Friday, 31 March 2023

FIFA Lemah, Sama Ganjar dan Koster Aja Takut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saling salahkan dan saling tuding akibat keputusan Federal Internationale Football Association (FIFA) membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 terus berlanjut dan mulai ngaco. Sampai-sampai ada isu bahwa berdasarkan laporan intelijen Israel jika Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia, akan terjadi keos, bom di sana-sini, dan keamanan akan memburuk.

            Kok bisa laporan intelijen Israel yang sangat ketat itu bisa bocor kesana-kemari?

            Selain itu, ada isu-isu lain juga yang mulai tidak masuk akal.

            Meskipun saya masih demam, pengen juga nambahin komentar lanjutan dari tulisan yang lalu. FIFA itu organisasi internasional industri terbesar satu-satunya dalam dunia persepakbolaan. FIFA mempunyai 211 negara anggota. Dia bisa mempengaruhi kebijakan para kepala negara. FIFA punya kekuatan yang sangat besar. Anehnya, ketika Timnas Israel ditolak oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster, FIFA mundur dan mengalihkan Piala Dunia U-20 ke negara lain.

            Ganjar Pranowo dan I Wayan Koster itu cuma dua orang gubernur yang berada di bawah kekuasaan Jokowi. Kalau oleh Presiden Jokowi diperintahkan untuk bersedia menjadi tuan rumah yang baik, mereka pasti patuh, apalagi mereka satu partai dengan Jokowi, PDI-P.

            Kok FIFA bisa takut oleh dua orang itu, padahal punya anggota sebanyak 211 negara?

            Lemah banget FIFA.

            Sesungguhnya, baik Ganjar, Koster, PDI-P, maupun Ormas-Ormas Islam sepenuhnya mendukung digelarnya Piala Dunia U-20 di Indonesia. Kita semua siap melaksanakannya. Hal yang ditolak itu adalah kehadiran Timnas Israel. Kan bisa diakalin kalau Bali dan Jawa Tengah menolak Timnas Israel, pertandingan yang melibatkan Israel bisa di provinsi yang tidak menolak Israel, misalnya, di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak menolak kehadiran Timnas Israel. Untuk tempat berlatih, bisa di Kota Bandung yang dipersiapkan Walikota Yana Mulyana di GBLA dan Sidolig. Untuk pertandingannya, bisa di Kabupaten Bandung, Stadion Si Jalak Harupat.

            Kalaupun tidak bisa di seluruh wilayah Indonesia, kan bisa menyewa di negara lain yang dekat dengan Indonesia, Singapura misalnya. Pemerintah dan PSSI bisa melobi pemerintah Singapura untuk menjadi tempat pertandingan yang melibatkan Timnas Israel. Kalah ataupun menangnya Israel, tempatnya di Singapura karena Singapura memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak jalan yang bisa dilakukan jika FIFA bukan penakut dan Baperan, sok berkuasa.

            Sudahi saling tuding dan saling menyalahkan, apalagi menganggap FIFA adalah sesuatu yang harus selalu benar dan harus dimaklumi semua keputusannya meskipun salah. Kita sebaiknya, menatap ke depan, ambil hikmahnya, dan Timnas Indonesia harus lebih baik lagi dikelola dan terus berlatih sehingga bisa ikut piala dunia dengan prestasinya, bukan dari tiket gratis sebagai tuan rumah.

            Saya malah curiga kalau ini disengaja untuk melemahkan Negara Indonesia karena Indonesia saat ini sedang maju lebih cepat pada berbagai bidang dan sedang berseteru dalam sidang WTO, konflik soal sumber daya alam. Tak ada negara lain yang berharap Indonesia maju. Hal ini seperti terhadap Rusia yang sedang berkonflik dengan Ukraina-Amerika Serikat-Barat, kemudian dicoret dari Piala Dunia oleh UEFA dan direstui FIFA. Indonesia sedang berselisih dengan Unieropa di WTO, lalu dibatalkan jadi tuan rumah dan dicoret kepesertaannya dalam Piala Dunia U-20 gara-gara dua gubernurnya menolak Timnas Israel untuk bertanding di tanah air Indonesia. Semua tanda dan fenomena yang terjadi bisa saja berkaitan satu sama lainnya.

            Sampurasun.

Thursday, 30 March 2023

FIFA Baperan dan Arogan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Orang Baperan biasanya menjadi arogan jika mempunyai kekuatan. Kalau tidak punya kekuatan, biasanya mengundurkan diri dari pergaulan. Baperan itu cuma bawa emosi dan perasaan, bukan akal sehat.

            Sesungguhnya, sangat menarik polemik atau pro-kontra kedatangan Timnas Israel ke Indonesia untuk mengikuti perhelatan pertandingan Piala Dunia U-20. Indonesia memang disepakati sebagai tuan rumahnya. Mereka yang menolak kehadiran Israel dan mereka yang menerima Israel sama kuatnya, sama cerdasnya, sama logisnya, sama-sama punya alasan yang sangat masuk akal, mungkin juga sama jumlahnya.

            Tadinya, saya tidak ingin menulis hal ini karena dari awal Ramadhan, saya sakit. Jadi, malas menulis dan memperhatikan situasi. Akan tetapi, karena situasi semakin heboh, saya jadi pengen ikutan berkomentar soal ini.

            Mereka yang menolak Israel menginjakkan kakinya ke tanah air Indonesia beralasan karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Israel masih tidak mengakui kemerdekaan Palestina dan masih membuat rakyat Palestina menderita, Israel adalah penjajah Palestina, serta Indonesia harus patuh pada Pembukaan UUD 1945 yang mengisyaratkan bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka Bumi. Bukan soal perbedaan agama, kecil itu mah, ecek-ecek perbedaan agama mah. Jika Israel sempat menginjakkan kakinya di Bumi Indonesia, itu akan membuat pandangan mulai lemahnya kekuatan Indonesia dalam menghadapi Israel.


Timnas Israel (Foto: GoRiau)

            Mereka yang bersedia menerima Israel beralasan karena Indonesia sudah berjuang bertahun-tahun untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia dan berhasil meraihnya; kehadiran Israel hanya untuk bertanding sepak bola dan tidak akan mengurangi solidaritas Indonesia untuk memperjuangkan Palestina; pergelaran Piala Dunia akan mendorong kemajuan sepak bola Indonesia, meningkatkan ekonomi, pariwisata, dan investasi; jika menolak Israel; Indonesia bisa dikenai sanksi FIFA (Federation Internationale Football Association [Federasi Sepak Bola Internasional]) dan dikucilkan dari persepakbolaan dunia; jangan mencampurkan politik dan olahraga.

            Dalam polemik dan pro-kontra itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menolak kehadiran Timnas Israel di Bali karena kebijakan Israel pada Palestina yang sangat buruk. Hal yang sama pun dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menolak Timnas Israel. Partai penguasa pun, PDI-P, menolak Israel karena berpegang pada pesan dan ajaran Soekarno bahwa selama Israel masih menjajah Palestina, kita harus menolak berhubungan dengan Israel. Di samping itu, ada beberapa Ormas Islam yang juga menolak kehadiran Timnas Israel.

            Bagi saya, perbedaan pandangan itu sangat mengasyikan dan mencerdaskan karena kedua pihak mengemukakan alasan-alasan yang mencerahkan dengan data dan fakta yang benar terjadi, bukan hoax. Perbedaan itu membuat kedua belah pihak mengerahkan kepintaran dan pengalamannya untuk menjadi bahan pertimbangan bagaimana seharusnya kita bersikap.

             Sayangnya, di tengah perdebatan itu, FIFA memutuskan secara sepihak untuk membatalkan pergelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. FIFA akan memilih negara lain untuk melaksanakannya. Inilah yang saya sebut bahwa FIFA itu Baperan, tidak logis, main emosi, lalu arogan. Pemerintah yang menolak kan hanya Gubernur Bali, Gubernur Jawa Tengah, PDI-P, dan beberapa Ormas Islam. Mereka tidak melihat bahwa Indonesia itu luas, lebih dari 30 provinsi. Kalau hanya dua provinsi, kan bisa dilangsungkan di provinsi yang lain. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak terdengar menolak Timnas Israel. Bahkan, Walikota Bandung Yana Mulyana mempersiapkan GBLA dan Sidolig untuk berlatih para pemain dunia yang akan bertanding. Pengundian dan pertandingan kan bisa dilaksanakan di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Bisa juga di provinsi lain yang tidak menolak Israel. FIFA itu Baperan karena mentang-mentang satu-satunya industri terbesar sepakbola di dunia dan merasa harus selalu dipuja dan dielu-elukan. Penolakan dua gubernur saja membuat mereka sakit hati, kecewa.


Foto: Kompas Com


            Indonesia itu bukan dipimpin gubernur, melainkan presiden. Jokowi sendiri tidak menolak. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bahkan getol mempersiapkan berbagai hal untuk Piala Dunia U-20. Kalau Jokowi tidak menolak, berarti Presiden Indonesia bertanggung jawab atas segalanya untuk terjadinya pertandingan di Indonesia. Dia menjamin terselenggaranya pertandingan dunia di Indonesia. Sayangnya, FIFA Baperan, lalu arogan dengan kekuasaannya.

            Nasi sudah menjadi bubur. Tidak bisa lagi dikembalikan menjadi beras. Kalau sudah menjadi bubur, tinggal nambahin kecap, kerupuk, kacang, seledri, daging ayam, telor, dan ati ampela. Jangan lagi berpikir untuk berbalik arah.

            Hal yang sangat disayangkan adalah terjadinya pertengkaran di antara sesama bangsa sendiri akibat keputusan FIFA. Saling ledek, saling tuding, saling menyalahkan. Mestinya, keputusan FIFA itu memperjelas posisi politik Indonesia dan meningkatkan semangat sepakbola Indonesia. Tidak perlu mengagungkan FIFA dan menyalahkan bangsa sendiri. Ingat, FIFA juga tidak jujur-jujur amat. Timnas Rusia pernah dicoret dari Piala Dunia karena menyerang Ukraina, tetapi tidak mencoret Israel yang selalu menyerang Palestina. Dia melakukan standar ganda, Rusia dianggap penjahat, tetapi Israel tidak, padahal selalu membuat Palestina menderita.

            FIFA tidak menghormati Negara Indonesia yang sudah terbukti selalu berusaha mendamaikan perang. FIFA malah memilih menyelamatkan Israel daripada menghormati Indonesia dengan membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia dan mencoret Timnas Indonesia dari keikutsertaan dalam ajang tersebut.

            Sesungguhnya, ini hanya pengulangan sejarah. Dulu juga hal mirip pernah terjadi terhadap Indonesia dalam kepemimpinan Presiden RI Soekarno. Masih gara-gara Israel. Indonesia pernah ditangguhkan keikutsertaannya dalam Olimpiade gara-gara tidak mengundang Israel dan Taiwan dalam Asian Games pada 1962. Dalam pandangan Indonesia, Israel adalah penjajah dan Indonesia harus menghormati rakyat-rakyat Arab. Adapun Taiwan, bukanlah negara, melainkan wilayah dari Cina.

            Hal itu membuat Soekarno marah dan menyatakan keluar dari Komite Internasional Olimpiade (IOC). Soekarno malah membuat pertandingan dunia tandingan, yaitu Ganefo (Game of the Emerging Forces) yang diikuti oleh 59 negara. Soekarno mempertahankan harga dirinya dan bangsanya, tidak mau diatur oleh organisasi dunia yang mempunyai standar ganda, tidak konsisten dalam perilakunya. Mereka menuding Indonesia mencampurkan politik dan olahraga, padahal mereka juga mengucilkan Cina, Arab bersatu, dan Vietnam Utara. Itu juga politik yang mereka campurkan sebenarnya.


Timnas Indonesia (Foto: CNN Indonesia)


            Sudahlah, keputusan Baperan dan arogan FIFA tidak perlu dijadikan bahan pertengkaran di antara sesama bangsa sendiri. Hal ini justru membukakan banyak hikmah bagi kita. Kita harus tetap bertahan pada keyakinan dan kehormatan kita serta meningkatkan prestasi sepakbola dan olahraga kita dengan nyata agar dunia tahu bahwa kita bangsa yang kuat dan selalu melawan ketidakadilan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun olahraga.

            Foto FIFA saya dapatkan dari Kompas Com. Timnas Israel dari GoRiau. Timnas Indonesia dari CNN Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 12 March 2023

Masjid Raya Al Jabbar Kotor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup sementara Masjid Raya Al Jabbar, Bandung, dalam pengumuman awalnya mulai 27 Februari s.d. 13 Maret 2023. Hal itu dilakukan setelah evaluasi beberapa bulan sejak pembukaan untuk penataan, pembersihan, perbaikan, dan lain sebagainya. Apalagi setelah semua bisa melihat bahwa Masjid Raya Al Jabbar memiliki daya tarik yang luar biasa. Setiap hari padat pengunjung, puluhan juta orang sudah bolak-balik ke komplek masjid. Memasuki bulan Ramadhan, pengunjung diperkirakan akan tambah padat, baik oleh mereka  yang beribadat maupun yang ngabuburit. Hal itu harus dipersiapkan dengan lebih baik oleh pengurus masjid. Bulan biasa saja penuh, apalagi bulan Ramadhan, insyaallah makin penuh.

            Pengumuman penutupan itu tentu saja membuat para pedagang dan aktivitas di seputar masjid harus angkat kaki dari sana.  Setelah mereka pergi, tampaklah berserakan sampah di bekas lapak-lapak mereka akibat ulah mereka dan pengunjung juga. Berserakannya sampah ini membuat kaum nyinyirun memiliki bahan untuk menyinyiri Masjid Al Jabbar yang kata mereka kotor. Padahal, yang kotor itu bukan di Masjid Al Jabbar, melainkan jalan di seputar masjid. Di dalam masjidnya sih bersih dan nyaman kok.


Di luar Masjid Raya Al Jabbar (Foto: Liputan6 com)


            Foto seputar Masjid Al Jabbar yang kotor penuh sampah saya dapatkan dari Liputan6 com.

            Di antara kaum nyinyirun malah ada yang mencoba menyamakan Masjid Al Jabbar dengan Masjid Ad Dhirar yang dulu dihancurkan Nabi Muhammad saw. Kata mereka Masjid Ad Dhirar dihancurkan karena tujuannya di luar untuk ibadat dan memiliki tujuan lain. Akan tetapi, mereka tidak menjelaskan tujuan lain itu. Mereka takut terbuka fakta yang sebenarnya. Mereka cuma iri dengan Masjid Raya Al Jabbar dan takut terhadap Ridwan Kamil.

            Saya kasih tahu bahwa Masjid Ad Dhirar itu dihancurkan Nabi Muhammad saw karena dibangun oleh orang-orang munafik dan pendeta Kristen yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakan Nabi Muhammad saw di Madinah. Mereka membangun masjid itu untuk memecah belah umat. Adapun Masjid Al Jabbar tidak dibangun oleh orang munafik atau pendeta Kristen dan tidak untuk memecah belah umat.

            Sampai sini paham, Bro?

            Sebetulnya, sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa komplek Masjid Al Jabar itu terdiri atas empat bagian, yaitu tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota. Di masjidnya sendiri dalam arti “tempat sujud”, tidak kotor, tetap terjaga bersih. Bagian yang kotor adalah di luar masjid, di bagian alun-alun, taman hutan kota, danau retensi, tempat parkir, dan jalan di seputarnya, bukan di masjid yang menjadi tempat sujud itu.




            Sampah yang menjadi penyebab kekotoran itu tentu saja harus menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya petugas kebersihan, melainkan pula para pedagang, dan masyarakat yang datang ke sana. Jadi, yang kotor itu bukan masjid, melainkan tempat lain yang menjadi fasilitas pelengkap Masjid Raya Al Jabbar.

            Sampurasun.

Wednesday, 1 March 2023

Salah Sorga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ibu saya berceritera tentang keluarga temannya. Dia mendapatkan Curhat tentang anak perempuan temannya. Kisah itu berawal dari tiba-tiba anaknya mengikuti pengajian-pengajian tidak jelas tempatnya, tidak jelas gurunya, tidak jelas organisasinya. Sejak mengikuti pengajian itu, anaknya sering berdebat dengan orangtuanya. Anaknya menganggap semua kehidupan ini salah, pemerintah kafir, thagut, orang-orang yang berbeda dengan dirinya adalah zalim, munafik, fasik, dan lain sebagainya. Perangai anaknya menjadi berubah dan tidak lagi mampu taat kepada orangtuanya. Bahkan, berani menyalahkan orangtuanya sendiri dan menganggapnya sesat. Tentu saja, orangtuanya pun melayani anaknya, berdebat sesuai dengan pemahaman agama Islam yang mereka pahami.

            Karena terjadi perbedaan paham, tiba-tiba anaknya pergi dan tidak pulang-pulang. Orangtuanya cemas dan mencari kesana-kemari, tetapi tidak berhasil. Anaknya hilang selama hampir tiga bulan. Ketika kedua orangtuanya sudah hampir putus asa dalam kesedihan kehilangan anak, tiba-tiba suatu malam anak perempuan mereka pulang. Kedua orangtuanya senang bukan main. Disayanginya anaknya dengan penuh cinta, diajaknya berbicara dengan lembut, dikasihi sebagaimana anak yang sangat dicintai. Gembira luar biasa kedua orangtuanya. Anak yang dirindukannya itu telah pulang kembali ke tengah keluarga. Kedua orangtuanya kembali bisa tidur dengan bahagia.

            Keesokan paginya, ibunya memeriksa anaknya itu barangkali ada yang dibutuhkan anaknya untuk dia penuhi. Akan tetapi, anaknya tidak ada. Bahkan, bukan hanya anaknya yang hilang, melainkan pula seprai, bantal, gorden, peralatan dapur, sepatu, alat-alat elektronik, perhiasan, dan lain sebagainya. Anaknya pergi lagi dari rumah dengan membawa banyak barang orangtuanya dari rumah. Kedua orangtuanya kaget bukan main sekaligus sedih. Ternyata, anaknya tidak berubah dan memilih taat kepada orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik dibandingkan taat kepada orangtuanya sendiri. Anaknya memilih untuk pergi dan hidup bersama dengan kelompoknya yang dianggapnya lebih baik.

            Tiba-tiba kedua orangtuanya teringat terhadap salah satu perdebatan dengan anaknya bahwa karena orangtuanya tidak sama dengan dirinya, berarti kafir dan sesat. Kata anaknya, harta orang kafir itu halal untuk dirampas. Harta yang dirampas atau dirampok dari orang kafir itu adalah untuk jihad dan diyakini akan mendapat ganjaran sorga jika berhasil merampoknya.

            Beginilah kalau salah pengajian. Mereka telah memilih sorga yang salah, sorga yang hanya ada dalam khayalan hasil berdusta dan mengarang sendiri. Padahal, sorga yang sebenarnya ada di rumahnya, ada di kedua orangtuanya, ada di ibunya sendiri. Keluarganyalah yang telah melahirkannya, menjaganya, menghidupinya hingga besar. Sayangnya, guru-guru sesat telah menyesatkannya sehingga Sang Anak meninggalkan pintu dan jalan sorga baginya untuk pergi menempuh jalan yang sesat.

            Berbakti kepada kedua orangtua, terutama ibu adalah jalan sorga. Menyakiti, menelantarkan, apalagi merampok mereka adalah jalan kesesatan iblis, yakini itu. Jangan ikuti pengajian aneh-aneh yang tidak mengajarkan cinta, kasih sayang, dan rasa hormat kepada manusia.

            Sampurasun

Friday, 17 February 2023

Teroris Turki Dilindungi Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Gempa di Turki telah menewaskan sangat banyak orang. Gempa Cianjur menewaskan sekitar 600 orang, gempa di Yogyakarta menewaskan 6.000 orang, korban gempa Turki jauh lebih banyak, lebih dari 35.000 orang.

         Bencana besar dengan korban besar telah membuat dunia prihatin dengan melakukan banyak penggalangan dana, baik oleh negara maupun oleh rakyat secara individu. Banyak instansi atau lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan Turki di Indonesia yang memberikan banyak sumbangan ke Turki. Sayangnya, beberapa sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia dituduh teroris oleh pemerintah Erdogan Turki. Erdogan mengeluarkan surat untuk pemerintah Indonesia agar mencurigai beberapa lembaga pendidikan dalam mengumpulkan sumbangan. Turki mempropagandakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan itu tidak akan menyalurkan sumbangannya ke Turki, tetapi akan menggunakannya untuk kegiatan terorisme.


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (CNN Indonesia)


         Tuduhan teroris dari Turki itu diakibatkan lembaga-lembaga pendidikan itu berafiliasi dengan orang besar, ulama Turki, Fethullah Gulen, yang dianggap Turki sebagai pemimpin kudeta di Turki dan merupakan orang penting dalam organisasi Feto yang dimusuhi Turki. Padahal, Fethullah Gulen sendiri membantah hal itu. Dia tidak ingin berpolitik, apalagi kudeta. Dia hanya ingin mengembangkan lembaga pendidikan dan sosial agar anak-anak Turki, anak-anak muslim, dan warga dunia ini hidup lebih berpandangan terbuka, toleran, mencintai ilmu pengetahuan, membenci korupsi, dan dapat hidup harmonis dengan lebih baik lagi. Karena pandangan Ulama Gulen ini banyak mendapatkan perhatian dan dukungan dari rakyat Turki, tampaknya Presiden Turki Erdogan merasa terancam. Kemudian, melakukan banyak tuduhan dan eksekusi terhadap guru-guru dan lembaga pendidikan di Turki yang terkait dengan Fethullah Gulen.


Fethullah Gulen (Foto: kompasiana.com)


         Sebenarnya, sudah sejak sekitar 6 atau 7 tahun lalu, Turki meminta Indonesia untuk menutup sekolah-sekolah yang terhubung dengan Gulen di Indonesia. Akan tetapi, pemerintah Indonesia sangatlah cerdas. Keinginan Turki tidaklah digubris. Sekolah-sekolah itu tetap ada sampai sekarang dan tetap boleh mengumpulkan sumbangan untuk saudara-saudaranya di Turki. Mereka yang belajar di sekolah-sekolah itu bukan hanya anak-anak Turki, melainkan pula anak-anak Indonesia, anak-anak Inggris, Australia, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Mereka baik-baik saja.

         Pengelola sekolah-sekolah itu sudah menegaskan, “Bos kami adalah pemerintah Indonesia dan bukan pemerintah Turki.”


Presiden Indonesia Jokowi (Foto: DW)


         Mereka patuh pada berbagai peraturan di Indonesia dan sangat menghormati Indonesia. Sekolah-sekolah itu mengajarkan perdamaian, kebaikan, dan mata pelajaran sebagaimana umumnya. Mereka yang bersekolah dan terdiri atas berbagai negara itu bahkan mampu lebih terbuka dengan perbedaan ras, agama, suku, dan lain sebagainya. Demikian pula sekolahnya, jika ada nonmuslim berprestasi, tetap diberikan beasiswa sebagaimana muslim lainnya yang berprestasi.

         Keputusan Indonesia sudah benar. Gejolak politik Turki atau kisruh di Turki, bukanlah urusan Indonesia. Itu urusan Turki. Indonesia tidak melihat bahwa Fethullah Gulen dan lembaga-lembaga pendidikannya di Indonesia sebagai teroris atau pengacau.

         Jadi, untuk apa ikut-ikutan keinginan Turki?

         Indonesia punya hak menilai sendiri dan melindungi siapa pun yang berhak dilindungi di Indonesia tanpa harus mengikuti kehendak negara lain. Itu namanya mandiri dalam berpolitik dan berdaulat dalam mengambil keputusan.

         Foto Jokowi saya dapatkan dari DW dan foto Erdogan saya dapatkan dari CNN Indonesia. Foto Fethullah Gulen dari kompasiana com.

            Sampurasun.

Saturday, 4 February 2023

Harusnya, DIbangun Juga Gereja 1,2 Triliun

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata orang-orang sesat dan menyesatkan. Saya bilang mereka sesat karena tidak tahu hal ihwal yang sesungguhnya dan tidak memahami prosesnya, tetapi mengeluarkan pernyataan yang seolah-olah benar atau paling tidak seolah-olah pernyataan pintar, padahal bodohnya bukan main.

            Kalau diperhatikan, mereka itu sesungguhnya tidak sedang membicarakan masjid, gereja, tempat ibadat lain, atau peribadatan. Mereka hanya ingin “menembak” Ridwan Kamil dan merendahkan Provinsi Jawa Barat agar tidak menghalangi halusinasi mereka menjadi kenyataan, yaitu hanya jagoan-jagoan mereka yang harus berada di tampuk kursi kepemimpinan nasional Indonesia. Ini tahun politik, mereka melakukan apa saja dan membicarakan apa saja, termasuk hal-hal bodoh yang sesat dan menyesatkan.

            Mereka mencoba menggiring opini bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ridwan Kamil tidak adil karena hanya memperhatikan umat Islam dengan bukti membangun Masjid Raya Al Jabbar seharga 1,2 triliun, tetapi tidak membangun gereja, pura, klenteng, vihara, atau tempat ibadat agama lain dengan harga yang sama, 1,2 triliun. Pikiran mereka ini sesat dan menyesatkan.

            Kita lihat sejarah Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat. Masjid ini bukanlah keinginan Ridwan Kamil. Masjid ini merupakan keinginan rakyat mayoritas muslim Jawa Barat yang berharap ada masjid setingkat provinsi. Keinginan rakyat ini disuarakan oleh Ormas-Ormas Islam yang kemudian dikuatkan pula oleh partai-partai politik. Setelah itu, ditampung oleh para wakil rakyat di DPRD Jawa Barat dan didiskusikan dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, bukan Ridwan Kamil. Saat itu Ridwan Kamil masih sebagai Walikota Bandung.

            Sampai sini, paham?

            Pemerintah dan DPRD sepakat untuk membangunnya, lalu dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Gubernur Ahmad Heryawan dan Wakil Gubernur Dedi Mizwar. Pembangunan masjid ini tidak selesai pada masa Ahmad Heryawan. Oleh sebab itu, dilanjutkan oleh Ridwan Kamil hingga seperti sekarang ini. Jadi, Masjid Raya Al Jabbar adalah keinginan rakyat muslim Jawa Barat yang disetujui oleh pemerintah dan DPRD Jawa Barat.

            Sekarang, kenapa tidak membangun gereja atau tempat ibadat agama lain seharga 1,2 triliun?

            Kenapa hayoh?

            Jawabannya adalah tidak pernah ada yang usul dari masyarakat nonmuslim untuk membangun tempat ibadat setingkat provinsi. Sebetulnya, sangat mudah dibangun tempat ibadat agama nonmuslim juga asalkan ada yang usul kepada pemerintah Jawa Barat. Uang untuk pembangunan itu kan berasal dari rakyat, semua orang berhak mengusulkan keinginannya. Jadi, tinggal usulkan saja keinginan itu, tidak repot kok.

            Sangat aneh jika menuding Jawa Barat dan Ridwan Kamil tidak adil karena hanya membangun Masjid Raya, tetapi tidak membangun tempat ibadat agama lain.

            Kok menyalahkan, padahal usulan membangun tempat ibadat agama lain juga tidak ada?

            Iya toh?

            Iya toh pisan.

            Usulkan saja dulu, soal disetujui atau tidak, itu urusan belakangan. Hal yang sangat penting adalah bikin dulu usulan yang masuk akal dan sangat logis sehingga Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Barat dapat memahaminya.




            Kalau saya jadi gubernur, lalu mendapatkan usulan untuk membangun tempat ibadat nonmuslim, paling saya cek dulu kelayakan untuk pembangunan tempat tersebut.

            Berapa orang yang akan memanfaatkan bangunan itu di Jawa Barat?

            Di mana tempatnya?

            Berapa luas tanah dan bangunan yang akan dibuat untuk dimanfaatkan ibadat sesuai dengan data-data yang telah dikumpulkan?

Tidak mungkin juga membangun tempat ibadat seharga 1,2 triliun jika hanya akan dimanfaatkan oleh 100 atau 1.000 orang. Pasti harus sesuai dengan peruntukkannya.

            Kalau Masjid Raya Al Jabbar kan bisa dimanfaatkan orang sebanyak satu juta orang per hari. Kalau saya perkirakan dari Shubuh hingga Isya, orang-orang yang datang dan pergi itu setiap harinya bisa mencapai satu juta orang dari berbagai wilayah Indonesia, bahkan dari luar negeri. Wajar kalau membutuhkan dana yang sangat besar, Rp1,2 triliun.

            Itu kalau saya jadi gubernur. Gubernur yang aslinya pasti punya perhitungan yang lebih akurat.

            Jadi, jangan bicara hal sesat dan menyesatkan lagi. Gunakan data dan fakta sebelum berbicara sehingga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan berbicara berdasarkan lamunan dan rasa iri plus takut kalah dalam pemilihan politik.

            Sampurasun.

Tuesday, 31 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Bakalan Sepi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata kaum “nyinyirun” penakut yang stress karena melihat kemegahan Al Jabbar dan kecerdasan Ridwan Kamil. Mereka kebanyakan salah menganalisa karena datanya ngarang sendiri dan tidak punya pengalaman soal masjid. Mereka hanya melihat data bahwa ada lebih dari 50.000 masjid di Jawa Barat dan banyak masjid yang jamaahnya sedikit sehingga terlihat kosong dan sepi kegiatan. Itu tidak salah karena memang di Jawa Barat terlalu banyak masjid yang berdekatan sehingga jamaahnya tampak sepi dari ibadat dan aktivitas keagamaan lainnya. Hal itu disebabkan jamaah tersebar pada banyak masjid kecil dan tidak terkonsentrasi pada satu masjid. Akan tetapi, jika hanya melihat masjid-masjid kecil berdekatan yang sepi, lalu menjadi dasar pemikiran bahwa Masjid Raya Al Jabbar pun akan sepi senasib masjid-masjid kecil, itu adalah analisa yang salah besar, tidak objektif, tidak netral, dan hanya terdorong oleh rasa iri, takut, dan nyinyir. Lemah sekali analisa mereka.

            Dalam pandangan saya, Masjid Raya Al Jabbar tidak akan pernah sepi, bahkan akan semakin ramai dan semakin banyak kegiatan. Hal itu disebabkan banyak hal. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya hanya menjelaskan satu hal ringan yang menjadi dasar pemikiran bahwa Masjid Al Jabbar tidak akan sepi. Lihat saja Masjid Agung Kota Bandung yang berada di Cikapundung, Alun-alun Bandung. Itu adalah masjid setingkat kota, tetapi tidak pernah sepi. Sejak sebelum saya lahir pun tidak pernah sepi. Ibu saya berceritera tentang hal itu. Ketika saya masih sangat kecil pun sangat sering diajak ayah saya ke Masjid Agung Kota Bandung itu untuk shalat, bertemu dan berdiskusi dengan teman-temannya, atau ngabuburit jika Ramadhan tiba. Saya masih ingat ketika masjid itu masih memiliki empat pilar besar sebagai penopang hampir di tengah bangunan, sekarang tak ada lagi tiang itu. Saya masih suka berlari-lari di dalam masjid itu serta meloncati ayah saya dan teman-temannya yang terkadang kelelahan sehingga tidur di dalam masjid. Saya masih ingat bahwa dulu masjid itu terpisah dengan alun-alun yang memiliki air mancur. Sekarang, alun-alun menjadi bagian dari masjid dan air mancurnya menghilang. Masjid itu tidak pernah sepi hingga sekarang, bahkan makin ramai. Masjid itu selalu penuh, kecuali jika pengurus masjid menutupnya. Biasanya, malam tahun baru ditutup untuk menghindari digunakan orang-orang yang sedang tahun baruan hanya untuk tidur dan ngobrol nggak karuan. Shubuhnya baru dibuka lagi.




            Masjid itu tidak pernah sepi sejak dulu hingga sekarang, padahal itu masjid setingkat kota. Al Jabbar adalah masjid setingkat provinsi yang karena kemegahan dan kemodernannya terkenal senasional, bahkan ke seluruh dunia. Itu jelas tidak akan sepi. Sampai hari ini pun selalu ramai dan penuh hingga sekitar pukul 21.00. Masjid itu ditutup hingga menjelang shubuh untuk proses pembersihan karena banyak sekali orang yang datang berdesakan dan kurang disiplin dalam membuang sampah.




            Pengalaman saya juga begitu kok. Ketika istri dan anak perempuan saya puasa, shaum mengganti hutang pada Ramadhan lalu, orang Sunda bilang “ngodoan”, saya ajak mereka untuk ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar supaya ngabuburitnya tambah menyenangkan dan menambah pahala. Sejak masuk wilayah Rancapati, jalanan mulai terasa macet. Ketika di parkiran pun mulai susah cari tempat parkir. Saat berjalan menuju pintu gerbang pelataran alun-alun masjid pun sangat banyak orang. Ketika sudah memasuki gerbang pun, sangat banyak manusia di sana. Saya di komplek masjid sekitar sejak pukul 17.00 s.d. pukul 20.30. Orang-orang masih banyak dan sepertinya tidak mau meninggalkan tempat itu karena makin malam makin indah. Jika saja pintu masjid tidak ditutup dan petugas tidak menginformasikan akan dilakukan pembersihan dan pemeliharaan, akan banyak orang yang rela hingga Shubuh berada di sana. Artinya, masjid itu tidak sepi, di parkiran pun banyak mobil dan bus dengan Nopol bukan Kota Bandung.




            Meskipun saya bilang Masjid Raya Al Jabbar tidak akan pernah sepi, faktanya benar bahwa Al Jabbar bakal sepi. Jangankan masjid, seluruh dunia ini pun akan sepi pada akhirnya karena sudah ketentuannya untuk kiamat. Ketika kiamat tiba, dunia ini sangat sepi. Hanya Allah swt dan Malaikat Izrail Sang Pencabut Nyawa yang ada setelah kehancuran itu. Setelah itu, Allah swt menghentikan hidup Malaikat Izrail sehingga tinggal diri-Nya yang tetap ada.

            Lalu, Allah swt berseru pada seluruh alam semesta, “Wahai Makhluk-makhluk Angkuh, di mana kalian sekarang? Wahai kalian yang tidak mempercayai diri-Ku dan kejadian hari ini, sedang apa kalian? Tunjukkan kekuasaan kalian!”

            Tak ada yang menjawab, tak ada komentar, tak ada suara, semua mati, kecuali Allah swt. Semuanya telah berakhir, kemudian Allah swt menghilangkan semuanya dan membentuk lagi ciptaan baru bernama Akhirat untuk mengambil pertanggungjawaban dari seluruh makhluk ketika berada di alam dunia.

            So, Masjid Raya Al Jabbar pasti sepi jika dilanda kiamat.

            Sampurasun.

Saturday, 28 January 2023

Assalaamualaikum, A Eril

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya




Baru juga saya sampai ke rumah dari tempat kerja, istri saya mengajak ngobrol, “Pah, tadi Mamah ke makam Eril.”

        “Sama siapa?” tanya saya.

        “Sama teman-teman.”

        Eril yang istri saya maksud adalah Emmeril Kahn Mumtadz (alm), putera Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

        “Mau ngapain ke makam Eril?”

        “Mendoakan Eril.”

        “Banyak yang datang ke makam Eril?”

        “Banyak, tadi juga ada rombongan yang datang dari Jakarta.”

        “Oh, iya?”

        “Iya, tapi tadi kebetulan hujan gerimis, jadi baru cuma Mamah sama teman-teman yang mendekat ke makam Eril,” jelas istri saya, “Lihat geura Pah, makamnya bersih, tenang, dan penjaganya baik, sopan lagi, ramah.”

        Ketika mendekat ke makam, istri saya menyapa, “Assalaamualaikum, A Eril.”

        Setelah itu, mereka berdoa bersama di samping makam.









        Mendengar ceritera istri, saya teringat penuturan Ridwan Kamil yang masih bingung sampai hari tentang anaknya, Eril (alm).  Ridwan Kamil menjelaskan bahwa selalu ada ribuan orang yang datang ke makam Eril, entah kenapa. Dia tidak seluruhnya tahu apa saja yang dilakukan Eril selama hidupnya. Sering ada orang yang memberinya hadiah karena mereka mengenal Eril.


