Wednesday, 11 August 2021

Berdamai dengan PPKM

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita semua selalu berharap bahwa PPKM berakhir, tetapi kenyataannya tidak berakhir sampai hari ini. Hal itu menunjukkan bahwa masih sangat banyak bahaya yang bisa menyerang kita kapan saja. Pemerintah itu memiliki menteri kesehatan yang di bawahnya dipenuhi para dokter, ada para ahli epidemiolog, ada ahli kebijakan publik, ada ahli hubungan internasional, dan lain sebagainya. Dari masukan-masukan merekalah pemerintah mengambil kesimpulan, lalu menentukan keputusan yang kemudian dipastikan pelaksanaannya oleh aparat negara.

            Perpanjangan PPKM Level 2, 3, 4 yang diberlakukan di Pulau Jawa-Bali adalah menunjukkan bahwa kasus Covid-19 mengalami penurunan, terutama di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya penunjukkan dari pemerintah pusat wilayah mana yang harus ada di level 2, 3, atau 4. Artinya, pemerintah pusat menyerahkan kewenangan itu kepada kepala daerah masing-masing. Para gubernur, bupati, atau walikota yang harus menilai kondisi daerahnya masing-masing. Para kepala daerah itu yang lebih mengenal daerahnya sendiri dibandingkan pemerintah pusat. Oleh sebab itu, di Pulau Jawa dan Bali akan ada perbedaan level dalam pelaksanaan PPKM, bergantung situasi dan kondisi setiap daerah. Akan ada daerah yang sangat ketat, agak longgar, dan sangat longgar.

            Karena PPKM ini ternyata tidak juga diberhentikan, tak ada jalan lain bagi kita, kecuali berdamai dengan PPKM. Kita harus menjalani berbagai pembatasan itu hingga kita terbiasa dengan pembatasan itu. Tinggal kita menurunkan level PPKM itu dengan cara masyarakat melaksanakan 5M dan pemerintah melaksanakan 3T. Pemberontakan terhadap PPKM adalah hal yang sia-sia. Kita memang ingin terbebas, tetapi kita juga harus memikirkan orang-orang yang sakit, para Lansia, dan orang-orang rentan lainnya yang mudah sekali terserang virus. Untuk sementara, memang baru ada PPKM yang terbaik untuk dijalankan, belum ada cara lain yang bisa dilakukan. Kalau ada yang lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan dalam forum ilmiah, itu adalah sangat bagus. Akan tetapi, sampai hari ini tidak ada orang pintar, orang beriman, atau orang yang dianggap suci dan hebat yang mampu memberikan jalan keluar lain. Itu kenyataannya.

            Sebenarnya, dalam hidup ini kita sudah banyak dibatasi, tetapi kita sudah terbiasa dengan pembatasan itu dan memahami hal tersebut. Contoh kecil adalah di pantai.  Kalau kita ke Pantai Ancol, misalnya, ada pembatas yang dibuat oleh pihak pengelola agar wisatawan tidak berenang terlalu jauh karena membahayakan wisatawan sendiri. Kalau terlalu jauh, kita bisa tenggelam atau terhisap arus laut dan akhirnya menemui kematian. Demikian pula dengan rambu-rambu lalu lintas yang dibuat untuk menyelamatkan pengguna jalan, siapa pun dia. Jika kita tidak mematuhi pembatasan itu, risiko kematian akan kita tanggung dan orang-orang terdekat kita akan mengalami kesusahan. Begitu juga dengan PPKM yang dibuat untuk menyelamatkan kita, harus kita patuhi agar kita terhindar dari risiko kematian. Kita harus saling mengingatkan untuk mematuhi PPKM agar level PPKM di daerah kita dalam level yang sangat rendah. Dengan demikian, kita tetap beraktivitas, bekerja, berbisnis, tetapi kesehatan tetap terjaga dari bahaya Covid-19.

            Kalaulah ada yang bilang bahwa bukan PPKM yang menentukan hidup dan matinya manusia, tetapi Allah swt yang menentukannya, ya sudah cabut saja semua rambu-rambu lalulintas. Tak ada lagi lampu merah, kuning, hijau; tak lagi larangan belok kiri belok kanan; tak ada lagi pintu penjaga perlintasan kereta api; tak ada lagi peringatan pembatasan kecepatan. Biarkan semua orang berkendaraan semaunya, seenaknya, dan nikmatilah tabrakan beruntun dan kecelakaan di jalan raya, toh hidup dan mati itu Allah swt yang menentukan.

            Iya kan?

            Sesungguhnya, memang hidup dan mati itu Allah swt yang punya takdir, tetapi kita manusia wajib menjaga diri kita, hidup kita tetap sehat dan selamat agar dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri, bagi orang-orang terdekat, dan bagi manusia lainnya.

            Takdir itu urusan Allah swt. Urusan kita mah wajib menjaga diri kita dan orang-orang di seputar kita.

            Sampurasun.

Sunday, 8 August 2021

Jokowi Vs PDIP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Akhir-akhir ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sangat rajin mengkritik keras Presiden Jokowi. Pada dasarnya mengkritik itu boleh, bahkan harus, tetapi ada etikanya, ada tempatnya. Jokowi itu berasal dari PDIP dan dicalonkan menjadi presiden atas dukungan PDIP, artinya mereka itu memiliki hubungan yang khusus dan sangat erat seharusnya. Kalau PDIP ingin mengkritik, sampaikanlah dengan baik di tempat tertutup dan di lingkungan yang lebih pribadi karena sesama keluarga sendiri dalam partai dan politik, tidak perlu di tempat terbuka, apalagi di media massa dan media sosial. Berbeda dengan PKS yang menyatakan dirinya oposisi dan berada di luar pemerintahan. Wajar jika PKS mengkritik keras di media massa dan media sosial karena memang mereka oposan. Paling-paling, saling hantam dengan para pendukung Jokowi.

            Beberapa pengamat menilai bahwa perilaku aneh beberapa tokoh PDIP itu diakibatkan kekecewaan Megawati Soekarnoputeri dan anaknya, Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI itu. Mereka kecewa karena Jokowi lebih mempercayai menteri dari partai lain untuk memimpin penanganan Covid-19, bukan dari PDIP. Jokowi lebih memilih percaya kepada Luhut Binsar Pandjaitan dan Airlangga Hartarto yang berasal dari Partai Golkar karena telah melihat kerja-kerja keras keduanya. Kekecewaan Megawati dan Puan pun ditambah oleh Jokowi dan anaknya, Gibran yang kini menjabat sebagai Walikota Solo, lebih dekat dan akrab dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi untuk menjadi Presiden RI setelah Jokowi. Padahal, PDIP sedang menjual dan memasarkan Puan Maharani untuk menjadi Presiden RI pengganti Jokowi pada 2024. Sayangnya, Puan memiliki tingkat kepercayaan yang sangat rendah dari masyarakat untuk menjadi presiden. Hal-hal seperti itulah yang dianggap menjadi pemicu Puan sangat keras dalam mengkritik Jokowi di ruang-ruang publik.

            PDIP tahu bahwa Jokowi memiliki pendukung yang sangat banyak dan kuat, jumlah pemilihnya ada sekitar 85,6 juta orang. Jika Jokowi dan Gibran mendukung Ganjar Pranowo, para pengikut Jokowi yang sering disebut “Jokower” akan memberikan dukungan kepada Ganjar, bukan kepada Puan. Oleh sebab itu, Puan bersikap keras di ruang publik adalah tampak seperti untuk mencari dukungan dari orang-orang yang “anti-Jokowi”. PDIP berusaha untuk mendapatkan dukungan dari para pembenci Jokowi agar mendukung Puan untuk menjadi presiden.

            Pertanyaannya, maukah para anti-Jokowi menjadi para pendukung Puan?

            Berhasilkah PDIP menarik simpati dari para pembenci Jokowi?

            Hal yang jelas adalah PDIP telah mendapatkan perlawanan dari Jokower. Para Jokower dengan senang hati bertarung melawan PDIP. Mereka mengingatkan bahwa suara PDIP itu menjadi besar karena ada Jokowi di sana dan mereka menjelaskan bahwa memilih Jokowi bukan karena PDIP, tetapi karena rekam jejak keberhasilan Jokowi menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI, dan kepercayaan mereka semakin tinggi selama Jokowi menjadi presiden.

            Sesungguhnya, pemilihan presiden itu masih lama. Hal yang harus dikerjakan sekarang adalah bahu-membahu, bergotong royong untuk mengatasi pandemi dan meningkatkan ekonomi rakyat. Ingat tidak perlu sejak sekarang sudah mabuk kekuasaan dan bikin ricuh karena situasi sedang rumit dan dirasakan oleh umat manusia sedunia, terutama Indonesia.

            Sampurasun.

Saturday, 7 August 2021

Merah Putih Jangan Jadi Blackpink

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Persoalan warna pesawat kepresidenan Republik Indonesia sampai hari ini masih saja terus diperdebatkan. Aneh saya mah. Masalah kecil begitu terus saja diomongin. Padahal, mereka itu orang-orang pintar,  berpendidikan, jabatannya tinggi, dan uangnya banyak.

            Karena terus saja diributkan, saya usul bahwa warna pesawat kepresidenan RI wajib “merah putih” dan harus dijelaskan bahwa itu adalah warna bendera Indonesia, bukan warna dari hal lain. Agar semua orang mematuhinya, masalah warna itu harus dikukuhkan dan dikuatkan oleh undang-undang yang mengikat seluruh bangsa Indonesia. Jadi, siapa pun pemimpin Indonesa dan apa pun partai penguasa di Indonesia, warna pesawat RI wajib merah putih. Tidak boleh diganti dengan warna lain. Kalau ada yang mengganti, mereka berarti melanggar undang-undang dan harus dilengserkan.

            Jika tidak dikuatkan dengan undang-undang, bisa jadi nanti jika berubah presiden atau partai penguasa, berubah pula warnanya sesuai dengan warna partainya. Kalau partai warna kuning yang menang, nanti warna pesawat diganti lagi dengan warna kuning. Kalau warna partainya ungu, berubah lagi jadi ungu. Begitu seterusnya berubah warna sesuai dengan warna partai. Sekarang kan kenyataannya begitu, Partai Demokrat keukeuh pengen warna yang dulu, biru muda. Orang menilainya protes Demokrat karena partainya ada warna biru muda. Sementara itu, PDIP setuju dengan perubahan warna merah putih. Orang bisa menganggap hal itu karena warna partainya merah.

            Hal yang lebih lucu adalah jika nanti ada presiden yang diusung dua partai yang sama besarnya, warna pesawat diganti lagi dengan dua warna mereka. Partai yang satu punya warna dominan hitam dan partai yang satu lagi dominan merah muda. Kemudian, dicatlah pesawat itu sesuai dengan warna partai mereka. Jadilah pesawat RI itu Blackpink. Tinggal diterusin nyanyi sama joged saja kalau sudah begitu, ngikutin para penyanyi Blackpink.

            Adalah hal yang lebih kekanak-kanakan jika presiden Indonesia masa depan diusung oleh banyak partai dengan warna yang sangat beragam. Lalu, karena setiap partai merasa punya jasa yang sama besarnya, diubah lagi warna pesawat kepresidenan itu dengan rupa-rupa warna. Jadilah pesawat itu berwarna pelangi. Itu akan jadi satu-satunya pesawat kepresidenan di dunia yang berwarna pelangi.

            Ada bagusnya sih kalau warnanya pelangi. Warna itu akan disukai anak-anak di taman kanak-kanak. Lagu yang akan semakin populer kalau sudah begitu, ya lagu “Pelangi” itu.

            “Pelangi, pelangi, Alangkah indahmu

            Merah kuning hijau di langit yang biru ….”

            Yang masih sering menyanyikan lagu itu kan anak-anak TK. Kalau orang dewasa, sudah tidak, kecuali guru TK.

             Jadi ingat Gus Dur dulu ketika masih menjadi presiden. Dia pernah dimaki-maki gara-gara mengatakan bahwa DPR itu kayak anak-anak taman kanak-kanak. Gus Dur dituding telah menghina parlemen. Berminggu-minggu Gus Dur di-bully.

            Akan tetapi, kalau memang sampai terjadi terus-terusan ribut soal warna, bahkan tidak menutup kemungkinan hingga menjadikan warna pesawat RI berwarna pelangi, berarti Gus Dur sudah lebih dulu tahu bahwa mereka memang mirip anak-anak taman kanak-kanak.

            Sudahi ribut soal warna. Kuatkan dengan aturan bahwa warna pesawat kepresidenan RI wajib merah putih. Dengan demikian, siapa pun pemimpin di Indonesia nantinya, warnanya tetap tidak berubah, merah putih, itu adalah warna bendera Indonesia.

            Kalaulah ada yang mengatakan bahwa warna merah putih adalah warna Corona, mungkin dia sedang “Sakaw”, ‘sakit karena putaw”, gara-gara pernah digerebek polisi di hotel dengan barang bukti Narkoba, alat hisap sabu, dan kondom bergerigi, plus ada perempuan bukan muhrim.

            Sampurasun.

Friday, 6 August 2021

Jangan Banyak Demo, Jaga Keberhasilan Saat ini

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada dasarnya demonstrasi menyampaikan pendapat itu boleh, tetapi kita harus ingat bahwa kita masih berada dalam bayang-bayang pandemi Covid-19. Artinya, kegiatan demonstrasi itu bisa menyebabkan penularan virus. Kalaulah kita berani dan tidak peduli terserang Covid-19, tetapi masyarakat lain ada yang tidak berani dan sangat peduli terhadap kesehatannya. Jadi, kegiatan demo bisa mengganggu kesehatan masyarakat lainnya. Nanti saja kalau mau ramai-ramai ke jalan, jika situasi Covid-19, sudah benar-benar terkendali.

            Kita pun harus ingat bahwa masyarakat masih menderita, pemerintah masih pusing akibat Covid-19 ini, demonstrasi malah bisa memunculkan antipati dan ketidaksukaan masyarakat terhadap pihak-pihak yang memunculkan demonstrasi. Sebaiknya, dalam situasi seperti ini, cari kegiatan yang membantu rakyat dan pemerintah. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Beberapa Ormas dan BEM, termasuk BEM UI yang pernah menjuluki Jokowi “The King of Lip Service”, ‘Raja Janji di Bibir Saja’, sekarang menyatakan siap mendukung pemerintah dalam menanggulangi Covid-19.

            Hal yang lebih baik adalah menjaga situasi yang telah membaik, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Di wilayah ini kasus Covid-19 sudah turun dan terus menurun, mudah-mudahan semakin terkendali. Kita bisa lihat bahwa ada banyak kelonggaran, tidak seperti ketika PPKM Level 4 diberlakukan. Kalau di wilayah provinsi lain, mungkin masih ketat karena kasus Covid-19 masih tinggi.

            Di samping itu, Indonesia sekarang mengalami peningkatan ekonomi yang tinggi sekitar 7,7%. Ini mungkin masih bersifat nasional dan belum menyentuh ke masyarakat kecil. Untuk sampai ke masyarakat, harus banyak kegiatan pembangunan dan transaksi ekonomi di tengah masyarakat, tidak dengan cara membagi-bagikan uang. Masyarakat harus mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan berbagai akitivitas positif yang bisa menghasilkan uang.

            Jaga situasi agar Covid-19 semakin tertanggulangi dan manfaatkan berbagai kelonggaran untuk melakukan banyak hal positif agar kita semua dapat merasakan manfaatnya. Jangan banyak demo untuk saat ini, biarkan tenang dulu. Sibukkan diri dengan hal berrmanfaat. Kalau perlu demonstrasi, nanti saja kalau situasi sudah lebih kondusif.

            Sampurasun.




Thursday, 5 August 2021

Prank Menasional

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Prank itu artinya lucu-lucuan, senda gurau, kelakar, bercandaan, tetapi ada juga arti lain, yaitu menipu dan mengibuli. Di dunia ini, termasuk di Indonesia istilah prank memang sering digunakan untuk hal-hal yang lucu, main-main, misalnya, prank pocong, prank manusia semak-semak, atau prank polisi-polisian. Meskipun main-main, di dalamnya memang mengandung penipuan, tidak sebenarnya.

            Tak heran jika sekarang-sekarang ini istilah prank dialamatkan pada orang yang berbohong dan menipu. Ada banyak prank yang terjadi di Indonesia ini sejak zaman Soekarno sampai dengan hari ini yang sifatnya nasional, diketahui oleh masyarakat senegara. Kalau ditulis semua, bisa puluhan, bahkan mungkin ratusan prank yang terjadi dan berskala nasional.

            Prank yang terjadi akhir-akhir ini dan diketahui masyarakat luas adalah prank keluarga Akidi Tio yang akan menyumbang 2 triliun untuk masyarakat Sumatera Selatan yang terdampak Covid-19. Akan tetapi, sampai hari ini uang 2 T itu tidak jelas pencairannya. Masyarakat menunggu dan tidak ada buktinya. Itu telah disebut prank.

            Ketika penyerahan secara simbolis bantuan 2 T itu, banyak orang yang kaget dan mendukung niat dari keluarga Akidi Tio. Dia memastikan niatnya itu di hadapan Kapolda Sumsel, Gubernur Sumsel, aparat kesehatan, dan diviralkan oleh Humas Polda Sumsel. Mereka yang hadir pada acara itu orang-orang penting. Tak heran banyak orang bergembira, termasuk saya karena ada orang baik yang ingin membantu orang-orang yang sedang kesusahan disaksikan pejabat penting. Akan tetapi, akhirnya dia harus berurusan dengan kepolisian karena tidak ada buktinya.

Hal itu pun membuat saya harus menghapus tulisan saya dari blog dan FB saya tentang kebaikan keluarga itu. Hal itu disebabkan tidak sesuai dengan kenyataan dan bisa menyesatkan.

Kepolisian sudah lebih sigap untuk lebih memastikan nasib keluarga Akidi Tio. Salah satunya karena mereka pun harus membersihkan nama baik kepolisian yang digunakan sebagai media untuk menerima bantuan dari keluarga Akidi Tio. Itu tindakan yang sangat bagus, tidak merasa malu untuk bersikap bahwa mereka pun merasa ditipu.

Prank yang juga menasional adalah prank Ratna Sarumpaet yang mengaku digebukin sekelompok pemuda sampai wajahnya bengkak-bengkak. Padahal tipu. Wajah bengkaknya itu adalah akibat dari proses operasi plastik. Banyak yang tertipu. Anggota DPR sekelas Fadli Zon ikut tertipu dan menyebarkan berita itu ke masyarakat luas. Demikian pula banyak petinggi lain yang dulu pendukung Capres Prabowo tertipu. Ratna Sarumpaet pun harus dipenjara untuk mempertanggungjawabkan prank-nya itu.

Prabowo yang sekarang telah menjadi Menhan pun sempat menjadi korban prank ketika masih menjadi Capres. Dia diberi informasi prank bahwa dirinya telah menang unggul menjadi presiden mengalahkan Jokowi. Dia sempat sujud. Padahal, tipu.

Presiden Soekarno pun pernah kena prank pada 1950. Saat itu ada orang yang mengaku sebagai Raja dan Ratu dari Suku Anak Dalam yang bisa merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Ternyata, Raja yang bernama Idrus itu adalah tukang becak dan Ratu yang bernama Markonah adalah pekerja seks komersial. Media-media memberitakannya. Mereka pun ditangkap.

Pada zaman Presiden Soeharto pun ada prank yang mendapat perhatian masyarakat. Saat itu sekitar 1970-an ada seorang perempuan hamil bernama Cut Zahara  Fona. Dia mengaku bahwa janin yang ada di dalam perutnya bisa bicara dan pandai mengaji. Wakil Presiden Adam Malik pun mendengarkan suara itu dari perutnya. Bahkan, ulama besar sekelas Buya Hamka ikut berkomentar tentang hal itu. Akan tetapi, setelah diteliti, ternyata di kain perempuan itu ada tape recorder yang menghasilkan suara mengaji. Saat itu tape recorder masih barang mewah.

Pada zaman Presiden Megawati juga ada prank. Saat itu Menteri Agama adalah Said Agil Al Munawar. Mereka mempercayai ada seorang ustadz yang mendapat bisikan bahwa di sekitar batu tulis di Bogor ada harta karun Prabu Siliwangi. Harta itu bisa membayar hutang-hutang negara. Setelah dilakukan penggalian ternyata zonk. Tak ada harta karun itu.

Pada zaman Presiden SBY, sekitar 2007, ada seorang yang bernama Joko Suprapto yang mengaku bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Dimulailah proyek “Blue Energy” atau “Banyu Geni”. SBY sangat tertarik. Akan tetapi, akhirnya Joko mengaku bahwa dirinya berbohong dan meminta maaf.

Masih banyak prank lain yang berskala nasional. Akan tetapi, akan terlalu banyak jika ditulis di sini. Kita ambil hikmahnya saja. Kita harus mengakui bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sehebat apa pun kita, sepintar apa pun kita, setinggi apa pun jabatan dan kehormatan kita, pada akhirnya kita harus sadar bahwa kita ini rentan dan ringkih. Jika Allah swt tidak melindungi dan memberikan petunjuk, kita akan hidup dalam ketertipuan.

Allah swt Maha Pelindung. Dia Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Sampurasun.

Wednesday, 4 August 2021

Ganti Warna Cat Jadi Ribut Politik

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ini bagaimana sih para politisi kita, ganti cat pesawat kepresidenan RI saja kok ribut?

            Ini mah soal receh, remeh temeh, nggak perlu diributkan. Biasa saja atuhlah. Cuma ganti cat kok.

            Cerdas dikit kenapa sih?

            Ribut soal warna cat itu nggak bagus, bukan contoh yang baik bagi rakyat, terutama bagi generasi muda. Nanti anak-anak muda kita ngikutin meributkan hal-hal kecil yang sepele.

            Awalnya, pesawat kepresidenan warnanya biru muda-putih, sekarang berdasarkan rencana dua tahun lalu (2019) disepakati untuk mengganti warnanya menjadi merah-putih. Alasannya, supaya terlihat lebih elegan, lebih cerah, dan lebih tampak rasa nasionalismenya karena warnanya merah putih, warna bendera Indonesia.




            Perubahan warna cat ini diributkan oleh politisi Demokrat Andi Arief yang menurutnya lebih bagus warna biru muda-putih karena untuk keamanan presiden supaya melebur dengan warna biru langit sehingga musuh sulit mendeteksi. Tentu saja cuitan Andi Arief ini dibalas oleh serangan para buzzer pendukung Jokowi. Para buzzer ini merasa senang menyerang Andi Arief karena memang Partai Demokrat telah menyatakan perang dengan para buzzer.

            Menurut para buzzer, pendapat Andi Arief sangat lucu dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan karena mau warna apa pun kalau memang ada musuh, dideteksinya bukan berdasarkan warna. Mau warna apa pun, nggak masalah karena pesawat itu dideteksinya menggunakan radar yang tidak mengenal warna. Di samping itu, pesawat kepresidenan selalu ditemani oleh empat atau lima pesawat tempur sebagai pengamanan. Selain itu, politisi PDIP Arteria Dahlan ikut berkomentar dengan mendukung perubahan warna cat itu.

            Wajar jika rakyat seperti saya menilai perseteruan itu adalah soal kebanggaan partai. Demokrat warnanya biru, jadi ingin tetap biru. PDIP warnanya merah, jadi mendukung perubahan warna cat. Padahal, gagasan awalnya supaya seperti warna bendera Indonesia, merah putih, sehingga ketika ke luar negeri, orang asing mudah tahu bahwa itu adalah pesawat Indonesia dan rakyat Indonesia berbangga dengan hal itu.

            Menurut saya sih, kalau tidak setuju perubahan warna, seharusnya diributkan dulu ketika masih didiskusikan pada tahun 2019. Kalau sekarang, kan sudah disetujui dari dulu, tinggal dikerjakan. Perilaku seperti ini menunjukkan ketidakdewasaan dalam berorganisasi.

            Belajar dulu yang banyak deh supaya cerdas dan lebih teratur berpikir. Tidak meributkan hal sepele dalam waktu yang tidak semestinya.

            Yuk, belajar cerdas di Universitas Al-Ghifari bareng saya. Klik pmb.unfari.ac.id

Oh iya, foto pesawat yang warnanya biru muda-putih saya dapatkan dari nasional kontan, sedangkan yang merah-putih dari detikOto-Detikcom.

Sampurasun






Tuesday, 3 August 2021

Greysia Polii-Apriani Rahayu di antara Para Nyinyirun

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Greysia Polii dan Apriani Rahayu adalah pasangan ganda puteri badminton Indonesia yang telah meraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2020 setelah mengalahkan pasangan ganda puteri Cina, Cheng Qingchen dan Jia Yi Fan dua set langsung di Musashino Forest Sport Plaza, 2 Agustus 2021. Kemenangan mereka adalah kebahagiaan mereka sendiri, keluarga mereka, para pecinta bulu tangkis, para atlet, pemerintah Indonesia, dan rakyat Indonesia yang mencintai dan bangga terhadap negaranya.

            Di tengah banyak orang yang merasa bahagia, senang, dan seolah-olah dirinya ikut memenangkan pertandingan itu, tiba-tiba para nyinyirun merusakkan suasana dengan postingan-postingan lucu dan nggak jelas.

            Misalnya, ada postingan seperti ini, “Kami, rakyat tidak butuh medali emas, kami butuh makan!”

            “Percuma mendapat medali emas kalau rakyat kelaparan!”

            Postingan seperti ini tentu saja menggelikan dan tidak jelas.

            Siapa yang mereka nyinyirin?

            Greysia Polii dan Apriani Rahayu?

            Kalau nyinyir sama pemerintahan Jokowi dan Maruf Amin, orang-orang sudah terbiasa mendengar dan melihatnya. Akan tetapi, kalau nyinyir sama Greysia Polii dan Apriani Rahayu yang mendapatkan medali emas, aneh dan lucu jadinya.

            Apa hubungannya antara medali emas yang didapatkan Greysia Polii dan Apriani Rahayu dengan nyinyiran orang-orang yang pengen makanan?

            Kalau pengen makan, ya makan saja. Kalau enggak punya uang, ya kerja. Kalau belum berhasil, cari Bansos, minta atau pinjam sama kerabat, kenalan, atau tetangga, kan begitu biasanya orang hidup kalau dalam keadaan kesulitan. Hidup tidak selamanya mudah dan tidak selamanya sulit. Semuanya harus dihadapi dan dijalani.

            Greysia Polii dan Apriani Rahayu adalah dua perempuan yang hobi main badminton. Sejak kecil mereka rajin berlatih hingga kerap juara. Lalu, pemerintah dan klub memberikan fasilitas dan pembinaan hingga menjadi juara dunia dan mendapatkan medali emas. Terus, setelah mereka dapat medali emas, ada yang nyinyir.

            Apa urusannya?

            Bodor.

            Ada yang lebih lucu dan bodor lagi. Para politisi dan para elit yang biasanya nyinyir terhadap pemerintahan Jokowi dan Maruf Amin justru memanfaatkan kemenangan Greysia Polii dan Apriani Rahayu untuk narsis dan Pansos. Mereka bikin spanduk, banner, dan “e-flyer” yang besar-besar. Isinya mengucapkan selamat kepada Greysia Polii dan Apriani Rahayu yang telah meraih medali emas untuk Indonesia. Akan tetapi, di dalamnya ada foto dirinya yang sangat besar dan jelas, sedangkan foto Greysia Polii dan Apriani Rahayu ukurannya lebih kecil dibandingkan dirinya. Bahkan, ilustrasi Greysia Polii dan Apriani Rahayu ada yang hanya “silhouette”, ‘bayangan’ di belakang gambar politisi dan elit itu. Coba lihat dan cari sendiri siapa mereka itu, banyak sekali yang akting kayak begitu.

            Agak mendingan kalau mereka narsis seperti itu sambil memberikan dukungan pada pembinaan para atlet Indonesia. Akan tetapi, kalau kerjaannya cuma nyinyirin kebijakan pemerintah dan bikin ruwet situasi, lucu jadinya. Giliran berhasil, ikut numpang Pansos.

Akan lebih baik lagi jika mereka pun memberikan sumbangan yang nyata kepada Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Kalau enggak, mereka cuma penumpang yang nggak mau bayar. Mereka numpang beken sama kemenangan Greysia Polii dan Apriani Rahayu, tapi nggak mau bayar. Yang namanya numpang itu kan mestinya bayar.

Mereka seharusnya malu sama orang-orang yang sigap memberikan penghargaan dan sumbangan kepada Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Kalau pemerintah, jelas memberikan bonus 5 miliar. Beberapa kementerian inisiatif pula memberikan miliaran rupiah. Klub badminton dan para pengusaha memberikan sumbangan rumah dan apartemen. Belum lagi dari pemerintah daerah tempat mereka berasal, menghadiahkan rumah dan tanah. Para artis dan selebritis lainnya ada yang memberikan uang ratusan juta rupiah, kopi gratis seumur hidup, menghadiahkan dua cabang perusahaannya, dan masih banyak masyarakat yang memberikan hadiah kepada Greysia Polii dan Apriani Rahayu. Tidak numpang beken gratisan.

Greysia Polii dan Apriani Rahayu kebanjiran sangat banyak hadiah miliaran rupiah.

Daripada nyinyir dengan keluhan yang tidak jelas, mendingan kerja keras seperti Greysia Polii dan Apriani Rahayu yang hasilnya jelas bisa dirasakan mereka berdua sekarang. Para politisi nggak perlu ikutan narsis dan Pansos kalau tidak menyumbangkan apa pun bagi keberhasilan mereka, malu.

Sampurasun.

Monday, 2 August 2021

Takut

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Jangan takut Corona, takutlah kepada Allah swt!”

            Pernah dengar kalimat seperti itu?

            Banyak orang yang mengatakan hal seperti itu.

            Kalimat seperti itu sama saja dengan kalimat-kalimat berikut.

            “Jangan takut harimau, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut ular kobra, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut kereta api, takutlah kepada Allah swt!”

            “Jangan takut mobil dan motor, takutlah kepada Allah swt!”

            Sama saja kan kalimatnya?

Bedanya di mana?

            Jika dicari contohnya, akan ada banyak kalimat yang tidak jelas seperti itu. Hal itu diperparah dengan tidak adanya penjelasan yang komprehensif mengenai kalimat kusut semacam itu. Paling-paling penjelasannya adalah Corona itu ciptaan Allah swt, jadi kita harus yakin  bahwa Allah swt bisa menghilangkannya dan menghentikannya. Oleh sebab itu, minta tolonglah kepada Allah swt. Hal-hal seperti itulah yang biasanya dijelaskan meskipun tetap saja tidak jelas.

            Karena tidak ada penjelasan yang menyeluruh, masyarakat bisa salah memahaminya. Akibatnya, salah bertindak, misalnya, menyepelekan Covid-19, merendahkan Prokes, atau bersikap seenaknya, padahal situasinya sedang krisis pandemi.

            Meskipun demikian, anehnya, kalau dihadapkan sama harimau, mereka takut. Kalau nggak takut, bisa habis dimakan harimau. Kalau enggak takut sama ular kobra, bisa mati dipatuk. Kalau enggak takut sama kereta api, mereka akan santai menjalankan kendaraan melewati perlintasan kereta api sampai ditabrak kereta api dan tubuhnya berantakan. Kalau enggak takut sama motor dan mobil, mereka tidak akan tengok kiri-kanan ketika menyeberang di jalan raya sampai tubuhnya terpental, terkapar.

            Kalau sama harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor takut, kenapa jangan takut sama Corona?

Padahal, harimau, ular kobra, kereta api, mobil, dan motor itu ada tercipta karena kekuasaan Allah swt juga.

            Aneh kan?

            Sebetulnya, perasaan takut diciptakan dalam diri manusia itu adalah untuk melindungi manusia sendiri. Kalau tidak ada rasa takut, manusia bisa dimakan harimau, dipatuk kobra, ditabrak kereta api, mobil, motor, dan mengalami berbagai keburukan lainnya. Jadi, takutlah terhadap sesuatu yang memang seharusnya ditakuti. Tidak ada dosa untuk itu. Tidak akan rusak iman seseorang jika takut terhadap sesuatu yang layak untuk ditakuti.

            Takut terhadap makhluk jangan dicampuradukan dengan takut kepada Allah swt karena berbeda tindakan kita sebagai akibat dari rasa takut itu. Berbeda jauh sekali. Sikap manusia normal jika takut terhadap makhluk, adalah akan menghindari makhluk itu. Misalnya, jika takut harimau dan ular kobra, manusia selalu menjauhinya atau mencari cara untuk menguasai atau membunuhnya; takut terhadap kereta api, mobil, dan motor, manusia harus berhati-hati mengendarainya atau menyeberang di tempat perlintasan atau jalan raya.

            Demikian pula, terhadap Corona karena manusia takut terjangkit dan terpapar, harus mematuhi Prokes, melaksanakan 5M, 3T, dan mengikuti program vaksinasi. Kalau tidak takut, jangan salahkan siapa-siapa jika terkena Covid-19, lalu terkapar di rumah sakit.

            Berbeda dengan takut kepada Allah swt. Jika kita takut terhadap makhluk adalah berupaya menghindari atau mengalahkannya. Akan tetapi, jika kita takut kepada Allah swt adalah dengan cara mendekati-Nya, bukan dengan menjauhi-Nya. Justru jika menjauhi-Nya, berbagai kesusahan dan kerusakan akan menimpa diri kita.

            Takut terhadap makhluk, normal, caranya hindari atau kalahkan.

            Takut terhadap Allah swt, harus, caranya dekati Dia dan menyerahlah kepada-Nya.

            Sampurasun.

Perpanjangan PPKM

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya sih kalau bikin tulisan itu pendek, status pendek pun cukup asal bisa dipahami maksudnya. Akan tetapi, situasi dan kondisi seperti sekarang ini terkadang tulisan pendek atau status pendek  bisa menimbulkan salah pemahaman karena kurang lengkap. Akibatnya, status atau tulisan pendek itu harus diganti dengan yang lebih lengkap.

            Soal perpanjangan PPKM hingga 9 Agustus 2021 memang diumumkan dan diputuskan Presiden RI Jokowi. Akan tetapi, dia pun menjelaskan bahwa itu tidak terjadi di seluruh Indonesia, hanya di beberapa kota dan kabupaten tertentu. Hal itu bergantung dari situasi dan kondisi yang terjadi di setiap daerah.

            Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ada 45 kota/kabupaten dan 21 provinsi yang mengalami peningkatan kasus Covid-19. Di daerah-daerah itulah diberlakukan perpanjangan PPKM Level 4. Seluruh daerah itu berada di luar Pulau Jawa dan Bali. Hal itu berarti bahwa Pulau Jawa dan Bali tidak mengalami perpanjangan PPKM.

Penduduk Pulau Jawa dan Bali bisa bernafas lebih lega karena situasi membaik dan memang setelah pelaksanaan PPKM, angka kasus Covid-19 mengalami penurunan. Ada kelonggaran di Pulau Jawa dan Bali untuk kegiatan masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi. Masyarakat bisa lebih leluasa untuk berbisnis lagi. Akan tetapi, hal ini tidak menjamin bahwa Pulau Jawa dan Bali telah terbebas dari bahaya Covid-19. Oleh sebab itu, baik masyarakat maupun pemerintah harus sama-sama menjaga serta terus menekan penyebaran Covid-19 dengan tetap mematuhi Prokes, 5 M, 3 T, dan melaksanakan vaksinasi. Hal itu disebabkan jika kita tidak disiplin, situasi bisa menjadi buruk lagi, bahkan mungkin lebih buruk dan itu sangat merugikan semuanya.

Kalau semua berjuang keras dan tetap bersabar, situasi akan lebih cepat membaik. Setelah itu, kita harus membuktikan diri agar lebih rajin belajar dan lebih giat bekerja. Kalau setelah situasi membaik, tetapi kita tetap malas, tetap saja kita terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan. Ada PPKM atau tidak, kalau malas, ya tetap saja hidup susah.

Sampurasun.