Tuesday, 10 November 2015

Mendoakan Orang yang Tidak Jelas Adalah Kebegoan



oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Doa adalah senjata orang beriman. Itu jelas. Doa bisa menembus batas waktu dan tempat. Ia akan menarik energi ketuhanan sebagaimana kalimat-kalimat yang dipanjatkan dan akan memberikan energi ekstra bagi pendoanya. Orang yang gemar berdoa hatinya akan lembut dan penuh percaya diri dalam menapaki kehidupan ini. Allah swt adalah satu-satunya zat yang membuatnya kuat dan tenang sepanjang hidupnya.

            Doa pun berarti permohonan agar Allah swt memberikan atau menganugerahkan sesuatu sesuai dengan keinginan pendoanya. Doa pun berarti pengakuan diri bahwa pendoa adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan dari Zat Mahakuat, Allah swt.

            Berdoa untuk orang lain adalah sangat baik. Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa jika kita berdoa untuk kebaikan orang lain, saat itu pula ada seribu malaikat yang berdoa untuk kita. Jadi, berdoa untuk orang lain itu memiliki manfaat positif pula bagi pendoanya yang jauh berlipat ganda kebaikannya dibandingkan dengan doa yang kita panjatkan.

            Berdoa untuk orang lain adalah bagus. Akan tetapi, akan menjadi aneh jika kita mendoakan orang-orang yang tidak jelas, orang-orang yang tidak kita ketahui manfaatnya bagi diri kita, orang-orang yang hanya diklaim sebagai orang baik tanpa kita tahu sejauh mana kebaikannya, orang-orang yang hanya diiklankan sebagai pemimpin tanpa kita tahu apa manfaatnya dia bagi kita, orang-orang yang hanya dikampanyekan sebagai orang shaleh tanpa kita tahu dengan jelas keshalehannya.

            Hal yang lebih lucu adalah jika mendoakan pemimpin negara lain yang sama sekali tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita. Bahkan, ada banyak orang di Indonesia ini yang begonya bukan main. Orang-orang bego ini mendoakan pemimpin negara lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah modar sejak lama dan menginginkan orang-orang Indonesia serta Negara Indonesia untuk mengekor pada para pemimpin negara lain itu. Aneh. Padahal, orang-orang bego itu sendiri tidak pernah mendapatkan manfaat apa pun dari orang yang disanjung-sanjungnya itu. Aneh bin tolol. Begonya, mereka yakin bahwa kebegoannya itu adalah suatu kebaikan. Benar-benar goblok. Gilanya lagi orang-orang bego itu bikin-bikin acara seperti tradisi negara lain yang aneh dan dianggap suatu ritual utama sesuai anjuran dari para pemimpin negara lain itu. Kusut pikiran mereka itu.

Ngapain sih mereka melakukan hal-hal tolol serupa itu?

Pernah mendapat keuntungan apa sih dari para pemimpin negara lain itu?

Mengapa begitu yakin jika mengikuti para pemimpin yang tidak bermanfaat itu bakalan masuk sorga?

Emang pernah ada jaminan dari Allah swt bahwa mereka itu adalah sudah dipastikan masuk sorga?

Benar-benar herman saya … eh … heran saya.

Nih, saya kasih tahu bahwa yang lebih baik kita doakan itu adalah Ir. Soekarno, Proklamator RI, yang sejak muda sudah mencintai bangsanya dan menderita berulang-ulang ditahan pihak kolonialis. Dia berjuang untuk kita dan kita pun mendapatkan manfaat dari Ir. Soekarno. Dia adalah orang yang sangat pantas didoakan daripada mendoakan pemimpin negara lain yang tidak jelas juntrungnya.

Yang pantas didoakan itu adalah Jenderal Sudirman yang sekuat tenaga dalam keadaan sakit keluar masuk hutan untuk kemerdekaan Indonesia. Meskipun sudah dinasihati banyak orang untuk beristirahat, ia tidak mau berhenti berjuang.

Ia dengan tegas dalam keadaan sakit parah mengatakan, “Sudirman boleh sakit, tetapi Jenderal Sudirman tidak boleh sakit.”

Hebat kan perjuangannya?

Kita orang Indonesia mendapatkan manfaat dan keuntungan dari sepak terjangnya Jenderal Besar Sudirman. Bodoh jika kita merasa dirugikan oleh Jenderal Sudirman. Dialah yang lebih berhak untuk kita doakan dibandingkan para petinggi negara lain yang gemar mengafirkan orang itu.

Yang pantas didoakan itu adalah Mohammad Natsir yang banyak memberikan pencerahan dan pelajaran berharga bagi Indonesia. Ia adalah intelektual nomor wahid yang pikirannya tajam dan jauh ke depan sehingga bangsa Indonesia mendapatkan banyak wawasan dalam berbangsa dan bernegara. Dia adalah orang yang pantas kita doakan daripada orang-orang yang mengklaim diri sebagai orang yang dekat dengan Tuhan, tetapi gemar berbohong.

Yang pantas didoakan dan didengar nasihatnya itu adalah Prabu Kian Santang, Buya Hamka, Tjut Nyak Dhien, Tuanku Tambusai, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Ternate, Hasanuddin, dan ribuan pahlawan Indonesia lainnya yang telah bertaruh nyawa untuk kita. Sangatlah goblok kita jika mendoakan orang-orang yang hanya dikabarkan sebagai orang berilmu, tetapi justru menebar perpecahan di antara kita.

Tradisi yang pantas diikuti adalah tradisi yang diciptakan para wali. Para wali itu menciptakan tradisi untuk suasana gotong royong, kebersamaan, dan harmonisasi kehidupan. Beda banget dengan tradisi yang dijalankan di luar negeri yang diklaim sebagai ritual utama, tetapi penuh dengan kekerasan dan menumbuhkan dendam serta kebencian.

Kalian mengerti apa yang saya tulis ini?

Kebangetan kalau kalian tidak mengerti!

Yang pantas kita doakan dan kita dengar nasihatnya adalah mereka yang benar-benar mencintai kita dan membuktikannya dalam sepanjang hidup mereka, bukan orang-orang yang berasal dari luar negeri yang hanya berupaya menyebarkan pengaruh dan menimbulkan kekisruhan di antara kita, bahkan sama sekali tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita.

Sudah jangan berperilaku bego lagi ngikut-ngikut orang-orang yang hanya mengklaim diri sebagai orang benar, tetapi tidak membuktikan diri sebagai orang yang mencintai kita dan peduli dengan cinta itu sendiri.

Kalian ngerti ini?

Harus!



Sunday, 8 November 2015

Yang Muda Gampang Marah, Yang Tua Kurang Ajar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Terlalu lama kita meninggalkan jiwa-jiwa dan nilai-nilai beradab yang ditanamkan orang tua kita. Saking terlalu lamanya, kita jadi tidak mampu lagi mengenal, bahkan mempraktikan nilai-nilai yang penuh keberadaban itu. Celakanya, banyak dari kita yang menganggap bahwa orang luar negeri jauh lebih beradab dibandingkan kita. Akibatnya, kita menganggap diri harus selalu mengekor cara-cara hidup mereka yang justru tidak beradab atau tingkat keberadabannya jauh di bawah kita.

Hal kecil yang sudah lama hilang adalah rasa “menghormati” dan rasa “menyayangi”. Orang tua kita dulu menanamkan kalimat-kalimat bertuah dan indah agar hidup harmonis dan saling menghormati-menyayangi. Akan tetapi, kalimat-kalimat itu tergerus hancur hampir berantakan karena kita hidup dengan menggunakan nilai-nilai asing yang sama sekali bukan berasal dari diri kita.

Saya masih ingat bagaimana kedua orangtua saya mengajarkan, “Harus menghormati yang lebih tua dan harus menyayangi yang lebih muda.”

Ini ajaran leluhur Nusantara yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam. Tentu saja, ketika saya masih kecil, orangtua saya menanamkan kalimat itu agar saya menyayangi dan menjaga adik-adik saya serta menghormati kakak-kakak saya agar keluarga bisa harmonis dan tidak banyak persengketaan. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlaku dalam lingkungan keluarga, kemudian terbawa ke lingkungan tetangga, sekolah, dan lainnya. Saat itu begitu mudah untuk menyayangi dan menghormati karena hampir setiap keluarga mengajarkan hal yang sama.

Sayangnya, perkembangan nilai-nilai tersebut terdistorsi oleh keharusan untuk bersikap kritis dengan meminggirkan sopan santun yang menjadi penjaga rasa dan emosi. Keangkuhan menjadi muncul tatkala sikap kritis tersebut mampu mendobrak berbagai kekakuan yang sejak lama terjadi. Seharusnya, ketika mendapatkan kebenaran dan kesempatan untuk mempublikasikan kebenaran itu terbuka lebar, kemudian diterima berbagai pihak, kita menjadi bersyukur telah memberikan sumbangan berupa perubahan yang positif.

Keangkuhan dalam menyampaikan kritik tanpa memperhatikan keberadaban pun diperparah oleh contoh-contoh yang berasal dari luar negeri. Kita dengan mudahnya menganggap orang luar negeri sebagai lebih hebat dengan kebebasan berpendapat yang justru merusakkan hubungan di antara manusia. Tak punya rasa hormat lagi terhadap yang lebih tua, bahkan orangtua sendiri; tak mempedulikan kedudukan atau jabatan orang yang akan kita kritik; menjatuhkan wibawa dan martabat orang lain; terjebak dalam keangkuhan dan kompetisi yang mengerikan; meregangkan hubungan kekerabatan; saudara sedarah tak lagi bertegur sapa, bahkan menjadi lawan sengketa; mudah marah dan emosian.

Saya sangat heran campur sedih ketika ada mahasiswa yang mengajukan audiensi kepada instansi terkait, lalu sebelum beraudiensi memaki-maki dulu Sang Pejabat di jalanan. Padahal, Sang Pejabat tersebut bersedia menerima mereka dengan baik.

Mengapa harus dimulai dengan makian-makian di tengah jalan?

Kan audiensinya belum terjadi?

Kalau ternyata dalam audiensi tidak mendapatkan penjelasan dan tanggapan yang positif dari pihak penguasa, bolehlah makian-makian itu dilontarkan. Akan tetapi, penjelasan belum diberikan, tanggapan belum ada, bahkan akan diterima dengan baik, memaki-maki dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh sudah diteriakkan. Aneh.

Itu tandanya sudah tidak ada lagi rasa hormat kepada yang lebih tua. Yang muda gampang marah.

Demikian pula sebaliknya, orang yang lebih tua dan berkuasa tidak lagi menjadi pengayom dan menyayangi yang lebih muda. Mereka terjebak dalam keangkuhan dan kenikmatan dalam menduduki jabatannya. Mereka menganggap bahwa kedudukannya itu merupakan keberhasilan, bukan lagi tanggung jawab. Mereka banyak yang menggunakan usia, wibawa, dan kewenangannya untuk berbuat curang kepada orang banyak dan menipu yang lebih muda. Korupsi tidak berhenti; tidak adil; berleha-leha; tidak memiliki sensitivitas tinggi atas keadaan masyarakat; melakukan kerja sama-kerja sama rahasia yang merugikan negara; membuat polarisasi di tengah masyarakat; mudah menuduh; tidak melindungi; kasar dan keras.

Itu tandanya sudah tidak ada lagi rasa menyayangi kepada yang lebih muda. Yang tua dan berkuasa kurang ajar memang.

Mau aman, tenteram bagaimana kalau sudah begini?

Yang muda emosian, gampang marah, dan mudah memaki. Yang tua nggak mau kalah, curang, dan kasar.

Semuanya jadi semrawut dan kacau balau. Semua urusan dan permasalahan hanya berakhir pada kondisi “kalah” atau “menang”. Kekalahan atau kemenangan itu mempunyai hasil yang sama, yaitu kalau tidak dendam, pasti angkuh.

Cobalah untuk kembali pada keagungan dan keberadaban “para sepuh” kita yang memberikan arah agar kita dapat hidup lebiih harmonis dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijak dan cerdas dengan hati penuh keikhlasan. Kritikan yang santun dan empati yang tinggi terhadap hidup dan kehidupan ini akan menyelesaikan banyak masalah dengan tuntas dan baik

Orang Sunda bilang, “Laukna beunang, caina herang”, ‘Ikannya dapat, airnya tetap bening’. Jadi, tujuan tercapai, permasalahan bisa diselesaikan, suasana tetap adem, tidak keruh.

Yuk, kita kembali pada ajaran orang tua kita yang teramat beradab. Jangan tertipu dengan cara hidup orang asing yang selintas seperti baik, tetapi sesungguhnya menjerumuskan kita ke dalam situasi yang semrawut.


Demi Ibu Pertiwi.

Monday, 2 November 2015

Wasit Goblog!



oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pernah dengar makian Wasit Goblog!, ‘Wasit Goblok’?

Pernah dengar supporter sepakbola yang teriak-teriak minta pemain bola yang sedang main di lapangan diganti?

Pernah dengar ada penonton bola yang mengomentari permainan sepakbola yang seolah-olah lebih pintar dibandingkan dengan pemain bola dan pelatih bola?

Penggemar dan pemerhati sepakbola pasti pernah mendengar itu semua. Pasti pernah. Tidak perlu bohong.

Dulu saya sering sekali mendengar hal itu. Meskipun saya bukan penggemar dan bukan pula penonton sepakbola yang setia, tetap saja sekali-sekali memperhatikan dengan rasa kesal di hati. Memang sangat ngeselin kalo nonton sepakbola, terutama sepakbola kita, Indonesia. Rasa-rasanya jauh banget kalau mau manggung di pentas dunia. Ngimpiii!

Yang kasihan adalah tetangga-tetangga ibu saya. Orangtua saya itu punya banyak tetangga yang profesinya wasit. Ada wasit sepakbola, voli, tenis meja, basket, bulu tangkis, dan tinju. Mereka semua wasit-wasit berkelas nasional, mungkin juga internasional. Kalau saya sebut namanya, pasti banyak yang kenal, tapi gak perlu lah disebut namanya, kasihan. Ibu saya sering sekali mendapat Curhat dari para istri wasit itu. Kan ibu-ibu itu punya banyak gank. Ada grup pengajian, grup senam, grup terapi, grup arisan, dan lain-lain. Ibu saya sering ceritera sama saya bahwa para istri wasit itu sering sedih, kesal, dan marah. Soalnya, setiap mereka keluar rumah, sering sekali mendengar makian-makian Wasit Goblok, Ganti Wasit, Wasit Kena Suap, dan lain sebagainya yang diiringi oleh kata-kata yang berasal dari kebun binatang dan WC. Apalagi kalau Persib Bandung sedang main atau habis main, baik itu di Stadion Jalak Harupat, Siliwangi, atau stadion lainnya. Lebih-lebih kalau Persib Bandung menderita kekalahan. Makian-makian itu memekakkan telinga mereka dan itu terjadi di sepanjang perjalanan mereka. Itu terjadi setiap hari. Memang orang-orang yang memaki para wasit itu tidak secara langsung memaki ibu-ibu itu karena tidak tahu bahwa ibu-ibu itu istri para wasit. Akan tetapi, ibu-ibu itu jadi merasa terintimidasi karena suami mereka adalah para wasit. Meskipun bisa jadi bukan suami mereka yang menjadi wasit goblok, tetapi merasa tertekan juga. Kasihan kan?

Akan tetapi, sepanjang perjalanan Piala Presiden lalu, saya tak pernah mendengar makian-makian itu lagi. Jujur tidak pernah dengar lagi. Tidak ada lagi supporter yang teriak minta kepada pelatih untuk memainkan Si Ini atau Si Itu, mengganti Si Ini atau Si Itu. Tak ada lagi celoteh atau komentar yang sok pintar melebihi para pemain bola. Semua menonton dengan asyik dan berharap kesebelasan kesayangannya menang.

Wow, aneh kan?

Tak ada lagi perilaku atau kata-kata kasar yang meluncur pada wasit, pelatih, maupun pemain bola.

Indah bukan?

Jadi, saya menduga memang dulu sebelum ada Piala Presiden mungkin ada wasit goblok yang terima suap. Mungkin juga ada pemain bola tolol yang kena suap sehingga tidak memuaskan penonton pendukungnya. Bisa jadi pula ada pelatih bego yang juga kena suap sehingga memainkan pemain yang kurang berkualitas. Bahkan, eh … saya pernah dengar sendiri ada kabar seorang pemain cadangan di kesebelasan … duh lupa lagi nama kesebelasannya … yang mengaku bahwa harus menyuap pelatih agar bisa main dan tidak melulu duduk di kursi cadangan. Paraaah banget!

Jika kita ingin sepakbola kita berkualitas dengan baik, fair play harus dijaga. Prestasi lebih utama, uang belakangan aja. Rezeki itu sudah diatur Allah swt, tenang aja. Pelatihan harus lebih ditingkatkan. Dukungan publik dan pemerintah jangan hanya terbatas pada pembiayaan, izin, dan support, tetapi juga dengan kritik dan pengawasan menyeluruh agar permainan benar-benar menghibur, penuh prestasi, bersih, fair play, dan membanggakan.

Tonjok aja para penyuap dan yang disuap. Mereka itu perusak suasana. Mereka hanyalah orang-orang yang gila hormat dan gemar berjudi. Mereka gak peduli sepakbola Indonesia maju atau mati. Bagi mereka cuma duit, duit, dan duit. Mending kalo duitnya halal. Yang jelas pasti uang haram dan tega dibagikan kepada anak bininya. Gila mereka.

Ada seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri yang bilang sama saya, “Jadi, selama ini kita teriak-teriak mendukung tim kita enggak ada gunanya. Kan semuanya sudah diketahui hasilnya dan diatur sama para mafia. Kita hanya jadi tertipu.”


So?

Ateis Keturunan Monyet Sirkus

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebenarnya, saya tidak ingin-ingin amat menulis tulisan ini. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang bisa ditulis. Akan tetapi, saya merasa harus menulis ini karena takut lupa atau hilang bahannya. Tulisan ini merupakan perdebatan saya dengan orang Jerman yang menggunakan nama G. Ten Brink. Dia jelas kalah telak dan sadar kekalahannya. Oleh sebab itu, dia berusaha lari dari kekalahannya dengan cara menghapus postingannya ketika berdebat dengan saya. Dia mungkin malu karena kalah debat. Jadi, tulisan ini dibuat agar dokumentasi perdebatan itu tidak hilang. Saya segera menulisnya sebelum benar-benar lupa isi postingan orang Jerman itu.

            Perdebatan itu terjadi dalam sebuah video di Youtube yang berjudul Muhammad & His 6 Year Old Bride: Stupid Muslim Comments 1, ‘Muhammad & Pengantinnya Yang Berusia 6 Tahun: Komentar-Komentar Orang Islam Bodoh 1’. Video ini dibuat kemungkinan oleh orang Inggris yang menggunakan nama Veganatheis. Video ini merupakan video pertama dari lima puluh video yang isinya diakui oleh pembuat video sebagai komentar-komentar bodoh orang-orang Islam tentang Islam.

            Bagi saya, video ini sungguh lucu dan saya menontonnya sambil tertawa terbahak-bahak. Ia dengan jelas menyalahkan dan menghina Nabi Muhammad saw yang menikah dengan Siti Aisyah ra yang masih berusia enam tahun. Ia menuduh Nabi Muhammad saw sebagai pedofil yang melakukan perkosaan terhadap gadis enam tahun. Padahal, kita tahu bahwa pernikahan itu atas dasar suka sama suka dan mendapat restu dari ayah Aisyah ra, Abu Bakar as Shidiq. Artinya, tak ada perkosaan. Di samping itu, pernikahan itu jauh berbeda dengan kasus pedofilia. Korban pedofilia adalah korban perkosaan. Biasanya, korban merasa sangat dirugikan, depresi, kehilangan masa depan, terhina, murung, sedih, teraniaya, mengucilkan diri, tak punya harapan lagi, dan sebagainya. Akan tetapi, itu semua tidak terjadi terhadap diri Aisyah ra. Dia adalah perempuan periang, cantik, cerdas, penghapal Al Quran yang sangat diandalkan, dan sangat memuja suaminya, Muhammad saw. Kita bisa melihatnya dari 2.600 hadits-hadits yang bersumber dari Aisyah ra. Semuanya berisi puja dan puji kepada Muhammad saw. Termasuk hadits-hadits yang bersumber dari dirinya adalah hadits-hadits tentang bagaimana cara membina rumah tangga yang baik. Bahkan, Siti Aisyah ra memiliki posisi yang terhormat sampai hari ini. Ia adalah Ummul Muminin, ‘Ibu bagi Orang-orang Beriman’.

Mungkinkah korban pedofilia hidup seperti Aisyah ra yang riang, cerdas, memuji suami, mengajarkan membina rumah tangga, dan bergelar sangat terhormat di kalangan umat Islam dari zaman dulu sampai dengan hari ini?

Tidak mungkin, bukan?

Di dalam video itu pun dijelaskan kampanye para ateis, yaitu Belief Is Not Same with Knowledge, ‘Keimanan Tidak Sama dengan Pengetahuan’. Padahal, Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan, Allah swt menegaskan bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Isi utama dari video itu adalah komentar-komentar bodoh yang diakuinya berasal dari orang-orang Islam. Memang benar, komentar-komentar yang katanya berasal dari orang Islam itu sangat lemah dan mudah dipatahkan. Akan tetapi, sayang sekali pembuat video itu banyak bohongnya karena saya bisa dengan mudah melihat bahwa banyak sekali komentar yang pasti dari bukan orang Islam, dalam kata lain dia membuat sendiri komentar-komentar bodoh itu, lalu disebutkan berasal dari orang Islam untuk menunjukkan bahwa kaum muslim itu bodoh. Meskipun demikian, ada juga komentar-komentar lemah yang mirip dari orang-orang Islam, tetapi komentar-komentar itu berasal seperti dari orang-orang Islam yang lemah pemahaman Islam-nya.

Setelah melihat tayangan video yang “membodohkan” banyak manusia itu, saya iseng saja menantang pembuat video itu untuk berdebat. Begini saya menantang dia, tentu saja dalam bahasa Inggris. Saya di sini menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia semua.

Hahahahaha … terima kasih … hahahahaha … video ini sangat menghibur. Pembuat video ini telah menunjukkan betapa bodohnya dirinya. Video ini berisi penuh dengan omong kosong, dibuat tidak dengan menggunakan ilmu pengetahuan … hahahahahaha.

Kamu ingin berdebat?

Coba berdebat denganku!

Aku akan tunjukkan betapa tololnya kamu. Hal ini sangat sangat mudah, semudah menjentikkan jari tanganku. Maaf jika kamu tidak memahami kalimat-kalimatku. Aku orang Indonesia.

Kalian harus mempelajari orang-orang ateis dan agnostik di Indonesia pada masa lalu. Mereka hampir menguasai negara, tetapi mereka terlalu tolol. Akibatnya, mereka dimusnahkan atau bersembunyi. Mereka penuh dengan omong kosong. Kami menganggapnya orang-orang bodoh yang terbuang …. Hahahahahaha …. Mereka selalu membuat kesemrawutan di masyarakat… hahahahaha …..

Komentar saya itu tidak mendapat tanggapan dari Sang Pembuat Video, tetapi mendapat jawaban dari orang-orang lain. Ada sekitar enam orang yang menanggapi komentar saya. Dari keenam itu, dua orang mendukung saya namanya Alex Marxson dan MegaDodsi. Keduanya menyatakan bahwa pembuat video dan para pendukungnya terlalu pengecut berdebat dengan saya. Bahkan, mereka memancing orang-orang untuk segera berdebat dengan saya.

Memang muncul yang berani berdebat dengan saya. Akan tetapi, semuanya kalah. Ada satu orang yang perdebatannya dengan saya sengaja ditulis di sini karena dia menghapus “jejak” perdebatan itu, sedangkan saya menginginkan perdebatan itu tetap ada di sana tanpa dihapus agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Begini Si G. Ten Brink menimpali saya. Dia orang Jerman yang terkenal dengan ajaran Hitler yang menganggap diri sebagai ras terhebat di kolong langit. Saya mencoba mengingat-ingat kembali kata-katanya karena dia sudah menghapusnya, tinggal komentar saya yang masih tetap ada di video itu.


G. Ten Brink

Kamu banyak tertawa. Tertawa kamu itu menunjukkan kamu kalah berdebat. Apakah kamu berdebat dengan menggunakan Taqiya?

Komentar kamu sangat membuatku bingung.

Tertawa kamu itu adalah tertawa penuh kepalsuan untuk menutupi kelemahan kamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Taqiya?

Hahahahahaha ….

Taqiya adalah berbohong. Jadi, buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamu yang kalah berdebat denganku.

Haahahahaha ….

Kalah dan menang dalam berdebat ditentukan oleh bukti. Kamu sama sekali tidak memiliki bukti kecuali kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan omong kosong.

Ajak orang terpintar kalian. Suruh dia berdebat denganku dengan menggunakan cara-cara akademis melalui langkah-langkah ilmiah untuk mendapatkan kebenaran.

Hahahaha …. Tentu saja kamu bingung karena kamu hanya punya kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan banyak omong kosong.

Hahahaha … beginilah tertawa penuh kepalsuan itu … hahahahaha ….


G. Ten Brink

Teruslah Taqiya. Kalian orang Islam selalu menggunakan Taqiya, Dasar Homo.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Kamu menuduhku taqiya, benar kan?

Buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamulah yang kalah berdebat.

Sangat jelas, bukan?

Ngomong-ngomong, orang-orang seperti kalian selalu sama, sangat suka menggunakan kata-kata kotor untuk menutupi kelemahan kalian.


G. Ten Brink

Aku tidak perlu membuktikan apa pun, terutama kepada kamu. Semuanya sudah jelas, orang-orang Islam adalah orang-orang buas.

Dasar buas!

Kamu hanyalah setengah manusia.


==================================================================
Sebenarnya, dia mengatakan “subhuman” kepada saya. Saya tidak mengerti artinya. Saya hanya menebak bahwa dia mengatakan subhuman berarti mengejek saya sebagai manusia yang belum sempurna. Kita semua tahu bahwa orang-orang ateis selalu yakin teori Darwin dan kita orang Indonesia, Asia, atau Negro adalah manusia yang belum sempurna dalam perjalanan evolusi manusia. Yang sudah sempurna adalah manusia yang berkulit putih seperti mereka.

Bodoh kan mereka berpendapat seperti itu?
==================================================================


Tom Finaldin

Kalimat yang benar adalah “kamu tidak punya bukti apa pun”. Pengetahuan kamu hanya omong kosong.

Iya memang benar, aku adalah makhluk setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu.

Puas, Anak Kera?


G. Ten Brink

Kereeeen! Nikmatilah!


Tom Finaldin

Ya, aku memang menikmatinya!

Apa ruginya disebut setengah manusia oleh keturunan monyet seperti kamu?


G. Ten Brink

Dahsyat! Kamu juga sama!


Tom Finaldin

Hahahahaha …..

Kamu orang yang lucu…. Hahahahaha …. Kamu rela menjadi makhluk di bawah aku …. Hahahahaha ….

Kamu tidak mengingkari bahwa aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu. Jika aku setengah manusia, lalu kamu apa?

Kamu monyet gila, iya kan?

Kamu mungkin keturunan monyet gila yang penuh dengan penyakit karena siapa yang bisa menjamin kalau kamu keturunan monyet sehat?


G. Ten Brink

Terlalu banyak waktu untuk menjelaskannya kepadamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Ketika aku mengatakan, “Aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu,” kamu bilang, “Kereeeen! Nikmatilah!”

Salahkah aku?

Hahahahahaha ….

Lihat sendiri, betapa bodohnya kamu tidak mengerti apa yang kamu sendiri katakan.


G. Ten Brink

Aku menulis komentar bukan untuk berdebat dengan kamu. Aku hanya berusaha agar orang-orang waspada terhadap orang seperti kamu.

Aku adalah manusia penting. Aku sangat penting untuk kamu. Tetapi kamu tidak penting untukku.


Tom Finaldin

Apa?

Bwuahahahahahaha ….

Kamu sangat penting untukku?

Apa manfaatnya dirimu untukku?

Kamu melamun ya?

Wahahahahaha …..

Kapan aku pernah meminta pertolongan kamu?

Wahahahahahaha …. Kamu benar-benar orang yang lucu. Aku pikir kamu adalah keturunan monyet sirkus.

Tapi, aku ceriterakan kepadamu fakta-fakta. Pilih dari negara mana kamu berasal. Kami telah menyembelih, membunuh, mengubur, dan mengusir ratusan ribu orang sombong seperti kamu di sini. Mereka berasal dari Belanda, Inggris, Amerika, Jerman, Portugis, dan Jepang.

Jika kalian penting untuk kami, mengapa kami harus membantai ras kalian di sini?

Kamu sama sekali tidak penting untukku!

Jangan berhalusinasi. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu …. Hahahahahaha ….


G. Ten Brink

Jangan membalas komentarku lagi. Homoseksual!


Tom Finaldin

Mengapa?

Kamu ingin aku tidak membalas komentar kamu?

Kalau begitu, jangan membuat kami merasa terganggu karena aku akan mempermalukan kamu. Kalian semua!

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Maaf, aku bukanlah homoseksual. Aku tahu kenapa kamu ingin berbicara dengan sangat kasar kepadaku. Kamu ingin berbicara kepadaku karena kamu sedang mencari suami.

Dasar homoseksual!


Tom Finaldin

Apa?

Apakah otak kamu sehat?

Kamu adalah orang yang memulai berbicara kepadaku dengan buruk. Baca ulang!

Kamu yang memulai percakapan ini. Bukan aku!

Tapi, kamu katakan aku yang ingin berbicara kepada kamu. Aneh.

Aku hanya membalas komentarmu.

Aku makin yakin kamu hanyalah keturunan monyet gila yang penuh penyakit.


G. Ten Brink

Kamu benar-benar homoseksual. Orang Islam Taqiya. Manusia tidak sempurna.

Tom Finaldin

Jika kamu tidak ingin berdebat, jangan membuat komentar yang buruk dan jangan membuat kami kesal. Seperti yang aku katakan, aku akan mempermalukan kalian.

Kamu bisa menghinaku apa saja, tetapi kenyataannya kamu hanya menipu dirimu sendiri.

Kamu ingin tahu fakta-fakta yang lainnya?

Aku ceriterakan kepadamu. Kamu bisa baca surat kabar kamu. Hampir seluruh pemimpin Eropa mendatangi negaraku dalam dua bulan terakhir ini. Karena terlalu banyak, presidenku tidak dapat menemui mereka semua. Beberapa di antara mereka hanya ditemui oleh Sultan setingkat dengan gubernur.

Untuk apa?

Untuk menyelamatkan ras kalian. Untuk memberi makan ras kalian. Mereka menginginkan pekerjaan dari kami. Mereka ingin mengerjakan kereta api, jalan, listrik, minyak kelapa, bendungan, batubara, emas, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kami masih harus berpikir.

Sampai sekarang, baru Amerika Serikat, Cina, dan Jepang yang telah mengerjakan beberapa proyek di negara kami. Cina adalah negara yang paling banyak mendapatkan proyek di negara kami.

Negara-negara lain harus bersabar.

Jadi, sebagai sesama manusia yang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, kita harus saling menghormati satu sama lain.

Begitulah seharusnya cara hidup manusia yang beradab.

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Hahahahaha!


Tom Finaldin

Lihat sendiri kan? Kamu sudah tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjawabku. Kamu orang yang angkuh. Tidak heran jika kami membantai ras kalian di sini sampai kalian kabur.

Aku masih menyimpan golok kakekku yang pernah digunakan untuk memenggal kepala ras kalian di sini. Aku akan menggunakannya lagi jika ras kalian kembali melakukan kejahatan yang sama.


G. Ten Brink

Hahahahahaha!


Tom Finaldin

Apa yang kamu tertawakan?

Kamu mulai gila.

Hahahahaha ….

Kamu mempermalukan ras kalian…. Hahahahaha ….

Lihat! Orang yang selalu mengklaim diri sebagai ras terunggul di dunia hanya mampu membalasku  dengan “hahahahahaha”.

Memalukan sekali kamu!

Ayo katakan sesuatu yang berguna dan bernilai …..

Tapi, aku yakin kamu tidak memiliki kata-kata yang berguna …. Hahahahaha …. Dasar Otak Kerdil …. Hahahahahaha ….


==================================================================

Sehari, dua hari, tiga hari, sampai dengan tulisan ini disusun, dia tidak pernah menjawab lagi. Bahkan, parahnya, dia menghapus seluruh komentarnya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.

Saya cuma berharap dia sadar dan mulai memperbaiki kesalahannya sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan mampu menghormati sesamanya. Kalau kemudian dia mendapat hidayah dari Allah swt, itu adalah lebih baik. Ia akan menjadi anggota komunitas yang sangat dihormati di Jerman.

Bukankah pemerintah Jerman sendiri sudah menyatakan bahwa Islam adalah bagian dari Jerman?