Sunday, 1 December 2024

Siapa Bilang Islam Dikalahkan Sunda Wiwitan?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan mutlak Dedi Mulyadi dalam Pilkada 2024 Provinsi Jawa Barat lumayan meributkan media sosial. Ada yang bersuara menggunakan ilmu pengetahuan, ada juga yang bersuara menggunakan kebodohan.

            Dedi Mulyadi yang dipandang sebagai pemegang teguh ajaran Sunda Wiwitan dianggap telah mengalahkan Islam di Jawa Barat. Sungguh, saya pastikan orang yang berpendapat seperti adalah orang yang tidak memahami Islam dan sangat tidak memahami Sunda Wiwitan.

            Panjang sebenarnya kalau menulis hal ini, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Akan tetapi, sedikit saja saya jelaskan bahwa Sunda Wiwitan itu adalah sistem sosial yang digunakan leluhur Sunda dalam mengatur masyarakat, termasuk di dalamnya ada keyakinan yang monoteisme atau “bertuhan tunggal”. Oleh sebab itu, orang Sunda mudah sekali menerima Islam sebagai agama karena memiliki getaran yang sama dengan Sunda Wiwitan.

            Beberapa raja Sunda mencoba mengabadikan ajaran-ajaran Sunda Wiwitan dalam berbagai bentuk tulisan. Misalnya, sebagaimana yang direkam oleh “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

           “Dalam Agama Sunda Wiwitan, ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Itu satu kalimat dari Sunda Wiwitan yang pernah saya baca naskahnya. Kalau penasaran, nanti saya tambah lagi. Sayangnya, saya lupa menulis sumber naskahnya karena dulu saya kurang menganggap penting sumber tulisan, hanya mementingkan redaksinya. Insyaalah, kalau saya temukan sumbernya, saya share lagi.

            Pertanyaannya, adakah dari satu kalimat Sunda Wiwitan tadi yang bertentangan dengan ajaran Islam?

            Kalau ada, kasih tahu saya. Sangat senang saya mendiskusikannya. Kalau tidak ada, kalimat itu tidak bertentangan dengan Islam. Jadi, tidak benar Sunda Wiwitan mengalahkan Islam.

            Sampurasun.

Saturday, 30 November 2024

Ridwan Kamil Kalah Gara-Gara Habib?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang menganalisa kekalahan Ridwan Kamil-Suswono oleh Pramono Anung-Rano Karno disebabkan berbagai hal. Ada yang menyebutkan bahwa partai-partai pendukung Ridwan Kamil (RK) tidak solid dan terlalu sibuk untuk mengurus kemenangan di daerah lain; penolakan oleh pecinta Persija, Jakmania; kurang blusukan; mulai rapat dengan para habib.

            Saya merasa tertarik terhadap alasan kekalahan RK yang dikatakan mulai dekat dengan para habib, bahkan dikabarkan ada semacam kesepakatan di antara mereka. Sesungguhnya, untuk memahami hal ini diperlukan upaya survey yang jujur dan jernih sehingga mendapatkan simpulan yang juga lebih akurat. Harus ada observasi dan wawancara terhadap mereka yang meninggalkan RK, kemudian memilih yang lain.

            Apakah mereka meninggalkan RK karena para habib mulai merapat ke RK atau karena hal lain?

            Sekali lagi, itu perlu survey dan bukan ocehan-ocehan sok tahu.

            Meskipun demikian, memang ada hal menarik yang terjadi. Jauh sebelum Pilkada 27 November 2024, pasangan RK-Sus selalu berada di posisi puncak berada di atas pasangan Pram-Doel dalam survey-survey. Akan tetapi, sejak RK mulai hadir dalam majelis-majelis para habib Jakarta, angkanya menurun secara bertahap hingga kalah dalam versi hitung cepat.

            Beberapa akun media sosial menjelaskan bahwa mereka awalnya menyukai RK-Sus dan akan memilihnya, tetapi ketika para habib diterima dengan baik oleh RK untuk mendekat, mereka beralih hati, beralih pilihan. Mereka sangat tidak menyukai para habib dan melihat bahaya dari para habib, baik secara agama maupun secara sosial. Mereka memiliki simpulan kilat bahwa RK akan lebih mengukuhkan posisi para habib di masyarakat dan itu sangat tidak disukai banyak orang.

Kita harus maklum bahwa para habib ini sedang tidak disukai mayoritas rakyat Indonesia. Tandanya bisa kita lihat bahwa kegiatan-kegiatan para habib, seperti, 212, 411, dan lain sebagainya sudah sangat sepi peminat. Bahkan, Dedi Mulyadi pemenang Pilkada Jawa Barat mendapat dukungan mayoritas rakyat Jabar untuk menghentikan perilaku oknum para habib yang dianggap arogan dan mengganggu masyarakat.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan kedekatannya dengan para habib, sesungguhnya RK tidak salah, kesalahannya adalah RK menganggap bahwa seluruh rakyat memahami yang dia lakukan, padahal rakyat bisa punya pandangan yang berbeda. RK tidak menjelaskan sikap dirinya menghadiri undangan para habib dan menjelaskan kehadirannya di lingkungan para habib.

Sebagai seorang pemimpin, RK sudah benar. Pemimpin itu harus mengayomi, melindungi, membimbing, melayani, dan mengarahkan seluruh komunitas di dalam kehidupan rakyat. Para habib itu adalah bagian dari rakyat juga. Mereka juga harus diperlakukan sama seperti rakyat lainnya. Hak dan kewajiban para habib juga harus dijamin dan dilindungi sebagaimana rakyat kebanyakan. Tak boleh dipinggirkan sekaligus tidak boleh diistimewakan, biasa saja. Kalaulah para habib dipandang sebagai sebuah komunitas yang dianggap mengganggu, itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing para habib agar bisa berbaur dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta.

Meskipun sekarang ini banyak orang yang tidak menyukai para habib, tidak boleh berlebihan, jangan menyuarakan mereka untuk diusir ke Yaman misalnya. Para habib juga harus introspeksi diri karena terlalu membanggakan diri dan leluhurnya hingga menyakiti rakyat. Tidak semua habib sih, tetapi oknumnya banyak. Itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing rakyatnya.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan membuka diri kepada para habib, jelaskan saja bahwa pemimpin itu harus bertanggung jawab terhadap seluruh komunitas dalam rakyat. Ridwan Kamil memang tampaknya lupa menjelaskan hal ini kepada rakyat.

Sampurasun

Wednesday, 27 November 2024

Imad-Dedi Runtuhkan para Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sudah menjadi kenyataan dan tidak bisa ditolak bahwa Kiyai Imad telah meruntuhkan keyakinan atas silsilah atau nasab kaum Baalawi yang dianggap menyambung ke Nabi Muhammad saw. Imad dengan tesis ilmiahnya telah menyadarkan banyak sekali orang bahwa Baalawi yang dikenal dengan para habib itu ternyata sama sekali bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Hasil penelitian Imad itu tidak mendapatkan bantahan yang setara hingga hari ini. Tak ada tesis atau karya ilmiah yang mengalahkan penelitian Imad, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Para ulama dalam dan luar negeri tak memiliki data, fakta, dan analisis yang tepat untuk membantah Kiyai Imad. Penelitian Imad bagai “snow ball”, ‘bola salju’ yang asalnya kecil menggelinding terus hingga membesar. Hal-hal yang tersisa dari para habib itu hanyalah dongeng-dongeng kesaktian kosong, seperti, menurunkan rantai emas dari langit, bolak-balik 70 kali dalam semalam ke langit, dan mengirim surat ke malaikat Munkar-Nakir supaya tidak disiksa dalam kubur.

            Dedi Mulyadi lebih menjelaskan situasi bahwa para habib itu ternyata tidak ada apa-apanya secara politik, mereka tidak memiliki kekuatan yang hebat. Dedi berulang-ulang menyerang dan menantang mereka dalam berbagai pidato, bahkan semakin sering ketika dalam kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024. Dedi tidak takut kehilangan suara dari para pecinta habib. Dedi malah menyadarkan rakyat, khususnya Sunda agar bangga dan kembali pada ajaran leluhurnya yang memiliki nilai-nilai keadaban yang tinggi. Meskipun diserang sebagai musyrik, sesat, zalim, kafir, dan sebagainya, Dedi tetap ajeg pada keyakinannya. Dia menyadarkan rakyat agar jangan mau dijajah para pendatang yang membanggakan leluhurnya, lalu ingin dianggap mulia sehingga rakyat harus tunduk, bahkan memberikan hartanya untuk para pendatang itu. Berbagai hasil survey, exit poll, quick count, dan teknik lain dalam menghitung jumlah pemilih dalam Pilkada 2024 menunjukkan bahwa Dedi memuncaki kepercayaan rakyat Jawa Barat di atas 60%. Itu menjelaskan bahwa para habib itu tidak dipercayai rakyat mayoritas muslim Jawa Barat sebagai keturunan Nabi saw. Hal yang lebih menarik adalah Dedi membuat video reels yang menantang siapa pun untuk tidak memilih dirinya, tetapi jangan melarang dirinya untuk menyembah apa pun yang dia yakini. Uniknya, rakyat Jawa Barat ternyata memilih dirinya untuk memimpin Provinsi Jawa Barat.

            Hal-hal yang dilakukan Imad dan Dedi telah meruntuhkan para habib yang dulunya sangat ingin dipuja sebagai keturunan Nabi saw. Jawa Barat yang merupakan wilayah mayoritas para habib telah menunjukkan bahwa para habib itu sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Kalaulah diancam kafir, sesat, hingga masuk neraka, rakyat tidak peduli. Rakyat memiliki keyakinannya sendiri. Para habib itu telah runtuh dengan penelitian Kiyai Imad dan perolehan suara Dedi Mulyadi dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024.

            Sampurasun

Saturday, 16 November 2024

Oleh-Oleh Debat Calon Gubernur Jabar 2024

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada dua oleh-oleh yang didapatkan setelah menghadiri undangan acara debat Cagub-Cawagub Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan pada 11 November 2024 bertempat di Graha Sanusi Hardjadinata, saya menyebutnya aula Unpad, Dipati Ukur. Itu memang aula universitas yang dulu saya sering menggunakannya ketika masih menjadi mahasiswa Unpad, mungkin juga saya akan menjadi mahasiswa Unpad lagi, insyaallah.

            Oleh-oleh yang pertama jelas biasa seperti kebanyakan orang, yaitu bingkisan yang isinya maskot Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, buku catatan bersampul kulit, dan gantungan kunci bermotif barcode KPU. Maskot KPU Jabar adalah “Bara”, yaitu harimau berloreng kuning. Ada dua bara, yaitu bara jantan dan bara betina. Bara jantan bernama “Sili”, sedangkan yang betina bernama “Wangi”. Jika digabungkan, maskot KPU Jawa Barat bernama “Siliwangi”, sebagai perlambang keberanian, keteguhan, dan kekuatan yang dipadu oleh ajaran “sili asih, sili asah, sili asuh”; saling menyayangi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing.


Oleh-oleh Debat Cagub-Cawagub Jawa Barat 2024


            Oleh-oleh yang kedua adalah sosok pemenang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Tentu saja, itu berdasarkan hasil analisa saya setelah hadir dalam perdebatan tersebut. Mereka yang berdebat adalah Paslon No. 1 Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwinatarina; No. 2 Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja; No. 3 Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie; No. 4 Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan.

            Dari perdebatan tersebut, saya menyaksikan seluruhnya orang-orang cerdas, punya banyak pengetahuan, tak ada yang bodoh. Di samping itu, semua punya banyak program dan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Provinsi Jawa Barat.

            Kalau begitu, siapa pemenangnya?

            Karena semua cerdas dan punya program hebat, rakyat sulit mencari kelemahan daya pikir dan hasil pemikiran mereka. Rakyat tidak akan berlelah-lelah untuk memikirkan siapa yang paling cerdas dan hebat. Rakyat hanya akan melihat, merasakan, untuk selanjutnya memilih sosok yang paling dekat dengan rakyat. Calon gubernur yang sudah dekat dengan rakyat, dianggap telah memberikan manfaat kepada rakyat, terasa langsung kehadirannya oleh rakyat, sosok ini sudah ada secara otomatis dalam hati rakyat. Dialah pemenangnya.

            Sesungguhnya, seluruh pasangan calon memiliki rakyat pendukungnya. Seluruh calon sudah ada dalam hati rakyat. Persoalannya, jumlah pemilih di Jawa Barat ini ada sekitar 35 juta orang. Dari jumlah sebanyak itu, akan terbagi suaranya kepada setiap Paslon. Paslon yang paling sering berdekatan dengan rakyat itulah pemenangnya. Dia yang akan meraih suara terbesar dari 35 juta pemilih.

            Simpan tulisan saya ini. Lalu, buktikan pada hasil pemilihan 27 November 2024.

            Sampurasun.

Saturday, 9 November 2024

Ditinggal Prabowo Dua Minggu, Gibran Ditemani Sang Ayah Mengendalikan Negara

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sekitar dua minggu Presiden RI Prabowo melakukan berbagai kunjungan ke luar negeri. Selama itu pula Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menggantikan posisi Prabowo di dalam negeri sebagai pucuk pimpinan eksekutif. Begitu aturannya.

            Hal yang menarik adalah ketika Presiden Prabowo terbang ke luar negeri, Presiden ke-7 RI Jokowi segera merapat ke Jakarta dengan alasan ingin bermain dengan cucu di mall. Kita masih bisa mengingat bahwa Jokowi pernah mengatakan ingin tidur, istirahat di kediamannya di Solo. Akan tetapi, ketika anaknya, Gibran, ditinggalkan Prabowo untuk beberapa waktu menjalankan tugas negara, Jokowi tidak lantas istirahat di Solo. Dia ke Jakarta mendekat ke Gibran, anak sulungnya.

Jokowi bersama cucu-cucunya (Foto: detikcom)

            Foto Jokowi bermain di mall bersama Jan Ethes dan La Lembah Manah saya dapatkan dari detikcom.

            Seolah-olah Jokowi memonitor, menjaga, dan berada dekat untuk memberikan kekuatan, mem-back up Wakil Presiden dalam menjalankan tugas kepemerintahannya. Dia akan bersegera ada jika anaknya merasakan adanya kesulitan atau membutuhkan arahan dalam mengelola negara. Jokowi ingin memastikan bahwa anaknya tetap dalam koridor visi dan program Presiden Prabowo Subianto.

            Salahkah apa yang dilakukan Jokowi?

            Tak ada yang salah.

            Begitulah seorang ayah yang selalu berusaha memastikan kesuksesan dan kebaikan anaknya. Wajar jika seorang ayah selalu mempersiapkan dirinya untuk membantu anaknya. Wajar juga jika seorang anak mengalami kesulitan, mendekat dan meminta nasihat, bahkan bantuan ayahnya.

            Iya toh?

            Begitulah yang namanya keluarga.

            Saya juga begitu kok. Saya juga seorang ayah. Anak pertama saya sudah menjadi aparatur sipil negara (ASN) dan sudah bisa membiayai dirinya sendiri, bahkan membantu orang lain. Anak kedua saya baru lulus kuliah dan mencoba mendapatkan jalan untuk menapaki masa depannya. Saya tetap memonitor, menjaga, dan membantu mereka. Malah, saya kerap bertanya apakah mereka mengalami kesulitan agar saya bisa membantu mereka jika mereka ingin bantuan. Sampai hari ini juga begitu kok. Tak ada yang salah dengan itu semua.

            Seorang ayah wajar jika terus melindungi anaknya. Demikian pula seorang anak sangat wajar jika merasa letih mendekat kepada orangtuanya untuk mendapatkan kembali kekuatan. It’s oke, normal, malah bagus dalam menguatkan jalinan ikatan keluarga.

            Jokowi dan Gibran adalah ayah dan anak kandung. Bagus sekali jika mereka terus berhubungan saling menguatkan dan saling mengingatkan.

            Sampurasun.

Sunday, 27 October 2024

Dunia Berharap Jokowi Kendalikan Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada banyak media, akademisi, politisi, bahkan pejabat negara-negara asing yang menyoroti Presiden RI Prabowo Subianto, baik profilnya, kebijakan-kebijakannya, dan kemungkinan-kemungkinan gerakannya pada masa depan. Mereka, pihak asing, mengenal Prabowo sebagai orang yang sangat ambisius, tegas, garang, tangguh, mencintai rakyatnya, dan menjaga kedaulatan negaranya dengan harta dan nyawanya. Hal ini membuat mereka khawatir karena akan mempengaruhi hubungan antarnegara selama kepemimpinan Prabowo. Ada getaran ketakutan dari suara, pendapat, dan pandangan mereka terhadap Prabowo Subianto.

            Mereka memandang Prabowo belum memiliki kemampuan diplomasi yang baik dalam berhadapan dengan dunia yang akan berakibat Prabowo hanya mementingkan Negara Indonesia dan merugikan negara-negara yang ingin mendapatkan keuntungan dari Indonesia. Oleh sebab itu, ada harapan dari mereka bahwa Jokowi dapat memberikan “pencerahan” kepada Pabowo dalam berdiplomasi dengan dunia luar.


Prabowo & Jokowi (Foto: News)

            Ini sangat lucu sebenarnya. Mereka sendiri sudah sangat kesulitan menghadapi Jokowi yang berani menantang, bahkan “berkelahi” langsung dengan Uni Eropa. Program hilirisasi Jokowi sudah bisa membangkrutkan banyak negara yang selama ini mengambil kekayaan alam Indonesia dengan tidak adil. Akan tetapi, tiba-tiba mereka berharap Jokowi dapat mengendalikan Prabowo karena akan lebih kuat dan keras dalam berhubungan dengan dunia luar. Prabowo tidak akan membiarkan alam Indonesia terkuras hanya untuk menguntungkan negara lain tanpa rakyatnya mendapatkan keuntungan juga. Mereka memandang Jokowi masih “bisa diajak bicara” dalam arti tidak terlalu sangar.

            Mereka keliru sebenarnya. Jokowi memang mulai keras terhadap dunia luar agar rakyat Indonesia mendapatkan keuntungan dari setiap hubungan internasional, tetapi Prabowo akan lebih keras lagi dalam membela rakyatnya sendiri. Dunia harus menerima hal ini sebagai kenyataan. Rakyat Indonesia harus bersiap pula menghadapi reaksi asing akibat dari banyak kebijakan Prabowo Subianto. Ini memerlukan wawasan, pengetahuan yang luas, dan mental baja.

            Apapun yang terjadi, kenyataan menunjukkan bahwa kekuatan Prabowo yang didorong dukungan Jokowi akan membuat kekuatan baru di kancah pergaulan internasional. Rakyat Indonesia dan dunia luar harus mulai membiasakan diri dengan perubahan ini.

            Tidak harus bertarung dengan mereka karena membutuhkan biaya tinggi, sebaiknya bekerja sama dan menumbuhkan saling pengertian jauh lebih baik.

            Foto Jokowi dan Prabowo saya dapatkan dari News.

            Sampurasun.

Thursday, 5 September 2024

Imam Besar Istiqlal dan Pemimpin Gereja Katolik Dunia Saling Cium

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang surya

Seharusnya, tidak ada yang gerah atau kepanasan dengan peristiwa saling cium antara Imam Besar Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia sekaligus Kepala Negara Vatikan Paus Fransiskus. Itu adalah momen luar biasa yang menunjukkan persahabatan, perdamaian, dan persaudaraan. Tak perlu lagi ada rasa saling curiga atas dasar agama. Semua harus bekerja sama untuk kepentingan semua manusia di muka Bumi.

            Imam Besar Istiqlal mencium kepala Paus dua kali. Paus Fransiskus membalas mencium tangan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dua kali pula.




            
Sejarah manusia sudah berulang-ulang berdarah-darah dan menimbulkan banyak kerusakan serta kehilangan nyawa atas dasar perbedaan agama yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Setiap hari kita harus memperbaiki diri, kehidupan, serta hubungan di antara sesama manusia. Pada dasarnya kita semua berasal dari Zat Yang Satu, Allah swt. Perbedaan agama dan keyakinan adalah kenyataan yang harus kita terima. Soal siapa yang paling benar dan paling berhak mendapatkan surga, itu urusannya nanti di akhirat. Semua orang berhak meyakini kebenaran agamanya masing-masing, tak perlu memaksakan keyakinan kepada orang lain. Selama kita hidup di dunia ini dalam mempertahankan hubungan baik di antara manusia adalah toleransi, berbuat baik, dan memberikan manfaat kepada banyak orang sesuai kapasitas diri masing-masing. Soal praktik ritual, biarlah pemeluk agama masing-masing melakukannya karena pada dasarnya setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing.

            Selama kita hidup di dunia adalah teramat mulia kita menjaga kehidupan yang damai, harmonis, dan menyenangkan.

            Kedua foto itu saya dapatkan dari detik com.

            Sampurasun.

Thursday, 15 August 2024

Anies Harus Berani Seperti Dharma Pongrekun

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Anies Baswedan yang sudah kalah dalam Pilpres RI 2024, kembali menemui jalan hampir buntu untuk menjadi gubernur Daerah Khusus Jakarta (DKJ) melalui jalur partai. Partai-partai pendukungnya sudah tidak lagi tertarik untuk menjagokan Anies sebagai pejabat politik. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selama ini sangat rapat dengan Anies pun sudah malas, bahkan merapat ke Prabowo-Gibran. Hal ini sangat wajar karena syarat untuk menjadi calon gubernur DKJ itu harus memiliki 22 kursi di DPRD DKJ. Sementara itu, PKS hanya punya 18 kursi suara, kurang 4 suara. Di samping itu, Anies tidak memiliki kemampuan untuk menambah suara itu dari partai-partai lain. Akibatnya, Anies bisa gagal, jangankan untuk menang, untuk daftar saja sudah ditolak.

            Jika benar-benar seluruh partai sudah menolaknya, hanya ada satu pilihan buat Anies mendaftar sebagai calon gubernur, yaitu melalui jalur independen atau perorangan. Kalaulah benar apa yang dikatakan pendukungnya bahwa Anies tidak butuh partai, justru partai yang membutuhkannya, sekarang tampak nyata bahwa partai tidak membutuhkan Anies. Kalaulah memang benar Anies paling tinggi dukungannya dari rakyat Jakarta, tidak akan sulit bagi Anies untuk daftar dari jalur perorangan. Dia tidak akan sulit mengumpulkan dua juta KTP rakyat Jakarta sebagai dukungan baginya maju sebagai calon gubernur DKJ. Hal itu disebabkan menurut hasil berbagai survey, Anies mendapati posisi tertinggi dukungan rakyat Jakarta, posisi kedua ditempati Ahok, dan peringkat ketiga ditempati Ridwan Kamil.

            Calon gubernur DKJ yang sudah nyata mendapatkan dukungan mayoritas partai adalah Ridwan Kamil (RK), tinggal menanti siapa yang mampu melawannya. Sebetulnya, sudah ada yang berani melawan RK, yaitu Dharma Pongrekun yang sudah dinyatakan bisa dan lolos untuk menjadi calon gubernur DKJ. Dharma sudah mampu mengumpulkan 1,7 juta KTP rakyat Jakarta untuk melawan Ridwan Kamil. Dharma mencalonkan diri melalui jalur independen atau perorangan, tanpa partai.

(Foto: Pelita Kota News)

            Sementara itu, Anies masih berdebat dengan PKS. Para pendukung Anies malah marah-marah dan maki-maki PKS. Bahkan, mulai meminta Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk mendukung Anies. PDIP pun tak akan bisa menolong Anies kalau sendirian, butuh partai lain karena suaranya kurang.

            Sudahlah, daripada menyalahkan atau menghujat partai-partai, sebaiknya Anies mendaftar lewat jalur perorangan dan para pendukung setianya menyatakan kesiapannya untuk membantunya dengan memberikan dukungan berupa KTP. Jika melihat survey Anies yang mendapatkan dukungan dari 30,7% suara rakyat Jakarta, tak sulit bagi Anies untuk mengumpulkan dua juta KTP sebagai bukti layak menjadi calon gubernur.

            Begitu sebaiknya jika Anies Baswedan ingin ikut bertarung dalam Pilkada DKJ 2024.

            Foto Dharma Pongrekun saya dapatkan dari Pelita Kota News.

            Sampurasun

Sunday, 11 August 2024

Ke IKN Yuk, Pak!



oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Murid-murid saya, baik yang lulusan aliyah, maupun perguruan tinggi, banyak yang punya semangat untuk pergi ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan meraih masa depan yang penuh tantangan dan lebih baik. Saya sangat yakin keinginan mereka itu berasal dari diskusi-diskusi ringan dengan saya, di antara mereka sendiri, dan mendapatkan informasi dari mana-mana.

            Saya hanya menjawab singkat keinginan mereka, “Kalau saya seusia kalian, saya enggak akan banyak mikir. Segera berangkat ke IKN!”

Ibu Kota Nusantara, IKN (Foto: Sembaridinas)

            Segera itu bukan berarti besok atau minggu depan, melainkan mulai serius mencari informasi lebih akurat, mengukur kemampuan diri, dan mempersiapkan diri untuk segera berjuang di IKN. Berhitung lebih serius untuk ikut membangun diri dan bangsa di IKN.

            Dalam hitungan saya, akan sangat banyak lapangan kerja di IKN. Kalau presiden berkantor di sana, para menteri pasti ikut, menyusul pula para anggota DPR, dan lembaga kehakiman. Sudah pasti pula anggota Polri dan TNI. Para ASN pun akan menata birokrasi di sana. Mereka itu punya keluarga.

            Mereka sudah pasti butuh makanan dan jajanan, maka akan lahir bisnis kuliner. Mereka butuh pakaian, pasti akan lahir bisnis pakaian, kain, dan jahit. Mereka butuh hiburan, lahir pula bisnis wisata. Mereka punya anak-anak, lahir pula lembaga-lembaga pendidikan mulai play group, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan perguruan tinggi. Mereka punya kendaraan, pasti butuh perbengkelan hingga tambal ban.

            Semakin banyak orang berada di sana, semakin banyak bisnis yang berkembang. Itu artinya ada perputaran uang di sana. Ada kegiatan menguntungkan di sana.

            Para santri atau ahli agama harus pula ada di sana untuk memberikan pencerahan agar tidak salah jalan dalam melangkah. Akan tetapi, hal yang harus diingat, di sana wajib dilarang keras orang-orang yang suka mengaku-aku keturunan Nabi saw atau bikin-bikin makam keramat palsu karena itu adalah kedustaan yang menyesatkan dan merugikan perkembangan umat, merusakkan negara.

            Pendek kata, di IKN akan ada banyak peluang mendapatkan pekerjaan dan untung. Saya sangat suka anak-anak muda yang punya visi ke depan dan penuh optimisme. Mereka yang suka nyinyir akan ketinggalan dan terlindas zaman.

            Para penyinyir dan pesimis sudah jelas berulang-ulang runtuh memalukan. Dulu bilang Kalimantan adalah tempat jin buang anak, IKN tetap dibangun. Mereka bilang IKN adalah proyek mangkrak, IKN jalan terus. Kata mereka istana IKN adalah istana hantu, nyatanya orang kuat yang berada di sana bersama orang-orang yang punya harapan ke depan. Justru para penyinyir yang berkali-kali kalah itu menjadi hantu bergentayangan pada berbagai Medsos. Hantu itu cuma banyak omong, kenyataannya tidak ada, tidak punya karya, kecuali nakut-nakutin orang. Manusia-manusia ini sudah terjatuh dan ingin ditemani orang banyak untuk bersama-sama jatuh. Jangan ikuti mereka.

            Foto IKN saya dapatkan dari Sembaridinas.

            Anak-anak muda harus optimis. Indonesia itu luas. Sekarang dibuka lahan baru untuk berkarya dan bekerja di IKN. Manfaatkan kesempatan itu untuk menjadi orang yang bermanfaat, baik bagi diri, orang lain, maupun alam sekitar. Kata Nabi Muhammad saw, orang yang paling baik itu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

            Sampurasun.