Wednesday, 20 January 2021

Hubungan Antarkelompok dalam Dimensi Institusi dan Dimensi Gerakan Sosial

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hubungan antarkelompok bisa dilihat dari dimensi institusi/lembaga dan dari dimensi gerakan sosial.

 .

Dimensi Institusi

Dalam dimensi institusi, hubungan antarkelompok dapat berupa institusi politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan lain sebagainya. Institusi atau lembaga dapat mempengaruhi hubungan-hubungan dalam masyarakat. Hal ini berarti dapat mengendalikan perilaku masyarakat agar berhubungan sebatas yang diperlukan dengan institusi tersebut. Akan sangat berbeda hubungannya dengan hubungan yang terjadi di keluarga, masyarakat terdekat, atau dengan orang-orang yang dikenal. Misalnya, hubungannya hanya bersifat birokratis dan secukupnya tanpa ada hubungan personal yang lebih dalam. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihatnya dengan mudah jika ada orang yang berhubungan dengan institusi tertentu. Contoh nyata adalah jika kita hendak mengurus surat-surat kependudukan atau Kartu Tanda Penduduk (KTP) di kecamatan, kita tidak perlu mengenal siapa petugas kecamatan tersebut. Demikian pula petugas kecamatan tidak perlu mengenal kita dengan lebih dekat. Hubungan antara kita dengan petugas kecamatan sebatas mengurus KTP secara administratif. Setelah kebutuhan kita selesai mendapatkan KTP, hubungan kita dengan petugas kecamatan pun selesai. Tidak lebih jauh dari itu.

 

Dimensi Gerakan Sosial

Dalam dimensi gerakan sosial, hubungan antarkelompok dipengaruhi oleh para aktivis yang biasanya berkehendak untuk melakukan perubahan di masyarakat atau sebaliknya, ingin mempertahankan keadaan yang sudah ada dan tidak menginginkan adanya perubahan. Contohnya, ada banyak gerakan perempuan yang menginginkan kesetaraan gender, perempuan ingin sama hak-hak dan kewajibannya dengan kaum pria. Akan tetapi, ada pula pihak-pihak yang ingin mempertahankan bahwa peran dan posisi kaum perempuan tetap mengikuti kebiasaan yang sudah  ada dan sesuai dengan tradisi yang turun temurun.

            Demikian penjelasan hubungan antarkelompok dilihat dari dimensi institusi dan dimensi gerakan sosial.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Simpati dan Empati

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sering mendengarkan orang mengatakan istilah simpati dan empati. Banyak orang yang sulit membedakan kedua istilah itu karena memang keduanya memiliki arti dan posisi yang sangat erat.

            Simpati adalah kondisi ketertarikan seseorang kepada orang lain dan merasakan apa yang dialami, dipikirkan, dan dirasakan orang lain. Dia menempatkan posisinya dalam posisi orang lain. Contohnya, ketika orang lain mendapatkan musibah bencana alam, banjir, atau gempa bumi. Dia bersimpati kepada para korban dan merasakan penderitaan mereka. Oleh sebab itu, ia berupaya membantu para korban sesuai dengan kemampuannya, misalnya, dengan memberikan makanan, pakaian, uang, ataupun obat-obatan. Bahkan, dia sendiri jika memiliki kesempatan akan mendatangi para korban musibah tersebut.

            Empati adalah perasaan yang lebih mendalam dibandingkan dengan simpati. Seseorang yang memiliki empati akan terpengaruh oleh objek yang membuatnya tertarik. Contohnya, seseorang yang melihat atau mendapatkan orang yang dikasihinya sedang sakit keras akan merasakan sakit yang diderita orang yang dikasihinya itu. Pikiran dan perasaannya dipenuhi oleh gambaran orang yang dikasihinya itu. Akibatnya, dia pun jadi ikut sakit sebagaimana orang yang dikasihinya.

            Baik simpati maupun empati merupakan interaksi yang biasa terjadi di masyarakat. Proses-proses interaksi itu menimbulkan hubungan yang kuat di antara masyarakat. Kedua proses interaksi itu dapat membangun rasa kebersamaan, ikatan kemesraan, dan hubungan positif yang sangat kuat.

            Demikian pemahaman simpati dan empati.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Irawan, Hanif; Rahmawati, Farida; Febriyanto, Alfian; Muhammad Kusumantoro, Sri, Sosiologi: Untuk SMA/MA Kelas X Semester 1

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial; untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wednesday, 13 January 2021

Syekh Ali Jaber yang Saya Tahu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Syekh Ali Jaber tidak mengenal saya karena saya hanya melihat dan mendengarnya melalui televisi dan tayangan Youtube. Meskipun hanya memperhatikan dari jauh, banyak hal yang saya pahami dari diri Syekh Ali Jaber.

Pertama kali saya melihatnya di televisi, isi ceramahnya biasa saja. Banyak penceramah Indonesia yang berceramah seperti itu, bahkan lebih hebat. Saya hanya berpikir bahwa orang Indonesia itu pengennya selalu yang “kearab-araban”. Orang Arab biasanya dipandang lebih hebat agamanya, padahal tidak. Soal agama itu adalah soal ilmu dan akhlak, bukan soal tempat kelahiran. Jadi, Syekh Ali Jaber bagi saya, biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Seiring perjalanan waktu, tanpa sengaja saya melihat Syekh Ali Jaber mencium tangan remaja dan anak-anak Indonesia yang hapal Al Quran. Bahkan, bukan hanya tangan, kaki remaja dan anak Indonesia pun dia cium. Syekh bersedia menurunkan kepalanya dengan badannya bertumpu pada lututnya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati Ali Jaber. Saya hanya melihatnya dia memuliakan para penghapal Al Quran dan bersedia merendahkan hatinya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Sikap itu tampak bukan sikap dibuat-buat seperti akting Sinetron, melainkan sikap yang tulus yang tampak dari mata dan gerak tubuhnya. Luar biasa ini orang. Istimewa sekali.

Sejak saat itu saya mengagumi Syekh. Sikap seperti itu pasti lahir dari hati yang penuh hormat, penuh kemuliaan, dan kelembutan.

Sejak itu pula saya lebih lama memperhatikan ceramah-ceramah Syekh, baik di televisi maupun di Youtube. Kalimat-kalimatnya luar biasa menenangkan yang pastinya berasal dari llmu pengetahuan yang dalam. Beliau mengajarkan untuk memuliakan dan menghormati orang lain. Diingatkannya pula untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Bahkan, nasihatnya yang saya perhatikan ketika beliau menjadi tamu bersama Gus Miftah di Podcast Deddy Corbuzier sungguh luar biasa mengagumkan. Syekh menjelaskan bahwa kita tidak boleh menghakimi dan merendahkan perempuan yang tidak berhijab karena kita tidak tahu mungkin saja perempuan itu punya shalat dua rakaat yang membuat Allah swt memasukkannya ke dalam surga. Kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya hubungan perempuan itu dengan Allah swt. Pandangan dan pendapat seperti itu pasti keluar dari mulut orang yang sangat berhati-hati bersikap dalam hidup serta memiliki ilmu pengetahuan yang dalam. Dalam beberapa kali ceramahnya, Syekh mengingatkan saya pada tulisan-tulisan “Syekh Abdulqadir Jaelani” tentang “Penyingkap Kegaiban” yang dipenuhi nasihat untuk selalu bergantung penuh dan percaya penuh kepada Allah swt sehingga segala yang terjadi kepada kita di dunia ini hanya peristiwa biasa yang tidak berpengaruh apa pun kepada kita. Mau kita kaya ataupun miskin, mudah ataupun sulit, tidak mempengaruhi kita karena kita hidup dalam kendali Allah swt, bersama Allah swt.

Kini Syekh Ali Jaber telah berpulang kepada Pemilik-nya, Allah swt, “mulih ka jati, mulang ka asal”.

“Innaalillaahi waa innaa ilaihi roojiuun”

Allah swt Mahatahu, Mahakasih kepada hamba-Nya. Syekh menjadikan Indonesia tanah yang dicintainya sebagai ladangnya untuk beramal shaleh.

Sampurasun

Friday, 8 January 2021

Negara Harus Lebih Kuat Dibandingkan Rakyat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Surya

Dalam teori-teori realis dijelaskan bahwa negara harus memiliki kekuatan yang sangat besar dibandingkan rakyatnya untuk mengendalikan rakyatnya. Pemikiran ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia pada dasarnya selalu ingin berkuasa, ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, dan ingin mendapatkan berbagai hal. Dalam memperoleh keinginannya itu, manusia kerap terlibat konflik, persaingan, pertarungan, perang, hingga pembunuhan. Perang-perang di antara manusia terjadi diakibatkan oleh perebutan manusia untuk memperoleh keinginannya, baik keinginan untuk berkuasa maupun keinginan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Oleh sebab itu, negara diperlukan untuk mengendalikan manusia, rakyatnya, agar tidak lagi terlibat perang atau pembunuhan dalam memenuhi keinginannya.

            Di negara mana pun selalu ada kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki keyakinan, pandangan, gagasan, dan tujuan yang berbeda-beda. Jika negara lemah, kelompok-kelompok ini akan bertarung sendiri untuk mengalahkan kelompok lainnya, kemudian menguasainya. Negara yang lemah tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan perkelahian, pertengkaran, hingga pembunuhan, bahkan dia sendiri terlibat dalam pertengkaran itu. Negara itu bisa hancur dan  dikuasai oleh negara yang lainnya. Kondisi ini bisa kita lihat terjadi di negara-negara yang sampai saat ini masih berkonflik di dalamnya, misalnya, Irak, Libya, Afghanistan, dan Suriah.  Setiap kelompok menganggap dirinya benar dan lebih celaka lagi mereka memiliki senjata yang membuat mereka saling bunuh.

            Beruntung Indonesia tidak seperti itu, paling banter saling maki di Medsos, saling hina, atau saling klaim bahwa kelompoknya yang paling benar, tetapi tidak sampai saling bunuh. Coba kalau setiap kelompok punya senjata, sudah dari dulu kacau balau dan tidak aman. Kita ini aman karena negara punya cukup kekuatan mengendalikan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Para pembaca aman membaca tulisan saya karena ada keamanan. Jika tidak, ketika sedang membaca tulisan ini, bom bisa tiba-tiba meledak di rumah siapa saja kapan saja seperti di negara-negara yang selalu berperang itu.

            Kalau Indonesia lemah dan tidak memiliki kemampuan mengendalikan masyarakat, setiap kelompok yang punya pasukan “berani mati” bisa kapan saja saling serang. Pasukan Merah, Pasukan Hijau, Pasukan Biru, Pasukan Putih, Pasukan Ungu, Pasukan Belang, Pasukan Warna-Warni, atau pasukan dengan warna apapun bisa dengan mudah saling bunuh. Kalau sudah begitu, tidak ada keamanan, tidak bisa sekolah dengan baik, fasilitas kesehatan runtuh, bisnis macet, kemiskinan merajalela, kematian semakin meningkat, tidak ada kemajuan, kebodohan jadi kebanggaan, dan berbagai kerusakan lainnya.

            Saya suka mengajarkan hal ini, baik kepada siswa mulai Kelas X Madrasah Aliyah Mawaddi maupun kepada mahasiswa di Universitas Al-Ghifari dengan cara yang mudah mereka pahami.

Saya contohkan jika kita punya uang Rp50 juta, lalu ingin membuka warung atau toko kecil, tempat mana yang akan kita pilih?

Pertama, buka toko di tempat yang banyak huru-hara, penduduknya punya uang sedikit, orang-orangnya tidak saling menghormati dan tidak patuh pada pemimpinnya, banyak begal, banyak kriminal, dan kerap terjadi pembunuhan.

Kedua, buka toko di tempat yang aman, penduduknya punya banyak uang, orang-orangnya saling menghormati dan patuh pada pemimpinnya, keamanan terkendali, masyarakatnya saling menjaga, serta toleransinya tinggi.

Seluruh murid saya selalu menjawab “buka toko di tempat kedua”.

Begitu pula dengan Indonesia. Jika negaranya kacau, rakyatnya tidak bisa dikendalikan, banyak huru-hara, dan negaranya lemah, tak akan ada investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Bahkan, investor dalam negeri pun akan berlarian ke luar negeri dan menanamkan uangnya di luar negeri seperti yang terjadi dulu, para pengusaha Indonesia malah buka pabrik dan perusahaan di Vietnam, Thailand, dan Filipina. Miskinlah kita, bahkan hancur, lemah, dan mudah dikuasai negara lain. Jika negara aman, bisnis lancar, kesehatan terfasilitasi, pendidikan terpenuhi, lapangan kerja baru bermunculan, dan berbagai bidang lain mengalami peningkatan sehingga bisa menjadi negara makmur pada masa depan, 2045.

Berkaca dari hal itu, negara harus lebih kuat daripada rakyat untuk bisa menjamin keamanan rakyat. Setiap kelompok masyarakat harus bisa dikendalikan. Setiap kelompok yang dianggap tidak bisa bekerja sama dengan kelompok masyarakat lain dan tidak sepakat dengan tujuan berbangsa dan bernegara, harus “dibina” agar bisa sama-sama hidup dalam menciptakan keamanan dalam rangka mencapai tujuan nasional   bangsa Indonesia.

Untuk menjaga perilaku negara agar tidak berlebihan dalam mengendalikan rakyatnya, diperlukan hukum yang disepakati bersama. Dengan demikian, negara tetap dapat mengendalikan rakyatnya tanpa harus melanggar azas-azas kemanusiaan.

Sampurasun.

Tuesday, 29 December 2020

Veni, Vidi, Vici

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sering lihat kan orang berpose dalam foto dengan membentuk jari tangannya mengepal, tetapi memunculkan jari telunjuk dan jari tengahnya?

            Jari telunjuk dan jari tengah yang diberdirikan itu membentuk huruf “V”. Banyak orang yang menafsirkan bahwa bentuk huruf V itu mewakili kalimat “veni, vidi, vici” yang artinya “saya datang, saya lihat, saya menang”. Kalimat itu berasal dari bahasa latin yang digunakan oleh Julius Caesar ketika menang bertempur di Zela. Sebagian orang lagi menafsirkan bahwa bentuk jari V itu adalah mewakili kata “victory” yang artinya “kemenangan”. Di samping itu, orang-orang Amerika Serikat membentuk posisi tangan V itu mengartikannya sebagai lambang perdamaian atau tidak menginginkan perkelahian. Biasanya, mereka mengacungkan tangan berbentuk V sambil mengatakan “peace”, ‘damai’.

            Saya juga kalau difoto, sering menggunakan pose tangan seperti itu.




            Baik zaman Julius Caesar maupun awal-awal penggunaan bentuk tangan itu di Amerika Serikat, erat kaitannya dengan situasi perang. Akan tetapi, saat ini, khususnya di Indonesia, perang tidak ada. Oleh sebab itu, semangat dari bentuk jari tangan V itu sangat baik jika diartikan “saya datang dengan potensi diri, saya lihat tantangannya, saya berhasil sukses dalam bersaing dan berkarir, penuh kemenangan dengan cara damai dan penuh persaudaraan”.

            Boleh kan jika menafsirkannya seperti itu?

            Kita kan tidak sedang berperang fisik. Jangan bikin perang fisik jika dalam situasi damai karena akan membangkitkan kemarahan orang-orang yang mencintai perdamaian.

            Pertarungan kita adalah dalam melawan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertingalan hidup.

            Veni, Vidi, Vici, and Victory in Peace.

            Sampurasun

Monday, 21 December 2020

Musibah Adalah Akibat Ulah Kita Sendiri

 


oleh  Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Musibah yang diderita manusia, apa pun itu bentuknya, sesungguhnya diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Musibah itu semacam hasil dari berbagai kesalahan manusia. Musibah itu bisa berupa dipukuli orang, kecelakaan, rugi, bangkrut, ditangkap polisi, dipenjara, dikucilkan, dll..

            Jika kita terkena musibah, sebaiknya hal pertama yang dilakukan adalah introspeksi diri. Kita harus mempelajari diri sendiri dulu, jangan langsung menyalahkan orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dan lebih berhati-hati bersikap. Bisa jadi memang dalam musibah yang menimpa kita ada orang lain yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa musibah itu terjadi kepada kita, bukan kepada orang lain dan Allah swt mengizinkannya terjadi kepada kita. Balik lagi, kita memang harus introspeksi diri, mendalami diri sendiri, mengingat kesalahan-kesalahan kita sendiri.

            Allah swt sendiri yang menerangkan seperti itu. Perhatikan firman Allah swt dalam QS An Nisa, 4 : 79.

            “Kebaikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri….”

            Dengan tegas Allah swt memberitahukan bahwa jika kita mendapatkan kebaikan, itu adalah berasal dari kasih sayang Allah swt kepada kita. Dia yang menganugerahkannya kepada kita. Akan tetapi, jika tertimpa musibah, sesungguhnya itu akibat dari berbagai kesalahan dan kelalaian kita sendiri.

            Perhatikan pula ayat Allah swt berikut ini.

            “Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syura, 42 : 30)

            Banyak sekali ayat yang senada dan menerangkan tentang musibah yang diakibatkan oleh perilaku kita. Jika saya tulis di sini, akan sangat panjang. Akan tetapi, dua ayat ini saja sudah mencukupi pengetahuan kita tentang dari mana datangnya kebaikan dan musibah itu. Kebaikan berasal dari Allah swt, musibah berasal dari keburukan kita.

            Paling tidak, saya menemukan catatan tiga ahli yang menafsirkan ayat ini, yaitu Ibnu Katsir, Syekh Abdurrahman As Saadi, dan Al Baghawi. Jika disimpulkan tafsir ketiganya, mereka menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia adalah memang akibat ulah manusia sendiri. Akan tetapi, Allah swt telah banyak memaafkan perilaku buruk kita. Tanpa diminta pun Allah swt telah banyak memaafkan kita. Hal itu dilakukan-Nya karena saking sayangnya kepada umat manusia. Adapun musibah yang terjadi kepada umat Islam adalah untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi, lebih banyak belajar, lebih banyak memperbaiki diri agar hidup lebih berkualitas.

            Saya sendiri berpendapat bahwa musibah itu akan membuat manusia lebih mulia dan lebih baik jika mampu mengambil banyak manfaat dari kejadian-kejadian sedih yang menimpanya. Akan tetapi, manusia tidak akan menjadi lebih baik setelah mendapatkan musibah jika tidak mau belajar dari pengalaman hidupnya yang pahit itu.

            Demikian. Jika apa yang saya tulis ini benar, itu berarti datang dari Allah swt. Akan tetapi, jika yang saya tulis ini salah, itu berarti datang dari kebodohan saya sendiri. Semoga Allah swt memaafkan saya dan tak berhenti memberikan petunjuk bagi seluruh manusia. Aamiin.

            Sampurasun.

Thursday, 17 December 2020

Universitas Al-Ghifari Paling Rapi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa waktu lalu, Universitas Al-Ghifari melangsungkan Wisuda Sarjana XVI Tahun 2019-2020. Sebelumnya, berminggu-minggu sudah terjadi perdebatan apakah akan dilaksanakan secara online atau offline. Persoalannya jelas, ini gara-gara pandemi Covid-19. Akhirnya, disepakati wisuda dilaksanakan secara hybrid, mahasiswa boleh memilih untuk ikut secara online atau secara offline. Bagi yang memilih offline, dapat hadir langsung ke tempat wisuda. Bagi yang memilih online, boleh mengikuti dari rumah masing-masing melalui zoom atau streaming di YouTube. Mayoritas memilih untuk mengikuti offline. Memang, kalau wisuda melalui internet itu, kurang afdol, kurang rasa, tetapi itu boleh dilakukan.

            Untuk melaksanakan wisuda secara offline dalam arti tatap muka dan hadir langsung, dilakukan pengamanan protokol kesehatan yang berlapis-lapis. Pertama, jumlah panitia dikurangi hingga seperempatnya. Kedua, mahasiswa yang wisuda harus datang sendirian, tidak boleh diantar siapa pun, termasuk orangtua, kerabat, atau pasangannya dilarang ikut ke acara wisuda. Ketiga, panitia dan peserta harus melakukan rapid test antibody yang dibuktikan dengan surat sah dan hasilnya harus nonreaktif, bagi yang reaktif tidak boleh ikut. Selain itu, meskipun nonreaktif, tetapi tidak membawa surat hasil tes rapid, tetap tidak boleh mengikutinya. Keempat, undangan pun dibatasi. Para pejabat seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil hanya memberikan sambutan dan ucapan selamat melalui internet. Kelima, ruangan untuk wisuda yang sebetulnya bisa menampung seribu orang, hanya boleh diisi oleh 250 orang. Keenam, disediakan ratusan hand sanitizer. Ketujuh, baik panitia maupun peserta harus menggunakan masker, lalu ditutup lagi wajahnya dengan face shield, ditambah lagi dengan gloves atau sarung tangan. Benar-benar tertutup.





            Dengan pengamanan protokol kesehatan berlapis-lapis itu, ketika aparat Satgas Covid-19 yang sah dari pemerintah melakukan pengecekan protokol kesehatan, pihak Universitas Al-Ghifari sudah sangat siap dengan jawaban dan bukti-bukti.

            Oleh sebab itu, Satgas Covid-19 pun berujar, “Al-Ghifari paling rapi dari segi protokol kesehatan.”




            Kami bersyukur, acara berjalan lancar, tidak dibubarkan, tak ada masalah, kesehatan terjaga, dan tidak menyisakan tuntutan-tuntutan hukum. Semua baik-baik saja, alhamdulillah.

            Pada akhir acara, saya perintahkan teman-teman panitia agar para wisudawan segera makan siang, lalu secepatnya pulang. Inilah yang paling sulit dikendalikan. Para orangtua, kerabat, pasangan-pasangannya sudah banyak menunggu di luar gedung, terjadilah seperti biasa, selfie-selfie, foto bareng keluarga, dan gembira bersama para dosen. Hal itu sesungguhnya lumayan mengkhawatirkan, tetapi beruntung hal itu terjadi hanya sebentar. Mereka pun langsung segera pulang sebagai sarjana yang sah bersama orang-orang terdekatnya.

            Selepas acara di dalam gedung pun mirip yang terjadi di luar gedung.

            Para wisudawan banyak yang meminta saya untuk berfoto bersama mereka, “Pak, foto dong Pak sama saya.”

            “Pak minta foto bareng sama Bapak.”



            Ini soal perasaan. Soal rasa kangen. Rasa akrab. Rasa bahagia. Rasa bersyukur.



            Saya yang awalnya ragu--sekali lagi, gara-gara Covid—akhirnya terpancing juga, malah saya jadinya yang mengajak beberapa wisudawan untuk berfoto bersama. Perasaan memang sulit dikendalikan.




            Dalam pikiran saya, “Tenanglah, kan semuanya sudah dinyatakan nonreaktif secara sah dengan surat yang bisa dipertanggungjawabkan.”

            Saya makin tak ragu berfoto bersama mereka.




            Bersyukur, karena upaya pengamanan yang berlapis-lapis itu, kami semua baik-baik saja.




            Para wisudawan yang saya asuh sejak mereka lulus SMA selama beberapa tahun dari berbagai daerah di Indonesia itu sekarang sudah menjadi sarjana dan mulai harus melangkah menata kehidupannya di luar sana untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat di tengah masyarakat. Artinya, ada waktu yang tidak sebentar dilalui bersama sebelum akhirnya berpisah untuk menapaki fase kehidupan berikutnya.




            “Bral geura miang makalangan, Bapa mah ukur bisa maturan ku doa ti kaanggangan”.




            Sampurasun.

Monday, 30 November 2020

Berdebat Menurut Allah swt

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak sekali nasihat tentang “larangan berdebat”, baik di Medsos, artikel di web, blog, maupun di dunia nyata melalui obrolan, diskusi, dan ceramah. Akan tetapi, nasihat-nasihat itu sandarannya tidak bersandar pada Al Quran, tetapi bersandar pada hal yang disebut hadits ataupun pendapat yang kata mereka adalah pendapat ulama. Paling tidak, itu yang sempat saya perhatikan. Semua nasihat itu berbahasa yang baik, tidak ada yang buruk. Akan tetapi, saya itu selalu skeptis, ragu, terhadap apa yang disebut hadits.

            Apakah benar Nabi Muhammad saw mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang-orang biasa saja, lalu disebut berasal dari Nabi Muhammad saw. Berbahasa baik saja tidak cukup, tetapi harus nyata dikatakan benar-benar oleh Nabi Muhammad saw. Ada metode ilmiah untuk menelusuri kebenaran suatu yang disebut hadits.

            Apakah benar orang yang mengatakan hal itu adalah ulama?

            Jangan-jangan dia cuma penyair puisi, pendongeng, sastrawan, pustakawan, atau hanya seorang demagog.

            Apakah benar para imam semisal Imam Syafei mengatakan hal seperti itu?

            Jangan-jangan hanya karangan orang iseng, lalu mengatakan bahwa itu adalah kata-kata Imam Syafei.

            Bagi orang seperti saya, hal yang paling mudah dilakukan adalah mengonfrontirnya dengan Al Quran. Al Quran adalah kitab yang dijaga Allah swt, tidak pernah salah. Seluruh ajaran Islam harus merujuk ke sumber itu, Al Quran. Jika ada hadits atau cuma pendapat ulama, tetapi bertentangan dengan Al Quran, pasti salah. Hadits atau pendapat itu harus gugur karena bertentangan dengan Al Quran. Sebaliknya, jika hadits atau pendapat ulama itu menjelaskan dan menguatkan ayat-ayat Al Quran, itu harus dipertimbangkan untuk diikuti dan diyakini kebenarannya.

            Setelah membaca dan mendengar tentang larangan berdebat, saya penasaran dengan kata-kata Allah swt tentang berdebat. Saya teringat kalimat yang disampaikan Allah swt dalam QS An Nahl, 16 : 125.

            “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Begitulah yang dikatakan Allah swt agar kita mematuhi-Nya. Dari ayat itu kita bisa memahami bahwa kewajiban kita itu adalah menyeru manusia pada kebenaran Ilahi dengan baik. Kemudian, jika mendapatkan penentangan, berdebatlah dengan cara yang baik. Artinya, boleh, bahkan harus berdebat, tetapi harus dengan cara yang baik.

            “…Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik….”

            Cara yang baik itu adalah berbahasa yang baik, memahami hal yang sedang diperdebatkan, memiliki ilmu yang cukup dan berwawasan yang luas, memiliki data dan fakta yang nyata, serta berniat untuk mendapatkan atau menemukan “kebenaran” dan bukan untuk mendapatkan “kemenangan dalam berdebat”.

            Kebenaran itu sumbernya adalah Allah swt (Al Quran) dan hadits (Muhammad saw). Semua harus disandarkan pada keduanya, bukan dari hawa nafsu pribadi ataupun hawa nafsu orang lain yang kita hormati.

            Kalau hanya ingin menang, kita bisa tersesat dan berada dalam kegelapan. Allah swt sangat tahu hal itu. Dalam setiap perdebatan, Allah swt hadir dan menyaksikannya. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dia tahu siapa yang lurus dan mendapat petunjuk serta siapa yang bengkok dan berada dalam kesesatan. Hal itu seperti yang dikatakan-Nya sendiri.

            “… Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

            Lalu, bagaimana jika dalam perdebatan itu tidak menemui hasilnya atau ujungnya?

            Bagaimana jika hanya menjadi debat kusir yang tidak berarti serta berhadapan dengan orang keras kepala dan bangga dengan kebodohannya?

            Kalau dirasa sudah maksimal menyerukan kebenaran, tetapi tetap tidak diterima dan malah mendapatkan makian-makian bodoh hingga bisa menyesatkan orang banyak, Allah swt memberikan lagi penjelasan dalam QS Al Araf, 7 : 199.

            “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

            Kata Allah swt, jadilah pemaaf dan tetap mengajak orang lain untuk melakukan pekerjaan baik sekaligus jangan pedulikan dan tinggalkanlah orang-orang bodoh yang keras kepala, merasa benar sendiri, bahkan bangga dengan kebodohannya. Allah swt akan membuat perhitungan kepada orang-orang seperti itu, bisa disadarkan Allah swt atau malah dibiarkan dalam kebodohannya. Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan Allah swt, kecuali Allah swt sendiri yang memberitahukannya kepada kita. Kita hanya bisa tetap menjadi cahaya bagi diri kita sendiri, keluarga kita, orang-orang terdekat dan tercinta kita, dan semua manusia. Kalau mereka tidak mau mendekati cahaya Ilahi, itu keputusan diri mereka sendiri. Kita berlepas tangan dari mereka karena kita sudah menyerukan kebenaran.

            Boleh berdebat, tetapi dengan cara yang baik. Tinggalkanlah perdebatan jika sudah tidak lagi kondusif dan biarkan orang lain dalam keinginannya sendiri. Allah swt akan memutuskan sendiri terhadap hal itu. Begitu kira-kira yang saya pahami dari QS An Nahl, 16 : 125 dan QS Al Araf, 7 : 199.

            Sampurasun.

Monday, 23 November 2020

Syarat Keberhasilan Perencanaan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perencanaan pembangunan untuk mencapai berbagai sasaran, tentunya diperlukan berbagai syarat pula. Berikut  syarat-syarat keberhasilan dalam suatu perencanaan menurut  Alam S. (2016):

            Pertama, adanya badan perencanaan. Badan ini mutlak diperlukan dan bertugas secara periodik membuat laporan kemajuan dan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan perencanaan.

            Kedua, adanya data statistik. Data statistik sangatlah diperlukan untuk diolah sebagai bahan dasar evaluasi perencanaan. Melalui data statistik ini, dapat diketahui apakah perencanaan masih berjalan dalam proses yang diharapkan atau malah berubah haluan dan berbelok dari awalnya.

            Ketiga, adanya mobilisasi sumber daya. Sumber daya yang digunakan untuk perencanaan perlu dimobilisasi dengan baik. Sebaiknya, sumber daya yang digunakan pertama kali adalah sumber daya yang berasal dari dalam negeri, misalnya, anggaran atau tabungan pemerintah. Apabila masih dirasakan kurang, pemerintah dapat menggunakan sumber daya yang berasal dari luar negeri.

            Keempat, memiliki tujuan. Tujuan haruslah ada dalam perencanaan pembangunan ekonomi. Hal ini bisa berupa target yang ingin dicapai. Tujuan dapat dibagi-bagi ke dalam tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

            Kelima, adanya penetapan sasaran dan prioritas. Sasaran secara makro dan proritas pembangunan harus dirumuskan dengan sangat jelas agar setiap tahapan dalam pembangunan dapat dilaksanakan secara tepat.

            Keenam, keseimbangan. Perencanaan yang baik haruslah memperhatikan keseimbangan dalam perekonomian. Hal itu seperti keseimbangan antara tabungan dan investasi, permintaan dan penawaran, termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga kerja.

            Demikian syarat-syarat yang diperlukan dalam keberhasilan suatu perencanaan.

            Sampurasun

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta