Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Friday, 13 December 2019

Habib Luthfi Tokoh Penyeimbang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Nama Habib Luthfi bin Yahya mulai lebih dikenal luas seiring dengan dinamika politik di Indonesia, terutama sepanjang kampanye Pemilihan Presiden Indonesia April 2019. Sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Akan tetapi, namanya terus dikenal lebih luas hingga hari ini.

            Jasanya dalam dinamika politik Indonesia akhir-akhir ini adalah menyeimbangkan kesadaran politik masyarakat ke rel yang sebenarnya. Ketika banyak orang yang diakui atau mengakui dirinya sebagai “habib” dalam pengertian “keturunan Nabi Muhammad saw” dengan lantang menegaskan adalah pendukung pasangan Prabowo-Sandi (02), Habib Luthfi tampil dengan ketenangannya.

            Dalam berbagai pernyataannya Habib Luthfi lebih banyak menyuarakan nasihat-nasihatnya dan ketegasannya tentang perlunya menjaga kerukunan, ketertiban, dan kedamaian di Indonesia. Bahkan, dia sempat meminta aparat keamanan untuk tegas terhadap orang-orang yang melakukan huru-hara di Indonesia.

            Pada akhir menjelang hari-H pemilihan presiden, Habib Luthfi hadir pada beberapa stasiun televisi bersama dengan Jokowi. Keakraban Habib Luthfi dengan Jokowi tentu saja ditafsirkan langsung oleh masyarakat bahwa Habib Luthfi bin Yahya adalah pendukung pasangan Jokowi-Maruf Amin (01). Hal itu pun membuat masyarakat pendukung Jokowi-Maruf Amin lebih tenang untuk memastikan pilihannya kepada pasangan 01. Mereka tidak merasa kebingungan lagi karena sempat beberapa hari, bahkan beberapa minggu seolah-olah seluruh habib adalah pendukung 02. Karena orang yang bergelar habib banyak dihormati masyarakat, kemungkinan masyarakat berpikir untuk memilih 02 lebih besar. Tampilnya Habib Luthfi bin Yahya bersama Jokowi, menguatkan kesadaran masyarakat bahwa “tidak seluruh habib” memilih Prabowo-Sandi (02). Para habib pun ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dan keinginan yang berbeda.

            Fenomena tersebut menyeimbangkan kesadaran masyarakat bahwa memilih pemimpin atau presiden tetaplah berdasarkan latar belakang, pengalaman, daya tarik personal, program kerja, visi-misi, dan lain sebagainya. Masyarakat semakin sadar bahwa memilih presiden itu bukan atas dasar dukungan orang-orang yang mengaku atau diakui sebagai habib. Buktinya, para habib pun berbeda pilihan. Artinya, masyarakat pun boleh berbeda pilihan sebagaimana para habib yang juga ternyata boleh berbeda pilihan.

            Sebetulnya, banyak habib lain yang juga satu sikap dengan Habib Luthfi bin Yahya, tetapi saya melihatnya Habib Luthfi lebih banyak tampil pada berbagai media, terutama di media sosial. Hal itu tak lepas dari kerja-kerja para pendukungnya yang kerap memposting Habib Luthfi di akun-akun Medsos mereka.

            Sekarang Habib Luthfi bin Yahya menjadi anggota Wantimpres. Artinya, Habib Luthfi memiliki alat yang lebih kuat untuk memberikan banyak masukan, kritikan, sekaligus nasihat kepada Presiden Jokowi. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikannya sendiri secara langsung, bisa pula bareng-bareng anggota Wantimpres lainnya. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikan kapan saja, baik diminta atau tidak diminta oleh Presiden. Nasihat-nasihatnya, insyaallah berharga. Meskipun demikian, nasihat itu ya nasihat, bukan perintah untuk Presiden. Artinya, Presiden bisa menggunakan nasihat-nasihat dari Wantimpres ataupun tidak menggunakannya karena Presiden pun memiliki pertimbangan sendiri. Akan tetapi, bagaimana pun Habib Luthfi bin Yahya adalah salah seorang terbaik di Indonesia bersama dengan delapan orang lainnya yang dipercaya untuk memberikan nasihat kepada Presiden Jokowi secara resmi.

            Sampurasun.

Thursday, 12 December 2019

Tiga Paham Khilafah dan Satu Monas


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masalah khilafah ini tidak pernah berhenti sejak keruntuhannya dulu di Turki dan masih ada orang yang berharap untuk ada lagi meskipun banyak juga yang menganggapnya hanya sebagai masa lalu. Kita tidak bisa melarang orang untuk berharap sekaligus tidak bisa memaksa orang yang sama sekali tidak merasa tertarik. Yang berharap, tetapi tidak kesampaian, paling-paling patah hati. Yang tidak tertarik, bisa tiba-tiba jatuh cinta. Semua kemungkinan itu selalu ada.

            Lumayan menarik “talk show” yang pernah digelar oleh “Kompas TV”. Ternyata, ada dua pemahaman berbeda tentang khilafah, dari NU dan FPI. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Indonesia dalam bingkai NKRI ini sudah merupakan kekhalifahan, khalifahnya adalah presiden. Selesai. Sangat sederhana.

            Berbeda dengan Front Pembela Islam (FPI) yang dengan tegas menyatakan, “Kita berbeda dengan HTI!”

            Dalam pemahaman FPI, khilafah yang didorong FPI ini melingkupi negara-negara Islam di seluruh dunia untuk bersatu menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat. Misalnya, mendorong Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersama-sama membentuk kerja sama yang lebih rinci menyelesaikan masalah umat Islam di seluruh dunia. Di samping itu, FPI tetap setia pada Pancasila dan NKRI meskipun menggunakan embel-embel syariah.

            Persoalan FPI kan hanya pada sangat diperlukannya tercantum kata Pancasila di dalam AD/ART-nya. Kalau itu tercantum, permasalahan bisa lebih mudah diatasi.

            Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang tidak diajak dalam bincang-bincang tersebut, padahal getol menyuarakan khilafah. Oleh sebab itu, kita sulit memahami khilafah yang dimaksud oleh HTI.

             Apakah khilafah periode Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, atau Utsmaniyah?

            Apakah konsep khilafah hasil pemikiran HTI sendiri?

            HTI memang tidak jelas mengusung konsep yang mana dan bagaimana.

            Jika mengikuti pendapat NU dan FPI, bedanya tinggal sedikit lagi. Kalau perbedaannya diselesaikan, selesai sudah. Semua bisa sama-sama bergandeng tangan untuk menghindari fitnah, provokasi, dan membangun umat ke arah yang lebih positif. Biarkan saja terjadi diskursus dan gesekan-gesekan, itu biasa, kalem aja. Meski panas, hasilnya, insyaallah positif.

            Kita mesti bangga dan bersyukur karena memiliki Monumen Nasional (Monas). Monas itu berbentuk alu dan lumpang. Orang Sunda bilang halu dan jubleg untuk melembutkan/menghaluskan beras menjadi tepung. Halu itu berupa tiang yang menjulang tinggi yang di atasnya ada emas 18 karat. Adapun jubleg itu bagian bawahnya yang lebar. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno cerdas membuat Monas. Monumen itu melambangkan bahwa halu itu adalah pemerintah yang harus membina masyarakat agar menjadi lembut, halus, dan sepaham. Pembinaannya harus teratur, kapan tenang dan kapan keras sesuai dengan kondisi masyarakat. Beras yang tidak bisa diatur biasanya terlempar ke luar jubleg dan menjadi sampah karena sudah kotor. Adapun beras yang masih mau berada dalam jubleg dan ditumbuk, ditutu, ‘dibina” oleh pemerintah, lambat laun akan menjadi halus, sepaham, dan lebih bermanfaat untuk melangkah ke fungsi selanjutnya. Sepintas beras menjadi halus adalah disebabkan oleh terus-menerusnya ditumbuk, itu benar, tetapi sebenarnya kehalusan itu sebagian besar diakibatkan oleh gesekan yang terjadi di antara beras itu sendiri.

            Artinya, gesekan yang sekarang terjadi di masyarakat pada dasarnya positif jika memiliki cita-cita yang positif minimal untuk bangsa dan negara, maksimalnya untuk kehidupan manusia di seluruh dunia. Jika tidak memiliki cita-cita yang positif, gesekan itu tidak bermanfaat sama sekali, bahkan akan terlempar keluar dari jubleg dan berakhir menjadi sampah.

            So, jangan khawatir dengan gesekan di masyarakat. Sepanjang positif dan saling berkorban untuk kebaikan bersama, hasilnya akan positif. Insyaallah.

            Sampurasun.

Wednesday, 11 December 2019

Kesalahan Rocky Gerung Soal Pancasila

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Baru-baru ini Rocky Gerung membuat pernyataan yang salah mengenai Pancasila dalam acara ILC di tvOne. Kesalahan pertama, ia mengatakan bahwa sila pertama dengan sila kedua adalah bertentangan dalam arti “Ketuhanan Yang Maha Esa” bertentangan dengan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.  Menurutnya, sila ketuhanan itu mendorong manusia berbuat untuk Tuhan, sebaliknya sila kemanusiaan mendorong manusia berbuat untuk kebaikan manusia. Sebagai muslim, saya langsung ketawa mendengarnya.

            Untuk menganalisa pernyataan Rocky Gerung, mudah saja. Saya menduga keras bahwa ia berpendapat seperti itu atas dasar pengetahuannya terhadap pengalaman dan pemahaman tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang berkembang di Eropa-Barat-Kapitalis, terutama pada masa lalu. Saat itu memang di Barat-Kapitalis kekuasaan gereja sangat mendominasi kehidupan manusia. Saking kuatnya kekuasaan gereja, sampai mengganggu jalannya pemerintahan, negara, termasuk kebebasan hidup masyarakat. Dalam perjalanannya, kekuasaan gereja tersingkir oleh negara, mulailah era sekularisme, pemisahan urusan agama dengan urusan negara. Gereja tidak boleh lagi ikut campur dalam pemerintahan. Demikian pula di tengah masyarakat yang tertekan oleh pihak gereja melakukan “pemberontakan” bahwa manusia itu harus berbuat untuk kebaikan manusia yang disebut kemanusiaan, tidak mau lagi ditekan gereja atas nama Tuhan. Bahkan, komunis pun menyatakan bahwa “Tuhan tidak ada” disebabkan gereja tidak memberikan pertolongan pada kaum buruh karena telah disuap oleh para pengusaha kapitalis. Buku-buku tentang ini sudah sangat banyak bertebaran di seluruh dunia dengan beragam bahasa. Kalau ingin tahu lebih jauh, baca saja sendiri.

            Intinya, Rocky Gerung menyatakan sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan saling bertentangan disebabkan pengalaman dan pemahaman yang berkembang di Barat-Kapitalis. Itu jelas salah. Kesalahannya adalah Pancasila yang digali dari Bumi Pertiwi dan nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama dianalisa dengan menggunakan pengalaman dan pemahaman hidup di Barat-Kapitalis.

            Sesungguhnya, ketuhanan dan kemanusiaan dalam keyakinan orang Indonesia, apa pun agamanya, apa pun keyakinannya, tidaklah bertentangan. Seluruh pemuka agama, apa pun agamanya, di Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu berasal dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kita melakukan kebaikan pada manusia disebabkan memang Tuhan memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap manusia dan alam semesta. Jadi, berbuat baik kepada manusia adalah perwujudan dari pengabdian manusia kepada Tuhan-nya. Sila pertama dan sila kedua dari Pancasila sama sekali tidak bertentangan.

            Kesalahan kedua Rocky Gerung adalah mengatakan bahwa “Jokowi tidak mengerti Pancasila”. Boleh dia mengatakan seperti itu jika Jokowi pernah memberikan kuliah atau pidato tentang pemahaman atau penafsiran Pancasila. Kemudian, pemahaman Pancasila Jokowi ternyata salah.

            Kalau Jokowi tidak pernah menafsirkan Pancasila dan atau Rocky Gerung tidak pernah mendengarnya, dari mana Rocky bisa menilai bahwa Jokowi tidak mengerti Pancasila?

            Rocky salah.

            Benar memang Pancasila belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, itu kan tanggung jawab semua, pemerintah bersama masyarakat. Oleh sebab itu, Pancasila disebut dasar negara sekaligus tujuan negara.

            Begitulah kesalahan Rocky Gerung atas pernyataannya tentang Pancasila.

            Sampurasun.

Monday, 9 December 2019

Pertanyaan Milenial, Pertanyaan Kritis


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jika memperhatikan penjelasan Gus Muwafiq mengenai sebagian kecil isi ceramahnya yang dipermasalahkan, berawal dari pertanyaan kaum milenial yang pada masa lalu tidak ada. Menurut pengakuannya, dia mendapat pertanyaan tentang kelahiran Nabi saw yang diiringi sinar.

            “Apakah sinarnya seperti sinar lampu?” begitu kira-kira pertanyaan dari kaum milenial.

            Gus Muwafiq menjelaskan bahwa kalau dijawab, pertanyaan akan terus terjadi. Jawabannya akan tidak jelas juntrungannya. Oleh sebab itu, dia mengatakan bahwa ada orang yang berlebihan menerangkan tentang Nabi Muhammad saw dan dalam pandangannya, kelahiran Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya agar lebih jelas mudah dipahami.

            Kalau diteruskan, memang bakal jadi banyak pertanyaan tambahan, misalnya, “Sampai berapa lama sinar itu menyala? Kok bisa padam? Kenapa?”

            Makin dijawab, makin pusing. Hal itu disebabkan memang ada yang berlebihan menerangkannya. Hal ini pun pernah dikritik Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno bahwa banyak orang yang berlebihan berceritera, misalnya, Perang Badar mengakibatkan lautan darah setinggi lutut. Soekarno pun mengkritik bahwa banyak orang yang senang menggaib-gaibkan sesuatu, padahal dapat dijelaskan oleh akal dengan lebih mudah. Dia mencontohkan dengan peristiwa Isra Miraj yang sebetulnya bisa dijelaskan oleh akal. Itu ditulisnya di dalam buku Dibawah Bendera Revolusi.

            Saya pun sering mendapatkan pertanyaan serupa itu, padahal saya berbicara tidak seperti Gus Muwafiq yang punya jutaan pendengar. Saya itu hanya berkeliling dan didengar dari kelas ke kelas, dari diskusi ke diskusi. Bagi saya, pertanyaan serupa yang disampaikan ke Gus Muwafiq itu biasa saja. Hal itu disebabkan sering sekali mendengarnya.

            Sebetulnya, pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya datang dari kalangan milenial, melainkan pula dari kalangan kritis yang selalu ingin tahu lebih jauh. Usianya bisa dari kalangan anak kecil, milenial, dewasa, tua, bahkan lanjut.

            Berikut contoh pertanyaan-pertanyaan kritis yang bisa memusingkan orang itu.

            “Kang, apakah sama surga Nabi Adam as dengan surga yang akan kita tempati nanti? Kalau iya, kenapa di surga iblis dan syetan masih bisa masuk menggoda Adam dan Hawa?”

            Pertanyaan seperti itu ada.

            “Kalau surga yang dulu berbeda dengan surga yang nanti, di mana surga yang dulu itu? Hancur?”

            Itu kan pertanyaan yang baru saya dengar.

            “Kang, Nabi Adam as itu orang mana? Menggunakan bahasa apa? Apakah benar Nabi Adam as itu manusia pertama?”

            Makin melesak pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

            “Kalau Adam manusia pertama dan berbahasa Arab, kenapa kita menggunakan bahasa Indonesia? Kita kan jadi susah lagi harus belajar bahasa Arab. Sejak kapan kita meninggalkan bahasa Arab yang dari Nabi Adam itu?”

            Banyak pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

            “Pak, katanya jembatan shiratal mustaqim itu bagaikan rambut dibelah tujuh. Rambut saja sudah tipis. Kalau dibelah tujuh makin tipis. Bagaimana cara kita melihatnya? Apakah ketika kita melewati jembatan shiratal mustaqim itu seperti tukang sirkus yang berjalan di tali?”

            Pertanyaan itu mungkin terdorong dari adanya komik yang menceriterakan manusia meniti shiratal mustaqim menuju surga seperti berjalan di atas tali. Jika tidak berhasil, dia akan jatuh ke neraka.

             “Saya pernah dengar, Pak, selama bulan Ramadhan neraka akan berhenti menyiksa orang-orang berdosa. Memang siapa yang sudah berada di neraka sekarang? Kan kiamatnya belum, dihisab juga belum, diadili belum, tapi sudah ada yang dihukum di neraka?”

            Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu cukup menguras energi untuk menjawabnya. Bagi orang lain yang sangat pintar, mungkin mudah. Akan tetapi, begitulah pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul di masyarakat. Sangat banyak sebetulnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kalau saya tulis semua, bisa sampai sore membacanya.

            Kita tidak bisa dan tidak boleh balik memaki atau memarahi mereka yang bertanya. Kita tidak perlu mencela mereka yang bertanya sebagai pertanyaan tidak berguna, tidak bermanfaat, pertanyaan Yahudi, pertanyaan komunis, atau pertanyaan dari syetan. Kalaupun memang syetan yang bertanya dan berada di hadapan kita, jawab saja.

