Monday, 15 May 2017

Muhammadiyah Yang Tidak Terikat Muhammadiyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno adalah sosok unik yang sangat menarik. Ia adalah orang yang mencintai pengetahuan. Akan tetapi, ia lebih mencintai pengetahuan yang disebarkan dan diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak menyimpan pengetahuan hanya di kepalanya. Ia tidak menumpuk-numpuk pengetahuan hanya di dalam memorinya. Ketika ia mendapatkan pengetahuan baru, disebarkannya pengetahuan itu untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak pernah ragu untuk mengungkapkan segala yang dia anggap benar dan tidak bimbang untuk bersuara lantang menantang siapa pun yang berbeda pendapat dengan dirinya. Ia akan memuntahkan seluruh keyakinannya di mana saja dan kapan saja tanpa ragu meskipun harus mengagetkan orang lain.

            Soekarno tidak suka berbicara “berputar-putar” seperti puisi yang membingungkan orang. Ia lebih suka berbicara langsung pada inti masalahnya dengan menggelegar agar mendapatkan perhatian orang banyak karena sifat masyarakat umum adalah “mengantuk” dan tidak pernah serius mendengarkan perkataan yang benar dan baik, apalagi jika harus berpikir.

            Hal itu seperti yang dikatakannya sendiri, “Kalau mau membangkitkan perhatian publik, orang musti ambil palu godam yang besar dan pukulkan palu itu di atas meja sehingga bersuara seperti guntur.”

            Ia sangat menyukai tokoh-tokoh dunia yang bersuara lantang dan tidak pernah ragu dalam berpendapat dan mengeluarkan isi pikiran-pikiran mereka. Soekarno tidak ragu dan tidak peduli jika mendapatkan fitnah. Sepanjang berpikir lurus dan benar, ia yakin dengan langkahnya.

            “Tuan barangkali menertawakan saya punya perkataan ini, tetapi lihatlah cara kerja orang-orang yang hebat. Setuju atau tidak setuju dengan mereka punya pikiran-pikiran, itu adalah perkara lain, tetapi lihatlah cara mereka bekerja. Tidak ada satu pun yang muntar-muntir.

            Mereka punya pikiran, mereka bantingkan di tengah khalayak sehingga mendengung dan mengilat!

            Luther tidak pernah setengah-setengah, Marx, Bakunin, Lenin,  dan Trotzky tak pernah memakai perkataan sutera. Vivekananda laksana bom dari kapal udara. Musolini punya falsafah hidup leef gevaarlijk. Hitler punya cita-cita hidup tertinggi ialah menjadi Trommler (pemukul canang) yang selalu bertindak dengan butalitat.

            Maukah Tuan satu teladan yang Tuan lebih kenal?

            Ambillah teladan dari Nabi Muhammad. Sejak hari pertama buka suara terang-terangan di Kota Mekah, ia sudah membikin ‘onar’. Ia tidak berkeliling dan muntar-muntir. Ia ketengahkan ia punya pikiran-pikiran dengan cara yang mentah-mentahan.”


Berani Otokritik
Soekarno pun tidak segan-segan mengkritik dirinya sendiri maupun organisasinya. Bahkan, tidak ragu untuk membuka kritikannya itu di hadapan publik.

            Ketika dibuang ke Endeh oleh penjajah, dia banyak bertukar pikiran dan berdiskusi dengan tokoh Persatuan Islam (Persis) A. Hasan yang berada di Bandung dengan surat-menyurat. Ketika bebas dari pembuangan, ia memasuki organisasi Islam Muhammadiyah. Ia bergabung dengan Muhammadiyah karena memiliki beberapa kesamaan gagasan, terutama dalam berpikir secara lebih modern. Meskipun demikian, cintanya kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw adalah jauh melebihi rasa cintanya pada organisasi Muhammadiyah. Oleh sebab itu, dasar pikirannya adalah Al Quran dan sunnah Nabi. Ia akan menolak sebuah aturan atau dogma yang nyata-nyata tidak berdasarkan Al Quran dan sunnah.

            Tak heran meskipun berada dalam Muhammadiyah, ia akan mengkritik habis Muhammadiyah jika bertentangan dengan keyakinannya. Ia akan mendukung penuh Muhammadiyah jika ia menyetujui pendapat organisasi itu. Akan tetapi, Soekarno akan menolak dan membangkang jika tidak menyetujuinya. Ia akan tetap berdiri dan berjalan lurus dan teguh dalam keyakinannya sendiri.

            “Saya masuk di kalangan Muhammadiyah bukanlah berarti  saya menyetujui semua hal yang ada di dalamnya. Di dalam Muhammadiyah terdapat banyak elemen-elemen yang menumbuhkan keinginan saya untuk mengabdi kepada Islam. Pada azasnya Muhammadiyah adalah mengabdi kepada Islam, tetapi tidak semua sepak terjangnya saya mufakati.”

            Begitulah seharusnya setiap muslim bersikap kepada organisasinya. Wajib hukumnya setiap muslim mendukung organisasinya jika organisasinya melangkah pada jalan yang benar. Akan tetapi, setiap muslim wajib mengingkari, membantah, melawan, dan melakukan otokritik kepada organisasinya sendiri jika organisasinya melangkah dalam jalan yang salah, ceroboh, bodoh, tolol, bahkan memalukan. Janganlah mematuhi pemimpin yang melakukan hal yang salah karena akan terbawa salah. Janganlah terus-menerus membela organisasi jika organisasinya itu melakukan penyimpangan dan gerakannya tidak masuk akal. Janganlah terus mencari-cari dongeng-dongeng palsu yang disandarkan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw hanya untuk melindungi dan menutupi kebodohan dan kesalahan oraganisasi dan pemimpinnya. Contohlah Soekarno yang berdiri teguh dalam keyakinannya. Untuk itulah, Allah swt menurunkan QS Al Ashr yang mewajibkan setiap muslim untuk saling menasihati, saling mengkritik, saling memberikan pengetahuan agar hidup ini menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

            Hal yang sangat penting untuk dipahami adalah setiap muslim berhubungan dengan Allah swt adalah tidak melalui pihak lain, tidak melalui organisasinya, tidak melalui ulama, tidak melalui ustadz, tidak melalui imam, tidak melalui masjid. Setiap muslim berhubungan secara langsung dengan Allah swt secara pribadi dan bertanggung jawab sendiri-sendiri pula. Oleh sebab itu, selamatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita berbuat adalah untuk menyelamatkan diri sendiri pada pengadilan akhirat kelak.


            Sampurasun.

Saturday, 13 May 2017

Mencegah Perceraian

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam rumah tangga kerap diwarnai berbagai “bumbu” kehidupan yang terkadang terasa manis, kadang terasa pedas. Namanya juga bumbu, ada manis, pedas, terkadang asam. Itulah rumah tangga. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa orang muslim yang menikah itu diibaratkan telah melaksanakan setengah dari ajaran Islam. Lumayan berat hidup berumah tangga itu.

            Ketika berhadapan dengan masa-masa sulit, sebuah rumah tangga diuji dengan berbagai masalah yang jika tidak bijak menghadapinya, bisa berubah menjadi perceraian atau perpisahan. Perjuangan untuk tetap bertahan dalam sebuah keluarga utuh adalah sangat berat dan membutuhkan keseriusan seluruh anggota keluarga. Semuanya harus belajar mau menerima keadaan sulit dan harus belajar pula menerima keadaan bahagia. Kesulitan dan kebahagiaan itu datang silih berganti tidak pernah berhenti. Hanya para pengkhayal yang selalu berharap segalanya selalu  berada dalam keadaan senang, padahal kesenangan itu baru dirasakan indahnya jika telah melalui masa sulit.

            Apabila terjadi pertengkaran, percekcokan, dan perselisihan paham di dalam keluarga, terutama di antara pasangan suami-istri, hendaklah diselesaikan terlebih dahulu berdua dan tidak perlu ada pihak lain yang tahu. Apabila masalah yang terjadi tidak dapat diselesaikan berdua, bolehlah diselesaikan dengan mengajak “juru damai” dari keluarga masing-masing.

            Kata Allah swt, “Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS An Nisa 4 : 35)

            Untuk mengadakan perbaikan, kedua juru damai dari keluarga laki-laki dan perempuan itu harus memiliki niat baik untuk kembali membuat rukun dan harmonis pasangan suami-istri itu. Hendaknya, para juru damai ini adalah orang-orang berwibawa yang dihormati dan didengar pendapatnya oleh pasangan suami-istri itu. Jika para juru damai ini benar-benar tulus membuat segalanya kembali lurus, pasti Allah swt akan melunakkan hati pasangan suami-istri itu untuk kembali jatuh cinta dan berada dalam keadaan harmonis.

            Hal yang banyak terjadi saat ini adalah justru sebaliknya. Pihak istri mengajak keluarganya untuk menyudutkan suaminya. Demikian pula, suami mengajak keluarganya untuk membela dirinya sendiri dan menyalahkan istrinya. Akibatnya, permasalahan tidak selesai karena seluruh keluarga dari kedua belah pihak sudah terpolarisasi dalam dua kekuatan yang saling menyerang. Cara seperti ini sungguh sangat buruk dan selalu berakhir dengan buruk, perceraian.

            Perceraian adalah diperbolehkan, tetapi sesungguhnya sangat dibenci oleh Allah swt. Meskipun Allah swt membenci perceraian, tak ada dosa bagi mereka yang bercerai, kecuali kebohongan dan fitnah yang terjadi di antara keduanya.

            Bercerai itu boleh, tetapi akan lebih baik jika hidup kembali dalam cinta yang harmonis dan rukun seiya sekata.


            Sampurasun

Friday, 12 May 2017

Umat Terpilih

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saling klaim sebagai umat terpilih ini sudah terjadi dari zaman ke zaman. Orang Islam menganggap dirinya umat terpilih, Kristen juga sama, Yahudi pun demikian, agama Budha, Hindu, Konghucu, dan agama-agama lainnya pun sama mengakui sebagai umat terpilih. Satu-satunya, keyakinan dan ramalan yang tidak mengklaim dirinya sebagai umat terpilih adalah orang-orang Papua. Mereka justru dalam berbagai ramalan dan kisahnya selalu “menunggu” orang luar atau orang asing yang mencintai mereka untuk mengadakan perbaikan dan menumbuhkan kemakmuran bagi mereka.

            Bagi orang-orang yang suka mengklaim dirinya sebagai “umat terpilih”, saya meragukan tujuan mereka dijadikan sebagai umat terpilih.

            Tuhan memilih mereka itu untuk apa?

            Apa yang harus mereka lakukan sebagai umat terpilih?

            Pada tahu nggak sih?

            Ngomong saja kampanye sebagai umat terpilih, tetapi tidak mengerti dipilih untuk apa. Kacau.

            Pasti tidak pada tahu kan?

            Jujur saja tidak tahu, jangan sok tahu kalian.

            Saya yakin banyak yang sok tahu karena ternyata kehidupan dunia selalu kacau, semrawut, tidak harmonis, dan penuh pertikaian. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa mereka terpilih untuk menguasai dunia, mengatur hidup manusia, mengendalikan orang lain, menjadi orang paling kaya, menjadi umat paling cerdas, menjadi umat paling bergaya di seluruh muka Bumi.

            Begitulah yang saya tahu dari para pengklaim sebagai umat terpilih itu. Agama apa pun mereka dan bangsa apa pun mereka.

            Semua dugaan itu salah total. Demi Allah swt, salah total. Hal itu disebabkan tidak ada satu pun umat, baik itu agama, bangsa, maupun ras yang ingin hidup diatur oleh orang lain, tak ada sekelompok manusia pun yang ingin dikendalikan oleh pihak lain. Tak heran jika banyak terjadi perang, penjajahan, hoax, penggelapan sejarah, penipuan, dan propaganda sesat. Penjajahan adalah berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi ternyata salah dan gagal total. Perang dan teror juga sama berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi gagal juga.

            Lantas, kalian ini dipilih untuk menjadi apa dan untuk melakukan apa?

            Mari kita kembali kepada Sifat Tuhan Yang Menciptakan Seluruh Alam Semesta. Tuhan itu Mahakasih, Mahacinta, dan Maha Penyeimbang. Ketika Bumi dan langit diciptakan, Tuhan menciptakannya dengan penuh cinta. Ketika Tuhan menciptakan seluruh isi Bumi, isi langit, dan isi yang berada di antara langit dan Bumi adalah dengan rasa kasih sayang. Tuhan selalu menyeimbangkan ciptaan-Nya hingga rencana-Nya sendiri selesai sebagaimana yang diinginkan-Nya dari awal mula penciptaan hingga akhir kehancuran seluruh ciptaan-Nya.

            Dengan memahami sifat Tuhan seperti itu, sesungguhnya Tuhan memilih umat-umat terpilih untuk menjadi wakil-Nya di muka Bumi dalam rangka menebarkan cinta, kasih sayang, perdamaian, ketertiban, keharmonisan, dan keseimbangan hidup alam semesta. Itulah yang saya pahami sebagai “Umat Terpilih”. Sangat tidak mungkin Tuhan menjadikan suatu umat sebagai terpilih jika hanya untuk melakukan kerusakan dan kekacauan dalam hidup manusia.

            Dengan demikian, sesungguhnya sangat bagus jika setiap umat beragama, apa pun agamanya, apa pun rasnya, merasa diri sebagai “umat terpilih” untuk melakukan berbagai perbaikan di muka Bumi, menebarkan cinta, kasih sayang, menciptakan keharmonisan, dan menjaga keseimbangan hidup alam semesta. Tak perlu saling klaim bahwa dirinya adalah “sebenar-benarnya umat terpilih”. Buktikan saja bahwa kalian adalah benar-benar umat terpilih dalam berbagi dengan sesama manusia dan menyebarkan banyak kebaikan di muka Bumi.

            Jika kalian tidak melakukan hal-hal baik itu, berarti kalian adalah “umat terpilih untuk menjadi pengacau di muka Bumi”. Cinta, kasih sayang, perdamaian, keseimbangan, dan keharmonisan itu bukan hanya slogan di mimbar-mimbar ceramah, melainkan harus terbukti secara nyata di dalam hidup sehari-hari. Hal yang paling kecil adalah murah senyum dan membuang paku di jalan adalah bukti dari perbuatan baik.

            Pernahkah kita melakukan perbuatan kecil yang baik itu?

            Kalau belum, malulah kita karena berbuat baik yang kecil saja belum bisa, apalagi perbuatan baik yang lebih besar.

            Kalau kalian hanya baru punya slogan dan tidak memiliki cara yang benar di dalam kitab suci agama kalian, ikuti saja saran Nabi Muhammad saw, “Sering-seringlah berbicara dengan nuranimu sendiri.”

            Tanyakan pada hati yang terdalam cara-cara terbaik untuk melakukan kebaikan dalam sepanjang hidup kita. Insyaallah, petunjuk itu akan datang pada kita.


            Sampurasun.

Antara Sistem Hukum dan Ilmu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Benar kita harus mengormati sistem dan hukum positif. Sesalah apa pun hakim membuat keputusan, sebrengsek apa pun hakim menjatuhkan vonis, sebodoh apa pun sekumpulan hakim, setolol apa pun sebuah vonis, kita tetap harus menghormatinya. Hal itu disebabkan hakim merupakan bagian dari sistem yang harus dihormati agar sistem negara tetap tegak dan tidak berubah menjadi anarkis. Akan tetapi, rasa hormat itu hanya sebatas terhadap sistem, tidak ada rasa hormat dalam ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan yang ada hanya benar dan salah. Tidak ada hubungan dengan harga diri, toleransi, dan rasa hormat. Benar harus dikatakan benar. Salah harus dikatakan salah. Tidak ada rasa keadilan dalam ilmu pengetahuan. Contohnya, kita tidak boleh ragu mengatakan bahwa Bumi itu bulat dan harus berani menyalahkan orang lain yang mengatakan Bumi itu datar. Siapa pun yang mengatakan Bumi itu datar, dia adalah orang bodoh dan kita harus mengatakannya sebagai kesalahan. Mau itu ulama, presiden, mertua, orangtua kandung, pendeta, biksu, rahib, siapa pun yang mengatakan bahwa Bumi itu datar adalah salah. Di samping itu, siapa pun yang mempertahankan mati-matian pendapat bahwa Bumi itu datar adalah sekumpulan manusia bodoh, tolol, dan goblok.

            Meskipun demikian, jika terjadi silang sengketa kasus hukum tentang bentuk Bumi dan prosesnya masuk sidang pengadilan, semua harus menghormatinya meskipun hakim memutuskan bahwa orang yang mengatakan bahwa bentuk Bumi bulat adalah orang yang melakukan penodaan pada kitab astronomi dan melakukan penghinaan kepada orang-orang yang berpendapat Bumi itu datar. Keputusan tolol hakim itu harus dihormati karena itu merupakan bagian dari sistem yang harus disepakati. Akan tetapi, tidak ada rasa hormat dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bergerak sendiri membuktikan kebenarannya dan tidak bisa dibendung maupun dibatasi. Keputusan hakim memang harus dihormati, tetapi secara ilmu, keputusan itu harus disalahkan karena memang salah. Semua tahu bahwa Bumi itu bulat dan tidak datar.

            Begitulah seharusnya kita menyikapi vonis hakim terhadap Ahok yang telah menyatakan bahwa Ahok melakukan penodaan terhadap agama. Bagaimana pun kita menganggap salah vonis hakim, kita tetap harus menghormatinya. Akan tetapi, kita tidak bisa menghormatinya secara ilmu pengetahuan. Hal itu disebabkan secara ilmu, Ahok tidaklah salah karena pendapat yang mengatakan bahwa QS Al Maidah : 51 adalah ayat larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen dalam sistem politik demokrasi sebetulnya pendapat yang salah. Ayat itu sama sekali tidak berhubungan dengan pemilihan pemimpin dalam sistem politik demokrasi. Ayat itu adalah larangan bagi kaum muslimin untuk berlindung dan patuh kepada Yahudi dan Kristen jika terjadi perang yang melibatkan Yahudi dan Kristen sebagai pengkhianat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Beberapa tulisan di blog ini juga sudah menerangkannya dan tidak ada yang berani membantah secara ilmu. Semua pengecut untuk berdebat soal itu.

            Penggunaan QS Al Maidah : 51 itu terasa sebagai akal-akalan untuk menjatuhkan Ahok dan itu adalah tindakan pengecut yang aneh karena ternyata banyak pos-pos kepemimpinan di Indonesia ini yang dipegang oleh orang-orang Kristen, tetapi tidak pernah dipermasalahkan. Ada banyak ratusan kepemimpinan orang Kristen dalam mengelola masyarakat muslim yang tidak pernah dipermasalahkan, tetapi ketika urusan Ahok dan posisi Gubernur DKI Jakarta, ayat itu pun digunakan, termasuk dalam menjerumuskan Ahok ke dalam penjara.

            Ahok hanyalah salah seorang warga Negara Indonesia. Jika pemahaman QS Al Maidah : 51 tetap dalam keadaan salah, kasus-kasus seperti ini memiliki potensi kemungkinan terjadi berulang-ulang dan kita jatuh dalam kerumitan yang sama berulang-ulang pula. Itulah yang dimaksudkan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno sebagai umat Islam tetap tertinggal seribu tahun lamanya. Pemahaman QS Al Maidah : 51 harus diluruskan karena pasti ada pemahaman yang salah. Tidak mungkin pemahaman yang bertolak belakang itu benar semuanya, harus ada satu yang benar dan tepat, pemahaman yang lain pasti salah. Tidak perlu ada alasan lagi “demi persatuan dan ketenangan” sehingga tidak memperbaiki pemahaman-pemahaman yang keliru. Semuanya harus diluruskan. Caranya, perdebatkan ayat itu secara ilmu hingga lelah dan letih dengan menggunakan metode ilmiah, hasilnya kita pegang bersama.

            Sayangnya, saya yakin bahwa BANYAK ORANG TERBELAKANG YANG GEMAR HADITS-HADITS PALSU PASTI PENGECUT UNTUK BERDEBAT KARENA MEREKA MEMANG MANUSIA TERBELAKANG.


            Sampurasun.

Sistem Khilafah Bukan Ajaran Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kita harus membedakan antara sistem khilafah dengan arti khilafah secara bahasa. Arti khilafah secara bahasa adalah “pengganti” atau “pewaris”. Secara bahasa, semua orang pasti setuju bahwa sebuah kepemimpinan jika sudah berhenti, harus ada penggantinya untuk meneruskannya. Kepemimpinan sistem apapun harus ada penggantinya untuk meneruskan kepemimpinan. Semudah itu untuk memahaminya.

            Pemahaman menjadi lebih sulit dan semrawut ketika khalifah ini diartikan sebagai sistem khilafah yang telah runtuh itu yang diakibatkan berbagai sebab. Ketika sistem khilafah ini runtuh, selesailah kekhalifahan secara sistem. Kekhalifahan memang runtuh, tetapi Islam tidak runtuh. Bahkan, Islam lebih cepat menyebar ke seluruh dunia hingga sekarang ini tanpa menggunakan sistem kekhalifahan yang tersambung ke Turki.

            Begitu pula umat Islam Indonesia tidak pernah tersambung dengan sistem kekhalifahan pada masa lalu. Umat Islam Indonesia hidup dengan sistem masing-masing di wilayahnya masing-masing. Umat Islam Indonesia sejak zaman Rasulullah saw sama sekali tidak terhubung pada sistem di Mekah itu. Hal itu disebabkan sistem khilafah hanyalah sebuah sistem politik yang ada di wilayah tertentu pada saat itu.

            Coba itu baca tulisan teman saya Dr. H. Gunawan Undang di blog ini yang berjudul Teori Kapur Barus” Prof. Hamka Terbukti?. Dalam tulisan itu dipaparkan bagaimana para sahabat pada zaman Nabi Muhammad saw berduyun-duyun berdatangan ke Indonesia menyebarkan ajaran Islam dan tidak mengaitkan Indonesia pada sistem khilafah. Hal itu menunjukkan bahwa sistem khilafah bukanlah ajaran ajaran Islam. Itu hanya sebuah sistem politik yang digunakan saat itu pada wilayah tertentu.

            Para pendukung sistem khilafah tidak pernah bisa menemukan ayat Al Quran maupun Hadits yang mewajibkan untuk membentuk sistem politik khilafah. Semua dalil yang digunakan mereka, baik dari Al Quran maupun Hadits adalah pendapat mereka sendiri atau pendapat para ulama mereka. Kalau hanya pendapat, penafsiran, opini manusia atau ulama, semua orang bisa berpendapat dan berhak menafsirkan sepanjang tidak bertentangan dengan Al Quran. Bahkan, terkadang saya melihat mereka memaksakan kehendak dengan menafsirkan ayat Al Quran maupun hadits sebagai alasan atau dasar untuk mewajibkan sistem khilafah.

            Kalau soal hukum-hukum yang belum dilaksanakan di Indonesia sesuai dengan hukum pada masa lalu, tidak perlu harus menggunakan sistem khilafah, sepakati saja hukum-hukum itu, lalu masukkan ke dalam lembaran negara. Hukum itu pasti berlaku.

            Persoalannya, sejauh mana dan sehebat apa kita memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya penegakkan hukum yang tertulis di dalam Al Quran itu?

            Kalau cuma teriak-teriak pengecut dan putus asa dengan menggunakan kata-kata kafir, sesat, bidah, musyrik, dan lain sebagainya dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, apalagi dengan hujatan penuh kebencian, jangan harap masyarakat akan mengerti. Bahkan, masyarakat akan merasa jijik dan marah.

            Khilafah adalah fitrah manusia di seluruh dunia. Sistem apa pun memerlukan pengganti untuk meneruskan kepemimpinan. Akan tetapi, sistem khilafah hanyalah sebuah sistem politik yang pernah digunakan manusia dan kini sudah runtuh oleh berbagai sebab, lalu diganti dengan sistem-sistem politik yang baru. Untuk sistem politik, tak ada keharusan bentuk yang khusus, baik dari Allah swt maupun Nabi Muhammad saw. Hal yang harus diperjuangkan adalah sistem apa pun harus dapat menjamin praktik-praktik pengabdian manusia kepada Allah swt dan memiliki kemungkinan untuk lebih menyempurnakan pengetahuan tentang Islam dan penerapan syariat Islam dengan cara yang damai, terdidik, dan dapat dipahami masyarakat.

            Kalau diterapkan dengan cara kasar dan penuh kebencian, itu namanya bukan rahmatan lil alamin. Itu hanya memancing huru-hara dan keributan.


            Sampurasun.

Thursday, 11 May 2017

Laki-Laki Diciptakan Lebih Dulu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam proses penciptaan manusia, Allah swt menciptakan dulu laki-laki sebagai awal atau leluhur nenek moyang sebuah suku. Suku ini diberi kemampuan intelektualitas tertentu, bentuk fisik tertentu, bahasa tertentu, dan tantangan hidup tertentu yang berbeda dibandingkan suku-suku lainnya. Agar terjadi regenerasi atau perkembangbiakkan, Allah swt menciptakan perempuan dari tubuh laki-laki pertama itu. Setelah itu, semakin banyaklah jumlah manusia dalam setiap suku tersebut.

            Kata Allah swt, “Wahai Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (laki-laki) dan (Allah) menciptakan pasangannya (perempuan) dari (diri)nya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS An Nisa 4 : 1)

            Para ahli berpendapat bahwa bagian tubuh laki-laki pertama yang dijadikan perempuan sebagai pasangannya adalah tiga pasang tulang rusuk. Ketiga pasang tulang rusuk itulah yang menjadi perempuan sebagai istrinya. Jadi, perempuan itu sebenarnya berasal dari laki-laki. Laki-lakilah yang pertama kali dari tubuhnya terwujud makhluk baru yang bernama perempuan. Setelah itu, perempuanlah yang mengeluarkan manusia baru dari tubuhnya melalui proses melahirkan. Adapun laki-laki tidak lagi untuk saat sekarang ini. Entah dengan teknologi yang berkembang masa depan mungkin manusia bisa melakukan kreasi penciptaan manusia baru dari tubuh laki-laki.

            Kejadian ini hanya satu kali sampai saat ini, yaitu terhadap laki-laki pertama dan perempuan pertama sebagai cikal bakal suku tertentu. Tidak lagi terjadi pada generasi-generasi berikutnya. Jangan ada lagi yang menduga bahwa laki-laki yang sedang mencari pasangan diartikan sebagai sedang “mencari tulang rusuknya”. Hal itu disebabkan generasi-generasi berikutnya manusia terlahir dari pasangan ibu-bapaknya yang berbeda-beda keluarga.

            Kalau pujangga, penyair, bolehlah mengatakan bahwa engkau adalah tulang rusukku atau aku adalah tulang rusukmu. Itu kan hanya bahasa cinta, bahasa rayuan, bahasa gombal, bahasa rasa rindu, bahasa yang agak lebay. Boleh-boleh saja. Akan tetapi, itu bukanlah kebenaran ilmu karena Allah swt dan ilmu pengetahuan tidak sependapat dengan hal itu.

            Tugas mereka, baik laki-laki dan perempuan itu adalah berkembang biak untuk menjadi suku tertentu sambil tetap hidup dalam keadaan bertakwa kepada Allah swt sampai Allah swt menghentikan hidup mereka dan mengembalikan mereka kepada asalnya, yaitu Allah swt.


            Sampurasun.

Saatnya Meninggalkan Ulama Terbelakang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kehidupan ini berkembang dan terus maju mengikuti putaran roda zaman yang berubah-ubah. Apa pun kondisi kita, siap tidak siap, zaman terus melaju dalam iramanya yang telah ditetapkan Allah swt. Waktu terus berjalan dan meninggalkan semua yang tidak siap. Demikian pula pemahaman-pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam semakin berwarna sesuai dengan kehidupan modern. Islam tidak akan pernah ketinggalan zaman, tetapi selalu saja ditahan-tahan untuk tidak berkembang oleh para ulama yang terbelakang. Mereka adalah ulama-ulama yang jiwanya masih tenggelam dalam dendam lama tentang kisah-kisah kejatuhan kekhalifahan Turki, ulama yang mudah memberikan cap “kafir dan sesat” dengan hal-hal baru yang tidak mereka pahami dengan benar, ulama yang terlalu banyak menyuguhkan dongeng-dongeng irrasional dengan menyandarkan kegaiban pada “kekuasan Allah swt”, ulama yang terlalu menikmati penghormatan umat sehingga berbicara tanpa pengetahuan yang benar, ulama yang terlalu banyak berimajinasi dan menikmati khayalannya untuk disebarkan pada masyarakat, ulama yang enggan untuk berdebat tentang kebenaran karena takut kalah, ulama yang kerap menyatakan dirinya paling benar tentang pemahaman suatu ayat, ulama yang keras kepala, dan lain sebagainya. Mereka adalah ulama-ulama terbelakang yang harus segera ditinggalkan karena akan menghambat kemajuan umat Islam dalam “mengendalikan” manusia. Merekalah yang sesungguhnya membuat umat Islam tetap dalam kondisinya yang lemah dan terbelakang.

            Jujur saja, dengan banyaknya buku referensi yang bisa didapat hari ini dan praktik-praktik spiritual yang bisa dilakukan dengan lebih baik pada zaman ini, banyak sekali ayat Al Quran yang pemahamannya justru berbeda dibandingkan dengan pemahaman lama. Ayatnya tetap sama, tetapi pemahamannya bisa lebih baik. Ulama-ulama terbelakang akan mengatakan bahwa pemahaman yang telah berkembang itu sebagai “sesat” dan “kafir”. Termasuk pula pemahaman tentang QS Al Maidah : 51. Orang-orang menduga bahwa itu larangan untuk memilih Kristen dan Yahudi untuk menjadi pemimpin dalam berbagai situasi, baik perang maupun damai, termasuk dalam sistem politik demokrasi. Sesungguhnya, saya bisa membuat satu buku khusus tentang pemahaman yang benar mengenai QS Al Maidah : 51 yang lebih baik dan berbeda jauh dengan yang diduga orang saat ini. Saya bertanggung jawab penuh terhadap hal itu secara keilmuan. Seandainya ada penerbit yang tertarik menerbitkan naskah itu, saya bersedia menyusunnya untuk menjadi pemicu agar orang-orang berani berpikir, berani mengambil terobosan, dan berani memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan cara-cara yang lebih logis, rasional, dan tidak irrasional. Dalam beberapa tulisan di blog ini pun, saya menulis sedikit tentang pemahaman saya tentang QS Al Maidah : 51, bahkan ada yang satu tulisan mencapai enam belas halaman. Saya sengaja menulis itu untuk menantang orang lain berdebat, siapa pun itu. Akan tetapi, ternyata tidak ada yang berani mendebat tulisan saya. Orang-orang mungkin terlalu pengecut dengan alasan “kita harus memperkecil perbedaan dan melebarkan persamaan”. Alasan itu tidak tepat di dalam ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu bersifat “jujur” serta akan mengatakan salah jika dirinya salah dan akan mengatakan benar jika dirinya benar. Alasan itu hanya tepat dalam hubungan hidup sehari-hari ketika kita bersosialisasi. Orang-orang tidak mau mendebat saya mungkin karena ingin selalu berbeda sehingga dapat menggunakan perbedaan itu untuk kepentingan politik dan ekonominya. Sungguh, pemahaman QS Al Maidah : 51 itu lurus dan hanya satu. Hal yang membuat berbeda adalah keterbelakangan dan penggunaan ayat untuk kepentingan politik dan ekonomi.

            Baru-baru ini saya mendengar ulama terbelakang berceramah tanpa ilmu pengetahuan yang benar sehingga menyesatkan orang lain.

            Pengen tahu?

            Dalam ceramahnya dia memuji-muji kemuliaan Ramadhan yang dibumbui dongeng tidak masuk akal, tetapi disampaikan seolah-olah benar.

            Ulama itu berkata, “Saking mulianya bulan Ramadhan yang penuh ampunan, orang-orang yang sekarang sedang disiksa di dalam neraka pun dihentikan siksanya. Mereka diberikan waktu untuk berhenti dari siksa selama bulan Ramadhan.”

            Para pembaca mungkin kalau tidak saya bahas sekarang akan langsung percaya. Apalagi jika ulamanya janggutnya panjang, bajunya longgar kayak orang-orang Arab, sorbannya sedikit lecek, dan di tangannya ada tasbih.

            Iya kan?

            Enak bener orang itu berceramah kayak yang tahu saja. Dia mungkin sudah dimabuk hormat sehingga apa pun yang dia katakan akan dipercaya orang lain. Mungkin para pengikutnya percaya saja 100%, tetapi saya tidak akan pernah percaya karena ceramahnya tidak masuk akal.

            Memangnya siapa yang sudah masuk neraka sekarang?

            Bukankah kiamat belum terjadi?

            Bukankah manusia dikumpulkan di padang Mahsyar belum terjadi?

            Bukankah hari pengadilan akhirat belum terjadi?

            Bagaimana mungkin pengadilannya belum digelar, tetapi sudah ada yang dihukum dalam neraka?

            Untuk apa ada pengadilan akhirat jika sejak sekarang sudah ada yang dihukum berada di dalam neraka?

            Bahkan, menurut Dr. Deden Suhendar, teman saya yang mendapatkan nilai cum laude dari Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Padjadajaran Bandung bahwa surga dan neraka itu “belum diciptakan”. Surga dan neraka diciptakan nanti setelah dunia ini dihancurkan. Berdasarkan keterangannya itu sudah pasti belum ada orang yang berada di dalam neraka karena nerakanya juga belum diciptakan.

            Kalau begitu, apa dasar ilmu yang digunakan ulama itu bahwa sudah ada orang yang berada dalam neraka saat ini?

            Itulah ulama terbelakang yang gemar menceramahkan dongeng-dongeng dan bukan ayat-ayat Al Quran.

            Umat Islam harus terbuka untuk menerima pemahaman baru mengenai Islam. Generasi muda pun harus berani “menggebyarkan” pemikiran-pemikiran baru tentang Islam dan jangan takut terhadap para ulama terbelakang yang gemar dengan cap “kafir dan sesat”. Islam itu mendorong kemajuan berpikir dan bukan membatasi hidup manusia  soal halal, haram, sunah, makruh saja. Islam adalah agama yang membebaskan manusia untuk berpikir dan berbuat lebih baik untuk manusia dan kemanusiaan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno mengatakan dengan tegas sekali, Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah yang telah saya tuliskan di dalam satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan bukan hanya karena fardhu atau sunnah, melainkan juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batas zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru.”

            Islam itu maju dengan pemikiran baru, bukan statis terkurung aturan-aturan tak logis.


            Sampurasun.

Wednesday, 10 May 2017

Gemar Menuduh Kafir

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kegemaran menuduh kafir di kalangan umat Islam kepada umat Islam sendiri memang sudah terjadi sejak lama. Hal itu disebabkan terbatasnya pengetahuan umat Islam tentang manusia dan kemanusiaan berikut sejarahnya. Mereka selalu membandingkan segala situasinya dengan zaman Rasululllah saw dan para khalifah yang empat itu. Padahal, zaman sudah berkembang, problematika kehidupan semakin rumit, sudah mengenal istilah negara, hubungan internasional semakin luas. Apabila ada di antara kaum muslimin yang sudah berkembang dan berpikir lebih maju serta menggunakan ajaran Islam secara modern, kerap mendapat “cap” kafir karena dianggap menentang pendapat para ulama yang pikirannya masih terbelakang. Hal inilah yang dikeluhkan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

SOEKARNO. Foto: baeksoo11.blogspot.co.id

            “Kita punya perikehidupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideologi Islam, sangatlah terkurung oleh keinginan meng-copy 100% segala keadaan dan cara-cara dari zaman Rasul saw dan khalifah yang besar. Kita tidak ingat bahwa masyarakat adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak mati, tetapi hidup mengalir berubah senantiasa, maju, berevolusi, dinamis. Kita tidak ingat bahwa Nabi saw sendiri telah men-jaiz-kan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’, kita gemar sekali mencap segala barang baru dengan cap ‘kafir’.”

            Orang yang gemar mengkafir-kafirkan orang lain itu sesungguhnya orang-orang lemah yang tidak memiliki kemampuan dan keberanian untuk menjelaskan pendapatnya dengan baik dan logis. Oleh sebab itu, mereka memakai cara yang paling mudah untuk memaksakan kehendaknya kepada masyarakat, yaitu cap “kafir”. Dengan cap kafir itu masyarakat terpengaruh, lalu pengaruhnya diperluas dengan berbagai hoax dan ujaran kebencian. Akan tetapi, jika mereka diajak berdebat dengan logis dan ilmiah, mereka pasti kabur. Hal itu disebabkan mereka hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh yang membodohi orang lain.

            Sampurasun.

Sebagian Umat Islam Menjengkelkan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Memang menjengkelkan kelakuan sebagian orang-orang Islam. Saya sebagai orang Islam sering merasa malu dengan perilaku orang Islam yang sama sekali tidak menampilkan perilaku yang tidak Islami.

            Bagaimana tidak jengkel, begitu terang benderang Allah swt memberikan banyak pengajaran kebaikan dalam Al Quran, tetapi banyak yang memilih berpegang pada dongeng-dongeng kuno dan hadits-hadits dhaif?

            Akibat dari itu semua, Islam tampil jauh berbeda dibandingkan yang diharapkan Allah swt sendiri. Islam mengajarkan harus menghormati orang tua, mereka malah meninggalkan orang tuanya dengan alasan jihad yang tidak bisa dipahami dengan benar. Islam mengharuskan untuk menebarkan cinta dan kasih sayang, mereka malah menebarkan permusuhan. Islam mengajarkan untuk saling menasihati, saling berdiskusi, saling berdebat untuk mendapatkan kebenaran, mereka malah membudayakan tradisi keras kepala. Islam mengajarkan untuk mudah tersenyum dan berbahasa santun, mereka malah tampil sangar dengan bahasa-bahasa kasar. Ujungnya, umat Islam tidak pernah berkembang dengan baik sebagai agen-agen umat terpilih untuk memberikan rasa damai dan aman di muka Bumi.

            Islam mengajarkan untuk terus-menerus belajar sejak lahir hingga mati, mereka malah enggan belajar karena merasa sudah paling benar. Akibatnya, ilmu umat Islam tetap berada di situ-situ saja tidak berkembang. Hal itu pun mengakibatkan banyak sekali kekeraskepalaan dengan ciri mudahnya menuduh orang lain sebagai kafir dan sesat. Padahal, mereka sendiri yang ketinggalan zaman dan mempertahankan kebodohannya. Mereka ingin semua orang bodoh seperti dirinya, padahal orang-orang di luar mereka telah jauh berkembang.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno pun kerap merasa jengkel dan marah terhadap kelakuan-kelakukan orang Islam.

            “Bilamana saya dulu kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membangunkan kesan anti-Islam, bilamana saya dulu kadang-kadang bertengkar dengan pihak Islam atas sesuatu masalah masyarakat Islam, itu bukan karena menentang Islam sebagai Islam, bukan karena anti-Islam qua agama, bukan karena anti-Islam an sich, melainkan hanyalah karena tidak senang melihat keadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang membangunkan amarah dan kejengkelan saya.”

            Memang sejak dulu hingga saat ini pun tidak beda-beda amat. Dulu kata Soekarno orang-orang Islam kerap merengek kepadanya agar negara tidak dipisahkan dari Islam. Itu artinya, sebagian orang Islam ingin mendapatkan keleluasaan dan  kekuasaan yang dijamin negara. Soekarno melihat itu sebagai “rintihan” dan bukan perjuangan. Orang-orang itu hanya merintih meminta keistimewaan dalam bernegara. Sekarang juga masih sama, ingin diberi keistimewaan oleh negara yang jika tidak diberi keistimewaan itu merengek pakai demonstrasi besar-besaran dengan menghamburkan opini-opini yang tidak tersusun dan tidak tahan uji jika ditelusuri secara ilmiah. Terlalu banyak hawa nafsu yang diumbarkan.

            Seharusnya, umat Islam mewarnai kehidupan ini dengan tampil sebagai pribadi-pribadi thayibah, pribadi-pribadi yang baik, sempurna, menyenangkan, dan mendamaikan. Akan tetapi, sebagian masih membawa-bawa dendam lama dengan ceritera-ceritera lama yang belum tentu benar soal kejatuhan kekhalifahan di Turki itu. Akibatnya, dendam itu terus membara serta meminggirkan banyak potensi dan kesempatan untuk tampil sebagai muslim yang tidak terpengaruh oleh jatuh-bangunnya kekhalifahan yang sudah runtuh itu.

            Beginilah umat Islam, sebagian kecil yang memusingkan itu benar-benar menjengkelkan. Seharusnya, umat Islam berada paling depan dalam “menggembala” dunia menuju kebaikan dan perdamaian karena umat Islam harus mewujudkan kehidupan yang rahmatan lil alamin.

            Sekarang, bagaimana bisa memimpin dunia jika ternyata memiliki banyak masalah, bahkan kerap memicu masalah dalam kehidupan dunia ini?


            Sampurasun.