Wednesday, 23 December 2015

Membahagiakan Ibu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Berbakti kepada orangtua, terutama ibu adalah jiwa dan ruh bangsa Indonesia. Alhamdulillaah, kita patut bersyukur bahwa saat ini masih teramat banyak anak yang ingin membahagiakan ibunya. Ada yang ingin membiayai ibunya pergi ke Mekah, ingin membangun rumah untuk orangtuanya, ingin membiayai perawatan kesehatan orangtuanya, ingin membuktikan diri sebagai anak yang shaleh di hadapan orangtuanya, dan lain sebagainya. Tak peduli apakah Sang Anak itu sudah dewasa, remaja, atau anak-anak, mereka selalu terikat dan ingin selalu terhubung dengan keluarga asalnya. Itulah ruh dan spirit anak-anak mulia Indonesia. Apabila ada anak yang tidak terhubung atau terputus koneksi dengan orangtuanya, hidupnya akan tidak seimbang, sedih, atau malahan merasa ada yang tidak beres dalam hidupnya. Berbeda jauh dengan hubungan anak-orangtua di Barat yang memiliki aturan bahwa Sang Anak boleh menentukan nasibnya sendiri setelah usianya mencapai 18 tahun tanpa orangtuanya bisa ikut campur dalam kehidupan pribadi Sang Anak. Akibatnya, hubungan antara anak-orangtua bisa sangat rapuh dan lepas kendali. Kita bukanlah mereka dan mereka sama sekali bukan contoh yang baik bagi kita. Kitalah yang seharusnya memberikan contoh kebaikan bagi mereka dan dunia.

            Apa yang diinginkan ibu kita sebenarnya?

            Ada fakta yang unik di Indonesia ini tentang keinginan orangtuanya terhadap anak.

Hampir setiap keluarga di Indonesia ini selalu mendoakan anaknya dengan kalimat yang memiliki makna yang sama, yaitu, “Semoga menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama.”

Tak peduli suku apa pun dan agama apa pun, kalimat yang semakna itu selalu ada di dalam sebuah keluarga yang memiliki bayi. Coba cek sendiri. Artinya, setiap orangtua selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik-baik, bukan anak yang menyusahkan orangtuanya dan orang lain.

Di Suku Sunda, suku saya hidup dan berkembang, ada syair yang sangat indah untuk setiap bayi yang masih lucu-lucunya. Syair itu pada masa lalu dinyanyikan hampir oleh setiap orangtua, bahkan kakek dan nenek Sang Bayi. Sekarang lagu itu sudah tak terdengar lagi, padahal punya makna dan harapan yang teramat dalam dan menenangkan. Syair itu pun bisa sangat ampuh jika dinyanyikan untuk menidurkan bayi.

Begini lagunya dalam bahasa Sunda
.
Nelengneng kung nelengneng kung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Geura makayakeun indung
           
            Dalam bahasa Indonesia.

            Nelengneng kung nelengneng kung
            Cepatlah besar dan tinggi
            Segeralah sekolah ke Bandung
            Cepatlah bahagiakan ibumu

            Di Jawa Barat ini, bahkan di Indonesia memang Bandung terkenal dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang berkualitas tinggi serta memiliki kehalusan bahasa dan tingkah laku yang lebih lembut dibandingkan di tempat-tempat lain. Orang Sunda ada di mana-mana, tetapi kelembutan tutur kata dan kehalusan budi pekerti ada di Bandung. Siapa pun yang datang ke Bandung, baik itu orang Sunda yang bukan dari Bandung, maupun suku bukan Sunda akan segera berupaya beradaptasi dengan adat istiadat orang Bandung. Jika mereka mampu beradaptasi dengan perilaku Bandung, hidupnya akan lebih bahagia dan pasti lebih lembut. Kelembutan itu akan dibawa jika mereka pulang ke tempat asalnya. Ini kenyataan. Apabila ada orang bukan Bandung yang berupaya atau tidak berperilaku sebagaimana perilaku ruh Bandung, pada akhirnya mereka akan rugi dan jika terus berperilaku menyimpang dari perilaku Bandung, mereka akan dihancurkan sampai mereka mau menghormati dan berperilaku sebagaimana jiwa Bandung yang penuh sopan santun.

            Bukankah sudah terjadi ada mobil yang dibakar di Bandung karena perilaku komunitas pengendaranya yang arogan dan kurang ajar?

            Bukankah sudah terjadi penghancuran dan pengusiran terhadap komunitas pedagang di tempat tertentu karena mereka melakukan perilaku yang sangat tidak disukai warga Bandung?

            Bukankah dulu sering terjadi ada pelemparan batu terhadap rumah-rumah yang selalu digunakan untuk acara-acara tertentu secara rutin yang dianggap mengganggu ketenangan lingkungan setempat?

            Jadi, jangan kurang ajar dan tidak sopan di Bandung karena bisa dihajar habis-habisan. Memang orang Bandung itu susah marah. Jika perilaku buruk itu hanya sekali atau dua kali terjadi, biasanya tidak apa-apa. Akan tetapi, jika orang non-Bandung terlalu nyaman dengan keburukannya, kemarahan memuncak bisa sangat terjadi dan akibatnya sangat fatal.

            Jika kita hubungkan dengan syair Sunda tadi, kita harus menghormati dan mengacungkan jempol kepada orangtua kita. Mereka tahu bahwa dengan syair itu diharapkan anaknya dapat memiliki ilmu yang sangat tinggi dalam arti cerdas otak, tetapi sekaligus memiliki budi pekerti yang luhur. Hal itu disebabkan di Bandung banyak perguruan tinggi berkualitas tinggi dan suasana hidupnya yang jauh lebih sopan.

            Memang sekarang ada pergeseran yang saya anggap “gangguan” terhadap ruh Bandung yang diakibatkan perilaku dan tingkah laku buruk orang bukan Bandung yang datang ke Bandung, pengaruh negatif dari informasi negatif, pendidikan yang mengarah ke jiwa kapitalis, dan sistem politik yang cenderung mengadu domba masyarakat. Akan tetapi, ruh Bandung tetap ada. Meskipun terancam rusak, sebagian besar masyarakat Bandung tetap ingin berada dalam jiwa-jiwa yang damai. Hal itu memang masih sangat terasa. Kedamaian dan kebahagiaan tetap diinginkan oleh orang Bandung. Bahkan, Walikota Bandung Ridwan Kamil berani mengklaim bahwa indeks kebahagiaan orang Bandung mencapai 73%. Itu artinya, warga Bandung adalah warga yang paling bahagia di seluruh Indonesia. Itu untuk warga Kota Bandung. Untuk warga Kabupaten Bandung dan wilayah Bandung Raya lainnya, saya tidak tahu.

            Syair Sunda Nelengneng Kung tadi mengisyaratkan dengan jelas bahwa setiap ibu menginginkan anaknya pintar, cerdas, dan berbudi pekerti luhur.

            Untuk apa anaknya pintar, cerdas, dan berbudi pekerti luhur?

            Perhatikan baris terakhir dari syair tersebut!

            Geura makayakeun indung yang artinya segeralah bahagiakan ibumu.

            Sungguh syair ini bukan hanya untuk orang Sunda. Kebetulan saja syair ini diciptakan di Tatar Pasundan. Sesungguhnya, syair ini sangat berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

            Segeralah bahagiakan ibumu. Itu adalah kalimat perintah agar Sang Anak harus berbakti pada ibunya dan jangan melepaskan hubungan dengan ibunya.

            Membahagiakan ibu tidak boleh tidak harus dengan cara memiliki kecerdasan dan budi pekerti yang luhur.

            Untuk apa cerdas, pintar, terkenal, berkedudukan tinggi, tetapi merugikan orang lain, curang, dan korup?

            Seorang ibu tak akan bahagia jika punya anak hebat dan memberinya banyak uang, tetapi hidup dalam kelicikan dan kejahatan.

            Demikian pula sebaliknya. Jika hanya berbudi pekerti yang luhur tanpa kecerdasan akademik, Sang Anak tidak akan sempurna membahagiakan ibunya. Hal itu disebabkann Sang Anak hanya akan berperilaku baik, tetapi tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi situasi dan zaman yang selalu berubah. Ia hanya akan selalu berada di pinggir-pinggir pentas kehidupan tanpa memberikan manfaat yang signifikan bagi orang lain. Ia hanya bisa baik untuk dirinya sendiri, tetapi tidak mampu memberikan manfaat banyak bagi orang lain. Akibatnya, doa untuknya ketika masih kecil tidak akan terkabul, yaitu berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama.

            Bagaimana mungkin berguna bagi bangsa, negara, dan agama jika hanya memiliki budi pekerti yang baik?

            Ia memang akan menjadi orang baik dan tidak merugikan siapa pun, tetapi akan mudah ditipu, diperalat, dan dijerumuskan orang-orang jahat ke kehidupan yang menyengsarakan. Ia memang akan tetap baik, tetapi hidupnya akan selalu terpinggirkan.

            Syair tadi menjelaskan bahwa Sang Ibu mengharapkan anaknya cerdas, berpengetahuan tinggi, dan berbudi pekerti luhur. Dengan demikian, doa orang banyak ketika Sang Anak masih kecil, yaitu berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama akan terkabul.

            Apabila setiap anak berusaha membahagiakan ibunya dengan kecerdasan dan budi pekertinya yang tinggi, insyaallah Negera Indonesia akan benar-benar maju, aman, dan membahagiakan. Hiruk pikuk koruptor dan orang-orang keji serakah akan tertekan seminimal mungkin.

            Jika mampu membahagiakan ibu kandungnya, ibu angkatnya, dan mereka yang telah berperilaku ibu terhadap kita, sangat mungkin kita bisa membahagiakan ibu seluruh bangsa Indonesia, yaitu Ibu Pertiwi.  

            Geura makayakeun indung.


            Segeralah bahagiakan ibumu.

Thursday, 17 December 2015

Kalau Berbohong itu Agak Pintaran Dikit, Coy!


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Nato dan Turki adalah yang menikmati minyak Isis dan berbisnis dengan Isis, Grup Nato yang dimotori Amerika Serikat tampaknya kelimpungan dan kaget, lalu mencari-cari alasan lain atau membuat kisah lain untuk menghindarkan tudingan bahwa merekalah sebenarnya yang bekerja sama dengan Isis di belakang layar panggung dunia yang penuh dengan desingan peluru dan penderitaan.

Berita terakhir yang saya ikuti jelas sekali menampakkan kebohongan yang luar biasa. Kebohongan itu mudah sekali dideteksi karena mereka menggunakan kalimat-kalimat yang semrawut dan logika yang bertabrakan. Saya yakin mereka menggunakan media massa dengan mengeluarkan banyak dana untuk menciptakan kebohongan itu. Sayangnya, kebohongan itu teramat telanjang. Mereka mencari kambing hitam untuk dipersalahkan, tetapi kesulitan untuk menentukannya karena percaturan politik internasional membuat posisi mereka semakin terjepit dan tersudut sehingga kehilangan banyak bahan untuk menciptakan kebohongan.

Begitulah Allah swt jika berkehendak membuka aib dan kedustaan manusia. Allah swt berkuasa membuat para pendusta itu kehilangan arah dan kehabisan bahan ceritera. Di samping itu, Allah swt pun berkuasa membuat pintar orang-orang yang memperhatikan berita yang penuh kebohongan itu sehingga kebohongan itu tampak jelas secara nyata.

Berita terakhir yang saya ikuti mengungkapkan bahwa Isis melakukan jual beli minyak dengan pemerintah Suriah. Rezim Bashar al Assad adalah yang menikmati minyak Isis.

Berita itu diperkuat dengan tayangan-tayangan pendapat para ahli dan pengamat dari Amerika Serikat bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan bisnis minyak Isis adalah menghancurkan kilang-kilang minyak Isis dan membombardir tanki-tanki minyak Isis. Berita itu pun dipaksakan untuk diyakini orang banyak dengan adanya tayangan pengeboman truk-truk minyak Isis di wilayah terbuka yang dengan mudah dibom hingga hancur oleh pesawat-pesawat tempur.

Sungguh saya tidak bisa mengerti bagaimana mungkin Isis bisa jual beli minyak dengan Bashar al Assad?

Apa maksud dari Bashar al Assad membeli minyak dari Isis?

Apa pula maksud Isis menjual minyak ke Bashar al Assad yang Presiden Suriah itu?

Untuk apa mereka saling bermusuhan jika masih ingin berbisnis yang saling menguntungkan?

Isis itu kan bercita-cita mendirikan Negara Islam Irak dan Suriah. Jadi, Isis memimpikan terwujudnya Negara Islam versi mereka sendiri di sepanjang Irak dan Suriah. Kalau ingin mendirikan Negara Islam sepanjang Irak dan Suriah, artinya sama dengan ingin menghancurkan rezim-rezim penguasa di Irak dan Suriah. Penguasa Suriah adalah Bashar al Assad. Artinya, Isis berkehendak menghancurkan rezim Bashar al Assad. Mereka memang bermusuhan dan itu terjadi. Isis dan pendukung Bashar al Assad saling bunuh.

Lantas di mana logikanya jika Bashar al Assad membeli minyak Isis, sementara dia tahu bahwa uang yang digunakannya untuk membayar minyak Isis digunakan Isis untuk membeli senjata yang senjata itu pasti digunakan untuk menghancurkan dirinya?

Mungkinkah seorang pembeli dan penjual yang bermusuhan bersedia melakukan bisnis yang saling menguntungkan?

Bagaimana mungkin seorang pembeli yang sadar bahwa Sang Penjual adalah musuh yang akan membunuhnya membeli barang dari musuhnya itu agar musuhnya itu mendapatkan uang membeli senjata untuk membunuhnya?

Mungkinkah Bashar al Assad yang sadar akan dibunuh Isis membeli minyak dari Isis agar Isis bisa membeli banyak senjata untuk membunuhnya?

Bagaimana akal sehat bisa menerima hal itu sebagai sebuah kenyataan?

Oleh sebab itu, saya mengatakannya sebagai berita bohong yang sangat telanjang bohongnya. Saya sarankan kalau mau berbohong itu yang canggih sedikit agar tidak mudah dideteksi sebagai kebohongan. Kalau mau berbohong, pikir yang matang agar tidak ketahuan.

Dasar Pembohong Murahan!

Kalau berbohong itu, agak pintaran dikit, Coy!

Saya benar-benar tersinggung dengan berita bohong yang remeh itu. Yang susah ditebak dong bikin kebohongan itu, jangan ecek-ecek kayak begitu.

Lagian, itu bagaimana mudahnya pesawat-pesawat pembom membombardir truk-truk minyak Isis yang lagi parkir berjejer di lapang terbuka. Isis kan pasti tahu bahwa dari atas mereka dikepung sejumlah pesawat tempur yang bersiap menghabisi mereka. Akan tetapi, mereka kok membiarkan asetnya yang berupa truk-truk penuh minyak itu mudah dijangkau oleh pesawat musuh mereka. Sepertinya truk-truk itu dihadiahkan untuk dibom sampai hancur. Mestinya kan disembunyikan di tempat yang tidak mudah diketahui musuh. Aneh.

Kalau berbohong lebih pintar dan lebih canggih kan, saya mikirnya juga jadi agak rumit, jadi tantangan tersendiri, dan saya pasti menikmati tantangan itu untuk dipecahkan.

Kalau bikin kebohongan murahan kayak gitu, ya nggak ada tantangan buat mikir. Malahan saya sedikit tersinggung karena dianggap orang yang mudah dibohongi.


Ayo Coy! Bikin kebohongan yang agak rumit!

Wednesday, 16 December 2015

Penjilat Pasti Kalah Memalukan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya


Para penjilat itu selalu kalah dan tersingkir secara memalukan. Itu pasti. Akan tetapi, orang-orang jenis ini selalu ada dari zaman ke zaman. Para penjilat itu selalu hadir dan bersembunyi meliuk-liuk di antara orang-orang dalam lingkungan sebuah kelompok kecil, menengah, besar, bahkan dalam lingkungan negara dan dunia. Orang-orang ini memang selalu menjengkelkan, tetapi selalu berakhir memilukan dan memalukan. Tidak pernah ada penjilat yang hidup bahagia, tenang, berakhir secara terhormat, dan namanya tercatat dalam ingatan sejarah manusia sebagai orang yang berbudi luhur. Orang-orang hanya mengingatnya sebagai perusak suasana, pembuat kegaduhan, dan pencipta kedengkian. Mereka membuat suasana rusak, gaduh, dan dengki dengan memiliki harapan dirinya dan kelompoknya mendapatkan keuntungan besar dari kelicikan yang diperbuatnya, sementara orang-orang yang difitnahnya dan disingkirkannya diharapkan menderita berkepanjangan. Begitulah cara penjilat itu hidup.

            Saya mengingatkan siapa saja yang membaca blog ini tentang kisah hidup para penjilat di negeri ini dan yang telah berakhir secara memalukan serta hanya menjadi bahan ejekan banyak orang. Bahkan, diabadikan dalam sebuah syair Sunda yang sangat terkenal, yaitu Ayang Ayang Gung.

            Perhatikan lagu ini. Orang Sunda pasti ingat meskipun tidak tahu artinya karena lagu ini menggunakan bahasa Sunda Lama yang tidak mudah dimengerti sekalipun oleh orang Sunda. Saya pun meskipun sering menyanyikannya semasa kecil, tidak tahu arti dan maknanya. Saya baru paham ketika guru ngaji saya menerangkannya.

            Begini lagunya dalam bahasa Sunda. Nanti saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kemampuan saya mengartikannya.


            Ayang ayang gung
            Gung goongna rame
            Menak Ki Mastanu
            Nu jadi wadana
            Naha maneh kitu?
            Tukang olo-olo
            Loba anu giru
            Ruket jeung Kumpeni
            Niat jadi pangkat
            Katon kagorengan
            Ngantep Kangjeng Dalem
            Lempa lempi lempong
            Ngadu pipi jeung nu ompong



            Dalam bahasa Indonesia:


            Ayang ayang gung
            Gung goongnya rame
            Menak Ki Mastanu
            Yang menjadi wedana
            Kenapa kamu begitu?
            Hidup menjadi penjilat
            Banyak yang berusaha keras
            Hidup erat dengan Kompeni
            Niatnya sih ingin pangkat tinggi
            Akan tetapi, ternyata 
            hanya mendapatkan keburukan
            Membiarkan Kangjeng Dalem
            Lempa lempi lempong
            Adu pipi sama yang ompong


            Memang tidak mudah memahaminya, harus diterangkan maksud yang tersembunyi dari setiap kalimat yang ada dalam syair tersebut. Saya coba jelaskan maknanya sebagaimana yang saya pahami.

            Ayang ayang gung
            Gung goongnya rame

            Syair itu memiliki makna mengisahkan suatu keadaan masyarakat yang sedang dihebohkan oleh isu atau kasus tertentu. Saking hebohnya berita tersebut, lagu itu menggambarkannya seperti bunyi gong yang dipukul berulang-ulang ramai sekali sehinggga membuat bising suasana yang biasanya tenang. Orang-orang membicarakan isu tersebut dari orang kecil, pengusaha, petani sampai ke pejabat.

            Menak Ki Mastanu
            Yang menjadi wedana

            Isu yang menggegerkan masyarakat itu adalah kasus yang menimpa seorang pejabat turunan bangsawan. Namanya Ki Mastanu. Dia adalah pejabat yang menduduki posisi sebagai wedana.

            Kenapa kamu begitu?
            Hidup menjadi penjilat

            Dia sangat terkenal serta menjadi sumber kehebohan dan kegaduhan masyarakat karena perilakunya yang menjijikan, yaitu hidup sebagai penjilat.

            Banyak yang berusaha keras
            Hidup erat dengan Kompeni

            Sebenarnya, bukan hanya Ki Mastanu yang hidup mati-matian menjadi penjilat. Sangat banyak sesungguhnya para pejabat yang hidup sebagai penjilat. Ki Mastanu hanya kebetulan saja perilakunya itu ketahuan orang lain. Sementara itu, pejabat yang berperilaku sebagai penjilat sangat banyak, tetapi belum atau tidak ketahuan seperti Ki Mastanu.

            Ki Mastanu dan pejabat korup lainnya hidup sebagai penjilat adalah dengan menjilati pantat penjajah Belanda. Mereka banyak mengemis dan minta-minta komisi pada Kompeni. Mereka merayu-rayu Belanda agar memberikan persentase dari keuntungan yang didapat Belanda sebagai hasil dari memeras keringat dan darah rakyat Indonesia serta menyedot kekayaan alam Indonesia. Pejabat-pejabat yang bermental seperti Ki Mastanu tidak peduli dengan penderitaan rakyat dan kerusakan alam Indonesia. Bagi mereka, yang penting hasil jilatannya ke dubur Belanda mendapatkan untung besar dan uang banyak.

            Niatnya sih ingin pangkat tinggi
            Akan tetapi, ternyata 
            hanya mendapatkan keburukan

            Di samping menginginkan materi yang banyak, pejabat-pejabat bermental Ki Mastanu mengharapkan pula pangkat dan jabatan yang tinggi dari kolonial Belanda. Mereka menduga bahwa pangkat tinggi sebagai hadiah dari Belanda akan lebih mengukuhkan kedudukan mereka dan memudahkan mereka untuk mendapatkan materi dan kesenangan lebih banyak sebagai hasil dari menguasai rakyat dan wilayahnya.

            Akan tetapi, sayang sejuta sayang, ternyata uang yang mereka harapkan, harta yang mereka cita-citakan, dan kedudukan yang kuat yang mereka impi-impikan tidak menjadi kenyataan. Mereka hanya mendapatkan keburukan dan berakhir terhina memalukan.

            Apa keburukan yang mereka dapatkan?

            Keburukan itu ada dalam syair berikutnya, yaitu:

            Membiarkan Kangjeng Dalem
            Lempa lempi lempong
            Adu pipi sama yang ompong

            Ternyata, Belanda yang mereka harapkan belas kasihannya dan keberkahannya itu meninggalkan para pejabat korup itu. Belanda terpaksa pergi meninggalkan Indonesia karena para pejuang dan rakyat Indonesia telah mengalahkannya. Belanda harus angkat kaki dari Bumi Pertiwi. Mereka sudah tak memiliki lagi kekuasaan untuk mengatur Indonesia. Para revolusioner mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia.

            Rakyat pun mengejek Ki Mastanu dan para pejabat korup itu dengan syair:

            Lempa lempi lempong
            Adu pipi sama yang ompong

            Artinya, Ki  Mastanu dan para pejabat korup itu hanya cipika cipiki sama orang yang ompong. Maksudnya, mereka hanya bermesra-mesraan dengan pemerintah Belanda yang sudah tidak punya gigi, euweuh huntuan, tidak bisa unjuk gigi lagi untuk menguasai Indonesia. Geus teu boga huntu Walandana oge.

            Ki Mastanu dan pejabat sejenisnya hanya punya harapan kosong untuk kemudian berakhir terhina memalukan dan tersingkir. Hal itu disebabkan rakyat sudah tidak mempercayai mereka lagi dan meminggirkan mereka benar-benar ke pinggir percaturan politik bangsa. Memalukan sekali.

            Nah, dalam kasus perpanjangan kontrak atau izin PT Freeport Indonesia, insting saya mengatakan bahwa di sana kemungkinan besar bertebaran para penjilat semodel Ki Mastanu yang mati-matian menjilati Freeport untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan menipu rakyat Indonesia sambil melecehkan bangsa sendiri. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengelabui rakyat Indonesia. Mereka tak peduli dengan rakyat. Mereka tak peduli dengan kerusakan lingkungan. Bagi mereka yang penting uang dan uang itu bisa digunakan untuk memperkaya diri, memperkaya kroninya, dan menguatkan kedudukan mereka.

            Akan tetapi, sayang sejuta sayang, mereka hanya akan berakhir terhina, memalukan, dan tersingkir. Tunggu saja.

Allah swt akan menjatuhkan mereka dengan cara-Nya sendiri. Allah swt akan menghukum mereka dengan hukuman yang bisa langsung dari diri-Nya sendiri atau Allah swt menggunakan manusia untuk menghukum mereka.

Lihat saja saat ini. Tingkah polah mereka dan para pendukungnya telah berhasil membuat rakyat, terutama saya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka hanya mendulang kelucuan demi kelucuan.


Memalukan.

Tuesday, 15 December 2015

Melawan Freeport dengan Sisingaan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

            Kenapa Freeport harus dilawan?

            Harus!

            Hal itu disebabkan Freeport sudah terlalu lama menyedot kekayaan alam Indonesia di Papua dan hanya memberikan bagian yang sangat kecil bagi Negara Indonesia. Di samping itu, ada ketentuan yang seharusnya dilakukan PT Freeport yang ternyata tidak dilaksanakan oleh Freeport.

            Memang Freeport hanya memberikan bagian sangat minim pada Indonesia bukan salah Freeport sendirian, melainkan karena perjanjian yang dilakukan pemerintah Indonesia pada masa lalu dengan PT Freeport. Demikian pula, ketentuan yang dilanggar Freeport bukan salah Freeport sendirian, melainkan pula karena pemerintah Indonesia tidak “rewel” dan tidak “tegas” dalam memaksa Freeport untuk melaksanakan seluruh kewajibannya pada Indonesia.

            Freeport itu perusahaan asing yang jangan diharapkan mencintai Negara Indonesia. Mereka itu hanya berkonsentrasi pada “mendapatkan” keuntungan sebesar-besarnya sebagaimana ajaran kapitalis. Mereka senang saja menghadapi orang-orang Indonesia yang masih berjiwa “terjajah”. Mereka senang dan bergembira dengan keyakinan bangsa Indonesia yang menganggap dirinya belum mampu mengelola tambang emas sendiri. Freeport sangat bahagia dengan ketakutan bangsa Indonesia yang meyakini dirinya akan kalah jika “diadukan” ke hukum internasional. Freeport sangat nikmat hati bangsa Indonesia kehilangan jiwa revolusionernya.

            Kita harus ingat ketika Belanda mengatakan kepada rakyat Indonesia pada masa lalu, “Indonesia memerlukan waktu 200 tahun lagi untuk bisa merdeka dan mengurus dirinya sendiri.”

            Kalau tidak salah, Belanda mengatakan hal itu di hadapan Mohammad Hatta yang kemudian menjadi wakil presiden pertama Indonesia.

            Akan tetapi, propaganda Belanda yang membodohkan itu tidak dipedulikan para pejuang dan rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia tidak perlu waktu lama lagi untuk merdeka. Hanya beberapa tahun setelah Belanda mempropagandakan “ketidakmampuan” Indonesia untuk merdeka, Indonesia membuktikan dirinya untuk benar-benar merdeka dan mengurus dirinya sendiri. Itu sejarah dan kita berhasil.

            Sekarang ada orang-orang yang berjiwa “terjajah” dan tidak memiliki jiwa revolusioner mempropagandakan hal yang mirip dengan yang diumbar-umbar penjajah Belanda. Indonesia dipropagandakan sebagai bangsa yang tidak mampu mengelola tambang emas sendiri dan pasti kalah jika diadukan ke hukum internasional. Orang-orang yang sama-sama bermental terjajah pasti setuju. Akan tetapi, lain halnya dengan orang-orang yang berjiwa revolusioner. Mereka tidak peduli dengan ocehan para inlander itu. Mereka akan berupaya keras untuk mengambil alih pengelolaan sumber daya alam untuk dikelola sendiri atau paling tidak tetap bekerja sama dengan prinsip saling menguntungkan. Artinya, Indonesia mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan Freeport masih bisa tetap beroperasi.

            Kalau ternyata Indonesia masih mau diatur-atur oleh Freeport, kita harus mengakui bahwa kita adalah bangsa-yang kata Ir. Soekarno-kambing yang meyakini dirinya harus dituntun dan diatur bangsa lain.

            Kita bukan kambing congek!

            Kita adalah Garuda Perkasa!

            Kita berhutang semangat dan berhutang cita-cita kepada para orang tua kita. Pada masa lalu orang tua kita kehilangan harapan, kehilangan cita-cita, putus asa, dan pasrah dengan keadaan dirinya. Akan tetapi, keputusasaan itu tidak ingin mereka wariskan kepada anak cucu mereka. Oleh sebab itu, mereka tetap semangat dalam kepasrahan dan keputusasaan. Mereka menitipkan pesan, cita-cita, dan harapan kepada anak cucunya dalam bentuk yang tersembunyi.

            Mereka kumandangkan dan wujudkan harapannya itu lewat lagu, tarian, dan atraksi sisingaan. Atraksi sisingaan adalah manifestasi dari kekalahan diri dan keputusasaan dalam menghadapi kenyataan. Akan tetapi, semangat dan cita-citanya itu tetap disalurkan dan dihembuskan kepada anak cucunya, generasi muda. Para orang tua kita yang sudah terjatuh lunglai itu menitipkan ruh kemenangan pada anak  cucunya. Biarlah dirinya hancur dan terhina, tetapi tidak untuk anak cucunya.

            Mari kita lihat atraksi seni sisingaan. Empat orang tua atau lebih memanggul boneka singa yang disebut sisingaan. Di atas sisingaan itu duduk anak kecil yang masih polos dan lugu, tersenyum ceria dan bangga.

            Para orang tua yang memanggul sisingaan itu perlambang kekalahan diri dan pengakuan bahwa dirinya sangat lemah serta takluk harus hidup di bawah kaki penjajah kapitalis. Boneka singa yang mereka usung itu adalah perlambang kekejian penjajahan dan memang penjajah Belanda memiliki simbol singa sebagai stempel resmi Kerajaan Belanda. Para orang tua kita itu sudah memosisikan dirinya sebagai “kaum terhina” yang harus selalu patuh, bersedia ditipu, dan diinjak harga dirinya oleh penjajah. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak bersedia jika keadaan menyedihkan yang dideritanya akan diderita pula oleh anak cucunya. Oleh sebab itu, anak kecil sebagai perlambang anak cucu dan generasi penerus bangsa diposisikan duduk berada di atas singa. Anak kecil itu harus berada di atas singa dan mengendalikan singa.

            Para orang tua kita itu seolah-olah berbicara, “Biarlah kami yang harus hidup di bawah kaki penjajah. Akan tetapi, tidak bagi anak cucu kami! Generasi muda kami harus hidup berada di atas penjajah dan mengendalikan para penjajah kapitalis untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.”

            Begitulah cita-cita mereka saat itu. Mereka menginginkan kita yang mengendalikan orang lain, bukan orang lain yang mengendalikan kita. Mereka sudah “memasrahkan diri” untuk hidup terhina, tetapi kita tidak boleh terhina. Mereka sudah takluk untuk ditipu dan disedot seluruh energinya oleh orang asing, tetapi kita tidak boleh takluk dan tidak boleh bersedia ditipu oleh orang asing.

            Apabila kita masih diatur dan ditipu bangsa asing, menangislah jiwa orang tua kita yang sudah berharap agar kita menjadi bangsa yang hebat. Apabila kita masih mau diatur dan ditipu bangsa asing, kita sudah mengkhianati orang tua kita sendiri yang berpeluh kesah bercucuran keringat menumpahkan darah. Kita ternyata masih sekelas kambing congek buduk!

            Mari kita ingat orang tua kita yang sudah lelah berjuang!

            Lawan Freeport dan seluruh kekuatan asing apa pun yang berusaha menyedot energi Indonesia secara tidak sah dan tanpa moral.

Gunakan Semangat Sisingaan!

            Tong Honcewang!


            Jangan takut!

Tuesday, 1 December 2015

FPI Mempermalukan Diri Sendiri

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Laporan Majelis Dakwah Manhajus Solihin Purwakarta yang didampingi Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela Islam Jawa Barat atas tuduhan dugaan penghinaan atau penistaan terhadap Islam yang dilakukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, bagi saya, tampak sebagai upaya mempermalukan diri sendiri. Saya melihat mereka seperti perilaku orang-orang kocak. Lucu.

Mereka melaporkan itu kan setelah Habieb Rizieq yang Ketua Umum FPI itu dilaporkan masyarakat Sunda karena telah melakukan perilaku penghinaan dengan mengganti ucapan sampurasun dengan ucapan “campur racun”. Upaya melaporkan Bupati Purwakarta itu tampak seperti ingin mengalihkan isu yang sebenarnya, yaitu campur racun sekaligus merupakan perlawanan FPI terhadap laporan yang diderita oleh ketuanya sendiri.

Saya ingatkan kepada siapa saja yang membaca blog ini. Itu adalah persoalan yang berbeda jauh. Kasus campur racun Rizieq tidak menjadi batal karena tuduhan yang dialamatkan pada Dedi. Campur racun tetap harus diselesaikan oleh kepolisian. Pendalaman terhadap tuduhan penistaan Islam yang dilakukan Dedi pun tetap harus didalami. Jadi, sangat menggelikan jika menganggap bahwa kasus campur racun akan selesai karena adanya tuduhan penghinaan Islam. Yang melaporkan Rizieq kan masyarakat adat Sunda, bukan Dedi. Adapun FPI mempermasalahkan Dedi. Itu sangat jauh berbeda.

Kalaupun Dedi ternyata dinyatakan bersalah, tidak ada urusan dengan masyarakat Sunda. Dedi hanyalah satu manusia Sunda, nggak ada hubungannya dengan kekesalan masyarakat Sunda yang mencintai Sunda terhadap Rizieq yang angkuh itu. Saya juga menulis artikel ini bukan karena Dedi. Bagi saya Dedi bukanlah siapa-siapa. Dia Bupati Purwakarta. Saya orang Bandung, nggak akan milih Dedi. Kalaupun Dedi orang Bandung atau saya orang Purwakarta, saya tetap nggak akan milih Dedi karena saya adalah manusia “Penghina, Pengecam, dan Penista Berat Demokrasi”. Saya nggak akan pernah lagi milih siapa-siapa karena saya mengharamkan diri saya sendiri untuk mengikuti proses Pemilu, Pemilihan Kadal, atau pemilihan-pemilihan lainnya.

Nah, kalau yang ini jelas penghinaan dan penistaan terhadap demokrasi. Saya orangnya. 100% saya.

Ada beberapa hal yang saya anggap lucu hingga pengen ketawa mengikuti perkembangan campur racun Rizieq. FPI dan teman-temannya melaporkan buku yang disusun Dedi, spirit budaya dan Kang Dedi Menyapa. Padahal, buku itu telah dicetak bertahun-tahun lalu.

Kenapa tidak sejak awal terbit dilaporkan kalau memang benar ada penghinaan?

Kenapa baru dilaporkan setelah Rizieq yang sombong itu dilaporkan pada Polisi?

Ini terkesan FPI memaksakan diri dengan melaporkan Dedi untuk menutupi kesalahan yang telah dibuat Rizieq yang pengetahuannya terbatas itu. Sejak awal dong laporkan kalau memang benar. Kalau baru sekarang, Rizieq dan FPI-nya terkesan arrogant dan mengesalkan banyak orang Sunda. Perilaku FPI yang seperti ini mirip-mirip dengan para politikus goblok yang bikin black campaign dengan mengungkapkan keburukan lawan politiknya yang entah benar, entah tidak.

Memang untuk memastikan ada dan tidaknya penghinaan atau penistaan yang dilakukan Dedi, harus dipelajari dulu buku yang dibuatnya itu. Saya juga jadi pengen punya bukunya. Saya memang gemar membaca dan menulis. Saya punya sekitar 7.000 buku yang tersimpan di rumah orangtua saya dan di rumah saya sendiri yang kadang-kadang jadi kerjaan tambahan karena memang harus tetap dipelihara. Polda Jabar sudah sangat tepat untuk mempelajari dulu buku tersebut dan mengundang para ahli yang dapat memberikan penjelasan terhadap buku tersebut.

Saya hanya membaca sedikit dari internet tentang kalimat-kalimat yang dipermasalahkan FPI dalam buku bikinan Dedi tersebut. Bagi saya, nggak ada masalah yang berarti dalam kalimat-kalimat yang dianggap penghinaan terhadap Islam tersebut. Kalau ada yang mempermasalahkan kalimat-kalimat itu, saya menduga dengan keras bahwa mereka itu kurang pengetahuan, jarang berdzikir, jarang tafakur, jarang berkontemplasi, masih gemar terlalu mencintai dunia, dan terlalu mengandalkan diri pada teks-teks hafalan semacam Al Quran dan Hadits.

Melihat kualitas orang-orang yang disebut ahli agama itu seperti itu, saya jadi lebih bersemangat mendorong istri saya untuk menyelesaikan skripsinya yang berjudul Efektivitas Pendidikan Akhlak dalam Peningkatan Akhlak di Lingkungan Generasi Muda: Studi Kasus di …. (nggak akan dibilangin lokasinya) …. Jujur saja, judul ini banyak ditentang karena banyak orang termasuk dosen-dosennya seperti merasa terserang.

Istri saya bilang banyak dosen yang kurang setuju, alasannya adalah seperti yang dikatakan salah satu dosennya, “Ya, akhlak itu kan bertahap. Saya juga masih belum sempurna dan masih harus belajar.”

Lho, apa masalahnya?

Seolah-olah mereka berupaya menghalangi penelitian karena mereka masih gemar melakukan keburukan, baik sadar atau tidak. Mereka seperti sudah merasa tersindir duluan. Mereka takut malu karena dianggap orang-orang yang ahli dalam agama, tetapi belum mampu melaksanakan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian istri saya itu dikhawatirkan akan menyindir mereka yang dosen dan ahli agama itu.

Penelitian itu kan untuk mendapatkan banyak informasi yang berujung pada sebuah kesimpulan, kemudian peneliti memberikan saran. Dengan demikian, akan didapat masalah-masalah yang harus diperbaiki agar pendidikan akhlak tersebut benar-benar terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa masalahnya?

Kalau memang Dedi mulai meninggalkan asalamualaikum wr. wb.  dan lebih sering mengucapkan sampurasun, jangan dimaki atau dilaporkan ke polisi. Kalau merasa diri ulama atau tokoh agama, seharusnya memandang Dedi itu adalah seorang umat yang masih harus dibimbing, bukan dimusuhin. Kan tugas ulama itu untuk membimbing masyarakat ke dalam jalan yang lebih benar dan lebih baik, bukan mencela dan memarahi umat. Anggap saja Dedi itu anak-anak yang masih harus dituntun, jangan tiba-tiba digampar. Oleh sebab itu, saya menganggap bahwa laporan FPI itu tidak tampak sebagai amar maruf nahyi munkar, tetapi lebih sebagai tindakan balasan atas dilaporkannya Rizieq oleh masyarakat Sunda.

Kalau memang Dedi mengatakan bahwa agama itu adalah budaya, apanya yang salah?

Agama itu kan bukan hanya Islam. Ada banyak agama di dunia ini yang memang hasil olah pikir dan olah rasa manusia.

Islam hadir untuk memberikan koridor bagi budaya agar budaya itu tetap pada jalur Allah swt. Budaya itu kan berasal dari kata budi dan daya. Budaya itu adalah akal pikiran dan daya manusia dalam beradaptasi dengan alam di sekitarnya. Nah, Islam itu mengarahkan agar penggunaan akal pikiran dan daya manusia itu berada dalam jalur Allah swt. Jadilah budaya Islam atau Islam yang berbudaya. Kebudayaan Islam itu mencapai kegemilangannya pada masa lalu ketika kaum muslim yang berbudaya menggunakan akal pikiran dan dayanya untuk menemukan berbagai terobosan baru dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti, kedokteran, matematika, fisika, astronomi, arsitektur, dan lain sebagainya.

Apanya yang salah?

Kalau Dedi mengatakan bahwa Islam berasal dari akal pikiran manusia, itu jelas salah. Akan tetapi, kalaupun salah, jangan lantas dilaporkan ke polisi. Dia muslim. Bimbing dia. Beri dia pengetahuan dengan dalil-dalil yang jelas dan logis. Begitu caranya.

Soal patung.

Apa bedanya dengan patung Mohammad Toha, Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, dan puluhan patung pahlawan lainnya?

Patung itu dibuat agar orang-orang dapat mengingat dan mencontoh kebaikan-kebaikan yang diperbuat oleh tokoh yang dibuat patung itu. Di Eropa sana masih banyak patung atau relief yang menggambarkan sosok kaum muslim intelek yang telah berjasa dalam bidang ilmu pengetahuan.

Apa bedanya?

Kalau patung itu dijadikan sesembahan, dipuja, dianggap memiliki kekuatan untuk menentukan takdir dan nasib manusia, itu jelas haram karena termasuk dalam perilaku penyembahan berhala.

Soal kain poleng, saya sudah bahas pada tulisan sebelumnya. Baca aja sendiri.

Soal orang Sunda tidak mengenal simbolisasi penyembahan, apa maksudnya?

Simbol yang jadi sesembahan?

Memang tidak ada.

Bukankah Islam juga melarang membuat simbol Allah swt yang menjadi zat yang harus disembah?

Zakat memang tidak wajib bagi masyarakat karena memang tidak ada undang-undang yang memaksa masyarakat untuk membayar zakat. Itu diwajibkan oleh Al Quran, bukan oleh undang-undang. Jadi, negara tidak bisa menghukum orang-orang yang tidak bayar zakat, tetapi Allah swt pasti menghukum mereka. Adapun APBD memang wajib karena ada aturan yang mengharuskan bahwa APBD harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Di samping itu, pemimpin muslim yang mampu menyalurkan APBD dengan baik, bersih, dan lancar kepada masyarakat, pasti akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah swt.

Apa masalahnya?

Allah swt mendidik dan membiarkan Rasulullah sengsara?

Memang iya kan?

Apa masalahnya?

Rasulullah sendiri sering mengisyaratkan hal itu pada umatnya, seperti, kalau kamu ingin merasakan nikmatnya Islam, jadikan zuhud sebagai pakaianmu. Pernah pula berbicara seperti ini, kalau Allah swt menginginkan kebaikan pada diri seseorang, Allah swt akan mencabut dunia dari dirinya. Banyak hal seperti itu yang diajarkan beliau yang intinya menghentikan kecintaan pada dunia secara berlebihan dan hidup dalam kekayaan rohani.
Syekh Abdul Qadir Jaelani mengajarkan bahwa Allah swt Maha Pencemburu. Jika hati hambanya mulai tertambat pada dunia, Allah swt akan menjauhkan dunia dari dirinya sehingga hanya ada Allah swt di dalam hatinya. Allah swt cemburu jika ada hamba yang disayangi-Nya mulai melupakan diri-Nya. Sering pula Allah swt menjerumuskan hamba yang dikasihi-Nya dalam berbagai kesulitan dan penderitaan sehingga lidah hambanya lirih memohon ampun dan meminta kepada-Nya dan Allah swt sangat senang dengan hal itu.

Apa artinya semua itu?

Allah swt tidak menginginkan hati kekasih-Nya, Muhammad saw, jatuh cinta pada dunia. Allah swt membiarkan dunia berada jauh dari Muhammad saw agar Muhammad saw selalu bersama-Nya. Balasan dari semua itu adalah Allah swt mendekatkan Muhammad saw di sisi-Nya dengan penuh kenikmatan di akhirat, surga yang penuh berkah.

            Kalau mengatakan Allah swt adalah sampah, itu jelas salah. Akan tetapi, Dedi menggunakan bahasa yang tinggi dan penuh dengan konotasi yang bisa berarti bahwa Allah swt memberikan banyak gagasan dan pengetahuan mengenai sampah sehingga sampah itu menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan lagi sesuatu yang menjijikan dan harus dibuang sia-sia.

            Di samping itu, saya pernah membaca sebuah hadits seperti ini, carilah Aku di antara orang-orang yang patah hati. Hal itu berarti Allah swt bersama orang-orang yang dikecewakan hidupnya dan terbuang di dunia ini yang kemudian menyibukkan dirinya dengan menyucikan hati dan dirinya dengan kalimat-kalimat Allah swt.

            Al Quran sama dengan alat musik suling ya bisa-bisa aja jika dilihat dari fungsinya, yaitu untuk melembutkan hati, menyenangkan hati yang mendengarnya, dan menyentuh perasaan. Meskipun demikian, pasti beda hasilnya antara hati yang dilembutkan dan disenangkan oleh suling dengan oleh bacaan Al Quran yang penuh hikmah dan energi positif itu. Pasti jauh berbeda hasilnya, lebih tinggi Al Quran. Bahasa Dedi itu kan bahasa pengandaian, bukan bahasa denotatif yang memiliki arti sebenarnya.

            Sudah ya, saya mulai bosen menulisnya.

            Sori kalau saya sok tahu. Saya cuma kesel lihat orang-orang keras kepala yang mesti dilembutkan hatinya.