Wednesday, 15 September 2021

Jangan Tuduh Santri Radikal

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini banyak orang terkejut karena staf khusus Presiden RI Jokowi menyindir para santri yang menutup telinga ketika mendengarkan lagu-lagu barat. Jokowi punya banyak staf yang terdiri dari kalangan muda. Itu bagus, tetapi mereka harus banyak baca, banyak gaul, dan banyak pengalaman. Salah satunya staf muda yang bernama Diaz Hendropriyono. Dia menyindir perilaku para santri itu dengan mengatakannya kasihan bahwa para santri itu masih sangat muda dan dididik dengan cara yang salah. Maksudnya, tidak mengapa mendengarkan musik untuk sekedar hiburan sementara, sebentar. 

            Sindiran Diaz itu kepada para santri bisa menjurus ke arah perdebatan halal dan haramnya musik. Perdebatan menjadi tidak karuan karena ada yang menghalalkan musik dengan alasan para wali juga menggunakan musik dan lagu untuk berdakwah. Ada yang mengharamkan musik karena bisa merusakkan akidah. Jadinya, makin ngawur polemiknya. Bahkan, bisa mengarah pada tuduhan bahwa para santri yang menutup telinga itu adalah berada di bawah pengaruh ajaran radikal. Itu makin bahaya dan makin ngaco.


Para Santri Menutup Telinga ketika Mendengarkan Lagu-Lagu Barat (Foto: Suara.com)


            Begini ya sebetulnya, di Indonesia ini ada ribuan santri dan pesantren para penghafal Al Quran yang memang diharuskan untuk fokus pada hafalan. Salah satu caranya, mereka tidak mau mendengarkan lagu apa pun untuk menjaga konsentrasinya. Mereka itu sedang belajar dan menghafal, tidak ada hubungannya dengan gerakan radikal mana pun. Buktinya, perilaku para santri yang menutup telinga saat diputar lagu-lagu barat itu sedang mengantri untuk mendapatkan vaksin corona. Itu artinya mereka mendukung program pemerintah, bukan anak-anak radikal.

            Maaf, mungkin mereka berasal dari pesantren tradisional karena mereka menutup telinga. Kalau berasal dari pesantren modern, mungkin mereka akan menggunakan Hp dengan dilengkapi headset untuk mendengarkan bacaan Al Quran sehingga menutupi suara lagu-lagu barat itu.

            Saya ingatkan kepada seluruh panitia vaksin di mana pun agar segera mematikan lagu apa pun jika melihat banyak peserta yang menutup telinga semacam itu. Putar lagi jika mereka sudah selesai divaksin. Memang maksud panitia juga tidak salah, memutar lagu itu supaya orang menjadi lebih rileks dan tidak kesal mengantri. Akan tetapi, tidak semua orang berada dalam situasi yang sama. Tidak bisa menyamakan situasi dan kondisi orang lain sesuai dengan diri kita.

            Saya malah mendukung para santri itu agar jadi penghafal Al Quran yang benar supaya mereka lebih hebat menjadi para pendakwah masa depan melebihi para pendakwah saat ini dengan dasar hafalan Al Quran yang jelas dan dihafalnya. Daripada sekarang banyak bermunculan orang-orang yang dikatakan pendakwah, tetapi boro-boro hafal Al Quran, baca juga jarang, ngomong aja kayak yang betul, akhirnya menyesatkan orang lain, bikin huru-hara, mengklaim diri sebagai pemilik kunci surga.

            Begitu ya. Jadi, para staf muda Presiden Jokowi harus banyak baca, banyak gaul, banyak pengalaman supaya dalam memberikan statemen bisa lebih bijaksana. Bukan cuma para staf Jokowi yang harus banyak terus belajar, kita semua juga, termasuk saya harus terus menambah ilmu pengetahuan agar mampu meminimalisasi kesalahan dan lebih bermanfaat bagi orang lain.

            Sampurasun.

Permufakatan Jahat Istana

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Istilah “permufakatan jahat istana” saya dengar dari Refly Harun, dosen dan pengamat politik, khususnya tatanegara. Dia mengatakan hal itu di chanel youtube miliknya. Kalau saya tidak salah menganalisis, dia mengatakan hal itu karena istana Presiden Jokowi telah mengumpulkan kekuatan yang sangat besar dan membuat Anies Baswedan kesulitan untuk menjadi presiden. Dia menganggap apa yang dilakukan istana adalah kejahatan terhadap demokrasi. Begitu yang dia bilang di kanalnya yang katanya keren cadas itu.

            Saya kebingungan, jahatnya istana di sebelah mana?

            Kalau disebut jahat itu, kan harus ada pelanggaran terhadap hukum, UU, atau aturan.

            Hukum apa yang dilanggar oleh istana?

            Kalaulah Jokowi mengumpulkan kekuatan politik sehingga sulit ditandingi, itu adalah kecerdasan dan kreativitas istana untuk melancarkan program-program kerjanya, termasuk menghadapi Pilpres 2024. Anies Baswedan dan konco-konconya pun bisa melakukan hal itu. Kumpulkan saja kekuatan politik yang besar sehingga kekuatan itu percaya kepada Anies untuk menjadi presiden. Semua orang boleh kok melakukan hal itu, tidak ada kejahatan di sana.

