Showing posts with label Partai Demokrat. Show all posts
Showing posts with label Partai Demokrat. Show all posts

Thursday, 19 August 2021

Orang Ribut Soal Cat, Pesawat Sudah Dicat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Orang-orang masih banyak yang protes soal penggantian cat pesawat kepresidenan RI dari warna biru putih ke merah putih. Lucunya, pesawat tetap diganti catnya.

            Sudah saya bilang, Jokowi itu cuekan. Omongan remeh temeh dan nggak penting itu nggak pernah didengerin. Mau ngomong mah bebas saja, tetapi Jokowi juga punya kebebasan menentukan sendiri. Makanya, ngomong itu yang penting, jadi didengerin.

            Ketika orang masih kesal dengan penggantian cat, Jokowi sudah pakai pesawat yang sudah berwarna merah putih itu untuk kunjungan kerja ke Jawa Timur. Cuek aja dia mah.


Foto: Tribunnews.com

            Jokowi mampu bersikap seperti itu karena dukungan kepadanya semakin banyak. Di tingkat elit politik, dia sudah mendapatkan 80% dukungan. Sisanya yang 20% paling hanya ada di Partai Demokrat dan PKS. Kedua partai itu yang rajin menyela dan menyerang Jokowi, tetapi kekuatannya kan kecil. Bahkan, sekarang mungkin semakin kecil karena Demokrat kan terbelah, ada kubu AHY dan ada kubu Moeldoko. Demikian juga PKS terbelah karena beberapa tokohnya bikin partai baru, Partai Gelora. Otomatis kekuatan politik Jokowi tidak terkalahkan.

            Suka atau tidak suka, begitulah kenyataannya.

            Kalau ingin menurunkan Jokowi di tengah jalan, bisa dikatakan sia-sia karena bakal susah, kecuali ada kejadian tertentu yang sangat khusus. Lewat jalur politik, sangat susah, banyak hal yang harus dilakukan. Lewat jalur Medsos, para buzzer sudah menguasai keadaan, menunggu untuk memukul.

Kalau ingin menurunkan kekuatan politik Jokowi, jangan pakai ujaran kebencian, fitnah, hoax, nyinyiran, atau hinaan karena tidak akan laku, hanya memenuhi ruang maya yang sangat sebentar karena para buzzer langsung menggulungnya. Bahkan, bisa berurusan dengan polisi jika sudah masuk ke pelanggaran hukum. Gunakan kontra narasi, data dilawan dengan data, analisis dilawan dengan analisis. Siapa yang kuat data, fakta, dan tajam analisisnya, dia yang akan dipercaya rakyat. Dengan demikian, perdebatannya mencerdaskan semua orang. Rakyat yang tercerdaskan akan semakin kuat pendapatnya untuk memilih mana yang terbaik bagi mereka sendiri.

Sekarang semua harus menerima kenyataan. Jika tidak menerima kenyataan, berarti hidup di alam khayal.

Sampurasun.

Wednesday, 4 August 2021

Ganti Warna Cat Jadi Ribut Politik

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ini bagaimana sih para politisi kita, ganti cat pesawat kepresidenan RI saja kok ribut?

            Ini mah soal receh, remeh temeh, nggak perlu diributkan. Biasa saja atuhlah. Cuma ganti cat kok.

            Cerdas dikit kenapa sih?

            Ribut soal warna cat itu nggak bagus, bukan contoh yang baik bagi rakyat, terutama bagi generasi muda. Nanti anak-anak muda kita ngikutin meributkan hal-hal kecil yang sepele.

            Awalnya, pesawat kepresidenan warnanya biru muda-putih, sekarang berdasarkan rencana dua tahun lalu (2019) disepakati untuk mengganti warnanya menjadi merah-putih. Alasannya, supaya terlihat lebih elegan, lebih cerah, dan lebih tampak rasa nasionalismenya karena warnanya merah putih, warna bendera Indonesia.




            Perubahan warna cat ini diributkan oleh politisi Demokrat Andi Arief yang menurutnya lebih bagus warna biru muda-putih karena untuk keamanan presiden supaya melebur dengan warna biru langit sehingga musuh sulit mendeteksi. Tentu saja cuitan Andi Arief ini dibalas oleh serangan para buzzer pendukung Jokowi. Para buzzer ini merasa senang menyerang Andi Arief karena memang Partai Demokrat telah menyatakan perang dengan para buzzer.

