Sunday, 15 January 2023

Jawa Barat Bakal Jadi Somalia atau Afghanistan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Awalnya, saya kesal jika membaca tulisan mereka atau tayangan video yang mereka buat. Akan tetapi, sekarang mah jadi pengen tertawa terus setiap melihat hasil karya mereka yang berantakan nggak jelas itu. Akibat iri dan ketakutan, mereka jadi semakin stress, tidak karu-karuan, dan jadi bodoh. Saya tidak tahu apakah mereka itu mendadak bodoh atau sudah sejak awal dari dulu juga bodoh.

            Ayah saya dulu sering berkata kepada saya, “Kalau bodoh itu, wajar, tidak apa-apa, tetapi harus diobati dengan belajar.”

            Bodoh itu nggak apa-apa karena bisa diperbaiki dengan belajar. Oleh sebab itu, saya pun sekarang selalu berbicara kepada murid-murid saya, baik yang di tingkat aliyah ataupun di perguruan tinggi, mirip seperti yang dulu diajarkan ayah saya.

            “Salah itu tidak apa-apa, wajar karena dengan melakukan kesalahan, kalian akan memahami kebenaran,” begitu yang saya bilang.

            Kata orang-orang bodoh akibat iri dan ketakutan terhadap Masjid Raya Al Jabbar, Provinsi Jawa Barat akan menjadi seperti Somalia atau Afghanistan. Dalam pandangan mereka, Somalia dan Afghanistan miskin karena mementingkan agama Islam yang sangat kuat. Kedua negara itu rusak karena mementingkan simbol-simbol agama. Hal itu pun sama dengan Provinsi Jawa Barat yang mementingkan simbol agama berupa Masjid Al Jabbar. Begitu kata mereka.


Rakyat Somalia kelaparan antri makanan (Foto: BBC)



Anak-anak perempuan Afghanistan yang menderita. Di antara mereka ada yang dijual orangtuanya karena tidak punya uang (Foto: Dunia Tempo.co)


            Kebodohan pandangan mereka itu bisa dilihat ada dalam beberapa dimensi. Dari segi politik, mereka salah parah. Cara menganalisisnya parah berantakan. Mereka membandingkan dengan cara tidak “aple to aple”, ‘buah apel dengan buah apel’. Kalau mau membandingkan buah apel, ya harus dengan buah apel lagi, jangan dengan buah nanas. Itu salah dan tidak nyambung. Kalau mau membandingkan celana dalam, ya harus dengan celana dalam lagi, jangan dengan bra. Kan tidak bisa pas jika membandingkan bentuk segitiga celana dalam dengan bra yang punya tali ke pundak dan punggung. Tempat penggunaannya beda, fungsinya juga berbeda. Tidak juga pas jika membandingkan komputer dengan mall.


Keramaian Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat (Foto: Merdeka)


            Mereka membandingkan antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Itu salah besar, bodoh parah. Somalia itu adalah negara, Afghanistan juga adalah negara. Kedua negara itu memiliki kedaulatan penuh untuk mengatur dirinya dan berhubungan penuh dengan negara-negara di luar dirinya. Adapun Jawa Barat adalah provinsi yang berada di bawah kendali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jawa Barat itu tidak memegang kendali penuh karena berada dalam kekuasaan NKRI. Jawa Barat tidak memiliki kewenangan penuh untuk berhubungan dengan pihak luar negeri karena berada di bawah pengawasan Menteri Luar Negeri RI. Mereka salah jika membandingkan sebuah provinsi dengan negara, ibarat membandingkan komputer dengan pasar. Di pasar memang ada komputer, tetapi pasar tidak sama dengan komputer. Kalau mau membandingkan sebuah provinsi, ya harus dengan provinsi lagi; negara dengan negara. Begitu caranya.

            Mereka yang membandingkan itu tidak paham politik. Mereka hanya tim hore, juru keprok pihak Bapejabacapres (baru pengen dijadikan bakal calon presiden).


Skywalk Teras Cihampelas dibangun untuk mengatasi kemacetan (Foto: Waktu Indonesia Berlibur)


            Kata mereka, Somalia dan Afghanistan rusak karena mementingkan simbol-simbol Islam seperti Jawa Barat dengan Masjid Raya Al Jabbar-nya. Mereka hanya melihat kulit luarnya. Perasaan beberapa waktu lalu saya sudah menulis bahwa kerusakan di wilayah Timur Tengah yang mayoritas Islam itu bukan karena agama, melainkan ada perebutan sumber daya alam, khususnya minyak dari para pengusaha kapitalis serta perlombaan memperluas kekuasaan antara kekuatan barat dan timur, antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet atau Rusia. Mereka menggunakan orang-orang yang hanya punya semangat keagamaan, tetapi ilmu agamanya lemah. Orang-orang yang lemah pemahaman agamanya inilah yang digunakan para pengusaha dan penguasa kapitalis untuk membuat kerusakan di Timur Tengah dan sekitarnya. Saya tidak meneliti Timur Tengah, saya hanya membaca hasil penelitian mahasiswa saya dan seperti itulah yang mereka tulis. Kemudian, saya gabungkan dengan beberapa literatur yang saya baca. Kalau saya sendiri, hanya sempat meneliti tentang kejatuhan Muamar Khadafi di Libya akibat invasi Nato.

            Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat justru dibangun untuk memperkuat harmonisasi rakyat dengan simbol batik dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat; ada museum Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, dan sejarah Islam di Jawa Barat; ada danau retensi yang digunakan untuk mengendalikan banjir; ada spot-spot untuk wisata; di sekitarnya diproyeksikan untuk menjadi pusat pertumbuhan bisnis baru bagi rakyat, baik muslim maupun nonmuslim.

            Beda, Bro antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Meskipun demikian, meskipun Jawa Barat hanya sebuah provinsi, tingkat kemakmurannya melebihi Negara Somalia dan Negara Afghanistan. Sok belajar membandingkan yang benar. Hitung APBD Jawa Barat dibagi penduduk Jawa Barat dengan APBN Somalia dan APBN Afghanistan dibagi penduduknya masing-masing. Kalau mau, hitung pula hutang kedua negara itu. Jadi, bisa kita lihat tingkat kemakmurannya secara sederhana.


Jln. Braga, Bandung yang menyenangkan, beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan (Foto: bandung24jam - Republika) 


            Sudah dulu ya. Sebetulnya, masih banyak yang ingin saya tulis tentang kebodohan orang-orang itu. Akan tetapi, nanti saja pada tulisan yang lain. Soalnya, kalau terlalu panjang, bosan membacanya.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Suara Jogja)


            Foto Ridwan Kamil saya dapatkan dari Suara Jogja. Foto rakyat Somalia yang kelaparan sedang antri makanan saya dapatkan dari BBC. Foto rakyat Afghanistan yang menderita dari Dunia Tempo co. Kasihan anak-anak perempuan dijual orangtua mereka Rp40 s.d. 50 juta per orang karena tidak punya uang. Foto keramaian di Masjid Raya Al Jabbar dari Merdeka. Foto skywalk Teras Cihampelas dari Waktu Indonesia Berlibur. Itu dibangun untuk mengatasi kemacetan. Foto suasana menyenangkan di Jln. Braga, Bandung dari bandung24jam – Republika. Beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan. Rakyat Jawa Barat tidak mungkin ingin seperti di Somalia dan Afghanistan. Orang sudah melangkah jauh, kok pengen mundur. Kacau kalian mah.

            Sampurasun.

Friday, 13 January 2023

Bapejabacapres

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bisa mengeja judul itu?

Susah?

Tahu artinya?

            Para pendukung pengganti Jokowi pada 2024 sudah sangat sibuk sejak bertahun-tahun lalu. Mereka berupaya menjadikan jagoannya sangat terkenal dan dianggap pantas untuk menggantikan Jokowi. Ada yang berupaya dengan cara merendahkan Jokowi dan membuat dongeng bahwa jagoannya bisa lebih hebat dibandingkan Jokowi. Adapula yang berupaya dengan cara bahwa jagoannya akan berkomitmen untuk meneruskan program-program Jokowi. Ada juga yang berkicau bahwa Jokowi itu sia-sia dan semua programnya tidak berguna sehingga jagoannya akan mengganti semua program Jokowi dengan program dirinya. Pokoknya, rupa-rupa warnanya deh mereka. Seru.

            Bahkan, ada yang mengganggap bahwa presiden pengganti Jokowi sudah ada atau paling tidak calon-calon presiden Indonesia itu dianggap sudah mengerucut dan hanya orang-orang itulah yang layak untuk menjadi calon presiden. Mereka yang disebut-sebut itu adalah Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Para pendukung sudah menganggap tak akan ada orang lain yang bisa, kecuali mereka bertiga. Seolah-olah Pilpres adalah esok hari, calonnya hanya yang tiga orang itu. Lucu mereka itu.

            Sesungguhnya, sampai saat saya menulis ini, tidak ada calon presiden (Capres) RI itu.

            Memangnya, siapa yang sudah jadi calon presiden sekarang?

            Tidak ada!

            Seseorang sudah menjadi Capres itu jika sudah daftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan KPU sudah menyatakannya sah bahwa seseorang itu menjadi Capres.

            Sekarang pendaftarannya juga belum dibuka, mana bisa disebut Capres?

            Mirip seseorang disebut mahasiswa itu jika sudah mendaftar dan memiliki nomor induk mahasiswa. Kalau belum daftar dan belum punya, ya bukan mahasiswa. Kalau belum daftar dan disahkan KPU, ya bukan Capres.

            Jangankan Capres, jadi Bacapres saja belum. Bacapres itu “bakal calon presiden”. Seseorang sudah sah dianggap sebagai Bacapres apabila sudah mendapatkan dukungan suara minimalnya 20% dari partai-partai.

            Sekarang, siapa yang sudah mendapatkan 20% dukungan dari partai-partai?

            Tidak ada!

            Para pendukung itu sudah geer duluan serta terjebak ilusi, halusinasi, dan lamunannya sendiri. Jangankan Capres, Bacapres saja belum.

            Jadi, orang-orang yang disebut calon presiden itu apa sebetulnya?

            Bolehlah kita sebut mereka sebagai “Bapejabacapres”. Susah-susah deh ngomongnya atau membacanya. Artinya, “Baru Pengen Dijadikan Bakal Calon Presiden”.

            Dari mana istilah itu?

            Istilah itu dari saya barusan, ngarang sendiri. Bebas saja ngarang mah, hak semua orang.

            Bapejabacapres itu banyak. Ada Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Puan Maharani, AHY, Ahmad Heryawan, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Rizal Ramli, Rocky Gerung, Eyang Subur, Jajang Bubur, dan siapa saja yang pengen jadi presiden. Semua equal, sama, dan setara. Mereka adalah Bapejabacapres.

            Kalau sudah dapat dukungan 20%, sah jadi Bacapres. Kalau sudah daftar ke KPU dan disahkan KPU, sah jadi Capres. Kalau sudah dipilih dan dihitung KPU, lalu suaranya menjadi terbanyak, sah menjadi Presiden Republik Indonesia.

            Sampurasun.

Wednesday, 11 January 2023

Bodoh Jika Membandingkan Masjid Raya Al Jabbar dengan Masjid Raya Sheikh Zayed

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak akan berhenti bicara dan tidak berhenti menulis jika ada sesuatu yang menurut saya salah. Saya tidak punya kebencian kepada siapa pun. Saya hanya menjalankan kewajiban untuk ikut memberikan masukan agar semuanya kembali pada jalan yang baik. Allah swt sudah memberikan kemampuan kepada kita untuk memahami hal yang benar dan salah. Ketika kita menemukan hal salah, tetapi diam saja, Allah swt akan menanyai kita nanti dan meminta pertanggungjawaban kita. Itu benar. Salah satu penyebab kerusakan merajalela adalah karena diamnya orang-orang yang mengetahui kebenaran dan tidak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.

            Setelah saya menulis untuk mengingatkan orang-orang agar tidak menggunakan Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat sebagai alat politik untuk merendahkan dan melecehkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, banyak video Youtube yang berisi hinaan atau nyinyran terhadap Masjid Al Jabbar yang menghilang, mungkin mereka sudah menghapusnya, tetapi ada pula yang masih tetap bandel ada, malah bikin lagi yang baru dengan analisis bodoh menyesatkan yang didasari ketakutan jagoannya calon presiden 2024 kalah populer oleh Ridwan Kamil.

            Sebetulnya, boleh saja menyiarkan keunggulan jagoannya agar terpilih dan menunjukkan kelemahan lawannya agar kalah, tetapi jangan melakukan kebohongan, fitnah, dan manipulasi. Orang-orang seperti saya ini tidak suka terhadap hal itu dan pasti akan mengingatkan agar tidak dilakukan. Saya membela Jokowi ketika difitnah sebagai PKI dan memang terbukti Jokowi bukan PKI. Demikian pula, saya membela Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil ketika mendapatkan bulian, fitnah, manipulasi, dan kebohongan. Intinya, saya menjalankan kewajiban karena Allah swt memerintahkan kita untuk berada dalam jalan kebaikan dan mengingatkan orang untuk tetap baik jika salah.

            Ada video yang akan saya tonton, tetapi sudah menghilang. Saya ingat judulnya, tetapi sudah tidak ada lagi. Saya ingin melihat dan mendengar apa sih yang mereka tayangkan. Judulnya seperti ini “Ridwan Kamil Membangun Masjid Pakai Dana APBD, Gibran Gratis!”. Maksudnya, Gibran membangun masjid tanpa harus mengeluarkan uang. Kalau ada yang punya link-nya, kasih tahu saya. Saya ingin memperhatikan ngomong bodoh apa sih mereka.

            Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat memang menggunakan dana APBD sekitar Rp1,2 triliun dan itu sudah saya jelaskan bukan hanya diambil dari satu tahun APBD, melainkan bertahun-tahun sejak gubernurnya masih Ahmad Heryawan, multi years. Dari situ saja sudah jelas bukan hanya Ridwan Kamil yang menggunakan uang itu, tetapi struktur Jawa Barat sebelumnya juga melakukan hal yang sama. Kemudian, orang-orang kurang pengetahuan ini membandingkannya dengan Masjid Raya Sheikh Zayed yang dibangun di Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, dekat rumah kediaman Jokowi. Masjid ini dibangun dengan biaya hampir mencapai Rp400 miliar. Dana pembangunannya seluruhnya ditanggung oleh Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed (MBZ) Al Nahyan. Ini yang mereka sebut Gibran membangun masjid dengan gratis tanpa menggunakan APBD Kota Solo ataupun Provinsi Jawa Tengah.


Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat (Foto: CNN Indonesia)


            Karena mereka bodoh dan jahat dengan membandingkan Masjid Raya Al Jabbar dan Masjid Raya Sheikh Zayed, saya ikut-ikutan bodoh dan jahat juga dengan menerangkan yang sebenarnya. Mereka bilang Gibran gratis membangun masjid. Sesungguhnya, tidak gratis.

            Kalau Gibran tidak mengeluarkan uang, memang benar, tetapi tidak gratis. Sebelumnya, antara Jokowi dan MBZ sudah ada kesepakatan bisnis dan menghasilkan MoU pada November 2021 dengan komitmen investasi dari UEA senilai 32,7 miliar dollar AS. Indonesia memang untung dengan bisnis itu, tetapi UEA juga mendapatkan untung besar. Wajar dong UEA memberikan hadiah 400 miliar dengan berbentuk masjid yang pembangunannya dikomandoi Gibran. Ada uang bisnis dulu sebelum masjid itu menjadi hadiah buat Jokowi dan Gibran.

            Tuh, kan saya jadi jahat ngomongin itu. Kalian juga sih yang mulai jahat.


Masjid Raya Sheikh Zayed (Foto: Kompas.com)


            Keuntungan MBZ bertambah lagi karena namanya menjadi nama jalan di Indonesia. Pemerintah Indonesia menamai Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated atau Jalan Tol Layang Japek menjadi Jalan Layang Syeikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan atau MBZ. Penamaan jalan itu adalah keuntungan yang juga besar buat MBZ. Wajar ngasih hadiah masjid. Tidak ada yang gratis, Bro.

            Jahat kan saya?

            Keuntungan MBZ pun makin banyak karena ditunjuk Jokowi menjadi Ketua Dewan Pengarah Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang beranggotakan CEO Soft Bank Masayoshi Son dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Dalam pembangunan IKN itu banyak sekali uang beredar. Itu keuntungan selain keuntungan politik internasional buat MBZ juga. Wajar dong MBZ menghadiahi masjid buat Jokowi. Tidak ada makan siang gratis, “there is no free lunch”.

            Makin jahat kan saya?

            Saya bisa bertambah jahat lho, tetapi sudahlah.

            Saya memang tidak seharusnya menulis hal itu. Saya hanya ingin mengingatkan agar jangan melakukan nyinyiran dan ledekan yang tidak jelas dan penuh kebodohan. Kerja sama Indonesia dengan UEA jelas menguntungkan kedua negara. Kita saling membutuhkan. Kedekatan Jokowi dan Gibran dengan MBZ juga bagus untuk menguatkan ikatan yang menguntungkan tiap-tiap rakyatnya.

            Hal yang tidak bagus adalah para penyinyir dan pendukung yang ketakutan jagoannya kalah pada Pilpres 2024, lalu memposting hal-hal yang tidak berkualitas. Bahkan, postingan mereka cenderung mengadu domba.

            Bagaimana tidak mengadu domba?

Mereka membandingkan dua masjid dan menciptakan kondisi Ridwan Kamil melawan Gibran. Harapan mereka orang-orang jadi tersesat dengan menganggap Gibran lebih hebat dibandingkan Ridwan Kamil. Bloon mereka itu.

Gibran itu pemimpin muda yang baik, sopan, dan sangat menghormati seniornya. Dia pun terus belajar untuk menjadi lebih baik dengan belajar kepada Ridwan Kamil agar Kota Solo lebih baik. Ridwan Kamil pun dengan senang hati membagi pengetahuannya kepada Gibran. Mereka berdua berhubungan sangat baik dan bekerja dengan sangat baik untuk kebaikan rakyatnya masing-masing. Sayangnya, para pendukung bodoh ini bikin ulah yang macam-macam dan berpotensi memecah belah bangsa.

            Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka belajar “aplikasi birokrasi” kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Gibran ingin Kota Solo seperti Provinsi Jawa Barat yang kinerja Aparatur Sipil Negara Jabar sudah sangat meningkat setelah menggunakan aplikasi birokrasi. Gibran belajar ke Kang Emil. Itu nyata!

            Hal itu bisa dilihat dari foto dengan sopannya Gibran berdiri merendah di belakang Ridwan Kamil yang diwawancarai oleh wartawan. Padahal, itu di Kota Solo, di gedung yang dikuasai oleh Gibran Rakabuming Raka. Gibran tahu posisinya dan kebutuhannya kepada Ridwan Kamil. Demikian pula Ridwan Kamil membimbing Koto Solo agar lebih baik melalui Gibran. Foto mereka saya dapatkan dari kumparan com.


Ridwan Kamil Membimbing Aplikasi Birokrasi Kota Solo (Foto: kumparan.com)


            Ngerti ora, Son?

            Son,.. Son.

            Kalau nggak ngerti, nanti meledak, terus bajunya robek-robek kayak di Sinetron tuyul itu. Mudah-mudahan kowe ngerti, Son.

            Kalau enggak ngerti juga, saya bisa lebih jahat dengan membandingkan fasilitas  Masjid Raya Al Jabbar dengan Masjid Raya Sheikh Zayed. Foto Masjid Raya Al Jabbar saya dapatkan dari CNN Indonesia, sedangkan foto Masjid Raya Sheikh Zayed saya dapatkan dari Kompas com.

            Sampurasun.

Para Antinyinyir Sekarang Jadi Ahli Nyinyir

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Arti “nyinyir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “cerewet sering mengulang-ulang perintah”. Akan tetapi, dalam media sosial, kata nyinyir ini mengalami perluasan makna. Kalau saya perhatikan, nyinyir sekarang ini bisa berarti “banyak mengejek dengan maksud melecehkan tanpa pengetahuan”.

            Tudingan nyinyir sering dialamatkan kepada para anti-Jokowi. Memang mereka sering sekali mengejek dengan cara yang sangat bodoh serta tidak ada data dan fakta sama sekali. Bahkan, nyinyiran mereka ditambahi dengan kebohongan yang menurut mereka cerdas, padahal sebetulnya bego sekali karena tak ada dasar pengetahuannya. Para pendukung Jokowi dan pemerintah sering sekali mengecam para penyinyir pemerintah dan Jokowi.

            Saya juga antinyinyir karena nyinyir itu adalah kebodohan yang diakbatkan kelemahan diri dan tidak mau mengakui orang lain lebih hebat dibandingkan dirinya. Saya sangat tidak suka terhadap nyinyiran. Nyinyir terhadap siapa pun tidak suka karena itu adalah ketololan dan pasti dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah swt. Saya tidak menemukan pembelaan yang tepat jika Allah swt menanyakan perilaku nyinyir itu nanti. Itu, pasti jadi dosa yang sangat sulit dibela. Berbahaya.

            Para pendukung Jokowi dan pemerintah seolah-olah pihak antinyinyir dan memasang diri sebagai orang yang punya analisis hebat, banyak data, dan banyak fakta. Akan tetapi, sekarang banyak dari mereka yang menjadi ahli nyinyir yang sangat lucu dan memalukan. Kadang kesal, kadang sedih, kadang juga pengen ketawa melihat mereka.

            Hal ini terjadi setelah dibangunnya Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat. Mereka terkaget-kaget, Ridwan Kamil mampu meneruskan program kerja Ahmad Heryawan. Mereka tersentak melihat bangunan masjid yang megah, menggunakan dana APBD tanpa berita ada korupsinya, serta dibangun menjadi masjid yang paling modern di dunia. Masjid ini paling modern di kolong langit ini.

Kalau ada masjid yang lebih modern dibandingkan Masjid Al Jabbar, coba sebutkan! Sepanjang yang saya tahu, tidak ada masjid yang lebih canggih dibandingkan Masjid Al Jabbar. Kebanyakan masjid, hanya untuk tempat ibadat dan ceramah. Masjid Al Jabbar beda jauh, bukan hanya untuk ibadat, melainkan juga untuk menambah ilmu pengetahuan dan teknologi, danau retensi untuk mengendalikan banjir, untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, serta menjadi tempat wisata.


Masjid Al Jabbar (Foto: Dream.co.id)


Pada masa sekarang ini, Masjid Al Jabbar adalah masjid paling modern di muka Bumi, di seluruh dunia. Pada masa depan, mungkin saja 50 atau 100 tahun lagi ada yang melebihi kehebatan Masjid Al Jabbar. Akan tetapi, untuk saat ini, Masjid Al Jabbar adalah No. 1 paling istimewa sedunia.

Inilah yang membuat para pendukung Jokowi, pendukung pemerintah pusat, dan pendukung presiden propemerintah kalang kabut. Mereka inilah yang saya sebut “para penakut”. Mereka takut jika jagoan mereka untuk Pilpres 2024 kalah pamor atau kalah popularitas dibandingkan Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan yang mampu memimpin Jawa Barat hampir tak ada cedera, bahkan penuh prestasi. Meski belum sempurna betul, mereka sudah banyak bekerja untuk rakyatnya.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Jateng - Liputan6.com)


Para pendukung Jokowi dan pemerintah yang penakut inilah yang kemudian sekarang “menyinyiri” Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat dan Ridwan Kamil. Dengan lucunya, mereka merendahkan Masjid Al Jabbar, Provinsi Jawa Barat, dan Ridwan Kamil. Mererka sesungguhnya melakukan itu karena mereka takut jagoannya tergeser. Memalukan sekali mereka.

Mereka hanya ingin jagoan mereka saja yang tampil pada saat Pilpres 2024. Itu memang boleh dilakukan, tetapi jika dengan cara nyinyir, memalukan sekali mereka. Sama sekali mereka itu tidak pintar. Ternyata, kini mereka menjadi ahli nyinyir paling terkemuka. Jadi, tak ada bedanya para penyinyir ini.

Baik penyinyir Jokowi, penyinyir pemerintah, penyinyir Masjid Al Jabbar, penyinyir Ridwan Kamil adalah sama bodohnya, sama lucunya, sama-sama memalukan. Tidak ada cerdas-cerdasnya.

Boleh dukung mendukung Bacapres RI pada 2024. Akan tetapi, jika menggunakan nyinyiran, malu-maluin ih.

Foto Masjid Al Jabbar saya dapatkan dari Dream co id dan Foto Ridwan Kamil saya dapatkan dari Jateng – Liputan6com.

Sampurasun.

Sunday, 8 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Ternyata Menakutkan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masjid Raya Al Jabbar yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Jumat, 30 Desember 2022 berlokasi di Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Masjid megah bernama Al Jabbar yang bisa berarti Mahaagung, Mahakuat, atau Maha Memaksa ini ternyata menggetarkan dan  menakutkan hati sebagian orang. Mereka yang bergetar dan tampak takut ini adalah para politisi yang merasa tersaingi untuk pemilihan presiden 2024. Hal itu disebabkan ada sosok teramat penting dalam pembangunan ini, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Keduanya pemimpin yang baik, punya prestasi, dan khususnya Ridwan Kamil terus bekerja. Mereka berdua hampir tak punya cacat. Kalaupun ada beberapa rencana Gubernur Ridwan Kamil yang belum terpenuhi, itu semuanya perlu waktu, tidak seperti sulap “sim salabim, abrakadabra”, ada hal-hal yang harus terus diperhitungkan untuk melaksanakan dan mewujudkan program-programnya.  

            Siapa pun tidak bisa menghindar, pura-pura tidak tahu, atau bahkan menutup mata. Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat adalah masjid megah, indah, bergaya futuristik masa depan, dan merajut harmoni kebangsaan dalam bernegara.


Foto: Republika


            Menurut catatan, masjid ini dibangun sejak 2017. Artinya, sudah digagas, didiskusikan, direncanakan, serta mulai secara bertahap dan dibiayai tahun-tahun sebelumnya, sejak gubernur sebelumnya, yaitu Ahmad Heryawan. Jika mengikuti keterangan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan masjid ini sudah disetujui tujuh tahun lalu, berarti kesepakatan pembangunannya sudah mulai pada 2015.

            Ridwan Kamil adalah orang yang mendesain masjid bernuansa modern ini. Ia memang dikenal sebagai arsitek andal dan karyanya sudah sangat banyak berdiri di Indonesia ini, bukan hanya masjid, melainkan pula bangunan-bangunan lainnya.

Masjid Al Jabbar mampu menampung 50.000 jemaah. Bahkan, mungkin lebih jika diisi jamaah hingga ke luar, taman atau halamannya, hutan kota.


Foto: Okezone Muslim


            Masjid ini sangat kokoh hingga mampu menahan gempa berkekuatan enam magnitudo.  Di samping memiliki alun-alun yang dihiasi tanaman hijau, Al Jabbar memiliki ruang luas yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Masjid ini berdiri di atas luas lahan 26 ha yang di seputarnya diproyeksikan menjadi central business district (CBD) atau distrik pusat bisnis baru. Di sekelilingnya dipenuhi air yang indah terkumpul di danau retensi yang berfungsi pula sebagai pengendali banjir di wilayah Gedebage, Bandung.

            Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang setiap pintu dihiasi batik yang berasal dari 27 motif batik kabupaten dan kota di Jawa Barat. Itu adalah penghargaan kepada rakyat, budaya, dan persatuan warga Jawa Barat. Motif itu pun merupakan hasil karya warga Jawa Barat. Di samping itu, ada pula aksesoris lainnya, semacam lampu hias yang juga hasil karya rakyat Jabar. Bentuk masjid ini bukan kubah, melainkan melengkung yang melambangkan proses pendekatan dari bawah menuju atas sebagai puncak kedekatan dengan Allah swt. Dari dalam, puncaknya bertuliskan “Allah” yang filosofinya adalah cahaya Allah swt turun menuju imam.


Foto: CNN Indonesia

            Untuk kelengkapan sebagai masjid modern, difasilitasi pula oleh museum yang disesuaikan dengan era globalisasi berteknologi canggih. Masyarakat bisa menikmati museum digital Muhammad Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, serta sejarah Islam di Jawa Barat.

            Apabila disimpulkan, Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat terdiri atas empat komponen, yaitu “tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota”. Bangunan mewah ini diakui oleh Ridwan Kamil adalah masjid yang paling rumit dan paling lama dibangun dibandingkan masjid-masjid lain yang pernah dibangun oleh Ridwan Kamil.

            Keindahan dan kenyamanan Al Jabbar ini dibangun dengan membutuhkan dana sejumlah 1,2 triliun. Uang yang sangat besar. Para politisi dan pendukungnya yang merasa ketakutan, terancam, dan tersaingi oleh karya besar Ridwan Kamil ini mulai mencari-cari kelemahan pembangunan masjid ini sejak perencanaan, pembiayaan, pembangunan, peresmian, bahkan hingga ke diri pribadi Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Tujuannya adalah melemahkan kepercayaan dan rasa hormat rakyat kepada Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Kita harus paham bahwa Ridwan Kamil telah menyatakan siap untuk dicalonkan menjadi presiden Indonesia jika dirinya dipercaya rakyat dan partai-partai. Demikian pula, Ahmad Heryawan yang sedang diperkenalkan untuk menjadi calon wakil presiden. Inilah yang membuat banyak politisi dan para pendukungnya ketakutan dan terancam sehingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan remeh dan sangat kelihatan jelas ketakutannya.

Bagaimana tidak ketakutan, Al Jabbar adalah masjid megah yang berasal dari uang rakyat yang mayoritas Islam?

Umat Islam sangat mencintai masjid. Sudah pasti masjid dengan bentuk mewah berteknologi tinggi dan bergaya futuristik akan menjadi kebanggaan umat serta pendirinya akan sangat dihormati umat.  Umat akan sangat berterima kasih kepada para pembangunnya. Inilah yang menjadi ketakutan para politisi dan pendukungnya itu. Jangan-jangan masyarakat semakin menyukai Ridwan Kamil dan mulai mengingat lagi jasa-jasa besar Ahmad Heryawan dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Bisa-bisa, Ridwan Kamil menjadi presiden Indonesia. Mungkin begitu pikir mereka.


Foto: inijabar.com


Berikut beberapa serangan mereka terhadap Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat dan terhadap diri Ridwan Kamil. Serangan mereka itu, insyaallah saya jawab satu per satu.

Pertama, mereka menyayangkan uang satu triliun itu hanya dibuat untuk masjid, padahal ada banyak hal yang harus dibiayai. Misalnya, transportasi masal, memecahkan masalah kemacetan, membangun UMKM, memberikan beasiswa untuk generasi muda, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan memberikan kesejahteraan kepada banyak pihak.

Kedua, kata mereka di Jawa Barat ini sudah berdiri 50.000 ribu masjid.

Apakah masih kurang sehingga harus membangun Masjid Raya Al Jabbar?

Ketiga, kata mereka uang APBD itu adalah uang rakyat yang terdiri atas banyak pemeluk agama berbeda. Jadi, seharusnya dibangun pula tempat ibadat agama lain.

Bayangkan, apa yang terjadi jika uang satu triliun itu digunakan untuk membangun gereja?

Pasti akan ditolak dan akan menjadi keributan.

Keempat, mereka membandingkan bahwa untuk apa membangun lagi masjid karena Jawa Barat adalah provinsi yang sangat intoleran, tidak mampu menghargai orang lain yang berbeda agama.

            Kelima, mereka menyerang kecakapan Ridwan Kamil. Menurut mereka, Ridwan Kamil punya banyak rencana dan keinginan, tetapi eksekusinya nol. Misalnya, rencana membangun monorel, membangun kereta gantung, membangun jalan tol Bandung-Garut-Tasikmlaya. Di samping itu, Ridwan Kamil sampai sekarang belum juga bergabung ke partai politik untuk dijadikan kendaraan menuju kursi Presiden RI.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas, tidak pintar, tidak punya skala prioritas, dan tidak peka sebagai pemimpin karena menggunakan uang satu triliun hanya untuk membangun masjid yang dinikmati oleh satu golongan umat. Hanya umat Islam yang menikmati, pemeluk agama lain tidak boleh menikmati.

            Ketujuh, mereka menegaskan bahwa Ridwan Kamil tidak pantas untuk menjadi presiden ataupun wakil presiden. Ridwan Kamil hanya pantas sebagai arsitek dan artis Sinetron.

            Dari serangan-serangan mereka, tampak jelas ketakutan mereka terhadap Ridwan Kamil yang semakin disukai banyak orang. Mereka merasa terancam dengan hal itu. Mereka pun menggunakan Masjid Al Jabbar yang dianggapnya tidak penting untuk menyerang Ridwan Kamil. Mereka membungkusnya seperti kritikan untuk pemimpin atau pemerintah Jawa Barat. Akan tetapi, sesungguhnya mereka ketakutan jagoannya tergeser dari popularitas untuk di Pilpres RI tahun 2024. Ternyata, mereka serendah itu pikirannya. Penakut mereka itu.

            Seperti saya bilang, saya akan coba jawab serangan mereka itu satu per satu. Kalau ada yang tersinggung, silakan balas lagi saya. Saya akan sangat menyukainya.


Ridwan Kamil (Foto: Kompas.com)


            Pertama, mereka salah mengira atau memang menutupi kenyataannya. Biaya yang digunakan sejumlah satu triliun itu bukan diambil langsung dalam satu tahun APBD, melainkan diambil dari dana APBD selama bertahun-tahun. Seperti penjelasan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan Masjid Raya Al Jabbar sudah disepakati antara eksekutif dan legislatif sejak tujuh tahun lalu, sejak 2015.  Artinya, masjid itu dibangun dengan menggunakan APBD Provinsi Jawa Barat dengan cara mencicil atau sedikit-sedikit mengambil setiap tahun sehingga jika dijumlahkan menjadi 1,2 triliun pada tahun 2022. Bisa dikatakan pembiayaannya adalah multi years, bertahun-tahun. Salah sekali jika ada anggapan mengambil satu triliun dari satu tahun APBD. Jadi, tidak tepat jika ada yang bilang itu seharusnya digunakan untuk hal lain. Misalnya, dalam satu tahun hanya menggunakan uang APBD untuk biaya konsultan, pembuatan design, atau pembebasan tanah secara bertahap. Anggaran tahun berikutnya, ada uang yang diambil untuk pembangunan tahap selanjutnya. Begitu seterusnya hingga pada 2022 berjumlah Rp1,2 triliun.

            Dengan pembiayaan seperti itu, pemerintah Jawa Barat masih bisa membangun dan membiayai hal-hal lainnya. Jumlah uang Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022 adalah sebesar Rp32,10 triliun. Setiap tahun pemerintah Jawa Barat melakukan banyak pembangunan dan perbaikan, tidak terganggu oleh pembangunan masjid. Transportasi masal dibiayai sehingga semakin banyak bus yang bisa digunakan para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja dengan harga yang murah. Untuk mengatasi kemacetan, banyak dibangun flyover atau jalan layang untuk kendaraan dan pejalan kaki. Kalau belum tahu, main dong ke Bandung, sampai sekarang terus dibangun kok. Untuk membangun UMKM, pemerintah memberikan dorongan, pelatihan, dan kemudahan pendanaan. Salah seorang mahasiswa saya juga sedang melakukan penelitian kerja sama kelompok UMKM di Kota Bandung dengan kelompok UMKM di salah satu kota di Malaysia. Itu artinya ada pembangunan UMKM. Untuk mencerdaskan generasi muda, Provinsi Jawa Barat punya Jabar Future Leaders (JFL) Scholarship atau beasiswa untuk pendidikan. Saya juga dikasih uang oleh Provinsi Jawa Barat untuk menyelesaikan tugas akhir pendidikan S2 saya ketika gubernurnya masih Ahmad Heryawan. Artinya, ada dana untuk pendidikan rakyat. Sekolah-sekolah terus dibantu dananya. Lapangan kerja terus didorong untuk semakin banyak. Rakyat terus didorong untuk terampil melalui kursus-kursus atau pelatihan. Untuk masyarakat yang tidak mampu, banyak jaring pengaman sosial agar rakyat tetap bisa makan. Hari ini tidak terdengar lagi ada rakyat Jawa Barat yang kelaparan.

            Betul kan?

            Siapa sekarang yang kelaparan perutnya?

            Paling juga Hp-nya yang kelaparan kuota.

            Kalau dulu, ketika zaman Soeharto, memang ada rakyat Jawa Barat yang mati kelaparan. Beritanya sampai tersebar di koran-koran hingga ada perusahaan swasta yang memarahi lurah tempat orang yang mati kelaparan. Seharusnya, lurah menghubungi berbagai perusahaan atau menghubungi para donator untuk mengatasi persoalan pangan masyarakat. Sekarang tak ada lagi orang Jawa Barat yang mati kelaparan. Artinya, pemerintah Jawa Barat memperhatikan dan membiayai persoalan makanan rakyat. Soal pelayanan kesehatan, kita bisa lihat bahwa setiap hari Puskesmas dibangun lebih layak, obat-obatannya lebih beragam dan lebih berkualitas daripada masa lalu. Rakyat pun cukup mengeluarkan uang Rp7.000,-, padahal biaya kesehatan sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Misalnya, Rp50.000,-. Jadi, ketika rakyat berobat dengan harga Rp7.000,-, gubernur Jawa Barat menambahinya Rp43.000,-. Coba jalan-jalan ke setiap kecamatan, Puskesmasnya sudah jauh lebih baik kok.

            Memang benar, berbagai rencana atau program yang diinginkan belum semuanya sempurna karena semuanya butuh proses, butuh waktu, dan butuh dana yang dilakukan secara bertahap. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden RI Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu tidak bisa sim salabim langsung jadi, tetapi butuh proses. Hal yang jelas adalah pembangunan dan perbaikan itu terus dilakukan.

            Dari pembangunan masjid saja sudah jelas bisa meningkatkan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Masjid Al Jabbar itu bukan hanya tempat ibadat, tetapi dilengkapi pula dengan museum digital, hutan kota, danau retensi, ruang-ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi seperti bazar dan promosi produk UMKM. Untuk membangun dan memelihara masjid itu, dibutuhkan ratusan pekerja yang artinya telah menyerap tenaga kerja. Belum lagi jika semua rencana operasional masjid lancar, akan lebih banyak butuh tenaga kerja.

            Di samping itu, di wilayah sekeliling masjid akan diproyeksikan sebagai distrik pusat bisnis baru. Artinya, pada masa berikutnya akan tumbuh pusat-pusat ekonomi yang memakmurkan rakyat.  Begitu cara berpikirnya, Bro.

            Kedua, kata mereka di Jawa Barat sudah terlalu banyak masjid, sudah ada 50.000 masjid. Jadi, Masjid Al Jabbar sama sekali tidak penting. Soal jumlah masjid itu bagaimana kebutuhan, malah 100.000 masjid masih harus dibangun jika dibutuhkan. Jawa Barat ini berpenduduk lebih dari 45 juta orang, mayoritas muslim, dan akan terus bertambah. Wajar kalau masjid masih banyak yang ingin membangun. Banyak sekali masjid-masjid kecil yang penuh dan sulit menampung jamaah, termasuk di perkotaan, apalagi di pusat-pusat perdagangan. Untuk shalat dzuhur di wilayah Tegalega saja, saya masih kesulitan karena antrian wudhu, toilet, dan tempat shalat yang penuh.

            Khusus untuk Masjid Al Jabbar, itu sangat diperlukan karena Provinsi Jawa Barat belum punya masjid level provinsi, adapun masjid besar di Cikapundung, Alun-Alun Bandung adalah Masjid Agung Kota Bandung. Dengan adanya Masjid Al Jabbar, kita jadi punya masjid level provinsi di Jawa Barat.

            Paham, Bro?

            Ketiga, soal uang APBD satu triliun itu hanya untuk masjid dan bukan untuk membangun tempat ibadat agama lain. Itu pasti karena rakyat Jawa Barat mayoritas muslim. Tidak mungkin membangun gereja, vihara, klenteng, atau pura di Jawa Barat dengan biaya satu triliun, kan jumlah pemeluknya juga sedikit. Kalau di tempat lain yang mayoritas nonmuslim, wajar membangun tempat ibadat di luar Islam dengan harga selangit juga, misalnya, di Bali itu normal membangun pura dengan biaya triliunan juga karena mayoritasnya bukan Islam. Selama eksekutif dan legislatif setuju menggunakan uang APBD untuk membangun tempat ibadat agama apa pun, pembangunan itu bisa dilakukan.

            Lagian, pemerintah di Jawa Barat pun pasti memperhatikan pula tempat-tempat ibadat agama lain, sesuai dengan kebutuhannya, gereja ada, demikian pula tempat ibadat lainnya.

            Hal itu sama saja di seluruh dunia juga, misalnya, jika kita lihat di Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa, bangunan gereja selalu lebih besar dan lebih megah dibandingkan masjid. Hal itu disebabkan umat Islam di sana adalah minoritas. Bahkan, di Cekoslowakia pemerintahnya melarang pembangunan masjid karena mayoritas penduduknya ateis. Masjid hanya boleh dibuat di bawah tanah, basement pertokoan, itu pun tidak luas, secukupnya. Jika banyak masjid di Jawa Barat atau di Indonesia, wajar karena penduduknya mayoritas muslim.

            Keempat, menurut mereka, percuma membangun Masjid Al Jabbar karena intoleransi rakyat Jawa Barat sangat tinggi. Mereka salah berpikir. Pembangunan masjid dengan intoleransi itu adalah dua hal yang berbeda dan harus ditangani berbeda pula. Intoleransi itu masalah sosial, sedangkan masjid adalah tentang pembangunan fisik yang dapat digunakan pula untuk menyelesaikan masalah sosial. Dengan dibangunnya Masjid Al Jabbar, diharapkan akan tumbuh pendidikan yang mengajarkan toleransi. Kegiatan rutin ceramah atau pengajian bisa mengundang para ulama atau ustadz yang mengajarkan kebaikan, ramah, santun, dan mencintai bangsanya. Tidak mengundang para penceramah radikal intoleran yang berujung pada terorisme. Masjid Al Jabbar pun memang diharapkan menjadi pusat penyebaran dan peradaban Islam yang memberikan manfaat, khususnya bagi warga Jawa Barat dan Indonesia, umumnya untuk umat manusia di dunia.

            Kelima, mereka mulai menyerang pribadi dan jabatan Ridwan Kamil karena banyak program-program yang belum terlaksana dan belum punya Parpol untuk dijadikan kendaraan menjadi Presiden RI. Padahal, sudah saya tuliskan tadi, berbagai keinginan atau program positif untuk rakyat itu perlu waktu, dana, dan kondisi yang memungkinkan. Tidak bisa seperti sulap atau sihir membuat semua program itu berjalan lancar, perlu proses bertahap yang diperhitungkan dengan matang. Hal itu pun diakui Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu perlu proses, tidak bisa langsung jadi.

            Soal Ridwan Kamil belum punya Parpol untuk menjadi presiden Indonesia, itu kembali pada diri Ridwan Kamil sendiri. Mungkin dia berpikir belum saatnya masuk Parpol atau memang mengurungkan niatnya untuk menjadi presiden. Kita belum tahu.

            Lagian,  buat apa ngurusin hal yang begitu?

            Kelihatan sekali mereka ketakutan oleh Ridwan Kamil yang bisa saja memutarkan keadaan dan membuat rakyat Indonesia menyukai dirinya untuk menjadi presiden Indonesia. Dasar para penakut.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas dan  tidak punya skala prioritas karena membangun masjid seharga 1,2 triliun hanya untuk dinikmati umat Islam dan tidak bisa dinikmati umat lain. Parah banget mereka. Menurut saya, Ridwan Kamil sangat cerdas dan punya skala prioritas. Masjid Al Jabbar itu mulai direncanakan sejak masih zaman Gubernur Ahmad Heryawan dan dananya sudah disepakati sejak 2015, artinya ada pekerjaan Ahmad Heryawan yang masih harus dilanjutkan karena pada 2018 posisi gubernur dilanjutkan Ridwan Kamil. Jadi, Ridwan Kamil melanjutkan program gubernur sebelumnya. Kalau Ridwan Kamil tidak melanjutkannya, program pembangunan masjid itu menjadi proyek mangkrak. Itu cerdas dan paham skala prioritas.

            Bukankah kalian juga ingin bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan oleh presiden pengganti Jokowi supaya tidak mangkrak?

            Ridwan Kamil sudah membuktikan bahwa dirinya mampu melanjutkan program Ahmad Heryawan hingga tuntas.

            Para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil tampak sekali orang-orang yang tidak paham masjid. Mereka mungkin sangat jarang ke masjid dan tidak pernah jadi aktivis masjid. Mereka bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam.

            Siapa bilang masjid hanya untuk umat Islam?

            Bodoh kalian!

            Ingat ketika Aceh dilanda tsunami. Masjid Baiturrahman yang megah itu menjadi pusat pertolongan para korban tsunami. Ketika rumah-rumah mereka hancur dan mereka sendiri terluka parah, Masjid Agung Aceh Baiturrahman adalah satu-satunya bangunan kokoh yang dapat menampung para korban tsunami dalam jumlah banyak. Para korban itu terdiri atas semua agama yang ada di Aceh.

            Apakah para korban yang terluka dan membutuhkan tempat berlindung itu hanya orang Islam?

            Apakah dulu mereka ditanya apa agamanya ketika berlindung di masjid?

Apakah nonmuslim diusir dari Masjid Baiturrahman?

Tidak!

Itu artinya masjid bisa dinikmati semua orang.

Masih ingat Indonesia pernah juara AFF U17?

Timnas Indonesia pernah kehabisan bekal dan kesulitan untuk menginap. Mereka menggunakan masjid untuk menginap, termasuk pula anggota tim mereka yang bukan beragama Islam.

Masjid di daerah saya itu punya ruang serba guna yang dapat digunakan untuk musyawarah warga, baik yang beragama Islam maupun bukan. Pernah ada tetangga nonmuslim yang kesulitan air bersih untuk minum, memasak makanan, mencuci pakaian, dan mandi. Mereka menggunakan air dan kamar mandi masjid untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tak ada seorang muslim pun yang melarang mereka menggunakan fasilitas masjid.

Kalau tiba Hari Raya Idul Adha, anak-anak nonmuslim diperbolehkan membantu panitia kurban sehingga mendapatkan daging kurban pula sebagai panitia. Di samping itu, keluarga mereka pun diberi bagian pula daging kurban. Semua pemeluk agama dikasih bagian.

            Siapa bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam?

            Jangan ngaco kalian!

            Masjid Al Jabbar pun memiliki banyak fasilitas yang bisa dinikmati semua orang yang terdiri atas berbagai agama. Ada fasilitas untuk pengetahuan, pengembangan ekonomi, wisata, juga untuk mengendalikan banjir. Itu semua manfaatnya bisa untuk umat manusia, agama apa pun mereka. Tidak mungkin hanya untuk umat Islam.

            Ketujuh, kelihatan sekali bahwa para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil itu adalah benar-benar penakut. Mereka berharap bahwa Ridwan Kamil tidak ikut jadi Capres ataupun Cawapres. Mereka ingin Ridwan Kamil tetapi jadi arsitek dan artis Sinetron. Lucu memang para penakut itu.

            Sungguh, pembangunan Masjid Al Jabbar itu sangat sulit untuk dianggap sebagai pembangunan yang punya tujuan politik seperti yang para penakut itu tuduhkan. Pembangunan itu dilakukan karena memang merupakan aspirasi masyarakat Jawa Barat yang mayoritas Islam. Hal itu disebabkan rencana awalnya dilaksanakan pada masa Gubernur Ahmad Heryawan periode kedua. Ahmad Heryawan tidak mungkin menjadikannya sebagai tujuan politik karena jelas tidak akan pernah terwujud Masjid Al Jabbar pada masa kepemimpinannya, tidak akan kelihatan. Demikian pula Ridwan Kamil, sulit untuk menjadikan Masjid Al Jabbar sebagai bahan kampanye politik karena dirinya adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan Ahmad Heryawan. Kalau Ridwan Kamil menjadikannya tujuan politik, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Ahmad Heryawan akan membantai Ridwan Kamil secara politik pula karena jasa awalnya adalah Ahmad Heryawan. Jadi, saya masih kesulitan memahami jika Masjid Al Jabbar dibangun atas dasar politik.

            Mereka yang justru menggunakan Masjid Al Jabbar sebagai alat politik adalah para penakut itu. Mereka merendahkan manfaat Masjid Al Jabbar dan berusaha membuat citra negatif terhadap Ridwan Kamil. Itu perilaku yang sangat buruk.

            Meskipun demikian, mereka itu layak untuk takut dan akan saya takut-takuti lebih dalam. Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan itu punya kesamaan. Mereka adalah sama-sama berawal dari orang-orang yang tidak diunggulkan dan bukan siapa-siapa. Ketika pemilihan walikota Bandung, Ridwan Kamil sama sekali tidak penting, tidak dianggap, dan tidak dihitung sebagai calon yang akan unggul. Akan tetapi, dalam kenyataannya, dia justru berhasil menjadi walikota Bandung. Demikian pula Ahmad Heryawan, tidak diunggulkan sebagai calon gubernur Jawa Barat dan survey-survey menunjukkan bahwa Ahmad Heryawan tidak akan menang. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya, Ahmad Heryawan berhasil menjadi gubernur Jawa Barat untuk dua periode.

Bisa jadi toh Ridwan Kamil tidak diunggulkan menjadi presiden RI, tetapi keadaan bisa berubah cepat seperti waktu dulu. Dia bisa menang. Apalagi Ridwan Kamil tampak tenang dengan survey-survey yang menunjukkan rendahnya dirinya dalam elektabilitas perolehan suara untuk menjadi presiden.

Bahkan, ketika ditanya wartawan soal rendahnya suara dalam survey, Ridwan Kamil menjawab, “Itu mah nanti, itu soal gampang.”  

Dalam hal pekerjaan dan pembangunan, Ridwan Kamil terus bekerja dan tidak ada masalah berarti. Beberapa hasilnya, sudah saya tulis tadi untuk menjawab serangan para penakut yang menyerang masjid dan dirinya. Minimal itu yang saya lihat dan saya rasakan sebagai rakyat. Hal yang tidak saya tahu mungkin lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Humas Pemda Jawa Barat harus lebih aktif menginformasikan berbagai keberhasilan pembangunan Jawa Barat dan meng-counter serangan-serangan terhadap Provinsi Jawa Barat. Jangan seperti sekarang ini, seolah-olah Ridwan Kamil sendiri yang menjawab atau menghadapi serangan-serangan itu.

Di mana Humas Pemda Jabar?

Terasa sepi informasi.


Ahmad Heryawan (Foto: Warta Kencana)


Ahmad Heryawan pada masa kepemimpinannya sangat berhasil dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Kalau boleh saya bilang, pembangunan jalan yang menjadi tugas Gubernur berhasil 95% dilaksanakan dengan sangat baik. Kalaupun di Jawa Barat masih tampak jalan yang tidak bagus, itu bukan tugas gubernur karena bisa jadi tanggung jawabnya ada di presiden, walikota, bupati, atau bahkan kepala desa. Ada tugasnya masing-masing.

Coba cek sendiri keberhasilan pembangunan infrastruktur semasa Ahmad Heryawan.

Kalian pikir cuma Jokowi yang bisa membangun infrastruktur?

Banyak yang bisa tahu!

Cuma mereka kurang publikasi saja.

Para penakut akan semakin takut dan ucapan-ucapannya akan semakin remeh temeh dan menggelikan.

Kalau punya jagoan untuk pemilihan presiden 2024, boleh saja dorong dengan membuktikan kehebatan jagoannya dengan data dan fakta yang benar. Akan tetapi, jangan meledek orang lain dengan data yang tidak lengkap dan analisis yang lemah mengada-ada, bodoh dan lucu namanya.

Saya sungguh sangat bersyukur Jawa Barat punya masjid megah yang dilengkapi berbagai fasilitas modern untuk mengembangkan manusia lebih positif. Foto-foto Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Ahmad Heryawan saya dapatkan dari Warta Kencana, Okezone Muslim, CNN Indonesia, inijabar com, Republika, dan Kompas com.

Mikir!

Sampurasun.