Emmeril Kahn Mumtadz (Foto: CNN Indonesia)


        Pernah ada tukang ojek yang memberi Ridwan Kamil lukisan. Tukang ojek itu berceritera bahwa dulu ketika motornya mogok ada seorang anak muda yang mendorong motornya sampai ke pom bensin. Anak muda itu bukan hanya mendorong motornya, melainkan pula mengisi bensin motornya hingga penuh. Uangnya berasal dari anak muda itu. Tukang ojek itu tidak tahu siapa anak muda itu. Setelah Eril meninggal dan fotonya ada di mana-mana, tukang ojek itu baru tahu bahwa anak muda yang menolongnya itu Eril, anak Gubernur Jawa Barat.

        Itu baru satu ceritera. Masih banyak kisah lain tentang kebaikan Eril. Tak heran jika sampai hari ini makamnya tidak pernah sepi dari doa.


Eril bersama ayahnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Isu Bogor - Pikiran Rakyat)

        Emmeril Kahn Mumtadz, lahir di New York, Amerika Serikat; wafat di Bern, Swiss; dimakamkan di Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

        Foto Eril saya dapatkan dari CNN Indonesia, sedangkan yang bersama ayahnya, Ridwan Kamil, saya dapatkan dari Isu Bogor – Pikiran Rakyat.

            Sampurasun.

Wednesday, 25 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Banyak Mudharat-nya

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mereka memang orang-orang aneh. Iri dan takut sama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, tetapi yang dijelek-jelekkan masjid. Seperti hilang akal mereka.

            Mereka bilang Masjid Raya Al Jabbar banyak mudharat-nya. Salah satunya adalah menimbulkan kemacetan. Untuk jalur tranportasi, tidak dipikirkan sebelumnya. Akibatnya, merugikan masyarakat. Rakyat mengeluh. Mereka memanfaatkan kemalasan membaca masyarakat Indonesia yang mudah percaya provokasi tanpa memeriksanya lebih dahulu.

            Memang benar sangat banyak masyarakat yang ingin datang ke Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat. Bukan hanya warga Bandung Raya dan Jawa Barat yang ingin berkunjung, melainkan pula dari seluruh provinsi dan pulau di Indonesia, seperti, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, serta wilayah-wilayah lainnya. Bahkan, dari luar negeri, seperti, Malaysia dan Brunei pun berbondong-bondong ingin ke Masjid Raya Al Jabbar karena masjid seperti itu hanya satu-satunya di dunia ini dengan segala kemodernannya. Foto Masjid Raya Al Jabbar saya dapatkan dari Tirto ID.


Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat (Foto Tirto.ID)


            Runtunan manusia yang datang itu jelas menimbulkan kemacetan dan itu sudah diperhitungkan sebelumnya. Ridwan Kamil sudah menyiapkan jalur untuk kendaraan roda empat atau lebih adalah menggunakan Pintu Tol 149 Gedebage agar tidak menimbulkan kemacetan. Akan tetapi, sayangnya, jalan tol yang menuju pintu tol 149 itu amblas sehingga tidak aman untuk dilewati. Oleh sebab itu, Kementerian PUPR melarang rakyat untuk melalui jalan itu. Akibatnya, rakyat yang sangat ingin ke Masjid Raya Al Jabbar terpaksa harus menggunakan Jln. Cimencrang yang sudah pasti menimbulkan kemacetan. Foto Pintu Tol 149 Gedebage yang ditutup saya dapatkan dari Media Tata Ruang.


Pintu Tol 149 ditutup Kementerian PUPR (Foto: Media Tata Ruang)


            Sampai Januari 2023 ini, jalan tol menuju pintu 149 Gedebage ini masih diaudit. Proses ini memang diperlukan agar betul-betul aman untuk dilalui. Jadi, kemacetan bukanlah disebabkan tidak adanya persiapan oleh Provinsi Jawa Barat, melainkan ditutupnya pintu tol 149 oleh kementerian PUPR.

            Paham, Bro?

            Kudu paham atuh, masa hal sepele saja tidak paham.

            Hal ini sudah dijelaskan oleh Ridwan Kamil sendiri sejak awal sebenarnya. Akan tetapi, kemacetan akibat kebijakan kementerian PUPR ini dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan Masjid Raya Al Jabbar dan Ridwan Kamil. Kacau mereka mah. Orang Indonesia yang kurang periksa pun ikut-ikutan menyalahkan Ridwan Kamil. Makanya, kalau dapat informasi itu harus diperiksa dulu dengan baik, jangan langsung percaya. Bisa berakibat dosa lho.

            Meskipun demikian, meskipun bukan salah dirinya, Ridwan Kamil meminta maaf dan menginformasikan bahwa memang sedang berencana membangun jalan akses melalui samping Polda Jawa Barat agar bisa langsung masuk pula dari Bypass Soekarno-Hatta hingga ke halaman Masjid Raya Al Jabbar. Dengan demikian, jalur masuknya bertambah, bisa menggunakan tol jika sudah aman dilalui, bisa pula melalui Jln. Soekarno-Hatta yang jauh lebih lebar dibandingkan jalan biasa itu. Foto Ridwan Kamil bersama anaknya saya dapatkan dari Pikiran Rakyat.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Pikiran Rakyat)


            Begitu, Bro.

            Kalem, Pilpres masih lama. Jangan suka menjelek-jelekkan orang apalagi fitnah hanya karena takut jagoannya kalah dalam pemilihan. Biasa saja. Ada takdir Allah swt untuk hal itu.

            Hayu ah.

            Sampurasun.