Friday, 4 February 2022

Tiga Jenderal Bodor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Rasanya banyak pelawak yang tidak sadar bahwa dirinya sedang melawak. Mereka anggap dirinya serius, tetapi jika dilihat, bikin pengen ketawa. Ada tiga orang yang mengaku Jenderal Negara Islam Indonesia (NII) di Pasirwangi, Garut yang menyerukan pada seluruh rakyat Indonesia dan seluruh dunia tentang keberadaan mereka, keyakinan mereka, dan rencana mereka. Ketiga jenderal itu bernama Sodikin, Jajang, dan Ujer.


Tiga Jenderal NII (Foto: Editor.Id)


            Saya tidak ingin mengomentari isi seruannya itu. Hal yang bikin saya tidak habis mengerti adalah mereka telah memviralkan sendiri video mereka di media sosial Youtube. Ini yang bikin saya ketawa. Kan sudah jelas NII itu dilarang dan kalau bergerak, termasuk dalam gerakan makar. Dengan percaya dirinya mereka akting di depan kamera bikin video dengan cara bicara yang juga lucu dan wajah tanpa dosa mengajak orang sedunia untuk menegakkan NII.

            Seharusnya, jangan memperlihatkan diri seperti itu supaya tidak mudah ditangkap. Kan kalau diviralkan di Youtube, semua aparat penegak hukum mudah sekali melihatnya dan menangkapnya. Memang akhirnya polisi mudah sekali menangkapnya, kemudian polisi bikin lagi video yang isinya para jenderal bodor itu meminta maaf kepada rakyat Indonesia.


Tiga Jederal Ditangkap (Foto: Okezone News)


            Balik lagi, saya tidak tahu apakah mereka ada yang menyuruh sehingga mempermalukan dirinya sendiri atau memang mereka mengambil inisiatif sendiri bikin video dan mengaku sebagai jenderal NII.

            Kelihatan mereka itu tidak berpikir panjang sebelum melakukan itu. Tidak dipikir apa akibatnya terhadap diri mereka sendiri.

            Sudahlah, saya hanya ingin berkata kepada mereka, “Berpikir itu berat Jenderal, biar aku saja.”

            Sampurasun.

Thursday, 3 February 2022

Cekcok Munarman Mirip Cekcok Syetan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua ustadz, kiyai, ulama, atau penceramah Islam pasti tahu bahwa ada peristiwa cekcok antara syetan dengan manusia di akhirat kelak. Manusia-manusia calon penghuni neraka menggugat dan menyalahkan syetan yang telah menggoda mereka sehingga harus masuk neraka. Akan tetapi, syetan balik menyalahkan manusia karena syetan tidak pernah memaksa, hanya menggoda. Artinya, salah manusia sendiri mengikuti godaan syetan. Pertengkaran ini terus berlanjut saling salahkan karena hukuman mengerikan sudah diambang mata.

            Kisah ini bukan rekaan, melainkan nyata karena Allah swt memberitakannya di dalam Al Quran. Ini bukan karangan atau khayalan penceramah dan bukan pula karya Nabi Muhammad saw. Ini adalah peringatan nyata dari Allah swt tentang peristiwa nanti.

            Kisah mirip itu terjadi di dunia ini. Di pengadilan sidang terorisme yang mendakwa Munarman mantan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) terjadi cekcok luar biasa antara saksi dengan Munarman. Saksi Z menyalahkan Munarman karena dua kakak kandungnya telah mati gara-gara ceramah Munarman. Dua kakaknya mati karena berbaiat pada Isis dan melakukan bom bunuh diri di Filpina. Si Z sendiri adalah tersangka kasus terorisme yang lainnya. Dalam kasus terorisme Munarman, dia menjadi saksi. Munarman membantah telah menyuruh keluarga Z untuk berbaiat pada Isis, tetapi Z ngotot bahwa ceramah Munarman di Makasar telah membuat dirinya dan kedua kakaknya untuk mengikuti Isis, lalu melakukan bom bunuh diri. Kalau saja mereka bertengkar di luar pengadilan, pasti sudah saling lempar kursi, meja, gelas, teko, air, baku hantam, malah bisa saling bunuh. Karena ributnya di pengadilan, jaksa, hakim, dan pengamanan mencegah mereka untuk saling adu jotos.

            Begitulah, baik Munarman ataupun Z adalah sama-sama didakwa atas keterlibatan mereka dalam kasus teror. Sama-sama mendukung Isis. Akan tetapi, mereka kini menghadapi hukuman yang sama-sama mengerikannya. Awalnya, mereka sama-sama seperti saudara memperjuangkan tegaknya keyakinan versi mereka dengan bertakbir, tetapi ketika digusur di hadapan hukum, saling salahkan, tidak mau untuk dihukum karena kekerasan dan kekejian yang mereka lakukan.

            Mereka tersadar bahwa kelakuan mereka adalah kesalahan. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi dan harus bertanggung jawab atas kontribusi mereka dalam tindakan teror dengan caranya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Begitulah, saling salahkan mirip syetan dengan manusia di akhirat kelak karena harus menghadapi hukuman neraka.

            Bagi para pembaca tulisan saya yang sudah terlibat dan belum tersesat terlalu jauh dalam gerakan radikal teror, segera kembali pada kebenaran Islam yang hakiki, yaitu menebarkan cinta, kasih sayang, dan menciptakan kehidupan yang harmonis sehingga tidak akan saling menyalahkan. Bahkan, saling mendukung dan saling menyelamatkan, baik di dunia ini maupun hingga akhirat kelak, saling memberitakan kebaikan saudaranya di hadapan pengadilan illahi nanti agar saudaranya sesama muslim dapat selamat bersama-sama dari siksa api neraka dan bersama-sama pula memasuki surga Allah swt.

            Sampurasun.

Tuesday, 1 February 2022

Kalau Tidak Dicabuli, Jadi Teroris

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berita akhir-akhir ini banyak yang menyedihkan, mengerikan, menjengkelkan, sekaligus membuat marah.

            Bagaimana tidak memusingkan?

Lembaga-lembaga keagamaan yang seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia, ternyata disusupi para pemangsa seks. Beneran rusak nih orang-orang.

            Belum lepas kita dari kekagetan pemaksaan seks itu, muncul lagi berita dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa terdapat 198 pesantren yang terafiliasi atau bekerja sama dengan kelompok-kelompok radikal terorisme.

            Bagaimana kumaha ini teh?

            Masyarakat jadi ketakutan untuk menitipkan anak-anaknya di pesantren. Masyarakat berharap bahwa lembaga pesantren dapat menjadikan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang unggul tercerahkan dan mampu bermanfaat bagi agamanya, dirinya, keluarganya, masyarakat, dan bangsanya dengan berbagai hal yang positif. Akan tetapi, dengan berseliwerannya berita-berita seperti itu, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pesantren.

            Kalau pesantren sudah tidak dipercaya, bagaimana nasib akhlak generasi muda ke depan?

            Meskipun demikian, ada berita baik bahwa yang terdeteksi itu hanya 198 pesantren. Artinya, pesantren yang baik-baik saja dan tetap baik jauh lebih banyak. Pesantren yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) saja berjumlah sekitar 23 ribu pesantren, belum lagi yang dimiliki Muhammadiyah, Persis, dan Ormas-Ormas lainnya. Masyarakat tidak perlu terlalu ketakutan, hanya memang harus waspada dan pandai berhati-hati memilih pesantren. Kalau salah memilih, anak-anaknya bisa jadi korban pencabulan atau pelaku terorisme.

            Sebetulnya, bukan cuma pesantren yang terdeteksi, melainkan pula perguruan-perguruan tinggi dan rumah-rumah tahfidz tersusupi pula oleh perilaku seksual bejad dan pemikiran-pemikiran radikal. Kasad TNI Jenderal Dudung pun dengan tegas menyatakan bahwa mahasiswa sudah disusupi dan menjadi target gerakan radikalisme. Oleh sebab itu, seluruh prajurit TNI AD diperintahkannya untuk mencermati simpul-simpul lokasi gerakan radikal itu. Dengan demikian, jika situasi mengarah pada kerusakan, TNI AD dapat langsung memberangusnya. Kata-katanya sangat tegas bahwa prajurit TNI tidak boleh menjadi penakut  dan pengecut seperti ayam sayur, tetapi harus menjadi pemberani dan pemenang untuk menyelamatkan NKRI.

            Intelijen, TNI, BNPT, kepolisian, Densus 88 bergerak dalam bidang penegakkan hukum untuk memberantas berbagai perilaku menyimpang. Akan tetapi, tidak cukup kekuatan mereka untuk melakukannya. Pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga lainnya yang baik-baik dan shaleh-shaleh harus pula ikut terlibat dan bersuara dalam membersihkan dirinya dari racun-racun yang mengatasnamakan pesantren, tetapi menyimpang tersebut. Memang jumlah para penjahat itu sangat kecil, tetapi ibarat pepatah “hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Jumlah yang kecil itu, 198, membuat rusak nama baik pesantren yang jumlahnya puluhan ribu. Susu yang putih bersih dan suci pun menjadi ungu pucat karena nila setitik itu.

            Beranilah bersuara dan bertindak untuk membersihkan diri karena itu senilai dengan jihad besar. Jihad kecil itu mudah, hanya membunuh, terbunuh, merusak, dirusak, mengebom, dibom, hidup, mati, menyakiti, disakiti, menang, atau kalah. Jihad besar itu sulit karena harus memperbaiki diri dari dalam.  Jika kita ibaratkan umat Islam ini bagaikan satu tubuh, tentunya jika bagian anggota tubuh kita ada yang salah, kita harus memperbaikinya agar seluruh tubuh dapat lagi bergerak secara terkoordinasi sesuai dengan fungsinya masing-masing.

            Adalah sangat tepat jika penyimpangan yang dilakukan dalam pesantren, diperbaiki oleh pesantren juga. Hal itu sebagaimana para habib yang menyimpang diperbaiki pula oleh para habib yang lurus.

            Jangan takut melangkah di jalan yang benar untuk berperan serta mewujudkan rahmat bagi semesta alam sehingga hidup menjadi lebih baik dan dunia terasa lebih indah. Allah swt bersama para penebar cinta.

            Sampurasun.

Kemarin Ustadz Cabul, Sekarang Habib Diduga Cabul

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berbeda dengan Herri Wirawan yang sudah terbukti cabul dan dirinya sendiri mengakui perbuatannya, saya menggunakan kata “diduga” untuk Habib Yusuf Alkaf karena masih dalam proses pemeriksaan di kepolisian dan belum masuk pengadilan. Sebelum ketuk palu vonis hakim berbunyi, kita tidak boleh mengatakan seseorang adalah bersalah atau tidak bersalah, semuanya harus dijelaskan dulu seterang-terangnya.

            Yusuf Alkaf ditangkap polisi di Pamekasan, Madura. Dia dilaporkan atas dugaan pencabulan terhadap kedua muridnya yang masih berusia 16 tahun. Seorang gadis kelahiran Jakarta dan seorang gadis lagi kelahiran Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura. Menurut kepolisian, Yusuf Alkaf melakukan pencabulannya dengan cara meminta dipijit kedua muridnya itu di dalam kamar studionya, lalu terjadilah tindakan lanjutan pencabulan itu. Perilakunya itu tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi dua sampai dengan tiga kali.

            Atas dugaan itu, polisi melayangkan pemanggilan, tetapi  Yusuf Alkaf tidak mau datang. Kemudian, status Alkaf menjadi tersangka dan ditangkap oleh polisi untuk dimintai keterangan pada Senin, 31 Januari 2022, pukul 19.30.


Yusuf Alkaf (Sumber Foto: tribunnews.com)


            Terlepas dari hasil penyidikan dan pengadilan menyatakan nanti Yusuf Alkaf terbukti bersalah atau tidak, kejadian-kejadian semacam ini sungguh menyedihkan. Para pengajar yang seharusnya menjadi contoh, teladan, atau sosok ideal bagi murid-muridnya berubah menjadi predator seks yang merusakkan murid-muridnya. Hal-hal seperti ini harus menjadi pelajaran bagi para ulama, kiyai, ustadz, habib, guru, atau dosen seperti saya ini. Jujur saja semua pengajar yang dihormati dan diidolakan oleh murid-muridnya mudah saja jatuh ke dalam jurang kehinaan seksual semacam ini. Saya punya ratusan murid dan mahasiswa yang sangat cantik-cantik dan seksi-seksi serta akrab dalam berkomunikasi, godaan untuk itu sangat besar, dan mudah jatuh dalam kerapuhan. Jika Allah swt tidak melindungi, berantakanlah hidup karena hal-hal seperti itu.

            Saya sarankan jika ada penceramah atau pengajar yang menyukai murid-muridnya, jangan lakukan pencabulan atau kekerasan seksual. Sebaiknya, tanya kepada diri sendiri.

            Mampukah dan siapkah kita untuk menikahinya dan bertanggung jawab terhadap hidupnya?

            Apakah dia mau dan setuju untuk menjadi istri kita yang pertama, kedua, ketiga, atau keempat?

            Apakah orangtuanya atau walinya setuju untuk kita nikahi?

            Bagaimana kehidupan kita ke depannya?

            Pikirkan matang-matang sebijaksana mungkin dan sehati-hati mungkin. Jika sudah berpikir ratusan keliling, lakukanlah dan tetap berdoa bergantung kepada Allah swt. Jangan mencabulinya, memalukan dan dosa.

            Adalah sangat baik mengikuti nasihat Syekh Abdul Qadir Jaelani yang mengajarkan jika ada keinginan untuk menikah (menikah lagi), serahkanlah kepada Allah swt. Jika menurut Allah swt itu baik, akan ada jalan untuk terjadinya pernikahan itu dalam perlindungan Allah swt. Jika menurut Allah swt buruk, Allah swt akan menghilangkan keinginan itu dari diri kita. Insyaallah.

            Inilah ajaran Islam bahwa muslim itu adalah orang yang mampu mencegah dirinya dari melukai orang  lain, baik hatinya, jiwanya, maupun fisiknya. Orang yang mulia itu adalah orang yang mampu mengalahkan sisi gelap dirinya sehingga yang muncul dalam hidupnya adalah sisi terang dan kesucian dirinya.

            Jangan rusakkan murid-murid kita karena mereka itu adalah butiran-butiran tasbih yang akan kita persembahkan di hadapan Allah swt kelak untuk menyelamatkan kita dari siksa api neraka.

            Sampurasun.

Monday, 31 January 2022

Pasang Baligo Enggak Ada Kerjaan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada pemasangan Baligo bergambar Rizieq Shihab disertai tulisan “Usut Tuntas Tragedi KM 50”. Baligo ini diduga dipasang di Pamekasan, Madura dan dijaga siang malam oleh para pendukung Rizieq sambil bertakbir dan mengacung-acungkan celurit.

            Bagi saya, isi baligo itu biasa saja, tidak ada yang aneh, sesuatu yang wajar jika masyarakat ingin kejelasan tentang tragedi km 50 yang menewaskan enam laskar FPI yang sudah dibubarkan itu. Saya juga ingin ada kejelasan tentang hal itu. Rakyat menunggu beritanya.


Sumber Foto: Suara Jatim


            Akan tetapi, saya merasa kasihan kepada orang-orang yang memasang baligo itu. Kelihatan sekali mereka tidak tahu apa-apa, polos, kosong dari informasi.

            Bukankah sekarang sidang tragedi km 50 itu sedang berjalan?

            Perkara itu sedang diusut hingga tuntas di pengadilan.

            Lalu, apa gunanya baligo tuntutan itu dipasang?

            Memang sedang diusut tuntas, bukan?

            Menurut saya, pemasangan baligo itu nggak ada kerjaan karena memang sedang diupayakan tuntas perkaranya hingga terbuka dengan sangat jelas. Tidak perlu dituntut dan dipaksa juga memang sedang dituntaskan. Pengadilannya terbuka kok, siapa pun boleh menyaksikan.

            Saya tidak tahu mereka disuruh sama siapa atau mereka sendiri yang berinisiatif. Hal yang jelas adalah baligo itu tidak ada gunanya, bahkan menjelaskan bahwa mereka mungkin tidak tahu bahwa kasus itu sedang diusut tuntas di pengadilan.

            Mumpung kasusnya sedang ada di pengadilan, seharusnya segera saja siapa pun, seluruh rakyat Indonesia, bisa memberikan keterangan, kesaksian, membawa bukti-bukti baru tentang kasus itu ke pengacara atau jaksa untuk dihadirkan di hadapan hakim. Itu sangat bagus untuk membuat terang segalanya. Kemudian, bertanggung jawab penuh atas informasi yang dibawanya itu adalah benar, bukan palsu karena memberikan kepalsuan adalah tindakan kriminal tersendiri. Silakan kalau ada yang punya rekaman CCTV, mendapatkan informasi, atau menyaksikan kejadian itu untuk melengkapi data-data di pengadilan, itu sangat bagus dan jangan ditutup-tutupi.

            Hal yang dilarang itu adalah menyampaikan berita dusta hasil melamun yang dikarang-karang sendiri, lalu disebarkan sehingga masyarakat tertipu dan menimbulkan huru-hara hingga korban jiwa. Dosa besar itu. Segala hal yang terjadi di persidangan adalah fakta persidangan yang jelas menjadi dasar dari pengambilan keputusan hakim. Jangan mengarang bebas karena ini bukan karangan, melainkan kejadian nyata. Bukti nyata itulah yang harus disampaikan.

            Keinginan untuk diusut tuntas adalah bagus. Cuma nggak ada kerjaan saja kalau harus dipasang tuntutan di baligo karena memang sedang diusut tuntas.

            Kasihan orang-orang itu, kurang informasi shahih.

            Sampurasun.

Sunday, 30 January 2022

Pecah Belah Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini seksi, selalu menggiurkan banyak orang. Oleh sebab itu, berbagai bangsa rebutan untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia sekaligus sumber daya manusia Indonesia. Sumber daya alam jelas melimpah, sumber daya manusia jelas bersedia untuk diberi upah murah meskipun melakukan pekerjaan kasar yang berat-berat. Dengan demikian, banyak kekuatan asing dari luar Indonesia, baik berupa negara ataupun swasta/perusahaan/perorangan yang berupaya membuat Indonesia tidak maju atau tidak berdaya. Ketika bangsa Indonesia berusaha memperbaiki dirinya, selalu saja diganggu dan diupayakan untuk terpecah belah, baik melalui jalan kesukuan ataupun keagamaan. Kekuatan asing ini selalu menggunakan orang-orang bodoh, orang-orang yang kalah dalam politik, mereka yang tidak sabaran mendapatkan keuntungan ekonomi, pihak-pihak yang ingin berkuasa secara instan, dan para pengkhayal yang ingin mengubah sistem negara sesuai dengan lamunan mereka sendiri yang tidak jelas itu. Selalu begitu.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah tidak ada sebuah negara pun yang menginginkan Indonesia maju, kaya raya, dan berkuasa di dunia. Mereka yang ingin Indonesia maju adalah rakyatnya sendiri yang tentunya waras dan bersedia untuk belajar keras dan bekerja keras. Adapun rakyat yang tidak waras adalah mereka yang tertipu oleh kekuatan asing dan merasa dirinya yang paling benar.

            Kalau mau dipelajari atau diteliti lebih dalam, silakan saja. Sejarah sudah mencatat kok. Sejak Indonesia berdiri saja, kesatuan Indonesia diganggu sehingga pada 1949 bentuknya menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

            Siapa yang membuat Indonesia menjadi RIS?

            Tentu saja Belanda yang tidak ingin Indonesia benar-benar merdeka seutuhnya. Dengan RIS mereka berharap masih bisa mengontrol Indonesia. Untungnya, rakyat Indonesia cerdas dan kembali berjuang untuk kembali ke negara kesatuan dengan cara membubarkan RIS. Dari peristiwa inilah dimulainya istilah “NKRI Harga Mati”. Kini RIS bubar, hanya bertahan satu tahun, dan kembali menjadi NKRI pada 1950.

            Pemberontakan-pemberontakan di daerah pada masa kepresidenan Ir. Soekarno pun ada kekuatan asing di situ. Salah satu buktinya adalah pesawat pembom AS yang dipiloti CIA Alan Pope ditembak jatuh oleh Mayor Udara Dewanto. Amerika Serikat jelas bermain di situ.

Demikian pula, huru-hara G-30-S PKI, ada Inggris dan Amerika Serikat bikin kisruh suasana. Setelah Soekarno jatuh, banyak modal kapitalis masuk dan menguasai berbagai sumber daya Indonesia, termasuk Freeport yang hanya menyisakan sedikit keuntungan untuk Indonesia, hanya 9%. Adapun pihak asing mendapatkan 91%. Baru pada era Jokowi ini Indonesia mengambi alih saham terbesar PT Freeport menjadi 51% dan pihak asing diwajibkan membuat smelter bahan setengah jadi di Indonesia untuk mendapatkan nilai tambah bagi Indonesia dan membuka lapangan kerja bagi rakyat.

Kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ada banyak senjata buatan AS yang digunakan pihak GAM. Itu asing. Demikian juga dalam kasus Ambon Poso yang diawali dengan keinginan membuat Republik Maluku Selatan (RMS), ada Belanda dan Amerika Serikat yang ikut bikin runyam. Timor Timur lepas dari Indonesia menjadi Timor Leste, ada Australia yang ngotot untuk pemisahan itu.

Hal yang sama pun terjadi di Papua yang masih bergejolak. Di sana ada banyak senjata dari AS dan ada gerakan-gerakan aneh yang muncul oleh orang-orang Inggris dan Australia. Dalam diplomasi luar negeri, ada negara konyol tidak beken bernama Vanuatu yang masih merongrong Indonesia.

Pendeknya, Indonesia selalu diganggu karena tidak boleh maju, tidak boleh berpendidikan, dan tidak boleh makmur. Indonesia harus selalu berada dalam kekuasaan mereka.

Saat ini mereka menggunakan agama untuk membuat kusut Indonesia. Mereka menggunakan orang-orang bodoh yang bisa bicara ngawur seolah-olah dakwah untuk dijadikan ulama agar dapat membodohi orang-orang bodoh juga. Oleh sebab itu, tidak perlu heran jika ada orang yang disebut ulama, tetapi perilakunya jauh dari perilaku Nabi Muhammad saw. Mereka selalu berbicara kepada orang-orang bodoh karena orang pintar selalu tahu kebohongan dan kebodohan mereka.

Kekuatan asing itu menggunakan isu-isu agama di Indonesia karena melihat keberhasilan mereka yang telah memporak-porandakan Libya, Irak, Afghanistan, dan Suriah. Mungkin juga Yaman karena Houthi terus-menerus memerangi pemerintahnya yang dibantu Arab Saudi. Di negara-negara itu isu agama telah membelah mereka dan membuat mereka semakin terbelakang. Ketika negaranya terbelah, kekuatan asing semakin kuat dan rusaklah negara itu.

Jika negaranya kuat seperti Iran atau Arab Saudi, kekuatan asing tidak bisa masuk karena rakyat dan negaranya solid dan kuat. Adapun negara lainnya rusak karena selalu berkhayal tentang kekhalifahan yang sudah runtuh itu sehingga terjadi pembunuhan di antara mereka sendiri.

Mereka berusaha mati-matian membuat Indonesia rusak melalui isu agama sehingga melahirkan intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Hal itu terjadi karena mereka berhasil menipu sebagian orang-orang Indonesia. Mereka punya banyak uang, senjata, dan organisasi untuk melakukannya. Beruntunglah Allah swt selalu menjaga Indonesia sehingga tetap utuh hingga hari ini, bahkan semakin kuat dan semakin mampu mengatur negara lain karena kita memiliki banyak sumber daya yang diperlukan orang lain. Hasilnya, insyaallah dalam beberapa tahun lagi, apalagi 2045 akan lebih terasa karena ada bonus demografi dengan syarat kita sama-sama bergotong royong untuk mencapainya. Kalau kitanya selalu tertipu dan bertengkar di antara kita sendiri, kita tetap sengsara dan orang asing yang untung.

Cek perasaan kalian. Kalau di dalam diri kalian ada istilah atau keyakinan “ulama kami, ulama kalian; ulamaku, ulamamu; kaum sini, kaum sana; aku masuk surga, kamu masuk neraka; kalian adalah musuhku”, berarti kalian sudah tertipu. Kalian sibuk memikirkan saudara kalian sendiri untuk jatuh, bukannya bekerja bersama sebagai saudara untuk mencapai kemajuan bersama. Kalian sudah jauh tersesat dan itu diperhatikan oleh pihak-pihak asing yang ingin segera menerkam Indonesia dan menikmati kelezatan Indonesia. Mereka punya banyak uang, banyak teknologi, banyak senjata, mudah sekali menguasai Indonesia yang masih miskin, bodoh, dan kurang senjata.

Kuncinya ada di kebersamaan. Semua orang Indonesia matanya harus mengarah ke satu tujuan yang sama, tujuan nasional Indonesia. Tujuan Indonesia itu hanya satu kalimat kok, yaitu “Mewujudkan Manusia Indonesia Seutuhnya yang Makmur Lahir dan Makmur Batin Berdasarkan Pancasila”.

Pengen maju?

Bareng dalam kebersamaan dan tolak perpecahan walaupun itu menggunakan isu-isu murahan yang katanya ajaran agama, padahal ngarang sendiri tidak jelas sumbernya.

Hayu ah.

Sampurasun

Wednesday, 26 January 2022

Singapura Tak Lagi Jadi Surga Koruptor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Orde baru atau zamannya Presiden Soeharto dijatuhkan oleh gerakan reformasi karena di dalam pemerintahannya terjadi pembungkaman suara-suara kritis dan teror terhadap aktivis. Di samping itu, masa itu adalah masa maraknya perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang disingkat KKN.

            Ketika orde baru jatuh, muncul orde reformasi pada 1998 yang berupaya memburu para koruptor dan penjahat negara. Upaya perburuan para koruptor beserta uang hasil korupsinya itu mendapatkan halangan atau batu sandungan yang sangat besar dan menyulitkan hingga saat ini. Hal itu disebabkan para koruptor mendapatkan surga yang indah, yaitu Negara Singapura. Para koruptor berlarian ke Singapura bersama uang-uangnya, sementara pemerintah Indonesia kesulitan menangkap mereka karena Singapura bukanlah wilayah hukum Indonesia dan tidak mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Para koruptor nyaman di Singapura sambil merancang langkah-langkah berikutnya untuk menghindari dan melawan hukum Indonesia.

            Akan tetapi, mulai tahun ini, 2022, para koruptor tidak lagi dapat menjadikan Singapura sebagai surga karena sudah sepakat menandatangani perjanjian ekstradisi. Indonesia bisa meminta Singapura untuk menyerahkan para koruptor yang bersembunyi untuk ditangkap dan diadili di Indonesia. Demikian pula sebaliknya, Singapura dapat meminta Indonesia untuk menangkap dan menyerahkan koruptor Singapura yang bersembunyi di Indonesia. Kini kedua negara sudah sangat paham bahwa keterbukaan dan perang melawan koruptor harus dilakukan bersama-sama.

            Kita harus angkat dua jempol buat Indonesia dan Singapura untuk bersama-sama memerangi tindakan korupsi sehinngga kemajuan negara dapat lebih cepat lagi dapat dirasakan rakyat. Saya sangat percaya pendapat Menteri Keuangan RI Sri Mulyani bahwa ada dua hal yang menghambat Indonesia mencapai kemakmurannya, yaitu korupsi dan pendidikan yang buruk. Jika korupsi dapat terus diberantas hingga minimal, langkah untuk menjadi negara yang sukses dengan rakyat yang bahagia dapat lebih mudah untuk dicapai. Indonesia-Singapura harus terus bersahabat memakmurkan negaranya masing-masing.

            Sampurasun

Wednesday, 19 January 2022

Soal Bahasa Sunda, Arteria Tidak Jelas

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini anggota DPR RI dari PDIP Arteria Dahlan meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mencopot atau memecat salah seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang menggunakan bahasa Sunda dalam rapat kerja. Permintaannya itu membingungkan, tidak lengkap, dan tidak jelas.

            Kajati mana yang dia maksud? Siapa?

            Soalnya, ada empat orang Sunda yang menjadi Kajati di Indonesia ini. Kalau disebut Kajati Jawa Barat Asep Nana Mulyana, masih sulit juga. Hal itu disebabkan Asep tidak merasa bahwa dirinya yang jadi target Arteria Dahlan. Bahkan, Arteria memuji-muji Asep sebagai pengacara negara yang telah menuntut Si Ustadz Cabul Herry Wirawan yang memperkosa banyak santriwatinya dengan hukuman mati. Belum jelas Kajati mana yang dimaksud Arteria Dahlan.

            Di mana Kajati berbahasa Sunda itu melakukan rapat kerja? Di Bandung? Garut? Jakarta? Medan? Makasar?

            Rapat kerja apa yang dia maksud?

            Kapan kejadiannya?

            Sepanjang apa bahasa Sunda yang digunakan Kajati tersebut?

            Dari awal sampai akhir rapat? Hanya setengah rapat? Satu atau dua kalimat saja? Bentuknya hanya peribahasa atau narasi panjang?

            Sepanjang yang saya tahu, selama bekerja di Gedung Kura-Kura Senayan itu selama empat tahun, tidak pernah ada yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sepanjang rapat. Paling juga satu atau dua kalimat, sebuah peribahasa, atau memang harus menggunakan bahasa Sunda karena belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bahkan, beberapa kata atau peribahasa Sunda sering digunakan oleh anggota DPR RI dari suku mana pun. Misalnya, kata “tembang, anyar, baheula, miris,” atau “ngabuburit”. Peribahasa Sunda pun sering dipakai seperti “laukna beunang caina herang”, ‘ikannya dapat, airnya tidak keruh’, maksudnya masalah terselesaikan tanpa harus menimbulkan kekisruhan.




            Kalau para anggota DPR RI yang bukan Sunda ingin menggunakan bahasa atau peribahasa Sunda, suka bertanya dulu kepada orang Sunda.

            “Dek, apa itu artinya ‘fardhu kasunat’?”

            Dia memanggil saya adik maksudnya. Otak saya meloading dulu sebentar karena kalimat itu tidak pernah ada.

            “Mungkin maksudnya ‘fardhu kasambut, sunat kalampah’, begitu, Pak?”

            “Iya, iya itu.”

            “Itu seperti peribahasa Indonesia, ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Sekali bekerja dalam waktu yang sama beberapa pekerjaan terselesaikan.”

            Dia manggut-manggut.

            “Lebih tepatnya begini, pekerjaan yang wajib atau yang pokok terselesaikan, bersamaan dengan itu pekerjaan tambahan pun terselesaikan.”

            “Oh, begitu ya?”

            Kembali ke soal Arteria Dahlan. Karena tidak jelas, orang pun bereaksi dengan rupa-rupa tanggapan dan tidak jelas juga. Hal itu disebabkan Arteria sendiri yang salah, tidak lengkap penjelasannya. Kalau tidak paham beberapa kalimat dalam bahasa Sunda, ya tanya saja  sama orang Sunda. Gitu aja kok repot. Saya juga begitu kok kalau ada di tempat lain atau lingkungan berbeda, ya wajar saja kalau bertanya tentang beberapa kata dalam bahasa setempat.

            Apapun alasannya, Arteria Dahlan berlebihan jika harus meminta Jaksa Agung untuk mencopot Kajati yang menggunakan bahasa Sunda. Dia harus ingat dan paham bahwa bahasa Indonesia itu sampai sekarang terus diperkaya, dipermewah oleh bahasa daerah di seluruh Indonesia dan oleh bahasa asing yang memang sudah akrab di telinga orang Indonesia atau memang belum ada kata padanannya dalam bahasa Indonesia.

Harus disadari bahwa bahasa Indonesia itu masih miskin dan memerlukan tambahan dari bahasa daerah dan bahasa asing untuk melengkapinya sehingga semakin kaya untuk digunakan berkomunikasi. Bahasa asing yang sering masuk menjadi bahasa Indonesia adalah bahasa Arab, Inggris, dan Belanda.

            Arteria Dahlan atau siapa pun jangan berlebihan, hanya karena tidak paham, minta orang dipecat. Kalau enggak ngerti, nanya, bukan marah.

            Sampurasun.

            Arteria Dahlan pasti ngerti sampurasun. Kalau enggak ngerti, terlalu.

            Sampurasun.

Tuesday, 18 January 2022

Ahok Calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara Nusantara

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mendengar nama Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama, saya suka pengen ketawa sekaligus sedih. Nama Ahok itu selalu tidak terpisah dari DKI Jakarta, orang tahu hal itu. Ahok sekarang itu namanya disebut menjadi salah satu calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru itu sudah disetujui oleh Presiden RI Jokowi bernama “Nusantara” yang letaknya di Kalimantan Timur. Kalau sekarang kan namanya Jakarta, yang baru namanya Nusantara.

            Para pendukung Ahok ini tampaknya rajin mencatat siapa saja orang-orang yang dianggap telah menjerumuskan Ahok ke penjara. Setiap ada yang mendapatkan masalah atau meninggal, selalu dikaitkan dengan kutukan Ahok atau karma Ahok. Saya pernah menulis dengan judul “Kutukan Ahok” yang di dalamnya ada banyak nama orang yang terjungkal bernasib malang hingga meninggal. Mereka itu dianggap musuh-musuh Ahok. Sebetulnya, daftar nama itu masih sedikit, ada banyak orang yang bisa dicatat yang mengalami hal menyedihkan.

            Baru-baru ini mencuat lagi nama-nama orang yang terjungkir dan dianggap terkena kutukan Ahok. Mantan Gubernur Jambi Zumi Zola ditangkap KPK, mantan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan dihukum 12 tahun gara-gara korupsi, mantan Ketua BPK Harry Azhari Azis yang juga kader Partai Golkar meninggal dunia. Berita paling anyar malah mengagetkan masih muda usia Bupati Panajam Paser Utara Abdul Gafur Masud bersama bendaharanya Nur Afifah ditangkap KPK karena jelas korupsi. Mereka berdua adalah kader Partai Demokrat.

            Orang-orang menyebutnya sebagai “karma Ahok mengerikan”.

            Sekarang santer Ahok dicalonkan memimpin IKN Nusantara. Sementara itu, Anies Baswedan harus berhenti sebagai gubernur bulan Oktober tahun ini. Kalau memang Ahok telah dipastikan menjadi pemimpin IKN Nusantara, berarti dia terdepak dari ibu kota lama, tetapi bersinar terang di ibu kota baru. Sementara itu, Anies Baswedan belum diketahui mau ngapain setelah berhenti sebagai gubernur. Untuk nyapres saja masih sulit tampaknya karena harus ngumpulin suara partai hingga 20%.

            Kalau memang Ahok jadi, tetapi Anies justru berhenti, orang-orang akan bilang lagi bahwa ini adalah kutukan Ahok atau karma Ahok.

            Saya sendiri enggan ngomongin karma. Akan tetapi, hal yang saya yakini adalah “keadaan kita hari ini adalah akibat perilaku kita pada masa lalu dan perilaku kita pada masa sekarang ini menentukan keadaan kita pada masa depan”.

            Oh iya, ada yang lucu soal nama ibu kota negara baru itu. Namanya sudah disetujui presiden, yaitu Nusantara, tetapi Fadli Zon tidak setuju. Dia ingin nama ibu kota baru itu adalah “Jokowi”. Saya tidak tahu apakah dia itu sedang mengejek atau memang ngefans sama Jokowi. Akan tetapi, saya yakin Jokowi bukan orang seperti itu yang gila hormat. Kalau Jokowi mau, pakai saja nama istrinya “Iriana”. Sudah betul itu namanya Nusantara, jangan aneh-aneh.

            Hal yang lebih lucu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak setuju dengan nama Nusantara. Akan tetapi, anehnya mereka tidak mengusulkan nama untuk mengganti nama Nusantara. Menurut saya, agak lebih baik Fadli Zon dibandingkan PKS. Fadli memberikan usulan nama baru, PKS mah tidak.

            Saya usul saja buat PKS. Kalau tidak suka nama Nusantara karena bahasa asli pribumi, tetapi nggak punya ide buat nama baru, usulkan saja namanya supaya ada suara-suara arabnya, yaitu “Al Nusantaraiyah”.

Hayu ah. Jangan bikin ketawa terus atuh. Berpolitiklah yang cerdas dan membangun, jangan ngomongin yang ecek remeh, bikin lucu, dan buat orang tertawa.

Sampurasun