Showing posts with label Wuhan. Show all posts
Showing posts with label Wuhan. Show all posts

Saturday, 21 March 2020

Berita Gembira dari Cina


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Umat manusia boleh bergembira dengan mulai berhasilnya Cina dalam menanggulangi wabah virus corona. Sekitar sejak 3 atau 4 hari yang lalu, tak ada kejadian peningkatan jumlah orang yang terinfeksi virus corona. Berbagai media online memberitakan kejadian di Cina 0%.

            Kita tahu bahwa virus itu berasal dari Wuhan, Cina. Mereka sudah menderita lama dan berjuang mati-matian pula dengan segala upaya dan penelitian yang mereka lakukan. Akhirnya, mereka dinilai mampu mengatasinya. Beberapa hari yang lalu, mereka merayakannya dengan cara para tenaga medisnya berbaris tanpa jarak, seperti anak TK berbaris sambil membuka masker mereka satu per satu sebagai tanda keberhasilan dan rasa syukur mereka. Bertahap, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing. Asal virusnya dari negara mereka dan dari mereka pula dunia bisa belajar mengatasinya.

            Sementara itu, di Belanda, rakyat bertepuk tangan selama tiga menit pada malam hari untuk menghormati para tenaga medis di seluruh dunia yang telah berjuang keras untuk melawan keganasan virus tersebut.

            Perlu diketahui jumlah orang yang meninggal di Cina yang disebabkan positif Covid 19 diberitakan oleh berbagai media dengan jumlah berbeda, tetapi perbedaannya sangat kecil. Saya bisa membulatkannya sekitar 3.500 orang meninggal dan 70.500 orang sembuh.

            Sementara itu, di Indonesia menurut data per 21 Maret 2020, hanya 38 orang meninggal dan 20 orang sembuh. Keberhasilan Cina itu diharapkan dapat diadopsi Indonesia sehingga dapat menekan lebih kuat penyebaran virus tersebut. Lebih jauhnya, pasien dapat sembuh sehingga dapat terhindar dari kematian. Jumlah kasusnya pun semoga tidak mencapai puluhan ribu dengan ribuan kematian seperti di negara-negara lain. Kita berharap jumlah kasusnya tetap sedikit hingga hilang

            Indonesia pun ternyata bergerak sangat cepat. Pemerintah melalui kewenangan yang dimilikinya segera menyediakan obat yang dibeli dari luar negeri. Hal yang sama pun pemerintah melalui Menhan Prabowo Subianto segera memastikan membawa alat-alat medis dari Cina untuk mengatasi virus corona di Indonesia. Hal yang lebih menggembirakan adalah Cina pun akan membantu Indonesia semaksimal mungkin sebagaimana yang disampaikan oleh Duta Besar Cina di Indonesia. Menurutnya, Cina tidak akan pernah melupakan Indonesia yang telah membantu Cina saat awal virus corona mewabah. Indonesia telah mengirimkan jutaan masker dan alat-alat medis lainnya untuk Cina. Di samping itu, tentu saja Cina adalah mitra Indonesia yang baik.

            Keberhasilan Cina adalah contoh bagi umat manusia, tak terkecuali bagi Indonesia. Kerja sama dan saling menghormati adalah salah satu kunci utama keberhasilan menghadapi bencana.

            Kita mesti bersyukur, tenang, jangan ke luar rumah jika tidak penting-penting amat, tetap jaga diri, jangan membuat dan menyebarkan hoax, terus berdoa, tidak perlu mempolitisasi dan memperkeruh keadaan, mudah senyum, ramah, cukup istirahat, serta mengonsumsi makanan sehat.

            Sampurasun.

Monday, 16 March 2020

Angka Kesembuhan Lebih Tinggi Dibandingkan Angka Kematian


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Terkait virus corona yang banyak dibicarakan orang itu, saya menganggap terlalu banyak berita yang menakutkan, bahkan berlebihan hingga ke tingkat hoax. Benar virus itu ada dan menyerang umat manusia, tetapi berita yang tersebar terlalu horor. Padahal, angka kesembuhan dari serangan virus itu jauh lebih tinggi dibandingkan angka kematiannya.

            Mengapa kita tidak banyak menyebar berita gembira dengan berbagai keberhasilan kesembuhan itu?

            Mengapa kita lebih suka dengan berita-berita horor itu yang bisa saja mengandung dusta karena tidak bersumber dari sumber yang jelas dan bisa dipercaya?

            Sudah saya katakan bahwa tidak kurang dari 123 kasus kebohongan tentang corona yang ditangani polisi dan orang-orangnya sudah ditangkap. Kita tidak perlu menjadi orang yang kesekian ditangkap polisi karena kebohongan semacam itu. Di samping bisa menyesatkan diri sendiri, juga menyesatkan orang lain. Hal yang paling penting diingat adalah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita posting di Medsos kita di akhirat kelak oleh Allah swt.

            Kalau ada yang bilang di Indonesia kasusnya sudah mencapai 1,5 juta orang, tanyakan dari mana muncul angka itu? Dari mana sumbernya? Siapa yang menulisnya? Apa keahliannya?

            Dari data yang saya perhatikan, pada databoks.katadata.co.id satu hari yang lalu disebutkan bahwa kasus corona secara global adalah 159.625. Angka kematiannya hanya 5.960 orang. Adapun kesembuhannya mencapai angka 75.956 orang.

            Di Indonesia sendiri kasus corona hanya 134 orang. Angka kematian hanya 5 orang, sedangkan pasien yang sembuh 8 orang. Masih lebih banyak yang sembuh dibandingkan yang meninggal. Hal ini diberitakan oleh “detiknews” sepuluh jam lalu.

            Kita memang benar harus menghadapi virus tersebut dengan sekuat tenaga, tetapi juga harus menebar semangat dan harapan agar kita bisa terlepas dari ancaman virus tersebut.

            Orang Cina punya teriakan, “Wuhan Jia You!”

            ‘Wuhan, Semangat!’, teriakan mereka ketika olimpiade yang kembali digunakan ketika Wuhan diisolasi. Mereka pun kini berangsur pulih.

            Kita punya teriakan, “In do ne sia !”

            Teriakan kita ketika berada di pertandingan-pertandingan olah raga internasional.

            Kini saatnya kita saling menguatkan, memberikan harapan, menabur doa, membakar semangat kesembuhan, sekaligus menekan dan menghentikan penyebaran ancaman dan ketakutan yang berlebihan.

`           Sampurasun.

Tuesday, 4 February 2020

Soal Virus Corona di Natuna, Clear


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan saya yang lalu menegaskan bahwa memang sebagian masyarakat Natuna beserta pemerintah daerah dan tokoh masyarakatnya menolak kehadiran warga Negara Indonesia yang pulang atau dipulangkan dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina untuk diobservasi di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Penolakan tersebut diakibatkan oleh hoax tentang virus corona yang merajalela, kurangnya upaya masyarakat mencari informasi yang akurat dan benar, serta minimnya koordinasi dari pemerintah pusat pada pemerintah daerah.

            Dijadikannya Natuna sebagai lokasi observasi tanpa koordinasi yang maksimal mengakibatkan masyarakat Natuna ketakutan sekaligus marah. Mereka takut menjadi tempat tersebarnya virus corona di Indonesia. Mereka marah karena curiga seolah-olah tempatnya “dikorbankan” sehingga merasa diri tidak dipentingkan dibandingkan warga lain di Indonesia ini.

            Akan tetapi, persoalan mulai mencair ketika terjadi komunikasi yang lebih jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tujuh orang perwakilan dari Natuna berkomunikasi langsung dengan pemerintah pusat di Jakarta. Dengan adanya komunikasi yang baik, penjelasan yang lengkap, pemahaman yang jelas, semuanya bisa selesai. Meskipun rasa takut dan marah itu tidak segera menghilang karena perlu waktu, semuanya berangsur-angsur membaik.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah kenegarawanan pemerintah pusat yang mengakui dengan sempurna bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena tidak melakukan koordinasi yang sempurna terhadap pemerintah daerah Kabupaten Natuna. Pengakuan diri telah melakukan kesalahan itu adalah sangat baik dibandingkan tidak mengakuinya. Sulit mengakui diri salah ketika berada di posisi atas dan berkuasa, tetapi mereka mengakuinya. Itu adalah hal yang teramat mulia sehingga kesalahan itu tidak boleh diulang lagi pada masa depan.

            Di samping itu, bantahan dari Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti terhadap pernyataan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tentang jarak antara hanggar (garasi pesawat) dengan pemukiman penduduk, tidak mendapatkan penyangkalan. Sebelumnya, Hadi mengatakan jaraknya adalah 5-6 km, tetapi Ngesti membantahnya dengan menjelaskan jaraknya hanya 1,2 km.  Itu juga baik karena polemik berhenti sampai di situ. Meskipun demikian, jarak 1,2 km itu sudah sangat jauh karena menurut Satgas Pencegahan Virus Corona, virus itu hanya bisa menular jika Si Sakit batuk di dekat orang sehat dalam jarak 1 hingga 1,8 meter. Tidak mungkin ada orang batuk sejauh 1 km. Virus corona pun tidak bisa hidup di udara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Indonesia memang diuntungkan secara iklim. Akan tetapi, kita tetap harus waspada.

            Kini warga Natuna bisa lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat. Sebaiknya, kita semua berharap dan berdoa agar warga Negara Indonesia yang diobservasi di Natuna dapat segera benar-benar pulih dan kembali kepada keluarganya dengan baik.

            Sampurasun.

Monday, 3 February 2020

Warga Natuna Jangan Tolak WNI dari Cina


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kali kedua saya menulis tentang sikap penolakan yang dilakukan sebagian warga Natuna, kepulauan Riau, terhadap saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air Indonesia. Saudara-saudara kita, sebagian warga Natuna ini memang harus diingatkan lebih jauh dan lebih dalam tentang pemahaman bahwa kita ini adalah sesama saudara sebangsa dan setanah air. Para pendidik, ahli agama, ahli budaya, dan para stake holder lainnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pemahaman-pemahaman tersebut.

            Pertama, sejak Susi Pudjiastuti menjadi Menteri KKP, mereka menolak kehadiran nelayan-nelayan dari Pulau Jawa. Padahal, Natuna adalah bagian dari wilayah NKRI. Seluruh wilayah NKRI adalah milik warga NKRI juga. Kekayaan alam yang terkandung di dalam wilayah NKRI adalah untuk seluruh warga NKRI, dari pulau mana pun mereka berasal.

            Adalah hal yang lucu jika warga Jawa Barat, Jakarta, atau pulau-pulau lainnya menolak warga Natuna untuk berobat, kuliah, bekerja, atau tamasya. Warga Natuna boleh beraktivitas apa saja di pulau mana saja karena warga Natuna adalah juga warga NKRI. Demikian pula sebaliknya, saudara-saudara sebangsa dan setanah air pun boleh beraktivitas di Natuna.

            Kedua, ketika kementerian KKP dipegang oleh Edhy Prabowo, warga Natuna tetap melakukan upaya penolakan terhadap nelayan-nelayan Pantura atau Pulau Jawa untuk mencari ikan di perairan Natuna Utara, padahal kehadiran nelayan-nelayan dari Pulau Jawa itu adalah untuk mengamankan perairan Natuna Utara dari pencurian ikan yang dilakukan negara lain, terutama Cina. Nelayan Natuna sendiri belum mampu meramaikan kawasan Laut Natuna Utara sehingga pencurian ikan terus terjadi di kawasan itu. Sekarang karena wilayah itu harus diamankan oleh patroli laut, Bakamla, TNI AL, bahkan dengan menggunakan pesawat F16, dibutuhkan biaya yang banyak. Salah satu sumber dana yang dibutuhkan itu bisa dari hasil tangkapan nelayan-nelayan Indonesia, sementara itu hasil tangkapan nelayan Natuna sendiri masih terbatas. Salah satu solusinya adalah mengajak saudara-saudaranya dari Pulau Jawa untuk beraktivitas di Natuna Utara.

            Daripada dicuri oleh negara lain, mendingan berbagi dengan saudara sebangsa sendiri, ya nggak?

            Ketiga, warga Natuna menolak dengan keras kehadiran warga Negara Indonesia (WNI) yang “terpaksa” pulang dari Cina, terutama Kota Wuhan, Provinsi Hubei akibat dari merebaknya virus corona di Cina. Kepulangan WNI ini merupakan upaya untuk menghindari virus corona di Cina. Penolakan ini bagi saya cukup mengejutkan. WNI yang pulang itu adalah saudara-saudara warga Natuna sendiri, sebangsa dan setanah air. Mereka sudah sangat tersiksa di Cina mempertahankan dan menghindarkan diri dari infeksi virus corona. Mereka sudah ketakutan, menderita, dan sempat kesulitan makanan. Sebelum pulang, mereka sudah diperiksa otoritas Cina dan dinyatakan sehat. WNI yang mengalami demam dan sakit, tidak diperbolehkan pulang. Mestinya, kita sebagai saudaranya sebangsa setanah air menyambutnya dan menolongnya, bukan menganggapnya sebagai ancaman. Toh, pemerintah Indonesia pun sangat berhati-hati dengan hal ini. Para petugas menggunakan pakaian superketat meskipun sudah dinyatakan sehat. Para WNI itu pun disemprot lagi dengan cairan khusus. Saya yakin bahwa pemerintah RI pun sudah sangat waspada karena jika terjangkit virus, yang susah adalah pemerintah dan rakyat Indonesia sendiri.

            Pemilihan Natuna sebagai tempat kepulangan WNI dari Wuhan sudah melalui berbagai pertimbangan. Dalam detiknews Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa Natuna memiliki pangkalan militer dengan fasilitas rumah sakit yang dikelola Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU). Di samping itu, Natuna memiliki landas pacu (runway) yang berdekatan dengan wilayah yang dijadikan kawasan observasi (pengamatan). Dengan demikian, proses masuk ke penampungan sejak turun pesawat menjadi lebih sangat cepat. Tambahan pula, jarak dari hangar (garasi pesawat) dengan pemukiman penduduk cukup jauh, yaitu sekitar 5-6 km. Demikian pula jarak dengan dermaga, sekitar 5-6 km. Dengan demikian, hal itu memenuhi syarat untuk protokol kesehatan.

            Pertimbangan yang dilakukan oleh Panglima TNI tersebut sangat masuk akal dibandingkan dengan menggunakan wilayah-wilayah lain yang mungkin tidak seistimewa Natuna.

            Kalaupun warga Natuna atau aparat pemerintah daerahnya merasa khawatir, seharusnya meminta penjelasan dari pemerintah pusat dan meminta jaminan agar kekhawatiran mereka sama sekali tidak terjadi. Tidak perlu melakukan tindakan emosional yang didorong oleh kecurigaan yang berlebihan pula. Kita adalah sesama warga bangsa Indonesia yang harus tolong-menolong, bergotong royong. Jika sebagian warga bangsa sakit, seluruh warga pun seharusnya merasakan sakit pula sehingga bahu-membahu untuk menghilangkan rasa sakit itu. Indonesia itu satu tubuh, NKRI.

            Meskipun demikian, ada pelajaran yang harus diingat pemerintah pusat, yaitu soal koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti yang juga sempat menolak keras wilayahnya dijadikan tempat observasi bahwa pemilihan Natuna menjadi tempat evakuasi tidak melalui proses koordinasi yang jelas antara pemerintah pusat dan daerah. Di samping itu, dijadikannya Natuna sebagai tempat transit pun tanpa alasan yang jelas.

            Persoalan koordinasi ini hendaknya menjadi pelajaran dan perhatian pemerintah agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kecurigaan yang berlebihan. Koordinasi ini penting agar semua program bisa dijalankan dengan baik, lancar, dan berhasil.

            Kita adalah Indonesia. Indonesia adalah kita.

            Sampurasun.