Tuesday, 8 November 2022

Atas Nama Cucu Nabi Muhammad saw, Imam Hasan bin Ali, Jokowi Dianugerahi “Bapak Perdamaian Dunia”

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nah, ini baru Arab asli, bukan hoax, atau ngaku-ngaku. Orang kelahiran Arab, pejabat tinggi di tanah Arab, dihormati di wilayah Arab, jauh-jauh datang ke Indonesia untuk memberikan penghargaan “Cucu Nabi Muhammad saw”, ‘Imam Hasan bin Ali’ kepada Presiden Jokowi. Orang Arab itu bernama Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah. Dia adalah “Sekretaris Jenderal Abu Dhabi Peace Forum (ADPF)”. Dia menemui Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Al Mahfouz menyerahkan penghargaan perdamaian internasional 2022 kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin, 7 September 2022. Award itu bernama “Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022".  Dilihat dari namanya, penghargaan itu sangat bergengsi di dunia Islam karena menggunakan nama cucu Nabi Muhammad saw dan sangat dihormati di Uni Emirat Arab (UEA).


Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah  (Foto: Suara Surabaya)


            Foto Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah saya dapatkan dari Suara Surabaya.

            Semua orang tidak bisa memungkiri bahwa Jokowi adalah presiden dari Asia pertama yang berani menemui dua presiden yang sedang berperang. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky serta menemui pula Presiden Vladimir Putin yang sedang saling bunuh. Jokowi menengahi keduanya dan meminta untuk menghentikan perang karena dunia terkena imbas dari perang itu, misalnya, harga gas, harga BBM, harga minyak menjadi mahal; gandum dan bahan biji-bijian lainnya tidak bisa didistribusikan ke seluruh dunia; kelaparan mulai menimpa negara-negara miskin.

            Di dalam negeri sendiri, Jokowi berhasil menjadikan Indonesia sebagai empat negara terbaik dalam menangani Covid-19 dan menjadi contoh bagi negara lain. Di samping itu, Jokowi telah berhasil sejauh ini mempertahankan ekonomi Indonesia tidak jatuh ke jurang krisis seperti negara-negara lainnya. Rakyat Indonesia merasa hidup biasa-biasa saja, tidak terjatuh ke dalam jurang resesi. Bahkan, Indonesia pada hari ini telah menjadi negara ke-7 terkuat ekonominya di seluruh dunia. Di dunia ada sekitar 195 negara. Indonesia adalah ranking ke-7 dengan ekonomi terkuat di dunia. Urutan negara dengan ekonomi terkuat di dunia menurut International Monetary Fund (IMF) adalah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Indonesia, Brazil, Inggris, Perancis, dan seterusnya.

            Mungkin ada berapa faktor lain lagi yang membuat UEA memberikan penghargaan Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022 kepada Jokowi. Akan tetapi, mereka masih belum memberikan penjelasan yang detail.

            Ada yang berpendapat bahwa penghargaan itu adalah prestasi Jokowi. Akan tetapi, ada pula yang merasa itu bukanlah prestasi Jokowi, melainkan prestasi rakyat Indonesia sehingga penghargaan itu adalah dirasakan sebagai penghargaan buat bangsa Indonesia. Jokowi hanya mewakili bangsa Indonesia.  Whatever lah. Pendapat dan perasaan itu semuanya baik.

            Hal yang tidak baik, tetapi lucu bikin ketawa adalah mereka yang selalu berteriak-teriak bahwa Jokowi adalah pemimpin rezim anti-Islam.

            Mana mungkin seorang pemimpin yang anti-Islam mendapatkan penghargaan Perdamaian Internasional Hasan bin Ali 2022?

            Jokowi berhaji, masuk ke makam Nabi saw, masuk ke dalam bangunan Kabah, menetapkan Hari Santri Nasional, pesantren dikembangkan, masjid banyak. Saya sendiri sebagai umat Islam bisa umroh, kurban, bikin masjid bareng tetangga, bisa ibadat, mengadakan pengajian, maulidan, tahlilan, syukuran, menikah dengan syariat Islam, bagi waris sesuai syariat, zakat, infak, sedekah, shalat gerhana, dan hal lainnya sesuai aturan Islam.

            Di mana anti-Islamnya?

            Kata Cak Lontong, “Mikiiir ….!”

            Sampurasun.

Saturday, 5 November 2022

Pelan-Pelan Saja

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mereka berdua adalah mahasiswa saya yang termasuk minoritas. Mereka minoritas karena murid-murid saya mayoritas menggunakan jilbab. Hanya beberapa yang tidak menggunakan jilbab, minoritas. Mereka mungkin belum siap menggunakan jilbab secara rutin atau memang memiliki keyakinan bahwa jilbab itu tidak wajib. Itu soal kesiapan dan keyakinan. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Biasa saja.




            Hal yang unik dan cukup mengagetkan adalah ketika mereka berkonsultasi soal penelitian yang akan mereka lakukan. Mereka berkonsultasi ketika saya baru selesai mengajar di Universitas Al Ghifari.

            “Pak, boleh mengganggu waktu Bapak sebentar?”

            “Ada apa memangnya?”

            “Ini Pak, mau konsultasi soal Riset dan Praktik. Saya mau meneliti tentang menurunnya ekspor Bandrek Cihanjuang, Indonesia ke Belanda.”

            “Memangnya, ada masalah apa soal bandrek?”

            “Iya itu tadi, Bandrek Cihanjuang pernah diekspor ke Belanda, tetapi sekarang terjadi penurunan.”

            “Itu masalah yang ingin kamu teliti? Bagus.”

            “Iya, Pak. Kan kalau musim dingin, orang Belanda dan Eropa lainnya suka meminum alkohol. Kata mereka alkohol bisa menghangatkan badan.”

            “Terusin.”

            “Minum-minuman keras beralkohol itu kan tidak boleh, Pak. Haram dan merusakkan kesehatan.”

            “Jadi …?”

            “Jadi, saya ingin tahu kenapa terjadi penurunan ekspor bandrek Indonesia ke Belanda. Minuman bandrek itu kan bisa menghangatkan badan, sehat, dan halal. Kalau terjadi peningkatan ekspor bandrek ke Belanda, bisa mengurangi penggunaan minuman beralkohol dan memajukan perusahaan bandrek Indonesia.”

            Seorang perempuan tidak berjilbab yang mungkin mendapatkan nyinyiran atau cacian kafir, ternyata pikirannya sangat islami dan punya pandangan ke depan memikirkan cara agar perusahaan minuman bandrek Indonesia bisa maju dengan melalui perdagangan internasional. Tidak banyak perempuan yang berpikiran seperti itu. Pikirannya original positif.

            Temannya yang satu lagi juga berkonsultasi kepada saya.




            “Pak.”

            “Ya?”

            “Bagaimana menurut Bapak kalau saya meneliti hambatan ekspor tekstil Indonesia ke India?”

            “Bagus. Apa yang membuat ekspor tekstil Indonesia terhambat masuk ke India?”

            “Ini, Pak. India membuat peraturan impor tekstil dari negara luar yang sulit masuk ke India.”

            “Bagus, kamu bisa menggunakan teori-teori diplomasi untuk memecahkan masalah itu.”

            “Baik, Pak. Kan kalau Indonesia mampu melakukan diplomasi perdagangan ke India, tekstil Indonesia bisa masuk ke India dan meningkatkan perusahaan Indonesia sehingga mencegah pengangguran.”

            Bisa lihat kan mereka punya pandangan yang sangat bagus, memikirkan negaranya, memikirkan kemajuan bangsanya, serta memperluas cakrawala pengetahuannya sendiri sehingga menjadi lebih cerdas. Begitulah seharusnya generasi muda, ikut memecahkan berbagai masalah sesuai dengan kompetensi dan gairahnya masing-masing. Tidak suka memperkeruh suasana, bikin huru-hara, atau cuma teriak-teriak tidak karuan mengganggu orang lain.

            Kalau penelitian mereka selesai, lalu dibuat artikel, kemudian saya terbitkan dalam Jurnal Global Mind, hasil karya mereka bisa dibaca seluruh dunia. Jika para pemangku kebijakan atau pihak yang berkepentingan lain membacanya, lalu terinsiprasi secara positif, karya mereka dapat diaplikasikan dalam kehidupan dan memberikan banyak manfaat. Pahala bagi mereka akan ada di dunia dan di akhirat. Insyaallah.

            Mereka memang tidak berjilbab, tak perlu risau soal itu. Jika ada di antara para pembaca yang meyakini bahwa berjilbab itu wajib, sampaikanlah pemahaman itu dengan baik dengan tidak menyaikiti orang lain. Pelan-pelan saja.

            Tahu kan Nikita Mirzani? Artis seksi yang suka mempertontonkan keseksiannya itu?

            Sesungguhnya, Nikita Mirzani pernah berjilbab. Akan tetapi, ketika dia belajar berhijab, banyak orang yang mengomentarinya, nyinyir, dan mencacinya hanya gara-gara mata kakinya atau bagian kakinya yang lain masih kelihatan. Akibatnya, dia marah, lalu melepas jilbabnya dan menjadi seperti sekarang ini.

            So, mungkin keangkuhan kita atau sok merasa paling benar dan paling suci telah membuat orang lain marah, bahkan melawan kita dengan cara yang sangat buruk. Jika kita benar menyakiti hatinya dan menjauhkannya dari jalan Allah swt, berdosalah kita.

            Kalau menghormati keyakinan orang lain soal jilbab, bagus. Kalau mengajak orang lain sesuai dengan keyakinan kita, itu juga bagus. Akan tetapi, lakukanlah dengan cara yang lembut, baik, dan cantik.

            Jadi ingat lirik vokalis rocker Tantri Kotak yang kini telah berjilbab, “Pelan-pelan saja ….”

            Sampurasun.

Saturday, 22 October 2022

Jokowi Jangan Datang ke Pengadilan Soal Ijazah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sudah saya bilang bahwa soal gugatan ijazah palsu Jokowi itu memang lucu dan hanya akan menjadi konsumsi orang-orang bodoh. Memang mungkin maksudnya juga untuk menggerakkan orang-orang bodoh sehingga bikin keributan karena percaya bahwa Presiden Jokowi ijazahnya palsu, lalu demonstrasi dan bikin huru-hara dengan tuntutan yang itu-itu saja, “turunkan Jokowi”. Padahal, Jokowi bakal turun sendiri pada 2024. Semakin diteruskan soal itu, semakin lucu dan tampak bodohnya.

            Saya perhatikan pada sidang pertama di pengadilan, 18 Oktober 2022, pengacara penggugat, Eggy Sudjana, marah-marah karena Jokowi tidak hadir ke pengadilan. Dia memaksa hakim untuk memaksa Jokowi datang ke pengadilan. Jika Jokowi tidak mau hadir ke pengadilan, berarti benar ijazahnya palsu. Hakim harus memutuskan bahwa ijazah Jokowi palsu.

            Lihat Si Eggy marah-marah saja sudah pengen ketawa.

            Kenapa harus marah? Sewot banget.

            Itu kan hak setiap orang, mau datang atau tidak ke pengadilan. Kalau tidak datang, sidangkan saja tanpa kehadiran Jokowi, kan bisa.

            Lalu, Eggy semakin lucu, tetapi tidak melawak. Tidak melawak saja sudah lucu. Kalau melawak, malah mungkin tidak lucu. Dia menuntut hakim jika Jokowi tidak bisa hadir, harus diputuskan bahwa ijazah Jokowi benar-benar palsu.

            Kan bodor.

            Hakim tahu apa tentang keaslian ijazah seseorang?

            Hakim tidak punya pemahaman untuk itu. Pihak yang sangat paham tentang keaslian ijazah seseorang adalah lembaga yang mengeluarkan ijazah itu, yaitu pihak sekolah dan pemerintah. Kalaupun hakim mau memutuskan keaslian atau kepalsuan ijazah, ya harus bertanya dulu kepada pihak sekolah dan pemerintah. Bodoh sekali hakim jika memutuskan perkara tanpa bertanya dulu kepada pihak-pihak yang terkait. Karirnya bisa berhenti sampai situ kalau sok tahu tanpa pengetahuan memutuskan suatu perkara.

            Menurut saya, Jokowi tidak perlu datang ke pengadilan, biarkan saja orang-orang lucu itu kelojotan dengan kelucuannya. Jokowi sebetulnya masih baik, mengirimkan pengacara untuk mewakilinya. Artinya, masih menghormati penggugatnya. Kalau terjadi kepada diri saya, beneran saya tidak akan pernah datang ke pengadilan, tidak akan mewakilkan kepada pengacara, dan akan saya lecehkan serta tertawakan orang-orang itu.

            Ngapain juga datang? Apa untungnya buat saya?

            Males banget.

            Mereka yang menuduh ijazah saya palsu, kok saya yang harus membuktikannya keasliannya?

            Biarkan saja mereka usaha sendiri membuktikan ijazah saya palsu. Saya mah nungguin saja sambil macul, main bareng sama orang-orang yang saya cintai, ngabedahkeun balong, santai saja. Jika mereka tidak bisa membuktikannya, nah baru saya perkarakan dengan pasal fitnah, pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong, dan pasal-pasal lainnya yang bakal menjerat mereka hingga tidak bisa menghindar dari tuntutan saya. Beneran.

            Kalau Jokowi datang ke pengadilan, malah bahaya. Itu bakal jadi preseden buruk bagi masyarakat.

            Bagaimana kalau ada orang yang membenci para pembaca tulisan saya ini menggugat keaslian ijazah saudara-saudara sekalian?

            Apakah kalian mau bersusah-susah melayani mereka?

            Kita harus pontang-panting kesana-kemari untuk membuktikan keaslian ijazah kita. Mereka yang bikin perkara, kita yang repot.

            Biarkan saja mereka yang repot membuktikan tuduhan mereka. Kalau mereka berhasil dan benar, berarti kita sudah melakukan pemalsuan dokumen dan itu ada hukumnya, pidana, yang akan menjerat kita. Jika mereka tidak berhasil, terserah kita, bisa kita masukan ke dalam penjara.

            Sebetulnya, ada satu lagi kelucuan Eggy Sudjana terkait hal ini, tetapi akan terlalu panjang ditulis di sini. Nanti saja pada tulisan dengan judul yang lain. Gampang surampang kok.

            Sampurasun.

Wednesday, 19 October 2022

Ijazah Jokowi Senasib Ijazah Saya

 


oleh Tom Finaldin

 

 Bandung, Putera Sang Surya

Kadang ngeselin, kadang lucu melihat tingkah orang-orang yang entah bodoh atau pura-pura bodoh atau memang ingin membodohi orang lain. Ada yang bikin isu bahwa ijazah SMAN 6 Surakarta milik Jokowi bukan asli alias palsu. Bahkan, ada yang bilang bahwa Jokowi bukan lulusan SMAN 6 Surakarta. Dia mencuri ijazah orang lain. Cukup pintar orang-orang ini membodohi orang bodoh. Akan tetapi, bagi orang cerdas, orang-orang ini hanyalah pelawak bodoh.

            Setelah saya perhatikan sebentar saja, ijazah Jokowi itu mirip ijazah saya. Memang Jokowi tidak memiliki ijazah sebagai lulusan SMAN 6 Surakarta seperti yang dimiliki lulusan angkatan-angkatan setelahnya. Tidak akan pernah ada ijazah itu. Hal itu disebabkan Jokowi adalah lulusan Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) 40 di Surakarta. Ijazah yang dikeluarkan pasti jelas ijazah SMPP 40. Pada perkembangan berikutnya, SMPP 40 ini berubah menjadi SMAN 6  Surakarta. Otomatis SMPP 40 tidak ada lagi. Otomatis pula siswa yang lulus berikutnya dari sana menggunakan nama SMAN 6, bukan lagi SMPP 40. Adapun Jokowi, lulus ketika sekolah itu masih bernama SMPP 40. Jadi, Jokowi yang memiliki ijazah SMPP 40 adalah merupakan alumnus pula dari SMAN 6 Surakarta karena lembaga itu masih sama dan hanya berubah nama.

            Begitu ya.

            Hal itu mirip dengan ijazah saya. Saya ini lulusan SMP Negeri 48 Kota Bandung, tetapi saya tidak memiliki ijazahnya. Hal itu disebabkan saya lulus SMP ketika sekolah itu masih bernama SMP Negeri 1 Buahbatu Bandung. Sekarang, sekolah dengan nama SMPN 1 Buahbatu sudah tidak ada lagi karena berubah nama menjadi SMP Negeri 48. Jadi, saya ini lulusan SMPN 48 ketika sekolah itu masih bernama SMP Negeri 1 Buahbatu. Sekolahannya masih sama hanya namanya yang berbeda. So, ijazah saya pun pasti SMP Negeri 1 Buahbatu, bukan SMP Negeri 48.

            Bukan ijazahnya yang palsu, ngaku-ngaku, atau dapat dari mencuri, tetapi begitulah kejadiannya.

            Dengar-dengar sih, perubahan nama itu mengikuti perubahan administratif willayah. Dulu wilayah itu masih termasuk Kabupaten Bandung, jadi namanya SMP Negeri 1 Buahbatu. Ketika wilayah itu masuk menjadi Kota Bandung, namanya berubah menjadi SMPN 48. Kalau mau lebih jelas, klik saja di Google, profil SMPN 48 Kota Bandung, ada yang menulis sejarahnya. Mudah kok.

            Demikian pula dengan ijazah istri saya. Istri saya itu lulusan SMK, tetapi tidak ada ijazah SMK-nya karena ketika istri saya lulus, sekolah itu masih bernama SMEA. Sekolahnya sama, hanya berubah nama mengikuti kebijakan pemerintah.

            Banyak kok yang punya ijazah semacam ini. Tidak perlu heran. Hanya bagi orang-orang yang mata hatinya tertutup, hal seperti ini bisa menjadi bahan fitnah dan kebodohan. Padahal, untuk memahaminya sangat enteng surenteng,

            Sampurasun.

Thursday, 6 October 2022

Ganjar Gemukan PSI

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan menjadi Bakal Calon Presiden untuk Pilpres 2024, pada hari yang sama Grace Natalie, pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Bakal Calon Presiden RI 2024. Perilaku Nasdem dan PSI sama-sama mengejutkan. Pasalnya, banyak orang menyangka Anies akan diusung PKS karena kedekatannya. Adapun Ganjar akan diusung PDI-P karena merupakan kadernya. Meskipun demikian, kedua partai itu sama-sama lemahnya karena itu hanya deklarasi dan belum bisa menguatkan Anies maupun Ganjar sebagai Capres. Untuk menjadi Capres, perlu 20% suara kekuatan di parlemen. Nasdem maupun PSI belum memiliki kekuatan itu.

            Foto Grace Natalie saya dapatkan dari JawaPos dan Ganjar Pranowo dari RMOLBengkulu.


Grace Natalie (Foto: JawaPos.com)


            Terlepas dari itu semua, dari keberanian PSI menjadi partai pengusung pertama Ganjar sebagai Bacapres, telah membuat para pendukung Ganjar mendapatkan kegembiraan dan kekuatan. Hal ini bisa dilihat dari betapa kecewanya mereka terhadap PDI-P yang seolah-olah hendak menyingkirkan Ganjar untuk kemudian mengusung Puan Maharani untuk menjadi Capres RI. Mereka sudah bertekad jika Ganjar tidak menjadii Capres, pilihannya akan dialihkan ke Prabowo Subianto. Sekarang, PSI dengan berani mendeklarasikan Ganjar. Otomatis para pendukung  Ganjar akan bersimpati kepada PSI, bersama PSI, dan pada masa depan mereka akan memilih PSI.

            Apabila kita lihat berbagai survey, Ganjar selalu menjadi nomor satu, jauh di atas  orang-orang yang disebut-sebut calon presiden, seperti, Prabowo, Jokowi, Anies, Ridwan Kamil, dan AHY. Itu artinya, pendukung Ganjar yang terbanyak itu akan banyak yang menjadi pemilih PSI. Sementara itu, jika PDI-P meninggalkan Ganjar dan ngotot memilih Puan, suaranya akan menurun karena ditinggalkan pemilih Ganjar.


Ganjar Pranowo (Foto: RMOLBengkulu)


            Hal ini menjadi masuk akal ketika ada analisis bahwa pada Pemilu nanti, PDI-P dan PSI akan menjadi partai terkuat di DKI Jakarta. PDI-P sudah sangat kuat dan menang yang ditunjukkan dengan tingginya pemilih Jokowi ketika Pilpres 2019 lalu. Sementara itu, PSI akan tambah gemuk dan melambung karena keberanian dan konsistensinya dalam mendukung Ganjar. Karena kekuatan dua partai ini, timbul analisis lanjutan bahwa pada masa depan akan muncul pasangan Gibran Rakabuming Raka—Grace Natalie sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

            PDI-P jangan terlalu Baper dengan keberanian PSI dalam mendukung Ganjar Pranowo yang adalah kader PDI-P karena itu merugikan diri sendiri. Apalagi jika mengecam PSI yang dikatakannya tidak beretika karena mengusung Ganjar tanpa ada izin dari Megawati. Sungguh, tak ada aturan untuk itu. Siapa pun, baik partai maupun rakyat biasa, bisa mengusung siapa pun dari partai manapun untuk menjadi presiden. Soal bisa terdaftar atau tidak menjadi Capres RI, aturan-aturannya harus dipenuhi. Itu saja.

            Sampurasun.

Wednesday, 28 September 2022

Rocky Gerung Ternyata Idola Keluarga Jokowi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Boleh dibilang bahwa Rocky Gerung adalah manusia nomor satu pembenci Presiden RI Jokowi. Dia bilang Jokowi Dungu, nggak punya kemampuan diplomasi, cuma cari sensasi, dan lain sebagainya. Sejauh ingatan saya, Jokowi dan keluarganya tidak pernah membalasnya, biasa saja, tetap tenang, dan bekerja.

            Seperti saya bilang pada tulisan lalu, Rocky Gerung sudah kehilangan perhatian dari orang-orang cerdas dan para pendukungnya tidak berarti apa-apa baginya. Oleh sebab itu, dia berpose setengah telanjang dan pamer dada dengan puting susunya yang sudah berusia 63 tahun itu. Dia ingin diperhatikan lagi oleh orang-orang cerdas dan ingin menikmati perdebatan serta makian-makian yang diarahkan kepada dirinya. Di samping itu, dia mulai cari cara lain untuk mendapatkan perhatian, yaitu mengundang Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dan Gibran Rakabuming Raka ke podcast miliknya.

            LBP pun mendatanginya. Perbincangan mereka sekitar 47 menit dan saya menonton semuanya. Obrolan mereka sangat menarik, mencerdaskan, penuh informasi dan pengetahuan. Tak ada kata kasar ataupun jorok. Mereka berbincang berdasarkan data dan fakta. Acara di podcast Rocky itu berlangsung santai dan mudah sekali dipahami. Foto LBP di acara podcast Rocky saya dapatkan dari Detikcom.


Luhut dan Rocky (Foto: Detikcom)


            Demikian pula Walikota Solo Gibran yang juga anak sulung Jokowi memenuhi undangan Rocky. Akan tetapi, perbincangan mereka berlangsung tertutup tidak disiarkan untuk umum. Gibran mengatakan bahwa dirinya sowan ke Rocky Gerung untuk berguru.

            Dia bilang seperti ini, “Om Rocky adalah idola saya. Dia orang pintar dan jenius.”  

            Foto Gibran dan Rocky Gerung saya dapatkan dari detikNews.


Rocky dan Gibran (Foto: detikNews)


            Rocky pun menjelaskan hal yang mirip bahwa Gibran ingin menganggapnya guru, tetapi dengan satu syarat, yaitu Gibran harus mengikuti jadwal kesibukan Rocky. Selain itu, Rocky pun mengatakan bahwa Gibran meminta masukan untuk membangun Kota Solo yang dipimpinnya.

            Karena acara itu tertutup, Gibran membuat sayembara, yaitu siapa saja yang dapat menebak isi obrolannya dengan Rocky Gerung, untuk sepuluh jawaban terlucu akan dikasih hadiah Sneakers AeroXGibran, sepatu yang diproduksi perusahaannya.

Rocky pun mengakui bahwa Gibran adalah pemuda yang cerdas dan mampu menemukan momen yang tepat untuk memanfaatkan dirinya. Secara politik, Gibran menang banyak, yaitu mendapatkan simpati yang lebih luas lagi.

Bagaimana tidak akan mendapatkan simpati masyarakat?

Jokowi, bapaknya, yang didungu-dungu, direndahkan, dan dihina Rocky, Gibran tetap santun dan ingin berguru kepada penghina bapaknya. Ini luar biasa, perlu hati yang luas, lapang, dan sejuk untuk mampu bersikap seperti itu. Adiknya pun, Kaesang Pangarep, tidak pernah balik menghina Rocky.

Secara ekonomi, Gibran pun menang banyak. Ia cepat mempromosikan sepatu produknya dengan memanfaatkan obrolan tertutup dengan Rocky.

Jika ternyata Kota Solo maju pesat, paling Gibran akan bilang bahwa itu adalah hasil masukan dan binaan Rocky Gerung. Tak sulit bagi Gibran untuk mengatakan hal seperti itu.

Kalau kita lihat komentar netizen, ya rupa-rupa.

Ada yang bilang, “Sekarang, siapa yang dungu sebenarnya?”

Ada juga yang bilang, “Kalau masih bisa dimanfaatkan Gibran, berarti Rocky itu adalah dungu.”

Ada juga yang berkomentar, “Mas Gibran hebat, hasil didikan keluarga yang hebat.”

Pokoknya rupa-rupa deh komentarnya.

Kalau saya, jadi teringat sebuah pesan, “Rendahkanlah dirimu serendah-rendahnya sehingga orang lain tak mampu lagi merendahkanmu.”

Sampurasun.

Sunday, 18 September 2022

Dungu!

 



oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat Rocky Gerung?

            Dia terkenal dengan kata “dungu” dan suka sekali mendungu-dungukan orang sampai Presiden pun dia sebut dungu. Dia punya andil mempengaruhi orang-orang berbicara kasar, belum lagi orang-orang semacam dia yang juga mudah memaki-maki dan berkata kasar serta kotor. Orang-orang lain pun jadi terpancing berbicara kasar. Saya juga kadang terpancing berbicara atau menulis kata kasar agar orang-orang semacam mereka pun merasakan bagaimana jika dikasari oleh orang lain. Akibatnya, tak heran jadi semakin kasar dan semakin kotor kita berbicara. Setiap hari kita membaca atau mendengar komentar-komentar kotor tidak berpengetahuan. Bahkan, orang-orang cerdas seperti profesor, akademisi, ustadz ikut-ikutan berbicara kasar. Banyak yang mengatakan Si Gila Rocky Gerung, Manusia Sinting, dan lain sebagainya. Padahal, kita adalah bangsa yang lembut dan diajari sopan santun sejak dahulu kala, termasuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, tidak tegang-tegangan.

            Kalau saya lihat Rocky, sejak lama pikiran dia itu acak-acakan. Tak ada manfaatnya.

            Coba ilmu apa yang telah kita ingat dari dia? Karya apa yang bermanfaat bagi bangsa ini? Ada? Sebutkan!

            Dulu dia banyak diperhatikan karena orang-orang cerdas berusaha meluruskan pikiran dia di samping agar orang-orang umum tidak terpengaruhi pikiran kalang kabutnya dia.

            Bagaimana tidak kalang kabut, ketika Sukmawati pindah agama dari Islam ke Hindu, yang disalahkan adalah Jokowi?

            Kini dia sudah tidak lagi banyak diperhatikan. Orang-orang cerdas sudah lelah mengomentarinya. Sementara itu, pendukungnya tetap banyak. Tampaknya Rocky pun merasakannya. Baginya, mungkin pendukungnya itu tidak memuaskan hatinya karena orang-orang itu hanya juru keprok yang selalu mengiyakan dan memujanya tanpa memberikan nilai tambah. Seharusnya, dia senang ketika tak ada lagi yang mendebatnya dan semakin bebas bicara memuaskan pendukungnya. Akan tetapi, sesungguhnya yang memuaskan dia adalah ketika orang-orang pintar mendebatnya seperti yang dikatakan Haris Azhar, pengacaranya. Haris mengatakan bahwa Rocky sangat menikmati perdebatan dan makian-makian orang-orang. Jadi, ketika orang-orang pintar itu tidak lagi mempedulikannya, dia merasa kehilangan. Adapun pendukungnya, tampaknya tidak membuatnya hidup senang.

            Karena orang-orang cerdas sudah tidak begitu peduli, dia cari cara untuk kembali mendapatkan perhatian. Karena pikirannya sudah tidak lagi jadi bahan perbincangan, dia pun bikin aksi telanjang dada sambil menantang Suwardi, Juara Kelas Terbang Tarung Bebas Mix Martial Art Pride One FC. Aksinya itu jelas cuma lucu-lucuan buat cari perhatian saja. Foto Rocky saya dapatkan dari Kata Logika. Memang berhasil, dia kembali dapat perhatian, tetapi hanya aksinya itu. Pendapatnya tak lagi didengar dan tak lagi diperdebatkan, paling pendukungnya saja yang cuma kasih tepukan dan pujian. Orang-orang pintar tak lagi peduli. Rocky dan pendukungnya dibiarkan berpendapat dan berbicara sekehendaknya, istilah kate ‘sakarepmu’, tidak ada pengaruhnya juga.


Si Rocky (Foto: Kata Logika)

      

      Aksinya itu mendapat perhatian Sang Juara Suwardi yang membalas tantangan Rocky dengan mengatakan bahwa dirinya akan melawan Rocky, tetapi mau ngarit dulu, cari rumput dulu. Sudah saja, hilang lagi perhatian orang-orang kepadanya.

            Ya sudahlah, saya hanya ingin menyampaikan kalau memang ada manfaatnya, dengarkan Rocky. Kalau tidak, abaikan saja. Kalau kasar, jangan diikuti. Siapa pun kalau bercara kasar, termasuk saya, jangan diikuti karena akan berpengaruh buruk.

            Kasihan Rocky, lucu juga sih.

            Sampurasun.

Saturday, 17 September 2022

Triangulasi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Triangulasi secara sederhana adalah suatu teknik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dengan cara menyerap informasi dari berbagai sumber dan dari bermacam-macam pendapat. Tujuan dari teknik ini adalah agar kita mendapatkan kebenaran setelah mengkonfrontir berbagai informasi dan pendapat yang ada tentang suatu kasus. Dengan teknik ini, kita tidak hanya mendapatkan informasi dari satu arah atau satu sumber yang tentu saja bisa sangat menyesatkan yang akibatnya salah mengambil simpulan dan salah bertindak yang bisa merugikan orang lain dan diri sendiri.

            Contohnya, ketika mendapatkan suatu kasus pertengkaran antara suami istri, kita bisa disesatkan jika hanya mendapatkan informasi dari satu pihak. Jika kita tanya istrinya tentang masalah yang sedang dipertengkarkan, maka Sang Suami adalah pihak yang salah dan selalu buruk, sedangkan istrinya berada pada pihak yang benar. Begitu juga sebaliknya, jika kita tanya suaminya tentang masalah mereka, maka kita akan mendapatkan bahwa istrinyalah yang selalu salah dan menjadi sumber kekacauan rumah tangga, sedangkan Sang Suami adalah pihak yang selalu benar dan selalu paling bijaksana.

            Bisa paham kan jika kita bisa disesatkan oleh istrinya atau suaminya?

            Hal itu disebabkan kita hanya mengambil informasi dari satu pihak tanpa mendengarkan pihak lainnya. Itu sangat berbahaya dan tidak adil. Untuk itulah, diperlukan metode atau teknik triangulasi. Kita harus bertanya kepada istrinya, suaminya, anak-anaknya, keluarga dan kerabatnya, tetangganya, sahabat-sahabatnya, serta pihak lain yang dianggap memahami permasalahan dengan lebih baik sehingga bisa memberikan simpulan dan saran untuk memecahkan masalah yang terjadi. Informasi-informasi dan pendapat-pendapat dari berbagai sumber itu akan memperkaya pengetahuan dan pemahaman kita sehingga memiliki wawasan lebih luas dan lebih bijak dalam bertindak. Jika kita hanya menetapkan kebenaran berdasarkan satu informasi, bisa terjadi kesalahan yang fatal.

            Triangulasi kerap dilakukan oleh para peneliti yang telah memberikan sumbangan banyak terhadap ilmu pengetahuan. Di samping itu, dilakukan pula oleh para peneliti di kampus-kampus. Sesungguhnya, teknik atau metode ini pun harus dilakukan dalam keseharian hidup kita ketika mendapatkan suatu informasi atau masalah agar kita bisa menyelesaikannya dengan baik dan terhindar dari pikiran sempit yang menimbulkan kesalahan bertindak.

            Sampurasun.

Friday, 16 September 2022

Nggak Mau Hormat Bendera, Tapi Uang Rakyat Dimakan

 


  oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ada beberapa yayasan atau lembaga pendidikan yang tidak mau hormat terhadap bendera merah putih, bendera Indonesia. Alasannya, menghormat bendera adalah musyrik dan menganggu akidah Islam. Padahal, tak ada seorang pun yang menganggap bahwa bendera itu Tuhan atau menganggap bendera sebagai sesembahan. Sikap hormat bendera itu kan sebagai penghormatan kepada para pahlawan, kesetiaan terhadap persatuan dan kesatuan, pernyataan implisit untuk kukuh dalam persaudaraan, tekad untuk membangun bersama sesuai potensi masing-masing, penghargaan pada spiritual kebangsaan, dan lain sebagainya.

            Anehnya, lembaga-lembaga pendidikan atau Ormas-ormas itu meskipun tidak mau menghormati bendera, setelah diselidiki, ternyata tetap makan uang bantuan operasional sekolah (Bos), ngintip-ngintip beasiswa, dan anggaran pendidikan lainnya. Dana-dana itu kan berasal dari rakyat Indonesia dan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah yang mayoritas sangat menghormati bendera merah putih.

            Hormat bendera tidak mau, tetapi anggaran pendidikan dan bantuan lainnya yang disalurkan para penghormat negara dimakan. Ajaib sekali pikirannya. Munafik ternyata mereka.

            Saya lebih suka dengan seseorang bernama Ali yang yakin bahwa negara ini thagut dan semua uangnya adalah berasal dari thagut, uang Iblis. Dia ke luar bekerja dari lembaga pendidikan, lalu jadi pejuang teroris. Dia pun berhadapan dengan Densus 88 dan … dor … selesailah dia, segera dimakamkan. Itu lebih bagus, lebih sportif, lebih jantan. Dia tidak menghormati negara dan mengharamkan dirinya memakan uang negara. Dia lebih baik daripada orang-orang yang tidak menghormati negara, tetapi uang negara tetap diintipnya, ditunggunya, dikejarnya, dan dimakannya. Sekalian saja ambil sikap tegas daripada munafik. Soal masuk sorga atau masuk neraka, itu urusan nanti di akhirat, Allah swt yang akan memutuskannya langsung, bukan berdasarkan sangkaan manusia seperti sekarang ini.

            Untuk menangani lembaga-lembaga pendidikan yang menyimpang ini, sikap pemerintah terlalu lembek, terlalu lemah. Dinas pendidikan maupun Kemenag lebih suka mengambil sikap dialog. Padahal, sudah ratusan kali dialog seperti itu dilakukan, tetapi mereka tidak berubah sikapnya, tetap arogan. Menurut saya, ambil tindakan tegas, sanksi administratif, dan tidak lagi dibolehkan mendapatkan anggaran pendidikan. Soal murid-muridnya, biar mereka pindah ke lembaga pendidikan yang lebih menghormati negaranya. Kalau tidak mau pindah, biarkan saja di sana tanpa mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah.

            Sampurasun.