            Umat butuh jawaban, bukan makian. Kalau belum bisa menjawab, jujur saja katakan bahwa kita belum memahaminya dan perlu belajar lagi. Beri saran untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu dibandingkan kita.    

            Pertanyaan-pertanyaan serupa itu sudah seharusnya mendorong para guru, dosen, ustadz, mubaligh, dai, dan ulama untuk terus belajar hingga akhir hayat. Ilmu itu sangat luas. Jika kayu-kayu di hutan menjadi pena dan air laut menjadi tinta, sungguh tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah swt.

            Orang semakin kritis, para pengajar harus siap dengan perkembangan zaman. Kalau tidak siap, orang-orang akan meninggalkannya.

            Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno pernah berkata, “Jangan salahkan anak muda jika mereka tidak ingin datang ke masjid. Hal itu bisa terjadi karena mungkin ada masalah dalam diri para orang tua.”

            Sampurasun.

Friday, 6 December 2019

Fokus pada Masa Kecil Nabi Muhammad saw


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini masih terkait Gus Muwafiq. Jadi makin aneh dan makin lucu soal ini. Beberapa bagian isi ceramah Gus Muwafiq tentang masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap menghina, tetapi mereka tidak bisa memberikan kisah tandingan yang dianggap paling benar tentang masa kecil Nabi Muhammad saw.

            Karena tidak punya data untuk membantah hal yang disampaikan Gus Muwafiq, mereka membantah dengan data-data yang tidak nyambung. Misalnya, Nabi Muhammad saw itu rapi, bersih, badannya kuat, selalu sehat, tampan, bicaranya jelas, dan tubuhnya selalu wangi. Itu benar, tetapi itu bukan masa kecil Muhammad saw. Kisah itu adalah masa Nabi Muhammad saw sudah dewasa. Kisah masa kecil dibantah dengan kisah masa dewasa, kan tidak nyambung jadinya.

            Sebaiknya, tanyakan, diskusikan, atau perdebatkan langsung bahwa informasi yang kita miliki tentang masa kecil Nabi saw berbeda dengan yang dimiliki Gus Muwafiq. Sampaikan pula sumber kisah-kisah yang kita miliki itu. Kalau tidak bisa langsung ketemu, tulis saja di internet tentang perbedaan-perbedaan kisah itu dalam sebuah artikel, feature, atau yang lainnya. Jangan lupa tulis sumber kisahnya. Biarkan terjadi diskursus, polemik. Itu sehat, baik, dan mencerdaskan dibandingkan lapor polisi yang bisa bikin ribut.

            Sudah ribut kan?

            Kalau perbedaan itu diwacanakan, nanti akan saling teliti tentang sumber kisah itu.

            Siapa penulisnya? Bagaimana orangnya? Kapan menulisnya? Dari mana dia tahu tentang masa kecil Nabi saw? Apa medianya? Kertas, daun lontar, kulit kayu, tulang sapi, unta, atau kambing?

             Hal-hal itu akan ditanyakan untuk mendapatkan kebenaran. Kalau isinya tidak jelas, penulis atau penyampai kisahnya tidak bisa dipercaya, prosesnya pun tidak jelas, bahkan bertentangan dengan Al Quran. Terimalah itu sebagai kesalahan dan koreksilah kisah itu. Itu konsekwensinya.

            Kita itu punya jarak waktu dua puluh generasi dengan Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kebenaran tentang Nabi saw menjadi tantangan tersendiri. Hitung saja generasi kita hingga ke Nabi Muhammad saw, ada dua puluh generasi. Kita ke ayah-ibu, kakek-nenek, buyut, terusin hingga ke generasi Nabi saw. Seandainya ada dua puluh generasi yang menyampaikan berita yang sama tentang Nabi saw tanpa perbedaan sama sekali, itu shahih karena kita mendapatkan informasi dari generasi Nabi saw yang melihat, mendengar, dan terlibat langsung dengan Nabi Muhammad saw. Itulah yang diupayakan oleh Imam Bukhari, mendapatkan sumber informasi yang sah dari orang yang tepat tentang Nabi Muhammad saw.

            Fokus pada masa kecil Nabi Muhammad saw, bukan masa dewasa, dan jangan ke mana-mana hingga mendapatkan kebenaran. Kalau niatnya lurus, insyaallah Allah swt membukakan pengetahuan yang lurus tentang Kekasih-Nya, Muhammad saw.

            Perlu diketahui pula bahwa yang menulis biografi Muhammad saw itu sangat banyak di dunia ini dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim, nonmuslim, para pecinta dan pengagum, bahkan para pembenci. Bukan cuma kalangan ulama yang menulisnya, para peneliti pun menulisnya. Saya sendiri punya kisah Nabi saw ketika masih bayi yang saya dapatkan dari sebuah prosiding, tidak akan saya ceriterakan dulu, entar kaget.

            Prosiding ini berisi banyak makalah dalam berbagai bahasa, seperti, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman. Beberapa makalah memaparkan kedekatan antara Sunda dan Arab melalui jalur perdagangan sejak sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ada sekelumit kisah hubungan orang Sunda dengan keluarga Nabi Muhammad saw ketika Sang Nabi masih bayi. Nama prosidingnya “Proceeding: Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi” yang disusun oleh V. Sukanda Tessier dan Hassan Muarif Ambary yang diterbitkan pada 1987 oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

            Penelitian berkembang terus karena para ilmuwan selalu penasaran ingin tahu. Hal itu membuat pengetahuan berkembang terus. Bisa jadi hal yang dulu kita anggap benar, ternyata salah. Sebaliknya, hal yang dulu kita anggap salah, ternyata benar. Itulah hasil penelitian.

            Fokus bicara dan menulis masa kecil Nabi Muhammad saw, jangan ke mana-mana supaya mendapatkan kebenaran. Itu juga kalau masih mau mempermasalahkan sebagian ceramah Gus Muwafiq.

            Sampurasun.

Tuesday, 3 December 2019

Masalah Ilmu Jangan Jadi Kasus Hukum


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Adalah berbahaya sekali jika masalah ilmu dibawa-bawa menjadi kasus hukum. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Kalau masalah perbedaan pengetahuan, ilmu, atau perbedaan pemahaman, diselesaikannya harus dengan penelitian atau perdebatan dan diskusi. Jika masalah ilmu pengetahuan dibawa menjadi kasus hukum, bahayanya adalah ilmu pengetahuan menjadi mandek atau mati tidak berkembang dan akan terjadi pemaksaan pemahaman keyakinan oleh satu kelompok sementara yang lain dianggap salah sebelum adanya penelitian atau diskursus (saling tukar pengetahuan).

            Kasus yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah soal isi ceramah Gus Muwafiq yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw karena mengisahkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir biasa-biasa saja seperti anak lainnya, diurus oleh kakeknya, dan sempat “rembes” atau “umbelan” (ingusan). Potongan isi ceramahnya ini dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai penghinaan. Padahal, pendukungnya dari kalangan NU menyatakan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dasarnya, memiliki sumbernya, dan ada bukunya. Sementara itu, mereka yang melaporkannya sebagai penghinaan mengakui bahwa tidak menemukan sumber yang menjadi dasar isi ceramah Gus Muwafiq, sebagaimana yang disampaikan perwakilan FPI dalam acara talk show di tvOne. Bahkan, mereka yang tidak menyukai Gus Muwafiq memiliki sumber kisah kelahiran Nabi Muhammad yang penuh sinar yang cahayanya sampai ke kekuasaan Romawi di Syam. Jadi, masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap tidak mungkin seperti yang diceramahkan Gus Muwafiq. Oleh sebab itu, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.

            Jika diperhatikan, masalahnya kan hanya ada di perbedaan informasi atau pengetahuan tentang kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Gus Muwafiq kelahiran dan masa kecil Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya berdasarkan sumber yang dimilikinya. Sementara itu, pihak lain tidak memiliki sumber itu atau memiliki sumber kisah lain yang penuh keajaiban. Penyelesaian masalah seperti itu kan tidak pas jika dibawa ke pengadilan sebagai kasus penistaan agama. Penyelesaiannya harus dibuktikan dengan matan, sanad, perawi, tarikh, dan atau Al Quran tentang kebenaran peristiwa tersebut.

            Kalau ada perbedaan yang bertolak belakang, adu saja, uji saja kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sejarah yang ada secara ilmiah. Cari sumber sekunder hingga sumber primernya.

            Sumber mana yang paling benar?

            Mana yang benar-benar nyata sejarah dan  mana yang hanya dongeng akan lebih jelas setelah ada penelitian.

            Berani?

            Harus berani atuh demi ilmu pengetahuan. Demi kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.

            Kalaupun dipaksakan untuk masuk ke pengadilan, bisa dipastikan bahwa Gus Muwafiq dan pendukungnya akan membawa sumber-sumber bacaan kisah tersebut. Demikian pula pihak penggugat akan diminta alasan dan atau sumber bacaan lain yang menjadi dasar bahwa Gus Muwafiq telah melakukan penghinaan dalam arti masa kecil Nabi saw tidak seperti yang dikisahkan Gus Muwafiq. Tetap saja ilmu pengetahuan yang diperdebatkan nantinya. Sayangnya, hakim yang memutuskannya, bukan ahli agama.

            Akan menjadi sesuatu yang aneh jika permasalahan perbedaan pengetahuan diserahkan keputusannya kepada majelis hakim yang sama sekali bukan dikategorikan sebagai ahli agama. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq bersalah, isi ceramah dan sumber-sumber bacaannya pun secara tidak langsung dianggap salah. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq tidak bersalah, pihak penggugat beserta sumber ilmu pengetahuannya salah dan harus mengakui kebenaran Gus Muwafiq.

            Mau seperti itu?

            Berbeda jika benar dan salah itu melalui proses penelitian dan pengkajian ilmiah yang dipandu oleh para ahli ilmu. Benar dan salah pun berdasarkan ilmu terkait agama, bukan berdasarkan ilmu hukum positif. Hasilnya lebih bisa dipahami secara keilmuan bukan berdasarkan hukum.

            Sampurasun.

Monday, 2 December 2019

Kekhalifahan Zaman Mana?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para penganjur kekhalifahan ini sudah tentu menganggap kekhalifahan adalah yang terbaik dibandingkan sistem yang lain. Oleh sebab itu, mereka mengampanyekan untuk digunakannya sistem kekhalifahan yang sudah runtuh itu.

            Meskipun demikian, tidak jelas sistem kekhalifahan yang mana yang sedang diperjuangkan?

            Sistem kekhalifahan yang pernah terjadi atau hasil pemikirannya sendiri?

            Sistem kekhalifahan yang pernah terjadi dan berjaya, lalu runtuh itu paling tidak terbagi pada empat masa, yaitu: Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Dalam setiap masa atau periode tersebut memiliki banyak perbedaan, baik dalam suksesi, tatanegara, pelaksanaan hukum, pengembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan pengaruh. Suksesi atau peralihan kepemimpinan dalam masa Khulafaur Rasyidin saja berbeda antara satu dengan lainnya. Peralihan kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw ke Abu Bakar berbeda dengan peralihan dari Abu Bakar ke Umar bin Khattab. Demikian pula, berbeda cara dengan peralihan dari Umar ke Utsman bin Affan. Demikian seterusnya, kerap terjadi perbedaan.

            Perbedaan-perbedaan itu menunjukkan bahwa ilmu pemerintahan itu berkembang sesuai tuntutan zaman dan kebutuhannya.  Demikian pula ketika zaman kekhalifahan setelah Khulafaur Rasyidin, banyak peristiwa politik yang terjadi, seperti, konflik dan perebutan kekuasaan. 

            Mau kekhalifahan zaman mana yang diperjuangkan?

            Mau zaman ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat? Mau zaman ketika banyak ulama dan imam-imam besar dihukum, malah sampai mati? Mau zaman ketika para sultan menjadi sangat kaya raya dan berebut pengaruh? Mau zaman ketika syiar Islam semakin meluas? Mau zaman terakhir yang penuh gejolak dan pemberontakan sehingga kekhalifahan runtuh?

            Zaman-zaman itu terjadi dalam masa pemerintahan para khalifah. Dalam setiap zaman itu terjadi banyak perbedaan. Kalau kita mau pelajari setiap detil dari setiap zaman, tampak sekali perbedaan-perbedaan itu. Bahkan, perilaku atau sikap dari setiap khalifah itu selalu berbeda karena setiap manusia memiliki ciri khas sendiri-sendiri.

            Zaman kekhalifahan mana yang sedang diperjuangkan? Pada masa khalifah siapa?

            Mungkin pula sistem kekhilafahan yang sekarang sedang diperjuangkan adalah sistem terbaru hasil pikiran manusia saat ini dengan menggabungkan berbagai hal yang terjadi pada masa lalu, kemudian melahirkan ide atau gagasan baru. Kalau itu yang terjadi, jangan mengatakan itu yang terbaik dan paling tepat menjadi jalan masuk surga. Hal itu disebabkan orang lain pun memiliki pemikiran lain dan ide atau gagasan lain yang menurut mereka lebih tepat.

            Semua ide, gagasan, atau ilmu itu harus bersifat terbuka dan bersedia untuk diuji, tak ada yang mutlak-mutlakan. Kalau sebuah gagasan tidak bersedia untuk diuji, itu namanya bukan ilmu, melainkan “doktrin yang haram dipertanyakan” dan itulah yang membuat hidup manusia tersesat.

            Jadi, kekhalifahan zaman mana dan khalifah zaman siapa yang sedang dikampanyekan?

            Kalau hasil mikir sendiri, orang lain pun punya pikiran sendiri. Kalau hasil mikir sendiri, lalu mengatakan orang lain salah dan pasti masuk neraka, itulah radikal dan intoleran.

            Pendiri Indonesia sudah punya gagasan dan ide, yaitu ideologi Pancasila dengan bentuk NKRI bersemboyan Bhineka Tunggal Ika yang terikat janji Sumpah Pemuda beraturan UUD 1945 yang bertujuan “mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin”. Kalaupun ada penyimpangan atau kesalahan dalam mencapai tujuan, hal itulah yang harus diperbaiki dan diluruskan.

            Sampurasun.

Sunday, 1 December 2019

Seandainya Indonesia Khilafah Hari Ini


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya ini sebetulnya oke-oke saja mau sistem politik apa pun asal ada “kesepakatan”. Mau kerajaan, presidensial, parlementer, republik, kekaisaran, ataupun kekhalifahan, it’s ok. Akan tetapi, sistem yang pasti saya tolak adalah sistem kerasulan karena kerasulan sudah selesai ditutup oleh Muhammad saw. Tak ada lagi nabi setelah beliau. Sistem yang berlaku sekarang di Indonesia adalah berdasarkan “kesepakatan” para pendiri bangsa waktu itu. Mereka yang tidak mau tunduk pada kesepakatan sudah dikalahkan secara politik dan militer. Jadilah sistem politik kita seperti sekarang ini.

            Kalau mau mengganti sistem politik sekarang, batalkan dulu kesepakatan lama, lalu buat kesepakatan baru. Mari berandai-andai, kita sepakat untuk mengganti sistem politik dengan sistem kekhalifahan pada hari ini atau minggu ini atau bulan ini atau tahun ini.

            Kalau kita sepakat mengganti dengan sistem kekhalifahan, memang siapa orang yang akan menjadi khalifah di Indonesia sebagai pemimpin 267 juta rakyat ini?

            Sehebat apa sih dia?

            Kalau kita tanya ke NU, mungkin jawabannya orang yang paling tepat untuk menjadi khalifah adalah Maruf Amin, Said Aqil Siradj, atau Habib Luthfi. Kalau kita tanya ke Muhammadiyah, mungkin jawabannya adalah Khalifah Haedar Nashir, Syafii Maarif, Amien Rais, atau Din Syamsudin. Kalau kita tanya ke Persis, mungkin jawabannya adalah Aceng Zakaria atau Yusril Ihza Mahendra. Kalau kita tanya ke FPI jawabannya mungkin Rizieq Shihab. Kalau kita tanya ke HTI, mungkin jawabannya Khalifah Ismail Yusanto.

            Akan berbeda pula jika kita tanya ke kelompok-kelompok nasionalis dan ke kelompok nonmuslim. Jawabannya akan sangat beragam dan memunculkan banyak nama.

            Jadi, siapa atuh orang yang pantas menjadi khalifah jika Indonesia menggunakan sistem kekhalifahan saat ini?

            Dengan banyaknya kelompok dan banyaknya aspirasi, kita akan menggunakan sistem pemilihan untuk memunculkan seorang khalifah. Itu artinya kita harus menggunakan cara-cara demokrasi karena pemilihan umum adalah salah satu ciri demokrasi.

            Balik lagi ke pemilihan bukan?

            Kalau tidak mau menggunakan pemilihan, kita akan terjebak pada pertarungan fisik yang bisa menghancurkan segalanya dan jatuh menjadi bangsa yang sangat terbelakang dan sangat miskin. Setiap kelompok menganggap pemimpinnya yang  paling pantas untuk menjadi khalifah.

            Kalau sudah semrawut dan saling bunuh, siapa yang rugi? Siapa yang untung?

            Kita yang rugi. Orang asing yang untung.

            Sampurasun.