Tuesday, 17 March 2026

Penyebar Hoaks Makin Murahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks itu berbeda jauh dengan kritikan. Kritik itu menunjukkan hal yang dianggap salah dengan harapan ada perbaikan sehingga kesalahan itu tidak lagi terulang dan terjadi peningkatan kualitas positif. Adapun hoaks adalah berita bohong, dusta, penyesatan, fitnah dengan maksud memengaruhi orang agar terjerumus dalam tipuan, tujuannya adalah mendapatkan uang dari kebohongan itu.


(Foto: Kementerian Komunikasi dan Digital)


            Saya mengenal ada profesi hoaks itu ketika kepemimpinan Jokowi sebagai presiden RI periode pertama. Saat itu masih jarang di Indonesia orang yang  mahir dan berani menulis hal-hal yang memengaruhi massa dalam jumlah banyak dengan dasar kebohongan, rasa marah, sakit hati, dan fitnah. Mereka yang tergolong orang-orang sakit hati karena kekalahan dalam politik merasa terwakili dengan tulisan-tulisan dusta itu. Mereka merasa ada yang membela dan sedikit terobati. Orang-orang yang gemar menulis hoaks itu mulai mendapatkan tawaran dari para pengusaha atau politisi yang merasa dirugikan oleh situasi politik saat itu. Orang-orang kaya dan berkepentingan dalam ekonomi dan politik membayar mereka dengan bayaran yang sangat mahal, sekitar Rp20 juta untuk satu naskah. Kalau tidak salah, ini pernah terungkap dalam Mata Najwa dengan salah seorang jenderal polisi yang menjadi narasumbernya.

            Bayangkan, Rp20 juta per naskah itu sangat besar. Sempat tergoda juga untuk ikutan mendapatkan uang itu. Akan tetapi, itu salah karena sangatlah tidak terhormat membawa uang untuk keluarga yang berasal dari kegiatan terlarang. Sesulit apa pun hidup, tidak perlu melakukan hal yang salah. Kalaupun mau, tetapi Allah swt tidak menyukainya, kita akan terhalang untuk mendapatkan uang itu sehingga kita selamat.

            Seiring berjalannya waktu, bayaran itu mulai berkurang bukan lagi Rp20 juta per naskah, melainkan per hari. Kemudian, semakin turun bayarannya menjadi setiap minggu. Terus turun menjadi Rp20 juta per bulan.

            Penurunan itu terus terjadi secara drastis. Hal ini dapat dilihat ketika ada kasus “Saracen”. Polisi menangkapi orang-orang yang menyebarkan berita bohong untuk memprovokasi masyarakat dengan menggunakan agama sehingga terjadi huru-hara. Dari orang-orang yang ditangkap itu, polisi mendapatkan pengakuan bahwa mereka dibayar Rp2,5 juta per bulan untuk membuat berita bohong. Semakin ke sini ternyata bayaran untuk para pembohong itu semakin murah.

            Sekarang, tampaknya semakin murah dan harus berlomba untuk dipercaya sebagai pendusta bayaran. Artinya, para pembohong itu tidak akan dibayar jika kebohongannya tidak berpengaruh kepada masyarakat dan tidak menguntungkan para pembayar hoaks. Hal ini berdasarkan penjelasan Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau “Presidential Communication Office” (PCO). Menurutnya, banyak vendor hoaks di Indonesia yang menggugat Perdana Menteri (PM) Israel, Netanyahu, karena belum dibayar sejak 2023. Alasan Israel belum atau tidak membayar para pembuat dan penyebar hoaks itu karena produksi hoaks yang dihasilkan tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan Israel. Hoaks-hoaks yang beredar itu dinilai tidak dapat memengaruhi masyarakat Indonesia sebagaimana yang diinginkan Israel.

            Hal itu berarti semakin banyak pihak yang memproduksi hoaks dan berlomba-lomba agar dipercaya Israel untuk mendapatkan bayaran. Itu berarti pula para pendusta ini terjebak dalam permainan Israel. Mereka tidak akan pernah dibayar Israel jika tidak memuaskan Israel. Kalaupun dibayar, pasti sedikit karena kualitasnya melemah. Mereka sudah memproduksi hoaks, sudah menghabiskan waktu dan energi, sudah mendapatkan banyak dosa, tetapi uangnya belum tentu dapat, malah bisa masuk penjara. Rugi banget.

            Memang pasar hoaks di Indonesia ini cukup besar karena masyarakatnya kurang teliti dan tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Bahkan, bangga sudah mendapatkan informasi hoaks sehingga disebarkan lagi ke orang-orang lain. Oleh sebab itu, mulai 2026 ini saya ajarin murid-murid saya bagaimana cara menilai sebuah informasi itu hoaks atau bukan. Caranya, menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Sayangnya, saya tidak bisa mengajarkan hal ini lewat tulisan karena harus praktik kayak ngaji, “kudu diwurukan”.

            Semoga kita semua berhati-hati karena situasi saat ini memang zamannya orang tidak mempedulikan kebenaran, tetapi mempedulikan perasaannya sendiri. Oleh sebab itulah, sorga itu mahal, hanya orang-orang yang berhati-hati dan terpilih yang akan memasukinya.

            Ilustrasi hoaks saya dapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment