Tuesday, 21 April 2026

Mahasiswa Harus Bergizi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pendeknya begini, para pekerja, para ASN, para pejabat, dan aparatur lainnya di Indonesia ini secara umum bisa masih dapat dibilang kualitas produktivitasnya masih rendah, baik di pemerintahan maupun di sektor swasta. Ini memang harus dihitung secara kuantitatif, tetapi kita bisa memandang keseharian dan pengalaman hidup kita sendiri.

            Seberapa hebat para aparatur kita melayani rakyat?

            Sepintar apa para ilmuwan kita menemukan hal-hal baru? Berapa banyak pesawat tempur yang bisa dibuat kita? Kita punya teknologi ruang angkasa? Ada berapa banyak produk otomotif yang kita hasilkan? Apa saja teknologi terapan yang diciptakan untuk kehidupan sehari-hari?

Sehebat apa kita mampu berdiplomasi untuk menarik energi asing menjadi keuntungan bagi rakyat kita? Seberapa cerdas kita mampu membuat undang-undang mandiri untuk keuntungan sendiri tanpa campur tangan asing?

Semuanya secara kasar masih bisa dibilang rendah. Para pekerja atau orang-orang yang saat ini sedang bekerja adalah dulunya para mahasiswa dan pelajar.

Kalaulah hasilnya masih terasa rendah, kita patut bertanya dulu mereka makan apa? Apakah gizi mereka tercukupi?

Jujur saja dari dulu sampai hari ini masih sangat banyak mahasiswa yang makanannya kurang bergizi. Ada yang cuma makan mie instan ditambah kerupuk di kosan tiga kali sehari. Kalaupun makan, hanya Cenguy, “cengek uyah”, ‘cabe rawit sama garam’ untuk menemani nasi. Makannya tidak teratur, bahkan kurang makan. Banyak sekali kisah-kisah itu. Wajar jika hasil kerja saat ini kurang memuaskan karena kurang mendapatkan asupan makanan bergizi dulunya.

Mestinya mahasiswa protes dan mendorong pemerintahan Presiden Prabowo dan pemerintah selanjutnya untuk memperluas program makan bergizi gratis (MBG) hingga ke tingkat mahasiswa, bukan hanya pelajar. Pengalaman dosen Unpad Dina Sulaeman yang pernah kuliah dan menjadi jurnalis di Iran bisa dijadikan contoh. Dia selama delapan tahun di Iran dan ketika kuliah mendapatkan makanan gratis dari kampus setiap hari. Setiap mahasiswa diberi kupon untuk ditukar dengan makanan. Saya juga yakin ada banyak orang Indonesia yang kuliah di luar negeri mendapatkan makanan gratis dari pemerintahnya yang menjalankan program semacam MBG mahasiswa. Harusnya, mahasiswa demonstrasi untuk mendapatkan makanan gratis bergizi juga dari pemerintah.

Sebetulnya, kesadaran ini sudah ada sejak lama di kampus-kampus negeri, tetapi hanya berjalan di lingkungan kampus dan hanya untuk kepentingan akademis, bukan praktis. Ketika saya mengantar anak bungsu saya untuk tes masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur UTBK SNBT Tahun 2026, kebetulan tempatnya di Ruang Laboratorium Komputer, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan Indonesia (Upi), Bandung. Di ruangan itu saya melihat ada puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus poster tentang pentingnya makanan bergizi, baik untuk perkembangan fisik, kecerdasan, maupun mental yang optimal positif. Seharusnya, dari fakultas-fakultas semacam itulah dimulainya gerakan yang menyadarkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi sekaligus mendorong pemerintah untuk memperhatikan gizi rakyatnya agar menjadi negara yang maju. Fakultas seperti itu dapat menggerakan mahasiswa seluruh Indonesia agar pemerintah lebih berkonsentrasi menciptakan para pekerja dan aparatur yang lebih berkualitas dimulai dengan mengonsumsi makanan bergizi, bukan makanan sampah.






Inilah kesadaran yang harus dibangun dan kita mendapatkan momen yang tepat pada saat dijalankannya program MBG.

Mudah-mudahan paham apa yang saya maksud. Kalau belum paham, segera sisihkan uang kecil untuk membeli susu. Memang sedikit lebih mahal dibandingkan kopi, tetapi itu lebih baik.

Sampurasun.

No comments:

Post a Comment