Sunday, 8 December 2024

Sesembahan Orang Sunda

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera sang Surya

Karena banyak orang yang sok tahu tentang Islam dan Sunda Wiwitan, lalu menyesatkan banyak orang dengan kata-kata mereka dan tulisan mereka, saya jadi memaksakan diri untuk memeriksa catatan saya sekitar tujuh atau sepuluh tahun lalu. Saya pernah membaca dan merekam beberapa naskah tentang Sunda Wiwitan. Saya pastikan orang yang mengatakan bahwa orang Sunda pada zaman dahulu adalah penyembah pohon, batu, gunung, jin, atau patung, orang itu sudah pasti bodoh, sok tahu, dan berbicara, berpendapat, atau menulis hanya berdasarkan dugaan atau sangkaan belaka, tanpa ilmu. Celakanya, dugaan atau sangkaan itu dianggap sebagai kebenaran yang menghasilkan pemahaman dan perilaku yang salah. Orang Sunda sesungguhnya dari dulu sampai hari ini menyembah hanya satu hal, tidak berubah. Dulu menyembah “itu”, sekarang pun tetap menyembah “itu”. Perhatikan kalimat dari Sunda Wiwitan berikut ini.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Nah, Zat itulah yang disembah orang Sunda dari dulu sampai hari ini, tidak berubah. Sesuatu dengan kriteria itulah yang disembah orang Sunda hingga detik ini.

            Sekarang paham?

            Jadi, berhenti mendengarkan orang-orang bodoh dan sok tahu yang tidak punya pengetahuan. Berhati-hati dalam berpendapat, beropini, atau berfatwa jika belum memahami dengan benar apa yang sedang dibicarakan.

            Sampurasun.

Wednesday, 4 December 2024

Saatnya Berhenti Membenci Gus Miftah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua sepakat bahwa apa yang dilakukan Gus Miftah kepada Sunhaji, pedagang es teh dari Magelang adalah keburukan meskipun disampaikan dengan cara bercanda, olok-olok yang niatnya hanya menyegarkan suasana. Sunhaji hanya dijadikan sebagai objek untuk menerangkan bahwa yang memberikan rezeki itu adalah Allah swt.

            Kesalahan yang dilakukan Gus Miftah mudah saja dilakukan oleh orang lain, terutama orang yang bekerja atau yang aktivitasnya banyak berbicara, seperti, saya yang punya ribuan murid, para guru, para dosen, para ustadz, mentor, pembina, trainer, dan lain sebagainya. Bisa saja kita pun pernah melukai orang lain dengan kata-kata, baik sengaja ataupun tidak, bercanda ataupun serius.

            Gus Miftah malah punya keuntungan besar karena ditegur Allah swt secara cepat melalui bulian, hujatan, dan makian rakyat Indonesia. Dengan demikian, dia bisa segera cepat memperbaiki diri. Tampaknya, Miftah pun memperbaiki dirinya. Dia meminta maaf secara langsung kepada Sunhaji, menjanjikannya umrah, dan menggelar pengajian di sekitar tempat tinggalnya. Di samping itu, Presiden RI Prabowo Subianto pun memberikan modal usaha buat Sunhaji karena Miftah sekarang adalah bagian dari dirinya, bagian dari istana yang ditugasi untuk mengurus hal-hal khusus yang berkaitan dengan kerukunan hidup umat beragama serta fasilitas beragama. Tambahan pula, banyak orang yang bersimpati kepada Sunhaji dan dengan dermawan memberikan banyak bantuan.

Sunhaji dan Miftah (Foto: ANTARA Jateng)

            Abah Miftah sudah mendapatkan banyak hukuman dari masyarakat selama berhari-hari. Saya pikir sudah cukup masyarakat memberikan peringatan kepadanya. Dia mungkin akan memperbaiki dirinya. Hal itu pun menjadi keuntungan bagi kita karena kita bisa belajar dari kesalahan dirinya dan tidak perlu melakukan hal yang serupa. Miftah sudah mulai membenahi dirinya. Kita masyarakat tidak perlu terus-menerus membulinya. Kalau kita terus-menerus membencinya, mungkin ada yang salah dalam diri kita. Bisa jadi hidup kita banyak masalah, banyak penderitaan, kekecewaan, dan kegagalan yang kemudian dilampiaskan dengan membuli, menghujat, dan memaki orang lain.

            Kemarahan kita akan menjadi pahala jika diniatkan untuk memperbaiki Miftah agar bisa menjadi gus yang lebih bermanfaat dan tidak berlebihan. Akan tetapi, kemarahan kita akan menjadi dosa dan membuat diri kita buruk jika hanya untuk mengumbar kebencian dan berlebihan.

            Mereka yang sangat marah kepada Miftah saya perhatikan sangat banyak dari para antihabib. Memang Miftah tampaknya masih berat untuk mengakui bahwa para habib bukanlah keturunan Nabi Muhammad saw. Dia masih membela habib meskipun tidak punya bukti karena katanya dirinya adalah murid dari Abah Luthfi atau yang dikenal Luthfi bin Yahya. Memang berat untuk mengakui bahwa kenyataannya gurunya yang dia hormati tidak tersambung nasabnya ke Nabi saw. Miftah punya masalah dengan dirinya soal hal itu.

Soal ejekan atau olokan kepada Sunhaji adalah hal yang berbeda dengan urusan nasab para habib. Olokan kepada Sunhaji adalah masalah adab, sedangkan soal nasab para habib yang justru kabarnya secara DNA tersambung ke Yahudi Israel adalah masalah ilmu pengetahuan. Jangan dihubung-hubungkan karena itu adalah dua persoalan yang berbeda.

 Gus Miftah sudah memperbaiki diri, tinggal kita juga sekarang harus menjaga diri.

Foto Sunhaji dan Miftah saya dapatkan dari ANTARA Jateng.

Sampurasun

Sunday, 1 December 2024

Siapa Bilang Islam Dikalahkan Sunda Wiwitan?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan mutlak Dedi Mulyadi dalam Pilkada 2024 Provinsi Jawa Barat lumayan meributkan media sosial. Ada yang bersuara menggunakan ilmu pengetahuan, ada juga yang bersuara menggunakan kebodohan.

            Dedi Mulyadi yang dipandang sebagai pemegang teguh ajaran Sunda Wiwitan dianggap telah mengalahkan Islam di Jawa Barat. Sungguh, saya pastikan orang yang berpendapat seperti adalah orang yang tidak memahami Islam dan sangat tidak memahami Sunda Wiwitan.

            Panjang sebenarnya kalau menulis hal ini, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Akan tetapi, sedikit saja saya jelaskan bahwa Sunda Wiwitan itu adalah sistem sosial yang digunakan leluhur Sunda dalam mengatur masyarakat, termasuk di dalamnya ada keyakinan yang monoteisme atau “bertuhan tunggal”. Oleh sebab itu, orang Sunda mudah sekali menerima Islam sebagai agama karena memiliki getaran yang sama dengan Sunda Wiwitan.

            Beberapa raja Sunda mencoba mengabadikan ajaran-ajaran Sunda Wiwitan dalam berbagai bentuk tulisan. Misalnya, sebagaimana yang direkam oleh “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

           “Dalam Agama Sunda Wiwitan, ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Itu satu kalimat dari Sunda Wiwitan yang pernah saya baca naskahnya. Kalau penasaran, nanti saya tambah lagi. Sayangnya, saya lupa menulis sumber naskahnya karena dulu saya kurang menganggap penting sumber tulisan, hanya mementingkan redaksinya. Insyaalah, kalau saya temukan sumbernya, saya share lagi.

            Pertanyaannya, adakah dari satu kalimat Sunda Wiwitan tadi yang bertentangan dengan ajaran Islam?

            Kalau ada, kasih tahu saya. Sangat senang saya mendiskusikannya. Kalau tidak ada, kalimat itu tidak bertentangan dengan Islam. Jadi, tidak benar Sunda Wiwitan mengalahkan Islam.

            Sampurasun.

Saturday, 30 November 2024

Ridwan Kamil Kalah Gara-Gara Habib?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang menganalisa kekalahan Ridwan Kamil-Suswono oleh Pramono Anung-Rano Karno disebabkan berbagai hal. Ada yang menyebutkan bahwa partai-partai pendukung Ridwan Kamil (RK) tidak solid dan terlalu sibuk untuk mengurus kemenangan di daerah lain; penolakan oleh pecinta Persija, Jakmania; kurang blusukan; mulai rapat dengan para habib.

            Saya merasa tertarik terhadap alasan kekalahan RK yang dikatakan mulai dekat dengan para habib, bahkan dikabarkan ada semacam kesepakatan di antara mereka. Sesungguhnya, untuk memahami hal ini diperlukan upaya survey yang jujur dan jernih sehingga mendapatkan simpulan yang juga lebih akurat. Harus ada observasi dan wawancara terhadap mereka yang meninggalkan RK, kemudian memilih yang lain.

            Apakah mereka meninggalkan RK karena para habib mulai merapat ke RK atau karena hal lain?

            Sekali lagi, itu perlu survey dan bukan ocehan-ocehan sok tahu.

            Meskipun demikian, memang ada hal menarik yang terjadi. Jauh sebelum Pilkada 27 November 2024, pasangan RK-Sus selalu berada di posisi puncak berada di atas pasangan Pram-Doel dalam survey-survey. Akan tetapi, sejak RK mulai hadir dalam majelis-majelis para habib Jakarta, angkanya menurun secara bertahap hingga kalah dalam versi hitung cepat.

            Beberapa akun media sosial menjelaskan bahwa mereka awalnya menyukai RK-Sus dan akan memilihnya, tetapi ketika para habib diterima dengan baik oleh RK untuk mendekat, mereka beralih hati, beralih pilihan. Mereka sangat tidak menyukai para habib dan melihat bahaya dari para habib, baik secara agama maupun secara sosial. Mereka memiliki simpulan kilat bahwa RK akan lebih mengukuhkan posisi para habib di masyarakat dan itu sangat tidak disukai banyak orang.

Kita harus maklum bahwa para habib ini sedang tidak disukai mayoritas rakyat Indonesia. Tandanya bisa kita lihat bahwa kegiatan-kegiatan para habib, seperti, 212, 411, dan lain sebagainya sudah sangat sepi peminat. Bahkan, Dedi Mulyadi pemenang Pilkada Jawa Barat mendapat dukungan mayoritas rakyat Jabar untuk menghentikan perilaku oknum para habib yang dianggap arogan dan mengganggu masyarakat.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan kedekatannya dengan para habib, sesungguhnya RK tidak salah, kesalahannya adalah RK menganggap bahwa seluruh rakyat memahami yang dia lakukan, padahal rakyat bisa punya pandangan yang berbeda. RK tidak menjelaskan sikap dirinya menghadiri undangan para habib dan menjelaskan kehadirannya di lingkungan para habib.

Sebagai seorang pemimpin, RK sudah benar. Pemimpin itu harus mengayomi, melindungi, membimbing, melayani, dan mengarahkan seluruh komunitas di dalam kehidupan rakyat. Para habib itu adalah bagian dari rakyat juga. Mereka juga harus diperlakukan sama seperti rakyat lainnya. Hak dan kewajiban para habib juga harus dijamin dan dilindungi sebagaimana rakyat kebanyakan. Tak boleh dipinggirkan sekaligus tidak boleh diistimewakan, biasa saja. Kalaulah para habib dipandang sebagai sebuah komunitas yang dianggap mengganggu, itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing para habib agar bisa berbaur dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta.

Meskipun sekarang ini banyak orang yang tidak menyukai para habib, tidak boleh berlebihan, jangan menyuarakan mereka untuk diusir ke Yaman misalnya. Para habib juga harus introspeksi diri karena terlalu membanggakan diri dan leluhurnya hingga menyakiti rakyat. Tidak semua habib sih, tetapi oknumnya banyak. Itulah kewajiban Ridwan Kamil untuk membimbing rakyatnya.

Kalaulah memang benar kekalahan RK disebabkan membuka diri kepada para habib, jelaskan saja bahwa pemimpin itu harus bertanggung jawab terhadap seluruh komunitas dalam rakyat. Ridwan Kamil memang tampaknya lupa menjelaskan hal ini kepada rakyat.

Sampurasun

Wednesday, 27 November 2024

Imad-Dedi Runtuhkan para Habib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sudah menjadi kenyataan dan tidak bisa ditolak bahwa Kiyai Imad telah meruntuhkan keyakinan atas silsilah atau nasab kaum Baalawi yang dianggap menyambung ke Nabi Muhammad saw. Imad dengan tesis ilmiahnya telah menyadarkan banyak sekali orang bahwa Baalawi yang dikenal dengan para habib itu ternyata sama sekali bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Hasil penelitian Imad itu tidak mendapatkan bantahan yang setara hingga hari ini. Tak ada tesis atau karya ilmiah yang mengalahkan penelitian Imad, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Para ulama dalam dan luar negeri tak memiliki data, fakta, dan analisis yang tepat untuk membantah Kiyai Imad. Penelitian Imad bagai “snow ball”, ‘bola salju’ yang asalnya kecil menggelinding terus hingga membesar. Hal-hal yang tersisa dari para habib itu hanyalah dongeng-dongeng kesaktian kosong, seperti, menurunkan rantai emas dari langit, bolak-balik 70 kali dalam semalam ke langit, dan mengirim surat ke malaikat Munkar-Nakir supaya tidak disiksa dalam kubur.

            Dedi Mulyadi lebih menjelaskan situasi bahwa para habib itu ternyata tidak ada apa-apanya secara politik, mereka tidak memiliki kekuatan yang hebat. Dedi berulang-ulang menyerang dan menantang mereka dalam berbagai pidato, bahkan semakin sering ketika dalam kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024. Dedi tidak takut kehilangan suara dari para pecinta habib. Dedi malah menyadarkan rakyat, khususnya Sunda agar bangga dan kembali pada ajaran leluhurnya yang memiliki nilai-nilai keadaban yang tinggi. Meskipun diserang sebagai musyrik, sesat, zalim, kafir, dan sebagainya, Dedi tetap ajeg pada keyakinannya. Dia menyadarkan rakyat agar jangan mau dijajah para pendatang yang membanggakan leluhurnya, lalu ingin dianggap mulia sehingga rakyat harus tunduk, bahkan memberikan hartanya untuk para pendatang itu. Berbagai hasil survey, exit poll, quick count, dan teknik lain dalam menghitung jumlah pemilih dalam Pilkada 2024 menunjukkan bahwa Dedi memuncaki kepercayaan rakyat Jawa Barat di atas 60%. Itu menjelaskan bahwa para habib itu tidak dipercayai rakyat mayoritas muslim Jawa Barat sebagai keturunan Nabi saw. Hal yang lebih menarik adalah Dedi membuat video reels yang menantang siapa pun untuk tidak memilih dirinya, tetapi jangan melarang dirinya untuk menyembah apa pun yang dia yakini. Uniknya, rakyat Jawa Barat ternyata memilih dirinya untuk memimpin Provinsi Jawa Barat.

            Hal-hal yang dilakukan Imad dan Dedi telah meruntuhkan para habib yang dulunya sangat ingin dipuja sebagai keturunan Nabi saw. Jawa Barat yang merupakan wilayah mayoritas para habib telah menunjukkan bahwa para habib itu sama sekali tidak mempengaruhi mereka. Kalaulah diancam kafir, sesat, hingga masuk neraka, rakyat tidak peduli. Rakyat memiliki keyakinannya sendiri. Para habib itu telah runtuh dengan penelitian Kiyai Imad dan perolehan suara Dedi Mulyadi dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024.

            Sampurasun

Saturday, 16 November 2024

Oleh-Oleh Debat Calon Gubernur Jabar 2024

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada dua oleh-oleh yang didapatkan setelah menghadiri undangan acara debat Cagub-Cawagub Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan pada 11 November 2024 bertempat di Graha Sanusi Hardjadinata, saya menyebutnya aula Unpad, Dipati Ukur. Itu memang aula universitas yang dulu saya sering menggunakannya ketika masih menjadi mahasiswa Unpad, mungkin juga saya akan menjadi mahasiswa Unpad lagi, insyaallah.

            Oleh-oleh yang pertama jelas biasa seperti kebanyakan orang, yaitu bingkisan yang isinya maskot Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, buku catatan bersampul kulit, dan gantungan kunci bermotif barcode KPU. Maskot KPU Jabar adalah “Bara”, yaitu harimau berloreng kuning. Ada dua bara, yaitu bara jantan dan bara betina. Bara jantan bernama “Sili”, sedangkan yang betina bernama “Wangi”. Jika digabungkan, maskot KPU Jawa Barat bernama “Siliwangi”, sebagai perlambang keberanian, keteguhan, dan kekuatan yang dipadu oleh ajaran “sili asih, sili asah, sili asuh”; saling menyayangi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing.


Oleh-oleh Debat Cagub-Cawagub Jawa Barat 2024


            Oleh-oleh yang kedua adalah sosok pemenang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Tentu saja, itu berdasarkan hasil analisa saya setelah hadir dalam perdebatan tersebut. Mereka yang berdebat adalah Paslon No. 1 Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwinatarina; No. 2 Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja; No. 3 Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie; No. 4 Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan.

            Dari perdebatan tersebut, saya menyaksikan seluruhnya orang-orang cerdas, punya banyak pengetahuan, tak ada yang bodoh. Di samping itu, semua punya banyak program dan cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Provinsi Jawa Barat.

            Kalau begitu, siapa pemenangnya?

            Karena semua cerdas dan punya program hebat, rakyat sulit mencari kelemahan daya pikir dan hasil pemikiran mereka. Rakyat tidak akan berlelah-lelah untuk memikirkan siapa yang paling cerdas dan hebat. Rakyat hanya akan melihat, merasakan, untuk selanjutnya memilih sosok yang paling dekat dengan rakyat. Calon gubernur yang sudah dekat dengan rakyat, dianggap telah memberikan manfaat kepada rakyat, terasa langsung kehadirannya oleh rakyat, sosok ini sudah ada secara otomatis dalam hati rakyat. Dialah pemenangnya.

            Sesungguhnya, seluruh pasangan calon memiliki rakyat pendukungnya. Seluruh calon sudah ada dalam hati rakyat. Persoalannya, jumlah pemilih di Jawa Barat ini ada sekitar 35 juta orang. Dari jumlah sebanyak itu, akan terbagi suaranya kepada setiap Paslon. Paslon yang paling sering berdekatan dengan rakyat itulah pemenangnya. Dia yang akan meraih suara terbesar dari 35 juta pemilih.

            Simpan tulisan saya ini. Lalu, buktikan pada hasil pemilihan 27 November 2024.

            Sampurasun.

Saturday, 9 November 2024

Ditinggal Prabowo Dua Minggu, Gibran Ditemani Sang Ayah Mengendalikan Negara

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sekitar dua minggu Presiden RI Prabowo melakukan berbagai kunjungan ke luar negeri. Selama itu pula Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menggantikan posisi Prabowo di dalam negeri sebagai pucuk pimpinan eksekutif. Begitu aturannya.

            Hal yang menarik adalah ketika Presiden Prabowo terbang ke luar negeri, Presiden ke-7 RI Jokowi segera merapat ke Jakarta dengan alasan ingin bermain dengan cucu di mall. Kita masih bisa mengingat bahwa Jokowi pernah mengatakan ingin tidur, istirahat di kediamannya di Solo. Akan tetapi, ketika anaknya, Gibran, ditinggalkan Prabowo untuk beberapa waktu menjalankan tugas negara, Jokowi tidak lantas istirahat di Solo. Dia ke Jakarta mendekat ke Gibran, anak sulungnya.

Jokowi bersama cucu-cucunya (Foto: detikcom)

            Foto Jokowi bermain di mall bersama Jan Ethes dan La Lembah Manah saya dapatkan dari detikcom.

            Seolah-olah Jokowi memonitor, menjaga, dan berada dekat untuk memberikan kekuatan, mem-back up Wakil Presiden dalam menjalankan tugas kepemerintahannya. Dia akan bersegera ada jika anaknya merasakan adanya kesulitan atau membutuhkan arahan dalam mengelola negara. Jokowi ingin memastikan bahwa anaknya tetap dalam koridor visi dan program Presiden Prabowo Subianto.

            Salahkah apa yang dilakukan Jokowi?

            Tak ada yang salah.

            Begitulah seorang ayah yang selalu berusaha memastikan kesuksesan dan kebaikan anaknya. Wajar jika seorang ayah selalu mempersiapkan dirinya untuk membantu anaknya. Wajar juga jika seorang anak mengalami kesulitan, mendekat dan meminta nasihat, bahkan bantuan ayahnya.

            Iya toh?

            Begitulah yang namanya keluarga.

            Saya juga begitu kok. Saya juga seorang ayah. Anak pertama saya sudah menjadi aparatur sipil negara (ASN) dan sudah bisa membiayai dirinya sendiri, bahkan membantu orang lain. Anak kedua saya baru lulus kuliah dan mencoba mendapatkan jalan untuk menapaki masa depannya. Saya tetap memonitor, menjaga, dan membantu mereka. Malah, saya kerap bertanya apakah mereka mengalami kesulitan agar saya bisa membantu mereka jika mereka ingin bantuan. Sampai hari ini juga begitu kok. Tak ada yang salah dengan itu semua.

            Seorang ayah wajar jika terus melindungi anaknya. Demikian pula seorang anak sangat wajar jika merasa letih mendekat kepada orangtuanya untuk mendapatkan kembali kekuatan. It’s oke, normal, malah bagus dalam menguatkan jalinan ikatan keluarga.

            Jokowi dan Gibran adalah ayah dan anak kandung. Bagus sekali jika mereka terus berhubungan saling menguatkan dan saling mengingatkan.

            Sampurasun.

Sunday, 27 October 2024

Dunia Berharap Jokowi Kendalikan Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada banyak media, akademisi, politisi, bahkan pejabat negara-negara asing yang menyoroti Presiden RI Prabowo Subianto, baik profilnya, kebijakan-kebijakannya, dan kemungkinan-kemungkinan gerakannya pada masa depan. Mereka, pihak asing, mengenal Prabowo sebagai orang yang sangat ambisius, tegas, garang, tangguh, mencintai rakyatnya, dan menjaga kedaulatan negaranya dengan harta dan nyawanya. Hal ini membuat mereka khawatir karena akan mempengaruhi hubungan antarnegara selama kepemimpinan Prabowo. Ada getaran ketakutan dari suara, pendapat, dan pandangan mereka terhadap Prabowo Subianto.

            Mereka memandang Prabowo belum memiliki kemampuan diplomasi yang baik dalam berhadapan dengan dunia yang akan berakibat Prabowo hanya mementingkan Negara Indonesia dan merugikan negara-negara yang ingin mendapatkan keuntungan dari Indonesia. Oleh sebab itu, ada harapan dari mereka bahwa Jokowi dapat memberikan “pencerahan” kepada Pabowo dalam berdiplomasi dengan dunia luar.


Prabowo & Jokowi (Foto: News)

            Ini sangat lucu sebenarnya. Mereka sendiri sudah sangat kesulitan menghadapi Jokowi yang berani menantang, bahkan “berkelahi” langsung dengan Uni Eropa. Program hilirisasi Jokowi sudah bisa membangkrutkan banyak negara yang selama ini mengambil kekayaan alam Indonesia dengan tidak adil. Akan tetapi, tiba-tiba mereka berharap Jokowi dapat mengendalikan Prabowo karena akan lebih kuat dan keras dalam berhubungan dengan dunia luar. Prabowo tidak akan membiarkan alam Indonesia terkuras hanya untuk menguntungkan negara lain tanpa rakyatnya mendapatkan keuntungan juga. Mereka memandang Jokowi masih “bisa diajak bicara” dalam arti tidak terlalu sangar.

            Mereka keliru sebenarnya. Jokowi memang mulai keras terhadap dunia luar agar rakyat Indonesia mendapatkan keuntungan dari setiap hubungan internasional, tetapi Prabowo akan lebih keras lagi dalam membela rakyatnya sendiri. Dunia harus menerima hal ini sebagai kenyataan. Rakyat Indonesia harus bersiap pula menghadapi reaksi asing akibat dari banyak kebijakan Prabowo Subianto. Ini memerlukan wawasan, pengetahuan yang luas, dan mental baja.

            Apapun yang terjadi, kenyataan menunjukkan bahwa kekuatan Prabowo yang didorong dukungan Jokowi akan membuat kekuatan baru di kancah pergaulan internasional. Rakyat Indonesia dan dunia luar harus mulai membiasakan diri dengan perubahan ini.

            Tidak harus bertarung dengan mereka karena membutuhkan biaya tinggi, sebaiknya bekerja sama dan menumbuhkan saling pengertian jauh lebih baik.

            Foto Jokowi dan Prabowo saya dapatkan dari News.

            Sampurasun.

Thursday, 5 September 2024

Imam Besar Istiqlal dan Pemimpin Gereja Katolik Dunia Saling Cium

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang surya

Seharusnya, tidak ada yang gerah atau kepanasan dengan peristiwa saling cium antara Imam Besar Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia sekaligus Kepala Negara Vatikan Paus Fransiskus. Itu adalah momen luar biasa yang menunjukkan persahabatan, perdamaian, dan persaudaraan. Tak perlu lagi ada rasa saling curiga atas dasar agama. Semua harus bekerja sama untuk kepentingan semua manusia di muka Bumi.

            Imam Besar Istiqlal mencium kepala Paus dua kali. Paus Fransiskus membalas mencium tangan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dua kali pula.




            
Sejarah manusia sudah berulang-ulang berdarah-darah dan menimbulkan banyak kerusakan serta kehilangan nyawa atas dasar perbedaan agama yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Setiap hari kita harus memperbaiki diri, kehidupan, serta hubungan di antara sesama manusia. Pada dasarnya kita semua berasal dari Zat Yang Satu, Allah swt. Perbedaan agama dan keyakinan adalah kenyataan yang harus kita terima. Soal siapa yang paling benar dan paling berhak mendapatkan surga, itu urusannya nanti di akhirat. Semua orang berhak meyakini kebenaran agamanya masing-masing, tak perlu memaksakan keyakinan kepada orang lain. Selama kita hidup di dunia ini dalam mempertahankan hubungan baik di antara manusia adalah toleransi, berbuat baik, dan memberikan manfaat kepada banyak orang sesuai kapasitas diri masing-masing. Soal praktik ritual, biarlah pemeluk agama masing-masing melakukannya karena pada dasarnya setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing.

            Selama kita hidup di dunia adalah teramat mulia kita menjaga kehidupan yang damai, harmonis, dan menyenangkan.

            Kedua foto itu saya dapatkan dari detik com.

            Sampurasun.