Friday, 20 January 2017

Ingin Penyelesaian Secara Kekeluargaan, Zieq?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kalau ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan tanpa masuk ke wilayah hukum, seharusnya Rizieq menyelesaikan dulu masalah dengan dirinya sendiri. Saya melihat Rizieq itu bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia sebenarnya tidak sedang berseteru dengan orang lain, tetapi sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, kata-katanya sering tidak lurus, bahkan aneh.

            Coba perhatikan soal logo di uang kertas. Orang-orang lain tidak melihat ada lambang palu arit, tetapi dia bilang itu mirip palu arit. Lalu, mempengaruhi orang lain supaya pendapatnya sama dengan dia. Padahal, secara resmi logo itu bukanlah palu arit. Perhatikan pula bagaimana ia menyalahkan Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan karena ada bentrokan antara FPI dengan Ormas-Ormas kesundaan. Sebetulnya kan yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri karena bawa massa banyak-banyak seenaknya tanpa ada izin, akhirnya memprovokasi kelompok lain untuk mengerahkan massa yang juga sangat banyak. Perhatikan pula bagaimana dia menanggapi pidato Megawati Soekarnoputri yang menurutnya mengandung penghinaan terhadap Islam. Padahal, jika dilihat dan didengarkan, tak ada satu pun kalimat dari Megawati yang mengandung penghinaan terhadap Islam. Kalau mau jujur, pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu pun tak mengandung penghinaan terhadap Islam dan ulama, baik secara bahasa Indonesia maupun secara tafsir. Akan tetapi, Rizieq mencoba terus berulang-ulang meyakinkan orang lain, bahkan mendesak aparat untuk membuat Ahok benar-benar disalahkan sebagai penista Al Quran.

            Tentang tafsir QS Al Maidaah : 51, saya sudah menuliskan pendapat saya berdasarkan Tafsir Qur’an per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul dan Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A..  Tafsir itu pun merujuk pada penafsiran Ibnu Katsir. Di samping itu, saya pun menggunakan Sejarah Hidup Muhammad yang disusun oleh Mohammad Haekal untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada saat QS Al Maidaah : 51 itu turun. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah QS Al Maaidah : 51 sama sekali tidak berhubungan dalam memilih pemimpin di Indonesia dalam sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukkan bahwa QS Al Maaidah : 51 sangat tidak tepat untuk digunakan sebagai alat menarik kaum muslimin dalam memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Tulisan saya tentang hal ini dapat Saudara baca pada tulisan yang berjudul Terlalu Sering Ayat Al Quran Digunakan sebagai Alat untuk Berbohong. Masih di blog ini juga. Cari saja.

            Tentang pendapat saya bahwa tidak ada kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu yang mengandung unsur penistaan secara bahasa Indonesia. Saya akan segera menuliskannya di blog ini. Saya sesungguhnya menunggu para ahli menjelaskannya di media televisi, tetapi sampai saat ini saya tidak melihatnya. Jadi, saya akan coba menjelaskannya dalam bahasa Indonesia yang saya pahami pada waktu yang lain. Tenang saja. Mudah-mudahan saya ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Insyaallah.

            Kembali pada keanehan Rizieq. Setelah banyak orang yang gerah terhadap Rizieq dengan melaporkan berbagai hal yang diduga merupakan pelanggaran hukum, Rizieq tampaknya mulai tertekan.

            Dalam kompas.com Rizieq mengatakan hal yang sangat lucu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (17/1/2017), “Janganlah kita coba saling lapor karena ini bisa mengantarkan pada konflik horizontal. Mestinya kepolisian menjembatani."

            Lho, kok bisa dia bilang seperti itu?

            Lucu sekali.

            Bukankah dia sendiri yang memulai aksi saling lapor?

            Akan tetapi, dia sendiri yang tidak menginginkan situasi saling lapor terjadi. Aneh sekaligus menggelikan. Dia yang memulai, dia pula yang ingin mengakhiri.

            Mirip lagu dangdut kan?

            Coba ingat-ingat. Ketika dilaporkan oleh Ormas kesundaan terkait penghinaannya atas sampurasun yang dia plesetkan menjadi campur racun, Rizieq bukannya berani menghadapi laporan itu, melainkan melaporkan balik Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, atas penghinaan terhadap Islam.

            Bukankah itu tindakan saling lapor yang dimulai oleh Rizieq sendiri?

            Coba ingat lagi. Ketika dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penghinaan terhadap Pancasila dan Proklamator Ir. Soekarno, Rizieq bukannya dengan gagah berani menghadapi, melainkan berniat melaporkan balik Soekarnoputri.

            Bukankah itu merupakan niat Rizieq untuk melakukan aksi saling lapor?

            Coba analisa lagi. Ketika Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan mulai serius memeriksa Rizieq untuk menanggapi laporan Sukmawati, Rizieq malah menggunakan gerombolannya untuk beraksi meminta Polri memecat Anton Charliyan dengan alasan adanya keributan antara FPI dan GMBI. Padahal, dia sendiri yang bawa gerombolan banyak-banyak.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Coba duga lagi. Ketika Kapolda Metro Jaya mulai serius pula menanggapi laporan masyarakat atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Rizieq, Rizieq malah meminta Kapolda untuk dicopot dengan dugaan melakukan provokasi saat terjadi demonstrasi.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk pula dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Aneh memang ini Rizieq. Ia ingin bebas melaporkan orang lain, tetapi tidak ingin orang lain melaporkan dirinya. Padahal, ia sendiri yang mulai sedikit-sedikit laporan, sedikit-sedikit bikin laporan. Sedikit-sedikit bawa massa, sedikit-sedikit teriak-teriak.

            Ia memang sudah seharusnya merasakan tekanan luar biasa karena wajib mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya. Apalagi keinginannya untuk melakukan mediasi dengan pihak-pihak yang melaporkannya menemui jalan yang lumayan sulit, bahkan bisa pula buntu. Paling tidak, PDI-P sudah menyatakan dukungan kepada Polri untuk tidak perlu ragu menangkap Rizieq.

            Meskipun demikian, sesungguhnya ada jalan yang bisa ditempuh Rizieq dengan baik-baik dan berpotensi melepaskannya dari seluruh jeratan hukum. Syaratnya, Rizieq harus bersungguh-sungguh menjalankannya dengan menanggalkan seluruh keangkuhan dirinya.

            Saya sebagai orang Islam memiliki kewajiban untuk “saling menasihati” agar setiap muslim memiliki kebaikan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Sebenarnya, beberapa tulisan saya merupakan nasihat buat Rizieq. Akan tetapi, mungkin dia masih enggan untuk mengikuti nasihat saya. Terserah dia.

            Sekarang ada lagi nasihat buat kamu, Zieq.

            Kalau benar-benar ingin melepaskan diri dari jeratan hukum, hal pertama yang harus dilakukan Rizieq adalah meminta maaf kepada orang Sunda atas penghinaannya terhadap kata mulia sampurasun. Semua hal yang membuat hidup Rizieq menjadi sangat berat dalam kasus hukum, berawal dari penghinaannya itu sebenarnya. Minta maaflah dengan tulus sampai mata dan seluruh raut muka Rizieq menunjukkan benar-benar ketulusan. Tak perlu malu dan tak perlu sungkan karena orang Sunda yang hidup dengan kesundaannya tidak akan pernah menertawakan atau merendahkan orang-orang yang berbuat baik. Bahkan, mereka akan menjadikan Rizieq sebagai saudara.

            Mau kan hidup penuh dengan rasa persaudaraan?

            Kalau mau hidup dengan perselisihan, ya terserah kamu saja, Zieq.

            Jika permohonan maaf itu telah dilakukan, silaturahmilah dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Minta maaflah atas laporan yang telah dilakukan Rizieq terhadap Dedi Mulyadi karena sesungguhnya Dedi tidak melakukan penghinaan kepada Islam. Kalau ada dari tulisan Dedi yang belum dipahami dengan baik oleh Rizieq, tanyalah kepada Dedi tentang buku Dedi itu, berdiskusilah dengan baik. Hal itu akan menguatkan pemahaman Islam dan keimanan masing-masing. Kemudian, cabut laporan terhadap Dedi ke polisi. Itu sangat terhormat, menumbuhkan persaudaraan, dan menghindarkan konflik-konflik horizontal.

            Saya yakin Dedi Mulyadi akan menerima dengan baik jika Rizieq berniat menghubungkan tali silaturahmi dengan baik. Tidak perlu ragu karena Allah swt sangat meridhoi orang-orang yang menyambungkan tali silaturahmi.

            Apabila Rizieq mampu melakukan hal itu, yakinilah Ormas Sunda pun akan mencabut laporannya atas penghinaan terhadap sampurasun itu. Hal itu pun akan mendorong orang-orang lain di seluruh Indonesia ini yang telah melaporkan Rizieq berpikir ulang untuk terus-menerus menginginkan Rizieq dipenjara. Orang-orang yang menolak Rizieq untuk datang ke daerahnya pun akan mulai membuka diri terhadap kehadiran Rizieq. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang baik yang tidak menginginkan huru-hara dan permusuhan. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang damai yang terhormat. Mereka akan mudah memaafkan Rizieq dan mencabut apa pun laporan yang bisa menjerat Rizieq ke dalam proses hukum. Yakinilah hal itu. Megawati dan PDI-P pun akan dengan sangat cair untuk berdialog dengan baik jika melihat bahwa Rizieq berusaha dengan tulus memperbaiki hubungannya dengan orang-orang lain. Insyaallah.

            Minta maaf dulu dengan tulus kepada orang Sunda jika ingin terbebas dari segala jeratan hukum karena dari sanalah segalanya dimulai. Akan tetapi, jika itu tidak dilakukan, jangan harap akan terbebas dari jeratan hukum. Orang-orang yang saat ini sedang kesal terhadap Rizieq, akan lebih meningkatkan lagi kekesalannya dan akan bertepuk tangan sambil tertawa gembira jika Rizieq duduk di kursi pesakitan. Bahkan, hal yang lebih parah adalah akan semakin banyak orang yang mencoba mencari-cari kesalahan Rizieq, FPI, dan orang-orang kepercayaan Rizieq untuk kemudian dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai pelanggar hukum dan penoda keyakinan. Itu akan membuat hidup semakin sulit.

            Jangan heran dan jangan kaget jika ada orang-orang yang kemudian mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Rizieq, FPI, dan orang-orang dekatnya dengan kasus macam-macam yang belum bisa diperkirakan.

            Bukankah Novel sudah mulai khawatir atas tuduhan “kesaksian palsu”?

            Bukankah Munarman sudah mulai terjerat hukum karena dianggap meresahkan kehidupan harmonis di Bali?

            Jangan lagi menggunakan massa untuk menghindar dari segala tanggung jawab hukum karena itu akan menimbulkan konflik horizontal dan meruntuhkan kehormatan diri. Apalagi jika sudah terjadi korban manusia, Allah swt pasti akan meminta pertanggungjawaban atas hal itu kelak dengan sangat berat.

            Daripada harus menghadapkan massa untuk bertarung, lebih baik menyodorkan kedua tangan untuk bersalaman, bersaudara, dan berangkulan dengan damai. Itu lebih baik karena Allah swt sangat mencintai kasih, sayang, cinta, dan perdamaian.

            Begitu Zieq, nasihat dari saya.

            Lakukan sekarang juga dari hal yang paling kecil mulai dari diri sendiri.

Monday, 16 January 2017

Zieq, Kamu Jangan Jadi Pengecut, Zieq

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dikiranya hebat gitu bawa orang bergerombol-gerombol, lalu teriak-teriak?

            Dikiranya jadi jagoan gitu mengerahkan massa sampai bejibun-bejibun banyaknya?

            Dikiranya pemberani gitu mempengaruhi massa sampai mau long march  bareng-bareng?

            Bagi saya, tidak sama sekali!

            Hahahaha … sori and maaf saya ketawa … soalnya, lucu melihatnya.

            Perilaku seperti itu sama sekali tidak hebat, bukan jagoan, dan bukan pemberani. Perilaku seperti itu pertanda seorang pengecut!

            Seorang pemberani tidak akan bawa banyak-banyak massa untuk menemaninya memenuhi panggilan polisi. Lihat itu Ahok. Contoh Ahok. Ketika dilaporkan ke polisi, Ahok segera mendatangi kantor polisi untuk menyampaikan klarifikasi dan siap untuk bekerja sama dengan polisi, padahal polisi belum melakukan pemanggilan kepadanya. Dia tidak bawa massa banyak-banyak, beberapa orang saja yang dianggap penting. Dia itu pemberani. Ketika tiba masanya dipanggil, dengan segera Ahok memenuhinya dengan patuh.

            Bahkan, Ahok bilang, “Saya siap dipenjara jika saya salah dan semua keributan adalah memang gara-gara Ahok!”

            Hebat sekali dia.

            Di samping itu, dia selalu hadir lebih pagi dalam acara persidangannya. Itu tandanya dia berani dan mau bekerja sama dengan aparat hukum.

            Berbeda jauh dengan Rizieq.  Ketika dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri, ia menghindar dan mencoba berkelit dengan akan melaporkan balik Sukmawati. Di samping itu, tak ada pernyataan yang menunjukkan dirinya sebagai seorang pemberani dengan menegaskan bahwa dirinya siap masuk penjara jika salah.

            Hal yang lebih lucu adalah jangankan langsung datang ke kantor polisi untuk mengklarifikasi laporan Sukmawati dan menyatakan siap bekerja sama, dipanggil polisi pun Rizieq tidak datang. Alasannya sakit. Baru setelah polisi menyatakan ketegasannya akan menjemput paksa jika dipanggil lagi tidak datang, Rizieq akhirnya datang. Itu pun ditemani sama ribuan orang yang bikin macet jalan yang suka dipakai orang untuk ke Rumah Sakit Al Islam dan Rumah Sakit Ujungberung, padahal siang hari. Kalau malam hari sih wajar ditemani orang karena mungkin takut sama hantu kuntilanak.

            Memenuhi panggilan polisi sih, Rizieq emang iya, tetapi terjadi keributan di sana karena bawa massa banyak-banyak. Hal itu memprovokasi kelompok masyarakat lain yang juga punya massa banyak sehingga datang ke tempat yang sama. Coba kalau dia pemberani dan bukan pengecut yang gemar berlindung di balik massa, tidak akan terjadi keributan. Datang sendiri dong kayak Ahok. Kalau datang sendiri, itu namanya pemberani, hero, dan bukan pengecut. Malu dong sama Ahok.

            Ketika sudah terjadi keributan, Rizieq dan konco-konconya malah nyalahin Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan. Aneh. Padahal, dia sendiri yang datang bawa banyak orang yang kemudian memicu masyarakat lain untuk datang. Coba kalau sendirian datang sebagai pemberani, keributan pasti tidak akan ada. Karena pengecut dan lebih nyaman dengan ditemani gerombolan orang, keributan pun pecah. Perlu diingat bahwa kehadiran kelompok lain itu adalah karena terpicu Rizieq yang bawa banyak massa. Kalau Rizieq tidak sering-sering bawa massa banyak, mereka tidak akan datang.

            Rizieq bisa saja berkilah bahwa dirinya tidak mengerahkan massa untuk datang, tetapi para pendukungnya yang ingin datang sendiri membantu dirinya sebagai sesama muslim. Kalau alasannya seperti itu, saya pasti tertawa terbahak-bahak karena tetap saja dengan membiarkan orang datang bergerombol banyak-banyak bikin macet untuk menemaninya sama dengan merupakan tanda kepengecutan. Seorang pemberani pasti akan melarang orang lain datang untuk menemaninya karena dia tidak memerlukannya.

            Saya kasih contoh bagaimana seorang hero yang benar-benar Sang Pemberani Sejati. Dia adalah ayahnya Sukmawati Soekarnoputri. Ketika Ir. Soekarno hendak keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, karena masa penahanannya berakhir, teman-temannya datang dari Surabaya untuk mengabarkan bahwa para pejuang Surabaya akan segera mengerahkan massa ke Bandung untuk menjemput Soekarno sekaligus melakukan demonstrasi.

            Soekarno sebagai seorang Pemberani Sejati menasihati teman-temannya itu, “Tidak perlulah teman-teman menjemput saya. Biarlah saudara-saudara kita tetap di Surabaya. Saya yang nanti akan datang sendiri ke Surabaya. Baik sekali jika tidak datang menjemput saya karena uang-uang yang digunakan untuk ongkos ke Bandung dapatlah digunakan untuk kepentingan teman-teman, apalagi di dalam zaman sekarang yang dalam zaman kesempitan rezeki ini, kita harus berhemat. Biarlah saudara-saudara yang di Bandung saja yang akan menjemput saya.”

            Begitu seharusnya seorang pemberani dan pecinta umat berbicara dan bertindak. Soekarno pemberani dan tidak memerlukan ribuan orang untuk menjemput dirinya. Di samping itu, ia mencintai rakyatnya yang sedang dalam kesulitan ekonomi. Ia tidak ingin membuang-buang uang orang hanya untuk kepentingan dirinya.

            Coba bayangkan jika ribuan massa dari Surabaya dan Bandung berkumpul di depan Penjara Sukamiskin, Bandung. Di samping  jalanan macet, uang banyak keluar, juga bisa terjadi bentrokan dengan polisi kolonial dan penduduk pribumi yang pro-Belanda. Soekarno tahu itu dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Begitulah seorang pemikir cerdas yang pemberani melakukan pertimbangan.

            Rizieq itu tampak sekali pengecutnya. Ketika dia dilaporkan Ormas Sunda mengenai sampurasun, eh dia bukannya berani menghadapi, malah balik melaporkan Dedi Mulyadi yang katanya menghina Islam lewat bukunya. Padahal, jika  dilihat, laporan Rizieq itu mengada-ada dan hanya merupakan tindakan menghindarkan diri dari kasus penghinaan sampurasun. Apa yang disebut penghinaan Islam menurut Rizieq yang dilakukan Dedi Mulyadi sebetulnya karena Rizieq tidak mengerti tentang Islam itu sendiri yang disampaikan dengan menggunakan bahasa rasa oleh Dedi Mulyadi.

            Ketika Rizieq dilaporkan oleh Sukmawati, bukannya dengan gagah menghadapi, malah balik akan melaporkan balik Sukmawati. Ketika Anton Charliyan mulai memeriksa, Rizieq pun tampak ketakutan karena tidak bisa menjawab banyak pertanyaan polisi. Lalu, memindahkan isu ke arah isi tesisnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan kata “pantat” dan hal yang dilaporkan Sukmawati. Isu pun beralih pada keributan antara FPI dengan GMBI yang sebetulnya dipicu oleh kepengecutan Rizieq dengan membawa ribuan massa. Lalu, beralih lagi ke arah posisi Anton Charliyan selaku Pembina GMBI. Isu pun makin jauh ke mana-mana, padahal pemicunya Rizieq sendiri yang pengecut bawa orang-orang banyak untuk menemaninya. Coba kalau dia jantan dan tidak pengecut, tidak perlu bawa banyak-banyak orang, situasi pasti kondusif.

            Kepengecutan dia pun terlihat ketika mencoba mempengaruhi orang banyak dengan meniup-niupkan isu bahwa pada uang yang dicetak BI ada logo mirip palu arit. Logo mirip lambang PKI itu kan cuma kata dia dan orang-orang yang serupa dia. Orang lain tidak melihat seperti itu. Saya juga tidak melihatnya seperti palu arit. Perlu diketahui bahwa saya ini adalah pecinta palu arit. Palu arit adalah hiburan bagi saya ketika saya sedang tidak ada pekerjaan. Oleh sebab itu, saya banyak membeli palu arit. Di gudang rumah saya ada empat palu yang disimpan bareng dengan paku, tang, dan meteran. Adapun arit saya punya dua, disimpan bareng gergaji, linggis, sendok tembok, pahat, dan alat lainnya. Jadi, saya tahu benar bagaimana itu rupa palu dan rupa arit.  Saya tidak melihatnya ada pada gambar uang yang dicetak BI. Rizieq itu pengecut karena tidak mau bertanya langsung pada Direktur BI tentang logo itu. Kalau menurut dia pada gambar uang ada logo mirip palu arit, berani dong tanya sama Direktur BI supaya mendapatkan penjelasan yang benar. Bukan ngomong sana-sini nggak karu-karuan yang menambah-nambah kisruh isu pekerja illegal Cina yang jumlahnya 50 juta tanpa ada mau yang bertanggung jawab tentang data jumlah itu.

            Tanya dong sama Direktur BI baik-baik. Kalau sudah dijelaskan, jangan memaksakan diri untuk ngotot bahwa itu benar-benar lambang palu arit. Rizieq tidak berani bertanya langsung. Dia beraninya ngomong sama gerombolannya tidak karu-karuan. Periksa itu matanya ke rumah sakit. Orang lain tidak melihat palu arit, dia bilang itu palu arit.

            Dasar pengecut!

            Kalau Rizieq benar-benar seorang Mujahid Pemberani Sejati, buktikan bahwa dia bisa menyelesaikan sendiri masalah hukum yang menimpa dirinya tanpa harus ditemani dengan gerombolan manusia yang telah dipengaruhinya.

            Jadilah pemberani dan jangan jadi pengecut!

            Malu dong sama Ahok.

Saturday, 14 January 2017

Buat Apa Mengkritik Soekarno, Zieq?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Aneh benar nih Rizieq FPI.

            Untuk apa mengkritik Presiden Pertama RI Soekarno?

            Apa gunanya?

            Ada masalah apa kamu dengan Soekarno, Zieq?

            Pengen cari keributan?

            Kalau memang pengen ribut, kamu berhasil, Zieq. Sukmawati, puteri Soekarno, mempermasalahkan kamu, Zieq.

            Kritik kepada Soekarno itu pasti sudah terjadi dalam rapat-rapat atau sidang-sidang BPUPKI. Kritikan itu sudah diterima Soekarno dengan munculnya kesepakatan baru tentang Pancasila. Itu artinya persoalan itu sudah selesai. Soekarno dan pendiri bangsa lainnya sudah sepakat, diskusi sudah berakhir, perdebatan telah finish.

            Lalu, ngapain lagi mengkritik Soekarno dengan hal itu?

            Bukankah Soekarno telah menerimanya?

            Nggak ada kerjaan aja!

            Di dalam video yang beredar di youtube berdurasi 2 menit 15 detik, saya mendengar Rizieq mengatakan hal-hal yang berpotensi menyesatkan orang.

            Sejak pertama saya dengar dari video itu, kata-katanya tidak begitu jelas, tetapi lebih jelas ketika dia  mengatakan, “ … dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

            Segera saja saya mengambil kesimpulan bahwa dia mengatakan sila pertama dari Piagam Jakarta.

            Kalimat-kalimat berikutnya bagi saya Rizieq berpotensi menyesatkan orang lain.

            Dia berkata, “Ini Pancasila yang asli! Ini Pancasila yang otentik! Ini Pancasila yang disepakati oleh para pendiri bangsa kita!”

            Begitulah yang saya dengar. Kalau saya salah mendengar, beritahu saya. Saya pasti akan memperbaikinya.

            Dengan mengatakan Ini  Pancasila yang asli!, sudah pasti harus ada Pancasila yang palsu. Kata asli memiliki lawan kata palsu. Tidak ada yang asli jika tidak ada yang palsu. Kata asli ada karena ada kata palsu. Sesuatu disebut asli adalah untuk membedakan daripada yang palsu.

            Rizieq harus menjelaskan jika Piagam Jakarta adalah Pancasila yang asli, lalu mana yang palsu.

            Kalau Pancasila yang sekarang adalah palsu karena yang asli adalah Piagam Jakarta, apa namanya itu kalau bukan pelecehan, penghinaan, pengingkaran, dan penodaan terhadap Pancasila?

            Dengan mengatakan Ini Pancasila yang otentik!, Rizieq harus menjelaskan mana Pancasila yang tidak otentik.

            Kalau Pancasila yang sekarang adalah tidak otentik karena yang otentik adalah Piagam Jakarta, apa namanya itu kalau bukan pelecehan, penghinaan, pengingkaran, dan penodaan terhadap Pancasila?

            Dalam video berdurasi 2 menit 15 detik itu, Rizieq meneruskan, “Kalau begitu, Pancasila Soekarno dengan Piagam Jakarta sama atau beda?”

            Saya heran mengapa dia membandingkan Piagam Jakarta dengan usulan Soekarno?

            Mengapa dia hanya membandingkan Piagam Jakarta dengan usulan Soekarno, padahal yang mengusulkan rumusan dasar negara itu ada tiga orang, yaitu Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno?

            Lebih jauh lagi, Rizieq menegaskan, “Pancasila Soekarno, Ketuhanan di “pantat”. Pancasila Piagam Jakarta ada di kepala.”

            Kata “pantat” yang masuk ke telinga saya itu teramat kasar bagi manusia biasa dan teramat “kurang ajar” jika dialamatkan kepada Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno.

            Rizieq pun melanjutkan dengan pertanyaan, “Mana yang lebih bagus Pancasila Soekarno atau Piagam Jakarta?”

            Ini yang mengherankan saya.

            Mengapa membandingkan Pancasila Soekarno dengan Piagam Jakarta?

            Mengapa mempersoalkan letak sila “ketuhanan” dari Soekarno dengan Piagam Jakarta?

            Mengapa tidak sekalian kritik saja usulan lisan Muh. Yamin yang menempatkan ketuhanan pada sila ketiga dan usulan Prof. Dr. Soepomo yang menempatkan ketuhanan pada sila kedua?

            Kalau ketuhanan dari Soekarno dikatakan di “pantat”, mengapa tidak disebutkan ketuhanan Muh. Yamin ada di “punggung” dan ketuhanan Mr. Soepomo ada di “tengkuk”?

            Ada masalah apa kamu dengan Soekarno, Zieq?

            Ada-ada saja kamu, Zieq.

            Rizieq pun lebih menegaskan bahwa Pancasila Soekarno itu merupakan pendapat pribadi. Dalam hal ini, saya sangat setuju jika yang dimaksud Rizieq itu adalah Pancasila yang masih berupa usulan. Soekarno memang pribadi yang teramat hebat, pemikir ulung sehingga pendapat pribadinya diterima sebagai usulan. Sepanjang pengetahuan saya Soekarno adalah pribadi yang unggul bersama Muh. Yamin dan Mr. Soepomo yang pendapat pribadi ketiganya dijadikan rumusan Pancasila oleh Sidang BPUPKI. Tak ada orang lain lagi yang mengajukan usul untuk menjadi rumusan Pancasila, kecuali ketiga orang itu. Soekarno, Muh. Yamin, dan Soepomo adalah pelaku sejarah tak terbantahkan yang pikiran dan pendapat pribadinya berpengaruh pada dasar Negara Indonesia. Tak ada orang lain lagi, kecuali mereka. Mereka adalah orang-orang hebat.

            Mau tahu bagaimana proses pemikiran Soekarno ketika mendapatkan pemikiran tentang Pancasila yang kata Rizieq sila ketuhanan ada di pantat itu?

            Saya kasih tahu.

            “Malam sebelum 1 Juni, Saudara-saudara, saya menekukkan lutut ke hadirat Allah subhanahu wataala di Kebun Pegangsaan Timur 56, memohon petunjuk daripada Tuhan. Pada saat itu dengan segenap kerendahan budi, saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa: Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku apa yang besok pagi akan kukatakan sebab Engkau Ya Tuhanku mengerti apa yang ditanyakan kepadaku oleh Ketua Dokuritzu Zunbi Tjosakai itu bukan barang yang remeh, yaitu dasar daripada Indonesia Merdeka. Dasar daripada satu negara yang telah diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan segenap penderitaannya, yang penderitaan-penderitaan itu sendiri telah aku melihatnya. Dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang menjadi salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat.

Aku, Ya Tuhan, telah Engkau beri kesempatan melihat penderitaan rakyat untuk mendatangkan Negara Indonesia yang Merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin ribuan, puluhan ribu meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita. Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan.

Bahkan, aku pernah menerima surat sebagai berikut, ‘Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini.’

Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku sebab besok pagi aku harus memberi jawaban atas pertanyaan yang maha penting ini.
Saudara-saudara, sesudah aku mengucapkan doa kepada Tuhan ini, saya merasa mendapat petunjuk. Saya merasa mendapat ilham yang berkata: Galilah apa yang hendak engkau jawabkan itu dari Bumi Indonesia sendiri. Galilah di dalam kalbunya rakyat Indonesia dan engkau akan mendapat apa yang harus dijadikan dasar daripada Negara Merdeka yang akan datang. Maka malam itu aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali di dalam Bumi Indonesia ini agar supaya sebagai hasil penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang…." (Pidato Bung Karno, 1 Juni 1964 pada peringatan 19 tahun lahirnya Pancasila).

            Coba perhatikan bagaimana Soekarno berpikir keras untuk mendapatkan rumusan Pancasila. Ia merenung dan menengadah ke langit pada malam hari. Berbicara kepada Allah swt untuk negaranya. Oleh sebab itu, tidak pantas jika menyandingkan orang yang telah berjasa dengan letih untuk Indonesia dengan kata “pantat”.

            Yah, apa pun yang saya tulis mengenai kata-kata Rizieq berdasarkan video berdurasi 2 menit 15 detik itu pasti ditolak Rizieq karena isi video itu telah ditolak Rizieq di Polda Jawa Barat. Jika yang saya tulis ini benar sesuai dengan isi video, pasti ditolak kebenarannya, apalagi jika salah, lebih ditolak lagi.

            Sayangnya, saya lebih mempercayai Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan yang mengatakan di televisi bahwa hasil pemeriksaan polisi menunjukkan bahwa video itu isinya asli. Soal isi video itu sesungguhnya berdurasi hampir dua jam dan yang dijadikan masalah hanya 2 menit 15 detik, itu tidak masalah dan bukan persoalan karena materi yang dipermasalahkan oleh Sukmawati adalah yang 2 menit 15 detik itu. Mirip dengan video Ahok yang panjang, tetapi yang dipermasalahkan kan hanya yang tiga belas detik.

            Sama saja bukan?

            Bahkan, durasi video Rizieq lebih panjang, 2 menit 15 detik. Ahok malah lebih pendek, 13 detik.

            Saya ingin menasihati Rizieq dan orang-orang semacam dia dengan ajaran Sunda.

            Sing asak-asak ngejo bisi tutung jagana. Sing asak-asak nenjo bisi kaduhung jagana.

            Sing asak-asak ngejo bisi tutung jagana, ‘kalau masak nasi harus benar-benar matang supaya tidak gosong’. Sing asak-asak nenjo bisi kaduhung jagana, ‘perhatikan benar-benar segala sesuatu agar tidak menyesal di kemudian hari’.

            Maksudnya, jika akan berkata atau bertindak, harus dipikirkan matang-matang supaya tidak menimbulkan penyesalan pada kemudian hari.

            Sampurasun.


            Cag.

Saturday, 7 January 2017

Peranan Ulama Terasa Kurang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada tulisan yang lalu, saya mengutarakan bahwa saya memberikan pengajaran kepada para mahasiswa reguler Fisip, Universitas Al Ghifari, Bandung agar mampu membuat kerangka karangan yang baik dengan menggunakan data, sumber informasi, fakta, dan bukti yang jelas nyata, bukan menggunakan kebohongan, fitnah, dan khayalan-khayalan tidak berdasar yang dapat membuat kerusakan pikiran di tengah masyarakat. Saya memang terdorong untuk mengajarkan hal itu disebabkan parahnya berita bohong, berita palsu, penyesatan pikiran, dan ujaran kebencian di dunia maya, Medsos. Pada tulisan kali ini pun saya akan berbagi pengalaman kepada para pembaca semua bahwa tidak cukup hanya data, sumber informasi, fakta, dan bukti yang diperlukan untuk membuat tulisan yang bermanfaat, melainkan pula perlu meneliti atau menguji Si Pembawa Data atau sumber informasi tersebut. Suatu informasi hanya akan bernilai “samar” jika Si Pembawa Berita atau Si Penyampai Informasi itu tidak bisa dipercaya, tidak dikenal, serta tidak diketahui kompetensi dan kapasitasnya. Dengan demikian, klaim fakta dan bukti yang disampaikannya harus sangat diragukan. Hal inilah yang saya ajarkan kepada para mahasiswa nonreguler Fisip, Universitas Al Ghifari, Bandung.

            Berita atau informasi yang berseliweran sangat deras di Medsos itu saat ini sangat mempengaruhi alam pikiran masyarakat. Banyak orang yang cepat percaya dan setuju atas berita-berita itu tanpa mengenal dan memahami siapa orang yang menulisnya, sejauh apa kejujurannya, sehebat apa kompetensinya, bagaimana kapasitasnya, dan lain sebagainya. Bisa saja Sang Pembuat Berita di Medsos itu seorang pengedar Narkoba, mengetiknya sambil telanjang di kamar mandi, lalu meng-upload foto dan video sambil berjongkok beol di WC dengan rokok di mulutnya, tetapi tiba-tiba dipercaya oleh orang banyak. Memalukan sekali.


Kritikan untuk Polisi

Sebenarnya, saya sudah mengingatkan dengan tulisan di blog ini sekitar satu atau dua tahun yang lalu bahwa ujaran-ujaran kebencian di Medsos sudah harus ditertibkan karena dapat menimbulkan konflik sosial dan berujung pada kekerasan fisik yang pada akhirnya membuat bangsa Indonesia semakin jauh dari jati dirinya. Akan tetapi, tampaknya tidak banyak orang yang peduli, lalu membiarkan ujaran-ujaran kebencian yang disertai berita-berita bohong dan fitnah itu merajalela. Bahkan, ada seorang pejabat Polri yang mengatakan pada acara Indonesian Lawyers Club di tvOne bahwa polisi belum tentu mau mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan ujaran-ujaran kebencian di Medsos. Ada juga pejabat Polri yang mengatakan bahwa jika polisi harus menangani ujaran kebencian di Medsos, tidak terbayang berapa banyaknya orang yang harus ditangkap. Akan tetapi, ada pula pejabat Polri yang justru dari dulu ingin segera menindak para pembuat ujaran kebencian dan gambar-gambar penuh penghinaan di Medsos. Salah satu pejabat Polri yang tampaknya dari dulu cukup kesal dengan ulah para netizen tak bermoral itu  adalah Anton Charliyan.

            Saya tidak tahu alasan polisi saat itu belum mau menindak para netizen kampungan itu, apakah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan lain atau membiarkannya dengan harapan akan berhenti sendiri atau karena memang menunggu laporan dulu dari masyarakat yang merasa terganggu oleh ujaran kebencian itu. Saya benar-benar tidak tahu.

            Hal yang jelas terjadi dengan kurang adanya tindakan dari Polri sejak dulu adalah mereka yang gemar melakukan kebohongan dan menghina orang lain semakin nyaman dan bebas berekspresi di dunia maya. Mereka pun semakin ahli dan berkembang dalam membuat huru-hara di Medsos. Jumlah akun mereka semakin banyak, bejibun, semakin kasar, semakin tidak terpelajar, dan semakin tidak beradab. Mereka pun terjatuh sehingga kehilangan kemampuan untuk berbicara dan berpendapat yang baik-baik, sopan, penuh cinta, penuh kasih, serta mendorong perdamaian. Mereka sama sekali tidak siap untuk berbicara hal yang penuh kebaikan.

            Tidak percaya?

            Coba saja mengobrol dengan mereka. Mereka yang sudah parah keseringan berbicara kasar, bohong, dan fitnah tidak memiliki kemampuan untuk berbicara yang baik-baik dan beradab.

            Saya punya pengalaman. Ujaran kebencian para netizen dari luar negeri, terutama Eropa dan sangat terutama Inggris benar-benar sudah melewati batas ambang kewajaran, sudah sangat rusak dan sangat sulit diperbaiki. Memang berita-berita internasional pun mengemukakan bahwa ujaran kebencian di Inggris sangat tinggi dan meningkat 500% ketika terjadi Brexit. Saya pernah berdebat dengan mereka tentang banyak hal. Ketika mereka kalah berdebat dengan saya, lalu saya mulai mengajak mereka berbicara hal-hal yang baik dengan menghilangkan keangkuhan dan tidak menganggap diri lebih tinggi dibandingkan orang lain, mereka kesulitan dan tidak mampu melakukan percakapan yang terhormat. Saking kesalnya, saya mengejek mereka sebagai “manusia-manusia tidak terdidik yang hanya mau belajar teknologi tanpa menghargai kemanusiaan”.

            Mereka hanya menjawab, “Jika kamu mau berpendapat seperti itu, begitulah.”

            Mereka tetap angkuh walaupun sudah mengakui bahwa mereka salah dan kalah. Hal itu diakibatkan sudah terlalu lamanya mereka berbicara yang kasar-kasar, penuh kebohongan dan fitnah.

            Indonesia sebenarnya tidak separah mereka. Mungkin hanya ada beberapa gelintir orang yang sudah parah seperti mereka. Akan tetapi, jika ujaran kebencian dan berita-berita bohong penuh fitnah itu dibiarkan terus berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan lebih parah dibandingkan orang-orang luar negeri. Akibatnya, negeri ini akan selalu digoncang isu-isu murahan yang tidak berdasar dan tidak memiliki sandaran ilmu pengetahuan.

            Ketika ujaran-ujaran kebencian di Indonesia sudah semakin meresahkan dan mengganggu hubungan-hubungan antarindividu di dunia nyata seperti saat ini, aparat kepolisian dan pemerintah pun tampaknya mulai semakin sadar bahwa perlu dilakukan tindakan tegas dan keras agar terjadi ketertiban. Sayangnya, energi atau upaya yang harus dilakukan untuk melakukan penertiban itu sangat besar dan semakin sulit karena situasinya sudah sangat parah dibandingkan masa-masa lalu. Itu memang risiko yang harus ditanggung karena tidak segera melakukan penertiban sejak dulu ketika ujaran-ujaran kebencian itu masih sangat sedikit beredar di dunia maya. Memang dulu pun aparat kepolisian sudah melakukan beberapa tindakan dan berujung pada pengadilan, tetapi belum cukup untuk mengerem atau membuat takut para pemfitnah dan pembohong di dunia maya.

            Fenomena ini mengingatkan saya pada kata-kata Prof. Dr. H. Ateng Syafrudin, S.H. (alm.) ketika saya membantunya membuat biografinya. Saat itu kami berbincang tentang penertiban pedagang kakilima di Kota Bandung. Ia mengatakan bahwa pemerintah Kota Bandung kesulitan untuk menertibkannya disebabkan sudah terlalu banyaknya pedagang kakilima dan terlalu lama mereka berdagang di sana sehingga merasa memiliki tempat itu dan memiliki kekuatan dengan jumlah massa yang sangat banyak. Menurutnya, jika penertiban itu dilakukan sejak awal, yaitu ketika pedagang kakilima jumlahnya hanya satu-dua, pemerintah tidak akan kesulitan untuk menertibkannya. Akan tetapi, ketika jumlah kakilima semakin membludak menyerupai rimba belantara di trotoar dan pinggir jalan dalam waktu bertahun-tahun, pemerintah pasti kesulitan untuk melakukan penertiban.

            Pendapat Prof. Ateng tidak berbeda jika digunakan untuk menganalisa situasi saat ini yang berkembang di Medsos. Pemerintah dan polisi pasti tidak akan kesulitan menertibkan ujaran kebencian dan penghinaan di Medsos jika dilakukan sejak dulu ketika jumlahnya masih sangat sedikit. Akan tetapi, kesulitan pasti muncul lebih berat ketika jumlahnya sudah membengkak seperti sekarang ini. Meskipun demikian, tidak ada kata terlambat bagi pemerintah, polisi, dan seluruh elemen bangsa yang peduli pada bangsanya.

            Kita harus apresiasi tindakan pemerintah dan polisi yang mulai membaik. Kita, sebagai rakyat, harus memberikan dorongan penuh pada aparat. Dorongan itu bisa berupa kritikan bisa pula pujian. Tak ada kata terlambat. Terlambat selalu lebih baik dibandingkan “tidak sama sekali”.


Kampus Harus Lebih Aktif

Dalam menahan laju ujaran kebencian, berita palsu, kebohongan, dan berbagai fitnah di Medsos, kampus-kampus di seluruh Indonesia ini harus lebih aktif. Lingkungan kampus adalah lingkungan yang mengharuskan seseorang berbicara, berpendapat, dan menulis sesuai data, fakta, dan informasi yang bisa dipercaya. Bukan hanya fenomena yang harus benar-benar terjadi secara nyata, melainkan pula sumber-sumber informasinya harus jelas. Penyampai informasi haruslah bisa dipercaya dan jelas jati dirinya. Pendapat-pendapat ilmiah pun harus dijelaskan awal mulanya, siapa yang berbicara dan mengapa pendapatnya layak dijadikan rujukan.

             Lingkungan kampus merupakan lingkungan yang mendorong para dosen dan mahasiswa membuat serangkaian penelitian. Dalam setiap penelitian, fenomena yang diteliti harus benar-benar terjadi secara nyata yang dibuktikan dengan kehadiran peneliti di tempat kejadian atau atas informasi dari penyampai informasi yang layak dipercaya. Penyampai informasi yang dipercaya tersebut harus jelas kompetensi, jati diri, kejujuran, dan kapasitasnya. Pendapat-pendapat ilmiah atau teori-teori yang digunakan sebagai alat analisis pun harus jelas dikemukakan oleh siapa dalam buku apa atau dalam acara ilmiah yang mana. Fenomena yang benar-benar terjadi secara nyata dengan teori atau pendapat ilmiah yang sah menjadi bahan perbandingan yang akan memunculkan kesimpulan. Setelah kesimpulan didapat, barulah kita dapat memberikan saran-saran.

            Kewajiban-kewajiban ilmiah dalam lingkungan kampus sudah saatnya diterapkan dan dibiasakan di tengah masyarakat, baik dalam cara berbicara maupun dalam membuat tulisan di dunia maya. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan banyak informasi yang jelas nyata dan bermanfaat. Seluruh orang yang pernah kuliah jangan ikut-ikutan ngaco menebarkan informasi yang tak layak baca dan tak layak dikonsumsi masyarakat. Kalau ada akademisi yang tidak memiliki kemampuan menulis dengan data dan analisis yang benar di Medsos, jujur saja, saya meragukan keaslian skripsi, tesis, maupun desertasinya. Jangan-jangan karya-karya ilmiah mereka merupakan hasil menyontek dari orang lain alias plagiat. Ada baiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memeriksa seluruh karya ilmiah para sarjana, master, maupun doktor, termasuk profesor, apakah mereka lulus dengan karya asli hasil kerja mereka atau didapat melalui kejahatan plagiat. Sangatlah aneh jika para akademisi itu berpengalaman dalam membuat penelitian yang mewajibkan semuanya jelas dan terang benderang, tetapi ikut-ikutan menulis di Medsos secara ngaco, ngawur, tanpa dasar-dasar yang jelas dan hanya membuat runyam suasana.

            Seluruh akademisi dan lingkungan kampus wajib hukumnya secara moral untuk ikut meredam ujaran kebencian dan berita-berita palsu yang saat ini sudah sangat parah meresahkan masyarakat. Lingkungan kampus tidak boleh justru ikut menjadi pendorong tumbuhnya keraguan dan kerancuan berpikir di tengah masyarakat melalui tulisan-tulisan yang membuat pusing masyarakat.

            Bukankah bersekolah itu untuk menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara?


Ulama Harus Lebih Berperan

Sampai hari ini dengan seluruh kejujuran, saya merasakan kurangnya peranan ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan agamanya dalam hal meredam berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian di Medsos. Saya berkali-kali mendengar pengajian dan diundang dalam acara-acara keagamaan, termasuk mendengarkan khutbah Jumat, tak seorang pun penceramah yang membahas secara khusus mengenai perlunya kehati-hatian dalam menulis di Medsos atau mempercayai tulisan di Medsos. Padahal, saat ini adalah saat yang tepat untuk mendapatkan pahala dari Allah swt dengan cara mengajari para santri, jamaah, dan umatnya untuk mampu berperilaku baik di dunia maya, baik itu sebagai penulis maupun sebagai pembaca.

            Sesungguhnya, ajaran Islam lebih disiplin dibandingkan dengan metode-metode yang diajarkan di kampus-kampus. Islam menekankan wajibnya untuk menyampaikan segala sesuatu dengan jujur dan memahami sesuatu dengan pemahaman yang benar. Hal itu disebabkan segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kebohongan dan fitnah itu sudah jelas merupakan ciri-ciri  perilaku orang-orang yang memiliki kemunafikan di dalam dirinya dan itu adalah perilaku syetan.

            Ada banyak ajaran yang bisa diaktualisasikan dari Islam dalam hal menangkal, bahkan membasmi ujaran kebencian, berita palsu atau bohong, penghinaan, dan lain sebagainya yang merajalela di dunia maya. Banyak hal yang bisa dilakukan orang-orang yang mengaku diri dan disebut-sebut sebagai ulama, kiyai, ustadz, ajengan, habieb, syekh, atau yang lainnya untuk meredam kebohongan dan keresahan di masyarakat.

            Saya harus mengingatkan siapa saja yang bergelar apa saja dengan kedudukan apa saja dan dihormati siapa saja di Indonesia ini mengenai gosip atau isu yang menerpa Siti Aisyah ra, isteri Muhammad saw. Aisyah ra pernah diterpa gosip tentang perselingkuhannya dengan seorang pemuda. Isu itu menyebar luas di kalangan kaum muslimin. Berita itu benar-benar mengacaukan situasi kaum muslimin. Nabi Muhammad saw sendiri kebingungan, terkejut, tertekan, dan tidak tahu harus bertindak apa. Aisyah ra sudah berupaya menerangkan, tetapi ia melihat bahwa suaminya tidak yakin dengan keterangannya. Akibatnya, terjadi disorganisasi dalam rumah tangga Nabi Muhammad saw. Aisyah ra pun segera meninggalkan Nabi Muhammad saw dan pulang ke rumah ayahnya, Abu Bakar ra yang juga merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. Di rumah ayahnya ini pun Aisyah ra mendapatkan kecurigaan yang bertubi-tubi dari ayahnya tentang perselingkuhannya. Abu Bakar ra berulang-ulang dengan keras mengorek keterangan dari Aisyah ra. Aisyah ra pun menerangkan dengan penuh kejengkelan mengenai peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan pemuda yang dituduhkan berselingkuh dengannya itu. Akan tetapi, Aisyah ra melihat ayahnya seperti suaminya pula, Muhammad saw yang bertanya, tetapi dengan nada menuduh. Akibatnya, Aisyah ra mengurung diri di dalam kamarnya dan tidak mau lagi berbicara dengan ayahnya.

            Isu itu benar-benar mengerikan dan menggoncangkan keutuhan kaum muslimin dan kehormatan Nabi Muhammad saw. Orang bisa mudah saja menebar isu bahwa Aisyah ra yang sangat cantik, cerdas, dan masih berusia 17 tahun itu menginginkan seorang pria yang lebih muda dibandingkan Muhammad saw yang sudah berusia sekitar 61 tahun. Dasar isu itu memang masuk akal, Aisyah ra sangat merasa nyaman jika bersama dengan pria yang lebih muda.

            Tak ada yang mampu menyelesaikan dan menjelaskan persoalan itu. Nabi Muhammad saw dan para sahabat pun tak memiliki cara untuk meredam isu-isu yang makin hari makin tidak karuan.

            Bayangkan, seorang istri Nabi Muhammad saw berselingkuh!

            Ketika Nabi Muhammad saw tersudut dan tertekan, Aisyah ra terpojok dan tertuduh, para sahabat dan kaum muslimin malah ikut bergunjing tentang hal itu, Allah swt yang Maha Melihat dan Maha Mendengar menurunkan kasih sayang-Nya dengan memberikan penjelasan berupa ayat-ayat Al Quran. Allah swt mengabarkan bahwa Aisyah ra yang sangat cantik dan muda itu sama sekali tidak bersalah. Aisyah ra tidak berselingkuh. Dia perempuan yang sangat baik, pintar, dan tetap suci sebagai istri Nabi saw. Di samping itu, Allah swt sendiri mengajarkan bahwa seharusnya kita selalu melakukan tabayun apabila mendapatkan isu, gosip, atau berita tentang sesuatu hal yang masih belum jelas. Tabayun itu dalam bahasa sekarang adalah check and recheck, verifikasi, penelaahan lebih mendalam atas kebenaran atau ketidakbenaran berita tertentu. 

            Setelah mendapatkan penjelasan dari Allah swt, terang benderanglah semuanya. Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan. Para pembuat isu hampir-hampir saja dihukum dengan sangat keras. Abu Bakar ra sendiri berjanji menghukum pembantunya yang juga sebagai penyebar aktif gosip murahan itu. Akan tetapi, Allah swt dan Nabi Muhammad saw melarang Abu Bakar ra untuk melakukan penghukuman itu. Meskipun demikian, karena Abu Bakar ra sudah berjanji dan janjinya itu tidak akan bisa dilaksanakan, Abu Bakar ra mengganti janjinya itu dengan kafarat sebagai penebus atas janji yang tidak dilaksanakan.

            Bukankah kisah itu bisa diaktualisasikan pada saat ini ketika masyarakat diteror oleh gosip dan isu murahan?

            Semua santri, jamaah, umat, dan siapa saja bisa belajar dari kisah yang mendera Muhammad saw-Aisyah ra. Pelajaran yang sangat berharga itu adalah kita jangan terlalu cepat percaya pada isu-isu atau berita-berita yang bisa mengoncangkan pikiran dan kehidupan di masyarakat. Apabila kita mendapatkan berita atau isu-isu, hendaklah melakukan tabayun, check and recheck, verification karena hal itu merupakan perintah dari Allah swt. Dengan memeriksa kebenaran suatu berita, kita sudah melaksanakan perintah Allah swt dan itu sangat berpahala. Apabila kita langsung percaya pada berita-berita atau isu-isu yang masih samar, kita akan mudah tergelincir dalam dosa karena tidak melaksanakan perintah Allah swt untuk selalu melakukan tabayun, check and recheck, verification. Lebih berdosa lagi jika kita yang justru menyebarkan berita-berita palsu itu. Bahkan, dosanya akan berlipat-lipat ganda jika penebaran berita bohong itu dilakukan justru oleh orang-orang yang mengakui dirinya sebagai ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan agamanya.

            Paham Saudara-saudaraku?

            Mau contoh satu lagi dari ajaran Islam yang dapat diaktualisasikan untuk meredam berita fitnah?

            Tidak mau?

            Terserah!

            Saya memaksa untuk berceritera. Kalau dada kalian tidak bisa menerima tulisan saya ini dan merasa sesak, segera tinggalkan halaman ini, pergilah ke halaman lain, situs lain yang kalian sukai. Saya hanya akan berceritera bagi mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan dari saya meskipun sangat sedikit.

            Seharusnya, bukan saya yang menulis tentang hal ini. Para ahli yang lebih berkompeten untuk menerangkannya kepada masyarakat. Akan tetapi, mudah-mudahan, saya menjadi pemicu bagi para ahli untuk lebih luas menerangkannya kepada masyarakat. Saya hanya memaksakan diri untuk menulisnya.

            Dalam ajaran Islam ada yang disebut hadits. Isinya berupa informasi mengenai perilaku atau kata-kata Baginda Mulia Nabi Muhammad saw. Untuk mempercayai atau mendapatkan hadits yang benar, sah, atau shahih, diperlukan metode-metode ketat yang harus dijalankan agar potret dari perilaku dan kata-kata Muhammad saw itu benar-benar adalah yang terjadi secara nyata, bukan rekaan, bohong, atau fitnah. Meskipun kita mendapatkan kisah-kisah yang baik dan bagus tentang Nabi Muhammad saw, belum tentu itu terjadi secara nyata. Bisa jadi hal itu hanya merupakan dongeng-dongeng dari orang-orang yang mencintai Nabi Muhammad saw secara berlebihan. Kisah-kisah yang baik dan bagus saja harus diperiksa kebenarannya, apalagi kisah-kisah yang buruk. Kita tidak boleh menerima dan mempercayai berita baik, bagus, atau buruk tentang Nabi Muhammad saw, melainkan harus mendapatkan berita yang original terjadi secara nyata.

            Saya pribadi selalu menilai hadits itu pertama kali dari isinya, redaksinya. Jika redaksinya masuk akal, saya mulai menerima. Akan tetapi, jika sudah tidak masuk akal, saya mudah sekali untuk menolaknya dan menjatuhkannya menjadi dongeng sebelum tidur.

            Kedua, saya membandingkannya dengan Al Quran. Jika informasi mengenai Nabi Muhammad saw itu sesuai dengan Al Quran, semakin kuat keyakinan saya bahwa berita itu adalah benar. Apabila bertentangan dengan isi Al Quran, saya mengatakannya itu adalah dusta.

            Ketiga, saya mengujinya dengan hadits-hadits lain yang telah dinyatakan shahih lebih dulu. Jika memiliki kesesuaian dengan hadits-hadits yang dinyatakan shahih, semakin yakinlah bahwa berita atau hadits itu adalah kebenaran dan bukan rekaan. Apabila hadits itu bertentangan dengan hadits yang telah dinyatakan shahih, saya sangat meragukan keasliannya, bahkan kemungkinan menolaknya.

            Keempat, kita harus memeriksa apakah para perawi atau penyampai berita itu bisa dipercaya atau tidak. Orang yang layak dipercaya sebagai pembawa informasi mengenai Nabi Muhammad saw itu harus jelas orangnya, dikenal sebagai orang yang jujur, bukan pelupa, diakui sebagai orang baik-baik, tidak suka berbohong, memahami Islam dengan benar, dan lain sebagainya. Jika di antara para penyampai informasi itu terdapat orang yang diragukan integritas pribadinya, hadits Nabi Muhammad saw itu akan sangat sulit dinyatakan sebagai hadits shahih.

            Untuk masalah kualitas para penyampai informasi ini, kita memang bergantung sekali pada buku-buku rujukan yang telah ditulis sebelumnya. Belum ada lagi orang yang dianggap mampu melebihi kehebatan Imam Bukhari dalam mengumpulkan informasi atau hadits Nabi Muhammad saw. Jika saja saat ini ada orang yang mau dan mampu mengurutkan para penyampai berita itu sejumlah dua puluh generasi, dia akan lebih hebat daripada Imam Bukhari maupun Imam Muslim. Perlu diingat bahwa antara generasi kita dengan generasi Nabi Muhammad saw dihubungkan oleh dua puluh generasi. Jika ada orang yang mampu menjelaskan keduapuluh orang itu dari dua puluh generasi secara berturut-turut dan kronologis hingga mampu menghubungkan generasi kita dengan generasi Nabi Muhammad saw secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, ia lebih hebat dibandingkan para ahli hadits mana pun yang pernah dikenal di muka Bumi ini sepanjang sejarah masa. Dengan demikian, informasi mengenai perilaku dan kata-kata Nabi Muhammad saw benar-benar terkoneksi dengan kita secara nyata dan lebih meyakinkan. Hadits yang kita terima berasal dari siapa, siapa berasal dari siapa, siapa berasal dari siapa, terus berlanjut hingga berujung pada orang yang mendengar dan melihat langsung Nabi Muhammad saw. Setiap orang dari keduapuluh generasi itu harus menceriterakan hal yang sama persis. Jika ada satu orang saja yang mengisahkan hal berbeda, putuslah hadits itu di tengah jalan dan sangat sulit dipercaya kebenarannya.

            Sebagaimana tadi telah saya sampaikan bahwa para ahli haditslah yang sebaiknya menuliskan hal ini. Karena aturan-aturan ketat mengenai hadits Nabi, kita mengenal adanya hadits shahih, mutawatir, sampai dengan hadits dhaif. Bahkan, di kalangan umat Islam Sunda dikenal istilah teu dhaif-dhaif acan. Artinya, hadits itu dhaif pun tidak, hadits lemah pun bukan. Maksudnya, berita tentang Nabi saw yang tidak dapat dipertanggungjawabkan itu hanyalah dongeng belaka.

            Nah, pengetahuan atau pemahaman mengenai aturan-aturan atau metode-metode untuk menentukan kedudukan sebuah hadits ini dapat diaktualisasikan dalam memerangi berita-berita fitnah, bohong, dan palsu. Para ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, Aa, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan agamanya dapat menyadarkan umatnya bahwa untuk mempercayai sebuah berita sebagai sebuah kebenaran sangatlah tidak mudah, diperlukan upaya serius, tidak asal percaya. Isi berita itu harus masuk akal dan tidak bertentangan dengan kenyataan. Penyampai atau penulis berita itu harus jelas jati dirinya. Kualitas dari diri Si Penyampai Berita itu harus benar-benar teruji, apakah dia orang baik cerdas atau pembohong dan pengedar Narkoba; apakah dia memiliki daya ingat yang kuat atau mudah lupa; apakah konsisten hidupnya dalam kebaikan atau tidak; apakah gemar kekuasaan, angkuh, dan sombong, atau tidak; apakah dirinya lentur dalam menerima kritik atau arogan; rupa-rupa hal yang bisa dilakukan untuk menguji Si Penulis Berita dan hal itu menentukan kebenaran dari berita yang ditulisnya.

            Sampai hari ini saya melihat baru Presiden, pemerintah, aparat TNI-Polri, serta beberapa gelintir aktivis pers dan nasionalis yang sangat serius dalam memerangi huru-hara berita palsu di Medsos. Saya berharap dengan seluruh harapan bahwa para ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, Aa, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan agamanya dapat lebih berperan untuk mengabdikan diri kepada Allah swt dengan cara meredam kekisruhan yang diakibatkan perilaku buruk dari para netizen yang tak tahu banyak tentang kebaikan dan kebenaran. Mungkin para ulama, ustadz, kiyai, ajengan, syekh, habieb, Aa, atau apalah sebutannya bagi orang yang dihormati karena pengetahuan agamanya sudah melakukannya di tempatnya masing-masing, tetapi saya merasakan kurang untuk di tingkat nasional, bahkan internasional.

            Hal ini pula yang saya sampaikan berulang-ulang kepada para mahasiswa saya. Saya berharap mereka dapat menulis yang baik-baik, bermanfaat, dan bernilai. Kalaupun harus menulis hal-hal yang buruk dan berisi kritikan, tulisannya harus  tetap bernilai memiliki data yang tepat dan menyampaikan informasi dengan jujur di samping memberikan solusi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

            Beberapa perkuliahan saya direkam mahasiswa. Salah satunya yang ada di bawah ini.