Saturday, 21 May 2022

Memahami Penolakan Singapura terhadap Somad

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memalukan, malu-maluin, “ngerakeun”, nggak punya etika. Sudah ditolak masuk rumah orang lain, malah protes, marah, kan memalukan. Saya dan kita semua punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk rumah dan tidak tidak boleh masuk rumah kita. Orang mau protes, boleh saja, tetapi memalukan. Rumah saya ya gimana saya saja.

            Paling saya bilang, “’Cageur maneh?’ Saya larang masuk rumah, maksa. Memangnya rumah nenek lu?”

            Sudah saya bilang kan Singapura itu rumah punya orang lain, rumah punya orang Singapura. Kalau memang kita orang Islam, seharusnya punya etika yang lebih baik tentang bertamu ke tempat orang lain.

            Ngaji aja terus-terusan, entah apa yang diajinya, adab dan etika saja tidak paham.

            Keluarga saya paham tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke properti saya. Saya tidak pernah melarang istri atau anak saya untuk mempersilakan orang-orang baik ke rumah saya, mau itu memancing di empang, mau itu memanjat dan mengambil jambu di kebun, singkong, lengkeng, pisang, main play station, belajar kelompok, atau yang lainnya. Akan tetapi, saya melarang untuk mempersilakan masuk orang-orang yang tidak jelas atau punya rekam yang jelek, misalnya, bicaranya kasar, tidak sopan, apalagi kalau pernah mencuri di rumah orang lain. Saya tidak senang dan tidak tenang jika ada orang-orang yang tidak baik di rumah karena saya harus mengontrol mereka lagi ngapain dan selalu gelisah khawatir terjadi apa-apa.

            Nah, begitu pula dengan Singapura dan negara lain juga sebetulnya. Mereka punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk, yang harus ditolak, dan siapa yang harus diusir. Itu properti mereka, rumah mereka, hak mereka. Kita tidak punya hak apa pun.

            Kalau ada yang bilang Somad atau yang dikenal dengan Ustadz Abdul Somad (UAS) adalah orang yang mulia dan terhormat, memang siapa yang menghormati dia?

            Mereka yang menganggap Somad adalah orang mulia dan terhormat adalah para pendukungnya, tetapi tidak bagi Singapura. Dalam pandangan Singapura Somad adalah pengganggu yang membahayakan.

            Dalam kehidupan sehari-hari pun begitu kan?

            Preman pasar, preman terminal, pengedar Narkoba, pemerkosa, penjahat, perampok pun adalah manusia terhormat di kalangan mereka sendiri. Akan tetapi, tidak di kalangan luar mereka. Bagi orang lain, mereka mungkin akan dianggap sampah. Itu kenyataannya.

            Kita tidak bisa memaksa orang lain menghormati seseorang atau sesuatu yang kita hormati.

            Singapura adalah negara yang punya pengalaman buruk soal agama. Negara kecil itu penduduknya beragama mayoritas Budha. Rakyat mereka pernah terkotak-kotak, bergesekan, berselisih soal agama. Mereka terpecah-pecah berdasarkan agamanya dan membahayakan persatuan di negara itu. Bahkan, kondisi itu cenderung menimbulkan konflik dan tawuran di antara penduduk yang berbeda agama. Mereka tidak senang dengan kondisi seperti itu. Oleh sebab itu, mereka mengatasinya dengan cara menghapuskan pelajaran agama di sekolah-sekolah, agama apa pun. Pelajaran agama hanya diperbolehkan diajarkan di tempat-tempat ibadat dan di rumah-rumah.

            Manusia yang berprestasi bagi mereka adalah bukan orang yang taat menjalankan agama, melainkan mampu menghasilkan keuntungan ekonomi yang maksimal. Agama tidak penting, uang sangat penting dan utama bagi mereka. Begitulah mereka dan kita harus menghormati mereka karena kita tidak memiliki hak untuk memaksa mereka agar berubah. Setiap manusia berhak atas keputusannya sendiri.

            Karena pernah punya pengalaman buruk dan rakyatnya hampir tercerai-berai  gara-gara perbedaan agama, mereka menolak siapa pun yang dianggap orang yang berpotensi mengganggu kehidupan mereka. Bukan hanya orang Islam yang mereka tolak, orang Kristen yang menghina Islam pun mereka tolak. Bahkan, para rahib, bhiksu atau pendeta Budha dari Myanmar yang memprovokasi umat agar melakukan pembunuhan kaum muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar pun ditolak karena meskipun Singapura beragama mayoritas Budha, hal itu akan membahayakan kehidupan rakyat Singapura.

            Begitulah pandangan mereka. Salah atau benar menurut kita, itu pendapat mereka. Negara itu punya pendapat sendiri. Kita punya pendapat sendiri. Setiap negara dan setiap orang harus menghormati perbedaan itu. Kalau tidak, konflik jadinya.

            Sampai sini paham, Bro, Sis, Dru … eh salah … Jang, Nyi, Ndho, Mang, Kang, Mas, Uda, Uni, Ceu, Neng, Mblo?

            Mudah-mudahan paham.

            Begitulah Ustadz Abdu Somad ditolak masuk rumah mereka karena pada dasarnya mereka ingin tenang dan damai sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Abdul Somad bagi mereka adalah orang yang bisa menimbulkan segregasi, perpecahan, dan kerusakan bagi rakyat Singapura.

            Bagi pendukungnya, Somad adalah orang terhormat. Akan tetapi, Singapura tidak menghormatinya dan tidak memperbolehkan masuk ke pekarangan rumah mereka.

            Paham, ngertos, ngarti teu?

            Teu ngarti, ngacung.

            Sampurasun.

Thursday, 19 May 2022

Singapura Itu Rumah Milik Orang Lain

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penolakan Singapura terhadap Abdul Somad yang dikenal dengan panggilan UAS, jadi berita viral, lumayan seru, padahal bukan hal yang penting. Kejadian seperti itu mah biasa di negara mana-mana juga. Ada orang yang diperbolehkan masuk, ada yang ditolak, biasa saja, di seluruh dunia terjadi hal seperti itu.

            Cara memahaminya sederhana saja. Kita punya rumah, lalu ada orang datang ke rumah kita, terserah kita mau menerima, mempersilakan masuk, membiarkannya di luar, atau mengusirnya. Itu hak kita. Alasan kita bisa bermacam-macam, terserah kita saja. Alasannya mau kita kasih tahu atau tidak, itu terserah kita. Hal itu disebabkan kita yang punya rumah, kita yang berkuasa.

            Kalau dia ngotot masuk rumah kita meskipun sudah diusir, kita boleh melakukan hal yang lebih tegas kepadanya karena kita mulai menganggapnya bahaya. Kita juga bisa meneriakinya sebagai maling supaya tetangga berdatangan mengusir atau memukuli orang itu. Bahkan, kita bisa lapor polisi supaya orang itu ditangkap. Kita berhak merasa tidak aman dengan orang itu.

            Mudah kan memahaminya?

            Mudah atuh masa enggak.

            Singapura adalah rumah bagi warga Singapura. Terserah mereka mau menerima atau menolak siapa saja. Itu rumah dan negara mereka. Indonesia juga begitu, milik rakyat Indonesia. Terserah kita mau menerima siapa, menolak siapa, atau mengusir siapa.

            Kalau kita ditolak di rumah orang, jangan maksa, malu-maluin saja. Pergilah dengan percaya diri sebagai manusia yang waras, berwibawa, dan punya harga diri. Kalau maksa-maksa terus, berarti sudah tidak waras, tidak punya wibawa, dan tidak punya harga diri.

Kalau ditolak cinta, tenanglah, masih banyak cinta yang bisa kita datangi. Kalau ngotot pengen Si Doi terus, berusalah untuk melakukan hal-hal yang disukai dia dan menyenangkan dia. Kalau pengen ke Singapura, berusalah berperilaku seperti yang disukai Singapura.

Paham, Bro, Sis, Drun?

Sampurasun.

Sunday, 15 May 2022

Jokowi Tidak Disambut Biden? Nih, Saya Ajarin Kamu Gratis, Drun!

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo datang ke Amerika Serikat dalam rangka Asean-US Special Summit atau dalam bahasa Indonesia-nya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Asean-AS pada Selasa, 10 Mei 2022, tidak disambut Presiden Amerika Serikat Joe Biden di bandara, Washington DC. Kejadian ini tentu saja menjadi bahan bulian kaum nyinyirun tanpa ilmu. Mereka bilang bahwa kejadian ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak dihargai dan Indonesia salah jalan dalam menjalankan negara.

            Saya kasih tahu kamu, Drun. Indonesia itu memiliki posisi yang sangat tinggi karena menempati jabatan sebagai koordinator kemitraan Asean-AS. Anggota Asean itu ada sepuluh negara. Sudah pasti Indonesia harus dihargai karena posisinya sangat tinggi.

            Kemudian, kalau Indonesia disebut salah jalan karena tidak disambut Presiden AS, sejak kapan keberhasilan atau kemunduran Indonesia ditentukan oleh sambutan Presiden AS di bandara?

            Bodoh sekali jika keberhasilan suatu negara ditentukan oleh sambutan di bandara.

            Berhasil-tidaknya Negara Indonesia itu ukurannya bukan sambutan negara lain, melainkan sejauh mana Indonesia dapat mencapai tujuan nasionalnya yang ada pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Itu ukurannya.

            Ngerti kamu, Drun?

            Kaum nyinyirun itu pikirannya mirip atau bahkan sama kayak Rocky Gerung atau Rizal Ramli yang dasarnya banyak pada lamunan, kira-kira, tanpa cek kelengkapan data dan fakta, tetapi tiba-tiba memberikan kesimpulan yang salah dan menyesatkan. Begini contohnya, kalau tidak salah, koreksi saya kalau salah, Rocky Gerung pernah bilang bahwa rakyat Indonesia tidak bisa berhaji dan umroh ke Mekah gara-gara Rizieq Shihab ditangkap polisi.

            Pernah dengar kan?

            Apa hubungannya antara penangkapan Rizieq dengan penundaan haji atau umroh?

            Penundaan itu diberlakukan Arab Saudi kepada semua negara, bukan hanya Indonesia, gara-gara pandemi Covid-19. Ketika situasi mulai terkendali, Arab Saudi membuka kembali perjalanan ibadat ke Mekah. Sekarang, secara bertahap orang-orang sudah bisa ke Mekah lagi, umroh. Padahal, Rizieq sudah sah menurut hakim masuk penjara dan memang sedang di penjara. Itu bukti bahwa tak ada hubungan antara penundaan ibadat ke Mekah dengan penangkapan Rizieq seperti yang dikatakan kaum nyinyirun bego itu.

            Orang-orang itu memang bego, pokoknya benci Jokowi. Siapa pun yang melawan Jokowi akan mereka dukung. Dulu dukung Prabowo, tetapi karena Prabowo gabung Jokowi, sekarang dukung Anies. Nanti, kalau Anies Baswedan gabung Jokowi, terus ada sandal bakiak melawan Jokowi, mereka pasti mendukung sandal bakiak.

            Anehnya, meskipun bego, tetap saja banyak orang yang percaya. Yah, seperti yang saya bilang, kalau ada bakiak melawan Jokowi, bakiak itu akan dianggap cerdas. Bakiak aja dianggap cerdas apalagi orang, meskipun bego, akan disebut cerdas.

            Balik ke soal sambutan Biden terhadap Jokowi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah menjelaskan bahwa setiap negara memiliki protokoler dalam menyambut tamu dari luar negeri. Di samping itu, pertemuan itu adalah bukan pertemuan bilateral, melainkan semi multilateral.

            Saya kasih tahu kamu, Drun. Pertemuan bilateral itu adalah pertemuan antara dua negara, misalnya, Indonesia-Turki, Jokowi-Erdogan, foto Jokowi Erdogan saya dapatkan dari Merdeka; Jokowi-Putin, foto mereka saya dapatkan dari Tribun Medan; Jokowi-Barack Obama, foto mereka saya dapatkan dari Okezone News.


Jokowi-Erdogan (Foto: Merdeka)


Jokowi-Putin (Foto: Tribun Medan)


Jokowi-Barack Obama (Foto: Okezone News)

            Dalam pertemuan bilateral, terdapat kemungkinan presiden suatu negara akan menyambut langsung presiden negara lain yang berkunjung ke negaranya karena itu memang pertemuan dua negara secara khusus untuk membicarakan kepentingan yang khusus pula. Bahkan, bisa disambut langsung pula di bandara bergantung situasi, misalnya kesehatan. Presiden AS Joe Biden itu sudah berusia di atas tujuh puluh tahun, jadi normal jika tidak ada sambutan di bandara karena alasan kesehatan. Di samping itu, tidak semua urusan bilateral harus selalu diurus kepala negara, bergantung keperluan dan kedekatan mereka. Misalnya, hubungan dengan PM Suriname, hanya diurus oleh Wapres RI; hubungan dengan Presiden Timor Leste, cukup oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

            Contoh sambutan langsung yang terjadi baru-baru ini, 15 Mei 2022, adalah ketika Jokowi sepulang dari AS dan transit di Abu Dhabi, disambut oleh Mohammed bin Zayed (MBZ) yang sekarang menggantikan ayahnya, Sheikh Khalifa, menjadi presiden UEA. Itu hubungan bilateral yang terjadi karena kedekatan dan perasaan kekeluargaan yang tinggi. Jokowi menyampaikan rasa duka cita atas wafatnya Sheikh Khalifa. Di samping itu, Jokowi sudah dianggap saudara oleh MBZ. Selain itu, memang MBZ punya peranan yang sangat penting dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Foto pertemuan Jokowi-MBZ saya dapatkan dari SINDONews.


Jokowi_MBZ (Foto: SINDONews)


            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Luhut Binsar Pandjaitan ketika diajak bicara oleh MBZ, “Jenderal Luhut, tanya apa yang diinginkan Jokowi, presidenmu. Aku akan berikan apa yang dia mau. Dia saudaraku.”

            Nah, Drun, selain pertemuan bilateral, ada juga yang disebut pertemuan multilateral, yaitu pertemuan atau hubungan dengan banyak negara, tidak hanya dua negara. Kalau banyak negara, yang datang ke sebuah negara, kemungkinannya kecil akan disambut kepala negara karena sangat banyak. Apalagi jika kepala negaranya sudah sangat sepuh seperti Joe Biden, nggak akan di bandara, melainkan di tempat lain, misalnya di Gedung Putih, White House.

            Teuku Faizasyah menjelaskan bahwa semua kepala negara angota Asean yang hadir dalam KTT Khusus Asean-AS itu diperlakukan sama karena sifatnya multilateral atau semi multilateral. Itu bagian dari protokoler yang tidak begitu penting. Hal yang penting itu adalah isi atau substansi dari yang dibicarakan dan hasil yang dapat dibawa untuk kepentingan negara masing-masing. Semi multilateral itu karena pertemuan antara AS dan Asean adalah pertemuan dua entitas yang dalam satu entitas Asean terdapat sepuluh negara.

            Mudah-mudahan kalian mengerti, Drun.

            Kalau ada yang bilang PM Singapura disambut Presiden AS Joe Biden di bandara, itu medianya abal-abal dan beritanya hoaks. Saya cari-cari di media mainstream, tidak ada. Saya cari foto dan videonya, juga tidak ada. Malah dalam akun @yusuf_dumdum disebutkan bahwa berita itu adalah hoaks. Ya sudah, memang saya juga tidak menemukan buktinya. Itu hoaks yang hanya menyalurkan hasrat kebencian saja.

            Rocky Gerung bilang karena Jokowi tidak disambut pejabat AS di bandara, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi harus dipecat. Ah, Rocky Gerung itu cuma manusia bego yang sok tahu, dia itu kan bukan ahli hubungan internasional. Mana ngerti dia soal itu. Anehnya, banyak orang yang percaya orang bego kayak begitu. Kalau percaya sama manusia bego, ya bakalan jadi bego juga.

            Kalau mau belajar tentang hubungan internasional, harus ke ahllinya, misalnya, Menlu Retno Marsudi, Marty Natalegawa, Conie Rahakundini Bakrie, Hikmahanto Juwana, Dina Sulaeman, Jemadu Jemat, Farhan, atau bisa juga ke saya. Saya kan Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Al Ghifari.

            Meskipun tidak disambut di bandara, Presiden AS Joe Biden tetap menyambutnya di Gedung Putih. Biden tahu bahwa Jokowi keras kepala, punya posisi penting di Asean, dan tidak bisa diatur AS karena punya politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia. Jokowi tidak akan bisa ditundukkan agar sumber daya alam Indonesia dikuasai AS serta tidak bisa ditekan untuk ikut memberikan sanksi agar melemahkan Rusia. Indonesia itu harus berteman dengan siapa saja, berdamai dengan siapa saja, kecuali dengan teroris, pengedar Narkoba, dan perusak keharmonisan hidup di dunia.


Jokowi-Joe Biden (Foto: About Malang)


            Foto Jokowi dengan Biden saya dapatkan dari About Malang.

            Banyak belajar, Drun!

            Kalau banyak belajar, kalian tidak akan jadi orang yang mudah ditipu dan berupaya juga tidak menjadi penipu.

            Paham, Drun?

            Hayu ah.

            Sampurasun.

Thursday, 12 May 2022

Mestinya PKS “Pede” Aja Pake Kader Sendiri Jangan Pake Gus Baha

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dunia maya lumayan diributin lagi oleh pentolan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera yang memposting Gus Baha dengan memasangkan logo PKS. Perilaku PKS ini membuat marah banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) karena K.H. Ahmad Bahauddin yang dikenal dengan nama Gus Baha ini bukanlah kader PKS dan guru yang sangat dihormati di lingkungan NU.

            Penampilan Gus Baha itu katanya mirip-mirip Jokowi yang terkesan udik, kampungan, kayak tukang tahu, tukang tempe, atau tukang peuyeum. Terkadang, penampilan itu menjadi bahan bulian kaum intoleran yang sok pintar dan sok suci. Akan tetapi, bulian atas penampilan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan ilmu, prestasi, rasa hormat, dan pengagungan umat kepada mereka. “Don’t judge a book by the cover”, jangan nilai buku dari sampulnya, tetapi baca isinya hingga habis. Jangan nilai orang dari penampilannya, tetapi perhatikan kualitasnya. Begitu juga kepada Gus Baha atau Jokowi meskipun kerap dianggap kampungan, mereka adalah orang-orang yang dikenal dunia. Adapun para penghinanya, bukanlah siapa-siapa dan tidak bernilai apa-apa, malah mengurus dirinya sendiri belum bisa.


Sumber Foto: Ayo Indonesia


            Memang ada juga warga NU yang tidak terlalu marah, lebih sabar, malah mengingatkan bahwa foto Gus Baha yang ditempeli logo PKS itu bagus. Hal itu menunjukkan bahwa Gus Baha bisa diterima di golongan mana saja.

            Bagi warga NU yang marah, saya bisa mengerti bahwa mereka bukanlah pemilih PKS. Jadi, penempelan logo PKS pada foto guru mereka dianggap sebagai pengklaiman, sebagai pencatutan untuk kepentingan politik PKS demi menambah elektabilitas menggaet suara dari warga NU. Ini terasa sebagai upaya politik dan bukan penghormatan kepada NU.

Hal itu disebabkan masih menimbulkan pertanyaan apakah PKS mau mengamalkan amaliyah NU seperti yang diajarkan Gus Baha kepada santri-santrinya kalau memang tulus menghormati Gus Baha?

Bisa jadi Gus Baha hanya dijadikan ikon untuk menggaet suara politik dari kalangan NU.

Apakah PKS meminta izin kepada Gus Baha untuk menempelkan logo PKS di foto Gus Baha?

Kalau tidak, itu berarti perbuatan yang tidak punya etika dan sangat tidak sopan, baik kepada Gus Baha sendiri maupun kepada warga NU.

PKS tampaknya sadar bahwa kekuatannya sangat kecil. Kemarin saja ketika Pilpres RI 2019 meskipun digabung dengan Gerindra, FPI, dan HTI untuk mengusung Prabowo menjadi presiden, tidak mampu mengalahkan Jokowi. Apalagi sekarang setelah Prabowo gabung Jokowi serta FPI dan HTI bubar, PKS sendirian dan kekuatannya tambah lemah. Jadi, wajar orang mengira bahwa pemasangan foto Gus Baha adalah untuk menggaet suara dari kaum NU.

Saran saya buat PKS, untuk menaikkan suara dan menguatkan elektabilitas, hendaknya gunakan kader sendiri yang katanya hebat-hebat itu. Pakai ulama sendiri, Pede saja. Kalau ternyata masih tidak disukai banyak rakyat Indonesia, belajarlah untuk menjadi orang-orang yang disukai dengan ilmu yang jelas memberikan pencerahan dan arah bagi masyarakat, bukan nyinyiran ataupun ujaran-ujaran kebencian yang bukan berasal dari jati diri bangsa Indonesia.

Meskipun demikian, kita harus menghormati juga PKS dengan sikap Mardani Ali Sera yang telah meminta maaf atas perilakunya, asal jangan diulangi lagi saja. Foto Gus Baha yang ditempeli logo PKS saya dapatkan dari Ayo Indonesia.

Hormati Gus Baha, jangan main catut seenaknya. Percayalah PKS pada diri PKS sendiri.

Begitu ya, PKS.

Sampurasun.

Tuesday, 10 May 2022

Nato Kelihatan Hebat Karena Musuhnya Hanya Orang-Orang Arab Bodoh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nato adalah kependekan dari “North Atlantic Treaty Organization” yang dalam bahasa Indonesia adalah “Pakta Pertahanan Atlantik Utara”. Amerika Serikat adalah yang terkuat dalam pakta ini yang kemudian semakin kuat karena digabungkan dengan 27 negara Eropa dan 1 Eurasia.

            Nato dipandang hebat selama ini dalam mengalahkan berbagai kemelut di kawasan Timur Tengah atau wilayah yang disebut Arab. Nato berjaya dan perkasa menghancurkan negara, menjatuhkan pemerintahan, dan membuat compang-camping kekuasaan di wilayah Arab. Tentu saja itu mudah dipahami karena mereka melawan orang-orang Arab bodoh yang lemah, mudah diadu domba, gampang dibuat bertengkar, gampang ditipu dan diperselisihkan atas dasar agama. Kawasan ini dibuat bergaduh atas dasar perbedaan suni dan syiah, perbedaan madzhab, atau keyakinan-keyakinan aneh lainnya.  Kalau orang-orang Arab itu pintar, mereka tetap bersatu dan tidak membiarkan wilayahnya menjadi kalang kabut gara-gara perbedaan keagamaan itu. Bodoh mereka itu. Indonesia jangan ikut-ikutan bodoh.

            Memang tidak semua bodoh, sangat banyak yang shaleh, bijak, pintar, dan cerdas. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat secara fisik untuk mengalahkan orang-orang bodoh yang telah tertipu itu sehingga membuat negaranya berantakan dan tertinggal. Tidak akan ada orang pintar jika sekolahan telah sepi dan perguruan tinggi menjadi institusi radikal yang di perpustakaannya bukan ada buku melainkan senjata-senjata untuk membunuh. Oleh sebab itu, dengan sedih orang-orang Arab yang shaleh dan cerdas itu mengingatkan saudara-saudaranya di seluruh dunia untuk menjaga negaranya masing-masing dari kehancuran seperti yang dialami negara mereka. Di Indonesia banyak orang yang berasal dari wilayah Arab yang telah berantakan itu berceramah dan mewanti-wanti bangsa Indonesia untuk menjaga negaranya dari kerusakan dan persengketaan yang disebabkan perbedaan pandangan keagamaan.

            Karena manusia-manusia Arab yang bodoh, tetapi sok suci, dan merasa paling berhak masuk surga inilah membuat wilayahnya lemah sehingga mudah dibabat habis oleh Nato. Bukan Nato yang hebat, melainkan orang-orang Arabnya yang bodoh dan lemah.

            Hari ini bisa kita saksikan bahwa Nato tidak sehebat yang dipikirkan ketika berhadapan dengan Rusia. Rusia memiliki senjata yang hebat, akurat, prajurit yang disiplin, tujuan yang jelas, dan kekuatan yang sulit ditandingi. Nato kelihatan kelimpungan dan tampak takut. Nato tidak berani bertindak terhadap Rusia seperti terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Nato banyak berhitung dan hanya teriak keras di media sosial ditambah beraninya hanya mengirimkan senjata ke Ukraina untuk mengalahkan Rusia tanpa berani berhadapan langsung. Ketika berhadapan dengan negara cerdas dan kuat, Nato pun seperti orang-orang sibuk tidak karuan.


Sumber Foto: Twitter


            Celakanya, ternyata senjata-senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang dikirimkan untuk membantu Ukraina banyak yang tidak berfungsi dengan baik, mudah rusak, dan berbiaya mahal. Ada senjata yang hanya untuk satu kali tembak biayanya mencapai 1,4 M. Senjata-senjata itu tidak gratis, Ukraina harus membayarnya.

            Foto sebagian kecil kerusakan di Ukraina saya dapatkan dari Twitter.

            Menurut saya, sudahlah, Nato tidak usah belagu dan selalu tampak paling hebat. Tidak perlu lagi membuat perang semakin parah dengan memanas-manasi Ukraina supaya terus perang, memberi harapan palsu dengan dongeng kemenangan, membantu dengan senjata pembunuh untuk mengalahkan Rusia, jangan bikin Rusia semakin marah, serta membuat kisah-kisah bohong di media sosial. Itu semua tidak membantu menyelesaikan masalah. Sebaiknya, redakan ketegangan, duduk bersama, bicarakan akar masalah perselisihan, serta cari titik temu antara Rusia, Ukraina, dan Nato. Jujurlah untuk seluruh nilai-nilai kemanusiaan demi mencapai “win win solution” tanpa menumpahkan darah.

            Sampurasun.

Sunday, 8 May 2022

Kalau Indonesia yang Harus Mendamaikan Perang, Bubarkan Saja PBB

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Manusia bisa bilang, ini kebetulan. Akan tetapi, dalam pandangan spiritual Islam, ini sudah menjadi takdir Allah swt bahwa Indonesia menjadi Presidensi G20 yang diikuti 19 negara maju dan akan maju ditambah 1 Unieropa di tengah-tengah kecamuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Nato.

            Hal aneh yang terjadi adalah tiba-tiba Indonesia ditekan pihak Barat untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20 dan pertemuan-pertemuan G20. Jika tidak, pihak Barat mengancam akan memboikot G20. Tentu saja, pihak Barat ini dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS), padahal negara-negara Barat lain tampaknya setengah hati mengikuti keinginan AS dalam melawan Rusia. Hal ini tampak sekali dari negara-negara barat yang kikuk karena mereka masih bergantung pada Rusia, misalnya, soal kebutuhan gas dan minyak.

            Hal ini diperparah dengan semua mata dunia menuju pada panggung Jokowi, Indonesia, dan G20. Pihak Barat mendesak Indonesia bahwa G20 dijadikan ajang untuk menyelesaikan masalah perang Rusia Vs Ukraina, terutama untuk menghukum Rusia. Banyak ancaman Barat yang ditujukan pada Indonesia yang akan menyelenggarakan G20 di Bali. Ini aneh karena sesungguhnya G20 adalah organisasi dan pertemuan tingkat tinggi dunia yang sudah dibatasi Jokowi hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Temanya “Recovery Together, Stronger Together” artinya “pulih bersama dan lebih kuat bersama”. Pertemuan ini tidak untuk membicarakan masalah politik, militer, apalagi perang. Akan tetapi, keangkuhan Barat menekan Indonesia agar memasukan pula soal Rusia dan Ukraina ke pembicaraan di G20.

            Karena Indonesia adalah negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia, Jokowi tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky untuk hadir di G20 di Bali. Indonesia tidak mengikuti kehendak AS dan Barat, tetapi tetap berupaya memberikan jalan keluar agar terjadi pertemuan positif antara Rusia dan Ukraina di Bali.

Meskipun demikian, hal ini masih membingungkan karena mau apa Ukraina di G20?

Mau ngomong apa dia?

Ukraina itu bukan anggota G20 yang pasti tidak memiliki hak bicara dalam berbagai sidang di Bali, kecuali diputuskan anggota G20 lain untuk bisa memiliki hak bicara dengan mengubah atau menyepakati terlebih dahulu tatatertib yang ada. Dengan demikian, Ukraina bisa memiliki hak bicara.

Kalau Jokowi, Indonesia, memfasilitasi upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina di G20, itu artinya agenda G20 meluas, bukan hanya bicara soal ekonomi, melainkan pula perdamaian. Dengan demikian, Bali, Indonesia menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan perang dan mewujudkan perdamaian.

Hal itu bagus. Akan tetapi, sesungguhnya, tempat untuk membicarakan perang dan perdamaian adalah bukan di perhelatan G20, Bali, Indonesia, melainkan dalam sidang-sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disebabkan memang tempat untuk menyelesaikan perkara seperti itu adalah di PBB, bukan di G20, bukan di Indonesia, bukan di Bali, dan bukan pula oleh Jokowi.

Melihat kenyataan seperti itu, publik dunia wajar bertanya, selama ini PBB melakukan apa untuk menyelesaikan masalah konflik di Ukraina?

Kalau PBB tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu, mengaku sajalah dengan terus terang bahwa PBB adalah organisasi yang lemah dalam mengorganisasikan dunia. Oleh sebab itu, PBB layak untuk dibubarkan.

Saya jadi teringat pidato “Pemimpin Besar Revolusi Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno” di hadapan dunia yang menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB. Soekarno menyerukan perlunya kesadaran dan kebersamaan untuk melakukan upaya “to build a world anew”, ‘membangun tatanan dunia baru’ yang lebih masuk akal dan menjamin perdamaian kehidupan dunia.

Kalau memang G20 Indonesia yang harus mendamaikan perang, bubarkan saja PBB. Organisasi itu sudah kelihatan sangat lemah dan tunduk pada kepentingan barat.

Sampurasun.

Saturday, 7 May 2022

Amerika Serikat Tidak Akan Berhasil Menentang Sunatullah

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kejatuhan Unisoviet dan terdesaknya komunisme, Amerika Serikat (AS) seakan-akan menjadi penguasa tunggal di dunia dan merasa dirinya adalah yang paling berkuasa. Tampaknya, AS memang ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sebagai penguasa di muka Bumi dan selalu berupaya mengalahkan orang lain, negara lain, atau mengatur hidup orang lain sesuai dengan pandangannya. Mereka ingin sistem pergaulan dan politik dunia berada dalam kondisi unipolar, hanya satu penguasa, yaitu dirinya.

            Sayangnya, keinginan mereka itu sia-sia karena dunia tidak diciptakan untuk itu, tidak akan pernah dalam situasi yang benar-benar unipolar, kecuali semu atau hanya perasaan dirinya. Dalam kenyataannya unipolar itu tidak akan pernah terjadi karena itu menentang sunatullah, hukum Allah swt, kebiasaan Allah swt, sistem dan mekanisme Allah swt.

            Kita lihat sejarah manusia, minimal yang saya ingat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh saja silakan. Dulu, sebelum masa kerasulan Muhammad saw, dunia terbagi pada dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia. Ada dua kekuatan besar di muka Bumi, bipolar. Setelah memasuki masa kekhalifahan, terdapat beberapa kekuatan besar di Bumi, yaitu Kekhalifahan, Romawi, dan Mongolia, multipolar. Kemudian, pada masa berikutnya, muncul kekuatan barat Amerika Serikat dan kekuatan timur Unisoviet, kembali bipolar. Setelah Unisoviet jatuh dan Rusia seolah tersingkirkan, muncul kekuatan ekonomi dan teknologi Cina yang berseberangan dengan AS. Selalu begitu. Sekarang, Rusia muncul lagi dengan lebih mengejutkan dengan memamerkan kekuatan militer dan teknologi perangnya dalam perang di Ukraina. Sementara itu, kekuatan AS dan Eropa Barat tampak kaku, rikuh, dan tidak siap menghadapi kekuatan besar Rusia. Apalagi setelah ada keluhan dari prajurit Ukraina bahwa banyak senjata bantuan dari AS untuk Ukraina dalam melawan Rusia, tidak berfungsi dengan baik. Rusia tampak sekali menguasai pertempuran dengan keakuratan militernya.

            Dunia itu memang seperti itu, tidak pernah unipolar, tetapi selalu bipolar atau mulitipolar. Bahkan, akibat dari perang Rusia Vs Ukraina ini kemungkinan dunia akan terbagi ke dalam pakta-pakta baru, multipolar. Gabungan Indonesia-India-Cina bisa menjadi kekuatan baru yang bisa mengalahkan barat dengan kemampuan yang dimilikinya. Indonesia punya sumber daya alam, Cina punya teknologi, dan India punya militernya. Di samping itu, jumlah penduduk ketiga negara itu sangat banyak, Indonesia sekitar 270 juta jiwa, India sekitar 1,4 miliar, dan Cina hampir 2 miliar dapat menjadi pasar ekonomi raksasa mengalahkan AS dan Eropa Barat. 

            Sekali lagi, dunia tidak akan pernah bisa unipolar secara nyata, kecuali semu. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah swt sendiri dalam QS Al Baqarah 2 : 251.

            “… Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, niscaya rusaklah Bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

            Di dalam kehidupan ini selalu ada kejahatan, kerakusan, dan keterlaluan. Ketika terjadi sikap-sikap negatif yang membahayakan kehidupan umat manusia dan segenap alam raya, Allah swt menggerakkan sekelompok manusia lainnya untuk melawan atau menahan kejahatan manusia lainnya agar Bumi, manusia, dan keseluruhan kehidupan ini tidak rusak. Allah swt adalah Sang Maha Pemberi Karunia dan menginginkan agar kehidupan dunia ini seimbang.

            AS dan siapa pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi penguasa tunggal dunia karena itu tidaklah mungkin alias mustahil. Sang Pencipta Alam ini pun tidak pernah akan mengizinkan ada satu penguasa tunggal di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, saling mengenal, saling belajar, saling mengisi, dan saling bekerja sama adalah lebih baik dalam mengarungi hidup ini daripada bercita-cita menjadi penguasa tunggal di muka Bumi, apalagi dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan atas manusia lainnya.

            Sampurasun.

Tuesday, 3 May 2022

Ketakutan Malaysia terhadap Bahasa Indonesia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Negara tetangga kita, saudara kita, Malaysia, ini memang unik. Dulu, pada awal kemerdekaan ketika mereka masih bodoh, mereka meminta diajarin oleh Indonesia. Guru-guru dari Indonesia dikirim ke Malaysia untuk mengajari rakyatnya. Lalu, ketika mereka mulai pintar dan kaya, mereka mulai belagu karena ketika Indonesia pada masa Orde Baru dipimpin Soeharto, banyak sekali rakyat Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Rakyat Indonesia banyak yang sangat miskin karena merebaknya budaya korupsi masa Soeharto. Oleh sebab itu, rakyat dan pejabat Malaysia banyak yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu bodoh dan pesuruh dengan kalimat “Indon Bodoh” atau “Indon Babu”. Bukan hanya itu, tentara mereka pun sering mengganggu tentara Indonesia karena tahu bahwa saat itu tentara Indonesia sangat parah kerusakannya, tentara rombengan, mirip odong-odong. Kita harus akui saat itu tentara Indonesia sangat kekurangan honor serta kekurangan peralatan dan perlengkapan. Lemah sekali. Tidak sampai di situ perilaku Malaysia yang mirip Bocil itu. Mereka pun kerap mengklaim seni, budaya, dan sastra dari Indonesia adalah milik mereka. Pelawak mereka itu.

            Kini setelah  Indonesia memasuki era reformasi, banyak perbaikan yang dilakukan Indonesia dan berhasil menyalip sehingga meninggalkan jauh Malaysia. Kehidupan politik, ekonomi, militer, dan kepopuleran Indonesia di mata dunia telah meninggalkan Malaysia.

            Meskipun demikian, Malaysia tetap seperti Bocil MPO (mencari perhatian orang), mirip Bocil memang yang selalu meminta perhatian ketika tak ada orang yang memperhatikan mereka. Sudah beberapa hari ini Malaysia melalui perdana menterinya, Ismail Sabri, membuat gaduh lagi dengan menawarkan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi Asean. Alasannya adalah bahasa Melayu sudah digunakan oleh 300 juta orang di Asean dan bahasa Indonesia adalah termasuk bahasa Melayu. Tentu saja keinginan ini ditolak oleh rakyat dan petinggi Indonesia karena bahasa Indonesia sudah merupakan entitas tersendiri. Malaysia tampaknya khawatir bahwa bahasa Melayu bisa punah karena orang sudah tidak lagi menyebut-nyebutnya, sedangkan bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa internasional.

            Memang jika dirunut akarnya, bahasa Indonesia awalnya adalah bahasa Melayu. Akan tetapi, bahasa Indonesia sudah jauh berkembang mengikuti pergaulan internasional dan pengetahuan menjadi bahasa tersendiri yang sudah sangat berbeda dengan bahasa awalnya. Bahasa Indonesia sudah melengkapi dirinya dengan menyerap berbagai bahasa daerah di seluruh Indonesia dan menyerap pula berbagai bahasa asing, seperti, Arab, Belanda, Inggris, dan Latin. Di samping itu, bahasa Indonesia sudah mendapatkan banyak penyempurnaan dalam tatakata, tatakalimat, aturan singkatan, kata-kata baku, infiks, sufiks, konfiks, dan lain sebagainya. Jadi, jika kita harus kembali ke bahasa Melayu awal, sama saja dengan melangkah mundur ke zaman lalu dan menghambat kemajuan Indonesia dalam berbagai hal, seperti, ilmu pengetahuan, sosial, militer, bahasa, seni, budaya, dan sastra.

            Dengan melihat kenyataan seperti itu, sudah pasti Indonesia menolak penggunaan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi Asean. Bahkan, keinginan keinginan PM Ismail Sabri yang disampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo itu memunculkan sedikit kemarahan dari rakyat Indonesia yang langsung mengusung bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Asean dan melumat bahasa Melayu.


Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yakob dan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Foto: Pikiran Rakyat)


            Foto Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yakob bersama Presiden RI Jokowi saya dapatkan dari Pikiran Rakyat.

            Keinginan rakyat Indonesia itu sangat wajar dan beralasan. Di samping rakyat Indonesia yang harus menggunakan bahasa Indonesia itu sudah lebih dari 270 juta orang, juga kenyataannya sudah ada 47 negara di dunia yang mempelajari bahasa Indonesia untuk digunakan berkomunikasi. Bahkan, di Korea Selatan Program Studi Bahasa Indonesia menjadi rebutan para mahasiswa karena ketika di dalam dunia kerja akan mendapatkan banyak bonus jika menguasai bahasa Indonesia. Lebih jauh dari itu, anak-anak muda Malaysia dan Brunei yang berteman dengan anak-anak muda Indonesia sudah sangat paham dan menggunakan pula bahasa Indonesia.

            Berbeda terbalik dengan bahasa Melayu. Meskipun di Malaysia dianggap bahasa resmi negara, dalam kenyataannya, tidak semua warga Malaysia menggunakan bahasa Melayu. Mereka banyak menggunakan bahasa resmi kedua, yaitu bahasa Inggris dan bahasa ibunya masing-masing. Hal itu disebabkan sistem pendidikan venakuler yang membolehkan atau bahkan mengharuskan siswa mempelajari bahasa ibunya masing-masing, seperti, orang Melayu mempelajari dan menggunakan bahasa Melayu, orang Inggris menggunakan bahasa Inggris, orang India menggunakan bahasa India, dan orang Cina menggunakan bahasa Cina. Dengan demikian, pengguna bahasa Melayu menjadi sangat berkurang. Dari 25 juta warga Malaysia, pengguna bahasa Melayu mungkin hanya 10 atau 15 juta orang. Jadi, sangat sedikit penggunanya.

            Saran saya untuk para pemimpin dan rakyat Malaysia yang ingin bahasa Melayu mendunia, jangan dulu berpikir untuk meminta Indonesia dan Asean untuk menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi. Sebaiknya, kuatkan dulu rakyat Malaysia untuk menggunakan bahasa Melayu dengan rasa bangga sebagaimana rakyat Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga tanpa melupakan bahasa ibunya sendiri sesuai dengan sukunya masing-masing yang lebih dari 700 suku bangsa itu. Agak aneh rasanya menginginkan bahasa Melayu mendunia, tetapi di negaranya sendiri tidak menjadi kebanggan rakyatnya untuk digunakan sebagai bahasa resmi dalam berkomunikasi.

            Sampurasun.

Sunday, 1 May 2022

Ramadhan Tidak Mau Berhenti Perang, Tetapi Cobalah Berhenti Dulu Saat Idul Fitri

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pasukan tempur Rusia dalam melakukan “demilitarisasi” dan “denazifikasi” di Ukraina dibantu penuh oleh Presiden Republik Chechnya Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Tentara muslim Chechnya mengerahkan pasukan tempur daratnya untuk membantu Rusia.

            Pasukan muslim Chechnya ini sangat disiplin, ramah, murah senyum menghiasi tubuh kekar dan jenggot lebatnya. Tak heran mereka selalu meraih keberhasilan dalam setiap operasinya. Dari beberapa video operasi pasukan Chechnya, tampaknya mereka bertugas menyisir kota-kota untuk menyelamatkan warga sipil yang terjebak perang dan membersihkan para neo nazi yang dikabarkan menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dalam perang.


Pasukan Chechnya Merebut Mariupol (Foto: CNN Indonesia)


Keberhasilan mereka merebut Kota Mariupol, Ukraina, mengejutkan semua orang. Pasukan Chechnya mengumumkan bahwa Kota Mariupol telah jatuh ke tangan mereka dan tidak bisa dikembalikan. Mereka menguasai penuh di sana.

Ketika memasuki Bulan Suci Ramadhan, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Ramzan Kadyrov untuk menghentikan perang agar para tentara Chechnya dapat lebih berkonsentrasi menjalankan ibadat Ramadhan. Akan tetapi, Ramzan menolaknya karena dalam keyakinannya justru berperang pada Bulan Suci Ramadhan akan memperoleh pahala yang lebih besar. Putin pun tak bisa menolak keinginan Ramzan.


Valadimir Putin dan Ramzan Kadyrov (Foto: CNN Indonesia)


Foto dialog antara Putin dan Ramzan serta pasukan Chechnya yang telah merebut Kota Mariupol saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Kini Bulan Suci Ramadhan telah selesai dan memasuki Syawal. Pada 1 Syawal adalah Hari Raya umat Islam, Idul Fitri. Ada baiknya untuk menghentikan perang dulu, hormati hari raya ini dan berbagi kebahagiaan bersama dengan siapa pun. Berbuat baiklah dengan musuh jika musuh cenderung untuk berdamai dan bersedia menghentikan perang sementara, lebih baik lagi jika didapat kata sepakat untuk menghentikan perang selamanya. Ini mungkin sulit terjadi, tetapi tidaklah salah untuk dicoba dan mengurangi ketegangan. Banyak berdoa supaya Allah swt memberikan jalan ke luar yang terbaik. Ajaklah musuh untuk menyelesaikan perselisihan dengan dialog dan rasa saling percaya. Jika musuh dapat dipercaya, hormati sikap mereka. Akan tetapi, jika musuh tidak dapat dipercaya dan terus menunjukkan ancaman bahaya. Kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan.

Sampurasun.