            Sekarang memang Istana Si Klemar Klemer lebih jauh melangkah untuk memantapkan kekuatannya sehingga sulit diimbangi. Dari sekarang sudah tampak menang di atas angin. Oleh sebab itulah, Si Cungkring ini dianggap melakukan permufakatan jahat hingga menjadi terlalu kuat.

            Menurut saya, orang yang bilang Jokowi melakukan permufakatan jahat adalah karena dia kalah langkah, kalah ide, kalah cerdas, dan kalah kepercayaan oleh Jokowi. Padahal, siapa pun bisa melakukan itu asal bisa dipercaya saja sama orang lain dan itu bukan kejahatan karena tidak ada aturan yang dilanggar.

            Pertandingan apa pun harus mempersiapkan diri untuk menang sehingga musuhnya bisa kalah dengan mudah. Mau pertandingan olah raga, seni, bahasa, budaya, atau yang lainnya harus memperkuat diri untuk menang sebelum pertandingan. Kalau ingin mengimbangi Jokowi, pihak Anies harus mampu mengajak kekuatan-kekuatan politik yang sudah bergabung dengan Jokowi untuk beralih bergabung dengan dirinya. Misalnya, rayu dan ajak lagi PAN untuk bareng. Yakinkan Nasdem agar percaya untuk mendukung Anies dengan berbagai program masa depan. Begitu seharusnya. Itu tidak salah.

            Kalau orang lain sudah lebih dulu maju, melangkah, terus menganggap orang lain itu jahat, lucunya jadinya. Cengeng amat.

            Persiapkan diri untuk bertanding apa pun dan buat orang lain percaya bahwa diri kita layak didukung. Jangan cengeng.

            Sampurasun.

Sunday, 12 September 2021

Megawati Sakit Keras

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari ini muncul kabar entah dari siapa awalnya yang mengatakan bahwa pucuk pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam keadaan kritis sakit keras hingga dilarikan ke rumah sakit. Tentu saja hal ini menjadi viral. Saya sih biasa-biasa saja menanggapinya, malahan ingin ketawa, soalnya ini pasti hoax. Berbeda dengan pengurus dan anggota militan PDIP, ada yang marah dan ada yang sedih menanggapinya. Saya sih menduga mereka marah dan menangis bukan karena berita hoax itu, toh Megawati ternyata baik-baik saja. Kalaupun beneran sakit, itu hal biasa, manusiawi.

            Hal yang membuat mereka marah dan sedih itu pasti komentar-komentar penuh dosa yang dialamatkan kepada Megawati, seperti, “Mak Lampir semoga cepat mati. Nenek tua yang penuh kedzoliman. Mak Banteng pendosa yang mengkriminalisasi ulama”. Masih banyak kalimat kasar dalam mengomentari hoax itu. Entah mereka pada belajar agama di mana bisa keluar caci maki seperti itu. Kata-kata itu jelas membuat marah militan muda PDIP. Untungnya, kemarahan mereka masih bisa diredam para pengurus PDIP yang lebih dewasa. Kalau tidak, malah diprovokasi, mereka bisa menguber orang-orang kasar itu. Akibatnya, bisa diduga, di samping akan ada kekerasan, juga pasti terlibat urusan hukum.

            Bagi saya sih, lucu.

            Untuk apa bikin hoax Megawati sakit kritis?

            Apa untungnya?

            Kalau memang sakit atau bahkan meninggal, apa untungnya buat mereka?

            PDIP kan masih punya Puan Maharani dan keturunan Soekarno lainnya. Sakit, sehat, mati, itu kan hal biasa.

            Hal yang jelas, mereka itu bikin dosa. Bikin hoax itu dosa, apalagi sampai mempengaruhi orang untuk caci maki hingga lebih berdosa. Lebih jauh lagi jika sampai terjadi kekerasan, dosanya bisa berlipat-lipat ganda.

            Ada komentar sangat lucu yang bikin saya tertawa … ha, ha, ha …. “Berita ini telah membuktikan bahwa rakyat sangat muak kepada nenek-nenek itu”. Seperti saya bilang, orang yang berkomentar seperti itu entah belajar agama di mana dan belajar politik sama siapa.

            Saya jadi teringat Gus Dur (alm) yang kalau ada orang teriak-teriak mengatasnamakan rakyat, suka bilang, “Rakyat yang mana? Alamatnya di mana?”

            Kalau hitung-hitungan data, jelas bahwa PDIP itu pemenang Pemilu Legislatif. Artinya, jumlah rakyat yang memilih PDIP adalah paling banyak dibandingkan dengan yang lainnya. Jadi, rakyat yang menyukai Megawati adalah yang terbanyak di Indonesia ini.

            Mudah kan membandingkan jumlah rakyat yang ngefans dan yang muak terhadap Megawati?

            Ada lagi yang lebih lucu. Ada orang berjanggut, berpakaian gamis, mirip Abu Jahal di film-film itu yang menyeret-nyeret Jokowi. Menurutnya, Jokowi harus mengklarifikasi berita Megawati sakit keras. Kalau itu benar, harus diumumkan. Kalau hoax, katakan saja hoax.

            Beneran lucu ini mah.

            Buat apa Presiden ngurusin masalah hoax remeh temeh itu?

            Masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting untuk dilakukan Presiden.   

            Orang semacam ini nggak pernah bisa “move on” dari Jokowi. Kasihan juga sih.

            Seperti biasa, Jokowi tidak akan merespon, cuek. Eh, sebetulnya, Jokowi nggak cuek-cuek amat sih. Kelihatannya aja Si Kurus Kerempeng itu cuek. Padahal, dia memperhatikan juga, cuma nunggu waktu yang tepat aja buat kasih pelajaran. Kalau waktunya sudah tepat, dia langsung nempeleng orang dan tidak bisa bangun lagi. Tempelengannya keras sekali. Bukan satu dua orang terjungkal. Sekali tempeleng,  ribuan, bahkan jutaan orang terkapar. Lihat saja, sekali tempeleng, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sempoyongan, bubar. Sudah banyak yang dia tempeleng. Padahal, Jokowi menempeleng sambil planga-plongo lho. Coba kalau tidak sambil planga-plongo, lebih parah lagi akibatnya, akan lebih banyak orang masuk penjara.

            Sudahlah, berhenti bikin dusta, memprovokasi orang untuk marah-marah, nyinyir, dan bikin dosa. Kalau merasa sebagai ahli agama, doronglah orang supaya menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya, tetangganya, sekitarnya, nusa, dan bangsa. Mudah-mudahan bisa menjadi pribadi penuh cinta sehingga mudah sekali menurunkan cinta Allah swt untuk dirinya dan untuk orang lain.

            Sampurasun.

Saturday, 11 September 2021

Indonesia Bikin Pusing Dunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia saat ini sedang membuat bingung, bikin pusing dunia. Belum ada penjelasan sampai saat ini apa yang menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia lebih cepat turun dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akan tetapi, belum ada yang bisa menjelaskannya. Pemerintah RI sendiri belum bisa memberikan penjelasan. Sepertinya pemerintah sendiri bingung, pusing.

            Indonesia telah mengagetkan dunia. Menteri Kesehatan Italia sampai kaget bahwa Indonesia telah memvaksin 69 juta orang, sementara negaranya sendiri masih belum bisa, padahal jumlah rakyatnya hanya 57 juta jiwa. Indonesia jauh lebih banyak, 257 juta jiwa. Politisi Malaysia juga kaget Indonesia melampaui keberhasilan Malaysia dalam menurunkan kasus Covid-19. Demikian pula Filipina jauh lebih tertinggal dibandingkan Indonesia dalam menurunkan kasus Covid-19 dan meningkatkan ekonomi. Negara-negara lain pun kebingungan terhadap hal ini.

            Karena tidak ada penjelasan yang jelas soal keberhasilan Indonesia, bahkan pemerintah RI sendiri belum bisa menjelaskannya, orang-orang mencoba menganalisisnya masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia bisa berhasil karena menggunakan caranya sendiri, tidak menggunakan lockdown, tetapi PSBB dan PPKM. Itu juga bisa dipahami karena lockdown itu menghabiskan banyak uang dan membuat orang menjadi stres. Lockdown bisa berhasil jika negaranya kaya raya dan penduduknya sedikit seperti Singapura yang kaya dan penduduknya hanya 5 juta jiwa. Sementara negara lain banyak yang gagal, bahkan ekonominya makin jatuh.

            Ada juga yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu bermental baja karena telah teruji mampu melewati berbagai masalah yang rumit sekalipun. Itu juga bisa dipahami karena rakyat Indonesia itu memang keturunan para pemenang perang. Indonesia tidak pernah kalah perang. Berbeda dengan Taliban misalnya, mereka pernah menang, pernah kalah. Demikian juga negara-negara lain. Indonesia tidak pernah kalah.

            Karena belum ada penjelasan yang lebih akurat, boleh dong saya juga ikutan menganalisis keberhasilan Indonesia. Orang banyak mengandalkan vaksin. Malaysia dan Amerika Serikat sudah memvaksin rakyatnya 50%, tetapi kasus Covid-19 masih sangat tinggi. Di AS masih seratus ribuan kasus Covid-19 per hari. Sementara itu, Indonesia baru 14% dari seluruh rakyatnya yang divaksin, tetapi kasusnya cepat turun. Kalau soal PSBB dan PPKM, jujur saja banyak orang Indonesia yang tidak melaksanakannya dengan baik. Mereka masih berkerumun, tidak taat Prokes, dan liar. Meskipun demikian, PSBB dan PPKM dapat mengendalikan aktivitas masyarakat di luar rumah meskipun tidak seratus persen sempurna. Lockdown jelas tidak dilaksanakan dan saran-saran dari WHO pun tidak dilaksanakan utuh oleh Indonesia. Indonesia memilih caranya sendiri.

            Dengan caranya sendiri inilah Indonesia bisa berhasil. Indonesia tidak melaksanakan lockdown karena tidak terlalu kaya dan membuat orang stres. Dengan demikian, tidak terjatuh seperti Filipina yang menggunakan lockdown, tetapi kasus Covid-19 tetap tinggi dan ekonominya pun meluncur jatuh. Indonesia pun tidak seperti Malaysia yang juga menggunakan lockdown, vaksinasi 50%, tetapi kasus Covid-19 masih tinggi dan peningkatan ekonominya pun masih lebih cepat Indonesia.

            Dengan PSBB dan PPKM memang kegiatan masyarakat dibatasi, tetapi tidak sepenuhnya, masih ada waktu-waktu yang dapat digunakan untuk beraktivitas. Jadi, meskipun dibatasi dan sempat mengalami penurunan ekonomi, masyarakat masih bisa bersosialisasi dan beraktivitas yang membuat mental spiritualnya masih seimbang. Inilah yang membuat imun atau kondisi kesehatan masyarakat bisa terjaga. Coba kalau pake lockdown, biayanya tinggi bisa membuat negara bangkrut, dan masyarakat jadi stres karena harus diam di rumah terus.

Kalau lockdown memang makanan diberi, tetapi makanan apa?

Paling juga makanan untuk sekedar bertahan hidup, bukan seperti makanan di tempat hajatan nikahan atau sunatan. Orang bisa stres karena makanan seperti itu dan tidak boleh ke luar rumah. Akibatnya, imun menurun, kesehatan menurun, mudah sakit, dan mudah terserang Covid-19.

Karena Indonesia menggunakan PSBB, PPKM, tetap melaksanakan vaksinasi, dan bukan lockdown, kesehatan fisik dan rohani masyarakat pun bisa lebih terjaga dibandingkan negara-negara lainnya. Ekonomi pun tetap berjalan meskipun tidak seperti ketika tidak ada pandemi. Mungkin seperti itu yang bisa saya jelaskan. Entah orang lain bisa menjelaskan apa. Hal yang pasti adalah Indonesia sedang mendapatkan pujian dunia dan diteliti. Bahkan, Filipina dan Malaysia bertekad menggunakan cara Indonesia dalam menangani Covid-19 sambil tetap mempertahankan ekonominya.

Meskpun demikian, kita tak boleh berbangga diri dan lengah terhadap situasi. Kita tetap harus waspada dan menjalankan Prokes dengan baik. Tetap juga bekerja sama antara pemerintah dan masyarakat dengan kearifan lokal gotong royong sehingga berbagai keberhasilan adalah hasil dari kerja bersama.

Sampurasun.

Friday, 10 September 2021

Jokowi-Prabowo Vs Kotak Kosong

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Entah untuk ke berapa kalinya saya memberikan nasihat yang lumayan memusingkan dan berskala luas, tetapi banyak yang nggak mau dengar. Akibatnya, kejadian deh apa yang sudah saya perkirakan sebelumnya.

            Saya ingatkan dua nasihat saya yang banyak enggak didengar, tetapi akibatnya kejadian beneran dan fatal.

            Pertama, masih ingat kan Pilpres 2019  ketika terjadi persaingan antara Jokowi-Maruf Amin melawan Prabowo-Sandiuno?

            Dua kali saya menulis bahwa kalau ingin Prabowo-Sandi menang, jangan ngomongin Jokowi terus, baik kejelekannya apalagi kebaikannya. Kalau ingin menang, harus lebih banyak ngomongin kehebatan Prabowo dan Sandiaga Uno. Kalau ngomongin Jokowi terus, apalagi menggunakan fitnah, hoax, maki-maki, kebencian, kedustaan, pendukung Jokowi akan melawan dengan membongkar fitnah dan kedustaan itu ditambah dengan menyebarkan kebaikan dan keberhasilan Jokowi. Artinya, cuma Jokowi yang diomongin se-Indonesia, sedangkan Prabowo sangat sedikit dibicarakan. Akibatnya, di dalam kepala dan memori rakyat lebih tertanam nama Jokowi dibandingkan Prabowo. Hasilnya, Jokowi menang, Prabowo kalah.

            Padahal, Prabowo itu orang hebat. Saya ngefans sama Prabowo. Sejak saya SMA, kalau ada tulisan di koran dan majalah tentang Prabowo, saya selalu baca. Bukunya pun saya beli. Coba kalau banyak menceriterakan kehebatan Prabowo sambil membuat nama Jokowi tenggelam, tidak dibicarakan lagi, hasilnya bisa beda. Prabowo bisa menang. Akan tetapi, seperti saya bilang, nasihat saya tidak didengar sih. Ini mah kesalahan para Jurkam, tokoh-tokoh, atau buzzer-buzzer Prabowo yang memprovokasi rakyat untuk selalu membicarakan Jokowi. Hasilnya, Jokowi menang, kan jadi sakit hati. Rasain aja.

            Kedua, masih ingat kepulangan HRS dari Arab?

            Saya kan kasih nasihat bahwa kalau HRS pulang dari Arab ke Indonesia, jangan bersikap berlebihan, tenang saja, biasa saja. Dia pulang, ya pendukungnya boleh gembira dan tetap menghormatinya, tetapi jangan berlebihan karena memancing kemarahan kelompok lain yang tidak suka HRS dan FPI. Soalnya, HRS sudah banyak dilaporkan ke polisi sama orang lain dan saya juga mendengar ada kelompok-kelompok merah, kuning, biru, hijau, loreng yang akan melakukan sweping terhadap anggota FPI. Mereka akan menangkapi orang-orang FPI. Itu sangat berbahaya. Bisa terjadi pertumpahan darah, menimbulkan banyak kematian, dan menyebabkan kekacauan. Bentrokan di antara masyarakat sangat mungkin terjadi.

            Sayangnya, nasihat saya banyak tidak didengar. Malah, banyak orang yang marah sama saya. Katanya, saya tidak menghormati habib, tidak sopan, dan lain sebagainya. Padahal, saya itu kasihan sama HRS dan berharap FPI tetap harus ada sebagai elemen bangsa yang ikut menyeimbangkan situasi. Akan tetapi, nggak mau denger sih.

Akibatnya, sekarang apa?

FPI dibubarkan, HRS dan Munarman juga ditangkap, ada anggota FPI yang mati  ditembak. Selesai.

Coba kalau ketika HRS pulang, para pendukungnya bersikap lebih tenang, biasa saja, ikuti Prokes, jauhi kerumunan seperti yang disarankan pemerintah, dan hadapi kasus hukum yang sedang membelitnya dengan wajar dan jantan di pengadilan, mungkin sekarang FPI masih ada, tidak perlu ada yang mati, serta HRS dan Munarman tidak ditangkap. Saya kan sudah kasih tahu dulu soal itu.

 Tulisan-tulisan saya itu sudah dibaca lebih dari 250 ribu orang.

Nih, sekarang saya kasih nasihat lagi. Sebetulnya sudah sih kemarin-kemarin, tetapi ya banyak yang nggak mengambil pelajaran juga dari yang sudah-sudah. Kan saya sudah bilang kalau tidak ingin Jokowi tiga periode menjadi presiden, jangan bikin keributan, jangan bikin dan menyebarkan hoax, jangan bikin fitnah, kebencian dan kedustaan. Soalnya, mereka yang menginginkan Jokowi tiga periode itu alasannya adalah adanya potensi huru-hara dan perpecahan di masyarakat Indonesia dan itu jadi pertikaian senegara. Jokowi dan Prabowo adalah pasangan yang tepat untuk mengendalikan situasi. Akan tetapi, saya masih melihat banyak hoax, ujaran kebencian, manipulasi berita dan foto, serta mengedit atau memotong-motong video punya orang lain sehingga menyesatkan, berbeda jauh jika dibandingkan dengan video aslinya. Itu semua bisa menjadi alasan agar Jokowi menjadi presiden tiga periode dengan ditemani Prabowo sebagai wakilnya.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bisa terjadi dalam Pilpres ke depan yang bertarung dalam Pilpres adalah Jokowi-Prabowo melawan Kotak Kosong. Artinya, hanya calon tunggal.

Memang siapa yang bisa melawan Jokowi-Prabowo?

Anies Baswedan?

Susah pisan Anies untuk menjadi presiden. Jangankan menjadi presiden, untuk mendaftar sebagai calon presiden saja sudah tidak bisa.

Memang partai mana yang akan mencalonkan Anies menjadi presiden?

PKS? Partai Demokrat?

Tidak bisa. Itu karena gabungan kekuatan mereka cuma 18%, sedangkan syarat untuk bisa mencalonkan presiden itu minimal harus 20%. Berbeda dengan kekuatan partai koalisi politik Jokowi, jumlahnya 82%, kuat pisan.

Mau jika ketika Pilpres nanti kita memilih Jokowi-Prabowo Vs Kotak Kosong?

Kalau mau, silakan bikin bibit-bibit perpecahan sejak sekarang, buatlah lebih banyak fitnah, hoax, ujaran kebencian, dan manipulasilah berita, foto, atau video punya orang lain sehingga menyesatkan. Kalau tidak mau, jadilah masyarakat yang beradab. Dukung  pemerintah jika benar dan kritik pemerintah jika salah. Belajarlah membedakan mana kritik dan mana ujaran kebencian.

Sampurasun.

Wednesday, 8 September 2021

Taliban Belajar dari Kenyataan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban mulai harus memahami kenyataan bahwa sudah terjadi perbedaan antara idealisme dan kenyataan. Selama ini mereka menginginkan pendidikan diselenggarakan dengan cara Islam. Maksud mereka cara Islam itu adalah dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki diajari oleh guru laki-laki. Perempuan diajari oleh guru perempuan. Tempatnya juga harus terpisah. Ini sudah lumayan bagus sebetulnya karena dulu mereka tidak membolehkan perempuan untuk bersekolah. Kini perempuan boleh bersekolah meskipun harus terpisah dari laki-laki.

            Hal yang menarik adalah ternyata idealisme mereka tidak bisa dilaksanakan karena kenyataannya Afghanistan kekurangan tenaga pengajar, kurang guru. Entah karena memang sumber daya manusia mereka terbatas sejak dulu atau karena banyak guru yang kabur ke luar negeri ketika Afghanistan mulai jatuh ke tangan Taliban. Akhirnya, mereka tetap mencampurkan laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Bedanya, meskipun dalam kelas yang sama, murid-murid dibatasi dengan menggunakan tirai sehingga terpisah antara murid laki-laki dan perempuan. Mereka tidak bisa saling pandang.

            Bagaimana dengan gurunya?

            Kalau gurunya, bisa memandang mahasiswa laki-laki dan perempuan sekaligus. Begitu juga murid-muridnya, tetap bisa memandang dosen/guru, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, tetap saja bisa saling pandang antara laki-laki dan perempuan, khusus untuk dosen atau gurunya. Yang tidak bisa saling pandang itu antara murid/mahasiswa dengan teman-temannya sendiri di dalam kelas.

            Begitulah kenyataannya. Mereka harus banyak belajar bahwa antara idealisme dengan kenyataan kerap berbeda.

Mereka mungkin berpandangan bahwa laki-laki harus selalu menjadi pemimpin bagi perempuan. Oleh sebab itu, tak ada seorang perempuan pun yang ada dalam jajaran kabinet yang mereka bentuk untuk memimpin Afghanistan.

Bagaimana kalau guru atau dosen di kelas?

Mereka pun harus belajar dari kenyataan bahwa jika ada perempuan yang cerdas dan pantas menjadi dosen atau guru, para perempuan itu adalah pemimpin laki-laki dan perempuan di kelasnya. Itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Ada keinginan lain yang belum jelas dalam pendidikan yang mereka inginkan, yaitu akan menghapus pelajaran yang anti-Islam.

Pelajaran anti-Islam itu apa? Pelajaran yang mana?

Matematika? Fisika, kimia, sosiologi, ekonomi, politik?

Mungkin biologi yang nggak boleh diajarkan karena mengajarkan anatomi tubuh manusia yang harus ditampakkan jelas semua auratnya berikut isi dalemannya?

Kalau begitu, mereka nggak akan punya dokter karena dokter kan harus tahu semua tubuh manusia, termasuk yang dianggap aurat itu.

Mungkin pelajaran komunis yang harus dihapuskan karena cenderung ateis?

Kalau begitu, mereka tidak akan paham tentang perkembangan pemikiran manusia di dunia. Saya sendiri mengajarkan komunisme karena itu termasuk dalam bagian mata kuliah “Dinamika Ekonomi Politik Global”. Di dalam mata kuliah itu ada ajaran merkantilisme, liberalisme, kapitalisme, komunisme, Pancasila, dan Islam.

Jujur saja saya ingin belajar apa sih pelajaran yang anti-Islam itu. Kalau ada penggemar Taliban baca tulisan saya ini, tolong kasih tahu saya tentang pelajaran anti-Islam, saya berterima kasih untuk itu.

Sampurasun.

Tuesday, 7 September 2021

Indonesia Berat Sebelah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak pengamat mengatakan bahwa Indonesia sekarang berat sebelah, padahal menganut nonblok yang tidak ke barat, timur, atau berpihak ke salah satu kelompok negara yang sedang bertikai. Memang kelihatannya sekarang Indonesia seolah-olah ngeblok ke barat. Hal itu bisa dilihat dari digelarnya “Garuda Shield 2021”, pelatihan bersama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang melibatkan ribuan prajurit; adanya janji hibah kapal-kapal perang kelas wahid dari negara-negara Nato untuk Indonesia; dipermudahnya izin bagi Indonesia untuk membeli alat-alat pertahanan kelas utama di dunia; bolak-baliknya pejabat Nato ke Jakarta untuk membicarakan pertahanan di Natuna. Sementara itu, tidak tampak jelas ada kerja sama militer dengan Cina. Kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat bersama Nato-nya itu telah membuat Cina gelisah.

            Menurut saya wajar Indonesia bersikap seperti itu, lebih dekat ke barat dibandingkan ke Cina dalam hal militer dan persenjataan. Masalahnya, Cina juga yang sering bikin gara-gara di wilayah perairan ZEE yang merupakan hak berdaulat Indonesia. Sementara itu, Indonesia memiliki kepentingan untuk mengamankan Laut Natuna Utara beserta ZEE-nya. Kan tidak mungkin untuk mengamankan wilayahnya dari gangguan Cina, Indonesia dibantu senjatanya dari Cina. Pastinya, dari negara barat yang sedang bertikai dengan Cina peralatan tempur Indonesia berasal di samping bikin sendiri juga di dalam negeri.


Kapal Perang Fregat dari Italia Perkuat  Indonesia (Foto: Kompas.com)

            Indonesia berkepentingan menjaga kedaulatannya dan itu perlu peralatan tempur canggih untuk mengimbangi Cina. Sementara itu, Nato punya kepentingan atas wilayah Laut Natuna Utara karena merupakan gerbang untuk ke kawasan Samudera Pasifik. Oleh sebab itu, terjadilah hubungan saling menguntungkan antara Indonesia dengan barat, Amerika Serikat, Nato.

            Sekarang kawasan Laut Natuna Utara menjadi perhatian dunia. Indonesia sendiri sedang mempersenjatai kapal-kapal tempurnya dengan senjata-senjata berat. Hal itu ditambah dengan hibah dan kemudahan izin untuk membeli yang baru dari pihak Nato. Di wilayah itu sekarang seolah-olah sedang pameran kapal tempur dan senjata-senjata terbaru, termasuk pesawat tempur.


Indonesia Siapkan Kapal Tempur untuk Hadapi Cina (Foto: CNN Indonesia)


            Coba kalau Cina tidak bikin gelisah Indonesia dengan kelakuannya bikin gangguan dan gara-gara di wilayah ZEE, Indonesia tidak akan bersikap berat sebelah. Sebagai negara nonblok, Indonesia tidak akan dan tidak boleh pro ke kiri atau ke kanan. Indonesia ya harus tetap nonblok dan aktif menciptakan perdamaian dunia. Kalau sekarang Cina merasa gelisah dan terancam karena Indonesia lebih dekat ke Amerika Serikat, Cina harus introspeksi diri serta menghentikan ganguannya terhadap Indonesia dan berhenti bersikap arogan.

            Sampurasun.

Sunday, 5 September 2021

Perang di Depan Pintu Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitulah beberapa pengamat mengatakannya. Setelah bosan main-main dengan Afghanistan, sekarang Amerika Serikat (AS) mulai jelas main-main dengan Cina. Kemarin-kemarin juga sebetulnya sekali-sekali AS menunjukkan kekuatannya pada Cina untuk mempertahankan pengaruh dan posisinya di dunia. AS memang tidak mau disalip Cina, baik secara ekonomi, politik, militer, maupun pengaruhnya. Sekarang, setelah melepaskan diri dari Afghanistan, AS lebih fokus untuk menghadapi Cina.

            Indonesia adalah negara penting bagi AS untuk dijadikan partner dalam bermain di Laut Cina Selatan (LCS). Cina memang sering bikin gara-gara di Laut Cina Selatan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Mereka seolah-olah memiliki hak penuh atas LCS, padahal ada hukum internasional yang mengatur tentang kepemilikan wilayah laut itu yang harus dipatuhi semuanya. Oleh sebab itu, ketika Cina melanggar wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, kemudian Indonesia mengusirnya, bahkan Presiden RI Jokowi datang langsung ke Natuna untuk memeriksa keadaan di sana, negara-negara Nato mendukung Indonesia. Amerika Serikat sendiri memuji Indonesia setinggi langit. Pejabat AS menyatakan bahwa Indonesia adalah negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang berani menghadapi Cina. Demikian pula rakyat di kawasan Asia Tenggara memuji Indonesia dan menginginkan pemimpinnya berani tegas terhadap Cina seperti Jokowi.


Saling hormat antara pasukan Indonesia dan pasukan Amerika Serikat (Foto: JakartaGreater)


            Ketegangan Indonesia dan Cina di LCS dianggap AS sebagai pintu masuk untuk makin terlibat di LCS. AS sempat menawarkan dirinya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi Cina. Akan tetapi, Indonesia adalah negara nonblok dengan politik luar negeri bebas aktif yang tidak akan pro ke salah satu pihak, Indonesia tetap bertahan untuk tidak pro ke AS dan tidak pro ke Cina. Indonesia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dengan tetap mengupayakan perdamaian dunia. Artinya, Indonesia tidak akan terlalu dekat ke AS atau ke Cina. Indonesia tetap berusaha untuk tetap bisa berhubungan baik dengan negara mana saja.

            Dengan Cina banyak bisnis yang menguntungkan Indonesia. Dengan AS persahabatan militer sangat menguntungkan Indonesia. Kedekatan militer antara AS dan Indonesia sangat menguntungkan untuk keamanan di LCS tanpa harus ikut bergabung dalam kekuatan militer AS seperti Nato. Kedekatan militer ini semakin bertambah dengan dilakukannya latihan perang bersama terbesar dalam sejarah antara AS dengan Indonesia, Agustus 2021, yang melibatkan ribuan prajurit AS dan Indonesia.

            Bagi AS, latihan bersama Indonesia diharapkan semakin mudah untuk mengontrol Laut Cina Selatan dari pengaruh Cina. Sementara itu, Indonesia pun berkepentingan untuk menjaga wilayah perairannya di situ.


Persahabatan antara militer Indonesia dan Amerika Serikat (Foto: Republika)


            Latihan antara AS dan Indonesia telah memantik kemarahan Cina yang segera melakukan latihan perang bersama Rusia dengan melibatkan sepuluh ribu pasukan. Kehadiran AS di Indonesia adalah ancaman bagi Cina. Inilah yang dikatakan orang sebagai “perang sudah di depan pintu Indonesia”. AS yang sudah lepas dari Afghanistan kini fokus menghadapi Cina.

            Indonesia harus tetap dengan prinsip nonbloknya untuk tidak terseret ke sana kemari dalam perebutan pengaruh itu di samping harus kukuh dalam politik luar negeri bebas aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Kepentingan Indonesia adalah menjaga wilayah kekuasaannya sendiri dari bahaya dikuasai negara lain. Untuk itulah, Indonesia harus pula tetap meningkatkan kekuatan militernya sendiri. AS dan Cina adalah sama-sama sahabat Indonesia. Satu-satunya jalan agar tidak berperang adalah menghormati hukum internasional yang telah disepakati di Laut Cina Selatan. Kalaupun mereka berperang, Indonesia wajib melindungi dirinya karena perang itu berada di depan pintu Indonesia.

            Sampurasun.




Saturday, 4 September 2021

Mencegah Jokowi Tiga Periode

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Jokowi sudah terlalu kuat. Kuat pisan. Kemarin-kemarin juga kekuatan politik pemerintahan Jokowi sudah sangat kuat, mencapai 80%. Sekarang, setelah Partai Amanat Nasional (PAN) bergabung dengan politik Jokowi, kekuatannya bertambah hingga 82%. Selesai sudah semuanya kalau begini. Kekuatan di luar pemerintah benar-benar terkucilkan. Dengan kekuatan 82%, mereka bisa melakukan apa saja dengan mudah. Mereka bisa mengubah undang-undang apa pun tanpa kesulitan yang berarti.

            Mereka bebas mencalonkan presiden RI masa depan siapa saja. Sementara itu, PKS dan Partai Demokrat tidak bisa mencalonkan siapa pun untuk menjadi presiden. Kedua partai itu berada di luar Jokowi dan kekuatannya hanya 18%. Artinya, tak bisa mencalonkan presiden karena syarat untuk bisa mencalonkan seseorang untuk menjadi presiden itu minimal kekuatannya harus 20%.

            Bagaimana dengan Anies Baswedan yang dijagokan orang-orang di luar pemerintahan Jokowi?

            Dia harus berada di barisan Jokowi kalau pengen maju jadi presiden RI. Kalau tidak, ya ke laut aja. Itu pun kalau Anies laku dijual di koalisi pendukung pemerintahan untuk jadi presiden. Kalau tidak laku, ya ke laut aja.

            Banyak orang khawatir dengan kekuatan yang terlalu besar, 82%, koalisi pemerintahan akan mengubah undang-undang tentang masa jabatan presiden dari maksimal dua periode menjadi tiga periode. Memang tidak bagus kalau tiga periode karena bisa terpeleset menyalahgunakan kekuasaan dan korup.

            Sampai hari ini, Jokowi menolak untuk menjadi presiden tiga periode. Partai-partai pendukungnya pun tidak ada yang ingin untuk menjadikan presiden tiga periode. Akan tetapi, situasi dan kondisi politik ke depan kita tidak tahu pasti. Bisa jadi dalam proses amandemen atau pengubahan undang-undang, diubah juga batasan jabatan presiden dari dua periode menjadi tiga periode. Demikian pula dengan Jokowi, bisa jadi pula situasi dan kondisi memaksanya untuk menjadi presiden tiga periode.

            Siapa yang tahu?

            Mereka yang rajin menyuarakan presiden tiga periode adalah dari LSM atau relawan “Jokpro”, Jokowi-Prabowo, yang dipimpin oleh M. Qodari. Ada dua alasan kuat mereka menginginkan Jokowi menjadi presiden lagi untuk periode ketiga. Pertama, ada berbagai proyek infrastruktur yang terhambat diselesaikan akibat Pandemi Covid-19. Jokowi harus punya waktu lebih menyelesaikannya. Kedua, mereka melihat bahwa kalau bukan pasangan Jokowi-Prabowo yang menjadi presiden dan Wapres RI, situasi akan kacau. Politik identitas yang menggunakan agama secara serampangan akan membuat buruk situasi. Akibatnya, terjadi perpecahan di masyarakat yang berujung pada pertumpahan darah, terjadi konflik di antara masyarakat sendiri. Jokowi-Prabowo adalan pasangan yang tepat untuk menyelesaikan hambatan pembangunan infrastruktur dan meredam perpecahan di tengah masyarakat sehingga situasi lebih terkendali.

            Kalau Jokowi tidak bisa tiga periode, Jokpro usul minimal bahwa Pilpres diundur pada 2027, bukan 2024. Artinya, jabatan Jokowi pada periode dua ini ditambah waktunya tiga tahun, menjadi delapan tahun, bukan lima tahun.

            Kita sebagai rakyat harus melakukan tindakan untuk mencegah jika tidak mau presiden menjadi tiga periode. Pertama, dari sekarang harus sudah punya sosok calon presiden yang terbukti mampu meneruskan dan menyelesaikan pembangunan yang sudah direncanakan Jokowi. Bukan orang yang banyak mangkrak dalam pembangunan dan tidak punya bukti mampu untuk membangun atau yang hanya janji, tetapi tidak ada buktinya. Kedua, jangan menebarkan fitnah, hoax, provokasi, atau tindakan yang bisa membuat perpecahan di masyarakat. Jangan pula banyak meledek, nyinyir, ataupun menghina pemerintah karena itu pun bisa menimbulkan perpecahan. Sebaiknya, bantu pemerintah dengan dukungan dan kritik konstruktif. Mendukung dan mengkritik itu sangat diperlukan untuk kebaikan. Kalau hinaan, fitnah, hoax, dll. nilainya hanya sampah.

            Jika kita, rakyat, mampu melakukan kedua hal itu, mereka tak punya alasan untuk menjadikan Jokowi sebagai presiden tiga periode. Akan tetapi, jika kita terus-terusan menebarkan kebencian dan kedustaan, mereka punya alasan kuat untuk menjadikan Jokowi menjadi tiga periode dan Prabowo menjadi wakilnya.

            Sekarang, terserah kita. Kalau mau Jokowi tiga periode, bikin ributlah terus dengan berbagai nyinyiran dan kebencian. Kalau tidak ingin tiga periode, jadilah rakyat bermartabat yang mendukung pemerintah jika benar dan mengkritik pemerintah jika salah.

            Begitu ya.

            Sampurasun.