Kalau
ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan tanpa masuk ke wilayah hukum,
seharusnya Rizieq menyelesaikan dulu masalah dengan dirinya sendiri. Saya
melihat Rizieq itu bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia sebenarnya tidak
sedang berseteru dengan orang lain, tetapi sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya,
kata-katanya sering tidak lurus, bahkan aneh.
Coba perhatikan soal logo di uang
kertas. Orang-orang lain tidak melihat ada lambang palu arit, tetapi dia bilang
itu mirip palu arit. Lalu, mempengaruhi orang lain supaya pendapatnya sama
dengan dia. Padahal, secara resmi logo itu bukanlah palu arit. Perhatikan pula
bagaimana ia menyalahkan Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan karena ada
bentrokan antara FPI dengan Ormas-Ormas kesundaan. Sebetulnya kan yang harus
disalahkan adalah dirinya sendiri karena bawa massa banyak-banyak seenaknya tanpa
ada izin, akhirnya memprovokasi kelompok lain untuk mengerahkan massa yang juga
sangat banyak. Perhatikan pula bagaimana dia menanggapi pidato Megawati
Soekarnoputri yang menurutnya mengandung penghinaan terhadap Islam. Padahal,
jika dilihat dan didengarkan, tak ada satu pun kalimat dari Megawati yang
mengandung penghinaan terhadap Islam. Kalau mau jujur, pernyataan Ahok di
Kepulauan Seribu pun tak mengandung penghinaan terhadap Islam dan ulama, baik
secara bahasa Indonesia maupun secara tafsir. Akan tetapi, Rizieq mencoba terus
berulang-ulang meyakinkan orang lain, bahkan mendesak aparat untuk membuat Ahok
benar-benar disalahkan sebagai penista Al Quran.
Tentang tafsir QS Al Maidaah : 51,
saya sudah menuliskan pendapat saya berdasarkan Tafsir
Qur’an per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul dan Terjemah yang
disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A.. Tafsir itu pun merujuk pada penafsiran Ibnu Katsir. Di samping itu, saya pun
menggunakan Sejarah Hidup Muhammad yang
disusun oleh Mohammad Haekal untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada
saat QS Al Maidaah : 51 itu turun. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah QS Al
Maaidah : 51 sama sekali tidak berhubungan dalam memilih pemimpin di Indonesia
dalam sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukkan bahwa QS Al Maaidah : 51
sangat tidak tepat untuk digunakan sebagai alat menarik kaum muslimin dalam
memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Tulisan saya tentang hal ini dapat
Saudara baca pada tulisan yang berjudul Terlalu
Sering Ayat Al Quran Digunakan sebagai Alat untuk Berbohong. Masih di blog
ini juga. Cari saja.
Tentang pendapat saya bahwa tidak
ada kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu yang mengandung unsur penistaan secara
bahasa Indonesia. Saya akan segera menuliskannya di blog ini. Saya sesungguhnya
menunggu para ahli menjelaskannya di media televisi, tetapi sampai saat ini
saya tidak melihatnya. Jadi, saya akan coba menjelaskannya dalam bahasa
Indonesia yang saya pahami pada waktu yang lain. Tenang saja. Mudah-mudahan
saya ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Insyaallah.
Kembali pada keanehan Rizieq. Setelah
banyak orang yang gerah terhadap Rizieq dengan melaporkan berbagai hal yang
diduga merupakan pelanggaran hukum, Rizieq tampaknya mulai tertekan.
Dalam kompas.com Rizieq
mengatakan hal yang sangat lucu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa,
(17/1/2017), “Janganlah kita coba saling lapor karena ini bisa mengantarkan
pada konflik horizontal. Mestinya kepolisian menjembatani."
Lho, kok bisa dia bilang seperti itu?
Lucu sekali.
Bukankah dia sendiri yang memulai aksi saling lapor?
Akan tetapi, dia sendiri yang tidak menginginkan situasi
saling lapor terjadi. Aneh sekaligus menggelikan. Dia yang memulai, dia pula
yang ingin mengakhiri.
Mirip lagu dangdut kan?
Coba ingat-ingat. Ketika dilaporkan oleh Ormas kesundaan
terkait penghinaannya atas sampurasun yang
dia plesetkan menjadi campur racun, Rizieq
bukannya berani menghadapi laporan itu, melainkan melaporkan balik Dedi
Mulyadi, Bupati Purwakarta, atas penghinaan terhadap Islam.
Bukankah itu tindakan saling lapor yang dimulai oleh
Rizieq sendiri?
Coba ingat lagi. Ketika dilaporkan
oleh Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penghinaan terhadap Pancasila dan
Proklamator Ir. Soekarno, Rizieq bukannya dengan gagah berani menghadapi,
melainkan berniat melaporkan balik Soekarnoputri.
Bukankah itu merupakan niat Rizieq untuk
melakukan aksi saling lapor?
Coba analisa lagi. Ketika Kapolda Jawa
Barat Anton Charliyan mulai serius memeriksa Rizieq untuk menanggapi laporan
Sukmawati, Rizieq malah menggunakan gerombolannya untuk beraksi meminta Polri memecat
Anton Charliyan dengan alasan adanya keributan antara FPI dan GMBI. Padahal,
dia sendiri yang bawa gerombolan banyak-banyak.
Bukankah itu merupakan tindakan yang
termasuk dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?
Coba duga lagi. Ketika Kapolda Metro
Jaya mulai serius pula menanggapi laporan masyarakat atas dugaan pelanggaran
yang dilakukan Rizieq, Rizieq malah meminta Kapolda untuk dicopot dengan dugaan
melakukan provokasi saat terjadi demonstrasi.
Bukankah itu merupakan tindakan yang
termasuk pula dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?
Aneh memang ini Rizieq. Ia ingin
bebas melaporkan orang lain, tetapi tidak ingin orang lain melaporkan dirinya. Padahal,
ia sendiri yang mulai sedikit-sedikit laporan, sedikit-sedikit bikin laporan.
Sedikit-sedikit bawa massa, sedikit-sedikit teriak-teriak.
Ia memang sudah seharusnya merasakan
tekanan luar biasa karena wajib mempertanggungjawabkan segala hal yang telah
dilakukannya. Apalagi keinginannya untuk melakukan mediasi dengan pihak-pihak yang
melaporkannya menemui jalan yang lumayan sulit, bahkan bisa pula buntu. Paling
tidak, PDI-P sudah menyatakan dukungan kepada Polri untuk tidak perlu ragu
menangkap Rizieq.
Meskipun demikian, sesungguhnya ada
jalan yang bisa ditempuh Rizieq dengan baik-baik dan berpotensi melepaskannya
dari seluruh jeratan hukum. Syaratnya, Rizieq harus bersungguh-sungguh
menjalankannya dengan menanggalkan seluruh keangkuhan dirinya.
Saya sebagai orang Islam memiliki
kewajiban untuk “saling menasihati” agar setiap muslim memiliki kebaikan dan
kesabaran dalam menjalani hidup ini. Sebenarnya, beberapa tulisan saya
merupakan nasihat buat Rizieq. Akan tetapi, mungkin dia masih enggan untuk
mengikuti nasihat saya. Terserah dia.
Sekarang ada lagi nasihat buat kamu,
Zieq.
Kalau benar-benar ingin melepaskan
diri dari jeratan hukum, hal pertama yang harus dilakukan Rizieq adalah meminta
maaf kepada orang Sunda atas penghinaannya terhadap kata mulia sampurasun. Semua hal yang membuat hidup
Rizieq menjadi sangat berat dalam kasus hukum, berawal dari penghinaannya itu
sebenarnya. Minta maaflah dengan tulus sampai mata dan seluruh raut muka Rizieq
menunjukkan benar-benar ketulusan. Tak perlu malu dan tak perlu sungkan karena
orang Sunda yang hidup dengan kesundaannya tidak akan pernah menertawakan atau
merendahkan orang-orang yang berbuat baik. Bahkan, mereka akan menjadikan
Rizieq sebagai saudara.
Mau kan hidup penuh dengan rasa
persaudaraan?
Kalau mau hidup dengan perselisihan,
ya terserah kamu saja, Zieq.
Jika permohonan maaf itu telah dilakukan,
silaturahmilah dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Minta maaflah atas
laporan yang telah dilakukan Rizieq terhadap Dedi Mulyadi karena sesungguhnya
Dedi tidak melakukan penghinaan kepada Islam. Kalau ada dari tulisan Dedi yang
belum dipahami dengan baik oleh Rizieq, tanyalah kepada Dedi tentang buku Dedi
itu, berdiskusilah dengan baik. Hal itu akan menguatkan pemahaman Islam dan
keimanan masing-masing. Kemudian, cabut laporan terhadap Dedi ke polisi. Itu
sangat terhormat, menumbuhkan persaudaraan, dan menghindarkan konflik-konflik
horizontal.
Saya yakin Dedi Mulyadi akan
menerima dengan baik jika Rizieq berniat menghubungkan tali silaturahmi dengan
baik. Tidak perlu ragu karena Allah swt sangat meridhoi orang-orang yang
menyambungkan tali silaturahmi.
Apabila Rizieq mampu melakukan hal
itu, yakinilah Ormas Sunda pun akan mencabut laporannya atas penghinaan terhadap
sampurasun itu. Hal itu pun akan
mendorong orang-orang lain di seluruh Indonesia ini yang telah melaporkan
Rizieq berpikir ulang untuk terus-menerus menginginkan Rizieq dipenjara.
Orang-orang yang menolak Rizieq untuk datang ke daerahnya pun akan mulai
membuka diri terhadap kehadiran Rizieq. Orang Indonesia itu pada dasarnya
orang-orang baik yang tidak menginginkan huru-hara dan permusuhan. Orang
Indonesia itu pada dasarnya orang-orang damai yang terhormat. Mereka akan mudah
memaafkan Rizieq dan mencabut apa pun laporan yang bisa menjerat Rizieq ke
dalam proses hukum. Yakinilah hal itu. Megawati dan PDI-P pun akan dengan sangat
cair untuk berdialog dengan baik jika melihat bahwa Rizieq berusaha dengan
tulus memperbaiki hubungannya dengan orang-orang lain. Insyaallah.
Minta maaf dulu dengan tulus kepada
orang Sunda jika ingin terbebas dari segala jeratan hukum karena dari sanalah
segalanya dimulai. Akan tetapi, jika itu tidak dilakukan, jangan harap akan
terbebas dari jeratan hukum. Orang-orang yang saat ini sedang kesal terhadap
Rizieq, akan lebih meningkatkan lagi kekesalannya dan akan bertepuk tangan
sambil tertawa gembira jika Rizieq duduk di kursi pesakitan. Bahkan, hal yang
lebih parah adalah akan semakin banyak orang yang mencoba mencari-cari
kesalahan Rizieq, FPI, dan orang-orang kepercayaan Rizieq untuk kemudian
dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai pelanggar hukum dan penoda keyakinan.
Itu akan membuat hidup semakin sulit.
Jangan heran dan jangan kaget jika
ada orang-orang yang kemudian mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Rizieq,
FPI, dan orang-orang dekatnya dengan kasus macam-macam yang belum bisa
diperkirakan.
Bukankah Novel sudah mulai khawatir
atas tuduhan “kesaksian palsu”?
Bukankah Munarman sudah mulai
terjerat hukum karena dianggap meresahkan kehidupan harmonis di Bali?
Jangan lagi menggunakan massa untuk
menghindar dari segala tanggung jawab hukum karena itu akan menimbulkan konflik
horizontal dan meruntuhkan kehormatan diri. Apalagi jika sudah terjadi korban
manusia, Allah swt pasti akan meminta pertanggungjawaban atas hal itu kelak
dengan sangat berat.
Daripada harus menghadapkan massa
untuk bertarung, lebih baik menyodorkan kedua tangan untuk bersalaman,
bersaudara, dan berangkulan dengan damai. Itu lebih baik karena Allah swt
sangat mencintai kasih, sayang, cinta, dan perdamaian.
Begitu Zieq, nasihat dari saya.
Lakukan sekarang juga
dari hal yang paling kecil mulai dari diri sendiri.
Perilaku seperti itu sama sekali tidak hebat, bukan
jagoan, dan bukan pemberani. Perilaku seperti itu pertanda seorang pengecut!
Seorang pemberani tidak akan bawa banyak-banyak massa
untuk menemaninya memenuhi panggilan polisi. Lihat itu Ahok. Contoh Ahok.
Ketika dilaporkan ke polisi, Ahok segera mendatangi kantor polisi untuk menyampaikan
klarifikasi dan siap untuk bekerja sama dengan polisi, padahal polisi belum
melakukan pemanggilan kepadanya. Dia tidak bawa massa banyak-banyak, beberapa
orang saja yang dianggap penting. Dia itu pemberani. Ketika tiba masanya
dipanggil, dengan segera Ahok memenuhinya dengan patuh.
Bahkan, Ahok bilang, “Saya siap dipenjara jika saya salah
dan semua keributan adalah memang gara-gara Ahok!”
Hebat sekali dia.
Di samping itu, dia selalu hadir lebih pagi dalam acara
persidangannya. Itu tandanya dia berani dan mau bekerja sama dengan aparat
hukum.
Berbeda jauh dengan Rizieq. Ketika dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri, ia
menghindar dan mencoba berkelit dengan akan melaporkan balik Sukmawati. Di
samping itu, tak ada pernyataan yang menunjukkan dirinya sebagai seorang
pemberani dengan menegaskan bahwa dirinya siap masuk penjara jika salah.
Hal yang lebih lucu adalah jangankan langsung datang ke
kantor polisi untuk mengklarifikasi laporan Sukmawati dan menyatakan siap
bekerja sama, dipanggil polisi pun Rizieq tidak datang. Alasannya sakit. Baru
setelah polisi menyatakan ketegasannya akan menjemput paksa jika dipanggil lagi
tidak datang, Rizieq akhirnya datang. Itu pun ditemani sama ribuan orang yang
bikin macet jalan yang suka dipakai orang untuk ke Rumah Sakit Al Islam dan
Rumah Sakit Ujungberung, padahal siang hari. Kalau malam hari sih wajar
ditemani orang karena mungkin takut sama hantu kuntilanak.
Memenuhi panggilan polisi sih, Rizieq emang iya, tetapi terjadi
keributan di sana karena bawa massa banyak-banyak. Hal itu memprovokasi
kelompok masyarakat lain yang juga punya massa banyak sehingga datang ke tempat
yang sama. Coba kalau dia pemberani dan bukan pengecut yang gemar berlindung di
balik massa, tidak akan terjadi keributan. Datang sendiri dong kayak Ahok.
Kalau datang sendiri, itu namanya pemberani, hero, dan bukan pengecut. Malu
dong sama Ahok.
Ketika sudah terjadi keributan, Rizieq dan konco-konconya
malah nyalahin Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan. Aneh. Padahal, dia sendiri
yang datang bawa banyak orang yang kemudian memicu masyarakat lain untuk
datang. Coba kalau sendirian datang sebagai pemberani, keributan pasti tidak
akan ada. Karena pengecut dan lebih nyaman dengan ditemani gerombolan orang,
keributan pun pecah. Perlu diingat bahwa kehadiran kelompok lain itu adalah
karena terpicu Rizieq yang bawa banyak massa. Kalau Rizieq tidak sering-sering
bawa massa banyak, mereka tidak akan datang.
Rizieq bisa saja berkilah bahwa dirinya tidak mengerahkan
massa untuk datang, tetapi para pendukungnya yang ingin datang sendiri membantu
dirinya sebagai sesama muslim. Kalau alasannya seperti itu, saya pasti tertawa
terbahak-bahak karena tetap saja dengan membiarkan orang datang bergerombol
banyak-banyak bikin macet untuk menemaninya sama dengan merupakan tanda
kepengecutan. Seorang pemberani pasti akan melarang orang lain datang untuk
menemaninya karena dia tidak memerlukannya.
Saya kasih contoh bagaimana seorang hero yang benar-benar
Sang Pemberani Sejati. Dia adalah ayahnya Sukmawati Soekarnoputri. Ketika Ir.
Soekarno hendak keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, karena masa
penahanannya berakhir, teman-temannya datang dari Surabaya untuk mengabarkan
bahwa para pejuang Surabaya akan segera mengerahkan massa ke Bandung untuk menjemput
Soekarno sekaligus melakukan demonstrasi.
Soekarno sebagai seorang Pemberani Sejati menasihati
teman-temannya itu, “Tidak perlulah
teman-teman menjemput saya. Biarlah saudara-saudara kita tetap di Surabaya.
Saya yang nanti akan datang sendiri ke Surabaya. Baik sekali jika tidak datang
menjemput saya karena uang-uang yang digunakan untuk ongkos ke Bandung dapatlah
digunakan untuk kepentingan teman-teman, apalagi di dalam zaman sekarang yang
dalam zaman kesempitan rezeki ini, kita harus berhemat. Biarlah saudara-saudara
yang di Bandung saja yang akan menjemput saya.”
Begitu seharusnya
seorang pemberani dan pecinta umat berbicara dan bertindak. Soekarno pemberani
dan tidak memerlukan ribuan orang untuk menjemput dirinya. Di samping itu, ia
mencintai rakyatnya yang sedang dalam kesulitan ekonomi. Ia tidak ingin
membuang-buang uang orang hanya untuk kepentingan dirinya.
Coba bayangkan jika ribuan massa dari Surabaya dan
Bandung berkumpul di depan Penjara Sukamiskin, Bandung. Di samping jalanan macet, uang banyak keluar, juga bisa
terjadi bentrokan dengan polisi kolonial dan penduduk pribumi yang pro-Belanda.
Soekarno tahu itu dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Begitulah seorang
pemikir cerdas yang pemberani melakukan pertimbangan.
Rizieq itu tampak sekali pengecutnya. Ketika dia
dilaporkan Ormas Sunda mengenai sampurasun,
eh dia bukannya berani menghadapi, malah balik melaporkan Dedi Mulyadi yang
katanya menghina Islam lewat bukunya. Padahal, jika dilihat, laporan Rizieq itu mengada-ada dan
hanya merupakan tindakan menghindarkan diri dari kasus penghinaan sampurasun. Apa yang disebut penghinaan
Islam menurut Rizieqyang dilakukan
Dedi Mulyadi sebetulnya karena Rizieq tidak mengerti tentang Islam itu sendiri
yang disampaikan dengan menggunakan bahasa rasa oleh Dedi Mulyadi.
Ketika Rizieq dilaporkan oleh Sukmawati, bukannya dengan
gagah menghadapi, malah balik akan melaporkan balik Sukmawati. Ketika Anton
Charliyan mulai memeriksa, Rizieq pun tampak ketakutan karena tidak bisa
menjawab banyak pertanyaan polisi. Lalu, memindahkan isu ke arah isi tesisnya
yang sama sekali tidak berhubungan dengan kata “pantat” dan hal yang dilaporkan
Sukmawati. Isu pun beralih pada keributan antara FPI dengan GMBI yang sebetulnya
dipicu oleh kepengecutan Rizieq dengan membawa ribuan massa. Lalu, beralih lagi
ke arah posisi Anton Charliyan selaku Pembina GMBI. Isu pun makin jauh ke
mana-mana, padahal pemicunya Rizieq sendiri yang pengecut bawa orang-orang
banyak untuk menemaninya. Coba kalau dia jantan dan tidak pengecut, tidak perlu
bawa banyak-banyak orang, situasi pasti kondusif.
Kepengecutan dia pun terlihat ketika mencoba mempengaruhi
orang banyak dengan meniup-niupkan isu bahwa pada uang yang dicetak BI ada logo
mirip palu arit. Logo mirip lambang
PKI itu kan cuma kata dia dan orang-orang yang serupa dia. Orang lain tidak
melihat seperti itu. Saya juga tidak melihatnya seperti palu arit. Perlu
diketahui bahwa saya ini adalah pecinta palu arit. Palu arit adalah hiburan
bagi saya ketika saya sedang tidak ada pekerjaan. Oleh sebab itu, saya banyak
membeli palu arit. Di gudang rumah saya ada empat palu yang disimpan bareng
dengan paku, tang, dan meteran. Adapun arit saya punya dua, disimpan bareng
gergaji, linggis, sendok tembok, pahat, dan alat lainnya. Jadi, saya tahu benar
bagaimana itu rupa palu dan rupa arit.
Saya tidak melihatnya ada pada gambar uang yang dicetak BI. Rizieq itu
pengecut karena tidak mau bertanya langsung pada Direktur BI tentang logo itu.
Kalau menurut dia pada gambar uang ada logo mirip palu arit, berani dong tanya
sama Direktur BI supaya mendapatkan penjelasan yang benar. Bukan ngomong
sana-sini nggak karu-karuan yang menambah-nambah kisruh isu pekerja illegal
Cina yang jumlahnya 50 juta tanpa ada mau yang bertanggung jawab tentang data
jumlah itu.
Tanya dong sama Direktur BI baik-baik. Kalau sudah
dijelaskan, jangan memaksakan diri untuk ngotot bahwa itu benar-benar lambang
palu arit. Rizieq tidak berani bertanya langsung. Dia beraninya ngomong sama
gerombolannya tidak karu-karuan. Periksa itu matanya ke rumah sakit. Orang lain
tidak melihat palu arit, dia bilang itu palu arit.
Dasar pengecut!
Kalau Rizieq benar-benar seorang Mujahid Pemberani
Sejati, buktikan bahwa dia bisa menyelesaikan sendiri masalah hukum yang
menimpa dirinya tanpa harus ditemani dengan gerombolan manusia yang telah
dipengaruhinya.
Untuk apa mengkritik Presiden Pertama RI Soekarno?
Apa gunanya?
Ada masalah apa kamu dengan Soekarno, Zieq?
Pengen cari keributan?
Kalau memang pengen ribut, kamu berhasil, Zieq.
Sukmawati, puteri Soekarno, mempermasalahkan kamu, Zieq.
Kritik kepada Soekarno itu pasti sudah terjadi dalam
rapat-rapat atau sidang-sidang BPUPKI. Kritikan itu sudah diterima Soekarno
dengan munculnya kesepakatan baru tentang Pancasila. Itu artinya persoalan itu sudah
selesai. Soekarno dan pendiri bangsa lainnya sudah sepakat, diskusi sudah
berakhir, perdebatan telah finish.
Lalu, ngapain lagi mengkritik Soekarno dengan hal itu?
Bukankah Soekarno telah menerimanya?
Nggak ada kerjaan aja!
Di dalam video yang beredar di youtube berdurasi 2 menit
15 detik, saya mendengar Rizieq mengatakan hal-hal yang berpotensi menyesatkan
orang.
Sejak pertama saya dengar dari video itu, kata-katanya
tidak begitu jelas, tetapi lebih jelas ketika dia mengatakan, “ … dengan menjalankan syariat
Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Segera saja saya mengambil kesimpulan bahwa dia
mengatakan sila pertama dari Piagam Jakarta.
Kalimat-kalimat berikutnya bagi saya Rizieq berpotensi
menyesatkan orang lain.
Dia berkata, “Ini Pancasila yang asli! Ini Pancasila yang
otentik! Ini Pancasila yang disepakati oleh para pendiri bangsa kita!”
Begitulah yang saya dengar. Kalau saya salah mendengar,
beritahu saya. Saya pasti akan memperbaikinya.
Dengan mengatakan Ini Pancasila yang asli!, sudah pasti harus
ada Pancasila yang palsu. Kata asli
memiliki lawan kata palsu. Tidak ada yang asli jika tidak ada yang palsu. Kata asli
ada karena ada kata palsu. Sesuatu disebut asli adalah untuk membedakan
daripada yang palsu.
Rizieq harus menjelaskan jika Piagam Jakarta adalah
Pancasila yang asli, lalu mana yang palsu.
Kalau Pancasila yang sekarang adalah palsu karena yang
asli adalah Piagam Jakarta, apa namanya itu kalau bukan pelecehan, penghinaan,
pengingkaran, dan penodaan terhadap Pancasila?
Dengan mengatakan Ini
Pancasila yang otentik!, Rizieq harus menjelaskan mana Pancasila yang tidak otentik.
Kalau Pancasila yang
sekarang adalah tidak otentik karena yang otentik adalah Piagam Jakarta, apa
namanya itu kalau bukan pelecehan, penghinaan, pengingkaran, dan penodaan
terhadap Pancasila?
Dalam video berdurasi 2 menit 15 detik itu, Rizieq
meneruskan, “Kalau begitu, Pancasila Soekarno dengan Piagam Jakarta sama atau
beda?”
Saya heran mengapa dia membandingkan Piagam Jakarta
dengan usulan Soekarno?
Mengapa dia hanya membandingkan Piagam Jakarta dengan
usulan Soekarno, padahal yang mengusulkan rumusan dasar negara itu ada tiga
orang, yaitu Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo,
dan Ir. Soekarno?
Lebih jauh lagi, Rizieq menegaskan, “Pancasila Soekarno, Ketuhanan
di “pantat”. Pancasila Piagam Jakarta ada di kepala.”
Kata “pantat” yang masuk ke telinga saya itu teramat
kasar bagi manusia biasa dan teramat “kurang ajar” jika dialamatkan kepada
Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno.
Rizieq pun melanjutkan dengan pertanyaan, “Mana yang
lebih bagus Pancasila Soekarno atau Piagam Jakarta?”
Ini yang mengherankan saya.
Mengapa membandingkan Pancasila Soekarno dengan Piagam
Jakarta?
Mengapa mempersoalkan letak sila “ketuhanan” dari
Soekarno dengan Piagam Jakarta?
Mengapa tidak sekalian kritik saja usulan lisan Muh.
Yamin yang menempatkan ketuhanan pada sila ketiga dan usulan Prof. Dr. Soepomo
yang menempatkan ketuhanan pada sila kedua?
Kalau ketuhanan dari Soekarno dikatakan di “pantat”,
mengapa tidak disebutkan ketuhanan Muh. Yamin ada di “punggung” dan ketuhanan
Mr. Soepomo ada di “tengkuk”?
Ada masalah apa kamu dengan Soekarno, Zieq?
Ada-ada saja kamu, Zieq.
Rizieq pun lebih menegaskan bahwa Pancasila Soekarno itu merupakan pendapat pribadi. Dalam hal ini,
saya sangat setuju jika yang dimaksud Rizieq itu adalah Pancasila yang masih
berupa usulan. Soekarno memang pribadi yang teramat hebat, pemikir ulung
sehingga pendapat pribadinya diterima sebagai usulan. Sepanjang pengetahuan
saya Soekarno adalah pribadi yang unggul bersama Muh. Yamin dan Mr. Soepomo
yang pendapat pribadi ketiganya dijadikan rumusan
Pancasila oleh Sidang BPUPKI. Tak ada orang lain lagi yang mengajukan usul
untuk menjadi rumusan Pancasila, kecuali ketiga orang itu. Soekarno, Muh.
Yamin, dan Soepomo adalah pelaku sejarah tak terbantahkan yang pikiran dan
pendapat pribadinya berpengaruh pada dasar Negara Indonesia. Tak ada orang lain
lagi, kecuali mereka. Mereka adalah orang-orang hebat.
Mau tahu bagaimana proses pemikiran Soekarno ketika
mendapatkan pemikiran tentang Pancasila yang kata Rizieq sila ketuhanan ada di
pantat itu?
Saya kasih tahu.
“Malam sebelum 1
Juni, Saudara-saudara, saya menekukkan lutut ke hadirat Allah subhanahu wataala
di Kebun Pegangsaan Timur 56, memohon petunjuk daripada Tuhan. Pada saat itu
dengan segenap kerendahan budi, saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa: Ya
Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku apa yang besok pagi akan
kukatakan sebab Engkau Ya Tuhanku mengerti apa yang ditanyakan kepadaku oleh
Ketua Dokuritzu Zunbi Tjosakai itu bukan barang yang remeh, yaitu dasar
daripada Indonesia Merdeka. Dasar daripada satu negara yang telah diperjuangkan
oleh seluruh rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan segenap
penderitaannya, yang penderitaan-penderitaan itu sendiri telah aku melihatnya.
Dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang menjadi salah satu unsur daripada
Amanat Penderitaan Rakyat.
Aku,
Ya Tuhan, telah Engkau beri kesempatan melihat penderitaan rakyat untuk
mendatangkan Negara Indonesia yang Merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin
ribuan, puluhan ribu meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita.
Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya
cita-cita ini. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik
tiang penggantungan.
Bahkan,
aku pernah menerima surat sebagai berikut, ‘Bung Karno, besok aku akan
meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini.’
Ya
Tuhan, Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku sebab besok pagi aku
harus memberi jawaban atas pertanyaan yang maha penting ini.
Saudara-saudara,
sesudah aku mengucapkan doa kepada Tuhan ini, saya merasa mendapat petunjuk.
Saya merasa mendapat ilham yang berkata: Galilah
apa yang hendak engkau jawabkan itu dari Bumi Indonesia sendiri. Galilah di
dalam kalbunya rakyat Indonesia dan engkau akan mendapat apa yang harus
dijadikan dasar daripada Negara Merdeka yang akan datang. Maka malam itu
aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali
di dalam Bumi Indonesia ini agar supaya sebagai hasil penggalian itu dapat
dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan
datang…." (Pidato Bung Karno, 1 Juni 1964 pada
peringatan 19 tahun lahirnya Pancasila).
Coba perhatikan bagaimana Soekarno berpikir keras untuk
mendapatkan rumusan Pancasila. Ia merenung dan menengadah ke langit pada malam
hari. Berbicara kepada Allah swt untuk negaranya. Oleh sebab itu, tidak pantas
jika menyandingkan orang yang telah berjasa dengan letih untuk Indonesia dengan
kata “pantat”.
Yah, apa pun yang saya tulis mengenai kata-kata Rizieq
berdasarkan video berdurasi 2 menit 15 detik itu pasti ditolak Rizieq karena
isi video itu telah ditolak Rizieq di Polda Jawa Barat. Jika yang saya tulis
ini benar sesuai dengan isi video, pasti ditolak kebenarannya, apalagi jika
salah, lebih ditolak lagi.
Sayangnya, saya lebih mempercayai Kapolda Jawa Barat
Anton Charliyan yang mengatakan di televisi bahwa hasil pemeriksaan polisi menunjukkan
bahwa video itu isinya asli. Soal isi video itu sesungguhnya berdurasi hampir
dua jam dan yang dijadikan masalah hanya 2 menit 15 detik, itu tidak masalah
dan bukan persoalan karena materi yang dipermasalahkan oleh Sukmawati adalah
yang 2 menit 15 detik itu. Mirip dengan video Ahok yang panjang, tetapi yang
dipermasalahkan kan hanya yang tiga belas detik.
Sama saja bukan?
Bahkan, durasi video Rizieq lebih panjang, 2 menit 15
detik. Ahok malah lebih pendek, 13 detik.
Saya ingin menasihati Rizieq dan orang-orang semacam dia dengan
ajaran Sunda.
Sing asak-asak
ngejo bisi tutung jagana. Sing asak-asak nenjo bisi kaduhung jagana.
Sing asak-asak ngejo bisi tutung
jagana, ‘kalau masak nasi harus benar-benar matang supaya tidak
gosong’. Sing asak-asak nenjo bisi
kaduhung jagana, ‘perhatikan benar-benar segala sesuatu agar tidak menyesal
di kemudian hari’.
Maksudnya, jika akan berkata atau bertindak, harus
dipikirkan matang-matang supaya tidak menimbulkan penyesalan pada kemudian
hari.
Pada tulisan yang lalu, saya
mengutarakan bahwa saya memberikan pengajaran kepada para mahasiswa reguler
Fisip, Universitas Al Ghifari, Bandung agar mampu membuat kerangka karangan yang baik dengan menggunakan data, sumber
informasi, fakta, dan bukti yang jelas nyata, bukan menggunakan kebohongan,
fitnah, dan khayalan-khayalan tidak berdasar yang dapat membuat kerusakan
pikiran di tengah masyarakat. Saya memang terdorong untuk mengajarkan hal itu
disebabkan parahnya berita bohong, berita palsu, penyesatan pikiran, dan ujaran
kebencian di dunia maya, Medsos. Pada tulisan kali ini pun saya akan berbagi
pengalaman kepada para pembaca semua bahwa tidak cukup hanya data, sumber
informasi, fakta, dan bukti yang diperlukan untuk membuat tulisan yang
bermanfaat, melainkan pula perlu meneliti atau menguji Si Pembawa Data atau
sumber informasi tersebut. Suatu informasi hanya akan bernilai “samar” jika Si
Pembawa Berita atau Si Penyampai Informasi itu tidak bisa dipercaya, tidak
dikenal, serta tidak diketahui kompetensi dan kapasitasnya. Dengan demikian,
klaim fakta dan bukti yang disampaikannya harus sangat diragukan. Hal inilah
yang saya ajarkan kepada para mahasiswa nonreguler Fisip, Universitas Al
Ghifari, Bandung.
Berita atau informasi yang berseliweran sangat deras di
Medsos itu saat ini sangat mempengaruhi alam pikiran masyarakat. Banyak orang
yang cepat percaya dan setuju atas berita-berita itu tanpa mengenal dan
memahami siapa orang yang menulisnya, sejauh apa kejujurannya, sehebat apa
kompetensinya, bagaimana kapasitasnya, dan lain sebagainya. Bisa saja Sang
Pembuat Berita di Medsos itu seorang pengedar Narkoba, mengetiknya sambil
telanjang di kamar mandi, lalu meng-upload
foto dan video sambil berjongkok beol di WC dengan rokok di mulutnya,
tetapi tiba-tiba dipercaya oleh orang banyak. Memalukan sekali.
Kritikan
untuk Polisi
Sebenarnya, saya sudah
mengingatkan dengan tulisan di blog ini sekitar satu atau dua tahun yang lalu
bahwa ujaran-ujaran kebencian di Medsos sudah harus ditertibkan karena dapat
menimbulkan konflik sosial dan berujung pada kekerasan fisik yang pada akhirnya
membuat bangsa Indonesia semakin jauh dari jati dirinya. Akan tetapi, tampaknya
tidak banyak orang yang peduli, lalu membiarkan ujaran-ujaran kebencian yang
disertai berita-berita bohong dan fitnah itu merajalela. Bahkan, ada seorang
pejabat Polri yang mengatakan pada acara Indonesian
Lawyers Club di tvOne bahwa
polisi belum tentu mau mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan ujaran-ujaran
kebencian di Medsos. Ada juga pejabat Polri yang mengatakan bahwa jika polisi
harus menangani ujaran kebencian di Medsos, tidak terbayang berapa banyaknya
orang yang harus ditangkap. Akan tetapi, ada pula pejabat Polri yang justru dari
dulu ingin segera menindak para pembuat ujaran kebencian dan gambar-gambar
penuh penghinaan di Medsos. Salah satu pejabat Polri yang tampaknya dari dulu cukup
kesal dengan ulah para netizen tak bermoral itu
adalah Anton Charliyan.
Saya tidak tahu alasan polisi saat itu belum mau menindak
para netizen kampungan itu, apakah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan lain
atau membiarkannya dengan harapan akan berhenti sendiri atau karena memang
menunggu laporan dulu dari masyarakat yang merasa terganggu oleh ujaran kebencian
itu. Saya benar-benar tidak tahu.
Hal yang jelas terjadi dengan kurang adanya tindakan dari
Polri sejak dulu adalah mereka yang gemar melakukan kebohongan dan menghina
orang lain semakin nyaman dan bebas berekspresi di dunia maya. Mereka pun
semakin ahli dan berkembang dalam membuat huru-hara di Medsos. Jumlah akun
mereka semakin banyak, bejibun, semakin kasar, semakin tidak terpelajar, dan
semakin tidak beradab. Mereka pun terjatuh sehingga kehilangan kemampuan untuk
berbicara dan berpendapat yang baik-baik, sopan, penuh cinta, penuh kasih,
serta mendorong perdamaian. Mereka sama sekali tidak siap untuk berbicara hal
yang penuh kebaikan.
Tidak percaya?
Coba saja mengobrol dengan mereka. Mereka yang sudah
parah keseringan berbicara kasar, bohong, dan fitnah tidak memiliki kemampuan
untuk berbicara yang baik-baik dan beradab.
Saya punya pengalaman. Ujaran kebencian para netizen dari
luar negeri, terutama Eropa dan sangat terutama Inggris benar-benar sudah
melewati batas ambang kewajaran, sudah sangat rusak dan sangat sulit
diperbaiki. Memang berita-berita internasional pun mengemukakan bahwa ujaran
kebencian di Inggris sangat tinggi dan meningkat 500% ketika terjadi Brexit. Saya pernah berdebat dengan
mereka tentang banyak hal. Ketika mereka kalah berdebat dengan saya, lalu saya
mulai mengajak mereka berbicara hal-hal yang baik dengan menghilangkan
keangkuhan dan tidak menganggap diri lebih tinggi dibandingkan orang lain,
mereka kesulitan dan tidak mampu melakukan percakapan yang terhormat. Saking kesalnya,
saya mengejek mereka sebagai “manusia-manusia tidak terdidik yang hanya mau belajar
teknologi tanpa menghargai kemanusiaan”.
Mereka hanya menjawab, “Jika kamu mau berpendapat seperti
itu, begitulah.”
Mereka tetap angkuh walaupun sudah mengakui bahwa mereka
salah dan kalah. Hal itu diakibatkan sudah terlalu lamanya mereka berbicara
yang kasar-kasar, penuh kebohongan dan fitnah.
Indonesia sebenarnya tidak separah mereka. Mungkin hanya ada
beberapa gelintir orang yang sudah parah seperti mereka. Akan tetapi, jika
ujaran kebencian dan berita-berita bohong penuh fitnah itu dibiarkan terus
berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan lebih parah dibandingkan orang-orang
luar negeri. Akibatnya, negeri ini akan selalu digoncang isu-isu murahan yang
tidak berdasar dan tidak memiliki sandaran ilmu pengetahuan.
Ketika ujaran-ujaran kebencian di Indonesia sudah semakin
meresahkan dan mengganggu hubungan-hubungan antarindividu di dunia nyata
seperti saat ini, aparat kepolisian dan pemerintah pun tampaknya mulai semakin
sadar bahwa perlu dilakukan tindakan tegas dan keras agar terjadi ketertiban.
Sayangnya, energi atau upaya yang harus dilakukan untuk melakukan penertiban
itu sangat besar dan semakin sulit karena situasinya sudah sangat parah
dibandingkan masa-masa lalu. Itu memang risiko yang harus ditanggung karena
tidak segera melakukan penertiban sejak dulu ketika ujaran-ujaran kebencian itu
masih sangat sedikit beredar di dunia maya. Memang dulu pun aparat kepolisian
sudah melakukan beberapa tindakan dan berujung pada pengadilan, tetapi belum
cukup untuk mengerem atau membuat takut para pemfitnah dan pembohong di dunia
maya.
Fenomena ini mengingatkan saya pada kata-kata Prof. Dr.
H. Ateng Syafrudin, S.H. (alm.) ketika saya membantunya membuat biografinya.
Saat itu kami berbincang tentang penertiban pedagang kakilima di Kota Bandung.
Ia mengatakan bahwa pemerintah Kota Bandung kesulitan untuk menertibkannya disebabkan
sudah terlalu banyaknya pedagang kakilima dan terlalu lama mereka berdagang di
sana sehingga merasa memiliki tempat itu dan memiliki kekuatan dengan jumlah
massa yang sangat banyak. Menurutnya, jika penertiban itu dilakukan sejak awal,
yaitu ketika pedagang kakilima jumlahnya hanya satu-dua, pemerintah tidak akan
kesulitan untuk menertibkannya. Akan tetapi, ketika jumlah kakilima semakin
membludak menyerupai rimba belantara di trotoar dan pinggir jalan dalam waktu
bertahun-tahun, pemerintah pasti kesulitan untuk melakukan penertiban.
Pendapat Prof. Ateng tidak berbeda jika digunakan untuk
menganalisa situasi saat ini yang berkembang di Medsos. Pemerintah dan polisi
pasti tidak akan kesulitan menertibkan ujaran kebencian dan penghinaan di
Medsos jika dilakukan sejak dulu ketika jumlahnya masih sangat sedikit. Akan
tetapi, kesulitan pasti muncul lebih berat ketika jumlahnya sudah membengkak
seperti sekarang ini. Meskipun demikian, tidak ada kata terlambat bagi
pemerintah, polisi, dan seluruh elemen bangsa yang peduli pada bangsanya.
Kita harus apresiasi tindakan pemerintah dan polisi yang
mulai membaik. Kita, sebagai rakyat, harus memberikan dorongan penuh pada
aparat. Dorongan itu bisa berupa kritikan bisa pula pujian. Tak ada kata
terlambat. Terlambat selalu lebih baik dibandingkan “tidak sama sekali”.
Kampus
Harus Lebih Aktif
Dalam menahan laju ujaran
kebencian, berita palsu, kebohongan, dan berbagai fitnah di Medsos,
kampus-kampus di seluruh Indonesia ini harus lebih aktif. Lingkungan kampus
adalah lingkungan yang mengharuskan seseorang berbicara, berpendapat, dan
menulis sesuai data, fakta, dan informasi yang bisa dipercaya. Bukan hanya
fenomena yang harus benar-benar terjadi secara nyata, melainkan pula
sumber-sumber informasinya harus jelas. Penyampai informasi haruslah bisa
dipercaya dan jelas jati dirinya. Pendapat-pendapat ilmiah pun harus dijelaskan
awal mulanya, siapa yang berbicara dan mengapa pendapatnya layak dijadikan
rujukan.
Lingkungan kampus
merupakan lingkungan yang mendorong para dosen dan mahasiswa membuat
serangkaian penelitian. Dalam setiap penelitian, fenomena yang diteliti harus
benar-benar terjadi secara nyata yang dibuktikan dengan kehadiran peneliti di
tempat kejadian atau atas informasi dari penyampai informasi yang layak
dipercaya. Penyampai informasi yang dipercaya tersebut harus jelas kompetensi,
jati diri, kejujuran, dan kapasitasnya. Pendapat-pendapat ilmiah atau
teori-teori yang digunakan sebagai alat analisis pun harus jelas dikemukakan
oleh siapa dalam buku apa atau dalam acara ilmiah yang mana. Fenomena yang
benar-benar terjadi secara nyata dengan teori atau pendapat ilmiah yang sah
menjadi bahan perbandingan yang akan memunculkan kesimpulan. Setelah kesimpulan
didapat, barulah kita dapat memberikan saran-saran.
Kewajiban-kewajiban ilmiah dalam lingkungan kampus sudah
saatnya diterapkan dan dibiasakan di tengah masyarakat, baik dalam cara
berbicara maupun dalam membuat tulisan di dunia maya. Dengan demikian,
masyarakat akan mendapatkan banyak informasi yang jelas nyata dan bermanfaat.
Seluruh orang yang pernah kuliah jangan ikut-ikutan ngaco menebarkan informasi
yang tak layak baca dan tak layak dikonsumsi masyarakat. Kalau ada akademisi
yang tidak memiliki kemampuan menulis dengan data dan analisis yang benar di
Medsos, jujur saja, saya meragukan keaslian skripsi, tesis, maupun
desertasinya. Jangan-jangan karya-karya ilmiah mereka merupakan hasil menyontek
dari orang lain alias plagiat. Ada
baiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memeriksa seluruh karya ilmiah para
sarjana, master, maupun doktor, termasuk profesor, apakah mereka lulus dengan
karya asli hasil kerja mereka atau didapat melalui kejahatan plagiat. Sangatlah
aneh jika para akademisi itu berpengalaman dalam membuat penelitian yang
mewajibkan semuanya jelas dan terang benderang, tetapi ikut-ikutan menulis di
Medsos secara ngaco, ngawur, tanpa dasar-dasar yang jelas dan hanya membuat runyam
suasana.
Seluruh akademisi dan lingkungan kampus wajib hukumnya
secara moral untuk ikut meredam ujaran kebencian dan berita-berita palsu yang
saat ini sudah sangat parah meresahkan masyarakat. Lingkungan kampus tidak
boleh justru ikut menjadi pendorong tumbuhnya keraguan dan kerancuan berpikir
di tengah masyarakat melalui tulisan-tulisan yang membuat pusing masyarakat.
Bukankah bersekolah itu untuk menjadi manusia yang
berguna bagi agama, bangsa, dan negara?
Ulama
Harus Lebih Berperan
Sampai hari ini dengan
seluruh kejujuran, saya merasakan kurangnya peranan ulama, ustadz, kiyai,
ajengan, syekh, habieb, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena
pengetahuan agamanya dalam hal meredam berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian
di Medsos. Saya berkali-kali mendengar pengajian dan diundang dalam acara-acara
keagamaan, termasuk mendengarkan khutbah Jumat, tak seorang pun penceramah yang
membahas secara khusus mengenai perlunya kehati-hatian dalam menulis di Medsos
atau mempercayai tulisan di Medsos. Padahal, saat ini adalah saat yang tepat
untuk mendapatkan pahala dari Allah swt dengan cara mengajari para santri,
jamaah, dan umatnya untuk mampu berperilaku baik di dunia maya, baik itu
sebagai penulis maupun sebagai pembaca.
