Thursday, 12 November 2020

Ribut Soal Jumlah Penjemput, Nggak Penting

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kok ribut soal jumlah penjemput MRS di Bandara Soekarno-Hatta?

            Mahfudz, M.D. mengatakan “sedikit”, Haikal Hassan mengatakan “banyak”, jutaan.

            Terus, apa manfaatnya?

            Apa pentingnya?

            Lagian, tidak ada standar juga soal sedikit dan banyak itu. Misalnya, 0 s.d. 10 juta adalah sedikit, 10 s.d. 30 juta adalah lumayan, 30 juta ke atas adalah banyak.

            Standar itu kan tidak ada. Jadi, tidak jelas soal sedikit dan banyak itu.

            Kalau dibandingkan dengan jumlah murid-murid saya, jumlah penjemput MRS itu banyak sekali. Murid-murid saya kalau dijumlahkan, mungkin hanya sekitar seribu orang lebih sedikit. Kalau perbandingannya seperti itu, jelas murid saya lebih sedikit dibandingkan penjemput MRS.

            Berbeda kalau dibandingkan dengan pengikut Jokowi. Jelas kalau itu perbandingannya, pengikut Jokowi jauh lebih banyak. Buktinya, Jokowi menang dalam pemilihan yang berdasarkan jumlah pemilih. Pengikut MRS kan gabung dengan pengikut Prabowo dan itu masih kalah.

            Jadi, jangan meributkan soal itu. Baik Mahfudz maupun Haikal, tidak punya standar soal jumlah itu. Bagi Mahfudz mungkin angka 10 juta adalah sedikit. Bagi Haikal, angka itu adalah sangat besar.

            Terus, ngapain?

            Nggak ada gunanya juga kan ngomongin itu?

            Hanya menghabiskan energi.

            Mari kita hemat energi untuk hal-hal yang lebih positif, misalnya, belajar lebih tekun, bekerja lebih keras, dan berperilaku lebih menyenangkan.

            Mari belajar bersama untuk lebih tenang karena ini bagian dari “revolusi akhlak”. Tidak perlu ribut soal yang tidak penting, kita mesti lebih dewasa, lebih sabar, lebih melembutkan. Kalbu kita perlu dimenej dengan baik. Kalau mau, belajar ke Aa Gym yang punya “Manajemen Qalbu”.

            Kemarin saya ajak untuk tidak bicara kasar, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, sekarang kita tingkatkan untuk tidak perlu meributkan hal-hal sepele.

            Di samping itu, kalau mau komen, komenlah yang baik dan mencerdaskan. Kalau tidak, saya hapus komentarnya. Hayu ah, salam.

 

#salamrevolusiakhlak

            Sampurasun.

Tuesday, 10 November 2020

Klasifikasi Tipe Gerakan Sosial

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Wood dan Jackson dalam Sztompka (2010) dalam Kun Maryati dan Juju Suryawati (2013) mengklasifikasikan gerakan sosial ke dalam tiga tipe.

            Pertama, gerakan sosial menurut lingkup atau perubahan yang diinginkan

1.         Gerakan reformasi. Gerakan ini bertujuan mengubah aspek kehidupan dan menginginkan perubahan dalam bidang tertentu dibandingkan mengubah seluruh kehidupan masyarakat.

2.         Gerakan radikal. Gerakan ini lebih mendalam dan kuat menyentuh landasan sosial masyarakat.

3.         Gerakan revolusi (transformative social movement). Gerakan ini bertujuan mengubah keseluruhan bidang kehidupan masyarakat (politik, ekonomi, budaya, dll.). Gerakan ini melibatkan massa yang banyak dan tidak jarang menggunakan ancaman kekerasan.

            Kedua, gerakan sosial berdasarkan kualitas perubahan yang diinginkan.

1.         Gerakan progressive (sayap kiri). Gerakan ini mengenalkan inovasi baru, institusi baru, hukum baru, sampai pada tatanan kehidupan yang baru. Perubahan dilakukan secara gradual untuk kepentingan masa depan.

2.         Gerakan conservative (sayap kanan). Gerakan ini berupaya mempertahankan masa lalu yang sudah mapan meskipun sedang mengalami erosi.

            Ketiga, gerakan sosial berdasarkan target perubahan yang diinginkan.

1.         Gerakan yang pusat perhatiannya pada struktur sosial. Gerakan ini terbagi ke dalam dua, yaitu sosial politik/nasional (politik, ekonomi, dan kelas) serta sosio kultural (perubahan keyakinan, nilai, norma, dan pola hidup dalam keseharian).

2.         Gerakan yang pusat perhatiannya untuk mengubah perilaku hidup orang secara menyeluruh, misalnya, gerakan kaum sufi untuk menghidupkan semangat keagamaan dan gerakan sekuler yang memperbaiki moral anggotanya meskipun agamanya berbeda-beda.

            Demikian tiga tipe gerakan sosial.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Hubungan Antarkelompok dalam Dimensi Sejarah

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hubungan antarkelompok dilihat dalam dimensi sejarah terkait dengan timbulnya stratifikasi di dalam masyarakat. Stratifikasi tersebut meliputi stratifikasi etnik, jenis kelamin, dan usia.

            Menurut Noel dalam Kun Maryati dan Juju Suryawati (2014), stratifikasi etnik terbentuk jika memenuhi tiga syarat, yaitu etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Contohnya, hal ini terjadi di Afrika Selatan semasa kuatnya politik apartheid. Hubungan yang terjadi adalah perbudakan disebabkan adanya rasa etnosentrisme atau perasaan lebih tinggi dari bangsa kulit putih terhadap kulit hitam. Perbudakan ini pun terjadi karena adanya persaingan ekonomi di antara mereka. Selain itu, kekuasaan kulit putih lebih besar dibandingkan kulit hitam.

            Stratifikasi usia terjadi ketika seseorang memiliki usia yang mulai tumbuh hingga dewasa dengan kematangan yang tinggi, bahkan mampu mengatur hidup orang lain. Semakin bertambah angka usia, kemampuan pun menurun. Hal ini mengakibatkan para orang yang sudah berusia lanjut bergantung hidup pada orang-orang yang lebih muda.

            Stratifikasi jenis kelamin masih tampak jelas dalam dunia industri. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan belum jelas pada awalnya. Laki-laki lebih diistimewakan dibandingkan perempuan. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan semakin jelas. Dengan demikian, pekerjaan dapat disesuaikan dan diperinci sesuai dengan yang diharapkan perusahaan.

            Demikian hubungan antarkelompok jika dilihat dalam dimensi sejarah.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Monday, 9 November 2020

Sugesti

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sugesti adalah salah satu faktor psikologis yang menjadi landasan manusia untuk berinteraksi. Sugesti terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang memberi pandangan dan pihak lain menerimanya. Jika Si Penerima sugesti tidak sedang dalam keadaan berpikir rasional, akan langsung menerima anjuran, pandangan, nasihat, atau pendapat pemberi sugesti dan meyakini kebenarannya.

            Biasanya sugesti berasal dari hal-hal berikut:

1.       Orang yang berwibawa, kharismatik, atau memiliki pengaruh kuat kepada penerima sugesti. Contohnya, orangtua, cendekiawan, pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan orang-orang yang dianggap suci.

2.       Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi di lingkungan Si Penerima Sugesti, misalnya, direktur, bos, manajer, dan pemilik perusahaan.

3.       Kelompok mayoritas terhadap minoritas. Contohnya, dalam suatu pertemuan atau rapat awalnya memiliki pandangan dan pendapat sendiri, tetapi ternyata jumlah peserta rapat yang mayoritas berkata lain. Akhirnya, pandangan dan pendapat yang berbeda pun mengubah pemikiran dan persetujuannya.

4.       Reklame atau iklan. Misalnya, ada produk kosmetik yang diiklankan mampu membuat seseorang cantik atau ganteng dalam hitungan jam. Iklan tersebut akan mempengaruhi konsumen sehingga membelinya.

            Di samping itu, sugesti dapat diterima bukan hanya karena faktor-faktor yang ada di dalam diri pemberi sugesti, melainkan pula terdapat dalam kondisi penerima sugesti. Faktor-faktor tersebut adalah:

1.         Terhambatnya daya berpikir kritis. Semakin lemah kemampuan seseorang untuk berpikir kritis, semakin mudah dikendalikan pihak lain. Contohnya, orang yang sedang marah, mudah diadu domba untuk berkelahi.

2.         Kemampuan berpikir terpecah (disosiasi). Disosiasi terjadi ketika orang dilanda kebingungan karena menghadapi berbagai persoalan hidup. Dalam keadaan demikian, ia akan mudah mendapatkan pengaruh, saran, dorongan, atau ajakan orang lain tanpa berpikir panjang.

3.         Orang yang ragu-ragu ketika menerima pendapat satu arah. Seseorang yang ragu-ragu karena terbatasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki, umumnya akan mudah tersugesti oleh pengaruh pihak lain, apalagi ketika mendapatkan pendapat atau pengarahan satu arah. Contohnya, ketika mendengarkan ceramah yang berapi-api penuh provokasi, tetapi tidak dapat melakukan komunikasi langsung dengan Sang Penceramah, meskipun ragu, dia akan mengikuti provokasi dari penceramah tersebut.

            Demikian penjelasan sugesti yang terjadi dalam hidup keseharian manusia yang dapat menumbuhkan pengaruh, baik karena faktor Si Pemberi Sugesti, maupun Si Penerima Sugesti.

            Sampurasun


Sumber Pustaka

Irawan, Hanif; Rahmawati, Farida; Febriyanto, Alfian; Muhammad Kusumantoro, Sri, Sosiologi: Untuk SMA/MA Kelas X Semester 1

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial; untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta


Saturday, 7 November 2020

Rizieq Pulang, Biasa Sajalah


oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau nggak salah, sebelumnya Rizieq Shihab sudah tujuh kali berencana pulang dari Arab ke Indonesia, tetapi tidak juga pulang. Pada November 2020 ini kembali mengutarakan niatnya untuk pulang ke Indonesia.

            Dalam menghadapi kepulangannya, sebaiknya bersikap biasa saja, tidak perlu berlebihan. Hal ini kan biasa terjadi setiap detik; ada orang yang pergi dan pulang dari dan ke Indonesia. Kalaulah disebut pemimpin Ormas, ya tetap biasa saja. Ormas di Indonesia itu banyak, misalnya, NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, GMNI, Pemuda Pancasila, dsb.. Kalau ketuanya atau pemimpinnya pergi dan pulang Indonesia-luar negeri, biasa saja, tidak heboh. Begitu pula dengan kepulangan Rizieq ke Indonesia, biasa sajalah, jangan diheboh-hebohin.

            Bagi para pendukungnya, pecintanya, kalau menyambut, biasa saja bersikap, tidak perlu berlebihan, tenang saja. Demikian pula pihak-pihak yang ingin memenjarakan Rizieq, biasa saja bersikap. Ini negara hukum, segera proses dan konfirmasi ulang laporan-laporan kepada polisi tentang hal-hal yang diakibatkan ulah Rizieq dan belum diproses.

            Hadapi dan selesaikan kasus-kasus hukum yang tertunda. Tidak perlu bertingkah aneh-aneh, biasa saja. Kalau memang tidak bersalah, bebas. Kalau ternyata bersalah, ya harus menerima konsekwensinya untuk menjalani hukuman. Begitulah hidup sebagai manusia beradab pada zaman ini.

            Rizieq sudah terbukti tidak bersalah dalam dua kasus, yaitu “chat pornografi” dan “penghinaan terhadap Pancasila”. Kedua hal itu sudah selesai dan dihentikan penyidikannya oleh Polri. Sisanya, hadapi dan selesaikan, misalnya, soal “campur racun”, soal tanah, dan soal tuduhan penghinaan agama yang dilaporkan oleh kelompok pemuda Katolik.

            Kalau sudah selesai dan dihadapi secara beradab, bareng membangun Indonesia.

            Kabarnya dia akan memimpin revolusi?

            Baguslah, bareng-bareng dengan pemerintah Jokowi memimpin revolusi mental, revolusi akhlak, atau revolusi lainnya yang mengisi kemerdekaan dengan beragam pembangunan, baik lahir maupun batin. Gotong royong jauh lebih baik dibandingkan gontok-gontokan. Kerja sama jauh lebih positif dibandingkan berkonflik. Menciptakan suasana sejuk jauh lebih baik dibandingkan menciptakan suasana panas dan emosional.

            Di hadapan kita ada banyak yang harus dihadapi bersama, seperti, Covid-19, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi yang harus dikejar. Bekerja bersama jauh lebih baik.

            Sampurasun.

Friday, 30 October 2020

Rindu Jokowi, Bukan Pemerintah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika perasaan umat Islam terhina, tersinggung, dan marah, sudah seharusnya para pemimpin muslim di mana pun menangkap perasaan umat dan menyuarakannya untuk mewakili umatnya. Demikian pula, Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sangat wajar jika berharap pemimpinnya, Presiden RI Jokowi, memberikan kecaman, teguran, atau paling tidak nasihat untuk Presiden Perancis Emmanuel Macron yang telah menghina Islam dan kaum muslimin. Bahkan, Macron mengatakan bahwa Samuel Paty, guru sejarah yang dipenggal gara-gara mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad saw itu sebagai martir. Tidak perlu kaget jika banyak umat Islam pun menganggap Abdoullakh Anzorov yang memenggal kepala Samuel Paty pun sebagai martir. Itu akan membuat “chaos” baru.

            Pemerintah RI sudah cukup bagus melalui Kemenlu RI melakukan kecaman dan protes dengan cara memanggil Duta Besar Perancis Olivier Chambard untuk menjelaskan sikap dan posisi Indonesia terhadap masalah itu. Akan tetapi, itu kan pemerintah yang sifatnya kolektif kolegial. Bagi rakyat Indonesia, itu belum cukup terwakili. Rakyat menginginkan Jokowi yang bersuara. Rakyat rindu sosok Jokowi untuk bersuara terkait masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Suara Jokowi itu akan lebih kuat tekanannya dibandingkan ribuan gerombolan demonstran. Ucapannya akan lebih didengar. Rakyat pun akan mendapatkan harga diri yang lebih tinggi jika pemimpinnya berbicara mewakili perasaannya untuk disampaikan pada dunia, terutama terhadap Macron.

            Sampai tulisan ini disusun, belum terdengar Jokowi berbicara hal itu. Rakyat mulai bertanya-tanya dan itu tidak bagus karena akan banyak dugaan terhadap penyebab Jokowi belum juga bersuara.

            Apakah Jokowi merasa cukup suaranya diwakilkan kepada Kementerian Luar Negeri RI?

            Seperti saya bilang tadi, tidak cukup.

            Rakyat ingin mendengar dari Jokowi langsung. Pemerintah memang sudah bersikap dan itu bagus, tetapi rakyat menginginkan mendengar suara Jokowi. Hal itu bisa diperhatikan dari desakan yang disuarakan partai-partai pendukung pemerintah sendiri, seperti, Nasdem dan PDIP. Demikian pula Ormas sekelas GP Ansor pun berharap hal yang sama. Saya yakin banyak elemen masyarakat lain yang menginginkan Jokowi bersuara jelas terkait penghinaan yang dilakukan Macron.

            Kalaulah Jokowi merasa “heurin ku letah”, ‘susah bicara’, terhadap Macron karena Perancis adalah sahabat Indonesia, berbincanglah sebagai sahabat karena sahabat yang baik adalah sahabat yang mengingatkan sahabatnya ketika sahabatnya itu melakukan kesalahan. Dalam hal ini, Perancis adalah sahabat yang sedang melakukan kesalahan yang kalau mengikuti pendapat Menkopolhukam RI Mahfudz M.D., Macron sedang krisis gagal paham terhadap Islam. Jelas Macron sedang kusut pikiran dan melakukan kesalahan yang mengganggu ketenangan dunia.

            Di samping itu, jika terjadi perbincangan dengan Macron, Jokowi bisa ekspor nilai-nilai Pancasila terhadap Perancis dengan menunjukkan adanya UU anti penghinaan, anti penistaan, atau anti penyerangan terhadap agama untuk membina kerukunan umat beragama di Indonesia. Perancis bisa belajar dari hal itu jika ingin lebih tenang dan harus menahan kebiasaan dirinya untuk gemar menistakan agama. Itu adalah hal yang bagus.

            Bisa pula Jokowi bersikap tegas dan keras seperti kepada Cina. Meskipun Indonesia banyak melakukan hubungan bisnis dengan Cina, Jokowi tetap tegas soal kedaulatan negara di Laut Natuna Utara. Jokowi mengharapkan pasukannya untuk dapat menjaga dan mengamankan Laut Natuna Utara dari gangguan Cina. Sikap dia sangat jelas, baik dalam perkataannya maupun dalam sikapnya tentang kedaulatan negara.

            Masa terhadap Cina bisa tegas, tetapi terhadap Macron tidak bisa tegas nyata?

            Rakyat merindukan suara Jokowi, bukan suara pemerintah. Suara pemerintah sudah terdengar dan itu perlu diapresiasi. Suara sosok Jokowi yang belum terdengar. Jangan sampai rakyat menduga-duga penyebab Jokowi tidak bersuara. Itu tidak baik.

            Mau bersuara atau tidak, dalam arti diam saja, Jokowi harus menjelaskan sikapnya itu kepada masyarakat. Dengan demikian, rakyat bisa paham dan lebih tenang. Jika tidak, akan banyak pertanyaan di masyarakat tentang sosok Jokowi. Bisa-bisa timbul banyak hoax, ujaran kebencian, dan penyesatan pikiran jika Jokowi tidak menjelaskan sikapnya.

            Rakyat rindu suara Jokowi.

            Sampurasun.

Blunder Politik Macron

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Emmanuel Macron adalah Presiden Perancis, sudah pasti dia adalah politisi. Sebagai politisi, dia harus menghadapi Pemilu yang akan datang serta ingin dirinya dan partainya menang. Hal itu lumrah terjadi pada diri seorang politisi.

            Kita tidak tahu apakah pidato Macron yang mengaitkan terorisme, radikalisme, dan Islam itu adalah dalam rangka pembenahan keamanan di Perancis atau memang sedang mengangkat isu yang dianggapnya seksi untuk mendorongnya kembali dalam kepemimpinan di Perancis. Pemenggalan kepala seorang guru sejarah di Perancis oleh seorang pemuda muslim dianggapnya sebagai perlawanan terhadap demokrasi dan kebebasan berekspresi. Isi pidatonya jelas sekali mengatakan hal tersebut. Dia pun menjelaskan bahwa rakyat Perancis memiliki hak untuk menistakan (agama). Itulah yang membuat banyak orang marah, terutama muslim. Padahal, pembiaran terhadap penistaan (agama) ini telah mengakibatkan saling bunuh di Perancis.

            Sekitar seminggu yang lalu dua wanita berjilbab ditusuk di bawah Menara Eifel sambil dimaki-maki, “Orang Arab Kotor! Tempat kalian bukan di sini!”

            Beruntung kedua wanita itu tidak tewas. Mereka dilarikan polisi ke rumah sakit.

            Kemudian, guru sejarah dipenggal kepalanya gara-gara mempertontonkan karikatur Muhammad saw. Pelakunya ditangkap polisi. Hal itu berlanjut dengan penusukan dan penggorokan leher di gereja di Nice, Perancis.

            Kalaulah hal-hal itu diangkat sebagai isu untuk mendongkrak popularitas dirinya menjelang Pemilu di Perancis dengan mendiskreditkan Islam sebagai “agama yang sedang mengalami krisis”, sungguh itu merupakan langkah politik blunder. Sebetulnya, dari isi pidatonya awalnya bagus bahwa dia memusuhi gerakan terorisme dan radikal Islam yang mengganggu ketenangan warga. Semua negara pun sedang memusuhi itu. Akan tetapi, ketika hal itu dikaitkan dengan ajaran Islam, itu adalah sebuah kesalahan fatal. Apalagi penghinaan kepada Nabi saw itu dianggap kebebasan berekspresi dan perlu dilindungi sebagai cara hidup warga Perancis.

            Warga dunia dan warga Perancis sebetulnya sudah tidak mempedulikan perbedaan agama itu, mayoritas semua ingin hidup damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, kecuali segelintir orang yang hidupnya memang dari provokasi dan menebar konflik. Hal itu bisa dilihat di konten-konten youtube yang dibuat para pemuda Amerika Serikat (AS) dan di Perancis sendiri. Seorang pemuda Amerika Serikat keturunan Arab bikin banyak video tentang pandangan kehidupan beragama di AS. Semua yang dia wawancarai menghendaki adanya perdamaian, saling menghormati, menghilangkan permusuhan karena perbedaan agama, adanya kerja sama yang baik, bisnis yang lancar tanpa harus dihalangi perbedaan agama. Di Perancis sendiri saya lihat banyak pemuda yang membuat video “prank” dengan cara mem-bully perempuan muslim berjilbab di taman, di jalan, di kampus, dan di keramaian lainnya. Ketika perempuan berjilbab itu di-bully dan dihina agamanya yang Islam itu, banyak sekali pemuda nonmuslim yang membelanya, bahkan hampir berkelahi dengan para pem-bully itu. Ketika diberi tahu bahwa tindakan itu hanya “prank” dan bermaksud untuk mengetahui sejauh mana sikap nonmuslim terhadap muslim yang sedang teraniaya, mereka semua tertawa-tawa. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan agama sudah tidak lagi menjadi kendala untuk hidup bersama dan para pemuda itu tidak saling melakukan penghinaan dan permusuhan atas dasar perbedaan keyakinan. Jumlah generasi muda yang sudah sangat toleran ini semakin banyak dan kita bisa mencobanya sendiri berhubungan dengan orang-orang asing dalam kerja sama tertentu, misalnya, budaya atau teknologi. Perbedaan agama itu tidak menjadi masalah yang berarti.

            Dengan melihat perkembangan toleransi yang makin menguat di dunia, kecuali beberapa gelintir para provokator, isu yang digunakan Macron dengan mengaitkan Islam dan radikalisme untuk mendapatkan keuntungan politik adalah blunder. Orang sudah semakin paham bahwa terorisme dan Islam adalah dua hal yang berbeda, sama sekali tidak ada kaitannya. Meskipun jumlah umat Islam di Perancis bisa dikatakan minoritas, mayoritas warga Perancis sudah tidak mau lagi percaya dengan isu-isu menyesatkan tentang Islam dan terorisme, terutama kaum mudanya. Mereka toh sudah menjalani hidup bersama dan mayoritas baik-baik saja, kecuali sedikit orang-orang bebal. Isu yang diangkat Macron bukannya akan meningkatkan popularitasnya, melainkan sebaliknya, berpotensi menurunkan elektabilitasnya. Hal itu diperparah dengan adanya kasus-kasus kekerasan dan kematian atas dasar keagamaan serta adanya seruan untuk memboikot produk-produk Perancis. Jika upaya boikot ini berhasil dan konsisten dilakukan dunia, terutama negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim, ekonomi Perancis akan terganggu, para pengusaha akan menderita kerugian. Hal itu akan mendorong turunnya popularitas Macron di Perancis. Hal-hal ini pun akan digunakan sebagai amunisi bagi saingan Macron dan partainya untuk menghantam pemerintah sehingga Macron dan para pendukungnya jatuh dari kursi pemerintahan.

