oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Hoaks itu berbeda jauh dengan
kritikan. Kritik itu menunjukkan hal yang dianggap salah dengan harapan ada
perbaikan sehingga kesalahan itu tidak lagi terulang dan terjadi peningkatan
kualitas positif. Adapun hoaks adalah berita bohong, dusta, penyesatan, fitnah
dengan maksud memengaruhi orang agar terjerumus dalam tipuan, tujuannya adalah
mendapatkan uang dari kebohongan itu.
| (Foto: Kementerian Komunikasi dan Digital) |
Saya mengenal ada profesi hoaks itu ketika kepemimpinan
Jokowi sebagai presiden RI periode pertama. Saat itu masih jarang di Indonesia orang
yang mahir dan berani menulis hal-hal
yang memengaruhi massa dalam jumlah banyak dengan dasar kebohongan, rasa marah,
sakit hati, dan fitnah. Mereka yang tergolong orang-orang sakit hati karena
kekalahan dalam politik merasa terwakili dengan tulisan-tulisan dusta itu. Mereka
merasa ada yang membela dan sedikit terobati. Orang-orang yang gemar menulis
hoaks itu mulai mendapatkan tawaran dari para pengusaha atau politisi yang
merasa dirugikan oleh situasi politik saat itu. Orang-orang kaya dan
berkepentingan dalam ekonomi dan politik membayar mereka dengan bayaran yang
sangat mahal, sekitar Rp20 juta untuk satu naskah. Kalau tidak salah, ini
pernah terungkap dalam Mata Najwa dengan salah seorang jenderal polisi yang
menjadi narasumbernya.
Bayangkan, Rp20 juta per naskah itu sangat besar. Sempat
tergoda juga untuk ikutan mendapatkan uang itu. Akan tetapi, itu salah karena sangatlah
tidak terhormat membawa uang untuk keluarga yang berasal dari kegiatan terlarang.
Sesulit apa pun hidup, tidak perlu melakukan hal yang salah. Kalaupun mau,
tetapi Allah swt tidak menyukainya, kita akan terhalang untuk mendapatkan uang
itu sehingga kita selamat.
Seiring berjalannya waktu, bayaran itu mulai berkurang
bukan lagi Rp20 juta per naskah, melainkan per hari. Kemudian, semakin turun bayarannya
menjadi setiap minggu. Terus turun menjadi Rp20 juta per bulan.
Penurunan itu terus terjadi secara drastis. Hal ini dapat
dilihat ketika ada kasus “Saracen”. Polisi menangkapi orang-orang yang
menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi masyarakat dengan menggunakan
agama sehingga terjadi huru-hara. Dari orang-orang yang ditangkap itu, polisi
mendapatkan pengakuan bahwa mereka dibayar Rp2,5 juta per bulan untuk membuat
berita bohong. Semakin ke sini ternyata bayaran untuk para pembohong itu semakin
murah.
Sekarang, tampaknya semakin murah dan harus berlomba
untuk dipercaya sebagai pendusta bayaran. Artinya, para pembohong itu tidak
akan dibayar jika kebohongannya tidak berpengaruh kepada masyarakat dan tidak
menguntungkan para pembayar hoaks. Hal ini berdasarkan penjelasan Hasan Nasbi,
mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau “Presidential Communication Office” (PCO). Menurutnya, banyak vendor
hoaks di Indonesia yang menggugat Perdana Menteri (PM) Israel, Netanyahu,
karena belum dibayar sejak 2023. Alasan Israel belum atau tidak membayar para
pembuat dan penyebar hoaks itu karena produksi hoaks yang dihasilkan tidak
sesuai dengan hasil yang diinginkan Israel. Hoaks-hoaks yang beredar itu
dinilai tidak dapat memengaruhi masyarakat Indonesia sebagaimana yang
diinginkan Israel.
Hal itu berarti semakin banyak pihak yang memproduksi
hoaks dan berlomba-lomba agar dipercaya Israel untuk mendapatkan bayaran. Itu
berarti pula para pendusta ini terjebak dalam permainan Israel. Mereka tidak
akan pernah dibayar Israel jika tidak memuaskan Israel. Kalaupun dibayar, pasti
sedikit karena kualitasnya melemah. Mereka sudah memproduksi hoaks, sudah
menghabiskan waktu dan energi, sudah mendapatkan banyak dosa, tetapi uangnya
belum tentu dapat, malah bisa masuk penjara. Rugi banget.
Memang pasar hoaks di Indonesia ini cukup besar karena
masyarakatnya kurang teliti dan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu.
Bahkan, bangga sudah mendapatkan informasi hoaks sehingga disebarkan lagi ke
orang-orang lain. Oleh sebab itu, mulai 2026 ini saya ajarin murid-murid saya
bagaimana cara menilai sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Caranya, menggunakan
etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Sayangnya, saya tidak bisa
mengajarkan hal ini lewat tulisan karena harus praktik kayak ngaji, “kudu diwurukan”.
Semoga kita semua berhati-hati karena situasi saat ini
memang zamannya orang tidak mempedulikan kebenaran, tetapi mempedulikan perasaannya
sendiri. Oleh sebab itulah, sorga itu mahal, hanya orang-orang yang berhati-hati
dan terpilih yang akan memasukinya.
Ilustrasi hoaks saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi
dan Digital.
Sampurasun.
No comments:
Post a Comment