Monday, 24 April 2023

Takbir Menyenangkan Mendunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalimat takbir itu adalah “Allahu Akbar”, ‘Allah Mahabesar’. Ada takbir mengesalkan, membuat marah, ada juga takbir yang menyenangkan dan menarik hati.

            Kalimat takbir ini sudah mendunia sejak lama. Banyak orang yang tahu dan hapal, baik orang Islam maupun nonmuslim, baik pendukung Islam maupun anti-Islam.

            Pada puluhan tahun lalu, pasca-keruntuhan Ottoman, takbir ini terkesan mengesalkan, membuat marah, dan mengerikan. Hal ini disebabkan kalimat takbir ini selalu digunakan untuk berperang dan semangat membunuh manusia, padahal dunia sudah berubah. Kekuasaan menjadi lebih tersebar, tidak lagi di tangan satu atau dua penguasa, seperti, kekhalifahan, kekaisaran Romawi, atau Mongolia. Hal ini terus berlanjut hingga tahun-tahun belakangan ini, terutama takbir digunakan oleh para teroris, semacam Isis, Al Qaeda, FSA, Boko Haram, dan lain sebagainya, serta gerakan-gerakan pengacau masyarakat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri Indonesia. Penggunaan takbir semacam ini membuat Islam dan kaum muslimin dibuli oleh para anti-Islam sebagai agama pengacau dan terbelakang. Bahkan, beberapa pengamat, habib, gus, dan kiyai mensinyalir bahwa orang-orang yang kerap bertakbir keras-keras tanpa tujuan yang benar, perilakunya kasar dan menyebabkan banyak kaum muslimin murtad karena merasa terintimidasi dan terkekang dalam menjalankan agamanya.

            Sekarang, situasinya mulai berubah, terbalik. Banyak orang yang menyukai takbir, baik muslim maupun nonmuslim. Ramadhan tahun ini telah menggerakkan para santri, aktivis muslim yang menjadi youtuber atau influencer Indonesia membuat konten-konten kreatif dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia. Mereka mengupload kegiatan dan kreativitas mereka dalam media sosial dengan lagu-lagu rohani yang menghentak dan menyenangkan; kehidupan keluarga yang saling menghormati; budaya sahur, ngabuburit, takjil, buka bersama (iftar), tarawih, hingga hal-hal lucu selama Ramadhan; kebersatuan para pejabat dan masyarakat. Hal ini membuat penduduk dunia ingin tahu Indonesia dengan lebih baik, termasuk pelaksanaan ajaran Islam di Indonesia. Perhatian mereka mulai teralihkan yang biasanya Islam itu identik dengan Arab dan Timur Tengah, kini perhatian mereka mulai terfokus pada Indonesia. Bahkan, orang-orang Timur Tengah pun terheran-heran dan tertarik dengan kehidupan kaum muslimin di Indonesia.

            Selama Ramadhan ini, banyak orang dari berbagai negara yang datang ke Indonesia hanya untuk merasakan atmosfir, getaran, resonansi, atau sensasi menjalankan ibadat shaum dan idul fitri di Indonesia. Ini terjadi bukan hanya pada orang-orang Islam, melainkan pula nonmuslim. Bagi orang Indonesia, aktivitas Ramadhan seperti ini sudah biasa dan memang biasanya begitu. Akan tetapi, bagi orang-orang dari Timur Tengah, Eropa, dan Asia lainnya merupakan hal yang baru. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa di negara mereka “kehilangan” momen-momen menyenangkan seperti di Indonesia.

            Hal ini membuat saya bertanya-tanya, memangnya Ramadhan di negara mereka suasananya bagaimana?

            Sepanjang yang dapat saya ingat, orang-orang asing yang berdatangan ke Indonesia sepanjang Ramadhan ini berasal dari Malaysia, Pakistan, Kanada, Italia, Amerika Serikat, Belanda, Rusia, Inggris, Perancis, Cekoslowakia, Iran, Palestina, Australia, Korea Selatan, Cina, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Mereka bukan hanya muslim, melainkan pula nonmuslim. Mereka ikutan membangunkan sahur sambil bernyanyi, mencoba berpuasa, ikutan shalat, berburu takjil, ikut shalawatan, takbiran keliling, ngabuburit, dan lain sebagainya. Orang-orang Islam Indonesia pun tidak mempermasalahkan agama mereka apa, sama-sama saja bergembira. Hal ini bisa dilihat dari chanel-chanel youtube dan instagram mereka. Coba saja cek sendiri.

            Orang-orang nonmuslim dari berbagai negara pun ikut mengucapkan takbir karena mereka merasa senang. Hal ini membuat saya semakin mengerti bahwa para wali di Indonesia itu orang-orang cerdas menggunakan seni dan syair-syair yang menyenangkan untuk mendakwahkan Islam. Orang-orang asing tak lagi memandang bahwa takbir adalah teriakan untuk perang dan membunuh, tetapi untuk mengagungkan Tuhan dan mempererat hubungan di antara manusia.

            Takbir memang bisa digunakan untuk berperang agar mengukuhkan tauhid, menambah semangat, dan menggetarkan musuh. Akan tetapi, itu jika kita sedang terlibat perang.

            Kalau tidak sedang berperang, tidak perlu bertakbir untuk menakuti orang, iya kan?

            Bertakbirlah untuk hal-hal yang menyenangkan sehingga orang lain pun ikut senang.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2023

Kalau Pake Pikiran Bahar, Cucu Nabi Muhammad saw Itu Tidak Ada

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingatkan tulisan saya yang lalu, Bahar bin Smith mengatakan bahwa keturunan wali songo itu tidak ada? Kalaupun ada, itu dari pihak perempuan yang artinya terputus?

            Ucapannya itu jelas menimbulkan kemarahan keturunan para wali di Indonesia. Mereka yang biasanya tenang dan adem bersama masyarakat, tiba-tiba marah dan menunjukkan berbagai bukti bahwa mereka adalah keturunan wali songo dan tidak terputus hanya karena berasal dari pihak ibu atau perempuan. Ada yang mengajak Bahar berkelahi, tes DNA, bahkan memakinya sebagai keturunan Nabi palsu. Jika keributan ini tidak berhenti, Bahar bisa masuk penjara lagi untuk yang ketiga kalinya setelah menganiaya bocah santri dan isi ceramahnya yang mengganggu banyak orang. Dia nggak kapok-kapok kayaknya, malah banyak yang meminta Bahar supaya dites kejiwaannya. Paling tidak, penjaga keturunan Kesultanan Banten sudah mulai berniat untuk membawanya ke ranah hukum.

            Meskipun demikian, ada sisi positifnya celoteh Bahar ini, yaitu mendorong terbukanya penelitian mengenai nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad saw di Indonesia. K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani sudah memulainya dan menegaskan bahwa mereka yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw belum terbukti secara ilmiah nasabnya, alias hanya mengaku-aku. Kalau mau mempelajari hasil penelitiannya, bisa pelajari sendiri. Tidak mungkin saya menulisnya di sini. Dia bahkan mengatakan bahwa Bani Alawiyin tempat keluarga Bahar tidak terhubung kepada Nabi Muhammad saw, alias terputus.

            Kalau ingin membantah hasil penelitian, bantah lagi dengan penelitian baru yang menggunakan metode-metode ilmiah yang berlaku di seluruh dunia, bukan dengan ceramah-ceramah kasar yang ujung-ujungnya mengkafir-kafirkan orang, menuduh dzalim, memastikan masuk neraka, dan lain sebagainya. Ceramah-ceramah seperti itu hanya membela diri dengan suara keras dan menunjukkan lemahnya ilmu yang dimiliki. Mereka hanya berlindung di balik kekasaran, ilmunya sendiri sangat rendah.

            Sekarang semakin banyak yang bersuara serta mengungkapkan data dan fakta-fakta yang ada. Dalam tulisan kali ini, saya hanya ingin ikut satu saja membantah juga pendapat bodoh Bahar yang mengatakan bahwa keturunan dari pihak ibu itu terputus. Dengan pendapatnya itu, Bahar mengungkapkan bahwa keturunan para wali songo itu tidak ada. Kalaupun ada, itu berasal dari pihak ibu, artinya terputus. Keturunan yang berlanjut itu adalah berasal dari pihak laki-laki atau ayah. Padahal, generasi keturunan wali songo banyak yang berasal dari pihak ayah. Kalaupun hanya dari pihak ibu, itu juga tidak terputus. Keturunan dari ayah dan dari ibu sama saja melanjutkan keturunan ke generasi-generasi berikutnya.


Wali Songo (Foto: kompas.com)

            Menurut Habib Luthfi bin Yahya, pendapat terputusnya keturunan karena berasal dari jalur atau pihak ibu adalah pendapat orang-orang Arab bodoh, makanya disebut Arab Jahiliyah. Arab bodoh yang hidup dalam kebodohan. Kebodohan mereka itu karena selalu mengagungkan laki-laki dibandingkan perempuan. Bahkan, anak perempuan dikubur hingga mati itu salah satunya akibat dari  rasa malu karena tidak bisa diajak perang dan tidak dapat melanjutkan keturunan. Jadi, jelas pendapat itu berasal dari keangkuhan laki-laki yang menganggap kehidupan ini termasuk agama itu diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Itu kebodohan yang akut.

            Nabi Muhammad saw sendiri sempat menjadi korban pelecehan, penghinaan, atau pembulian dengan disebut sebagai nabi yang tidak punya keturunan. Hal itu disebabkan keturunannya itu atau cucunya berasal dari anak perempuannya, Siti Fatimah ra. Jelas hal itu menjadi bahan bulian orang-orang Arab bahwa Muhammad saw keturunannya terputus karena berasal dari anak perempuannya, Fatimah ra. Hasan dan Husen adalah berasal dari Fatimah ra yang jelas perempuan dan berasal dari jalur ibu. Kalau mengikuti pendapat Bahar, terputuslah keturunan Nabi saw karena generasi setelahnya berasal dari Fatimah ra yang perempuan itu.

            Aneh bukan?

            Bahar mengaku-aku sebagai keturunan atau cucu Nabi saw, tetapi berpendapat bahwa jalur keturunan dari perempuan atau pihak ibu itu terputus, padahal keturunan Nabi saw itu berasal dari Hasan dan Husen yang merupakan anak dari perempuan, Fatimah ra?

            Kalau dari perempuan terputus, tidak perlu ngaku-ngaku keturunan Nabi saw, kan terputus, iya kan?

            Itu juga kalau memang benar Bahar adalah keturunan Nabi saw.

Ini cacat logika menurut saya.

Bulian atau ejekan orang-orang Arab bodoh itu membuat Nabi Muhammad saw sedih bukan main. Allah swt tahu kesedihan Nabi saw. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan QS Al Kautsar untuk menghibur Nabi Muhammad saw. Baca saja sendiri ayat dan artinya, pendek kok. Dalam surat itu Allah swt menegaskan bahwa Nabi saw sudah diberikan nikmat yang sangat besar dan garis keturunannya tidak terputus meskipun punya cucu dari Fatimah ra. Justru, orang-orang yang membuli Nabi Muhammad saw itulah yang keturunannya terputus.

Turunnya surat Al Kautsar itu merupakan penegasan Allah swt bahwa keturunan dari perempuan itu tidak membuat garis keturunan setelahnya terputus, tetap berlanjut. Jadi, keturunan Nabi saw tidak terputus dan terus berlanjut dari jalur anak perempuannya, Fatimah ra.

Zaman teknologi sekarang malah lebih mudah diterangkan. Manusia itu ada karena adanya pertemuan antara sperma laki-laki dan ovum atau sel telur dari perempuan. Tidak mungkin lahir manusia jika hanya ada sperma laki-laki kalau tanpa ada sel telur dari perempuan, kecuali untuk kasus tertentu misalnya kelahiran Nabi Isa as atau Yesus. Normalnya sih, laki-laki dan perempuan itu memiliki kontribusi yang sama untuk melahirkan seorang manusia. Anak-anaknya, ya anak mereka, bukan hanya anak atau keturunan dari pihak laki-laki atau ayahnya.

Dulu ketika saya masih SMA, sering bercanda tentang asal usul manusia. Asal manusia itu dari ibu, sedangkan ayah itu cuma usul. Kalau usul itu kan suka ngacung, kalau usulannya diterima oleh ibu, terjadilah pertemuan yang menghasilkan keturunan. Artinya, pihak ayah dan pihak ibu sama-sama punya jasa atas kelahiran anak-anaknya.

            Soal ucapan Bahar yang mengatakan keturunan para wali itu terputus adalah salah besar. Hal itu disebabkan keturunan para wali bukan hanya dari jalur ibu, melainkan pula dari jalur ayah. Kalaupun hanya dari jalur ibu, keturunan mereka juga tidak terputus sebagaimana yang ditegaskan Allah swt dan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

            Kalau mau berguru atau menganggap seseorang itu guru, dari dulu sudah diberikan arahan bahwa guru itu harus pertama orang yang luas ilmunya, memiliki banyak sumber ilmu. Kedua, kalaupun ilmunya biasa-biasa saja, usianya harus yang sudah sepuh karena usianya yang sudah tua itu berarti sudah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Dengan pengalaman hidupnya yang melewati suka, duka, asam, garam, manis, dan pahit itu akan memberikan banyak ilmu untuk generasi setelahnya. Ketiga, guru itu harus wara, bijaksana dan berhati-hati dalam berucap, berperilaku, dan memberikan pengajaran agar tidak merugikan dan mencelakakan murid-muridnya. Pilih guru yang baik dan mengajarkan untuk hidup lebih baik, bukan mengajarkan kerusakkan dan membuat kehidupan menjadi gelisah.