Sesungguhnya, ajaran Islam lebih disiplin dibandingkan
dengan metode-metode yang diajarkan di kampus-kampus. Islam menekankan wajibnya
untuk menyampaikan segala sesuatu dengan jujur dan memahami sesuatu dengan
pemahaman yang benar. Hal itu disebabkan segala sesuatunya akan dimintai
pertanggungjawaban, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kebohongan dan
fitnah itu sudah jelas merupakan ciri-ciri perilaku orang-orang yang memiliki kemunafikan
di dalam dirinya dan itu adalah perilaku syetan.
Ada banyak ajaran yang bisa diaktualisasikan dari Islam
dalam hal menangkal, bahkan membasmi ujaran kebencian, berita palsu atau
bohong, penghinaan, dan lain sebagainya yang merajalela di dunia maya. Banyak
hal yang bisa dilakukan orang-orang yang mengaku diri dan disebut-sebut sebagai
ulama, kiyai, ustadz, ajengan, habieb, syekh, atau yang lainnya untuk meredam
kebohongan dan keresahan di masyarakat.
Saya harus mengingatkan siapa saja yang bergelar apa saja
dengan kedudukan apa saja dan dihormati siapa saja di Indonesia ini mengenai
gosip atau isu yang menerpa Siti Aisyah ra, isteri Muhammad saw. Aisyah ra pernah
diterpa gosip tentang perselingkuhannya dengan seorang pemuda. Isu itu menyebar
luas di kalangan kaum muslimin. Berita itu benar-benar mengacaukan situasi kaum
muslimin. Nabi Muhammad saw sendiri kebingungan, terkejut, tertekan, dan tidak
tahu harus bertindak apa. Aisyah ra sudah berupaya menerangkan, tetapi ia melihat
bahwa suaminya tidak yakin dengan keterangannya. Akibatnya, terjadi
disorganisasi dalam rumah tangga Nabi Muhammad saw. Aisyah ra pun segera meninggalkan
Nabi Muhammad saw dan pulang ke rumah ayahnya, Abu Bakar ra yang juga merupakan
sahabat Nabi Muhammad saw. Di rumah ayahnya ini pun Aisyah ra mendapatkan
kecurigaan yang bertubi-tubi dari ayahnya tentang perselingkuhannya. Abu Bakar
ra berulang-ulang dengan keras mengorek keterangan dari Aisyah ra. Aisyah ra
pun menerangkan dengan penuh kejengkelan mengenai peristiwa yang terjadi antara
dirinya dengan pemuda yang dituduhkan berselingkuh dengannya itu. Akan tetapi,
Aisyah ra melihat ayahnya seperti suaminya pula, Muhammad saw yang bertanya,
tetapi dengan nada menuduh. Akibatnya, Aisyah ra mengurung diri di dalam
kamarnya dan tidak mau lagi berbicara dengan ayahnya.
Isu itu benar-benar mengerikan dan menggoncangkan
keutuhan kaum muslimin dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Orang bisa mudah saja
menebar isu bahwa Aisyah ra yang sangat cantik, cerdas, dan masih berusia 17
tahun itu menginginkan seorang pria yang lebih muda dibandingkan Muhammad saw
yang sudah berusia sekitar 61 tahun. Dasar isu itu memang masuk akal, Aisyah ra
sangat merasa nyaman jika bersama dengan pria yang lebih muda.
Tak ada yang mampu menyelesaikan dan menjelaskan
persoalan itu. Nabi Muhammad saw dan para sahabat pun tak memiliki cara untuk
meredam isu-isu yang makin hari makin tidak karuan.
Bayangkan, seorang istri Nabi Muhammad saw berselingkuh!
Ketika Nabi Muhammad saw tersudut dan tertekan, Aisyah ra
terpojok dan tertuduh, para sahabat dan kaum muslimin malah ikut bergunjing tentang
hal itu, Allah swt yang Maha Melihat dan Maha Mendengar menurunkan kasih
sayang-Nya dengan memberikan penjelasan berupa ayat-ayat Al Quran. Allah swt
mengabarkan bahwa Aisyah ra yang sangat cantik dan muda itu sama sekali tidak
bersalah. Aisyah ra tidak berselingkuh. Dia perempuan yang sangat baik, pintar,
dan tetap suci sebagai istri Nabi saw. Di samping itu, Allah swt sendiri
mengajarkan bahwa seharusnya kita selalu melakukan tabayun apabila mendapatkan isu, gosip, atau berita tentang sesuatu
hal yang masih belum jelas. Tabayun itu dalam bahasa sekarang adalah check and recheck, verifikasi,
penelaahan lebih mendalam atas kebenaran atau ketidakbenaran berita
tertentu.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Allah swt, terang
benderanglah semuanya. Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan. Para pembuat isu
hampir-hampir saja dihukum dengan sangat keras. Abu Bakar ra sendiri berjanji
menghukum pembantunya yang juga sebagai penyebar aktif gosip murahan itu. Akan
tetapi, Allah swt dan Nabi Muhammad saw melarang Abu Bakar ra untuk melakukan
penghukuman itu. Meskipun demikian, karena Abu Bakar ra sudah berjanji dan
janjinya itu tidak akan bisa dilaksanakan, Abu Bakar ra mengganti janjinya itu
dengan kafarat sebagai penebus atas janji yang tidak dilaksanakan.
Bukankah kisah itu bisa diaktualisasikan pada saat ini
ketika masyarakat diteror oleh gosip dan isu murahan?
Semua santri, jamaah, umat, dan siapa saja bisa belajar
dari kisah yang mendera Muhammad saw-Aisyah ra. Pelajaran yang sangat berharga
itu adalah kita jangan terlalu cepat percaya pada isu-isu atau berita-berita
yang bisa mengoncangkan pikiran dan kehidupan di masyarakat. Apabila kita
mendapatkan berita atau isu-isu, hendaklah melakukan tabayun, check and recheck, verification karena hal itu merupakan
perintah dari Allah swt. Dengan memeriksa kebenaran suatu berita, kita sudah
melaksanakan perintah Allah swt dan itu sangat berpahala. Apabila kita langsung
percaya pada berita-berita atau isu-isu yang masih samar, kita akan mudah
tergelincir dalam dosa karena tidak melaksanakan perintah Allah swt untuk
selalu melakukan tabayun, check and
recheck, verification. Lebih berdosa lagi jika kita yang justru menyebarkan
berita-berita palsu itu. Bahkan, dosanya akan berlipat-lipat ganda jika penebaran
berita bohong itu dilakukan justru oleh orang-orang yang mengakui dirinya sebagai
ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, atau apalah sebutannya bagi orang
yang dihormati karena pengetahuan agamanya.
Paham Saudara-saudaraku?
Mau contoh satu lagi dari ajaran Islam yang dapat
diaktualisasikan untuk meredam berita fitnah?
Tidak mau?
Terserah!
Saya memaksa untuk berceritera. Kalau dada kalian tidak
bisa menerima tulisan saya ini dan merasa sesak, segera tinggalkan halaman ini,
pergilah ke halaman lain, situs lain yang kalian sukai. Saya hanya akan
berceritera bagi mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan dari saya meskipun
sangat sedikit.
Seharusnya, bukan saya yang menulis tentang hal ini. Para
ahli yang lebih berkompeten untuk menerangkannya kepada masyarakat. Akan
tetapi, mudah-mudahan, saya menjadi pemicu bagi para ahli untuk lebih luas
menerangkannya kepada masyarakat. Saya hanya memaksakan diri untuk menulisnya.
Dalam ajaran Islam ada yang disebut hadits. Isinya berupa informasi mengenai perilaku atau kata-kata Baginda
Mulia Nabi Muhammad saw. Untuk mempercayai atau mendapatkan hadits yang benar,
sah, atau shahih, diperlukan metode-metode ketat yang harus dijalankan agar
potret dari perilaku dan kata-kata Muhammad saw itu benar-benar adalah yang terjadi
secara nyata, bukan rekaan, bohong, atau fitnah. Meskipun kita mendapatkan
kisah-kisah yang baik dan bagus tentang Nabi Muhammad saw, belum tentu itu
terjadi secara nyata. Bisa jadi hal itu hanya merupakan dongeng-dongeng dari
orang-orang yang mencintai Nabi Muhammad saw secara berlebihan. Kisah-kisah
yang baik dan bagus saja harus diperiksa kebenarannya, apalagi kisah-kisah yang
buruk. Kita tidak boleh menerima dan mempercayai berita baik, bagus, atau buruk
tentang Nabi Muhammad saw, melainkan harus mendapatkan berita yang original
terjadi secara nyata.
Saya pribadi selalu menilai hadits itu pertama kali dari
isinya, redaksinya. Jika redaksinya masuk akal, saya mulai menerima. Akan
tetapi, jika sudah tidak masuk akal, saya mudah sekali untuk menolaknya dan
menjatuhkannya menjadi dongeng sebelum tidur.
Kedua, saya
membandingkannya dengan Al Quran. Jika informasi mengenai Nabi Muhammad saw itu
sesuai dengan Al Quran, semakin kuat keyakinan saya bahwa berita itu adalah
benar. Apabila bertentangan dengan isi Al Quran, saya mengatakannya itu adalah
dusta.
Ketiga, saya
mengujinya dengan hadits-hadits lain yang telah dinyatakan shahih lebih dulu.
Jika memiliki kesesuaian dengan hadits-hadits yang dinyatakan shahih, semakin
yakinlah bahwa berita atau hadits itu adalah kebenaran dan bukan rekaan.
Apabila hadits itu bertentangan dengan hadits yang telah dinyatakan shahih,
saya sangat meragukan keasliannya, bahkan kemungkinan menolaknya.
Keempat, kita
harus memeriksa apakah para perawi atau penyampai berita itu bisa dipercaya
atau tidak. Orang yang layak dipercaya sebagai pembawa informasi mengenai Nabi
Muhammad saw itu harus jelas orangnya, dikenal sebagai orang yang jujur, bukan
pelupa, diakui sebagai orang baik-baik, tidak suka berbohong, memahami Islam
dengan benar, dan lain sebagainya. Jika di antara para penyampai informasi itu terdapat
orang yang diragukan integritas pribadinya, hadits Nabi Muhammad saw itu akan
sangat sulit dinyatakan sebagai hadits shahih.
Untuk masalah kualitas para penyampai informasi ini, kita
memang bergantung sekali pada buku-buku rujukan yang telah ditulis sebelumnya.
Belum ada lagi orang yang dianggap mampu melebihi kehebatan Imam Bukhari dalam
mengumpulkan informasi atau hadits Nabi Muhammad saw. Jika saja saat ini ada
orang yang mau dan mampu mengurutkan para penyampai berita itu sejumlah dua
puluh generasi, dia akan lebih hebat daripada Imam Bukhari maupun Imam Muslim.
Perlu diingat bahwa antara generasi kita dengan generasi Nabi Muhammad saw
dihubungkan oleh dua puluh generasi. Jika ada orang yang mampu menjelaskan
keduapuluh orang itu dari dua puluh generasi secara berturut-turut dan kronologis
hingga mampu menghubungkan generasi kita dengan generasi Nabi Muhammad saw
secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, ia lebih hebat dibandingkan para
ahli hadits mana pun yang pernah dikenal di muka Bumi ini sepanjang sejarah masa.
Dengan demikian, informasi mengenai perilaku dan kata-kata Nabi Muhammad saw
benar-benar terkoneksi dengan kita secara nyata dan lebih meyakinkan. Hadits
yang kita terima berasal dari siapa, siapa berasal dari siapa, siapa berasal
dari siapa, terus berlanjut hingga berujung pada orang yang mendengar dan
melihat langsung Nabi Muhammad saw. Setiap orang dari keduapuluh generasi itu
harus menceriterakan hal yang sama persis. Jika ada satu orang saja yang mengisahkan
hal berbeda, putuslah hadits itu di tengah jalan dan sangat sulit dipercaya
kebenarannya.
Sebagaimana tadi telah saya sampaikan bahwa para ahli
haditslah yang sebaiknya menuliskan hal ini. Karena aturan-aturan ketat
mengenai hadits Nabi, kita mengenal adanya hadits
shahih, mutawatir, sampai dengan hadits
dhaif. Bahkan, di kalangan umat Islam Sunda dikenal istilah teu dhaif-dhaif acan. Artinya, hadits
itu dhaif pun tidak, hadits lemah pun bukan. Maksudnya, berita tentang Nabi saw
yang tidak dapat dipertanggungjawabkan itu hanyalah dongeng belaka.
Nah, pengetahuan atau pemahaman mengenai aturan-aturan
atau metode-metode untuk menentukan kedudukan sebuah hadits ini dapat
diaktualisasikan dalam memerangi berita-berita fitnah, bohong, dan palsu. Para ulama,
ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, Aa, atau apalah sebutannya bagi orang
yang dihormati karena pengetahuan agamanya dapat menyadarkan umatnya bahwa
untuk mempercayai sebuah berita sebagai sebuah kebenaran sangatlah tidak mudah,
diperlukan upaya serius, tidak asal percaya. Isi berita itu harus masuk akal
dan tidak bertentangan dengan kenyataan. Penyampai atau penulis berita itu
harus jelas jati dirinya. Kualitas dari diri Si Penyampai Berita itu harus
benar-benar teruji, apakah dia orang baik cerdas atau pembohong dan pengedar
Narkoba; apakah dia memiliki daya ingat yang kuat atau mudah lupa; apakah
konsisten hidupnya dalam kebaikan atau tidak; apakah gemar kekuasaan, angkuh,
dan sombong, atau tidak; apakah dirinya lentur dalam menerima kritik atau
arogan; rupa-rupa hal yang bisa dilakukan untuk menguji Si Penulis Berita dan
hal itu menentukan kebenaran dari berita yang ditulisnya.
Sampai hari ini saya melihat baru Presiden, pemerintah,
aparat TNI-Polri, serta beberapa gelintir aktivis pers dan nasionalis yang
sangat serius dalam memerangi huru-hara berita palsu di Medsos. Saya berharap
dengan seluruh harapan bahwa para ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb,
Aa, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan
agamanya dapat lebih berperan untuk mengabdikan diri kepada Allah swt dengan
cara meredam kekisruhan yang diakibatkan perilaku buruk dari para netizen yang
tak tahu banyak tentang kebaikan dan kebenaran. Mungkin para ulama, ustadz,
kiyai, ajengan, syekh, habieb, Aa, atau apalah sebutannya bagi orang yang
dihormati karena pengetahuan agamanya sudah melakukannya di tempatnya
masing-masing, tetapi saya merasakan kurang untuk di tingkat nasional, bahkan
internasional.
Hal ini pula yang saya sampaikan berulang-ulang kepada
para mahasiswa saya. Saya berharap mereka dapat menulis yang baik-baik,
bermanfaat, dan bernilai. Kalaupun harus menulis hal-hal yang buruk dan berisi
kritikan, tulisannya harus tetap
bernilai memiliki data yang tepat dan menyampaikan informasi dengan jujur di
samping memberikan solusi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Beberapa perkuliahan saya direkam mahasiswa. Salah
satunya yang ada di bawah ini.