Thursday, 22 December 2022

Alih-Alih Takut, Jokowi Malah Nonjok, Paksa Dunia Patuh Kepadanya

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia telah kalah dalam sidang panel World Trade Organization (WTO) yang akibatnya Indonesia diwajibkan menjual kembali bijih nikel mentah ke luar negeri. Akan tetapi, Jokowi tidak mau kalah, dia perintahkan untuk banding dan sewa pengacara mahal tingkat Internasional untuk melawan Eropa. Dia tidak takut. Disangkanya bakal takut, menurut, dan menyerah pada Uni Eropa, Jokowi malah balas menonjok Eropa Barat. Dia malah menambah susah Eropa dengan menghentikan ekspor bauksit mentah ke luar negeri. Dia ingin menjualnya ke luar negeri setelah diolah di Indonesia.

Bauksit itu bahan mentah alumunium. Semua industri otomotif sangat membutuhkan bauksit. Jokowi sudah tidak mau lagi mendapatkan untung kecil. Dia ingin rakyat Indonesia sebagai pemilik sah bauksit yang mendapatkan untung besar.

Dengan arogan, Eropa Barat memaksa Indonesia menggali tambangnya untuk dijual kepada mereka dengan harga murah. Mereka mengalahkan Indonesia dalam sidang WTO, tetapi Indonesia bukannya takut. Jokowi malah semakin menonjok keras Eropa dengan melarang bauksit dijual ke luar negeri secara mentahnya mulai Juni 2023.

Foto Jokowi yang berbicara sangat tegas saya dapatkan dari Epaper Media Indonesia.


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Foto: Epaper Media Indonesia)


Jokowi memaksa seluruh dunia yang membutuhkan nikel dan bauksit Indonesia untuk patuh pada keinginan dirinya. Mereka harus mematuhi aturan yang diberlakukan Indonesia. Mereka harus membangun smelter, pabrik, bayar pajak, mempekerjakan rakyat Indonesia, dan alih teknologi supaya Indonesia pada masa depan bisa mandiri. Bukan hanya pihak asing yang dipaksa patuh, melainkan pula pengusaha dan rakyat Indonesia sendiri.

Pengusaha Indonesia tampaknya ketakutan pada kebijakan Jokowi. Mereka meminta agar Jokowi memberikan waktu tambahan untuk mereka. Para pengusaha itu merasa tidak siap kalau hanya diberikan waktu enam bulan untuk membangun smelter dan mengolah sendiri bauksit untuk dijadikan alumina atau alumunium. Mereka meminta Jokowi menunda kebijakan penghentian ekspor bauksit tersebut.

Kalau menurut saya, para pengusaha di dalam negeri Indonesia ini sudah merasa terlalu nyaman dan kaya raya dengan hanya menjual bauksit mentah ke luar negeri dan merasa cukup dengan hal itu. Akan tetapi, dengan adanya pelarangan ekspor, mereka dipaksa untuk membangun smelter dan pabrik di dalam negeri karena mereka tidak bisa lagi menjual bauksit ke luar negeri. Jika mereka dipaksa untuk membuat industri bauksit di dalam negeri, rakyat akan tambah banyak yang bekerja dan akan tambah memahami hal ihwal pengolahan bauksit karena adanya alih teknologi. Dengan demikian, Indonesia akan mendapatkan banyak keuntungan, baik dari segi pendapatan, pembukaan lapangan kerja, dan alih teknologi.

Tampaknya, Jokowi tidak mau menunda keputusannya.

Kalau pengusaha Indonesia tidak siap, sampai kapan mereka siap?

Kalau ditunda terus, Indonesia tidak akan pernah siap untuk maju dan sejahtera, terus menjadi kuli bagi bangsa asing selamanya.

Kalau para pengusaha Indonesia tidak siap, paling yang hadir ke Indonesia adalah pengusaha asing, terutama pengusaha Cina beserta tenaga ahlinya. Jangan salahkan siapa-siapa jika akan semakin banyak perusahaan Cina dan tenaga kerja Cina yang berdatangan dan bekerja di Indonesia. Hal ini disebabkan para pengusaha dan rakyat Indonesia tidak sanggup dan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman dan hanya merasa nyaman dengan penghasilan sehari-harinya. Tidak ada jalan bagi para pengusaha dan rakyat Indonesia, kecuali memaksa melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan dan kemauan untuk mengikuti zaman. Kalau pengusaha itu tidak mampu mandiri membuat industri bauksit, bisa membangun konsorsium, patungan beberapa perusahaan untuk mendirikan perusahaan yang lebih besar. Dengan demikian, mereka akan tetap bertahan dan menyerap banyak tenaga kerja. Jika tidak demikian, kita akan menjadi penonton perusahaan dan  tenaga kerja asing, terutama Cina yang bekerja di Indonesia karena keberanian dan keterampilannya dalam mengolah sumber daya alam Indonesia.

Sampurasun.

Monday, 19 December 2022

Penyebab Cina Tampak Lebih Kaya Dibandingkan Pribumi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang pribumi yang membenci orang keturunan Cina di Indonesia. Alasannya, ada yang masuk akal, tidak masuk akal, bahkan mengada-ada cenderung fitnah. Dosa lho fitnah itu.

            Misalnya, membenci Cina karena kaya raya. Itu tidak masuk akal.

            Orang lain kaya, kok kita yang membenci?

            Orang-orang pembenci orang kaya yang saya tahu sejak kecil hanyalah orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Soalnya, saya pun pernah hampir menjadi korbannya. Lebih tepatnya bukan saya sih, melainkan uwak saya, kakak ayah saya. Saat itu PKI sangat kuat di Indonesia dan sangat membenci orang kaya. Uwak saya pun sudah masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ketika ayah saya bertanya kepada orang-orang PKI itu tentang alasan kenapa ingin membunuh uwak saya, mereka bilang karena uwak saya kaya raya. Memang benar uwak saya itu adalah orang kaya di lingkungannya. Dulu sewaktu saya kecil, di lingkungannya itu selalu uwak saya yang paling pertama memiliki barang-barang baru, elektronik baru, pakaian baru, perabotan rumah baru, dll. Malahan, kalau ada tetangga yang menikah, rumah uwak saya itu sering dipinjam untuk resepsi pernikahan. Yang kaya itu uwak saya, bukan ayah saya, apalagi saya.

            Memang uwak saya itu adalah sekretaris Wybert, semacam permen pelega tenggorokan. Mirip Hexos, tetapi dikemas dalam wadah mirip Pagoda Pastiles, cuma lebih besar dan tebal. Sekarang perusahaan dan produk itu sudah tidak ada lagi. Dulu sih iya sangat terkenal dan laku sekali.

            Alasan ingin membunuh uwak saya karena kekayaannya adalah hal yang tidak masuk akal. Beruntung, PKI keburu runtuh dan malah dipermalukan. Jadi, pembenci orang kaya itu sama pikirannya dengan orang-orang PKI. Mungkin juga mereka sekarang adalah murid PKI. Orang PKI memang punya pandangan hidup itu harus sama rasa sama rata. Semua mungkin harus sengsara seperti mereka.

            Setelah dibubarkan, orang PKI yang dulu mengancam uwak saya hidupnya memprihatinkan. Mereka tetap miskin dan dijauhi oleh masyarakat. Ketika Pemilu, ayah saya merasa kasihan kepada mereka karena mereka tidak diberikan haknya untuk memilih oleh panitia pemungutan suara yang masih tetangga juga. Mereka antri dari pagi hingga sore dan selesai pemungutan suara, sama sekali tidak diperbolehkan memilih. Dengan senyum kuning kecut menahan rasa malu dan kecewa mereka pulang tanpa memilih. Sebetulnya sih, mereka harusnya diberikan hak untuk memilih karena mereka sudah dihukum, mengakui kesalahannya, berupaya menebus perilakunya dengan mendekati masyarakat, tetapi mau bagaimana lagi. Panitia tidak memberikan haknya dan panitia itu adalah tetangga ayah saya juga. Ayah saya meskipun ingin membela, tidak bisa juga ngapa-ngapain, ya sudah, begitu kejadiannya, begitu ceriteranya. Sanksi sosial itu sangat berat.    

            Sangat tidak masuk akal membenci orang karena kekayaannya. Bahkan, ingin membunuh, lebih tidak masuk akal lagi. Demikian pula membenci orang Cina karena lebih kaya, sama sekali tidak masuk akal.

            Sebetulnya, sudah sangat banyak tulisan, artikel, atau penelitian yang memaparkan soal penyebab orang-orang Cina di Indonesia tampak lebih kaya dan berhasil secara ekonomi. Saya jadi harus mengingat lagi tulisan-tulisan itu.

            Pada zaman dulu sebelum zaman para wali, di wilayah Cina itu terjadi pergolakan politik, konflik berdarah, pertempuran antarsuku, pembunuhan, pembantaian, dan perang-perang besar. Banyak dari mereka yang menyelamatkan diri dari kekejaman itu ke seluruh dunia. Ada yang ke Eropa, Amerika, Asia, termasuk ke wilayah yang sekarang bernama Indonesia. Ada yang ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dsb. Oleh sebab itu, keturunan Cina selalu ada di mana-mana, di seluruh dunia, dan menjadi warga negara tempatnya tinggal

            Di Indonesia sebagian beruntung, diterima masyarakat dan bisa mengolah tanah di wilayah yang baru pemberian masyarakat dan penguasa saat itu. Sebagian lagi, hidup terjepit, terhimpit, menderita, dan sangat miskin puluhan, bahkan ratusan tahun. Tak ada jalan lain bagi mereka untuk bertahan hidup, kecuali berdagang.

            Memang apalagi yang bisa mereka lakukan?

            Mereka tidak bisa menjadi tentara, polisi, ataupun aparat negara. Mereka berbisnis kecil-kecilan dan sangat patuh pada penguasa.  Ketika zaman penjajahan, mereka tidak bermasalah dengan penjajah. Mayoritas memilih untuk tetap berdagang sehingga tidak ikut terseret konflik antara penjajah dengan rakyat. Sebagian, memilih pro penjajah. Sebagian, ikut menjadi pejuang kemerdekaan.

            Para pedagang Cina ini makin lama makin kuat karena memberikan layanan dagang bagi penjajah sekaligus juga bagi rakyat. Mereka fokus pada usaha dagang. Pada masa kemerdekaan pun mereka tetap berdagang hingga usahanya terus membesar. Kesempatan untuk menjadi tentara, polisi, ataupun pegawai negeri tetap sangat kecil untuk mereka. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berdagang.

            Berbeda dengan pribumi, keturunan Arab, India, atau Pakistan. Mereka lebih tenang karena bisa menjadi pegawai negeri, tentara, polisi, dan mendapat banyak kenyamanan karena kesamaan warna kulit, ras, ataupun agama. Dengan demikian, mereka tidak perlu terlalu bekerja keras bertahan hidup. Orang Cina sangat terpinggirkan dan kesulitan untuk berkembang. Dalam posisi terjepit itu, mereka fokus berdagang.

            Dari penjelasan singkat ini, kita harus bisa memahami bahwa orang Cina itu dulunya sangat terpuruk dan menderita. Dalam kondisi itu, mereka terdorong untuk memikirkan cara bertahan hidup dan berkembang. Sebagian berhasil dan menjadi kaya raya, bahkan menguasai sektor ekonomi yang besar di Indonesia ini. Sebagian lagi gagal dan hidup seperti orang kebanyakan, malahan sangat miskin hingga disebut Cimi (Cina miskin).

            Kesusahan hidup memang bisa mendorong orang berpikir dan bekerja lebih keras. Akan tetapi, bisa juga mendorong orang untuk berbuat jahat dan membunuh dirinya sendiri karena tidak mau berpikir, stress, atau mendapatkan ajaran sesat. Tinggal memilih saja.

            Panjang sebetulnya kalau membicarakan hal ini. Saya belum menuliskan apa yang terjadi saat pembantaian Cina pada pertengahan Mei 1998 di Indonesia ini. Itu ada ceritera tersendiri yang didorong situasi politik dan kecemburuan ekonomi.

            Ada sedikit kisah tentang Cina ini juga. Ketika saya masih SD, ada anak muda Cina yang sangat miskin, kumal, kusut, dan kurang makan. Dia dikasih makanan oleh pengurus masjid. Dia memelas minta modal untuk berdagang. Lalu, pengurus masjid pun memberinya uang. Dia pun berdagang sayuran dengan menggunakan pikulan. Dia menanggung  pikulan sayurannya berkeliling.

            Apa yang terjadi?

            Dia dibuli, dihina, diejek, dan diusir masyarakat. Sering dikata-katain bahwa sayurnya dicuci pakai air selokan, sayuran dagangannya adalah sayur bekas, daging yang dijualnya adalah daging babi, dan sejumlah cacian lainnya.  Dia sering sekali menangis karena memang jadi tidak laku dijual barang dagangannya. Sering sekali dia mengadu ke pengurus masjid yang memodalinya itu. Dia pun sering didoakan oleh orang-orang masjid.

            Ketika saya SMP, saya dengar dia sudah punya pabrik kerupuk. Dia berhasil sukses. So, perjuangannya tidak mengkhianati hasil.

            Ada pelajaran yang bermanfaat dari tulisan ini?

            Sampurasun.

Friday, 16 December 2022

Presiden Jokowi Memang Gila: Barat Ditantang, Rakyat Dipaksa, Cina Untung Besar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya melihat Presiden RI yang gila itu ada dua, yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Jokowi.

Soekarno dengan lantang pernah mengatakan, “Amerika kita seterika! Inggris kita linggis!”

Itu teriakannya sesuai dengan kondisi dunia saat itu. Bahkan, Soekarno menyatakan keluar dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) karena organisasi itu sudah dikendalikan para kapitalis penjajah yang merugikan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kini Jokowi pun mengatakan hal yang mirip. Dia menantang Barat dengan akan melawan setiap upaya barat yang ingin mengeruk kekayaan alam Indonesia secara tidak adil.

“Dulu kita dijajah dengan cara tanam paksa, kerja paksa, sekarang ada lagi ekspor paksa! Mereka seperti penjajah VOC dulu!” kurang lebih seperti itu kekasaran Jokowi pada Eropa Barat.


Jokowi (Foto: detikFinance-Detikcom)


Dia memang menantang barat. Meskipun pihak barat sudah mengalahkannya dalam sidang panel World Trade Organization (WTO) dan Indonesia diwajibkan untuk menjual lagi nikel dengan harga murah, Jokowi tidak peduli. Dia tetap kukuh dalam pendiriannya, tidak akan mematuhi keputusan sidang itu, apa pun risikonya.

Bahkan, pidato yang saya tonton tadi malam dalam pertemuan Uni Eropa-Asean, dia berkata keras di depan para pemimpin Eropa, “Tidak boleh ada satu negara pun yang mendikte negara lainnya. Jangan pernah ada anggapan bahwa pikiran atau cara dirinya yang paling benar, sedangkan orang lain salah.”

Pendek kata, Jokowi benar-benar “on fire” jika soal kedaulatan dan harga diri bangsa. Dia ingin yang untung besar adalah Indonesia, sedangkan yang lain harus cukup ikut untung menempel kepada Indonesia. Negara lain yang harus bergantung pada Indonesia, bukan sebaliknya, Indonesia bergantung pada negara lain.

Kepada rakyatnya sendiri, Jokowi memaksa untuk ikut permainan dunia. Dia memaksa rakyat untuk makin keras belajar dan makin keras bekerja. Hal itu disebabkan jika rakyat kurang pengetahuan dan kurang keterampilan, akan terlindas zaman, dan tertinggal jauh di belakang. Salah satu cara yang dia lakukan adalah memasukkan investor dan perusahaan-perusahaan asing untuk beroperasi di Indonesia. Hal itu dilakukannya agar rakyat ikut dalam permainan itu sehingga mampu memiliki penghasilan lebih layak dan memiliki pengetahuan karena ada program alih teknologi. Dia seolah-olah ingin mengatakan bahwa kita ini sedang tidak biasa-biasa saja dan harus melakukan sesuatu yang tidak biasa juga, harus lebih luar biasa.

Hal ini mengingatkan kita pada pernyataan Soekarno bahwa rakyat Indonesia benar-benar akan menjadi kuli di tanah air sendiri. Hal Itu disebabkan rakyat yang dianugerahi sumber daya alam besar ini tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkannya.


Jokowi (Foto: Lokadata.ID)


Dengan banyaknya beragam perusahaan dan produk, rakyat yang bisa menikmati pembangunan adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang perusahan dan produk tersebut. Rakyat yang diam-diam saja atau berleha-leha, tidak akan dapat menikmati keuntungan karena tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Rakyat dipaksa untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih dari biasanya.

Kengototan Jokowi agar bijih nikel tetap berada di Indonesia dan diolah di Indonesia, segera disambut Cina. Tanpa perlu basa-basi dan terlalu banyak syarat, Cina mematuhi kehendak Jokowi. Cina tunduk pada Jokowi. Cina segera memindahkan smelter (peleburan) dan pabrik-pabriknya dari Cina ke Indonesia, termasuk para ahli dan pekerja terampilnya. Sementara itu, negara lain masih banyak mikir, banyak berhitung, bahkan melawan Jokowi. Hal itulah yang menyebabkan Cina mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari proses pengolahan nikel di Indonesia. Bahkan, dengar-dengar sih industri nikel Cina yang ada di Indonesia sudah mencapai atau bahkan melebihi 50%.

Indonesia sendiri jelas memiliki keuntungan dari pajak, bea cukai, pembangunan, terbukanya lapangan kerja bagi rakyat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta alih teknologi. Sekarang memang masih sangat teramat banyak tenaga kerja Cina yang ada di dalam industri nikel Indonesia. Hal itu disebabkan memang Cina yang memiliki teknologinya dan memahami cara kerjanya. Sementara itu, rakyat Indonesia belum mampu mengoperasikannya. Akan tetapi, dengan adanya alih teknologi, Cina sepakat untuk memberikan pengetahuan tentang industri nikel kepada rakyat Indonesia. Dengan demikian, pada masa depan, rakyat dan para pengusaha Indonesia mampu mandiri mengolah nikel milik bangsa sendiri tanpa harus bergantung pada Cina.

 Jokowi memang gila. Dia keras pada barat, memaksa rakyatnya untuk bekerja, dan sudah menjadi konsekwensi bahwa Cina mendapatkan untung besar karena kesediaannya mengambil kesempatan yang ada di Indonesia sesuai dengan keinginan Indonesia.

Gambar Jokowi dalam aura marah saya dapatkan dari detikfinance-Detikcom. Adapun gambar Jokowi membawa pentungan, saya dapatkan dari Lokadata id.

Sampurasun.

Saturday, 10 December 2022

Bedanya Bunuh Diri dengan Mati Syahid

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya, kalau ada orang, siapa saja, yang mengatakan bahwa ada sahabat Nabi Muhammad saw yang mati syahid dengan cara bunuh diri, mereka adalah penghina Sahabat, penghina Nabi saw, dan penista Islam. Saya tidak tahu mereka mengatakan seperti itu karena salah menganalisa atau memang pada dasarnya mereka itu adalah ingin mengacaukan pikiran orang. Akan tetapi, saya pun bisa salah menganalisa. Kalau saya salah, koreksi. Kalau saya benar, mari bersama perbaiki pikiran kita.

            Ada suatu riwayat yang sering disebut-sebut sebagai bunuh diri hingga syahid pada peristiwa Perang Uhud. Dalam perang itu kaum muslimin terdesak, Nabi saw terkepung. Salah seorang sahabat melihat hal itu, kemudian bernisiatif untuk melindungi Nabi saw dengan cara menerjang ratusan musuh sendirian. Akibatnya, dia terluka parah dan gugur. Kata mereka ini adalah contoh bunuh diri yang dilakukan sahabat Nabi saw, lalu menjadi dasar atau alasan pembenaran untuk melakukan bunuh diri dan menjadi syahid.

            Sungguh, mereka salah berpendapat. Pertama, situasi saat itu sedang perang dan jiwa Nabi Muhammad saw terancam. Kedua, sahabat itu gugur bukan oleh senjatanya sendiri. Dia tidak menebaskan pedang ke lehernya sendiri atau menusukkannya ke jantungnya sendiri. Sang Sahabat gugur akibat diserang musuh dan oleh senjata musuh-musuhnya. Dia tidaklah bunuh diri. Dia seorang pahlawan pemberani yang terus melawan hingga musuh menghancurkannya. Dia jelas syahid, bukan bunuh diri.

            Ada memang kasus bunuh diri saat perang bersama Nabi saw. Dalam suatu perang ada seseorang yang berperang dengan sangat berani di barisan kaum muslimin. Dia merangsek melibas kepungan musuh. Akibatnya, dia terluka parah, tampak jelas luka dan kucuran darah di sekujur tubuhnya. Ketika dia mati, kaum muslimin mengelu-elukannya sebagai syahid bersama syuhada lainnya karena keberanian dan luka-lukanya itu.

Akan tetapi, kata Nabi saw, “Dia tidak syahid.”

Para sahabat bingung, lalu bertanya kepada Nabi saw perihal orang itu. Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa orang itu mati karena menusukkan anak panahnya ke ulu hatinya sendiri. Orang itu melakukannya karena saking tidak kuatnya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Itu jelas bunuh diri karena dia mati oleh senjatanya sendiri dan bukan oleh musuhnya.

Dari kedua peristiwa itu jelas tampak bahwa mati syahid dalam perang adalah disebabkan oleh senjata musuhnya. Adapun mati karena senjata sendiri, menggunakan bom yang dililitkan di tubuhnya sendiri, sama sekali bukan syahid. Itu bunuh diri.

Di Indonesia pun ada yang insyaallah syahid seperti itu. Namanya sangat terkenal, tetapi orang lupa peristiwanya. Saya ingatkan lagi ya.

Berperang di jalan Allah swt, jihad fisabilillaah adalah dengan menggunakan harta dan jiwa. Orang-orang mukmin akan menggunakan harta dan jiwanya untuk “kemuliaan Islam dan kaum muslimin”. Mereka sudah tidak mempedulikan lagi dunia dan seisinya, termasuk dirinya sendiri. Yang ada dalam pikiran dan hatinya hanyalah Islam dan kaum muslimin dalam arti Allah swt dan rasul-Nya. Itulah yang menjadi tujuan hidupnya.

Adalah seorang pemuda berusia 19 tahun asal Bandung yang kemudian menjadi komandan Barisan Rakyat Indonesia (BRI) dalam melawan pasukan Nica. Namanya Mohammad Toha. Ia bersama-sama temannya tidak rela untuk dilucuti senjatanya oleh pasukan musuh. Ia sudah sangat gusar karena pasukan Indonesia di Bandung Utara terpaksa harus menyerahkan senjatanya kepada musuh. Ia tidak ingin pasukan Indonesia di Bandung Selatan harus bernasib sama. Oleh sebab itu, sebelum meninggalkan wilayah Kota Bandung, Mohammad Toha melakukan penyerangan terhadap musuh. Sayangnya, penyerangan itu gagal. Namun, Ia tidak ingin begitu saja menyerah dan meninggalkan Kota Bandung untuk dikuasai penjajah. Oleh sebab itu, agar penjajah tidak lagi memiliki cukup amunisi untuk melakukan kekejian terhadap rakyat Bandung khususnya, dan Indonesia umumnya, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan meledakkan gudang mesiu di daerah Dayeuhkolot, Bandung.


Tugu Mohammad Toha, di belakangnya ada monumen api yang membakar Kota Bandung


Ada kalimat singkat abadi yang dia sampaikan kepada salah seorang kenalannya sebelum melakukan aksi heroik itu, “Titip namaku.”

Gudang mesiu itu pun meledak. Tubuh Mohammad Toha sampai saat ini tidak ditemukan. Siapa pun saat ini masih bisa melihat lubang ledakan itu yang kini menjadi sebuah kolam dan di sana ada monumen Mohammad Toha. Tugu itu ada di wilayah Dayeuhkolot, Bandung.


Kolam yang dulunya adalah lubang hasil ledakan yang dilakukan Mohamad Toha dan Mohammad Ramdan


Tak seorang Indonesia pun yang mencacinya sebagai tindakan “bunuh diri”. Ia menjadi pahlawan bagi rakyat. Namanya tetap hidup sampai saat ini.

Dia tidak membunuh dirinya, tetapi melakukan penyerangan dengan senjata seadanya. Hal itu bisa dilihat dari catatan sejarah bahwa para pejuang Bandung itu sangat miskin senjata sehingga satu senjata digunakan oleh lima orang.

Namanya menjadi nama Jalan Mohammad Toha, Bandung. Demikian pula rekannya, Jalan Mohammad Ramdan, Bandung.

Untuk mengenang peristiwa pembumihangusan Kota Bandung oleh para pejuang, didirikan pula Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegalega, Bandung. Setiap tahun warga Bandung kerap mengadakan napak tilas dalam acara memperingati Bandung Lautan Api (BLA). Untuk menghormati peristiwa itu pun digubah syair lagu yang sangat terkenal di Indonesia dan tidak pernah dilupakan bangsa Indonesia, yaitu “Halo-Halo Bandung”.


Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegalega, Bandung, itu ada anak bungsu saya


Pemuda itu dihormati, dikenang, diabadikan dalam monumen, dan terus diperjuangkan agar selalu diingat oleh rakyat Indonesia sebagai pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dia bukanlah pelaku “bunuh diri”. Dia berjuang dengan harta dan jiwanya untuk mengusir kemunkaran dan kekafiran dari tanah air Indonesia. Gudang mesiu yang rencananya digunakan untuk menguasasi seluruh wilayah Jawa Barat itu hancur karena serangan Mohammad Toha.

Semoga Allah swt memberikan tempat yang sangat mulia kepada Mohammad Toha, Mohammad Ramdan, dan rekan-rekan pejuang yang penuh kemuliaan itu. Amin.


Di samping Tempat Kejadian Perkara Mohammad Toha meledakkan gudang mesiu, berdiri Markas Komando Batalyon Zeni Tempur 3/YW


Tindakan bunuh diri di mana pun, mau itu di Suriah, Irak, Afghanistan, Mesir, Libya, Palestina, apalagi di Indonesia, tidaklah bisa dibenarkan meskipun dalam situasi perang. Jangan bunuh diri, beranilah hidupkan diri, jangan putus asa sekalipun dalam perang. Dalam perang saja jangan, apalagi dalam keadaan damai.

Saya pernah mengambil foto-foto terkait peristiwa Mohammad Toha beberapa tahun lalu. Foto-foto itu adalah tugu Mohammad Toha, di belakangnya ada monumen api yang membakar Kota Bandung; kolam yang dulunya adalah lubang hasil ledakan yang dilakukan Mohamad Toha dan Mohammad Ramdan; Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegalega, Bandung, itu ada anak bungsu saya; di samping Tempat Kejadian Perkara Mohammad Toha meledakkan gudang mesiu, berdiri Markas Komando Batalyon Zeni Tempur 3/YW.

Bunuh diri sama sekali tidak sama dengan mati syahid.

Semoga Allah swt selalu memberikan kita petunjuk dan mencegah kita dari berbagai keburukan. Amin.

            Sampurasun.

Friday, 9 December 2022

Check in tanpa Pernikahan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Disahkannya KUHP terbaru yang terkait dengan check in atau menginap di hotel oleh pasangan bukan suami istri cukup menimbulkan kegaduhan dan meresahkan. Indonesia dipandang sebagai negara yang melanggar hak azasi manusia, ikut campur dalam urusan pribadi manusia, dan merusakkan pariwisata Indonesia. Hal itu disebabkan perzinahan dianggap sebagai pelanggaran hukum pidana, akan ditangkap, dan dijatuhi hukuman.

            Kalau saya baca-baca sedikit, tampaknya kegelisahan itu akibat salah memahami undang-undang. Di dalam agama sudah tidak perlu dijelaskan lagi bahwa tidur bareng dengan pasangan bukan suami istri atau bukan keluarga, jelas haram, terlarang, mengakibatkan dosa. Bahkan, jangankan tidur bareng, berdekatan berdua saja sudah dilarang karena ada syetan di sana. Akan tetapi, berbeda di dalam undang-undang negara. Intinya, check in, menginap, tidur bareng dengan pasangan bukan suami istri atau bukan keluarga, tidaklah menjadi kasus pidana, itu hak yang dilindungi. Jadi, tak ada itu penangkapan atau hukuman pidana.

            Meskipun demikian, hal itu akan menjadi kasus pidana jika ada pihak yang dirugikan atau dilaporkan oleh mereka yang lebih berhak terhadap diri orang-orang yang check in itu. Tidak semua orang boleh melaporkan tindakan tidur bareng tanpa pernikahan itu. Mereka yang berhak melaporkan adalah tentunya orang yang menjadi pasangan check in itu jika merasa dirugikan, istri, suami, anak, dan orangtua. Hanya itu yang boleh melaporkan. Tidak ada hak jika bukan mereka untuk melaporkan. Hal itu diperbolehkan dilaporkan hingga ke kasus pidana dengan pertimbangan salah satunya untuk mempertahankan keharmonisan keluarga dan terhindar dari perselingkuhan. Apabila tidak ada yang memberikan laporan, aktivitas check in, tidur bareng, atau menginap tanpa pernikahan itu, tidak menjadi kasus hukum pidana. Boleh-boleh saja.

            Jika pasangan-pasangan itu setuju untuk tidur bareng dan tak ada pihak lain yang berhak terhadap diri mereka sehingga dipastikan tidak akan ada laporan, tidak akan ada kasus hukum pidana. Untuk kasus di Indonesia, saya pikir cukup fair untuk saat ini, tetapi jika ada yang tidak setuju terhadap hukum ini, boleh saja untuk diperjuangkan diubah. Gunakan cara konstitusional untuk mengubahnya, jangan pakai bom. Kalau pakai bom dan aksi brutal, kelihatan bodohnya karena tidak bisa mikir dan tidak mampu menjelaskan pikirannya dengan baik.

            Sampurasun.

Thursday, 8 December 2022

Aiptu Sofyan Syahid Sesungguhnya

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya, Aiptu Sofyan adalah syahid pada peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Mapolsek Astana Anyar, Kota Bandung. Dia pergi dari rumahnya meninggalkan keluarganya untuk bekerja. Dia bertugas menjaga keamanan kondisi di wilayah hukum Astana Anyar agar masyarakat dapat tenang menjalankan aktivitas hariannya. Masyarakat bisa nyaman bekerja, sekolah, kuliah, bisnis, atau melakukan hal-hal yang harus diselesaikan. Orang-orang mungkin tidak merasakannya, tetapi begitulah kewajiban polisi.

            Pada pagi Rabu, 7 Desember 2022, Sofyan menjaga teman-temannya yang sedang apel pagi. Tiba-tiba seseorang memaksa masuk ke Mapolsek, Sofyan menghadangnya. Orang itu mengacungkan senjata. Ketika Sofyan mendorongnya, … bum …! Bom pun meledak. Beberapa orang terluka, Sofyan pun gugur syahid. Dia telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Berbeda dengan teroris yang berusaha menghilangkan nyawa banyak orang.

            Ustadz Suparman Abdul Karim mengatakan, “Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ‘Seburuk-buruknya kematian adalah kematian seorang teroris. Sebaik-baiknya kematian adalah kematian orang yang memerangi teroris (khawarij)’.”

            Begitu kira-kira yang disampaikan Ustadz Suparman. Dia pun sambil sedih mendoakan Aiptu Sofyan.

            Foto Aiptu Sofyan saya dapatkan dari suara com.


Aiptu Sofyan (Foto: suara.com)


            Aiptu Sofyan orang baik dan bertugas dengan baik. Dia layak mendapatkan syahid dan surga Allah swt. Berdoalah untuknya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kalau tidak mampu merangkai kata doa untuknya, bacalah surat Al Fatihah. Kalaupun Al Fatihah dirasakan terlalu panjang, cukup ucapkan satu kalimat ‘Ya Allah, ampuni dia’.

            Sampurasun.

Wednesday, 7 December 2022

Pikiran Ngawur Pengen Syahid

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya selalu penasaran kalau ada aksi-aksi brutal, tidak masuk akal, tidak ada perintahnya dari Allah swt, dan tidak ada ajarannya dari Nabi Muhammad saw. Biasanya, kita bisa memahaminya dari pengakuan mantan narapidana teroris (Napiter), seperti, Ali Imron, Syufyan At Tsauri, atau Umar Patek. Mereka yang sudah kembali sadar ke jalan ilahi kerap membagikan pengalaman dan apa yang ada di otak mereka ketika masih menjadi penjahat teroris.  Akan tetapi, saya kesulitan memahami kengawuran apa yang ada dalam diri teroris yang meledakkan diri di Polsek Astana Anyar Kota Bandung pada 7 Desember 2022. Soalnya, dia sudah mati berantakan, tidak bisa berbagi pikiran dan pengalamannya.

            Kita hanya bisa meraba pikirannya melalui peninggalannya yang berupa motor berwarna biru dan ada tulisan yang ditempelkan di situ. Itu jelas pikiran ngawur, pemahaman ngawur, ajaran ngawur, berasal dari guru-guru yang ngawur juga. Oleh sebab itu, tak heran jika saudara-saudara, sahabat-sahabat, teman-teman, dan kenalan saya dari NU suka menyebutnya “salah pengajian”. Itu karena memang penuh dengan kengawuran.

            Coba kita lihat dari peninggalannya di motor milik teroris itu. Foto motor itu saya dapatkan dari Jember Network.


Motor Teroris di Bandung (Foto: Jember Network)


            Saya membaginya menjadi empat. Pertama, stiker berlogo Isis. Itu jelas dia penggemar Isis. Biasanya, penggemar Isis selalu bercita-cita mendirikan Isis di Indonesia. Itu sudah kengawuran.

            Mana mungkin bisa mendirikan Isis di Indonesia?

            Isis itu kan singkatan dari “Islamic State of Iraq and Syiria”, ‘Negara Islam Irak dan Suriah’. Ini kan Indonesia.

            Bagaimana caranya secara geografi mengubah Indonesia menjadi Irak dan Suriah?

            Ngawur kan?

            Kedua, tulisan “KUHP = HUKUM Syirik/Kafir”. Saya yakin dia tidak mengerti kata-kata itu. Dia tidak mengerti KUHP, tidak mengerti hukum, tidak paham syirik, dan tidak paham kafir. Soalnya, gabungan kata-kata itu memerlukan penjelasan yang panjang dengan dalil-dalil yang kuat.

            KUHP itu singkatan dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Kitab itu digunakan untuk mengadili perkara pidana yang bertujuan melindungi kepentingan umum. KUHP mengandung peraturan mengenai tindak pidana yang berdampak buruk terhadap keamanan, ketenteraman, kesejahteraan, dan ketertiban umum. Jadi, jelas kitab hukum itu digunakan untuk kepentingan dan kenyamanan hidup rakyat. Tujuannya untuk keharmonisan hidup rakyat.

            Biasanya, orang-orang aneh ini selalu mengatakan bahwa kitab hukum itu sesat  dan kafir karena dibuat oleh manusia, bukan berasal dari Tuhan. Sungguh, kalimat-kalimat seperti ini ngawur dan menyesatkan. Hal itu disebabkan Allah swt tidak membuat aturan secara detil dan terperinci untuk segala hal. Allah swt memberikan kebebasan dan kemampuan kepada manusia untuk berpikir sendiri memecahkan masalahnya sendiri. Allah swt hanya memberikan garis besar atau panduan umum untuk mengatur manusia, misalnya, soal keadilan, keseimbangan, keharmonisan, pendidikan, dan perlindungan bagi manusia.

            Apakah Allah swt mengatur tentang hukum pemalsuan uang koin dan uang kertas?

            Apakah Allah swt mengatur tentang kejahatan pelayanan terhadap konsumen penerbangan?

            Apakah Allah swt mengatur tentang keadilan distribusi pembangunan Puskesmas?

            Adakah aturan-aturan itu dalam Al Quran? Dalam hadits?

            Tidak ada!

            Kalau ada, kasih tahu saya. Kalau ada, saya kasih hadiah, Cilok atau tahu bulat digoreng dadakan, kadarieu kadarieueueu ….

            Manusia harus berpikir sendiri. Kalau tidak, hidup ini akan berantakan, anarkis.

            Kalau ada yang tidak disetujui dalam KUHP itu, sebutkan pada buku keberapa, tentang apa, pasal keberapa, ayat keberapa, bab keberapa, apa isinya. Kalau sudah disebutkan secara rinci, baru bisa diperdebatkan.

            Saya malah curiga kalau aksi teror di Bandung itu adalah pesanan para pengacau yang ingin menghancurkan negara. Soalnya, KUHP yang terbaru ini baru disahkan sehari sebelum aksi teror itu. KUHP terbaru disahkan pada 6 Desember 2022. Ini memang mendapatkan banyak penolakan dan kritikan, biasalah, normal kalau setuju dan tidak setuju, perdebatkan saja. Mudah kok tidak perlu bawa-bawa sorga atau neraka. Berdebat saja secara akademis. KUHP ini menurut saya malah jauh lebih baik daripada yang sebelumnya karena sejak Indonesia merdeka, kita menggunakan KUHP warisan penjajahan Belanda yang semangatnya adalah menghukum orang di tanah jajahan. Indonesia berjuang untuk mengubah undang-undang itu selama 59 tahun dan sehari sebelum teror, disahkan untuk diujicoba. KUHP ini disesuaikan dengan kondisi dan keinginan rakyat Indonesia.

Mereka yang terlibat menyusun KUHP terbaru ini adalah pemerintah, DPR RI, para ahli, para akademisi, para tokoh masyarakat, para ahli agama, dan masyarakat sendiri. Berbagai pemikiran mereka dijadikan naskah akademik untuk disusun menjadi aturan yang berlaku. Lagian, KUHP ini juga diujicobakan selama tiga tahun ke depan. Artinya, jika ada yang tidak setuju, boleh mengajukan perubahan yang sebelumnya harus diperdebatkan dulu. Siapa pun boleh usul. Tidak perlu pake bom bunuh diri, ngawur jadinya.

Saya juga jadi curiga bahwa bom bunuh diri ini merupakan pesanan asing, para pengusaha kapitalis. Soalnya, bertepatan dengan bom bunuh diri ini, Eropa pun ikut-ikutan protes terhadap KUHP Indonesia.

Ngapain juga mereka ikut protes, ini kan urusan dalam negeri Indonesia?

Akan tetapi, saya bisa mengerti Eropa ikut-ikutan protes karena Eropa sedang marah kepada Indonesia. Mereka tidak boleh lagi beli bahan tambang mentah dari Indonesia dengan harga murah. Mereka sedang krisis, kelabakan. Mereka juga marah kepada Jokowi karena Jokowi menuding Eropa sebagai penjajah VOC yang memaksa Indonesia untuk ekspor paksa nikel. Selain itu, Eropa mulai menyerang Indonesia soal Ham di Papua dan pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Tambahan lagi, mereka mengumpulkan 27 negara untuk menyerang Indonesia. Para pemimpin Eropa sangat yakin bisa mengalahkan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia pasti tidak mau kalah karena rakyat Indonesia adalah keturunan para pemenang perang.

Bisa jadi Eropa menggunakan orang-orang bodoh untuk meruntuhkan Indonesia.

Ketiga, di motor teroris itu ada tulisan “Perangi para penegak hukum setan”. Mungkin maksudnya polisi, padahal penegak hukum itu bukan hanya polisi. Itu bisa dilihat dari lokasi biom bunuh diri terjadi, kantor Polsek Astana Anyar, Kota Bandung. Ini juga ngawur. Sudah saya jelaskan tadi pihak-pihak dalam penyusunan KUHP ini adalah semuanya manusia, bukan setan. Bahkan, polisi tidak ikut-kutan menyusun KUHP. Polisi itu hanya menjalankan dan menegakkan KUHP. Polisi tidak ikut-ikutan bikin hukum.  Polisi juga manusia, bukan setan. Kalau setan mah, kakinya juga tidak menapak ke tanah, melayang kayak kuntilanak.

Keempat, di motor itu ada tulisan QS = 9 : 29. Maksudnya, Al Quran Surat At Taubah ayat ke-29. Baca sendiri ayatnya ya. Saya enggak mau tulis ayat itu di sini. Soalnya, kalau hanya membaca satu ayat itu dari terjemahannya, bisa bahaya dan mudah sekali dimanipulasikan. Dalam ayat itu memang ada perintah untuk memerangi orang-orang yang tidak beriman, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt, menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt. Guru-guru sesat bisa menyesatkan orang dengan ayat ini. Padahal, untuk memahami ayat itu harus dibaca juga ayat sebelumnya, ayat sesudahnya, tafsir dari para ahli, memperhatikan asbabun nuzul, sejarah yang menunjukkan situasi dan kondisi ketika ayat ini turun, serta pihak yang disebutkan Allah swt tidak beriman itu. Hal yang sangat penting diperhatikan adalah ayat itu turun ketika dalam situasi perang dan kaum muslimin sedang menghadapi penyerangan dari pasukan Romawi Heraklius.

Indonesia kan tidak sedang perang. Indonesia dalam keadaan damai. Jadi, ayat itu tidak tepat dilaksanakan ketika dalam situasi damai. Hal ini seperti shalat Dzuhur itu tidak wajib karena masih pukul 09.00 pagi. Membunuh orang itu tidak wajib karena tidak sedang berperang. Kalau ayat perang dilaksanakan dalam situasi damai, ngawur jadinya.

Pikirannya saja sudah ngawur, tetapi pengen syahid dengan cara yang ngawur pula. Ngaji coba ke guru yang benar, ngaji ke beberapa guru berbeda supaya mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Ingat, Islam itu rahmatan lil alamin, melaksanakannya juga harus dengan penuh rahmat, menyenangkan, dan menyamankan, bukan dengan cara horor.

Sampurasun.

Tuesday, 6 December 2022

Mereka Bilang “Perang Salib”, So Mari Kita Mulai Teror Mereka!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan istilah “crussade”,  ‘perang salib’?

            Ketika Presiden Republik Indonesia (RI) Jokowi diwawancarai media internasional, wartawan asing mengatakan bahwa upaya Jokowi mempertahankan bijih nikel Indonesia agar tidak dibeli mentahnya oleh Eropa dan Amerika Serikat adalah “perang salib Jokowi”. Indonesia bertahan bahwa bijih nikel tidak boleh dijual mentah, kecuali sudah menjadi barang setengah jadi ataupun barang jadi yang diproduksi di Indonesia. Akibatnya, Indonesia diserang Eropa melalui gugatan sidang panel World Trade Organization (WTO). Indonesia pun kalah dikeroyok negara-negara Eropa. Akan tetapi, Jokowi bukannya menyerah, melainkan tambah marah. Dia mengajukan sidang banding dan tetap melarang ekspor bijih nikel. Bahkan, dia makin marah dengan menegaskan untuk tidak akan lagi mengekspor nikel, bauksit, batu bara, dan timah ke luar negeri. Jokowi ingin semua diproduksi di Indonesia agar bisa membuka lapangan kerja bagi rakyat, tumbuh wilayah perekonomian baru, menarik pajak, dan alih teknologi sehingga pada masa depan rakyat Indonesia mampu mandiri dan memproduksi sendiri. Perlawanan Jokowi melawan Eropa itulah yang disebut media asing sebagai perang salib.

            Istilah perang salib itu mengingatkan kita pada penghancuran kekuasaan Inggris, khususnya Raja Richard oleh Sultan Salahudin Al Ayubi di Yerusalem, Palestina. Dalam keadaan terdesak, para bangsawan Inggris mempropagandakan ke seluruh dunia bahwa perang itu adalah perang salib antara Kristen melawan Islam. Mereka berharap seluruh dunia Kristen mendukung dan membantu mereka dalam menghancurkan pasukan muslim. Padahal, itu bukanlah perang agama, melainkan para bangsawan Inggris sudah kehabisan tanah di negaranya, kemudian mencari wilayah baru untuk para bangsawan yang tidak kebagian tanah, tempatnya di Yerusalem, Palestina. Tidak ada sebetulnya perang agama, itu hanya manipulasi Inggris untuk mendapatkan dukungan dari dunia Kristen agar memerangi Sultan Salahudin Al Ayubi yang kebetulan mayoritas muslim.  Mereka ingin menguasai tanah baru. Pasukan Sultan Salahudin sendiri tidak semuanya muslim, bahkan salah seorang jenderalnya beragama Kristen Katolik yang bernama Isa.

            Sayangnya, kaum muslim pun ikut-ikutan pada propaganda Inggris itu. Kaum muslim mengubah istilah perang salib dengan istilah “perang sabil”. Hal itu seolah-olah menguatkan hoax bahwa telah terjadi perang antara Kristen dan Islam. Padahal, tidak ada perang agama itu, cuma rebutan tanah untuk dikuasai. Akhirnya, perang itu dimenangkan Salahudin Al Ayubi.

            Apakah wartawan dan media asing menggunakan istilah perang salib yang sedang dilancarkan Jokowi itu untuk memanipulasi bahwa itu adalah perang antara Kristen Eropa melawan muslim Indonesia?

            Saya tidak tahu. Mestinya, jangan menggunakan istilah perang salib kalau memang tidak berniat buruk. Seharusnya, seluruh dunia bekerja sama dan saling berbagi dengan baik dengan tidak melakukan kecurangan, tanpa kelicikan. Akan tetapi, kalau memang niatnya curang, licik, dan jahat ingin merampok kekayaan Indonesia, mari kita mulai aksi teror terhadap Eropa.

            Apa itu teror?

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teror artinya adalah “usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan”. Jadi, mari kita bikin usaha agar orang-orang Eropa itu merasa takut dan ngeri bahwa bangsa Indonesia yang ramah ini bisa berubah menjadi kejam jika hak miliknya dirampok dengan cara yang jelas tidak sah.

            Presiden Jokowi sendiri sudah sejak awal melakukan teror. Ketika kalah dalam sidang WTO, Indonesia diwajibkan untuk kembali membuka ekspor nikel ke luar negeri, khususnya Eropa. Jokowi segera saja meneror Eropa dengan tegas untuk tidak akan pernah menjual lagi bijih nikel ke luar negeri. Bahkan, bahan tambang yang lainnya pun akan dihentikan. Keputusan sidang WTO tidak digubris Jokowi. Dia malahan naik banding. Itu sudah merupakan teror menakutkan bagi Eropa. Eropa bisa sangat kekurangan energi, kerusakan industri, dan kehilangan pendapatan.

            Lebih jauh dari itu, dengan bersuara lantang, Jokowi berpidato di dalam dan di luar negeri; menjawab pertanyaan wartawan di dalam dan di luar negeri menantang Eropa.

            Kurang lebih seperti ini, tantangan Jokowi untuk Eropa, “Kita sudah tidak mau lagi dijajah. Ratusan tahun sumber daya alam Indonesia dikeruk dengan menguntungkan pihak asing. Pada zaman penjajahan, kita dijajah dengan tanam paksa, kerja paksa. Sekarang, ada penjajahan baru, yaitu ekspor paksa! Kita dipaksa untuk menggali bahan tambang kita, lalu dijual ke luar negeri dengan harga murah. Kita tidak mau lagi seperti itu! Kita tidak takut terhadap negara mana pun.”

            Memang terbukti sih. Ketika bijih nikel mentah dijual ke luar negeri, Indonesia hanya mendapatkan sekitar 46 triliun. Akan tetapi, setelah diproses di dalam negeri dan menjadi baja stainless steel, Indonesia mendapatkan keuntungan belasan kali lipat, yaitu sejumlah 456 triliun. Itu baru baja, apalagi jika sudah dijadikan baterai untuk mobil dan motor listrik. Keuntungannya bisa puluhan kali lipat. Akan ada banyak uang yang masuk ke kas Negara Indonesia untuk membangun rakyat.

            Prabowo pun tampaknya mendukung penuh upaya Jokowi. Sebagai menteri pertahanan, dia menyiapkan persenjataan baru di darat, laut, dan udara dengan tujuan menyebarkan rasa ketakutan dan kengerian kepada siapa pun yang mencoba berpikir untuk berlaku curang dan merampok kekayaan alam Indonesia. Itu sudah merupakan upaya teror.

            Demikian pula dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang segera memastikan diri membangun pangkalan militer yang berbatasan darat dengan Timor Leste dan berbatasan laut dengan Australia. Itu adalah pesan teror yang menakutkan siapa pun dari pihak barat yang berniat mengganggu Indonesia.

            Kita sebagai rakyat pun harus melakukan teror pula dengan cara menyatakan bersiap sedia untuk membela negara beserta kekayaan alamnya dari keserakahan pihak asing. Kita harus menyampaikan kesan yang jelas bahwa rakyat yang ramah ini bisa berperilaku kejam dan menakutkan.  Coba asah itu berbagai senjata dari setiap suku yang ada di Indonesia, pertajam itu alat-alat perang, dengan mengupload pada berbagai media sosial dengan disertai ancaman kepada siapa pun yang berniat buruk pada Indonesia.

            Saya pun mencoba mencari-cari senjata orang Sunda untuk dijadikan upaya teror dan akan diupload di internet. Akan tetapi, susah juga ternyata. Orang Sunda itu tidak punya alat perang tradisional. Memang, satu-satunya suku yang tidak memiliki perisai untuk perang adalah Suku Sunda. Orang Sunda itu hanya punya golok dan cangkul, tetapi itu pun lebih ke alat kerja. Kalaupun ada yang disebut senjata, paling kujang, tetapi lebih ke arah alat perhiasan. Meskipun begitu, alat kerja dan perhiasan itu bisa menjadi senjata mematikan jika dipakai berperang. Suku-suku lain pasti punya alat-alat perang yang lebih beragam dan menakutkan untuk dipakai sebagai ancaman bagi siapa pun yang akan mengganggu negara.


Asahan, Golok, dan Cangkul


Kujang (Foto: ibelievemydreams WordPress com)

            Foto kujang saya dapatkan dari ibelievemydreams WordPress com. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mati karena ditusuk kujang. Itu hanya perhiasan yang bisa digunakan senjata jika situasi darurat terjadi.

            Bagi jendera-jenderal Amerika Serikat, rakyat Indonesia adalah sangat menakutkan karena jika tentara Indonesia berperang, rakyat Indonesia akan dengan sukarela bertempur bersama TNI. Hal ini hanya ada pada rakyat Indonesia, tidak pada rakyat negara lain.

            Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh membenci siapa pun. Tidak boleh membenci orang Eropa, barat, maupun timur. Kita tidak boleh membenci manusia. Hal yang kita benci dan perlu kita teror adalah keserakahan, kelicikan, kecurangan, kejahatan, dan penjajahan. Selama siapa pun orang asing yang berada di dalam Negara Indonesia melakukan kebaikan, kita tetap harus ramah dan hormat. Misalnya, mereka ada yang menjadi turis, mahasiswa, dosen, pekerja, pelaku seni dan budaya, peneliti, pengusaha, ataupun perwakilan negara asing, kita tetap harus berperilaku baik, penuh hormat, dan ramah. Jika mereka mulai jahat, itu perkara lain lagi.

            Ingat kata Mbah K.H. Hasyim Asyari bahwa membela negara adalah bagian dari menjalankan agama.

            Sampurasun.