Monday, 6 June 2016

Kamadatu, Shaum, Rupadatu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Terlalu sering kita mendengar ceritera-ceritera yang selalu sama dari tahun ke tahun bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan untuk mencapai kemenangan. Kemenangan yang didapat karena telah mampu berpuasa selama sebulan penuh dan kemenangan telah mengalahkan hawa nafsu. Setelah memasuki Idul Fitri, kita menjadi pribadi baru yang lebih baik, lebih istimewa, dan segalanya penuh berkah bagai bayi yang baru lahir.

            Akan tetapi, bagaimana dengan kenyataannya?

            Nggak ada bedanya tuh sejak sebelum puasa, selama puasa, dan setelah puasa. Kebanyakan orang tidak merasakan apa-apa, biasa saja. Bahkan, setelah Ramadhan, banyak yang lebih buruk kelakuannya. Korupsi jalan terus, lidahnya tetap kotor banyak mengumpat dan berbohong, hatinya selalu panas dan gelisah karena banyak mendengki dan iri. Jiwanya selalu cemas tentang masa depan yang belum tentu dilaluinya. Dihantui oleh ketakutan atas kerugian yang belum tentu terjadi. Hubungan dengan Allah swt tidak menjadi lebih dekat, bahkan lebih jauh dan semakin tidak menentu. Hubungan sosial dengan masyarakat lainnya pun biasa saja, tidak menjadi lebih baik dan istimewa. Semuanya biasa-biasa saja, tidak menjadi luar biasa seperti yang diberitakan banyak kisah religius.

            Ramadhan hanya sekedar upacara ritual tahunan yang diiming-imingi kisah manis dan hadiah menyenangkan dari Allah swt, baik selama Ramadhan maupun setelahnya. Akan tetapi, kisah-kisah itu hanya kisah dan hadiah dari Allah swt tak pernah diterima. Sedikit pun tak terasa apa-apa, kecuali menunaikan kewajiban rutin tahunan, puasa. Kita hanya menjadi para pengkhayal yang akan mendapatkan banyak anugerah dan ampunan, tetapi sebenarnya tidak mendapatkan apa pun, bahkan tertipu dan terus tertipu oleh banyak kisah dan perasaan gembira yang semu.    

            Apa gerangan yang salah sehingga banyak sekali manusia, bahkan hampir seluruhnya tidak mendapatkan dan merasakan apa pun dari Ramadhan, kecuali menahan lapar dan haus, menikmati kolak, tarawih, dan ketupat pada hari lebaran dengan baju yang dibaru-baruin?

            Kesalahannya ada pada diri kita sendiri!

            Sudah salah, bangga lagi dengan kesalahannya!

            Kita sering mempromosikan bahwa puasa tidak boleh mengurangi produktivitas kita, betul kan?

            Iya benar, memang berpuasa tidak boleh menjadi alasan kita untuk bermalas-malasan atau meletih-letihkan diri. Bahkan, Ali bin Abi Thalib berperang dalam keadaan berpuasa.

            Akan tetapi, jika kita tidak meninggalkan kesibukan hidup kita sehari-hari yang dipenuhi hiruk-pikuk duniawi, materialistis, pengejaran terhadap laba, kecemasan atas kedudukan dan kehormatan, target-target yang belum tentu tercapai, dan hal-hal lain yang bersifat hanya memenuhi urusan perut dan sejengkal di bawah perut, kita sama sekali tidak akan pernah mencapai berkah dari Ramadhan. Seluruh energi dan konsentrasi kita hanya diarahkan pada hal-hal yang sama dengan yang sering dilakukan di luar Ramadhan. Itulah yang menyebabkan kita tidak mendapatkan apa-apa dari Ramadhan, kecuali ritual rutin tahunan yang begitu-begitu saja. Sama sekali tidak istimewa.

            Berkah dari Ramadhan sesungguhnya adalah berawal dari pengekangan diri. Sebisa mungkin kita harus menjauhkan diri dari berbagai kesibukan yang biasanya dilakukan di luar Ramadhan. Semakin terlepas kita dari kesibukan sehari-hari, semakin besar berkah Ramadhan mendatangi kita. Apabila kita benar-benar mampu menghentikan semua aktivitas duniawi yang biasa sehari-hari dilakukan, berkah Ramadhan akan datang dengan sangat cepat. Bahkan, Allah swt benar-benar akan mendatangi kita.

            Inilah yang dimaksud dengan apabila kita mendatangi Allah swt dengan berjalan, Allah swt akan mendatangi kita dengan berlari.

            Bagaimana mungkin kita bisa mengendalikan mata, telinga, lidah, mulut, tangan, dan kaki jika kita masih berada di tempat yang biasa kita melakukan banyak kesalahan dan dosa?


Pelajaran dari Borobudur

Masih ingat kan beberapa waktu lalu saya menulis bahwa Kamadatu, Rupadatu, dan Arupadatu adalah tak lain dan tak bukan Amarah, Lawamah, dan Muthmainah?

            Perhatikan Kamadatu di kaki Candi Borobudur. Di sana digambarkan kesibukan manusia sehari-hari dengan segala hiruk pikuk, kecemasan, ketakutan, kesombongan, keangkuhan, kecurangan, kelicikan, dan kemaksiatan. Pilih kasih dan ketidakadilan ada di sana. Keserakahan dan penipuan terlukis dengan baik. Perilaku manusia bagai binatang dengan segala bisnis dan kekuasaannya terpatri dengan baik. Kemunafikan dan kerusakan moral semuanya terkandung dalam kehidupan pada fase Kamadatu.

            Kamadatu adalah tempat manusia biasanya beraktivitas sehari-hari dengan berbagai bisnis dan kerumitannya. Dalam tahapan kehidupan ini manusia selalu berakhir menderita, dipermalukan, sedih, gelisah, penuh ketakutan, tak punya harapan, ditinggalkan, tak dihormati, tersingkir, dan berbagai kengerian lainnya.

            Manusia yang betah di tempat ini akan mendapatkan banyak kengerian dan itu tergambar dengan jelas di kaki Candi Borobudur. Apabila ingin hidup lebih mulia dan berakhir dengan lebih baik, tidak seperti yang digambarkan pada Kamadatu, manusia harus melepaskan diri dari berbagai kesibukannya sehari-hari. Dia harus meninggalkan apa pun yang biasanya dia lakukan. Keberhasilannya mendapatkan berkah Ramadhan sangat bergantung pada besarnya upaya meninggalkan aktivitas duniawi. Semakin banyak aktivitas yang dia tinggalkan, semakin dekat dengan berkah Ramadhan.

            Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk meninggalkan berbagai kesibukan manusia sebagaimana yang tergambar dalam Kamadatu. Apabila berhasil, ia akan meningkat pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu Rupadatu tahap awal. Di Rupadatu itu ada enam tingkat. Apabila manusia mampu mengenyahkan berbagi kesibukannya dan menggunakan energinya untuk mendekat kepada Allah swt, ia sudah berada pada tahap awal Rupadatu, sebagaimana digambarkan di Borobudur. Pada tahap ini penyesalan atas berbagai dosa mulai terjadi. Perilaku-perilaku buruk yang telah dilakukannya tergambar jelas di matanya. Allah swt memberitakan berbagai kesalahan yang dilakukannya sehingga penyesalan pun menjadi-jadi. Pada fase inilah sebenarnya yang namanya taubat itu terjadi dengan benar-benar.

            Taubat yang terjadi dalam fase Kamadatu hanyalah tobat sambal. Ngomongnya tobat, tetapi terus diulangi. Hal itu disebabkan mereka masih sangat terikat dengan berbagai aktivitas dunia yang menipu. Taubat yang benar-benar adalah jika manusia sudah mampu berada satu tahap lebih tinggi dari Kamadatu, yaitu Rupadatu.

            Apabila mampu berada tahap awal Rupadatu, itu sudah berkah yang luar biasa. Ia sudah dihubungi Allah swt dan dibersihkan dari dosa-dosanya. Ia sudah sangat mampu memohon maaf kepada orang-orang yang pernah disakitinya. Permohonan maaf ini bukan sekedar ritual, melainkan mampu mengatakan secara rinci dosa-dosa yang pernah dilakukan kepada orang lain. Ia tak malu untuk mengatakan kesalahannya dengan terus terang kepada orang yang pernah disakitinya karena ia tahu dengan benar bahwa jika orang itu tidak memaafkannya, hidupnya akan menderita berkepanjangan.

            Jika Ramadhan usai, lalu kembali pada aktivitas biasa sehari-hari, seseorang yang sudah sampai pada tahap Rupadatu meskipun baru tingkat awal, sangat terlihat perbedaannya. Dirinya sudah dicerahkan, berbagai rahasia Illahi dibukakan untuknya sehingga ia tidak lagi terpengaruh oleh kebingungan dunia sebagaimana diderita manusia pada umumnya. Ia teguh dan tenang. Pegangan hidupnya sangat kuat dan menjadi cahaya bagi sekelilingnya. Bahkan, lingkungannya yang biasanya penuh maksiat mampu diwarnainya dengan berbagai kebaikan. Padahal, dia hanya baru  pada Rupadatu tahap awal.

            Jika dia mampu menggunakan oleh-oleh yang diberikan Allah swt selama waktu sebelas bulan ke depan, Ramadhan berikutnya ia akan meningkat pada fase Rupadatu tingkat berikutnya. Demikian seterusnya apabila mampu konsisten dan istiqomah hingga mencapai tahap Arupadatu. Arupadatu itu memiliki tiga tingkat, yaitu stupa berlubang ketupat, stupa berlubang persegi, dan stupa tertinggi tanpa lubang. Itu adalah perlambang tiga tingkat kesucian manusia suci, yaitu Fana, Baqa, dan Liqa.

            Apabila ingin benar-benar mendapatkan berkah Ramadhan dan terasa pada jiwa dan kulit daging kita sehingga kita yakin bahwa itulah berkah yang diberikan Allah swt, tinggalkan aktivitas yang biasa kita lakukan, lalu gunakan seluruh energi kita untuk mendekat kepada Allah swt.

            Selama kita masih sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi-materialistis, berkah Ramadhan pun tak akan menghampiri kita, kecuali berupa kisah-kisah yang biasanya itu-itu saja, tidak ada perubahan. Jangan menipu diri dengan menduga bahwa kita sudah seperti bayi yang baru lahir kembali. Kita sesungguhnya sama sekai tidak mendapatkan apa pun dari Ramadhan. Ramadhan hanya lewat untuk kita dan meninggalkan kita tanpa memberikan apapun bagi kita.

            Ramadhan hanya berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang mengekang dirinya dari kehidupan dunia ini. Ramadhan hanya menjadi saudara bagi mereka yang di tangannya tergenggam golok tajam yang sudah penuh darah karena membunuh sisi gelap diri manusia. Manusia yang mulia adalah yang menganggap sisi buruk dirinya sebagai musuhnya sehingga pada Ramadhan ini dia benar-benar bertarung melawan dirinya sendiri hingga pada ujung Ramadhan dia terhuyung-huyung bersimbah darah dengan menggenggam golok tajam penuh darah pertanda sudah selesai membunuh sisi gelap dirinya sendiri. Dengan demikian, selepas Ramadhan ia menjadi orang baru yang benar-benar baru. Ramadhan pada masa berikutnya akan membuatnya lebih kuat dan sakti dalam membunuh segala kemaksiatan yang dimulai dari dirinya sendiri.

            Tinggalkan segala kerumitan hidup kita pada bulan ini, raihlah tahap awal kehidupan Rupadatu. Dengan demikian, kita akan menjadi orang yang sangat berbeda pada bulan depan dan penuh dengan penjagaan Allah swt. Amin.




Sunday, 5 June 2016

Menyeragamkan Awal Ramadhan dan Idul Fitri

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Waktu awal puasa dan penentuan hari lebaran selalu menjadi hal yang menarik diperhatikan sekaligus “mengesalkan”. Hal itu disebabkan selalu saja ada perbedaan dalam menentukan waktu-waktu tersebut, padahal sebetulnya bisa sama.

            Sesungguhnya, menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti mengapa selalu berbeda, padahal dengan mudah bisa sama.

            Apakah orang-orang bangga dengan perbedaan, beda dari yang lain?

            Mengapa tidak merasa bangga dengan kebersamaan?

            Mengapa tidak merasa nyaman dan indah dengan kebersamaan?

            Perbedaan awal puasa dan hari lebaran itu saya melihatnya, pertama, sebagai wujud dari berbangga-bangga diri atas nama kelompoknya. Prinsip mereka adalah pokoknya kita harus beda dari yang lain atau orang lain yang harus sama dengan kita.  Model muslim seperti ini adalah muslim primitif yang pasti masuk neraka. Nabi Muhammad saw sendiri mengajarkan bahwa jika seseorang mati dalam keadaan berbangga-bangga diri dengan kelompoknya, neraka adalah tempat yang pasti baginya. Hal itu disebabkan dia menyombongkan diri di hadapan saudaranya sendiri sesama muslim serta bukan mengagungkan Islam dan kaum muslimin, tetapi mengagungkan kelompoknya sendiri.

            Kedua, takut dosa dan salah. Waktu penetapan awal puasa menjadi patokan pula dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin ada orang-orang yang takut salah dan takut berdosa karena jika salah menetapkan awal puasa, bisa jadi salah pula menetapkan 1 Syawal. Sementara itu, 1 Syawal diharamkan untuk berpuasa. Artinya, jika sudah masuk 1 Syawal masih juga berpuasa, haram hukumnya, dosa jadinya.

            Kedua hal itu, yaitu berbangga diri dengan kelompoknya dan ketakutan atas dosa dan kesalahan sangat bisa diatasi. Bagi para muslim primitif yang masih gemar berbangga diri dengan kelompoknya sambil melecehkan kelompok lainnya, bisa disadarkan dengan pendekatan keagamaan dan nilai-nilai kebangsaan. Dalam segi agama, jelas salah berbangga diri atas dasar kelompok dan pasti masuk neraka jika kebanggaan itu terbawa mati. Dari segi kebangsaan pun jelas cukup mengganggu rasa persatuan, kesatuan, persaudaraan, dan kebersamaan Indonesia. Dengan pendekatan keilmuan dan kesejarahan kebangsaan, diharapkan mereka sadar untuk bersama-sama melaksanakan shaum dan Idul Fitri secara bersama.

            Bagi mereka yang takut salah dan dosa, bisa disadarkan dengan pengambilalihan tanggung jawab untuk menanggung salah dan dosa oleh pemerintah.

            Jika mereka berdalih, “Siapa yang bertanggung jawab kalau kami nanti disalahkan di akhirat?”, Pemerintah harus menjawab, “Kami yang akan menanggung beban dosa itu jika kami salah. Timpakan saja tanggung jawab itu kepada kami. Katakan kepada Allah swt bahwa kalian diharuskan untuk patuh kepada kami. Dengan demikian, tanggung jawab ada pada kami.”

            Memang iya toh selama ini juga pemerintah harus bertanggung jawab di akhirat nanti, bukan hanya soal puasa dan lebaran, hal-hal lain pun harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt, kelak. Biasa saja. Akan tetapi, bagi mereka yang takut dosa dan salah yang berakibat pada perbedaan awal puasa dan lebaran, sangat perlu kepastian tentang pengambilalihan tanggung jawab tersebut di akhirat.

            Apabila penyadaran melalui ilmu dan kebangsaan tidak berhasil bagi muslim primitif dan gagal juga pada mereka yang takut dosa padahal tanggung jawab atas dosa sudah diambil alih, sebaiknya ada upaya lain yang lebih tegas untuk menyeragamkan awal puasa dan idul fitri tersebut. Upaya itu merupakan penetapan hukum bahwa tindakan berbeda dari pemerintah pusat dalam hal itu “dinyatakan illegal”. Hal itu hendaknya mulai diwacanakan sesegera mungkin dan segencar mungkin.

            Perbedaan-perbedaan ini sesungguhnya sangat mengganggu persaudaraan sesama muslim, persatuan dan kesatuan bangsa, serta merusakkan nama baik dan martabat Islam itu sendiri. Kalian tidak tahu sih bahwa di luar sana para anti-Islam menjadikan perbedaan-perbedaan di antara kelompok-kelompok Islam itu sebagai bahan ejekan. Sebisa mungkin harus dicari persamaan-persamaan yang ada. Hal yang berbeda dan mudah dijadikan sama, segera disamakan. Jangan berbangga-bangga diri dengan perbedaan sehingga hal yang seharusnya mudah untuk sama, dibeda-bedain. Ngaco. Di samping itu pun, di kalangan masyarakat karena terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran, menganggap sesat orang lain yang berbeda dengan dirinya. Terjadilah saling tuding sesat-menyesatkan.

            Begitukah yang kalian inginkan?

            Apa lagi yang membuat kalian pengen selalu berbeda dan paling depan dalam hal menetapkan awal puasa dan lebaran?

            Pengen berbangga-bangga diri supaya dianggap kelompoknya paling hebat?

            Neraka adalah tempat terakhir kalian. Itu kata Nabi Muhammad saw.

            Takut dosa, salah, sehingga di akhirat akan dituntut pertanggungjawaban?

            Tanggung jawab untuk hal itu sudah bisa diambilalih oleh pemerintah pusat.

            Lalu, apa lagi?


            Sebaiknya, memang pemerintah pusat harus membuat aturan yang jelas berikut sanksi yang dapat menjadikan mereka yang selalu gembira untuk berbeda dari saudaranya mendapatkan peringatan sebagai pelaku tindakan illegal. Tidak ada salahnya membuat aturan seperti itu. Toh, niatnya juga baik untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin plus persatuan dan kesatuan bangsa.

Friday, 3 June 2016

Gerakan Kaum Perempuan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dalam memandang gerakan kaum perempuan yang sangat besar dari dulu sudah diwanti-wanti oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir. Soekarno. Gerakan-gerakan itu banyak yang dilakukan tidak tulus dan bukan untuk kepentingan perempuan itu sendiri. Para perempuan banyak yang hanya memiliki semangat untuk menyaingi kaum laki-laki. Mereka bosan dan kesal harus selalu berada di bawah laki-laki. Mereka pun hanya terjebak emosi untuk mengalahkan laki-laki. Kemarahan para perempuan dan kekesalan emosional mereka dimanfaatkan oleh orang-orang kapitalis, para pengusaha besar. Mereka mendukung penuh gerakan kaum perempuan itu. Soekarno mengatakan bahwa gerakan-gerakan perempuan dari Barat dan Timur itu, dari Amerika Serikat dan Rusia itu, disokong oleh kaum modal yang besar usaha.

            Para kapitalis pemilik modal itu tentu saja memiliki kepentingan dan keuntungan dari kebebasan para perempuan itu. Mereka sangat senang jika para perempuan bisa keluar dari rumahnya dengan bebas dan pulang malam dengan bebas pula. Hal itu disebabkan para pengusaha akan mendapatkan para pekerja wanita yang bisa dibayar dengan upah buruh rendah dibandingkan laki-laki serta lebih penurut dibandingkan para pria. Kaum laki-laki itu selalu ingin dibayar besar karena tanggung jawabnya besar dan mudah sekali melakukan protes. Adapun kaum perempuan lebih jinak dan mudah diatur.

            Pada masa kini pun gerakan kebebasan perempuan banyak sekali mendapatkan dukungan dari para pengusaha. Ahmad Deedat, ulama besar dunia, mengingatkan bahwa para pengusaha banyak menggunakan perempuan sebagai alat pemasaran untuk menarik iklan-iklan perusahaan mereka semacam produk kendaraan mobil dan motor. Memang akan menarik perhatian pria jika ada iklan mobil yang disertai perempuan berpakaian minim, lalu di tayangan iklannya ditulis You Can Try Me. Iklan itu sesungguhnya menurunkan derajat harga diri perempuan yang dibungkus oleh kalimat persamaan hak. Di samping itu pun, menurut Ahmad Deedat, gerakan kebebasan perempuan didorong pula oleh para pengusaha kosmetik, pakaian, dan perhiasan-perhiasan lain. Para perempuan yang gemar keluyuran siang malam dan aktif dalam banyak hubungan jelas membutuhkan banyak kosmetik, pakaian, dan perhiasan. Hal itu jelas merupakan keuntungan bagi para pengusaha.

            Sebenarnya, perempuan Indonesia tidak perlu mengimpor gerakan-gerakan atau semangat persamaan hak dari luar negeri. Bangsa Indonesia ini sudah menempatkan perempuan dalam derajat yang bukan lagi sama dengan laki-laki, melainkan lebih tinggi. Sejarah sudah menunjukkan hal itu sejak lama. Akan tetapi, anehnya, para perempuan Indonesia ini gemar sekali meniru-niru negara lain yang cenderung merusakkan martabat wanita itu sendiri.

            Soekarno mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan Indonesia itu ibarat dua sayap burung Garuda. Burung Garuda bisa terbang sangat tinggi jika kedua sayapnya kuat dan sehat. Jika salah satu sayapnya sakit, Garuda pun tidak bisa terbang tinggi.

            Hal itu menunjukkan bahwa Soekarno sangat mendukung para perempuan dalam memajukan bangsa dan negara bersama kaum laki-laki. Bahkan, dalam hal pendidikan, jika dalam sebuah keluarga mengalami kesulitan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya, anak yang harus lebih dulu mendapatkan pendidikan adalah anak perempuan, bukan anak laki-laki. Biarkan anak laki-laki belakangan. Dahulukan anak perempuan. Soekarno menjelaskan bahwa anak perempuan harus lebih dahulu mendapatkan pendidikan karena akan menjadi ibu dan harus mendidik putera-puterinya untuk masa depan. Di samping itu, Soekarno menjelaskan bahwa kaum pria hanya bekerja sepanjang siang, sedangkan perempuan bekerja siang dan malam.

            Apa lagi yang diragukan mengenai penghormatan Indonesia kepada kaum perempuannya?

            Jangan sedikit-sedikit mencontohkan luar negeri. Sedikit-sedikit Amerika Serikat. Sedikit-sedikit Eropa. Padahal, gerakan di luar negeri itu banyak digerakkan oleh para pengusaha untuk kepentingan perusahaannya, bukan untuk peningkatan harkat dan martabat perempuan itu sendiri. Lihat saja efek sampingnya seperti yang kita derita juga, gemar keluyuran siang malam, bergaul tanpa memilih teman, keluarga tidak harmonis, akhirnya seks bebas, Narkoba, Miras, diperkosa, HIV, Aids, dan rupa-rupa kerusakan lainnya.

            Sebetulnya, bangsa Indonesia ini sudah membebaskan perempuan untuk bergerak dan berprestasi dari dulu. Asal perempuannya mau dan bisa, tidak ada yang akan menghalangi. Akan tetapi, kalau tidak mau dan tidak bisa, jangan teriak-teriak pengen bebas dan memiliki hak sama.

            Memangnya mau melakukan apa teriak-teriak tentang kebebasan?

            Pengen bebas keluyuran?

            Pengen bebas berbuat maksiat?

            Tidak perlu teriak-teriak soal kesamaan hak, Ham, atau kebebasan yang diimpor itu. Perempuan Indonesia itu dari dulu sudah bebas kok asal mau dan bisa.

            Nggak percaya?

            Masyaallah.

            Perhatikan para perempuan yang bebas bergerak tanpa harus teriak tentang persamaan hak dan Ham dari luar negeri itu!

            Subanglarang, Permaisuri Raja Sunda Pajajaran. Ia hidup antara abad 16-17 masehi. Subanglarang adalah ratu yang melahirkan Raden Kian Santang, Pangeran Sunda yang menyebarkan Islam di tanah Pasundan. Subanglarang mendirikan pesantren besar dan mendapat cinderamata dari Laksamana Cina Cheng Ho berupa mercusuar.

            Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan serta mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Ia pun melarang rakyat untuk memiliki emas. Ia sadar emas bisa membuat rakyatnya jahat dan gemar bertengkar.  Ia pernah menghukum anaknya sendiri karena kaki anaknya tidak sengaja menyentuh karung emas.

            Dyah Pitaloka Citraresmi, hidup antara 1340-1357 masehi. Ia  adalah Puteri Kerajaan Sunda. Ia adalah perempuan tercantik di seluruh kerajaan kepulauan Nusantara. Banyak raja yang ingin memperistri Dyah Pitaloka dan tak ada perempuan yang membuat Raja Majapahit Hayam Wuruk jatuh cinta, kecuali Dyah Pitaloka Citraresmi.

            Ia perempuan yang sangat berani. Ia tetap melakukan perlawanan meskipun seluruh prajurit dan keluarganya telah gugur dalam Perang Bubat. Ia sendirian bertahan melawan 5.000 pasukan musuh. Dyah Pitaloka Citraresmi tetap mempertahankan harga diri Kerajaan Sunda dari penghinaan musuh-musuhnya. Sampai hari ini ada ribuan gadis Sunda yang menggunakan nama Dyah Pitaloka.

            Cut Nyak Dhien, pemimpin besar Perang Kerajaan Islam Aceh yang hidup antara  1848–1908. Sepanjang hidupnya bertempur melawan penjajahan Belanda. Dia tidak pernah kalah perang. Teriakan Allahu Akbar adalah senjatanya.
            Akan tetapi, ketika sudah tua, ia sakit. Seorang pasukannya mengadakan perjanjian dengan Belanda. Ia ingin Belanda mengobati Cut Nyak Dhien. Belanda setuju. Akan tetapi, Cut Nyak Dhien marah.

            Meskipun dirawat di rumah sakit, ia tetap berhubungan dengan pasukan Aceh untuk terus bertempur.  Akhirnya, Belanda memindahkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang, Jawa Barat dan meninggal di sana.

            Gambar Cut Nyak Dhien menjadi gambar salah satu pecahan mata uang kertas Indonesia.

            Cut Nyak Meutia. pejuang perang Aceh yang hidup pada 1870-1910. Ia bersama suaminya yang bernama Teuku Muhammad melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

            Raden Dewi Sartika adalah pahlawan pendidikan yang lahir di Bandung. Ia hidup antara 1884–1947. Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika adalah orang pertama yang membuka sekolah untuk perempuan, “Sakola Istri”.

            Raden Adjeng Kartini, puteri bangsawan Jawa. Ia hidup  antara 1879-1904. Ia gemar membaca majalah-majalah Eropa. Ia kemudian berhubungan melalui surat menyurat dengan teman-temannya di Eropa. Setelah Kartini meninggal, surat-surat itu dikumpulkan kemudian menjadi buku, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

            Rangkayo Rasuna Said, perempuan pejuang antikolonial yang hebat. Ia hidup antara 1910 s.d. 1965. Tulisan-tulisannya yang sangat tajam menyerang pemerintah Kolonial Belanda. Akibatnya, ia sempat ditahan Belanda. Kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat. Setelah itu, ia kembali dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

            Maria Walanda Maramis  hidup pada 1872-1924. Ia lahir dalam keluarga pejuang antikolonialis. Kakaknya, Andries Maramis, adalah aktivis yang  memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian, ia pernah menjadi menteri dan duta besar Indonesia.

            Maria Walanda Maramis adalah perempuan yang sangat memperhatikan tugas dan tanggung jawab perempuan, baik di dalam rumah tangga sebagai ibu, sebagai istri, maupun sebagai pendidik. Ia kemudian mendirikan organisasi  Percintaan Ibu kepada Anak Temurunannya (Pikat). Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

            Martha Christina Tiahahu, pemberani yang hidup antara 1800-1818. Pada usia 17 ia melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Ia selalu mendampingi ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu dalam menyerang Belanda. Ia selalu mengobarkan semangat perang prajuritnya dan mengajak para perempuan untuk ikut berperang. Akibatnya, Belanda kewalahan mendapat perlawanan dari para perempuan. Karena semangat dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat patung Martha Christina Tiahahu.

            Siti Walidah Ahmad Dahlan hidup pada 1872-1946. Ia adalah Istri Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Siti sangat memperhatikan kaum perempuan. Oleh sebab itu, ia mendirikan organisasi perempuan yang bernama Sopo Tresno  untuk mendidik kaum perempuan. Ia bersama suaminya mengganti nama Sopo Tresno menjadi Aisyiyah. Nama itu berasal dari nama isteri Nabi Muhammad saw, Aisyah. Dalam organisasi itu, ia mendirikan lembaga pendidikan bagi para perempuan. Para perempuan dididik agar mampu menjadi pendidik di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ia adalah perempuan pertama yang memimpin rapat besar organisasi besar Muhammadiyah di Indonesia.

            Nyi Ageng Serang terlahir dengan nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi. Nyi Ageng Serang merupakan puteri dari Pangeran Natapraja, seorang penguasa daerah Serang, Jawa Tengah yang juga merupakan Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I. Nyi Ageng juga merupakan salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga penyebar Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia.

            Ketika menjadi penguasa Serang, banyak rakyatnya kelaparan dan mengalami kesengsaraan akibat ulah dari penjajah Belanda. Ia selalu membantu kesengsaraan rakyatnya dengan membagi-bagikan pangan. Selain itu, ia juga melakukan perlawanan fisik untuk mengusir pasukan Belanda dari tanah kelahirannya itu.

            Ia pun ikut dalam Perang Diponegoro pada 1825. Atas jasa dan keberaniannya, pemerintah Indonesia membuat monumen Nyi Ageng Serang.

            Opu Daeng Risadju, anggota keluarga bangsawan Luwu.  Ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, pada 1880. Dalam sepanjang hidupnya ia dididik ajaran dan nilai-nilai moral baik yang berlandaskan budaya maupun agama Islam.

            Opu Daeng Risaju melakukan perlawanan terhadap kejahatan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang berkeinginan untuk menjajah kembali Indonesia. NICA memutuskan untuk mengobrak-abrik masjid bahkan menginjak Al-Quran. Opu Daeng Risaju pun segera membangkitkan dan memobilisasi para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.

            Masih banyak perempuan hebat Indonesia lainnya yang derajatnya berada di atas para pria pada zamannya. Kepada merekalah perempuan Indonesia harus memandang dan meneladani, bukan kepada orang-orang di luar negeri. Para perempuan-perempuan itulah yang harus menjadi inspirasi karena mereka bergerak dan bertindak untuk kepentingan manusia, kemanusiaan, serta bangsa dan negara. Mereka bergerak bukan karena sokongan kaum modal yang besar usaha. Mereka berjuang bukan untuk kepentingan para pengusaha atau ego dari perempuan itu sendiri. Mereka berjuang untuk hidup dan kehidupan.

            Salah besar jika ada yang menganggap bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang mengekang atau merendahkan kaum perempuan. Sejak dulu juga kaum perempuan terbuka untuk bergerak dan aktif asal mau, bisa, dan bermanfaat. Sejarah membuktikan hal itu.

            Tidak perlu lagi banyak kisah tentang “kesamaan gender”. Dari dulu juga sudah sama bahwa laki-laki dan perempuan Indonesia itu adalah bagai dua sayap burung garuda. Jika salah satu sakit, Indonesia pun sakit.

            Lihat mereka para perempuan Indonesia hebat itu. Jangan selalu melihat ke para perempuan berambut kuning kemerahan yang pirang!

Hukuman Mati untuk Papua

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dengar-dengar di Papua beberapa suku memiliki cara unik dalam menyelesaikan kasus-kasus pembunuhan. Mereka memiliki adat khas yang terkesan adil, tetapi sebenarnya membahayakan.

            Saya dengar kisah bahwa kalau anggota salah satu suku mati dibunuh oleh suku yang lain, penyelesaiannya adalah salah satu anggota suku yang membunuh itu harus mati juga. Hal itu diselesaikan melalui perang suku sampai jumlah orang yang mati dari kedua suku sama jumlahnya.

            Kalaulah memang begitu adat yang mereka miliki, bahaya sekali bagi kelangsungan hidup mereka. Masalahnya adalah jika sudah beberapa orang mati, tetapi belum seimbang juga jumlahnya, perang akan terus berlangsung. Bahkan, perbandingan jumlah orang yang mati di antara kedua suku bisa terus tidak berimbang dan semakin jomplang. Permasalahan tidak pernah selesai dan permusuhan terus berlanjut. Apalagi jika yang mati adalah anak-anak muda yang secara perhitungan manusia masih punya banyak waktu untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun Papua dan bintang-bintang masa depan Papua, pupus mati dalam perang antarsuku. Sayang sekali.

            Saya bukan sok tahu, tetapi itulah yang saya dengar. Kalau salah, ya sorry. Nanti, orang yang cerita sama saya tentang Papua secara salah akan saya kasih tahu agar jangan suka berbohong dan sok tahu.

            Kalaulah apa yang saya dengar itu benar, sebaiknya negara mengambil alih pelaksanaan pembalasan hukuman atas pembunuhan tersebut. Tidak perlu lagi ada perang antarsuku. Negaralah yang wajib melakukan penghukuman kepada orang yang paling bertanggung jawab telah melakukan pembunuhan. Hukuman mati harus dijatuhkan kepada orang yang benar-benar bersalah. Nyawa dibayar nyawa.

            Tampaknya, masyarakat Papua sangat siap dengan hukuman mati dalam arti nyawa dibayar nyawa. Daripada mencari penyelesaian permasalahan dengan perang yang belum tentu selesai secara efektif dan efisien, hukuman mati bagi para pembunuh di Papua adalah yang paling pantas. Jangan ada pilihan hukuman lain, kecuali hukuman mati. Jangan ada hukuman seumur hidup, 20 tahun, atau lainnya jika menyelesaikan kasus pembunuhan dan jika pembunuhnya telah terbukti nyata melakukan pembunuhan. Dengan demikian, keadilan dapat ditegakkan. Pembunuhnya mati dan suku lain yang anggotanya telah terbunuh terpuaskan. Perang pun tidak perlu terjadi.

            Apabila perang antarsuku dapat diredam atau dihilangkan sama sekali dengan cara negara mengambil alih pembalasan penghukuman tersebut, akan ada banyak generasi muda yang mungkin sangat cerdas-cerdas terselamatkan dari kematian akibat perang. Dengan demikian, mereka bisa menapaki kehidupannya dengan lebih tenang pada masa depan untuk diri mereka sendiri, masyarakat Papua, dan Indonesia.

            Hal yang paling penting adalah jangan pedulikan omongan negara lain yang suka mengejek atau menghina Indonesia karena memberlakukan hukuman mati. Dalam hal ini tak salah jika kita mengaku sebagai sahabat Cepot.

            Tahu kan Cepot?

            Iya benar, Cepot yang itu yang dari Karang Tumaritis dalam pewayangan. Wayang golek.

            Cepot kalau sudah yakin terhadap sesuatu, akan bertahan dengan pendapatnya dan tidak mempedulikan pendapat orang lain. Hal itu disebabkan dialah yang tahu tentang dirinya sendiri dibandingkan orang lain.

            “Ceuk aing kaleng, kaleng (kata gue kaleng, kaleng)!tegas Cepot.

            Orang-orang menyalahkan Cepot karena melihat barang yang dipegang Cepot adalah botol. Akan tetapi, Cepot tidak peduli sebanyak apa pun orang yang mengatakan bahwa barang yang dipegangnya adalah botol.

            “Ceuk aing kaleng, kaleng!” Cepot marah.

            Orang lain makin ngotot bahwa itu adalah botol.

            Cepot tidak peduli, “Ceuk aing kaleng, kaleng!”

            Cepot bertahan karena tahu benar apa yang dipegangnya, sedangkan orang lain hanya melihatnya. Adapun Cepot memegangnya, melihatnya, merasakannya, dan memiliki barang itu.

            Ceuk aing kaleng, kaleng!

            Jadi, tidak perlu dengar omongan orang lain jika kita sudah merasa sangat yakin terhadap keputusan kita sendiri yang telah dipertimbangkan dengan sangat matang.

            Ceuk aing kaleng, kaleng!

            Saya juga mendapat beberapa email dari Inggris dan Australia. Mereka menuduh Indonesia sebagai bangsa primitif dan kejam dengan memberlakukan hukuman mati. Awalnya, saya jelaskan mengapa Indonesia membutuhkan hukuman mati sejauh yang saya mengerti. Akan tetapi, mereka tidak juga mau mengerti.

            Bahkan, mereka menantang, “You are my enemy.”

            Jawaban apalagi yang harus saya berikan kepada orang-orang angkuh yang tidak mau mengerti, tetapi hanya mau dimengerti?

            Mereka ingin kita mengerti mereka, tetapi mereka tidak mau mengerti kita.

            Jawaban yang paling pas buat orang-orang arogan semacam mereka adalah sebagaimana sahabat kita, Cepot, “Ceuk aing kaleng, kaleng!”


            Hidup Kaleng!

Thursday, 2 June 2016

Belajar dari Suku Baduy dan Kampung Dukuh

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Suku Baduy adalah salah satu suku yang sangat terkenal di dunia. Jangankan orang-orang Indonesia, para turis dan peneliti mancanegara pun kerap mendatangi suku ini.

            Sebenarnya, mereka sendiri tidak mau disebut Suku Baduy karena memang bukan Baduy. Mereka lebih suka disebut orang Kanekes. Baduy sendiri merupakan sebutan yang biasa digunakan kolonial Belanda kepada orang Kanekes. Belanda menggunakan istilah itu karena menyamakan mereka seperti terhadap orang-orang Badwi di daerah Arab yang hidup secara nomaden. Padahal, orang Kanekes tidak nomaden dan bukan orang Arab. Mereka urang Sunda tulen. Mereka pun tidak pernah berbunuh-bunuhan untuk membanggakan keluarga, kaum, atau sukunya. Berbeda dengan Badwi Arab yang penuh dengan kebanggaan terhadap kaum dan sukunya, penuh dengan perjuangan keras, heroik, dan tak segan untuk membunuh yang akhirrnya menimbulkan perang hanya untuk membela silsilahnya. Orang Kanekes memilih untuk tetap diam di tempat dan berupaya menyeimbangkan dirinya dengan alam.

            Orang Kanekes tidak mau ikut campur dalam kehidupan politik di luar desanya. Tidak juga ingin meniru hidup seperti orang-orang lain. Mereka menolak teknologi, pendidikan, keyakinan, kesehatan, dan menolak apa pun yang berasal dari luar mereka. Mereka tak ingin dipengaruhi apa pun dan oleh siapa pun. Mereka tak ingin dibimbing dan tak ingin dididik. Mereka memiliki cara-cara hidupnya sendiri yang bertahan dari zaman ke zaman. Bahkan, mereka sendiri yang berupaya di atas orang lain karena mereka selalu berupaya keras untuk mengasuh para pemimpin Indonesia dan para tokoh-tokoh Indonesia dengan cara-cara hidup mereka sendiri sehingga hidup mereka menjadi pelajaran bagi orang lain. Orang-orang Kanekes yang ingin hidup seperti orang lain, harus keluar dari wilayah pedalaman dan menjadi orang luar. Adapun orang-orang pedalaman tetap setia terhadap adat istiadatnya. Mereka tak ingin diganggu dan tak ingin mengganggu. Mereka hidup tak ingin dipengaruhi orang lain. Apa pun yang terjadi di luar mereka, terserah. Akan tetapi, mereka mempertahankan hubungan dengan orang luar dan para penguasa dengan cara tetap berperilaku baik dan mengirimkan hadiah kepada penguasa ketika kebun dan ladang mereka panen. Silaturahmi tetap dijaga sehingga tidak saling mengganggu.

            Kekuatan mereka dalam mempertahankan adat sangat luar biasa. Mereka orang-orang yang sangat teruji dalam beristiqomah. Kalau dihitung, mungkin sudah jutaan orang yang mendatangi kampung mereka, tetapi mereka tetap tidak bisa dipengaruhi. Bahkan, kehidupan merekalah yang telah mempengaruhi orang lain. Penolakan mereka sangat tegas terhadap sesuatu yang tidak mereka sukai dan tidak seorang pun di dunia ini yang mampu memaksa mereka untuk berubah.

            Ayah saya adalah seorang guru. Dulu ketika masih muda, dia pernah hendak memasuki ke pedalaman Kanekes, tetapi ditolak dan dilarang masuk. Mereka anti terhadap guru.

            Alasan mereka, “Lamun guru asup ka kami, engke rahayat kami jadi pinter. Lamun rahayat kami jadi pinter, engke rahayat kami jadi jelema jahat. (Kalau guru masuk ke daerah kami, nanti rakyat kami menjadi orang pintar. Kalau rakyat kami sudah menjadi orang pintar, nanti mereka menjadi orang-orang jahat).”

            Kalimat itu sangat dalam maknanya dan mempermalukan kita yang hidup penuh pendidikan sekaligus penuh kejahatan.

            Coba renungkan kalimat mereka itu. Ada banyak makna di sana.

            Dulu sekali mereka sangat tegas dan keras menutup diri. Akan tetapi, sekarang mereka membuka diri sedikit. Meskipun demikian, mereka tetap kuat memegang adat istiadat. Mungkin mereka sekarang melihat rakyat Indonesia mulai ada perubahan pada hal-hal yang lebih baik sehingga sedikit membuka diri. Kalau dulu pada masa kolonial dan Orde Baru, mereka sangat tertutup, mungkin karena banyak hal yang sangat mereka tidak sukai dari kehidupan di Indonesia ini.

            Kalau soal masa kolonialisme, pasti tidak mereka sukai karena banyak sekali kejahatan. Kalau masa Orde Baru, mungkin masih banyak yang tidak berkenan di hati mereka.

            Ketika menanggapi soal jatuhnya Soeharto dan Orde Baru, salah seorang dari mereka mengatakan, “Matak kitu oge teu bener meureun Soeharto teh. Da lamun bener mah, moal dikitukeun. (Dijatuhkan seperti itu mungkin karena Soeharto tidak benar memimpin. Kalau dia benar memimpin, tidak akan dijatuhkan seperti itu).”

            Sekarang mari kita tinggalkan kisah soal Suku Baduy yang sebenarnya orang Kanekes itu. Kini kita lihat bagaimana sekilas Kampung Dukuh yang berada di wilayah Garut. Warga Kampung Dukuh mirip-mirip dengan Kanekes. Mereka kuat memegang adat istiadat dan tidak mau dipengaruhi orang lain, tetapi tetap terbuka kepada siapa pun yang ingin bersilaturahmi. Mereka tidak mau menggunakan listrik. Penerangan hanya menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah. Mereka pun terlarang untuk menjadi pegawai negeri sipil. Hidup mereka dipenuhi ritual-ritual agama Islam.

            Hal yang paling unik adalah mereka merupakan pemegang naskah kuno mengenai sejarah dunia dan masa depan dunia. Saya menduga naskah itu berasal dari skrip-skrip yang diselamatkan oleh para pendeta gereja Sarabeum, Mesir ketika dikalahkan oleh pendeta Vatikan, Romawi. Dalam buku karya Muhammad Isa Dawud dijelaskan mengenai perebutan pengaruh di antara para pendeta. Perebutan pengaruh itu berujung pada perang antara pendeta-pendeta Vatikan, Romawi dengan pendeta-pendeta Sarabeum, Mesir. Keduanya memiliki simbol yang sama, yaitu salib. Akan tetapi, salibnya berbeda bentuk dan berbeda makna. Salib yang digunakan gereja Vatikan adalah salib sebagaimana yang kita kenal sekarang, yaitu salib berupa tempat pembunuhan terhadap orang yang mereka yakini sebagai Yesus. Adapun salib yang digunakan gereja Sarabeum adalah salib dalam bentuk kunci kehidupan, ”Anchor”. Perang besar itu dimenangkan oleh gereja Vatikan. Mereka membabi-buta membakar dan menghancurkan gereja-gereja Sarabeum. Oleh sebab itu, para pendeta Sarabeum yang kalah menyelamatkan naskah-naskah kuno mengenai dunia dan masa depan dunia ke seluruh penjuru dunia. Ada kemungkinan naskah yang dipegang di Kampung Dukuh secara turun-temurun itu berasal dari Sarabeum, Mesir.

            Karena pertempuran dimenangkan oleh gereja Vatikan, sedangkan gereja Sarabeum mengalami kehancuran total, dunia hanya mengenal satu salib, yaitu tempat dibunuhnya orang yang kata mereka adalah Yesus. Padahal, menurut Allah swt, yang disalib itu sama sekali bukan Yesus. Dia hanya orang yang mirip Yesus. Yesus as sebenarnya dalam kondisi baik-baik saja sampai hari ini. Berbeda halnya jika yang memenangkan pertempuran adalah gereja Sarabeum, kita akan mengenal salib yang digunakan adalah kunci kehidupan, “Anchor” yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyaliban yang katanya Yesus itu.

            Saya dua kali bertemu dengan orang-orang Kampung Dukuh. Pertama, ketika Indonesia dilanda krisis minyak tanah beberapa tahun lalu. Saat itu minyak tanah sulit sekali didapat. Kalaupun ada, mahalnya bukan main. Karena sulit mendapatkan minyak tanah dan mahal harganya. Kampung Dukuh menjadi gelap gulita pada malam hari. Mereka memang anti menggunakan listrik dan harus hanya menggunakan penerangan dari lampu minyak tanah. Saya mendatangi mereka untuk mengantarkan bantuan dua drum minyak tanah. Tentunya, saya hanya dititipi uang untuk mereka. Saya tidak membawa minyak tanah dari kota. Uang yang dititipkan dermawan kepada saya dibelikan dua drum minyak tanah dari daerah yang terdekat ke Kampung Dukuh. Mereka bersyukur sekali mendapatkan bantuan itu karena dalam satu dua bulan ke depan mereka memiliki cukup persediaan minyak tanah.

            Kedua, adalah ketika Kampung Dukuh mengalami kebakaran hebat. Baru juga kira-kira dua minggu saya datang membawa dua drum minyak tanah, tersiar kabar di media massa bahwa Kampung Dukuh kebakaran. Kembali saya mendatangi mereka beserta para dermawan untuk melihat kondisi mereka sekaligus memberikan bantuan. Ternyata, benar saja hampir setengah dari kampung itu habis terbakar dan hanya menyisakan reruntuhan rumah-rumah yang rata dengan tanah dan hitam gosong dimakan api. Kali ini bantuan jauh lebih besar daripada sebelumnya. Uang yang disalurkan bisa membangun kembali beberapa unit rumah panggung berbahan bambu dan kayu. Di samping uang, tentu saja beras dan kain sarung.

            Dua drum minyak tanah itu bagaimana?

            Habis terbakar Bro tidak bersisa!

            Menurut polisi, kebakaran disebabkan oleh silalatu dari api unggun para pemuda pada bagian bukit yang lain. Akan tetapi, saya sangat tidak percaya. Silalatu itu adalah bara api yang mudah terbang karena sangat ringan tertiup oleh angin. Dalam pandangan polisi saat itu, silalatu dari api unggun anak-anak muda itu tertiup angin, lalu mengenai rumah-rumah di Kampung Dukuh yang terbuat dari bahan bambu, alang-alang, dan kayu.  Saya tidak bisa percaya karena letak api unggun yang jadi tersangka itu berada pada bagian bukit yang lain dan jaraknya sangat jauh sekitar 300 s.d. 400 meter dari Kampung Dukuh. Silalatu atau bara api yang terbang itu dalam kenyataannya tidak pernah bisa sampai sejauh itu terbang tertiup angin. Paling-paling hanya sejauh 3 s.d. 5 meter, lalu padam sendiri. Kalau mau dijauh-jauhkan juga paling hanya bertahan 10 meter dan itu sangat tidak mungkin.

            Saya justru sangat menduga bahwa kebakaran itu disengaja oleh orang-orang yang terorganisasi dengan baik untuk melenyapkan keberadaan naskah kuno tentang sejarah dunia dan masa depan dunia. Di dalam naskah itu terdapat banyak prediksi mengenai kondisi masa depan dunia. Hal itu jelas sangat mengganggu orang-orang yang ingin membuat kisahnya sendiri tentang masa depan dunia dan ingin mengatur menguasai dunia sesuai dengan kisah yang berdasarkan hawa nafsunya sendiri.

            Sudahlah, itu kisah beberapa tahun lalu. Bukan itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini.

            Hal yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana uniknya Suku Baduy dan Kampung Dukuh. Mereka kukuh dalam cara hidupnya sendiri dan tidak pernah mau dipengaruhi orang lain. Tak pernah mereka tergoda untuk mengikuti cara hidup dan gaya hidup orang lain. Sudah jutaan orang datang ke tempat mereka dari zaman ke zaman, tetapi mereka tetap seperti itu, kuat dalam memegang teguh keyakinan. Orang-orang dari rupa-rupa latar belakang tak mampu menggoda mereka. Dengan demikian, mereka selamat dalam dirinya sendiri tidak terpengaruh oleh gonjang-ganjing dunia luar. Bahkan, mereka justru yang memaksa setiap siapa pun yang datang ke tempat mereka untuk patuh dan hormat terhadap mereka dan lingkungannya. Siapa pun orangnya, mereka tak peduli. Siapa pun harus patuh dan hormat terhadap keyakinan mereka.           

            Itulah yang menjadi daya tarik Suku Baduy Kanekes dan Kampung Dukuh. Konsisten dalam cara hidupnya sendiri. Itu pula yang membuat orang-orang ingin tahu lebih dekat tentang mereka dan mencoba mencari tahu hal-hal apa yang bisa dipelajari dari mereka.

            Jika saja Suku Baduy dan Kampung Dukuh dapat dipengaruhi oleh cara dan gaya hidup orang lain di luar mereka, daya tarik mereka pun musnah. Mereka tak ubahnya seperti orang kebanyakan. Tak akan ada lagi orang-orang yang datang ke tempat mereka dengan antusias.

            Apa menariknya mereka jika mereka hidup seperti orang kebanyakan?

            Buat apa mendatangi mereka, toh semuanya sama seperti kita, tak ada yang aneh?

            Keunikan dan keanehan merekalah yang membuat orang-orang tak pernah berhenti mendatangi mereka dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin mempelajari sistem sosial, politik, teknologi, bahkan ada yang ingin menyelesaikan masalah dan mendapatkan doa-doa mujarab.

            Demikian pula jika kita, Indonesia, ingin didatangi oleh orang banyak melalui pintu sektor pariwisata. Kita harus kukuh dan teguh istiqomah dalam cara-cara hidup kita sendiri, tidak  banyak menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak meniru-niru atau mencontek-contek negara ini atau negara itu. Kita harus hidup dalam keunikan kita dan jangan mau dipengaruhi oleh orang lain karena kita memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan berbagai masalah dan menyelaraskan kehidupan. Sudahi menganggap orang lain sebagai negara hebat. Kita hidup saja dalam anugerah kita sendiri. Dengan demikian, kita memiliki daya tarik yang kuat sebagaimana yang dimiliki Suku Baduy dan Kampung Dukuh. Kita pun akan lebih kuat dalam menangkal pengaruh-pengaruh asing yang sangat negatif.

            Terlalu banyak melihat orang lain membuat pikiran dan hidup kita menjadi rusak. Ir. Soekarno pernah mengingatkan bahwa negeri-negeri yang pernah diatur oleh aturan Barat selalu berakhir kusut samut. Salah satunya, ia mencontohkan bagaimana Mexico yang dulunya kuat, besar, dan makmur di bawah kepemimpinan Montezuma menjadi kacau balau setelah diatur oleh pihak Barat. India yang dulunya megah dan dipenuhi para pemikir andal menjadi lemah setelah diatur Inggris. Masih banyak lagi yang dia contohkan dalam Dibawah Bendera Revolusi.

            Kita pun bisa melihat bagaimana carut marutnya Timor Timur setelah ditinggalkan Portugis, kemudian Indonesia yang harus menerima getahnya. Saat ini pun kita menyaksikan dengan jelas bagaimana semakin runyamnya Mesir setelah kekuatan Barat ikut campur terhadap mereka. Demikian pula Libya yang selalu berdarah dan bergoncang setelah Nato menghajar Moamar Khadafi. Hal yang mengerikan dialami pula oleh Irak yang setelah masa Sadam Husein dipimpin oleh Amerika Serikat dan antek-anteknya. Mereka tak mengenal kata tenteram dan damai. Tak ada kemakmuran buat mereka, kecuali perselisihan dan pertengkaran. Afghanistan pun sama tak kunjung beres setelah dicampuri pihak Barat. Somalia pun sama saja.

            Sesungguhnya, mereka yang suka ikut campur hidup orang lain itu sama sekali tidak memiliki jalan yang benar. Selalu kacau. Kita pun hidup ikut-ikutan menjadi kacau karena mengikuti dan mengidolakan orang-orang yang kacau.

            Sesungguhnya, jalan yang benar itu ada di negeri ini, Indonesia. Jika kita mau belajar konsisten dan istiqomah sebagaima Suku Baduy dan Kampung Dukuh, akan ada banyak cahaya yang menyinari dunia seperti Matahari yang terbit dari Timur. Matahari itu mampu menyinari orang lain, tetapi dirinya lebih terang daripada segala yang ada di dunia ini. Dengan demikian, kita akan menjadi bangsa unik, menarik, dan menjadi tujuan banyak orang, baik itu untuk bersitirahat, menyamankan diri, maupun menggali ilmu pengetahuan. Kitalah yang harus memberikan banyak orang pelajaran, bukan kita yang banyak dipengaruhi orang sehingga menjadi semrawut.


            Di sinilah tempat segalanya berasal. Di sinilah tempat banyak cahaya yang masih tertutupi kabut kebodohan.