Tuesday, 23 January 2024

Penyebab Kekalahan Prabowo-Gibran

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam tulisan yang lalu saya menjelaskan bahwa Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang punya nomor urut 02 akan menjadi pemenang dalam pemilihan presiden 2024. Hal itu berdasarkan pada perhitungan survey yang selalu benar dilakukan oleh lembaga-lembaga berpengalaman dan terpercaya. Lembaga-lembaga itu seluruhnya mengatakan bahwa Prabowo-Gibran adalah pemenangnya. Kemenangan itu akan berlanjut menjadi sangat nyata hingga mereka dilantik menjadi presiden dan wakil presiden hasil pemilihan 2024. Mereka berdua akan menang jika kondisi tetap stabil hingga hari pemilihan. Akan tetapi, mereka akan kalah jika ada peristiwa besar yang meruntuhkan seluruh tanda-tanda kemenangan mereka seperti yang terjadi pada kasus Ahok yang dalam survey menang, tetapi kenyataannya kalah. Itu disebabkan ada peristiwa besar berupa kasus “penodaan atau penistaan agama” yang dianggap dilakukan Ahok. Kalau ada yang membaca tulisan saya yang lalu, seharusnya sudah mengerti hal ini.

            Hal-hal yang bisa menyebabkan Prabowo dan Gibran kalah adalah jika mereka berdua melakukan “pelanggaran hukum dan melakukan perbuatan tercela” yang dianggap hina oleh rakyat. Kalau soal etika yang diributkan, itu mah soal kecil dan hanya dianggap hina oleh lawan dan pendukungnya, bukan hina dalam pikiran masyarakat umum secara luas. Gibran dianggap tidak beretika terhadap Mahfud MD, tetapi Anies pun dianggap tidak beretika terhadap Prabowo yang usianya lebih tua dan tidak tahu balas budi karena dimodali jadi gubernur DKI oleh Prabowo. Bukan seperti itu perbuatan tercela yang dianggap hina. Ganjar pun dianggap tidak beretika karena menyerang Jokowi, padahal Jokowi yang telah membesarkannya dengan julukan “Si Rambut Putih”. Begitu yang diperbincangkan netizen. Perbuatan tercela yang dianggap hina meskipun kecil berdampak besar, misalnya, melakukan pelecehan seksual dengan menjawil pantat perempuan atau laki-laki, itu akan drastis menurunkan derajatnya.

            Hal lain yang bisa membuat Prabowo-Gibran kalah adalah ketidakseriusan pendukungnya dalam memilihnya. Dalam survey dikemukakan bahwa mayoritas pendukung Prabowo dan Gibran adalah anak-anak muda. Jumlah anak muda, termasuk pemilih pemula adalah sangat besar dan menentukan. Masalahnya, masih menurut survey, partisipasi anak-anak muda dalam proses pemilihan sangatlah kecil. Dalam Pemilu-Pemilu sebelumnya anak-anak muda tidak serius dalam pemilihan. Mereka banyak yang tidak menggunakan hak suaranya dalam memilih. Alasannya sepele, seperti, ketiduran, bangun kesiangan, malas, main dengan teman, malam sebelumnya begadang hingga tengah malam, atau cuaca tidak mendukung semisal hujan saat hari pemilihan. Bukan hanya para tukang survey yang mengatakan demikian. Saya pun sudah sejak lama mendengar obrolan para orang tua yang menjelaskan bahwa anak-anaknya sering tidak ikut dalam berbagai proses pemilihan politik.

            Hal-hal seperti itulah yang akan mengakibatkan Prabowo dan Gibran kalah dalam pemilihan presiden 2024. Oleh sebab itu, mereka berdua harus tetap menjaga dirinya, jangan sampai melakukan hal-hal yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma yang berlaku. Di samping itu, tim sukses mereka harus bekerja keras agar anak-anak muda dan para pemilih pemula dapat benar-benar mengikuti proses pemilihan dengan baik.

            Kita harus ingat bahwa 14 Februari 2024 itu cuaca sedang hujan tinggi-tingginya yang bisa menyebabkan orang malas mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di samping itu, ada musim pertandingan sepak bola yang sangat menarik bagi penggemar bola yang bisa membuat orang-orang bergadang hingga subuh hari. Besoknya, tidur sampai pukul 13.00 siang, pemilihan sudah ditutup, hilanglah kesempatan memilihnya.

            Bagi saingan Prabowo-Gibran, berharaplah bahwa penyebab-penyebab kekalahan itu terjadi. Kalau tidak terjadi, seperti yang saya bilang, Prabowo menjadi presiden dan Gibran menjadi wakilnya untuk mengganti pasangan Jokowi-Maruf Amin.


Prabowo Joget Ditemani Gibran (Foto: RMOL)

            Bagi Prabowo-Gibran, jaga diri selamanya, tetap baik dan jaga anak-anak muda pendukungnya untuk ikut dalam pemilihan. Jangan cuma heboh dalam masa kampanye, tetapi loyo pada hari pemilihan agar kemenangan dalam survey menjadi kenyataan.

            Foto Prabowo berjoget ditemani Gibran saya dapatkan dari RMOL

            Sampurasun

Sunday, 21 January 2024

Kebingungan tentang Survey

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak masyarakat yang kebingungan dan keheranan dengan survey, terutama menghadapi peristiwa-peristiwa politik yang melibatkan pemilihan pemimpin politik, baik itu anggota legislatif, kepala daerah, maupun presiden. Ilmu yang digunakan untuk melakukan survey sebetulnya adalah ilmu lama yang selalu diajarkan di perguruan tinggi dari zaman ke zaman, terutama untuk tingkat S1, S2, dan S3. Biasanya, ilmu ini diajarkan dalam mata kuliah Metode Penelitian. Masalahnya, ilmu ini tidak digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sehingga seolah-olah ilmu baru, hal baru, atau sesuatu yang memusingkan. Saya melihat masyarakat yang kebingungan ini disebabkan tidak memahami ilmunya, tidak percaya hasilnya karena tidak sesuai dengan keinginannya, dan penolakan terhadap ilmu pengetahuan.

            Kalaulah boleh diibaratkan, survey ini merupakan dugaan keras terhadap sesuatu yang akan terjadi setelah melihat tanda-tanda bahwa peristiwa itu bakalan terjadi. Sebetulnya, sering kita membuat dugaan-dugaan yang sangat sering terjadi dalam kenyataan. Misalnya, jika langit mendung berat, petir menyambar-nyambar, dan angin meniup kencang daun-daun pepohonan, itu tandanya hujan segera tiba, hujan besar akan turun. Semudah itu memahaminya.

            Pertanyaannya, pastikah hujan akan turun?

            Biasanya, memang seperti itu. Akan tetapi, hujan bisa tidak turun jika tiba-tiba ada angin besar yang meniup awan mendung berat sehingga membuat awan bergeser dan membuat suasana hari menjadi cerah. Jadi, tanda-tanda bakal turun hujan itu tidak membuat turun hujan karena ada peristiwa khusus yang membuat tanda-tanda itu berubah.

            Mudah-mudahan paham penjelasan ini.

            Seperti itulah survey dilakukan. Para tukang survey mencari tanda-tanda bagaimana keadaan politik dan pendapat masyarakat, baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif yang menghasilkan angka-angka. Rakyat yang ditanya disebut sampel, sampel yang diambil secara acak biasanya lebih bagus hasilnya. Jika penelitiannya dilakukan dengan jujur dan dengan cara yang tepat, biasanya hasilnya selalu menjadi kenyataan, kecuali ada peristiwa khusus yang mengubahnya.

            Orang yang tidak biasa menggunakan metode ini, pasti kebingungan. Padahal, metode ini sering digunakan para pengusaha, misalnya, makanan apa yang disukai rakyat, bentuk rumah yang laku dijual, pakaian yang sedang tren, atau kendaraan terbaru.

            Memang tidak semua paham melakukan ini, para akademisi pun masih sering kebingungan, kecuali mereka yang sangat bergairah dalam metode penelitian, terutama kuantitatif yang melibatkan banyak angka. Hal ini bisa dilihat dari sangat banyaknya akademisi yang berbicara dan bertindak tanpa data dan fakta yang tepat sehingga menimbulkan kekacauan berpikir yang sering salah. Misalnya, dulu mengatakan bahwa Prabowo akan menang karena melihat jumlah demonstran 212 di Monas melalui drone. Kenyataannya, Prabowo kalah oleh Jokowi karena tidak begitu caranya membuat simpulan.

            Supaya tidak pusing, saya kasih contoh. Survey ini sejak 1999, menjadi menarik untuk memprediksi pemenang dalam pemilihan presiden dan kepala daerah. Hasilnya, selalu benar meskipun ditolak oleh orang-orang yang kalah pemilihan. Akan tetapi, ada kejadian menarik bahwa hasil survey ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta pada waktu yang lalu. Dalam survey, Ahok pemenangnya, suaranya paling tinggi, tetapi dalam kenyataannya Anies yang menang.

            Mengapa bisa begitu?

            Hal itu disebabkan ada angin besar yang menyebabkan awan mendung berat bergeser sehingga mengubah prediksi seperti yang saya jelaskan tadi. Angin besar itu berupa perilaku Ahok yang “keseleo lidah” sehingga dinyatakan bersalah oleh hakim dalam kasus penodaan atau penghinaan terhadap agama. Dengan demikian, tanda-tanda kemenangan Ahok itu hanya tanda-tanda yang telah terhapus angin besar. Para pendukung Ahok tidak lagi memilih Ahok karena angin besar itu.

            Mudah-mudah paham penjelasan ini.

            Sekarang, seluruh lembaga survey, tanpa kecuali, menyimpulkan Prabowo-Gibran unggul jauh melebihi Gama dan Amin.  Prabowo-Gibran adalah pemenang Pilpres 2024.

Hal yang masih diperbincangkan adalah Pragib ini apakah akan menang dalam satu putaran atau dua putaran karena belum mencapai angka 50% + 1?

Suvey mayoritas tertinggi adalah sekitar 47% meskipun ada yang mengatakan sudah 58%.

Kemenangan ini akan berlanjut hingga hari pemilihan, 14 Februari 2024, hingga Prabowo-Gibran menjadi presiden dan wakil presiden RI. Hal ini akan benar-benar terjadi jika tidak ada angin kencang yang menggeser awan mendung berat tadi.

Kalau masih pusing dan belum paham, memang harus kuliah. Di Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari, saya memprogramkan hal ini dalam tiga semester dengan mata kuliah Filsafat Ilmu, Metode Penelitian Sosial, serta Metode Penelitian Hubungan Internasional. Itu pun baru penjelasan secara teori dengan sedikit praktik. Perlu orang yang punya gairah meneliti dan praktik dalam waktu terbang yang cukup tinggi untuk lebih memahami dan melakukannya.

So, seperti itulah.

Kenapa orang sering salah dan kalah?

Karena menentang ilmu pengetahuan.

Mudah-mudahan penjelasan saya ini sedikit mencerahkan. Kalau tidak, ya wayahna.

Sampurasun.

Tuesday, 16 January 2024

Soal Pemecatan Jokowi, Jangan Salahkan Mahfud M.D.

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada sekelompok orang yang menamakan diri “Petisi 100” yang ingin memecat Jokowi atau memakzulkan Jokowi dari kursi kepresidenan. Orang-orangnya itu-itu saja, mereka yang sudah pada tua, sering salah, dan sering kalah. Nggak bosen-bosennya mereka kalah karena salah bertindak akibat salah mikir.

            Mereka mendatangi Mahfud M.D. yang masih menjabat sebagai Menkopolhukam dan Calon Wakil Presiden mendampingi Calon Presiden nomor urut 03 Ganjar Pranowo. Petisi 100 mengutarakan maksudnya kepada Mahfud, entah apa maksudnya. Langkah ini juga sudah salah mikir.

            Mahfud memberikan penjelasan kepada mereka bahwa untuk memecat presiden itu bukan ranah dirinya, melainkan bidangnya DPR/MPR. Mahfud menyatakan bahwa jika DPR/MPR setuju dan Mahkamah Konstitusi (MK) juga mengamininya, Presiden Jokowi bisa dipecat.

            Pendukung Paslon No. 02 Prabowo-Gibran banyak yang marah kepada Mahfud karena mengajari cara memecat presiden. Mereka menganggap bahwa Mahfud memberikan arah untuk memecat Presiden Jokowi.

            Sebetulnya, pendukung Prabowo-Gibran tidak perlu marah-marah. Memang ada mekanismenya, ada caranya untuk memecat presiden, dan itu sah serta halal dilindungi oleh undang-undang. Caranya, ya itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Mahfud. Semua mahasiswa dan dosen ilmu politik seharusnya tahu ini, ada cara yang diperbolehkan oleh undang-undang untuk memecat presiden.

            Mengapa mesti marah?

            Kalau memang bisa, ya lakukan saja. Itu diperbolehkan. Akan tetapi, hal itu sangat sulit dilakukan karena harus ada persetujuan DPR/MPR yang minimal harus disetujui oleh 2/3 anggota-anggotanya. Mahfud menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki wewenang memecat presiden. Itu benar. Mahfud kan hanya pembantu Jokowi.

            Masa pembantu mau memecat majikannya?

            Tidak bisa dong. Salah-salah, Jokowi bisa sambil tiduran di kasur tinggal telepon Mahfud untuk berhenti jadi menteri, lalu diganti orang lain. Petisi 100 memang orang-orang lucu yang sering salah dan kalah.

            Di DPR/MPR itu ada banyak partai pendukung Prabowo-Gibran yang sudah pasti tidak akan setuju untuk memecat Jokowi. Langkah mendapatkan persetujuan DPR saja sudah tidak bisa dilakukan, apalagi sampai memecat Jokowi.

            Pendukung Prabowo-Gibran tidak perlu khawatir dan tidak usah marah kepada Mahfud karena memang begitu caranya memecat presiden. Sayangnya, sangat sulit dilakukan, belum lagi harus ada bukti pelanggaran yang dilakukan Jokowi terhadap undang-undang. Kalau cuma celotehan di Medsos yang biasanya berantakan itu, tidak berarti apa-apa.

            Tidak perlu marah, Woy! Jogetin aja. Gemoyin aja.

            Sampurasun.

Saturday, 13 January 2024

RS Indonesia Tempat Ternyaman Buat Israel

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap di wilayah itu untuk melayani kesehatan warga Gaza, Palestina. Bertahun-tahun telah beroperasi dengan baik dan memberikan banyak pertolongan. Sayangnya, ketika pecah perang antara Hamas dengan Israel, Rumah Sakit Indonesia dituduh sebagai sarang Hamas yang dianggapnya sebagai teroris. Berdasarkan tuduhan itu, tentara Israel menyerang dan mengusir semua dokter, pasien, serta merusakkan peralatan medis di sana. Akibatnya, kini Rumah Sakit Indonesia dikuasai oleh tentara Israel.

            Belakangan diketahui ternyata tuduhan Israel bahwa RS Indonesia menjadi sarang Hamas adalah akal-akalan Israel saja. Mereka tahu bahwa RS Indonesia adalah tempat ternyaman bagi tentara Israel. Kini RS Indonesia menjadi markas tentara Israel untuk menyerang perempuan dan anak-anak Palestina agar mati atau terusir dari Gaza. Mereka tahu bahwa Hamas tidak akan pernah menyerang bangunan Rumah Sakit Indonesia karena Palestina sangat menghormati Indonesia.

            Rasa hormat dan rasa sayang Palestina kepada Indonesia melebihi rasa hormat terhadap negara-negara Arab lainnya. Hal ini pernah membuat Ratu Yordania cemburu. Sang Ratu mempertanyakan mengapa warga Palestina sangat menyanjung Indonesia, padahal banyak sekali negara Arab dan non-Arab yang juga membantu Palestina. Pertanyaan itu dijawab oleh netizen Palestina bahwa Ratu Yordania tidak perlu mengomentari orang Indonesia yang telah merasa bersaudara dengan rakyat Palestina. Orang Indonesia lebih terihat tulus dan serius dalam membela Palestina meskipun jaraknya jauh. Bagi saya, mudah saja menjawabnya, rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia itu satu suara dalam membela Palestina karena dikuatkan oleh amanat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan dari muka Bumi. Kalaupun ada beberapa gelintir pihak yang membela Israel di Indonesia, itu hanya semacam gatal-gatal di tubuh yang cukup diselesaikan dengan cara diusap atau digaruk.

            Israel paham bahwa Hamas tidak akan menyerang RS Indonesia karena rasa hormatnya yang sangat tinggi itu. Oleh sebab itu, tentara Israel menjadikan RS Indonesia sebagai markas paling aman di Gaza, Palestina. Dengan demikian, Israel punya tempat kokoh untuk mengusir dan membunuhi rakyat Palestina. Mereka sendiri takut terhadap prajurit Hamas, beraninya berperang melawan perempuan, anak-anak, dan mengebom bangunan-bangunan.


Rumah Sakit Indonesia Jadi Markas Tentara Israel (Foto: CNN Indonesia)


Puing-Puing Bangunan Akibat Kejahatan Israel (Foto: ANTARA News Kuala Lumpur)

            Melihat kenyataan tersebut, Hamas menganggap perlu menyerang Israel yang sedang bermarkas di RS Indonesia. Oleh sebab itu, mereka dengan berat hati meminta izin kepada Indonesia untuk menyerang Israel di RS Indonesia yang mungkin akan mengakibatkan kerusakan dalam bangunan itu. Hal ini diberitakan oleh Ketua Presidium Mer-C dr. Sarbini Abdul Murad bahwa Hamas meminta izin untuk menyerang RS Indonesia karena di dalamnya dipenuhi tentara Israel. Mereka merasa perlu menyerang ke bangunan itu untuk menghentikan kejahatan Israel.

            Foto Rumah Sakit Indonesia yang dikuasai Israel saya dapatkan dari CNN Indonesia, sedangkan puing-puing bangunan yang hancur di seputar rumah sakit fotonya saya dapatkan dari ANTARA News Kuala Lumpur.

            Saya pikir, ibu-ibu pengajian, rakyat kecil, para tukang sayur, tukang bubur, para marbot, dan seluruh rakyat Indonesia yang telah banyak memberikan sumbangannya untuk pembangunan RS Indonesia dengan uang recehan 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu, 100 ribu, jutaan, termasuk pemerintah Indonesia yang telah membantu kemerdekaan Palestina dengan ratusan juta dollar AS, perlu terus memberikan dukungan untuk melenyapkan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Soal nanti bangunan RS Indonesia yang rusak akibat perang, itu hanya soal uang yang bisa kita cari lagi dan kumpulkan lagi. Meskipun bangunan itu nantinya rusak, pahala dari memberikan sumbangan itu tidak akan ikut rusak. Pahala kita sudah sampai kepada Allah swt. Uang itu soal kecil. Allah swt sama sekali tidak menerima uang itu, tak ada artinya bagi Allah swt uang itu. Allah swt hanya menerima ketulusan dan keikhlasan kita dalam berbuat kebaikan di muka Bumi ini.

            Biarlah bangunan RS Indonesia rusak sebagai bentuk pengorbanan tanpa henti rakyat Indonesia dalam menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 mendukung penuh perdamaian di muka Bumi dan kemerdekaan Palestina.

            Iya, toh?

            Iya toh pisan.

            Sampurasun.

Wednesday, 10 January 2024

Beli Pesawat Tempur Tidak Seperti Beli Mie Instan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang menduga jika beli pesawat atau senjata tempur itu seperti beli makanan di super market atau di toko yang ketika kita butuh dan punya uang, bisa langsung beli. Dugaan salah itu mengakibatkan pikiran dan pernyataan yang salah juga. Salah satu pernyataan salah itu adalah “kita tidak perlu beli senjata karena tidak sedang berperang, kita sedang damai, nanti saja beli kalau situasi perang”.

            Pernah dengar pernyataan salah seperti itu?

            Memangnya ada toko yang jualan alat tempur dadakan?

            Di mana?

            Memangnya pesawat atau senjata tempur baru sudah pada jadi dipajang di etalase?

            Tidak ada barang baru yang sudah jadi. Kalau pun ada, pasti barang bekas.

            Kalau kita menunggu situasi perang, lalu beli, kita keburu mati dihancurkan musuh dan kesulitan untuk membeli karena barangnya juga tidak ada. Pesawat tempur baru itu tidak ada, hanya ada dalam pikiran, baru rencana. Kalau mau yang baru itu, harus pesan dulu dengan birokrasi yang rumit. Kalaupun bisa pesan yang baru, pesawat tempur itu baru datang tiga tahun kemudian karena harus dibuat dulu, tidak ada yang dadakan sudah ada dipajang di toko. Berbeda dengan mie instan yang sudah banyak berjejer di rak mini market.

            Kalaupun pesawatnya sudah datang, tidak bisa langsung dioperasikan karena harus dipelajari dulu, dicoba, diuji, dievaluasi. Ada sekolahannya untuk mengoperasikannya, termasuk cara perawatan, pemeliharaan, dan perbaikannya. Barang baru itu selalu menggunakan teknologi baru yang berbeda dengan pesawat sebelumnya. Itu artinya ada hal baru yang harus dipahami terlebih dahulu.

            Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto sudah memesan 42 unit pesawat tempur baru Rafale dari Perancis, tetapi barangnya datangnya tiga tahun kemudian dan tidak langsung 42 unit, paling juga bertahap, misalnya, 6, 8, atau 10 unit dulu karena proses pembuatannya lama, bertahun-tahun. Sisanya, nanti. Foto Rafale versi lama yang sudah jadi saya dapatkan dari Tribun-medan com.


Rafale (Foto: Tribun-medan.com)


            Sama juga ketika Rusia memesan lima unit Tank Boat Antasena buatan Indonesia. Perlu waktu satu atau dua tahun untuk memproduksinya. Sekarang Rusia sedang berperang dengan Ukraina. Mereka belum bisa menggunakan Antasena karena masih dibuat di Indonesia. Tank Boat Antasena adalah tank tempur yang bisa berjalan di atas air, satu-satunya di dunia hasil karya anak bangsa Indonesia. Foto Tank Boat Antasena saya dapatkan dari Jejak Tapak. Jadi, nggak bisa beli dadakan untuk alat tempur baru.


Tank Boat Antasena (Foto: Jejak Tapak)


            Kita harus paham bahwa Indonesia membeli pesawat tempur bekas Mirage dari Qatar itu untuk memenuhi kebutuhan pertahanan sebelum pesawat tempur yang baru datang ke Indonesia. Foto Mirage saya dapatkan dari Indomiliter com. Selama ini Indonesia banyak menggunakan pesawat tempur Hawk yang sudah harus dipensiunkan. Foto Hawk saya dapatkan dari Okezone com.


Hawk (Foto: Okezone.com)


Mirage (Foto: Indomiliter.com)


            Pesawat tempur Hawk yang sudah mulai diistirahatkan harus diganti dengan pesawat baru untuk menjaga pertahanan udara Indonesia. Sementara itu, pesawat tempur baru belum datang, maka beli dulu pesawat tempur bekas Mirage dari Qatar.

            Kalau kita tidak punya pesawat untuk mempertahankan negara, mau dilindungi pakai apa?

            Kita bisa makan, sekolah, jalan-jalan, ibadat, termasuk membaca tulisan ini, salah satunya ada pesawat dan kendaraan tempur yang menjaga kita di darat, di laut, dan di udara agar tidak diserang negara lain. Itu kenikmatan yang harus kita syukuri sebenarnya.

            Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?

            Bekas itu bukan rongsokan. Pesawat tempur itu punya waktu terbang sekitar 25 atau 30 tahun. Kita beli dari Qatar itu pesawat yang baru dipakai sekitar 10 tahun. Jadi, kita masih bisa menggunakannya untuk 15 atau 20 tahun ke depan. Sama saja jika kita membeli motor atau mobil bekas, kan bukan rongsokan yang kita beli, melainkan kendaraan yang masih layak pakai dengan melakukan rekondisi sebelum digunakan. Kalau kita belinya rongsokan, kemudian nggak bisa dipakai, itu salah sendiri.

            Begitu kira-kira yang bisa saya jelaskan soal kenapa kita harus menggunakan pesawat atau alat tempur bekas yang masih layak pakai. So, jangan disesatkan dengan pikiran bahwa beli barang bekas itu sama dengan barang rongsokan yang membahayakan penggunanya. Memang ada yang beli rongsokan sih, ya itu beli motor atau mobil yang sudah berantakan kondisinya dan tidak bisa diperbaiki. Barang bekas itu tidak masalah asal masih layak pakai. Barang baru itu nanti setelah jadi, bisa digunakan dengan baik.

            Eh, BTW untuk menerangkan ini saya butuh dari empat menit, nggak mungkin dijelaskan dalam debat Capres yang hanya dikasih waktu 1, 2, hingga 4 menit.

            Sampurasun.

Sunday, 24 December 2023

Gibran Bisa Senasib Jokowi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mungkin saya menulis hal seperti ini yang keempat kalinya. Tiga kali tentang Jokowi dan satu kali, tulisan ini, tentang Gibran. Dalam tulisan-tulisan lalu, saya bilang bahwa kalau ingin mengalahkan Jokowi, jangan selalu berbicara tentang Jokowi, baik keburukannya apalagi kebaikannya. Sebaiknya, banyak-banyaklah bicara tentang Prabowo agar di kepala rakyat tertanam nama Prabowo hingga menang dalam Pilpres 2019 lalu. Akan tetapi, ternyata sampai hari ini nama Jokowi yang terus diomongin, pasti menang atuh karena yang tertanam di kepala masyarakat adalah nama Jokowi. Orang-orang yang nggak ada capek-capeknya ingin Jokowi turun, tidak pernah berhasil. Salah cara, Bro.


Gibran dan Jokowi (Foto: Majalah TEMPO - TEMPO co)


            Ini mah da sudah jadi teori. Mereka yang sedikit belajar Ekonomi Marketing pasti tahu bahwa jika semakin sering sesuatu diucapkan, akan semakin kuat tertanam di memori konsumen. Saya juga belajar dari jenis orang-orang yang membuat kalimat “Aku dan Kau Suka Dancow”, “Kijang Memang Tiada Duanya”, “Cring-cring-cring, Cuma Empat Puluh Empat Ribu”.

            Masih ingat kalimat-kalimat iklan itu?

            Kalimat-kalimat itu mahal bayarannya, Bro. Saat itu saja satu kalimat sudah puluhan juta rupiah.

            Itu iklan susu Dancow, mobil Kijang, dan mobil Panther. Saya ketemu sama orang-orang yang membuat kalimat-kalimat semacam itu. Mereka mengajarkan bahwa di dalam otak manusia itu ada tangga penyimpan memori. Dalam tangga itu ... bla, bla, bla, ... kepanjangan kalau saya tulis di sini. Hal yang jelas adalah jika sesuatu dibicarakan terus-menerus, sesuatu itu akan menempati ranking pertama dalam otak manusia dan manusia secara otomatis akan memilih pilihan ranking pertama itu. Karena Jokowi yang paling sering dibicarakan, ya Jokowi yang jadi ranking pertama dalam otak masyarakat.

            Sekarang, yang paling banyak diomongin adalah Gibran Rakabuming Raka, anaknya Jokowi. Secara teori, dia akan menang karena terus-menerus diomongin. Orang menyangka jika berbicara buruk tentang Gibran, akan membuat namanya jatuh. Kenyataannya, tidak seperti itu. Jokowi disebut PKI, sesat, kafir, ahli neraka, dsb., tidak jatuh juga, malah kepercayaan rakyat sampai 90% dan kepuasan rakyat mencapai 82%. Itu faktanya.

            Jika menyerang Gibran, Tim Kampanye Nasional (TKN) akan memberikan pembelaan dengan penjelasan-penjelasan yang mereka anggap logis. Misalnya, Gibran diserang soal “hilirisasi digital” yang katanya tidak mudah dimengerti, padahal mudah saja. Tinggal buka kamus, apa itu hilirisasi apa itu digital, lalu gabungkan kedua kata itu dan kaitkan dengan konteks kalimatnya. Bahkan, dalam hitungan detik, TKN memberikan penjelasan tentang hilirisasi digital. Demikian pula media seperti Detik dan Kompas memberikan penjelasan juga. Malah, media asing, seperti, Aljazeera, Asian News, dan BBC memberitakan Gibran dengan sebutan Jokowi’s Son, ‘Anak Jokowi’. Lebih jauh dari itu, Kemenkominfo RI pun menerangkan tentang program hilirisasi digital. Itu artinya, semakin banyak pihak yang membicarakan Gibran, baik yang menyerangnya maupun membelanya. Nama Gibran akan semakin melekat di otak masyarakat.

            Saya ulangi lagi, kalau ingin Prabowo-Gibran kalah, jangan banyak diomongin, baik keburukannya maupun kebaikannya, apalagi dicampur hoak, dusta, dan fitnah. Sebaiknya, banyak-banyaklah berbicara tentang Anies-Muhaimin dengan program-programnya, semisal, pemerataan pembangunan dengan membangun 40 kota seperti Jakarta dalam lima tahun atau slepetnomics. Banyaklah berbicara tentang Ganjar-Mahfud yang ingin memberikan gaji guru Rp30 juta sebulan dan pemberantasan korupsi melalui penegakan hukum. Itu yang harus banyak dibicarakan, gali pemahaman-pemahaman mereka. Jangan banyak ngomongin soal Prabowo atau Gibran.

            Saya jadi curiga, jangan-jangan para pendukung No. 1 dan No. 3 tidak paham juga program-program jagoannya. Hal yang mereka pahami adalah justru ngomongin Capres-Cawapres No. 2, Prabowo-Gibran. Buktinya, mereka hobi banget ngomongin Prabowo dan Gibran.

            Sejarah membuktikan, orang yang paling banyak diomongin jadi pemenangnya. Nanti kalian bisa terkaget-kaget dan kecewa ketika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dilantik menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia. Kalian juga sih yang mengiklankan mereka.

            Berhenti ngomongin Prabowo-Gibran, banyaklah ngomongin Anies, Muhaimin, Ganjar, dan Mahfud. Itu juga kalau bisa. Kalau tidak bisa, ya relakan saja jika Prabowo dan Gibran jadi juaranya seperti Jokowi dulu. Foto Jokowi dan Gibran saya dapatkan dari Majalah TEMPO – TEMPO co.

            Sampurasun.

Saturday, 23 December 2023

Gibran Belajar dari Abraham Lincoln dan Jokowi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kata orang, Gibran Rakabuming Raka unggul dalam sesi debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) RI untuk pemilihan 2024. Akan tetapi, bagi saya, Gibran itu “lepas kendali” dalam debat. Dia tampil sebagaimana dirinya dan melepaskan kendali dari timnya ataupun dari para pembencinya. Dia tidak menyandarkan diri kepada para pendukungnya atau pada para penghinanya. Dia memasukkan segala pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan pelatihannya untuk kemudian tampil dengan gayanya sendiri.


Dari kiri ke kanan: Muhaimin, Gibran, Mahfud (Foto: Beritajateng.tv)


            Kurang lebih itu yang saya lihat dari debat Cawapres baru-baru ini. Hal yang membuat saya tertarik adalah Gibran tampaknya menyiapkan betul untuk debat sejak beberapa bulan sebelumnya. Dia kelihatan sekali mengikuti jejak Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln. Sesuai dengan pengalamannya, Abraham Lincoln mengajarkan untuk “irit bicara” dan “menjadikan diri sebagai magnet” bagi orang lain. Sepertinya, ini yang dilakukan Gibran berbulan-bulan sebelum debat. Dia sangat irit bicara, bahkan rela disebut anak bau kencur yang tidak berpengalaman berdebat, padahal dia walikota yang sudah pasti pernah berdebat sebelumnya. Bahkan, kesalahan ucap yang seharusnya asam folat menjadi asam sulfat pun tampaknya dia nikmati sehingga menjadi magnet bagi orang lain, baik pendukungnya maupun pembencinya. Di samping itu, banyak aktivitas lain yang dia lakukan dan menjadi magnet daya tarik bagi orang lain.

Saya sendiri sampai bertanya kepada murid-murid saya, baik mahasiswa maupun siswa aliyah, “Kenapa sih kalian selalu membicarakan Gibran? Hampir semua orang di Medsos ngomongin Gibran.”

Itu artinya, dia sudah menjadi magnet bagi banyak orang.

