Saturday, 21 December 2019

Ambil Sikap Skeptis


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak dan panjang sebenarnya pemahaman skeptis ini. Bisa dipahami dari sudut filsafat, bisa juga dari sudut pandang agama. Akan tetapi, intinya, skeptis adalah sikap “meragukan atau ketidakpercayaan”.

            Para pemikir atau ilmuwan sejati selalu skeptis terhadap informasi atau ilmu yang baru didapatnya. Mereka selalu ragu dan tidak percaya. Akan tetapi, mereka tidak berhenti dalam keraguan. Mereka melakukan berbagai penelusuran hingga keraguan itu hilang berganti menjadi sebuah “keyakinan”.

            Mereka tidak takut untuk ragu agar mendapatkan keyakinan. Dari merekalah kita mendapatkan banyak sekali pengetahuan yang bermanfaat. Dalam hal agama Islam pun para “ahli ilmu kalam” banyak yang membebaskan diri dulu dari Islam. Mereka keluar dulu dari Islam, kemudian meragukan dan tidak percaya terhadap inti-inti ajaran Islam. Bahkan, mereka ragu terhadap kebenaran “rukun iman”. Mereka pelajari semua agama, semua inti keyakinan. Mereka mencari mana agama yang paling benar dan mencari bukti-bukti yang objektif dan ilmiah. Pada akhirnya, mereka menjadi ulama-ulama besar yang hasil penelitiannya menguatkan keyakinan umat Islam.

            Dalam merespon berita-ceritera-kisah tentang Uighur, Xinjiang, Cina, dunia terbagi dua kubu, yaitu kubu yang percaya saat ini ada kamp konsentrasi penyiksaan dan ada yang tidak percaya, bahkan di Xinjiang diyakini bahwa semua etnis bahagia. Mereka yang percaya ada pembantaian paling tidak, ada 22 negara. Mereka yang tidak percaya, ada 37 negara lebih. Bagi yang tidak pernah ke Xinjiang menyaksikan langsung, bisa terombang-ambing isu-isu yang beredar. Akan tetapi, mereka yang percaya pada negaranya, cukup mengambil sikap percaya pada negaranya. Hasilnya, tetap, dunia terbagi dua kubu, yaitu mereka yang percaya dan tidak.

            Sungguh, di dunia ini banyak pembohong dan pendusta.  Bagi mereka yang menginginkan kebenaran dengan disertai bukti kuat, sebaiknya mengambil sikap skeptis. Ragukan saja kedua kubu di dunia itu. Ambil sikap tidak percaya saja keduanya. Tidak apa-apa. Itu bagus. Kemudian, teliti sendiri, cari bukti sendiri, bisa sendirian, bisa berkelompok. Bebaskan diri dari segala keberpihakan. Peneliti harus netral, tidak pro ke salah satu kubu. Dia harus berada di tengah. Caranya, bisa mempelajari banyak buku tentang Cina, Uighur, Turki, Perang Dunia, Perang Dingin, dan peristiwa lain yang terhubung. Bisa pula dengan datang langsung ke Xinjiang, Cina, lalu melakukan observasi, pengamatan, wawancara, dokumentasi. Bisa juga melalui teman atau kenalan yang sedang berada di Cina sebagai turis, mahasiswa, atau pekerja. Syaratnya, mereka harus orang-orang yang jujur dan cerdas.

            Hasilnya, dari penelusuran kita, akan didapat data atau informasi yang lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika jujur, kita akan mengemukakan semua bukti yang didapatkan untuk menguatkan keyakinan kita dan keyakinan orang banyak. Kita akan memberikan pencerahan dan manfaat bagi orang lain. Pahalanya besar sekali dari Allah swt.

            Jika kita berbohong atau ikut menyebarkan kebohongan, dosanya luar biasa dan harus ditanggung dengan penderitaan yang sangat mengerikan. Berbohong ke tukang warung beda dosanya dengan berbohong ke seluruh dunia karena kerusakan yang ditimbulkannya juga berbeda. Jangan berbohong.

            Ambil sikap skeptis, lalu lakukan penelitian sendiri, jujurlah dengan hasilnya. Jika niat kita baik, Allah swt bersama kita. Jika niat kalian buruk, syetan  bersama kalian.

            Sampurasun

Friday, 20 December 2019

Buka Dikit, … Bray


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Biasanya, kalau mendapatkan informasi, berita, ataupun kisah, sikap kita biasa-biasa saja jika informasi itu tidak bermasalah. Kita hanya menyimak dan mendapatkan informasi baru yang tersimpan dalam memori di otak kita. Lain halnya jika informasi yang kita dapatkan itu sensitif, lalu bermasalah. Misalnya, soal para nabi, para pemimpin, atau peristiwa yang menguras emosi banyak orang. Banyak timbul pertanyaan terkait kebenaran informasi yang beredar.

            Wah, masa iya? Betulkah itu? Mengapa terjadi seperti itu? Kata siapa? Masa sih?

            Orang yang kritis pasti memiliki banyak pertanyaan. Berbeda dengan orang yang iya-iya saja, biasanya langsung percaya dan mengamini. Setiap orang berbeda-beda. Itu kenyataannya.

            Terkait isu etnis Uighur, Xinjiang, Cina, jelas banyak pertanyaan. Saya sendiri bertanya, sumber berita itu dari siapa. Ternyata, berita yang beredar, baik di media-media nasional maupun internasional, termasuk di media sosial, seluruhnya berawal dari media “Wall Street Journal” (WSJ).

            Jika kita potret rekam jejak dari WSJ, memang banyak mempengaruhi opini dunia dan mengarahkan pada perubahan politik suatu negara atau beberapa negara. Misalnya, dulu WSJ getol sekali memberitakan bahwa Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husein memiliki, bahkan memproduksi senjata pemusnah massal, senjata biologi, kimia. Akibatnya, opini dunia tergiring yang membuat negara-negara Barat menyerang Irak. Jatuhlah Sadam Husein, Irak pun hancur. Hingga kini Irak masih sangat babak belur dan termasuk negara yang tidak aman untuk ditinggali. Padahal, sampai sekarang, tidak ditemukan bukti bahwa Irak memiliki senjata biologi, kimia yang bisa memusnahkan manusia itu. Isu yang digoreng WSJ tidak ada buktinya, tetapi Irak sudah hancur.

            Demikian pula di Afghanistan, WSJ pun ikut banyak memberitakan tentang ketimpangan-ketimpangan dan konflik-konflik antarkelompok perlawanan dengan isu-isu muslim serta krisis kemanusiaan. Hingga saat ini Afghanistan dalam keadaan tertinggal, miskin, bodoh, dan tidak aman.

            Di Suriah pun WSJ berperan dalam memanas-manasi situasi dengan memberitakan kekejaman pemerintah Bashar al Assad, gerakan politik Isis, serta timbulnya kelompok-kelompok pemberontak dengan segala gerakannya. Akibatnya, Suriah hancur. Allepo yang dulunya seperti Jakarta, berantakan, tidak jelas bentuknya.

            Buka dikit saja rekam jejak sumber berita itu, lalu … bray …, kita dapat menemukan pertimbangan lain terhadap mereka.

            Saya tidak mengatakan bahwa berita dari WSJ selalu bohong, ada informasi bermanfaat dari mereka. Meskipun demikan, kebohongan yang dibuat WSJ banyak merusakkan negara lain dengan sangat hebat.

            Sekarang WSJ “berkisah” soal Uighur dengan menyeret-nyeret NU, Muhammadiyah, dan MUI. Pengaruhnya di dalam negeri digoreng hingga mendiskreditkan Jokowi. Mungkin harapannya Negara Indonesia menjadi goncang.

            Maukah kita menjadi seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah?

            Sebagian besar masyakarat Indonesia tidak menginginkannya. Hanya sebagian kecil, keciiil pisan, yang mungkin berharap Indonesia babak belur. Bagi yang sangat ingin seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah, bahkan tidak bisa tidur karena ingin seperti itu, ganti kewarnanegaraan saja, kemudian nikmatilah, hidup bahagia di sana.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Friday, 13 December 2019

Habib Luthfi Tokoh Penyeimbang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Nama Habib Luthfi bin Yahya mulai lebih dikenal luas seiring dengan dinamika politik di Indonesia, terutama sepanjang kampanye Pemilihan Presiden Indonesia April 2019. Sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Akan tetapi, namanya terus dikenal lebih luas hingga hari ini.

            Jasanya dalam dinamika politik Indonesia akhir-akhir ini adalah menyeimbangkan kesadaran politik masyarakat ke rel yang sebenarnya. Ketika banyak orang yang diakui atau mengakui dirinya sebagai “habib” dalam pengertian “keturunan Nabi Muhammad saw” dengan lantang menegaskan adalah pendukung pasangan Prabowo-Sandi (02), Habib Luthfi tampil dengan ketenangannya.

            Dalam berbagai pernyataannya Habib Luthfi lebih banyak menyuarakan nasihat-nasihatnya dan ketegasannya tentang perlunya menjaga kerukunan, ketertiban, dan kedamaian di Indonesia. Bahkan, dia sempat meminta aparat keamanan untuk tegas terhadap orang-orang yang melakukan huru-hara di Indonesia.

            Pada akhir menjelang hari-H pemilihan presiden, Habib Luthfi hadir pada beberapa stasiun televisi bersama dengan Jokowi. Keakraban Habib Luthfi dengan Jokowi tentu saja ditafsirkan langsung oleh masyarakat bahwa Habib Luthfi bin Yahya adalah pendukung pasangan Jokowi-Maruf Amin (01). Hal itu pun membuat masyarakat pendukung Jokowi-Maruf Amin lebih tenang untuk memastikan pilihannya kepada pasangan 01. Mereka tidak merasa kebingungan lagi karena sempat beberapa hari, bahkan beberapa minggu seolah-olah seluruh habib adalah pendukung 02. Karena orang yang bergelar habib banyak dihormati masyarakat, kemungkinan masyarakat berpikir untuk memilih 02 lebih besar. Tampilnya Habib Luthfi bin Yahya bersama Jokowi, menguatkan kesadaran masyarakat bahwa “tidak seluruh habib” memilih Prabowo-Sandi (02). Para habib pun ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dan keinginan yang berbeda.

            Fenomena tersebut menyeimbangkan kesadaran masyarakat bahwa memilih pemimpin atau presiden tetaplah berdasarkan latar belakang, pengalaman, daya tarik personal, program kerja, visi-misi, dan lain sebagainya. Masyarakat semakin sadar bahwa memilih presiden itu bukan atas dasar dukungan orang-orang yang mengaku atau diakui sebagai habib. Buktinya, para habib pun berbeda pilihan. Artinya, masyarakat pun boleh berbeda pilihan sebagaimana para habib yang juga ternyata boleh berbeda pilihan.

            Sebetulnya, banyak habib lain yang juga satu sikap dengan Habib Luthfi bin Yahya, tetapi saya melihatnya Habib Luthfi lebih banyak tampil pada berbagai media, terutama di media sosial. Hal itu tak lepas dari kerja-kerja para pendukungnya yang kerap memposting Habib Luthfi di akun-akun Medsos mereka.

            Sekarang Habib Luthfi bin Yahya menjadi anggota Wantimpres. Artinya, Habib Luthfi memiliki alat yang lebih kuat untuk memberikan banyak masukan, kritikan, sekaligus nasihat kepada Presiden Jokowi. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikannya sendiri secara langsung, bisa pula bareng-bareng anggota Wantimpres lainnya. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikan kapan saja, baik diminta atau tidak diminta oleh Presiden. Nasihat-nasihatnya, insyaallah berharga. Meskipun demikian, nasihat itu ya nasihat, bukan perintah untuk Presiden. Artinya, Presiden bisa menggunakan nasihat-nasihat dari Wantimpres ataupun tidak menggunakannya karena Presiden pun memiliki pertimbangan sendiri. Akan tetapi, bagaimana pun Habib Luthfi bin Yahya adalah salah seorang terbaik di Indonesia bersama dengan delapan orang lainnya yang dipercaya untuk memberikan nasihat kepada Presiden Jokowi secara resmi.

            Sampurasun.

Thursday, 12 December 2019

Tiga Paham Khilafah dan Satu Monas


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masalah khilafah ini tidak pernah berhenti sejak keruntuhannya dulu di Turki dan masih ada orang yang berharap untuk ada lagi meskipun banyak juga yang menganggapnya hanya sebagai masa lalu. Kita tidak bisa melarang orang untuk berharap sekaligus tidak bisa memaksa orang yang sama sekali tidak merasa tertarik. Yang berharap, tetapi tidak kesampaian, paling-paling patah hati. Yang tidak tertarik, bisa tiba-tiba jatuh cinta. Semua kemungkinan itu selalu ada.

            Lumayan menarik “talk show” yang pernah digelar oleh “Kompas TV”. Ternyata, ada dua pemahaman berbeda tentang khilafah, dari NU dan FPI. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Indonesia dalam bingkai NKRI ini sudah merupakan kekhalifahan, khalifahnya adalah presiden. Selesai. Sangat sederhana.

            Berbeda dengan Front Pembela Islam (FPI) yang dengan tegas menyatakan, “Kita berbeda dengan HTI!”

            Dalam pemahaman FPI, khilafah yang didorong FPI ini melingkupi negara-negara Islam di seluruh dunia untuk bersatu menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat. Misalnya, mendorong Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersama-sama membentuk kerja sama yang lebih rinci menyelesaikan masalah umat Islam di seluruh dunia. Di samping itu, FPI tetap setia pada Pancasila dan NKRI meskipun menggunakan embel-embel syariah.

            Persoalan FPI kan hanya pada sangat diperlukannya tercantum kata Pancasila di dalam AD/ART-nya. Kalau itu tercantum, permasalahan bisa lebih mudah diatasi.

            Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang tidak diajak dalam bincang-bincang tersebut, padahal getol menyuarakan khilafah. Oleh sebab itu, kita sulit memahami khilafah yang dimaksud oleh HTI.

             Apakah khilafah periode Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, atau Utsmaniyah?

            Apakah konsep khilafah hasil pemikiran HTI sendiri?

            HTI memang tidak jelas mengusung konsep yang mana dan bagaimana.

            Jika mengikuti pendapat NU dan FPI, bedanya tinggal sedikit lagi. Kalau perbedaannya diselesaikan, selesai sudah. Semua bisa sama-sama bergandeng tangan untuk menghindari fitnah, provokasi, dan membangun umat ke arah yang lebih positif. Biarkan saja terjadi diskursus dan gesekan-gesekan, itu biasa, kalem aja. Meski panas, hasilnya, insyaallah positif.

            Kita mesti bangga dan bersyukur karena memiliki Monumen Nasional (Monas). Monas itu berbentuk alu dan lumpang. Orang Sunda bilang halu dan jubleg untuk melembutkan/menghaluskan beras menjadi tepung. Halu itu berupa tiang yang menjulang tinggi yang di atasnya ada emas 18 karat. Adapun jubleg itu bagian bawahnya yang lebar. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno cerdas membuat Monas. Monumen itu melambangkan bahwa halu itu adalah pemerintah yang harus membina masyarakat agar menjadi lembut, halus, dan sepaham. Pembinaannya harus teratur, kapan tenang dan kapan keras sesuai dengan kondisi masyarakat. Beras yang tidak bisa diatur biasanya terlempar ke luar jubleg dan menjadi sampah karena sudah kotor. Adapun beras yang masih mau berada dalam jubleg dan ditumbuk, ditutu, ‘dibina” oleh pemerintah, lambat laun akan menjadi halus, sepaham, dan lebih bermanfaat untuk melangkah ke fungsi selanjutnya. Sepintas beras menjadi halus adalah disebabkan oleh terus-menerusnya ditumbuk, itu benar, tetapi sebenarnya kehalusan itu sebagian besar diakibatkan oleh gesekan yang terjadi di antara beras itu sendiri.

            Artinya, gesekan yang sekarang terjadi di masyarakat pada dasarnya positif jika memiliki cita-cita yang positif minimal untuk bangsa dan negara, maksimalnya untuk kehidupan manusia di seluruh dunia. Jika tidak memiliki cita-cita yang positif, gesekan itu tidak bermanfaat sama sekali, bahkan akan terlempar keluar dari jubleg dan berakhir menjadi sampah.

            So, jangan khawatir dengan gesekan di masyarakat. Sepanjang positif dan saling berkorban untuk kebaikan bersama, hasilnya akan positif. Insyaallah.

            Sampurasun.

Wednesday, 11 December 2019

Kesalahan Rocky Gerung Soal Pancasila

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini Rocky Gerung membuat pernyataan yang salah mengenai Pancasila dalam acara ILC di tvOne. Kesalahan pertama, ia mengatakan bahwa sila pertama dengan sila kedua adalah bertentangan dalam arti “Ketuhanan Yang Maha Esa” bertentangan dengan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.  Menurutnya, sila ketuhanan itu mendorong manusia berbuat untuk Tuhan, sebaliknya sila kemanusiaan mendorong manusia berbuat untuk kebaikan manusia. Sebagai muslim, saya langsung ketawa mendengarnya.

            Untuk menganalisa pernyataan Rocky Gerung, mudah saja. Saya menduga keras bahwa ia berpendapat seperti itu atas dasar pengetahuannya terhadap pengalaman dan pemahaman tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang berkembang di Eropa-Barat-Kapitalis, terutama pada masa lalu. Saat itu memang di Barat-Kapitalis kekuasaan gereja sangat mendominasi kehidupan manusia. Saking kuatnya kekuasaan gereja, sampai mengganggu jalannya pemerintahan, negara, termasuk kebebasan hidup masyarakat. Dalam perjalanannya, kekuasaan gereja tersingkir oleh negara, mulailah era sekularisme, pemisahan urusan agama dengan urusan negara. Gereja tidak boleh lagi ikut campur dalam pemerintahan. Demikian pula di tengah masyarakat yang tertekan oleh pihak gereja melakukan “pemberontakan” bahwa manusia itu harus berbuat untuk kebaikan manusia yang disebut kemanusiaan, tidak mau lagi ditekan gereja atas nama Tuhan. Bahkan, komunis pun menyatakan bahwa “Tuhan tidak ada” disebabkan gereja tidak memberikan pertolongan pada kaum buruh karena telah disuap oleh para pengusaha kapitalis. Buku-buku tentang ini sudah sangat banyak bertebaran di seluruh dunia dengan beragam bahasa. Kalau ingin tahu lebih jauh, baca saja sendiri.

            Intinya, Rocky Gerung menyatakan sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan saling bertentangan disebabkan pengalaman dan pemahaman yang berkembang di Barat-Kapitalis. Itu jelas salah. Kesalahannya adalah Pancasila yang digali dari Bumi Pertiwi dan nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama dianalisa dengan menggunakan pengalaman dan pemahaman hidup di Barat-Kapitalis.

            Sesungguhnya, ketuhanan dan kemanusiaan dalam keyakinan orang Indonesia, apa pun agamanya, apa pun keyakinannya, tidaklah bertentangan. Seluruh pemuka agama, apa pun agamanya, di Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu berasal dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kita melakukan kebaikan pada manusia disebabkan memang Tuhan memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap manusia dan alam semesta. Jadi, berbuat baik kepada manusia adalah perwujudan dari pengabdian manusia kepada Tuhan-nya. Sila pertama dan sila kedua dari Pancasila sama sekali tidak bertentangan.

            Kesalahan kedua Rocky Gerung adalah mengatakan bahwa “Jokowi tidak mengerti Pancasila”. Boleh dia mengatakan seperti itu jika Jokowi pernah memberikan kuliah atau pidato tentang pemahaman atau penafsiran Pancasila. Kemudian, pemahaman Pancasila Jokowi ternyata salah.

            Kalau Jokowi tidak pernah menafsirkan Pancasila dan atau Rocky Gerung tidak pernah mendengarnya, dari mana Rocky bisa menilai bahwa Jokowi tidak mengerti Pancasila?

            Rocky salah.

            Benar memang Pancasila belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, itu kan tanggung jawab semua, pemerintah bersama masyarakat. Oleh sebab itu, Pancasila disebut dasar negara sekaligus tujuan negara.

            Begitulah kesalahan Rocky Gerung atas pernyataannya tentang Pancasila.

            Sampurasun.

Monday, 9 December 2019

Pertanyaan Milenial, Pertanyaan Kritis


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jika memperhatikan penjelasan Gus Muwafiq mengenai sebagian kecil isi ceramahnya yang dipermasalahkan, berawal dari pertanyaan kaum milenial yang pada masa lalu tidak ada. Menurut pengakuannya, dia mendapat pertanyaan tentang kelahiran Nabi saw yang diiringi sinar.

            “Apakah sinarnya seperti sinar lampu?” begitu kira-kira pertanyaan dari kaum milenial.

            Gus Muwafiq menjelaskan bahwa kalau dijawab, pertanyaan akan terus terjadi. Jawabannya akan tidak jelas juntrungannya. Oleh sebab itu, dia mengatakan bahwa ada orang yang berlebihan menerangkan tentang Nabi Muhammad saw dan dalam pandangannya, kelahiran Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya agar lebih jelas mudah dipahami.

            Kalau diteruskan, memang bakal jadi banyak pertanyaan tambahan, misalnya, “Sampai berapa lama sinar itu menyala? Kok bisa padam? Kenapa?”

            Makin dijawab, makin pusing. Hal itu disebabkan memang ada yang berlebihan menerangkannya. Hal ini pun pernah dikritik Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno bahwa banyak orang yang berlebihan berceritera, misalnya, Perang Badar mengakibatkan lautan darah setinggi lutut. Soekarno pun mengkritik bahwa banyak orang yang senang menggaib-gaibkan sesuatu, padahal dapat dijelaskan oleh akal dengan lebih mudah. Dia mencontohkan dengan peristiwa Isra Miraj yang sebetulnya bisa dijelaskan oleh akal. Itu ditulisnya di dalam buku Dibawah Bendera Revolusi.

            Saya pun sering mendapatkan pertanyaan serupa itu, padahal saya berbicara tidak seperti Gus Muwafiq yang punya jutaan pendengar. Saya itu hanya berkeliling dan didengar dari kelas ke kelas, dari diskusi ke diskusi. Bagi saya, pertanyaan serupa yang disampaikan ke Gus Muwafiq itu biasa saja. Hal itu disebabkan sering sekali mendengarnya.

            Sebetulnya, pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya datang dari kalangan milenial, melainkan pula dari kalangan kritis yang selalu ingin tahu lebih jauh. Usianya bisa dari kalangan anak kecil, milenial, dewasa, tua, bahkan lanjut.

            Berikut contoh pertanyaan-pertanyaan kritis yang bisa memusingkan orang itu.

            “Kang, apakah sama surga Nabi Adam as dengan surga yang akan kita tempati nanti? Kalau iya, kenapa di surga iblis dan syetan masih bisa masuk menggoda Adam dan Hawa?”

            Pertanyaan seperti itu ada.

            “Kalau surga yang dulu berbeda dengan surga yang nanti, di mana surga yang dulu itu? Hancur?”

            Itu kan pertanyaan yang baru saya dengar.

            “Kang, Nabi Adam as itu orang mana? Menggunakan bahasa apa? Apakah benar Nabi Adam as itu manusia pertama?”

            Makin melesak pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

            “Kalau Adam manusia pertama dan berbahasa Arab, kenapa kita menggunakan bahasa Indonesia? Kita kan jadi susah lagi harus belajar bahasa Arab. Sejak kapan kita meninggalkan bahasa Arab yang dari Nabi Adam itu?”

            Banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

            “Pak, katanya jembatan shiratal mustaqim itu bagaikan rambut dibelah tujuh. Rambut saja sudah tipis. Kalau dibelah tujuh makin tipis. Bagaimana cara kita melihatnya? Apakah ketika kita melewati jembatan shiratal mustaqim itu seperti tukang sirkus yang berjalan di tali?”

            Pertanyaan itu mungkin terdorong dari adanya komik yang menceriterakan manusia meniti shiratal mustaqim menuju surga seperti berjalan di atas tali. Jika tidak berhasil, dia akan jatuh ke neraka.

             “Saya pernah dengar, Pak, selama bulan Ramadhan neraka akan berhenti menyiksa orang-orang berdosa. Memang siapa yang sudah berada di neraka sekarang? Kan kiamatnya belum, dihisab juga belum, diadili belum, tapi sudah ada yang dihukum di neraka?”

            Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu cukup menguras energi untuk menjawabnya. Bagi orang lain yang sangat pintar, mungkin mudah. Akan tetapi, begitulah pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul di masyarakat. Sangat banyak sebetulnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kalau saya tulis semua, bisa sampai sore membacanya.

            Kita tidak bisa dan tidak boleh balik memaki atau memarahi mereka yang bertanya. Kita tidak perlu mencela mereka yang bertanya sebagai pertanyaan tidak berguna, tidak bermanfaat, pertanyaan Yahudi, pertanyaan komunis, atau pertanyaan dari syetan. Kalaupun memang syetan yang bertanya dan berada di hadapan kita, jawab saja.

            Umat butuh jawaban, bukan makian. Kalau belum bisa menjawab, jujur saja katakan bahwa kita belum memahaminya dan perlu belajar lagi. Beri saran untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu dibandingkan kita.    

            Pertanyaan-pertanyaan serupa itu sudah seharusnya mendorong para guru, dosen, ustadz, mubaligh, dai, dan ulama untuk terus belajar hingga akhir hayat. Ilmu itu sangat luas. Jika kayu-kayu di hutan menjadi pena dan air laut menjadi tinta, sungguh tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah swt.

            Orang semakin kritis, para pengajar harus siap dengan perkembangan zaman. Kalau tidak siap, orang-orang akan meninggalkannya.

            Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno pernah berkata, “Jangan salahkan anak muda jika mereka tidak ingin datang ke masjid. Hal itu bisa terjadi karena mungkin ada masalah dalam diri para orang tua.”

            Sampurasun.

Friday, 6 December 2019

Fokus pada Masa Kecil Nabi Muhammad saw


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini masih terkait Gus Muwafiq. Jadi makin aneh dan makin lucu soal ini. Beberapa bagian isi ceramah Gus Muwafiq tentang masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap menghina, tetapi mereka tidak bisa memberikan kisah tandingan yang dianggap paling benar tentang masa kecil Nabi Muhammad saw.

            Karena tidak punya data untuk membantah hal yang disampaikan Gus Muwafiq, mereka membantah dengan data-data yang tidak nyambung. Misalnya, Nabi Muhammad saw itu rapi, bersih, badannya kuat, selalu sehat, tampan, bicaranya jelas, dan tubuhnya selalu wangi. Itu benar, tetapi itu bukan masa kecil Muhammad saw. Kisah itu adalah masa Nabi Muhammad saw sudah dewasa. Kisah masa kecil dibantah dengan kisah masa dewasa, kan tidak nyambung jadinya.

            Sebaiknya, tanyakan, diskusikan, atau perdebatkan langsung bahwa informasi yang kita miliki tentang masa kecil Nabi saw berbeda dengan yang dimiliki Gus Muwafiq. Sampaikan pula sumber kisah-kisah yang kita miliki itu. Kalau tidak bisa langsung ketemu, tulis saja di internet tentang perbedaan-perbedaan kisah itu dalam sebuah artikel, feature, atau yang lainnya. Jangan lupa tulis sumber kisahnya. Biarkan terjadi diskursus, polemik. Itu sehat, baik, dan mencerdaskan dibandingkan lapor polisi yang bisa bikin ribut.

            Sudah ribut kan?

            Kalau perbedaan itu diwacanakan, nanti akan saling teliti tentang sumber kisah itu.

            Siapa penulisnya? Bagaimana orangnya? Kapan menulisnya? Dari mana dia tahu tentang masa kecil Nabi saw? Apa medianya? Kertas, daun lontar, kulit kayu, tulang sapi, unta, atau kambing?

             Hal-hal itu akan ditanyakan untuk mendapatkan kebenaran. Kalau isinya tidak jelas, penulis atau penyampai kisahnya tidak bisa dipercaya, prosesnya pun tidak jelas, bahkan bertentangan dengan Al Quran. Terimalah itu sebagai kesalahan dan koreksilah kisah itu. Itu konsekwensinya.

            Kita itu punya jarak waktu dua puluh generasi dengan Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kebenaran tentang Nabi saw menjadi tantangan tersendiri. Hitung saja generasi kita hingga ke Nabi Muhammad saw, ada dua puluh generasi. Kita ke ayah-ibu, kakek-nenek, buyut, terusin hingga ke generasi Nabi saw. Seandainya ada dua puluh generasi yang menyampaikan berita yang sama tentang Nabi saw tanpa perbedaan sama sekali, itu shahih karena kita mendapatkan informasi dari generasi Nabi saw yang melihat, mendengar, dan terlibat langsung dengan Nabi Muhammad saw. Itulah yang diupayakan oleh Imam Bukhari, mendapatkan sumber informasi yang sah dari orang yang tepat tentang Nabi Muhammad saw.

            Fokus pada masa kecil Nabi Muhammad saw, bukan masa dewasa, dan jangan ke mana-mana hingga mendapatkan kebenaran. Kalau niatnya lurus, insyaallah Allah swt membukakan pengetahuan yang lurus tentang Kekasih-Nya, Muhammad saw.

            Perlu diketahui pula bahwa yang menulis biografi Muhammad saw itu sangat banyak di dunia ini dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim, nonmuslim, para pecinta dan pengagum, bahkan para pembenci. Bukan cuma kalangan ulama yang menulisnya, para peneliti pun menulisnya. Saya sendiri punya kisah Nabi saw ketika masih bayi yang saya dapatkan dari sebuah prosiding, tidak akan saya ceriterakan dulu, entar kaget.

            Prosiding ini berisi banyak makalah dalam berbagai bahasa, seperti, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman. Beberapa makalah memaparkan kedekatan antara Sunda dan Arab melalui jalur perdagangan sejak sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ada sekelumit kisah hubungan orang Sunda dengan keluarga Nabi Muhammad saw ketika Sang Nabi masih bayi. Nama prosidingnya “Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi” yang disusun oleh V. Sukanda Tessier dan Hassan Muarif Ambary yang diterbitkan pada 1987 oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

            Penelitian berkembang terus karena para ilmuwan selalu penasaran ingin tahu. Hal itu membuat pengetahuan berkembang terus. Bisa jadi hal yang dulu kita anggap benar, ternyata salah. Sebaliknya, hal yang dulu kita anggap salah, ternyata benar. Itulah hasil penelitian.

            Fokus bicara dan menulis masa kecil Nabi Muhammad saw, jangan ke mana-mana supaya mendapatkan kebenaran. Itu juga kalau masih mau mempermasalahkan sebagian ceramah Gus Muwafiq.

            Sampurasun.

Tuesday, 3 December 2019

Masalah Ilmu Jangan Jadi Kasus Hukum


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Adalah berbahaya sekali jika masalah ilmu dibawa-bawa menjadi kasus hukum. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Kalau masalah perbedaan pengetahuan, ilmu, atau perbedaan pemahaman, diselesaikannya harus dengan penelitian atau perdebatan dan diskusi. Jika masalah ilmu pengetahuan dibawa menjadi kasus hukum, bahayanya adalah ilmu pengetahuan menjadi mandek atau mati tidak berkembang dan akan terjadi pemaksaan pemahaman keyakinan oleh satu kelompok sementara yang lain dianggap salah sebelum adanya penelitian atau diskursus (saling tukar pengetahuan).

            Kasus yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah soal isi ceramah Gus Muwafiq yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw karena mengisahkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir biasa-biasa saja seperti anak lainnya, diurus oleh kakeknya, dan sempat “rembes” atau “umbelan” (ingusan). Potongan isi ceramahnya ini dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai penghinaan. Padahal, pendukungnya dari kalangan NU menyatakan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dasarnya, memiliki sumbernya, dan ada bukunya. Sementara itu, mereka yang melaporkannya sebagai penghinaan mengakui bahwa tidak menemukan sumber yang menjadi dasar isi ceramah Gus Muwafiq, sebagaimana yang disampaikan perwakilan FPI dalam acara talk show di tvOne. Bahkan, mereka yang tidak menyukai Gus Muwafiq memiliki sumber kisah kelahiran Nabi Muhammad yang penuh sinar yang cahayanya sampai ke kekuasaan Romawi di Syam. Jadi, masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap tidak mungkin seperti yang diceramahkan Gus Muwafiq. Oleh sebab itu, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.

            Jika diperhatikan, masalahnya kan hanya ada di perbedaan informasi atau pengetahuan tentang kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Gus Muwafiq kelahiran dan masa kecil Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya berdasarkan sumber yang dimilikinya. Sementara itu, pihak lain tidak memiliki sumber itu atau memiliki sumber kisah lain yang penuh keajaiban. Penyelesaian masalah seperti itu kan tidak pas jika dibawa ke pengadilan sebagai kasus penistaan agama. Penyelesaiannya harus dibuktikan dengan matan, sanad, perawi, tarikh, dan atau Al Quran tentang kebenaran peristiwa tersebut.

            Kalau ada perbedaan yang bertolak belakang, adu saja, uji saja kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sejarah yang ada secara ilmiah. Cari sumber sekunder hingga sumber primernya.

            Sumber mana yang paling benar?

            Mana yang benar-benar nyata sejarah dan  mana yang hanya dongeng akan lebih jelas setelah ada penelitian.

            Berani?

            Harus berani atuh demi ilmu pengetahuan. Demi kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.

            Kalaupun dipaksakan untuk masuk ke pengadilan, bisa dipastikan bahwa Gus Muwafiq dan pendukungnya akan membawa sumber-sumber bacaan kisah tersebut. Demikian pula pihak penggugat akan diminta alasan dan atau sumber bacaan lain yang menjadi dasar bahwa Gus Muwafiq telah melakukan penghinaan dalam arti masa kecil Nabi saw tidak seperti yang dikisahkan Gus Muwafiq. Tetap saja ilmu pengetahuan yang diperdebatkan nantinya. Sayangnya, hakim yang memutuskannya, bukan ahli agama.

            Akan menjadi sesuatu yang aneh jika permasalahan perbedaan pengetahuan diserahkan keputusannya kepada majelis hakim yang sama sekali bukan dikategorikan sebagai ahli agama. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq bersalah, isi ceramah dan sumber-sumber bacaannya pun secara tidak langsung dianggap salah. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq tidak bersalah, pihak penggugat beserta sumber ilmu pengetahuannya salah dan harus mengakui kebenaran Gus Muwafiq.

            Mau seperti itu?

            Berbeda jika benar dan salah itu melalui proses penelitian dan pengkajian ilmiah yang dipandu oleh para ahli ilmu. Benar dan salah pun berdasarkan ilmu terkait agama, bukan berdasarkan ilmu hukum positif. Hasilnya lebih bisa dipahami secara keilmuan bukan berdasarkan hukum.

            Sampurasun.