Wednesday, 13 February 2019

Doa Buat Capres yang Tidak Dikabulkan


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) RI, 2019, masyarakat terbagi tiga kubu, yaitu Kubu Jokowi, Kubu Prabowo, dan Kubu Golput (Golongan Putih). Demikian pula para ulama, habib, dan para ahli agama non-Islam, terbagi dalam kubu-kubu tersebut.

            Para ulama yang pro-Jokowi berdoa agar Jokowi menjadi presiden RI untuk yang kedua kalinya. Para ulama yang pro-Prabowo pun berdoa untuk kemenangan Prabowo menjadi presiden.

            Hal yang patut diperhatikan adalah pada akhirnya hanya satu orang yang menjadi presiden. Bisa Jokowi atau bisa Prabowo.

            Hal itu berarti ada doa para ulama yang tidak dikabulkan Allah swt.

            Doa ulama yang mana yang tidak dikabulkan Allah swt?

            Belum tahu. Akan tetapi, kita akan tahu setelah pelaksanaan Pilpres, April 2019.

            Hal itu pun berarti ada calon presiden yang tidak ditakdirkan untuk menjadi presiden RI berdasarkan hasil Pilpres 2019.

            Siapa yang tidak ditakdirkan menjadi presiden itu?

            Tidak tahu. Akan tetapi, kita bakalan tahu setelah melihat hasil Pilpres, April 2019.

            Tenang saja. Semua akan tampak jelas pada waktunya.

            Jadi, jangan berbuat yang aneh-aneh atau melakukan dosa untuk dukung-mendukung jagoannya masing-masing, apalagi membuat huru-hara dan keributan.

            Sungguh, pada dasarnya kepemimpinan itu sudah diatur oleh Allah swt. Kita hanya diuji oleh-Nya dalam keadaan ini.

            Apakah kita tetap berpegang pada jalan Allah swt atau berjalan pada jalan syetan?

            Apakah kita tetap berperilaku baik atau meluncur jatuh menjadi pembuat keonaran?

            Semuanya bergantung pada diri kita masing-masing. Sungguh, Allah swt melihat perbuatan kita sehari-hari, baik yang tampak di hadapan manusia atau yang tersembunyi dalam hati kita masing-masing.

            Hati-hati, kita akan diadili Allah swt atas perilaku kita itu, baik di dunia maupun di akhirat.

            Sampurasun.

Tuesday, 5 February 2019

Jangan Ribut Soal Pilpres RI


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) RI pada 2019 ini memang sangat “berisik”, penuh dengan kegaduhan, hoax, fitnah, makian-makian kotor, bahasa rendah, dan persekusi. Hal seperti itu sesungguhnya terjadi pula pada berbagai negara di dunia ini.

Seharusnya, berbagai keributan itu tidak perlu terjadi, apalagi di Indonesia yang penduduknya dipenuhi orang-orang religius dan merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.  Dalam Islam sudah diajarkan bahwa kepemimpinan di dunia ini sudah ditentukan, “ditetapkan” oleh Allah swt. Kekuasaan di dunia ini sudah diatur oleh Allah swt.

Perhatikan firman Allah swt berikut ini, “Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Pemilik Kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki, ….'” (QS Ali Imran 3 : 26)

Bukankah ayat itu dengan jelas mengajarkan bahwa Allah swt-lah yang menetapkan dan menjadikan pemimpin di antara manusia?

Jadi, tidak perlu sewot dan menghabiskan banyak energi untuk hal-hal seperti itu. Biasa saja. Tetaplah bersikap sangat baik kepada sesama manusia. Soal kepemimpinan itu sudah diatur oleh Allah swt. Kekuasaan pada tingkat apa pun sudah diatur. Allah swt Mahatahu karena Dia Mahakuasa.

Untuk apa Allah swt mengatur dan mempergilirkan kekuasaan di antara manusia?

Sungguh, pergantian kekuasaan itu hanyalah untuk menguji manusia.

“Kami pergilirkan (kekuasaan) di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang tidak beriman) ….” (QS Ali Imran 3 : 140)

Penetapan kekuasaan itu digunakan Allah swt untuk mengukur keimanan manusia. Kita bisa lihat sendiri dalam situasi menjelang pemilihan ini ributnya luar biasa. Ada yang berperilaku kotor, dusta, hoax, fitnah, kasar, baik, jujur, tenang, istiqomah, dsb..

Soal kepemimpinan itu sudah ditetapkan Allah swt sejak lama. Kita saja yang tidak diberi tahu oleh-Nya tentang siapa yang ditakdirkan untuk menjadi penguasa itu. Kekuasaan dipergilirkan oleh-Nya. Kitalah yang sedang diuji sehebat apa keimanan kita kepada Allah swt.

Sekarang masih Jokowi yang menjadi presiden Indonesia.

Kita belum tahu apakah Jokowi hanya satu periode atau ditambah satu periode lagi?

Kita tidak tahu apakah Jokowi satu periode lagi atau diganti oleh orang lain?

Kita juga tidak pernah tahu apakah Prabowo ditakdirkan untuk menjadi presiden Indonesia atau tidak?

Kita hanya akan tahu dengan pasti jika waktunya sudah tiba, yaitu setelah berlangsungnya Pilpres RI, April 2019.

Sekali lagi, tidak perlu ribut atau bahkan membuat banyak dosa dalam masa-masa seperti ini. Tetaplah berbuat baik di mana pun dan kapan pun. Hal itu disebabkan kita sedang diuji dalam penetapan kekuasaan ini. Kekuasaan sudah ditentukan, nilai kita di hadapan Allah swt ditentukan oleh sikap kita sendiri.

Sampurasun.

Saturday, 28 July 2018

Metode Ilmiah Adalah Ajaran Al Quran


oleh Tom Finaldin

Sudah menjadi penyakit dari dulu hingga kini bahwa kaum muslimin tenggelam dalam berbagai dongeng, doktrin, dan khayalan-khayalan yang dikemas dengan kata-kata “ini adalah ajaran Islam”. Padahal, itu semua bukanlah ajaran Islam. Sering sekali penafsiran-penafsiran subjektif yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu yang sifatnya duniawi didesakkan kepada kaum muslimin untuk dipercayai. Apabila ada yang tidak percaya, kerap dikatakan sesat, kafir, bahkan murtad. Kita bisa lihat bahwa perilaku-perilaku seperti ini selalu berujung pada kepentingan politik dan ekonomi atau paling tidak, didasarkan pada keinginan untuk tetap dihormati dan dimuliakan. Jauh sekali dari tujuan Islam itu sendiri, yaitu menebarkan rahmat di seluruh alam semesta. Oleh sebab itu, tak heran jika kaum muslimin masih jauh tertinggal di belakang ribuan tahun lamanya dibandingkan umat-umat lain. Kaum muslimin selalu dalam keadaan terbelakang dan dipermainkan orang lain.

            Allah swt sesungguhnya mengajarkan dasar-dasar metode ilmiah dalam Al Quran. Umat Islam diharuskan mempercayai sesuatu berdasarkan pembuktian yang dapat dipahami dengan logika. Umat Islam tidak boleh mempercayai sesuatu tanpa syarat yang tidak boleh diuji. Allah swt sendiri terbuka untuk diuji. Al Quran menantang untuk diuji. Kalau ada yang tidak percaya Al Quran, silahkan untuk membuat satu surat semisal Al Quran atau cari ayat-ayat yang bertentangan dalam Al Quran. Sampai hari ini tantangan Allah swt itu tidak ada yang mampu menjawab. Allah swt mengatakan bahwa kalaupun seluruh manusia dan jin disatukan untuk menjawab tantangan Al Quran itu, tetap tidak akan berhasil. Hingga hari ini memang tidak pernah ada yang berhasil. Allah swt, Islam, dan Al Quran baik-baik saja tetap tertinggi dan termulia.

            Dalam metode ilmiah, apabila kita mendapatkan fenomena, gejala alam, atau informasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah syak (skeptis), ragu tentang hal itu. Untuk mendapatkan keyakinan tentang hal tersebut, tak ada jalan lain kecuali dengan pembuktian melalui penelitian. Dengan menggunakan penelitian yang menyeluruh sesuai dengan prinsip-prinsip metode ilmiah, akan didapat kebenaran atau ketidakbenaran fenomena atau informasi yang kita dapatkan.

            Apabila langsung percaya tentang sesuatu hal tanpa melakukan penelitian, kita akan terjebak dalam prasangka dan dugaan yang tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini sangat dibenci Allah swt.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS An Najm (53) : 28-29.

            “Mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan (prasangka) dan sesungguhnya dugaan itu tidak berguna sedikit pun terhadap kebenaran. Oleh sebab itu, tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami. Dia hanya mengingini kehidupan dunia.”

            Terjebak dalam dugaan dan prasangka adalah suatu kesesatan karena tidak jelas kebenarannya. Satu-satunya cara untuk membuktikannya, ya itu tadi, penelitian yang menyeluruh. Begitulah Allah swt menyuruh kita untuk tidak menggunakan prasangka atau dugaan sebagai kebenaran.

            Dugaan atau prasangka yang diklaim sebagai kebenaran adalah hoax. Parahnya, para pembuat, penebar, dan pecinta hoax ini menebarkan kebohongan mereka untuk mendapatkan kehidupan dunia.

            “…. Dia hanya mengingini kehidupan dunia.” (QS 53 : 28)

            Apalagi kehidupan dunia itu kalau bukan kepentingan politik dan ekonomi?


Jalan Ilmiah
Orang yang menempuh jalan ilmiah untuk mendapatkan kebenaran Islam adalah Imam Al Ghazali. Dalam Muhammad Husein Haikal (2000) diterangkan bahwa Imam Al Ghazali mengatakan bahwa ia membebaskan diri dari segala macam konsepsi. Kemudian, baru ia berpikir dan menimbang kembali, menyusun kembali, lalu membuat beberapa perbandingan. Dikemukakannya beberapa argumentasi, diujinya dan dianalisa. Dari semua itu, kemudian ia memperoleh petunjuk bahwa Islam dan tuntunan yang diberikan menurut konsepsi Islam adalah benar. Imam Al Ghazali melakukan hal ini untuk menghindarkan hal-hal yang bersifat taklid. Ia ingin membina keimanannya itu atas dasar iman yang pasti yang berlandaskan argumen dan pembuktian, yakni iman yang kebenarannya sudah menjadi pegangan kaum muslimin tanpa ada khilafiah.

            Lebih jauh dari itu, para penulis buku-buku ilmu kalam malah berani meragukan kebenaran Rukun Iman. Mereka lalu menyelidikinya, menganalisanya, meninjau kembali. Dengan demikian, keimanan yang mereka dapatkan berasal dari pengetahuan yang pasti serta dapat diuji dan dapat bertahan secara ilmu.

            Metode-metode ilmiah ini sebenarnya bukan barang baru. Ini adalah memang metode yang diajarkan Allah swt. Sayangnya, umat Islam tidak mengembangkannya dengan baik dan tidak menggunakannya dalam berdakwah. Umat Islam malah menggunakan dongeng, khayalan, doktrin yang disebarkan dengan cara-cara taklid. Akibatnya, umat Islam tenggelam dalam kebodohan, keterbelakangan, dan mudah sekali ditipu. Justru orang-orang Barat-lah yang mengambil metode Al Quran ini, kemudian mengembangkannya dalam berbagai aspek kehidupan dan berhasil menerapkannya dalam kehidupan sehingga tampak unggul pada berbagai bidang. Adapun umat Islam karena terlalu lama meninggalkan metode ilmiah, terpaksa belajar dari pihak Barat di pendidikan formal dan menganggap metode ilmiah sebagai “barang baru” dalam dunia Islam.

            Apabila umat Islam ingin maju, gunakan metode ilmiah dalam berbagai aspek kehidupan sehingga bisa mendapatkan kebaikan, kebenaran, kehebatan, kemuliaan, dan keagungannya. Tinggalkan segala macam doktrin, pemaksaan keyakinan, atau ketakutan untuk dituduh kafir atau murtad karena berbeda pemahaman dengan guru-gurunya yang masih menggunakan kepercayaan lama yang tidak boleh diuji itu. Generasi muda muslim harus banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak dipahaminya dan tidak boleh percaya begitu saja terhadap ajaran atau informasi yang baru diterimanya. Akal diciptakan Allah swt untuk menjadi penengah dalam kehidupan ini. Akal tidak boleh diperkosa dan ditekan untuk tunduk pada hal-hal yang samar dan tidak benar. Beranilah menerobos ketaklidan dan kebodohan. Majulah dengan pemikiran yang benar dan pasti untuk menyongsong kemuliaan di dunia dan akhirat.

            Sampurasun

Sunday, 17 June 2018

Antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Istilah ilmu umum dan ilmu agama sampai hari ini ternyata masih terus digunakan dengan sangat lucunya. Masih teramat banyak orang yang memisahkan antara ilmu umum dengan ilmu agama yang ditandai dengan ilmu umum didapat dari sekolah umum atau konvensional, sedangkan ilmu agama didapat dari madrasah atau pesantren. Hal yang sungguh menggelikan dan menyesatkan adalah banyaknya pendapat bahwa ilmu umum adalah untuk kepentingan duniawi dan ilmu agama adalah untuk kepentingan akhirat dengan harapan bahwa orang-orang akan lebih memilih lembaga pesantren dibandingkan sekolah biasa.

            Kalimat semacam ini masih sering saya dengar, “Buat apa sekolah umum, tetapi tidak tahu agama? Lebih baik masuk pesantren karena akan menjadikan anak-anak kita menjadi ahli agama dan masuk surga.”

            Membedakan ilmu umum dengan ilmu agama adalah sungguh membingungkan dan menyesatkan. Sesungguhnya, tidak ada itu ilmu umum dan ilmu agama karena semua ilmu berasal dari Allah swt. Soal ilmu itu untuk kepentingan duniawi atau akhirat sangat bergantung pada pemilik ilmu tersebut. Misalnya, seorang dokter yang membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan dengan niat untuk mengabdikan diri kepada Allah swt sama sekali tidak bisa dibilang ilmunya hanya sebatas kepentingan duniawi. Dia akan mendapatkan bagian pahala yang besar di akhirat kelak. Hal itu berarti ilmu kedokteran yang jelas tidak ada di pesantren dan didapat dari perguruan tinggi umum akan membawanya ke surga. Sebaliknya, lulusan pesantren yang menggunakan ilmunya hanya untuk kepentingan duniawi, ingin dihormati orang lain, ingin dipuja-puji, ingin dipatuhi sebagai orang paling suci, bahkan menyesatkan orang dengan memutarbalikkan fakta, ilmunya jelas digunakan hanya untuk kepentingan duniawi dan akan membawanya ke neraka.

            Sesungguhnya, bangsa ini sudah melakukan banyak hal untuk mendamaikan hal tersebut dengan adanya Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, termasuk SD Plus, SMP Plus, SMA Plus, atau SMK Plus. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan tersebut diajarkan apa yang disebut-sebut sebagai ilmu umum dan ilmu agama. Demikian pula pada banyak pesantren dilengkapi dengan keterampilan wirausaha, pertanian, peternakan, atau yang lainnya. Akan tetapi, masih saja ada pihak-pihak yang berpikiran kuno bahwa lembaga-lembaga tersebut pun masih lebih rendah dibandingkan pesantren murni dalam arti masih termasuk lembaga pendidikan umum dan berorientasi duniawi.

            Sungguh, saya merasa ngeri dengan hal ini, apalagi jika sudah berpengaruh pada generasi muda yang juga pada akhirnya berkecenderungan berpikiran sama kolotnya. Mereka sama sekali tidak berpikir bagaimana mungkin kita, bangsa Indonesia, bisa memiliki masjid sehebat Istiqlal jika hanya mengandalkan pesantren. Masjid itu berdiri megah bukan karena ilmu dari pesantren, melainkan dari ilmu arsitektur.

            Di samping itu, jika yang disebut ilmu agama itu hanya sebagaimana yang diajarkan di pesantren, sangatlah sempit arti dari ajaran Islam itu sendiri. Dalam kata lain, ilmu Islam hanyalah yang didapat dari pesantren. Di luar itu bukan ilmu Islam. Hal ini harus dibenahi karena ilmu Islam itu meliputi seluruh ilmu, baik ilmu yang sudah ditemukan maupun ilmu yang belum ditemukan. Kita bisa lihat sejarah bahwa pendekar-pendekar ilmu pengetahuan di muka Bumi ini dipenuhi orang-orang Islam yang saleh. Ilmu kedokteran, matematika, fisika, kimia, astronomi, aerounotika, dan lain sebagainya yang disebut-sebut ilmu umum dikuasai orang-orang Islam dan menjadi dasar ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan umum di seluruh dunia.

            Tidak perlulah mendikotomikan ilmu umum dengan ilmu agama karena itu akan mempersempit arti Islam sendiri. Kalau mau, gunakan istilah ilmu umum dan ilmu khusus. Kedua ilmu itu berasal dari Allah swt dan harus saling melengkapi. Ilmu umum untuk membekali manusia agar bermanfaat bagi manusia lain dan seluruh alam semesta dengan segala keterampilannya, sedangkan Ilmu khusus sangat berguna untuk memagari manusia agar ilmunya tidak digunakan untuk melakukan kejahatan kepada sesama manusia dan alam semesta. Sesungguhnya, pesantren dan sekolah konvensional seharusnya saling mendukung agar manusia semakin sempurna mengabdikan diri kepada Allah swt. Tidak perlu ada persaingan di antara lembaga pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

            Sampurasun

Friday, 30 March 2018

Penulis Barat Memfitnah Muhammad Berdasarkan Hoax


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hoax atau berita bohong, palsu, dan dusta memang dibuat untuk menyesatkan manusia. Dari zaman ke zaman hoax ini meresahkan dan mengacaukan pikiran manusia yang ujungnya menghalangi manusia untuk menuju ke jalan “kebenaran”. Ada banyak penyebab mereka membuat hoax yang semuanya bermuara pada kepentingan politik dan ekonomi.

            Kisah-kisah Nabi Muhammad saw pun dibuat hoax yang awalnya diakibatkan oleh rasa terancam oleh Islam dan kaum muslimin di mana saja berada. Muhammad Husein Haekal dalam Prakata Sejarah Hidup Muhammad (2000) merekam beberapa karya penulis barat yang melakukan banyak fitnah kepada Nabi Muhammad. Semua tulisan itu jika diperhatikan, sama sekali tidak menggunakan metode ilmiah, pendekatan riset, dan langkah-langkah penelitian yang akademis. Mereka membuatnya berdasarkan kebencian yang sangat memalukan. Mereka hanya menulis karena terdorong hawa nafsu rendah yang senilai dengan gosip-gosip murahan tanpa bukti dan hanya menghabiskan waktu tanpa ada manfaat sedikit pun.

            Berikut beberapa tulisan tidak ilmiah para penulis barat tentang Nabi Muhammad.

            Dalam Dictionaire Larouse disebutkan, “Dalam pada itu Muhammad masih tetap sebagai tukang sihir yang hanyut dalam kerusakan akhlak, perampok unta, seorang kardinal yang tidak berhasil menduduki kursi Paus, lalu menciptakan agama baru untuk membalas dendam kepada kawan-kawannya.”

            Di dalamnya terdapat pula ceritera-ceritera cabul yang penuh dengan khayalan.

            Reinaud dan Francisque Michel pada 1831 melukiskan kepada kita pandangan orang-orang yang hidup dalam Abad Pertengahan itu tentang dia. Pada abad 17 Bell menuliskan Al Quran dengan sifat-sifat yang merendahkan.

            Guibert de Nogent menyebutkan bahwa Muhammad mati karena krisis mabuk yang sangat jelas. Tubuh Muhammad kedapatan terdampar di atas timbunan kotoran binatang dan sudah dimakan babi. Oleh karena itu, lalu ditafsirkan bahwa sebab itulah minuman keras dan daging binatang itu diharamkan.

            Selain itu, ada juga nyanyian-nyanyian yang melukiskan Muhammad sebagai berhala dari emas serta masjid-masjid sebagai kuil-kuil kuno yang penuh dengan patung-patung dan gambar-gambar. Pencipta “Nyanyian Antakia” (Chanson d’Antioche) membawa ceritera tentang adanya orang yang pernah melihat berhala “Mahom” (Muhammad) terbuat dari emas dan perak murni sedang duduk di atas seekor gajah di tempat yang terbuat dari lukisan mosaik. Adapun “Nyanyian Roland” melukiskan pahlawan-pahlawan Charlemagne menghancurkan berhala-berhala Islam dan mengira bahwa kaum muslimin di Andalusia menyembah Trinitas yang terdiri atas Tervagant, Mahom, dan Apollo. Di samping itu, “Ceritera Muhammad” (Le Roman de Mahomet) menganggap bahwa Islam membenarkan wanita melakukan poliandri.

            Innocent III pernah melukiskan Muhammad sebagai musuh Kristus (Antichrist). Abad Pertengahan menganggap Muhammad seorang heretik (pelanggar ajaran Kristen).

            Droughty pada 1876 membicarakan Muhammad sebagai orang Arab yang kotor dan munafik. Foster pada 1822 juga mencaci Nabi Muhammad.

            Cara-cara berpikir tidak ilmiah dan penuh kebencian para penulis barat itu tetap menguasai para pendukungnya hingga hari ini. Haekal mengatakan bahwa sejak zaman Rudolph de Ludheim sampai saat kita sekarang ini, orang-orang semacam Nicolas de Cuse, Vives, Maracci, Hotinger, Bibliander, Prideaux, dan yang lainnya menggambarkan Muhammad sebagai penipu, sedangkan Islam dan kaum muslimin sebagai sekumpulan bidat. Semua itu perbuatan syetan. Kaum muslimin adalah orang-orang buas dan Al Quran adalah suatu gubahan yang tak berarti.

            Kita sudah melihat bahwa para penulis barat itu merendahkan dirinya sendiri karena menulis tanpa menggunakan metode ilmiah. Mereka tidak memiliki fakta, data, sumber pustaka, narasumber primer dan sekunder, analisis yang tepat, baik menggunakan metodologi kualitatif maupun kuantitatif. Mereka menulis sebagaimana para penulis hoax zaman ini yang bertebaran di What’s Up, Facebook, Twitter, dan berbagai media sosial lainnya. Nilainya sama dengan orang yang “menguap” saat bangun tidur, tak berarti apa pun dan hanya mempengaruhi orang-orang bodoh.


Penulis Barat Yang Agak Jujur
Meskipun banyak penulis karatan yang tak berpengetahuan, banyak pula para penulis barat nonmuslim yang agak jujur tentang Nabi Muhammad dan Islam. Beberapa dari mereka adalah Comte Boulanvilliers, Scholl, Caussin de Perceval, Dozy, Sprenger, Barthelemy Saint-Hilaire, de Casteries, dan Carlyle. Mereka bukan saja jujur, melainkan menaruh hormat terhadap Nabi Muhammad dan Islam.

            Salah seorang penulis barat yang agak jujur dalam menganalisa Nabi Muhammad adalah Prancis Emile Dermenghem.

            Ia mengatakan kepada para penulis yang tidak jujur seperti ini, “Sesudah pecah perang Islam-Kristen, dengan sendirinya jurang pertentangan dan salah pengertian bertambah lebar, tambah tajam. Orang harus mengakui bahwa orang-orang Barat-lah yang memulai timbulnya pertentangan itu sampai begitu memuncak. Sejak zaman penulis-penulis Bizantium, tanpa mau bersusah payah mengadakan studi—kecuali Jean Damascene—telah melempari Islam dengan pelbagai penghinaan. Para penulis dan penyair menyerang kaum muslim Andalusia dengan cara yang sangat rendah. Mereka menuduh bahwa Muhammad adalah perampok unta, orang yang hanyut dalam foya-foya, mereka menuduhnya tukang sihir, kepala bandit dan perampok. Bahkan, menuduhnya sebagai pendeta Romawi yang marah dan dendam karena tidak dipilih menduduki kursi Paus…. Sebagian mengiranya ia adalah Tuhan Palsu yang oleh pengikutnya dibawa sesajen berupa korban-korban manusia.”

            Begitulah penulis barat yang agak jujur membuat analisa dengan mengkritik para penulis barat sendiri yang menulis tanpa pengetahuan dan penelitian yang jelas.


Islam Memberikan Tantangan
Dari dulu hingga hari ini Islam memberikan tantangan kepada siapa saja, baik kepada nonmuslim maupun kepada kaum muslimin sendiri jika meragukan ajaran Islam dan sosok Muhammad. Silakan teliti dengan menggunakan metode ilmiah, gunakan cara-cara akademis untuk mendapatkan kesalahan dan keburukan Islam. Silakan, ditunggu sekali.

            Sayangnya, hingga hari ini tak pernah ada yang berhasil membuktikan kesalahan dan keburukan Islam. Islam baik-baik saja, bahkan semakin diminati dunia. Paling banter, kita akan menemukan banyak kesalahan dan keburukan dari umat Islam dan bukan dari ajaran Islam. Umat Islam itu manusia yang tak lepas dari kesalahan dan keburukan. Oleh sebab itulah, ajaran Islam menuntunnya kembali untuk kembali baik dan suci.

Sunday, 12 November 2017

Sosial Mengalahkan Ritual

 oleh Tom Finaldin


Dalam mengabdikan diri kepada Allah swt, Islam mengajarkan dua cara, yaitu melalui aktivitas ritual dan aktivitas sosial. Kedua aktivitas itu harus seimbang dan tidak boleh berat sebelah. Kedua-duanya sama pentingnya. Apabila kita mementingkan salah satu,  rusaklah amal baik kita. Tak ada artinya.

            Mereka yang terlalu mementingkan aktivitas ritual, akan terjebak dalam merasa benar sendiri, terjauhkan dari masyarakat, terjauhkan dari ilmu pengetahuan, mudah tertipu, tertinggal dalam perkembangan hidup manusia, bahkan memiliki kecenderungan untuk terlalu mudah menyalahkan orang lain sehingga menimbulkan kekacauan dan kebingungan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula mereka yang terlalu mementingkan aktivitas sosial dengan dalih “yang penting berbuat baik”, akan terlepas dari bimbingan Allah swt dan menganggap bahwa pikirannya selalu benar dan baik, padahal benar dan baik menurut seseorang, belumlah tentu baik bagi orang lain. Orang-orang seperti ini memiliki kecenderungan tersesat dalam hidup dan kerap saling bantah serta mudah bertengkar dengan orang lain karena setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Hal yang juga teramat berbahaya adalah dia akan menganggap dirinya sebagai sumber kebaikan yang menjatuhkannya menjadi orang yang memiliki sifat riya, sombong, angkuh, dan gemar pamer. Hal itu akan membuat segala kebaikannya sia-sia karena sesungguhnya segala kebaikan yang kita lakukan hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah swt, bukan untuk mendapatkan hal-hal lain. Orang-orang ini mudah stress, kecewa, dan penuh amarah yang terpendam. Buruk akibatnya bagi dirinya. Allah swt pun terasa jauh dari dirinya.

            Ada dialog menarik antara Nabi Muhammad dengan para sahabatnya yang dapat dijadikan contoh bagaimana hancurnya ibadat ritual karena buruknya sikap sosial. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Hadits ini berasal dari Abu Hurairah.

            Ada seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, Si Fulanah sering melaksanakan shalat malam dan berpuasa sunnah. Dia juga berbuat baik dan bersedekah, tetapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.”

            Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan di dalam dirinya. Dia adalah penduduk neraka.”

            Dari dialog itu, kita bisa melihat bagaimana sia-sianya ibadat ritual seseorang karena lidahnya kotor terhadap tetangganya. Bagaimanapun hebatnya ritual seseorang, tetapi lidah dan mulutnya menyakitkan orang lain, nilainya pun menjadi hancur. Ibadat ritualnya tidak mengantarkannya menuju surga karena buruknya lidahnya terhadap orang lain. Ini artinya, nilai-nilai sosial sangatlah penting karena memang itu yang diharapkan Allah swt, yaitu menebarkan kebaikan dan kasih sayang di antara sesama manusia sehingga kehidupan ini menjadi damai, harmonis, dan seimbang.

            Manfaat dari dialog itu tidak hanya berlaku bagi kehidupan bertetangga, melainkan pula bagi kehidupan bernegara dan dalam percaturan politik dunia. Para penyelenggara negara dan aparat yang lidahnya kotor, tidak konsisten, gemar berbohong, sering menjebak rakyat, kerap melakukan penipuan, melepaskan diri dari janji sebelumnya, mengeluarkan kebijakan yang membingungkan, arogan, dan lain sebagainya adalah para penduduk neraka apabila tidak segera melakukan perbaikan pada dirinya sendiri. Sehebat apa pun mereka melakukan ritual, jika lidahnya dan kebijakannya sering menyakiti rakyat, celakalah mereka. Ada kesakitan dan penderitaan yang sedang menghampiri mereka. Demikian pula para penguasa dunia yang gemar berdusta dan membuat ketidakseimbangan dalam hubungan internasional, sesungguhnya sedang berada dalam kecelakaan yang besar, kegelisahan yang menyiksa, dan kengerian-kengerian itu akan berlanjut bertambah-tambah jumlahnya jika tidak segera memperbaiki dirinya. Neraka akan menjadi tempat mereka jika tidak mengubah dirinya menjadi baik.

            Mari kita perhatikan lagi kelanjutan dialog Nabi Muhammad dengan para sahabatnya.

            Para sahabat berkata, “Ada wanita lain. Dia (hanya) melakukan shalat fardhu dan bersedekah dengan gandum, namun ia (baik) tidak mengganggu tetangganya.”

            Nabi Muhammad bersabda, “Dia adalah penduduk surga.”

            Kita bisa melihat bahwa seseorang yang tidak terlalu banyak melakukan ibadat ritual, tetapi mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, mendapatkan hadiah surga. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga perdamaian dan keharmonisan hidup. Berbeda dengan dialog awal tadi, sebanyak apa pun ritual yang dilakukan, tetap berakhir di neraka jika mengganggu orang lain. Di sinilah kita melihat bahwa aktivitas sosial telah mengalahkan aktivitas ritual meskipun aktivitas sosial itu hanya sebatas tidak mengganggu perasaan orang lain. Surga yang didapatkan akan lebih meningkat lagi jika bukan hanya sebatas “tidak mengganggu orang lain”, melainkan ditambah dengan aktivitas sosial “memberikan manfaat bagi orang lain”. Hal itu disebabkan kata Nabi Muhammad bahwa orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


Aktivitas Ritual Dasar Aktivitas Sosial
Adalah sangat baik jika kita menggunakan aktivitas ritual sebagai dasar aktivitas sosial. Artinya, ibadat ritual itu jangan hanya sebatas simbol, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun tampaknya sebatas simbol, ibadat ritual itu tetap harus dilakukan dengan cara-cara yang benar, sesuai aturan, dan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan karena merupakan tiang-tiang kokoh yang membuat hidup kita tetap kokoh.

            Misalnya, shalat. Di dalam shalat ada ucapan dan gerakan-gerakan pengagunggan kepada Allah swt, pengakuan kelemahan diri, keyakinan ketergantungan diri kepada Allah swt, doa dan harapan agar Allah swt melindungi kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita, keinginan untuk selalu berada dalam bimbingan Allah swt, serta doa kebaikan untuk seluruh kaum muslimin dan untuk kebaikan seluruh umat manusia. Hal itu harus terwujud dalam hidup keseharian kita sehingga kita benar-benar terhubung dengan Allah swt dan mampu mewujudkan kedamaian, keharmonisan, dan keseimbangan hidup di dunia. Itulah Islam yang rahmatan lil alamin.

            Adalah kurang berguna jika dalam shalat kita melakukan banyak ucapan dan gerakan pengagunggan kepada Allah swt dan doa-doa untuk diri, kaum muslimin, dan seluruh umat manusia, tetapi dalam keseharian kita banyak melakukan penyesatan kepada orang lain, gangguan kepada masyarakat, kebohongan terhadap publik, kekejian terhadap manusia, dan upaya penipuan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

            Semoga Allah swt mengampuni kita dan selalu memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.


            Sampurasun.

Friday, 3 November 2017

Razia Polisi Bisa Menghambat Proses Pendidikan

oleh Tom Finaldin


Kita harus memberikan apresiasi kepada aparat apa pun yang bekerja dengan baik dengan niat baik untuk membuat negara dan masyarakat menjadi baik. Akan tetapi, kita pun harus ingat dengan pepatah tak ada gading yang tak retak, ‘segala hal tidak ada yang sempurna’, kecuali Allah swt tentunya. Keretakan itulah yang harus memunculkan kritik yang mengarah pada perbaikan.

            Saat ini pun saya ingin memberikan kritik kepada aktivitas polisi yang sedang rajin-rajinnya menggelar operasi zebra. Tulisan ini dibuat karena dipicu oleh keheranan saya karena polisi melakukan tilang kepada anak saya. Jujur saja, ketika saya melakukan peliputan sebuah acara pelatihan kepemimpinan selama tiga hari berturut-turut, saya dikagetkan pesan WA dari istri saya yang mengabarkan sepeda motor anak saya ditahan oleh polisi karena tidak bawa STNK.

            Kok bisa anak saya dihentikan oleh polisi ketika berangkat sekolah?

            Aneh bin ajaib.

            Saya merasa aneh karena kepolisian setempat pernah memberikan kelonggaran luar biasa kepada para siswa di sekolah anak saya dengan memperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor tanpa memiliki SIM. Akan tetapi, tiba-tiba motor anak saya dan anak yang lainnya dihentikan saat pagi sekali, antara sekitar pukul 06.00-6.30.

            Mereka kan sedang berangkat sekolah, mengapa harus dihentikan?

            Apanya yang salah?

            Tidak mungkin dihentikan karena tidak bawa STNK.

            Bagaimana mungkin polisi tahu bahwa anak saya lupa bawa STNK sebelum dia menghentikan motor anak saya?

            Polisi baru tahu anak saya tidak bawa STNK karena dia menghentikan terlebih dahulu motor anak saya. Setelah itu baru diketahui anak saya lupa bawa STNK.

            Begitu kan logikanya?

            Aksi polisi menghentikan motor anak saya dengan anak saya lupa bawa STNK adalah dua hal yang berbeda. Hal yang saya tidak mengerti adalah penyebab polisi menghentikan motor anak saya.

            Apakah polisi berhak menghentikan kendaraan yang sedang melaju tanpa alasan apa pun alias sekehendaknya sendiri?

            Kelengkapan fisik sepeda motor anak saya komplit, tak ada kekurangan apa pun, dia menggunakan helm, sendirian, mengapa harus dihentikan?

            Apakah polisi curiga anak saya tidak membawa SIM karena dia masih menggunakan seragam SMA?

            Kalau alasannya itu, sungguh lucu karena pasti anak saya tidak bawa SIM. Dia memang belum punya SIM karena belum waktunya. Seharusnya, polisi sudah sangat tahu itu. Tak perlu curiga karena sudah pasti adanya. Bukan anak saya saja yang belum punya, ratusan pelajar SMA dan SMP pun belum memiliki SIM dan hal itu biasa wajar terjadi. Jangan curiga lagi.

            Perlu diketahui bahwa saya tinggal di Kabupaten Bandung yang banyak sekali tidak memiliki jalan akses untuk kendaraan umum dalam jarak tempuh yang sangat panjang, berkilo-kilo meter. Ada beberapa sekolah yang jauh dari jalan raya dan tidak memiliki akses kendaraan umum. Hal itulah yang membuat kepolisian setempat memberikan kelonggaran bagi para siswa untuk menggunakan sepeda motor tanpa harus memiliki SIM karena memang belum waktunya. Bahkan, polisi sempat memberikan sosialisasi tentang hal itu secara langsung ke sekolah anak saya, SMAN 1 Katapang, Kabupaten Bandung. Siswa boleh menggunakan kendaraan dengan catatan tetap menggunakan helm dan alat kelengkapan sepeda motornya komplit, seperti, lampu, spion, dan lain sebagainya.

            Kebijakan polisi yang sungguh sangat baik itu disambut baik oleh masyarakat, termasuk saya. Polisi tahu bahwa apabila memaksakan aturan yang sempurna akan mengakibatkan terganggunya perkembangan masyarakat. Hal itu disebabkan kondisi geografis dan demografis yang berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya. Masyarakatnya masih berada dalam keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan. Tidak semua akses ke lembaga pendidikan terjangkau kendaraan umum. Kalau dipaksakan harus sempurna benar, bisa mengganggu masyarakat, terutama tentang waktu dan kemampuan ekonomi. Artinya, orangtua siswa harus bolak-balik antar-jemput dan atau menggunakan jasa ojek. Hal itu menimbulkan pengeluaran biaya yang sangat besar, sangat mahal untuk ukuran masyarakat di sana di samping membutuhkan waktu yang bisa mengganggu orangtua siswa dalam mencari nafkah. Polisi tahu itu.

            Berbeda dengan wilayah lainnya yang terjangkau oleh banyak kendaraan umum. Di wilayah ini tidak perlu ada kebijakan dari polisi untuk siapa saja. Peraturan bisa dipaksakan secara sempurna. Anak pertama saya pun ketika masih sekolah di SMAN 1 Banjaran, Kabupaten Bandung, tidak saya perbolehkan untuk menggunakan motor karena usianya belum cukup dan banyak kendaraan umum yang bisa digunakan untuk sampai ke sekolah. Sekarang meskipun sudah menjadi mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, anak saya tidak mau menggunakan sepeda motor karena terbiasa dengan angkutan umum. Dia lebih suka menggunakan bus karena merasa lebih nyaman. Itu bagus sekali. Lain halnya dengan anak saya yang kedua yang dihentikan polisi. Dia sekolah di wilayah yang tidak ada akses kendaraan umum dalam jarak yang sangat jauh. Oleh sebab itu, dia dan juga siswa lainnya harus menggunakan sepeda motor dan hal itu dimaklumi oleh polisi. Tak heran di daerah itu teramat banyak siswa SMA dan SMP yang lalu lalang saat pagi untuk berangkat sekolah dan saat pulang sekolah. Di samping itu, memang jalan raya hanya dianggap sebagai lintasan sementara dalam jarak pendek dan waktu tempuh yang sangat sebentar. Kebanyakan mereka menggunakan jalan-jalan pemukiman, perkampungan karena memang wilayahnya seperti itu. Hal ini sudah berlangsung sangat lama dan seharusnya terus berlangsung lebih lama lagi sepanjang belum ada akses untuk kendaraan umum dan ekonomi masyarakat belum membaik.

            Anehnya, secara tiba-tiba polisi menghentikan kendaraan anak saya dan juga siswa lainnya pagi-pagi sekali, saat berangkat sekolah. Kemudian, melakukan proses penindakan pidana. Padahal, menurut anak saya, polisi-polisi itu sering melihat para siswa dan anak saya pun hapal wajah mereka saking seringnya melihat setiap pagi.

            Lalu, ke mana kebijakan polisi yang sangat agung itu dalam memahami keadaan geografis dan keadaan masyarakat?

            Mengapa tiba-tiba dihentikan?

            Saya bisa mengerti jika polisi melakukan penindakan setelah pukul 07.00 Wib karena memang seharusnya para siswa itu sudah berada di dalam sekolah, tak perlu lagi menggunakan sepeda motor, tak boleh lagi berada di jalan raya. Saya mendukung penuh dan masyarakat pun akan memahami dengan sangat baik. Akan tetapi, jika dihentikan ketika pagi-pagi sekali dalam waktu yang wajar untuk berangkat sekolah, sungguh sangat aneh dan mengesankan seolah-olah polisi tidak konsisten.

            Perlu dipahami pula bahwa di dalam surat tilang berwarna biru, penyidik tidak menuliskan jam kejadian dan keterangan jalan. Entah kenapa. Mungkin dia malu karena terlalu pagi, mungkin lupa, atau mungkin tidak menganggap penting hal itu. Saya tidak tahu.

            Kalau tidak penting, kenapa ada hal itu yang seharusnya diisi? Buang saja!

            Soal waktu kejadian, dia hanya menuliskan Kamis tanggal 2 bulan 11 2017.

            Bagi saya, hal itu teramat penting karena bisa menjadi pengetahuan saya di mana anak saya saat itu dan pukul berapa saat itu terjadi. Itu bisa menjadi dasar bagi saya untuk melakukan pembinaan kepada anak saya sendiri karena hari itu seharusnya dia sekolah. Yang jelas istri saya mengantarkannya ke sekolah pagi-pagi dan meminta maaf kepada gurunya karena ditilang pagi-pagi. Gurunya memahami dan menjelaskan ternyata bukan anak saya saja yang kena tilang pagi itu.

            Kalau mau melakukan penindakan secara sempurna di wilayah itu, sebaiknya polisi melakukan kembali sosialisasi ke sekolah. Nyatakan dengan tegas bahwa polisi tidak akan lagi memberi kelonggaran dan permakluman kepada para siswa meskipun jalan akses ke sekolah masih belum tersentuh angkutan umum dan kondisi ekonomi masyarakat masih lemah. Dengan demikian, siswa dan masyarakat akan lebih mengerti dan mempersiapkan diri. Setelah itu, mari kita saksikan saja bahwa akan bisa terjadi kegoncangan di masyarakat karena kemungkinan akan ada banyak siswa SMA atau SMP yang tidak bersekolah karena biaya transportasi yang mahal dan atau orangtuanya tidak bisa antar-jemput karena harus mencari nafkah yang waktunya berbarengan dengan pulang-pergi siswa dari dan ke sekolah. Inilah yang saya sebut bahwa razia yang dilakukan polisi bisa menghambat proses pendidikan.

            Seperti saya bilang bahwa aksi polisi menghentikan laju motor anak saya dengan anak saya lupa membawa STNK adalah dua hal yang berbeda. Anak saya jelas salah karena lupa membawa STNK. Sebenarnya, bukan lupa, melainkan tertinggal di celana yang satunya lagi. Apa pun alasannya anak saya jelas salah. Saya pun memarahinya habis-habisan karena saya selalu ingin hidup sesuai aturan. Saya juga ikuti aturan dan sadar membayar denda.

            Akan tetapi, yang saya tidak mengerti mengapa polisi memberhentikan para siswa pagi-pagi sekali antara pukul 06.00 sd. 06.30 Wib, padahal punya kebijakan yang agung bagi masyarakat karena kondisi yang tertentu itu?

            Lupa?

            Atau memang sengaja saja ingin menindak orang dan tidak peduli dengan kata-katanya sendiri yang bijak itu?

            Atau memang tidak ada koordinasi yang baik di antara polisi sendiri?

            Saya sangat menghargai jika saat itu polisi menyuruh anak saya pulang lagi untuk membawa STNK karena kejadian penindakan itu terjadi hanya beberapa meter dari jalan keluar pemukiman penduduk. Saya pun sangat menghargai ketika melihat polisi menyuruh pulang sepasang suami istri di tempat yang sama karena tidak menggunakan helm dan boleh kembali ke jalan raya jika sudah memakai helm. Polisi tidak menilangnya. Memang masyarakatnya saat itu masih seperti itu. Sekarang masyarakat sudah sadar penggunaan helm meskipun baru sebatas pengendaranya, sedangkan yang duduk di belakangnya masih dibiarkan tanpa helm karena jalan raya hanya dilalui dalam jarak yang pendek dan waktu sebentar. Kebanyakan perjalanan mereka berada di jalan pemukiman penduduk.

            Perlu diketahui bahwa anak saya harus menempuh 3 km dari rumah menuju jalan raya. Jalan raya hanya digunakan sekitar 300 m s.d 400 m. Setelah itu, masuk lagi ke jalan perkampungan dengan jarak tempuh berkilo-kilo meter untuk menuju sekolahnya. Anak-anak lain juga ada yang seperti itu.

            Itu pelanggaran?

            Benar sekali, itu adalah pelanggaran karena tidak memiliki kelengkapan surat ketika berada di jalan raya.

            Akan tetapi, bukankah ada kebijakan agung itu dari kepolisian?

            Mengapa kebijakan itu dihentikan tanpa proses sosialisasi dulu kepada para siswa di sekolah?

            Bukankah dulu pernah melonggarkan penerapan peraturan agar proses pendidikan bisa lancar?

            Hentikan saja kelonggaran itu, terapkan aturan secara sempurna, lalu kita saksikan kemungkinan terjadinya kegoncangan karena hambatan dalam proses pendidikan di wilayah itu.

            Sekarang saja setelah kejadian itu, istri saya selalu khawatir dan ingin antar-jemput anak saya ke sekolah. Itu artinya ada pendidikan yang terganggu dan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Hal itu disebabkan istri saya guru dan mungkin akan datang lebih lambat dari biasanya untuk mengajar anak-anak didiknya. Ada hak anak didiknya yang terampas karena keterlambatan itu. Selain itu, ada biaya tambahan untuk transportasi karena harus bolak-balik empat kali yang jelas perlu bahan bakar lebih.

            Itu saya dan istri saya yang punya tiga sepeda motor.

            Bagaimana dengan warga lainnya yang hanya punya satu motor dengan penghasilan yang pas-pasan?

            Siapa yang mau bertanggung jawab atas kehidupan mereka?


            Sampurasun.