Monday, 13 October 2014

Membandingkan Anak Muda Bandung dengan Jokowi

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sudah disuguhi berita tentang pertemuan Jokowi, Presiden RI terpilih versi KPU, dengan pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg di Balai Kota, Jakarta. Tak jelas pertemuan itu apa manfaatnya bagi rakyat Indonesia. Memang ada hal-hal yang dibicarakan mereka untuk meningkatkan ekonomi mikro dan kecil di samping pemanfaatan facebook untuk urusan pajak dan penggunaan interrnet. Akan tetapi, itu baru sebatas pembicaraan. Buktinya belum ada dan masih menimbulkan tanda tanya, bisakah kerja sama itu terjadi? Bagaimana caranya? Seberapa besar keuntungan yang akan rakyat dapatkan? Mana yang lebih besar untungnya, rakyat atau facebook? Semuanya masih teramat samar.

            Keuntungan yang jelas untuk sementara ini hanyalah baru sebatas bagi facebook dan Jokowi cs. Pertemuan itu menyedot perhatian para pengguna facebook di Indonesia dan itu merupakan keuntungan besar hasil dari pertemuan populis. Negara dan rakyat belum melihat keuntungan atau merasakan hasil positif dari pertemuan itu.

            Saya mengkhawatirkan pertemuan itu semakin membuka dan memperjelas bahwa Jokowi cs memang akan menguntungkan pihak asing. Semua tahu bahwa dalam kampanye Pilpres lalu, grup Jokowi ini dituding antek-antek kapitalis dan pemerintahannya akan menguntungkan pihak asing, bukan rakyat Indonesia. Saya sendiri sangat tidak berharap siapa pun yang memerintah negeri ini hanya memanfaatkan potensi rakyat dan negara untuk kepentingan asing, terutama kapitalis.

            Kekhawatiran saya itu berdasarakan berita yang dibuat oleh tribunnews.com bahwa Jokowi menjelaskan pengguna facebook di Indonesia ada sekitar tujuh puluh juta dan itu adalah pasar yang baik bagi Mark Zuckerberg, CEO Facebook. Penjelasan Jokowi itu tampak diucapkan dengan ringan dan menyenangkan tanpa ada perasaan yang berat sama sekali. Dalam kata lain, seolah-olah Jokowi mengungkapkan  bahwa pengguna facebook di Indonesia adalah pasar yang potensial dan silakan dimanfaatkan sehingga facebook mendapatkan keuntungan yang besar.

Lalu, masyarakat pengguna fecebook sendiri dapat apa? Sebandingkah dengan yang akan dinikmati Mark Zuckerberg?

Dalam seluruh kajian hubungan internasional, setiap interaksi internasional harus dimulai dari kepentingan dalam negeri dan interaksi itu harus memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi dalam negeri, bukan untuk luar negeri. Jadi, hubungan-hubungan dengan pihak luar negeri harus dihitung dengan cermat dan bijaksana. Hubungan antara Jokowi dan Mark Zuckerberg harus menguntungkan pihak Indonesia sebesar-besarnya. Bukankah pertemua mereka itu termasuk dalam kategori hubungan internasional?

Hal yang membuat rakyat ... eh ... saya khawatir adalah Jokowi seolah-olah menawarkan rakyat Indonesia yang menggunakan facebook dengan ringan dan tenang. Berbeda dengan anak-anak muda Bandung yang justru langsung berpikir keras ketika mengetahui bahwa facebook mendapatkan keuntungan yang besar dari Indonesia karena pengguna facebook dan twitter di Indonesia adalah yang terbesar di dunia.

Anak-anak muda Bandung yang kreatif itu pernah mengemukakan kekecewaannya dalam sebuah acara pertemuan. Pertemuan itu tidak terlalu serius, rileks, tetapi tetap bermanfaat. Pertemuan itu digelar di kantor DPD RI Provinsi Jawa Barat, Jl. Mundinglaya No. 12, Bandung pada Jumat 11 Januari 2013 pukul 16.00 s.d. 18.00 WIB. Tema acaranya sendiri cukup santai, yaitu Tea Time & Bincang Dunia Kreatif Anak Muda Bandung Bersama Ketua DPD RI, Irman Gusman.

            Dalam acara ringan itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) cabang Bandung, seorang perempuan muda energik bernama Paramita menyampaikan beberapa hal penting. Salah satunya adalah pengalamannya ketika berkunjung ke Amerika Serikat. Menurutnya, orang-orang AS itu sangat menyambut gembira kaum muda Indonesia.

            Kata Paramita, “Kami disebut-sebut orang-orang hebat, penuh kreativitas, dan pintar-pintar.”

            Akan tetapi, Paramita dan kawan-kawan tidak lantas mabuk pujian dan merasa bangga. Mereka malahan berupaya mencari tahu apa yang menyebabkan anak-anak muda Indonesia disambut dengan sukacita di AS. Ternyata, orang-orang AS sebaik dan sehormat itu kepada anak-anak muda Indonesia disebabkan mendapatkan keuntungan dari perilaku anak-anak muda Indonesia.

            “Pengguna facebook dan twitter terbanyak di dunia adalah anak-anak muda Indonesia,” jelas Paramita, “Orang-orang AS itu mendapatkan keuntungan dari penggunaan jejaring sosial tersebut.”

            Oleh sebab itu, Paramita dan kawan-kawan agak sedikit kecewa, mengapa orang lain yang untung besar, bukan anak-anak muda Indonesia sendiri? Kita hanya menjadi objek, bukan subjek yang menerima keuntungan.

            Ada perbedaan bukan antara sikap Jokowi yang seolah-olah menyodorkan rakyat pengguna facebook untuk dimanfaatkan Mark Zuckerberg dengan sikap anak-anak muda Bandung yang langsung kecewa saat tahu bahwa rakyat pengguna facebook di Indonesia dimanfaatkan orang asing?

            Saya sangat khawatir jika tuduhan lawan-lawan politik Jokowi adalah benar bahwa pemerintahan Jokowi akan menguntungkan pihak asing. Hal itu disebabkan jika benar bahwa pemerintahan Jokowi hanya akan menguntungkan orang asing, yang rugi adalah bangsa dan rakyat Indonesia. Jokowi harus membuktikan bahwa tuduhan itu adalah salah dan sama sekali tidak benar, bahkan harus mampu menyatakan dengan cara apa saja bahwa tuduhan itu nilainya hanya sebesar seonggok sampah kotor dan bau.

            Hubungan dengan pihak asing memang boleh, bahkan harus. Akan tetapi, keuntungan itu harus ditujukan sebesar-besarnya untuk rakyat Indonesia. Berhubungan dengan facebook adalah sangat bermanfaat ketika hubungan itu menumbuhkan banyak keuntungan untuk rakyat Indonesia.

            Hati-hati Pak Jokowi. Lawan-lawan politik Anda akan tertawa hebat dan menggelegar ketika tuduhan-tuduhan miring mereka terbukti memang bukanlah bohong dan bernilai sampah, tetapi benar sebenar-benarnya. Anda harus membungkam mulut mereka dengan cara membuktikan diri bahwa Anda bukanlah seperti yang dituduhkan mereka.

            Tenang dan percaya dirilah jika Anda orang yang benar. Jika Anda Benar, Allah swt selalu bersama Anda. Jika salah, cepat perbaiki diri.



Tuesday, 16 September 2014

Demokrasi Bikin Orang Jadi Bodoh

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Keyakinan orang-orang atas kehebatan demokrasi sudah menjadi-jadi, keterlaluan sekali, berlebihan sehingga orang tidak mau dan tidak mampu lagi berpikir untuk merancang atau menggagas sistem politik yang lebih hebat daripada demokrasi. Mereka yakin seyakin-yakinnya hingga ke dalam Qolbu bahwa demokrasi itu sistem politik terhebat yang tak ada bandingannya.

Itu adalah keyakinan aneh yang menggelikan. Hal itu disebabkan demokrasi sudah menunjukkan jati dirinya membuat manusia menjadi keruh lahirnya dan sumpek batinnya. Demokrasi itu cuma alat yang sudah rusak parah, barang rongsokan yang harus segera dibuang. Kalau tidak dibuang, kita bakalan kusut samut selama-lamanya.

Karena yakin terhadap demokrasi yang rongsokan itu, hampir semua orang jadi bloon. Lihat saja sekarang. Orang-orang ribut tentang sistem pemilihan kepala daerah. Ada yang ingin langsung, ada pula yang ingin tidak langsung alias dipilih oleh DPRD. Itu kan jadi lucu. Dulu kita pakai sistem pemilihan tidak langsung, lalu karena banyak keburukannya, diganti pake sistem pemilihan langsung. Sekarang pengen diganti lagi dengan pemilihan tidak langsung. Kan itu kayak setrikaan yang bolak-balik nggak ada ujungnya. Soal alasan ataupun dalil tentang pemilihan langsung ataupun tidak langsung, itu mah bisa dibikin dan dirancang sebaik-baiknya. Kedua pihak yang berseteru pun punya alasan-alasan yang logis. Akan tetapi, bagaimanapun juga kelakuan seperti itu tetap saja kayak setrikaan, bolak-balik-blekok.

Itulah yang saya maksud bahwa demokrasi itu bikin orang jadi bodoh. Mereka tetap kukuh menggunakan demokrasi, tetapi ribut di dalam demokrasi itu. Alasannya adalah supaya demokrasi menjadi maju, bermartabat, meningkat, berkembang, logis, ... bla ... bla ... bla ... pret!

Demokrasi yang bermartabat itu yang bagaimana? Yang berkembang, logis, dan meningkat itu yang bagaimana?

Pernah terjadi di negara mana?

Perrnah sih, tetapi cuma dalam mimpi, khayalan, lamunan. Melak sugan dina lamunan diceboran ku boa-boa nu buahna leubeut ku meureun, ‘menanam benih coba-coba di tanah khayalan disirami air mungkin yang ranum oleh buah siapa tahu’.

Ayah saya dulu pernah ngajarin saya dalam bahasa Sunda, yaitu ulah kurung batokkeun, ‘jangan terkurung dalam batok kelapa’. Nah, demokrasi itu adalah batok kelapa. Kita terkurung atau mengurung diri dalam batok demokrasi itu. Akibatnya, kita jadi bodoh, terpenjara oleh pikiran dan perilaku kita sendiri. Terus saja berputar-putar di dalam batok kelapa yang gelap dan menyulitkan itu. 

Coba kita kreatif, keluar dari batok demokrasi itu, niscaya kita akan menemukan banyak hal. Pasti kita akan menemukan jalan keluar yang menyenangkan karena kehidupan ini berkembang dari zaman ke zaman dan setiap zaman membawa masalah sekaligus penyelesaiannya sendiri. Coba keluar dari perangkap demokrasi, hirup udara segar di luar batok demokrasi, ada banyak keindahan di luar sana.

Apa? Mau bikin negara otoriter?

Ngaco!

Mau bikin Negara Islam?

Negara Islam itu apa? Bagaimana?

Gak jelas!

Indonesia sudah dianugerahi Pancasila dan tujuan berbangsa dengan sangat jelas, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Utuh itu adalah makmur lahirnya dan makmur batinnya.

Cari cara bagaimana kita bisa melaksanakan Pancasila tanpa harus menggunakan demokrasi. Itu yang terpenting.


Daripada menghabiskan energi ribut kayak setrikaan di dalam batok kelapa demokrasi yang gelap gulita, mendingan berpikir berdasarkan sejarah dan budaya bangsa untuk membentuk sistem politik mutakhir Indonesia.

Saturday, 23 August 2014

Jokowi-JK Tak Perlu Gentar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Pilpres 2014 sudah selesai, Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan, kampanye sudah lama berakhir. Tugas dan tanggung jawab besar menanti. Membentuk pemerintahan beserta strukturnya yang jelas, efektif, dan efisien adalah hal yang teramat perlu dilakukan dengan hati-hati secara cerdas.

            Jokowi-JK tak perlu gentar dengan pernyataan Koalisi Merah Putih yang menyatakan dirinya solid serta berkehendak di luar pemerintahan. Koalisi Merah Putih memang memiliki orang-orang cerdas dan berkualitas tinggi, tetapi hal itu jangan membuat diri terlalu terkejut. Jangan pula gentar dengan kekuatan politik Koalisi Merah Putih yang sangat besar di parlemen. Semua pihak memiliki hak untuk berada dalam posisinya masing-masing, apakah itu menjadi pendukung pemerintah atau menjadi oposisi.

            Hal yang harus dilakukan Jokowi-JK adalah membuktikan diri bahwa timnya mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan mewujudkan janji-janjinya selama kampanye dengan sempurna. Orang-orang berkualitas itu banyak, bukan hanya ada dalam Koalisi Merah Putih, pendukung Jokowi-JK pun banyak yang hebat. Di luar Koalisi Merah Putih dan Tim Jokowi-JK pun lebih banyak lagi yang berkualitas. Jangan kecewakan rakyat dengan perilaku busuk yang mungkin terjadi. Toh, kita sudah berpengalaman selama kepemimpinan SBY bahwa orang-orang yang mengampanyekan antikorupsi, ternyata mereka juga yang terlibat kasus korupsi. Hal itu sangat memalukan. Artinya, jika selama kampanye akan menyejahterakan rakyat, jangan ada pihak dari Jokowi-JK yang malahan menggerogoti rakyat dan menjual aset-aset bangsa secara memalukan. Rakyat sudah sangat muak dengan penggadaian aset-aset bangsa kepada pihak asing.

            Biarkan orang-orang dalam Koalisi Merah Putih menjalankan tugasnya sebagai penyeimbang, oposisi. Jangan mencoba-coba mengajak mereka ke dalam pemerintahan. Perilaku mengajak, merayu, bahkan mungkin mengemis kepada Koalisi Merah Putih hanya akan menunjukkan kepada rakyat bahwa Tim Jokowi-JK memang lemah dan kurang memiliki SDM berkualitas. Buktikan diri bahwa pemerintahan Jokowi-JK berada pada rel yang benar dan benar-benar prorakyat, bukan seperti yang banyak dicurigai banyak orang, yaitu menguntungkan bangsa asing.

            Jangan gentar, jangan takut kalau memang benar. Sehebat apa pun orang-orang dari Koalisi Merah Putih, sebesar apa pun kekuatan politik mereka tak akan berpengaruh apa-apa jika pemerintahan Jokowi-JK benar-benar memakmurkan rakyat dan menggunakan energi internasional untuk sebesar-besarnya kemajuan bangsa. Sekeras apa pun kritik yang dilontarkan pihak oposisi, tidak akan menghambat program pembangunan bangsa dan negara, kecuali jika memang benar kecurigaan banyak orang bahwa pemerintahan Jokowi-JK akan menguntungkan pihak asing. Kalau memang seperti itu, pemerintahan tidak akan selamat sampai lima tahun, bahkan akan terjadi huru-hara, suatu kondisi yang tidak diiinginkan semua orang.

            Saya yakin Jokowi-JK tidak takut kritik dan tidak takut diawasi. Toh, Jokowi sendiri mengajak para Relawan Jokowi untuk ikut mengawasi program-program pembangunan. Memang kritikan dan pengawasan yang akan dilakukan pihak oposisi akan lebih keras dibandingkan para relawan, tetapi itu bukan masalah yang terlalu heboh, biasa saja, tinggal membuktikan diri bahwa program kerja yang dijalankan adalah benar untuk rakyat Indonesia dan dilaksanakan secara jujur jauh dari perilaku korup.


            Jokowi-JK hanya tinggal memandang ke depan, memanfaatkan SDM yang ada dan mempersilakan Koalisi Merah Putih untuk berperan serta dalam pembangunan sebagaimana posisinya, oposisi. Peranan pemerintah yang sah dengan disertai oposan konstruktif akan membuat Indonesia benar-benar terkawal menuju cita-cita pembangunan nasional indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila. Manusia Indonesia yang utuh itu adalah yang makmur lahir dan makmur batinnya dalam kerangka Pancasila.

Koalisi Merah Putih Jangan Mau Dirayu Tim Jokowi-JK


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Suka atau tidak, pemenang Pilpres 2014 adalah Jokowi-JK. Itu sudah keputusan final yang sangat sulit untuk diubah. Setuju atau tidak, Jokowi adalah Presiden RI ke-7 dan Jusuf Kalla adalah Wakil Presiden RI ke ... ke berapa coba? Ayo tebak! Nggak hapal kan? Pasti nggak hapal karena kurang menghargai sejarah bangsa. Ke-12 tahu! Jumlah Wapres RI aja nggak hapal, apalagi kalau diminta menyebut namanya satu per satu dari Wapres ke-1 sampai ke-12, lebih nggak ngerti lagi.

            Untuk menjadi pelayan rakyat selama lima tahun ke depan, jelas memerlukan tim solid yang cerdas, cekatan, berdaya kerja tinggi, dan bla ... bla ... bla .... Jokowi-JK memerlukan orang-orang berkualitas dalam pemerintahannya untuk mewujudkan janji-janjinya sekaligus menunaikan amanat Pembukaan UUD 1945. Orang-orang hebat berkualitas itu banyak sekali yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Tak heran banyak pihak terkejut dan mungkin agak gusar dengan pernyataan Koalisi Merah Putih yang bertekad solid dan berada di luar pemerintahan. Jokowi-JK sendiri tampak terkejut menyaksikan pernyataan tersebut. Hal itu bisa dilihat dari raut muka pasangan Jokowi-JK pada saat konferensi pers pasca-keputusan MK dan pasca-konferensi pers Koalisi Merah Putih. Saya memang bukan ahli gesture atau ahli psikologi, tetapi saya juga manusia yang setiap hari bertemu dengan banyak orang. Saya secara umum mampu menafsirkan kondisi orang dari wajahnya ketika bertemu. Wajah seseorang itu bisa menunjukkan kondisi yang terjadi saat itu, apakah sedang terkejut, kaget, bergembira, sedih, galau, ceria, dan sebagainya. Saya kira kita semua juga tahu hal-hal itu walaupun tidak mendetail seperti para ahli ilmu jiwa.

            Jelas sekali keterkejutan Jokowi-JK saat itu. Berbeda sekali wajah Jokowi saat hari H Pilpres yang tampak penuh semangat dan gembira karena quick count berpihak padanya. Ia merasa sangat yakin menang meskipun pemilihan belum usai. Mereka sadar dan semua tahu bahwa untuk menjalankan pemerintahan tidak bisa sendiri, membutuhkan elemen bangsa yang berkompeten. Orang-orang yang berkompeten itu banyak sekali yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Bahkan, dengan cara berlebihan dan bombastis, saya bisa mengatakan bahwa Jokowi-JK akan kesulitan menjalankan pemerintahan tanpa orang-orang dari Koalisi Merah Putih. Oleh sebab itu, tak heran jika Jokowi mengatakan bahwa Prabowo-Hatta itu adalah sahabatnya. Demikian pula Jusuf Kalla yang berharap agar tak terjadi lagi upaya hukum lanjutan urusan Pilpres 2014. Ia berharap dan mengajak agar semuanya bersama-sama membangun bangsa. Kata-kata itu bisa ditafsirkan sebagai sikap membuka diri sekaligus mengajak Koalisi Merah Putih untuk bersama-sama menjalankan roda pemerintahan.

