Wednesday, 20 July 2016

Percaya Obat Asing Jadi Penyakit

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Heboh soal vaksin palsu yang membuat Indonesia heboh sebenarnya berawal dari persoalan yang sangat sederhana. Teramat sederhana sesungguhnya. Hal itu berawal dari kebiasaan masyarakat yang terlalu percaya pada orang asing dan produk-produk asing. Apa pun yang datang dari luar negeri selalu dianggap lebih bagus. Itulah penyakit masyarakat yang sebenarnya.

            Mereka yang menjadi korban vaksin palsu adalah mereka yang sangat mengagumi obat-obat luar negeri dan tidak mempercayai obat-obatan produksi dalam negeri. Vaksin yang dipalsukan adalah obat-obat impor yang berasal dari luar negeri, bukan yang diproduksi di dalam negeri. Tak satu pun masyarakat yang mengonsumsi vaksin dalam negeri menjadi bertambah parah penyakitnya atau menjadi korban vaksin palsu. Mereka baik-baik saja.

            Pernyataan Ketua Komisi 9 Dede Yusuf yang artis dan pernah menjadi Wagub Jawa Barat itu sungguh sangat mencerahkan, “Sebenarnya, vaksin yang diproduksi di dalam negeri sangat berlimpah dan sangat murah, bahkan digratiskan. Persoalan vaksin palsu adalah disebabkan masyarakat sangat percaya terhadap obat-obat impor dan mereka lebih suka membeli dengan harga mahal. Ada yang tiga ratus ribu, lima ratus ribu, sampai satu juta rupiah. Padahal isi obat itu sama dengan yang diproduksi Bio Farma di dalam negeri.”

            Pernyataan Dede Yusuf tidak ada yang membantah dan justru menjelaskan segalanya. Memang persoalan obat dan kesehatan ini sudah terjadi sejak lama, bahkan ketika saya masih sangat kecil pun selalu mendengar hal ini. Baik obat-obatan, fasilitas kesehatan, bahkan kualitas dokter dalam negeri pun dianggap sangat rendah dibandingkan yang berasal dari luar negeri. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Bolehlah pada masa lalu ketika Indonesia masih zaman awal-awal kemerdekaan memang mungkin masih sangat terbelakang. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan zaman segalanya berubah lebih baik dan terus diupayakan dengan lebih baik lagi. Banyak pasien yang mati di rumah sakit Singapura setelah menjalani operasi atau perawatan, padahal menurut dokter-dokter di Indonesia penyakit seperti itu banyak disembuhkan di Indonesia. Contohnya, pernah terjadi kembar siam dari Iran dipisahkan di rumah sakit Singapura, hasilnya mereka mati. Menurut dokter RS Hasan Sadikin Bandung, operasi semacam itu di Indonesia banyak yang sukses karena tergolong operasi yang mudah. Adapula klinik-klinik yang menggunakan dokter-dokter luar negeri ternyata ditutup oleh pemerintah Indonesia karena banyak masalah dan merugikan pasien.

            Entah kenapa banyak masyarakat Indonesia yang sangat gandrung dengan hal-hal yang berbau luar negeri. Padahal, Indonesia sendiri sudah sangat berkembang dibandingkan masa lalu.

            Pandangan keliru mengenai obat dan kesehatan di Indonesia mungkin masih merupakan sisa-sisa dari pandangan masa lalu ketika masih dalam zaman awal kemerdekaan. Pandangan itu berlanjut sampai hari ini.

            Bisa pula karena dihembus-hembuskan oleh oknum-oknum petugas medis, termasuk dokter karena mereka mendapatkan fee dari penjualan obat-obat luar negeri atas dasar rekomendasi mereka. Saya punya teman yang pernah menjadi sales obat. Dia sering berceritera tentang pengalamannya menjual obat kepada para dokter. Ketika pertama kali dia menawarkan obat pada dokter yang baru ditemuinya, biasanya dokter itu merendahkan obat yang ditawarkan teman saya.

            Dokter itu bilang, “Obat apa ini? Tidak manjur!”

            Akan tetapi, teman saya itu sudah berpengalaman bahwa penolakan dokter itu hanya modus. Ia segera mencari tahu hobi atau kegemaran dokter itu. Kalau dokter itu hobi golf, ia segera memberi hadiah stik golf yang bagus dan mahal. Kalau dokternya gemar bulu tangkis, raket yang mahal dan istimewa yang dihadiahkan. Terkadang pula teman saya mencari tahu nomor rekening Sang Dokter, lalu mengisinya dengan sejumlah uang.

            Setelah hadiah diterima oknum dokter, teman saya pun segera menghubunginya lagi. Biasanya, hubungannya menjadi sangat lebih baik yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya, kemudian melakukan transaksi.

            Bayangkan, obat yang tadinya dibilang berkualitas rendah dan disebut tidak manjur, akhirnya dibeli untuk didistribusikan pada pasien-pasiennya.

            Perilaku macam apa itu?

            Sudahlah, para dokter tidak perlu protes, tersinggung, bahkan marah terhadap saya atas tulisan ini. Hal ini terjadi kok. Teman saya masih hidup, tetapi sudah tidak lagi menjadi sales obat. Dia sudah memiliki profesi lain.

            Tentu saja tidak semua dokter seperti itu. Banyak sekali dokter yang baik dan setia terhadap sumpah dan cita-citanya untuk memberikan kesehatan kepada manusia dan mengabdi pada kebenaran. Saya pun mengenal dokter yang sangat baik dan sangat sayang kepada para pasiennya. Kami berteman dekat. Ketika saya sakit parah dan disarankan oleh dokter rumah sakit untuk rawat inap, saya menolak. Saya menolak karena saya tidak mau merepotkan orang-orang yang sehat. Kalau saya harus menjalani rawat inap, akan ada banyak orang yang bergiliran menemani saya di rumah sakit dan itu merepotkan mereka. Saya memilih berobat jalan meskipun harus tetap ditemani orang lain karena untuk berjalan normal saja sangat susah. Dokter rumah sakit yang menyarankan saya untuk rawat inap adalah dokter kedua yang menangani saya setelah saya menghentikan pengobatan dokter yang sebelumnya. Lebih dari satu bulan saya sakit parah. Karena dokter rumah sakit itu menyarankan rawat inap, saya pun beralih ke dokter lain, yaitu dokter yang saya kenal sangat baik dan praktik di rumahnya. Saya sungguh heran kenapa saya bisa melupakan dokter yang satu ini, padahal sudah saya kenal baik sejak lama. Ketika saya mendatanginya, saya ceriterakan pengalaman dengan dokter-dokter sebelumnya dan saya ceriterakan pula kekecewaan saya. Dia hanya tersenyum dan tampak mengenali penyakit yang saya derita.

            Ia pun segera memberi obat sambil berkata, “Kalau obat ini sudah habis, segera kembali lagi ke sini.”

            Saya pun menurut.

            Ketika datang lagi kedua kalinya, saya sudah tidak lagi ditemani orang lain. Saya sudah bisa berjalan normal.

            Dia sungguh dokter yang baik. Di samping memberikan perawatan yang baik, dia pun tidak menyalahkan dokter yang menangani saya sebelumnya.

            Dia bilang, “Mereka juga dokter. Saya juga dokter. Bedanya hanya dalam cara menanganinya.”

            Dia pun segera memberi saya obat sambil bertanya, “Sendirian ke sini? Tidak ditemani orang lagi?”

            Kali ini saya yang tersenyum. Bayangkan, saya sebulan lebih ditemani orang-orang untuk berobat kesana-kemari, tetapi ketika berobat kepadanya hanya satu kali ditemani dan kedua kalinya saya bisa sendirian.

            Ketika saya datang yang ketiga kalinya, dia marah bukan main, “Kenapa datang lagi? Kamu tidak sadar kamu harus bekerja? Sudah, jangan punya pikiran macam-macam! Nih, saya kasih obat lagi! Kamu tahu ini obat apa? Ini obat penenang!”

            Saya memang datang lagi ketiga kalinya karena masih merasa lemah. Memang mungkin biasa kalau setelah sakit parah, suka terasa letih dan lelah dalam masa proses penyembuhan. Orang Sunda bilang, tinggal capena.

            Dokter itu cukup marah karena saya datang lagi, padahal sudah sembuh dan sebenarnya memang sudah sembuh hanya dengan dua kali datang tanpa perlu rawat inap. Saya hanya merasa masih lelah.

            Oke, kalau begitu, tinggal satu lagi untuk menyempurnakan kesembuhan saya, yaitu ke rumah Pak Haji Cigebar. Di rumah Pak Haji saya diturih, kalau bahasa sekarang dibekam. Bedanya hanya dari alatnya. Kalau bekam, alatnya lebih modern, sedangkan turih, alatnya tradisional. Prinsipnya sama, yaitu membuang darah kotor dari dalam tubuh karena darah kotor itu sebenarnya ingin keluar dari tubuh, tetapi tidak ada jalan. Karena tidak ada jalan, darah kotor yang mencari jalan keluar itu pun berubah menjadi penyakit dalam tubuh. Oleh sebab itu, saya membuang darah kotor itu dari kedua pelipis, tengkuk, pundak, dan kedua pangkal lengan.

            Nabi Muhammad saw pun menyarankan untuk sering membekam diri di seputar tengkuk, pundak, dan leher bagian belakang.

            Setelah dari rumah Pak Haji Cigebar di Kabupaten Bandung, saya benar-benar merasa sehat secara sempurna. Alhamdulillah.

            O ya, dokter yang saya kenal dengan baik itu pernah Curhat sama saya soal obat-obatan. Dia ceritera kalau saat itu sedang bermusuhan dengan tetangganya satu RW yang memiliki apotik besar. Dia pernah ditawari obat dari apotik itu, tetapi harganya sangat mahal. Adapun dia tidak ingin memberatkan pasiennya. Oleh sebab itu, ia menolaknya. Ia lebih memilih apotik yang memiliki obat murah dan obatnya manjur. Ia punya daftar apotik dan rekanan lainnya yang harganya murah, tetapi berkualitas sangat baik. Ia sangat menyayangi pasiennya.

            “Lebih baik bermusuhan meskipun dengan tetangga sendiri daripada harus merugikan pasien,” katanya.

            Dokter ini cukup terkenal di Kota Bandung. Bahkan, pasiennya datang dari mana-mana, seperti, Cirebon, Indramayu, Cianjur, dan lain sebagainya. Rumahnya di daerah Buahbatu, Bandung. Cari aja. Bahkan, tukang becak di sana sudah sangat hapal. Sebenarnya, dokter di komplek besar itu banyak, bukan hanya dia. Akan tetapi, jika kita minta diantar oleh tukang becak untuk mencari dokter, pasti tukang becak mengantarkan ke dokter yang itu, bukan ke dokter yang lain.

            Bilang saja, “Mang ka Dokter.”

            Tukang becak pun tidak akan ke mana-mana arahnya, selalu ke dokter yang itu.


Mengawali Berobat dengan Gratisan

Saya ini dari kecil diajari oleh ayah saya tentang cara berobat.

            Ayah saya bilang, “Kalau kamu merasa sakit, tidurlah. Kalau sudah tidur masih belum sembuh, mandi yang baik. Kalau sudah mandi belum juga sembuh, pergi ke Puskesmas. Kalau masih belum sembuh juga, pergi ke dokter praktik. Kalau tidak sembuh juga, baru ke rumah sakit.”

            Ayah saya mengajari seperti itu dengan maksud agar saya dan seluruh keluarga tidak terlalu bergantung pada obat. Ayah saya lebih suka membiarkan antibodi tubuh manusia untuk melawan penyakit terlebih dahulu. Jika belum sembuh, gunakan obat murah, yaitu obat dari Puskesmas.

            Memang obat Puskesmas pada masa lalu itu di samping murah dan memang murahan, juga lucu. Soalnya, penyakit apa pun obatnya itu-itu juga. Kalau dilihat, hampir 90% pasien yang datang ke Puskesmas ketika pulang selalu membawa obat yang sama, padahal penyakitnya berbeda-beda. Mereka yang sakit kepala, obatnya itu. Yang sakit eksim, obatnya itu. Yang penyakit jantung, itu juga. Yang sakit perut, masih itu. Yang jatuh dan terkilir, obatnya itu. Yang jerawatan, obatnya itu. Yang sakit punggung, obatnya masih sama. Yang encok, juga obatnya itu. Yang susah tidur, obatnya itu. Yang panu, kudis, kurap, gatal-gatal, dan jamuran, obatnya pun itu juga. Yang batuk dan pilek apalagi selalu selalu sama. Akan tetapi, bagi ayah saya dan juga saya, itu semua tidak penting. Yang penting adalah sembuh.

            Teman saya pernah berkelakar, “Kamu sembuh? Manjur!”

            Adapun teman saya yang pernah jadi sales obat bilang, “Obat itu bukan soal mahal dan murah, tetapi cocok.”

            Akan tetapi, berbeda dengan sekarang. Puskesmas sekarang sudah lebih baik, terutama di kota-kota besar. Fasilitasnya lebih lengkap, dokternya lebih pintar-pintar, dan obatnya lebih baik dan lebih bervariasi bergantung dari penyakit yang diderita pasien. Bahkan, ada poster larangan untuk menggunakan obat yang sama secara bersama karena setiap orang memiliki karakteristik penyakit yang berbeda-beda meskipun penyakit yang diderita rasanya seperti sama. Artinya, pelayanan kesehatan di Puskesmas sekarang sudah jauh lebih baik. Saya sangat tahu itu karena sampai sekarang pun saya selalu mematuhi ajaran ayah saya agar tubuh saya tidak bergantung obat-obatan dan kalau terpaksa harus minum obat, harus mengawali berobat dengan yang gratisan atau murah di Puskesmas.

            Orang-orang yang kebanyakan gaya dan sok kaya suka menyindir, “Masa ke Puskesmas sih? Ke dokter dong.”

            Maksud mereka ke dokter itu adalah dokter praktik yang pasti harganya lebih mahal dan obatnya juga jauh lebih mahal. Saya sering mendapatkan ejekan seperti itu. Akan tetapi, saya tidak peduli.

            Untuk apa berobat dengan harga mahal jika dengan yang murah saja sudah sembuh?

            Sesungguhnya, kebiasaan menggunakan obat-obatan mahal itu lumayan berbahaya. Kalau tubuh kita sudah terbiasa dengan menggunakan obat mahal, tetapi suatu ketika tidak memiliki uang untuk berobat ke tempat yang mahal dan terpaksa harus menggunakan obat yang murah, tubuh kita menjadi kebal atau apa itu istilahnya, immum. Tubuh kita tidak mampu berkolaborasi dengan obat murah. Akibatnya, penyakit tak kunjung hilang karena harus menggunakan obat mahal, sementara uang tidak ada. Lebih jauhnya, karena ingin sembuh, pinjam uang sana-sini, jual ini-itu, atau minta-minta sumbangan kesana-kemari. Itu namanya benar-benar tragedy!

            Berbeda dengan jika terbiasa menggunakan obat murah, lalu tidak sembuh, kemudian menggunakan obat mahal, penyakit pun bisa segera diusir, dan sehat lebih cepat. Ini pengalaman. Ketika obat Puskesmas tidak mampu menyembuhkan, obat mahal dengan cepat menyelesaikan masalah. Jadi, tidak perlu pinjam sana-sini atau minta sumbangan ke mana-mana. Tidak perlu mengalami tragedi. Hidup bisa lebih hemat. Itu namanya menyelesaikan masalah tanpa masalah.

            Kok mirip pegadaian ya?

            Biarinlah. Yang penting sembuh dan sehat.

            Saya sungguh tidak bisa mengerti mengapa masih sangat banyak orang yang mengejek Puskesmas dan obat-obat dari pemerintah yang sesungguhnya kualitasnya bagus, murah malah gratis, dan menyembuhkan?

            Apabila mereka yang masih memandang sebelah mata terhadap kualitas Puskesmas dan obat dalam negeri disebabkan banyak gaya dan sok kaya, itu pertanda mereka memang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Mereka itu mirip-mirip dengan Kormod, ‘korban mode’, atau korban isu dan korban iklan. Mereka inilah yang biasanya terjerumus dalam tragedi. Merekalah yang sangat mudah dijebak oleh para penjual obat penipu dan oknum tenaga medis yang juga penipu.

            Apabila mereka tidak percaya obat pemerintah dan Puskesmas karena kurang pemahaman, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk menerangkan kepada masyarakat. Pemerintah harus gencar menyosialisasikan hal ini agar di samping indeks kesehatan manusia Indonesia bisa lebih sehat, juga masyarakat bisa lebih hemat.

            Kedua hal ini, yaitu banyak gaya sok kaya dan kurang pengetahuan tampaknya memang ada di masyarakat kita. Teman-teman yang sering membantu saya bekerja pun banyak yang tidak tahu Puskesmas dan masih menganggap rendah obat-obatan dalam negeri.

            Ketika ada teman saya yang mengeluh sakit tidak bisa bekerja dan meminjam uang, saya tanya, “Kamu sakit apa?”

            Setelah dia menjelaskan keluhannya, saya bilang, “Ke Puskesmas. Sudah tahu nggak punya uang, pengen ke dokter mahal.”

            Dia mengernyitkan dahi tanda tidak percaya saya mengatakan hal itu, “Masa ke Puskesmas sih?”

            “Memangnya kenapa dengan Puskesmas? Saya juga kalau sakit, ke Puskesmas.”

            Dia makin tidak percaya kalau saya sakit, ke Puskesmas. Wajar jika mereka tidak percaya karena saya yang menggaji mereka, saya yang memberi mereka makan siang, saya pula yang mengumpulkan uang untuk THR mereka, saya juga tempat mereka meminjam uang. Memang saya kalau sakit dan ada waktu selalu ke Puskesmas, kecuali kalau terlalu sibuk. Kalau ke Puskesmas kan harus antri cukup lama dan berada dalam kerumunan orang-orang dari lapisan ekonomi cukup lemah dengan rupa-rupa sikap dan macam-macam bau. Bagi saya hal-hal seperti itu sama sekali bukan masalah karena saya gemar menulis. Berada di tengah-tengah orang banyak sama artinya memiliki banyak bahan untuk ditulis dan dibagi dengan para pembaca. Yang penting sembuh.

            “Pinjam uang dong, empat ratus ribu,” katanya merengek karena memang dia perempuan.

            Saya bilang, “Ke Puskesmas. Murah. Kalau kamu punya KTP, gratis.”

            “Saya tidak tahu di mana Puskesmasnya.”

            “Tanya sama tetangga.”

            “Tetangga saya jarang ada di rumah.”

            “Tanya sama RT. Dia pasti tahu.”

            Besoknya, dia bikin status di BBM, “Antriiiiiiiiiii….”

            Dia pasti sedang di Puskesmas. Biarin saja supaya dapat pengalaman. Lagian, siangnya dia datang bekerja seperti biasa dan tampak sembuh. Manjur!


Tanggung Jawab Bersama

Tanggung jawab atas kesehatan bersama adalah kita semua. Masyarakat jangan mudah tertipu isu atau termakan iklan dengan merendahkan obat-obatan dalam negeri yang dinyatakan sama kualitasnya atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan luar negeri. Jangan terlalu memuji-muji orang asing dan produk asing. Jangan sok gaya atau sok kaya dengan berobat ke tempat mahal dan obat mahal jika bisa disembuhkan di tempat murah bahkan gratis dengan obat yang juga murah dan gratis. Hiduplah secara sehat dan jangan mudah menggantungkan diri pada obat-obatan.

            Bukankah mencegah itu lebih mudah daripada mengobati?

            Lupa ada nasihat itu ya?

            Jangan sedikit-sedikit berobat, sedikit-sedikit berobat. Itu berbahaya bagi kesehatan.

            Para dokter harus kuat iman dan kembali pada kemuliaan kedokteran untuk kemuliaan manusia juga. Jangan fokus pada fee atas penjualan barang apa pun dalam dunia medis. Fokus saja pada pekerjaan dan pengabdian pada kemanusiaan. Dengan demikian, para dokter akan menjadi makhluk-makhluk mulia, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah swt. Jangan merendahkan diri dengan cara merayu pasien untuk membeli obat tertentu, pergi ke laboratorium tertentu, atau menyarankan pengobatan tertentu hanya untuk mendapatkan fee dari hal-hal itu. Muliakanlah diri dengan setia pada kebaikan dan kemuliaan manusia. Allah swt akan memberikan anugerah dari jalan yang tidak disangka-sangka dan menyenangkan jika tetap melangkah dalam koridor kemanusiaan dan bukan dalam rangka pengumpulan uang melalui cara-cara haram dan meragukan.

            Demikian pula pemerintah harus lebih menyosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan murah, gratis, dan terjamin jika memang sudah sangat yakin dengan keberhasilannya. Dengan demikian, masyarakat akan lebih memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik. Peredaran vaksin palsu sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemerintah telah berhasil meyakinkan masyarakat bahwa obat-obatan yang diproduksi di dalam negeri sama kualitasnya dengan yang diproduksi di luar negeri atau bahkan lebih baik. Dengan demikian, kelangkaan obat impor sama sekali tidak akan memicu para penjahat untuk memalsukan obat-obat itu. Pemalsuan vaksin itu kan terjadi karena banyaknya masyarakat yang tidak percaya obat pemerintah dan sangat percaya obat asing yang entah karena disebabkan sok gaya, sok kaya, atau kurang pengetahuan. Ketika terjadi kelangkaan obat impor itulah para penjahat mengendus adanya lahan bisnis menguntungkan dengan melakukan pemalsuan. Di samping itu, pemerintah pun berkewajiban menjaga masyarakat dari praktik-praktik curang yang bisa dilakukan oleh para tenaga medis berikut rumah sakitnya. Hal yang tak kalah pentingnya adalah penegakkan hukum terhadap mereka yang melakukan kejahatan di dunia medis harus benar-benar dilakukan.

            Mudah-mudahan kita semua semakin pintar, semakin bijak, dan semakin sehat. Amin.

Pentingnya Mengenal Sekolah Baru

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Mengenal lingkungan sekolah baru adalah sangat penting, terutama untuk siswa baru di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Upaya pengenalan sekolah terhadap para siswa baru sangatlah bermanfaat sepanjang sesuai dengan maksud pengenalan itu sendiri dan tidak berbelok ke “jalan yang sesat” menjadi perploncoan.

            Pengenalan dan pengakraban antara siswa senior dan junior adalah teramat penting untuk menumbuhkan kebersamaan dan keharmonisan lingkungan sekolah. Siswa senior bisa memberikan wawasan awal mengenai sekolah dan segala hal yang terkait dengannya. Misalnya, mengenalkan dirinya sendiri, organisasi yang ada di kampus itu, prestasi-prestasi yang telah diraih dan yang ingin diraih, lingkungan di seputar sekolah, termasuk jenis-jenis mata pelajaran yang masih baru untuk para siswa junior. Para siswa senior pun sangat diperbolehkan untuk memperkenalkan guru-guru yang ada di kampus itu. Bukan hanya nama guru yang diperkenalkan, melainkan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut beserta tingkat kesulitan dan kemudahannya. Tambahan pula siswa senior dapat menggambarkan watak dan kebiasaan setiap guru di kampusnya sehingga siswa junior mendapat gambaran awal bagaimana harus bersikap terhadap para gurunya yang jelas memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda. Dengan demikian, para junior lebih siap untuk menjadi anggota keluarga baru di kampusnya yang baru.

            Para senior pun sangatlah baik jika mengajak para juniornya untuk mencintai kampus mereka. Hal itu bisa dimulai dengan penanaman pemahaman pentingnya kebersihan, kerapian, dan pelestarian lingkungan hidup. Akan lebih baik jika para seniornya menyediakan diri pada masa memasuki proses kegiatan belajar untuk membantu juniornya jika mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran.

            Hubungan antara senior dan junior yang dibangun dengan cara-cara yang baik akan menumbuhkan situasi dan suasana yang lebih baik. Penguatan hubungan dan rasa saling menghormati dapat dibangun dengan kegiatan-kegiatan positif, apalagi yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat akademis, misalnya, kegiatan pernelitian dan eksperimen yang hasilnya bisa diperlombakan dengan sekolah-sekolah lain. Kebanggaan terhadap sekolah dan rasa kebersamaan dapat dilakukan dengan cara bersaing dengan sekolah lain dengan nilai-nilai yang teramat positif. Apabila terjadi masalah dengan sekolah lain, hendaknya para senior dapat memberikan teladan dengan tidak mengarahkannya menjadi tawuran antarsekolah, melainkan memberikan solusi dengan cara melaporkannya pada pihak sekolah yang selanjutnya mempercayakan sepenuhnya penyelesaian persoalah kepada pihak sekolah dengan pihak sekolah yang menjadi seterunya.

            Para senior yang dipercaya sekolah untuk membimbing adik-adiknya dalam rangka mengantarkannya untuk memahami lingkungan baru haruslah para senior yang memang patut dan sudah terbukti menjadi pribadi-pribadi yang pantas untuk diteladani. Bukan para senior yang hanya memiliki kegemaran berorganisasi tanpa memiliki prestasi akademik dan nonakademik. Para senior yang lebih dewasa dibandingkan teman-teman sebayanya akan lebih mampu menumbuhkan rasa hormat para junior kepada para senior sehingga tercipta suasana yang lebih menyenangkan. Para senior yang tidak berpikiran lebih dewasa hanya akan bertindak over acting dan berkecenderungan menimbulkan rasa tidak suka dari para juniornya sehingga tujuan dari kegiatan pengenalan terhadap lingkungan sekolah menjadi terganggu, bahkan tidak tercapai sama sekali.

            Tatatertib sekolah yang diperkenalkan para senior yang teruji dan terbukti baik akan lebih berpengaruh kepada para juniornya. Dengan demikian, para juniornya akan memiliki senior yang sebetulnya masih sebaya, tetapi telah mampu menjadi teladan bagi dirinya dan lingkungan di kampus tersebut. Para junior pun akan memiliki ”kakak” yang bisa menjadi role model  bagi dirinya untuk bersikap di kampusnya yang baru.


            Begitulah selayaknya hubungan yang dapat diciptakan dalam kegiatan pengenalan lingkungan sekolah untuk mengakrabkan para senior dengan junior, bukan dibelokan menjadi “perploncoan” yang sama sekali tidak bermanfaat, tidak bermartabat, dan sia-sia. 

Tuesday, 19 July 2016

Perploncoan Adalah Kepengecutan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Perploncoan di mana pun adalah manifestasi dari kepengecutan.

            Siapa yang pengecut?

            Para pengecut itu adalah lembaga yang mengadakannya dan orang-orang yang terlibat aktif dalam melaksanakan perploncoan.

            Lembaga apa pun namanya dan di tingkat apa pun, perploncoan adalah tindakan para pengecut. Mereka pengecut karena takut juniornya atau orang-orang yang berada di bawahnya tidak menghormatinya. Mereka pengecut karena takut tidak dihargai dan tidak dikenal para junior. Mereka pengecut karena menciptakan kondisi semu yang membuat para juniornya mau tidak mau harus menghormati, menghargai, mengenal, dan takut kepada mereka yang inginnya disebut para senior itu. Di samping itu, banyak hal yang sesungguhnya menunjukkan bahwa mereka itu adalah para pengecut parah.

            Memang sudah seharusnya para junior menghormati, menghargai, mengenal, dan berupaya mendekat kepada para senior. Hal ini sangat sesuai dengan budaya asli Indonesia yang telah disempurnakan oleh ajaran Islam, yaitu yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Akan tetapi, kondisi ini harus diciptakan dan terwujud oleh tindakan-tindakan yang terpuji, bukan oleh perploncoan. Mereka yang lebih senior harus menampilkan diri sebagai pelindung, penyayang, dan pemberi nasihat kepada yang lebih muda. Pengalaman hidupnya yang lebih lama dibandingkan yang muda harus memberikan manfaat yang banyak terhadap para juniornya. Mereka yang junior harus benar-benar memahami pengalaman para seniornya agar dapat lebih baik lagi menghadapi tantangan dan hambatan pada masa depan. Para junior tidak perlu mengalami berbagai kesukaran dan kekurangan yang telah dialami para seniornya. Mereka dapat mempelajari berbagai hal dari para seniornya sehingga dapat hidup dan beraktivitas lebih baik dibandingkan seniornya. Karena para senior memiliki pengalaman yang lebih bagi dirinya serta memberikan banyak nasihat dan masukan, para junior sudah seharusnya menghormati para seniornya. Begitulah seharusnya yang terjadi. Dengan demikian, generasi berikutnya akan selalu lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Itulah yang dimaksudkan Nabi Muhammad saw bahwa beruntunglah orang-orang yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dan hari esok lebih baik dibandingkan hari ini. Artinya, setiap generasi terbaru atau para junior dapat lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya atau para senior.

            Berbeda dengan perploncoan yang pengecut itu. Para senior berupaya mendapatkan penghormatan, rasa takut, dan penghargaan dari para junior melalui tindakan-tindakan yang dikondisikan dan mengada-ada. Hal itu disebabkan orang-orang yang inginnya disebut senior itu tidak memiliki kemampuan untuk menampilkan diri sebagai pelindung, penyayang, dan pemberi nasihat ulung bagi juniornya. Mereka tidak memiliki karya yang bermanfaat yang dapat menjadi contoh bagi para juniornya. Mereka pun tidak mengerti bagaimana seharusnya hidup serta berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para juniornya. Pengalaman hidup mereka dan pengetahuan mereka sama sekali tidak berguna bagi para juniornya. Akan tetapi, mereka memaksakan diri ingin dihormati, bahkan ditakuti oleh para juniornya. Oleh sebab itu, mereka menciptakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan bermartabat agar para junior tunduk patuh dan hormat kepada mereka. Dengan demikian, para senior jiwanya merasa terpuaskan. Padahal, kondisi itu adalah kondisi penuh kepalsuan. Di dalam hati para juniornya tersimpan kemarahan, kebencian, sekaligus menyaksikan kelucuan-kelucuan para seniornya yang berupaya mendapatkan rasa hormat dengan tindakan yang sama sekali tidak ada gunanya.

            Karena perploncoan adalah manifestasi dari kepengecutan para senior, kita harus mendukung penuh pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemendikbud RI yang berupaya menghapuskan perploncoan di lingkungan pendidikan. Hal itu disebabkan di samping sangat tidak berguna, juga mendidik bangsa Indonesia untuk menjadi para pengecut, para pendendam, dan orang-orang angkuh yang menimbulkan rasa kebencian.

            Apa pun alasannya perploncoan adalah kepengecutan yang sangat tidak berguna. Perploncoan untuk melatih kedisiplinan adalah bohong. Perploncoan untuk mengenal lingkungan baru adalah bohong. Perploncoan untuk menciptakan keakraban senior-junior juga adalah bohong. Apa pun alasan untuk melaksanakan perploncoan adalah kebohongan. Perploncoan adalah kebohongan yang sia -sia.

            Nabi Muhammad saw mengajarkan, “Jauhilah perbuatan yang sia-sia.”

            Perploncoan adalah kepengecutan yang penuh kebohongan dan sia-sia. Oleh sebab itu, wajib dijauhi.


Thursday, 14 July 2016

Sekolah Khusus Anak-Anak Belagu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Bagi orang tua yang menganggap diri hebat dan penting yang juga punya anak yang menganggap orangtuanya hebat dan penting, tampaknya memerlukan sekolah khusus untuk pendidikannya. Mereka memerlukan sekolah yang tidak memiliki pendidikan disiplin dan tidak memiliki guru yang tegas dan disiplin juga. Mereka sangat membutuhkan sekolah yang mampu memanjakan siswa, tidak ada teguran bagi anak nakal, dan penuh jaminan kebebasan.

            Seharusnya, hal ini menjadi daya tarik bagi para pengusaha pendidikan swasta untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak belagu yang lahir dari orangtua yang juga belagu. Tampaknya, sekolah semacam ini akan mendapatkan pasar bagi banyak orang tua yang ingin anak-anaknya dimanjakan oleh para gurunya. Orang-orang tua semacam ini akan berduyun-duyun mendaftarkan anak-anaknya karena di sekolah itu penuh dengan kebebasan. Tak ada yang dihukum karena bolos sekolah, tak ada teguran bagi yang tidak mengerjakan PR, tak ada yang dimarahi jika tak ikut upacara, dibebaskan dari mencuri barang-barang temannya, dibiarkan berkelahi sampai mendirikan geng motor, tak ada yang dimaki karena menghina guru, tak ada yang dinasihati karena menganggu teman perempuannya, yang perempuan juga dibebaskan bersikap centil, tidak ada masalah untuk corat-coret di kursi, meja, tembok, pokoknya sekolah itu penuh dengan kemanjaan, mungkin juga guru-gurunya akan bersikap pura-pura tidak tahu jika siswa-siswanya menonton video porno di kelas sambil menikmati Narkoba dan membuli teman-temannya.

            Para orang tua dan anak-anak yang belagu sangat merindukan guru-guru yang hanya menegur dengan lembut, “Hey, jangan begitu. Itu tidak baik Sayang.”

            Sudah cukup sampai di situ. Mau dituruti atau tidak, guru-gurunya tidak peduli. Namanya juga sekolah khusus anak belagu yang manja.

            Para pengusaha pendidikan harus segera mendirikan sekolah khusus semacam ini karena banyak sekali orang-orang belagu yang membutuhkannya. Segera iklankan sekolah ini dalam berbagai media, termasuk pada brosur-brosur dan leaflet dengan di dalamnya di tulis SEKOLAH BEBAS PENUH KEMANJAAN DIJAMIN TAK ADA KEMARAHAN. Kemudian, di sana ditulis daftar seluruh guru dengan latar belakang masing-masing yang dapat menjamin untuk kemanjaan siswa.

            Sekolah ini akan diisi penuh oleh anak-anak belagu dari orangtua yang juga belagu. Mereka akan dimanjakan oleh sekolah karena itu sudah janji sekolah tersebut sejak awal. Paling-paling mereka akan berantem sendiri dengan teman-temannya. Coba bayangkan jika anak-anak yang sekolah di sekolah tersebut, baik laki-laki dan perempuannya semua anak belagu yang menganggap orang tuanya sebagai orang penting dan hebat. Mereka akan selalu ribut karena merasa diri sebagai orang hebat dan punya orangtua hebat. Mereka pun akan selalu merasa bebas bertindak hingga merugikan dirinya sendiri, temannya, termasuk orangtuanya sendiri pada akhirnya. Memang tak akan ada yang lapor ke polisi soal kekerasan gurunya karena gurunya sangat memanjakan mereka, tetapi polisi akan dipenuhi laporan tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka sendiri.

            Ketika gurunya dimintai partisipasi dalam membina siswa, gurunya dengan enak menjawab, “Itu bukan urusan kami. Kami hanya mengajar pelajaran. Urusan kedisiplinan, itu urusan Bapak-bapak polisi, bukan kami.”

            Polisinya bilang, “Tapi kan tugas tanggung jawab guru mengajarkan etika dan moral?”

            “Sudah kami ajarkan semuanya, termasuk agama. Merekanya sendiri yang tidak mau dengar,” kilah gurunya, “Tugas kami sudah dilaksanakan, dipatuhi atau tidak, terserah mereka.”

            “Jadi, sekarang bagaimana?”

            “Terserah polisi dan orang tua mereka.”

            “Bagaimana cara mendidik anak-anak ini? Masa tidak tegas dan disiplin?” tanya polisi.

            “Nggak ah, takut melanggar Ham, lalu dipenjara,” jawab guru, “Sudah ya Pak, saya masih ada urusan lain, janjian sama murid perempuan saya mau nonton bareng film Cinta Sekilas.Permisi.”

Tuesday, 12 July 2016

Menghindari Jeratan Ham

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Berbicara mengenai soal hak azasi manusia (Ham) yang bisa menjerat para guru di Indonesia dalam mendisiplinkan murid-muridnya, ada berita menarik yang saya dapatkan dari seseorang yang ikut rapat orang tua murid di sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Rapat itu biasa dilakukan setelah pengumuman diterimanya para siswa baru di sebuah sekolah menengah. Inti dari rapat itu sudah bisa dipastikan mengenai “uang” yang diperlukan sekolah untuk membangun dan melengkapi fasilitasnya. Kebutuhan tentang uang itu diberitakan kepada para orangtua murid yang anaknya baru diterima di sekolah tersebut. Di samping soal “uang”, kesempatan pertemuan itu pun dipergunakan untuk membicarakan soal proses pendidikan di lingkungan sekolah tersebut.

            Soal uang, tidak perlu dibahas lagi, semua orang sudah tahu pada akhirnya. Hal yang sangat unik dan menarik adalah mengenai proses pendidikan di sekolah itu. Perlu diketahui bahwa sekolah tersebut tidak terletak di kota besar, melainkan di wilayah pedesaan yang tidak ada kendaraan umum melewati tempat tersebut. Meskipun berada di perkampungan, para guru dan para orangtua murid ternyata sangat melek dengan berbagai berita yang berkembang mengenai pendidikan, terutama mengenai “jeratan Ham” dari luar negeri itu yang mengincar para guru. Para guru dan orang tua siswa paham benar mengenai hal itu, tetapi mereka masih sangat percaya dan yakin sekali bahwa cara mendidik mereka adalah jauh lebih baik untuk menciptakan generasi-generasi yang cerdas, disiplin, dan penuh dengan etika. Mereka sepakat bahwa cara mendidik murid-murid di sekolah tersebut bersandar pada cara pendidikan yang diterapkan Muhammad Rasulullah saw. Hal ini sebagaimana yang pernah saya tulis pada artikel yang lalu, yaitu ajarlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukulah jika masih belum melaksanakan shalat pada usia sepuluh tahun. Dalam melaksanakan pendidikannya sehari-hari mereka sepakat untuk mendisiplinkan para murid dengan cara teguran yang lembut, peringatan yang keras, dan tindakan tegas. Artinya, ada tiga tahap yang mereka gunakan apabila menemukan murid yang perlu didisiplinkan. Pertama, teguran yang lembut dengan menerangkan kesalahan murid sekaligus kewajiban yang harus dilakukannya. Apabila cara itu tidak berhasil, digunakan cara kedua, yaitu peringatan yang lebih keras dengan nada lebih tinggi ditambah sedikit kemarahan. Apabila hal itu masih belum berhasil juga, digunakan cara ketiga, yaitu bentakan dengan hukuman fisik.

            Mereka tahu bahwa hukuman fisik itu ilegal. Akan tetapi, untuk siswa tertentu, hukuman itu masih harus dilakukan agar menjadi pelajaran yang berharga dan mampu mengubah perilaku siswa tersebut. Mereka sangat percaya bahwa hukuman fisik itu tetap diperlukan sepanjang terukur dan dianggap wajar tentunya. Dalam melaksanakannya, terjadi kesepahaman dan kesepakatan antara orang tua dan guru. Mereka saling percaya.

            Salah seorang wakil orang tua murid berkata, “Jika ada anak-anak kita yang melaporkan kepada kita telah dihukum secara fisik oleh guru, jangan ada yang lapor polisi! Kita lapor saja pada organisasi orang tua murid agar diselesaikan dengan cara kita sendiri.”

            Mereka sepakat bahwa jika itu terjadi, para wakil orang tua dan pihak sekolah akan mempelajarinya terlebih dahulu untuk menetapkan langkah selanjutnya yang harus diambil. Hasilnya, bisa guru yang memang salah atau memang muridnya yang pantas untuk dihukum seperti itu. Akan tetapi, uniknya cara itu menunjukkan bahwa mereka cukup bijak dan arif dengan tidak menyelesaikannya melalui proses hukum yang bisa mencoreng nama baik pendidik dan pendidikan, apalagi harus mengandalkan Ham yang dari luar negeri itu. Mereka lebih suka menyelesaikannya dengan menggunakan kearifan lokal yang mereka miliki.

            Hukuman fisik bisa terjadi dan itu harus dimengerti oleh para orang tua dengan tidak memperkarakannya di depan hukum. Hal itu disebabkan secara logika tidak mungkin guru akan menghukum murid yang patuh, rajin, baik, dan beretika. Pastinya, murid yang mendapatkan hukuman adalah murid yang “bermasalah” dan harus diluruskan dan bukan pula harus dikeluarkan dari sekolah jika hukuman fisik itu sudah membuatnya sadar terhadap kesalahannya.

            Hal yang lebih unik adalah semuanya sepakat. Artinya, pihak sekolah dan para orang tua sepakat dengan cara-cara seperti itu dengan rasa saling percaya. Hal yang sangat menarik lagi adalah cara-cara itu diklaim didasarkan pada pendidikan yang diajarkan Muhammad saw. Para orang tua dan guru sepaham, padahal tidak semua muslim.

            Indah sekali.

            Dengan cara seperti itu, kepolisian tidak perlu ikut repot jika terjadi hukuman fisik. Biarkan saja kearifan lokal mereka berjalan dan bekerja menyelesaikan persoalan yang sebetulnya “enteng” tersebut. Kita saja yang biasanya lebay terlalu membesar-besarkannya. Dengan demikian, tidak perlu terjadi kesemrawutan ada orang tua dan anaknya lapor pada polisi bahwa guru telah menganiaya siswa. Misalnya, gurunya hanya mencubit paha, tetapi yang dilaporkan pada polisi adalah dada dan payudaranya yang disakiti. Memang ada bekas kekerasan di dada anak perempuan itu, tetapi bukan oleh gurunya, entah oleh siapa. Akibatnya, polisi bisa bingung yang akhirnya mengambil jalan “perdamaian”, yaitu guru harus mengakui perbuatannya dan harus meminta maaf, lalu laporan dicabut dan guru bisa bebas dari penjara.

            Guru mana yang mau seperti itu?

            Mana mau guru mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya?

            Daripada harus mengakui telah menyakiti dada dan payudara siswanya, Sang Guru yang juga perempuan itu memilih untuk berada dalam penjara karena memang hanya mencubit paha. Itu persoalan harga diri dan kebenaran yang sedang dipertaruhkan.

            Kalau sudah semrawut begitu kan jadi makin runyam dan nggak karu-karuan, iya nggak?

            Biarkan saja polisi mengerjakan perkerjaan lain yang jauh lebih penting dan lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara, jangan makin disibukkan dengan persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang lebih arif dan bijaksana selaku masyarakat yang berbudaya luhur.

            Memang cara-cara pendidikan di sekolah menengah atas yang saya ceriterakan tadi perlu diuji keberhasilannya. Kita lihat saja tiga tahun ke depan apakah ada kasus atau tidak. Jika tidak ada kasus yang masuk ke kepolisian, berarti mereka berhasil. Artinya, kesepahaman dan kesepakatan orang tua dan guru tersebut berjalan sangat efektif dan berhasil. Akan tetapi, paling tidak sepanjang pengetahuan saya, dari sekolah itu sampai hari ini tidak pernah ada berita telah terjadi kekerasan oleh guru kepada siswa yang masuk meja kepolisian.


            Begitulah cara mereka menyiasati agar tidak “terjerat Ham” dan tetap berhasil menyelenggarakan proses pendidikan dengan cara yang sangat baik sesuai dengan keyakinan yang mereka miliki.

Tuesday, 5 July 2016

Ssst ... Jangan Ngomongin Soal Bom ... Berisik!

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada penghujung Ramadhan 1437 H, 2016 M, telah meledak beberapa bom pada beberapa tempat di seluruh dunia. Bom-bom itu meledak di Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, Indonesia, dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyedot perhatian media massa di seluruh dunia.

                 Sebaiknya, berita-berita semacam itu jangan terlalu dibesar-besarkan. Itu memang berita, tetapi buat saja menjadi berita kecil. Soalnya, mereka yang melakukan peledakan itu cuma narsis. Mereka hanya mencari perhatian dengan mendompleng pada bulan Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri. Apabila berita itu terlalu dibesar-besarkan, kita jadi tertarik pada agenda mereka. Orang-orang itu memang inginnya mendapatkan berita spektakuler dan dianggap eksis berat di muka Bumi ini.

                 Tampaknya mereka itu iri dengan kebahagiaan kaum muslimin pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini bukan hanya umat Islam yang merayakannya, melainkan pula umat-umat lain mulai menunjukkan penghormatan yang tulus dan persaudaraannya terhadap kaum muslimin sebagai sesama manusia. Rasa hormat dan kedamaian yang harmonis memang semakin menguat. Khusus di Indonesia, banyak sekali nonmuslim yang merasakan getaran menyenangkan dari suasana Ramadhan dan kebahagiaan Idul Fitri. Hal itu menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

                 Sementara itu, orang-orang yang penuh kebencian semakin terpuruk dengan agenda-agenda kusut mereka. Orang-orang ini sudah tercerabut dari lingkungannya karena memang memisahkan diri dari orang lain dan memastikan dirinya sebagai “kumpulan manusia terbaik” yang tidak memerlukan orang lain lagi. Kasihan mereka. Ketika orang-orang mudik dalam suasana bahagia dan ingin lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di kampung tempatnya lahir, orang-orang kusut pikiran cemburu karena terpisah secara emosi dari keluarga dan sanak saudaranya.

                 Orang-orang yang selama ini menggerakkan dan membiayai mereka pun cemburu berat dengan hal itu. Ketika melihat kaum muslimin bergembira dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang juga mendapatkan penghormatan dari umat-umat lain, mereka merasa tersisihkan. Ketika manusia-manusia yang waras otak berusaha menjaga jalinan hubungan perdamaian dan kasih sayang, orang-orang yang penuh agenda kebencian itu sangat iri, gelisah, dan marah. Oleh sebab itu, mereka membuat banyak huru-hara di tempat-tempat yang dianggap menjadi perhatian manusia.

                 Bagaimana tidak akan iri dengan kebahagiaan kaum muslimin?

                 Kaum muslimin itu memiliki minimal dua kebahagiaan dalam Ramadhan. Kata Nabi Muhammad saw orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika Idul Fitri.

                 Orang-orang yang kusut pikiran tidak memiliki dua kebahagiaan itu. Jelas sekali jika mereka iri. Rasa iri mereka diwujudkan dengan melakukan pemboman di tempat-tempat yang mereka benci. Masjid Nabawi adalah tempat yang mereka benci. Pemboman di tempat itu menunjukkan bahwa mereka membenci kebahagiaan kaum muslimin, mempertahankan suasana tidak aman di negeri-negeri muslim, menciptakan berita dan ceritera bahwa kaum muslimin selalu berada dalam huru-hara, dan menunjukkan betapa narsisnya mereka.


                 Dengan demikian, tak perlu dibesar-besarkan berita tentang perilaku murahan seperti itu. Terlalu rendah bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Waspada memang harus terus dijaga dan yang lebih penting adalah sekarang saatnya untuk terus mengagungkan Allah swt dan memuliakan kaum muslimin serta menjaga kasih sayang di antara sesama manusia dan menciptakan keseimbangan kehidupan di seluruh alam semesta.