Monday, 20 April 2026

MBG Ibu Hamil Lebih Mengerikan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil dan menyusui sungguh lebih mengerikan dibandingkan MBG para siswa. Ibu hamil yang diberi MBG akan membuat anak dalam kandungannya lebih bergizi dan berpotensi cerdas. Kemudian, selama menyusui ia diberi asupan gizi yang akan mengalir kepada anaknya. Setelah melahirkan, anaknya memasuki usia emas, ‘golden age’, 0 sampai dengan 5 tahun. Lalu, memasuki usia taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) tetap dalam kawalan MBG. Gizinya akan tercukupi dengan baik. Apalagi jika program MBG sudah memasuki perguruan tinggi seperti di Iran. Anak-anak dan orang-orang yang tercukupi gizinya akan menjadi orang yang cerdas, terampil, dan lebih waspada. Mereka tidak akan mudah ditipu, tidak akan rela diperbudak, berpikir lebih jernih, memahami harga dirinya, serta cerdas dan tangguh menghadapi dunia. Ini membuat orang-orang asing merasa ngeri. Jika Indonesia dipenuhi orang-orang bergizi yang cerdas, akan lahir menjadi negara yang jauh berkualitas.

            MBG yang sekarang dijalankan Presiden Indonesia Prabowo termasuk program yang telat karena dimulai sejak TK. Jika dimulai sejak ibu hamil dan menyusui, hasilnya akan jauh lebih baik.


Ibu menyusui (Foto:Gabag Indonesia)


            Tak ada satu negara pun yang menginginkan Indonesia menjadi negara maju. Kebanyakan mereka menginginkan Indonesia hanya menjadi negara kelas pekerja dan orang-orang yang mudah ditipu untuk diambil sumber daya alamnya tanpa memiliki kemampuan mengolahnya. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas kecerdasan penduduknya. Jika rakyat Indonesia bergizi, akan tumbuh menjadi generasi cerdas yang tak mudah lelah untuk berkarya dan menemukan hal-hal baru yang positif.

            Tak heran banyak sekali pandangan asing yang menginginkan Indonesia menghentikan program MBG dengan alasan menghabiskan dana secara percuma dan terdapat kasus-kasus keracunan. Kalau keracunan, itu memang harus diperbaiki dan ditindak, tetapi soal dana mereka salah besar dan hanya membuat rakyat menjadi bingung.

            Kalau soal dana, mari kita bandingkan besaran antara perlindungan sosial (Perlinsos) yang lebih dikenal dengan bantuan sosial (Bansos) dengan MBG. Anggaran untuk Bansos tahun 2026 ini ditetapkan 508,2 trililun, sedangkan untuk MBG sebesar 335 triliun.

            Mana yang lebih besar anggarannya, Bansos atau MBG?

            Anggaran untuk Bansos jauh lebih besar dibandingkan untuk MBG, tetapi kenapa tidak ada seorang pun yang protes? Mengapa tak ada yang ingin Bansos dihapuskan atau diberhentikan?

            Jawabannya adalah Bansos berpotensi besar untuk salah penggunaan. Orang bisa menggunakannya untuk rokok, kuota, jajan seblak, dan hal-hal lain yang kepentingannya rendah. Bahkan, pemberian Bansos bisa membuat rakyat cenderung malas dan bermental pengemis. Orang bisa ribut soal pembagian Bansos. Ini sama sekali tidak akan membuat Indonesia bergerak maju secara signifikan dan pihak asing sama sekali tidak terganggu, bahkan mungkin senang melihat rakyat Indonesia seperti itu.

            Berbeda dengan MBG. Meskipun anggarannya jauh lebih kecil dibandingkan Bansos, dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan para kapitalis dan orang-orang serakah asing akan berhadapan dengan orang-orang Indonesia yang cerdas, terampil, dan kuat. Itu yang sangat tidak mereka harapkan. Mereka tidak akan lagi mendapati orang-orang Indonesia yang lemah mudah ditipu dan dirampok kekayaan alamnya. Itu mengerikan buat mereka. MBG untuk ibu hamil dan menyusui lebih mengerikan bagi orang yang tidak ingin Indonesia maju karena diberikan sejak awal, sejak janin masih dalam kandungan.

            Sudah pahamkah apa yang saya maksud?

            Kalau belum paham, segera minum susu supaya lebih cerdas.

            Ilustrasi ibu menyusui adalah milik Gabag Indonesia.

            Sampurasun

No comments:

Post a Comment