Saturday, 23 August 2014

Jokowi-JK Tak Perlu Gentar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Pilpres 2014 sudah selesai, Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan, kampanye sudah lama berakhir. Tugas dan tanggung jawab besar menanti. Membentuk pemerintahan beserta strukturnya yang jelas, efektif, dan efisien adalah hal yang teramat perlu dilakukan dengan hati-hati secara cerdas.

            Jokowi-JK tak perlu gentar dengan pernyataan Koalisi Merah Putih yang menyatakan dirinya solid serta berkehendak di luar pemerintahan. Koalisi Merah Putih memang memiliki orang-orang cerdas dan berkualitas tinggi, tetapi hal itu jangan membuat diri terlalu terkejut. Jangan pula gentar dengan kekuatan politik Koalisi Merah Putih yang sangat besar di parlemen. Semua pihak memiliki hak untuk berada dalam posisinya masing-masing, apakah itu menjadi pendukung pemerintah atau menjadi oposisi.

            Hal yang harus dilakukan Jokowi-JK adalah membuktikan diri bahwa timnya mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan mewujudkan janji-janjinya selama kampanye dengan sempurna. Orang-orang berkualitas itu banyak, bukan hanya ada dalam Koalisi Merah Putih, pendukung Jokowi-JK pun banyak yang hebat. Di luar Koalisi Merah Putih dan Tim Jokowi-JK pun lebih banyak lagi yang berkualitas. Jangan kecewakan rakyat dengan perilaku busuk yang mungkin terjadi. Toh, kita sudah berpengalaman selama kepemimpinan SBY bahwa orang-orang yang mengampanyekan antikorupsi, ternyata mereka juga yang terlibat kasus korupsi. Hal itu sangat memalukan. Artinya, jika selama kampanye akan menyejahterakan rakyat, jangan ada pihak dari Jokowi-JK yang malahan menggerogoti rakyat dan menjual aset-aset bangsa secara memalukan. Rakyat sudah sangat muak dengan penggadaian aset-aset bangsa kepada pihak asing.

            Biarkan orang-orang dalam Koalisi Merah Putih menjalankan tugasnya sebagai penyeimbang, oposisi. Jangan mencoba-coba mengajak mereka ke dalam pemerintahan. Perilaku mengajak, merayu, bahkan mungkin mengemis kepada Koalisi Merah Putih hanya akan menunjukkan kepada rakyat bahwa Tim Jokowi-JK memang lemah dan kurang memiliki SDM berkualitas. Buktikan diri bahwa pemerintahan Jokowi-JK berada pada rel yang benar dan benar-benar prorakyat, bukan seperti yang banyak dicurigai banyak orang, yaitu menguntungkan bangsa asing.

            Jangan gentar, jangan takut kalau memang benar. Sehebat apa pun orang-orang dari Koalisi Merah Putih, sebesar apa pun kekuatan politik mereka tak akan berpengaruh apa-apa jika pemerintahan Jokowi-JK benar-benar memakmurkan rakyat dan menggunakan energi internasional untuk sebesar-besarnya kemajuan bangsa. Sekeras apa pun kritik yang dilontarkan pihak oposisi, tidak akan menghambat program pembangunan bangsa dan negara, kecuali jika memang benar kecurigaan banyak orang bahwa pemerintahan Jokowi-JK akan menguntungkan pihak asing. Kalau memang seperti itu, pemerintahan tidak akan selamat sampai lima tahun, bahkan akan terjadi huru-hara, suatu kondisi yang tidak diiinginkan semua orang.

            Saya yakin Jokowi-JK tidak takut kritik dan tidak takut diawasi. Toh, Jokowi sendiri mengajak para Relawan Jokowi untuk ikut mengawasi program-program pembangunan. Memang kritikan dan pengawasan yang akan dilakukan pihak oposisi akan lebih keras dibandingkan para relawan, tetapi itu bukan masalah yang terlalu heboh, biasa saja, tinggal membuktikan diri bahwa program kerja yang dijalankan adalah benar untuk rakyat Indonesia dan dilaksanakan secara jujur jauh dari perilaku korup.


            Jokowi-JK hanya tinggal memandang ke depan, memanfaatkan SDM yang ada dan mempersilakan Koalisi Merah Putih untuk berperan serta dalam pembangunan sebagaimana posisinya, oposisi. Peranan pemerintah yang sah dengan disertai oposan konstruktif akan membuat Indonesia benar-benar terkawal menuju cita-cita pembangunan nasional indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila. Manusia Indonesia yang utuh itu adalah yang makmur lahir dan makmur batinnya dalam kerangka Pancasila.

Koalisi Merah Putih Jangan Mau Dirayu Tim Jokowi-JK


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Suka atau tidak, pemenang Pilpres 2014 adalah Jokowi-JK. Itu sudah keputusan final yang sangat sulit untuk diubah. Setuju atau tidak, Jokowi adalah Presiden RI ke-7 dan Jusuf Kalla adalah Wakil Presiden RI ke ... ke berapa coba? Ayo tebak! Nggak hapal kan? Pasti nggak hapal karena kurang menghargai sejarah bangsa. Ke-12 tahu! Jumlah Wapres RI aja nggak hapal, apalagi kalau diminta menyebut namanya satu per satu dari Wapres ke-1 sampai ke-12, lebih nggak ngerti lagi.

            Untuk menjadi pelayan rakyat selama lima tahun ke depan, jelas memerlukan tim solid yang cerdas, cekatan, berdaya kerja tinggi, dan bla ... bla ... bla .... Jokowi-JK memerlukan orang-orang berkualitas dalam pemerintahannya untuk mewujudkan janji-janjinya sekaligus menunaikan amanat Pembukaan UUD 1945. Orang-orang hebat berkualitas itu banyak sekali yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Tak heran banyak pihak terkejut dan mungkin agak gusar dengan pernyataan Koalisi Merah Putih yang bertekad solid dan berada di luar pemerintahan. Jokowi-JK sendiri tampak terkejut menyaksikan pernyataan tersebut. Hal itu bisa dilihat dari raut muka pasangan Jokowi-JK pada saat konferensi pers pasca-keputusan MK dan pasca-konferensi pers Koalisi Merah Putih. Saya memang bukan ahli gesture atau ahli psikologi, tetapi saya juga manusia yang setiap hari bertemu dengan banyak orang. Saya secara umum mampu menafsirkan kondisi orang dari wajahnya ketika bertemu. Wajah seseorang itu bisa menunjukkan kondisi yang terjadi saat itu, apakah sedang terkejut, kaget, bergembira, sedih, galau, ceria, dan sebagainya. Saya kira kita semua juga tahu hal-hal itu walaupun tidak mendetail seperti para ahli ilmu jiwa.

            Jelas sekali keterkejutan Jokowi-JK saat itu. Berbeda sekali wajah Jokowi saat hari H Pilpres yang tampak penuh semangat dan gembira karena quick count berpihak padanya. Ia merasa sangat yakin menang meskipun pemilihan belum usai. Mereka sadar dan semua tahu bahwa untuk menjalankan pemerintahan tidak bisa sendiri, membutuhkan elemen bangsa yang berkompeten. Orang-orang yang berkompeten itu banyak sekali yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Bahkan, dengan cara berlebihan dan bombastis, saya bisa mengatakan bahwa Jokowi-JK akan kesulitan menjalankan pemerintahan tanpa orang-orang dari Koalisi Merah Putih. Oleh sebab itu, tak heran jika Jokowi mengatakan bahwa Prabowo-Hatta itu adalah sahabatnya. Demikian pula Jusuf Kalla yang berharap agar tak terjadi lagi upaya hukum lanjutan urusan Pilpres 2014. Ia berharap dan mengajak agar semuanya bersama-sama membangun bangsa. Kata-kata itu bisa ditafsirkan sebagai sikap membuka diri sekaligus mengajak Koalisi Merah Putih untuk bersama-sama menjalankan roda pemerintahan.

            Orang-orang mengerti benar bahwa di dalam Koalisi Merah Putih di samping memiliki banyak orang berkualitas, juga memiliki kekuatan politik yang sangat besar serta berpotensi “mengganggu” pemerintah yang berakibat menurunkan wibawa pemerintah dan menurunkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Para ilmuwan boleh mengatakan bahwa sikap oposan yang dibangun oleh Koalisi Merah Putih jangan diartikan untuk mengganggu. Saya mengatakan Koalisi Merah Putih akan mengganggu karena memang harus mengganggu. Gangguan itulah yang seharusnya dilakukan.

Bagaimana tidak akan mengganggu?

Yang namanya kontrol, pengawasan, second opinion, dll. Itu merupakan gangguan untuk pemerintah. Akan tetapi, gangguan itu harus bernilai positif, konstruktif, bukan destruktif.

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK mengeluarkan kebijakan yang tidak prorakyat, malahan pro-segelintir orang, lebih jauh lagi hanya menguntungkan kepentingan bangsa asing dengan mengeruk hak-hak rakyat, lebih parah lagi menggerus kedaulatan bangsa dan negara, apakah tidak boleh diganggu?

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK bekerja lamban dan hanya menikmati kekuasaannya, apakah tidak boleh diganggu?

Kalau nanti pemerintahan Jokowi-JK ternyata korup, apakah tidak boleh diganggu?

Jokowi-JK wajib diganggu sampai pemerintahan kembali pada relnya yang benar dengan kecepatan maksimal.

Kekuatan politik yang besar dan SDM yang berkualitas adalah aset yang harus dijaga sekalligus diwaspadai oleh Koalisi Merah Putih. Pendukung Prabowo-Hatta harus tetap pada tekadnya, solid dan di luar pemerintahan. Koalisi Merah Putih wajib menjaga anggotanya untuk berada dalam jalur yang sudah disepakati. Hal itu disebabkan kemungkinan besar Tim Jokowi-JK akan terus membuka diri dan mengajak orang-orang dari Koalisi Merah Putih untuk menjadi pendukung pemerintahannya. Mereka bisa jadi terus berupaya “merayu” partai-partai maupun individu-individu yang berada dalam Koalisi Merah Putih. Satu orang saja yang terayu oleh Tim Jokowi-JK, itu sudah menandakan bahwa Koalisi Merah Putih terancam soliditasnya dan mulai meluncur ke arah kemunafikan yang memperburuk citra politisi.

Semua orang tahu jika Jokowi-JK membentuk pemerintahan dengan orang-orang berkualitas jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang di Koalisi Merah Putih, pemerintahan akan tidak selancar yang diharapkan. Pemerintahannya akan mendapatkan kritikan yang keras dari SDM Koalisi Merah Putih yang memiliki data dan daya analisa yang lebih baik dan itu akan “mengganggu” sekali. Oleh sebab itu, sangat wajar jika Tim Jokowi-JK mencoba mengajak SDM yang ada di Koalisi Merah Putih untuk bergabung.

Pernyataan solid dan berada di luar pemerintahan yang ditandatangani para pemimpin partai adalah sebuah “kemenangan” tersendiri bagi Koalisi Merah Putih. Jaga kemenangan itu agar tetap menang.

Bukankah pernyataan itu keluar karena Koalisi Merah Putih memiliki banyak hal dibandingkan dengan Tim Jokowi-JK? Bukankah pernyataan itu keluar dari idealisme yang tinggi?

Kalau terayu oleh Tim Jokowi-JK, baik partainya maupun individunya, Koalisi Merah Putih berarti menderita kekalahan dua kali. Pertama, kalah dalam Pilpres. Kedua, kalah dalam mempertahankan keyakinan dan idealisme.

Kalau banyak program yang bermanfaat dari Koalisi Merah Putih selama pemerintahan SBY yang ingin dikembangkan oleh Jokowi-JK, berikanlah program itu dengan senang hati. Akan tetapi, biarkanlah Jokowi-JK yang melanjutkannya sendiri, tidak perlu ikut lagi mengerjakannya. Biarkanlah Jokowi-JK yang harus membuktikan diri merampungkan program-program itu hingga berhasil. Kemudian, kembali pada posisi sebagai oposisi.

Koalisi Merah Putih harus tegar dalam posisinya sebagai oposisi dan memberikan berbagai teguran serta kritikan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Jika Koalisi Merah Putih tetap pada keyakinan dan idealismenya, Allah swt, rakyat, dan sejarah akan mencatat bahwa Indonesia memiliki kekuatan penyeimbang yang hebat dan berkualitas.

Memang benar politisi PDI-P menyatakan bahwa sikap oposisi itu biasa saja karena mereka pun pernah menjadi oposisi, tetapi apakah sikapnya itu berpengaruh langsung kepada masyarakat? Apakah masyarakat merasakan manfaat PDI-P dalam posisinya sebagai oposisi saat itu? Tidak banyak yang tahu. Mereka mungkin bekerja keras dalam sikapnya itu secara positif, tetapi sejauh mana orang tahu, mengerti, terwakili, dan menikmati hasil kerjanya? Kurang terekspos. Masyarakat awam hanya tahu sikap PDI-P seperti itu disebabkan perseteruan yang terjadi antara Megawati dan SBY, bukan karena idealisme maupun visi dan misi, apalagi program kerja.

Koalisi Merah Putih jauh lebih besar dari PDI-P. Oleh sebab itu, Koalisi Merah Putih harus menunjukkan manfaatnya secara nyata dan terasa oleh rakyat. Koalisi Merah Putih bersikap seperti itu karena idealisme. Sikap itu akan menjadi teladan masyarakat karena negeri ini membutuhkan orang-orang yang setia pada idealisme, bukan yang setia pada uang, oportuniti, jabatan, kekuasaan, dan segala hal yang sifatnya temporer duniawi.


Tetaplah Koalisi Merah Putih dalam keyakinannya dan biarkan Jokowi-JK mewujudkan janjinya kepada rakyat Indonesia.

Thursday, 21 August 2014

Koalisi Merah Putih Bisa Jadi Munafik

oleh TomFinaldin



Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia telah melaksanakan sistem politik rendahan, kampungan, terburuk yang namanya demokrasi, dan Pilpres 2014 yang menyedot banyak energi telah usai yang dikukuhkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan kubu Prabowo-Hatta atau Koalisi Merah Putih. Itu artinya pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang harus bertanggung jawab untuk melayani seluruh rakyat Indonesia dalam lima tahun ke depan. Itu sudah pasti.

Kalaupun ada upaya hukum lain dari Tim Prabowo-Hatta, itu soal lain, soal yang berbeda. Upaya hukum berikutnya bisa dipandang positif, bisa pula negatif. Secara positif, upaya hukum lanjutan bisa merupakan warning atau pelecut bagi penyelenggara Pemilu untuk lebih jujur dan profesional. Secara negatif, hal itu bisa dipandang sebagai kemarahan atas ketidakpuasan serta mengganggu kondusivitas politik bangsa. Baik dipandang positif maupun negatif, upaya hukum lanjutan tidaklah salah untuk dilakukan dan itu merupakan hak setiap warga untuk mengajukannya di samping kewajiban negara untuk menyelesaikannnya secara adil dan bijaksana penuh hikmah.

Hal menarik adalah beberapa saat pasca-keputusan MK yang menolak gugatan Prabowo-Hatta sekaligus melenggangkan Jokowi-JK ke istana, Koalisi Merah Putih tetap pada pandangannya dan menerima keputusan MK dengan perasaan tidak mendapatkan keadilan secara  utuh. Kesediaan untuk menerima keputusan MK walaupun dengan hati berat adalah tindakan terpuji yang patut mendapat acungan jempol. Sikap itu adalah sikap orang-orang cerdas, terpelajar, dan mencintai bangsanya.

Kecerdasan dan kehebatan Koalisi Merah Putih bertambah-tambah dengan menyatakan dirinya solid serta bertekad berada di luar pemerintahan sebagai check and balances, oposisi, kekuatan penyeimbang, dan pengontrol aktif yang konstruktif, tidak destruktif. Kemuliaan sikap Koalisi Merah Putih memaksa saya mengacungkan dua jempol ditambah senyum gembira. Hal itu disebabkan mereka memiliki keyakinan dan idealisme yang tidak bisa ditawar-tawar, kukuh. Apalagi dengan menyandarkan tekad pada ucapan Proklamator RI, “Lebih baik makan gaplek daripada makan bistik, tetapi berada di bawah kekuasaan bangsa lain.”

Akan tetapi, kedahsyatan Koalisi Merah Putih akan jatuh secara drastis menjadi kemunafikan tingkat tinggi manakala pernyataan mereka itu hanya sebuah bentuk kekesalan sesaat akibat dari kekalahan di gedung MK. Kemunafikan itu terjadi jika mereka tidak solid dan mulai memasuki lingkaran pemerintah, kekuasaan. Apapun alasan mereka, bagaimanapun bahasa manis yang akan keluar dari mereka, misalnya, demi bangsa dan negara, untuk persatuan, kepentingan rakyat, tetap saja itu datang dari jiwa yang palsu jika merapat pada pemerintahan Jokowi-JK. Jika itu terjadi, semakin mengukuhkan keyakinan saya beserta orang-orang lain yang sekeyakinan dengan saya bahwa demokrasi itu melahirkan orang-orang munfaik. Ganti saja namanya dengan Koalisi Munafik Berat.

Bukankah tekad solid dan pernyataan berada di luar pemerintahan itu ditandatangani unsur pimpinan dari setiap partai yang berada dalam Koalisi Merah Putih?

Sudah 100% benar solid dan berada di luar pemerintahan. Hal itu di samping memiliki harga diri yang nyata, juga mencintai bangsa dengan tidak mengkhianati para pemilih yang setia.


Kita lihat mereka nanti, jadi munafikkah? Atau terhormatkah?

Saturday, 5 April 2014

Kesepahaman antara Plato dan Prabu Siliwangi



oleh Tom Finaldin 


Bandung, Putera Sang Surya


Prabu Siliwangi dan Plato hidup berbeda zaman dan berbeda tempat.

Prabu Siliwangi adalah Raja Sunda yang namanya hidup sampai hari ini dan menjadi kebanggaan orang Sunda. Ajarannya yang menasional hari ini terus diucapkan banyak orang, yaitu Silih Asah Silih Asih Silih Asuh, ‘saling mencerdaskan, saling menyayangi, saling menjaga’.

