”

            Cukup kaget juga dengan pertanyaan itu. Hal itu menunjukkan bahwa para siswa ternyata sangat membutuhkan makan bergizi gratis (MBG). Mereka sudah mulai terikat pada MBG.

            Karena belum ada program MBG untuk mahasiswa, saya jawab, “Di perguruan tinggi tidak ada MBG.”

            “Wah, Pak, saya kecewa kalau tidak ada MBG.”

            “Kamu kenapa selalu ingin diberi MBG?

Kalau sudah lulus SMA, sudah harus mulai terbiasa untuk tidak ingin diberi. Mahasiswa harus mulai berpikir untuk memberi orang lain, bukan terbiasa untuk diberi oleh orang lain.”

            Siswa yang lain menimpali, “Iya ya Pak. Tangan di atas lebih baik dibandingkan dengan tangan di bawah.”

            “Kamu pintar!”

            Seperti itulah sepenggal kisah yang terjadi dari pertemuan itu. Ternyata, MBG dibutuhkan oleh siswa dan memang seharusnya diteruskan mengingat kecerdasan IQ orang Indonesia masih tergolong rendah. IQ rendah itu salah satunya karena kurang gizi. Sudahlah, tak perlu berbohong bahwa di tengah masyarakat kita masih banyak yang stunting. MBG adalah salah satu jawabannya untuk mengurangi jumlah orang yang kurang gizi karena meningkatkan IQ.

            Kalaupun program MBG tidak menyentuh seluruh lapisan masyarakat, biasakan menyisihkan uang untuk membeli makanan bergizi, minimal susu. Satu gelas sehari sudah bagus. Saya juga berupaya seperti itu kok. Seminggu sekali saya lewat Pangalengan menuju Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung mengantar anak menemui terapisnya. Pangalengan itu pabrik susu. Beli susu di sana dengan rupa-rupa harga dan rupa-rupa rasa. Ada yang murni dan ada yang sudah diolah menjadi yoghurt atau bolu. Tinggal pilih saja. Kurangi makanan atau minuman yang kurang bergizi. Kurangi atau hentikan alkohol. Kurangi kopi dan rokok. Alihkan uangnya untuk makanan bergizi, terutama susu.




            Kita, rakyat, minimal menjaga diri untuk lebih sehat dengan rajin minum susu, minimal segelas sehari. Kalau merasa tidak punya uang untuk membelinya, insyaallah ada rezekinya karena ingin minum susu adalah kebaikan. Segala yang mengarah pada kebaikan menimbulkan pahala. Minum susu adalah menyehatkan, menyenangkan, dan berpahala.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment