Showing posts with label Hukuman Mati. Show all posts
Showing posts with label Hukuman Mati. Show all posts

Sunday, 21 August 2016

Freddy Budiman Belum Tentu Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Saya mendengar ceritera bahwa ada ustadz atau penceramah yang memberikan ceramah bahwa Freddy Budiman yang sudah dihukum mati karena peredaran Narkoba itu lebih beruntung daripada kita. Kata ustadz itu Freddy Budiman beruntung karena tahu dengan pasti hari kematiannya. Dengan demikian, ia bisa bertobat dan cepat mengantisipasi agar dosanya bisa diampuni sehingga masuk surga.

            Saya khawatir isi ceramahnya itu dipengaruhi tulisan saya yang lalu berjudul Menegakkan Hukum dengan Cinta. Bisa juga bukan karena tulisan saya, melainkan karena tulisan atau pandangan orang lain. Bisa pula bukan karena siapa-siapa, melainkan karena pemahamannya sendiri.

            Terlepas Sang Ustadz itu mendapatkan inspirasi isi ceramahnya dari siapa, saya merasa perlu untuk meluruskannnya sejauh yang saya pahami, mudah-mudahan saya berada dalam pemikiran yang benar. Apabila tulisan saya yang lalu dibaca dengan lebih benar, saya tidak pernah mengatakan bahwa yang dihukum mati itu akan masuk surga. Tidak semudah itu untuk masuk surga. Saya pun tidak pernah mengatakan bahwa Freddy Budiman tahu dengan pasti hari kematiannya. Tidak ada yang tahu soal hari kematian.

            Bukankah ada terpidana mati lain yang hendak dihukum mati ternyata tidak jadi dihukum mati?
  
          Siapa yang tahu sebelumnya bahwa akhirnya sebagian harus dihukum mati dan  sebagian lagi ditunda?

            Itu semua berada dalam monitoring dan kendali Allah swt.

            Benar bahwa dosa Freddy Budiman atas kejahatan peredaran Narkoba telah dihapus oleh “hukuman mati” yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Dosa dan kesalahannya telah terhapus 100% oleh vonis dan pelaksanaan hukuman mati. Dia tidak akan dimintai pertanggungjawaban lagi soal kejahatannya “yang itu” di akhirat nanti. Akan tetapi, ia masih harus mempertanggungjawabkan dosa-dosanya yang lain, baik dosa terhadap Allah swt maupun terhadap manusia. Mungkin ia telah melakukan banyak dosa yang tidak diselesaikan pertobatannya di dunia ini, misalnya, mabuk-mabukan, melacur, berjudi, tidak beribadat dengan baik, dan lain sebagainya. Mungkin ia pun belum selesai meminta maaf kepada orang-orang pernah disakitinya, dilukainya, atau dicuranginya. Dosa-dosa dan kesalahannya kepada Allah swt dan kepada orang-orang yang mungkin telah disakitinya yang tidak diselesaikan pertobatannya di dunia ini tetap harus akan dipertanggungjawabkan dan diadili di Mahkamah Illahi kelak. Jadi, belum tentu masuk surga. Masih banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan.

            Apabila Freddy Budiman dalam masa penahanan menunggu pelaksanaan hukuman mati telah melakukan banyak pertobatan dengan upaya yang sungguh-sungguh kepada Allah swt dan Allah swt pun telah mengampuninya, gugurlah semua dosanya terhadap Allah swt. Ia bersih dari dosa terhadap Allah swt. Akan tetapi, masih ada yang harus dipertanggungjawabkannya, yaitu dosa terhadap manusia. Apabila selama dalam tahanan ia berupaya sungguh-sungguh meminta maaf kepada orang-orang yang telah disakitinya atau dilukai hatinya dan seluruh manusia yang telah disakitinya dapat memaafkannya, ia menjadi bersih atas segala dosa terhadap manusia. Dengan demikian, kemungkinannya mendapatkan tempat di surga baginya semakin terbuka lebar. Hal tersebut disebabkan Allah swt telah mengampuninya dan manusia telah memaafkannya. Yang tersisa dari dirinya hanyalah kebaikannya dan itu mempermudahnya untuk mendapat surga.

            Persoalannya apakah dia telah bersungguh-sungguh telah bertobat kepada Allah swt dan Allah swt pun telah mengampuninya?

            Kita tidak tahu.

            Apakah dia telah berupaya keras memohon maaf kepada manusia dan manusia yang mungkin pernah disakitinya telah pula memaafkannya?

            Kita juga tidak tahu.

            Hal yang bisa dipastikan hanyalah dosa atas perbuatannya menjadi pengedar Narkoba telah “terhapus” oleh vonis hakim dan pelaksanaan hukuman mati yang telah diterimanya. Urusan itu sudah selesai di dunia ini dan tidak menjadi beban baginya di akhirat.

            Jadi, Freddy Budiman belum tentu masuk surga karena hukuman mati itu.

            Jelas ya?


Mendorong Freddy Budiman Masuk Surga

Peluang bagi Freddy Budiman untuk masuk surga masih sangat terbuka, tetapi upayanya untuk mendapatkan surga sudah berakhir.

            Bingung ya?

            Dia sudah tidak dapat lagi bertobat dan melakukan kebaikan. Satu-satunya yang dapat mendorongnya untuk masuk surga adalah kita-kita ini yang masih hidup. Jika ingin dia masuk surga, caranya adalah keluarganya, teman-temannya, karib kerabatnya, dan orang-orang yang mencintainya jangan pernah bosan mendoakannya dan memohonkan ampun untuknya kepada Allah swt. Semakin banyak dan semakin sering didoakan, peluang memasuki surga bagi Freddy Budiman semakin besar.

            Jangan bosan mendoakannya karena sama sekali tidak rugi bahkan sangat menguntungkan. Hal itu disebabkan ketika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, insyaallah pada saat yang sama ada seribu malaikat yang mendoakan kebaikan untuk kita.

            Di mana ruginya?

            Di samping itu, jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah swt pun akan memudahkan urusan kita. Dengan mendoakan Freddy Budiman berarti pula memudahkan urusannya di alam yang lain. Untuk itu, insyaallah, urusan kita pun, baik di dunia maupun di akhirat, akan diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah swt.

            Di mana ruginya?

            Apanya yang salah?

            Cukupkah hal itu mendorong Freddy Budiman masuk surga?

            Belum!

            Masih ada yang harus dilakukan, yaitu orang-orang yang mungkin pernah disakiti Freddy Budiman harus memaafkannya. Apabila mereka masih belum memaafkannya, urusannya masih belum selesai dan itu tetap harus dipertanggungjawabkan di Pengadilan Akbar Milik Allah swt. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas orang-orang yang mencintai Freddy Budiman untuk tidak letih memohon maaf kepada siapa pun yang merasa pernah disakiti Freddy Budiman.

            Jangan lagi menjadikan Freddy Budiman sebagai komoditas politik dan ekonomi yang menjadi alas panggung bagi popularitas pribadi yang teramat rendah. Freddy Budiman sudah mati. Kalau mencintainya, menghargainya, dan simpatik terhadapnya, doakanlah dia dan rayulah orang-orang yang mungkin pernah disakitinya untuk segera memaafkannya. Itu lebih baik dan lebih mulia.

            Seorang pengedar Narkoba besar yang pernah menghebohkan Indonesia insayaallah bisa menjadi penghuni surga karena telah mempertanggungjawabkan kesalahannya dan atas dorongan orang-orang yang mencintainya untuk terus mendoakannya dan mengupayakannya agar bersih dari dosa terhadap Allah swt dan terhadap manusia. Di samping itu, keluarga dan orang-orang yang mencintainya yang mengupayakan Freddy Budiman agar diampuni Allah swt dan dimaafkan oleh manusia akan mendapatkan pahala yang sangat besar dan sangat banyak pula karena telah mendoakan dan memudahkan orang lain. Itu artinya, mereka yang mencintainya pun telah mendorong pula dirinya sendiri menjadi penghuni surga kelak. Insyaallah.

            Itulah Islam. Itulah indahnya Islam.

            Iya, kan?

            Jika segala yang saya tulis ini salah, itu berasal dari kebodohan saya sendiri dan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Jika segala yang saya tulis ini benar, itu sesungguhnya berasal dari Allah swt.

Thursday, 28 July 2016

Tidak Ada Alasan Menghentikan Hukuman Mati


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Jika hukuman mati sudah ditetapkan, jika palu hakim sudah diketok, hukuman mati itu sesegera mungkin harus dilaksanakan dengan tenang dan percaya diri. Indonesia tidak perlu banyak mendengar mereka yang tidak setuju hukuman mati. Banyak sekali negara di dunia ini yang menentang Indonesia dalam hal hukuman mati. Bahkan, PBB mengkhawatirkan banyaknya hukuman mati di Indonesia. Kritikan-kritikan itu tidak perlu ditanggapi serius, biasa saja. Justru kita harus berbangga diri bahwa Indonesia adalah negara yang sedang serius berusaha membuat rakyat dan negerinya aman dari kejahatan-kejahatan besar dan itu merupakan kemuliaan. Kita harus menunjukkan diri sebagai negara yang tidak menolerir kejahatan-kejahatan keji. Hal itu akan membuat para penjahat dan siapa pun yang ingin merusakkan kehidupan Indonesia berpikir ulang untuk membuat masalah di Indonesia.

            Mungkin banyak yang berpendapat bahwa hukuman mati itu adalah sebuah kemunduran dalam dunia hukum. Saya ingatkan bahwa soal maju-mundur, maju-mundur, cantik-cantik itu hanyalah soal persepsi. Boleh orang mengatakan bahwa hukuman mati adalah sebuah kemunduran. Akan tetapi, bagi saya dan juga bagi banyak orang lainnya, hukuman mati adalah sebuah kemajuan dalam hukum. Saya bukan ahli hukum. Saya hanya manusia yang punya rasa ingin adil dan hidup aman. Hukuman mati adalah sebuah kemajuan bagi bangsa Indonesia yang menunjukkan keberanian untuk memerangi dan menghentikan kejahatan-kejahatan besar yang pantas mendapatkan hukuman mati. Hukuman mati pun merupakan kemajuan dalam memberikan rasa adil kepada para korban dan keluarga korban dari para pelaku kejahatan. Hukuman mati pun merupakan kemajuan dalam kesadaran berpikir bahwa kita, bangsa Indonesia, harus menyiapkan generasi penerus bangsa yang terbebas dari pengaruh Narkoba dan kejahatan lainnya.

            Benar bahwa hukuman mati tidak menghentikan dengan serta merta kejahatan-kejahatan itu. Akan tetapi, kita telah menunjukkan diri sebagai pembenci kejahatan-kejahatan besar itu dan menghalangi agar tidak terjadi lagi. Kejahatan-kejahatan itu tidak pernah berhenti, tetapi kita harus tegas memeranginya. Ini adalah dunia yang selalu ada pihak yang jahat dan pihak yang baik. Kalau semuanya jahat, namanya neraka. Kalau semuanya baik, namanya surga. Kita harus berada pada pihak yang baik, “para pemburu surga”.

            Kalau ada yang bilang bahwa hukuman mati itu “percuma” karena tidak menimbulkan efek jera yang maksimal dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan jahat, sebaiknya katakan saja kepada mereka bahwa “makan” itu adalah “percuma” karena akan lapar lagi lapar lagi. Jadi, makan sama sekali tidak menghentikan rasa lapar. Itu adalah kehidupan. Kalau lapar, ya makan. Kalau ada kejahatan besar, ya hukum mati. Begitu saja kok repot.

            Kalau tidak ingin dihukum mati, ya jangan melakukan kejahatan itu. Kalau tidak ingin ada hukuman mati, ya harus menyadarkan dan mengampanyekan kesadaran kepada masyarakat untuk tidak melakukan kejahatan.

            Negara lain, bahkan PBB boleh menganggap Indonesia masih menggunakan hukum yang terbelakang karena menggunakan hukuman mati. Sebaliknya, kita pun boleh memaki mereka sebagai negara-negara terbelakang karena masih terjebak dalam rasisme, xenophobia (ketakutan terhadap orang asing), dan Islamphobia (ketakutan terhadap Islam). Keterbelakangan mereka justru membuat banyak kemarahan, ketimpangan, terorisme, dan kasus-kasus kekerasan, bahkan pembunuhan di negara mereka sendiri. Jadi, tidak perlu rendah diri jika disebut terbelakang karena sebenarnya kita sedang maju, malahan mereka sendiri yang sedang membuka keterbelakangan dirinya sendiri tanpa rasa malu.

            Bahkan, kalau mau, kita bisa mengejek mereka dengan menggunakan “teori konspirasi” bahwa siapa pun dan negara mana pun yang tidak menginginkan Indonesia menjalankan hukuman mati terhadap para pengedar Narkoba adalah pihak-pihak yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar sejak dulu. Mereka memasukkan “barang-barang haram” itu ke dalam Indonesia agar Indonesia kehilangan generasi muda yang sehat, kuat, beriman, bertakwa, dan berprestasi. Oleh sebab itu, mereka sangat kesal karena kaki tangan dan antek-antek mereka ditangkap, kemudian dihukum mati di Indonesia. Mereka kesal dan kecewa karena mereka kalah, kemudian menggunakan dagangan politik “hak azasi manusia” untuk mendiskreditkan Indonesia karena telah memberlakukan hukuman mati bagi antek-antek mereka.

            Bukankah mereka yang dihukum mati itu mayoritas adalah warga negara asing?

            Bisa begitu kan kita mengejek mereka?

            Kenapa tidak bisa dan tidak boleh?
           


Friday, 3 June 2016

Hukuman Mati untuk Papua

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dengar-dengar di Papua beberapa suku memiliki cara unik dalam menyelesaikan kasus-kasus pembunuhan. Mereka memiliki adat khas yang terkesan adil, tetapi sebenarnya membahayakan.

            Saya dengar kisah bahwa kalau anggota salah satu suku mati dibunuh oleh suku yang lain, penyelesaiannya adalah salah satu anggota suku yang membunuh itu harus mati juga. Hal itu diselesaikan melalui perang suku sampai jumlah orang yang mati dari kedua suku sama jumlahnya.

            Kalaulah memang begitu adat yang mereka miliki, bahaya sekali bagi kelangsungan hidup mereka. Masalahnya adalah jika sudah beberapa orang mati, tetapi belum seimbang juga jumlahnya, perang akan terus berlangsung. Bahkan, perbandingan jumlah orang yang mati di antara kedua suku bisa terus tidak berimbang dan semakin jomplang. Permasalahan tidak pernah selesai dan permusuhan terus berlanjut. Apalagi jika yang mati adalah anak-anak muda yang secara perhitungan manusia masih punya banyak waktu untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun Papua dan bintang-bintang masa depan Papua, pupus mati dalam perang antarsuku. Sayang sekali.

            Saya bukan sok tahu, tetapi itulah yang saya dengar. Kalau salah, ya sorry. Nanti, orang yang cerita sama saya tentang Papua secara salah akan saya kasih tahu agar jangan suka berbohong dan sok tahu.

            Kalaulah apa yang saya dengar itu benar, sebaiknya negara mengambil alih pelaksanaan pembalasan hukuman atas pembunuhan tersebut. Tidak perlu lagi ada perang antarsuku. Negaralah yang wajib melakukan penghukuman kepada orang yang paling bertanggung jawab telah melakukan pembunuhan. Hukuman mati harus dijatuhkan kepada orang yang benar-benar bersalah. Nyawa dibayar nyawa.

            Tampaknya, masyarakat Papua sangat siap dengan hukuman mati dalam arti nyawa dibayar nyawa. Daripada mencari penyelesaian permasalahan dengan perang yang belum tentu selesai secara efektif dan efisien, hukuman mati bagi para pembunuh di Papua adalah yang paling pantas. Jangan ada pilihan hukuman lain, kecuali hukuman mati. Jangan ada hukuman seumur hidup, 20 tahun, atau lainnya jika menyelesaikan kasus pembunuhan dan jika pembunuhnya telah terbukti nyata melakukan pembunuhan. Dengan demikian, keadilan dapat ditegakkan. Pembunuhnya mati dan suku lain yang anggotanya telah terbunuh terpuaskan. Perang pun tidak perlu terjadi.

            Apabila perang antarsuku dapat diredam atau dihilangkan sama sekali dengan cara negara mengambil alih pembalasan penghukuman tersebut, akan ada banyak generasi muda yang mungkin sangat cerdas-cerdas terselamatkan dari kematian akibat perang. Dengan demikian, mereka bisa menapaki kehidupannya dengan lebih tenang pada masa depan untuk diri mereka sendiri, masyarakat Papua, dan Indonesia.

            Hal yang paling penting adalah jangan pedulikan omongan negara lain yang suka mengejek atau menghina Indonesia karena memberlakukan hukuman mati. Dalam hal ini tak salah jika kita mengaku sebagai sahabat Cepot.

            Tahu kan Cepot?

            Iya benar, Cepot yang itu yang dari Karang Tumaritis dalam pewayangan. Wayang golek.

            Cepot kalau sudah yakin terhadap sesuatu, akan bertahan dengan pendapatnya dan tidak mempedulikan pendapat orang lain. Hal itu disebabkan dialah yang tahu tentang dirinya sendiri dibandingkan orang lain.

            “Ceuk aing kaleng, kaleng (kata gue kaleng, kaleng)!tegas Cepot.

            Orang-orang menyalahkan Cepot karena melihat barang yang dipegang Cepot adalah botol. Akan tetapi, Cepot tidak peduli sebanyak apa pun orang yang mengatakan bahwa barang yang dipegangnya adalah botol.

            “Ceuk aing kaleng, kaleng!” Cepot marah.

            Orang lain makin ngotot bahwa itu adalah botol.

            Cepot tidak peduli, “Ceuk aing kaleng, kaleng!”

            Cepot bertahan karena tahu benar apa yang dipegangnya, sedangkan orang lain hanya melihatnya. Adapun Cepot memegangnya, melihatnya, merasakannya, dan memiliki barang itu.

            Ceuk aing kaleng, kaleng!

            Jadi, tidak perlu dengar omongan orang lain jika kita sudah merasa sangat yakin terhadap keputusan kita sendiri yang telah dipertimbangkan dengan sangat matang.

            Ceuk aing kaleng, kaleng!

            Saya juga mendapat beberapa email dari Inggris dan Australia. Mereka menuduh Indonesia sebagai bangsa primitif dan kejam dengan memberlakukan hukuman mati. Awalnya, saya jelaskan mengapa Indonesia membutuhkan hukuman mati sejauh yang saya mengerti. Akan tetapi, mereka tidak juga mau mengerti.

            Bahkan, mereka menantang, “You are my enemy.”

            Jawaban apalagi yang harus saya berikan kepada orang-orang angkuh yang tidak mau mengerti, tetapi hanya mau dimengerti?

            Mereka ingin kita mengerti mereka, tetapi mereka tidak mau mengerti kita.

            Jawaban yang paling pas buat orang-orang arogan semacam mereka adalah sebagaimana sahabat kita, Cepot, “Ceuk aing kaleng, kaleng!”


            Hidup Kaleng!

Friday, 8 January 2016

Saudi Arabia Vs Iran Cuma Pengalihan Isu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Saat ini berita dunia bergeser dari hiruk pikuk Isis beserta aksi-aksinya ke arah perseteruan antara Saudi Arabia versus Iran. Pertengkaran mereka disebabkan dijatuhinya hukuman mati terhadap salah satu ulama Syiah oleh Kerajaan Arab Saudi dengan dakwaan melakukan terorisme. Penjatuhan hukuman mati itu ditentang keras Iran dan rakyat Iran yang kemudian membakar Kedubes Arab di Teheran.

Tidak tahu kenapa saya jadi suka pengen tertawa melihat berita-berita semacam itu. Saya menduga perseteruan itu hanyalah merupakan upaya pengalihan isu dari berita-berita heboh tentang Isis atau merupakan perwujudan ketololan Syiah Iran. Dua hal itulah yang jadi pilihan untuk menilai kejadian itu. Kalau bukan pengalihan isu, ya Syiah Iran yang gobloknya bukan main.

Pandangan saya bahwa kejadian itu adalah pengalihan isu dari isu-isu Isis dan Suriah adalah bahwa para “perancang” huru-hara di Timur Tengah yang melibatkan Isis sudah kebingungan dan kesulitan untuk meneruskan kekacauannya. Kita bisa melihatnya dari betapa beraninya Rusia pasang badan untuk membela Bashar al Assad yang presiden Suriah itu dari berbagai kekuatan yang ingin merubuhkan pemerintahan Bashar al Assad, termasuk dari Isis. Rusia lebih berani dibandingkan Nato. Dia sendirian melakukan aksi-aksi militer dan menjalin kerja sama dengan berbagai kelompok untuk mempertahankan pemerintahan Suriah sekaligus menghancurkan Isis. Berbeda dengan Nato yang selalu teriak-teriak ngajakin negara-negara lain untuk mengeroyok pihak-pihak yang dipandang sebagai musuhnya. Keterlibatan Rusia di Suriah tentu saja membuat situasi menjadi tidak mudah. Artinya, pemerintahan Bashar al Assad tetap kokoh berkuasa, pemberontak Suriah dan Isis makin sulit mengalahkan pemerintah Suriah, dan berbagai rencana membentuk pemerintahan baru di Suriah menjadi tidak jelas.

            Di samping itu, tekanan dunia untuk segera menghentikan petualangan Isis makin keras dan nyata. Saya saja melalui blog ini menyarankan bahwa jika ingin Isis berhenti, jangan diperangi, tetapi hentikan saja bisnis minyaknya. Itu jauh lebih masuk akal dan murah secara ekonomi, sosial, dan militer. Setelah saya menulis saran tersebut, besoknya PBB langsung sepakat untuk menghentikan bisnis Isis; dua hari berikutnya Presiden Suriah Bashar al Assad berteriak bahwa Isis bisa diatasi jika pihak barat atau Nato tidak membantu Isis; seminggu kemudian petinggi Vatikan menyarankan agar menghentikan penjualan senjata pada Isis; Rusia pun tetap bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Turki dan Nato adalah pihak-pihak yang menikmati minyak Isis. Hal-hal ini jelas menjadi hambatan yang serius bagi mereka yang mengeruk keuntungan dari huru-hara di Timur Tengah.

            Tambahan pula, setelah saya mempertanyakan dan mengkritik berbagai berita tidak masuk akal mengenai Isis dan kekacauan di Timur Tengah yang tampak bohongnya, berita-berita aneh itu tidak muncul lagi. Apalagi setelah banyak orang yang melihat kejanggalan dalam hal peristiwa bom Paris yang melibatkan orang-orang yang sama pada berbagai peristiwa, seperti, adanya kumpulan orang-orang yang tampak bersedih karena peristiwa teror, tetapi orang-orang itu selalu ada dan berperan sedih di banyak tempat yang terjadi teror. Mirip orang-orang bayaran yang dibayar untuk sedih jika ada aksi-aksi teror. Hal-hal ini tentu saja membuat para “pembuat berita” kesulitan untuk terus menipu orang dengan berita-berita janggal dan aneh. Dunia sudah tidak bisa lagi ditipu. Banyak sekali orang cerdas yang mampu melakukan analisis mendalam terhadap berita-berita yang beredar.

            Kenyataan-kenyataan yang menjadi hambatan besar inilah yang membuat kesulitan sangat rumit bagi mereka yang menikmati keuntungan dari kesemrawutan di Timur Tengah. Apalagi setelah Isis diberitakan telah mengalami kemunduran pada beberapa tempat, misalnya, kehilangan 40% wilayahnya di Irak. Situasi menjadi lebih tidak menguntungkan bagi para pecinta huru-hara.

            Karena keadaan yang semakin tidak menentu dan sulit diprediksi dengan hasil yang sulit juga diperkirakan untuk mendapatkan minyak dan kekuasaan, bahkan kebusukan mereka bisa semakin terbongkar, mereka pun mengalihkan isu ke peristiwa Saudi Arabia Vs Iran. Dengan demikian, orang-orang pun tidak lagi terlalu memikirkan Isis dan Suriah dalam arti menghentikan rasa penasaran orang tentang apa yang sebenarnya terjadi di Suriah dan apa itu sebenarnya Isis.

            Itu kalau Saudi Arabia Vs Iran dirancang untuk mengalihkan perhatian dunia dari Isis dan Suriah serta pihak-pihak yang berada di belakang mereka. Pengalihan isu itu memang menjadi daya tarik sendiri karena “pembual berita” bisa mengembangkan isu menjadi perseteruan antara Sunni Vs Syiah.

            Kalau Saudi Arabia Vs Iran bukanlah rekayasa dalam arti terjadi tanpa dirancang sebelumnya, saya melihat betapa goblok dan tololnya Iran. Vonis mati bagi ulama Syiah di Saudi Arabia itu adalah urusan kedaulatan hukum Saudi. Iran seharusnya menghormati kedaulatan hukum Saudi Arabia karena memang peristiwa melanggar hukum itu terjadi di Saudi Arabia. Kalau tidak suka terhadap hasil pengadilan Arab dan protes, boleh saja, itu hak, tetapi untuk menghentikan hukuman mati terhadap ulama Syiah, tidak perlu dengan membakar Kedubes Arab Saudi di Teheran. Pembakaran Kedubes itu merupakan penghinaan kepada Arab dan menunjukkan bahwa pemerintah Iran tidak becus dalam menjaga keamanan dan tidak menghormati kedaulatan Arab. Adalah hal yang sangat wajar jika Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Syiah Iran memang tolol.

            Kalau ulama Syiah yang dihukum mati itu adalah orang penting bagi Iran, kenapa tidak dicari jalan lain yang lebih konstitusional oleh Iran terhadap sistem hukum di Arab Saudi?

            Arab Saudi itu kan dikuasai keluarga Al Saud, kenapa tidak “melobi” keluarga itu  agar hukuman mati bisa dibatalkan?

            Kenapa Iran langsung bergerak dan bersikap melakukan aksi-aksi permusuhan yang tidak beradab?

            Malu dong sama orang Indonesia. Saya jadi tambah yakin bahwa bangsa Indonesia adalah diberi anugerah banyak kemuliaan oleh Allah swt. Coba lihat dan ingat ketika ada seorang pembantu yang hendak dipancung mati di Arab Saudi, rakyat Indonesia dengan cepat mengumpulkan koin dan berbagai dana untuk membebaskan saudaranya sebangsa dan setanah air. Aksi pengumpulan dana itu pernah berhasil sukses sehingga hukuman pancung terhadap TKW Indonesia di Arab Saudi dibatalkan.

            Inilah yang saya sebut Syiah Iran itu tolol bukan main. Indonesia aja bisa ngumpulin uang dalam arti menggunakan cara konstitusional untuk membebaskan seorang pembantu. Masa Iran tidak bisa membebaskan  ulama yang dihormatinya dari hukuman mati di Arab Saudi.

            Lihat Indonesia, cuma seorang pembantu aja dibela-belain tanpa harus melakukan aksi kekerasan.

Masa Iran nggak bisa membela ulamanya yang kelihatannya sebagai orang penting di Iran?

            Hei Syiah Iran!

Malu dong sama rakyat Indonesia!

            Pembantu aja dibelain sampai bebas!

            Masa kalian tidak bisa membebaskan orang penting kalian!

            Malu dong! Malu!


            Cetek banget pikiran kalian!

Monday, 18 May 2015

Hukuman Mati




oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya


Hukuman mati tetap perlu dijalankan sampai kapan pun. Orang lain boleh beranggapan bahwa hukuman mati adalah kejam dan bertentangan dengan hak asasi manusia atau lebih tepatnya bertentangan dengan hak asasi para penjahat.


            Hukuman mati adalah hukuman yang diterapkan pada pelaku kejahatan yang pantas mendapatkan hukuman mati. Artinya, kejahatan yang dilakukan itu sangat pantas dihukumi dengan hukuman mati. Orang boleh berdebat mengenai efek hukuman mati, yaitu tidak menghentikan perilaku manusia untuk tidak melakukan kejahatan yang serupa. Artinya, efek jera yang ditimbulkan hukuman mati, masih debatable. Akan tetapi, kejahatan yang sangat mengerikan pelakunya tetap harus dihukum mati, bukan karena soal efek jera, melainkan perbuatan kejinya itu sangat pantas dikenai hukuman mati.


            Indonesia adalah negara yang memberlakukan hukuman mati. Itu sudah sangat bagus karena di samping harus menegakkan hukum dan melindungi masyarakat dari perilaku-perilaku keji, juga sebagai tanda bahwa Indonesia adalah Negara berdaulat. Sekeras apapun kritikan dan tekanan baik dari pihak dalam negeri maupn internasional, hukuman mati tetap harus dilaksanakan. Hal itu akan mengangkat martabat dan derajat bangsa Indonesia bukan hanya dalam kedaulatan hukum dan kedaulatan politik negara, melainkan akan pula mengangkat bidang-bidang kehidupan lainnya di Indonesia. Artinya, dilihat dari segi hubungan internasional, orang luar negeri akan sangat segan dan hormat terhadap Indonesia karena Indonesia tidak mau didikte, dipengaruhi, ataupun dirayu oleh janji-jani manis yang menipu yang bertujuan menghentikan hukuman mati. Efek positif yang lebih luas adalah dunia tidak akan lagi memandang Indonesia dengan sebelah mata atau melakukan hal yang mereka inginkan sesukanya terhadap Indonesia. Kita akan berdiri sejajar, bahkan akan lebih tinggi dibandingkan negara lain dalam setiap bidang kehidupan.


            Memang benar hakim bisa salah dalam menjatuhkan vonis mati, tetapi kesalahan hakim dan penegakkan hukum di Indonesia tidak lantas harus menjadi alasan penghentian hukuman mati. Kekusutan dalam dunia hukum di Indonesia harus benar-benar terus dibenahi secara terus-menerus tanpa lelah beserta tetap menjalankan hukuman mati.


            Jika vonis hakim salah atau teledor dalam menjatuhkan vonis, tanggung jawab besar berada pada pundak hakim. Hakim itu lambat atau cepat akan mendapatkan hukuman di lingkungan dinasnya sendiri, di lingkungan masyarakat, dan yang lebih mengerikan adalah di akhirat. Allah dan malaikat akan menilai dan mencatat perbuatan hakim tersebut untuk diminta pertanggungjawaban di mahkamah akhirat kelak.
 
            Jadi, hukuman mati harus tetap berjalan demi terciptanya keadilan, harga diri, dan kesempatan lebih berperan aktif dalam hubungan internasional. Jangan mempermainkan hukum hanya karena desakan pihak asing dan pihak dalam negeri untuk kemudian mendapatkan “tepuk tangan” sebagai Pembela Hak Asasi Para Penjahat.