            Menurut para buzzer, pendapat Andi Arief sangat lucu dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan karena mau warna apa pun kalau memang ada musuh, dideteksinya bukan berdasarkan warna. Mau warna apa pun, nggak masalah karena pesawat itu dideteksinya menggunakan radar yang tidak mengenal warna. Di samping itu, pesawat kepresidenan selalu ditemani oleh empat atau lima pesawat tempur sebagai pengamanan. Selain itu, politisi PDIP Arteria Dahlan ikut berkomentar dengan mendukung perubahan warna cat itu.

            Wajar jika rakyat seperti saya menilai perseteruan itu adalah soal kebanggaan partai. Demokrat warnanya biru, jadi ingin tetap biru. PDIP warnanya merah, jadi mendukung perubahan warna cat. Padahal, gagasan awalnya supaya seperti warna bendera Indonesia, merah putih, sehingga ketika ke luar negeri, orang asing mudah tahu bahwa itu adalah pesawat Indonesia dan rakyat Indonesia berbangga dengan hal itu.

            Menurut saya sih, kalau tidak setuju perubahan warna, seharusnya diributkan dulu ketika masih didiskusikan pada tahun 2019. Kalau sekarang, kan sudah disetujui dari dulu, tinggal dikerjakan. Perilaku seperti ini menunjukkan ketidakdewasaan dalam berorganisasi.

            Belajar dulu yang banyak deh supaya cerdas dan lebih teratur berpikir. Tidak meributkan hal sepele dalam waktu yang tidak semestinya.

            Yuk, belajar cerdas di Universitas Al-Ghifari bareng saya. Klik pmb.unfari.ac.id

Oh iya, foto pesawat yang warnanya biru muda-putih saya dapatkan dari nasional kontan, sedangkan yang merah-putih dari detikOto-Detikcom.

Sampurasun






Friday, 11 August 2017

The Yudhoyono Institute Wajib Didukung

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
The Yudhoyono Institute wajib didukung eksistensinya dan didorong untuk mencapai cita-citanya. Sepanjang yang saya tahu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendirikan institusi ini untuk membina, menjaring, menumbuhkan, dan mewujudkan para pemimpin muda pada masa depan. Cita-cita ini adalah cita-cita yang sangat mulia.

            Siapa pun yang memiliki niat dan bergerak untuk mendidik generasi muda menjadi pemimpin pada masa depan adalah wajib untuk didukung dan didorong penuh. Hal itu disebabkan memang kepada generasi mudalah masa depan diwariskan.

            Institusi yang didirikan AHY ini akan berkembang sangat cepat dan pesat dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan dan pengalaman mengenai berbagai permasalahan dunia, regional, dan lokal Indonesia. Dengan pengetahuan dan pengalamannya itu, institusi ini dapat menjadi lembaga yang diperhitungkan dalam memberikan berbagai masukan pada bangsa dan negara.

            Apabila cita-cita AHY ini benar dan lurus, The Yudhoyono Institute harus terbebas dari kepentingan partai. Institusi ini harus berada di atas partai. Bahkan, pemikiran dan berbagai analisa yang lahir dari institusi ini akan menjadi bahan pemikiran berbagai partai dalam mendorong Negara Indonesia menuju cita-cita pembangunan nasionalnya.

            Akan tetapi, apabila institusi ini didirikan hanya untuk kepentingan partai, terutama Partai Demokrat. Institusi ini tak lebih dari sebuah Ortom, ‘organisasi otonom’, yang berada di bawah partai. Gerakannya akan sangat sempit dan tidak menyentuh kepentingan bangsa secara keseluruhan. The Yudhoyono Institute hanya akan hidup sebagai alat politik praktis dan berkecenderungan melenceng jauh dari cita-citanya yang mulia, yaitu menciptakan para pemimpin muda pada masa depan.

            Jika memang benar dan lurus dengan cita-citanya, The Yudhoyono Institute akan mendorong siapa saja yang memiliki potensi dan kompetensi menjadi pemimpin masa depan dan bukan hanya mendorong AHY untuk menjadi presiden. Akan tetapi, bukan berarti AHY tidak boleh menjadi pemimpin pada masa depan, melainkan harus memberikan kesempatan dan pembinaan yang luas dan sama kepada calon-calon pemimpin masa depan, termasuk AHY sendiri.

            Apabila ternyata memang The Yudhoyono Institute hanya merupakan organisasi atau lembaga yang sangat terikat, bahkan patuh pada Partai Demokrat, saya khawatir lembaga ini akan layu sebelum berkembang. Kecil dan tidak tampak nyata besar sumbangsihnya pada bangsa dan Negara Indonesia. Dia hanya akan menjadi “pesaing” bagi organisasi-organisasi otonom lainnya yang sudah lebih dulu didirikan dengan niat menjadi alat partai politik.


            Sampurasun