Saturday, 26 August 2017

Allah swt Membiarkan Umat Islam Kalah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berapa kali Allah swt membiarkan umat Islam kalah?

            Lebih dari satu kali, bahkan berkali-kali.

            Sering sekali Allah swt memperkuat musuh-musuh Islam dengan kekuasaan yang besar untuk mengalahkan umat Islam. Hal ini terjadi dari zaman ke zaman, sejak dulu sampai hari ini.

            Allah swt sengaja melakukan itu karena umat Islam kerap berjuang dan hidup tidak mengikuti rel yang benar, tidak berjalan pada jalur yang lurus, dan tidak mengikuti arah yang tepat. Allah swt sengaja melakukan itu karena ingin umat Islam kembali pada langkah-langkah yang bersih dan suci terbebas dari keburukan.

            Kaum muslimin pasti mengenal Perang Uhud yang jelas-jelas kalah itu, padahal saat itu ada Nabi Muhammad. Penyebabnya adalah jiwa kaum muslimin terkotori oleh keinginan untuk memperbanyak harta benda dan berlomba mendapatkan keuntungan materi. Kaum muslimin pun harus mengingat Perang Hunain yang babak belur itu. Padahal, Nabi Muhammad ada di sana dan jumlah pasukan kaum muslimin sangat besar berlipat-berlipat dibandingkan kaum kafir, tetapi ternyata pasukan muslim kocar-kacir tidak karu-karuan. Penyebabnya adalah jiwa kaum muslimin terkotori oleh rasa angkuh diri, kesombongan, dan pamer karena kekuatan yang banyak. Kaum muslimin tidak boleh lupa bahwa kekuasaan kekhalifahan yang sangat besar dan luas di seluruh dunia ini harus jatuh. Kejatuhan kekhalifahan itu jika mau jujur bukan disebabkan oleh kekuatan Eropa, melainkan karena banyaknya keburukan yang dilakukan kaum muslimin dalam hal berbangga diri dengan kekuasaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kekayaan, konflik-konflik ekonomi dan politik, pengkhianatan, termasuk kesombongan terhadap amal ibadat.

            Allah swt tidak menyukai itu semua karena Allah swt hanya menginginkan kaum muslimin berjuang dan hidup untuk mencari cinta Allah swt dan tidak mencari hal-hal yang lainnya. Perhatikan Perang Badar yang berhasil menang dan kemenangannya tak pernah dilupakan orang sampai hari ini. Padahal, jumlah kaum muslimin hanya sedikit, yaitu 303 orang dengan mayoritas orang lemah. Adapun musuhnya, orang-orang kafir, berjumlah lebih dari 2.000 pasukan terlatih. Penyebab kemenangan itu adalah kaum muslimin berada pada jalur yang benar dan berjuang untuk mendapatkan cinta Allah swt.

            Belajar dari pengalaman-pengalaman berharga itu, kaum muslimin harus introspeksi diri jika setiap perjuangan yang dilakukan pada abad ini kerap dilanda kekalahan demi kekalahan. Penyebabnya adalah bukan musuh lebih kuat, tetapi niat dan hati kaum muslimin boleh jadi tidak lurus kepada Allah swt. Dalam setiap perjuangan kaum muslimin pada abad ini mungkin dikotori oleh keinginan berkuasa, baik secara politik maupun ekonomi. Adapun Islam hanya digunakan sebagai alat untuk memprovokasi orang agar bergerak melakukan agenda-agenda lemah orang-orang yang menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi.

            Perhatikan firman Allah swt berikut ini.

            “… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu….”  (QS An Nisa 4 : 90)

            Jelas bukan, Allah swt bisa saja memberikan kekuasaan kepada nonmuslim untuk memerangi umat Islam?

            Kaum muslim kalah ataupun menang sangat bergantung pada keinginan Allah swt.

            Allah swt sengaja memperkuat orang-orang lain dan membuat kalah kaum muslim agar kaum muslim kembali kepada Allah swt, membersihkan jiwanya dari keinginan-keinginan rendah dan lemah, menyucikan hatinya agar hatinya tertuju hanya kepada Allah swt. Soal kekuasaan dan kekayaan, Allah swt sendiri yang akan mengaturnya.

            Perilaku Allah swt seperti ini bukan hanya terjadi pada kaum muslimin secara keseluruhan maupun kelompok-kelompok Islam, melainkan sampai ke pribadi-pribadi muslim secara perorangan. Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani, Allah sering sekali membuat seorang muslim terjatuh, miskin, teraniaya, menderita, serta diterpa berbagai kesusahan dan kesulitan yang tidak bisa diatasi oleh dirinya sendiri dan orang lain. Hal itu disebabkan Allah swt menginginkan seorang muslim itu hanya berharap kepada-Nya dan tidak berharap kepada yang lainnya. Allah swt ingin seorang muslim itu hanya meminta pertolongan kepada-Nya dan tidak meminta pertolongan kepada siapa pun. Bahkan, menurut Nabi Muhammad, jika Allah swt sudah mencintai seseorang, Allah swt mencabut kehidupan dunia dari orang itu sehingga dalam hati orang itu tidak ada hal yang lain, kecuali Allah swt. Jadilah, orang itu hidup hangat dalam pelukan dan perlindungan Allah swt. Seluruh kehidupannya menjadi baik, seluruh kebutuhannya dipenuhi Allah swt, baik dia memintanya ataupun tidak, bagai bayi yang selalu disusui ibunya dengan penuh kasih sayang, baik dia menangis ataupun tidak.

            Sungguh, Allah swt menginginkan kaum muslimin berada pada jalur yang suci dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan sementara. Dengan kesucian dan kelurusan sikap, kemenangan pun bisa diraih. Bukan hanya kemenangan bagi kaum muslimin, melainkan kemenangan bagi seluruh kehidupan manusia yang menginginkan keagungan, kesejahteraan, perdamaian, keadilan, dan kerharmonisan. Itulah yang dinamakan rahmatan lil alamin. Insyaallah.


            Sampurasun

Sikap Muslim terhadap Nonmuslim

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Indonesia adalah negara besar dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Sebagai negeri muslim, setiap muslim di Indonesia harus belajar terus setiap hari menjadi muslim yang baik dan menebarkan kasih sayang terhadap seluruh manusia sambil tetap memegang teguh jati diri sebagai muslim. Benar kita harus mematuhi Pancasila, tetapi kita adalah muslim yang harus menegaskan kemusliman kita di hadapan siapa pun.

            Islam tidak berada di bawah Pancasila. Pancasila hanyalah sebuah cahaya dari Allah swt yang dianugerahkan untuk menjadi tali yang mengikat keharmonisan hidup seluruh manusia di Indonesia.

            Di dalam kenyataannya, perbedaan agama dan keyakinan kerap dapat memicu dan dijadikan alat untuk membuat kehidupan tidak tertib dan tidak harmonis. Oleh sebab itu, Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan itu hendaknya dijadikan alat untuk memperkuat persaudaraan sebangsa dan setanah air. Meskipun demikian, kita tetap memiliki perbedaan yang wajib diwaspadai agar tidak memicu kerusakan dan tidak mengoyakkan harga diri umat Islam.

            Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung menjadi kelompok terbesar di Indonesia, sedangkan umat-umat yang beragama dan berkeyakinan lain hanyalah minoritas. Akan tetapi, sebagai kelompok terbesar menuntut tanggung jawab yang besar pula dalam menjaga keseimbangan hidup di Indonesia ini. Sebagai muslim, kita harus hidup berdampingan dengan damai dan penuh cinta kasih dengan umat-umat lain sepanjang umat-umat lain itu tidak melakukan permusuhan, menebarkan kebencian, dan melakukan tantangan kepada umat Islam. Jika nonmuslim mulai berulah melakukan permusuhan, sudah kewajiban setiap muslim menjaga harga diri umat Islam dan ajaran Islam.

            Beruntung sekali nonmuslim di Indonesia ini tidak diberi kekuatan dan kemampuan untuk memerangi umat Islam di Indonesia sehingga para nonmuslim yang memiliki kebencian kepada Islam dan umat Islam hanya bisa jengkel dan berbicara kasar yang bisa saja digugat untuk dimasukkan dalam penjara. Tampaknya, Allah swt sengaja menciptakan suasana nonmuslim seperti itu agar keharmonisan dan kedamaian di Indonesia bisa dikendalikan dengan baik dan terus lebih baik lagi. Indonesia harmonis dan damai bukan berarti tidak ada masalah, melainkan jika ada masalah segera diselesaikan dengan baik, bisa melalui jalur hukum, bisa pula melalui jalur kekeluargaan.

            Bagi Allah swt mudah saja memberikan kaum nonmuslim kekuatan dan kemampuan untuk memerangi umat Islam di Indonesia ini sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain. Akan tetapi, tidak begitu keinginan Allah swt. Allah swt tampaknya sampai saya menulis tulisan ini tidak memberikan kekuatan yang cukup bagi mereka yang membenci Islam dan membenci kaum muslimin untuk memerangi umat Islam. Allah swt masih sangat percaya bahwa mayoritas umat Islam dapat menjaga kestabilan hidup di Indonesia. Allah swt juga percaya kepada para nonmuslim yang ingin hidup damai dengan umat Islam di Indonesia ini.

            Perhatikan firman Allah swt berikut ini.

            “… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu….”  (QS An Nisa 4 : 90)

            Jelas bukan?

            Sebagaimana yang saya terangkan tadi bahwa Allah swt mudah saja memberikan kekuatan kepada para pembenci Islam untuk memerangi Islam.

            Bukankah hal ini terjadi di negara-negara lain, tetapi tidak di Indonesia?

            Pada beberapa negara lain, Allah swt memberikan kekuasaan yang besar kepada para pembenci Islam untuk memerangi umat Islam sehingga umat Islam sering terhimpit dan tersudutkan. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak terjadi di Indonesia. Hal itu disebabkan di Indonesia ini terlalu banyak umat Islam yang waras otak dan bening hati untuk melaksanakan ajaran Islam dengan penuh kedamaian. Di samping itu, di Indonesia ini mayoritas nonmuslim tidak ingin bermusuhan dengan kaum muslimin. Meskipun demikian, umat Islam tetap harus waspada agar para pembenci Islam tidak sampai merusakkan Islam dan kaum muslimin.

            Kata Allah swt, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu. Akan tetapi, jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS An Nisa 4 : 90)

            Allah swt menghendaki bahwa apabila para nonmuslim membiarkan umat Islam menjalankan ajaran Islam, tidak melakukan permusuhan, dan menawarkan hidup damai, haram hukumnya bagi umat Islam menyakiti dan melukai nonmuslim, baik fisiknya maupun jiwanya. Dalam kenyataannya, dalam susunan pergaulan hidup sesama bangsa Indonesia, kaum nonmuslim sudah menawarkan perdamaian dengan kesetujuannya terhadap Pancasila. Nonmuslim menyerah pada Pancasila, umat Islam Indonesia pun setuju pada Pancasila. Jadi, jika ada nonmuslim dan muslim yang merusakkan Pancasila, sama dengan menghancurkan perdamaian. Hal itu harus dimusuhi bersama-sama oleh seluruh bangsa Indonesia yang waras otak, bening hati, dan sehat jiwanya. Hal itu disebabkan Allah swt lebih menyukai mereka yang memegang teguh perdamaian dengan penuh cinta kasih dibandingkan dengan mereka yang gemar mengobarkan permusuhan dan huru-hara.

            Umat Islam harus menjaga perdamaian dengan nonmuslim sepanjang nonmuslim tidak melakukan permusuhan. Akan tetapi, jika nonmuslim mencari-cari masalah atau membuat huru-hara, kaum muslimin harus segera mengambil sikap, bisa dengan cara menawan atau membunuh mereka. Hal yang harus diingat cara memeranginya tidak boleh dengan cara-cara kampungan yang anarkis. Gunakan hukum yang berlaku di Indonesia agar sistem ini berjalan dengan baik, adil, dan beradab.

            Jika umat Islam melaksanakan QS An Nisa 4 : 90 tadi, secara otomatis telah melaksanakan Pancasila, terutama sila ketiga persatuan Indonesia dan sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal itu disebabkan menjaga hubungan baik dengan nonmuslim sama dengan menguatkan persatuan serta menjaga harga diri untuk tidak dirusakkan oleh orang lain adalah perilaku yang adil dan beradab.


            Sampurasun.

Monday, 21 August 2017

Pendidikan Antikorupsi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya selalu menaruh hormat kepada perguruan tinggi mana pun yang mengajarkan mata kuliah antikorupsi kepada para mahasiswanya. Hal itu disebabkan tidak atau belum semua perguruan tinggi mengajarkan mata kuliah itu. Di samping itu, perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah antikorupsi telah memberikan dasar-dasar pemahaman kepada generasi muda tentang korupsi dan pastinya memberikan sumbangan pencegahan sejak dini agar para pemuda tidak terjebak dalam perilaku korupsi.

            Secara sekilas, dari nama mata kuliahnya saja, saya bisa membayangkan bahwa dalam mata kuliah antikorupsi akan terkandung ilmu hukum, ilmu politik, sosiologi, ilmu sejarah, ilmu budaya, dan ilmu agama. Semua ilmu itu memperkaya khazanah keilmuan dalam mata kuliah antikorupsi.

            Teman saya seorang dosen pengajar Pendidikan Antikorupsi. Dia berceritera kepada saya. Setelah satu kali atau dua kali mengajar mata kuliah itu, dia kaget, kesal, dan merasa lucu. Masalahnya, ketika dalam sesi diskusi atau tanya jawab, para mahasiswa malah menyerang kampusnya sendiri dengan berbagai tuduhan dan dugaan penyelewengan dana. Mahasiswa mulai menghitung dana yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Mereka menjumlahkan uang yang dibayarkan seluruh mahasiswa dan penerimaan lain oleh kampus mereka. Kemudian, mereka membandingkannya dengan fasilitas yang mereka terima, baik fisik maupun nonfisik. Mereka pun mendiskusikan bahkan memperdebatkan soal toilet, kelas, tenaga pengajar, laboratorium, kegiatan-kegiatan mahasiswa, dan berbagai hal-hal lainnya yang seharusnya mereka terima. Situasi menjadi lebih seru ketika mahasiswa menilai bahwa ada ketimpangan yang dilakukan kampus mereka sendiri dalam arti jumlah uang yang diterima kampus jauh lebih besar dibandingkan fasilitas yang harus mereka terima. Mereka mulai menuduh dan menduga bahwa telah terjadi tindakan korupsi di kampus mereka. Itulah yang membuat dosennya kesal sekaligus merasa lucu.

            Terkait dengan hal itu, saya sungguh benar-benar menaruh hormat pada perguruan tinggi yang mengajarkan antikorupsi. Hal itu disebabkan perguruan tinggi itu berani dan memiliki kesanggupan untuk menerima kritik dari mahasiswanya dan bersedia membersihkan dirinya dari berbagai penyimpangan dana karena para mahasiswa akan belajar memahami korupsi dimulai di lingkungan kampusnya sendiri.


            Sampurasun

Sunday, 20 August 2017

Susahnya Memberantas Narkoba

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia sangat serius dalam mengatasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (Narkoba). Keseriusan tersebut dapat dilihat dari gencarnya perang terhadap Narkoba dan pelaksanaan hukuman mati yang diterapkan. Akan tetapi, di dalam kenyataannya peredaran dan penyalahgunaan Narkoba terus meningkat dengan beragam jenis. Hal ini pun dikeluhkan aparat kepolisian, BNN, dan mereka yang peduli terhadap perang melawan Narkoba.

            Saya yakin ada banyak penyebab yang membuat peredaran dan penyalahgunaan Narkoba ini terus meningkat meskipun upaya untuk memeranginya terus dilakukan tanpa henti. Berdasarkan pengalaman kecil saya sendiri ada dua penyebab sulitnya memberantas peredaran dan penyalahgunaan Narkoba. Pertama, kurang lengkapnya sarana dan prasarana kepolisian. Kedua, kekhawatiran masyarakat untuk ikut terlibat dalam perang terhadap Narkoba.

            Begini ceriteranya. Sebetulnya, sudah sejak enam bulan lalu ada anak muda yang mengeluh kepada saya soal peredaran dan penyalahgunaan Narkoba di lingkungannya. Kalau saya sebut lingkungan, berarti bisa lingkungan masyarakat dan bisa pula instansi. Awalnya, saya sarankan untuk menjauhi para penyalahguna itu. Akan tetapi, seiring dengan waktu, para penyalahguna ini semakin berani menawarkan obat-obat terlarang itu kepada anak-anak muda di sekitarnya. Mereka yang ditawari selalu menolak.

            Akan tetapi, mereka pun bilang, “Wah, Pak, bahaya kalau saya ditawari terus-menerus, saya juga bisa terpengaruhi. Saya lama-lama juga bisa menggunakan Narkoba.”

            Segera saja saya konsultasi dengan BNN Kota Bandung. Hasil konsultasi itu berupa pemahaman saya tentang obat-obat terlarang yang diedarkan di lingkungan tersebut, yaitu Tramadol yang termasuk golongan empat berpengaruh halusinogen dan saran untuk segera melaporkan pada Polsek setempat. Memang obat itu dijual di apotek dan sah, tetapi yang membuatnya menjadi tidak sah disebabkan perilaku penyalahgunaan. Saya suka mencontohkan bahwa obat nyamuk bakar itu barang legal dan minuman soda itu pun legal dijual di warung-warung kecil. Akan tetapi, jika obat nyamuk bakar itu ditumbuk halus, kemudian dicampurkan dengan minuman bersoda, lalu diminum, terjadilah penyalahgunaan zat-zat legal yang kemudian menjadi ilegal.

            Kurang lebih satu bulan sejak konsultasi dengan BNN, saya menghubungi Polsek setempat. Di sinilah saya mulai memahami adanya penyebab kesulitan memberantas Narkoba. Kepolisian memang serius, tetapi kekurangan alat dan dana, terutama untuk melakukan tes urin kepada orang-orang yang diduga menyebarkan dan menggunakan Narkoba itu. Oleh sebab itu, polisi menyarankan untuk melibatkan anak-anak muda yang sering ditawari Narkoba untuk ikut serta menjebak para pengedar dan penyalahguna itu. Hal itu disebabkan kepolisian tidak bisa melakukan penangkapan jika tidak ada bukti dan barangnya “tidak ada padanya”.  Di sinilah saya mulai khawatir terhadap keselamatan anak-anak muda itu. Saya berkeberatan meskipun sebenarnya anak-anak muda itu berani terlibat. Namanya juga anak muda. Saya khawatir atas keamanan dan keselamatan anak-anak muda itu. Artinya, saya sebagai masyarakat cukup khawatir jika ikut terjebak dalam “penjebakan” yang dilakukan pihak kepolisian apabila tidak ada jaminan keselamatan bagi anak-anak muda itu. Apalagi, jika anak-anak muda itu harus merasa terancam setiap hari karena “ketahuan” oleh para penjahat telah terlibat dalam memberantas Narkoba.

            Inilah dua kesulitan yang saya temui dalam memberantas Narkoba, yaitu kepolisian kekurangan dana dan alat serta kekhawatiran masyarakat dalam memberantas lebih aktif penyalahgunaan Narkoba. Oleh sebab itu, negara harus memfasilitasi kepolisian dengan dana dan alat yang cukup serta ada perlindungan kepada masyarakat, baik secara rahasia maupun terang-terangan jika harus ikut terlibat aktif dalam pemberantasan penyalahgunaan Narkoba.

            Sampurasun.

Friday, 11 August 2017

The Yudhoyono Institute Wajib Didukung

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
The Yudhoyono Institute wajib didukung eksistensinya dan didorong untuk mencapai cita-citanya. Sepanjang yang saya tahu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendirikan institusi ini untuk membina, menjaring, menumbuhkan, dan mewujudkan para pemimpin muda pada masa depan. Cita-cita ini adalah cita-cita yang sangat mulia.

            Siapa pun yang memiliki niat dan bergerak untuk mendidik generasi muda menjadi pemimpin pada masa depan adalah wajib untuk didukung dan didorong penuh. Hal itu disebabkan memang kepada generasi mudalah masa depan diwariskan.

            Institusi yang didirikan AHY ini akan berkembang sangat cepat dan pesat dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan dan pengalaman mengenai berbagai permasalahan dunia, regional, dan lokal Indonesia. Dengan pengetahuan dan pengalamannya itu, institusi ini dapat menjadi lembaga yang diperhitungkan dalam memberikan berbagai masukan pada bangsa dan negara.

            Apabila cita-cita AHY ini benar dan lurus, The Yudhoyono Institute harus terbebas dari kepentingan partai. Institusi ini harus berada di atas partai. Bahkan, pemikiran dan berbagai analisa yang lahir dari institusi ini akan menjadi bahan pemikiran berbagai partai dalam mendorong Negara Indonesia menuju cita-cita pembangunan nasionalnya.

            Akan tetapi, apabila institusi ini didirikan hanya untuk kepentingan partai, terutama Partai Demokrat. Institusi ini tak lebih dari sebuah Ortom, ‘organisasi otonom’, yang berada di bawah partai. Gerakannya akan sangat sempit dan tidak menyentuh kepentingan bangsa secara keseluruhan. The Yudhoyono Institute hanya akan hidup sebagai alat politik praktis dan berkecenderungan melenceng jauh dari cita-citanya yang mulia, yaitu menciptakan para pemimpin muda pada masa depan.

            Jika memang benar dan lurus dengan cita-citanya, The Yudhoyono Institute akan mendorong siapa saja yang memiliki potensi dan kompetensi menjadi pemimpin masa depan dan bukan hanya mendorong AHY untuk menjadi presiden. Akan tetapi, bukan berarti AHY tidak boleh menjadi pemimpin pada masa depan, melainkan harus memberikan kesempatan dan pembinaan yang luas dan sama kepada calon-calon pemimpin masa depan, termasuk AHY sendiri.

            Apabila ternyata memang The Yudhoyono Institute hanya merupakan organisasi atau lembaga yang sangat terikat, bahkan patuh pada Partai Demokrat, saya khawatir lembaga ini akan layu sebelum berkembang. Kecil dan tidak tampak nyata besar sumbangsihnya pada bangsa dan Negara Indonesia. Dia hanya akan menjadi “pesaing” bagi organisasi-organisasi otonom lainnya yang sudah lebih dulu didirikan dengan niat menjadi alat partai politik.


            Sampurasun

Saturday, 29 July 2017

Membalas Rasa Hormat

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Kebiasaan membalas salam penghormatan yang dilakukan oleh orang lain kepada kita harus terus dibudayakan, dilestarikan, bahkan diupayakan untuk membalas salam hormat itu dengan cara lebih baik. Sikap membalas rasa hormat itu harus dilakukan terhadap siapa saja meskipun terhadap orang yang berbeda agama, berbeda status sosial, berbeda komunitas, berbeda jumlah kelompok (mayoritas-minoritas), berbeda posisi, berbeda pekerjaan, atau berbeda hal-hal lainnya.

            Kata Allah swt, “Apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan lebih baik atau balaslah (penghormatan itu dengan yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An Nisa 4 : 96)

            Jika kita ingin hidup damai, tenang, dan harmonis balaslah siapa pun yang menghormati kita dengan penghormatan yang lebih baik. Dalam ayat di atas, jelas sekali Allah swt sama sekali tidak membatasi keharusan membalas penghormatan itu berdasarkan agama, kelompok sosial, kelompok ekonomi, ataupun hal-hal lainnya. Siapa pun yang menghormati kita harus dibalas dengan rasa hormat yang lebih baik, minimal dibalas sama dengan nilai rasa hormat yang pertama. Begitulah Allah swt mengajarkan agar manusia berbudi pekerti yang baik dan menumbuhkan perdamaian.

            Jangan mentang-mentang kita pemimpin, guru, dosen, ulama, atau berada dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang menghormati kita lebih dulu, kita membalas rasa hormat itu dengan seenaknya, ketus, apalagi sama sekali tidak menghiraukan rasa hormat itu. Hal itu merupakan perilaku yang teramat buruk. Jika orang yang menghormati kita berasal dari kalangan yang berada di bawah kita, balaslah rasa hormat itu dengan pandangan cinta, kasih sayang, dan perlindungan. Jika orang yang menghormati kita itu berasal dari kalangan yang berada di atas kita, balaslah rasa hormat mereka dengan kerendahan hati, rasa penghargaan tinggi, dan rasa pengakuan bahwa mereka adalah lebih tinggi dibandingkan kita.

            Dengan membiasakan rasa hormat yang didorong oleh rasa cinta, kasih, penghargaan, dan pengakuan, hubungan komunikasi di antara manusia pun akan terjalin lebih harmonis dan sangat manis. Dengan demikian, hati kita akan terdidik, lebih lembut, dan lebih mudah menciptakan suasana yang tenang, tenteram, dan damai. Sebaliknya, dengan mengabaikan rasa hormat orang lain atau membalas rasa hormat itu dengan arogansi diri dan rasa angkuh diri, jalinan komunikasi pun akan terasa terhambat, tegang, dan sulit berjalan dengan baik.

            Mulailah kehidupan damai dan harmonis dengan sikap saling menghormati dengan membalas rasa hormat orang lain dengan cara yang lebih baik. Mulai dari sanalah rasa saling menghargai dan menghormati eksistensi manusia tumbuh dengan baik. Pada gilirannya nanti, jika rasa saling menghormati dengan cinta dan kasih sayang ini menebar ke seluruh dunia, perdamaian pun mudah sekali tercipta dan segala persengketaan pun mudah sekali diselesaikan.

            Hal yang sangat penting dipahami adalah perilaku itu masuk ke dalam catatan Allah swt dan akan menjadi nilai baik kita saat kita dalam pengadilan akhirat nanti.

            “Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

            Khusus bagi orang Indonesia, membalas rasa hormat dengan cara lebih baik ataupun dengan cara yang sama, secara langsung sudah melaksanakan sila kedua dari Pancasila, yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sikap membalas rasa hormat itu adalah ciri-ciri manusia yang beradab. Di samping itu, sekaligus pula telah melaksanakan sila ketiga dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Sikap saling menghormati dengan cara-cara yang baik, bahkan lebih baik lagi akan secara langsung memperkuat jalinan rasa kemanusiaan, kesetiakawanan, dan persaudaraan di antara sesama warga bangsa. Dengan demikian, Indonesia semakin kuat, semakin utuh, dan jauh dari konflik dan perpecahan yang sama sekali tidak diperlukan.

            Insyaallah.


            Sampurasun.

Friday, 28 July 2017

Al Quran Selalu Benar

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Islam bukanlah agama yang dipenuhi dogma atau doktrin. Islam adalah agama yang segalanya harus masuk akal, bisa dipahami dengan logika, dan diuji kebenarannya. Salah besar jika ada orang yang mengatakan dalam ajaran Islam ada dogma dan doktrin. Hal itu disebabkan yang namanya dogma dan doktrin itu selalu melahirkan pendapat dan pemahaman yang tidak boleh dipertanyakan kebenarannya, tidak boleh diuji benar atau salahnya, dan harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Salah atau buruk pun harus diyakini sebagai kebenaran. Itulah sifat dari dogma dan doktrin. Akan tetapi, tidak dengan Islam. Islam adalah ilmu pengetahuan yang dipenuhi oleh kebenaran yang menantang untuk diuji. Semua orang boleh tidak percaya Islam maupun Al Quran asal mampu menerangkan dengan benar dan ilmiah kesalahan-kesalahan Al Quran.

            Sungguh, sampai hari ini tidak ada yang memiliki kemampuan menjelaskan kelemahan dan kesalahan Al Quran. Tantangan Allah swt kepada seluruh manusia cerdas tetap berlaku sampai hari ini dan sampai hari ini pula tidak pernah ada yang mampu menjawab tantangan-Nya.

            Kata Allah swt, “Tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al Quran? Sekiranya Al Quran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS An Nisa 4 : 82)

            Dalam ayat di atas Allah swt menandaskan bahwa Al Quran adalah berasal dari Allah swt, bukan dari manusia, termasuk bukan dari Muhammad. Hal itu disebabkan manusia sering melakukan kesalahan dan kerap bertentangan pendapatnya antara hari ini dengan hari kemarin, bahkan hari besok. Al Quran tidak demikian. Al Quran tetap lurus dan benar tanpa ada pertentangan di dalamnya, baik sejak masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Apabila ada yang meragukan isinya yang selalu benar dan lurus tanpa ada pertentangan, cari saja sampai ketemu ayat mana yang bertentangan dengan ayat lainnya di dalam Al Quran yang sama itu. Kalau ada yang menemukan pertentangan itu, beri tahu saya. Saya akan beritahu bahwa yang bertentangan itu bukan Al Quran, tetapi pikiran pendek manusialah yang selalu bertentangan di dalam dirinya sendiri akibat dari hawa nafsu untuk membuktikan bahwa Al Quran salah meskipun pendapatnya lemah, bodoh, dan sering tampak lucu.

            Silakan beritahu saya ayat-ayat yang bertentangan itu. Hasilnya, saya sering menertawakan pendapat yang dipaksa-paksakan itu.

            Al Quran selalu benar dan pasti benar adalah disebabkan berasal dari Zat Yang Lurus, Zat Yang Jujur, dan Zat Yang Pasti Benar. Zat itu adalah Allah swt.

            Hal ini sebagaimana yang dikatakan Allah swt kepada Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Saat itu Allah swt memperkenalkan diri-Nya kepada Prabu Siliwangi dengan nama Sang Hyang Jatiniskala yang berarti Tuhan Yang Tidak Dapat Dibayangkan. Dalam naskah Jatiraga dituliskan bahwa Sang Hyang Jatiniskala benar-benar bersifat niskala, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Pernyataan diri “Aku” tersebut jelas menegaskan bahwa Allah swt adalah sumber dari “keaslian”, berbeda dari makhluk-Nya yang sering tidak jujur, Allah swt adalah sumber utama dari seluruh “kejujuran”.

            Al Quran berasal dari Zat Yang Tidak Terbayangkan, Zat Sumber Keaslian, dan Zat Utama Sumber Kejujuran. Oleh sebab itu, tak ada pertentangan dalam ayat-ayat Al Quran karena seluruh isinya “asli, lurus, dan jujur”.


            Sampurasun.

Teman Terbaik

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Kata atau istilah “teman” sangat sering kita dengar. Kita mungkin dapat mengatakan bahwa kita memiliki teman. Kita bisa menganggap Si A adalah teman kita. Si B dan Si C pun adalah teman kita.

            Akan tetapi, benarkah mereka adalah teman-teman kita?

            Mungkinkah mereka hanya orang yang kita kenal ketika kita berada dalam kecukupan dan pergi meninggalkan kita ketika kita berada dalam kesulitan?

            Saya pernah mendengar berbagai curahan hati, ‘Curhat’ dari beberapa pengusaha dan penguasa yang mengeluh betapa banyaknya teman ketika mereka berada dalam kekuasaan dan kecukupan. Akan tetapi, ketika kekuasaan mereka hilang dan ditimpa berbagai kesulitan, orang-orang yang disebut teman itu pun menghilang satu-satu atau secara bersamaan. Teman-teman mereka akan datang lagi jika para penguasa dan pengusaha itu kembali mendapatkan kemudahan, tetapi pergi lagi menghilang ketika kesusahan menimpa. Jika Allah swt menakdirkan kesulitan yang diderita berjalan dalam waktu yang sangat lama, bahkan sampai akhir hidupnya, tak ada teman yang berada bersamanya. Sesungguhnya, mereka bukanlah teman, tetapi hanya orang-orang yang berupaya mendapatkan keuntungan dari kita. Keuntungan itu bisa berupa uang, makanan, pengaruh, posisi, ataupun kekuasaan. Mereka tak lebih dari penjilat murahan yang akan segera pergi ketika kita ditimpa kesulitan.

            Benarlah syair dari Raja Dangdut Bang Haji Rhoma Irama yang berbunyi, “Banyak teman di meja makan … banyak teman ketika kita jaya … mencari teman memang susah.”

            Memang benar mencari teman sejati yang mau berada bersama kita ketika dalam keadaan suka dan duka teramat susah. Sangat jarang ada orang yang mau dekat dengan kita ketika kita berada dalam keadaan terpuruk. Bahkan, mereka akan menyalahkan kita dengan membicarakan kekurangan dan kejelekan kita di depan teman-teman barunya.

            Demikian pula yang dikatakan oleh menantu Nabi Muhammad, yaitu Ali bin Abi Thalib ketika mengomentari pendapat seseorang terhadap dirinya.

            Seseorang berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Hai Ali, temanmu banyak sekali.”

            Ali menjawab, “Nanti akan kuhitung ketika aku berada dalam kesulitan.”

            Jawaban Ali itu jelas menyiratkan bahwa orang-orang yang saat itu selalu bersama dirinya ketika menjadi khalifah dengan kekuasaan politik dan ekonomi yang besar, belum tentu teman-temannya. Ia akan menghitung dan mengetahui siapa teman yang sebenarnya ketika berada dalam kejatuhan dan kesulitan. Teman-teman yang sejati adalah yang selalu berada bersama dirinya ketika situasinya benar-benar dalam keadaan teramat menderita.

            Mencari teman itu memang susah. Oleh sebab itu, Allah swt memberikan petunjuk kepada kita tentang siapa saja teman-teman terbaik bagi kita itu.

            Kata Allah swt, “Mereka yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS An Nisa 4 : 69)

            Dalam ayat di atas jelas sekali bahwa sebaik-baik teman adalah para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Sekarang kita di dunia ini tidak bisa berteman dengan para nabi karena mereka sudah meninggal. Demikian pula tidak bisa berteman dengan orang-orang yang mati syahid karena mereka pun sudah meninggal. Hanya dua jenis manusia yang layak menjadi teman kita, yaitu para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh.

            Mereka adalah teman-teman terbaik yang selalu benar dalam berpikir, berasa, berbicara, dan bertindak. Mereka hanya hidup untuk berbuat kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka tidak akan “menyedot” energi kita secara licik, kemudian meninggalkan kita ketika kita berada dalam kesusahan. Mereka akan bersama kita bersenang-senang ketika mendapatkan banyak kenikmatan dan akan saling menghibur ketika berada dalam situasi sulit. Mereka adalah orang-orang yang anti-merugikan orang lain. Tak ada niat dalam diri mereka untuk menyusahkan orang lain. Tak ada keinginan dalam diri mereka untuk bersenang-senang dalam penderitaan orang lain. Tak ada upaya yang mereka lakukan untuk berbuat licik dan curang. Bahkan, mereka merasa menderita jika melihat orang lain menderita. Mereka adalah para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh.

            Untuk mendapatkan teman yang mencintai kebenaran dan banyak melakukan kebaikan di muka Bumi ini, caranya tidak ada yang lain, kecuali menjadikan diri kita sebagai pecinta kebenaran dan pelaku kesalehan. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengumpulkan orang-orang sesuai dengan sifat dan sikapnya masing-masing. Orang-orang buruk akan berteman dengan orang-orang buruk pula. Orang-orang baik akan berteman dengan orang baik pula.

            Nabi Muhammad berkata, “Untuk menilai seseorang, lihatlah teman-temannya. Jika perangai teman-temannya buruk, dia pun adalah orang buruk. Jika perangai teman-temannya baik, dia adalah orang baik. Setiap orang tidak berbeda dari teman-temannya.”

            Sekarang, nilailah diri kita. Perhatikan orang-orang yang berada di sekitar kita atau orang-orang yang kerap kita sebut sebagai “teman”. Jika mereka buruk, berarti kita adalah orang yang buruk. Jika mereka baik, kita pun sesungguhnya orang baik.

            Dalam waktu yang lain, Muhammad mengatakan, “Untuk menilai seseorang, lihatlah musuhnya. Jika musuhnya adalah orang-orang baik, dia adalah orang jahat.”

            Meskipun demikian, belum tentu jika musuhnya adalah orang-orang jahat, dia merupakan orang yang baik. Belum tentu dia adalah orang baik. Bisa jadi dia pun sebenarnya orang jahat yang sedang bermusuhan dengan orang jahat. Hal itu disebabkan orang jahat sangat sering bermusuhan dengan orang jahat. Para penjahat kerap bermusuhan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan orang-orang baik. Mereka tidak pernah bermusuhan karena sama-sama orang baik. Orang-orang baik tidak pernah bermusuhan di antara mereka. Kalau terjadi permusuhan, salah satu dari mereka telah berubah menjadi orang jahat atau kedua-duanya menjadi orang jahat pula. Tidak mungkin orang baik memusuhi orang baik. Orang baik selalu bersama dengan kebaikan.

            Cintailah kebenaran dan lakukanlah kebaikan di muka Bumi ini agar Allah swt mengumpulkan kita dengan para pecinta kebenaran dan orang-orang saleh di dunia ini. Di akhirat, teman kita akan ditambah lagi dengan para nabi dan orang-orang yang mati syahid pemberani pembela kebenaran sejati.

            Semoga Allah swt selalu memberikan petunjuk dan perlindungan bagi kita.

            Amin.


            Sampurasun.

Menyelesaikan Masalah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Untuk menyelesaikan masalah di antara kaum muslimin dan manusia pada umumnya, sesungguhnya harus kembali kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Dengan kembali kepada Allah swt dan Rasul, semuanya bisa jernih dan terang-benderang. Masalah-masalah yang harus diselesaikan itu bukan hanya masalah ritual keagamaan, pemahaman agama, atau segala yang terkait dengan keyakinan, melainkan pula masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

            Kata Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisa 4 : 59)

            Cara mengembalikan masalah kepada Allah swt tentu saja dengan berdoa dan mencari ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan perbedaan pendapat tersebut. Jika ayat-ayat Al Quran sudah menerangkan hal yang paling benar, patuhilah ayat tersebut sehingga semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Di samping itu, kita dapat mencari jalan keluar melalui sunnah Nabi Muhammad. Di dalam sunnah itu terkandung kata-kata Nabi Muhammad, perilakunya, sejarah hidupnya, sejarah yang hidup dan terjadi di seputar dirinya, serta asbabun nuzul ayat-ayat Al Quran. Itulah yang harus dijadikan patokan dalam menyelesaikan segala persengketaan ataupun perdebatan di antara kaum muslimin.

            Jika saat ini kita masih melihat kerasnya perdebatan, persengketaan, dan perselisihan, baik fisik, verbal, maupun yang lainnya, menandakan bahwa kaum muslimin tidak mengembalikan perbedaan-perbedaan itu kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Kaum muslimin masih sering menggunakan hawa nafsu pribadinya, egoisme dirinya, dan harga diri organisasinya untuk menyelesaikan masalah dengan mendesakkan keinginan agar pendapat sendirilah yang paling benar. Sungguh teramat sesat hidup dengan cara seperti itu. Kaum muslimin masih terjebak dalam keinginan untuk “menang” dalam perselisihan dan bukan keinginan untuk mendapatkan “kebenaran” demi kebaikan. Padahal, mereka sama-sama mengaku muslim dan mukmin. Itulah sebuah kesesatan. Sesat itu artinya tidak menemukan jalan yang benar. Kalau menemukan jalan yang benar, ya sudah tidak sesat lagi. Jalannya sudah benar dan lurus. Jalan yang lurus itu ada pada Allah swt dan Rasul-Nya, bukan berada pada hawa nafsu dan egoisme pribadi.

            Pelajari Al Quran, profil Muhammad, dan segala sesuatu yang terjadi di seputar Al Quran dan Muhammad. Itulah patokan kebenaran bagi setiap kaum muslimin.

            Khusus bagi kaum muslimin Indonesia, dengan mengembalikan segala permasalahan kepada Allah swt dan Rasul-Nya, sudah jelas sekali sesuai dengan sila ketiga dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Dengan mengembalikan segalanya kepada Allah swt dan Rasul-Nya, Indonesia bisa aman dari perpecahan dan terlepas dari persengketaan yang sama sekali tidak diperlukan. Itu artinya, persatuan terjaga.

            Di samping itu, dengan mengembalikan segala perbedaan pendapat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, kita pun akan terhindar dari saling menghujat, saling memaki, saling memfitnah, dan saling berbohong. Itu artinya, kita telah melaksanakan sila kedua dari Pancasila, yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Maksudnya, kita akan memperlakukan lawan debat atau mereka yang berbeda pendapat dengan kita secara beradab, adil, dan manusiawi. Kita akan berada dalam lingkaran saling menghormati dan saling menghargai.

            Hal yang paling penting dari itu semua adalah jelas sekali bahwa dengan mengembalikan segala permasalahan kepada Allah swt dan Rasul-Nya, kita sudah mengejawantahkan pengamalan sila pertama dari Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita wajib meyakini Tuhan Yang Maha Esa dan membuktikan keyakinan itu dengan mengembalikan segala masalah pada petunjuk dari Allah swt.

            Jika masih bertengkar tanpa mengembalikan masalah kepada Allah swt dan Rasul-Nya, kalian sesungguhnya tidak islami sekaligus tidak Pancasilais.

            Demi Allah swt, kalian tidak islami sekaligus tidak Pancasilais. Sesat dalam hawa nafsu sendiri-sendiri.


            Sampurasun