            Orang-orang mengerti benar bahwa di dalam Koalisi Merah Putih di samping memiliki banyak orang berkualitas, juga memiliki kekuatan politik yang sangat besar serta berpotensi “mengganggu” pemerintah yang berakibat menurunkan wibawa pemerintah dan menurunkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Para ilmuwan boleh mengatakan bahwa sikap oposan yang dibangun oleh Koalisi Merah Putih jangan diartikan untuk mengganggu. Saya mengatakan Koalisi Merah Putih akan mengganggu karena memang harus mengganggu. Gangguan itulah yang seharusnya dilakukan.

Bagaimana tidak akan mengganggu?

Yang namanya kontrol, pengawasan, second opinion, dll. Itu merupakan gangguan untuk pemerintah. Akan tetapi, gangguan itu harus bernilai positif, konstruktif, bukan destruktif.

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK mengeluarkan kebijakan yang tidak prorakyat, malahan pro-segelintir orang, lebih jauh lagi hanya menguntungkan kepentingan bangsa asing dengan mengeruk hak-hak rakyat, lebih parah lagi menggerus kedaulatan bangsa dan negara, apakah tidak boleh diganggu?

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK bekerja lamban dan hanya menikmati kekuasaannya, apakah tidak boleh diganggu?

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK ternyata korup, apakah tidak boleh diganggu?

Jokowi-JK wajib diganggu sampai pemerintahan kembali pada relnya yang benar dengan kecepatan maksimal.

Kekuatan politik yang besar dan SDM yang berkualitas adalah aset yang harus dijaga sekalligus diwaspadai oleh Koalisi Merah Putih. Pendukung Prabowo-Hatta harus tetap pada tekadnya, solid dan di luar pemerintahan. Koalisi Merah Putih wajib menjaga anggotanya untuk berada dalam jalur yang sudah disepakati. Hal itu disebabkan kemungkinan besar Tim Jokowi-JK akan terus membuka diri dan mengajak orang-orang dari Koalisi Merah Putih untuk menjadi pendukung pemerintahannya. Mereka bisa jadi terus berupaya “merayu” partai-partai maupun individu-individu yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Satu orang saja yang terayu oleh Tim Jokowi-JK, itu sudah menandakan bahwa Koalisi Merah Putih terancam soliditasnya dan mulai meluncur ke arah kemunafikan yang memperburuk citra politisi.

Semua orang tahu jika Jokowi-JK membentuk pemerintahan dengan orang-orang berkualitas jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang di Koalisi Merah Putih, pemerintahan akan tidak selancar yang diharapkan. Pemerintahannya akan mendapatkan kritikan yang keras dari SDM Koalisi Merah Putih yang memiliki data dan daya analisa yang lebih baik dan itu akan “mengganggu” sekali. Oleh sebab itu, sangat wajar jika Tim Jokowi-JK mencoba mengajak SDM yang ada di Koalisi Merah Putih untuk bergabung.

Pernyataan solid dan berada di luar pemerintahan yang ditandatangani para pemimpin partai adalah sebuah “kemenangan” tersendiri bagi Koalisi Merah Putih. Jaga kemenangan itu agar tetap menang.

Bukankah pernyataan itu keluar karena Koalisi Merah Putih memiliki banyak hal dibandingkan dengan Tim Jokowi-JK? Bukankah pernyataan itu keluar dari idealisme yang tinggi?

Kalau terayu oleh Tim Jokowi-JK, baik partainya maupun individunya, Koalisi Merah Putih berarti menderita kekalahan dua kali. Pertama, kalah dalam Pilpres. Kedua, kalah dalam mempertahankan keyakinan dan idealisme.

Kalau banyak program yang bermanfaat dari Koalisi Merah Putih selama pemerintahan SBY yang ingin dikembangkan oleh Jokowi-JK, berikanlah program itu dengan senang hati. Akan tetapi, biarkanlah Jokowi-JK yang melanjutkannya sendiri, tidak perlu ikut lagi mengerjakannya. Biarkanlah Jokowi-JK yang harus membuktikan diri merampungkan program-program itu hingga berhasil. Kemudian, kembali pada posisi sebagai oposisi.

Koalisi Merah Putih harus tegar dalam posisinya sebagai oposisi dan memberikan berbagai teguran serta kritikan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Jika Koalisi Merah Putih tetap pada keyakinan dan idealismenya, Allah swt, rakyat, dan sejarah akan mencatat bahwa Indonesia memiliki kekuatan penyeimbang yang hebat dan berkualitas.

Memang benar politisi PDI-P menyatakan bahwa sikap oposisi itu biasa saja karena mereka pun pernah menjadi oposisi, tetapi apakah sikapnya itu berpengaruh langsung kepada masyarakat? Apakah masyarakat merasakan manfaat PDI-P dalam posisinya sebagai oposisi saat itu? Tidak banyak yang tahu. Mereka mungkin bekerja keras dalam sikapnya itu secara positif, tetapi sejauh mana orang tahu, mengerti, terwakili, dan menikmati hasil kerjanya? Kurang terekspos. Masyarakat awam hanya tahu sikap PDI-P seperti itu disebabkan perseteruan yang terjadi antara Megawati dan SBY, bukan karena idealisme maupun visi dan misi, apalagi program kerja.

Koalisi Merah Putih jauh lebih besar dari PDI-P. Oleh sebab itu, Koalisi Merah Putih harus menunjukkan manfaatnya secara nyata dan terasa oleh rakyat. Koalisi Merah Putih bersikap seperti itu karena idealisme. Sikap itu akan menjadi teladan masyarakat karena negeri ini membutuhkan orang-orang yang setia pada idealisme, bukan yang setia pada uang, oportuniti, jabatan, kekuasaan, dan segala hal yang sifatnya temporer duniawi.


Tetaplah Koalisi Merah Putih dalam keyakinannya dan biarkan Jokowi-JK mewujudkan janjinya kepada rakyat Indonesia.

Thursday, 21 August 2014

Koalisi Merah Putih Bisa Jadi Munafik

oleh TomFinaldin



Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia telah melaksanakan sistem politik rendahan, kampungan, terburuk yang namanya demokrasi, dan Pilpres 2014 yang menyedot banyak energi telah usai yang dikukuhkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan kubu Prabowo-Hatta atau Koalisi Merah Putih. Itu artinya pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang harus bertanggung jawab untuk melayani seluruh rakyat Indonesia dalam lima tahun ke depan. Itu sudah pasti.

Kalaupun ada upaya hukum lain dari Tim Prabowo-Hatta, itu soal lain, soal yang berbeda. Upaya hukum berikutnya bisa dipandang positif, bisa pula negatif. Secara positif, upaya hukum lanjutan bisa merupakan warning atau pelecut bagi penyelenggara Pemilu untuk lebih jujur dan profesional. Secara negatif, hal itu bisa dipandang sebagai kemarahan atas ketidakpuasan serta mengganggu kondusivitas politik bangsa. Baik dipandang positif maupun negatif, upaya hukum lanjutan tidaklah salah untuk dilakukan dan itu merupakan hak setiap warga untuk mengajukannya di samping kewajiban negara untuk menyelesaikannnya secara adil dan bijaksana penuh hikmah.

Hal menarik adalah beberapa saat pasca-keputusan MK yang menolak gugatan Prabowo-Hatta sekaligus melenggangkan Jokowi-JK ke istana, Koalisi Merah Putih tetap pada pandangannya dan menerima keputusan MK dengan perasaan tidak mendapatkan keadilan secara  utuh. Kesediaan untuk menerima keputusan MK walaupun dengan hati berat adalah tindakan terpuji yang patut mendapat acungan jempol. Sikap itu adalah sikap orang-orang cerdas, terpelajar, dan mencintai bangsanya.

Kecerdasan dan kehebatan Koalisi Merah Putih bertambah-tambah dengan menyatakan dirinya solid serta bertekad berada di luar pemerintahan sebagai check and balances, oposisi, kekuatan penyeimbang, dan pengontrol aktif yang konstruktif, tidak destruktif. Kemuliaan sikap Koalisi Merah Putih memaksa saya mengacungkan dua jempol ditambah senyum gembira. Hal itu disebabkan mereka memiliki keyakinan dan idealisme yang tidak bisa ditawar-tawar, kukuh. Apalagi dengan menyandarkan tekad pada ucapan Proklamator RI, “Lebih baik makan gaplek daripada makan bistik, tetapi berada di bawah kekuasaan bangsa lain.”

Akan tetapi, kedahsyatan Koalisi Merah Putih akan jatuh secara drastis menjadi kemunafikan tingkat tinggi manakala pernyataan mereka itu hanya sebuah bentuk kekesalan sesaat akibat dari kekalahan di gedung MK. Kemunafikan itu terjadi jika mereka tidak solid dan mulai memasuki lingkaran pemerintah, kekuasaan. Apapun alasan mereka, bagaimanapun bahasa manis yang akan keluar dari mereka, misalnya, demi bangsa dan negara, untuk persatuan, kepentingan rakyat, tetap saja itu datang dari jiwa yang palsu jika merapat pada pemerintahan Jokowi-JK. Jika itu terjadi, semakin mengukuhkan keyakinan saya beserta orang-orang lain yang sekeyakinan dengan saya bahwa demokrasi itu melahirkan orang-orang munfaik. Ganti saja namanya dengan Koalisi Munafik Berat.

Bukankah tekad solid dan pernyataan berada di luar pemerintahan itu ditandatangani unsur pimpinan dari setiap partai yang berada dalam Koalisi Merah Putih?

Sudah 100% benar solid dan berada di luar pemerintahan. Hal itu di samping memiliki harga diri yang nyata, juga mencintai bangsa dengan tidak mengkhianati para pemilih yang setia.


Kita lihat mereka nanti, jadi munafikkah? Atau terhormatkah?

Saturday, 5 April 2014

Kesepahaman antara Plato dan Prabu Siliwangi



oleh Tom Finaldin 


Bandung, Putera Sang Surya


Prabu Siliwangi dan Plato hidup berbeda zaman dan berbeda tempat.

Prabu Siliwangi adalah Raja Sunda yang namanya hidup sampai hari ini dan menjadi kebanggaan orang Sunda. Ajarannya yang menasional hari ini terus diucapkan banyak orang, yaitu Silih Asah Silih Asih Silih Asuh, ‘saling mencerdaskan, saling menyayangi, saling menjaga’.

Plato adalah filsuf barat kenamaan yang teori dan pendapatnya sampai hari ini diajarkan pada berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia. Pemikirannya menginspirasi para pemikir zaman ini. Sayangnya, ia sering dijadikan alasan para pendukung demokrasi untuk melaksanakan sistem politik demokrasi. Padahal, sesungguhnya ia mengkritik habis-habisan sistem demokrasi. Menurutnya, demokrasi itu sistem politik yang rendah dan berbahaya. Demokrasi rendah itu kata dia, kata saya demokrasi itu kampungan.

Perhatikan pendapat Plato (429-347) berikut ini tentang demokrasi. Menurutnya, demokrasi itu adalah sistem pemerintahan yang buruk.

Demokrasi adalah pemerintahan oleh masyarakat miskin. Rakyat miskin membentuk dan merebut kekuasaan. Akan tetapi, dalam demokrasi menginginkan kebebasan  anarki.

Bila tidak ada pembatasan kebebasan, orang-orang berbuat sesuka hatinya sehingga tidak ada lagi suatu kekuasaan yang mengatur ketertiban umum.

Bilamana anarki sudah tidak dapat lebih lama lagi dibiarkan merajalela, rakyat memilih seorang di antara mereka yang mempunyai kelebihan daripada orang lain di dalam berbagai hal (primus interpares) untuk memimpin negara.

Coba ulang-ulang lagi baca pendapat Plato tersebut sampai paham. Kalau sudah paham, mari kita baca prediksi Prabu Siliwangi tentang Indonesia ke depan, sebentar lagi.

Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti kalau sudah tampak Anak Gembala! Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara. Lalu, mereka mencari Anak Gembala yang rumahnya di ujung sungai berpintu batu setinggi manusia beratapkan pohon handeuleum bertiangkan pohon hanjuang. Mereka mencari Anak Tumbal. Mereka menginginkan tumbal untuk dikambinghitamkan. Akan tetapi, Anak Gembala sudah tidak ada, sudah bergerak bersama dengan Pemuda Berjanggut. Keduanya sudah pindah membuka lembaran baru, pindah ke Lebak Cawene!

Mereka yang mencari Anak Gembala hanya menemukan burung gagak yang berkoak-koak di dahan mati. Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Ratu siapa? Dari mana asalnya itu ratu? Nanti juga kalian bakal tahu. Sekarang yang penting, cari dan temukan oleh kalian Si Anak Gembala!

Sudah paham?

Begini Saudara. Dalam zaman demokrasi sekarang ini banyak sekali elit yang berkuasa dan berperilaku rusak. Prabu Siliwangi menggambarkannya sebagai raksasa-raksasa yang pongah dan brutal. Sementara itu, rakyat masih sangat banyak yang hidup menderita, melarat, segala kesulitan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, banyak sekali raksasa yang sekarang mulai berjatuhan menjadi tumbal kelakuannya sendiri. Di samping itu, raksasa-raksasa ini berebutan mendapatkan kekuasaan, kursi, alias jabatan. Di antara mereka sendiri akhirnya saling bentrok karena ada yang merasa dicurangi dan tidak puas, apalagi setelah melihat hasil Pemilu. Parahnya, mereka mengikutsertakan rakyat untuk masuk dalam pertempuran mereka. Rakyat itulah yang dikatakan Sang Prabu sebagai orang-orang bodoh yang jadi gila membantu mereka yang berkelahi.

Dalam kondisi itu, persis sekali sebagaimana yang dikatakan Plato bahwa dalam demokrasi diinginkan kebebasan-anarki. Perilaku pertengkaran, kerusuhan, dan perebutan kekuasaan itulah yang disebut Plato sebagai kondisi kebebasan-anarki.

Berbagai persaingan dan kekisruhan itu terus berlanjut sampai akhirnya mereka capek sendiri, lelah. Hal itu disebabkan mereka yang bertengkar itu ternyata tidak mendapatkan apa-apa, apalagi rakyat yang hanya ikut-ikutan seolah-olah membela kebenaran, padahal sesungguhnya menjadi alat bagi kepentingan orang-orang tertentu. Yang mendapatkan kekuasaan adalah hanya mereka yang punya banyak uang, bukan orang pintar, bukan orang baik, bukan pula orang shaleh, arif, dan bijaksana.

Setelah benar-benar tersadar dari ketertipuannya serta menyadari kebodohan dan kesalahannya, orang-orang pun mencari Si Anak Gembala yang mampu menyelesaikan kemelut dan kekacauan yang terjadi. Dialah yang dianggap paling adil dan bijak untuk membangun bangsa.

Si Anak Gembala ini kalau dalam bahasa Presiden Soekarno disebut Laki-laki Dunia.

Soekarno meneriakkan, “Marilah kita ikuti Laki-laki Dunia itu!”

Menurut Plato, ketika keadaan anarki sudah tak tertahankan dan membuat rakyat sangat menderita, maka orang-orang akan mencari orang yang terbaik untuk menyelesaikan segalanya. Istilah Plato yang digunakan untuk orang itu adalah primus interpares, artinya orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain dalam segala hal.

Primus interpares itu adalah Budak Angon, Si Anak Gembala.

Amazing, isn’t it?

Peranan Golput dalam Pembangunan

oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya

Jangan Golput! Jangan Golput!


Banyak sekali yang berteriak seperti itu. Bisa dipastikan teriakan itu berasal dari orang-orang yang khawatir kenikmatannya akan hilang karena telah mendapatkan banyak keuntungan dari sistem politik demokrasi atau berasal dari orang-orang yang kebelet ingin menikmati keuntungan dari sistem politik demokrasi yang bejat itu atau dari orang-orang yang masih membiarkan dirinya terkelabui oleh sistem politik demokrasi yang penuh penipuan itu.

Banyak pula yang berusaha mempengaruhi masyarakat bahwa jika tidak memilih, berarti tidak berperan serta dalam pembangunan. Bodoh mereka itu! Tolol bin sarap!

Peran serta Golput dalam pembangunan itu jelas sekali. Mereka menunjukkan sikap yang tegas untuk tidak memilih dengan alasan yang beragam. Sebenarnya, Golput itu sudah sangat sering menang dalam setiap pemilihan di tingkat apapun, tetapi eksistensinya masih dianggap lemah karena para politikus dan mereka yang masih percaya demokrasi tetap memiliki kekuatan untuk menggunakan suara yang ada yang terkumpul dalam pemilihan--entah jujur, entah curang. Golput hanya dianggap masyarakat yang “seolah-olah” setuju dengan hasil pemilihan dan proses pemilihan. Meskipun demikian, Golput tetap diperhatikan sebagai kekuatan yang akan melemahkan legitimasi hasil pemilihan dan proses pemilihan. Kecilnya atau sedikitnya suara yang diperoleh untuk menduduki posisi politis menandakan lemahnya legitimasi masyarakat. Jika suara Golput semakin besar, akan berpengaruh terhadap legitimasi demokrasi itu sendiri. Itu pertanda yang sangat bagus. Artinya, situasi negara dengan suara Golput yang tinggi akan mendorong para akademisi, teknokrat, birokrat, dan para orang bijak di negeri ini untuk memikirkan sistem lain yang cocok dan sesuai dengan perasaan rakyat untuk melangsungkan proses pembangunan.

Orang-orang Golput akan merasa tidak bersalah jika terjadi kerusakan yang ditimbulkan akibat perilaku para politisi dan pemimpin hasil demokrasi. Mereka memang tidak bersalah karena tidak memilih para pemimpin yang kemudian terbukti rusak moral, bejat akhlak, dan kotor pikiran. Malahan sikap orang-orang Golput akan mempengaruhi secara positif orang-orang yang telah menggunakan hak pilih karena para pejabat terpilih ternyata tidak amanah. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap negara akan menurun teramat drastis dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Pada titik itulah wise people di negeri ini dituntut bekerja keras untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sangat rawan.

Orang-orang Golput akan memaksa para politisi untuk sadar diri bahwa mereka sebenarnya tidak pantas untuk duduk dalam jabatannya dan membuat para penyelenggara semakin sadar untuk memperbaiki diri dan kinerjanya supaya kepercayaan masyarakat yang telah Golput kembali kepadanya.

Suara Golput akan memaksa elemen-eleman penting di negeri ini untuk mencari cara lain dan gagasan lain yang bukan demokrasi karena ternyata demokrasi tidak mampu menyelesaikan masalah. Demokrasi hanya membuat beban negeri ini semakin berat dan menumbuhkan perpecahan di dalam masyarakat.

Inti dari tujuan pembangunan nasional itu kan ada di alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, iya kan?

Untuk mencapai tujuan itu, tidak harus demokrasi, kan?

Malahan, orang-orang yang bertahan dalam demokrasi itu kemungkinan besar anti-terhadap perubahan. Mereka itu mirip banget dengan orang-orang yang mempertahankan status quo. Mereka orang-orang yang telah menyakralkan sistem politik demokrasi, sebagaimana orang-orang yang telah menyakralkan sistem politik dan dogma-dogma politik orde baru. Mereka nggak beda jauh-jauh amat dari orang-orang yang dikritiknya dahulu.

Kita berhak berubah dan memang kita harus berubah!

Kita punya nilai dan cara sendiri yang telah dilekatkan Tuhan sejak dalam kandungan, tinggal menggalinya dan membawanya ke permukaan. Hanya dengan cara itulah kita akan benar-benar mampu mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia.