oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Pendeknya begini, para pekerja,
para ASN, para pejabat, dan aparatur lainnya di Indonesia ini secara umum bisa masih
dapat dibilang kualitas produktivitasnya masih rendah, baik di pemerintahan
maupun di sektor swasta. Ini memang harus dihitung secara kuantitatif, tetapi
kita bisa memandang keseharian dan pengalaman hidup kita sendiri.
Seberapa hebat para aparatur kita melayani rakyat?
Sepintar apa para ilmuwan kita menemukan hal-hal baru?
Berapa banyak pesawat tempur yang bisa dibuat kita? Kita punya teknologi ruang
angkasa? Ada berapa banyak produk otomotif yang kita hasilkan? Apa saja
teknologi terapan yang diciptakan untuk kehidupan sehari-hari?
Sehebat
apa kita mampu berdiplomasi untuk menarik energi asing menjadi keuntungan bagi
rakyat kita? Seberapa cerdas kita mampu membuat undang-undang mandiri untuk keuntungan
sendiri tanpa campur tangan asing?
Semuanya
secara kasar masih bisa dibilang rendah. Para pekerja atau orang-orang yang saat
ini sedang bekerja adalah dulunya para mahasiswa dan pelajar.
Kalaulah
hasilnya masih terasa rendah, kita patut bertanya dulu mereka makan apa? Apakah
gizi mereka tercukupi?
Jujur
saja dari dulu sampai hari ini masih sangat banyak mahasiswa yang makanannya
kurang bergizi. Ada yang cuma makan mie instan ditambah kerupuk di kosan tiga
kali sehari. Kalaupun makan, hanya Cenguy, “cengek uyah”, ‘cabe rawit sama garam’
untuk menemani nasi. Makannya tidak teratur, bahkan kurang makan. Banyak sekali
kisah-kisah itu. Wajar jika hasil kerja saat ini kurang memuaskan karena kurang
mendapatkan asupan makanan bergizi dulunya.
Mestinya
mahasiswa protes dan mendorong pemerintahan Presiden Prabowo dan pemerintah
selanjutnya untuk memperluas program makan bergizi gratis (MBG) hingga ke
tingkat mahasiswa, bukan hanya pelajar. Pengalaman dosen Unpad Dina Sulaeman
yang pernah kuliah dan menjadi jurnalis di Iran bisa dijadikan contoh. Dia
selama delapan tahun di Iran dan ketika kuliah mendapatkan makanan gratis dari kampus
setiap hari. Setiap mahasiswa diberi kupon untuk ditukar dengan makanan. Saya
juga yakin ada banyak orang Indonesia yang kuliah di luar negeri mendapatkan
makanan gratis dari pemerintahnya yang menjalankan program semacam MBG
mahasiswa. Harusnya, mahasiswa demonstrasi untuk mendapatkan makanan gratis
bergizi juga dari pemerintah.
Sebetulnya,
kesadaran ini sudah ada sejak lama di kampus-kampus negeri, tetapi hanya berjalan
di lingkungan kampus dan hanya untuk kepentingan akademis, bukan praktis. Ketika
saya mengantar anak bungsu saya untuk tes masuk perguruan tinggi negeri melalui
jalur UTBK SNBT Tahun 2026, kebetulan tempatnya di Ruang Laboratorium Komputer,
Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan
Indonesia (Upi), Bandung. Di ruangan itu saya melihat ada puluhan, bahkan
mungkin lebih dari seratus poster tentang pentingnya makanan bergizi, baik untuk
perkembangan fisik, kecerdasan, maupun mental yang optimal positif. Seharusnya,
dari fakultas-fakultas semacam itulah dimulainya gerakan yang menyadarkan
masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi sekaligus mendorong pemerintah
untuk memperhatikan gizi rakyatnya agar menjadi negara yang maju. Fakultas
seperti itu dapat menggerakan mahasiswa seluruh Indonesia agar pemerintah lebih
berkonsentrasi menciptakan para pekerja dan aparatur yang lebih berkualitas
dimulai dengan mengonsumsi makanan bergizi, bukan makanan sampah.
Inilah
kesadaran yang harus dibangun dan kita mendapatkan momen yang tepat pada saat
dijalankannya program MBG.
Mudah-mudahan
paham apa yang saya maksud. Kalau belum paham, segera sisihkan uang kecil untuk
membeli susu. Memang sedikit lebih mahal dibandingkan kopi, tetapi itu lebih
baik.

No comments:
Post a Comment