oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Banyak orang aneh di
Indonesia. Sok pintar dan aneh. Kayak yang pintar protes makan bergizi gratis
(MBG) dengan alasan uangnya sebaiknya dibagikan kepada para guru honorer, tetapi
pada saat yang sama protes juga bahwa makanan sisa MBG yang tidak terbagikan kepada
para siswa diambil para guru.
Kapan terakhir kalian minum susu?
Kalian seolah-olah membela para guru, tetapi menyakiti
hati mereka dengan tudingan mengambil sisa MBG. Kalian memang aneh, pengen guru
sejahtera, tetapi protes jika para guru memanfaatkan sisa rezeki yang harganya tidak
seberapa itu. Beneran aneh.
Kalau betul-betul peduli kepada para guru, kalian tidak
perlu menuding mereka mengambil setetes manfaat dari sisa MBG. Kalian tidak mampu
memberi tambahan honor buat mereka, bahkan mungkin kalian masih menunggak SPP
dan anak-anaknya banyak bikin masalah di sekolah, guru malah kalian sakiti
dengan ocehan-ocehan murahan.
Kalian benar-benar harus rajin minum susu. Bahkan,
mungkin kalian yang perlu gizi tambahan supaya otaknya cerdas.
![]() |
| Guru, Murid, dan MBG (Foto: Batam Pos) |
Bagi saya, tidak masalah jika guru mengambil sisa MBG
karena siswa tidak masuk kelas, rumahnya jauh dari sekolah, dan jauh dari
teman-temannya sehingga MBG-nya tidak tersampaikan. Paket MBG sisa itu harus
dimanfaatkan, salah satunya oleh para guru yang mungkin juga untuk anggota
keluarganya, tetangganya, atau orang terdekatnya.
Apa masalah kalian?
Kalian terlalu pelit.
Presiden Prabowo tidak akan mempermasalahkan hal itu.
Kalau MBG sisa itu tidak termanfaatkan, mau diapain?
Dibuang?
Dikembalikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)?
Itu mubadzir, boros. Perilaku boros adalah perilaku syetan.
Kalian paham nggak?
Kalian memang punya masalah dalam berpikir, berhati
bengkok, kurang pengetahuan agama, dan lemah iman pastinya. Kalian tidak bisa
memberikan kesejahteraan lebih bagi para guru, tetapi protes jika guru
mendapatkan sedikit rezeki sisa, padahal anak-anak kalian dibina para guru itu.
Para
guru juga tidak perlu sakit hati oleh tudingan mereka. Jangan juga menyangkal
keadaan itu. Tidak masalah jika para guru memanfaatkan paket MBG yang tidak
terbagikan. Sungguh menyedihkan jika para guru, bahkan satu sekolah tidak lagi
mau mengurus MBG dan menyetop kiriman dari SPPG hanya karena tidak tahan dengan
tudingan para orang tua yang harus dibina itu. Banyak anak yang berasal dari
keluarga baik-baik yang membutuhkan MBG. Sebaiknya, guru berkonsentrasi saja
mengurus mereka. Keluarga-keluarga yang protes dan bermasalah itu memang sudah
bermasalah dari awalnya, malah mungkin para orangtuanya yang kurang bergizi.
Tidak perlu mendengar ocehan rendahan, memanfaatkan sisa
MBG sama sekali tidak melanggar hukum, bahkan menghindari kemubadziran yang
jelas dicela Allah swt. Ada pahala yang besar dari Allah swt yang bisa
diberikan-Nya sekarang atau ditabungkan nanti untuk bekal akhirat.
Ilustrasi guru dan MBG di suatu sekolah saya dapatkan
dari Batam Pos.

No comments:
Post a Comment