            Begitu kira-kira analisis saya. Kalau mau berkomentar, berkomentarlah yang baik dan nyambung dengan isi artikel. Komentar yang buruk dan tidak nyambung akan saya hapus.

            Sampurasun.

Jenis-Jenis Gerakan Sosial

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

David Aberle dalam Sunarto (2004) dalam Kun Maryati dan Juju  Suryawati (2013) mengklasifikasikan jenis-jenis gerakan sosial.

 

1. Alternative Movement

Gerakan ini dimaksudkan untuk mengubah sebagian perilaku seseorang atau masyarakat. Contohnya, kampanye antirokok, antialkohol, antinarkoba, antiseks bebas, dan gerakan menikah setelah lulus kuliah.

 

2. Redemptive Movement

Gerakan ini berupa gerakan yang betujuan mengubah seluruh perilaku seseorang atau masyarakat. Misalnya, gerakan keagamaan untuk membimbing manusia ke jalan Tuhan Sang Maha Pencipta.

 

3. Reformative Movement

Gerakan ini diharapkan dapat mengubah masyarakat dalam ruang lingkup tertentu, misalnya, emansipasi wanita, perbaikan pelaksanaan Pemilu, penyempurnaan undang-undang buruh, dan gerakan orang tua asuh.

 

4. Transformative Movement

Gerakan ini bertujuan untuk mengubah bukan hanya perilaku masyarakat, melainkan pula mengubah struktur masyarakat, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Contohnya, gerakan komunis cina yang mengubah kekaisaran Cina dengan struktur komunisme.

 

            Demikian empat jenis gerakan sosial yang diklasifikasikan David Aberle.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Wednesday, 28 October 2020

Kriteria Hubungan Antarkelompok

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berbagai kelompok hadir di tengah masyarakatnya dengan identitas dan perilakunya masing-masing. Setiap kelompok dapat berhubungan dengan kelompok lainnya. Hubungannya bisa positif, bisa pula negatif. Hubungan yang terjadi bisa berupa kerja sama, persaingan, ataupun konflik. Dalam pandangan Kinloch dalam Kun Maryati & Juju  Suryawati (2014), kriteria dalam hubungan kelompok adalah:

            Pertama, kriteria fisiologis. Hal yang mendasarkan kriteria ini adalah persamaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), usia (tua, muda), dan ras.

            Kedua, kriteria kebudayaan. Dasar dari kriteria ini adalah ikatan kebudayaan, misalnya, kelompok etnik (Sunda, Jawa, Batak, Minangkabau, Ambon, Bugis). Di samping itu, pengelompokkan berdasarkan kesamaan agama pun kerap digolongkan pada kriteria ini.

            Ketiga, kriteria ekonomi. Kriteria ini didasarkan pada kelompok yang menguasai ekonomi dan tidak memiliki kekuasaan terhadap faktor-faktor ekonomi.

            Keempat, kriteria perilaku. Dasar pengelompokan kriteria ini adalah cacat mental, cacat fisik, dan penyimpangan terhadap aturan-aturan masyarakat.

            Demikian empat kriteria hubungan antarkelompok yang terjadi di masyarakat.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta