Tuesday, 15 March 2016

Indonesia Harus Belajar Indonesia untuk Palestina

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebagaimana yang pernah saya tulis bahwa Indonesia ini adalah miniatur dunia. Ada ribuan suku, ras, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan. Ada ribuan bahkan jutaan peristiwa yang terjadi berikut beragam penyelesaiannya. Semua masalah yang terjadi di dunia ini pernah pula terjadi di Indonesia dan Indonesia berhasil menyelesaikannya atau sedang menuju keberhasilan dalam penyelesaiannya. Sesungguhnya, pengalaman Indonesia dengan masalah dan penyelesaiannya itu harus dijadikan bahan atau dasar rujukan untuk menyelesaikan berbagai kemelut di seluruh dunia. Allah swt telah memberikan banyak pelajaran pada Indonesia, baik memberikan masalah maupun memberikan petunjuk untuk menyelesaikannya.

            Tak ada masalah di dunia ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Iya kan?

            Coba sebutkan satu saja masalah di dunia yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Pasti tidak ada.

            Benar, kan?

            Salah!

            Makanya, kalau baca tulisan di internet itu hati-hati. Jangan tergiring para penulis yang berupaya mengacaukan pikiran pembacanya. Di internet ini banyak pembohong dan penipu. Tulisan saya di awal itu cuma menguji pembaca, apakah mudah ditipu atau tidak. Hal itu disebabkan saya yakin ketika membaca tulisan awal saya, ada banyak pembaca yang langsung percaya, padahal seharusnya jangan langsung percaya. Hati-hati.

            Sesungguhnya, ada masalah di dunia ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia, yaitu “pembunuhan presiden”.

            Benar, kan?

            Nah, yang ini pasti benar.

            Di Indonesia ini tidak pernah terjadi pembunuhan terhadap presiden. Seburuk apa pun presiden Indonesia, sebenci apa pun rakyat Indonesia terhadap presidennya, pembunuhan terhadap presiden bukanlah watak dan kultur bangsa Indonesia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang sistem politiknya sering dibangga-banggakan orang itu. Banyak sekali presidennya yang mengalami upaya pembunuhan. Bahkan, Banyak Presiden AS itu yang benar-benar mati dibunuh. Mengerikan sekali dan sama sekali tidak beradab.

            Akan tetapi, anehnya banyak orang di Indonesia ini yang suka memuja-muji sistem politik AS. Padahal, banyak pembunuhan di sana, termasuk pada pemimpin politiknya, juga penurunan moral dan peningkatan kemaksiatan. Negara dengan banyak pembunuhan dan penurunan moral begitu dijadikan contoh. Bego banget.

            Sudahlah, bukan itu yang ingin saya tulis. Itu mah cuma iseng aja ngingetin pembaca agar tidak mudah ditipu dan dibohongi.

            Kita patut mengacungkan jempol untuk Presiden Jokowi yang tegas sikapnya terhadap persoalan Israel-Palestina. Itu pun terbukti dengan koordinasi yang baik terhadap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang segera mengambil langkah-langkah politik dan diplomasi untuk mengejawantahkan sikap Indonesia tersebut.

            Sayangnya, setegas apa pun pemerintah Indonesia, sekasar apa pun rakyat Indonesia terhadap Israel,  seyakin apa pun Jokowi, selelah apa pun Retno Marsudi, Palestina tidak akan pernah berhasil melepaskan diri dari penjajahan Israel. Itu pasti.

            Hampir seluruh pengamat dunia dan Timur Tengah di Indonesia mengatakan bahwa kunci penyelesaian konflik Palestina-Israel adalah Israel sendiri. Artinya, Israel harus membuka diri untuk berdamai dan mengembalikan tanah dan harta rakyat Palestina yang telah dirampoknya agar bisa tercipta dua negara yang merdeka dan damai.

            Kalau kuncinya adalah Israel sendiri, sudah bisa dipastikan, konflik itu tidak akan pernah selesai dan Palestina akan terus menderita, bahkan akan lebih hancur dan diperbudak Israel. Hasil pengamatan yang menyerahkan kunci penyelesaian pada Israel adalah pernyataan yang menunjukkan bahwa “tak ada jalan lain” untuk menyelesaikan masalah dan membebaskan Palestina selain dari “kemurahan hati” Israel.

            Sampai kapan pun jika dunia berpandangan bahwa kuncinya adalah Israel sendiri, Palestina tidak akan pernah bebas dan akan semakin menyedihkan. Penjajah itu tidak akan pernah “bermurah hati” dan tidak akan pernah “membuka kunci pintu” untuk kebaikan bersama. Mereka akan terus menjajah dan merampok apa pun yang bisa mereka kuasai. Begitu kebiasaannya.

            Kita punya sejarah yang nyata. Belanda dan penjajah lainnya sering sekali melanggar perjanjian. Hasil-hasil perundingan dianggap hanya tulisan di kertas. Kita masih ingat bagaimana Pangeran Dipenogoro dicurangi, bagaimana pula penjajah tetap melancarkan agresi meskipun sudah ada perjanjian untuk tidak melakukan hal itu. Indonesia mengalami penderitaan dicurangi seperti itu. Oleh sebab itu, tak perlu heran jika Israel sering melanggar perjanjian dan tidak mematuhi resolusi PBB. Penjajah memang begitu tabiatnya.

            Kalau mau melepaskan diri dari penjajahan Israel, kuncinya bukanlah diserahkan pada Israel dan bukan pula pada dukungan Oki, bahkan bukan pula pada Indonesia. Kunci yang sebenarnya adalah ada pada Palestina sendiri, baik pemerintahnya, organisasi yang di dalamnya, dan seluruh rakyatnya.

            Mari kita lihat bagaimana Indonesia menghadapi penjajahan. Indonesia selalu kalah dan menderita dalam melawan penjajah. Penyebabnya adalah tidak ada persatuan dan kesatuan dalam melakukan perlawanan. Setiap kerajaan dan setiap organisasi perlawanan berjuang sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik. Oleh sebab itu, Ir. Soekarno menyadari betul hal itu sehingga bersama-sama tokoh nasionalis lainnya menyerukan persatuan dan kesatuan secara nasional untuk mencapai kemerdekaan bersama. Para founding fathers kita berupaya keras mewujudkan persatuan itu, baik dengan cara “terang-terangan” maupun dengan cara “sembunyi-sembunyi”. Seruan untuk bersatu itu mendapatkan sambutan yang hangat sehingga benar-benar tercipta perlawanan yang lebih terkoordinasi.

            Perbedaan paham dan hal lainnya dikesampingkan lebih dahulu. Ada tiga paham yang diperjuangkan untuk Indonesia merdeka ini, yaitu paham Islam, paham nasionalis, dan paham komunis. Ketiga paham ini sangat sering bentrok. Akan tetapi, ketika melakukan perlawanan, mereka bersama-sama mengusir penjajahan. Artinya, secara singkat dapatlah dikatakan bahwa saat itu kelompok-kelompok perlawanan mengesampingkan dahulu perbedaan agar tujuan awal bisa dicapai, yaitu kemerdekaan. Soal paham yang mana yang akan digunakan sebagai dasar negara, itu nomor dua. Nomor satu adalah merdeka dulu.

            Hal itu sebagaimana ceritera seorang kakek-kakek pejuang NII asli beberapa waktu lalu kepada saya.

            Sang Kakek itu bilang, “Kita ikuti Soekarno karena Soekarno janji yang penting merdeka aja dulu. Soal bentuk negara mau Islam, nasionalis, ataupun komunis, itu soal nanti. Kita merdeka aja dulu.”

            Nah, ajaran Soekarno ini bisa diekspor ke Palestina. Di sana itu perlawanan juga tidak terkoordinasi dengan baik. Setiap organisasi punya ego masing-masing, seperti di Indonesia masa dulu. Ada yang ngotot pengen dasar Negara Palestina adalah Islam. Ada pula yang keras hati ingin dasarnya sekuler. Tidak adanya persatuan dalam melakukan perlawanan sudah jelas melemahkan kekuatan diri Palestina sendiri. Itu sudah terbukti terjadi di Indonesia. Sesungguhnya, pemerintah Indonesia bisa “mengajari” Palestina tentang pentingnya persatuan tersebut berdasarkan pengalaman sejarah sendiri. Pemerintah Indonesia bisa bersama-sama dengan Oki memfasilitasi pertemuan di antara kelompok-kelompok yang bertikai di Palestina. Sadarkan mereka dengan sejarah Indonesia sendiri, yaitu soal negara mau dasarnya Islam atau sekuler, itu soal nanti, yang penting merdeka dulu. Bentuk negara atau hal lainnya itu bisa diselesaikan nanti setelah merdeka. Begitulah Indonesia telah merdeka dengan pengalamannya.

            Kunci kekuatan itu sebenarnya ada dalam tubuh Palestina sendiri. Kebebasan Palestina itu bukanlah bergantung pada Indonesia, Oki, Israel, ataupun negara-negara lain. Kebebasan Palestina adalah bergantung pada Palestina sendiri.

            Rakyat Indonesia pasti akan sangat senang dan mendukung penuh jika Indonesia dijadikan tempat bersejarah bagi bersatunya faksi-faksi yang sering bertikai di Palestina untuk melakukan perlawanan secara bersama terhadap Israel. Indonesia pun akan dicatat dunia sebagai negara yang sangat berpengaruh untuk menciptakan “perdamaian dunia”.

            Setelah orang-orang Palestina bersatu, tetapkan cara perjuangannya. Mau kooperatif atau nonkooperatif. Mereka harus memilihnya. Mereka bisa bekerja bersama Israel untuk menciptakan perdamaian atau memilih untuk tidak bekerja sama. Ajari pula bagaimana mereka caranya untuk melakukan perlawanan dengan cara diplomasi dan militer. Indonesia sangat berpengalaman bagaimana menyinergikan perjuangan militer dengan perjuangan melalui jalur diplomasi.

            Ingatkan pula penderitaan Indonesia ketika penjajah melakukan politk devide et impera, ‘politik adu domba’, ‘politik belah bambu’. Penjajah akan melakukan hal itu di mana pun. Sejarah sudah membuktikannya. Kita diadu domba di antara sesama bangsa sendiri. Politik adu domba ini sangat mungkin terjadi di Palestina. Dengar-dengar Hamas itu partai yang dibentuk Israel untuk menjatuhkan Yaser Arafat dan PLO-nya. Itu sudah jadi tanda bahwa orang Palestina juga diadudomba oleh Israel.

            Kunci Palestina merdeka adalah pada diri Palestina sendiri. Mereka harus bersatu bersama senasib sepenanggungan. Indonesia harus menjadi motor utama dalam perdamaian sehingga tercipta dua negara merdeka, yaitu Palestina Merdeka dan Israel Merdeka. Negara-negara anggota Oki lainnya harus pula berada di belakang Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia, bukan cuma pinter rebutan minyak aja di negaranya masing-masing.

            Kalau Indonesia berhasil mentransfer pengetahuan, semangat, sejarah, dan energi Indonesia ke Palestina, Indonesia akan dicatat dalam tinta emas sejarah dunia sebagai “Negeri Ramah Penuh Berkah Pencipta Perdamaian”. Yang mencatat bukan hanya sejarah dunia, melainkan pula para malaikat dan Allah swt. Negeri ini akan mendapatkan banyak ampunan dari Allah swt, baik di dunia maupun di akhirat. Amin.
           


Tak Ada Toleransi dalam Ilmu Pengetahuan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Toleransi sama sekali tidak diperbolehkan dalam dunia pengetahuan. Haram hukumnya. Kalau toleransi ada dalam dunia ilmu pengetahuan, sama saja dengan menghambat ilmu pengetahuan dan membodohi manusia. Dalam pengetahuan itu sama sekali tak ada toleransi. Dalam dunia pengetahuan hanya ada benar dan salah. Sama sekali tidak mempedulikan perasaan orang lain, harga diri sebuah suku, ras, atau kehormatan sebuah agama. Pengetahuan hanya berbicara tentang salah dan benar. Kalau ada yang tersinggung dengan pengetahuan, itu risiko sendiri karena berpegang pada keyakinan yang salah.

            Di dalam dunia pengetahuan, kondisi “bodoh” itu adalah wajar karena merupakan suatu kondisi seseorang atau sekelompok orang yang belum mengetahui “hal yang sebenarnya” atau memang lemah dalam bidang yang tidak dikuasainya. Saya tidak akan tersinggung jika disebut “bodoh” soal otomotif karena memang tidak tahu apa-apa. Di samping itu, dalam lingkungan pengetahuan melakukan “kesalahan” itu “boleh” karena dengan melakukan hal yang salah, kita akan mengetahui “kebenaran”. Yang sangat diharamkan dalam pengetahuan adalah “berbohong” karena dengan berbohong, semuanya akan jadi rusak dan kacau. Oleh sebab itu, siapa pun yang mengajarkan untuk melakukan kebohongan adalah salah besar. Jika ada “orang berilmu” atau “aliran keyakinan” atau “agama” atau “kelompok” yang mengajarkan “kebohongan”, itu adalah para pengikut Iblis Laknatullah. Ingat, Dajjal itu bermakna “Raja Bohong”. Siapa pun yang menganggap benar perilaku “bohong”, adalah pengikutnya Dajjal.

            Dunia sudah mengalami hal-hal besar dalam ilmu pengetahuan, termasuk perjuangannya dalam mempertahankan kebenaran. Semua pasti tahu ketika Gereja Katolik berpendapat bahwa “Bumi adalah datar dan di akhir Bumi adalah neraka”, semua orang di Barat setuju dengan hal itu. Apalagi dikuatkan dengan pendapat filsuf Barat kenamaan, seperti, Plato dan Aristoteles.

            Siapa yang berani menyangkal pendapat itu ketika gereja memiliki pengaruh sangat kuat dan dua filsuf barat besar mendukungnya?

            Tidak ada!

            Akan tetapi, kebenaran tetap berjalan, terus maju, dan bertahan hingga menang. Galileo Galilei berpendapat berbeda dengan gereja dan dua filsuf itu. Menurutnya, Bumi adalah bulat. Demikian pula Copernicus mengatakan hal yang sama. Keduanya berkata berdasarkan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas data dan fakta yang mereka miliki. Akibatnya, gereja dan para pendukungnya marah hingga menghukum Galileo Galilei sampai matinya.

            Kini kita tahu siapa yang benar, bukan?

            Gereja Katolik salah, Plato salah, Aristoteles salah. Galileo Galilei dan Copernicus yang benar.

            Begitulah ilmu pengetahuan, tak ada toleransi dengan agama, keyakinan, dan kehormatan. Kalau benar, ya benar. Salah ya salah. Itu saja.

            Yang menang siapa?

            Yang menang adalah pengetahuan yang benar.

            Di Indonesia ini banyak sekali yang mendukung hasil penelitian K.H. Fahmi Basya soal Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman as. Banyak pula yang tidak menyetujuinya. Sesungguhnya, persoalan itu bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang memiliki data dan fakta yang lebih akurat dan daya analisis yang lebih tinggi, itulah yang harus diikuti.

            Tak perlu dipermasalahkan soal toleransi dengan umat Budha. Toleransi itu hanya ada dalam sikap, perilaku, dan pergaulan berbangsa dan bertanah air. Toleransi itu adalah membiarkan orang lain untuk melakukan ibadat sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Akan tetapi, tidak ada toleransi dengan ilmu pengetahuan. Umat Budha harus patuh pada ilmu pengetahuan. Siapa pun juga di muka Bumi ini harus patuh pada ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia berkembang dari zaman ke zaman.

            Lihat, bagaimana sekarang Gereja Katolik sudah sangat patuh kepada ilmu pengetahuan. Mereka pun mengubah keyakinannya dari yang asalnya berpendapat bahwa Bumi itu datar, menjadi Bumi itu adalah bulat.

            Jangan berlindung di balik toleransi untuk mempertahankan kebodohan!

            Jangan menggunakan toleransi sebagai alat untuk memburukkan orang lain!

            Tak ada toleransi dalam pengetahuan. Yang ada hanya benar dan salah!

            Prof. J.G. de Casparis jelas salah dengan mengatakan bahwa Borobudur dibangun pada abad 8 dan merupakan peninggalan kebesaran umat Budha. Jika dia melakukan kesalahan, itu adalah hal yang diperbolehkan dalam ilmu pengetahuan untuk mendapatkan hal yang lebih benar. Yang namanya pengetahuan itu sifatnya harus “terbuka” untuk diuji dan bisa diteliti ulang kebenarannya. Kalau tidak diboleh diuji, itu namanya bukan pengetahuan, melainkan doktrin atau “dongeng sebelum beol”.

            That is the law!

            Begitulah hukumnya.

            Akan tetapi, jika penelitiannya itu merupakan “pesanan” untuk kepentingan kelompok tertentu, baik pengusaha ataupun penguasa, berarti J.G. de Casparis jelas “pembohong”. Kebohongan itu tidak perlu diikuti dan kita semua harus menyadari bahwa bangsa Indonesia telah dibohongi sejak lama.

            Banyak sekali hasil penelitian yang isinya adalah kebohongan dan memang dilakukan dengan maksud untuk “berbohong”. Saya sering melihatnya. Hal yang lebih memprihatinkan adalah kita bangsa Indonesia kurang periksa terhadap hasil penelitian itu, lalu mempercayainya sebagai sebuah kebenaran.

            Insyaallah, lain kali akan saya tulis berbagai hasil penelitian yang banyak bohongnya, tetapi malah diajarkan pada berbagai perguruan tinggi sebagai sebuah kebenaran. Adapula ilmu pengetahuan yang sudah tidak perlu lagi diajarkan, masih juga diajarkan.

            Akan tetapi, bolehlah satu saja kebohongan yang entah dipercaya oleh siapa saya coba tulis di sini sedikit. Soal perahu Nabi Nuh as, misalnya, penelitian itu kentara sekali “dustanya” dan kelihatan sekali kalang kabutnya. Katanya, Nuh as adalah berasal dari wilayah Mesopotamia karena di sana ada beberapa sungai dan mata air serta bekas-bekas bencana banjir. Para peneliti pendusta itu mengatakan bahwa tidak ditemukan logam di sana. Mereka pun menyimpulkan bahwa Nuh as hidup pada “zaman batu”. 

Anehnya, reruntuhan perahu itu kemudian ditemukan di pegunungan di wilayah Turki. Kabarnya, perahu itu terdampar di sana setelah terapung-apung di lautan lepas. Mereka menemukan tiang kapal yang pada tiang itu terdapat plat besi untuk mengikat ke tubuh kapal. Lalu, di dalamnya ada gambar orang yang menggunakan ikat kepala dengan tulisan “Noah”. Orang itu sedang memaku ke sebuah papan.

Bisa lihat nggak, bagaimana bohongnya mereka?

Kelihatan tidak kalang kabutnya data kedustaan mereka?

Perhatikan ini.

Awalnya, mereka mengatakan “tidak ditemukan logam”. Kesimpulannya adalah “zaman batu”. Akan tetapi, begonya, ketika reruntuhannya ditemukan, ada “plat besi” dan gambar orang sedang “memaku”.

Bukankah plat besi dan paku itu adalah logam?

Bagaimana mungkin dikatakan zaman batu, tetapi ada plat besi dan paku?

Lucu, kan?

Itu mah bukan hasil penelitian, melainkan cuma “dongeng sebelum beol”!

Terus, lucunya lagi, di sana ada plat kayu yang bertuliskan Muhammad, Aisyah, Ali bin Abi Thalib, serta Hasan dan Husen. Ceriteranya, ketika Nuh as cemas dalam perahu, berdoa dan memuji-muji orang-orang mulia itu.

Kalau nama Nabi Muhammad saw, okelah karena beliau adalah Rasulullah yang paling tinggi derajatnya.

Akan tetapi, kalau Aisyah, Ali, dan Hasan-Husen, apa maksudnya?

Nah, mulai di sini saya curiga. Tujuan mereka meneliti dan menyebarkannya melalui berbagai media ke seluruh dunia adalah cuma ingin mendapatkan hal yang  ecek-ecek. Tujuannya cuma bisnis. Mereka hanya cari makan lewat sektor pariwisata.

Perhatikan plat kayu yang ada nama-nama itu. Mereka ingin menarik umat Islam dari golongan sunni dan syiah untuk piknik ke tempat yang mereka sebut “reruntuhan perahu Nabi Nuh as”.

Memang begitu kan kenyataannya?

Sekarang situs itu dibuka untuk umum sebagai tempat pariwisata yang lebih besar. Lalu, di Belanda dibuat replikanya yang di dalamnya dilengkapi dengan restoran.

Apa yang saya tulis di sini baru sedikit. Sangat sedikit tentang keanehan itu. Saya belum menulis hal yang tidak masuk akal lainnya. Misalnya, berapa banyak binatang yang dimuat dalam perahu, berapa lama berada di lautan lepas, bagaimana pemeliharaannya, berapa jarak antara kandang yang satu dengan lainnya, bagaimana sanitasinya, berapa banyak manusia yang ada dalam perahu, bagaimana sosok seorang rasul terhadap binatang, bekas kapal, dan lain sebagainya.

Tak ada toleransi dalam ilmu pengetahuan!

Setiap pengetahuan bersifat terbuka untuk diuji!

Jangan berbohong!

Jangan percaya hanya karena “orang bule” yang melakukan penelitian.


Oh ya, saya punya pengalaman lucu tentang orang bule saat  seminar internasional tentang kompetensi guru. Kirain orang itu pintar, tetapi saat memberikan materi, dia menggunakan bahan dari buku yang buku itu saya sendiri editornya. Judul bukunya kalau nggak Penelitian TIndakan Kelas, pasti yang Lesson Study, saya lupa-lupa ingat soalnya kejadiannya udah lama, sekitar tiga atau empat tahun lalu.  Entarlah, saya ceritain lengkapnya. Pokoknya lucu.

Wednesday, 9 March 2016

Antara Motor Bebek dan Borobudur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Tadinya sih, judulnya mau Antara Masjid Quba dan Borobudur, tetapi tidak setiap orang tahu masjid itu. Terus, mau ganti judul yang lebih dekat, yaitu Antara Masjid Agung Bandung dan Borobudur, tetapi sama juga tidak setiap orang tahu Masjid Agung Bandung dan sejarahnya. Ya sudah, bikin judul yang kira-kira bisa setiap orang tahu: Antara Motor Bebek dan Borobudur.

            Pasti tahu kan motor bebek?

            Kalau mengatakan “bebek”, harus jelas huruf-hurufnya, jangan sampai ada yang diubah dengan huruf “m”. Kalau berubah, nanti pengucapannya jadi “bebem”.

            Sepanjang hidup saya sampai saat ini, selalu menggunakan sepeda motor Honda, baik bebek maupun sport. Hanya satu kali saya membeli motor Suzuki dan satu kali pula Vespa. Kalau mobil, ya nggak tetap. Pernah Suzuki, pernah Mitsubishi, pernah juga Daihatsu. Maksudnya, dalam tulisan kali ini saya akan membandingkan motor bebek Honda dengan Borobudur.

Saya berusaha mengingat-ingat perkembangan motor bebek Honda. Motor bebek Honda yang pertama kali saya naiki ketika masih sangat kecil adalah motor Honda yang 50 cc. Itu punya ayah saya. Saya sering diajak kesana-kemari pake motor itu, kadang duduk di depan, kadang duduk di belakang. Produk motor Honda itu berkembang menjadi 70 cc. Lalu, bentuknya berubah lagi kalau tidak salah, menjadi Super Cup 700. Kemudian, meningkat menjadi Super Cup 800. Setelah itu, keluar Astrea. Lalu, Astrea Star. Timbul lagi yang baru, Astrea Prima. Habis itu, kalau tidak salah ingat, ada Legenda. Kemudian, meningkat lagi menjadi Impressa. Lalu, ada Supra Fit. Selanjutnya, ada lagi Supra X. Berganti lagi menjadi Supra X Neo. Terus, ada Vario. Belakangan, Beat muncul. Begitulah kira-kira perkembangan motor Honda.

Pendeknya, beginilah motor bebek Honda mengalami peningkatan: 50 cc, 70 cc, Super Cup 700, Super Cup 800, Astrea, Astrea Star, Astrea Prima, Legenda, Impressa, Supra Fit, Supra X, Supra X Neo, Vario, dan Beat. Ke depannya entah ada apa lagi, tetapi sebagai pabrik sepeda motor, Honda pasti akan bikin produk baru.

Kita bisa lihat perkembangan sepeda motor Honda itu. Produk motor yang awal merupakan dasar dari pembentukan motor terbaru berikutnya. Teknologi pada motor yang awal atau lebih dulu menjadi dasar bagi pengembangan teknologi untuk motor selanjutnya yang lebih terbaru dan lebih modern dari segi mesin, rangka, maupun bodi. Tak ada motor terbaru jika tak ada motor lama. Yang lama adalah dasar bagi yang baru. Produk terbaru pasti lebih bagus daripada produk yang lebih lama.

Begitu kan pastinya?

Sekarang mari kita lihat Borobudur. Candi megah yang ajaib, misterius, dan penuh dengan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah produk terbaru dari produk bangunan sebelumnya.

Pertanyaannya adalah bangunan apa yang menjadi dasar teknologi untuk menjadi bangunan Candi Borobudur?

Candi yang mana yang merupakan dasar pijakan bagi pembangunan Borobudur?

Kalau motor Honda kan bisa dilihat. Honda 70 cc itu berasal dari perkembangan motor yang 50 cc. Yang 70 cc menjadi dasar pengetahuan bagi Super Cup 700. Begitu seterusnya.

Lalu, Borobudur berawal dari teknologi bangunan yang mana?

Kemudian, Borobudur itu adalah bangunan kuno yang sudah sangat lama.

Bangunan mana yang sekarang merupakan produk terbaru setelah Borobudur?

Candi yang mana yang merupakan produk pengembangan dari Candi Borobudur?

Kalau tidak ada, mengapa manusia-manusia yang mengklaim sebagai pewarisnya tidak melakukan peningkatan lagi dengan membangun bangunan yang lebih hebat dan lebih modern penuh dengan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan Borobudur?

Ada masalah apa antara kalian dengan leluhur kalian?

Mengapa leluhur kalian tidak memberikan dan tidak menurunkan pengetahuan itu kepada kalian sehingga kalian tidak mampu mengembangkannya dengan lebih hebat lagi?

Apakah leluhur kalian terlalu pelit untuk berbagi ilmu kalau memang benar kalian adalah para pewarisnya?

Penjelasan logis apa yang kalian miliki untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya itu?

Lihat itu Masjid Agung Bandung yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Semuanya bisa dilacak teknologinya. Generasi sekarang sangat mampu untuk mengembangkannya ke tingkat yang lebih tinggi. Masjid itu akan terus berubah dan berkembang sesuai perkembangan zaman.

Ibu saya ketika dia masih kecil pernah mendengar ramalan bahwa Masjid Agung Bandung itu tidak akan pernah berhenti dibangun. Masjid itu akan selalu berubah meningkat ke tingkat yang lebih tinggi. Memang kenyataannya demikian hingga hari ini.

Untuk Borobudur, penjelasan logis yang saya miliki saat ini adalah bahwa Borobudur itu adalah peninggalan Nabi Sulaeman as sebagai tempat untuk mengabdikan diri kepada Allah swt sesuai syariat yang ditentukan saat itu, sebagaimana firman Allah swt dalam Al Quran Surat Al Hajj ayat 67 (22 : 67).

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-sekali mereka membantah kamu dalam urusan ini dan serulah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya, kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”

Jadi, Nabi Sulaeman as dan Borobudur itu adalah sesuai dengan syariat Islam pada masanya yang masih belum sempurna. Islam yang sempurna itu adalah yang disyariatkan kepada Muhammad saw. Jangan disamakan antara syariat zaman Sulaeman as dengan syariat zaman Muhammad saw. Sulaeman as itu syariat Islam yang masih belum sempurna dan disempurnakan setelah kehadiran Muhammad saw. Jadi, soal patung atau hal lainnya itu disebabkan syariat-syariat yang diturunkan secara bertahap dari kurang sempurna menuju ke kesempurnaan.

Akan tetapi, belum sempurna itu bukan berarti salah, tetap benar, masih Islam-Islam juga. Islam pada masanya. Hal itu seperti motor bebek Honda. Motor 70 cc itu ya tetap motor Honda, cuma belum sesempurna motor Honda Vario.

Mengapa kita tidak bisa mengetahui teknologi pembangunan Borobudur dan tidak mampu untuk membuatnya kembali, bahkan yang lebih hebat dari itu?

Hal itu disebabkan dosa-dosa nenek moyang kita yang teramat sangat kafir sehingga Allah swt memberikan azab yang sangat keras dan mengerikan. Bukan hanya manusia yang dibantai, melainkan pula catatan pengetahuan dan teknologi yang sesungguhnya rahmat itu, tetapi diselewengkan menjadi kesombongan dan kekafiran oleh manusia, ikut dimusnahkan dalam banjir dan gempa tektonik-vulkanik yang sangat hebat dan menggetarkan siapa pun juga, termasuk para jin sakti. Catatan mengenai teknologi Borobudur pun ditenggelamkan.

Buktinya kan jelas. Borobudur tertimbun lapisan tanah berabad-abad dan tak seorang pun tahu di sana ada bangunan peribadatan yang megah. Kemudian, Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan.

Allah swt sendiri menggambarkan betapa mengerikannya bencana yang menimpa nenek moyang kita beserta benuanya tersebut.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusukannya dan gugurlah segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi, azab Allah swt itu sangat kerasnya.” (QS 22 : 2)

Seorang wanita baik-baik yang menjadi ibu pasti sangat sayang kepada bayinya. Akan tetapi, rasa sayang itu lenyap seketika karena kegoncangan yang teramat dahsyat terjadi di Bumi. Ia pun segera melarikan diri dan meninggalkan bayinya. Betapa mengerikannya azab itu sampai mengalahkan cinta dan rasa peduli Sang Ibu yang telah mengandung bayi terhadap bayinya sendiri. Azab itu pun sampai menghancurkan sistem metabolisme tubuh dan susunan organ-organ tubuh manusia. Saking hancurnya sistem dalam tubuh manusia, wanita-wanita yang sedang hamil pun mengalami keguguran. Dahsyat sekali bencana itu. Karena kehancuran dalam sistem tubuh, manusia pun sudah tidak mampu lagi mengoordinasikan tubuhnya dengan baik. Antara otak, tangan, kaki, dan yang lainnya tak lagi teratur dan tidak bisa lagi dikendalikan. Dari luar, manusia tampak sedang mabuk, padahal tidak mabuk, tetapi sesungguhnya mengalami kehancuran sistem dalam tubuh. Tulang-tulang dalam tubuh tak lagi tersusun rapi, malahan melukai bagian tubuh lainnya. Urat-urat menjadi kusut semrawut. Darah pun mengalir tak tentu arah. Pasti sakit sekali rasanya.

Kita memang tidak menyaksikan peristiwa itu. Akan tetapi, Allah swt menyuruh kita mengingatnya. Kita bisa lihat bagaimana Benua Sundaland yang asalnya satu itu menjadi hancur kecil-kecil berserakan. Betapa dahsyatnya hari itu. Kita bisa lihat pula bangunan-bangunan megah yang berada di atas dataran tinggi pun dikuburnya dalam lumpur hingga tak tampak lagi oleh mata manusia. Betapa berkuasanya Allah swt mengejar para pendosa hingga ke puncak gunung-gunung dan menangkapnya hingga tak berkutik ditelan Bumi.

Orang-orang yang diselamatkan dari peristiwa maha mengerikan itu pun akhirnya tersadar, kemudian berusaha bertobat. Salah satunya adalah dengan menghindari tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat-tempat maksiat dan penuh dengan kemusyrikan. Borobudur dan candi-candi lain pun ditinggalkan mereka dan tak pernah diceriterakan kepada anak cucunya. Mereka tak berniat menggalinya kembali dari dalam tanah. Berbeda jika kita mengalami bencana, lalu bencana itu menghancurkan Masjid Istiqlal misalnya, kita pasti akan mencarinya dan memperbaikinya kembali. Nenek moyang kita tidak seperti itu. Mereka memilih untuk menguburnya dalam ingatan mereka. Hal itu disebabkan kemungkinan besar Borobudur dan cand-candi lainnya serta bangunan megah lainnya pun telah menjadi tempat maksiat dan kemusyrikan, dijadikan tempat pemujaan terhadap malaikat, syetan, Iblis, dan roh-roh gentayangan lainnya. Padahal, bangunan-bangunan itu sesungguhnya awalnya didirikan untuk menyembah Allah swt. Manusia kafirlah yang telah menyalahgunakannya hingga Allah swt murka, lalu ditenggelamkan ke dalam Bumi. Akan tetapi, Allah swt tidak menghancurkan semuanya. Allah swt berkehendak manusia menemukannya kembali untuk menambah keimanannya kepada Allah swt.

Itulah alasan kenapa manusia tidak tahu awalnya di sana ada candi. Nenek moyang kita yang diselamatkan dari bencana tidak ingin mengingatnya kembali dan tidak ingin menceriterakan kepada anak cucunya karena khawatir akan mendapatkan lagi bencana-bencana hebat akibat dari penyalahgunaan terhadap bangunan-bangunan suci itu. Nenek moyang kita lebih memilih mengajari anak cucunya dengan budi pekerti yang baik, mengabdi kepada Sang Pencipta, tidak merugikan orang lain, bersikap ramah, lemah lembut, dan berbagai kebaktian yang penuh khidmat kepada Sang Maha Agung.

Hal yang paling penting diajarkan nenek moyang kita adalah soal air bah yang mampu melahap semua yang ada, menghancurkan seluruh harta dan jiwa, menghilangkan semua peradaban sampai ke puncak gunung. Hal itu dilakukan mereka agar anak cucunya selalu waspada bahwa perilaku yang buruk akan mengundang bencana banjir yang teramat dahsyat. Bukti ajaran itu ada di sekitar kita, tetapi kita tidak pernah menyadarinya.

Pengen tahu?

Penasaran ya?

Perhatikan ini.

Di seluruh tanah air Indonesia ini banyak sekali danau dan sungai. Di tempat-tempat itu bertahan legenda-legenda tentang terjadinya tempat itu. Hampir 99% danau di Indonesia selalu menceriterakan kisah yang sama, yaitu di sana ada kebaikan dan keburukan. Kemudian, pihak yang buruk menyakiti pihak yang baik. Pihak yang lebih merasa berkuasa menghina dan merendahkan pihak baik yang biasanya lebih lemah dan lebih lembut. Ketika keburukan menjadi-jadi dan pihak yang baik sudah keterlaluan disakiti, air bah pun datang menghancurkan semua yang ada, melumatkan kepongahan yang dibanggakan, dan memusnahkan kedustaan yang telah diyakini sebagai kebenaran. Mereka yang berdosa pun hancur musnah. Selalu begitu ceriteranya.

Kalau ada ceritera yang tidak begitu, beri tahu saya. Saya sangat ingin mendengarnya.

Jadi, soal motor bebek dan Borobudur itu bagaimana?

Ya pikirin saja sendiri.


Bisa, kan?

Thursday, 11 February 2016

Menghajar Kontributor Wikipedia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Saya benar-benar kecewa. Demi Allah swt yang setiap hari memegang ubun-ubun saya.

            Saya kecewa!

            Saya kecewa karena ternyata tidak ada seorang pun anti-Islam di dunia ini yang bisa mengalahkan saya dalam berdebat. Minimal di Youtube saya mengatakan berulang-ulang hal itu.

Apa saya mungkin harus berhadapan langsung dengan orang terpandai di dunia ini yang ingin menjatuhkan ajaran Islam?

Saya memang mengejek mereka di Youtube sebagai orang-orang bodoh yang tidak berpengetahuan. Memang goblok mereka itu. Sampai saya menertawakan mereka habis-habisan dan menghina mereka sampai mereka putus asa. Saya melakukan hal itu dengan harapan ada orang tercerdas mereka di dunia ini yang mau berdebat dengan saya. Sungguh, saya bosan berdebat dengan orang-orang bodoh. Berdebat dengan orang-orang bodoh membuat otak saya cuma meng-copy-paste jawaban-jawaban saya kepada orang-orang bodoh sebelumnya. Saya ingin berdebat tentang hal baru yang belum saya ketahui. Dengan demikian, otak saya berputar lebih cepat, kreatif, dan positif. Di samping itu, saya akan mendapatkan banyak pengetahuan baru. Berdebat dengan orang-orang bodoh sungguh membosankan. Saya pengen dengan yang lebih pintar. Akan tetapi, sampai sekarang masih saja orang-orang bodoh itu yang ngajak berdebat. Bosen banget, soalnya sekali dua kali komen saja mereka sudah jatuh kalah.

Gak ada tantangan banget!

Saya berkali-kali menghina mereka dengan kata-kata tantangan.

Whether in this world there is no anti - Islam who can beat me?

‘Apakah di dunia ini tidak ada anti-Islam yang bisa mengalahkan aku?’

Where is your smartest people? I will beat him like flick my fingers!

‘Mana orang terpandai kalian? Aku akan mengalahkan dia seperti aku menjentikkan jari-jari tanganku!

Sampai hari ini sudah lebih dari dua ratus orang asing yang saya kalahkan. Tantangan saya itu pun tak mendapatkan jawaban lagi. Barangkali di sini, di Indonesia, ada teman-teman mereka yang bisa membuat otak saya lebih cepat bergerak. Saya juga sekalian menantang kalian semua. Siapa tahu toh ada anti-Islam di Indonesia ini yang lebih pintar daripada orang-orang asing goblok itu.

Ada hal lucu yang mereka lakukan untuk mengalahkan saya. Mereka bikin dulu berita-berita bohong di internet, lalu mendebat saya dengan bersandarkan berita yang mereka buat itu. Beberapa kali hal itu terjadi dan itu membuat saya malah menertawakan mereka. Soalnya, saya tahu banget tentang hal yang mereka bicarakan dan saya juga tahu bahwa mereka sendiri yang bikin-bikin berita itu. Saya ini penulis yang mudah sekali tahu bagaimana kesamaan-kesamaan gaya tulisan mereka. Mereka pikir saya akan tertipu. Maaf saya tidak tertipu. Maaf ya.

Ini contohnya. Awalnya saya tidak tahu dia yang bikin tulisan bohong di internet. Akan tetapi, dia yang keceplosan sendiri mengakuinya. Sungguh lucu. Lebih lucu lagi, dia sudah kalah berdebat tentang Islam. Dia malah ingin menjatuhkan nama baik Indonesia. Bagi mereka, Islam dan Indonesia itu tidak bisa dipisahkan. Artinya, Indonesia itu adalah Islam. Jika mereka bisa menjatuhkan nama baik Indonesia, berarti pula menjatuhkan Islam di dunia.

Ada hal yang lebih lucu lagi dari mereka. Sekarang mereka kalau berdebat dengan saya, suka menyembunyikan diri mereka sendiri. Dulu sih enggak. Saya suka masuk mempelajari mereka dari akun google mereka. Jadi, saya tahu siapa mereka, dari mana mereka, dan apa kebiasaan mereka. Dengan begitu, saya lebih mudah menjatuhkan mereka. Hal itu pernah saya lakukan kepada orang-orang Inggris. Saya jatuhkan mereka dengan hukum prime noct. Hukum itu adalah hak bangsawan Inggris untuk “menikmati” mempelai wanita pada malam pengantin pertama. Artinya, sebelum bersama suami sahnya, perempuan itu milik bangsawan Inggris pada malam pertama. Suami sahnya menikmatinya setelah bangsawan Inggris itu bosan. Hal itu membuat mereka malu sendiri. Oleh sebab itu, sekarang mereka menjadi sangat pengecut. Saya tidak bisa lagi mempelajari diri mereka karena saya hanya bisa melihat namanya. Keterangan lainnya ditutup rapat.

Begitulah yang namanya syetan dan iblis, sebagaimana yang dikatakan Allah swt dalam Al Quran bahwa ciri syetan adalah pengecut dan suka bersembunyi.

Tak apalah mereka sembunyi juga. Tidak masalah bagi saya karena seperti kata Allah swt juga bahwa syetan itu lemah. Jadi, banyak cara untuk menghajar mereka.

Beginilah salah satu perdebatan yang bagi saya sangat lucu. Mereka sudah kalah berdebat tentang Islam, lalu mereka cari jalan untuk melemahkan Indonesia. Mereka tahu saya orang Indonesia karena saya tidak pernah menutup diri dari siapa pun dalam hal apa pun. Saya bukan syetan yang pengecut, suka bersembunyi, dan lemah tipu daya.

Kalau ada yang mau lihat debat aslinya, masuk aja ke google plus Tom Finaldin, cari pos yang ada video youtube berbahasa Inggris. Saya di sini menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia

Ada seseorang yang mengaku bernama Ali Baba. Entah dari mana dia. Soalnya, seperti saya bilang tadi, akun google mereka ditutup dari saya. Pengecut banget mereka.

Dia menggunakan nama Ali Baba untuk menghina Nabi Muhammad saw. Padahal, Ali Baba itu nggak ada hubungan sama sekali dengan Nabi Muhammad saw. Mereka itu ngorong sambil ngarang.

Setelah saya berhasil mengalahkan lebih dari seratus teman-temannya dalam berdebat, dia tampaknya pengen ikutan berdebat dan menduga akan berhasil menang. Akan tetapi, jelas kalah karena Islam adalah agama yang benar dan paling lurus di antara semua agama.

Perhatikan perdebatan berikut.


Ali Baba

Nah, tidakkah ini tampak bagus dari yang aku baca?



=====================================================================
Seperti saya bilang tadi, mereka tidak pernah menang berdebat tentang Islam. Sekarang mereka mencoba mendiskreditkan Indonesia. Isi dari artikel itu berupa pelanggaran-pelanggaran Ham di Indonesia dalam versi bohong mereka yang ditulis dalam Wikipedia. Isinya campur aduk nggak karu-karuan, malahan terjadi pemutarbalikan fakta.
=====================================================================


Tom Finaldin

Mr, Ali Baba, nama kamu mengingatkan pada kata-kata magis “shazam”, lalu pintu gua batu pun terbuka.

            Aku sudah katakan berulang-ulang bahwa Wikipedia itu bukanlah sumber kebenaran. Di dalam “wiki” semua orang bisa menulis apa pun yang mereka ingin tulis. Tak ada yang menjamin siapa yang bertanggung jawab atas tulisan di sana.

            Banyak dosen di Indonesia yang selalu menolak setiap karya ilmiah mahasiswa yang menggunakan dasar rujukan tulisan dari Wikipedia.

            Setiap orang bisa berbohong di Wikipedia. Jadi, jangan berbicara denganku jika hanya berdasarkan kebohongan.

            Kamu mengerti ini?


Ali Baba

(Nama kamu mengingatkan pada kata-kata magis “shazam”, lalu pintu gua batu pun terbuka). Ya, tidakkah kamu melihat hubungannya dengan Muhammad? Apakah kamu pikir negaraku sama dengan yang kamu pikirkan tentang negaramu? Kami bahkan baik-baik saja. Aku adalah kontributor kebanggaan Wikipedia. Itulah kebenaran apabila kebenaran adalah hal yang kamu cari. Kebohongan. Aku sudah bangkit untuk tidak berbohong. Pernah. Berbohong adalah TIDAK diizinkan dalam agamaku. TIDAK PERNAH! TUHAN TIDAK BERBOHONG!

            Wikipedia bermanfaat sebagaimana seharusnya. Ini sangat mengesankan dan merupakan cara inovatif untuk mempromosikan kebenaran! Jika kebohongan sudah dipersepsikan oleh anggotanya, itu dikoreksi, selalu. TIDAK ada kemungkinan untuk berbohong. Tak ada alasan untuk berbohong. Faktanya, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebenaran. Tak seorang pun ingin berbohong. Tak seorang pun. Kami menginginkan kebenaran. Dan kami telah melakukan kerja-kerja besar untuk mendapatkan kebenaran. Jika kamu pikir mereka berbohong, silakan menjadi anggotanya, lalu koreksi kebohongan-kebohongan itu oleh kamu sendiri. Kamu akan menyadari sendiri bagaimana Wikipedia melakukan koreksi itu. Tak seorang pun menggunakan kebohongan. Hanya para penipu yang menggunakan kebohongan. Kami bukanlah para penipu. Kami mengupayakan pengetahuan bukan kebohongan.


Tom Finaldin

Kebenaran?

Wikipedia adalah kebenaran?

Yuk mari. Aku beritahu kamu bahwa kebenaran membutuhkan data dan fakta-fakta. Data dan fakta-fakta membutuhkan penyampai informasi yang terpercaya.

Kamu percaya Wikipedia?

Kasihan kamu. Kami selalu menginginkan informasi dari sumber utama, bukan dari tulisan-tulisan murahan.

Aku akan uji kecerdasan kamu.

Jika dalam Wikipedia ditulis bahwa gubernur daerah kamu adalah pelanggar hak azasi manusia, tetapi dalam situs lain ditulis bahwa gubernur daerah kamu adalah pelindung hak azasi manusia, mana yang kamu percayai?

Wikipedia atau situs lain itu?

Bagaimana kamu menentukan mana yang salah dan mana yang benar?

Oh ya, satu hal lagi.

Mengapa kamu sangat marah?

Mengapa kamu memposting “Aku sudah bangkit untuk tidak berbohong. Pernah. Berbohong adalah TIDAK diizinkan dalam agamaku. TIDAK PERNAH! TUHAN TIDAK BERBOHONG!”?

Apakah kamu yang menulis berbagai kebohongan di Wikipedia?

Wooooohooooohoooahooo “shazam”, lalu pintu gua batu pun terbuka.


Ali Baba

Aku tidak marah. Aku jarang sekali marah. Kebohongan di Wikipedia? Tunjukkan kepadaku kebohongan itu! Tuduhan tanpa bukti adalah sama dengan berbohong. Jadi, tunjukkan bukti kebohongan yang kamu maksudkan itu atau kamu adalah orang yang pantas disebut pembohong. Sederhana.

            Ini link lagi untukmu. Dan baca lagi untuk mengecek apakah di sana ada kebohongan, silakan beritahu aku yang mana kebohongan itu.

            Terima kasih.



Tom Finaldin

Apa?

Bukankah sudah aku katakan, “Aku beritahu kamu bahwa kebenaran membutuhkan data dan fakta-fakta. Data dan fakta-fakta membutuhkan penyampai informasi yang terpercaya.”?

Tanpa data, fakta, dan penyampai informasi terpercaya, semua informasi adalah omong kosong. Dan … kebenaran harus ditulis dengan aspek 5W 1H: what, where, who, when, why, dan how.

Dan … kamu belum menjawab tes yang aku berikan:

“Jika dalam Wikipedia ditulis bahwa gubernur kamu adalah pelanggar hak azasi manusia, tetapi dalam situs lain ditulis bahwa gubernur kamu adalah pelindung hak azasi manusia, mana yang kamu percayai?

Wikipedia atau situs lain itu?

Bagaimana kamu menentukan mana yang salah dan mana yang benar?”

Dan … tulisan di Wikipedia yang kamu kirimkan kepadaku adalah kebohongan.

Kamu mengerti ini?

================================================================


Perdebatan pun berhenti. Dia tak punya jawaban apa pun lagi. Saya menunggu lama jawaban dari dia. Akan tetapi, dia tidak menjawab lagi. Saya berharap ada orang lain yang membantu dia. Namun, tak ada yang membantunya.

Ada yang mau bantu Si Ali Baba untuk menjawab pertanyaan saya?

Saya tunggu!

Kalau tidak ada yang bisa menjawab, berarti saya benar. Hal itu disebabkan saya selalu berupaya bersandar pada kebenaran Illahi yang disampaikan Junjunan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw.