Friday, 16 January 2026

Amerika Serikat Memundurkan Kemanusiaan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memundurkan kemanusiaan berarti membuat mundur upaya-upaya untuk membangun dan menghormati manusia agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Contoh kecil adalah dulu orang menganggap bahwa kulit berwarna lebih rendah dibandingkan kulit putih, tetapi sekarang anggapan itu sudah dijadikan kesalahan yang artinya kulit putih dan kulit berwarna tidak ada perbedaan sama sekali. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Derajat kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, tetapi oleh upaya dan manfaat yang diciptakannya dalam kehidupan.

            Kini Amerika Serikat (AS) tampak sekali membuat mundur nilai-nilai kemanusiaan, bukan soal warna kulit, melainkan tentang bertahan hidup. Soal warna kulit, mereka selalu berupaya keras setiap hari menghilangkan perbedaan itu dan itu bagus. Akan tetapi, soal “mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup”, AS membuat rusak upaya-upaya manusia yang sedang membangun kehidupan lebih baik.

            Sejak berabad-abad lalu, manusia mencoba memahami kehidupan manusia. Mereka yang memikirkan kehidupan itu biasa disebut para ilmuwan. Orang-orang cerdas ini selalu bertanya-tanya tentang aktivitas manusia dan mencari jawaban untuk menyelesaikan masalahnya. Dari hasil penelitian mereka, timbul kajian-kajian atau teori-teori tentang hubungan manusia yang digunakan untuk memahami masalah manusia. Dari pemahaman-pemahaman itu, manusia mendapatkan pengertian untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai keburukan. Hasil penelitan para ilmuwan itu ada yang disebut “merkantilisme” yang kemudian dikoreksi oleh “realisme”, dikoreksi lagi oleh “liberalisme”, dan ke depannya mungkin ada penelitian lain yang mengoreksi pemahaman-pemahaman tersebut agar kehidupan manusia semakin baik dan tertata.


Sejak purba manusia berebut, berperang untuk hidup (Foto: KBRIS PDR Website Gambar)


            Untuk memahami “isme-isme” tadi, diperlukan satu atau dua semester perkuliahan, bahkan lebih. Akan tetapi, saya coba persempit saja dalam beberapa kalimat. Secara sederhana, pemahaman realisme menjelaskan bahwa manusia itu “selalu berupaya menguasai manusia lainnya dengan cara menaklukannya”. Hal ini bisa dilihat dari sejarah masa lalu yang dipenuhi oleh perang-perang, penaklukan, penguasaan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan kesadisan lainnya. Berbagai “game online” maupun “offline” yang bertemakan perang banyak yang terinspirasi dari perang-perang masa lalu itu. Hal ini berarti bahwa manusia untuk mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup itu harus menyerang, mengalahkan, atau menaklukan manusia lainnya. Suatu negara jika ingin hidup, harus mengalahkan negara lainnya.

            Pemahaman ini mendapatkan koreksi atau tantangan dari pemahaman baru, yaitu “liberalisme”. Dalam kajian liberalisme, agar manusia bisa mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup adalah bukan dengan menaklukan negara lain, melainkan dengan menghormati bangsa atau negara lain dengan cara melakukan “kerja sama” yang disepakati. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan yang dimiliki negara lain dengan cara bekerja sama yang saling menguntungkan. Dengan demikian, manusia bisa terhindar dari saling membunuh untuk bertahan hidup.

            Manusia sekarang sedang lebih menyukai liberalisme yang memberikan banyak kebebasan dan kecenderungan untuk bekerja sama. Manusia bisa saling mengenal, berinteraksi lebih positif, dan mendapatkan keuntungan bersama sesuai dengan kesepakatan. Akan tetapi, tiba-tiba AS yang dipimpin Presiden Donald Trump membuat rusak hubungan manusia yang sedang terus belajar untuk saling menghormati dengan melakukan banyak permusuhan dan penaklukan. Dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman militer untuk menguasai Greenland dan merebutnya dari Denmark, bernafsu untuk merebut Bolivia, Kolombia, Meksiko, serta menggertak Iran. Itu semua memundurkan upaya-upaya terhormat manusia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. AS mengembalikan situasi ke masa lalu agar manusia saling membunuh untuk mendapatkan sumber daya alam. Itu yang terjadi.

            Sekarang manusia tinggal memilih, apakah akan mengembalikan situasi ke masa lalu yang dipenuhi kedustaan, kematian, dan kerusakan atau bertahan untuk melangkah maju agar manusia bisa lebih hidup bermartabat?

            Terserah kita sendiri sebenarnya.

            Ilustrasi manusia purba Eropa saya dapatkan dari KIBRIS PDR Website Gambar.

            Saya sebenarnya menginginkan ada pemahaman baru untuk membuat kehidupan manusia lebih baik, yaitu menggunakan “Islamisme” atau “Pancasilaisme”. Sayangnya, sampai hari ini belum ada yang menulisnya dan menyebarkannya di panggung dunia untuk memberikan sumbangan pemikiran agar hidup manusia lebih baik lagi. Mudah-mudahan pada masa depan ada anak-anak muda yang cerdas dan menuliskan penelitian-penelitian baru untuk kemaslahatan seluruh manusia. Itu namanya “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Saturday, 10 January 2026

Amerika Serikat Selalu Bikin Negara yang Dicampurinya Rusak

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita harus membiasakan diri mengatakan Amerika Serikat (AS), bukan Amerika karena Amerika Serikat (AS) adalah sebuah negara, sedangkan Amerika adalah suatu benua, kawasan, atau region yang di dalamnya termasuk juga Amerika Latin. Sudah berulang-ulang AS mencampuri hidup negara lain, bahkan melakukan penyerangan dan menaklukannya dengan alasan melindungi hak asasi manusia, menegakkan demokrasi, dan membela rakyat negara yang dicampurinya. Akan tetapi, setiap negara yang dicampurinya selalu rusak, berantakan. Alasan Ham dan demokrasi sama sekali tidak terwujud, hanya kekalutan yang terjadi. Jika negara itu tidak cerdas, negara itu akan terus rusak dan kelimpungan hingga hari ini.

            Kita ambil contoh Irak yang dulu dipimpin Saddam Husein diserang AS dengan alasan demokrasi dan melindungi rakyat Irak dari kekejaman Saddam Husein. Irak berhasil dikalahkan AS dan Saddam Husein dihukum mati setelah sebelumnya patungnya digulingkan.

Akan tetapi, terciptakah kemakmuran, ketertiban, dan  kehidupan rakyat yang lebih baik?

Tidak, sama sekali tidak!

Bahkan, seorang tukang service motor yang menggulingkan patung Sadam Husein merasa menyesal dan ingin kembali menegakkan patung itu. Sayangnya, itu tidak mungkin dilakukan. Dia merasakan penderitaan luar biasa setelah dikuasai AS. Irak yang dikenal dengan negeri dongeng “1001 malam” itu berantakan.


Penggulingan patung Saddam Husein di Irak (Foto: ABC News)


Contoh lain adalah Libya yang ditaklukan AS Bersama Nato dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia yang dikabarkan menderita di bawah kepemimpinan Moamar Khadafi. Libya yang sangat makmur itu harus runtuh di tangan AS. Padahal, dulunya, hidup rakyatnya tercukupi. Bahkan, ada pengakuan dari mahasiswa asal Indonesia yang mengagumkan. Ketika itu mobilnya rusak dan hendak diperbaiki, tetapi tidak jadi diperbaiki karena pemerintah Libya Khadafi menggantinya dengan mobil baru.

Sekarang bagaimana nasib Libya?

Berantakan!

Demikian juga dengan negara-negara lainnya, seperti, Iran, Chile, Kongo, Guatemala, Afghanistan, Suriah, dan Mesir, berantakan dan jika pemimpinnya tidak cerdas, akan tetap berantakan. Kalaupun punya pemimpin cerdas, mereka harus bersusah payah berdiri dan membangun. Adapun AS pergi begitu saja setelah mendapatkan keuntungan dari negeri-negeri itu.

Ketika AS datang ke negeri-negeri itu awalnya rakyatnya bersuka cita karena dianggap akan menyelamatkan mereka dari pemerintahnya sendiri. Akan tetapi, kehidupan rakyat justru semakin menderita dan tidak jelas mau ke mana.

Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Kejatuhan Presiden RI ke-1 Soekarno adalah operasi dari CIA AS. Akibatnya, rakyat harus hidup di bawah kendali Presiden Soeharto dalam pengekangan serta kungkungan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rakyat muak dengan Soeharto yang kemudian dijatuhkan sehingga membuka lembaran awal reformasi.

Soeharto memang tampak ditekan AS. Ketika Timor Timur berada dalam anarkisme karena ditinggal Portugis, AS membujuk Soeharto agar mengurus Timor Timur. Jadilah Timor Timur salah satu provinsi di Indonesia. Soeharto mengurusnya dengan dana yang sangat besar. Akan tetapi, AS pula yang bikin keributan dengan tuntutan memisahkan diri dari Indonesia. Akibatnya, Soeharto disalahkan atas keadaan Timor Timur. Akhirnya, Timor Timur berpisah dari Indonesia dan berubah menjadi Timor Leste serta dilndungi Australia.

Belakangan diketahui upaya pemisahan diri itu karena soal minyak yang kemudian dikuasai Australia.

Sekarang bagaimana nasib Timor Leste?

Sudah menjadi negara yang makmur dan bahagia?

Tidak, sama sekali tidak!

Negara itu sekarang hanya menjadi negara termiskin di dunia setelah Negara Burundi. Minyak yang ada di sana tidak membuat rakyatnya makmur dan sebentar lagi habis dikeruk Australia. Negara itu hanya menunggu masa bangkrutnya karena jika minyaknya habis, Australia akan meninggalkannya dan tak lagi memberikan bagian dari perusahaan minyaknya yang hanya sedikit itu.

Sekarang Venezuela yang presidennya ditangkap AS dengan alasan Narkoba, ekonomi, dan Ham akan bernasib sama karena seperti negara-negara lainnya juga yang dicampuri AS hanya diambil minyaknya atau sumber daya alamnya, sedangkan rakyatnya dicuekin. Kalaupun diberi, bagiannya hanya kecil saja.

Bagi kita, rakyat Indonesia, harus berhati-hati bersikap dan bekerja sama dengan negara yang mana saja karena mereka bukan kita dan selalu menginginkan keuntungan dari kita. Berhubungan boleh saja, tetapi kita harus cerdas dalam berinteraksi agar kita yang lebih untung, bukan negara lain. Tetap dalam politik luar negeri yang bebas dan aktif, berteman dengan siapa saja, tetapi waspada agar tidak dikendalikan siapa pun.

Ilustrasi Patung Saddam Husein yang digulingkan di Irak saya dapatkan dari ABC News.

Sampurasun.

Monday, 5 January 2026

Perbedaan Arab Saudi dan Amerika Serikat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya menulis hal yang pada pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan diri pada minyak di negaranya.

            Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC)


            Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.

            Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat, ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia langsung bicara soal bisnis minyak.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC)


            Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.

            Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.

            Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada nilai-nilai moralitas manusia.

            Mana yang lebih bermoral?

            Arab Saudi atau Amerika Serikat?

            Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih, pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu, berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana negatif.

            Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari BBC.

            Sampurasun.

Saturday, 3 January 2026

Orang Sunda Wajib Jaga Industri di Jawa Barat

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Suatu negara atau wilayah akan tumbuh ekonominya jika mampu menjaga industrinya atau pabrik-pabriknya berkembang dengan baik. Industri yang berkembang akan memerlukan tenaga kerja yang secara bertahap semakin banyak. Dengan demikian, akan tercipta rantai kemakmuran di kawasan itu.

            Kita selalu mengeluh dengan sulitnya lapangan pekerjaan, tetapi anehnya ketika ada industri atau pabrik yang berkembang, kita juga yang mempersulitnya, bahkan membunuhnya dengan aksi-aksi aneh tak punya dasar logika. Kita selalu menagih janji pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak mendukung lapangan itu tercipta. Kita ingat janji Wakil Presiden RI Gibran yang akan membuka 15-19 juta lapangan kerja baru, kita menuntutnya. Akan tetapi, ketika lapangan kerja mulai ada, kita juga yang membuatnya menjadi kacau balau. Dengan demikian, kita tidak akan pernah lepas dari kemiskinan dan pengangguran jika tidak mendukung terciptanya perkembangan industri yang kondusif.

            Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang terbesar penduduknya di Indonesia. Oleh sebab itu, kebutuhan lapangan kerja sangat banyak. Untuk saat ini, alhamdulillah, Allah swt memberikan banyak jalan bagi Jawa Barat untuk maju dengan industrinya. Ada banyak perusahaan yang antre membangun bisnis di Jawa Barat. Itu artinya terbuka lapangan kerja baru.  Dalam catatan saya sudah banyak investor dan pemodal asing yang mulai berkomitmen untuk membuka usaha di Jawa Barat. Mereka membutuhkan tenaga kerja. Orang-orang Jawa Barat seharusnya yang mengisi lapangan kerja itu. Ada BYD, mobil listrik dari Cina membangun usaha di Jawa Barat; Vinfast Vietnam yang memproduksi mobil setir kanan untuk seluruh dunia dari Jawa Barat; masuk juga Mazda dari Jepang; Ford dari Amerika Serikat; Volkswagen dari Jerman.


Pabrik Mobil Vinfast Dikunjungi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (Foto: Instagram) 

            Dari janji belasan juta lapangan kerja baru itu, sekarang sudah mulai tercipta 3,1 juta pekerja baru. Itu artinya ada perkembangan yang nyata untuk menumbuhkan ekonomi baru.  Ini harus dijaga. Dengan demikian, tercipta pula orang-orang dengan pekerjaan baru, gaji tinggi, dan berdaya beli tinggi.

            Jika sistem usahanya tidak kondusif, bukan hanya perkembangannya yang akan rusak dan kesulitan mendapatkan kerja, melainkan pekerjaan yang sudah tercipta pun akan mati dan hancur. Orang-orang Jawa Barat bisa jatuh lagi menjadi tukang rongsokan. Ini sudah terjadi. Ketika para pengusaha sudah tidak merasa kuat lagi usaha di Jawa Barat dan Indonesia, mereka pindah ke negara lain, seperti, Thailand, Filipina, dan Vietnam yang lebih kondusif untuk mengembangkan usaha. Para pengusaha yang pindah itu meninggalkan perusahaannya dan membuat ribuan para pekerjanya menganggur yang kemudian menjadi tukang rongsokan. Itu sejarahnya.

            Hal-hal yang membuat rusaknya industri dan pabrik-pabrik itu, antara lain, premanisme yang melakukan pemalakan mulai ribuan, ratusan ribu, miliaran, hingga triliunan; percaloan pekerja yang menyodorkan para pengangguran yang tidak punya keahlian; aparat keamanan yang ikut-ikutan ngumpulin uang receh haram; arogansi penduduk setempat yang memaksakan diri untuk ikut kebagian kerja, padahal tak punya kompetensi apa pun.

Baru-baru ini terjadi aksi demo dari warga setempat yang tidak kebagian menjadi pekerja di perusahaan yang ada di wilayahnya. Ketika diperiksa, mereka itu hanya lulusan SD, tidak tamat SD, lulusan SMP. Lulusan SMA atau pernah kuliah, tetapi tidak memiliki keahlian atau keterampilan yang dibutuhkan. Pantas saja tidak diterima kerja karena tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan. Kalau ingin bekerja di tempat yang diinginkan, sudah seharusnya membekali diri dengan keterampilan yang diperlukan perusahaan.

Perusahaan bodoh mana yang akan menerima orang yang tak punya keterampilan untuk bekerja di tempatnya?

Mereka itu akan hanya menjadi beban perusahaan dan membuat bangkrut industri.

            Ada pula aksi-aksi aneh yang mengganggu pemerintah soal besaran gaji atau honor yang diterima. Mereka ingin bergaji besar, tetapi tidak memperhitungkan kemampuan perusahaan untuk menggajinya. Mereka mendesak pemerintah agar menetapkan aturan yang memaksa perusahaan untuk menggaji dengan besaran seperti yang mereka inginkan. Kalau pemerintah salah mengambil tindakan dengan membuat perusahaan merasa terintimidasi untuk mengeluarkan uang yang tidak mampu mereka keluarkan, para pengusaha itu akan membuat perusahaannya pailit dan segera menghentikan usahanya, lalu pindah ke negara lain yang lebih tenang. Akibatnya, ribuan pekerja akan kocar-kacir mencari pekerjaan baru dan akan lebih banyak lagi tukang rongsokan, saya sudah banyak melihat hal yang seperti itu.

            Kalau sudah seperti itu, kemiskinan bertambah. Beban negara bertambah besar karena harus menyalurkan Bansos yang lebih besar. Di samping itu, kriminalitas pun bertambah karena orang-orang lapar dan tidak punya uang.

            Untuk membuat ekonomi lebih berkembang, jumlah belasan juta lapangan kerja baru itu tercipta, orang-orang Sunda yang sudah pasti mayoritas di Jawa Barat harus menjaga dan melindungi iklim bisnis yang sudah tercipta dan akan diciptakan. Bisnis yang sudah tercipta akan menumbuhkan bisnis-bisnis baru. Perusahaan mobil itu akan membutuhkan barang-barang lainnya, seperti, jok mobil, cat, kaca, atau suku cadang lainnya. Jangan dilupakan pula, para pekerjanya butuh makanan, pakaian baru, dan tempat nongkrong yang lebih berkualitas. Itu akan menumbuhkan lagi ribuan orang untuk bekerja.

            Orang Sunda wajib menjaga industri di Jawa Barat. Bukan hanya untuk kalian, melainkan pula untuk anak-anak dan kerabat kalian.

            Sampai sini sudah mengerti kan?

            Ilustrasi pabrik mobil Vinfast yang didatangi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saya dapatkan dari Instagram.

            Kalau ingin maju, berhenti bergabung dengan grup-grup WA yang kerap memberitakan hal-hal tidak jelas serta menyebarkan energi negatif penuh pesimisme. Bertemanlah dengan orang-orang yang punya pandangan positif dan penuh optimisme dalam menghadapi masa depan.

            Sampurasun.

Sunday, 28 December 2025

Bantuan Asing Itu Beda dengan Bantuan Tetangga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bantuan asing, terkait bencana di Aceh dan Sumatera yang telah menyedot perhatian publik menjadi perbincangan hangat, bahkan panas di kalangan rakyat Indonesia. Pemerintah menutup pintu untuk bantuan asing, sedangkan rakyat menginginkan adanya bantuan dari asing itu. Terjadi pergolakan mengenai masalah ini.

Hal itu disebabkan kekurangpahaman terhadap kondisi yang terjadi dan istilah “bantuan asing”. Bencana yang terjadi dan penderitaan rakyat yang tertimpa musibah mengalami kesulitan penanganan bukan karena pemerintah atau negara tidak punya uang atau materi, melainkan karena akses yang terbatas. Jalan tertutup, jembatan putus, hutan-hutan ambruk. Artinya, kalaupun ada bantuan, sulit masuk karena aksesnya menghilang dan harus dibuat akses baru. Mau bantuan dari dalam negeri ataupun luar negeri, tetap sulit untuk masuk.


Bencana Aceh, Sumut, Sumbar (Foto: CNN Indonesia)


Di samping itu, rakyat menganggap bantuan asing itu seperti “bantuan tetangga” atau bantuan kerabat, saudara. Itu salah besar. Kalau bantuan dari dalam negeri sendiri, selalu atas dasar keikhlasan, amal ibadat, kewajiban, atau iba atas dorongan empati. Kalau bantuan asing, tidak seperti itu. Mereka membantu karena ada kepentingan dirinya dalam membantu itu, tidak ikhlas. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dari bantuan itu. Selalu begitu. Dalam teorinya, hubungan internasional atau hubungan antarnegara dilakukan oleh negara dengan dasar untuk mendapatkan manfaat dari hubungan itu. Misalnya, negara asing membantu kita dengan harapan untuk mendapatkan proyek-proyek dari pemerintah kita dan menemukan kekayaan alam yang kita miliki untuk keuntungan mereka. Setiap hubungan antarnegara selalu dilandasi kepentingan negara masing-masing.

Itulah salah satu alasan Presiden RI Prabowo Subianto menolak bantuan asing. Di samping adanya konsesi-konsesi yang harus kita penuhi, juga akan banyak dampak ikutan yang bisa menambah masalah. Misalnya, bantuan yang diberikan asing tidak sesuai dengan kondisi masyarakat, mereka bisa membawa banyak makanan, tetapi yang dibutuhkan sesungguhnya adalah pakaian atau obat. Ini jadi pekerjaan tambahan bagi birokrat dalam negeri untuk mengaturnya. Bisa juga seperti yang terjadi saat tsunami Aceh dulu, banyak anak-anak yang dibawa ke luar negeri dan menjadi korban pedofilia.

Kalau ada pihak-pihak dalam negeri yang ngotot ingin bantuan luar negeri, saya curiga mereka itu memanfaatkan ketidakpahaman rakyat dan mendorong rakyat untuk protes dengan harapan mereka ikut dalam mengelola bantuan asing itu sehingga bisa korupsi. Bisa juga untuk memasukkan pengaruh ideologi mereka memecah belah bangsa. Demonstrasi mengharap bantuan asing di Aceh dengan mengibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah jelas digerakkan dari luar negeri dengan teriakan merdeka berpisah dari NKRI. Provokatornya sendiri sudah mengakui kok di luar negeri.

Intinya, bantuan asing itu jangan disamakan dengan bantuan tetangga atau saudara. Beda jauh.

Contohnya, ketika Raja Arab Saudi Salman datang menanamkan uangnya di Indonesia, apakah karena mencintai rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam?

Tidak! Sama sekali tidak!

Dia datang ke Indonesia karena diperkirakan sekitar tiga puluh tahun ke depan sumber minyak Arab Saudi habis dan tetap harus menghidupi rakyatnya. Salah satu caranya adalah menanamkan uang di Indonesia pada berbagai fasilitas pariwisata. Dia datang itu karena cinta rakyatnya sendiri bukan cinta Indonesia. Buktinya, uang yang dia tanamkan di Cina berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan di Indonesia.

Lalu, keuntungan apa yang kita dapatkan dengan membantu pihak asing yang bernama Palestina?

Keuntungan Indonesia membantu Palestina adalah meneguhkan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat ideologi negara, mempertahankan NKRI, dan memperkuat diplomasi di percaturan politik internasional.

Keuntungan apa pula yang didapat Indonesia dengan membantu Negara Vanuatu ketika tertimpa bencana?

Indonesia berharap Vanuatu tidak lagi memusingkan Indonesia di PBB yang selalu mengganggu dengan memprovokasi Papua untuk merdeka.

Jadi, begitu ya soal bantuan asing itu, selalu tidak ikhlas dan ditujukan untuk kepentingan sendiri. Akan tetapi, hal yang saya jelaskan itu merupakan tindakan antarnegara, bukan antarindividu atau perorangan. Kalau bantuan perorangan atau swasta, itu dipersilakan, diperbolehkan. Sudah banyak yang membantu di Aceh dan Sumatera secara perorangan, baik dari Malaysia, Jerman, atau negara lainnya.  Kalau bantuan perorangan, biasanya sering ikhlas atas dasar kemanusiaan. Negara tidak ikut campur dalam bantuan perorangan. Seperti kita juga yang membantu Palestina secara perorangan, dorongannya lebih ikhlas dibandingkan bantuan yang dikerahkan oleh lembaga negara. Negara manapun.

Sekarang lebih paham kan kenapa untuk menerima bantuan asing itu harus dilakukan dengan ekstra hati-hati?

Ilustrasi bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Sampurasun.

Monday, 15 December 2025

Bencana Akibat Salah Mikir

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung Putera Sang Surya

Di masjid, gereja, vihara, tempat-tempat ibadat lain, di perguruan tinggi, pada berbagai seminar, pada rupa-rupa pidato dari dulu sampai hari ini masih saya dengar, “Alam dan seisinya ini diciptakan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia!”

            Pernah mendengar bukan kalimat seperti itu?

            Dari mana kalimat itu berasal?

            Apa dasarnya?

            Kalau ada kitab suci, agama apa pun yang mengajarkan hal itu, saya ingin tahu penjelasannya. Bagi saya, kalimat itu salah total. Sejak masih SMA, saya heran dengan kalimat itu, tetapi dipercaya manusia hingga hari ini. Benar-benar menghermankan, eh mengherankan.

            Sepanjang penelusuran saya, ada kemungkinan kalimat itu berasal dari pemahaman budaya yang salah. Dari seluruh ajaran budaya dan buku-buku yang beredar, ada satu pemahaman inti bahwa “budaya adalah cara manusia hidup menghadapi alamnya”. Inilah pemahaman yang salah itu.

            Kesalahan pemahaman itu mengakibatkan kesalahan sikap. Karena posisinya “berhadapan”, manusia selalu berusaha mengalahkan alam, menguasai, dan menundukkan alam. Manusia menggali, mengeksploitasi, dan menikmati hingga alam dikalahkan sehingga manusia menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Apa pun diambil, dikuasai, dan ditaklukan untuk kesenangan manusia.

            Akibat kesalahan berpikir, kesalahan pemahaman, dan kesalahan bersikap, terjadi ketidakseimbangan alam. Akibatnya, banyak terjadi bencana di darat, di laut, dan di udara. Manusia sudah merasakannya. Jika kesalahan berpikir itu tidak diperbaiki, alam menjadi bertambah rusak dan manusia juga yang akhirnya mengalami kerugian dan penderitaan.

            Contoh sederhananya adalah efek perambahan hutan menimbulkan banjir, pemanasan udara mengakibatkan gunung es mencair dan menambah volume air laut yang menenggalamkan daratan, serta menipisnya atmosfir sehingga sinar Matahari langsung menembus kulit. Banyak lagi contoh lain yang akan sangat banyak jika ditulis di sini.


Banjir dan Longsor Sumatera (Foto: CNN Indonesia)


            Seharusnya, manusia itu bukan berhadapan dengan alam, melainkan “bermitra” dengan alam dalam menjalani hidup dan kehidupan. Manusia dan alam harus bekerja sama dengan baik saling menjaga sehingga tercipta kehidupan harmonis dan tidak saling mengalahkan.

            Orang tua kita dulu atau para sesepuh, selalu berhati-hati jika akan membangun apa pun. Para tetua kerap berpuasa, semedi, tirakat, merenung, bertapa, berpikir menyelaraskan diri dengan alam agar pembangunan bisa berjalan tanpa harus merusakkan alam. Mereka berkontemplasi dengan makhluk-makhluk alam, baik yang lahir maupun yang gaib. Mereka berkomunikasi agar terjadi keselarasan kehidupan. Dengan demikian, manusia bisa berkembang dengan baik dan alam pun tetap dapat hidup dengan harmonis.

            Sayangnya, perilaku para sepuh kita itu sering dituduh musyrik, kafir, kuno, kolot, terbelakang, bahkan murtad. Padahal, para orang tua itu sedang berusaha menyeimbangkan diri dengan alam. Sayangnya, kita sekarang lebih suka dengan pendekatan proyek, bisnis, korup, duit, duit, dan duit yang membuat kita menjadi budak duniawi yang kerap menyesatkan.

            Lambat atau cepat manusia akan memanen penderitaan dan kerusakan jika tidak segera memperbaiki diri untuk menciptakan kebaikan. Jika manusia sadar dengan kesalahannya dan mengoreksi dirinya, alam yang merupakan tempat kita hidup akan menjadi seimbang dan menyenangkan, itulah yang dinamakan “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Friday, 5 December 2025

Banjir Dekat Pemerintahan Kabupaten Bandung


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

 

Banjir di Kabupaten Bandung selalu terjadi setiap tahun di situ-situ saja. Artinya, semua orang tahu bahwa di wilayah itu kerap terjadi banjir. Anehnya, seperti dinikmati terus-menerus, tak ada perbaikan. Cirinya, tahun-tahun lalu banjir, sekarang masih banjir lagi. Semestinya, kalau sudah terjadi banjir satu kali, tahun berikutnya saat musim penghujan tiba, tak perlu lagi ada banjir karena sudah ada perhatian dan perbaikan. Akan tetapi, di area itu selalu terjadi banjir berulang-ulang.

 

            Kalau Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi “Bapak Aing”, mengomentari dan merencanakan hal-hal besar untuk ukuran provinsi dalam menangani banjir di Kabupaten Bandung, saya sebagai pengguna jalan melihat hal-hal kecil yang berakibat fatal. Semua warga Kabupaten Bandung yang tinggal di seputar atau dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung pasti tahu dan merasakan banjir yang sangat mengganggu itu. Lalu lintas macet, mobil tidak bisa bergerak hingga mengular tembus ke wilayah Kota Bandung, motor banyak yang mogok, polisi ikut-ikutan repot mengurusi lalu lintas akibat banjir yang sebetulnya sudah harus tidak terjadi lagi itu. Berjam-jam waktu terbuang berada di jalanan yang akibatnya menguras energi yang seharusnya tidak perlu.

 

            Saya melihat banjir itu banyak disebabkan saluran air yang tidak berfungsi maksimal. Saluran air sudah banyak sampah, ditumbuhi rumput dan tanaman liar, bahkan tidak mengalirkan air, air hanya menggenang tidak bergerak. Gorong-gorong tampaknya macet karena tidak tampak air yang mengalir, air hujan justru mengalir di jalanan. Bahkan, ada selokan yang hanya mengalirkan air sedikit, sementara air besar tumpah di jalanan yang bisa menenggelamkan kendaraan bermotor. Itu artinya tidak ada pemeliharan dan perbaikan saluran air untuk pembuangan. Jelas terjadi penyumbatan saluran air, baik oleh sampah, tanaman liar, atau bangunan liar tak berizin.

 

            Di samping itu, bangunan-bangunan di pinggir jalan, baik itu pertokoan, kantor, maupun rumah pribadi menggunakan beton untuk menutupi saluran air sebagai jembatan. Hal itu membuat orang tidak bisa mengontrol saluran air. Bisa saja di bawah beton itu dipenuhi sampah atau lumpur hingga membuat air macet dan pasti kotor karena setelah jejeran beton itu,tidak tampak air mengalir. Ada juga saluran air yang sudah tidak berfungsi karena tertimbun tanah yang kemudian ditumbuhi rumput liar. Bagusnya, dikeluarkan Perda ataupun Perbup atau apa pun itu untuk melarang warga dan siapa pun menggunakan beton sebagai jembatan untuk menutupi selokan. Semua orang hanya diperbolehkan menggunakan jembatan besi mirip pagar yang bisa diangkat agar selokan bisa dikontrol dan dibersihkan.

 

            Tampaknya konsep pentahelix sekedar omon-omon dalam urusan banjir di Kabupaten Bandung ini. Seharusnya, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media berupaya keras mengatasi banjir ini sehingga tidak perlu lagi terjadi dan hidup masyarakat lebih berkualitas.

 

            Masih mau dinikmati banjir langganan tahunan ini di dekat pemerintahan Kabupaten Bandung?

 

            Saya sengaja tidak menampilkan ilustrasi dalam tulisan ini karena para netizen Kabupaten Bandung sudah banyak yang menguploadnya, baik berupa foto maupun video. Semakin banyak warga yang menyuarakan dan menayangkan konten-konten hasil karyanya terkait banjir di Kabupaten Bandung ini, mudah-mudahan pihak terkait lebih cepat mengambil tindakan untuk mengatasinya.

 

            Sampurasun.


Thursday, 2 October 2025

Jawa Barat Bisa Rusak Seperti Nepal

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Huru-hara di Negara Nepal dikabarkan terinspirasi dari demonstrasi di Indonesia terkait tunjangan perumahan DPR RI. Akan tetapi, di Nepal jauh lebih anarkis sampai-sampai menteri dikejar-kejar hingga ke sungai dan ditelanjangi, istri-istri pejabat dipukuli dan dibunuh, pemerintahan goncang luar biasa, aksi massa yang parah benar-benar terjadi secara mengerikan. Tidak masuk akal dalam pandangan dan perasaan saya sebagai orang Sunda.


Pejabat korban huru-hara Nepal (Foto: Instagram)

            Kerusuhan di Nepal salah satunya dipicu oleh hoak, berita bohong, dan misleading, penyesatan informasi. Rakyat disuguhi provokasi bahwa pemerintah Nepal membungkam suara rakyat dengan cara melarang media sosial, seperti, facebok, Instagram, X, dan lain sebagainya untuk beroperasi di Nepal. Hal ini membuat rakyat, terutama kaum muda marah karena sekarang ini media sosial adalah dunianya mereka. Kerusuhan sadis pun terjadi. Padahal, pemerintah Nepal itu sedang bernegosiasi agar para pengusaha pemilik aplikasi media sosial mengikuti aturan-aturan yang berlaku di Nepal, termasuk dalam hal membayar pajak pada pemerintah. Memang jika pemilik Medsos tidak mengikuti keinginan pemerintah, Medsos itu tidak boleh ada lagi di Nepal.

            Berbeda dengan di Indonesia, para pemilik Medsos itu pun sempat diancam untuk berhenti jika tidak mengikuti aturan negara. Akan tetapi, para pemilik Medsos itu dengan cepat mengikuti kehendak pemerintah Indonesia sehingga tidak terjadi pemberhentian aplikasi. Masyarakat tetap bisa menggunakan berbagai media sosial. Dari segi bisnis, memang Indonesia jauh lebih menguntungkan karena penduduknya sangat banyak. Berbeda dengan Nepal yang penduduknya hanya sekitar 25 jutaan, hanya setengah dari penduduk Provinsi Jawa Barat. Keuntungan di Nepal sudah pasti lebih sedikit dibandingkan dengan di Indonesia.

            Kejadian di Nepal bisa terjadi di Jawa Barat akibat kebijakan Gubernur Dedi Mulyadi yang akrab dipanggil KDM. Pemberhentian tambang di Parung Panjang, Bogor, memicu demonstrasi yang dipenuhi orasi dan provokasi berisi perlawanan kepada KDM yang dianggap telah merugikan rakyat. Perusahaan tambang yang telah beroperasi puluhan tahun dan menghidupi banyak orang harus ditutup yang mengakibatkan banyak orang yang bergantung hidup dari perusahaan-perusahaan itu tak punya lagi penghasilan di sana. Itulah yang banyak disuarakan, baik saat demonstrasi maupun pada berbagai tayangan Medsos.

            Jika suara-suara kemarahan akibat penutupan tambang itu ditelan bulat-bulat oleh masyarakat, huru-hara besar bisa sangat terjadi karena seolah-olah Dedi mematikan kehidupan ekonomi rakyat. Beruntung, rakyat Indonesia, khususnya Jawa Barat yang sudah terlatih dengan hoak semakin lama semakin cerdas mengolah berbagai informasi. Rakyat Jawa Barat, Suku Sunda dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan sudah terlatih dengan melihat bahwa isu-isu hoak itu memang benar-benar bohong dan merugikan mereka sendiri. Mereka berulang-ulang tertipu dan tidak lagi mudah mempercayai sebuah kabar berita yang terbawa angin nggak jelas.

            KDM sendiri secara jelas mengakui memang ada beberapa masyarakat Jawa Barat yang terimbas dirugikan akibat kebijakannya menutup tambang. Akan tetapi, kerugian yang diderita masyarakat jauh lebih besar karena tidak jelasnya pajak, kerusakan infrastruktur jalan yang mencapi triliunan, rusaknya kesehatan, bahkan menimbulkan seratusan kematian akibat pertambangan tersebut. Oleh sebab itu, Dedi menegaskan bahwa dirinya bisa menutup perusahaan tambang sementara atau selamanya secara permanen. Dia hanya ingin rakyatnya untung, perusahaan untung, tak ada yang dirugikan. Jika rakyat dirugikan, dia akan menutupnya secara permanen selamanya, tak ada lagi pertambangan di sana.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Foto: Merdeka.com)


            Penjelasan Dedi mudah dipahami oleh rakyat Parung Panjang, Bogor, rakyat Jawa Barat, dan seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, mayoritas rakyat mendukung kebijakan Dedi. Hal ini mengakibatkan provokasi para pendemo menjadi melempem, tak punya bahan bakar untuk memperbesar menjadi kerusuhan. Isu dan hoak dengan sendirinya tidak laku di pasaran. Huru hara pun tidak terjadi. Itulah kelebihan rakyat Indonesia sekarang ini mulai cerdas mengolah informasi sehingga tidak terjadi kerusuhan jahat seperti di Nepal.

            Ilustrasi istri mantan PM Nepal saya dapatkan dari Instagram, sedangkan Dedi melotot dari Merdeka com.

            Sampurasun

Wednesday, 24 September 2025

Jangan Marah Kalau MBG Dikritik

 


oleh Tom FInaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Program MBG adalah rencana kerja yang sangat baik bagi rakyat Indonesia. Adalah hal yang aneh jika ada yang tidak menyetujui rakyat Indonesia diberi makan gratis.

            Hal yang menjadi masalah adalah dalam pelaksanaan program tersebut. Sejak awal sudah banyak kritikan yang dipicu oleh para siswa yang mengonsumsi MBG. Ada yang mengatakan tidak enak, lama datangnya, dan lain sebagainya. Kritikan-kritikan itu mendapat tanggapan dari pendukung pemerintah atau dari pemerintahnya sendiri. Seolah-olah mereka yang mengkritik adalah orang-orang yang tidak berterima kasih. Istilahnya, sudah dikasih makan, belagu tidak bersyukur.


Makan Bergizi Gratis (Foto: ANTARA News)

            “Kalian ini kenapa? Saya saja makan nasi kotak murah sudah bersyukur. Kalian dikasih makan gratis tidak bersyukur!”

            Ada pendukung pemerintah yang berbicara seperti itu, bahkan lebih kasar. Seharusnya, kritikan-kritikan itu diperhatikan, lalu dievaluasi sehingga ada perbaikan ke depannya.

            Saya sendiri mendengar langsung dari siswa sekolah tertentu yang mengatakan, “Sayurnya masam. Cuma jeruk dan susu aja yang enak.”

            Malahan ada siswa yang memilih tidak makan MBG. Mereka lebih baik jajan atau memakan bekalnya yang dibawa dari rumah.

            Sekarang malahan semakin parah, banyak yang keracunan setelah mengonsumsi MBG. Bahkan, orangtua siswa di Kabupaten Bandung Barat meminta agar program MBG dihentikan karena membahayakan. Miris memang program yang sangat baik menjadi program yang dianggap berbahaya. Ini sudah menurunkan kepercayaan rakyat terhadap program itu.

            Bupati Bandung Barat Jeje menjelaskan bahwa dapur untuk memasaknya tidak higienis. Hal ini bisa dipahami, tetapi kurang masuk akal juga. Sangat banyak dapur yang tidak higienis yang dimiliki rakyat untuk membuat jajanan seperti seblak, bajigur, bala-bala, mie, ataupun pisang goreng, tetapi tidak menimbulkan keracunan masal sampai ada yang kejang-kejang.

            Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa keracunan itu ditimbulkan oleh jarak waktu dari memasak makanannya sampai dengan dibagikannya terlalu lama sehingga makanan bisa basi. Itu juga bisa dipahami, tetapi harus diteliti lebih jauh. Banyak siswa yang membawa bekal dari rumah subuh, dimakan siang hari, baik-baik saja, tidak keracunan.

            Saya sendiri bertanya-tanya dari mana bahan-bahan makanan itu berasal?

            Kapan dibelinya?

            Apakah masih segar?

            Bagaimana prosesnya? Siapa yang masak? Di mana? Bagaimana pengemasannya?

            Saya sering melihat mobil pikup di jalan tol yang dikemudikan seperti kesetanan, ngebut luar biasa. Saya kenal beberapa sopir kesetanan seperti itu. Mereka sangat ngebut karena mengejar waktu agar sayuran yang dijual di pasar tetap segar, tidak layu, dan tidak busuk sehingga masih punya nilai jual tinggi. Hal ini berarti ada bahan makanan yang hanya dalam waktu beberapa jam sejak dipanen bisa langsung busuk dan membahayakan untuk dikonsumsi.

            Sebaiknya untuk daerah-daerah kabupaten yang masih banyak kebun, dapur MBG membeli bahan-bahan dari masyarakat sekitar. Misalnya, tempat tinggal saya masih dikelilingi kebun penduduk, ada kebun sosin, mentimun, cabe, tomat, ada juga yang punya kolam ikan. Saya juga punya kolam ikan kecil yang cukup untuk menampung seribu ikan. Dengan demikian, bahan makanan lebih segar, lebih murah, masyarakat lebih meningkat ekonominya, dan anak-anak muda punya kegiatan ekonomi sebagai pekerjaannya. Tidak perlu mencari kontraktor pengadaan bahan makanan dari tempat yang jauh.

            Untuk daerah perkotaan, beli bahan makanan dari kabupaten terdekat. Di samping lebih cepat, juga makanannya akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

            Untuk tenaga pemasak, libatkan orangtua siswa, ibu-ibu yang tidak memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah. Dengan demikian, mereka akan memasak untuk anak-anaknya sendiri dan lingkungannya. Mereka akan punya lebih banyak cinta ketika memasak dan bukan didorong oleh motif bisnis semata.

            Pemerintah dan pendukungnya jangan marah kalau program MBG dikritik, jangan lagi bilang tidak bersyukur dikasih makan.

            Memangnya, siapa yang akan bersyukur jika anak-anaknya keracunan?

            Sebaiknya kritikan itu dianggap masukan untuk mendorong program MBG semakin baik dan berhasil mewujudkan generasi muda yang sehat dan cerdas berpikir.

            Ilustrasi makanan dalam MBG saya dapatkan dar ANTARA News.

            Sampurasun.