Dalam berdebat, dia kelihatan sekali meniru Jokowi, ayahnya, Presiden Republik Indonesia. Dia menggunakan singkatan SGIE dan CCS yang merupakan istilah tidak umum dan sulit dijawab langsung. Kalau tidak searching di Google, saya juga tidak tahu singkatan itu. Hal ini pernah dilakukan ayahnya ketika berdebat dengan menggunakan singkatan yang tidak umum, yaitu TPID dan istilah lainnya, yaitu unicorn. Penggunaan singkatan yang tidak umum ini tentu saja membuat lawan debat tampak tertohok dan kelihatan tidak menguasai masalah sehinga merasa kalah serta berupaya keras untuk membela diri atas peristiwa tersebut di luar acara debat resmi.

Tahu kan kepanjangan SGIE, CCS, dan TPID?

Kalau tidak tahu, cari di Google, lalu pahami maknanya. Mari belajar memahami sebelum berbicara atau mengetikkan sesuatu di internet.

Upaya yang dilakukan Gibran ini cukup berhasil sehingga membuat pengkritik keras keluarga Jokowi, Rocky Gerung, pun menobatkan Gibran adalah bintang dalam debat Cawapres itu.

Meskipun demikian, saya mengusulkan pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar mewajibkan setiap peserta debat jika menggunakan istilah atau singkatan yang tidak umum agar dijelaskan terlebih dahulu sehingga lebih mudah dipahami, tidak kaget tiba-tiba karena tidak paham. Tidak semua singkatan atau istilah dihapal orang. Ada ratusan ribu atau bahkan jutaan singkatan atau istilah yang ada pada berbagai bidang di Indonesia ini. Kalau tidak diwajibkan untuk menjelaskan terlebih dahulu tentang singkatan atau istilah yang digunakan, nanti bisa perang singkatan atau istilah yang sama sekali tidak perlu.

Kalau saya tanya pendapat kalian tentang CRIH, bisa menjawabnya?

Sulit kan menjawabnya?

Itu karena singkatan atau istilah yang tidak umum, hanya orang-orang tertentu yang bergelut di bidang tertentu yang memahaminya.

Sampurasun

Wednesday, 13 December 2023

Indonesia Hadang Israel

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memanasnya konflik di Gaza, Palestina membuat pasukan Hizbullah yang berasal dari Libanon membantu Hamas memerangi Israel. Hizbullah telah terang-terangan meluncurkan roket dan Rudal ke wilayah Israel. Tentu saja ini membuat marah Israel. Tentara Israel, IDF, mengerahkan tank-tank ke perbatasan Libanon-Israel.

            Hal ini membuat tentara Indonesia, TNI, harus bekerja keras sebagai penjaga perdamaian. TNI memang ditugaskan di perbatasan itu dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) United National Interim Force in Lebanon (Unifil) untuk menjaga perdamaian agar tidak terjadi perang terbuka antara Israel dengan Libanon.

            Baru-baru ini pun terjadi provokasi tank Merkava Israel mendekat dengan maksud memasuki Libanon. Hal itu segera dihadang TNI dan memerintahkan Israel untuk segera pergi dari wilayah itu. Tank-tank Israel tidak segera mematuhinya, tetapi mondar-mandir di sekitar perbatasan yang membuat TNI terus menghadang dan menahan mereka. Sekali-sekali Israel mengarahkan moncong pelurunya ke arah TNI, tetapi hal itu tidak membuat takut TNI. Pasukan Indonesia tetap pada posisinya, menjegal Israel memasuki Libanon.

            Perilaku Israel yang mondar-mandir terus itu bikin bete pasukan Indonesia. TNI merasa kesal dengan kelakuan Israel yang kayak Bocil itu. Untungnya, orang Indonesia itu sabar. Israel bikin ulah mondar-mandir, TNI pun terus menghalanginya dengan mondar-mandir pula.

            Hal ini jadi mengingatkan saya pada peristiwa Juni 2020 lalu ketika Israel dan Libanon sudah bersiap perang dengan senjata lengkap secara terbuka, salah seorang prajurit TNI berdiri dengan tangan kosong di tengah pasukan Israel dan pasukan Libanon yang sudah bersiap saling bunuh. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menghentikan perang meskipun moncong tank Merkava Israel mengarah kepadanya. Fotonya saya dapatkan dari Rakyat Merdeka. Dia memerintahkan Israel untuk pergi menjauh dari “garis biru” yang dikuasai Indonesia dan menyuruh pasukan Libanon untuk tidak menembakkan senjatanya. Alhasil, perang bisa dihindarkan, Israel dan Libanon pergi dari wilayah itu.


TNI Pisahkan Perang Israel Vs Libanon (Foto: Rakyat Merdeka)


            Hal yang patut diingat Israel adalah mereka harus menghormati TNI yang sedang menjaga perdamaian. Jika ada satu nyawa prajurit TNI yang hilang karena peluru Israel, rakyat Indonesia akan memaksa pemerintah Indonesia untuk menuntut balas pada Israel. Itu akan sangat merugikan Israel.

            Sampurasun.

Sunday, 26 November 2023

Julid Fi Sabilillah, Hati-Hati! Israel Penculik Sudah di Malaysia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Julid” itu berasal dari bahasa Sunda, “julit”, kadang diplesetkan jadi julita. Artinya, “perilaku iri dan dengki yang disebabkan oleh keberhasilan orang lain”. Kata ini dipopulerkan artis Syahrini, pelantun lagu “Sesuatu” itu dengan kata julid. Namun, artinya jadi meluas di dunia maya. Julid berarti “komentar pedas, nyinyir, ngeselin orang”.

Netizen Indonesia kalau sudah julid, luar biasa brengseknya. Beneran jahat netizen Indonesia itu, bisa menelanjangi banyak orang hingga ke bubuk-bubuk hidup pribadinya. Orang bisa stress, hancur hidup, depresi, hingga bunuh diri gara-gara dijulidin.

Kini timbul gerakan “Julid Fi Sabilillah” dalam rangka menyerang mental pasukan Israel untuk menghentikan kekejamannya membunuhi warga Gaza, Palestina. Ratusan, bahkan ribuan tentara Israel (IDF) kena mental, terganggu jiwanya, dan merasa gila dijulidin netizen Indonesia.

Hal ini bermula dari netizen Indonesia bernama Erlangga Greschinov yang membagikan akun-akun tentara Israel di dunia maya hingga tersebar luas. Netizen Indonesia secara otomatis memenuhi ruang komentar Medsos tentara Israel dengan kalimat-kalimat julid yang bikin gila itu. Bahkan, saya sendiri pernah menonton seorang YouTuber Indonesia yang berdebat dengan tentara Israel, lalu pengikutnya langsung bergerak menyerang tanpa ampun. Saya sendiri sampai kasihan sama tentara Israel karena saking dipermalukannya hingga menangis.

Salah seorang tentara wanita Israel bernama Eden Sisson sampai stress berat diserang netizen Indonesia. Fotonya saya dapatkan dari X com. Saking terganggunya, dia melaporkan Erlangga Greschinov ke polisi Israel agar ditangkap dengan bantuan Interpol. Perilaku Eden melaporkan ke polisi itu jelas karena stress atau bloon.


Tentara Israel Eden Sisson (Foto: X.com)


Bagaimana mungkin polisi Israel bisa menangkap warga Indonesia?

Ini wilayah hukum Indonesia, bukan Israel. Israel tak punya kekuatan apa  pun di Indonesia. Kalaupun minta bantuan Interpol atau polisi internasional, itu bodoh sekali. Itu tidak akan pernah terjadi karena jangankan berhubungan dengan Interpol, Israel ingin berhubungan dengan Indonesia saja ditolak. Apalagi perjanjian ekstradisi, tidak pernah ada.

Si Eden Israel itu kalau nggak stress, ya bloon. Lapor ke polisi Israel yang tidak punya kewenangan apa pun di Indonesia. Lieur.

Meskipun demikian, para pejuang julid fi sabilillah tetap harus hati-hati karena Israel selalu mencari cara untuk melakukan kejahatan di mana pun, tidak semua, tetapi banyak. Kalau punya keinginan untuk melaksanakan dendam, mereka akan mencari caranya.

            Baru-baru ini ada kejadian, seorang hacker Palestina bernama Omar A. yang tinggal di Turki membantu Hamas untuk mengacaukan sistem pertahanan iron dome atau kubah besi Israel hingga membuat kerusakan terhadap pertahanan Israel. Israel memburunya dengan cara menipunya. Agen intel Israel, Mossad, berpura-pura menjadi aktivis Ham dan memberinya banyak uang. Lalu, diiming-imingi pekerjaan dengan gaji fantastis dan dirayu untuk sering bepergian ke luar negeri.  Ketika ada di Kuala Lumpur, Malaysia, Omar ditangkap, disiksa, dan hendak dibunuh. Beruntung, dinas intel Turki (MIT) mengetahuinya. Turki kemudian bekerja sama dengan kepolisian Malaysia untuk membebaskan Omar hingga menangkap 11 orang agen Israel penculik Omar. Kini Omar dibawa ke Turki, dilindungi dan ditempatkan di rumah yang aman.

            Ini pelajaran bagi netizen Indonesia, terutama pejulid fi sabilillah. Israel bisa jadi mempelajari kalian dan mencari cara untuk menculik kalian. Kalian bisa dikasih uang banyak dan diiming-imingi banyak uang seperti terjadi kepada Omar A.

            Kalau kalian dikasih uang satu miliar, bagaimana rasanya?

            Kalian bisa tertipu, beneran tertipu. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang memberi kalian uang, lalu mengiming-imingi pekerjaan di luar negeri, hati-hati. Jangan langsung percaya, kalian bisa dibunuh di luar negeri. Selama kalian berada di wilayah hukum Indonesia, kalian aman. Kalau sudah keluar dari Indonesia, kalian mulai ringkih. Kalau mau bekerja di luar negeri, gunakan lembaga resmi pemerintah seperti Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jangan liar atau perorangan, berbahaya.

            Bukan cuma uang atau pekerjaan yang bisa menipu kalian, melainkan pula iming-iming syafaat Nabi saw dan sorga. Kita ini banyak yang mudah ditipu dengan menggunakan isu agama. Agen intel Israel, Mossad, bisa kirim orang yang mengaku-aku sebagai cucu Nabi Muhammad saw dan mengajak kalian ke Timur Tengah untuk menjadi orang suci. Di sana kalian bisa dihajar habis-habisan hingga mati. Hati-hati, cerdaslah berpikir.

            Kalau ada orang yang mengaku-aku sebagai cucu Nabi saw, sudah saya jelaskan bukan cara untuk membuktikannya?

            Kalau beneran cucu Nabi saw, orang itu harus punya kitab silsilah yang benar berdasarkan manuskrip yang tersambung ke Ali bin Abi Thalib; harus punya sertifikat internasional dari negara tempat dia berasal; harus punya pula bukti tes DNA yang terhubung dengan kelompok Bani Hasyim. Kalau tidak bisa mengujinya sendiri, minta bantuan orang yang lebih ahli.

            Begitu ya.

            Para pejuang julid fi sabililah, hati-hati kalian!

            Sampurasun.