Plato adalah filsuf barat kenamaan yang teori dan pendapatnya sampai hari ini diajarkan pada berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia. Pemikirannya menginspirasi para pemikir zaman ini. Sayangnya, ia sering dijadikan alasan para pendukung demokrasi untuk melaksanakan sistem politik demokrasi. Padahal, sesungguhnya ia mengkritik habis-habisan sistem demokrasi. Menurutnya, demokrasi itu sistem politik yang rendah dan berbahaya. Demokrasi rendah itu kata dia, kata saya demokrasi itu kampungan.

Perhatikan pendapat Plato (429-347) berikut ini tentang demokrasi. Menurutnya, demokrasi itu adalah sistem pemerintahan yang buruk.

Demokrasi adalah pemerintahan oleh masyarakat miskin. Rakyat miskin membentuk dan merebut kekuasaan. Akan tetapi, dalam demokrasi menginginkan kebebasan  anarki.

Bila tidak ada pembatasan kebebasan, orang-orang berbuat sesuka hatinya sehingga tidak ada lagi suatu kekuasaan yang mengatur ketertiban umum.

Bilamana anarki sudah tidak dapat lebih lama lagi dibiarkan merajalela, rakyat memilih seorang di antara mereka yang mempunyai kelebihan daripada orang lain di dalam berbagai hal (primus interpares) untuk memimpin negara.

Coba ulang-ulang lagi baca pendapat Plato tersebut sampai paham. Kalau sudah paham, mari kita baca prediksi Prabu Siliwangi tentang Indonesia ke depan, sebentar lagi.

Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti kalau sudah tampak Anak Gembala! Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara. Lalu, mereka mencari Anak Gembala yang rumahnya di ujung sungai berpintu batu setinggi manusia beratapkan pohon handeuleum bertiangkan pohon hanjuang. Mereka mencari Anak Tumbal. Mereka menginginkan tumbal untuk dikambinghitamkan. Akan tetapi, Anak Gembala sudah tidak ada, sudah bergerak bersama dengan Pemuda Berjanggut. Keduanya sudah pindah membuka lembaran baru, pindah ke Lebak Cawene!

Mereka yang mencari Anak Gembala hanya menemukan burung gagak yang berkoak-koak di dahan mati. Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Ratu siapa? Dari mana asalnya itu ratu? Nanti juga kalian bakal tahu. Sekarang yang penting, cari dan temukan oleh kalian Si Anak Gembala!

Sudah paham?

Begini Saudara. Dalam zaman demokrasi sekarang ini banyak sekali elit yang berkuasa dan berperilaku rusak. Prabu Siliwangi menggambarkannya sebagai raksasa-raksasa yang pongah dan brutal. Sementara itu, rakyat masih sangat banyak yang hidup menderita, melarat, segala kesulitan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, banyak sekali raksasa yang sekarang mulai berjatuhan menjadi tumbal kelakuannya sendiri. Di samping itu, raksasa-raksasa ini berebutan mendapatkan kekuasaan, kursi, alias jabatan. Di antara mereka sendiri akhirnya saling bentrok karena ada yang merasa dicurangi dan tidak puas, apalagi setelah melihat hasil Pemilu. Parahnya, mereka mengikutsertakan rakyat untuk masuk dalam pertempuran mereka. Rakyat itulah yang dikatakan Sang Prabu sebagai orang-orang bodoh yang jadi gila membantu mereka yang berkelahi.

Dalam kondisi itu, persis sekali sebagaimana yang dikatakan Plato bahwa dalam demokrasi diinginkan kebebasan-anarki. Perilaku pertengkaran, kerusuhan, dan perebutan kekuasaan itulah yang disebut Plato sebagai kondisi kebebasan-anarki.

Berbagai persaingan dan kekisruhan itu terus berlanjut sampai akhirnya mereka capek sendiri, lelah. Hal itu disebabkan mereka yang bertengkar itu ternyata tidak mendapatkan apa-apa, apalagi rakyat yang hanya ikut-ikutan seolah-olah membela kebenaran, padahal sesungguhnya menjadi alat bagi kepentingan orang-orang tertentu. Yang mendapatkan kekuasaan adalah hanya mereka yang punya banyak uang, bukan orang pintar, bukan orang baik, bukan pula orang shaleh, arif, dan bijaksana.

Setelah benar-benar tersadar dari ketertipuannya serta menyadari kebodohan dan kesalahannya, orang-orang pun mencari Si Anak Gembala yang mampu menyelesaikan kemelut dan kekacauan yang terjadi. Dialah yang dianggap paling adil dan bijak untuk membangun bangsa.

Si Anak Gembala ini kalau dalam bahasa Presiden Soekarno disebut Laki-laki Dunia.

Soekarno meneriakkan, “Marilah kita ikuti Laki-laki Dunia itu!”

Menurut Plato, ketika keadaan anarki sudah tak tertahankan dan membuat rakyat sangat menderita, maka orang-orang akan mencari orang yang terbaik untuk menyelesaikan segalanya. Istilah Plato yang digunakan untuk orang itu adalah primus interpares, artinya orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain dalam segala hal.

Primus interpares itu adalah Budak Angon, Si Anak Gembala.

Amazing, isn’t it?

Peranan Golput dalam Pembangunan

oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya

Jangan Golput! Jangan Golput!


Banyak sekali yang berteriak seperti itu. Bisa dipastikan teriakan itu berasal dari orang-orang yang khawatir kenikmatannya akan hilang karena telah mendapatkan banyak keuntungan dari sistem politik demokrasi atau berasal dari orang-orang yang kebelet ingin menikmati keuntungan dari sistem politik demokrasi yang bejat itu atau dari orang-orang yang masih membiarkan dirinya terkelabui oleh sistem politik demokrasi yang penuh penipuan itu.

Banyak pula yang berusaha mempengaruhi masyarakat bahwa jika tidak memilih, berarti tidak berperan serta dalam pembangunan. Bodoh mereka itu! Tolol bin sarap!

Peran serta Golput dalam pembangunan itu jelas sekali. Mereka menunjukkan sikap yang tegas untuk tidak memilih dengan alasan yang beragam. Sebenarnya, Golput itu sudah sangat sering menang dalam setiap pemilihan di tingkat apapun, tetapi eksistensinya masih dianggap lemah karena para politikus dan mereka yang masih percaya demokrasi tetap memiliki kekuatan untuk menggunakan suara yang ada yang terkumpul dalam pemilihan--entah jujur, entah curang. Golput hanya dianggap masyarakat yang “seolah-olah” setuju dengan hasil pemilihan dan proses pemilihan. Meskipun demikian, Golput tetap diperhatikan sebagai kekuatan yang akan melemahkan legitimasi hasil pemilihan dan proses pemilihan. Kecilnya atau sedikitnya suara yang diperoleh untuk menduduki posisi politis menandakan lemahnya legitimasi masyarakat. Jika suara Golput semakin besar, akan berpengaruh terhadap legitimasi demokrasi itu sendiri. Itu pertanda yang sangat bagus. Artinya, situasi negara dengan suara Golput yang tinggi akan mendorong para akademisi, teknokrat, birokrat, dan para orang bijak di negeri ini untuk memikirkan sistem lain yang cocok dan sesuai dengan perasaan rakyat untuk melangsungkan proses pembangunan.

Orang-orang Golput akan merasa tidak bersalah jika terjadi kerusakan yang ditimbulkan akibat perilaku para politisi dan pemimpin hasil demokrasi. Mereka memang tidak bersalah karena tidak memilih para pemimpin yang kemudian terbukti rusak moral, bejat akhlak, dan kotor pikiran. Malahan sikap orang-orang Golput akan mempengaruhi secara positif orang-orang yang telah menggunakan hak pilih karena para pejabat terpilih ternyata tidak amanah. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap negara akan menurun teramat drastis dan berpotensi menimbulkan kekacauan. Pada titik itulah wise people di negeri ini dituntut bekerja keras untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sangat rawan.

Orang-orang Golput akan memaksa para politisi untuk sadar diri bahwa mereka sebenarnya tidak pantas untuk duduk dalam jabatannya dan membuat para penyelenggara semakin sadar untuk memperbaiki diri dan kinerjanya supaya kepercayaan masyarakat yang telah Golput kembali kepadanya.

Suara Golput akan memaksa elemen-eleman penting di negeri ini untuk mencari cara lain dan gagasan lain yang bukan demokrasi karena ternyata demokrasi tidak mampu menyelesaikan masalah. Demokrasi hanya membuat beban negeri ini semakin berat dan menumbuhkan perpecahan di dalam masyarakat.

Inti dari tujuan pembangunan nasional itu kan ada di alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, iya kan?

Untuk mencapai tujuan itu, tidak harus demokrasi, kan?

Malahan, orang-orang yang bertahan dalam demokrasi itu kemungkinan besar anti-terhadap perubahan. Mereka itu mirip banget dengan orang-orang yang mempertahankan status quo. Mereka orang-orang yang telah menyakralkan sistem politik demokrasi, sebagaimana orang-orang yang telah menyakralkan sistem politik dan dogma-dogma politik orde baru. Mereka nggak beda jauh-jauh amat dari orang-orang yang dikritiknya dahulu.

Kita berhak berubah dan memang kita harus berubah!

Kita punya nilai dan cara sendiri yang telah dilekatkan Tuhan sejak dalam kandungan, tinggal menggalinya dan membawanya ke permukaan. Hanya dengan cara itulah kita akan benar-benar mampu mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia.

Wednesday, 21 November 2012

Israel Itu Sudah Bego, Goblok, Tolol Lagi



oleh Tom Finaldin
 


Bandung, Putera Sang Surya

Bangsa Israel itu sungguh menarik untuk dicermati dan dipelajari. Banyak buku, tulisan, ataupun kisah-kisah tak tertulis tentang Israel.

            Adalah sebuah sejarah yang tak bisa dipungkiri dan diakui kejadiannya oleh setiap agama samawi bahwa pada masa lalu Israel adalah bangsa tersingkir dan terhina di bawah telapak kaki Firaun, Raja Mesir itu. Mereka bangsa yang menderita dan menyedihkan, bagaikan budak para bangsawan Mesir. Mereka dipaksa bekerja untuk kepentingan Kerajaan Mesir. 

Kesulitan mereka teramat sangat menyakitkan sampai Allah swt menurunkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as untuk menyelamatkan mereka dari keganasan Firaun. Di samping menyelamatkan mereka, Musa as pun diberi tugas oleh Allah swt untuk semakin menyempurnakan keimanan mereka kepada Allah swt.

Sudah sangat banyak mukjizat yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Musa as dalam rangka menyelamatkan Israel dan mengukuhkan kedudukan Musa as selaku nabi. Musa as telah menunjukkan tongkatnya menjadi ular besar yang mengalahkan para penyihir Mesir dan menebarkan wabah penyakit untuk melawan kekejaman Mesir. 

Ketika Israel bersama Musa as pergi meninggalkan Mesir untuk menuju kehidupan baru yang lebih menyenangkan, Firaun tak merelakannya. Firaun beserta pasukannya mengejar Israel. Saat Israel terdesak di tepi laut, Musa as memukulkan tongkatnya hingga laut pun terbelah. Dengan demikian, bangsa Israel tetap dapat bergerak maju meninggalkan Firaun. Adapun Firaun yang terus mengejar ke tengah laut yang terbelah itu akhirnya tenggelam di tengah-tengahnya.

Begitulah kisah Israel yang saya dengar sejak kecil.

Pada suatu masa ketika Israel sudah berada di tempat yang aman, Musa as diperintah Allah swt untuk menemui-Nya di gunung yang sepi dari keramaian orang-orang. Musa as pun mematuhi Allah swt dan siap mendengarkan firman yang berupa perintah dari-Nya. Waktu yang diperlukan Musa as untuk mendekatkan diri kepada Allah swt adalah empat puluh hari. Sepanjang waktu itu pula Musa as harus meninggalkan Bani Israel.

Ketika Musa as menunaikan tugasnya sendiri, kalangan Bani Israel mulai gelisah. Di antara mereka mulai banyak yang meragukan kebenaran ajaran Musa as. Mereka mulai merasa ditinggalkan Musa as dan mulai pula enggan menyembah Allah swt sebagaimana yang diamanatkan Musa as. Di antara mereka yang getol melakukan hasutan dan provokasi adalah seseorang yang bernama Samiri. Dialah yang teramat rajin membengkokan keimanan Israel terhadap Nabi Musa as. Karena kepiawaiannya dalam menghasut, mempengaruhi pikiran orang, dan memiliki teknologi tinggi, Samiri berhasil membuat Bani Israel menyembah patung emas sapi betina yang bisa bersuara.

Kelakuan Samiri beserta Bani Israel membuat Nabi Harun as menahan diri untuk tidak melakukan penentangan terhadap Samiri. Ia tidak ingin ada perselisihan di antara Bani Israel.

Inilah yang saya sebut Israel itu sudah bego, goblok, tolol lagi. Bayangkan, sudah sangat banyak Musa as menunjukkan perjuangan dirinya untuk membela Bani Israel. Sudah demikian hebat Musa as diberi kekuatan oleh Allah swt melalui mukjizat-mukjizatnya, tetapi Bani Israel itu ternyata tidak mematuhi perintahnya. Padahal, mereka itu ditinggalkan Musa as hanya untuk empat puluh hari. Bayangkan, kurang dari empat puluh hari saja mereka sudah durhaka kepada Allah swt dan Nabi Musa as. Padahal, masih segar dalam ingatan mereka bahwa Musa as telah membelah laut untuk menyelamatkan mereka. Musa as masih hidup, mereka yang ditolongnya pun masih segar bugar, laut yang dibelah kemudian disatukan lagi masih bergemuruh, tetapi mereka ternyata bisa sedurhaka itu.

Siapa orangnya yang mampu membelah laut seperti itu?

Sampai hari ini tak ada orang lain yang diberi kekuasaan seperti itu, kecuali Musa as.

Jika saja saya saat itu hidup sezaman dengan Musa as dan diselamatkan dengan terbelahnya laut, saya akan mematuhi Musa as dan akan mengikutinya hingga ajal menjemput. Saya akan benar-benar setia kepadanya dan mengikuti ajaran-ajarannya. Saya tidak akan tertipu oleh orang semacam Samiri untuk mendurhakai Musa as hanya karena dirayu oleh boneka emas sapi betina yang bisa bersuara. Keajaiban membelah laut itu sudah sangat luar biasa tak terkalahkan. Mestinya, keajaiban itu tidak membuat Bani Israel memutarkan keimanannya, lalu mematuhi Samiri. Mereka terlalu lemah iman dan gemar dengan hal-hal yang instan serta tidak pernah cukup puas dengan segala yang telah dianugerahkan Allah swt.

Saya juga yakin bahwa seandainya Musa as diturunkan di Indonesia, orang-orang Indonesia pasti tak akan mengingkari dan mendurhakainya. Orang Indonesia itu kalau sudah meyakini seseorang, apalagi orang itu diberi kewenangan untuk membelah laut di depan matanya untuk menyelamatkan nyawanya, saya yakin jiwa dan raganya akan tunduk patuh kepada orang itu. Keimanan orang Indonesia tidak akan berbalik ke belakang. Jangankan ditinggalkan empat puluh hari, ditinggalkan selama sepuluh tahun saja orang Indonesia akan bertahan dalam keimanannya. Bahkan, kisah itu akan diturunkan kepada anak cucunya sehingga anak cucunya akan seiman dengan mereka terhadap Musa as.

Kelakuan Bani Israel seperti itu jelas saja membuat Musa as teramat marah. Saking marahnya, dia menyalahkan Harun as yang membiarkan semuanya terjadi sampai-sampai memegang janggut Harun as.

Seandainya Musa as tidak kembali setelah mendapatkan perintah Tuhan, kemungkinan besar orang-orang Israel itu akan menjadikan Samiri sebagai nabi.

Pantas saja dalam Al Quran, Allah swt kalau sudah berkisah tentang Israel, sering sekali ditutup oleh kalimat sesungguhnya teramat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Sangat banyak ayat Al Quran yang berceritera tentang Israel dengan  ditutup kalimat seperti itu.

Oh ya, soal Samiri yang menghasut itu kini namanya semakin abadi dan dijadikan kebanggaan orang Amerika Serikat. Orang-orang Amerika dan juga penduduk dunia sering mengatakan bahwa AS itu adalah negeri Uncle Sam, ‘Paman Sam’. 

Siapa itu Paman Sam?

Sam itu adalah Samiri, penghasut Bani Israel untuk durhaka kepada Musa as. Begitu yang dikatakan Muhammad Isa Dawud dalam bukunya yang mengisahkan tentang kehadiran Al Mahdi kelak. Dengan demikian, AS itu dianggap keponakan Samiri yang penghasut itu.  Sebagai paman, tentunya Sam akan selalu berada dekat dengan keponakannya. Paman Sam akan selalu bersedia menolong keponakannya.

Kalau ada yang tidak yakin bahwa Uncle Sam itu adalah Samiri, tolong kasih tahu saya, siapa sih yang namanya Uncle Sam itu dalam versi Anda? 

Saya adalah orang yang senang diberi tahu.

Dengan demikian, jangan aneh jika AS dan Israel begitu dekat. Mereka memang sudah menganggap saling bersaudara kok. Di samping itu, jangan maksa-maksa AS untuk tidak bermuka dua atau tidak bersikap ganda terhadap Israel, Palestina, dan Timur Tengah. AS dan Israel itu saat ini nggak bisa dipisahkan, sudah kayak saudara. 

Ngapain capek-capek minta AS bersikap tegas pada Israel dan tidak menerapkan standar ganda? Nggak akan, nggak akan mungkin pada zaman ini AS bisa tegas sama Israel.

Israel dan AS itu hanya bisa dipisahkan oleh peristiwa teramat hebat pada masa depan, sebentar lagi. Hal itu disebabkan nanti Israel sudah tinggal puing-puing dan AS rusak berat. Masa-masa kejayaannya sudah habis dan tak akan kembali lagi, sebagaimana padi yang telah dituai dan tak akan pernah tumbuh lagi. Tenang saja, masa-masa itu segera tiba. Mereka sendiri juga tahu kok. Bahkan, saya banyak tahu dari prediksinya Nostradamus yang jelas Yahudi itu.