            Maaf kalau tulisan saya salah. Kalau ada yang berbeda pendapat dan harus ada yang dikoreksi, sampaikan saja. Kita bisa berdiskusi dengan baik tanpa harus bertengkar atau bermusuhan.

            Ilustrasi Wali Songo saya dapatkan dari kompas com.

            Sampurasun.

Sunday, 16 April 2023

Bahar bin Smith Tantang Keturunan Para Wali

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seharusnya, pada bulan Ramadhan ini seluruh umat Islam lebih banyak menahan diri, menguasai diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menebarkan kebaikan, menciptakan perdamaian, dan menyebarkan kasih sayang. Artinya, tak perlu diikuti atau dijadikan teladan mereka yang mengumbar hawa nafsu negatif, berbicara kotor, menyakiti hati orang lain, dan menciptakan permusuhan. Sayang sekali, Ramadhan yang mulia ini dikotori oleh hal-hal bernada provokatif negatif.

            Berawal dari kekesalan dan kejengkelan Gus Fuad Plered, pemuka agama yang sangat dihormati kalangan nahdliyin yang menilai bahwa terlalu banyak orang yang mengaku habib, tetapi ceramahnya mengandung banyak kebencian, makian, arogan, kasar, dan menimbulkan perpecahan. Menurutnya, hanya satu-dua atau hanya sedikit habib yang berdakwah memberikan pencerahan dan pemahaman yang menyejukkan bagi umat. Oleh sebab itu, dia menegaskan bahwa para habib yang kasar-kasar dan tidak mencerahkan itu tidak perlu berdakwah lagi di Indonesia karena berbahaya bagi umat. Gus Fuad Plered yang diyakini sebagai keturunan Sunan Ampel itu beberapa kali mengkritik dan menyayangkan sikap, ucapan, dan perilaku Bahar bin Smith yang menurutnya tidak “mempribumi”, tidak sesuai dengan sikap asli bangsa Indonesia yang dikenal baik, lembut, dan tenang.


Gus Fuad Plered (Foto: Editor.id)


            Tampaknya kritikan Gus Fuad dibalas oleh Bahar bin Smith yang sudah dua kali masuk penjara ini gara-gara menganiaya santri dan ocehannya saat ceramah. Entah akan berapa kali lagi dia akan masuk penjara. Bahar menganggap Gus Fuad bodoh, bahkan mengatakan bahwa di Indonesia ini tidak ada keturunan Wali Songo, terputus. Kalau pun ada, itu berasal dari garis keturunan ibu.

Bahar bin Smith (Foto: Postingnews.id)

            Ucapan Bahar ini tentu saja membuat tersinggung dan marah keturunan para wali. Keturunan Sunan Gunung Djati yang nyambung ke Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Maulana Yusuf, Sultan Hasanudin, dan masih banyak lagi benar-benar angkat suara dan meminta Bahar mencabut pernyataannya, termasuk memohon maaf. Kalaupun ada bukti terputusnya keturunan para wali, harus dijelaskan secara ilmiah.

            Lebih jauh dari itu, K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani yang jelas dari Banten, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka, Kresek, Banten lebih mempopulerkan hasil penelitiannya. Kyai Imaduddin yang juga Ketua Fatwa Komisi MUI Banten dengan suara lantang menjelaskan bahwa orang-orang yang mengaku habib di Indonesia belum terbukti secara ilmiah merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Bahkan, menurutnya, Bani Alawiyin itu terputus hubungan darahnya dengan Nabi Muhammad saw. Bani Alawiyin yang biasa disebut Ba alawy ini termasuk di dalamnya Bahar Smith dan orang-orang yang serupa dengannya. Justru bani ini dianggap tidak terhubung dengan Rasulullah saw.  Tak heran, banyak kalangan yang ingin bukti ilmiah, termasuk tes DNA untuk lebih menguatkan keyakinan ada-tidaknya hubungan darah dengan Muhammad saw.


K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani (Foto: Inews.id)


            Makin jauh, ada pemuka agama yang sangat marah, mengaitkan dengan  urusan politik bahwa keturunan Yaman tidak pantas untuk banyak gaya di Indonesia. Pribumi adalah pemilik hak yang sah untuk memimpin Indonesia.

            Sayyid Seif Alwy dengan suara menggelegar sangat marah berpidato dalam bahasa Sunda, “Saha nu ngomong keturunan Wali Songo euweuh? Kadieu siah! Dikepret bulak-balik ku aing ayeuna keneh! Gelut jeung aing! Moal eleh gelut aing mah! Rek saha wae digampleng ku aing! [Siapa yang bilang keturunan Wali Songo tidak ada? Ke sini! Saya kepret bolak-balik sekarang juga! Berantem sama gua sekarang! Tidak akan kalah berkelahi saya mah! Siapa pun akan gua tempeleng!]   Kalau ada di Indonesia, tetapi membenci Wali Songo dan menganggap keturunan Wali Songo tidak ada, minggat dari Indonesia!”  


Sayyid Seif Alwy (Foto: Portal Majalengka - Pikiran Rakyat.com)


            Coba kalau sudah begini, makin kacau jadinya, makin aneh. Menurut saya ini perkara yang diada-adakan dengan banyak kebodohan dan ketololan.

            Sejak saya kecil, ngaji, tidak ada guru ngaji, ustadz, atau kiyai yang ngaku-ngaku keturunan Nabi Muhammad saw, terus marah-marah minta dihormati. Tidak ada seorang pun yang teriak-teriak ‘saya cucu Nabi!’, tidak ada yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw, lalu mengemis untuk dimuliakan. Semua biasa saja hubungannya antara murid dengan guru. Kalaupun ada di antara guru-guru saya adalah keturunan Nabi Muhammad saw, bukan dianya sendiri yang bilang, melainkan orang-orang lain yang ngasih tahu saya bahwa dia adalah keturunan Rasulullah saw. Dianya sendiri, tidak pernah bicara soal itu dan bersikap biasa saja seperti orang normal lainnya. Rasa hormat saya dan murid lainnya itu bukan dipaksa, tetapi karena memang timbul dari hati karena keluhuran ilmunya, kemuliaan sikapnya, dan kasih sayang kepada murid-muridnya.

            K.H. Muchtar Adam, pendiri pesantren Babussalam tidak pernah meminta saya untuk memuliakannya, biasa saja. Saya menghormatinya karena memang keluhuran ilmunya yang menulis indeks Al Quran. Dulu sebelum ada internet, untuk memahami Al Quran, saya gunakan buku itu. Fungsinya mirip google, yaitu cari kata kunci yang diperlukan, maka ada runtunan ayat yang memuat kata itu di bukunya. Sekarang, bukunya sudah tidak diperlukan karena ada internet dan google. Setelah K.H. Muchtar Adam wafat, saya baru tahu bahwa cucunya adalah murid saya, mahasiswa saya. Biasa saja, saling menghormati secara normal.

            Keturunan Nabi saw yang sangat saya hormati karena ilmunya, saya kenal dari buku yang ditulisnya sendiri, Futh Al Ghaib, Penyingkap Kegaiban. Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kalau membaca bukunya, seolah-olah Syekh ada di depan saya dan saya tunduk mendengarkan ajaran-ajarannya.

            Pada dasarnya saya menghormati semua guru, bahkan semua orang, siapa pun dia jika melakukan kebaikan dan kemuliaan. Tidak peduli dengan leluhurnya. Orang baik adalah orang mulia, keturunan siapa pun dia.

            Dulu itu tidak dikenal istilah habib yang minta dimuliakan, merengek minta dihormati. Istilah habib itu mulai merebak sejak Pilpres 2014 yang kemudian makin marak memasuki Pilpres 2019, semuanya terkait politik. Makin ke sini makin runyam, mengganggu ketenangan keturunan para wali sehingga mereka marah. Para wali itu jelas diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Keturunan para wali sekarang sudah berada pada berbagai bidang kehidupan, ada yang tetap mengajarkan agama, ada yang jadi pengusaha, dokter, pejabat pemerintah, bahkan Jenderal Dudung pun termasuk keturunan Sunan Gunung Djati.

            Sekarang, tiba-tiba bermunculan keturunan para wali yang marah dan tersinggung karena dianggap garis darahnya terputus kepada Nabi Muhammad saw. Padahal, mereka dulu tenang-tenang saja hidup dengan masyarakat tanpa mengaku-aku sebagai keturunan wali dan Nabi Muhammad saw. Biasa saja hidup normal dengan masyarakat lainnya. Sekarang, gara-gara ucapan Bahar yang sudah dipenjara dan mungkin akan dipenjara lagi itu, seolah-olah terjadi rebutan siapa yang paling benar merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Lumayan memalukan menurut saya.

            Untuk apa membicarakan dan menyombongkan garis darah leluhur dengan angkuh?

            Hal yang paling penting kan adalah bagaimana mencerahkan, menenangkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat, iya kan?

            Iya toh pisan atuh.

            Memalukan sekali jika mengaku-aku sebagai keturunan Nabi saw, tetapi kerjaannya bikin kegaduhan dan membuat umat berhati keras, tumpul, bodoh, dan tersesat. Sangatlah mulia jika mampu menciptakan kondisi masyarakat yang bermanfaat bagi masyarakat lainnya karena manusia yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

            Ingat, ini Ramadhan, jangan picu kegaduhan. Malu-maluin saja.

            Lupa dengan manfaat Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan?

            Kata Habib Jindan bin Novel, nanti di akhirat ada banyak orang yang berteriak-teriak kepada Nabi Muhammad saw bahwa mereka adalah cucu Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tidak mengakuinya. Orang-orang itu heran bahwa mereka adalah berasal dari darah daging Nabi saw, tetapi tidak diakui. Kata Nabi saw, benar kalian berasal dariku, tetapi bukan dari spermaku. Kalian berasal dari air kencingku.


Habib Jindan bin Novel (Foto: Twitter)


            Coba Habib Jindan bicara begitu. Artinya, dia marah terhadap orang-orang yang mengaku cucu Nabi saw, tetapi berperilaku memalukan Nabi Muhammad saw.

            Foto Bahar Smith saya dapatkan dari Postingnews id; Gus Fuad Plered dari Editor id; Kyai Imaduddin dari iNews id; Sayyid Seif Alwy dari Portal Majalengka – Pikiran Rakyat com; Habib Jindan bin Novel dari Twitter.

            Sampurasun.

Friday, 31 March 2023

FIFA Lemah, Sama Ganjar dan Koster Aja Takut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saling salahkan dan saling tuding akibat keputusan Federal Internationale Football Association (FIFA) membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 terus berlanjut dan mulai ngaco. Sampai-sampai ada isu bahwa berdasarkan laporan intelijen Israel jika Piala Dunia U-20 digelar di Indonesia, akan terjadi keos, bom di sana-sini, dan keamanan akan memburuk.

            Kok bisa laporan intelijen Israel yang sangat ketat itu bisa bocor kesana-kemari?

            Selain itu, ada isu-isu lain juga yang mulai tidak masuk akal.

            Meskipun saya masih demam, pengen juga nambahin komentar lanjutan dari tulisan yang lalu. FIFA itu organisasi internasional industri terbesar satu-satunya dalam dunia persepakbolaan. FIFA mempunyai 211 negara anggota. Dia bisa mempengaruhi kebijakan para kepala negara. FIFA punya kekuatan yang sangat besar. Anehnya, ketika Timnas Israel ditolak oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali I Wayan Koster, FIFA mundur dan mengalihkan Piala Dunia U-20 ke negara lain.

            Ganjar Pranowo dan I Wayan Koster itu cuma dua orang gubernur yang berada di bawah kekuasaan Jokowi. Kalau oleh Presiden Jokowi diperintahkan untuk bersedia menjadi tuan rumah yang baik, mereka pasti patuh, apalagi mereka satu partai dengan Jokowi, PDI-P.

            Kok FIFA bisa takut oleh dua orang itu, padahal punya anggota sebanyak 211 negara?

            Lemah banget FIFA.

            Sesungguhnya, baik Ganjar, Koster, PDI-P, maupun Ormas-Ormas Islam sepenuhnya mendukung digelarnya Piala Dunia U-20 di Indonesia. Kita semua siap melaksanakannya. Hal yang ditolak itu adalah kehadiran Timnas Israel. Kan bisa diakalin kalau Bali dan Jawa Tengah menolak Timnas Israel, pertandingan yang melibatkan Israel bisa di provinsi yang tidak menolak Israel, misalnya, di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak menolak kehadiran Timnas Israel. Untuk tempat berlatih, bisa di Kota Bandung yang dipersiapkan Walikota Yana Mulyana di GBLA dan Sidolig. Untuk pertandingannya, bisa di Kabupaten Bandung, Stadion Si Jalak Harupat.

            Kalaupun tidak bisa di seluruh wilayah Indonesia, kan bisa menyewa di negara lain yang dekat dengan Indonesia, Singapura misalnya. Pemerintah dan PSSI bisa melobi pemerintah Singapura untuk menjadi tempat pertandingan yang melibatkan Timnas Israel. Kalah ataupun menangnya Israel, tempatnya di Singapura karena Singapura memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Banyak jalan yang bisa dilakukan jika FIFA bukan penakut dan Baperan, sok berkuasa.

            Sudahi saling tuding dan saling menyalahkan, apalagi menganggap FIFA adalah sesuatu yang harus selalu benar dan harus dimaklumi semua keputusannya meskipun salah. Kita sebaiknya, menatap ke depan, ambil hikmahnya, dan Timnas Indonesia harus lebih baik lagi dikelola dan terus berlatih sehingga bisa ikut piala dunia dengan prestasinya, bukan dari tiket gratis sebagai tuan rumah.

            Saya malah curiga kalau ini disengaja untuk melemahkan Negara Indonesia karena Indonesia saat ini sedang maju lebih cepat pada berbagai bidang dan sedang berseteru dalam sidang WTO, konflik soal sumber daya alam. Tak ada negara lain yang berharap Indonesia maju. Hal ini seperti terhadap Rusia yang sedang berkonflik dengan Ukraina-Amerika Serikat-Barat, kemudian dicoret dari Piala Dunia oleh UEFA dan direstui FIFA. Indonesia sedang berselisih dengan Unieropa di WTO, lalu dibatalkan jadi tuan rumah dan dicoret kepesertaannya dalam Piala Dunia U-20 gara-gara dua gubernurnya menolak Timnas Israel untuk bertanding di tanah air Indonesia. Semua tanda dan fenomena yang terjadi bisa saja berkaitan satu sama lainnya.

            Sampurasun.

Thursday, 30 March 2023

FIFA Baperan dan Arogan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Orang Baperan biasanya menjadi arogan jika mempunyai kekuatan. Kalau tidak punya kekuatan, biasanya mengundurkan diri dari pergaulan. Baperan itu cuma bawa emosi dan perasaan, bukan akal sehat.

            Sesungguhnya, sangat menarik polemik atau pro-kontra kedatangan Timnas Israel ke Indonesia untuk mengikuti perhelatan pertandingan Piala Dunia U-20. Indonesia memang disepakati sebagai tuan rumahnya. Mereka yang menolak kehadiran Israel dan mereka yang menerima Israel sama kuatnya, sama cerdasnya, sama logisnya, sama-sama punya alasan yang sangat masuk akal, mungkin juga sama jumlahnya.

            Tadinya, saya tidak ingin menulis hal ini karena dari awal Ramadhan, saya sakit. Jadi, malas menulis dan memperhatikan situasi. Akan tetapi, karena situasi semakin heboh, saya jadi pengen ikutan berkomentar soal ini.

            Mereka yang menolak Israel menginjakkan kakinya ke tanah air Indonesia beralasan karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Israel masih tidak mengakui kemerdekaan Palestina dan masih membuat rakyat Palestina menderita, Israel adalah penjajah Palestina, serta Indonesia harus patuh pada Pembukaan UUD 1945 yang mengisyaratkan bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka Bumi. Bukan soal perbedaan agama, kecil itu mah, ecek-ecek perbedaan agama mah. Jika Israel sempat menginjakkan kakinya di Bumi Indonesia, itu akan membuat pandangan mulai lemahnya kekuatan Indonesia dalam menghadapi Israel.


Timnas Israel (Foto: GoRiau)

            Mereka yang bersedia menerima Israel beralasan karena Indonesia sudah berjuang bertahun-tahun untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia dan berhasil meraihnya; kehadiran Israel hanya untuk bertanding sepak bola dan tidak akan mengurangi solidaritas Indonesia untuk memperjuangkan Palestina; pergelaran Piala Dunia akan mendorong kemajuan sepak bola Indonesia, meningkatkan ekonomi, pariwisata, dan investasi; jika menolak Israel; Indonesia bisa dikenai sanksi FIFA (Federation Internationale Football Association [Federasi Sepak Bola Internasional]) dan dikucilkan dari persepakbolaan dunia; jangan mencampurkan politik dan olahraga.

            Dalam polemik dan pro-kontra itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menolak kehadiran Timnas Israel di Bali karena kebijakan Israel pada Palestina yang sangat buruk. Hal yang sama pun dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menolak Timnas Israel. Partai penguasa pun, PDI-P, menolak Israel karena berpegang pada pesan dan ajaran Soekarno bahwa selama Israel masih menjajah Palestina, kita harus menolak berhubungan dengan Israel. Di samping itu, ada beberapa Ormas Islam yang juga menolak kehadiran Timnas Israel.

            Bagi saya, perbedaan pandangan itu sangat mengasyikan dan mencerdaskan karena kedua pihak mengemukakan alasan-alasan yang mencerahkan dengan data dan fakta yang benar terjadi, bukan hoax. Perbedaan itu membuat kedua belah pihak mengerahkan kepintaran dan pengalamannya untuk menjadi bahan pertimbangan bagaimana seharusnya kita bersikap.

             Sayangnya, di tengah perdebatan itu, FIFA memutuskan secara sepihak untuk membatalkan pergelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. FIFA akan memilih negara lain untuk melaksanakannya. Inilah yang saya sebut bahwa FIFA itu Baperan, tidak logis, main emosi, lalu arogan. Pemerintah yang menolak kan hanya Gubernur Bali, Gubernur Jawa Tengah, PDI-P, dan beberapa Ormas Islam. Mereka tidak melihat bahwa Indonesia itu luas, lebih dari 30 provinsi. Kalau hanya dua provinsi, kan bisa dilangsungkan di provinsi yang lain. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tidak terdengar menolak Timnas Israel. Bahkan, Walikota Bandung Yana Mulyana mempersiapkan GBLA dan Sidolig untuk berlatih para pemain dunia yang akan bertanding. Pengundian dan pertandingan kan bisa dilaksanakan di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Bisa juga di provinsi lain yang tidak menolak Israel. FIFA itu Baperan karena mentang-mentang satu-satunya industri terbesar sepakbola di dunia dan merasa harus selalu dipuja dan dielu-elukan. Penolakan dua gubernur saja membuat mereka sakit hati, kecewa.


Foto: Kompas Com


            Indonesia itu bukan dipimpin gubernur, melainkan presiden. Jokowi sendiri tidak menolak. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bahkan getol mempersiapkan berbagai hal untuk Piala Dunia U-20. Kalau Jokowi tidak menolak, berarti Presiden Indonesia bertanggung jawab atas segalanya untuk terjadinya pertandingan di Indonesia. Dia menjamin terselenggaranya pertandingan dunia di Indonesia. Sayangnya, FIFA Baperan, lalu arogan dengan kekuasaannya.

            Nasi sudah menjadi bubur. Tidak bisa lagi dikembalikan menjadi beras. Kalau sudah menjadi bubur, tinggal nambahin kecap, kerupuk, kacang, seledri, daging ayam, telor, dan ati ampela. Jangan lagi berpikir untuk berbalik arah.

            Hal yang sangat disayangkan adalah terjadinya pertengkaran di antara sesama bangsa sendiri akibat keputusan FIFA. Saling ledek, saling tuding, saling menyalahkan. Mestinya, keputusan FIFA itu memperjelas posisi politik Indonesia dan meningkatkan semangat sepakbola Indonesia. Tidak perlu mengagungkan FIFA dan menyalahkan bangsa sendiri. Ingat, FIFA juga tidak jujur-jujur amat. Timnas Rusia pernah dicoret dari Piala Dunia karena menyerang Ukraina, tetapi tidak mencoret Israel yang selalu menyerang Palestina. Dia melakukan standar ganda, Rusia dianggap penjahat, tetapi Israel tidak, padahal selalu membuat Palestina menderita.

            FIFA tidak menghormati Negara Indonesia yang sudah terbukti selalu berusaha mendamaikan perang. FIFA malah memilih menyelamatkan Israel daripada menghormati Indonesia dengan membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia dan mencoret Timnas Indonesia dari keikutsertaan dalam ajang tersebut.

            Sesungguhnya, ini hanya pengulangan sejarah. Dulu juga hal mirip pernah terjadi terhadap Indonesia dalam kepemimpinan Presiden RI Soekarno. Masih gara-gara Israel. Indonesia pernah ditangguhkan keikutsertaannya dalam Olimpiade gara-gara tidak mengundang Israel dan Taiwan dalam Asian Games pada 1962. Dalam pandangan Indonesia, Israel adalah penjajah dan Indonesia harus menghormati rakyat-rakyat Arab. Adapun Taiwan, bukanlah negara, melainkan wilayah dari Cina.

            Hal itu membuat Soekarno marah dan menyatakan keluar dari Komite Internasional Olimpiade (IOC). Soekarno malah membuat pertandingan dunia tandingan, yaitu Ganefo (Game of the Emerging Forces) yang diikuti oleh 59 negara. Soekarno mempertahankan harga dirinya dan bangsanya, tidak mau diatur oleh organisasi dunia yang mempunyai standar ganda, tidak konsisten dalam perilakunya. Mereka menuding Indonesia mencampurkan politik dan olahraga, padahal mereka juga mengucilkan Cina, Arab bersatu, dan Vietnam Utara. Itu juga politik yang mereka campurkan sebenarnya.


Timnas Indonesia (Foto: CNN Indonesia)


            Sudahlah, keputusan Baperan dan arogan FIFA tidak perlu dijadikan bahan pertengkaran di antara sesama bangsa sendiri. Hal ini justru membukakan banyak hikmah bagi kita. Kita harus tetap bertahan pada keyakinan dan kehormatan kita serta meningkatkan prestasi sepakbola dan olahraga kita dengan nyata agar dunia tahu bahwa kita bangsa yang kuat dan selalu melawan ketidakadilan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun olahraga.

            Foto FIFA saya dapatkan dari Kompas Com. Timnas Israel dari GoRiau. Timnas Indonesia dari CNN Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 12 March 2023

Masjid Raya Al Jabbar Kotor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup sementara Masjid Raya Al Jabbar, Bandung, dalam pengumuman awalnya mulai 27 Februari s.d. 13 Maret 2023. Hal itu dilakukan setelah evaluasi beberapa bulan sejak pembukaan untuk penataan, pembersihan, perbaikan, dan lain sebagainya. Apalagi setelah semua bisa melihat bahwa Masjid Raya Al Jabbar memiliki daya tarik yang luar biasa. Setiap hari padat pengunjung, puluhan juta orang sudah bolak-balik ke komplek masjid. Memasuki bulan Ramadhan, pengunjung diperkirakan akan tambah padat, baik oleh mereka  yang beribadat maupun yang ngabuburit. Hal itu harus dipersiapkan dengan lebih baik oleh pengurus masjid. Bulan biasa saja penuh, apalagi bulan Ramadhan, insyaallah makin penuh.

            Pengumuman penutupan itu tentu saja membuat para pedagang dan aktivitas di seputar masjid harus angkat kaki dari sana.  Setelah mereka pergi, tampaklah berserakan sampah di bekas lapak-lapak mereka akibat ulah mereka dan pengunjung juga. Berserakannya sampah ini membuat kaum nyinyirun memiliki bahan untuk menyinyiri Masjid Al Jabbar yang kata mereka kotor. Padahal, yang kotor itu bukan di Masjid Al Jabbar, melainkan jalan di seputar masjid. Di dalam masjidnya sih bersih dan nyaman kok.


Di luar Masjid Raya Al Jabbar (Foto: Liputan6 com)


            Foto seputar Masjid Al Jabbar yang kotor penuh sampah saya dapatkan dari Liputan6 com.

            Di antara kaum nyinyirun malah ada yang mencoba menyamakan Masjid Al Jabbar dengan Masjid Ad Dhirar yang dulu dihancurkan Nabi Muhammad saw. Kata mereka Masjid Ad Dhirar dihancurkan karena tujuannya di luar untuk ibadat dan memiliki tujuan lain. Akan tetapi, mereka tidak menjelaskan tujuan lain itu. Mereka takut terbuka fakta yang sebenarnya. Mereka cuma iri dengan Masjid Raya Al Jabbar dan takut terhadap Ridwan Kamil.

            Saya kasih tahu bahwa Masjid Ad Dhirar itu dihancurkan Nabi Muhammad saw karena dibangun oleh orang-orang munafik dan pendeta Kristen yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakan Nabi Muhammad saw di Madinah. Mereka membangun masjid itu untuk memecah belah umat. Adapun Masjid Al Jabbar tidak dibangun oleh orang munafik atau pendeta Kristen dan tidak untuk memecah belah umat.

            Sampai sini paham, Bro?

            Sebetulnya, sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa komplek Masjid Al Jabar itu terdiri atas empat bagian, yaitu tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota. Di masjidnya sendiri dalam arti “tempat sujud”, tidak kotor, tetap terjaga bersih. Bagian yang kotor adalah di luar masjid, di bagian alun-alun, taman hutan kota, danau retensi, tempat parkir, dan jalan di seputarnya, bukan di masjid yang menjadi tempat sujud itu.




            Sampah yang menjadi penyebab kekotoran itu tentu saja harus menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya petugas kebersihan, melainkan pula para pedagang, dan masyarakat yang datang ke sana. Jadi, yang kotor itu bukan masjid, melainkan tempat lain yang menjadi fasilitas pelengkap Masjid Raya Al Jabbar.

            Sampurasun.

Wednesday, 1 March 2023

Salah Sorga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ibu saya berceritera tentang keluarga temannya. Dia mendapatkan Curhat tentang anak perempuan temannya. Kisah itu berawal dari tiba-tiba anaknya mengikuti pengajian-pengajian tidak jelas tempatnya, tidak jelas gurunya, tidak jelas organisasinya. Sejak mengikuti pengajian itu, anaknya sering berdebat dengan orangtuanya. Anaknya menganggap semua kehidupan ini salah, pemerintah kafir, thagut, orang-orang yang berbeda dengan dirinya adalah zalim, munafik, fasik, dan lain sebagainya. Perangai anaknya menjadi berubah dan tidak lagi mampu taat kepada orangtuanya. Bahkan, berani menyalahkan orangtuanya sendiri dan menganggapnya sesat. Tentu saja, orangtuanya pun melayani anaknya, berdebat sesuai dengan pemahaman agama Islam yang mereka pahami.

            Karena terjadi perbedaan paham, tiba-tiba anaknya pergi dan tidak pulang-pulang. Orangtuanya cemas dan mencari kesana-kemari, tetapi tidak berhasil. Anaknya hilang selama hampir tiga bulan. Ketika kedua orangtuanya sudah hampir putus asa dalam kesedihan kehilangan anak, tiba-tiba suatu malam anak perempuan mereka pulang. Kedua orangtuanya senang bukan main. Disayanginya anaknya dengan penuh cinta, diajaknya berbicara dengan lembut, dikasihi sebagaimana anak yang sangat dicintai. Gembira luar biasa kedua orangtuanya. Anak yang dirindukannya itu telah pulang kembali ke tengah keluarga. Kedua orangtuanya kembali bisa tidur dengan bahagia.

            Keesokan paginya, ibunya memeriksa anaknya itu barangkali ada yang dibutuhkan anaknya untuk dia penuhi. Akan tetapi, anaknya tidak ada. Bahkan, bukan hanya anaknya yang hilang, melainkan pula seprai, bantal, gorden, peralatan dapur, sepatu, alat-alat elektronik, perhiasan, dan lain sebagainya. Anaknya pergi lagi dari rumah dengan membawa banyak barang orangtuanya dari rumah. Kedua orangtuanya kaget bukan main sekaligus sedih. Ternyata, anaknya tidak berubah dan memilih taat kepada orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik dibandingkan taat kepada orangtuanya sendiri. Anaknya memilih untuk pergi dan hidup bersama dengan kelompoknya yang dianggapnya lebih baik.

            Tiba-tiba kedua orangtuanya teringat terhadap salah satu perdebatan dengan anaknya bahwa karena orangtuanya tidak sama dengan dirinya, berarti kafir dan sesat. Kata anaknya, harta orang kafir itu halal untuk dirampas. Harta yang dirampas atau dirampok dari orang kafir itu adalah untuk jihad dan diyakini akan mendapat ganjaran sorga jika berhasil merampoknya.

            Beginilah kalau salah pengajian. Mereka telah memilih sorga yang salah, sorga yang hanya ada dalam khayalan hasil berdusta dan mengarang sendiri. Padahal, sorga yang sebenarnya ada di rumahnya, ada di kedua orangtuanya, ada di ibunya sendiri. Keluarganyalah yang telah melahirkannya, menjaganya, menghidupinya hingga besar. Sayangnya, guru-guru sesat telah menyesatkannya sehingga Sang Anak meninggalkan pintu dan jalan sorga baginya untuk pergi menempuh jalan yang sesat.

            Berbakti kepada kedua orangtua, terutama ibu adalah jalan sorga. Menyakiti, menelantarkan, apalagi merampok mereka adalah jalan kesesatan iblis, yakini itu. Jangan ikuti pengajian aneh-aneh yang tidak mengajarkan cinta, kasih sayang, dan rasa hormat kepada manusia.

            Sampurasun

Friday, 17 February 2023

Teroris Turki Dilindungi Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Gempa di Turki telah menewaskan sangat banyak orang. Gempa Cianjur menewaskan sekitar 600 orang, gempa di Yogyakarta menewaskan 6.000 orang, korban gempa Turki jauh lebih banyak, lebih dari 35.000 orang.

         Bencana besar dengan korban besar telah membuat dunia prihatin dengan melakukan banyak penggalangan dana, baik oleh negara maupun oleh rakyat secara individu. Banyak instansi atau lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan Turki di Indonesia yang memberikan banyak sumbangan ke Turki. Sayangnya, beberapa sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia dituduh teroris oleh pemerintah Erdogan Turki. Erdogan mengeluarkan surat untuk pemerintah Indonesia agar mencurigai beberapa lembaga pendidikan dalam mengumpulkan sumbangan. Turki mempropagandakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan itu tidak akan menyalurkan sumbangannya ke Turki, tetapi akan menggunakannya untuk kegiatan terorisme.


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (CNN Indonesia)


         Tuduhan teroris dari Turki itu diakibatkan lembaga-lembaga pendidikan itu berafiliasi dengan orang besar, ulama Turki, Fethullah Gulen, yang dianggap Turki sebagai pemimpin kudeta di Turki dan merupakan orang penting dalam organisasi Feto yang dimusuhi Turki. Padahal, Fethullah Gulen sendiri membantah hal itu. Dia tidak ingin berpolitik, apalagi kudeta. Dia hanya ingin mengembangkan lembaga pendidikan dan sosial agar anak-anak Turki, anak-anak muslim, dan warga dunia ini hidup lebih berpandangan terbuka, toleran, mencintai ilmu pengetahuan, membenci korupsi, dan dapat hidup harmonis dengan lebih baik lagi. Karena pandangan Ulama Gulen ini banyak mendapatkan perhatian dan dukungan dari rakyat Turki, tampaknya Presiden Turki Erdogan merasa terancam. Kemudian, melakukan banyak tuduhan dan eksekusi terhadap guru-guru dan lembaga pendidikan di Turki yang terkait dengan Fethullah Gulen.


Fethullah Gulen (Foto: kompasiana.com)


         Sebenarnya, sudah sejak sekitar 6 atau 7 tahun lalu, Turki meminta Indonesia untuk menutup sekolah-sekolah yang terhubung dengan Gulen di Indonesia. Akan tetapi, pemerintah Indonesia sangatlah cerdas. Keinginan Turki tidaklah digubris. Sekolah-sekolah itu tetap ada sampai sekarang dan tetap boleh mengumpulkan sumbangan untuk saudara-saudaranya di Turki. Mereka yang belajar di sekolah-sekolah itu bukan hanya anak-anak Turki, melainkan pula anak-anak Indonesia, anak-anak Inggris, Australia, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Mereka baik-baik saja.

         Pengelola sekolah-sekolah itu sudah menegaskan, “Bos kami adalah pemerintah Indonesia dan bukan pemerintah Turki.”


Presiden Indonesia Jokowi (Foto: DW)


         Mereka patuh pada berbagai peraturan di Indonesia dan sangat menghormati Indonesia. Sekolah-sekolah itu mengajarkan perdamaian, kebaikan, dan mata pelajaran sebagaimana umumnya. Mereka yang bersekolah dan terdiri atas berbagai negara itu bahkan mampu lebih terbuka dengan perbedaan ras, agama, suku, dan lain sebagainya. Demikian pula sekolahnya, jika ada nonmuslim berprestasi, tetap diberikan beasiswa sebagaimana muslim lainnya yang berprestasi.

         Keputusan Indonesia sudah benar. Gejolak politik Turki atau kisruh di Turki, bukanlah urusan Indonesia. Itu urusan Turki. Indonesia tidak melihat bahwa Fethullah Gulen dan lembaga-lembaga pendidikannya di Indonesia sebagai teroris atau pengacau.

         Jadi, untuk apa ikut-ikutan keinginan Turki?

         Indonesia punya hak menilai sendiri dan melindungi siapa pun yang berhak dilindungi di Indonesia tanpa harus mengikuti kehendak negara lain. Itu namanya mandiri dalam berpolitik dan berdaulat dalam mengambil keputusan.

         Foto Jokowi saya dapatkan dari DW dan foto Erdogan saya dapatkan dari CNN Indonesia. Foto Fethullah Gulen dari kompasiana com.

            Sampurasun.

Saturday, 4 February 2023

Harusnya, DIbangun Juga Gereja 1,2 Triliun

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata orang-orang sesat dan menyesatkan. Saya bilang mereka sesat karena tidak tahu hal ihwal yang sesungguhnya dan tidak memahami prosesnya, tetapi mengeluarkan pernyataan yang seolah-olah benar atau paling tidak seolah-olah pernyataan pintar, padahal bodohnya bukan main.

            Kalau diperhatikan, mereka itu sesungguhnya tidak sedang membicarakan masjid, gereja, tempat ibadat lain, atau peribadatan. Mereka hanya ingin “menembak” Ridwan Kamil dan merendahkan Provinsi Jawa Barat agar tidak menghalangi halusinasi mereka menjadi kenyataan, yaitu hanya jagoan-jagoan mereka yang harus berada di tampuk kursi kepemimpinan nasional Indonesia. Ini tahun politik, mereka melakukan apa saja dan membicarakan apa saja, termasuk hal-hal bodoh yang sesat dan menyesatkan.

            Mereka mencoba menggiring opini bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ridwan Kamil tidak adil karena hanya memperhatikan umat Islam dengan bukti membangun Masjid Raya Al Jabbar seharga 1,2 triliun, tetapi tidak membangun gereja, pura, klenteng, vihara, atau tempat ibadat agama lain dengan harga yang sama, 1,2 triliun. Pikiran mereka ini sesat dan menyesatkan.

            Kita lihat sejarah Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat. Masjid ini bukanlah keinginan Ridwan Kamil. Masjid ini merupakan keinginan rakyat mayoritas muslim Jawa Barat yang berharap ada masjid setingkat provinsi. Keinginan rakyat ini disuarakan oleh Ormas-Ormas Islam yang kemudian dikuatkan pula oleh partai-partai politik. Setelah itu, ditampung oleh para wakil rakyat di DPRD Jawa Barat dan didiskusikan dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, bukan Ridwan Kamil. Saat itu Ridwan Kamil masih sebagai Walikota Bandung.

            Sampai sini, paham?

            Pemerintah dan DPRD sepakat untuk membangunnya, lalu dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Gubernur Ahmad Heryawan dan Wakil Gubernur Dedi Mizwar. Pembangunan masjid ini tidak selesai pada masa Ahmad Heryawan. Oleh sebab itu, dilanjutkan oleh Ridwan Kamil hingga seperti sekarang ini. Jadi, Masjid Raya Al Jabbar adalah keinginan rakyat muslim Jawa Barat yang disetujui oleh pemerintah dan DPRD Jawa Barat.

            Sekarang, kenapa tidak membangun gereja atau tempat ibadat agama lain seharga 1,2 triliun?

            Kenapa hayoh?

            Jawabannya adalah tidak pernah ada yang usul dari masyarakat nonmuslim untuk membangun tempat ibadat setingkat provinsi. Sebetulnya, sangat mudah dibangun tempat ibadat agama nonmuslim juga asalkan ada yang usul kepada pemerintah Jawa Barat. Uang untuk pembangunan itu kan berasal dari rakyat, semua orang berhak mengusulkan keinginannya. Jadi, tinggal usulkan saja keinginan itu, tidak repot kok.

            Sangat aneh jika menuding Jawa Barat dan Ridwan Kamil tidak adil karena hanya membangun Masjid Raya, tetapi tidak membangun tempat ibadat agama lain.

            Kok menyalahkan, padahal usulan membangun tempat ibadat agama lain juga tidak ada?

            Iya toh?

            Iya toh pisan.

            Usulkan saja dulu, soal disetujui atau tidak, itu urusan belakangan. Hal yang sangat penting adalah bikin dulu usulan yang masuk akal dan sangat logis sehingga Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Barat dapat memahaminya.




            Kalau saya jadi gubernur, lalu mendapatkan usulan untuk membangun tempat ibadat nonmuslim, paling saya cek dulu kelayakan untuk pembangunan tempat tersebut.

            Berapa orang yang akan memanfaatkan bangunan itu di Jawa Barat?

            Di mana tempatnya?

            Berapa luas tanah dan bangunan yang akan dibuat untuk dimanfaatkan ibadat sesuai dengan data-data yang telah dikumpulkan?

Tidak mungkin juga membangun tempat ibadat seharga 1,2 triliun jika hanya akan dimanfaatkan oleh 100 atau 1.000 orang. Pasti harus sesuai dengan peruntukkannya.

            Kalau Masjid Raya Al Jabbar kan bisa dimanfaatkan orang sebanyak satu juta orang per hari. Kalau saya perkirakan dari Shubuh hingga Isya, orang-orang yang datang dan pergi itu setiap harinya bisa mencapai satu juta orang dari berbagai wilayah Indonesia, bahkan dari luar negeri. Wajar kalau membutuhkan dana yang sangat besar, Rp1,2 triliun.

            Itu kalau saya jadi gubernur. Gubernur yang aslinya pasti punya perhitungan yang lebih akurat.

            Jadi, jangan bicara hal sesat dan menyesatkan lagi. Gunakan data dan fakta sebelum berbicara sehingga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan berbicara berdasarkan lamunan dan rasa iri plus takut kalah dalam pemilihan politik.

            Sampurasun.