Saturday, 21 March 2020

Berita Gembira dari Cina


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Umat manusia boleh bergembira dengan mulai berhasilnya Cina dalam menanggulangi wabah virus corona. Sekitar sejak 3 atau 4 hari yang lalu, tak ada kejadian peningkatan jumlah orang yang terinfeksi virus corona. Berbagai media online memberitakan kejadian di Cina 0%.

            Kita tahu bahwa virus itu berasal dari Wuhan, Cina. Mereka sudah menderita lama dan berjuang mati-matian pula dengan segala upaya dan penelitian yang mereka lakukan. Akhirnya, mereka dinilai mampu mengatasinya. Beberapa hari yang lalu, mereka merayakannya dengan cara para tenaga medisnya berbaris tanpa jarak, seperti anak TK berbaris sambil membuka masker mereka satu per satu sebagai tanda keberhasilan dan rasa syukur mereka. Bertahap, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing. Asal virusnya dari negara mereka dan dari mereka pula dunia bisa belajar mengatasinya.

            Sementara itu, di Belanda, rakyat bertepuk tangan selama tiga menit pada malam hari untuk menghormati para tenaga medis di seluruh dunia yang telah berjuang keras untuk melawan keganasan virus tersebut.

            Perlu diketahui jumlah orang yang meninggal di Cina yang disebabkan positif Covid 19 diberitakan oleh berbagai media dengan jumlah berbeda, tetapi perbedaannya sangat kecil. Saya bisa membulatkannya sekitar 3.500 orang meninggal dan 70.500 orang sembuh.

            Sementara itu, di Indonesia menurut data per 21 Maret 2020, hanya 38 orang meninggal dan 20 orang sembuh. Keberhasilan Cina itu diharapkan dapat diadopsi Indonesia sehingga dapat menekan lebih kuat penyebaran virus tersebut. Lebih jauhnya, pasien dapat sembuh sehingga dapat terhindar dari kematian. Jumlah kasusnya pun semoga tidak mencapai puluhan ribu dengan ribuan kematian seperti di negara-negara lain. Kita berharap jumlah kasusnya tetap sedikit hingga hilang

            Indonesia pun ternyata bergerak sangat cepat. Pemerintah melalui kewenangan yang dimilikinya segera menyediakan obat yang dibeli dari luar negeri. Hal yang sama pun pemerintah melalui Menhan Prabowo Subianto segera memastikan membawa alat-alat medis dari Cina untuk mengatasi virus corona di Indonesia. Hal yang lebih menggembirakan adalah Cina pun akan membantu Indonesia semaksimal mungkin sebagaimana yang disampaikan oleh Duta Besar Cina di Indonesia. Menurutnya, Cina tidak akan pernah melupakan Indonesia yang telah membantu Cina saat awal virus corona mewabah. Indonesia telah mengirimkan jutaan masker dan alat-alat medis lainnya untuk Cina. Di samping itu, tentu saja Cina adalah mitra Indonesia yang baik.

            Keberhasilan Cina adalah contoh bagi umat manusia, tak terkecuali bagi Indonesia. Kerja sama dan saling menghormati adalah salah satu kunci utama keberhasilan menghadapi bencana.

            Kita mesti bersyukur, tenang, jangan ke luar rumah jika tidak penting-penting amat, tetap jaga diri, jangan membuat dan menyebarkan hoax, terus berdoa, tidak perlu mempolitisasi dan memperkeruh keadaan, mudah senyum, ramah, cukup istirahat, serta mengonsumsi makanan sehat.

            Sampurasun.

Pro-Kontra Social Distancing

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam mengatasi penyebaran virus corona, pemerintah dan lembaga-lembaga dunia menjalankan cara “social distancing”, ‘pembatasan interaksi masyarakat’. Hal ini ada dalam berbagai kampanye dan seruan-seruan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

            Dalam kenyataannya, praktik social distancing ini tidak diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jalanan masih tetap ramai, terminal tetap sibuk, pasar tetap beroperasi, bahkan terjadi saling mengunjungi di antara sanak saudara dan kerabat untuk mengisi waktu program 14 hari “aktivitas di dalam rumah”. Ini kenyataan. Orang-orang masih hilir mudik.

            Dalam pengamatan saya, ada beberapa penyebab dari hal seperti ini. Pertama, masyarakat melihat kenyataan yang berbeda antara yang ditayangkan di televisi, seruan pemerintah, serta kehebohan di Medsos. Masyarakat banyak yang menilai ternyata kenyataannya tidak seheboh yang di televisi, apalagi yang berseliweran di Medsos. Masyarakat menilai bahwa lingkungannya tenang-tenang saja, biasa-biasa saja. Ketika mereka keluar rumah, situasi tetap normal. Di masjid-masjid kampung jumatan dan shalat berjamaah tetap berjalan, kerja bakti jalan terus, warung-warung tetap berjualan malahan tetap menjadi tempat nongkrong penduduk. Masyarakat menilai kehebohan hanya terjadi di DKI Jakarta dan daerah sekitarnya, itu pun tidak di seluruh wilayahnya.

            Kedua, perlawanan terhadap hoax. Masyarakat sudah kesal dan marah oleh berbagai hoax yang mulai sangat dikenal selama kampanye Pilpres 2019. Ketika terjadi penyebaran virus corona pun, hoax sangat mengganggu masyarakat karena menebar ketakutan dan ketidakamanan. Masyarakat seolah-olah memperlihatkan diri bahwa dirinya sama sekali tidak terpengaruh hoax. Segala hoax itu tidak benar dan masyarakat menampilkan dirinya sebagai “penantang hoax” untuk mengalahkan hoax.

            Ketiga, politik. Isu corona yang seharusnya merupakan isu kesehatan dan kemanusiaan, telah dipolitisir oleh berbagai pihak untuk menjatuhkan pemerintah yang sah saat ini. Berbagai tudingan, ejekan, dan cacian diarahkan pada pemerintah yang sah dalam hal ini Presiden Jokowi. Banyak status atau komen-komen negatif yang menyuarakan agar Jokowi mundur karena dianggap tidak becus  menangani penyebaran virus serta tidak melakukan penanganan sesuai selera mereka yang anti-Jokowi. Apalagi Jokowi menyatakan tidak berpikir untuk melakukan “lockdown” karena cost-nya terlalu besar dan tidak diperlukan.

            Bahkan, ada postingan, “Semoga seluruh antek-antek Jokowi kena virus corona.”

            Luar biasa!

            Politisasi atas isu virus ini mudah sekali dibaca oleh para pendukung Jokowi. Mereka pun melawan politisasi ini dengan beraktivitas secara normal dan tidak menginginkan lockdown karena menurut mereka bisa menimbulkan efek buruk yang luar biasa besar, baik secara politik, sosial, maupun ekonomi.

            Paling tidak, itu yang saya bisa lihat dari tidak meratanya kepatuhan terhadap upaya social distancing yang terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, tak seorang pun yang tidak setuju atas pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus corona. Semuanya setuju. Perbedaannya hanya ada dalam pengalaman hidup yang berlainan, kekesalan dan kemarahan terhadap hoax, serta adanya pertarungan politik.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 March 2020

Menyikapi Fatwa MUI


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam berperan serta mencegah wabah virus corona/Covid 19, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait ibadat, terutama shalat Jumat. Fatwa ini pun segera mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat, ada yang pro ada yang kontra. Seru sekali di Medsos soal ini. Padahal, tidak ada yang perlu diperdebatkan.

            Jika kita baca lebih lengkap soal fatwa itu yang juga dijelaskan oleh MUI berulang-ulang, fatwa itu baik sekali. Dalam fatwa itu jelas bahwa MUI melarang umat Islam untuk melaksanakan ibadat yang sifatnya masal di tempat umum jika wilayah itu termasuk wilayah yang memiliki tingkat penyebaran virus corona yang tinggi. Akan tetapi, MUI tetap mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan ibadat shalat Jumat di wilayah yang tingkat penyebaran virus corona rendah, terkendali, bahkan tidak ada sama sekali. Sesederhana itu saya melihatnya.

            Sekarang, tinggal lihat saja apakah wilayah tempat kita akan melaksanakan shalat Jumat itu tergolong tinggi, rendah, terkendali, atau tidak ada sama sekali terkait penyebaran virus corona.

            Dari mana kita tahu data tentang tinggi, rendah, terkendali, atau tidak ada sama sekali itu?

            Dari data pemerintah yang resmi dong. Bukan dari status Medsos abal-abal yang gemar ber-hoax ria.

            Kalau di tempat yang tidak ada penyebaran virus corona atau rendah atau terkendali, kita tidak shalat Jumat di masjid, itu namanya “lebay”, “latah”. Itu salah, bisa dosa malah.

            Sebaliknya, kalau di tempat  yang penyebaran virusnya tinggi, kita memaksakan melaksanakan ibadat secara masal, itu namanya “abai”, malah mungkin akan dibilang orang sebagai aksi “bunuh diri”.

            Kita lihat saja tempat kita tinggal atau melaksanakan ibadat, apakah penyebaran virusnya tinggi, rendah, terkendali, atau tidak ada sama sekali?

            Sesederhana itu saya melihatnya.

            Jangan ribut atau berdebat, … yuk kita santai … kata Bang Haji juga.

            Sampurasun.

Monday, 16 March 2020

Angka Kesembuhan Lebih Tinggi Dibandingkan Angka Kematian


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Terkait virus corona yang banyak dibicarakan orang itu, saya menganggap terlalu banyak berita yang menakutkan, bahkan berlebihan hingga ke tingkat hoax. Benar virus itu ada dan menyerang umat manusia, tetapi berita yang tersebar terlalu horor. Padahal, angka kesembuhan dari serangan virus itu jauh lebih tinggi dibandingkan angka kematiannya.

            Mengapa kita tidak banyak menyebar berita gembira dengan berbagai keberhasilan kesembuhan itu?

            Mengapa kita lebih suka dengan berita-berita horor itu yang bisa saja mengandung dusta karena tidak bersumber dari sumber yang jelas dan bisa dipercaya?

            Sudah saya katakan bahwa tidak kurang dari 123 kasus kebohongan tentang corona yang ditangani polisi dan orang-orangnya sudah ditangkap. Kita tidak perlu menjadi orang yang kesekian ditangkap polisi karena kebohongan semacam itu. Di samping bisa menyesatkan diri sendiri, juga menyesatkan orang lain. Hal yang paling penting diingat adalah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita posting di Medsos kita di akhirat kelak oleh Allah swt.

            Kalau ada yang bilang di Indonesia kasusnya sudah mencapai 1,5 juta orang, tanyakan dari mana muncul angka itu? Dari mana sumbernya? Siapa yang menulisnya? Apa keahliannya?

            Dari data yang saya perhatikan, pada databoks.katadata.co.id satu hari yang lalu disebutkan bahwa kasus corona secara global adalah 159.625. Angka kematiannya hanya 5.960 orang. Adapun kesembuhannya mencapai angka 75.956 orang.

            Di Indonesia sendiri kasus corona hanya 134 orang. Angka kematian hanya 5 orang, sedangkan pasien yang sembuh 8 orang. Masih lebih banyak yang sembuh dibandingkan yang meninggal. Hal ini diberitakan oleh “detiknews” sepuluh jam lalu.

            Kita memang benar harus menghadapi virus tersebut dengan sekuat tenaga, tetapi juga harus menebar semangat dan harapan agar kita bisa terlepas dari ancaman virus tersebut.

            Orang Cina punya teriakan, “Wuhan Jia You!”

            ‘Wuhan, Semangat!’, teriakan mereka ketika olimpiade yang kembali digunakan ketika Wuhan diisolasi. Mereka pun kini berangsur pulih.

            Kita punya teriakan, “In do ne sia !”

            Teriakan kita ketika berada di pertandingan-pertandingan olah raga internasional.

            Kini saatnya kita saling menguatkan, memberikan harapan, menabur doa, membakar semangat kesembuhan, sekaligus menekan dan menghentikan penyebaran ancaman dan ketakutan yang berlebihan.

`           Sampurasun.

Ini Hari


oleh Tom Finaldin

Hari ini adalah mulai diberlakukannya peraturan-peraturan terkait pencegahan virus corona di lingkungan pendidikan. Berbagai tingkatan pendidikan tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan pendidikan, termasuk mengerahkan massa dan rapat-rapat.

            Sejak pagi sudah ada keanehan. Anak saya yang masih SD pergi bersekolah dengan menggunakan masker. Katanya disuruh gurunya lewat WA. Padahal, kan sudah dilarang melaksanakan pendidikan.

            Di seputaran Banjaran ada lagi keanehan, anak-anak berseragam sekolah SMP, mungkin juga SMA tampak di pinggir jalan. Saya segera menduga anak-anak ini tidak memberitahukan kepada orangtuanya bahwa seharusnya mereka di rumah. Mereka cuma modus pergi sekolah hanya untuk mendapatkan uang saku. Kalau tidak sekolah, mereka nggak punya uang. Di samping itu, ada anak-anak usia sekolah bergerombol berjalan. Mereka tidak menggunakan seragam, tetapi menuju tanah lapang untuk sepak bola.

            Setiba di SMP-MA Mawaddi, Banjaran, sekolahan sepi, beberapa guru berada di kantor. Saya membaca beberapa lembar bacaan di sana, lalu pergi lagi.

            Di perjalanan semua tampak biasa saja, tak ada bedanya. Terminal tetap ramai, pasar apalagi, kemacetan pun sudah biasa. Tidak ada pengurangan aktivitas. Tak ada yang menggunakan masker. Ada sih, tetapi masker yang bukan standar, warna-warni, gaya.

            Apa kabar “Stay at Home”?

            Masyarakat sepertinya tahu itu, tetapi cuek saja.

            Sesampainya di Fisip, Universitas Al-Ghifari, masih banyak mahasiswa yang di sana. Mungkin mereka baru tahu bahwa seharusnya mereka berada di rumah dan mengerjakan UTS di rumah masing-masing. Akan tetapi, hingga sore mahasiswa masih ada, pada ngobrol, nongkrong, sebagian beres-beres berkas ujian.

            Saya tanya mereka, “Nggak cepet pulang? Nggak takut corona?”

            Mereka cuma ketawa-ketawa kecil dikiranya saya bercanda. Padahal, cuma mencoba akrab.

            Beberapa menggunakan masker standar, tetapi ada yang hanya mulutnya ditutup masker, hidungnya tidak. Selebihnya, seperti biasa saja, tidak bermasker.

            Agak kaget ketika saya mendengar ada sekelompok, seorang dari mereka yang bilang ke teman-temannya, “Jangan lupa ya, besok kita ke sini lagi.”

            What?

            Apa kabar “Stay at Home”?

            Tidak mungkin juga saya mengusir mereka, apalagi dengan bahasa kasar. Saya tidak tahu besok lusa dan besok-besoknya lagi, apakah menjadi lebih sepi atau tambah ramai.

            Orang Indonesia itu memang seperti itu. Dari dulu juga seperti itu. Ketika ada virus flu burung, flu babi, anthraks, atau sars, bahkan HIV, sepertinya “hare-hare”, cuek saja. Berbeda dengan orang Amerika Serikat. Ketika beberapa tahun lalu awal dikenal virus flu burung, Kota New York sepi bagai Kota Hantu selama tiga hari. Penduduknya kabur dari New York ke kota-kota lain.

            Orang Indonesia memang seperti itu. Perlu pendekatan sosial lain dalam menyosialisasikan hal-hal seperti pencegahan penyebaran virus. Mungkin juga mereka sudah “bête” dengan berita corona yang dibumbui banyak sekali hoax. Saya sendiri mencatat dari berita televisi, tidak kurang dari 123 kasus hoax tentang corona yang ditangkap dan ditangani polisi.

            Orang Indonesia itu berbeda dengan bangsa lain, maka cara sosialisasinya pun harus berbeda. Cara bangsa lain belum tentu ampuh untuk bangsa Indonesia, begitu juga sebaliknya.

            Bukankah manusia itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa?

            Pastinya ada banyak perbedaan yang memerlukan cara berbeda pula dalam menanganinya.

            Sampurasun.

Sunday, 23 February 2020

Jangan Terlalu Bangga Disebut Negara Maju


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Indonesia adalah negara maju. Untuk mereka yang mencintai Negara Indonesia, bisa tiba-tiba tersentak bangga dengan predikat sebagai negara maju, tetapi rasa bangga itu seketika tertahan jika merasakan kondisi hidupnya sehari-hari dan atau melihat keadaan ekonomi sekitarnya.

            Benarkah kita, Indonesia, sudah menjadi negara maju?

            Pernyataan Presiden AS tersebut harus diteliti lagi maksudnya. Sebagai negara mayoritas muslim, kita harus ingat bahwa proses tabayun, cek en ricek, wajib dilakukan jika mendapatkan berita apapun, baik itu berita baik maupun berita buruk.

            Dari beberapa sumber yang saya pelajari, kita wajar kecewa dengan disebut sebagai negara maju dan dikeluarkan dari daftar negara miskin atau negara berkembang. Hal itu disebabkan AS tidak akan lagi memberikan subsidi atau bantuan terhadap Indonesia dalam mengekspor barang-barang Indonesia untuk diimpor oleh AS. Salah satunya, akan ada kenaikan tarif bea masuk bagi barang-barang Indonesia yang diimpor AS.

            AS memang memiliki undang-undang untuk melindungi negara-negara miskin atau berkembang agar terlepas dari kemiskinan. Negara Donald Trump itu memberikan tarif bea masuk rendah bagi negara-negara yang dianggap masih miskin atau berkembang agar negara-negara itu bisa maju. Dengan dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara berkembang yang berarti menjadi negara maju, tarif bea masuk akan tinggi. Hal itu akan memukul para pengusaha Indonesia yang mengekspor barang ke AS. Dengan tarif bea masuk tinggi, harga-harga barang Indonesia di AS akan menjadi semakin mahal dan itu dikhawatirkan semakin mengurangi daya saing produk Indonesia di AS. Padahal, saat ini nilai hubungan dagang Indonesia-AS telah membuat neraca perdagangan Indonesia surplus. Artinya, Indonesia untung besar. Dengan kenaikan tarif, bisa saja keuntungan perdagangan itu menurun dan terus turun.

            Meskipun demikian, Indonesia tidak perlu terlalu risau, hadapi saja kenyataan yang ada dengan kerja keras dan doa agar produk Indonesia semakin berkualitas dan semakin beragam sehingga kenaikan tarif bea masuk yang diterapkan AS tidak mengganggu kenaikan keuntungan perdagangan AS-Indonesia. Hal yang patut diingat, kita harus sama-sama bergotong royong. Kalau belum bisa gotong royong dan menyumbangkan diri untuk negara, minimal jangan bikin huru-hara. Hal itu disebabkan jika negara maju, kita pun ikut maju, kecuali kalau kitanya malas dan tidak memanfaatkan kesempatan yang ada.

            Jadi, jangan terlalu bangga jika disebut negara maju. Saya melihatnya itu hanya upaya Amerika Serikat untuk tidak lagi membantu Indonesia sebagai negara berkembang. AS tampaknya sedang membutuhkan uang sehingga tidak ingin lagi memberikan subsidi bagi Indonesia.

            Bagi saya, Indonesia belum maju dan masih termasuk negara berkembang. Hal itu disebabkan saya masih percaya pada teori dari Rektor Universitas Al-Ghifari Prof. Dr. Didin Muhafidin bahwa negara maju itu hidup dari otaknya, sedangkan negara berkembang hidup dari sumber daya alamnya. Oleh sebab itu, Bank Dunia tidak memasukkan Arab Saudi atau negara-negara Timur Tengah sebagai negara maju meskipun punya banyak uang dan disebut Negara Petrodollar. Hal itu disebabkan Arab Saudi dan Timur Tengah sama dengan Indonesia yang hidup bukan dari otaknya, melainkan mengandalkan hidup dari sumber daya alamnya. Indonesia masih belum maju, masih berkembang.

            Meskipun demikian, tidak perlu berkecil hati karena Indonesia pun sekarang sudah menjadi negara ranking ke-7 di dunia dalam hal ekonomi. Sayangnya, kebesaran ekonomi Indonesia jika dibagi jumlah penduduk yang sebanyak 267 juta, pendapatan perkapitanya menjadi peringkat 97 di dunia. Tidak apalah karena itu juga sudah menunjukkan adanya peningkatan dari setiap periode kepemimpinan Indonesia.

            Jangan bergantung pada orang lain, kerja keras adalah paling utama.

            Kata Presiden Soekarno, “Bukanlah kemerdekaan namanya jika rakyat Indonesia masih belum sejahtera.”

            Kesejahteraan itu hanya bisa dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah dengan rakyat. Oleh sebab itu jangan gemar ribut. Kalau ada masalah besar, kita kecilkan. Kalau ada masalah kecil, kita hilangkan. Jangan meributkan hal-hal yang tidak perlu.

            Sampurasun.

Saturday, 22 February 2020

Salam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Salam mengandung doa dan harapan. Salam apa pun dalam bahasa apa pun sepanjang untuk kebaikan, ada doa dan harapan di dalamnya.

            Dalam masa perjuangan Indonesia ada salam revolusi, “Merdeka!”

            Di dalamnya ada doa dan harapan agar kita dibebaskan dari penjajahan asing sekaligus tetap semangat untuk mandiri. Salam ini sampai sekarang tetap digunakan, terutama di kalangan veteran perang dan para nasionalis.

            Dalam kegiatan Pramuka ada, “Salam Pramuka!”

            Itu juga doa dan harapan agar para Pramuka tetap bersatu dan bersemangat sekaligus mengingatkan setiap anggota Pramuka untuk mengamalkan Dasadarma, Trisatya, dan ajaran lainnya dalam kepramukaan.

            Mario Teguh selalu mengatakan, “Salam Super!”

            Salam itu di dalamnya ada doa dan harapan agar para audiens menjadi orang-orang super yang tahan banting dan bijak dalam menghadapi hidup.

            Motivator-motivator lain juga sering menggunakan salam dengan kalimatnya sendiri untuk memberi semangat dan mengingatkan para pendengarnya sesuai dengan tujuan materi training yang dibawakannya.

            Saya sendiri rencananya melaksanakan progam berbahasa Inggris one day in a week, ‘sehari dalam seminggu’ buat mahasiswa “Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Al-Ghifari”. Saya wajibkan kami berbahasa Inggris setiap Kamis. Tidak masalah jika kemampuan berbahasa Inggris masih rendah, yang penting Pede aja dulu berbahasa Inggris.

            Ketika masuk kelas di semester berapa saja, saya akan ucapkan salam, “Hello, diplomats!”

            “Halo para diplomat!”

            Salam itu pun doa, harapan, pengingat, sekaligus penyemangat agar para mahasiswa bangga dan semangat bahwa dirinya selalu bersemangat kuliah dan mudah-mudahan dipercaya Allah swt untuk mampu berdiplomasi dalam menjaga serta mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya untuk Negara Indonesia ketika berhadapan dengan negara luar di meja-meja perundingan.

            Soal salam “Assalaamualaikum”, tanya para Ustadz. Mereka lebih paham.

            Sekarang “Salam Pancasila”. Di dalamnya pun ada doa dan harapan agar bangsa Indonesia tetap bersatu, harmonis, tidak bercerai-berai, dan terhindar dari paham-paham radikal.

            Semua salam dalam bahasa apa pun, insyaallah berpahala, asal untuk tujuan baik. Allah swt memberikan manusia beragam bahasa untuk berkomunikasi, tidak perlu selalu harus berbahasa Arab untuk mendapatkan pahala.

            “Mahasuci Engkau ya Allah, ampuni aku, lindungi aku, sejahterakan aku,” kalimat ini pun berpahala meskipun menggunakan bahasa Indonesia.

            Terus, bagaimana jika kita jatuh cinta dan mengucapkan “salam sayang, salam kangen, salam rindu, salam cinta?”

            Salam itu mah pikirin aja sendiri.

            Sampurasun.

Wednesday, 12 February 2020

Apa Kabar Dajjal?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera sang Surya
Dajjal adalah tokoh yang dipercaya datang pada akhir zaman menjelang kiamat. Dia datang dengan membawa kemunafikan, kedustaan, kejahatan, kemunkaran, kekejian, dan berbagai kerusakan di muka Bumi.

            Sudahlah, saya nggak mau serius ngomongin Dajjal. Saya hanya pengen ketawa saja kalau ada yang ngomongin Dajjal tanpa dasar dan tanpa sumber yang jelas. Banyak sekali yang berbicara atau menulis tentang Dajjal dengan bertentangan dan ngawur. Saya tulis beberapa yang ngawur itu.

            Beberapa waktu lalu, saat terjadi gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada grup-grup WhatsApp (WA) beredar postingan bahwa gempa di Palu adalah disebabkan “Jokowi sedang membangunkan Dajjal”. Maklum, saat itu lagi ramai-ramainya menjelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Jokowi adalah calon presiden yang kini sudah terpilih kembali menjadi presiden.

            Luar biasa sekali Jokowi kenal dengan Dajjal, tokoh dunia yang katanya disebut-sebut para nabi, bahkan bisa membangunkannya. Selain itu, berarti Dajjal adalah orang Palu. Dia tidur di Indonesia. Luar biasa. Sayangnya, banyak orang yang percaya, bahkan postingan itu di-share, ‘disebarluaskan’ ke grup-grup WA lainnya. Luar biasa.

            Dua bulan sejak gempa di Palu, Indonesia, terjadi gempa di Iran. Lalu, banyak tulisan di Medsos bahwa gempa di Iran itu terjadi disebabkan Dajjal sedang berupaya bangun dari tidur panjangnya untuk membuat kerusakan di Bumi. Luar biasa.

            Jadi, Dajjal itu orang Palu, Indonesia, atau orang Iran?

            Lagian dia itu tidur melulu. Setiap bangun, gempa. Setiap menguap, timbul angin topan. Ngaco.

            Subuh hari ini, saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu jamaah pengajian tertentu, “Kang, benarkah Raja Arab sudah membangun sebuah tempat untuk kedatangan Dajjal?”

            “Kata siapa?” saya balik bertanya.

            “Kata Ustadz itu,” dia lalu memberitahukan lokasi rumah ustadz yang dimaksudkannya.

            “Bohong!” tegas saya.

            “Iya yah, kan Dajjal itu jahat, tapi kenapa Raja Arab membuatkan tempat untuk kedatangannya?” Si Ibu itu bingung.

            “Ibu bertanya nggak sama ustadz itu tentang alasan Raja Arab membangun tempat untuk Dajjal?”

            “Bertanya.”

            “Apa jawabannya?”

            “Ustadz itu bilang, ‘yaa, begitulah’,” jawab Si Ibu.

            Luar biasa. Kisah itu luar biasa.

            Saya tegaskan, ustadz itu berdusta karena hanya berceritera tanpa menjelaskan sumber kisahnya.  Dia pun tidak menerangkan alasan Raja Arab membuat tempat untuk kedatangan Dajjal. Di samping itu, belum lama ini saya baru pulang umroh dan tidak mendapatkan informasi atau melihat ada tempat itu di Arab. Kalau memang ada, mungkin para pembimbing umroh atau haji akan mengajak para jamaahnya ke tempat itu. Bahkan, mungkin para wartawan dari seluruh dunia sudah menyiarkan berita luar biasa itu ke seluruh dunia.

            Mengapa hanya Sang Ustadz yang tahu, sedangkan orang lain tidak tahu?

            Dia tahu dari mana?

            Luar biasa, Ustadz.

            Sampurasun.

Tuesday, 4 February 2020

Soal Virus Corona di Natuna, Clear


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan saya yang lalu menegaskan bahwa memang sebagian masyarakat Natuna beserta pemerintah daerah dan tokoh masyarakatnya menolak kehadiran warga Negara Indonesia yang pulang atau dipulangkan dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina untuk diobservasi di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Penolakan tersebut diakibatkan oleh hoax tentang virus corona yang merajalela, kurangnya upaya masyarakat mencari informasi yang akurat dan benar, serta minimnya koordinasi dari pemerintah pusat pada pemerintah daerah.

            Dijadikannya Natuna sebagai lokasi observasi tanpa koordinasi yang maksimal mengakibatkan masyarakat Natuna ketakutan sekaligus marah. Mereka takut menjadi tempat tersebarnya virus corona di Indonesia. Mereka marah karena curiga seolah-olah tempatnya “dikorbankan” sehingga merasa diri tidak dipentingkan dibandingkan warga lain di Indonesia ini.

            Akan tetapi, persoalan mulai mencair ketika terjadi komunikasi yang lebih jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tujuh orang perwakilan dari Natuna berkomunikasi langsung dengan pemerintah pusat di Jakarta. Dengan adanya komunikasi yang baik, penjelasan yang lengkap, pemahaman yang jelas, semuanya bisa selesai. Meskipun rasa takut dan marah itu tidak segera menghilang karena perlu waktu, semuanya berangsur-angsur membaik.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah kenegarawanan pemerintah pusat yang mengakui dengan sempurna bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena tidak melakukan koordinasi yang sempurna terhadap pemerintah daerah Kabupaten Natuna. Pengakuan diri telah melakukan kesalahan itu adalah sangat baik dibandingkan tidak mengakuinya. Sulit mengakui diri salah ketika berada di posisi atas dan berkuasa, tetapi mereka mengakuinya. Itu adalah hal yang teramat mulia sehingga kesalahan itu tidak boleh diulang lagi pada masa depan.

            Di samping itu, bantahan dari Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti terhadap pernyataan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tentang jarak antara hanggar (garasi pesawat) dengan pemukiman penduduk, tidak mendapatkan penyangkalan. Sebelumnya, Hadi mengatakan jaraknya adalah 5-6 km, tetapi Ngesti membantahnya dengan menjelaskan jaraknya hanya 1,2 km.  Itu juga baik karena polemik berhenti sampai di situ. Meskipun demikian, jarak 1,2 km itu sudah sangat jauh karena menurut Satgas Pencegahan Virus Corona, virus itu hanya bisa menular jika Si Sakit batuk di dekat orang sehat dalam jarak 1 hingga 1,8 meter. Tidak mungkin ada orang batuk sejauh 1 km. Virus corona pun tidak bisa hidup di udara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Indonesia memang diuntungkan secara iklim. Akan tetapi, kita tetap harus waspada.

            Kini warga Natuna bisa lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat. Sebaiknya, kita semua berharap dan berdoa agar warga Negara Indonesia yang diobservasi di Natuna dapat segera benar-benar pulih dan kembali kepada keluarganya dengan baik.

            Sampurasun.