Wednesday, 22 April 2026

Saya Tolak Dana Asing

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kejadiannya sekitar tahun 2000 silam. Awalnya, saya merasa itu peristiwa biasa saja, tidak penting, dan sudah saya lupakan juga. Akan tetapi, saat ini beredar kabar bahwa banyak dana asing ratusan triliun yang beredar di Indonesia melalui banyak LSM dan perorangan yang lumayan membahayakan, saya jadi ingin berbagi pengalaman saat itu. Bahaya bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, melainkan bagi penerima dana itu sendiri, apalagi dengan makin terbukanya gerakan “false flag” yang sempat diungkapkan Presiden Prabowo. False flag itu kalau di Indonesia mirip dengan tindakan “lempar batu sembunyi tangan”, dia yang melakukan, tetapi dituduhkan kepada orang lain.

            Saat itu saya dalam kondisi bangkrut, tidak punya uang, banyak jual aset untuk beli beras, dan hidup dari pinjaman. Kalau saya terima dana asing itu, bukan hanya masalah ekonomi saya saja yang bisa teratasi, melainkan pula bisa punya rumah baru, mobil baru, dan segala hal baru. Akan tetapi, saya menolaknya meskipun sangat ingin menerima karena yang namanya uang itu sangat nikmat dan menyenangkan.

            Saat itu salah seorang teman memberitahukan bahwa ada dana dari Jepang untuk disalurkan pada mantan-mantan “jugun ianfu” di Indonesia. Jugun ianfu adalah perempuan yang dijadikan budak seks oleh tentara Jepang selama menjajah Indonesia. Banyak orang Jepang merasa berdosa telah melakukan itu pada masa lalu dan ingin menebus kesalahannya dengan cara mengumpulkan banyak uang untuk diberikan kepada mantan-mantan wanita pemuas seks itu. Saya diminta untuk mengumpulkan teman-teman, lalu melakukan banyak rapat, mencari mantan-mantan wanita itu, kemudian menyalurkan uangnya buat mereka.


Jugun ianfu Korea Selatan (Foto: BBC)


            Di Bandung kabarnya banyak mantan jugun ianfu. Itu karena strategi Presiden Soekarno untuk melindungi perempuan-perempuan baik, anak ulama, anak ustadz, pendeta, anak-anak tokoh adat dari nafsu seks tentara Jepang. Soekarno membiarkan para pelacur dari Bandung untuk memuaskan nafsu seks mereka. Merekalah yang harus saya cari karena dulu mereka mendapatkan perlakuan yang biadab dan penuh penderitaan.

            Saya menolaknya bukan karena tidak butuh uang, tetapi karena bingung harus mencari ke mana. Penjajahan jepang itu terjadi sekitar 1942 s.d. 1945, artinya usia para perempuan itu saat ini mungkin sudah mencapai 80 atau 90 tahun, bahkan sudah meninggal. Kalau memaksakan diri sih, bisa saja, tetapi kalau gagal, bukan hanya saya yang malu, melainkan juga orang Indonesia akan dipermalukan. Uangnya saya ambil, digunakan, tetapi gagal. Saya sudah pasti akan dikatakan orang yang tidak becus kerja, bahkan dikatakan koruptor makan dana sosial mereka. Para penyandang dana bisa marah, lalu kemarahan mereka bisa berbentuk apa saja terhadap saya dan teman-teman saya. Oleh sebab itu, saya menolaknya meskipun sangat ingin.

            Sungguh, saya tidak menuduh orang-orang Jepang itu bakal jahat terhadap saya. Mereka orang-orang baik yang ingin menebus kesalahan pada masa lalu, tetapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya gagal melakukan seperti apa yang mereka minta.

            Ceritera ringan ini bisa dijadikan contoh untuk siapa saja yang kebetulan punya akses terhadap dana asing. Perhatikan benar tujuannya untuk apa, kesepakatannya seperti apa, dan pelajari jika terjadi kegagalan. Kabar yang beredar kan sudah banyak justru para penerima dana asing itu yang menjadi korban dari penyandang dananya sendiri karena terjadi kegagalan.

            Hati-hati. Kalau tidak yakin benar tujuannya untuk kebaikan dan saling pengertian, tolak saja. Saya juga tidak mati karena menolaknya, malahan baik-baik saja hingga hari ini. Jangan lupa, minum susu murni.

            Ilustrasi jugun ianfu Korea Selatan adalah milik BBC, saya nggak tega memposting foto perempuan Indonesia.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment