Monday, 28 November 2022

Kecurigaan Kristenisasi di Cianjur

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bencana gempa di Cianjur, Jawa Barat, baru-baru ini telah membuat banyak pihak tergerak untuk menyalurkan bantuan, baik kelompok, komunitas, maupun pribadi-pribadi telah berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan, baik itu uang, makanan, obat-obatan, ataupun yang lainnya. Anak-anak laki-laki saya pun demikian. Anak saya yang kuliah di Uin SGD berupaya mengumpulkan dana dan berniat berangkat ke Cianjur. Anak saya yang masih SMP malahan baru pulang dari Cianjur bersama grup Karang Taruna di desanya untuk memberikan bantuan.

            Saya dikirimin foto anak saya yang lagi menyalurkan bantuan dan bangunan rumah yang rusak akibat gempa. Itu di foto anak saya yang sepatunya full putih.







            Lucu ini anak, perasaan baru minggu-minggu kemarin dia minta izin, “Pah, boleh Dede ikutan Tarang Karuna?”

            “Tarang Karuna apa?” tanya ibunya, “Karang Taruna gitu.”

            “Iya, itu.”

            Saya membolehkannya agar dia lebih dewasa berorganisasi meskipun masih SMP kelas 9. Beberapa hari kemarin, saya diundang untuk menyaksikannya dilantik oleh Kepala Desa.

            Mahasiswa Universitas Al Ghifari pun malam-malam ada yang mengajak saya ke Cianjur, “Pak, ikut yuk ke Cianjur.”

            Pendek kata, banyak yang peduli dan datang ke Cianjur untuk membantu korban bencana. Mereka datang dari seluruh Indonesia, dari berbagai kelompok dan agama.

            Dari semua kelompok yang berdatangan itu, ada yang dianggap bermasalah, yaitu dari “Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia”. Mereka memasang tenda biru dengan tulisan gerejanya. Hal itu memancing kecurigaan dan kemarahan kelompok lain yang diduga bernama Gerakan Reformis Islam (Garis) yang dikenal sebagai kelompok keras. Garis menyobek tulisan itu dan mencopotnya dari tenda.

            Foto tenda itu saya dapatkan dari Pojoksatu id. Adapun aksi pencopotan label oleh Garis berasal dari Tribun Jabar.


Tenda Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia (Foto: Pojoksatu.id)


Pencopotan Label Tanda Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia (Foto: Tribun Jabar)


            Segera saja aksi yang dilakukan Garis itu mendapatkan reaksi keras dari mereka yang dianggap sebagai pejuang NKRI dan penjaga toleransi. Saya sebut begitu saja untuk menamakan mereka. Aktivis Garis dianggap intoleran, mengganggu kehidupan harmonis antaragama, dan itu merupakan aksi radikal yang berbahaya.

            Saya sih melihatnya mereka itu, baik pejuang NKRI maupun Garis sama-sama memiliki kecurigaan yang diakibatkan kurang pengetahuan dan kurang pengalaman. Garis melakukan pencopotan dan dan penyobekan label nama itu diakibatkan kemarahan atas kecurigaan yang mungkin mereka alami dan lihat pada tempat dan waktu yang lain. Mereka mungkin pernah melihat atau mengalami upaya kristenisasi, terutama bagi warga muslim yang sedang dalam keadaan membutuhkan, kemiskinan, atau tertimpa bencana.

Kristenisasi dilakukan dengan cara menukar akidah muslim dengan makanan, beras, mie instan, uang, atau pengobatan. Sejak saya kecil hal ini sering saya dengar meskipun tidak pernah melihatnya benar-benar. Meskipun demikian, saya pernah mendengar pengakuan seorang pengamen jalanan yang kemudian murtad dari Islam dan pindah agama menjadi Kristen karena kesulitan hidup, kesulitan keuangan, sedangkan beberapa komunitas Kristen memberikan kemudahan dalam hidupnya. Akhirnya, dia berubah keyakinan menjadi Kristen. So, kristenisasi itu ada, beneran.

Guru ngaji saya sendiri, Ustadz Hasan pernah berceritera bahwa dirinya memiliki teman yang juga ustadz, tetapi kemudian berubah menjadi Kristen. Temannya yang masih ustadz itu menyesal dan mengakui dirinya berdosa besar, tetapi dia tetap Kristen dan menjadi penyebar Kristen. Hal itu disebabkan ketika dia sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit, tak seorang muslim pun memberikan pertolongan, padahal dia ustadz. Mereka yang memberikan pertolongan justru dari pihak gereja Advent dan membiayai seluruh pengobatannya. Itulah yang menyebabkannya menjadi Kristen.

Ayah saya sendiri pernah berkali-kali didatangi oleh penyebar Kristen sekte Mormon. Mereka mengajak ayah saya untuk pindah agama, waktu itu saya masih SD. Ayah saya orangnya easy going, ramah, mudah diajak ngobrol siapa pun. Dia selalu menerima para penyebar agama itu dengan baik.

Mereka berhenti mengajak ayah saya pindah agama setelah ayah saya mengatakan, “Semua yang ada di dalam ajaran agama kalian sudah ada di dalam ajaran agama saya, Islam. Jadi, saya tidak perlu pindah agama.”

Dua atau tiga tahun lalu pun, saya pernah diajak pindah agama ke Kristen sekte Saksi Yehova. Saya juga tidak mengerti kenapa mereka mendatangi saya, tetapi ke tetangga saya, tidak. Saya memang punya tetangga beragama Kristen Saksi Yehova. Mereka hidupnya serba kekurangan. Sepasang nenek-kakek renta mengurus cucunya yang masih SMP. Cucunya itu tidak diurus oleh ayah dan ibunya, mungkin karena kekurangan hidup juga. Mereka kadang meminta pakaian untuk sekolah cucunya. Kemudian, istri saya memberikan pakaian-pakaian bekas anak saya, termasuk seragam SMP untuk mereka. Terkadang juga makanan, sayuran, atau tanaman di kebun saya diberikan buat mereka oleh istri saya. Sekali dua kali saya juga pernah memberi mereka uang.

Mungkin mereka menganggap keluarga saya baik. Itu mungkin ya. Saya geer saja karena para penyebar agama itu tidak mendatangi tetangga muslim saya, hanya datang kepada saya. Keluarga renta itu pun sekali dua kali didatangi oleh komunitas gerejanya yang kemudian mereka mendatangi saya. Mereka bilang ingin silaturahmi. Saya terima dengan baik. Mereka kemudian mengajak ngobrol, lalu memberikan selebaran, brosur, leaflet tentang agama mereka kepada saya, dan ada sedikit ajakan kepada saya untuk pindah agama.

Saya bilang, “Terima kasih.”

Saya baca tentang agama mereka. Kesimpulannya, seperti apa yang ayah saya katakan dulu kepada para penyebar Mormon. Segala yang ada di dalam ajaran Saksi Yehova, seperti, mendapatkan ketenangan diri, berbuat baik, dan berhubungan dengan Tuhan sudah ada dalam agama saya, Islam. So, saya tidak perlu pindah agama karena Islam sudah memiliki semua itu, tinggal melaksanakan saja.

Jadi, kristenisasi itu memang ada. Apa yang terjadi kepada saya dan ayah saya adalah upaya kristenisasi, tetapi berlangsung dalam situasi yang wajar, normal, biasa. Wajar saja orang Kristen menawarkan agamanya supaya kita pindah agama mengikuti mereka, kan pada akhirnya gimana kitanya.

Sama juga toh orang Islam juga suka menawarkan agamanya kepada nonmuslim untuk menjadi muslim?

Menurut saya sih normal saja asal tidak menggunakan paksaan, kekerasan, atau penipuan dengan berkedok materi.

Nah, apa yang dilakukan Garis dengan mencopot label tenda dari “Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia” itu merupakan suatu bentuk kecurigaan adanya upaya kristenisasi kepada umat muslim di tengah bencana Cianjur. Mereka berupaya melindungi akidah muslim. Akan tetapi, saya menduga mereka itu baru sebatas curiga karena mungkin saja mereka tidak melakukan penelitian dahulu.

Apakah tim gereja itu benar-benar hanya untuk membantu dan tidak ada upaya kristenisasi? Atau memang ada upaya kristenisasi itu?

Tidak jelas.

Kalau memang hanya untuk membantu, tak mengapa label nama gereja itu ada. Hal itu merupakan ciri, tanda, atau pengumuman kepada umatnya sendiri bahwa dana umat Kristen itu benar-benar disalurkan sebagaimana yang diamanatkan umatnya. Label nama tenda itu sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada umatnya sendiri. Akan tetapi, jika memang ada upaya kristenisasi, memang akan menjadi masalah karena warga yang tengah dilanda bencana itu bisa jadi rentan murtad. Hal ini perlu penelitian lebih dahulu hingga jelas dan jelas pula tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.

Demikian pula dari pihak pejuang NKRI tak perlu terlalu heboh dengan menuding Garis sebagai gerakan Islam intoleran, radikal, dan menganggu keharmonisan hidup beragama. Mereka perlu juga melakukan penelitian sebelum menghujat, menuding, atau menyalahkan. Kita harus memahami latar belakang tindakan pencopotan yang dilakukan oleh Garis. Semua harus tenang disertai penyelidikan sederhana sehingga tidak jatuh dalam aksi kriminal, radikal, atau sok tahu. Justru dengan saling curiga, kehidupan menjadi tidak harmonis.

Kalau tidak mau ada muslim yang pindah agama, sebaiknya bantu kaum muslimin yang sedang berada dalam kesusahan karena kesulitan dan kemiskinan itu berpotensi menjadikan orang menjadi murtad dan kafir. Mulai membantu dari tetangga terdekat, koordinasi dengan RT, RW, dan DKM. Malu rasanya bila ada tetangga yang murtad karena tidak bisa makan. Jangan menyalahkan Jokowi terus, kejauhan.

Tetangga kita yang lapar kok yang disalahkan Jokowi?

Kita dong tetangganya yang mulai membantu semampu kita. Itu adalah ladang pahala bagi kita.

Buat saudara-saudara nonmuslim, baik itu Kristen, Hindu, Budha, ataupun Konghucu, tidak perlu memanfaatkan saudara-saudara muslim yang sedang kesusahan dengan menawarkan materi agar pindah agama. Jangan rayu siapa pun untuk pindah agama di kala keadaan sulit. Kalau mau menawarkan agama, jangan dalam keadaan menderita karena pikirannya sedang tidak seimbang. Berdiskusilah dengan baik tanpa paksaan dan penipuan. Agama apa pun dan agama siapa pun.

Bagi saya, menawarkan agama itu boleh asal dengan keadaan baik dan situasi yang baik juga. Itu pendapat saya. Jika menggunakan hukum, itu sudah pelanggaran hukum karena undang-undang melarang siapa pun mengubah agama orang lain yang sudah memiliki agama sebelumnya. Jujur, hukum ini sulit terlaksana karena setiap pemeluk agama berusaha menawarkan agamanya masing-masing. Hal yang penting adalah jaga kehidupan tetap harmonis, saling memahami, tidak saling menyerang, dan saling membantu agama apa pun atau agama siapa pun

Sampurasun.

Thursday, 24 November 2022

Barat Ingin Orang Bodoh Jadi Presiden Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Teori-teori realis klasik menjelaskan bahwa manusia itu memiliki kecenderungan kuat untuk menguasai manusia lainnya. Itulah yang menyebabkan adanya banyak konflik dan perang di muka Bumi ini. Salah satu yang menjadi penyebab manusia ingin menguasai manusia lainnya adalah ingin menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah manusia lainnya. Tampaknya, hari ini niat, kecenderungan, kebiasaan, dan perilaku orang-orang Barat, khususnya Eropa masih ngotot ingin menguasai sumber daya alam Indonesia.

            Foto penambangan nikel di Indonesia saya dapatkan dari Tagar id.


Penambangan Nikel di Indonesia (Foto: Tagar.id)


            Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara sumber nikel sangat besar di dunia ini. Selama beberapa tahun, mungkin puluhan tahun, Indonesia telah menjual nikel mentah ke luar negeri untuk bahan baja. Keuntungan Indonesia sangatlah kecil dari penjualan nikel mentah ini, hanya untuk beberapa keluarga dan beberapa eksportir. Melihat hal itu, Presiden RI Jokowi sudah tidak mau lagi menjual nikel mentah seperti pada masa lalu. Oleh sebab itu, Jokowi mengeluarkan perintah untuk melarang penjualan nikel mentah ke luar negeri. Jokowi hanya ingin menjualnya jika nikel itu sudah menjadi barang setengah jadi atau bahkan barang jadi. Artinya, negara mana pun yang ingin nikel Indonesia harus membangun pabrik di Indonesia. Jokowi ingin ada nilai tambah untuk Indonesia. Dengan adanya pabrik, Indonesia bisa membuka lapangan kerja bagi rakyat, menarik pajak, dan alih teknologi.

            Kebijakan Jokowi itu tentu saja membuat Eropa marah karena mereka sangat tergantung pada nikel Indonesia. Oleh sebab itu, mereka menggugat Indonesia dalam sidang WTO. Indonesia dipandang mereka telah berbuat tidak adil bagi mereka. Barat tidak mau mengikuti kehendak Jokowi. Akan tetapi, Jokowi tetap bandel dan kukuh pada pendiriannya. Hal itu telah terbukti, ketika Indonesia melarang ekspor nikel mentah ke luar negeri, pendapatan Indonesia dari nikel itu bertambah puluhan kali lipat dibandingkan masa lalu. Hal itulah yang telah membantu kuatnya ekonomi Indonesia hingga menurut IMF saat ini Indonesia adalah negara ranking tujuh dengan ekonomi terkuat di dunia. Jokowi melawan Eropa dengan memerintahkan untuk menghadirkan pengacara terbaik kelas dunia untuk membela Indonesia.

            Sidang pertama telah berjalan dan Indonesia dinyatakah kalah. Mudah bagi kita memahaminya, sidang itu berasal dari gugatan Eropa dan yang berada di sidang panel itu orang-orang Eropa juga. Wajar Indonesia jika dikalahkan. Akan tetapi, Indonesia tidak mudah menyerah, mengajukan naik banding atas keputusan sidang itu. Indonesia tetap melarang penjualan nikel mentah karena untungnya sudah jelas. Di samping itu, logikanya juga mudah dipahami bahwa nikel itu berasal dari Indonesia, milik rakyat Indonesia, ada di perut Bumi Indonesia, itu adalah hak bangsa Indonesia mau digunakan apa dan mau dijual atau tidak. Nikel itu terserah kita sebagai pemiliknya mau diapapun juga.

            Mudah kan berpikirnya?

            Punya kita ya gimana kita sebagai pemiliknya.

            Dari kebijakan Jokowi itu, tentu saja merugikan pihak Barat dan pihak di dalam negeri yang diuntungkan dari hasil kerja sama dengan Barat yang menguntungkan Barat itu. Jokowi ingin rakyat Indonesia yang untung, bukan orang lain. Seperti kata saya tadi, Barat boleh mendapatkan untung dari  nikel Indonesia, tetapi harus bikin pabrik dan mengolahnya di Indonesia. Bukannya mengambil mentahnya, dibawa ke negeri mereka sehingga mereka yang untung besar, sedangkan rakyat Indonesia tetap berada sebagai buruh mereka.

            Tak heran jika Jokowi banyak dibenci karena telah merugikan mereka, baik pihak Eropa maupun orang Indonesia yang berkomplot dengan Eropa. Tak heran pula jika mereka ingin menjatuhkan Jokowi dan berharap presiden Indonesia selepas Jokowi adalah orang bodoh yang dapat mereka kendalikan sehingga menguntungkan mereka, bukan menguntungkan rakyat Indonesia.

            Kalau menurut saya, sudah seharusnya seluruh dunia berbagi dengan cara saling menguntungkan. Akan tetapi, hormati pemilik sah kekayaan alam, lalu bekerja sama dengan cara yang baik tanpa harus bersikap serakah.

            Sampurasun

Wednesday, 23 November 2022

Mayoritas Kristen Inggris Dipimpin Muslim dan Hindu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Inggris adalah negara yang dihuni oleh rakyat yang mayoritas beragama Kristen, baik itu Katolik, Protestan, maupun sekte lainnya. Ada banyak pula mereka yang ateis dan agnostik. Secara sederhana, ateis itu tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan agnostik percaya adanya Tuhan, tetapi tidak percaya agama apa pun.

            Jika melihat keyakinan beragama di Inggris, hal yang biasa adalah pemimpinnya beragama Kristen. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Kota London yang dianggap kota modern terbesar di dunia itu ternyata memilih seorang muslim menjadi pemimpin. Namanya Sadiq Khan. Dia bekerja dengan baik hingga terpilih menjadi Walikota London kembali untuk dua periode. Ini hal yang unik, mayoritas Kristen memilih seorang muslim untuk memimpin kotanya. Foto Sadiq Khan saya dapatkan dari Kabar 24 – Bisnis com.


Walikota London Sadiq Khan (Foto: Kabar 24 - Bisnis.com)


            Itu hanya kota, hal yang lebih luas lagi kekuasaannya adalah jabatan perdana menteri (PM). Setelah PM Boris Jhonson mengundurkan diri karena mendapatkan mosi tidak percaya dan tersandung melindungi bawahannya yang dianggap melakukan pelecehan seksual, pemerintahan Inggris terancam bubar. Oleh sebab itu, Inggris memilih kembali PM yang baru, seorang perempuan, Liz Truss. PM Liz Truss dipilih di tengah badai krisis dan ekonomi Inggris yang buruk. Sempat beredar berita di Inggris bahwa ada siswa sekolah yang pura-pura makan siang dengan mengunyah karet penghapus karena orangtuanya tidak memberinya makanan. Para orangtua lebih memilih menggunakan uangnya untuk membayar listrik dan transportasi yang mahal. Liz Truss melakukan upaya perbaikan ekonomi Inggris dengan caranya sendiri, tetapi tidak jelas arahnya yang kemudian membuat ekonomi Inggris semakin terpuruk. Tidak sampai satu bulan Liz Truss menjadi perdana menteri karena mengundurkan diri.

            Inggris kembali membutuhkan perdana menteri baru. Karena keadaan ekonomi yang sangat buruk, dipilihlah orang yang sangat mengerti keuangan. Orang yang terpilih itu adalah Rishi Sunak. Dia keturunan India dan beragama Hindu. Sebagian orang menyebut terpilihnya Rishi Sunak adalah karma buat Inggris karena dulu Inggris menjajah India. Sekarang Inggris dipimpin orang keturunan India yang pernah dijajahnya.

            Begitulah Inggris saat ini. Walikota London adalah seorang muslim, Sadiq Khan. Adapun Perdana Menteri dijabat seorang Hindu, Rishi Sunak. Foto Rishi Sunak saya dapatkan dari Dunia Tempo co.


Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak (Foto: Dunia Tempo.co)


            Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Inggris sudah tidak lagi menjadikan agama seseorang sebagai standar untuk menjadi pemimpin. Bagi mereka hal yang penting adalah kemampuan orang itu untuk memimpin dan menyelamatkan Inggris dari kerusakan serta membuat Inggris menjadi stabil dan maju lagi. Agama adalah urusan dirinya dengan Tuhannya. Urusannya dengan manusia adalah mampu menunjukkan prestasi selama karirnya dan membuat rakyat sejahtera serta hak-haknya dipenuhi.

            Setiap orang yang membaca tulisan ini atau tulisan dari orang lain memiliki pendapat sendiri berdasarkan kemampuan menganalisanya. Hal yang jelas adalah kejadian apa pun yang terjadi di dunia ini dapat dijadikan pelajaran bagi hidup kita agar lebih baik lagi di dunia dan diakhirat.

            Sampurasun.

Tuesday, 22 November 2022

Kalau Kudet Soal Mobil Esemka, Tak Perlu Nyinyir

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Murid-murid saya, baik yang masih aliyah maupun di perguruan tinggi, dulu kerap dalam obrolan mereka ada kalimat “kamu mah Kudet” atau “dasar Kudet”. Saya coba cari tahu apa itu Kudet. Ternyata, itu singkatan dari “kurang apdet”. Dalam bahasa Inggris aslinya mungkin menulisnya “up date”. Artinya, kurang informasi atau informasinya tidak diperbaharui alias yang itu-itu saja, padahal semua sudah berkembang dan baru.

            Baru-baru ini saya ketawa-ketawa lucu karena masih ada orang yang nyinyir soal mobil Esemka yang dibalas oleh pendukung Jokowi dengan bantahan-bantahan. Saya merasa lucu karena isu mobil Esemka itu kan sudah sangat lama dan viral ketika masa kampanye pemilihan presiden. Sekarang Jokowi sudah mau berhenti menjadi presiden, tetapi isu mobil Esemka masih diributkan.

            Kok masih ribut?

            Bodor pisan.

            Kalau saya perhatikan, baik para penyinyir bodoh maupun pendukung Jokowi yang masih ribut itu, sama-sama kurang pemahaman tentang mobil Esemka. Akibatnya, perdebatan dan keributan jadi ke mana-mana dan tidak ada hubungannya dengan mobil Esemka. Malah, jadi ngeributin politik yang juga salah mikirnya. Mirip gerobak sampah, apa pun ada di situ, rupa-rupa. Tidak fokus. Lucu jadinya.

            Begini soal mobil Esemka yang saya tahu. Kalau saya kurang data atau salah, pembaca bisa menyempurnakannya. Silakan saja. Mobil Esemka itu dimulai dari percobaan seseorang bernama Sukiyat yang memiliki bengkel Kiyat Motor dan sekaligus guru pembimbing SMK. Dia bersama para siswa melakukan percobaan membuat mobil produksi dalam negeri pada 2007. Saat itu Presiden RI masih SBY, sedangkan Jokowi masih Walikota Solo. Hasil percobaan itu menarik perhatian dan langsung mendapatkan pujian dari Presiden SBY.

            Jokowi pun menyukai mobil itu dan menginspirasinya untuk membuat mobil nasional sebagai tanda kemampuan anak negeri. Pada 2011 Jokowi menggunakan mobil itu selama dua hari menjadi kendaraan dinasnya sebagai Walikota Solo. Akan tetapi, penggunaannya dihentikan karena belum ada surat-suratnya, masih dalam uji emisi, dan bermasalah dalam pendanaan.

            Keinginan memajukan negara dengan menggunakan anak-anak muda cerdas untuk membuat mobil dalam negeri terus berlanjut. Akan tetapi, bikin pabrik mobil itu tidak secepat bikin gerobak buat dagang bakso. Perlu waktu yang cukup lama, biaya tinggi, dan infrastruktur yang lengkap.

            Setelah menjadi presiden, Jokowi membantu dan meresmikan pabrik untuk membuat mobil Esemka dalam jumlah banyak. Berdirilah pabrik yang bernama PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Desa Kebonan, Boyolali, Jawa Tengah pada 2019.

            Pabrik itu punya siapa?

            Punya Jokowi?

            Bukan!

            Punya pemerintah?

            Bukan!

            Pabrik itu milik swasta murni. Jokowi hanya menjadi fasilitator agar dipercaya oleh PT INKA dan Pertamina. Jadi, itu milik perorangan atau sekelompok orang yang bukan pemerintah. Foto pabrik Esemka saya dapatkan dari Otomotifnet com – GridOto com.


PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) (Foto: Otomotifnet.com - GrodOto.com)


            Setelah pabrik Esemka berdiri, dimulailah fokus pembuatan mobil “pick up”, kita menyebutnya “pikap” untuk membantu kelancaran produksi di pedesaan. Mobil itu menggunakan merk “Bima” dengan 1.200 cc. Setelah jadi, banyak pesanan yang datang. Banyak yang ingin beli. Pembuatan dan penjualan pun lancar. Hingga 2021 sudah terjual 300 unit. Akan tetapi, sayangnya, seluruh dunia tahu timbul penyakit Covid-19. Pandemi itu telah membuat para calon pembeli menahan diri untuk melakukan pembelian. Foto mobil Esemka saya dapatkan dari Detik Oto – Detikcom.


Deretan Mobil Esemka (Foto: Detik Oto - Detikcom)
:

            Jadi, mobil Esemka itu memang ada. Akan tetapi, kita tidak bisa melihatnya di perkotaan karena berfokus untuk di pedesaan. Lagian, jumlahnya masih sedikit. Namanya juga pabrik dan mobil baru muncul. Jangan disamakan dengan pabrik-pabrik yang sudah berumur puluhan tahun, seperti, Toyota, Suzuki, Honda, Holden, KIA, Daewoo, Fiat, Mitsubishi, Hyundai, Ford, dll.. Jangan juga dibandingkan dengan negara-negara yang memang dari dulu pemilik teknologi mobil, seperti, Amerika Serikat, Italia, Jerman, Korea Selatan, Jepang, dll.. Kita masih harus banyak belajar, bekerja keras, belajar keras, dan memberikan dukungan.

Jangankan membuat mobil, mulai berdagang pisang goreng saja kalau bersaing dengan pedagang yang sudah bertahun-tahun dan punya langganan tetap, kita belum tentu mampu menyainginya. Kalau tidak bekerja keras dan bersungguh-sungguh, bisa bangkrut sebelum berkembang. Mobil Esemka ini kan baru ada percobaannya pada 2007, digunakan dua hari oleh Jokowi pada 2011, pabriknya berdiri pada 2019, dan 2021 mengalami gangguan pandemi. Masih harus bersabar dan tetap berjuang.

Kalau toh beberapa bagian masih menggunakan spare part dari luar negeri, wajar atuh, namanya juga masih baru, perlu kerja sama, dan perlu waktu untuk alih teknologi. Seharusnya, didukung oleh seluruh bangsa Indonesia, bukannya nyinyir secara bodoh.

Kalau pabrik ini maju, meluas, dan hasil produksinya diminati banyak orang, kan bisa menyerap banyak tenaga kerja. Siapa tahu di antara para pembaca ada yang bisa bekerja di sana atau mungkin teman, sahabat, kerabat, anak, cucu dapat pekerjaan di sana. Bisa menghidupi keluarga dan banyak orang.

Saya berharap Esemka terus maju, minimal bisa menyaingi mobil Proton yang diproduksi Malaysia. Belajar bersama untuk maju. Jangan ribut terus atuh, malu.

Hayu ah.

Sampurasun.

Wednesday, 16 November 2022

Pangeran Arab Hadiahi Jokowi Masjid Megah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed (MBZ) Al Nahyan menghadiahi Presiden Republik Indonesia Jokowi masjid megah. Namanya Masjid Raya Sheikh Zayed yang dibangun di Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, dekat rumah kediaman Jokowi. Masjid ini dibangun dengan biaya hampir mencapai Rp400 miliar. Seluruhnya ditanggung MBZ, namanya juga hadiah.

            Foto Masjid Raya Sheikh Zayed saya dapatkan dari Dream co id. Adapun ritual penyerahannya dari MBZ ke Jokowi dari Mengerti id.

            Masjid ini merupakan miniatur replika dari Masjid Sheikh Zayed yang ada di Abu Dhabi. Hal ini merupakan tanda cinta persaudaraan antara UEA dan Indonesia. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 3 ha yang dapat menampung 10.000 jamaah. Masjid ini pun digunakan untuk pusat pendidikan dan syiar Islam serta destinasi wisata.


Masjid Raya Sheikh Zayed, Surakarta (Foto: Dream.co.id)


Peresmian Masjid Raya Sheikh Zayed (Foto: Mengerti.id)



            
Selama pembangunan masjid ini secara rutin dikontrol oleh Gibran Rakabuming Raka. Hal itu sangat wajar karena Gibran adalah Walikota Solo dan sekaligus putera sulung Jokowi.

            Saya jadi teringat ceritera dari Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) beberapa bulan lalu yang mengisahkan bahwa hubungan antara MBZ dengan Jokowi sudah seperti kakak-adik, bersaudara. Bahkan, LBP pernah dipanggil MBZ hanya untuk titip pertanyaan ke Jokowi.

            “Jenderal Luhut, tanya presidenmu. Dia pengen apa? Aku akan berikan apa saja yang dia mau,” begitu pengakuan LBP.

            Saat itu LBP tidak meneruskan kisahnya. Entah Jokowi mengajukan permintaan, entah tawaran MBZ itu dibiarkan saja. Tidak jelas.

            Kehadiran masjid ini saya duga entah atas tawaran Jokowi atau inisiatif sendiri MBZ. Entahlah, yang jelas ini adalah hadiah dari MBZ untuk Jokowi.

            Sudahlah hentikan berteriak-teriak dusta bahwa Jokowi adalah pemimpin PKI rezim anti-Islam. Kalau anti-HTI, anti-FPI, antiradikalisme, itu benar. Buktinya, mereka dibubarkan.

            Tidak mungkin seorang pemimpin anti-Islam  diberikan hadiah masjid mewah yang mahal, dari Pangeran Arab lagi.

            Iya, toh.

            Iya toh pisan.

            Yuk, kita cerdas, introspeksi diri, dan sama-sama membangun diri agar lebih baik lagi di dunia dan di akhirat. Berhenti melakukan fitnah dan berbohong. Itu hanya menambah dosa.

            Sampurasun.

Sunday, 13 November 2022

Eh, Ada Blackpink di Arab Saudi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah menggelar festival Halloween, kini Arab Saudi menggelar konser musik dengan mendatangkan pemusik papan atas wanita-wanita muda seksi K-Pop Blackpink. Grup ini main di Mrsool Park, Riyadh, pada 20 Januari 2023.


Blackpink (Foto: Tribunnews.com)


            Ada tiga pilihan untuk menyikapi hal ini. Nonton, demo menolak konser dan menurunkan pemerintah, serta tidak nonton.

            Kalau mau nonton konser, harga tiket termurah adalah sekitar Rp1 juta dan yang termahal Rp6,2 juta. Siapkan saja uang segitu dengan ongkos dan jajan di sana.

            Kalau mau demo menolak konser dan menurunkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, insyaallah kepala copot dari badan. Dipenggal tuh leher di lapangan. Beneran, tidak akan ditolerir perilaku itu di Arab Saudi.

            Coba saja teriak di sana, “Bubarkan konser Blackpink! Dasar rezim zalim! Konser neraka! Turunkan Pangeran Muhammad bin Salman!”

            Kalian bakal habis di sana, nggak pulang lagi ke rumah hidup-hidup. Paling sudah jadi mayat.

            Kalau tidak nonton, ya nggak perlu pusing. Jangan pikirin saja, biasa saja, aktif dengan kegiatan harian.

            Kalau saya, tidak akan nonton. Pertama, tidak punya uang untuk hal itu. Mendingan dipakai umroh uangnya. Kedua, nanaonan, ‘ngapain’ juga nonton. Ketiga, saya bukan penggemar Blackpink.

Orang seperti saya ini penggemar Rhoma Irama, Lesti Kejora, Via Vallen, Chakra Khan, Alfy Rev, Alip Ba Ta, Lyodra, Tiara Andini, dan Tantri Kotak. Kalau grupnya, saya suka anak-anak Garut, Singajaya, Voice of Baceprot (VOB) yang terdiri atas Marsha (vokalis dan melodi), Widy (Bassis), dan Siti (Drummer).

Samarukna saya tara nyanyi kitu?

Begitu ya. Mau nonton, demo, atau tidak nonton, terserah. Semua punya risiko masing-masing, baik di dunia maupun di akhirat.

Oh ya, foto Blackpink saya dapatkan dari Tribunnews Com. Sengaja pilih foto itu, tidak terlalu seksi. Kalau yang seksi pisan, bahaya.

Saya cuma sedikit bingung sama Arab Saudi karena konser Blackpink boleh digelar, tetapi pengajian maulid Nabi Muhammad saw dilarang.

Kata Tukul, “Sakarepmu.”

Sampurasun.

Tuesday, 8 November 2022

Ridwan Kamil dan Wakanda

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Cuitan Ridwan Kamil terhadap kebakaran di Balaikota Bandung, tepatnya di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Bandung, pada Senin 7 November 2022, ternyata menimbulkan reaksi keras dari para netizen pendukung Presiden RI Jokowi. Awalnya, cuitan Ridwan Kamil biasa saja sebagai pejabat publik, tetapi menjadi masalah ketika menggunakan kata Wakanda.

            Foto Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil saya dapatkan dari Pikiran Rakyat.


Gubernur Provinsi Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Pikiran Rakyat)


            Begini cuitan Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil itu.

            "Musibah kebakaran di Balai Kota Bandung sudah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa. Semoga pelayanan pada masyarakat segera pulih. Pemkot Bandung diimbau agar rutin audit terkait building safety pada ruangan2."

            Akan tetapi, cuitan selanjutnya menjadi bermasalah ketika Kang Emil melihat adanya orang-orang di atap gedung yang menonton kebakaran.

            Foto orang-orang itu saya dapatkan dari detikNews – Detikcom.


Menonton kebakaran (Foto: detikNews - Detikcom)


            Emil mencuitkan, "Hanya di Wakanda, kebakaran jd tontonan. Mohon jangan ditiru."

            Kata “Wakanda” inilah yang menimbulkan kemarahan dari banyak pendukung Jokowi karena kata itu kerap digunakan untuk melakukan ujaran kebencian, fitnah, dan kebohongan kepada Negara Indonesia oleh orang-orang yang dianggap para anti-Jokowi atau pembenci Jokowi. Para anti-Jokowi itu menggunakan kata Wakanda untuk mengganti kata Negara Indonesia. Para Jokower marah, Ridwan Kamil dianggap tidak pantas untuk menjadi pemimpin Indonesia karena dituduh telah menghina Indonesia dengan menggantinya dengan kata Wakanda.

            Bahkan, ada yang marah secara ekstrim, “Siapa pun yang menghina Indonesia dengan kata Wakanda, dia berarti Kadrunista Keparat di dalam otak dan hatinya!”

            Sekarang, apa sih sebetulnya Wakanda itu?

            Wakanda itu adalah negara yang terletak di Afrika Subsahara. Negara itu adalah khayalan dari Marvel Comics. Wakanda adalah negara maju, kaya raya, dan memiliki jawara atau pendekar-pendekar hebat. Wakanda pun merupakan kampung halaman dari super hero Black Panther.

            Foto Wakanda saya dapatkan dari Paripuan.


Wakanda (Foto: Paripuan)


            Entah kenapa para anti-Jokowi menggunakan kata Wakanda untuk mengganti  kata Indonesia. Saya tidak tahu.

            Saya hanya menduga bahwa mereka itu mengamankan dirinya untuk menghujat dan memaki negaranya sendiri, Indonesia, dengan menggunakan kata Wakanda sehingga tidak terjerat hukum. Kalau menghina Indonesia secara langsung, bisa masuk penjara. Kalau menggunakan kata Wakanda, bisa berkelit karena yang dihina adalah Negara Wakanda, bukan Negara Indonesia.

            Inilah yang  membuat para pendukung Jokowi marah besar kepada Ridwan Kamil. Kang Emil dianggap tidak mencintai Indonesia dan salah kalau dicalonkan sebagai pemimpin Indonesia. Kita tahu kan Ridwan Kamil sudah dideklarasikan oleh Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai Bakal Calon Wakil Presiden (Bacawapres) RI mendampingi Bacapres RI Ganjar Pranowo.

            Saya melihatnya seperti ini. Kang Emil itu aktif di Medsos. Pasti sering baca kata Wakanda. Dia jadi ikut-ikutan menggunakan kata itu. Dia mungkin menasihati warganya untuk tidak menonton kebakaran karena itu berbahaya bagi diri sendiri juga. Orang yang suka menonton kebakaran disindirnya sebagai warga Wakanda. Mungkin seperti itu yang ada di dalam kepala Kang Emil, tidak bermaksud menghina Indonesia. Akan tetapi, Kang Emil sendiri yang harus menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya agar tidak terjadi kekusutan dugaan di masyarakat. Itulah risiko seorang figur publik.

            Sesungguhnya, kata Wakanda bukan hanya digunakan oleh para anti-Jokowi, melainkan pula oleh para pendukung Jokowi. Para Jokower ini menggunakan kata Wakanda untuk melawan para anti-Jokowi yang dianggap telah banyak melakukan fitnah dengan menyebutnya sebagai warga Wakanda. Akan tetapi, sejauh yang saya perhatikan, memang kata Wakanda sangat banyak digunakan oleh para anti-Jokowi, sedangkan para pendukung Jokowi lebih sering menggunakan kata “NKRI harga mati”.

            Menurut saya, para pendukung Jokowi jangan berlebihan menghujat Ridwan Kamil hanya karena satu kata “Wakanda” dan menganggapnya tidak pantas untuk menjadi pemimpin Indonesia. Hal yang harus dijadikan pertimbangan kita memilih pemimpin adalah rekam jejaknya, hasil karyanya untuk rakyat, dan kesetiaannya kepada Pancasila. Di samping itu, Ridwan Kamil pun harus lebih berhati-hati dan memberikan penjelasan yang baik soal penggunaan kata Wakanda itu agar menjadi jelas dan jernih.

            Saya menaruh hormat kepada para anti-Jokowi yang melakukan kritik dengan menggunakan cara benar, yaitu menggunakan data, fakta, dan analisis yang akurat. Tidak menggunakan fitnah dan kebohongan yang menyesatkan. Semua orang berhak suka dan tidak suka kepada Jokowi. Perbaiki negeri ini dengan cara-cara yang benar sehingga kita bisa hidup di jalan yang benar.

            Begitu ya.

            Sampurasun.

Atas Nama Cucu Nabi Muhammad saw, Imam Hasan bin Ali, Jokowi Dianugerahi “Bapak Perdamaian Dunia”

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nah, ini baru Arab asli, bukan hoax, atau ngaku-ngaku. Orang kelahiran Arab, pejabat tinggi di tanah Arab, dihormati di wilayah Arab, jauh-jauh datang ke Indonesia untuk memberikan penghargaan “Cucu Nabi Muhammad saw”, ‘Imam Hasan bin Ali’ kepada Presiden Jokowi. Orang Arab itu bernama Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah. Dia adalah “Sekretaris Jenderal Abu Dhabi Peace Forum (ADPF)”. Dia menemui Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Al Mahfouz menyerahkan penghargaan perdamaian internasional 2022 kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin, 7 September 2022. Award itu bernama “Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022".  Dilihat dari namanya, penghargaan itu sangat bergengsi di dunia Islam karena menggunakan nama cucu Nabi Muhammad saw dan sangat dihormati di Uni Emirat Arab (UEA).


Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah  (Foto: Suara Surabaya)


            Foto Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah saya dapatkan dari Suara Surabaya.

            Semua orang tidak bisa memungkiri bahwa Jokowi adalah presiden dari Asia pertama yang berani menemui dua presiden yang sedang berperang. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky serta menemui pula Presiden Vladimir Putin yang sedang saling bunuh. Jokowi menengahi keduanya dan meminta untuk menghentikan perang karena dunia terkena imbas dari perang itu, misalnya, harga gas, harga BBM, harga minyak menjadi mahal; gandum dan bahan biji-bijian lainnya tidak bisa didistribusikan ke seluruh dunia; kelaparan mulai menimpa negara-negara miskin.

            Di dalam negeri sendiri, Jokowi berhasil menjadikan Indonesia sebagai empat negara terbaik dalam menangani Covid-19 dan menjadi contoh bagi negara lain. Di samping itu, Jokowi telah berhasil sejauh ini mempertahankan ekonomi Indonesia tidak jatuh ke jurang krisis seperti negara-negara lainnya. Rakyat Indonesia merasa hidup biasa-biasa saja, tidak terjatuh ke dalam jurang resesi. Bahkan, Indonesia pada hari ini telah menjadi negara ke-7 terkuat ekonominya di seluruh dunia. Di dunia ada sekitar 195 negara. Indonesia adalah ranking ke-7 dengan ekonomi terkuat di dunia. Urutan negara dengan ekonomi terkuat di dunia menurut International Monetary Fund (IMF) adalah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Indonesia, Brazil, Inggris, Perancis, dan seterusnya.

            Mungkin ada berapa faktor lain lagi yang membuat UEA memberikan penghargaan Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022 kepada Jokowi. Akan tetapi, mereka masih belum memberikan penjelasan yang detail.

            Ada yang berpendapat bahwa penghargaan itu adalah prestasi Jokowi. Akan tetapi, ada pula yang merasa itu bukanlah prestasi Jokowi, melainkan prestasi rakyat Indonesia sehingga penghargaan itu adalah dirasakan sebagai penghargaan buat bangsa Indonesia. Jokowi hanya mewakili bangsa Indonesia.  Whatever lah. Pendapat dan perasaan itu semuanya baik.

            Hal yang tidak baik, tetapi lucu bikin ketawa adalah mereka yang selalu berteriak-teriak bahwa Jokowi adalah pemimpin rezim anti-Islam.

            Mana mungkin seorang pemimpin yang anti-Islam mendapatkan penghargaan Perdamaian Internasional Hasan bin Ali 2022?

            Jokowi berhaji, masuk ke makam Nabi saw, masuk ke dalam bangunan Kabah, menetapkan Hari Santri Nasional, pesantren dikembangkan, masjid banyak. Saya sendiri sebagai umat Islam bisa umroh, kurban, bikin masjid bareng tetangga, bisa ibadat, mengadakan pengajian, maulidan, tahlilan, syukuran, menikah dengan syariat Islam, bagi waris sesuai syariat, zakat, infak, sedekah, shalat gerhana, dan hal lainnya sesuai aturan Islam.

            Di mana anti-Islamnya?

            Kata Cak Lontong, “Mikiiir ….!”

            Sampurasun.

Saturday, 5 November 2022

Pelan-Pelan Saja

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mereka berdua adalah mahasiswa saya yang termasuk minoritas. Mereka minoritas karena murid-murid saya mayoritas menggunakan jilbab. Hanya beberapa yang tidak menggunakan jilbab, minoritas. Mereka mungkin belum siap menggunakan jilbab secara rutin atau memang memiliki keyakinan bahwa jilbab itu tidak wajib. Itu soal kesiapan dan keyakinan. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Biasa saja.




            Hal yang unik dan cukup mengagetkan adalah ketika mereka berkonsultasi soal penelitian yang akan mereka lakukan. Mereka berkonsultasi ketika saya baru selesai mengajar di Universitas Al Ghifari.

            “Pak, boleh mengganggu waktu Bapak sebentar?”

            “Ada apa memangnya?”

            “Ini Pak, mau konsultasi soal Riset dan Praktik. Saya mau meneliti tentang menurunnya ekspor Bandrek Cihanjuang, Indonesia ke Belanda.”

            “Memangnya, ada masalah apa soal bandrek?”

            “Iya itu tadi, Bandrek Cihanjuang pernah diekspor ke Belanda, tetapi sekarang terjadi penurunan.”

            “Itu masalah yang ingin kamu teliti? Bagus.”

            “Iya, Pak. Kan kalau musim dingin, orang Belanda dan Eropa lainnya suka meminum alkohol. Kata mereka alkohol bisa menghangatkan badan.”

            “Terusin.”

            “Minum-minuman keras beralkohol itu kan tidak boleh, Pak. Haram dan merusakkan kesehatan.”

            “Jadi …?”

            “Jadi, saya ingin tahu kenapa terjadi penurunan ekspor bandrek Indonesia ke Belanda. Minuman bandrek itu kan bisa menghangatkan badan, sehat, dan halal. Kalau terjadi peningkatan ekspor bandrek ke Belanda, bisa mengurangi penggunaan minuman beralkohol dan memajukan perusahaan bandrek Indonesia.”

            Seorang perempuan tidak berjilbab yang mungkin mendapatkan nyinyiran atau cacian kafir, ternyata pikirannya sangat islami dan punya pandangan ke depan memikirkan cara agar perusahaan minuman bandrek Indonesia bisa maju dengan melalui perdagangan internasional. Tidak banyak perempuan yang berpikiran seperti itu. Pikirannya original positif.

            Temannya yang satu lagi juga berkonsultasi kepada saya.




            “Pak.”

            “Ya?”

            “Bagaimana menurut Bapak kalau saya meneliti hambatan ekspor tekstil Indonesia ke India?”

            “Bagus. Apa yang membuat ekspor tekstil Indonesia terhambat masuk ke India?”

            “Ini, Pak. India membuat peraturan impor tekstil dari negara luar yang sulit masuk ke India.”

            “Bagus, kamu bisa menggunakan teori-teori diplomasi untuk memecahkan masalah itu.”

            “Baik, Pak. Kan kalau Indonesia mampu melakukan diplomasi perdagangan ke India, tekstil Indonesia bisa masuk ke India dan meningkatkan perusahaan Indonesia sehingga mencegah pengangguran.”

            Bisa lihat kan mereka punya pandangan yang sangat bagus, memikirkan negaranya, memikirkan kemajuan bangsanya, serta memperluas cakrawala pengetahuannya sendiri sehingga menjadi lebih cerdas. Begitulah seharusnya generasi muda, ikut memecahkan berbagai masalah sesuai dengan kompetensi dan gairahnya masing-masing. Tidak suka memperkeruh suasana, bikin huru-hara, atau cuma teriak-teriak tidak karuan mengganggu orang lain.

            Kalau penelitian mereka selesai, lalu dibuat artikel, kemudian saya terbitkan dalam Jurnal Global Mind, hasil karya mereka bisa dibaca seluruh dunia. Jika para pemangku kebijakan atau pihak yang berkepentingan lain membacanya, lalu terinsiprasi secara positif, karya mereka dapat diaplikasikan dalam kehidupan dan memberikan banyak manfaat. Pahala bagi mereka akan ada di dunia dan di akhirat. Insyaallah.

            Mereka memang tidak berjilbab, tak perlu risau soal itu. Jika ada di antara para pembaca yang meyakini bahwa berjilbab itu wajib, sampaikanlah pemahaman itu dengan baik dengan tidak menyaikiti orang lain. Pelan-pelan saja.

            Tahu kan Nikita Mirzani? Artis seksi yang suka mempertontonkan keseksiannya itu?

            Sesungguhnya, Nikita Mirzani pernah berjilbab. Akan tetapi, ketika dia belajar berhijab, banyak orang yang mengomentarinya, nyinyir, dan mencacinya hanya gara-gara mata kakinya atau bagian kakinya yang lain masih kelihatan. Akibatnya, dia marah, lalu melepas jilbabnya dan menjadi seperti sekarang ini.

            So, mungkin keangkuhan kita atau sok merasa paling benar dan paling suci telah membuat orang lain marah, bahkan melawan kita dengan cara yang sangat buruk. Jika kita benar menyakiti hatinya dan menjauhkannya dari jalan Allah swt, berdosalah kita.

            Kalau menghormati keyakinan orang lain soal jilbab, bagus. Kalau mengajak orang lain sesuai dengan keyakinan kita, itu juga bagus. Akan tetapi, lakukanlah dengan cara yang lembut, baik, dan cantik.

            Jadi ingat lirik vokalis rocker Tantri Kotak yang kini telah berjilbab, “Pelan-pelan saja ….”

            Sampurasun.